Sunday, February 10, 2008

FLU BURUNG DAN BURUNG-BURUNG KECIL

FLU BURUNG DAN BURUNG-BURUNG KECIL

Aku selalu duduk di depan jendela kamar tidurku ketika mengetik seperti ini di rumah. Di waktu siang kala aku sedang asyik di depan PC ini seringkali muncul burung-burung kecil berwarna coklat agak keunguan. Kadang-kadang sepasang, kadang kadang hanya satu ekor. Mereka suka sekali mematuk kaca jendela dalam posisi terbang. Burung-burung kecil yang nyaring siulan kecilnya, yang panjang tubuhnya mungkin hanya 3 atau 4 cm, suka hinggap dan meloncat-loncat di rak besi penyangga pohon anggur di depan kamar. Mereka betah bermain-main dalam waktu lama di depan jendela dan aku juga kadang-kadang betah mengamati mereka. Aku senang melihat makhluk kecil ciptaan Allah yang sangat elok itu meski aku tidak tahu apa nama jenis burung tersebut. Suatu hari anakku yang juga senang mengamati kehadirannya berhasil memotretnya dari balik jendela.

Ada jenis burung lain yang juga sering hinggap dan berkicau di pohon mangga di depan rumah. Biasanya pada saat menjelang matahari terbit. Suara kicauannya cerewet dan ramai. Akupun senang mendengar kicauannya. Karena pohon mangga cukup rindang hampir tidak pernah aku berhasil melihat sosoknya.

Siang hari di belakang rumah kami sering hadir puluhan burung gereja. Burung-burung ini bahkan mungkin bersarang di lekuk-lekuk di bawah atap rumah. Suara cicitan mereka juga ramai biasanya. Pernah pembantu kami kurang kencang ketika mematikan keran air sehabis menyiram tanaman, air masih mengalir dari ujung selang yang tergantung di bawah pohon jambu. Burung-burung gereja itu asyik mandi di bawah cucuran air di ujung selang tersebut. Anakku menunjukkan pemandangan itu karena dia yang melihatnya pertama kali, lalu kami menontonnya sekeluarga. Pemandangan seperti itu menyenangkan bagi kami.

Mungkin merupakan sisa-sisa peradaban ’kampungan’ dulu, aku sangat senang memelihara ayam. Selama bertahun-tahun aku biasa memelihara ayam kampung di belakang rumah tempat kami tinggal sekarang ini. Aku suka sekali mendengar kokok ayam menjelang waktu subuh. Jumlah ayam ini pernah mencapai belasan ekor. Berasal dari sepasang ayam kampung yang tadinya mau dijuruskan ke kuali. Aku memintakan pengampunan untuk mereka dan istriku terpaksa mengabulkannya. Sepasang ayam itu lalu beranak pinak. Pernah beberapa kali teman sekerjaku orang asing menelpon kerumah dan mendengarkan suara ayam berkotek cukup ramai, lalu bertanya, apakah aku tinggal di peternakan ayam. Aku jawab saja iya. Ayam-ayam tadi umumnya aku pelihara sampai tua dan manakala sudah sangat tua aku berikan kepada seorang jamaah mesjid untuk dipotong dan kebetulan dia mau menerimanya. Aku tidak tega memotongnya. Ayam-ayam itu jarang sakit. Kalau ada yang sakit aku dan anakku yang paling kecil merawatnya dan beberapa kali kami berhasil memberikan obat yang dapat menyembuhkannya. Sekarang sudah tidak ada lagi ayam di belakang rumah. Bukan karena kami takut flu burung lalu memusnahkan ayam-ayam tersebut, tapi regenerasi mereka terhenti karena beberapa ekor diantaranya suka memakan telor mereka sendiri. Mungkin kami pernah terlambat memberi makan sehingga mereka menjadi swasembada seperti itu. Dan kebiasaan buruk mereka ini menular dari yang satu kepada yang lain.

Kandang ayam semi permanen masih berdiri kokoh agak jauh ke belakang rumah. Kandang yang menggunakan kawat yang cukup kuat untuk melindungi anak-anak ayam (dulu) dari serangan tikus. Kandang tersebut saat ini dihuni sepasang merpati putih hadiah seorang teman. Dan mungkin karena sedang seru-serunya disoroti sepasang merpati ini seolah-olah enggan berketurunan.

Saat ini kiamat kecil tengah melanda golongan unggas peliharaan di Jakarta dan sekitarnya. Penguasa Jakarta Raya sudah menetapkan undang-undang pelarangan memelihara unggas di lingkungan pemukiman. Alasannya karena wabah flu burung kembali merebak dan semua jenis ayam dan bebek menjadi tertuduh utama dan segera harus menjalani eksekusi pemusnahan. Televisi seolah-olah ditugasi untuk menayangkan dan mengkampanyekan mereka-mereka yang secara suka rela menyerahkan unggas peliharaan mereka untuk dimusnahkan. Dan ayam-ayam yang kelihatan masih sehatpun dipotong untuk kemudian dimasukkan ke dalam lubang lalu dibakar. Dengan cara seperti itulah pemusnahan itu dilakukan. Entah kenapa mesti demikian prosesnya. Semua ayam-ayam tersebut sudah digolongkan saja sebagai pembawa virus flu burung. Pada saat yang bersamaan televisi sebenarnya menayangkan juga pemberian vaksinasi terhadap unggas ayam atau bebek di tempat-tempat tertentu. Kalaulah binatang-binatang itu masih bisa diamankan dengan memeberikan vaksin kenapa mesti panik total seperti sekarang ini?

Sejujurnya saya melihat ini adalah kepanikan yang sangat berlebihan dan diikuti oleh penzaliman terhadap unggas, terutama ayam dan bebek kampung. Anehnya, burung berkicau yang dipelihara konon sementara mendapat pengecualian asal pemiliknya memintakan sertifikat ’hidup’ untuk unggas peliharaan mereka. Apakah burung berkicau dianggap lebih aman? Bagaimana pula dengan burung-burung dara atau merpati? Apakah semua juga harus dimusnahkan. Tetangga saya yang agak usil mengatakan silahkan tangkapi burung merpati saya yang hidup bebas itu kalau mau dimusnahkan. Kalaupun burung-burung peliharaan seperti itu harus dimusnahkan, pertanyaan berikutnya bagaimana dengan burung-burung gereja, burung-burung kecil yang hidup di alam bebas? Apakah mereka juga mau dibasmi dan tidak boleh hidup di bumi Jakarta atu provinsi lain yang akan menetapkan aturan pembasmian unggas tadi? Kalau iya agaknya ini merupakan lowongan pekerjaan baru bagi pemburu burung-burung bebas itu, untuk menjaga agar mereka jangan sembarangan hinggap.

Saya tidak tahu entah bagaimana dengan nasib peternakan ayam potong. Atau mungkin sebentar lagi menu ayam harus dihapuskan dari setiap dapur di Jakarta maupun di propinsi yang sudah menyatakan akan memberlakukan pelarangan pemeliharaan ayam dilingkungan perumahan penduduk. Padahal ayam dan itik juga merupakan korban dari virus flu burung yang berasal dari Siberia itu, tapi nasib mereka ternyata sangat menyedihkan. Yang tidak terjangkitpun harus musnah, untuk menjaga agar jangan sampai dihinggapi virus.

Celakanya lagi, di Bali dilaporkan bahwa virus flu burung juga sudah terdeteksi menghinggapi anjing dan kucing. Sebelumnya juga dilaporkan virus yang sama menghinggapi tubuh babi. Apakah anjing, kucing dan babi itu semuanya juga akan dimusnahkan dengan cara yang sama?

Sebaliknya berita yang cukup menggembirakan keluar dari beberapa rumah sakit di Jakarta bahwa ada beberapa pasien yang diduga mengidap flu burung berangsur-angsur mulai sehat kembali. Artinya obat penyakit flu burung yang lebih ampuh mungkin sudah bisa diketemukan. Bukankah Nabi SAW pernah bersabda bahwa setiap penyakit itu ada obatnya kecuali ketuaan. Lalu bolehkah kita menzalimi makhluk Allah yang sebenarnya juga memberi manfaat kepada kita umat manusia karena kecurigaan terhadap penyakit yang tengah mewabah dengan membasmi habis hewan-hewan malang itu tanpa ampun?

Entahlah kalau tindakan pembasmian ayam dan itik kampung ini benar-benar mengandung nilai kebijaksanaan yang benar. Kok seolah-olah seperti Allah sia-sia menciptakan mereka. Padahal firman Allah, tidaklah Aku menciptakan sesuatu itu dengan sia-sia. Wallahu a’lam.


*****

OLAHRAGA

OLAHRAGA

Terengah-engah dan bercucuran keringat aku mengakhiri ‘treadmill’ selama 12 menit pas. Masih sama seperti kemampuan tahun lalu, alhamdulillah. Meskipun dokter tidak mengharuskan mencapai waktu dua belas menit, aku tetap ingin mencoba dan mengetahui apakah aku masih sanggup.

‘Bagus,’ kata dokter yang mengawasiku. ’Jantung bapak sehat. Bapak tidak merokok kan?’ tanyanya.

’Tidak lagi, dok,’ jawabku.

’Sudah lama berhenti?’

’Sudah dua puluh tahun yang lalu.’

’Bagus. Dan tentu bapak bukan peminum alkohol,’ tambahnya.

’Tidak,’ jawabku singkat.

’Olahraganya apa?’

’Sekarang cuma jalan kaki saja, dok,’ jawabku.

’Bagus itu pak. Yang penting teratur. Sekali berapa hari bapak olahraga jalan kaki?’

’Tiap hari dok,’ jawabku.

’Waah bagus sekali. Apalagi kalau tiap hari. Berapa menit? Atau seberapa jauh?’ cecarnya.

Aku berfikir sebentar.

’Empat kali empat ratus langkah pada waktu yang berbeda dalam sehari,’ jawabku.

Dokter itu tertawa.

’He..he..he.... Suka melucu juga bapak. Kok bisa-bisanya menghitung 400 langkah?’

’Saya berjalan kaki 200 langkah ke mesjid waktu subuh. Sebanyak itu pula waktu pulangnya. Saya pergi makan siang ke warung makan di belakang kantor sejarak itu pula siang hari. Dan ke mesjid saya ulangi lagi waktu maghrib dan isya,’ saya mencoba menjelaskan.

’Waaw, jadi serius rupanya jumlah langkahnya sebanyak itu. Dan bapak tidak melakukan olahraga lain? Atau tidak pernah melakukan olahraga lain pada waktu yang lain?’ tanyanya lagi.

’Saat ini tidak. Dulu saya suka bermain sepak bola dan tennis. Tapi saya tidak pernah terlalu fanatik untuk selalu rutin berolahraga. Sekarangpun kalau ada perayaan tujuh belas agustusan, jika diajak teman-teman yang masih muda, saya masih suka ikut meramaikan,’ jawabku.

Dokter itu mengangguk-angguk sambil memperhatikan diriku.

***

Aku memang bukan type olahragawan yang serius. Tapi aku bisa memainkan olahraga apa saja, paling tidak untuk sekedarnya. Waktu masih kanak-kanak dulu, olahraga kami adalah main kejar-kejaran, sepak bola, bermain kasti. Aku tidak pernah jadi pemain top atau bintang lapangan tapi selalu diikutsertakan. Ketika main sepak bola tidak gentar beradu kaki dengan lawan main. Dalam permainan kasti termasuk pemukul yang baik, tidak memukul bola melambung ke atas seperti kebiasaan anak-anak perempuan. Setelah di SMP berkenalan dengan permainan pimpong dan bola voli. Main pimpong tidak ada masalah, aku cepat akrab dengan permainan itu dan mampu bermain sebaik teman-teman yang terbaik. Bola voli kurang kuminati. Aku agak ’gagap’ menangkis bola dengan ujung jari dan bisanya hanya jadi ’tukang torpedo’, memukul bola dengan kedua tangan dipertautkan. Dalam permainan voli aku jadi titik lemah dan jadi sasaran. Sering dijuluki ’lubuk’ karena mudah ditaklukkan.

Waktu di SMA, (aku ikut dengan kakak sepupu yang bekerja di Rumbai) aku berkenalan dengan bola basket dan tennis. Kedua-duanya kusukai dan juga cepat akrab. Sayang kedua jenis olahraga ini boros dengan peralatan, sepatu olahraga untuk keduanya dan raket tennis serta bola untuk yang terakhir. Untuk raket masih untung ketika itu, aku boleh meminjam punya kakakku.

Selama menjadi mahasiswa di Bandung aku pernah tinggal bersebelahan dengan lapangan tennis. Aku jadi rajin main tennis (raket diberi olah kakak sepupuku itu). Tapi setelah aku pindah tempat tinggal aku tidak rajin lagi bermain.

Setelah bekerja dan tinggal di Balikpapan aku kembali rajin main tennis. Tapi awal-awalnya saja. Setelah itu, kalau datang malas, aku tidak merasa kehilangan apa-apa meski tidak main berbulan-bulan. Setelah beberapa lama, lalu ada momen yang mengena aku bisa agak rajin pula sebentar, tapi kemudian malas lagi. Kalau ada ajakan untuk turnamen aku main lagi untuk beberapa lama dan seterusnya malas lagi. Bahkan sampai sekarangpun, jika diajak ikut pertandingan antar divisi aku masih mau ikut. Pukulannya masih begitu-begitulah. Masih pukulan pemain tennis. Kalau ada yang bertanya latihan dimana, aku jawab sekenanya, di rumah.

Badminton juga tidak ada masalah. Bisalah sekedar mengembalikan bola dan sekali-sekali menyemes sambil loncat. Tapi kurang menarik minatku. Olahraga yang menggunakan raket kalau diurut, maka tennis adalah yang paling kusukai, diikuti pimpong. Di rumah kami mempunyai meja pimpong.

Di Balikpapan kami juga bermain sepak bola. Sepak bola sungguhan (dengan sebelas pemain) ataupun futsal dengan enam pemain. Inipun sama saja. Kalau lagi hangat, tiap minggu kami main. Sering juga kami bertanding dengan kesebelasan dari perusahaan lain. Teman-temanku waktu itu mengangkatku jadi Ketua Sepak bola karyawan. Ternyata menjadikan aku malas ikut bermain karena sibuk mengatur latihan teman-teman untuk menghadapi pertandingan-pertandingan. Istilahnya jadi manajer, dan setiap kali jadi non playing captain.

Ketika masih di Balikpapan teman-teman mengajakku untuk ikut main golf. Inilah permainan yang aku tolak untuk berpartisipasi. Entah kenapa aku tidak menyukainya. Permainan ini terlalu bourjuis menurut pengamatanku. Atau mungkin karena waktu mahasiswa dulu aku pernah mengenal di suatu daerah tanah kebun penduduk diserobot untuk membuat lapangan golf. Ditambah cerita teman-teman yang katanya suka bertaruh di lapangan golf. Aku benar-benar tidak bersimpati jadinya. Setelah pindah ke kantor Jakarta teman-teman disinipun mengajakku. Kata mereka ini adalah ajang untuk reuni dengan teman-teman di perusahaan lain secara teratur. Aku tetap tidak suka.

Tapi untuk sekedar memukul-mukul atau latihan driving pernah juga kucoba. Aku yakin aku bisa melakukannya. Suatu kali di tahun 2001 ketika aku sedang bertugas agak lama di Balikpapan, seorang teman mengajakku latihan memukul bola itu. Aku perhatikan bagaimana cara memegang club atau pemukul bola dan aku coba memukul. Tidak ada masalah besar. Bola-bola itu dapat kupukul dengan cukup baik. Lebih dari 50% ke arah yang semestinya, sisanya terpelanting keluar sasaran. Pembantu bola (caddy) entah ’menggejoboh’ entah sungguh-sungguh mengatakan tidak percaya bahwa aku belum pernah memukul bola atau bermain golf sebelumnya.

Setelah beberapa kali ikut-ikutan ’driving’ timbul ’huru-hara’ ketika seorang teman yang lain ’mengajari’ ku dengan teori textbook nya. Begini posisi kaki, begini posisi bahu, begini cara mengeja sebelum memukul, begini mengayun, begini menatap bola...... wah jadi rumit. Ketika aku mencoba seperti yang diajarkannya, aku jadi tidak bisa lagi memukul bola kecil itu dengan benar, karena berpelantingan kemana-mana. Dan aku tetap tidak suka dengan olahraga itu. Tadinya sudah agak ada keinginan untuk sekedar menjajal ke lapangan yang sesungguhnya, tapi gara-gara itu batal total.

Aku juga tidak terlalu bisa berenang. Aku tidak bisa membiarkan tubuhku terapung di air. Aku sanggup berenang dengan gaya bebas pulang pergi mengikuti panjang kolam renang, tapi pastilah dengan cara yang ’riuh rendah’. Sejak pandai berenang berkecimpung di kolam mesjid ketika kanak-kanak dulu sampai sekarang hampir tidak ada kemajuan. Ada seorang teman yang berkali-kali mengajak dan menawarkan akan mengajariku cara berenang yang benar. Tapi aku malas saja mengikuti ajakannya. Aku memang banyak malasnya.

Olahraga yang disupport perusahaan tapi juga belum pernah kucoba adalah bermain bowling. Yang satu inipun aku tidak pernah tertarik mencoba.

Olahraga apa lagi? Aku belum pernah mencoba menunggang kuda. Dan sekarang tidak terlalu yakin mampu melakukannya. Tapi waktu kecil dulu aku beberapa kali jatuh dari punggung kerbau ketika kami, kanak-kanak ketika itu berpacu kerbau. Waktu itu kami memang mentiko dan tidak ada takutnya.

***

Aku tidak menceritakan semua kebolehanku berolahraga ini kepada dokter yang mengawasi treadmill tadi.


*****

Friday, February 8, 2008

TAKLIM BUYA ABIDIN (5)

TAKLIM BUYA ABIDIN (5)

TANGGUNG JAWAB KEPADA KELUARGA

‘Mari kita sambung bahasan kita minggu lalu,’ ujar Buya Abidin mengawali pengajian beliau pada Sabtu malam itu. ‘Minggu yang lalu sudah kita kaji bahwa sebagian dari istri-istri dan anak-anak ada yang bisa menjadi musuh kepada kita. Sudah kita jelaskan pula bahwa menjaga keimanan istri dan anak-anak itu dilakukan setelah masing-masing kita terlebih dahulu menjaga diri sendiri dari kejaran api neraka. Hal tersebut adalah kewajiban dan kita sudah diingatkan Allah tentang itu. Biarlah saya teruskan kaji ini dengan tanggung jawab terhadap pemeliharaan anak-anak yang diamanahkan Allah kepada kita. Pemeliharaan sejak dia dilahirkan sampai dia beranjak dewasa.
Kebanyakan orang di jaman sekarang ini merasa bahwa tanggung jawab itu terbatas hanya sampai menyekolahkan anak-anak ke perguruan tinggi. Sebab, pada saat mereka sudah selesai bersekolah tinggi, sudah jadi sarjana, lalu dapat pula bekerja di perusahaan yang bisa menjadikan mereka orang kaya, orang tuanya merasa bahwa dia sudah sangat berhasil dalam mendidik anak-anaknya. Kalau untuk biaya pendidikan maka orang tua biasanya mau habis-habisan. Tidak kayu, jenjang dikeping. Tidak emas, bungkal diasah. Maka sangatlah senang hati seorang orang tua jaman sekarang, ketika dia mempunyai empat orang anak, semuanya sarjana, semuanya punya kedudukan yang mapan, bahkan ada yang menjadi anggota DPR. Bukan alang kepalang besar hatinya. Bagaimana tentang persiapan akhirat mereka? Jika ini yang kita tanya, biasanya berkerut keningnya. ‘Apakah hal itu penting?’ tanyanya. Atau paling-paling dia akan mengatakan, bahwa dulu ketika anak-anak itu masih kecil mereka dimasukkan ke sekolah mengaji, bahkan sudah sampai khatam al Quran. Lalu, bagaimana keadaannya sekarang? Masih pernahkah diingatkan shalatnya? Diingatkan kalau dia sudah membayar zakat atau belum? Bagaimana pula dengan puasanya? Nah, biasanya jarang orang tua sekarang yang masih melakukan hal-hal tersebut, mengingatkan anak-anaknya sesuatu yang berhubungan dengan masalah agama.

Padahal, Nabi SAW mengajarkan, jika anak-anak sudah berumur tujuh tahun agar diajar shalat. Kalau sudah umur sepuluh tahun belum juga shalat, harus dihukum. Boleh dipukul. Begitu perintah Nabi. Begitu peringatan beliau agar kita mempersiapkan anak-anak-anak supaya mereka terhindar dari api neraka. Ajarkan kepada anak-anak itu bagaimana caranya mengingat Allah dengan cara bersungguh-sungguh. Mengenal Allah sebagai Yang Maha Mencipta, Yang Maha Mengatur segala urusan, Yang Maha Kuasa. Dan cara mengajarkan pengenalan terhadap Allah itu adalah dengan menegakkan shalat.
Kalau kita tidak bersungguh-sungguh menyiapkan mereka, maka berhati-hatilah. Sebagaimana kita juga harus berhati-hati ketika kita tidak memelihara dan menafkahkan rezeki yang diberikan Allah kepada kita dengan cara yang diridhai Allah. Kita diberi Nya harta yang banyak, anak-anak yang banyak, serba hebat semua, anak-anak sarjana semua. Tapi kita tidak mengurus harta atau anak-anak itu di muka bumi ini seperti yang dikehendaki Allah. Kita hanya sibuk mengumpulkan harta lalu menghitung-hitungnya. Disana aku punya tanah sekian luas, disitu ada rumah mewahku, disana aku punya toko sekian pintu. Anak-anakku sudah jadi orang semua, sudah jadi sarjana dan hebat-hebat. Sudah punya kedudukan penting. Menantu-menantukupun tidak kalah hebat. Maka tunggu dulu. Ingatlah firman Allah, ‘Sesungguhnya hartamu, anak-anakmu itu adalah fitnah, sementara disisi Allah ada pahala yang besar.’ (Surah At Taghabun ayat 15).
Harta yang banyak dan anak-anak itu hanyalah fitnah bagimu. Tidak sedikitpun akan menyelamatkanmu kalau kamu pakai hanya untuk berbangga-bangga saja di muka bumi ini. Harta dan anak-anak itu akan jadi fitnah kalau tidak pandai-pandai mengelolanya. Kalau kamu tidak mempersiapkan mereka untuk menjadi hamba-hamba Allah yang mengerti akan Ke Maha Kuasa an Nya.

Ada sebuah cerita tentang seorang laki-laki punya enam orang anak, semua anaknya laki-laki. Semua anak-anak itu sarjana dan masing-masing bekerja ditempat yang hebat. Semua sering bepergian ke luar negeri. Ada yang ke Amerika, ada yang ke Jerman dan ada yang ke Jepang. Betapa bangganya sang ayah melihat keberhasilan keenam anak-anaknya tersebut. Ketika sekali-sekali berkumpul di rumah orang tuanya, misalnya disaat hari raya terlihat bahwa mereka memang bukan orang sembarangan. Sesama mereka, kadang-kadang mereka bercakap-cakap dalam bahasa Inggeris. Sangat hebat dan mengagumkan. Ayah mereka bangga luar biasa.
Allah berkehendak, mungkin karena sudah berangsur tua juga, sang ayah jatuh sakit. Mulanya anak-anak bergantian menunggui di rumah sakit. Derita sakit itu ternyata berlangsung lama. Secara berangsur-angsur makin berkurang saja kesempatan anak-anaknya menemani dikarenakan mereka sibuk. Atas kehendak Allah semakin dekat rupanya kedatangan ajalnya. Menjelang sakratul maut, orang tua itu memanggil-manggil keenam anaknya bergantian. Dua orang sempat hadir menyaksikan ketika maut datang sedangkan empat orang yang lain baru datang sesudah sang ayah terbujur kaku jadi mayat. Maka berundinglah keenam anak-anak itu bagaimana cara mengurus jenazah ayah mereka yang sudah terbujur kaku itu. Yang paling tua mengusul agar diserahkan saja ke Yayasan Bunga Surga. Kita undang seorang ustad untuk menyelenggarakan jenazah ayah, beres semua urusan, begitu katanya.
Maka dihubungilah yayasan yang dimaksud si sulung. Di undang pula seorang ustad yang tinggal dekat rumah orang tua mereka itu. Ustad tadi bertanya kepada mereka, apakah mereka tidak akan ikut memandikan jenazah ayah mereka. Apa jawab mereka? Tolongl;ah ustad saja yang memandikan. Sudah selesai dimandikan, dan dikafani jenazah tersebut, ustad tadi mengingatkan lagi bahwa yang paling afdal menjadi imam shalat jenazah adalah salah seorang dari anak-anak beliau. Jawab mereka, tolong sajalah ustad yang jadi imam. Bahkan ada di antara keenam anak itu tidak ikut menyalatkan jenazah ayah mereka.

Inilah contoh bagaimana anak-anak menjadi fitnah kepada orang tua. Tidak ada sedikit juga manfaat bagi orang tuanya padahal anak-anaknya sudah disekolahkannya tinggi-tinggi. Anak-anak yang selama ini jadi kebanggaannya, yang selalu jadi bahan cerita mengasyikkan kalau dia bercerita kepada orang lain. Maka bertemulah peringatan Allah; ‘Innamaa amwaalukum wa aulaadukum fitnattun, wallahu 'indahuu ajrun 'azhiim.' (Sesungguhnya hartamu dan anak-anakmu adalah cobaan (fitnah). Sedangkan disisi Allah ada pahala yang besar.)
Seandainya saja dulu anak-anak itu dididik pengetahuan agama secara memadai. Diajarkan agar dia mengenal Allah dengan sungguh-sungguh, diajarkan cara beribadah kepada Allah dengan sungguh-sungguh. Seandainya dulu banyak berdoa kepada Allah minta petunjuk Nya untuk diri sendiri dan untuk anak-anak. Meminta kepada Allah agar istri dan anak-anak dijadikan Nya penyejuk mata. Agar dijadikan Nya orang-orang yang terkemuka di kalangan orang-orang yang bertaqwa. Seandainya dulu sering berdoa; Rabbanaa hablanaa min azwaajinaa wa tzurriyatinaa qurrata a'yun, waja'alnaa lil muttaqiina imaama. Atau bahkan berdoa agar dikaruniai Allah anak keturunan yang saleh seperti doanya nabi Ibrahim a.s., Rabii hablii minashshaalihiin. (Tuhanku,anugerahilah aku dengan anak-anak yang shalih.)
Kalau perkara harta yang menjadi fitnah bukankah sudah sama kita lihat. Harta yang hanya sekedar dikumpul-kumpulkan untuk dihitung-hitung. Sudah sama kita lihat tidak sedikitpun harta itu dapat menolong. Apa yang terjadi sesudah itu? Biarpun anak-anak sudah jadi orang-orang hebat sekalipun, urusan harta peninggalan orang tua tetap saja mereka berebutan. Tidak jarang timbul permusuhan di antara mereka sesudah itu, saling iri dan dengki antara yang satu terhadap yang lain. Kalau sudah seperti ini, alih-alih akan jadi pahala untuk yang sudah meninggal malahan jadi penambah dosa jadinya. Sebab harta yang ditinggalkan hanya menjadi bahan pertengkaran di antara anak-anaknya. Harta itu hanya menjadi fitnah semata. Menjadi cobaan semata.
Seandainya dulu rajin bersedekah, rajin berinfak. Seandainya dulu sebelum mati sudah dibagi harta itu sesuai dengan ketentuan dan petunjuk Allah. Barulah ada manfaatnya. Tapi karena tidak ada amalan seperti itu yang didapat hanyalah kesusahan dan fitnah saja sesudah itu. Fitnah berupa perkelahian di antara sesama anak-anak dalam perebutan harta.
Jadi artinya, hendaklah kita pandai-pandai dalam mengelola harta di jalan Allah. Membelanjakannya dengan cara yang diridhai Allah. Boleh kaya, kalau memang kita pintar dalam mencari uang. Tapi ingat bahwa di dalam harta yang kita peroleh itu ada hak orang lain. Ada zakat yang harus dibayarkan.

Pandai-pandailah dalam mendidik anak. Silahkan sekolahkan mereka setinggi mungkin tapi ingat pula untuk membekalinya dengan pengetahuan agama yang mencukupi. Supaya nanti mereka sanggup mengurus kita ketika kita sudah jadi orang tua. Sanggup menyelenggarakan jenazah kita ketika kita mati. Menyalatkan kita sebelum kita diantar orang ke kuburan. Sebab sabda Rasulullah SAW, ‘Bilamana mati anak Adam maka putuslah segala amalannya kecuali dalam tiga hal. Pertama adanya sedekah jariah. Kedua adanya ilmu yang bermanfaat dan yang ketiga adanya anak yang saleh yang mendoakan kedua orang tuanya.’ Jadi perlu adanya anak yang saleh. Dan anak saleh yang dididik sendiri. Disiapkan sendiri, karena dengan cara mendidiknya itu akan terbina ikatan batin antara orang tua dan anak.

Sampai disini dululah kaji kita. Isya Allah minggu berikut kita sambung lagi.’
Demikian Buya Abidin mengakhiri taklimnya kali itu.


*****

Tuesday, February 5, 2008

PENCOPET PASAR ATAS 1964

PENCOPET PASAR ATAS 1964

Hari Rabaa pukuah satu, Sadang rami di Bukiktinggi, Urang manggaleh barang mudo. Begitu bunyi awal sebait pantun. Bukit Tinggi di hari Rabaa, alias hari Rabu sebagaimana juga di hari Sabtu ramai allahurabbi. Orang datang dari seputar Agam, bahkan dari Tanah Datar, Lima Puluh Koto dan dari Pasaman. Bahkan dari Padang dan Pekan Baru. Di Bukit Tinggi orang penggalas kebat mengebat, pakuk memakuk, sayat menyayat. Heboh allahurabbi. Orang berserak di tengah balai. Yang menjual, yang membeli. Di pasar lereng jalan penuh oleh pedagang di bawah payung besar. Bukan, tidak ada yang menyebutnya pedagang kaki lima. Orang yang ingin lalu harus berselingkit-selingkit, disela barang galas para pedagang, di sela ketiak orang lain, di sela kambuik gadang yang disandang amai-amai. Pasar itu heboh allahurabbi, oleh sorak dan sorai, oleh bunyi parang yang menetak dan memakuk.

Begitu pula di jenjang yang bertingkat-tingkat. Orang menggalas belaka dimana saja ada tempat terbuka. Menggalas apa saja, jarum penjahit dan peniti, kain lap dan saputangan, pisau dan lading buatan Sungai Pua. Atau yang menggalas kerupuk jangek balatua mentah, atau tulang cancang, atau dadih di dalam sambang. Semua serba ada. Menggelar galas di sela-sela jalan orang lalu di jenjang gantung yang sempit berselingkit. Tidak ada yang menggerutu. Cara orang sekarang, tidak ada yang komplain. Semua berlapang dada saja. Semua mencari untung serupiah dua rupiah. Kenapa pula harus digerutui.

Di puncak pasar di Pasar Atas, sesudah melalui jenjang yang bertingkat-tingkat, sesudah melalui bau amis darah di pasar bantai, sesudah melalui bau anyir di pasar maco, menguap bau harum sate yang bukan sate Padang karena yang berjualan orang Pekan Kamis. Sate mak Mamuik (Mahmud) dan sate mak Aciak. Asapnya menjulang ke udara. Baunya yang semerbak menimbulkan rasa lapar. Ada pula bunyi bakalentongpentong orang mengaduk es di sampingnya. Es batu yang baru saja diketam untuk dicampurkan ke mangkuk es te bak yang sekarang diaduk dengan suara bakalentongpentong. Entah kenapa namanya es te bak. Tapi yang jelas rasanya bukan main nyaman, penawar pedas sesudah menyantap sepiring sate. Ada lagi soto bang Karto dan soto Haji Minah bersebelah-sebelahan. Bukan, keduanya bukan soto Padang. Orang yang membuatnya saja namanya bang Karto.

Pasar Atas ramai, idem ditto. Berselingkit pingkit orang lalu di antara jualan dan dagangan. Boleh masuk ke dalam los demi los. Yang diantaranya ada yang bernama los bergalung. Tempat orang berjualan kain dan alas kaki. Berjualan tikar dan lapik pandan. Berjualan segala macam rempah yang baunya harum menyebar kemana-mana. Berjualan tembakau dan daun terusan ataupun daun enau, untuk digulung jadi paisok, yang bukan rokok.

Di lapangan di hadapan mesjid raya, di samping panggung (bioskop) Irian ada orang berjualan obat. Entah obat apa, tidaklah penting sangat. Yang berjualan suaranya parau. Banyak ceritanya. Berseleperan mulutnya. Kadang-kadang dibuatnya atraksi seperti tukang sulap. Berkerumun orang menonton dalam sebuah lingkaran besar. Penjual obat beraksi di tengah-tengah. Berjalan hilir mudik sambil mulutnya tidak henti-henti berceloteh. Mengiklankan obat pencahar yang dijualnya. Gelarnya konon Datuk Dalu. Obat yang dijualnya adalah untuk yang bermasalah dan sulit ke belakang. Kalau sudah memakan obat Datuk Dalu, puuut bunyi kentut, ceeer bunyi isi perut menyemprot sampai sejauh tiga meter. Meski yang berkerumun berbilang puluhan, yang membeli hanya empat lima orang tidaklah penting bagi Datuk Dalu.

Beberapa puluh meter ke arah sana ada pula kerumunan yang lain. Tukang obat juga. Agak sedikit jelas obat yang dijualnya. Air racikan daun-daunan yang nanti dicampurnya dengan telur ayam dan madu untuk diminum para pembeli. Iklannya terdengar lebih pasti. ‘Obatku obat istimewa, bukan omong kosong. Obat orang Jerman hanya elok untuk orang Jerman. Obat orang Jepang hanya elok untuk orang Jepang. Obatku boleh untuk semua makhluk. Orang Jerman boleh meminumnya. Orang Arab boleh meminumnya. Orang Jepang boleh meminumnya. Sedangkan diberikan ke kuda jadi obat bagi kuda. Diberikan ke gacik (=anjing) jadi obat bagi gacik. Ha, singgahlah disini. Minumlah obat sitawa sidingin penyembuh sakit kepala. Penyembuh sakit hulu hati.’ Begitu katanya. Tentu saja dia benar, karena telur dan madu memang diminum setiap bangsa untuk jadi obat.

Di tempat orang berkerumun menonton tukang obat itu ada pula yang sedang mengail rejeki. Caranya dengan merosok kantong orang diam-diam. Bagi yang serawarnya besar dan dompet diletakkan di kantong serawar besar itu alamat akan jadi makanan empuk si tukang rogoh. Si tukang copet ini biasanya berkawan, dua atau tiga orang. Tampangnya itu ke itu juga. Orang banyak yang tahu. Si tukang copet biasanya mencari tampang-tampang baru. Orang yang baru datang dari jauh. Orang kampung yang baru saja menjual hasil bumi. Orang merubung menonton penjual obat biasanya jadi sasaran enteng bagi pencopet.

Barudin Sutan Bagindo pagi ini membawa 40 kilo lado (cabai merah) ke pasar Bukit Tinggi. Panen lado sedang elok-eloknya dan harganyapun sedang elok-eloknya pula. Dari hasil panen kali ini Barudin berniat akan mengganti atap ijuk rumah gadang dengan atap seng. Uang hasil penjualan lado itu dibaginya dua. Separo diletakkannya ke dalam puro (=kantong khusus) kain yang diikatkannya dengan tali di pinggang celana. Yang separo, yang akan dibayarkannya sebagai uang muka pembelian seng di letakkannya dalam saku baju gunting cina. Sesudah menerima uang pembayaran beli lado Barudin berjalan santai menuju pasar atas melalui jenjang empat puluh. Jenjang ini tidak seramai jenjang yang lain. Hal pertama yang akan dilakukan Barudin sesampai di pasar atas adalah pergi makan ke lepau nasi langganannya.

Di jalan yang sempit berselingkit di antara puncak jenjang empat puluh dan kedai nasi, Barudin terhalang oleh seorang laki-laki yang membungkuk mengambil saputangan jatuh. Tercatat juga di otaknya, bahwa agak aneh perbuatan orang laki-laki bersaputangan itu. Sempat terlihat olehnya roman muka orang itu yang berumur sekitar tiga puluh tahun, yang tersenyum kepadanya. Barudin tidak berprasangka apa-apa. Dia terus melangkah ke lepau.

Barudin makan enak sampai berpeluh-peluh. Makan dengan gulai cancang kambing. Barulah dia terperangah ketika merogoh saku baju gunting cina untuk membayar. Saku itu sudah kosong melompong.

Kapundung, katanya dalam hati. Ini rupanya arti tingkah si Kurapai yang membungkuk mengambil saputangan tadi. Uangnya sudah dicopet. Uang seharga 20 kilo lado sudah raib digondol si pencopet.

Barudin tidak mau merisaukan diri gara-gara uangnya dicopet. Dikeluarkannya uang dari puro yang terikat di ikat pinggangnya untuk membayar nasi orang lepau. Uang yang diniatkannya akan diserahkan kepada istrinya. Barudin adalah seorang laki-laki ninik mamak di kampung, yang menenggang dunsanak perempuan dan bertanggung jawab kepada anak istri.

Dia tidak jadi singgah ke toko yang menjual atap seng. Biarlah besok hari Sabtu saja. Sesudah dia menjual lado pula di hari itu nanti. Dan mudah-mudahan dia bisa bertemu lagi dengan tukang copet kurapai tadi. Akan dijebaknya manusia jahil itu. Akan ditagihnya piutang kalau orang itu berjumpa lagi. Dia bergegas saja pulang ke kampungnya. Masih banyak kerja yang akan dikerjakan.


***

Sesuai rencana hari Sabtu berikutnya Barudin berangkat lagi ke pasar. Panen lado sedang naik. Hari ini hampir lima puluh kilo yang dibawanya. Alhamdulillah harganyapun bertambah elok. Lebih banyak bilangannya dari hari Rabu kemarin untuk sekilo lado. Barudin tidak perduli bahwa harga naik itu karena nilai uang kertas memang merosot terus dari sehari ke sehari. Ketika menerima uang harga lado dilakukannya persis seperti yang dikerjakannya tiga hari yang lalu. Uang itu diperduanya. Separo masuk puro dan separo masuk saku baju gunting cina. Hanya yang terakhir ini, kali ini dimasukkannya dulu ke dalam sebuah amplop. Kantong baju gunting cina menggelembung dengan amplop berisi uang kertas.

Barudin mampir sebentar ke peturasan di dekat surau di pasar bawah. Seperti orang akan buang air kecil. Di kakus itu di keluarkannya kembali uang yang di dalam amplop dan dimasukkannya semua ke dalam puro. Amplop itu diisinya dengan kertas sehingga tetap menggelembung dalam sakunya. Barulah dia melangkah keluar.

Hatinya berdetak bahwa dia sudah diamati orang sejak dia menerima uang pembelian lado tadi. Sekarang dia melangkah menuju jenjang empat puluh. Seperti hari Rabu kemarin. Melalui jalan yang sama. Dia akan menuju lepau yang sama. Persis ketika akan menjejak jenjang empat puluh yang sebenarnya, dia di dahului tiga orang laki-laki. Satu dari ketiga laki-laki itu mengatakan ‘daulu saketek, mak’ (=saya duluan, paman) dengan sopan. Dan orang itu adalah yang waktu itu mengambil saputangan jatuh.

Barudin bergumam dalam hati. Akan kuterima piutang, katanya.

Dia sampai di puncak jenjang. Di hadapannya adalah keramaian pasar dengan orang yang sangat banyak. Barudin berjalan saja menekur seperti biasa. Tapi kali ini dia sedang berhitung dan berencana. Akan menagih piutangnya.

Benar saja. Beberapa langkah menjelang lepau nasi. Di jalan yang sempit seperti kemarin. Tiba-tiba saja Barudin sudah berada di antara dua orang laki-laki. Di depannya adalah orang yang kemarin mengambil saputangan jatuh. Saat ini dia memegang sebungkus rokok Kansas. Di belakangnya terasa ada orang yang menyelingkit-nyelingkit sambil mendorong. Barudin sedang waspada penuh.

Nah, inilah saatnya. Yang di depan menjatuhkan bungkus rokoknya. Barudin melihat itu dengan jelas karena memang sudah ditunggunya dari tadi. Berikutnya orang itu membungkuk mengambil rokok dengan mukanya seperti kemarin lagi, melengah ke belakang ke arahnya sambil tersenyum. Tangan orang yang di belakangnya secepat itu pula merogoh ke dalam kantong baju gunting cina Barudin. Inilah yang ditunggunya dari tadi. Secepat kilat, tangan yang sedang berada di saku bajunya itu ditangkapnya dengan tangan kanannya. Cap, tertangkap. Orang itu berusaha melepaskan tangannya dengan muka ketakutan. Barudin tidak mengambil banyak tempo. Dengan sekelebatan yang hanya berbilang detik, tangan orang itu dikeripukkannya sampai berbunyi seperti tulang patah. Pada saat yang sama si tukang halang di depannya yang baru bangkit dari mengambil rokok disepohnya dengan kaki sehingga jatuh terjengkang.

Si perogoh melolong kesakitan. Telunjuk dan jari tengahnya patah terkulai-kulai. Si penghalang yang jatuh terjengkang luka, keningnya terhempas ke jalan. Barudin melihat orang ketiga. Dia sudah mengenalinya sejak menaiki jenjang tadi. Dia berbaju berwarna biru. Ketika orang ketiga ini berusaha menghindar, Barudin menarik pinggang celananya. Orang itupun pucat pasi ketika menoleh kepadanya. Dengan gerakan secepat kilat pula diraihnya tangan orang itu dan dipelintirnya dengan gerakan sangat cepat. Terkeripuk pula dengan bunyi tulang patah. Diapun melolong kesakitan.

Semua itu berlangsung dalam waktu tidak sampai lima belas detik. Orang di tengah balai yang ramai itu terheran-heran menyaksikan dua orang yang meraung-raung kesakitan. Tidak ada seorangpun yang tahu entah apa sebenarnya yang terjadi.

Barudin mendekat ke si kening berdarah sebelum berlalu. ‘Ba karilahan wak yo,’ (=Saling mengikhlaskan kita, ya) katanya. Si kening berdarah hanya bisa menyeringai. Jual beli itu memang sudah selesai. Barudin mengambil untung sedikit dari ketiga sekawan yang kemarin sudah lebih dulu menerima uangnya. Hari ini giliran Barudin menerima piutang.

Barudin melanjutkan langkahnya ke lepau nasi. Makan nasi dengan gulai cancang seperti kemarin dulu. Bahkan dua kali bertambuh. Habis juga tenaganya sesudah bersilat tiga jurus tadi. Barulah sesudah itu dia pergi ke toko seng.


*****

MBAK NARTI BAKUL SAYUR

MBAK NARTI BAKUL SAYUR

Kami makan malam bertiga saja. Aku, istri dan anak bungsu kami. Dan memang hanya ada kami saja di rumah. Dua anak-anak yang lain tidak tinggal bersama kami. Mereka kuliah di kota lain. Istriku memasak sayur asam yang katanya tidak baik untuk orang berpenyakit asam urat sepertiku. Tapi apa boleh buat, karena aku sangat suka sayur asam, sebelum makan membaca bismillah nya di perkhusyuk saja. Dan makan tidak berlebih-lebihan. Insya Allah tidak apa-apa.

Sesudah makan, si Bungsu bergegas mengemasi piring-piring kotor dan mencucinya. Biasanya dia akan segera masuk kamar untuk belajar sesudah itu. Istriku mengupas sebuah apel dan mulai bercerita.

‘Ada berita baru lho, bang. Abang tahu si mbak Narti bakul sayur itu kan?’ katanya memulai.

‘Ada apa dengan dia?’ tanyaku sambil mencomot sepotong apel yang baru saja di belah-belah istriku.

‘Dia sekarang pakai jilbab, lho bang. Tadi pagi ibu-ibu langganannya pada kaget dan heran. Dia pakai jilbab,’ istriku melanjutkan.

‘Baguslah. Itu namanya kemajuan,’ jawabku sambil mengunyah keratan apel itu halus-halus.

‘Ibu-ibu bertanya. Kenapa, mbak? Kok tumben pakai jilbab? Dia bilang, ya mungkin saya lagi dapat hidayah. Rasanya lebih baik begini. Lebih mantap, begitu jawabnya. Apa betul kira-kira dia itu dapat hidayah, ya bang?’

‘Mudah-mudahan begitu. Bukankah kamu pula yang bilang, bahwa si Narti itu orangnya alim. Kalau berdagang tidak pernah bohong. Shalatnya, katanya, tidak pernah tinggal. Mudah-mudahan saja dia itu benar-benar dapat hidayah dari Allah,’ jawabku asal-asalan.

‘Kalau itu sih benar, bang. Dia itu jujur dan amanah. Pernah waktu itu ada yang pesan ayam kampung. Waktu dia mampir di rumah orang yang memesan itu, orang itu sedang tidak di rumah. Lalu ada orang lain yang mau membeli ayam itu, mbak Narti tidak mau menjualnya, karena katanya itu sudah milik orang yang pertama tadi. Dan dia kembali lagi setelah dagangannya habis ke rumah yang memesan itu, orangnya tetap belum ada, sehingga akhirnya ayam itu terpaksa dibawanya pulang dan baru besoknya diterima orang yang memesan itu.’

‘Berarti dia memang sangat amanah,’ ucapku.

‘Tapi balik ke soal pakai jilbab. Dia itu benar-benar dapat hidayah kayaknya ya bang? Bagaimana pendapat abang?’ tanya istriku.

‘Kalau dia pakai jilbab semata-mata hanya karena Allah maka betul-betullah dia itu namanya dapat hidayah Allah. Tapi kalau dia berjilbab karena selain dari Allah tentu bukan demikian lagi,’ jawabku masih sekenanya.

‘Kalau bukan semata-mata karena Allah, karena siapa pula?’

‘Mungkin saja karena suaminya. Atau karena orang lain,’ jawabku.

‘Kalau awalnya karena diingatkan suaminya lalu setelah itu dia ikhlas melakukannya karena Allah?’ istriku pura-pura menyelidik.

‘Ya berarti juga karena Allah dong. He..he..he.’

‘Tapi…. Indah sekali tatkala seseorang itu berubah kepada kebaikan, ya bang?. Mbak Narti itu…….. yang sudah tidak muda lagi itu….mau pakai jilbab karena kesadarannya sendiri. Saya kagum sekali kepadanya.’

‘Perubahan kepada kebaikan seperti itu benar-benar merupakan sebuah hidayah. Allah memberikan kemudahan kepada siapa saja yang dikehendakiNya. Pada saat hati seseorang mau menerima kebenaran, mau menerima aturan yang ditetapkan Sang Maha Pencipta dengan ikhlas, memang terasa indah sekali. Tidak semua orang mampu memahami aturan yang ditetapkan Allah dan tentu saja tidak semua orang sanggup mematuhinya. Tidak semua orang mampu untuk tidak ngeyel, tidak mencari-cari alasan,’ tambahku.


*****


Hari Minggu pagi. Aku sedang duduk membaca koran di teras depan. Tiba-tiba muncul si Narti dalam busana jilbabnya dengan bakul sayurannya, menyapaku ramah.

‘Ibu mau belanja pak?’ tanyanya.

‘Iya,’ jawabku pendek, serta langsung memanggil istriku.

Istriku muncul. Sedikit salah mengerti dan mengatakan kalau dia hari ini tidak mau belanja karena mau ke pasar. Aku segera menengahi.

‘Mbak Narti bawa sayur asam, kan?’ aku bertanya sambil mengedipkan mata kepada istriku, memberi isyarat bahwa aku ingin membeli sesuatu.

‘Ada sih, pak. Tapi kalau memang ibu mau ke pasar ?’ dia balik bertanya, polos.

‘Tidak, saya mau beli dari mbak Narti saja. Turunkanlah bakulnya,’ perintahku.

Dia menurunkan bakulnya. Mengeluarkan sebuah kantong plastik yang berisi bahan-bahan sayur asam. Ada juga tahu kuning Bandung dalam plastik. Aku bilang aku juga mau membeli tahu. Sekali lagi dia mengingatkan.

‘Katanya ibu mau ke pasar. Di pasar pasti lebih murah lho dari dagangan saya,’ katanya.

‘Nggak apa-apa, mbak. Mbak Narti kan sudah langganan,’ istriku ikut bicara.

Belanjaannya cukup sayur asam dan tahu Bandung itu saja. Istriku mengambil uang ke dalam untuk membayarnya. Aku menggunakan kesempatan ini untuk sedikit mewawancarainya.

‘Bagaimana perasaan mbak Narti sejak pakai jilbab?’ tanyaku. Sebuah pertanyaan agak bodoh.

‘Saya lebih tenang pak. Saya ini dulu sekolah di pesantren. Dulu waktu sekolah saya pakai jilbab. Dan saya masih hafal ayat yang memerintahkan wanita memakai jilbab. Tapi setelah disini, setelah saya berjualan sayur saya tidak lagi memakainya. Rasanya saya berdosa. Saya lihat ibu-ibu di perumahan sini, banyak yang pakai jilbab. Mula-mula saya bilang, ibu-ibu itu kan sudah mapan. Punya suami dan tidak usah membanting tulang berjualan sayur seperti saya. Lha saya ini kan harus pagi-pagi sekali ke Pasar Induk. Lalu keliling untuk berjualan. Repot kalau pakai jilbab. Tapi kembali hati kecil saya mengatakan, saya ini berdosa. Tidak ada hubungannya antara saya harus berkeliling untuk berjualan dengan kewajiban saya berpakaian seperti yang diperintahkan agama. Saya tidak tenang pak. Dan itu berlangsung bertahun-tahun. Sampai akhirnya, keberanian saya muncul. Saya kembali menggunakan kerudung seperti ini,’ ceritanya secara rinci.

Aku mendengarkan ceritanya dengan kagum. Dan istriku juga ikut mendengar semua yang disampaikan mbak Narti.

‘Jadi mbak Narti dulu sudah pakai jilbab waktu di pesantren?’ istriku kembali bertanya.

‘Iya, bu. Dan baru sekarang lagi sesudah itu saya memakainya kembali. Mudah-mudahan Gusti Allah mengampuni kekeliruan saya selama ini,’ ungkapnya lagi yang menambah kekagumanku.

‘Saya ikut mendoakan, agar mbak Narti semakin teguh keimanannya,’ kataku.

Dia mengaminkan kata-kataku.

Setelah mbak Narti berlalu, kami kembali membahas perihal mbak Narti.

‘Nah, bang. Bagaimana pendapat abang?’ tanya istriku.

‘Pendapat abang, bahwa mbak Narti itu benar-benar seorang yang dapat hidayah dari Allah. Allah menggerakkan hatinya untuk berubah, kembali ke jalan yang benar. Dia tahu bahwa berjilbab itu adalah peraturan Allah. Itulah yang benar. Tapi dia telah mengabaikannya selama ini. Dalam hatinya timbul perasaan tidak tenang. Dia merasa berdosa karena tidak lagi menggunakan jilbab seperti ketika dia bersekolah di pesantren. Dia masih hafal ayat Quran yang memerintahkan setiap muslimah memakai jilbab. Dia merasa takut telah berbuat dosa. Rasa takut inilah yang menggiringnya untuk memperbaiki dirinya. Dia bertaubat kepada Allah. Hanya orang-orang yang punya rasa takut terhadap Allah-lah yang lebih mudah untuk bertaubat.’

‘Tadi dia mengatakan, ibu-ibu di kompleks kita banyak yang berjilbab, dan hal ini mungkin mempengaruhinya pula,’ komentar istriku.

‘Bisa saja demikian. Bisa saja itu menambah semangatnya untuk kembali berkerudung. Karena dia mengamati dan kemudian memikirkan dalam hatinya. Dia berdialog dengan dirinya sendiri seperti ceritanya tadi. Kebalikannya banyak juga orang yang tidak terpengaruh apa-apa, biarpun di sekitarnya banyak orang berjilbab,’ aku menambahkan.

‘Jadi kesimpulannya apa bang?’

‘Kesimpulannya? Kesimpulannya, sering-seringlah mengintrospeksi diri. Jangan membohongi diri sendiri ketika kita sebenarnya mengenal nilai-nilai kebenaran sementara kita belum mampu menegakkannya dengan cara berdalih macam-macam. Jangan malu untuk berubah. Jangan malu untuk bertobat. Kelihatannya itulah kesimpulan dari proses yang dijalani si mbak Narti bakul sayur itu.’


*****

Monday, January 21, 2008

ANAK MANUSIA KORBAN POLITIK (24)

ANAK MANUSIA KORBAN POLITIK (24)

24. PENUTUP

‘Sekitar jam delapan aku terbangun. Ita masih tertidur di dadaku. Aku bangkit pelan-pelan sambil mengangkat kepalanya dan meletakkannya di atas bantal. Ita masih lelap dalam tidurnya. Aku kecup keningnya.

Aku duduk ke luar kamar. Bermenung. Merenung. Berliku-likunya jalan hidupku. Lama aku duduk diam disana. Aku bangkit dan pergi mandi. Sehabis mandi, aku perhatikan Ita masih tidur nyenyak. Aku tidak mau membangunkannya.

Aku berpikir sebaiknya aku pergi ke toko pagi hari Minggu ini. Karena kalau duduk di rumah aku khawatir pikiranku makin suntuk. Sebelum berangkat aku tulis pesan singkat di kertas dengan tulisan, ‘Ita, Ita masih tidur nyenyak, uda tinggal. Uda pergi ke toko. Nanti kita berdiskusi lagi. Uda. Jam 9.00.’

Tidak semudah yang kubayangkan untuk tidak suntuk berada di toko. Aku terpuruk di dalam kesunyianku sendiri di tengah pasar besar itu. Sesudah shalat zuhur aku sudah tidak betah. Segera kututup lagi toko dan aku langsung menuju pulang.

Sampai di rumah aku lihat tidak ada mobil. Rumah terkunci. Aku coba mengetuk-ngetuk dan memanggil-manggil, Ita tidak menyahut. Anak gadis orang punya rumah datang membawakan kunci.

‘Uni Ita tadi menitipkan kunci ini. Dia pergi,’ kata anak gadis itu.

Aku terima kunci itu dan segera masuk rumah. Aku masuk ke kamar. Ada sebuah amplop putih di atas meja. Amplop yang pasti ditinggalkan Ita. Dadaku bergemuruh lagi dan tanganku bergetar. Aku buka amplop itu dan kubaca isinya;

Uda Marwan yang sangat Ita sayangi,

Untuk kesekian ribu kalinya Ita meminta maaf kepada uda. Ita telah banyak sekali berbuat dosa kepada uda. Menyakitkan hati uda, menyusahkan uda. Ita memang tidak pantas menjadi istri uda. Uda seorang yang sabar, seorang yang saleh, seorang yang teguh imannya. Sementara Ita adalah wanita yang suka berkeluh kesah, yang tidak tahan menderita dan tidak sabar. Ita terlalu lemah, uda. Terlalu rapuh untuk melawan goncangan-goncangan dan cobaan-cobaan yang kita lalui selama ini. Sekali lagi maafkanlah Ita, uda.

Ita tahu, perpisahan ini pasti merobek-robek hati uda. Ita tahu betapa besarnya cinta uda kepada Ita. Itapun sangat mencintai uda. Ita sangat bangga jadi istri uda. Tapi kelemahan jiwa dan kerapuhan batin Ita telah merusak diri Ita dari dalam. Ita sangat menderita karenanya, uda.

Uda Marwan,

Ijinkanlah Ita mengulangi sekali lagi menyampaikannya, bahwa Ita tidak pernah mengkhianati pernikahan kita. Ita tidak pernah mengkhianati uda. Ita tetap mempertahankan kesucian pernikahan kita. Namun Ita sangat lemah uda. Setan selalu berbisik di telinga dan dada Ita. Dan Ita khawatir suatu saat nanti Ita tidak mampu lagi bertahan dari godaannya. Iman Ita tidak seteguh iman uda.

Uda yang Ita sayangi,

Sementara ini ijinkanlah Ita pergi dulu dari rumah. Ita pergi kerumah etek di Cempaka Putih. Perbuatan Ita ini pasti akan sangat menyusahkan uda. Sekali lagi, untuk kesekian kalinya, maafkan Ita.

Wassalam dan maaf dari istri uda

Rosita

Ya Allah........ keluhku. Beri hamba kekuatan.....

Aku pergi berwudhu ke kamar mandi. Aku ambil al Quran. Aku mengaji dan aku baca surat Yasin. Aku ulang menamatkan bacaan surat itu sampai tiga kali. Sesudah itu aku tertidur terkapar di atas sajadah.

***

Aku terbangun ketika mendengar pintu diketok dari luar. Aku lihat jam, sudah jam setengah lima. Aku segera keluar membukakan pintu. Di luar berdiri etek dan pak etek Cempaka Putih. Aku persilahkan beliau masuk.

Etek langsung berbicara kepadaku.

‘Marwan. Sepertinya ada masalah dalam rumah tangga kalian. Etek dan pak etek tentu tidak boleh ikut campur dalam masalah ini. Ita sekarang ada di rumah. Menurut etek, biarkanlah dia disana dulu menenangkan hatinya semalam dua malam ini. Etek dan pak etek akan membantu menenangkan pikiran Ita. Kami bantu dengan doa, mudah-mudahan masalah kalian bisa cepat selesai dengan baik,’ kata beliau.

‘Baiklah tek,’ jawabku pendek.

‘Sabar, Marwan. Biasa. Rumah tangga tanpa riak dan gelombang hambar rasanya seperti sayur tanpa garam. Sabar. Banyak-banyak sabar,’ ujar pak etek menambahi.

‘Insya Allah pak etek,’ jawabku pendek.

‘Baiklah Marwan, etek tidak lama-lama. Kami hanya ingin menyampaikan itu saja. Marwan sabar, ya. Dan hati-hati. Nanti kalau Ita sudah tenang, insya Allah kami antarkan kembali kesini. Oh, ya. Ini etek bawakan nasi bungkus. Sudah ya Marwan, kami pamit dulu,’ kata etek.

‘Baik, tek. Terima kasih pak etek, terima kasih tek,’ jawabku.

Aku antarkan kedua orang tua yang baik itu ke mobil mereka. Dan aku tunggu sampai mobil itu menghilang dari pandangan. Aku ingat, aku belum shalat asar dan bergegas shalat. Sesudah shalat aku mengaji lagi. Dan terasa perutku lapar. Ya aku belum makan apa-apapun sejak pagi. Belum minum setegukpun.


***

Tiga hari berlalu. Air mataku sudah kering untuk menangis. Aku kusut masai selama tiga hari ini. Tidak pergi ke toko. Hatiku maju mundur antara keinginan pergi melihat Ita ke Cempaka Putih dengan membiarkannya saja.

Entah bisikan apa ini yang berdengung di otakku. ‘Sudahlah Marwan. Hidup ini memang kalah dan menang. Ketika kalah, sabar. Ketika menang, berlakulah wajar. Sekarang kau kalah, hendaklah kau sabar. Apa yang disampaikan Ita ada benarnya. Dia tidak tahan hidup menderita seperti yang kamu tanggungkan. Dia wanita dengan segala kelemahannya. Biarkanlah dia, demi cinta dan kasihmu kepadanya. Maafkanlah dia. Bersabarlah sekali lagi. Dibalik kesabaran itu ada keindahan.’

***

Jam setengah empat sore, ketika aku sedang shalat asar, aku dengar pintu diketok. Aku selesaikan shalatku. Diluar terdengar suara orang bercakap-cakap. Sesudah shalat aku segera bangkit dan membukakan pintu.

Di luar ada papa dan mama Ita, pak etek dan etek dan Ita. Berlima. Aku salami semua satu persatu. Ketika menyalami Ita aku peluk dia. Dan aku menangis lagi. Itapun menangis.

Kami segera terlibat dalam perbincangan. Papa Ita yang memulai pembicaraan.

‘Marwan. Pertama sekali, papa dan mama sangat prihatin dengan masalah rumah tangga kalian saat ini. Papa dan mama sangat tidak setuju dengan perlakuan Ita, meninggalkan rumah, meninggalkan kamu. Kami sudah menasihatinya sangat panjang. Papa dan mama sudah berbicara panjang di telepon dengannya. Pak etek dan etek sudah menasihatinya sangat panjang sampai kewalahan dan meminta papa dan mama datang.

Sekarang, papa memaksa Ita datang kesini. Usul papa, biarlah Ita menenangkan pikiran dulu agak beberapa waktu ini. Bagaimana pendapat Marwan?’

Aku terdiam mendengar uraian singkat itu. Ita rupanya benar-benar sudah berada di titik yang tidak mungkin kembali lagi.

‘Ita, katakanlah apa yang ingin Ita katakan. Sampaikanlah apa yang ingin Ita sampaikan, uda akan menjawabnya. Uda akan mengabulkan apapun permintaan Ita selama uda sanggup melakukannya,’ kataku.

Ita menangis. Menangis tersedu-sedu. Tidak satu patah katapun keluar dari mulutnya.

‘Katakanlah Ita ! Apa keinginan Ita ? Sampaikanlah !’ aku ulangi lagi.

Mama dan etek ikut menangis melihat pemandangan itu.

‘Ita berbicaralah ! Katakanlah apa saja !’ pintaku lagi.

Ita mendekat kepadaku dan memeluk tubuhku. Dia menangis tersedu-sedu di bahuku. Apakah dia mau kembali, tanyaku dalam hati.

‘Uda.........., Demi Allah uda........... Ceraikanlah Ita........’ katanya tambah tersedu-sedu.

Mama dan etek Ita menjerit histeris mendengar kata-kata itu. Papa dan pak etek memandang Ita dengan pandangan tidak percaya.

‘Baik........ Uda ceraikan Ita....... Saat ini jatuh talak uda satu kali kepada Ita....’ jawabku setenang mungkin.

Mama Ita menjerit mengatakan tidak dan memelukku.

‘Marwan.... Jangan........’ katanya terbata-bata.

Kami semua yang laki-laki diam. Ketiga wanita itu bertangis-tangisan sambil berpelukan.


***

Drama itupun selesailah. Lama kami duduk saling membisu sementara ketiga wanita itu larut dalam tangis. Tapi drama itu benar-benar sudah selesai. Talakku sudah jatuh. Itu memang lebih baik. Mereka baru pergi dari rumah itu sesudah maghrib. Masih kami coba berbincang-bincang sesudah itu, tapi tidak ada satu katapun yang lengket di telingaku.
Begitulah akhir cerita panjangku,’ kata Marwan.

Mata Desi merah karena tangis. Akupun menangis. Tragis sekali.

‘Dan kau tidak pernah lagi berjumpa dengan Ita sejak itu ?’ tanyaku.

‘Sering,’ jawab Marwan tersenyum.

‘Maksudmu?’

‘Ita menikah dengan teman simpatiknya itu. Rupanya ada benarnya ramalan mereka. Ita melahirkan dua orang anak dengannya. Suaminya itu meninggal karena kecelakaan lalu lintas sepuluh tahun yang lalu.’

‘Inna lillaahi wa inna ilaihi raaji’uun. Terus?’

‘Ya, Ita menjanda sampai sekarang,’ jawab Marwan.

‘Dan kau sering berkunjung lagi ke tempatnya?’

‘Ya,’ jawab Marwan tersenyum.

‘Maksudmu?’

‘Ya, menyantuni anak yatim. Menjenguk dan melihatnya saja.’

‘Terus. Kau sendiri apa yang terjadi sesudah perceraian itu?’

‘Mula-mula sakit. Sakit lahir dan batin. Terkapar sendiri di rumah kontrakanku selama berhari-hari. Ditolong oleh pemilik rumah yang tetanggaku.’

‘Lama menduda?’

‘Lima tahun. Lebih sedikit lima tahun.’

‘Dimana bertemu dengan Kokom?’

‘Di rumah kontrakanku itu.’

‘Bagaimana caranya?’

‘Kokom adalah anak gadis kecil yang dulu suka menemani Ita kalau aku pergi ke Irian. Kokom yang sering disuruh ibunya mengantarkan makanan ketika aku sakit sesudah perceraian. Ketika itu dia baru saja mulai kuliah.’

‘Terus?’

‘Aku dilamar lagi oleh orang tua Kokom. Orang Minang kan laki-lakinya yang dilamar. Aku orang Minang dan aku dilamar untuk Kokom,’ Marwan tersenyum.

‘Hey. Bisa panjang lagi dong ceritanya,’ kataku.

‘Ah, nggak juga. Ayah Kokom menanyaiku apakah aku mau menikahi Kokom. Aku bilang, apa nggak salah. Aku duda berumur hampir 40 tahun. Kokom masih gadis 24 tahun. Apa Kokom mau, tanyaku kepadanya.’

‘Dan ternyata mau?’ tanya Desi.

‘Itu, buktinya sekarang,’ jawab Marwan.

‘Lalu bagaimana hubungan dengan Ita? Maksudku bagaimana tanggapan Ita dan bagaimana tanggapan Kokom terhadap Ita?’

‘Baik-baik saja. Orang mereka saling kenal sejak lama. Bahkan ada usulan Kokom yang sangat dahsyat,’ kata Marwan tersenyum lebar.

‘Apa itu?’ tanyaku.

‘Supaya aku menikahi Ita kembali...he...he...he...’ Marwan tertawa terkekeh.

‘Gila. Dan terus? Kau mau?’ tanyaku.

‘Nggak. Belum..he.he.he.. ‘

‘Kapan dia menyuruhmu menikahi Ita kembali?’

‘Wouf.... Pertanyaanmu kayak wartawan. Sejak 7 tahun yang lalu. Sesudah Ita 3 tahun jadi janda,’ jawab Marwan.

‘Kenapa tidak mau ?’ tanya Desi.

‘Saya bilang kan belum mau. Siapa tahu nanti kapan-kapan mau...he..he..he,’ Marwan kembali terkekeh-kekeh.


***

Kami makan malam dengan sate kambing yang dibelikan Faisal anakku. Sudah jam sembilan malam waktu Marwan meninggalkan rumah kami


Tamat

Jatibening, 22 Januari 2008

Cerita fiktif ini ditulis selama 22 hari.

ANAK MANUSIA KORBAN POLITIK (23)

ANAK MANUSIA KORBAN POLITIK (23)

23. BONUS PUKULAN TERAKHIR

Desi sedang menata meja untuk makan malam waktu kami sampai kembali di rumah. Sepertinya dia juga sedang menyiapkan sesuatu di dapur. Aku bertanya apakah dia tidak tertarik meneruskan mendengar cerita Marwan. Dia bilang kalau dia akan menggoreng telor untuk tambahan lauk dan setelah itu sebaiknya kami makan malam dulu. Marwan mengusulkan agar makannya nanti saja karena dia merasa masih kenyang. Aku mengusulkan menyuruh Faisal pergi membeli sate untuk makan malam. Usul yang akhirnya disetujui.

Marwan mulai lagi bercerita.

‘Ketika aku diberhentikan aku diberi uang pesangon sekedarnya. Enam bulan gaji. Tabunganku boleh dikatakan nol ketika itu karena disamping kami membeli mobil dan membayar cicilannya, kami juga baru saja membayar perpanjangan kontrak rumah untuk dua tahun ketiga. Tabungan Ita adalah sedikit. Aku mulai mencari tempat untuk memulai usaha membuka toko buku. Pilihanku adalah Pasar Senen, pasar yang lumayan besar. Aku cari toko kecil. Sewanya setahun segera menguras setara dengan empat bulan gaji yang aku terima.

Aku segera mulai. Membeli beberapa buah rak tempat memajang buku di toko itu. Akhirnya semua uang pesangon masuk kesana. Toko itu mulai berjalan tertatih-tatih. Pengalamanku membantu pak etek dulu di Surabaya sangat banyak membantu usaha ini.

Untuk biaya di rumah dan melanjutkan pembayaran cicilan mobil kami tergantung dari gaji Ita. Kami harus menjalani hidup sehemat mungkin. Ita bukan wanita boros, tapi untuk hidup prihatin seperti ketika itu sangat berat baginya. Kami jalani hidup seperti itu beberapa bulan sampai datangnya cobaan berikutnya.

Mungkin karena tekanan dan kesulitan hidup, hubungan kami, hubungan antara aku dan Ita, sedikit demi sedikit semakin renggang. Tidak ada lagi masa-masa indah seperti dulu ketika kami banyak canda dan ketawa. Ketika kami sangat bahagia dan selalu ceria. Rumah tangga kami sekarang seperti selalu ditutupi awan hitam. Kami tidak pernah bertengkar. Tapi kami lebih banyak saling diam. Sebenarnya kalau menurutku, musibah yang kami alami masih dapat ditahankan, masih banyak orang yang lebih tidak beruntung dari kami. Tapi tidak demikian halnya dengan Ita. Dia betul-betul tersiksa oleh kepedihan dan keberatan beban mental selama ini. Entah deraan apa pula yang diterimanya di kantornya, dari rekan-rekan sekerjanya yang pasti juga tahu apa yang sedang kami alami. Ita tidak pernah bercerita. Dan Ita tidak pernah tertarik mendengar ceritaku berjuang menjalankan usaha toko buku.

Akhirnya datanglah hari yang paling dahsyat dalam hidupku itu. Ita mengajakku berunding. Tentang sesuatu yang tidak pernah terpikirkan olehku sebelumnya.


***

Malam itu sesudah shalat isya, kami duduk di sajadah masing-masing, dalam zikir dan doa. Ita masih memakai mukena. Dia memulai pembicaraan.

‘Uda, Ita ingin berbicara serius dengan uda,’ katanya mengawali.

‘Tentang apa Ita?’ tanyaku.

‘Tentang rumah tangga kita, da. Tentang kita.......,’ katanya terbata-bata.

‘Apa yang ingin Ita sampaikan ?’ tanyaku, tanpa prasangka buruk sedikitpun.

‘Uda... Ita sangat sayang kepada uda. Dan Ita tahu, uda sangat sayang kepada Ita. Kita saling mengasihi, saling mencintai......’ Ita mulai menangis.

Mataku ikut berlinang-linang. Tapi apa yang akan disampaikannya ?

‘Da, mungkin Ita keliru. Untuk itu maafkan Ita. Ita melihat penderitaan uda. Ita sedih, karena Ita tidak sanggup membantu penderitaan uda. Uda sangat menderita selama ini...’ katanya terbata-bata dalam isak tangis.

‘Ita, bukankah ada Allah yang menolong kita. Berapapun beratnya penderitaan ini, uda akan tanggungkan. Uda percaya Allah akan menolong kita,’ jawabku.

‘Itapun percaya dengan itu, uda. Ita percaya dengan ketegaran dan kesabaran uda. Ita yakin Allah akan menolong kita,’ katanya.

‘Uda hanya meminta agar Ita, tetap bersabar. Sekali lagi permintaan uda tentang sabar ini mungkin sudah membosankan telinga Ita mendengarnya. Tapi percayalah, Allah mencintai orang-orang yang sabar.’

‘Betul uda. Tapi seperti yang sering juga uda katakan. Kita harus melihat perjalanan hidup ini secara nyata. Secara realistis. Ini yang sangat berat bagi Ita untuk menyampaikannya........... Maafkan Ita....’ katanya terisak-isak.

Hatiku mulai berdetak. Apa yang akan dikatakan Ita berikutnya? Aku terdiam mematung.

Itapun terdiam cukup lama.

‘Maafkan Ita, da. Maafkan kalau Ita lancang dengan yang akan Ita katakan ini........’

Ita menutup mukanya dengan mukena. Ita menangis sejadi-jadinya.

‘Apa yang akan Ita katakan? Katakanlah!’ kataku membujuknya sambil merangkulnya ke dalam pelukanku.

Tangisnya semakin menjadi-jadi.

‘Ita, katakanlah. Apa yang menyesakkan dada Ita ? Katakanlah! Uda akan mendengarkannya,’ kataku.

‘Maaf, da. Ita minta beribu-ribu maaf. Ita merasa kita tidak beruntung menjadi pasangan suami istri. Uda sudah banyak menderita karena Ita. Uda tidak bahagia dengan Ita. Ita mohon maaf sekali lagi....... Sejujur-jujurnya Ita minta...... Maafkan Ita....... Ceraikanlah Ita uda....’

Petir. Patuih tungga. Itu rasanya yang menghajar telingaku. Dadaku bergemuruh kencang. Sakit luar biasa. Yang dibicarakan Ita bukan hal main-main. Dia tidak menyampaikannya dalam suasana kami bertengkar. Dia menyampaikannya sesudah kami selesai shalat. Pasti ini sudah hasil telaahan panjang. Pantas dia sangat berubah sejak beberapa bulan terakhir. Terlebih-lebih sejak aku berhenti bekerja.

Aku peluk Ita. Aku menangis. Benar-benar menangis tersedu-sedu. Aku sangat menyayanginya. Mencintainya. Ya Allah... Ujian apa lagi ini ?

Ita juga menangis dalam pelukanku. Lama kami larut terbawa emosi masing-masing. Mencurahkan banyak air mata. Kami tidak mampu bersuara untuk waktu cukup lama. Akhirnya aku memecah kesunyian kami.

‘Kenapa Ita sampai pada kesimpulan seperti ini? Ini tidak boleh terjadi Ita......... Ita tahu uda sangat menyayangi Ita. Kita saling mengasihi........ Uda tidak akan menceraikan Ita.........,’ kataku terbata-bata.

Ita mengangkat kepalanya.

‘Uda. Ita sangat sadar tentang hal itu. Uda sangat sayang kepada Ita. Itapun demikian. Tapi Allah menunjukkan bahwa hidup kita tidak nyaman selama ini. Allah tidak memberi kita keturunan. Padahal uda sehat walafiat. Uda mampu. Ita pernah hamil. Tapi sesudah itu, jalan kita seperti sudah tertutup untuk punya anak. Sudah lama Ita merenungkan hal itu. Dan nasib tidak baik yang uda alami selama ini, boleh jadi karena ketidak sabaran Ita menerima ujian Allah. Allah menguji uda, menguji kita dengan ujian yang lebih berat lagi. Oleh karena itu biarlah kita terima takdir ini. Bahwa kita memang ditakdirkan Allah untuk tidak beruntung dalam berjodoh. Hidup kita dihadapkan kepada banyak tantangan. Ita bukannya ingin lari, uda. Bukan Ita ingin berkhianat kepada uda.....Maafkan Ita........... Ita meyakini, mudah-mudahan perpisahan kita akan memperbaiki jalan hidup kita masing-masing sesudah itu...’ katanya panjang lebar.

Hatiku berdetak. Aku pegang bahunya dan aku tatap matanya.

‘Apakah Ita sedang didekati laki-laki lain?’ tanyaku.

‘Demi Allah, da. Ita tidak berkhianat, da. Ita tidak pernah mengkhianati uda,’ jawabnya.

‘Jawab sejujurnya Ita! Ada laki-laki lain yang menyebabkan Ita sampai berpemikiran seperti ini?’ tanyaku dengan suara bergetar.

Ita, sujud mencium kakiku dalam tangis.

‘Demi Allah, da. Ita tidak mau melayaninya da......... Demi Allah....’ jawabnya tersedu-sedu.

Aku terpana. Aku paham sekarang. Jadi itu rupanya. Ada pemain baru yang mencoba mendekat. Lama aku terdiam. Dadaku bergemuruh kencang. Aku akan jadi pecundang lagi? Aku akan dikalahkan lagi? Istriku sekarang didekati orang dan Ita rupanya sudah hampir tidak bisa bertahan lagi. Di saat aku sedang terpuruk. Sudah jatuh, sekarang akan ditimpa tangga pula.

Dia tidak mau melayani orang itu, siapapun dia. Tapi Ita sudah sampai ke penghujung titik pertahanannya dan kelihatannya menunggu rubuh. Entah dengan cara bagaimana pendekatan itu dilakukan. Entah kapan dimulai. Dan entah siapa orangnya. Sakit, betul-betul sakit dadaku sampai ke hulu hati. Tapi salahkah Ita ? Mungkin dia memang tidak siap untuk dibawa hidup melarat. Dibawa hidup dalam keadaan tidak ada jaminan seperti keadaanku saat ini. Ita anak orang kaya. Hidupnya sudah biasa senang dan berkecukupan sejak dia kecil.

Ita masih berada dalam pelukanku, menelungkup terisak-isak di pahaku. Sarungku basah oleh air matanya. Dan air matakupun meleleh bercucuran.

‘Siapa dia, Ita ?’ tanyaku akhirnya memecah kesunyian.

Ita semakin meratap di pahaku.

‘Ita tidak pernah mengkhianati uda...... Demi Allah da, Ita tidak pernah mengkhianati uda....’

‘Apa saja yang dilakukannya kepada Ita ?’ tanyaku bodoh.

‘Demi Allah da..... Ita tidak pernah mengkhianati uda. Demi Allah....’

‘Uda mempercayai Ita. Uda percaya Ita tidak mengkhianati uda........’ kerongkonganku seperti tercekik.

‘Apa yang terjadi? Sejak kapan dia itu mendekati Ita... ?’ aku mencoba bersikap tenang.

Ita hanya bisa larut dalam tangis. Dia tidak bisa berkata apa-apa selain isak tangis.

‘Ita, cobalah tenangkan hati Ita. Uda tidak akan memarahi Ita. Ceritakanlah! Apa yang terjadi?’ kata-kataku keluar lebih tenang tanpa getaran.

Tetap tidak ada suara.

‘Biarlah uda yang mencoba menerka. Ada seorang laki-laki di kantor Ita. Yang bersimpati dengan penderitaan Ita. Mencoba menghibur Ita. Mendekati Ita. Begitu kan ?’ kataku setenang mungkin.

Ita mengangkat kepalanya. Melihat kepadaku dengan mata basah oleh air mata.

‘Dia memberi tahu uda.....?’ tanyanya dalam sesenggukan.

‘Tidak ada yang menghubungi uda. Uda hanya menerka seperti itu jalan ceritanya. Tidak akan jauh dari itu. Benar kan?’

‘Ada orang kantor Ita yang menghubungi uda?’ tanyanya lagi dengan suara yang lebih teratur.

‘Tidak ada, Ita. Tidak ada siapapun yang menghubungi uda. Jadi betul begitu ceritanya? Ceritakanlah lebih jelas. Uda tidak marah, Ita. Ini pelajaran berharga untuk hidup uda. Ceritakanlah apa yang terjadi!’

Setelah perasaannya lebih tenang, Ita bercerita panjang. Tentang seorang laki-laki lajang yang sudah sejak lama bersimpati kepadanya di kantor. Katanya, pada awalnya laki-laki itu selalu sopan dan tidak pernah berlaku tidak pantas kepadanya. Hubungan mereka hanya sebatas teman sekantor. Sejak aku dapat masalah dan ada teman sekantornya yang tahu, (bukan dari Ita, tapi teman yang juga istri karyawan tempat aku bekerja) si laki-laki simpatiknya itu semakin memberikan perhatian. Memberi nasihat, memberi semangat, katanya. Hal itu dilakukannya setiap hari dengan cara yang Ita tidak bisa menolaknya. Tapi lama kelamaan, karena setiap hari memberi perhatian seperti itu, laki-laki itu semakin berani memberi saran-saran yang rupanya mulai menarik perhatian Ita.

Dia yang menyuruh pikirkan kemungkinan agar kami bercerai saja. Dengan semua alasan seperti yang sudah dijelaskan Ita kepadaku. Bahwa menurut dia, kami bukan pasangan yang cocok, karenanya tidak ada salahnya kehidupan rumah tangga kami untuk dievaluasi ulang.

Aku mendengarkan uraian Ita dengan dada bergemuruh.

Racun untukku, tapi simpatik dan masuk akal bagi Ita.

‘Ita, barangkali benar. Kita harus realistis. Apa lagi yang akan uda katakan? Ita sudah terbawa hanyut olehnya bukan? Dan uda saat ini adalah biduk tiris pendayung patah, buat Ita,’ kataku lirih.

‘Uda.... jangan begitu uda......’ katanya mulai menangis lagi.

‘Apanya yang jangan begitu ?’ kataku dengan suara serak.

‘Uda..... Bukan begitu uda.... Maafkan Ita.......’ katanya sambil merangkulku.

Tiba-tiba saja aku jadi muak. Setan masuk kedalam dadaku. Aku dorong tubuh Ita dengan kasar. Dia terjatuh. Dia merangkul kakiku dan menangis sejadi-jadinya. Setan masih bercokol didadaku. Aku dorong tubuh Ita dengan kakiku sehingga dia terjengkang. Aku keluar dari kamar.

Ita menjerit-jerit histeris di tengah malam itu. Aku biarkan dia. Aku sangat terluka untuk mendekati dan memperhatikannya.

Aku tidak bisa tidur semalaman. Dari dalam kamar aku dengar tangisan Ita juga hampir sepanjang malam. Sampai masuk waktu subuh. Aku tersentak. Dan bersitighfar. Ya Allah, ampuni hambamu ini. Aku masuk ke kamar. Ita masih menangis. Dia telah menangis sepanjang malam. Aku dekati dia dan aku rangkul tubuhnya.

‘Maafkan uda, Ita. Maafkan uda,’ kataku.

Ita makin keras lagi tangisnya.

‘Ita, maafkan uda. Sudah azan. Marilah kita shalat. Mari kita minta ampun kepada Allah,’ ajakku.

Ita bangkit. Aku bimbing dia ke kamar mandi. Kami berwuduk. Dan shalat subuh. Dan berdoa. Doa yang panjang sekali.

Sesudah shalat aku ulangi minta maaf kepada Ita. Dia rebah lagi di dadaku dalam tangisannya. Kami berbaring. Dan akhirnya tertidur keletihan di lantai beralaskan sajadah.’


*****