Wednesday, February 20, 2008

SEMINGGU DI RANAH BAKO (bag.1)

SEMINGGU DI RANAH BAKO

Prakata;

Sebuah cerita fiktif, mengangan-angankan Sumatera Barat menjadi destinasi wisata yang diminati warga dunia, karena disamping pemandangannya yang elok, masyarakatnya yang ramah, dan prasarananya terpelihara dengan baik. Harapan kita, suatu saat angan-angan ini akan jadi kenyataan, karena modal utama berupa keindahan alam sudah dimiliki daerah Sumatera Barat, keramahtamahan pernah dimiliki masyarakatnya dan prasarana dapat di sempurnakan dengan mudah.

Mudah-mudahan saja….

Penulis

*****


1. Tiba Di Minangkabau Internasional Airport

Pesawat Cathay Pacific itu mulai menurun untuk segera mendarat. Pramugari memberitahukan bahwa dalam waktu beberapa saat lagi ‘kita’ segera akan mendarat di Bandara Internasional Minangkabau di Ranah Minang. Sesudah sebuah penerbangan selama 3 jam nonstop dari Hongkong. Waktu saat itu menunjukkan jam 2 siang. Cuaca lumayan cerah. Pesawat semakin merendah dan berputar untuk mendekati landasan dari arah selatan. Pada saat itu Aswin yang duduk di dekat jendela melihat enam buah pesawat sedang parkir di bawah sana, di hadapan bangunan bandara beratap gonjong seperti yang sudah sering dilihatnya di foto maupun di internet. Dadanya berdebar-debar. Hampir sampai. Ke ranah yang selalu diceritakan ayahnya. Sampai seolah-olah dia kenal benar dengan negeri bakonya ini, meski belum pernah sekalipun dia berkunjung kesini.

Pesawat itu akhirnya menjejak bumi. Bumi Ranah Minang tanah pusako. Ketika pesawat sudah mendarat sempurna dan sedang bergerak menuju belalai untuk menurunkan penumpang, pramugari kembali menyampaikan pemberitahuan. ‘Selamat datang di Minangkabau International Airport di Ranah Minangkabau……Welcome to Minangkabau International Airport of Motherland country……’ dan seterusnya. ‘Akhirnya….., at last…’ desah Aswin. Sampai juga dia disini. Penumpang di sebelah, temannya berdiskusi sejak berangkat dari Hongkong tadi pagi, tersenyum melihat Aswin yang kelihatan sangat ‘excited’.

‘Jadi, kamu akan langsung ke Bukit Tinggi, heih?’ tanya Stephan Quok tetangga duduknya itu dengan bahasa Inggeris beraksen China.

‘Yup,’ jawab Aswin pendek.

'Menemui famili moyangmu itu?'

'Yup.'

‘Dan kamu akan tinggal dengan mereka, heih?'

'Naturally yes,' jawab Aswin, bersiap-siap untuk melangkah keluar pesawat.

'OK happy gathering, enjoy your visit,’ tambahnya.

‘Same to you,’ jawab Aswin.

Mereka mulai bergerak keluar dari badan pesawat Boeing 777 itu. Melalui belalai dan berjalan masuk ke dalam bangunan bandara. Turun melalui tangga berjalan terus menuju loket imigrasi. Petugas imigrasi menyapa ramah dalam bahasa Inggeris waktu Aswin menyodorkan pasport United States nya. Aswin menjawab dalam bahasa Indonesia. Petugas itu tersenyum ramah.

Aswin terus berjalan ke tempat mengambil bagasi. Bagasinya belum sampai, ban berjalan di bawah monitor tv dengan nomor penerbangan mereka, masih diam belum bergerak. Aswin mematut-matut ruangan bandara ini. Banyak sekali orang yang baru sampai rupanya. Dua buah ban berjalan sedang berputar dikerumuni oleh manusia yang sedang mencari bagasi mereka. Penumpang bukan orang Indonesia dan orang Indonesia hampir sama banyak. Yang bukan Indonesia kebanyakan bertampang Cina atau Jepang, disamping banyak juga yang bertampang Eropah. Dan beberapa orang Arab. Sebahagian dari mereka tentulah orang yang tadi sepesawat dengannya.

Tiba-tiba matanya menangkap baliho foto besar dengan sosok seorang ibu setengah baya, berbaju adat Minang berwarna merah, dengan tengkuluk tanduk berwarna kuning emas, tapi pakai jilbab, tersenyum manis. Dibawahnya tertulis besar-besar seolah-olah perkataan ’Bundo Kanduang’ itu; ’Selamat datang di Ranah Bundo, Tanah Minangkabau. Kami sambut anda dengan sirih di cerana, sebagai ungkapan putih hati. Silahkan menikmati panorama-panorama indah negeri ini dan keramahtamahan anak kemenakan Orang Minangkabau. Silahkan menikmati masakan Minang yang sudah anda kenal di tempat anda, sekarang langsung di negeri asalnya. Semoga kunjungan anda berkesan. Namun perlu kami sampaikan pula, iman dan adat anak negeri ini melarang keras perzinaan, perjudian, minuman alkohol dan obat-obat terlarang. Pelanggaran terhadap ketentuan tersebut berat hukumannya. Mohon anda mengambil perhatian sungguh-sungguh tentang itu.’

Aswin menatap tulisan itu. Ada beberapa baliho ’Bundo Kanduang’ dengan tulisan dalam beberapa bahasa, Inggeris, Jepang, China dan Arab. Stephan Quok datang menghampiri Aswin dan berucap.

’Ungkapan selamat datang yang jujur namun kasar, heih? Bagaimana pendapatmu?’

’Ya, jujur. Tapi menurutku tidak kasar. Melainkan sangat transparan dan tegas,’ jawab Aswin.

’Rupanya kamu langsung jadi pembela tanah leluhurmu. Look at that. Not even alcohol. Can you imagine that? For a tourist destination in this planet? C’mon..’ cerocosnya.

Aswin tersenyum. Malas meladeni orang tersebut.

Ban berjalan di hadapan mereka mulai bergerak. Aswin menunggu beberapa menit lagi sampai akhirnya bagasinya muncul. Dia menarik koper besar itu menuju ke arah luar, melalui tempat pemeriksaan bea cukai. Petugas bea cukai bertanya ramah, kalau ada sesuatu yang perlu dilaporkan dan Aswin menjawab tidak ada. Dia diizinkan untuk terus dan berlalu di depan petugas lain dengan seekor anjing pelacak yang diam saja. Petugas inipun tersenyum ramah kepadanya. Aswin mencari-cari Pohan, yang berjanji menjemput. Tidak ada kelihatan. Tiba-tiba matanya melihat kantor penukaran uang. Dia lalu menghampirinya. Seorang wanita muda berpakaian adat Minang menyapanya dengan ramah dari balik loket. Aswin mengeluarkan dua lembar uang seratus dollar minta ditukar dengan rupiah.

’Oh, bapak baru datang?’ sapanya agak keheranan. ’Saya pikir tadinya mau menukarkan rupiahnya kembali dengan mata uang lain. Begini pak. Rate kami agak rendah dibandingkan dengan rate di kota. Kalau bapak akan ke Bukit Tinggi atau ke Padang, mungkin lebih baik bapak tukar uangnya nanti disana. Mungkin cukup satu lembar saja yang bapak tukar disini seandainya bapak memerlukan untuk ongkos taksi,’ wanita muda itu menjelaskan.

’Baik kalau begitu,’ jawab Aswin. Matanya menangkap beberapa buah stiker bertuliskan ’Amanah, Jujur, Amanah, Jujur!’ cukup besar tulisannya, tertempel di dinding samping kantor penukaran uang itu.

Wanita itu menyerahkan tukaran uang rupiah berikut stroke penukarannya.

’Kalau saya tukar dikota berapa persen bedanya?’ tanya Aswin.

’Dua sampai tiga persen, pak. Dan tidak dikenakan pajak seperti disini,’ jawab wanita itu pula.

’Tidak apa-apa,’ kata Aswin. ’Terima kasih banyak.’

’Terima kasih kembali pak. Semoga kunjungannya menyenangkan. Selamat jalan,’ ucap wanita muda itu tetap tersenyum.

Terkagum-kagum Aswin atas kejujuran wanita muda ini. Dan dari tadi dia perhatikan betapa petugas-petugas disini sangat ramah. Sejak dari imigrasi, bea cukai, portir yang tadi menawarkan troley dan petugas money changer ini. Apakah kebetulan dia bertemu orang-orang ramah semua? Tidak seperti yang diingatkan ayahnya agar berhati-hati dan sabar karena orang-orang disini banyak yang kasar. Sudah empat orang, belum ada satupun yang kasar.

Tiba-tiba Pohan muncul dan menepuk pundak Aswin. Aswin kaget, tapi gembira begitu melihat Pohan. Mereka belum pernah bertemu dan saling mengenal hanya melalui miling list di internet. Ternyata Pohan satu kampung dengan ayah Aswin, di Koto Gadang.

’Siap berangkat?’ tanya Pohan.

’Ya. Saya pikir ada halangan apa sampai kamu belum kelihatan,’ kata Aswin.

’Tidak, saya sudah di sini sejak setengah jam yang lalu. Persis saat pesawatmu mendarat. Karena kamu belum keluar saya mencoba bertanya ke bagian informasi apakah penumpang Cathay Pacific sudah pada keluar. Mereka bilang belum. Saya tinggal ke kamar kecil sebentar. Rupanya saat itu kamu keluar. Saya sudah menduga, pasti kamu langsung mencari money changer. OK, mari kita jalan sedikit ke sana, ke tempat parkir,’ ujar Pohan.

Mereka berjalan menuju tempat parkir.

’Bersih sekali airport ini. Tapi saya perhatikan banyak sekali tulisan peringatan-peringatan,’ ujar Aswin.

’Ya, lumayanlah. Dan memang kebersihan itu adalah bahagian dari iman. Kamu juga akan jumpai banyak tulisan tentang ungkapan ini,’ kata Pohan.

Mereka sudah sampai di mobil Pohan. Sebuah Toyota Kijang. Pohan membuka pintu belakang mobil itu dan Aswin meletakkan kopernya disitu. Lalu kedua orang muda itu naik ke mobil.

’Mari kita berangkat ,’ ajak Pohan sambil menghidupkan mesin.

’Tidak ngantuk? Berapa jam kamu di pesawat?’ tanya Pohan lagi.

’Tidak. Kami sampai di Hongkong jam dua belas malam dan saya bisa tidur nyenyak di hotel. Tadi jam delapan pagi baru berangkat meninggalkan hotel. Saya cukup istirahat,’ jawab Aswin.

’Saya sudah menyusun acara untukmu. Nanti kita bahas sambil jalan,’ ujar Pohan pula.


*****

Saturday, February 16, 2008

KETIKA

KETIKA

Hujan turun tak henti-henti ketika itu, kang Cecep
Tidak sekedar membasahi bumi sawah dan ladang, lembah dan gunung
Hujan lebat, kang Cecep
Disertai petir halilintar
Hujan yang sama seperti dulu-dulu juga
Hujan air dari langit diturunkan menggemuruh oleh Yang Maha Mengatur

Hujan turun tak henti-henti hari itu, kang Cecep
Air, dimana-mana air melimpah meruah membanjiri bumi
Air berwarna coklat pekat menghantam membawa hanyut
Menerjang apa saja yang melintang malang
Menerjang tidak saja rumah reyot dan jembatan reyot
Meluluhlantakkan semua bangunan yang mencoba menghalang merintang

Air, dimana-mana air melimpah meruah membanjiri lembah
Dan sawah berpuluh, beratus, beribu hektar sawah, kang Cecep
Semua tenggelam ditelan air bah yang sangat dahsyat
Padi yang baru setinggi betis mulai akan berisi umbut
Handam karam tak berdaya, kang Cecep
Tambak udang dan ikan bandeng hilang lenyap tak berbekas

Dan sawah berpuluh, beratus, beribu hektar sawah
Handam karam tenggelam dalam duka nelangsa tak bertara
Tiada daya tiada kekuatan sedikit juapun
Yang dapat menahan murkanya alam Allah Yang Maha Kuasa
Entahlah kalau ini masih cobaan Allah, kang Cecep
Entah barangkali ini justru murka Allah

Jangan salahkan saya ketika saya dulu tidak mau pergi jadi TKW, kang
Jangan salahkan saya ketika saya dulu menolak dijadikan pahlawan devisa
Uang tidaklah seberapa artinya kang Cecep, seperti yang selalu akang ingatkan
Dan saya tetap istiqomah menjaga kehormatan akang di kampung ini, kang Cecep
Di kampung yang kini sedang digenangi dan ditenggelamkan air
Saya memperlindungkan diri saya kepada Allah dari segala fitnah yang mungkin melanda

Namun hukuman ini ternyata untuk kita semua, kang Cecep
Untuk saya dan seisi negeri lumbung beras ini
Sepertinya tiada ada perkecualian, habis digasak air bah
Air yang datang melimpah ruah melebihi yang diperlukan makhluk
Yang tubuhnya sebagian besar terdiri dari air
Yang hidupnya sangat bersandar pada keberadaan air

Air tiba-tiba jadi begitu bengis, kang
Begitu garang dan tak kenal ampun
Dalam pakaian seragam coklat tua dia menerjang
Tiada ada sebarang apa yang dapat membujuk merayunya
Tebing, dinding, empangan tak kuasa berkutik
Tunduk sujud bersimpuh dan terkapar

Tangis anak-anakmu tak bisa dihentikan malam itu kang Cecep
Tangis takut dalam lapar dan takut dan lapar dalam dingin
Dan dingin luar biasa kang Cecep
Dingin akibat guyuran hujan dan tiupan angit berdesau menderu
Mencekam dan menambah kegalauan di kalangan
Hamba-hamba yang ternyata sangat lemah semua

Telah terendam Kerawang sampai ke Rengas Dengklok, kang Cecep
Berpuluh, beratus, beribu hektar sawah dan tambak
Hilang sia-sia tidak ada yang dapat diharapkan lagi
Dimangsa bencana yang gagah luar biasa
Membuat manusia pongah sadar bahwa dirinya tiada apa-apa
Dibandingkan kekuatan yang berasal dari Yang Maha Pencipta

Ini bukanlah waktu yang tepat untuk mencari kambing hitam
Di hulu Cisadane sudah lama tidak cukup lagi kayu di hutan penahan air
Seperti di hulu-hulu sungai yang manapun di pulau ini
Dan saya tidak mengkambinghitamkan sesiapapun, kang
Ini bukan sekedar bencana
Tapi sebuah peringatan telak

Ketika akhirnya hujan berhenti jua kang Cecep
Tapi air tidaklah serta merta surut meninggalkan genangan bah yang merendam
Air coklat keruh masih terhampar sejauh mata memandang
Merendam rumah reyot jembatan reyot bahkan rumah pak lurah dan pak camat
Air dimana-mana, air keruh coklat tua
Menghanyutkan bangkai ternak yang sebentar lagi pasti akan membawa wabah

Ketika semua derita ini nanti insya Allah kan berakhir jua, kang
Akankah para tetangga, para warga, para penduduk faham
Akankah mereka mampu membaca tanda-tanda ciptaan Gusti Allah Yang Maha Kuasa
Akankah mereka taubatan nasuha
Akankah mereka berubah
Akankah mereka insaf dan sadar

Telah terlalu banyak dosa ditabur selama ini, kang Cecep
Dosa ketika para wanita mendurhaka suami mereka pergi menjadi TKW
Atau bahkan yang lebih parah jadi pelayan nafsu iblis jalang
Ketika ibu bapa mereka melihat uang kertas dengan mata hijau
Ketika mata mereka sendiri hijau dengan bujuk rayu
Di kota dan di negeri asing memetik duit semudah membuka busana

Saya meminta ampun untuk mereka semua, kang
Saya memohon kiranya hati mereka ditunjuki Gusti Allah
Agar kiranya mereka kembali ke jalan Gusti Allah
Agar para warga itu memohon ampun kepada Gusti Allah
Dengan demikian saya berharap musibah berat ini
Tidak lagi datang sesudah ini

Ketika saya menulis ini awan mendung masih mengintai, kang
Pasrah, hanya itu yang dapat kami perbuat
Berserah diri menggumamkan doa dengan sujud simpuh dalam basah kuyup
Tetaplah berjuang disana, kang
Tetaplah tawakkal disana, di rantau orang itu, kang Cecep
Tetaplah amanah dan menjaga dirimu kang, dari murka Allah


*****

Jatibening, Sabtu malam, 16 Februari 2008

Sunday, February 10, 2008

FLU BURUNG DAN BURUNG-BURUNG KECIL

FLU BURUNG DAN BURUNG-BURUNG KECIL

Aku selalu duduk di depan jendela kamar tidurku ketika mengetik seperti ini di rumah. Di waktu siang kala aku sedang asyik di depan PC ini seringkali muncul burung-burung kecil berwarna coklat agak keunguan. Kadang-kadang sepasang, kadang kadang hanya satu ekor. Mereka suka sekali mematuk kaca jendela dalam posisi terbang. Burung-burung kecil yang nyaring siulan kecilnya, yang panjang tubuhnya mungkin hanya 3 atau 4 cm, suka hinggap dan meloncat-loncat di rak besi penyangga pohon anggur di depan kamar. Mereka betah bermain-main dalam waktu lama di depan jendela dan aku juga kadang-kadang betah mengamati mereka. Aku senang melihat makhluk kecil ciptaan Allah yang sangat elok itu meski aku tidak tahu apa nama jenis burung tersebut. Suatu hari anakku yang juga senang mengamati kehadirannya berhasil memotretnya dari balik jendela.

Ada jenis burung lain yang juga sering hinggap dan berkicau di pohon mangga di depan rumah. Biasanya pada saat menjelang matahari terbit. Suara kicauannya cerewet dan ramai. Akupun senang mendengar kicauannya. Karena pohon mangga cukup rindang hampir tidak pernah aku berhasil melihat sosoknya.

Siang hari di belakang rumah kami sering hadir puluhan burung gereja. Burung-burung ini bahkan mungkin bersarang di lekuk-lekuk di bawah atap rumah. Suara cicitan mereka juga ramai biasanya. Pernah pembantu kami kurang kencang ketika mematikan keran air sehabis menyiram tanaman, air masih mengalir dari ujung selang yang tergantung di bawah pohon jambu. Burung-burung gereja itu asyik mandi di bawah cucuran air di ujung selang tersebut. Anakku menunjukkan pemandangan itu karena dia yang melihatnya pertama kali, lalu kami menontonnya sekeluarga. Pemandangan seperti itu menyenangkan bagi kami.

Mungkin merupakan sisa-sisa peradaban ’kampungan’ dulu, aku sangat senang memelihara ayam. Selama bertahun-tahun aku biasa memelihara ayam kampung di belakang rumah tempat kami tinggal sekarang ini. Aku suka sekali mendengar kokok ayam menjelang waktu subuh. Jumlah ayam ini pernah mencapai belasan ekor. Berasal dari sepasang ayam kampung yang tadinya mau dijuruskan ke kuali. Aku memintakan pengampunan untuk mereka dan istriku terpaksa mengabulkannya. Sepasang ayam itu lalu beranak pinak. Pernah beberapa kali teman sekerjaku orang asing menelpon kerumah dan mendengarkan suara ayam berkotek cukup ramai, lalu bertanya, apakah aku tinggal di peternakan ayam. Aku jawab saja iya. Ayam-ayam tadi umumnya aku pelihara sampai tua dan manakala sudah sangat tua aku berikan kepada seorang jamaah mesjid untuk dipotong dan kebetulan dia mau menerimanya. Aku tidak tega memotongnya. Ayam-ayam itu jarang sakit. Kalau ada yang sakit aku dan anakku yang paling kecil merawatnya dan beberapa kali kami berhasil memberikan obat yang dapat menyembuhkannya. Sekarang sudah tidak ada lagi ayam di belakang rumah. Bukan karena kami takut flu burung lalu memusnahkan ayam-ayam tersebut, tapi regenerasi mereka terhenti karena beberapa ekor diantaranya suka memakan telor mereka sendiri. Mungkin kami pernah terlambat memberi makan sehingga mereka menjadi swasembada seperti itu. Dan kebiasaan buruk mereka ini menular dari yang satu kepada yang lain.

Kandang ayam semi permanen masih berdiri kokoh agak jauh ke belakang rumah. Kandang yang menggunakan kawat yang cukup kuat untuk melindungi anak-anak ayam (dulu) dari serangan tikus. Kandang tersebut saat ini dihuni sepasang merpati putih hadiah seorang teman. Dan mungkin karena sedang seru-serunya disoroti sepasang merpati ini seolah-olah enggan berketurunan.

Saat ini kiamat kecil tengah melanda golongan unggas peliharaan di Jakarta dan sekitarnya. Penguasa Jakarta Raya sudah menetapkan undang-undang pelarangan memelihara unggas di lingkungan pemukiman. Alasannya karena wabah flu burung kembali merebak dan semua jenis ayam dan bebek menjadi tertuduh utama dan segera harus menjalani eksekusi pemusnahan. Televisi seolah-olah ditugasi untuk menayangkan dan mengkampanyekan mereka-mereka yang secara suka rela menyerahkan unggas peliharaan mereka untuk dimusnahkan. Dan ayam-ayam yang kelihatan masih sehatpun dipotong untuk kemudian dimasukkan ke dalam lubang lalu dibakar. Dengan cara seperti itulah pemusnahan itu dilakukan. Entah kenapa mesti demikian prosesnya. Semua ayam-ayam tersebut sudah digolongkan saja sebagai pembawa virus flu burung. Pada saat yang bersamaan televisi sebenarnya menayangkan juga pemberian vaksinasi terhadap unggas ayam atau bebek di tempat-tempat tertentu. Kalaulah binatang-binatang itu masih bisa diamankan dengan memeberikan vaksin kenapa mesti panik total seperti sekarang ini?

Sejujurnya saya melihat ini adalah kepanikan yang sangat berlebihan dan diikuti oleh penzaliman terhadap unggas, terutama ayam dan bebek kampung. Anehnya, burung berkicau yang dipelihara konon sementara mendapat pengecualian asal pemiliknya memintakan sertifikat ’hidup’ untuk unggas peliharaan mereka. Apakah burung berkicau dianggap lebih aman? Bagaimana pula dengan burung-burung dara atau merpati? Apakah semua juga harus dimusnahkan. Tetangga saya yang agak usil mengatakan silahkan tangkapi burung merpati saya yang hidup bebas itu kalau mau dimusnahkan. Kalaupun burung-burung peliharaan seperti itu harus dimusnahkan, pertanyaan berikutnya bagaimana dengan burung-burung gereja, burung-burung kecil yang hidup di alam bebas? Apakah mereka juga mau dibasmi dan tidak boleh hidup di bumi Jakarta atu provinsi lain yang akan menetapkan aturan pembasmian unggas tadi? Kalau iya agaknya ini merupakan lowongan pekerjaan baru bagi pemburu burung-burung bebas itu, untuk menjaga agar mereka jangan sembarangan hinggap.

Saya tidak tahu entah bagaimana dengan nasib peternakan ayam potong. Atau mungkin sebentar lagi menu ayam harus dihapuskan dari setiap dapur di Jakarta maupun di propinsi yang sudah menyatakan akan memberlakukan pelarangan pemeliharaan ayam dilingkungan perumahan penduduk. Padahal ayam dan itik juga merupakan korban dari virus flu burung yang berasal dari Siberia itu, tapi nasib mereka ternyata sangat menyedihkan. Yang tidak terjangkitpun harus musnah, untuk menjaga agar jangan sampai dihinggapi virus.

Celakanya lagi, di Bali dilaporkan bahwa virus flu burung juga sudah terdeteksi menghinggapi anjing dan kucing. Sebelumnya juga dilaporkan virus yang sama menghinggapi tubuh babi. Apakah anjing, kucing dan babi itu semuanya juga akan dimusnahkan dengan cara yang sama?

Sebaliknya berita yang cukup menggembirakan keluar dari beberapa rumah sakit di Jakarta bahwa ada beberapa pasien yang diduga mengidap flu burung berangsur-angsur mulai sehat kembali. Artinya obat penyakit flu burung yang lebih ampuh mungkin sudah bisa diketemukan. Bukankah Nabi SAW pernah bersabda bahwa setiap penyakit itu ada obatnya kecuali ketuaan. Lalu bolehkah kita menzalimi makhluk Allah yang sebenarnya juga memberi manfaat kepada kita umat manusia karena kecurigaan terhadap penyakit yang tengah mewabah dengan membasmi habis hewan-hewan malang itu tanpa ampun?

Entahlah kalau tindakan pembasmian ayam dan itik kampung ini benar-benar mengandung nilai kebijaksanaan yang benar. Kok seolah-olah seperti Allah sia-sia menciptakan mereka. Padahal firman Allah, tidaklah Aku menciptakan sesuatu itu dengan sia-sia. Wallahu a’lam.


*****

OLAHRAGA

OLAHRAGA

Terengah-engah dan bercucuran keringat aku mengakhiri ‘treadmill’ selama 12 menit pas. Masih sama seperti kemampuan tahun lalu, alhamdulillah. Meskipun dokter tidak mengharuskan mencapai waktu dua belas menit, aku tetap ingin mencoba dan mengetahui apakah aku masih sanggup.

‘Bagus,’ kata dokter yang mengawasiku. ’Jantung bapak sehat. Bapak tidak merokok kan?’ tanyanya.

’Tidak lagi, dok,’ jawabku.

’Sudah lama berhenti?’

’Sudah dua puluh tahun yang lalu.’

’Bagus. Dan tentu bapak bukan peminum alkohol,’ tambahnya.

’Tidak,’ jawabku singkat.

’Olahraganya apa?’

’Sekarang cuma jalan kaki saja, dok,’ jawabku.

’Bagus itu pak. Yang penting teratur. Sekali berapa hari bapak olahraga jalan kaki?’

’Tiap hari dok,’ jawabku.

’Waah bagus sekali. Apalagi kalau tiap hari. Berapa menit? Atau seberapa jauh?’ cecarnya.

Aku berfikir sebentar.

’Empat kali empat ratus langkah pada waktu yang berbeda dalam sehari,’ jawabku.

Dokter itu tertawa.

’He..he..he.... Suka melucu juga bapak. Kok bisa-bisanya menghitung 400 langkah?’

’Saya berjalan kaki 200 langkah ke mesjid waktu subuh. Sebanyak itu pula waktu pulangnya. Saya pergi makan siang ke warung makan di belakang kantor sejarak itu pula siang hari. Dan ke mesjid saya ulangi lagi waktu maghrib dan isya,’ saya mencoba menjelaskan.

’Waaw, jadi serius rupanya jumlah langkahnya sebanyak itu. Dan bapak tidak melakukan olahraga lain? Atau tidak pernah melakukan olahraga lain pada waktu yang lain?’ tanyanya lagi.

’Saat ini tidak. Dulu saya suka bermain sepak bola dan tennis. Tapi saya tidak pernah terlalu fanatik untuk selalu rutin berolahraga. Sekarangpun kalau ada perayaan tujuh belas agustusan, jika diajak teman-teman yang masih muda, saya masih suka ikut meramaikan,’ jawabku.

Dokter itu mengangguk-angguk sambil memperhatikan diriku.

***

Aku memang bukan type olahragawan yang serius. Tapi aku bisa memainkan olahraga apa saja, paling tidak untuk sekedarnya. Waktu masih kanak-kanak dulu, olahraga kami adalah main kejar-kejaran, sepak bola, bermain kasti. Aku tidak pernah jadi pemain top atau bintang lapangan tapi selalu diikutsertakan. Ketika main sepak bola tidak gentar beradu kaki dengan lawan main. Dalam permainan kasti termasuk pemukul yang baik, tidak memukul bola melambung ke atas seperti kebiasaan anak-anak perempuan. Setelah di SMP berkenalan dengan permainan pimpong dan bola voli. Main pimpong tidak ada masalah, aku cepat akrab dengan permainan itu dan mampu bermain sebaik teman-teman yang terbaik. Bola voli kurang kuminati. Aku agak ’gagap’ menangkis bola dengan ujung jari dan bisanya hanya jadi ’tukang torpedo’, memukul bola dengan kedua tangan dipertautkan. Dalam permainan voli aku jadi titik lemah dan jadi sasaran. Sering dijuluki ’lubuk’ karena mudah ditaklukkan.

Waktu di SMA, (aku ikut dengan kakak sepupu yang bekerja di Rumbai) aku berkenalan dengan bola basket dan tennis. Kedua-duanya kusukai dan juga cepat akrab. Sayang kedua jenis olahraga ini boros dengan peralatan, sepatu olahraga untuk keduanya dan raket tennis serta bola untuk yang terakhir. Untuk raket masih untung ketika itu, aku boleh meminjam punya kakakku.

Selama menjadi mahasiswa di Bandung aku pernah tinggal bersebelahan dengan lapangan tennis. Aku jadi rajin main tennis (raket diberi olah kakak sepupuku itu). Tapi setelah aku pindah tempat tinggal aku tidak rajin lagi bermain.

Setelah bekerja dan tinggal di Balikpapan aku kembali rajin main tennis. Tapi awal-awalnya saja. Setelah itu, kalau datang malas, aku tidak merasa kehilangan apa-apa meski tidak main berbulan-bulan. Setelah beberapa lama, lalu ada momen yang mengena aku bisa agak rajin pula sebentar, tapi kemudian malas lagi. Kalau ada ajakan untuk turnamen aku main lagi untuk beberapa lama dan seterusnya malas lagi. Bahkan sampai sekarangpun, jika diajak ikut pertandingan antar divisi aku masih mau ikut. Pukulannya masih begitu-begitulah. Masih pukulan pemain tennis. Kalau ada yang bertanya latihan dimana, aku jawab sekenanya, di rumah.

Badminton juga tidak ada masalah. Bisalah sekedar mengembalikan bola dan sekali-sekali menyemes sambil loncat. Tapi kurang menarik minatku. Olahraga yang menggunakan raket kalau diurut, maka tennis adalah yang paling kusukai, diikuti pimpong. Di rumah kami mempunyai meja pimpong.

Di Balikpapan kami juga bermain sepak bola. Sepak bola sungguhan (dengan sebelas pemain) ataupun futsal dengan enam pemain. Inipun sama saja. Kalau lagi hangat, tiap minggu kami main. Sering juga kami bertanding dengan kesebelasan dari perusahaan lain. Teman-temanku waktu itu mengangkatku jadi Ketua Sepak bola karyawan. Ternyata menjadikan aku malas ikut bermain karena sibuk mengatur latihan teman-teman untuk menghadapi pertandingan-pertandingan. Istilahnya jadi manajer, dan setiap kali jadi non playing captain.

Ketika masih di Balikpapan teman-teman mengajakku untuk ikut main golf. Inilah permainan yang aku tolak untuk berpartisipasi. Entah kenapa aku tidak menyukainya. Permainan ini terlalu bourjuis menurut pengamatanku. Atau mungkin karena waktu mahasiswa dulu aku pernah mengenal di suatu daerah tanah kebun penduduk diserobot untuk membuat lapangan golf. Ditambah cerita teman-teman yang katanya suka bertaruh di lapangan golf. Aku benar-benar tidak bersimpati jadinya. Setelah pindah ke kantor Jakarta teman-teman disinipun mengajakku. Kata mereka ini adalah ajang untuk reuni dengan teman-teman di perusahaan lain secara teratur. Aku tetap tidak suka.

Tapi untuk sekedar memukul-mukul atau latihan driving pernah juga kucoba. Aku yakin aku bisa melakukannya. Suatu kali di tahun 2001 ketika aku sedang bertugas agak lama di Balikpapan, seorang teman mengajakku latihan memukul bola itu. Aku perhatikan bagaimana cara memegang club atau pemukul bola dan aku coba memukul. Tidak ada masalah besar. Bola-bola itu dapat kupukul dengan cukup baik. Lebih dari 50% ke arah yang semestinya, sisanya terpelanting keluar sasaran. Pembantu bola (caddy) entah ’menggejoboh’ entah sungguh-sungguh mengatakan tidak percaya bahwa aku belum pernah memukul bola atau bermain golf sebelumnya.

Setelah beberapa kali ikut-ikutan ’driving’ timbul ’huru-hara’ ketika seorang teman yang lain ’mengajari’ ku dengan teori textbook nya. Begini posisi kaki, begini posisi bahu, begini cara mengeja sebelum memukul, begini mengayun, begini menatap bola...... wah jadi rumit. Ketika aku mencoba seperti yang diajarkannya, aku jadi tidak bisa lagi memukul bola kecil itu dengan benar, karena berpelantingan kemana-mana. Dan aku tetap tidak suka dengan olahraga itu. Tadinya sudah agak ada keinginan untuk sekedar menjajal ke lapangan yang sesungguhnya, tapi gara-gara itu batal total.

Aku juga tidak terlalu bisa berenang. Aku tidak bisa membiarkan tubuhku terapung di air. Aku sanggup berenang dengan gaya bebas pulang pergi mengikuti panjang kolam renang, tapi pastilah dengan cara yang ’riuh rendah’. Sejak pandai berenang berkecimpung di kolam mesjid ketika kanak-kanak dulu sampai sekarang hampir tidak ada kemajuan. Ada seorang teman yang berkali-kali mengajak dan menawarkan akan mengajariku cara berenang yang benar. Tapi aku malas saja mengikuti ajakannya. Aku memang banyak malasnya.

Olahraga yang disupport perusahaan tapi juga belum pernah kucoba adalah bermain bowling. Yang satu inipun aku tidak pernah tertarik mencoba.

Olahraga apa lagi? Aku belum pernah mencoba menunggang kuda. Dan sekarang tidak terlalu yakin mampu melakukannya. Tapi waktu kecil dulu aku beberapa kali jatuh dari punggung kerbau ketika kami, kanak-kanak ketika itu berpacu kerbau. Waktu itu kami memang mentiko dan tidak ada takutnya.

***

Aku tidak menceritakan semua kebolehanku berolahraga ini kepada dokter yang mengawasi treadmill tadi.


*****

Friday, February 8, 2008

TAKLIM BUYA ABIDIN (5)

TAKLIM BUYA ABIDIN (5)

TANGGUNG JAWAB KEPADA KELUARGA

‘Mari kita sambung bahasan kita minggu lalu,’ ujar Buya Abidin mengawali pengajian beliau pada Sabtu malam itu. ‘Minggu yang lalu sudah kita kaji bahwa sebagian dari istri-istri dan anak-anak ada yang bisa menjadi musuh kepada kita. Sudah kita jelaskan pula bahwa menjaga keimanan istri dan anak-anak itu dilakukan setelah masing-masing kita terlebih dahulu menjaga diri sendiri dari kejaran api neraka. Hal tersebut adalah kewajiban dan kita sudah diingatkan Allah tentang itu. Biarlah saya teruskan kaji ini dengan tanggung jawab terhadap pemeliharaan anak-anak yang diamanahkan Allah kepada kita. Pemeliharaan sejak dia dilahirkan sampai dia beranjak dewasa.
Kebanyakan orang di jaman sekarang ini merasa bahwa tanggung jawab itu terbatas hanya sampai menyekolahkan anak-anak ke perguruan tinggi. Sebab, pada saat mereka sudah selesai bersekolah tinggi, sudah jadi sarjana, lalu dapat pula bekerja di perusahaan yang bisa menjadikan mereka orang kaya, orang tuanya merasa bahwa dia sudah sangat berhasil dalam mendidik anak-anaknya. Kalau untuk biaya pendidikan maka orang tua biasanya mau habis-habisan. Tidak kayu, jenjang dikeping. Tidak emas, bungkal diasah. Maka sangatlah senang hati seorang orang tua jaman sekarang, ketika dia mempunyai empat orang anak, semuanya sarjana, semuanya punya kedudukan yang mapan, bahkan ada yang menjadi anggota DPR. Bukan alang kepalang besar hatinya. Bagaimana tentang persiapan akhirat mereka? Jika ini yang kita tanya, biasanya berkerut keningnya. ‘Apakah hal itu penting?’ tanyanya. Atau paling-paling dia akan mengatakan, bahwa dulu ketika anak-anak itu masih kecil mereka dimasukkan ke sekolah mengaji, bahkan sudah sampai khatam al Quran. Lalu, bagaimana keadaannya sekarang? Masih pernahkah diingatkan shalatnya? Diingatkan kalau dia sudah membayar zakat atau belum? Bagaimana pula dengan puasanya? Nah, biasanya jarang orang tua sekarang yang masih melakukan hal-hal tersebut, mengingatkan anak-anaknya sesuatu yang berhubungan dengan masalah agama.

Padahal, Nabi SAW mengajarkan, jika anak-anak sudah berumur tujuh tahun agar diajar shalat. Kalau sudah umur sepuluh tahun belum juga shalat, harus dihukum. Boleh dipukul. Begitu perintah Nabi. Begitu peringatan beliau agar kita mempersiapkan anak-anak-anak supaya mereka terhindar dari api neraka. Ajarkan kepada anak-anak itu bagaimana caranya mengingat Allah dengan cara bersungguh-sungguh. Mengenal Allah sebagai Yang Maha Mencipta, Yang Maha Mengatur segala urusan, Yang Maha Kuasa. Dan cara mengajarkan pengenalan terhadap Allah itu adalah dengan menegakkan shalat.
Kalau kita tidak bersungguh-sungguh menyiapkan mereka, maka berhati-hatilah. Sebagaimana kita juga harus berhati-hati ketika kita tidak memelihara dan menafkahkan rezeki yang diberikan Allah kepada kita dengan cara yang diridhai Allah. Kita diberi Nya harta yang banyak, anak-anak yang banyak, serba hebat semua, anak-anak sarjana semua. Tapi kita tidak mengurus harta atau anak-anak itu di muka bumi ini seperti yang dikehendaki Allah. Kita hanya sibuk mengumpulkan harta lalu menghitung-hitungnya. Disana aku punya tanah sekian luas, disitu ada rumah mewahku, disana aku punya toko sekian pintu. Anak-anakku sudah jadi orang semua, sudah jadi sarjana dan hebat-hebat. Sudah punya kedudukan penting. Menantu-menantukupun tidak kalah hebat. Maka tunggu dulu. Ingatlah firman Allah, ‘Sesungguhnya hartamu, anak-anakmu itu adalah fitnah, sementara disisi Allah ada pahala yang besar.’ (Surah At Taghabun ayat 15).
Harta yang banyak dan anak-anak itu hanyalah fitnah bagimu. Tidak sedikitpun akan menyelamatkanmu kalau kamu pakai hanya untuk berbangga-bangga saja di muka bumi ini. Harta dan anak-anak itu akan jadi fitnah kalau tidak pandai-pandai mengelolanya. Kalau kamu tidak mempersiapkan mereka untuk menjadi hamba-hamba Allah yang mengerti akan Ke Maha Kuasa an Nya.

Ada sebuah cerita tentang seorang laki-laki punya enam orang anak, semua anaknya laki-laki. Semua anak-anak itu sarjana dan masing-masing bekerja ditempat yang hebat. Semua sering bepergian ke luar negeri. Ada yang ke Amerika, ada yang ke Jerman dan ada yang ke Jepang. Betapa bangganya sang ayah melihat keberhasilan keenam anak-anaknya tersebut. Ketika sekali-sekali berkumpul di rumah orang tuanya, misalnya disaat hari raya terlihat bahwa mereka memang bukan orang sembarangan. Sesama mereka, kadang-kadang mereka bercakap-cakap dalam bahasa Inggeris. Sangat hebat dan mengagumkan. Ayah mereka bangga luar biasa.
Allah berkehendak, mungkin karena sudah berangsur tua juga, sang ayah jatuh sakit. Mulanya anak-anak bergantian menunggui di rumah sakit. Derita sakit itu ternyata berlangsung lama. Secara berangsur-angsur makin berkurang saja kesempatan anak-anaknya menemani dikarenakan mereka sibuk. Atas kehendak Allah semakin dekat rupanya kedatangan ajalnya. Menjelang sakratul maut, orang tua itu memanggil-manggil keenam anaknya bergantian. Dua orang sempat hadir menyaksikan ketika maut datang sedangkan empat orang yang lain baru datang sesudah sang ayah terbujur kaku jadi mayat. Maka berundinglah keenam anak-anak itu bagaimana cara mengurus jenazah ayah mereka yang sudah terbujur kaku itu. Yang paling tua mengusul agar diserahkan saja ke Yayasan Bunga Surga. Kita undang seorang ustad untuk menyelenggarakan jenazah ayah, beres semua urusan, begitu katanya.
Maka dihubungilah yayasan yang dimaksud si sulung. Di undang pula seorang ustad yang tinggal dekat rumah orang tua mereka itu. Ustad tadi bertanya kepada mereka, apakah mereka tidak akan ikut memandikan jenazah ayah mereka. Apa jawab mereka? Tolongl;ah ustad saja yang memandikan. Sudah selesai dimandikan, dan dikafani jenazah tersebut, ustad tadi mengingatkan lagi bahwa yang paling afdal menjadi imam shalat jenazah adalah salah seorang dari anak-anak beliau. Jawab mereka, tolong sajalah ustad yang jadi imam. Bahkan ada di antara keenam anak itu tidak ikut menyalatkan jenazah ayah mereka.

Inilah contoh bagaimana anak-anak menjadi fitnah kepada orang tua. Tidak ada sedikit juga manfaat bagi orang tuanya padahal anak-anaknya sudah disekolahkannya tinggi-tinggi. Anak-anak yang selama ini jadi kebanggaannya, yang selalu jadi bahan cerita mengasyikkan kalau dia bercerita kepada orang lain. Maka bertemulah peringatan Allah; ‘Innamaa amwaalukum wa aulaadukum fitnattun, wallahu 'indahuu ajrun 'azhiim.' (Sesungguhnya hartamu dan anak-anakmu adalah cobaan (fitnah). Sedangkan disisi Allah ada pahala yang besar.)
Seandainya saja dulu anak-anak itu dididik pengetahuan agama secara memadai. Diajarkan agar dia mengenal Allah dengan sungguh-sungguh, diajarkan cara beribadah kepada Allah dengan sungguh-sungguh. Seandainya dulu banyak berdoa kepada Allah minta petunjuk Nya untuk diri sendiri dan untuk anak-anak. Meminta kepada Allah agar istri dan anak-anak dijadikan Nya penyejuk mata. Agar dijadikan Nya orang-orang yang terkemuka di kalangan orang-orang yang bertaqwa. Seandainya dulu sering berdoa; Rabbanaa hablanaa min azwaajinaa wa tzurriyatinaa qurrata a'yun, waja'alnaa lil muttaqiina imaama. Atau bahkan berdoa agar dikaruniai Allah anak keturunan yang saleh seperti doanya nabi Ibrahim a.s., Rabii hablii minashshaalihiin. (Tuhanku,anugerahilah aku dengan anak-anak yang shalih.)
Kalau perkara harta yang menjadi fitnah bukankah sudah sama kita lihat. Harta yang hanya sekedar dikumpul-kumpulkan untuk dihitung-hitung. Sudah sama kita lihat tidak sedikitpun harta itu dapat menolong. Apa yang terjadi sesudah itu? Biarpun anak-anak sudah jadi orang-orang hebat sekalipun, urusan harta peninggalan orang tua tetap saja mereka berebutan. Tidak jarang timbul permusuhan di antara mereka sesudah itu, saling iri dan dengki antara yang satu terhadap yang lain. Kalau sudah seperti ini, alih-alih akan jadi pahala untuk yang sudah meninggal malahan jadi penambah dosa jadinya. Sebab harta yang ditinggalkan hanya menjadi bahan pertengkaran di antara anak-anaknya. Harta itu hanya menjadi fitnah semata. Menjadi cobaan semata.
Seandainya dulu rajin bersedekah, rajin berinfak. Seandainya dulu sebelum mati sudah dibagi harta itu sesuai dengan ketentuan dan petunjuk Allah. Barulah ada manfaatnya. Tapi karena tidak ada amalan seperti itu yang didapat hanyalah kesusahan dan fitnah saja sesudah itu. Fitnah berupa perkelahian di antara sesama anak-anak dalam perebutan harta.
Jadi artinya, hendaklah kita pandai-pandai dalam mengelola harta di jalan Allah. Membelanjakannya dengan cara yang diridhai Allah. Boleh kaya, kalau memang kita pintar dalam mencari uang. Tapi ingat bahwa di dalam harta yang kita peroleh itu ada hak orang lain. Ada zakat yang harus dibayarkan.

Pandai-pandailah dalam mendidik anak. Silahkan sekolahkan mereka setinggi mungkin tapi ingat pula untuk membekalinya dengan pengetahuan agama yang mencukupi. Supaya nanti mereka sanggup mengurus kita ketika kita sudah jadi orang tua. Sanggup menyelenggarakan jenazah kita ketika kita mati. Menyalatkan kita sebelum kita diantar orang ke kuburan. Sebab sabda Rasulullah SAW, ‘Bilamana mati anak Adam maka putuslah segala amalannya kecuali dalam tiga hal. Pertama adanya sedekah jariah. Kedua adanya ilmu yang bermanfaat dan yang ketiga adanya anak yang saleh yang mendoakan kedua orang tuanya.’ Jadi perlu adanya anak yang saleh. Dan anak saleh yang dididik sendiri. Disiapkan sendiri, karena dengan cara mendidiknya itu akan terbina ikatan batin antara orang tua dan anak.

Sampai disini dululah kaji kita. Isya Allah minggu berikut kita sambung lagi.’
Demikian Buya Abidin mengakhiri taklimnya kali itu.


*****

Tuesday, February 5, 2008

PENCOPET PASAR ATAS 1964

PENCOPET PASAR ATAS 1964

Hari Rabaa pukuah satu, Sadang rami di Bukiktinggi, Urang manggaleh barang mudo. Begitu bunyi awal sebait pantun. Bukit Tinggi di hari Rabaa, alias hari Rabu sebagaimana juga di hari Sabtu ramai allahurabbi. Orang datang dari seputar Agam, bahkan dari Tanah Datar, Lima Puluh Koto dan dari Pasaman. Bahkan dari Padang dan Pekan Baru. Di Bukit Tinggi orang penggalas kebat mengebat, pakuk memakuk, sayat menyayat. Heboh allahurabbi. Orang berserak di tengah balai. Yang menjual, yang membeli. Di pasar lereng jalan penuh oleh pedagang di bawah payung besar. Bukan, tidak ada yang menyebutnya pedagang kaki lima. Orang yang ingin lalu harus berselingkit-selingkit, disela barang galas para pedagang, di sela ketiak orang lain, di sela kambuik gadang yang disandang amai-amai. Pasar itu heboh allahurabbi, oleh sorak dan sorai, oleh bunyi parang yang menetak dan memakuk.

Begitu pula di jenjang yang bertingkat-tingkat. Orang menggalas belaka dimana saja ada tempat terbuka. Menggalas apa saja, jarum penjahit dan peniti, kain lap dan saputangan, pisau dan lading buatan Sungai Pua. Atau yang menggalas kerupuk jangek balatua mentah, atau tulang cancang, atau dadih di dalam sambang. Semua serba ada. Menggelar galas di sela-sela jalan orang lalu di jenjang gantung yang sempit berselingkit. Tidak ada yang menggerutu. Cara orang sekarang, tidak ada yang komplain. Semua berlapang dada saja. Semua mencari untung serupiah dua rupiah. Kenapa pula harus digerutui.

Di puncak pasar di Pasar Atas, sesudah melalui jenjang yang bertingkat-tingkat, sesudah melalui bau amis darah di pasar bantai, sesudah melalui bau anyir di pasar maco, menguap bau harum sate yang bukan sate Padang karena yang berjualan orang Pekan Kamis. Sate mak Mamuik (Mahmud) dan sate mak Aciak. Asapnya menjulang ke udara. Baunya yang semerbak menimbulkan rasa lapar. Ada pula bunyi bakalentongpentong orang mengaduk es di sampingnya. Es batu yang baru saja diketam untuk dicampurkan ke mangkuk es te bak yang sekarang diaduk dengan suara bakalentongpentong. Entah kenapa namanya es te bak. Tapi yang jelas rasanya bukan main nyaman, penawar pedas sesudah menyantap sepiring sate. Ada lagi soto bang Karto dan soto Haji Minah bersebelah-sebelahan. Bukan, keduanya bukan soto Padang. Orang yang membuatnya saja namanya bang Karto.

Pasar Atas ramai, idem ditto. Berselingkit pingkit orang lalu di antara jualan dan dagangan. Boleh masuk ke dalam los demi los. Yang diantaranya ada yang bernama los bergalung. Tempat orang berjualan kain dan alas kaki. Berjualan tikar dan lapik pandan. Berjualan segala macam rempah yang baunya harum menyebar kemana-mana. Berjualan tembakau dan daun terusan ataupun daun enau, untuk digulung jadi paisok, yang bukan rokok.

Di lapangan di hadapan mesjid raya, di samping panggung (bioskop) Irian ada orang berjualan obat. Entah obat apa, tidaklah penting sangat. Yang berjualan suaranya parau. Banyak ceritanya. Berseleperan mulutnya. Kadang-kadang dibuatnya atraksi seperti tukang sulap. Berkerumun orang menonton dalam sebuah lingkaran besar. Penjual obat beraksi di tengah-tengah. Berjalan hilir mudik sambil mulutnya tidak henti-henti berceloteh. Mengiklankan obat pencahar yang dijualnya. Gelarnya konon Datuk Dalu. Obat yang dijualnya adalah untuk yang bermasalah dan sulit ke belakang. Kalau sudah memakan obat Datuk Dalu, puuut bunyi kentut, ceeer bunyi isi perut menyemprot sampai sejauh tiga meter. Meski yang berkerumun berbilang puluhan, yang membeli hanya empat lima orang tidaklah penting bagi Datuk Dalu.

Beberapa puluh meter ke arah sana ada pula kerumunan yang lain. Tukang obat juga. Agak sedikit jelas obat yang dijualnya. Air racikan daun-daunan yang nanti dicampurnya dengan telur ayam dan madu untuk diminum para pembeli. Iklannya terdengar lebih pasti. ‘Obatku obat istimewa, bukan omong kosong. Obat orang Jerman hanya elok untuk orang Jerman. Obat orang Jepang hanya elok untuk orang Jepang. Obatku boleh untuk semua makhluk. Orang Jerman boleh meminumnya. Orang Arab boleh meminumnya. Orang Jepang boleh meminumnya. Sedangkan diberikan ke kuda jadi obat bagi kuda. Diberikan ke gacik (=anjing) jadi obat bagi gacik. Ha, singgahlah disini. Minumlah obat sitawa sidingin penyembuh sakit kepala. Penyembuh sakit hulu hati.’ Begitu katanya. Tentu saja dia benar, karena telur dan madu memang diminum setiap bangsa untuk jadi obat.

Di tempat orang berkerumun menonton tukang obat itu ada pula yang sedang mengail rejeki. Caranya dengan merosok kantong orang diam-diam. Bagi yang serawarnya besar dan dompet diletakkan di kantong serawar besar itu alamat akan jadi makanan empuk si tukang rogoh. Si tukang copet ini biasanya berkawan, dua atau tiga orang. Tampangnya itu ke itu juga. Orang banyak yang tahu. Si tukang copet biasanya mencari tampang-tampang baru. Orang yang baru datang dari jauh. Orang kampung yang baru saja menjual hasil bumi. Orang merubung menonton penjual obat biasanya jadi sasaran enteng bagi pencopet.

Barudin Sutan Bagindo pagi ini membawa 40 kilo lado (cabai merah) ke pasar Bukit Tinggi. Panen lado sedang elok-eloknya dan harganyapun sedang elok-eloknya pula. Dari hasil panen kali ini Barudin berniat akan mengganti atap ijuk rumah gadang dengan atap seng. Uang hasil penjualan lado itu dibaginya dua. Separo diletakkannya ke dalam puro (=kantong khusus) kain yang diikatkannya dengan tali di pinggang celana. Yang separo, yang akan dibayarkannya sebagai uang muka pembelian seng di letakkannya dalam saku baju gunting cina. Sesudah menerima uang pembayaran beli lado Barudin berjalan santai menuju pasar atas melalui jenjang empat puluh. Jenjang ini tidak seramai jenjang yang lain. Hal pertama yang akan dilakukan Barudin sesampai di pasar atas adalah pergi makan ke lepau nasi langganannya.

Di jalan yang sempit berselingkit di antara puncak jenjang empat puluh dan kedai nasi, Barudin terhalang oleh seorang laki-laki yang membungkuk mengambil saputangan jatuh. Tercatat juga di otaknya, bahwa agak aneh perbuatan orang laki-laki bersaputangan itu. Sempat terlihat olehnya roman muka orang itu yang berumur sekitar tiga puluh tahun, yang tersenyum kepadanya. Barudin tidak berprasangka apa-apa. Dia terus melangkah ke lepau.

Barudin makan enak sampai berpeluh-peluh. Makan dengan gulai cancang kambing. Barulah dia terperangah ketika merogoh saku baju gunting cina untuk membayar. Saku itu sudah kosong melompong.

Kapundung, katanya dalam hati. Ini rupanya arti tingkah si Kurapai yang membungkuk mengambil saputangan tadi. Uangnya sudah dicopet. Uang seharga 20 kilo lado sudah raib digondol si pencopet.

Barudin tidak mau merisaukan diri gara-gara uangnya dicopet. Dikeluarkannya uang dari puro yang terikat di ikat pinggangnya untuk membayar nasi orang lepau. Uang yang diniatkannya akan diserahkan kepada istrinya. Barudin adalah seorang laki-laki ninik mamak di kampung, yang menenggang dunsanak perempuan dan bertanggung jawab kepada anak istri.

Dia tidak jadi singgah ke toko yang menjual atap seng. Biarlah besok hari Sabtu saja. Sesudah dia menjual lado pula di hari itu nanti. Dan mudah-mudahan dia bisa bertemu lagi dengan tukang copet kurapai tadi. Akan dijebaknya manusia jahil itu. Akan ditagihnya piutang kalau orang itu berjumpa lagi. Dia bergegas saja pulang ke kampungnya. Masih banyak kerja yang akan dikerjakan.


***

Sesuai rencana hari Sabtu berikutnya Barudin berangkat lagi ke pasar. Panen lado sedang naik. Hari ini hampir lima puluh kilo yang dibawanya. Alhamdulillah harganyapun bertambah elok. Lebih banyak bilangannya dari hari Rabu kemarin untuk sekilo lado. Barudin tidak perduli bahwa harga naik itu karena nilai uang kertas memang merosot terus dari sehari ke sehari. Ketika menerima uang harga lado dilakukannya persis seperti yang dikerjakannya tiga hari yang lalu. Uang itu diperduanya. Separo masuk puro dan separo masuk saku baju gunting cina. Hanya yang terakhir ini, kali ini dimasukkannya dulu ke dalam sebuah amplop. Kantong baju gunting cina menggelembung dengan amplop berisi uang kertas.

Barudin mampir sebentar ke peturasan di dekat surau di pasar bawah. Seperti orang akan buang air kecil. Di kakus itu di keluarkannya kembali uang yang di dalam amplop dan dimasukkannya semua ke dalam puro. Amplop itu diisinya dengan kertas sehingga tetap menggelembung dalam sakunya. Barulah dia melangkah keluar.

Hatinya berdetak bahwa dia sudah diamati orang sejak dia menerima uang pembelian lado tadi. Sekarang dia melangkah menuju jenjang empat puluh. Seperti hari Rabu kemarin. Melalui jalan yang sama. Dia akan menuju lepau yang sama. Persis ketika akan menjejak jenjang empat puluh yang sebenarnya, dia di dahului tiga orang laki-laki. Satu dari ketiga laki-laki itu mengatakan ‘daulu saketek, mak’ (=saya duluan, paman) dengan sopan. Dan orang itu adalah yang waktu itu mengambil saputangan jatuh.

Barudin bergumam dalam hati. Akan kuterima piutang, katanya.

Dia sampai di puncak jenjang. Di hadapannya adalah keramaian pasar dengan orang yang sangat banyak. Barudin berjalan saja menekur seperti biasa. Tapi kali ini dia sedang berhitung dan berencana. Akan menagih piutangnya.

Benar saja. Beberapa langkah menjelang lepau nasi. Di jalan yang sempit seperti kemarin. Tiba-tiba saja Barudin sudah berada di antara dua orang laki-laki. Di depannya adalah orang yang kemarin mengambil saputangan jatuh. Saat ini dia memegang sebungkus rokok Kansas. Di belakangnya terasa ada orang yang menyelingkit-nyelingkit sambil mendorong. Barudin sedang waspada penuh.

Nah, inilah saatnya. Yang di depan menjatuhkan bungkus rokoknya. Barudin melihat itu dengan jelas karena memang sudah ditunggunya dari tadi. Berikutnya orang itu membungkuk mengambil rokok dengan mukanya seperti kemarin lagi, melengah ke belakang ke arahnya sambil tersenyum. Tangan orang yang di belakangnya secepat itu pula merogoh ke dalam kantong baju gunting cina Barudin. Inilah yang ditunggunya dari tadi. Secepat kilat, tangan yang sedang berada di saku bajunya itu ditangkapnya dengan tangan kanannya. Cap, tertangkap. Orang itu berusaha melepaskan tangannya dengan muka ketakutan. Barudin tidak mengambil banyak tempo. Dengan sekelebatan yang hanya berbilang detik, tangan orang itu dikeripukkannya sampai berbunyi seperti tulang patah. Pada saat yang sama si tukang halang di depannya yang baru bangkit dari mengambil rokok disepohnya dengan kaki sehingga jatuh terjengkang.

Si perogoh melolong kesakitan. Telunjuk dan jari tengahnya patah terkulai-kulai. Si penghalang yang jatuh terjengkang luka, keningnya terhempas ke jalan. Barudin melihat orang ketiga. Dia sudah mengenalinya sejak menaiki jenjang tadi. Dia berbaju berwarna biru. Ketika orang ketiga ini berusaha menghindar, Barudin menarik pinggang celananya. Orang itupun pucat pasi ketika menoleh kepadanya. Dengan gerakan secepat kilat pula diraihnya tangan orang itu dan dipelintirnya dengan gerakan sangat cepat. Terkeripuk pula dengan bunyi tulang patah. Diapun melolong kesakitan.

Semua itu berlangsung dalam waktu tidak sampai lima belas detik. Orang di tengah balai yang ramai itu terheran-heran menyaksikan dua orang yang meraung-raung kesakitan. Tidak ada seorangpun yang tahu entah apa sebenarnya yang terjadi.

Barudin mendekat ke si kening berdarah sebelum berlalu. ‘Ba karilahan wak yo,’ (=Saling mengikhlaskan kita, ya) katanya. Si kening berdarah hanya bisa menyeringai. Jual beli itu memang sudah selesai. Barudin mengambil untung sedikit dari ketiga sekawan yang kemarin sudah lebih dulu menerima uangnya. Hari ini giliran Barudin menerima piutang.

Barudin melanjutkan langkahnya ke lepau nasi. Makan nasi dengan gulai cancang seperti kemarin dulu. Bahkan dua kali bertambuh. Habis juga tenaganya sesudah bersilat tiga jurus tadi. Barulah sesudah itu dia pergi ke toko seng.


*****

MBAK NARTI BAKUL SAYUR

MBAK NARTI BAKUL SAYUR

Kami makan malam bertiga saja. Aku, istri dan anak bungsu kami. Dan memang hanya ada kami saja di rumah. Dua anak-anak yang lain tidak tinggal bersama kami. Mereka kuliah di kota lain. Istriku memasak sayur asam yang katanya tidak baik untuk orang berpenyakit asam urat sepertiku. Tapi apa boleh buat, karena aku sangat suka sayur asam, sebelum makan membaca bismillah nya di perkhusyuk saja. Dan makan tidak berlebih-lebihan. Insya Allah tidak apa-apa.

Sesudah makan, si Bungsu bergegas mengemasi piring-piring kotor dan mencucinya. Biasanya dia akan segera masuk kamar untuk belajar sesudah itu. Istriku mengupas sebuah apel dan mulai bercerita.

‘Ada berita baru lho, bang. Abang tahu si mbak Narti bakul sayur itu kan?’ katanya memulai.

‘Ada apa dengan dia?’ tanyaku sambil mencomot sepotong apel yang baru saja di belah-belah istriku.

‘Dia sekarang pakai jilbab, lho bang. Tadi pagi ibu-ibu langganannya pada kaget dan heran. Dia pakai jilbab,’ istriku melanjutkan.

‘Baguslah. Itu namanya kemajuan,’ jawabku sambil mengunyah keratan apel itu halus-halus.

‘Ibu-ibu bertanya. Kenapa, mbak? Kok tumben pakai jilbab? Dia bilang, ya mungkin saya lagi dapat hidayah. Rasanya lebih baik begini. Lebih mantap, begitu jawabnya. Apa betul kira-kira dia itu dapat hidayah, ya bang?’

‘Mudah-mudahan begitu. Bukankah kamu pula yang bilang, bahwa si Narti itu orangnya alim. Kalau berdagang tidak pernah bohong. Shalatnya, katanya, tidak pernah tinggal. Mudah-mudahan saja dia itu benar-benar dapat hidayah dari Allah,’ jawabku asal-asalan.

‘Kalau itu sih benar, bang. Dia itu jujur dan amanah. Pernah waktu itu ada yang pesan ayam kampung. Waktu dia mampir di rumah orang yang memesan itu, orang itu sedang tidak di rumah. Lalu ada orang lain yang mau membeli ayam itu, mbak Narti tidak mau menjualnya, karena katanya itu sudah milik orang yang pertama tadi. Dan dia kembali lagi setelah dagangannya habis ke rumah yang memesan itu, orangnya tetap belum ada, sehingga akhirnya ayam itu terpaksa dibawanya pulang dan baru besoknya diterima orang yang memesan itu.’

‘Berarti dia memang sangat amanah,’ ucapku.

‘Tapi balik ke soal pakai jilbab. Dia itu benar-benar dapat hidayah kayaknya ya bang? Bagaimana pendapat abang?’ tanya istriku.

‘Kalau dia pakai jilbab semata-mata hanya karena Allah maka betul-betullah dia itu namanya dapat hidayah Allah. Tapi kalau dia berjilbab karena selain dari Allah tentu bukan demikian lagi,’ jawabku masih sekenanya.

‘Kalau bukan semata-mata karena Allah, karena siapa pula?’

‘Mungkin saja karena suaminya. Atau karena orang lain,’ jawabku.

‘Kalau awalnya karena diingatkan suaminya lalu setelah itu dia ikhlas melakukannya karena Allah?’ istriku pura-pura menyelidik.

‘Ya berarti juga karena Allah dong. He..he..he.’

‘Tapi…. Indah sekali tatkala seseorang itu berubah kepada kebaikan, ya bang?. Mbak Narti itu…….. yang sudah tidak muda lagi itu….mau pakai jilbab karena kesadarannya sendiri. Saya kagum sekali kepadanya.’

‘Perubahan kepada kebaikan seperti itu benar-benar merupakan sebuah hidayah. Allah memberikan kemudahan kepada siapa saja yang dikehendakiNya. Pada saat hati seseorang mau menerima kebenaran, mau menerima aturan yang ditetapkan Sang Maha Pencipta dengan ikhlas, memang terasa indah sekali. Tidak semua orang mampu memahami aturan yang ditetapkan Allah dan tentu saja tidak semua orang sanggup mematuhinya. Tidak semua orang mampu untuk tidak ngeyel, tidak mencari-cari alasan,’ tambahku.


*****


Hari Minggu pagi. Aku sedang duduk membaca koran di teras depan. Tiba-tiba muncul si Narti dalam busana jilbabnya dengan bakul sayurannya, menyapaku ramah.

‘Ibu mau belanja pak?’ tanyanya.

‘Iya,’ jawabku pendek, serta langsung memanggil istriku.

Istriku muncul. Sedikit salah mengerti dan mengatakan kalau dia hari ini tidak mau belanja karena mau ke pasar. Aku segera menengahi.

‘Mbak Narti bawa sayur asam, kan?’ aku bertanya sambil mengedipkan mata kepada istriku, memberi isyarat bahwa aku ingin membeli sesuatu.

‘Ada sih, pak. Tapi kalau memang ibu mau ke pasar ?’ dia balik bertanya, polos.

‘Tidak, saya mau beli dari mbak Narti saja. Turunkanlah bakulnya,’ perintahku.

Dia menurunkan bakulnya. Mengeluarkan sebuah kantong plastik yang berisi bahan-bahan sayur asam. Ada juga tahu kuning Bandung dalam plastik. Aku bilang aku juga mau membeli tahu. Sekali lagi dia mengingatkan.

‘Katanya ibu mau ke pasar. Di pasar pasti lebih murah lho dari dagangan saya,’ katanya.

‘Nggak apa-apa, mbak. Mbak Narti kan sudah langganan,’ istriku ikut bicara.

Belanjaannya cukup sayur asam dan tahu Bandung itu saja. Istriku mengambil uang ke dalam untuk membayarnya. Aku menggunakan kesempatan ini untuk sedikit mewawancarainya.

‘Bagaimana perasaan mbak Narti sejak pakai jilbab?’ tanyaku. Sebuah pertanyaan agak bodoh.

‘Saya lebih tenang pak. Saya ini dulu sekolah di pesantren. Dulu waktu sekolah saya pakai jilbab. Dan saya masih hafal ayat yang memerintahkan wanita memakai jilbab. Tapi setelah disini, setelah saya berjualan sayur saya tidak lagi memakainya. Rasanya saya berdosa. Saya lihat ibu-ibu di perumahan sini, banyak yang pakai jilbab. Mula-mula saya bilang, ibu-ibu itu kan sudah mapan. Punya suami dan tidak usah membanting tulang berjualan sayur seperti saya. Lha saya ini kan harus pagi-pagi sekali ke Pasar Induk. Lalu keliling untuk berjualan. Repot kalau pakai jilbab. Tapi kembali hati kecil saya mengatakan, saya ini berdosa. Tidak ada hubungannya antara saya harus berkeliling untuk berjualan dengan kewajiban saya berpakaian seperti yang diperintahkan agama. Saya tidak tenang pak. Dan itu berlangsung bertahun-tahun. Sampai akhirnya, keberanian saya muncul. Saya kembali menggunakan kerudung seperti ini,’ ceritanya secara rinci.

Aku mendengarkan ceritanya dengan kagum. Dan istriku juga ikut mendengar semua yang disampaikan mbak Narti.

‘Jadi mbak Narti dulu sudah pakai jilbab waktu di pesantren?’ istriku kembali bertanya.

‘Iya, bu. Dan baru sekarang lagi sesudah itu saya memakainya kembali. Mudah-mudahan Gusti Allah mengampuni kekeliruan saya selama ini,’ ungkapnya lagi yang menambah kekagumanku.

‘Saya ikut mendoakan, agar mbak Narti semakin teguh keimanannya,’ kataku.

Dia mengaminkan kata-kataku.

Setelah mbak Narti berlalu, kami kembali membahas perihal mbak Narti.

‘Nah, bang. Bagaimana pendapat abang?’ tanya istriku.

‘Pendapat abang, bahwa mbak Narti itu benar-benar seorang yang dapat hidayah dari Allah. Allah menggerakkan hatinya untuk berubah, kembali ke jalan yang benar. Dia tahu bahwa berjilbab itu adalah peraturan Allah. Itulah yang benar. Tapi dia telah mengabaikannya selama ini. Dalam hatinya timbul perasaan tidak tenang. Dia merasa berdosa karena tidak lagi menggunakan jilbab seperti ketika dia bersekolah di pesantren. Dia masih hafal ayat Quran yang memerintahkan setiap muslimah memakai jilbab. Dia merasa takut telah berbuat dosa. Rasa takut inilah yang menggiringnya untuk memperbaiki dirinya. Dia bertaubat kepada Allah. Hanya orang-orang yang punya rasa takut terhadap Allah-lah yang lebih mudah untuk bertaubat.’

‘Tadi dia mengatakan, ibu-ibu di kompleks kita banyak yang berjilbab, dan hal ini mungkin mempengaruhinya pula,’ komentar istriku.

‘Bisa saja demikian. Bisa saja itu menambah semangatnya untuk kembali berkerudung. Karena dia mengamati dan kemudian memikirkan dalam hatinya. Dia berdialog dengan dirinya sendiri seperti ceritanya tadi. Kebalikannya banyak juga orang yang tidak terpengaruh apa-apa, biarpun di sekitarnya banyak orang berjilbab,’ aku menambahkan.

‘Jadi kesimpulannya apa bang?’

‘Kesimpulannya? Kesimpulannya, sering-seringlah mengintrospeksi diri. Jangan membohongi diri sendiri ketika kita sebenarnya mengenal nilai-nilai kebenaran sementara kita belum mampu menegakkannya dengan cara berdalih macam-macam. Jangan malu untuk berubah. Jangan malu untuk bertobat. Kelihatannya itulah kesimpulan dari proses yang dijalani si mbak Narti bakul sayur itu.’


*****