Thursday, February 21, 2008

KETUPAT LEBARAN (1423)

KETUPAT LEBARAN (1423)

Cuaca mendung. Sepertinya sebentar lagi akan turun hujan. Aku bergegas meninggalkan mesjid sesudah selesai shalat ashar. Hari ini adalah hari terakhir Ramadhan 1423H. Aku sangat mengantuk dan ingin sekali tidur agak sebentar. Waktu ba’da ashar ini sebenarnya adalah waktu membagikan amplop zakat kepada para mustahiq yang sudah ramai sekali datang sejak sesudah shalat zhuhur tadi siang. Para pengurus yang khusus menangani pembagian zakat untuk tahun itu sudah siap untuk membagi-bagikan amplop itu.

Di depan rumah kudapatkan seorang laki-laki muda berdiri di luar pagar. Aku tidak mengenalinya. Umurnya sekitar dua puluh lima tahun. Penampilannya bersahaja namun cukup rapi dan bersih. Tangannya memegang sebuah tas kain berwarna biru. Aku menyapanya dan bertanya.

‘Sampeyan mencari siapa?’

‘Bapak yang punya rumah ini?’ dia balik bertanya.

‘Benar,’ jawabku sambil memperhatikan wajahnya lebih seksama.

Dia menyodorkan tangannya kepadaku untuk bersalaman dan aku menyambut dan menyalaminya.

‘Saya diberitahu orang alamat ini. Saya ada keperluan dengan bapak,’ ujarnya.

‘Oh ya? Ada keperluan apa? Mari kita masuk,’ ajakku sambil membuka pintu pagar.

Dia mengiringiku masuk ke pekarangan.

‘Bolehkah kita berbicara di depan sini saja pak?’ katanya pula.

‘Boleh. Silahkan duduk,’ jawabku mengajaknya duduk di kursi di teras rumah.

‘Begini pak. Nama saya Rahim. Saya seorang mualaf . Saya masuk Islam setahun yang lalu dan sekarang saya belajar di pesantren Darul Hikmah di Kediri. Dulu nama saya Sebastian. Saya seorang Cina. Karena sudah sangat rindu kepada ibu saya, saya memberanikan diri untuk pulang menengok orang tua saya. Saya ingin bersilaturrahmi dengan mereka. Tapi ternyata mereka, ayah dan adik-adik saya tetap membenci dan mengusir saya. Saya bahkan dipukuli adik-adik saya waktu saya berada di tempat orang tua saya itu. Ibu saya sebenarnya sedang dalam keadaan sakit. Saya rasa beliau tidak semarah ayah dan saudara-saudara saya yang lain,’ ceritanya sambil menunjukkan warna biru samar-samar di pelipisnya.

‘Sejak tiga hari ini saya terlunta-lunta di Jakarta ini. Untunglah, karena dalam bulan Ramadhan, saya dapat ikut berbuka dan sahur dari mesjid ke mesjid. Hanya saja, waktu saya minta tolong mendapatkan bantuan ongkos untuk pulang ke Kediri sampai sekarang belum dapat. Tadi malam di mesjid Al Furqan di Pondok Gede, ada yang memberi saya uang sepuluh ribu rupiah dan menunjukkan alamat bapak kepada saya. Makanya saya datang kesini,’ ujarnya mengakhiri uraiannya.

Aku tercenung mendengar ceritanya. Ada rasa antara percaya dan tidak dalam hatiku. Siapa pula agaknya yang memberikan alamatku di Pondok Gede sana?

‘Sampeyan yakin orang yang di Pondok Gede itu memberitahu alamat saya ini?’ tanyaku.

‘Orang itu memberikan nama kompleks perumahan ini. Dan menyebutkan nama bapak. Katanya, tanyakan saja nanti rumah Ketua Pengurus Mesjid di pos Satpam. Tadi saya bertanya ke petugas Satpam yang mengantarkan saya kesini,’ jawabnya.

‘Barusan saudara diantar Satpam?’ tanyaku lagi.

‘Benar pak. Petugas itu mengatakan bapak pasti sedang berada di mesjid. Saya yang minta diantarkan kesini. Saya baru berniat mau mengetuk pintu pagar untuk bertanya waktu bapak datang barusan,’ jawabnya.

‘Oh ya? Di pesantren apa sampeyan bilang sampeyan belajar tadi?’ tanyaku pula.

‘Pesantren Darul Hikmah pak. Di Kediri,’ katanya sambil mengeluarkan selembar surat dari dalam tasnya dan memperlihatkannya kepadaku.

Aku membaca kop surat itu sebelum melanjutkan pertanyaan.

‘Bagaimana caranya saudara mondok disana? Maksud saya apakah saudara punya pekerjaan untuk membiayai pemondokan atau saudara mondok secara cuma-cuma?’ tanyaku setengah menyelidik.

‘Saya punya keahlian menjahit pakaian. Pak Kiyai pengasuh pondok itu membekali saya dengan sebuah mesin jahit. Uang upah jahit itu semua saya serahkan kepada pak Kiyai. Waktu kemarin saya minta izin pulang beliau memberi saya bekal. Tapi uang itu sudah habis,’ ujarnya.

‘Berapa ongkos perjalanan ke Kediri?’ tanyaku pula.

‘Dengan kereta api empat puluh lima ribu, pak. Sebenarnya saya dibekali pak Kiyai seratus dua puluh lima ribu rupiah waktu berangkat. Uang itu sebagian saya belikan oleh-oleh untuk ibu saya. Dan untuk keperluan lain. Sampai saya tidak punya bekal lagi untuk kembali,’ ungkapnya.

‘Baik, saya akan memberi sampeyan ongkos untuk kembali. Tunggulah sebentar disini,’ ujarku.

Aku masuk ke dalam rumah untuk mengambil uang. Aku serahkan uang seratus ribu kepadanya.

‘Tapi ini terlalu banyak, pak. Saya hanya memerlukan separuhnya,’ ujarnya.

‘Tidak apa-apa. Gunakanlah untuk keperluan lain,’ kataku dengan perasaan sedikit heran atas pernyataannya itu.

‘Benar pak, ini terlalu banyak. Kalau bapak punya uang lima puluh ribuan sudah cukup untuk ongkos saya. Saya masih punya sisa uang yang diberikan orang di Pondok Gede tadi malam,’ tambahnya bersungguh-sungguh.

‘Ambillah dan kalau nanti berlebih, gunakan untuk keperluan lain seperti yang sampeyan gunakan dengan sisa uang pemberian pak Kiyai,’ kataku pula.

Dia menatapku ragu-ragu. Uang itu itu masih tergeletak di atas meja. Dia belum menyentuhnya.

‘Bukankah bapak tidak tahu untuk apa saya gunakan kelebihan uang dari pak Kiyai itu?’ dia bertanya.

‘Tidak,’ jawabku. ‘Tapi gunakanlah dengan cara yang sama,’ kataku pula berusaha tersenyum.

‘Saya baru akan memerlukannya tahun depan, pak. Tidak sekarang,’ ujarnya pelan.

‘Kalau begitu gunakan tahun depan,’ aku menambahkan asal-asalan.

‘Tapi bapak tidak tahu untuk apa sebenarnya uang itu saya gunakan, bukan?’ dia kembali bertanya.

‘Tidak,’ jawabku pendek.

‘Saya……..’ dia ragu-ragu meneruskannya.

‘Kalau itu rahasia, tidak usah sampeyan beberkan,’ kataku.

‘Saya bayarkan untuk zakat fitrah atas nama saya dan kedua orang tua saya. Tiga puluh ribu rupiah,’ katanya.

Aku terbelalak mendengarnya. Beberapa detik aku terdiam. Antara percaya dan tidak dengan apa yang dikatakannya.

‘Kenapa sampeyan bayarkan zakat fitrah ayah dan ibu sampeyan? Bukankah mereka bukan orang Islam seperti yang sampeyan ceritakan. Atau mereka Muslim?’ tanyaku.

‘Mereka bukan Muslim pak. Tapi saya selalu berdoa kepada Allah agar mereka ditunjuki Allah untuk menerima kebenaran Islam,’jawabnya.

‘Lalu? Kenapa sampeyan bayarkan zakat fitrahnya?’ tanyaku masih dalam keherananku.

‘Bukankah bayi yang baru lahir pada dasarnya juga belum beragama Islam, tapi zakat fitrahnya dibayarkan, pak? Mungkin saya agak ngarang, tapi saya benar-benar telah membayarkan zakat fitrah kedua orang tua saya dan berdoa kepada Allah agar Allah menunjuki mereka ke jalan yang diridhai Allah,’ jelasnya.

Aku sekali lagi terdiam. Tidak ingin aku beradu argumentasi sedikitpun dengannya. Baru sekali ini cerita seperti ini aku dengar. Sejujurnya aku tidak tahu apakah yang dilakukannya itu benar atau salah. Tapi paling tidak anak muda ini sedang bereksperimen dengan keyakinannya.

Setelah hening cukup lama, akhirnya aku kembali membuka suara.

‘Baiklah. Saudara terima uang ini. Saudara simpan sampai tahun depan saat saudara membayarkan zakat fitrah kembali tahun dimuka. Maukah saudara berbuka puasa disini sore nanti?’ tanyaku.

‘Saya sangat berterima kasih pak. Tapi seandainya bapak izinkan, saya ingin cepat-cepat ke stasiun Jatinegara untuk mendapatkan karcis kereta. Mudah-mudahan saya dapat berangkat malam ini. Saya ingin agar berada di pondok besok, pada saat hari Idul Fitri, untuk bersilaturrahmi dengan pak Kiyai,’ katanya.

Aku kembali menatapnya. Anak muda itu memandangku dengan penuh harap.

‘Baiklah kalau demikian. Kalau sampeyan memilih untuk segera berangkat ya silahkan. Ambillah uang ini,’ kataku menyerahkan uang itu ketangannya.

‘Terima kasih, pak. Jazakallahi khairan,’ ujarnya.

Aku menatapnya tersenyum.

‘Baiklah pak. Saya mohon diri. Sekali lagi terima kasih banyak atas pertolongan bapak. Assalamu’alaikum,’ ujarnya sambil menyorongkan tangannya menyalamiku.

‘Wa’alaikumsalam,’ jawabku pendek.

Rasa kantukku jadi hilang setelah perbincangan dengan anak muda itu. Aku tidak jadi beristirahat. Setelah berpamitan dengan istriku, aku kembali ke mesjid. Mengamati pembagian amplop zakat fitrah yang sudah hampir usai.

Nanti malam takbir akan kembali bergema. Allaahu Akbar Allaahu Akbar Allaahu Akbar, Laa ilaaha illa ‘Llaahu wAllahu Akbar – Allaahu Akbar waliLlaahil hamd. Allaahu Akbar – Allaahu Akbar – Allaahu Akbar Allaahu Akbar Kabiiran, walhamdu liLlaahi katsiiran, wa subhanaLlaahi bukratan wa ashiila, Laa ilaaha illa ‘Llaahu wAllaahu Akbar – Allaahu Akbar waliLlaahil hamd.

Allah Maha Besar, segala puji hanya kepunyaan Allah.


Jatibening, Awal Syawal 1423H

KETUPAT LEBARAN (1422)

KETUPAT LEBARAN (1422)

Cepatnya waktu berlalu. Sepertinya baru kemarin kita bermalam takbiran. Sepertinya baru kemarin kita berhalal bi halal di gedung SD di dalam kompleks perumahan ini. Sepertinya baru kemarin kita menunggu-nunggu antara mau mulai puasa hari Jum’at atau hari Sabtu. Tak terasa sudah akhir Ramadhan lagi. Sudah mau Idulfitri lagi. Sudah malam takbiran lagi.

Allaahu Akbar, Allaahu Akbar, Allaahu Akbar, Laa ilaha illa ‘Llaahu wAllaahu Akbar, Allaahu Akbar waliLlahil hamd. Gemuruh takbir dikumandangkan remaja-remaja mesjid dengan bersemangat. Diiringi suara beduk yang mereka pukul bertalu-talu. Beduk baru, yang kemarin sore mereka minta dibelikan karena beduk lama sudah robek. Allaahu Akbar, Allaahu Akbar, Allaahu Akbar Kabiiran, walhamdu liLlaahi katsiiran, wa subhanaLlaahi bukratan wa ashiila, Laa ilaaha illa ‘Llaahu wAllaahu Akbar, Allaahu Akbar waliLlahil hamd.

Seperti tahun kemarin, pada malam takbiran ini kesibukan mengurus ZIS mencapai puncaknya. Setelah bersama-sama segenap pengurus mesjid selesai membagi-bagikan zakat, zakat maal, infaq dan sadaqah kepada para mustahiq. Semua sudah dibagikan. Untuk para masakin di sekeliling kompleks, untuk para yataama yang memang pula miskin, untuk para pemulung yang tahun ini makin banyak, untuk para tukang becak yang biasa mangkal di gerbang kompleks, untuk para guru-guru TPA Mesjid yang gajinya seribu lima ratus rupiah untuk setiap jam mengajar itu. Sebagian kami sisihkan untuk baitul maal masjid yang kegunaannya insya Allah untuk dipinjamkan kepada pedagang-pedagang bakul sayur seandainya mereka mau. Atau kepada tukang mi bakso pikul itu. Atau kepada tukang beca yang membeli beca baru seperti tahun kemarin. Atau kepada musafir, yang memang seringkali saja datang minta pertolongan ongkos kembali ke pondoknya.

Jam setengah sepuluh malam. Semua sudah hampir selesai. Takbir masih berkumandang dengan irama yang semakin syahdu. Allaahu Akbar Kabiiran, walhamdu liLlaahi katsiiran, wa subhanaLlaahi bukratan wa ashiila, Laa ilaaha illa ‘Llaahu Allaahu Akbar – Allaahu Akbar waliLlahil hamd.

Tiba-tiba ketua Remaja Mesjid datang menghampir.

‘Bagaimana dengan beras-beras ini pak Haji?’ tanyanya.

‘Seperti tahun lalu saja. Kita serahkan ke Panti Asuhan. Bukankah kalian akan mengantarkan amplop untuk mereka kesana,’ jawabku singkat.

‘Apakah pak Haji tidak ingin ikut mengantar kali ini? Melihat anak-anak yatim di Panti itu?’ tanyanya pula.

Sebenarnya aku sudah sangat letih. Aku sudah berada di mesjid sejak waktu Zhuhur siang tadi. Tapi tak sampai hatiku mengecewakan anak-anak muda ini anggota Remaja Mesjid ini.

‘Baiklah saya akan ikut,’ jawabku mengiringi sebuah kuap panjang.

‘Pak Haji sudah terlalu capek kelihatannya. Kalau begitu biarlah kami saja yang pergi,’ ujar anak muda ketua Remaja Mesjid itu.

‘Tidak apa-apa. Saya akan ikut. Mari kita berangkat,’ ajakku.

Dengan berkendaraan mobil kami menuju Panti Asuhan “Fii - Sabilillah” yang terletak lebih kurang tiga kilometer dari kompleks kami. Di dalam mobil kami teruskan obrolan sambil aku terakuk-akuk.

‘Ada yang ingin saya tanyakan pak Haji. Makanya saya mengajak pak Haji ikut ke Panti yang pak Haji selalu menyuruh kami untuk menyerahkan zakat-zakat ini,’ kata ketua sambil menyetir.

‘Mengenai apa?’ tanyaku.

‘Bahwa di Panti itu tidak melulu anak yatim yang di pelihara dan disantuni, pak Haji, ada juga yang bukan anak yatim,’ ujarnya.

‘Tentu anak orang miskin barangkali,’ jawabku.

‘Tidak juga pak Haji. Orang tuanya sebenarnya tidak miskin. Itupun kalau boleh disebut ‘orang tuanya’, karena status anak itu sebenarnya tidak punya orang tua,’ ucap Ketua Remaja Mesjid itu.

‘Kalau tidak ada orang tua, berarti memang anak yatim piatu kalau begitu,’ jawabku, kembali sesudah sebuah kuap panjang.

‘Bukan pak Haji. Anak itu anak tidak syah. Anak korban tabrak lari. Dititipkan oleh ayah bilogisnya karena sejak dia bayi sudah ditinggalkan begitu saja oleh ibu yang melahirkannya. Konon anak itu buah sebuah perkosaan, sehingga si ‘ibu’ tidak mau memeliharanya dan diserahkan kepada ‘ayah’ nya dan oleh ayahnya akhirnya dititipkan di Panti,’ cerita anak muda itu lebih rinci.

‘Masya Allah,’ ujarku dan kali ini diiringi kuap.

‘Nah pertanyaannya, apakah anak seperti itu perlu juga disantuni? Apakah anak seperti itu layak diterima di Panti yang namanya “Fii – Sabilillah” itu?’

‘Sebelum saya jawab, kalau menurut kamu bagaimana?’ saya balik bertanya.

‘Kalau menurut kami, anak itu kan anak haram pak Haji. Anak itu tidak pantas di santuni. Anak itu tidak pantas di terima di panti yang namanya ‘Pada Jalan Allah’ itu. Bagaimana menurut pak Haji?’ tanyanya pula.

‘Astaghfirullah. Apakah anak itu berkehendak terlahir sebagai anak haram?’ tanyaku memancing.

‘Ya anak itu sih tidak berdosa. Tapi kan harusnya orang tuanya yang harus bertanggung jawab. Katakanlah ayah biologisnya tadi itu, dialah seharusnya yang bertanggung jawab. Tidak seharusnya dia menitipkan anak itu di Panti. Dan yang lebih utama lagi tidak seharusnya pengurus Panti itu mau menerimanya dan menggabungkannya dengan anak-anak yatim yang lain. Bagaimana menurut pak Haji?’

‘Kita sudah sampai. Mari kita serahkan dulu uang dan beras zakat fitrah ini. Nanti kita sambung cerita ini,’ usulku ketika kami sudah sampai di Panti tersebut.

Kami turun dari mobil. Kami temui Pengurus Panti itu, seorang ibu yang sudah berumur sekitar enam puluhan tapi masih terlihat sehat dan kuat. Wajahnya bersih dibungkus dengan jilbab putih. Wajah yang sangat murah senyum.

‘Assalamu’alaikum warahmatullahi wa barakatuh,’ aku menyapa begitu melihatnya.

‘Wa’alaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh,’ jawabnya tersenyum.

‘Kami ingin menyerahkan amanah jamaah di mesjid kami. Zakat fitrah dan juga sudah kami tambahkan dengan zakat maal, infaq dan sadaqah jamaah. Sudah kami bagi-bagi, dan untuk Fii – Sabilillah kami serahkan sekarang,’ ujarku kepada ibu itu.

Ketua Remaja Mesjid menyerahkan amplop kepadaku untuk diserahkan. Aku suruh agar dia saja langsung menyerahkannya kepada ibu itu.

‘Alhamdulillah. Saya terima amanah ini. Insya Allah akan saya gunakan untuk kemashlatan anak-anak Panti,’ ujarnya.

‘Berapa orang anak-anak yang dipelihara di sini, bu?’ aku bertanya berbasa-basi.

‘Empat puluh orang, pak. Di papan tulis ini kami tuliskan data-data mereka,’ jawabnya sambil menunjukkan sebuah papan ‘board’ putih bertuliskan data anak-anak penghuni itu.

Mataku menemukan sebuah nama dengan catatan ‘anak korban masalah keluarga’ tertulis disitu. Mungkin ini yang dimaksud ketua Remaja Mesjid.

Aku tidak ingin berlama-lama di Panti itu. Anak-anak penghuni Panti itu sudah pada tidur. Kami segera mohon diri. Ibu pengurus mengantar kami sampai ke pintu. Sesudah mengucapkan salam kami segera berangkat.

‘Bagaimana jawaban pertanyaan saya tadi pak Haji?’ tanya ketua Remaja Mesjid, begitu mobil kami sudah bergerak meninggalkan tempat itu.

‘Saya rasa ibu pengasuh Panti itu seorang yang sangat santun dan ikhlas. Tentu dia tahu apa yang dia lakukan. Kembali kepada anak malang yang kamu sebut tadi, saya menyetujui tindakan ibu pengasuh itu mau menerimanya. Karena kalau tidak, tentu banyak kemungkinan yang bisa terjadi terhadap bayi malang itu. Bisa dia teraniaya, bisa dia terlantar, bisa jatuh ke tangan orang yang tidak bertanggung jawab. Bukankah dengan dipelihara ibu pengasuh Panti itu jauh lebih baik baginya?’ ujarku pula.

‘Tapi dia anak haram, pak haji,’ kata anak muda itu.

‘Yang haram itu perbuatan laki-laki yang memperkosa. Anak itu tidak berkehendak terlahir sebagai anak haram. Pada saat tidak ada orang yang mau memeliharanya, syukurlah Panti itu mau menerimanya. Ibu tadi mau mengurusnya dengan ikhlas,’ jawabku pula.

‘Apakah anak seperti itu juga fitrah waktu dia dilahirkan pak Haji?’

‘O iya, jelas. Setiap bayi yang baru lahir itu fitrah. Suci. Apakah dia itu anak orang kafir, apakah dia itu anak hasil perbuatan zina. Semua mereka suci, fitrah pada saat dia baru lahir. Dia belum mengenal dosa. Karena memang dia belum mampu berbuat apa-apa. Dia belum melakukan apa-apa yang dihitung sebagai dosa. Bahkan Allah membiarkan status tanpa dosa itu berlangsung sampai setiap insan mencapai usia akil baligh. Barulah sesudah dia baligh, berakal diperhitungkan amalan-amalannya,’ jawabku.

‘Oh jadi begitu ya pak,’ ujarnya pula.

‘Ya, setiap bayi yang baru lahir itu suci. Orang tuanyalah yang akan menjadikan dia itu seorang yang beriman, menjadi seorang Nasrani, menjadi Yahudi, menjadi Majusi,’ aku menambahkan.

‘Dan apakah kita juga kembali fitrah seperti bayi yang baru lahir, sesudah kita selesai melaksanakan ibadah bulan Ramadhan seperti sekarang ini pak?’

‘Mudah-mudahan begitu. Namun tentu tergantung kepada nilai ibadah yang kita lakukan selama Ramadhan yang lalu. Seberapa ikhlas kita, dan seberapa hati-hati kita menjalaninya. Sabda nabi SAW, ’barangsiapa yang beribadah di bulan Ramadhan karena beriman (kepada Allah) dan dengan penuh keberhati-hatian, niscaya Allah akan mengampuni dosa-dosanya yang terdahulu’. Nah, kalau dosa-dosa kia semua diampuni, bukankah kita kembali suci atau fitrah seperti seorang bayi?’ jawabku menjelaskan.

‘Benar sekali pak. Baiklah, terima kasih atas penjelasan pak Haji,’ ujar ketua Remaja Mesjid itu.

Kami sudah sampai kembali ke kompleks perumahan kami. Anak muda itu langsung mengantarkanku ke depan rumah. Takbir masih berkumandang syahdu.

Allaahu Akbar – Allaahu Akbar – Allaahu Akbar. Laa ilaha illa ‘Llaahu waLlahu Akbar. Allaahu Akbar walilLaahil hamd.

Sudah lebih jam sepuluh malam. Aku benar-benar sudah tidak sanggup menahan kantuk. Begitu sampai di rumah aku langsung pergi tidur. Istri dan anak-anakku masih sibuk menyiapkan ketupat lebaran.



Jatibening, Awal Syawal 1422H

KETUPAT LEBARAN (1421)

KETUPAT LEBARAN (1421)

Hari baru jam sembilan lebih seperempat malam. Aku baru kembali dari mesjid. Takbir masih terdengar bergemuruh. Allahu Akbar – Allahu Akbar – Allahu Akbar. Laa ilaha illa ‘Llahu waLlahu Akbar. Allahu Akbar walilLahil hamd. Selesai sudah Ramadhan tahun ini, setelah tigapuluh hari penuh berpuasa. Bahana takbir bersahut-sahutan di udara malam nan syahdu.

Di rumah kudapati anak-anak dan ibu mereka sedang bergotong royong di meja makan menyiapkan hidangan hari raya besok. Mereka bekerja sambil berseloroh, mengobrol macam-macam dari barat ke timur, mengulangi kenangan lama saat mereka masih kanak-kanak, diselingi tawa terkekeh-kekeh.

“Malam takbiran seperti ini selalu mengingatkanku pada Balikpapan,” kata si Sulung. “Hari raya disana selalu lebih ramai. Sehabis salat Ied tamu kita, terutama teman-teman sekantor ayah segera berdatangan.”

“Iya, aku ingat kita bergantian membakar sate dan rumah kita seperti warung sate Padang,” si Tengah menambahkan.

“Malam takbiran begini biasanya kita menusuk sate beramai-ramai, sementara si mBok sibuk merebus ketupat. Kenapa buk, disini kita tidak membuat sate Padang?” si Bungsu menimpali.

“Di sini tetangga-tetangga datang berhari raya hanya sampai di pintu rumah untuk bersalaman, setelah itu pergi, beda dengan di Balikpapan yang lebih akrab. Kalau disini masing-masing orang ingin segera berkumpul dengan keluarga besarnya.” jawab ibu mereka.

“Lha, apa hubungannya dengan tidak bikin sate Padang?” si Tengah yang kritis menyela.

“Hubungannya, yang makan hanya kita-kita saja, karena tamu kita jarang yang mau ikut duduk untuk makan bersama karena disini begitu tradisinya. Kalau cuma untuk kita, ya kita pergi saja ke warung sate Padang” si Sulung membuat interpretasi.

“Ah, bukan juga begitu, kalau kalian mau nanti kapan-kapan kita bikin” jawab ibu. “Sekarang biarlah kita siapkan ketupat dan opor ayam ini saja.”

“Ngomong-ngomong tentang Balikpapan aku ingat waktu pertama kali ikut salat taraweh, aku maunya salat dekat ayah, dan aku ditertawakan karena anak cewek harusnya salat di belakang bersama ibu-ibu, he he he.” kenang si Sulung yang asik mengupas bawang.

“Kalau aku yang nggak bisa lupa waktu aku menumpahkan kolak pisang di sajadah tante Ani waktu salat taraweh di rumahnya. Tante Ani yang latah itu tereak-tereak mengatakan aku ngompol sehingga semua orang melotot ke arahku.” kata si Tengah.

“Ya, dan kamu langsung nangis waktu itu, he he he,” si Sulung menambahkan.

Suara takbir bersahut-sahutan masih terus terdengar dari pengeras suara di mesjid-mesjid di sekitar kompleks perumahan ini. Allahu Akbar waliLlahil hamd. Biasanya cerita nostalgia itu berlanjut kemana-mana. Masing-masing mengungkit memori kanak-kanak mereka tentang kejadian sekitar sepuluh tahun atau lebih yang lalu. Kadang-kadang aku ikut membumbui obrolan mereka. Kadang-kadang aku ikut mengingatkan kejadian yang mereka alami. Kadang-kadang aku juga menceritakan kenanganku waktu kecil selama puasa Ramadhan. Ceritaku tentu saja lain dengan pengalaman anak-anak yang lebih berwarna-warni, karena waktu aku kecil kami menjalani bulan puasa ditengah kesederhanaan suasana kampung.

Allahu Akbar kabiiran, wa subhanaLlahi bukratan wa ashiila. Entah kenapa, tiba-tiba saja air mataku berlinang kali ini dan aku jadi terisak-isak. Tentu saja semua jadi gempar.

“Kenapa ayah? Kok ayah jadi cengeng begini?” tanya si Bungsu hati-hati.

Yang lain semua diam membisu. Mereka bahkan menghentikan pekerjaan mereka, menatap padaku dengan tatapan penuh tanda tanya. Aku mencoba meredam emosi. Allahu Akbar walilLahil hamd.

“Berapa tahun sejak kamu ikut salat taraweh yang pertama kali yang kamu sebutkan tadi?” tanyaku pada si Sulung.

Dia berfikir sebentar.

“Enam belas tahun ayah. Waktu itu aku masih di TK nol kecil” jawabnya.

“Betul. Dan kamu masih ingat kejadian-kejadian lain waktu itu?” tanyaku pula.

“Ingat, banyak sekali kejadian yang aku masih hafal luar kepala. Waktu aku pertama kali ikut bus jemputan ke sekolah, waktu itu aku sangat senang karena merasa sudah besar, tidak usah diantar ibu ke sekolah. Waktu aku pergi ke ulang tahun temanku Santi dan aku naksir sekali kado yang aku bawakan untuknya. Waktu kita ketinggalan pesawat sekembali dari liburan di kampung. Semua masih segar dalam ingatanku.” tambahnya pula.

“Ayahpun masih ingat waktu pertama kali ayah puasa saat ayah berumur enam tahun. Hari pertama puasa tiap sebentar ayah menanyakan waktu pada nenekmu. Lama betul rasanya menunggu beduk magrib dipukul orang di mesjid. Hari-hari berikutnya kami sudah lebih tahan. Ayah dan teman-teman ayah bermain sepanjang hari. Main bola, main layang-layang, bermain-main di sawah, naik di punggung kerbau. Sore-sore biasanya kami mengendap-endap mandi di kolam mesjid, takut ketahuan tuanku mesjid yang selalu marah karena kami mandi memperkeruh air kolam tempat wudu itu,” aku bercerita panjang.

“Cerita ini sudah pernah ayah ceritakan. Suatu kali tuanku mesjid merendam baju ayah ke dalam kolam sehingga ayah terpaksa pulang tanpa baju, iya kan? Maaf ayah, kenang-kenangan itukah yang menjadikan ayah sedih sampai menangis?” tanya si Bungsu lagi.

“Benar” jawabku, “ayah terharu mengingat semua itu.”

“Aneh benar, bagian mananyakah yang mengharukan?” tanya si Tengah.

“Baik, coba kalian dengar. Kenangan kakakmu berumur enam belas tahun. Kenangan ayah berumur lebih lama lagi, empat puluh tiga tahun. Semuanya juga masih segar dalam ingatan ayah, ketika Ramadhan demi Ramadhan ayah lalui dalam kehidupan ayah. Padahal waktu 43 tahun adalah jangka waktu yang lama dalam hidup seorang manusia. Kenapa ayah sedih? Pernahkah kita menanyakan kepada diri kita berapa kali Ramadhan lagi yang akan kita lalui? Hanya Allah yang tahu. Yang pasti setiap kali kita menyelesaikan satu bulan Ramadhan jatah kita makin berkurang. Berbeda dengan ketupat yang setiap tahun kita santap di hari raya, yang menjadikan kita dapat mengukir keindahan kenangan idul Fitri itu, tubuh kita selalu berubah sesuai dengan kodrat manusiawi, dan Allah menjadikan perubahan itu sebagai peringatan buat kita. “Demi masa” firman Allah. Kamu tidak mungkin menyangkal bahwa kenangan kamu tadi adalah kenangan dari masa kanak-kanakmu. Waktu itu kamu seorang gadis cilik yang ceria. Dan sekarang kamu adalah seorang dewasa. Sementara ayah telah menyaksikan pula dalam perjalanan hidup ayah macam-macam hal, mulai dari sebelum kalian lahir, masa-masa kalian masih bayi, masa kalian tumbuh sampai sekarang. Suatu saat ini akan berakhir. Jatah kita menjalani Ramadhan akan habis, dan mungkin itu dalam waktu yang tidak akan terlalu lama. Buat ayah mungkin tidak akan sampai 43 tahun lagi, wallahu a’lam. Pernahkah kita memikirkan itu? Pernahkah kita menanyakan seberapa jauh makna Ramadhan yang baru saja kita lalui? Pernahkah kita membayangkan untuk kedepan arti ibadah yang kita lakukan? Pernahkah kita menanyakan ‘Akankah Allah berkenan dengan ibadah puasa kita?’ Pernahkah kita menanya diri kita bahwa yang kita lakukan bukan hanya sekedar mengakhiri latihan mengendalikan diri sebulan penuh lalu setelah itu kita kembali tidak terkendali? Seandainya demikian bukankah kita akan termasuk kelompok yang di cap Allah ‘Sesungguhnya manusia itu dalam keadaan merugi’ karena boleh jadi puasa kita kosong belaka artinya. Karena puasa itu tidak membuahkan ketaqwaan yang dapat kita pelihara sampai lama sesudah berakhirnya Ramadhan. Betapa ayah penuh harap kiranya kita termasuk orang yang berhasil dengan puasa kita. Yang tidak sekedar untuk kita rayakan dengan ketupat lebaran. Betapa ayah berharap kita akan termasuk orang yang dikecualikan oleh Allah, ‘kecuali orang-orang yang beriman dan beramal shaleh’. Dan ayah ingatkan kalian untuk lebih memahami artinya puasa yang baru saja selesai kita laksanakan. Ibadah yang kita ikrarkan semata-mata hanya karena Allah. Mudah-mudahan kalian mengerti bahwa ayah menangis bukan karena cengeng.” Semua diam membisu. Gema takbir terus berkumandang. Allahu Akbar – Allahu Akbar – Allahu Akbar, walilLahil hamd.
******




******


Jatibening, 1 Syawal 1421H

SEMINGGU DI RANAH BAKO (bag.5)

5. Puncak Lawang

Sesuai rencana, tepat jam sembilan pagi Pohan dan Aswin berangkat dari rumah di Koto Gadang. Cuaca mulai cerah. Kabut embun sudah tersapu dan matahari bersinar menghangatkan. Di hadapan terpampang dua sejoli Marapi dan Singgalang, utuh tanpa sedikitpun diselimuti awan. Pemandangan yang bukan main indahnya di mata Aswin. Kedua gunung kebanggaan Ranah Minang itu seolah-olah sepenjangkauan tangan jaraknya di depan mereka.

’Pohan! Bisa kita berhenti sebentar? Aku ingin memotret kedua gunung yang indah ini,’ kata Aswin.

’Tentu. No problem. Kita berhenti di pinggir di depan itu,’ jawab Pohan sambil meminggirkan mobil.


’Masih seringkah gunung Marapi ini menunjukkan aktifitasnya?’ Aswin bertanya, sambil dia membidik kedua gunung itu dengan camera kecilnya. .

’Masih. Kadang-kadang mengeluarkan awan dan debu panas, kadang-kadang sampai terlihat mengeluarkan api,’ jawab Pohan.

’Kalau dia meletus tentu daerah di sekitar sini akan kena debu letusannya,’ Aswin menebak.

’Betul. Daerah Bukit Tinggi dan sekitarnya mengalami hujan abu kalau gunung itu meletus.’

’Sementara gunung Singgalang aman-aman saja bukan?’

’Ya, karena gunung Singgalang bukan gunung berapi. Atau dikatakan juga gunung berapi yang sudah mati.’

’Benar-benar indah kedua gunung ini. Apalagi disaat cuaca cerah seperti ini. OK mari kita teruskan perjalanan,’ kata Aswin.

Mobil mereka kembali melaju menuju Koto Tuo lalu berbelok ke kanan, memasuki jalan ke Matur. Melalui hamparan sawah dengan padi yang masih hijau di kanan dan kiri jalan. Sebahagian sawah itu ada yang masih belum ditanami. Terlihat orang membajak sawah dengan bantuan kerbau. Aswin memotretnya dari mobil yang sedang berjalan.

’Kamu mau kita berhenti lagi untuk memotret orang membajak itu?’ tanya Pohan.

’Tidak usah. Cukup sambil berjalan saja. Takutnya nanti waktu kita habis sebelum sampai di Lawang dan Maninjau,’ jawab Aswin.

Jalan itu tidak terlalu ramai dengan kendaraan. Kadang-kadang saja mereka berpapasan dengan angkutan umum dan sekali-sekali dengan kendaraan pribadi. Setelah beberapa kilometer jalan mulai mendaki dan berbelok-belok, melalui tebing terjal. Banyak pohon kulit manis tumbuh di tebing-tebing itu.

’Apakah ini belokan empat puluh empat?’ tanya Aswin.

’Bukan. Masih jauh. Kelok empat puluh empat itu nanti mulai dari Embun Pagi di luar Matur saat mulai menurun ke arah Maninjau.’

’Begitu. Jadi jalan menurun di punggung bukit yang dibuat berbelok-belok. Apa kita langsung kesana sekarang?’

’Kita akan ke Puncak Lawang dulu. Nanti di Matur kita berbelok ke kanan ke arah Lawang. Sebaliknya, kalau mau ke Maninjau kita mengambil jalan terus.’

’Wah, ini country road. Dengan banyak pohon-pohon kayu di kiri kanan. Mungkin banyak binatang liar di dalam sana,’ celetuk Aswin.

‘Mungkin saja. Hutan semak-semak seperti ini seperti tempat orang berburu babi.’

‘Jadi orang berburu babi tidak masuk ke dalam hutan besar? Hanya di hutan di pinggir jalan seperti ini saja?’

’Kalau berburu tentu mereka masuk ke dalam hutan, bukan hanya dipinggir-pinggir hutan dekat jalan.’

Mobil mereka terus melaju menempuh belokan dan tanjakan sampai akhirnya memasuki kampung Matur. Mereka berbelok ke kanan menuju Lawang. Jalan ke Lawang agak lebih kecil tapi diaspal dengan baik. Makin mendekati puncak Lawang mereka melalui kebun tebu di kiri dan kanan jalan.

’Tanaman apa itu?’ tanya Aswin menunjuk kebun tebu.

’Tebu, bahan untuk membuat gula.’

’OK. Sugar cane. Gula Lawang?’

’Ya gula Lawang. Kok kamu tahu gula Lawang?’

’Karena ini kampung Lawang. Gulanya gula Lawang. Tapi aku jadi ingat nyanyian ayah. Lumpang sagu bergula Lawang. Diberi kelapa muda. Sedang ketuju dibawa orang. Kita jadi putus asa.’

’Wah nyanyian apa itu? Aku belum pernah mendengarnya. Lagu Minang?’ tanya Pohan.

’Ya, lagu Minang. Dan iramanya tidak irama sedih seperti lagu saluang. Aku heran kenapa lagu saluang yang kita dengar tadi malam tidak ada lagu Lumpang sagu bergula Lawang.’

’Lumpang sagu? Aku tidak mengerti apa maksudnya. Kalau iramanya tidak sedih aku kurang yakin itu lagu saluang. Lagu saluang biasanya hanya lagu-lagu melankolik. Mungkin itu lagu Minang moderen, bukan jenis lagu saluang. Kamu tahu iramanya seperti apa?’

’Seperti yang aku nyanyikan. Lumpang sagu, lumpang sagu, bergula lawang. Ditengah-tengah kelapa muda. Ya begitu. Nen nen nen nen nen nen nenenen.... Seperti itu,’ Aswin mencoba menyenandungkannya.

’Benar-benar aku belum pernah mendengar. Biar nanti kita tanyakan etek,’ ujar Pohan.

’Wah, itu apa yang dikerjakan orang dengan kerbau yang ditutup matanya itu? Kenapa kerbau itu berjalan berputar-putar disana? Bisa kita berhenti melihatnya sebentar?’ tanya Aswin.

’Baik, mari kita lihat. Itu mengilang tebu namanya. Memeras air tebu dengan alat giling yang diputar dengan bantuan kerbau. Mata kerbau itu ditutup supaya dia tidak pusing, karena untuk memutar alat penggiling tebu itu, kerbau berjalan berputar-putar dalam lingkaran kecil,’ jawab Pohan.

Seorang laki-laki sedang bekerja menggiling tebu dengan tekun. Batang-batang tebu yang sudah dipotong pendek dimasukkan kedalam dua roda penggiling yang memeras air tebu keluar. Air tebu itu ditampung dengan ember plastik ukuran sedang. Air tebu yang nanti akan dimasak untuk dijadikan gula serbuk yang dikenal sebagai gula Lawang.

Aswin minta izin memotret pemandangan yang baru sekali ini dilihatnya itu. Orang laki-laki itu mempersilahkannya. Mereka berbincang-bincang sebentar dengan bapak itu sebelum meneruskan perjalanan ke puncak Lawang.

Jam sepuluh mereka sampai di Puncak Lawang. Mobil mereka di parkir di pelataran parkir yang luas dan bersih. Beberapa buah bus parawisata dan mobil-mobil pribadi telah pula diparkir disini. Tentu saja disini juga banyak plang pengumuman berisi peringatan dan himbauan disamping ucapan selamat datang. Mereka berjalan menaiki tangga menuju ke hamparan Puncak Lawang. Hamparan atau tanah rata di bagian puncak bukit yang sudah ditata dengan cukup apik. Di bagian pinggir tebing ada pagar pengaman. Di bagian agak kebelakang, dekat tangga ada bangunan mushala terbuka cukup besar lengkap dengan tempat berwudhu dan kamar kecil. Ada beberapa kamar kecil disitu yang terpelihara kebersihannya. Semua bersih dan asri. Di pinggir tebing dekat pagar pengaman terdapat banyak teropong dengan kaki tertanam ke tanah yang dapat digunakan para pelancong secara cuma-cuma.

Pagi ini Puncak Lawang cukup ramai dengan pengunjung. Banyak turis antara bangsa. Mereka menikmati pemandangan lepas ke danau Maninjau yang seolah-olah sepelemparan saja jaraknya. Kelihatannya setiap orang menikmati panorama ini. Tak terkecuali Aswin. Dia sampai melongo saking takjubnya melihat pemandangan ke bawah dimana danau Maninjau terlihat utuh dan sangat jelas. Sayup-sayup di seberang sana terlihat pula lautan, di belakang perbukitan.

Agak ke sebelah utara ada pelataran yang rupanya tempat orang memulai terbang layang. Ada empat orang yang sedang bersiap-siap mau terbang. Satu persatu mereka berlari menuju pinggiran punggungan hamparan dengan alat terbang layangnya, meloncat, lalu mulai terbang. Pastilah mereka sudah sangat ahli. Dan mereka akan mendarat nanti di bawah, di Maninjau. Keempat-empatnya sekarang sudah melayang-layang dan berputar-putar. Hebat sekali mereka itu.

Aswin sibuk memotret kesana kemari.

’Cantik sekali. Benar-benar cantik sekali,’ kata Aswin.

’Kamu tidak ingin difoto dengan latar belakang danau Maninjau?’ tanya Pohan.

’Ya. Mari kita berfoto berdua. Biar kamera kecil ini aku letakkan di atas meja itu,’ ujar Aswin.

’Ada cara yang lebih bagus, yang dikerjakan banyak orang. Kita minta tolong ke polisi wisata itu memotretkan. Biar aku minta tolong padanya,’ kata Pohan.

Mereka berpose di tepi pagar, dipotret oleh polisi wisata berbaju teluk belanga, yang ramah itu.

’Sekarang bergantian. Tolong kamu fotokan aku dengan uda polisi ini. Maukan uda?’ tanya Aswin ke pak polisi itu. Tentu saja pak polisi yang baik itu tidak menolak.

Mereka menikmati pemandangan Puncak Lawang selama satu setengah jam. Jam setengah dua belas Pohan mengajak melanjutkan perjalanan ke Maninjau, sesuai rencana semula. Sebenarnya Aswin masih betah disana. Tapi dia juga sangat ingin melihat kelok empat puluh empat yang terkenal itu.

*****

SEMINGGU DI RANAH BAKO (bag.4)

4. Tiba Di Rumah Bako


Udara Padang Panjang di tengah malam sangat dingin. Kedua anak muda itu merasakan dinginnya udara malam. Untung mereka sudah mengenakan jaket, sekedar menahan hawa dingin. Tetap saja masih terasa dingin. Mereka kembali meneruskan perjalanan. Kali ini menuju kampung Koto Gadang. Untuk beristirahat. Jam dua belas malam mereka sampai di rumah orang tua Pohan. Sebuah rumah kayu tapi bukan rumah bergonjong ataupun rumah bergaya tradisional, melainkan rumah jaman sekarang dengan serambi di luar, ada ruangan tamu, ruang makan, dapur dan kamar-kamar tidur.

Di rumah ini ada etek Rasuna, etek atau adik dari ibunya Pohan, yang memang tinggal di kampung, bersama ibunya atau neneknya Pohan. Ibu Pohan tinggal di Jakarta. Pohan sedang menjajagi kemungkinan untuk membuka usaha di kampung. Rumah ayah Aswin tiga buah rumah ke samping. Rumah itu sebuah rumah adat beratap gonjong. Terkunci, tidak ada yang menempati. Ayah Aswin satu kaum sepersukuan dengan keluarga ibu Pohan, yang kalau dilihat di ranji, pertemuan nenek perempuan mereka bertemu di empat generasi di atas. Namun secara adat Minangkabau, mereka itu sesaudara, sepayung, sekaum, sepenghulu, tidak boleh kawin mengawini dalam satu kaum seperti ini. Maka rumah ini masih rumah bako bagi Aswin. Keluarga ayah Aswin semuanya di rantau yang terpencar di seluruh dunia. Di antara lima buah rumah kaum, hanya rumah ini saja yang ditempati. Yang lainnya kosong.

Etek Rasuna yang membukakan pintu. Meski dia sudah tertidur sebelumnya tapi dia sudah dihubungi Pohan sejak tadi siang bahwa mereka mungkin larut malam baru akan sampai di rumah. Waktu mereka sampai, etek Rasuna menyambutnya dengan gembira, dengan kehangatan persaudaraan yang tidak dibuat-buat. Meski mereka belum pernah bertemu sebelumnya. Etek Rasuna tahu betul posisinya sebagai ’bako’, tahu betul bagaimana menjamu anak pisang. Apa lagi yang datang dari rantau di balik bumi.

Dan etek Rasuna sudah menyiapkan makan malam untuk mereka. Tidak repot-repot, karena nasi toh dari magic jar, dan gulai-gulai cukup dipanaskan sebentar di micro wave. Pokoknya beres semua.

Mereka makan tengah malam sambil berbincang-bincang. Aswin, meski sudah terlihat kecapekan berusaha tetap semangat, menikmati sambutan kekeluargaan yang sangat elok itu. Panjang cerita mereka. Ke barat ke timur. Ke hujung ke puhun. Tidak terasa sudah sampai jam dua.

’Sudah sangat larut, sebaiknya beristirahat sekarang. Bukankah besok akan pergi meraun lagi?’ etek Rasuna mengingatkan.

’Iya. Sudah waktunya kita istirahat. Kamar kita yang di depan itu. Kopermu belum dibawa naik. Mari kita ambil ke mobil,’ Pohan menambahkan.

Aswin setuju. Dia memang sudah kecapekan. Meski menurut waktu LA saat ini baru jam sebelas siang. Tapi perjalanan panjang hari ini sudah lebih dari cukup untuk membuatnya kelelahan.

*****

Jam tubuh Aswin masih awut-awutan. Dia terbangun jam setengah lima. Hanya sesudah tidur sekitar dua jam saja. Karena sayup-sayup terdengar suara orang mengaji yang entah dari mana datangnya. Suara orang mengaji dengan pengeras suara. Di dipan yang satunya Pohan sedang mendengkur, pulas dalam tidurnya. Tentu dia juga kecapekan. Meski berusaha untuk meneruskan tidur tapi matanya sudah tidak bisa dipejamkan lagi.

Setelah beberapa saat berbaring sambil mendengar suara orang mengaji Aswin bangkit, ingin pergi ke kamar kecil. Sekembali dari kamar kecil dia dapati Pohan sudah terbangun dan sedang mengucek-ngucek matanya.

’Kamu nggak tidur?’ tanya Pohan.

’Aku sudah tidak bisa tidur sejak terbangun seperempat jam yang lalu,’ jawab Aswin.

’Apa mau pergi shalat subuh ke mesjid? Sebentar lagi azan subuh,’ Pohan mengusul.

’Mau,’ jawab Aswin pendek.

’Kalau begitu aku pergi berwudhu sebentar.’

Mereka pergi ke mesjid yang tidak jauh dari rumah. Di tengah dinginnya cuaca subuh. Tubuh mereka cukup ditutupi dengan jaket.

Pulang dari shalat, Aswin baru menyadari banyak sekali anjing berkeliaran di kampung ini. Beberapa ekor heboh menyalak. Entah menyalak siapa.

’Kenapa begitu banyak anjing? Anjing siapa itu semua?’ tanya Aswin.

’Anjing orang kampung sini. Ada di antaranya anjing untuk berburu,’ jawab Pohan.

’Oh yaa. Aku ingat. Untuk berburu babi. Kamu pernah pergi berburu babi?’

’Belum pernah. Kenapa? Kamu tertarik untuk pergi?’

’Kemana? Pergi berburu ke bawah ngarai Sianok?’

’Oo bukan. Para pemburu pergi ke hutan-hutan di kaki gunung Singgalang, ke daerah Matur, atau ke kaki gunung Marapi, bahkan ke tempat yang lebih jauh lagi. Mereka pergi dalam rombongan besar. Masing-masing membawa anjing. Ya, anjing-anjing kampung seperti ini,’ Pohan menjelaskan.

’Mungkin menarik juga untuk dicoba. Tapi kita tidak punya anjing. Dimana bisa kita beli?’

’He..he... Anjing tidak boleh diperjualbelikan. Itu binatang haram. Tapi boleh diminta anaknya lalu dipelihara. Dan dilatih untuk jadi anjing pemburu.’

’Wah, hopeless kalau begitu. Kalau begitu kamu cari anak anjing dari sekarang, kamu pelihara. Nanti kalau dia sudah besar dan kalau aku datang berkunjung lagi kita pergi berburu babi.’

Pohan tertawa mendengarnya.

Mereka sudah sampai kembali di rumah. Etek Rasuna sudah bangun dan sudah selesai shalat subuh. Begitu juga nenek Rafiah. Nenek Rafiah terheran-heran mengetahui kedua cucunya baru kembali dari mesjid. Nenek tua yang sudah berumur 83 tahun itu masih sehat. Dan Aswin cukup surprise ketika nenek itu menyapa dan melawan dia berbicara dalam bahasa Inggeris yang fasih.

’Nek, Aswin bisa berbahasa Indonesia. Dari kemarin kami hanya berbahasa Indonesia saja. Kenapa nenek berbahasa Inggeris?’ tanya Pohan.
’Ano ndak pandai babahaso awak, enek ndak pandai babahaso Indonesia,’ kata nenek sambil terkekeh.

Mereka semua tertawa mendengarnya.

’Aswin! Kamu mau minum apa? Apa kamu mau mencoba minum teh telur? Etek mau membuatkan teh telur untuk Pohan,’ etek Rasuna menanyai Aswin.

’Ya...ya.. Saya mau. Atau... boleh tidak kopi telur?’ tanya Aswin.

‘Boleh. Kamu sudah pernah minum kopi telur rupanya. Oh ya saya baru ingat. Kopi telur kesukaan ambo Muncak.’

Mereka sarapan pagi bersama-sama sambil bercerita lagi. Tambah ramai dari tadi malam karena nenek Rafiah tidak mau kalah ikut dalam obrolan itu. Sarapan pagi dengan ketan dan goreng pisang raja.

’Berdaso benar,’ kata Aswin.

Semua yang mendengar tertawa.

’Tahu kamu kata-kata ’berdaso’ segala,’ ucap etek Rasuna.

’Ya tahu.. Itu kata-kata favorit ayah,’ jawab Aswin.

’Kamaa kapai ariko?’ tanya nenek yang memang tidak mau berbahasa Indonesia.

’Ka Maninjau. Enek ka sato pai?’ jawab Pohan dan balik bertanya.

’Antilah. Jatuah enek di sinan biko. Panek kalian mauruih. Bao pulang palai rinuak biko, mak!’ kata nenek.

’Jadih nek,’ jawab Pohan.

’Jam berapa kita berangkat?’ tanya Aswin.

’Bagaimana kalau jam sembilan? Kalau kepagian Puncak Lawang sering berkabut. Kita tidak bisa melihat apa-apa,’ jawab Pohan.

’Aku mengikut saja. Jam sembilan? OK.’

’Ke Puncak Lawang, ke Maninjau terus ke Lubuk Basung ke Tiku?’ tanya etek.

’Kita lihat nanti. Tapi bagusnya tidak usah. Kan kamu belum melihat Bukit Tinggi? Lebih baik kita ke Bukit Tinggi nanti sore,’ usul Pohan.

’Ada yang menarik di Lubuk Basung dan Tiku?’ tanya Aswin.

’Tidak seberapa menarik. Maksud etek kita jalan melingkar sesudah itu ke Lubuk Basung, ke Tiku terus ke Pariaman. Nah disini sebenarnya ada tempat yang menarik di pinggir pantai. Dari sana ke luar ke Sicincin ke jalan yang kita lalui kemarin,’ Pohan menerangkan.

’Mungkin menarik juga,’ Aswin ragu-ragu.

’Jangan khawatir. Ada program itu di hari ke empat nanti. Kita nanti pergi ke Padang melalui jalan itu.’

’Bagus sekali kalau begitu. Ah, biarlah aku sekarang menurut saja. Aku yakin Pohan sudah merencanakan ini sebaik-baiknya,’ ujar Aswin.

’Jangan khawatir. Pokoknya beres,’ jawab Pohan.

Mereka masih melanjutkan obrolan panjang menjelang jam sembilan.


*****

SEMINGGU DI RANAH BAKO (bag.3)

3. Minangkabau Mini Di Padang Panjang

Mereka menuju kendaraan di tempat parkir. Parkir disini bebas, tidak ada petugas pemungut biaya parkir. Parkir berbiaya hanya di pasar di tengah kota, di Bandara, di pelabuhan Teluk Bayur dengan petugas resmi pegawai pemerintah daerah. Rumah makan dilarang memungut biaya parkir, begitu peraturan daerah. Di objek-objek wisata juga dilarang memungut biaya parkir. Pelataran parkir kedai sate mak Syukur luas dan bersih. Banyak kendaraan terparkir di pelataran ini, sebanyak orang yang sedang menikmati makan sate di dalam kedai.

Udara Padang Panjang yang dingin, tidak terasa sejuk di sore hari ini. Mungkin karena Aswin berasal dari negeri yang bermusim lebih dingin atau juga karena perutnya kekenyangan sesudah diisi puluhan tusuk sate.

’Jam berapa acara saluang di Minangkabau Mini?’ tanya Aswin waktu mereka mulai meninggalkan kedai sate mak Syukur.

’Jam delapan. Sesudah waktu shalat isya. Masih cukup lama. Sekarang akan saya tunjukkan langit merah sesudah maghrib di pinggir danau Singkarak yang tidak jauh dari sini. Ini sebenarnya tidak ada dalam program yang saya rencanakan. Tapi sekedar pengisi waktu menunggu jam delapan. Kita akan shalat maghrib nanti sekembali dari sana. Bagaimana, setuju?’ tanya Pohan.

’Tentu. Hari kelihatan masih siang. Berapa jauh danau Singkarak dari sini?’

’Tidak jauh. Ujung utara danau itu tidak jauh dari sini. Tapi jalan di sepanjang pinggir danau cukup jauh sampai mendekati kota Solok, sampai sekitar 40 km jaraknya. Kita cukup ke tempat yang dekat saja. Seringkali terlihat warna awan berubah menjadi merah di atas danau sesudah matahari terbenam.’

Pemandangan sawah di kiri dan kanan jalan di luar kota Padang Panjang sangat menyenangkan Aswin. Sawah yang berjenjang-jenjang bagaikan berlari ke kaki gunung Merapi. Jauh lebih indah dari yang pernah dilihatnya melalui foto-foto. Pada saat azan maghrib mereka sudah sampai di Ombilin, di tepi danau Singkarak. Ada sebuah mesjid besar di sana dan suara azan berasal dari mesjid itu. Pemandangan di sinipun menyenangkan. Kelihatan daratan di seberang danau yang mulai dirayapi temaram, dan danau yang beriak kecil terlihat indah. Benar saja, awan-awan di atas ujung sebelah selatan danau terlihat berwarna merah bergumpal dengan latar belakang langit yang juga kemerah-merahan, menakjubkan.

Mereka ikut shalat maghrib berjamaah di mesjid Ombilin. Ramai yang ikut shalat berjamaah, termasuk jamaah wanita. Sesudah shalat mereka kembali memandang danau yang sudah diselimuti gelap. Bulan yang seharusnya bersinar ditutupi awan. Diseberang terlihat kelip kelip lampu dalam gelap. Mereka menikmati panorama danau Singkarak dalam kegelapan malam itu beberapa saat lagi.

’Apakah danau ini menghasilkan ikan?’ tanya Aswin.

’Ya, ikan bilih. Ikan kecil-kecil yang biasanya diasap atau digoreng. Gurih rasanya.’

’Yang dibuat palai atau apa namanya itu?’

’Bukan. Itu di Maninjau. Rinuak namanya. Ikan sangat kecil. Dibuat palai dan namanya palai rinuak.’

’Kapan kita ke Maninjau?’

’Besok. Besok acara kita ke Puncak Lawang lalu turun ke Maninjau.’

’Meliwati bengkolan empat puluh?’

’Empat puluh empat. Kelok empat puluh empat. Ya kita akan meliwatinya besok.’

’Fantastik. Dan apakah kita juga akan ke Pantai Sikek?’

’Pandai Sikek, bukan pantai. Itu nama sebuah kampung yang penduduknya ahli bertenun kain songket. Ya, kita bisa mampir kesana sekembali dari Maninjau.’

’Masih dengan alat tenun tradisional katanya seperti yang saya baca di website. Pasti sangat menarik. OK. Mungkin sudah waktunya kita pergi menonton saluang. Aku sudah tidak sabar,’ ajak Aswin.

’Baik. Mari kita berangkat.’

Mereka kembali menuju ke arah Padang Panjang. Ke Minangkabau Mini. Melihat rumah-rumah gadang berukir-ukir. Dengan rangkiang berderet di halamannya

Banyak juga pengunjungnya malam hari begini. Pohan memarkir mobil di pelataran parkir yang cukup luas. Ada dua bus parawisata dan beberapa buah mobil kecil terparkir disitu. Keluar dari mobil terasa nuansa Ranah Minang yang lebih kental. Sayup-sayup terdengar bunyi bansi dan talempong, meskipun kelihatannya berasal dari pita kaset yang diputar.

Mereka melangkah ke sebuah lapangan dengan pentas besar. Lapangan itu ditutupi terpal di bagian atas, sekedar menjaga dari kemungkinan hujan yang sering turun di kota ini. Tapi tidak ada dinding sehingga udara dingin langsung terasa. Di bagian belakang pentas ada layar besar. Rupanya disini akan diadakan randai malam hari ini. Di hadapan pentas ada deretan kursi-kursi plastik yang sudah diatur berjejer. Sebahagian besar kursi itu sudah diisi oleh para tamu. Belum terlihat siapapun di atas pentas. Musik bansi dan talempong tadi rupanya berasal dari arena ini.

Jam delapan lebih seperempat acara di pentas itu dimulai. Seorang peniup saluang dan penggesek rebab tampil di atas pentas, memberi hormat kepada penonton dan langsung duduk bersila. Keduanya segera memainkan kedua alat di tangan mereka itu yang mengeluarkan suara yang mendayu-dayu. Rupanya ini adalah lagu pengantar. Tapi tidak ada yang berdendang.

Setelah itu barulah muncul para pemain randai, memainkan randai Nan Tongga Magek Jabang. Aswin mengikuti semua itu dengan mata melotot. Setiap kali pemain-pemain randai itu menepuk celana galembong mereka sesudah aba-aba ’heip tah, heip tah, heip tah..tah..tah..’, Aswin bergidik melihatnya. Dia tidak terlalu memperdulikan rangkaian pantun yang kelihatannya merupakan cerita inti pertunjukan randai tersebut. Tapi gerakan-gerakan pemain randai yang berputar-putar di atas pentas diiringi suara rebab sangat menggelitik hatinya.

Tidak terasa mereka telah menonton randai hampir satu jam. Pohan berbisik bertanya.

’Masih mau menonton orang bersaluang dan berdendang?’

’Ya, tentu. Apa kita pindah sekarang?’ jawab Aswin juga berbisik.

’Kamu kelihatan masih asyik menikmatinya. Apa mau menonton ini sampai selesai?’

’Ini bagus. Tapi baiklah, kita pindah sekarang. Jauh tempatnya?’ tanya Aswin lagi sambil bangkit berdiri.

’Tidak. Masih di arena ini juga. Di sebelah kanan dari tempat kita parkir tadi,’ jawab Pohan yang mengikuti Aswin berdiri.

Kedua anak muda itu berjalan meninggalkan arena pentas randai menuju sebuah bangunan agak jauh ke sebelah kanan dari pelataran parkir. Sebuah aula dengan tempat duduk dari bambu di dalamnya mengelilingi sebuah pentas dari bambu juga yang agak lebih luas di salah satu pojok. Cukup ramai penonton yang duduk disini, bersila, bukan duduk di kursi, sambil menyimak lagu demi lagu saluang yang dibawakan. Sambil terakuk-akuk pula, dalam kelumunan kain sarung, kedinginan. Umumnya para penikmat lagu saluang malam ini adalah para laki-laki meski ada juga satu dua orang wanita. Aswin dan Pohan mengambil tempat mendekati pentas yang kata Pohan palanta namanya. Mereka ikut duduk bersila disana.

Ada lima orang yang duduk sebagai penyaji acara di atas palanta bambu itu. Seorang peniup saluang, seorang penggesek rebab dan tiga orang tukang dendang, dua orang wanita dan satu orang laki-laki. Baik yang laki-laki maupun yang wanita berpakaian adat. Yang laki-laki mengenakan pakaian warna hitam, memakai deta dan kain sarung sementara yang wanita memakai baju kurung Minang, yang satu berwarna hijau yang satunya berwarna merah. Keduanya memakai tengkuluk tanduk.

Bunyi saluang dan rebab mendayu-dayu, mengikuti irama lagu tukang dendang ke setiap cengkok suara sedemikian rupa. Suara dendang, yang sayangnya, semua lirih dan bagaikan meratap sedih. Suara yang menghimbau dengan nada tinggi, dan jauh, merintih panjang lalu dikuti dengan lekukan irama yang berliku. Dan lagu-lagu ataupun suara bunyi alat musik itu tidak disambungkan ke pengeras suara, tetapi dengan suara dan nada aslinya saja.

Aswin mengamati dan menyimak dengan sangat penuh perhatian. Matanya memelototi tukang saluang, yang memang ternyata tidak henti-hentinya meniup. Entah bagaimana caranya dia bernafas. Tidak sekalipun saluang itu lepas dari mulutnya yang senantiasa dalam posisi meniup dan suara saluangpun tidak pernah putus. Setelah sebuah lagu didengarkan agak beberapa saat, salah satu orang turun mendekati palanta tukang nyanyi sambil berteriak;

’Matian Sutan, tukai jo Lintau Basiang. Iko pitih,’ katanya sambil menyerahkan selembar uang kertas lima ribu rupiah.

Aswin tidak mengerti apa maksudnya. Dia lihat penyanyi atau tukang dendang itu menghentikan pantunnya serta merta. Tapi tidak tukang saluang dan tukang rebab. Suara kedua alat itu berganti irama sekarang, seolah-olah otomatis. Tetap tanpa saluang turun dari mulut tukang tiupnya. Dan tukang dendang kembali menarik suara, panjang, lirih, tapi dengan nada yang sudah bertukar.

’Apa maksudnya yang dikerjakan orang tadi?’ tanya Aswin berbisik.

’Dia minta agar lagunya ditukar sebelum lagu tersebut tuntas. Namanya dia ’matikan’ dan dia membayar untuk mematikan lagu tadi,’ Pohan menerangkan.

’Kalau orang lain ingin mematikan pula? Apakah boleh?’

’Boleh. Dan itu seninya disini. Saling mati mematikan. Sambil bergurau. Yang senang tukang dendang dan tukang saluang. Uang itu untuk mereka,’ jawab Pohan.

’Tetapi apakah itu tidak melanggar kesopanan? Tidak menyebabkan orang yang memesan lagu pertama marah dan tersinggung?’

’Tidak. Namanya juga bergurau. Kalau dia tidak terima dia balik mematikan dan minta lagunya mula-mula diteruskan lagi. Dan dia harus bayar pula, sebanyak yang sama.’

’Tidak mesti membayar atau memberikan uang lebih?’

’Dilarang. Atau disepakati untuk tidak boleh agar jangan jadi arena menang-menangan. Menghidupkan dan mematikan lagu dengan bayaran yang sama. Pada waktu masih senja lima ribu rupiah. Kalau sudah agak malam, biasanya disampaikan oleh tukang dendang kapan waktunya, dinaikkan menjadi sepuluh ribu rupiah ,’ Pohan kembali menjelaskan.

’Irama lagunya cenderung membuat perasaan sedih. Tidak adakah irama gembira?’

’Hampir tidak ada. Paling agak lebih cepat sehingga kesannya kurang sedih. Tapi memang umumnya lagu-lagu saluang ini lagu sedih.’

Mereka menonton sampai agak larut. Atas petunjuk Pohan, Aswin ikutan mematikan sebuah lagu, dan meminta diganti dengan ’Marandang Kopi’. Mana pula dia tahu apa artinya. Di telinga Aswin tetap saja nada itu nada sedih. Selama hampir dua jam mereka menonton, benar saja, tidak sekalipun saluang itu lepas dari mulut tukang saluang. Aswin terkagum-kagum. Seandainya saluang itu diletakkan agak sebentar, ingin rasanya dia melihat, alat musik tiup seperti apa sesungguhnya saluang yang mampu mengeluarkan nada sengau mendayu-dayu itu. Sudah hampir setengah dua belas malam waktu Pohan mengingatkan agar sebaiknya menonton saluang jo rabab cukup sampai disitu. Aswin terpaksa setuju.

*****

Wednesday, February 20, 2008

SEMINGGU DI RANAH BAKO (bag.2)

2. Lembah Anai.


Hari baru jam tiga lebih sedikit. Cuaca cerah. Pohan mengendarai mobil pelan-pelan mengikuti antrian taksi di depannya yang tertahan di tempat pembayaran parkir. Aswin memperhatikan mobil-mobil taksi berwarna warni berjejer. Ada plang pengumuman berulang-ulang di sebelah kiri dan kanan menuju ke loket parkir dengan tulisan ’Cermat, amanah dan berhati-hati di jalan!’

Sesudah loket pembayaran itu sebelum masuk ke jalan besar ada baliho besar potret seorang laki-laki baya berpakaian penghulu, tersenyum. Ada rangkaian kalimat pula seolah-olah ucapannya, dalam bahasa Minang; ’Pacik arek amanah! Tunjuak-an adaik istiadaik awak nan elok. Horomaik-i tamu! Sanang ati urang nan datang, bamanfaaik ka nagari awak. Jaan di khianati urang nan datang! Badoso awak ka Tuhan Allah!’

’Apa maksudnya tulisan di baliho itu? Kenapa dalam Bahasa Minang?’ tanya Aswin.

’Itu nasihat kepada anak nagari. Agar bersikap amanah. Agar menunjukkan adat yang baik dan menghormati tamu-tamu yang datang. Diingatkan bahwa orang yang datang berkunjung kesini pasti membawa manfaat bagi perekonomian anak negeri. Oleh karenanya jangan dikhiananti karena khianat itu perbuatan dosa. Peringatan ini ditujukan terutamanya kepada mereka yang bersentuhan langsung dengan para turis seperti sopir taksi, petugas bandara, karyawan hotel, para pedagang dan sebagainya. Agar mereka menjaga betul citra Minangkabau yang elok. Agar mereka mampu bersikap ramah dan sopan santun,’ jawab Pohan.

’Cukup bijak. Tapi seberapa ampuh?’ tanya Aswin pula.

’Kampanye seperti ini dipimpin langsung oleh gubernur negeri ini. Beliau meminta para ulama dan guru-guru sekolah untuk mendidik masyarakat memperbaiki akhlak. Menghormati tamu dan menunjukkan budi pekerti yang baik kepada setiap pendatang. Dan beliau membuat banyak sekali peringatan-peringatan senada. Nanti kamu akan melihat dan menyaksikan plang-plang yang lain di mana-mana. Di tengah pasar, di bawah jam gadang, di lembah Anai, di objek-objek wisata lainnya. Seberapa ampuh? Mudah-mudahan sudah banyak perubahan. Masyarakat jadi lebih santun. Walaupun masih pelan-pelan dan dalam tahap perubahan,’ jawab Pohan.

’Itu satu lagi,’ kata Aswin menunjuk baliho dengan potret seorang penghulu yang lain di pinggir jalan raya. Terbaca, ’Jaan mangicuah! Satiok sen asia kicuah maundang hukuman Allah. Di dunia jo di akhiraik. Nan barasiah nan ka diagiah-an ka anak binyi!’

’Apa pula artinya itu?’ tanya Aswin lagi.

’Jangan menipu! Setiap sen hasil menipu akan mengundang hukuman Allah baik di dunia maupun di akhirat. Berikan hanya yang halal saja kepada anak istri. Stiker kecil dengan kata-kata yang sama akan kamu lihat di depan pengemudi dalam setiap taksi,’ jelas Pohan.

’Ya. Memang benar. Perlu senantiasa diingatkan. Dengan demikian mudah-mudahan orang jadi ingat,’ komentar Aswin.

Mobil mereka melaju dengan santai menuju arah ke Bukit Tinggi. Melalui, Lubuak Alung, Sicincin, Kayu Tanam. Di Sicincin mereka berpapasan dengan keretapi wisata. Terlihat penuh dengan wisatawan di dalamnya.

’Kereta ini bisa sampai ke pinggir danau Maninjau?’ tanya Aswin.

’Bukan danau Maninjau. Ke pinggir danau Singkarak. Yang lebih banyak sampai ke Padang Panjang saja. Para turis umumnya menyenangi perjalanan di atas lembah Anai. Pemandangannya bagus,’ jawab Pohan.

’Tapi bisa sampai ke Bukit Tinggi?’ tanya Aswin lagi.

’Bisa. Bukit Tinggi pusat kereta wisata kedua. Bahkan bisa sampai ke Paya Kumbuh dan ke Lembah Harau.’

’Setiap hari dijalankan?’

’Hampir setiap hari. Pada saat-saat liburan panjang di bulan Juli dan Agustus bahkan lebih banyak lagi perjalanan kereta wisata itu.’

Tak terasa mereka sudah mendekati Anai. Aswin menatap pemandangan sepanjang jalan itu dengan decak kagum. Di dekat Air Mancur, Pohan menghentikan mobilnya. Mereka turun dari mobil dan berjalan ke arah air terjun melalui deretan kedai suvenir. Ramai juga pengunjung sore itu. Ada beberapa buah bis parawisata terparkir di pinggir jalan. Di tempat air terjun sendiri banyak orang turun ke pinggir kolam. Aswin tidak terlalu menikmati air terjun itu tapi lebih mengagumi lembah dengan batang air di bawah sana. Di atas terlihat jembatan jalan keretapi. Pemandangan ini jauh lebih mengagumkan baginya. Aswin mengambil foto pemandangan itu.

Mereka berhenti sekitar setengah jam di lembah Anai sebelum meneruskan perjalanan. Aswin melihat plang pengumuman yang lain disini. Diantaranya ajakan menghormati tamu dalam bahasa Minang dan ajakan menjaga kebersihan lingkungan. Memang cukup bersih disini. Setiap dua puluh meter terdapat tong sampah plastik bertutup. Tidak ada sampah berceceran. Ada dua orang berpakaian baju teluk belanga berjalan santai sambil mengawasi orang yang lalu lalang di sekitar tempat itu. Orang itu tersenyum ramah ketika Aswin memotretnya. Menurut Pohan mereka adalah polisi wisata, yang mengawasi ketertiban di tempat objek wisata. Orang yang ramah, yang tidak segan-segan mengambilkan sampah yang tercecer, menolong orang yang memerlukan bantuan, biasanya orang yang mintak tolong dipotretkan.

Mereka meneruskan perjalanan.

’Kata ayah rel yang di lembah Anai ini masih peninggalan Belanda. Apakah masih aman?’ tanya Aswin melanjutkan perbincangan.

’Secara berkala diperiksa tingkat keamanannya. Mudah-mudahan tetap aman.’

’By the way, sudah berapa lama keretapi wisata itu dijalankan? Karena menurut ayah keretapi di negeri Minangkabau ini sudah mati sejak pertambangan batubara di Sawahlunto tidak lagi ekonomis.’

’Baru sejak awal tahun 2007 yang lalu. Digagas oleh orang rantau pencinta kereta api waktu itu.’

’Oh begitu? Jadi perantau Minang yang membiayai untuk menghidupkan kembali perkeretapian ini?’

’Bukan membiayai. Tapi memprakarsai. Kata-kata ini mungkin sulit bagimu. Yang menggagas atau mengingatkan serta mengkampanyekan ide untuk menghidupkan kembali perkeretapian.’

’Mereka gagas dari rantau saja?’

’Tidak. Bahkan mereka turun dan datang kesini, bertemu dengan penjabat di kota Padang. Memberikan saran, dukungan dan sebagainya sampai akhirnya pemerintah daerah yakin dengan apa yang mereka anjurkan dan sependapat untuk menjalankan kereta wisata itu. Yang alhamdulillah berhasil.’

’Aku sangat salut dengan keperdulian perantau Minangkabau dengan tanah leluhur mereka,’ celetuk Aswin.

’Ya. Termasuk ayahmu. Mak Dang Pamuncak,’ jawab Pohan.

’Oh ya. Aku baru ingat gelar ayah Sutan Pamuncak. Gelarmu siapa?’ tanya Aswin pula.

’He..he.. aku belum bergelar. Gelar diberikan ketika laki-laki Minang sudah menikah, dan aku belum menikah.’

’Oh ya. Aku ingat cerita ayah tentang itu.’

’Kita segera memasuki Padang Panjang. Ada dua objek disini dalam program untukmu. Mengunjungi Minangkabau Mini. Hanya saja, kunjungan kesana lebih bermakna kalau dilakukan sampai malam hari. Malam hari ada pertunjukan randai serta kesenian saluang jo rabab. Apakah kamu akan langsung mengunjunginya malam ini?’

’Kenapa tidak? Tapi apa program kedua?’

’Mampir di sate mak Syukur.’

’Waaw. Kalau begitu kedua-duanya. Tepat sekali, kita makan sate mak Syukur dulu dan setelah itu kita jalan-jalan menikmati Minangkabau Mini sampai pertunjukan salung jo rebab itu. Randai aku hanya sekedar ingin menonton sebentar saja karena tidak yakin aku akan mengerti.’

’Kalau saluang apakah kamu akan mengerti?’

’Aku ingin melihat seperti apa saluang yang katanya hanya bambu bolong begitu saja dan peniupnya bisa memainkannya tanpa berhenti dalam waktu lama. Itu pasti akan sangat mengagumkan.’

’Baik kalau begitu, di depan kita kedai sate mak Syukur. Mudah-mudahan kamu akan menyukainya,’ ujar Pohan sebelum membelokkan mobilnya ke pelataran parkir.

’Aku akan menyukainya. Aku sudah membayangkannya sejak masih di LA sana. Waaw.... at last. Mak Syukur…… here I come....’ Aswin gembira sekali.

‘Tapi aku akan shalat dulu sebentar. Silahkan kamu memulainya,’ ujar Pohan pada saat mereka melangkah masuk ke kedai sate.

‘Aku juga mau shalat kalau begitu,’ Aswin menimpali.

‘Wah syukurlah kamu juga shalat. Tapi di pesawat selama dalam perjalanan….. apakah kamu juga tetap dapat mengerjakan shalat?’ tanyanya pula.

‘Tentu saja. It is a must. Apakah kamu membayangkan aku seorang Amerika kafir?’ tanya Aswin sedikit cemberut.

Pohan tersenyum mendengar pernyataan terakhir ini. Mak Dang Pamuncak rupanya tetap mendidik anaknya ini sebagai seorang Muslim. Yang baik.

Selesai shalat baru mereka menikmati hidangan sate. Ternyata Aswin benar-benar excited. Dia berpacu-pacu menghabiskan tusukan demi tusukan sate itu.

’Tapi.... apakah setiap orang Minang makan sate sebanyak ini?’ tanya Aswin sambil melahap sate yang ke sekian tusuk.

’Tidak. Sate ini dihidangkan sebanyak itu, kalau sanggup silahkan makan sampai habis, tapi kalau tidak sanggup memakan semuanya, yang akan dibayar hanya sebanyak yang dimakan saja,’ Pohan menjelaskan.

’Ooh begitu. Tapi sepertinya aku sanggup. Ini benar-benar enak. Kamu mungkin sudah bosan ya makan sate. Kelihatannya kurang semangat.’

’Ya silahkan..... Aku bukan juga bosan. Tenang saja. Kan kita bisa makan sambil santai-santai,’ jawab Pohan sambil tersenyum.

Sudah hampir jam enam waktu mereka selesai makan sate. Selama itu pula mereka bercerita tentang macam-macam. Tentang rantau Aswin dan ayahnya di Amrik sana. Tentang kampung mereka Koto Gadang. Tentang Negeri Minangkabau tanah nan dicinto.

Kebersihan di kedai sate ini tidak luput dari perhatian Aswin. Dan plang-plang peringatan lagi. Seperti yang dari tadi sudah dibacanya di sepanjang jalan sejak dari Bandara. Meski semua peringatan itu terlihat nyinyir agaknya, tapi mungkin memang harus demikian untuk membuat masyarakat sadar. Sebuah usaha yang positif.


*****