4. Ketinggalan Shalat Maghrib
Pulang dari shalat ashar hari Jumat itu sudah lebih jam empat sore. Kami berlima berbincang-bincang di kamar di pemondokan. Sekalian mensihati anak-anak. Bahwa pada saat melaksanakan ibadah haji ini anjuran utamanya adalah menghindarkan ‘rafats’ , ‘jidal’ dan ‘fusuq’ serta mengikhlaskan waktu untuk beribadah semata-mata karena Allah. Jangan terlalu banyak omong yang tidak perlu karena salah-salah bisa terbelok ke hal-hal yang tidak sopan, yang porno (rafats) atau terbelok kepada pertengkaran (jidal) atau bahkan terbawa menjadi pendurhaka baik kepada orang tua maupun kepada Allah (fusuq). Waktu ngobrol-ngobrol itu saya menanyakan adakah yang ingat jam berapa waktu maghrib sore itu, yang dijawab anak saya jam setengah tujuh. Perasaan saya menerima jadwal itu mengingat tadi ashar jam empat kurang dua puluh menit. Dan kebetulan dari kamar kami di tingkat sembilan tidak terdengar suara azan.
Kami berangkat ke mesjid jam enam lebih sepuluh. Di lobby hotel saya bertemu ketua rombongan dari pelaksana haji dan kami melangkah bersama-sama ke mesjid. Di jalan dia katakan bahwa kayaknya kita terlambat, deh. Dan ternyata....masya Allah.... waktu kami baru sampai di batas lapangan/pekarangan mesjid imam sudah mengucapkan salam tanda shalat sudah selesai. Saya merasa sedih, tapi apa yang mau dikatakan? Akhirnya kami shalat berjamaah di pekarangan mesjid itu yang diikuti juga oleh beberapa jamaah lain. Ternyata waktu maghrib itu jam enam kurang.
Sehabis shalat maghrib di pekarangan itu saya meneruskan masuk ke mesjid menunggu waktu shalat isya sambil membaca Quran. Saya mengambil tempat di belakang pembatas saja. Waktu isya jam setengah delapan. Pada saat mata saya sudah agak lelah membaca saya coba memperhatikan jamaah yang banyak ini. Benar, yang dominan adalah orang-orang Afrika. Berbagai macam cara mereka berpakaian, cara memakai penutup kepala. Berbeda-beda pula cara mereka melakukan gerakan-gerakan shalat. Namun saya melihat suatu keseragaman. Semua menghadap kiblat, semua takbir, semua shalat. Wajah-wajah mereka semua adalah wajah-wajah tunduk dan patuh. Saya tidak melihat yang berwajah sombong. Tidak saya lihat yang bersikap petantang-petenteng. Tidak ada yang misalnya mencoba cari gara-gara. Pada waktu seseorang minta tempat untuk duduk, meskipun sebenarnya tempat itu sudah cukup sempit tidak pernah saya lihat ada yang protes, yang menyuruh cari tempat lain saja. Semua tunduk, semua patuh, semua berusaha menahan diri. Benarkah semua? Wallahu a’lam, tapi itu yang saya lihat.
Sesudah azan isya dikumandangkan, semua bersiap-siap berdiri untuk shalat sunat sambil menyusun barisan. Waktu shalat isya dimulai, semua berbaris rapi dalam shaf yang berdesak-desak, yang bahu dengan bahu saling berhimpitan. Semua mengikuti imam. Meski tetap ada tentu saja yang sedikit berbeda, antara yang bersedekap dengan yang tidak bersedekap tapi tidak satupun yang menyangkal atau melawan komando imam. Atau yang menandingi suara dan bacaan imam. Kita tidak melihat lagi perbedaan antara Sunny dan Syiah. Bahkan kita jadi tidak tahu siapa yang Sunny siapa yang Syiah. Meski kita bisa mengenali jemaah dari Iran dengan jubah dan sorban hitamnya yang khas. Semua adalah sebuah jemaah yang satu belaka. Subhanallah. Masya Allah, seandainya umat yang banyak ini bisa berada dibawah satu komando seperti ini dalam kehidupan sehari-hari. Betapa akan luar biasa kuatnya umat ini.
Shalat isya itu saya mengenali suara imam Huzaifi dengan suara beratnya yang khas yang saya memiliki kaset tilawahnya. Bacaan dengan iramanya yang saya coba meniru tapi tidak pernah bisa pas. Ya Allah, betapa syahdunya shalat dibelakang imam yang bacaannya sangat tartil itu.
Selalu ada shalat jenazah setiap selesai shalat fardhu. Begitu bilal memberi tahukan ‘ashshalaatu ‘alal amwaatu yarhamukumullaah’ semua kembali berdiri. Bershaf-shaf, tertib, menunggu komando imam. Dan kamipun shalat jenazah. Saya selalu ingat ketika saya dulu di tahun sembilan puluh diingatkan oleh seorang jamaah bahwa shalat jenazah hanya satu salam. Begitu imam membaca satu kali salam maka muazin yang menyambung bacaan imam ikut mengucapkan salam. Satu kali.
Sesudah shalat isya saya bergegas pulang ke pondokan. Masih belum berusaha untuk masuk ke Raudhah. Biarlah nanti-nanti saja. Saya rasa mungkin akan lebih mudah pada waktu dhuha dan saya merencanakan untuk melakukannya besok pagi saja.
Di luar mesjid terlihat pemandangan yang sama dengan tadi siang sesudah shalat Jumat. Ribuan jemaah, bahkan mungkin puluh ribuan jamaah atau bahkan lebih banyak lagi, keluar dari mesjid berombongan-rombongan kecil. Dari segala bangsa. Dengan segala macam atribut. Dulu, ditahun sembilan puluh, saya pernah merasa aneh dan kurang suka melihat jemaah dari Kabupaten Langkat misalnya memakai kaus dengan logo kabupaten di punggungnya. Saya merasa itu mengganggu saja, memaksa orang harus membacanya. Tapi agaknya pendapat itu perlu dikoreksi. Sekarang yang memakai kaos bertulisan di punggung, atau di mukena tidak hanya jamaah dari Indonesia tapi dari bermacam-macam negeri seperti Kosovo, Bosnia, India bahkan Turki dan lain-lainnya. Tujuannya agar mudah dikenali pada saat terpisah dari jamaah lain dan tidak tahu jalan pulang ke pondokan.
Malam itu ada taklim di pondokan. Ustad-ustad pembimbing termasuk yang dari rombongan besar, yang baru datang tadi pagi (padahal mereka berangkat duluan dari kami) menyampaikan ceramah yang berkaitan dengan ibadah haji. Sesudah itu kami masuk kamar untuk beristirahat. Saya menambah tadarusan al Quran sebelum tidur.
*****
Thursday, March 13, 2008
Sunday, March 9, 2008
Oleh-oleh Dari Perjalanan Haji 1424H (3)
3. Jumat Di Mesjid Nabawi
Subuh pertama di hari Jumat kami bertiga pergi ke mesjid. Si Tengah sedang berhalangan bulanan, dan si Bungsu diminta menemaninya. Saya lebih berserah diri kepada Allah. Meski saya tidak percaya dengan cerita si ibu di lift tadi malam tapi tentu bukan alasan untuk berlaku sombong dan takabur. Sekali lagi saya serahkan segala urusan ini kepada Allah dan saya mohon perlindungan dan pertolonganNya.
Kami berpisah di dekat gerbang menuju tempat wanita. Istri saya dan si Sulung berbaur dengan jamaah wanita lain menuju mesjid. Saya berputar ke kanan menuju pintu masuk dari bagian belakang mesjid. Di dalam mesjid saya dapati bahwa saya tidak bisa masuk ke bagian paling depan karena ada pembatas di bagian belakangnya. Di balik pembatas terlihat bahwa bagian depan memang sudah penuh oleh jamaah. Saya mengambil tempat yang masih lapang dan mulai shalat. Tahiyatul masjid, dilanjutkan dengan shalat malam 4 kali 2 rakaat dan saya tutup dengan witir. Masih jam lima kurang waktu saya selesai dengan rangkaian shalat itu. Saya ambil al Quran dan saya mulai tadarus menjelang waktu subuh.
Jam setengah enam lebih berkumandang azan subuh. Semua orang yang memegang mushaf berhenti dari membaca al Quran dan mengembalikan mushaf ke raknya. Sayapun melakukan hal yang sama. Sesudah azan semua berdiri untuk shalat sunah fajar dua rakaat. Masih beberapa menit lagi sebelum shalat subuh dimulai. Saya berharap imam akan membaca surah Alif Laam Miim Tanzil (sajadah) pada shalat subuh di hari Jumat itu. Tapi ternyata tidak. Saya tidak hafal surah apa yang dibaca imam. Namun bacaan itu membuat mata saya berkaca-kaca. Syahdu dan khusyuk sekali rasanya. Shalat di mesjid yang oleh nabi dikatakan lebih utama 1000 kali dibandingkan dengan shalat di mesjid lain kecuali di Masjidil Haram dan Masjidil Aqsa.
Selesai shalat dan zikir saya keluar mencari jalan masuk ke bagian depan mesjid. Saya melalui pintu assalaam (babussalaam) dan melangkah menuju makam Rasulullah SAW, untuk berziarah. Jamaah berdesak-desak ramai sekali. Saya berjalan terus beringsut-ingsut meliwati mimbar dan terus bergerak karena saya tidak berniat mampir ke Raudhah pagi ini. Di Raudhah jamaah berdesak-desak lebih ramai lagi. Makin mendekati makam Rasulullah SAW, barisan jamaah terbagi dua. Ada yang berusaha mendekat ke dinding makam, lalu diusir oleh asykar dan ada yang berlalu saja agak jauh dari dinding. Saya mengikuti yang kedua ini. Di depan makam Rasulullah SAW saya ucapkan salam kepada beliau, assalamu’alaika ya Rasulullah, assalamu’alaika ya habiballah, ya khatamunnabiyyiin, ya saidul mursaliin. Dengan air mata bercucuran deras. Saya sampaikan salam dari kerabat yang menitipkan salam kepada beliau. Tetap beringsut maju, meliwati makam Abu Bakar dan Umar. Saya ucapkan salam kepada beliau berdua ini. Akhirnya saya sampai di pintu dan keluar dari mesjid.
Saya kembali ke pemondokan. Untuk sarapan dan melanjutkan tadarus yang sudah saya awali tadi di mesjid.
Jam sepuluh saya bersiap-siap untuk pergi kembali ke mesjid untuk shalat Jumat. Seandainya memungkinkan saya berniat masuk ke Raudhah. Saya langsung menuju babussalaam untuk masuk mesjid. Ternyata suasananya sudah berdesak-desak. Tapi saya tetap berusaha maju. Jamaah sudah memenuhi bagian depan mesjid, namun jamaah lain masih tetap berusaha masuk. Mendekati daerah Raudhah, masih di jalan yang dipadati jamaah yang masih berusaha masuk, ada beberapa tempat dimana jamaah membuat sambungan shaf baru, yang tentu saja mempersempit jalan. Saya ragu-ragu untuk ikut duduk. Seorang jamaah dari India memberi isyarat kepada saya untuk duduk dan sayapun duduk. Orang masih tetap berusaha bergerak masuk melangkahi punggung dan kadang-kadang memegang kepala saya. Saya ikhlas seikhlas-ikhlasnya. Saya berusaha untuk tenang setenang-tenangnya. Saya ingat bahwa saya belum shalat tahiyatul masjid dan saya berdiri untuk shalat dua rakaat. Selama shalat itu jamaah lalu di depan saya dan saya tidak mau menghalanginya. Biar sajalah. Dorongan jamaah masuk itu akhirnya berkurang juga. Mungkin pintu assalaam sudah di blokir oleh asykar. Suasana jadi lebih tenang.
Melihat jamaah dari segala bangsa sebanyak itu duduk tertib dengan sabar menunggu waktu shalat membuat mata saya berlinang pula. Ya Allah persatukanlah hati hamba-hambaMu ini, ya Allah berilah kekuatan kepada hamba-hambaMu ini untuk menegakkan kalimatMu, bisik saya dalam hati. Segala bangsa. Yang dominan di mesjid nabawi pada waktu itu adalah orang-orang Afrika. Tentu dari berbagai-bagai negara di Afrika. Namun banyak pula jamaah dari Asia Selatan (India, Pakistan, Bangladesh, Srilangka) dan Turki. Justru yang dari Asia Tenggara dekat saya duduk itu tidak banyak. Seorang jamaah yang di punggung bajunya tertulis Bosnia shalat sunat tidak berhenti-henti sampai khatib naik mimbar.
Waktu shalat akhirnya masuk. Ditandai dengan azan meski khatib belum naik mimbar. Setelah itu orang-orang shalat sunat dua rakaat. Saya yang biasanya tidak melakukan shalat sunah qabliyah Jumat meski shalat di mesjid yang azan Jumatnya dua kali, kali ini berdiri shalat. Biarlah ikut shalat sunat mutlaq saja di mesjid yang mulia ini. Setelah itu barulah khatib naik mimbar yang diiringi dengan azan. Dan khotbah. Samar-samar saya tangkap isi khutbah itu mengenai pelaksanaan haji. Pada khotbah kedua khatib berdoa bagi keselamatan segenap umat Islam di segala pelosok dunia. Lebih khusus bagi keselamatan umat Islam yang di Palestina dan di Irak.
Sesudah khutbah kami menunggu imam pindah dari mimbar ke mihrab. Imam itu melangkah di depan saya. Dan kamipun shalat. Syahdu dan khusyuk sekali rasanya. Sesudah shalat sunat ba’diyah saya duduk sebentar menunggu kalau-kalau Raudhah tidak berdesak-desak. Tapi ternyata orang justru semakin ramai. Saya putuskan untuk tidak masuk kesana siang ini dan saya melangkah keluar melalui makam Rasulullah SAW. Saya ulang-ulang mengucapkan salam kepada Rasulullah SAW, Abu Bakar dan Umar sebelum keluar dari mesjid. Diluar tumpah-ruahan jamaah bukan main banyaknya. Dari segala bangsa tadi. Yang menarik perhatian saya adalah mukena jamaah wanita yang berwarna-warna dengan logo dibagian belakang kepala. Jamaah wanita dari India yang dulu tahun sembilan puluh banyak yang menutup aurat ‘asal-asalan’ sekarang jarang saya lihat yang seperti itu. Ada yang pakai mukena berwarna hitam, ada yang ungu. Seragam-seragam dalam jumlah jamaah yang lumayan banyak.
Dan terlihat pula jamaah laki-laki dari Kosovo, memakai rompi bertuliskan Bakhlesia Islame Kosoves dan Hajj Kosovo di bagian punggungnya. Jumlahnya cukup banyak karena mereka terlihat di mana-mana dengan rompi yang sama.
Dan sayapun melangkah di tengah lautan manusia menuju ke pemondokan.
*****
Subuh pertama di hari Jumat kami bertiga pergi ke mesjid. Si Tengah sedang berhalangan bulanan, dan si Bungsu diminta menemaninya. Saya lebih berserah diri kepada Allah. Meski saya tidak percaya dengan cerita si ibu di lift tadi malam tapi tentu bukan alasan untuk berlaku sombong dan takabur. Sekali lagi saya serahkan segala urusan ini kepada Allah dan saya mohon perlindungan dan pertolonganNya.
Kami berpisah di dekat gerbang menuju tempat wanita. Istri saya dan si Sulung berbaur dengan jamaah wanita lain menuju mesjid. Saya berputar ke kanan menuju pintu masuk dari bagian belakang mesjid. Di dalam mesjid saya dapati bahwa saya tidak bisa masuk ke bagian paling depan karena ada pembatas di bagian belakangnya. Di balik pembatas terlihat bahwa bagian depan memang sudah penuh oleh jamaah. Saya mengambil tempat yang masih lapang dan mulai shalat. Tahiyatul masjid, dilanjutkan dengan shalat malam 4 kali 2 rakaat dan saya tutup dengan witir. Masih jam lima kurang waktu saya selesai dengan rangkaian shalat itu. Saya ambil al Quran dan saya mulai tadarus menjelang waktu subuh.
Jam setengah enam lebih berkumandang azan subuh. Semua orang yang memegang mushaf berhenti dari membaca al Quran dan mengembalikan mushaf ke raknya. Sayapun melakukan hal yang sama. Sesudah azan semua berdiri untuk shalat sunah fajar dua rakaat. Masih beberapa menit lagi sebelum shalat subuh dimulai. Saya berharap imam akan membaca surah Alif Laam Miim Tanzil (sajadah) pada shalat subuh di hari Jumat itu. Tapi ternyata tidak. Saya tidak hafal surah apa yang dibaca imam. Namun bacaan itu membuat mata saya berkaca-kaca. Syahdu dan khusyuk sekali rasanya. Shalat di mesjid yang oleh nabi dikatakan lebih utama 1000 kali dibandingkan dengan shalat di mesjid lain kecuali di Masjidil Haram dan Masjidil Aqsa.
Selesai shalat dan zikir saya keluar mencari jalan masuk ke bagian depan mesjid. Saya melalui pintu assalaam (babussalaam) dan melangkah menuju makam Rasulullah SAW, untuk berziarah. Jamaah berdesak-desak ramai sekali. Saya berjalan terus beringsut-ingsut meliwati mimbar dan terus bergerak karena saya tidak berniat mampir ke Raudhah pagi ini. Di Raudhah jamaah berdesak-desak lebih ramai lagi. Makin mendekati makam Rasulullah SAW, barisan jamaah terbagi dua. Ada yang berusaha mendekat ke dinding makam, lalu diusir oleh asykar dan ada yang berlalu saja agak jauh dari dinding. Saya mengikuti yang kedua ini. Di depan makam Rasulullah SAW saya ucapkan salam kepada beliau, assalamu’alaika ya Rasulullah, assalamu’alaika ya habiballah, ya khatamunnabiyyiin, ya saidul mursaliin. Dengan air mata bercucuran deras. Saya sampaikan salam dari kerabat yang menitipkan salam kepada beliau. Tetap beringsut maju, meliwati makam Abu Bakar dan Umar. Saya ucapkan salam kepada beliau berdua ini. Akhirnya saya sampai di pintu dan keluar dari mesjid.
Saya kembali ke pemondokan. Untuk sarapan dan melanjutkan tadarus yang sudah saya awali tadi di mesjid.
Jam sepuluh saya bersiap-siap untuk pergi kembali ke mesjid untuk shalat Jumat. Seandainya memungkinkan saya berniat masuk ke Raudhah. Saya langsung menuju babussalaam untuk masuk mesjid. Ternyata suasananya sudah berdesak-desak. Tapi saya tetap berusaha maju. Jamaah sudah memenuhi bagian depan mesjid, namun jamaah lain masih tetap berusaha masuk. Mendekati daerah Raudhah, masih di jalan yang dipadati jamaah yang masih berusaha masuk, ada beberapa tempat dimana jamaah membuat sambungan shaf baru, yang tentu saja mempersempit jalan. Saya ragu-ragu untuk ikut duduk. Seorang jamaah dari India memberi isyarat kepada saya untuk duduk dan sayapun duduk. Orang masih tetap berusaha bergerak masuk melangkahi punggung dan kadang-kadang memegang kepala saya. Saya ikhlas seikhlas-ikhlasnya. Saya berusaha untuk tenang setenang-tenangnya. Saya ingat bahwa saya belum shalat tahiyatul masjid dan saya berdiri untuk shalat dua rakaat. Selama shalat itu jamaah lalu di depan saya dan saya tidak mau menghalanginya. Biar sajalah. Dorongan jamaah masuk itu akhirnya berkurang juga. Mungkin pintu assalaam sudah di blokir oleh asykar. Suasana jadi lebih tenang.
Melihat jamaah dari segala bangsa sebanyak itu duduk tertib dengan sabar menunggu waktu shalat membuat mata saya berlinang pula. Ya Allah persatukanlah hati hamba-hambaMu ini, ya Allah berilah kekuatan kepada hamba-hambaMu ini untuk menegakkan kalimatMu, bisik saya dalam hati. Segala bangsa. Yang dominan di mesjid nabawi pada waktu itu adalah orang-orang Afrika. Tentu dari berbagai-bagai negara di Afrika. Namun banyak pula jamaah dari Asia Selatan (India, Pakistan, Bangladesh, Srilangka) dan Turki. Justru yang dari Asia Tenggara dekat saya duduk itu tidak banyak. Seorang jamaah yang di punggung bajunya tertulis Bosnia shalat sunat tidak berhenti-henti sampai khatib naik mimbar.
Waktu shalat akhirnya masuk. Ditandai dengan azan meski khatib belum naik mimbar. Setelah itu orang-orang shalat sunat dua rakaat. Saya yang biasanya tidak melakukan shalat sunah qabliyah Jumat meski shalat di mesjid yang azan Jumatnya dua kali, kali ini berdiri shalat. Biarlah ikut shalat sunat mutlaq saja di mesjid yang mulia ini. Setelah itu barulah khatib naik mimbar yang diiringi dengan azan. Dan khotbah. Samar-samar saya tangkap isi khutbah itu mengenai pelaksanaan haji. Pada khotbah kedua khatib berdoa bagi keselamatan segenap umat Islam di segala pelosok dunia. Lebih khusus bagi keselamatan umat Islam yang di Palestina dan di Irak.
Sesudah khutbah kami menunggu imam pindah dari mimbar ke mihrab. Imam itu melangkah di depan saya. Dan kamipun shalat. Syahdu dan khusyuk sekali rasanya. Sesudah shalat sunat ba’diyah saya duduk sebentar menunggu kalau-kalau Raudhah tidak berdesak-desak. Tapi ternyata orang justru semakin ramai. Saya putuskan untuk tidak masuk kesana siang ini dan saya melangkah keluar melalui makam Rasulullah SAW. Saya ulang-ulang mengucapkan salam kepada Rasulullah SAW, Abu Bakar dan Umar sebelum keluar dari mesjid. Diluar tumpah-ruahan jamaah bukan main banyaknya. Dari segala bangsa tadi. Yang menarik perhatian saya adalah mukena jamaah wanita yang berwarna-warna dengan logo dibagian belakang kepala. Jamaah wanita dari India yang dulu tahun sembilan puluh banyak yang menutup aurat ‘asal-asalan’ sekarang jarang saya lihat yang seperti itu. Ada yang pakai mukena berwarna hitam, ada yang ungu. Seragam-seragam dalam jumlah jamaah yang lumayan banyak.
Dan terlihat pula jamaah laki-laki dari Kosovo, memakai rompi bertuliskan Bakhlesia Islame Kosoves dan Hajj Kosovo di bagian punggungnya. Jumlahnya cukup banyak karena mereka terlihat di mana-mana dengan rompi yang sama.
Dan sayapun melangkah di tengah lautan manusia menuju ke pemondokan.
*****
Oleh-oleh Dari Perjalanan Haji 1424H (2)
2. Hari Keberangkatan
Malam sebelum berangkat saya tidur lebih awal. Rasanya tidak sabar menunggu saat keberangkatan. Waktu bangun subuhnya perasaan saya bergelora-gelora. Ada perasaan harap, cemas, tidak sabaran bercampur aduk. Dalam hati saya berdoa, mudahkanlah perjalanan ini ya Allah. Subuh itu saya ke mesjid ditemani istri sementara anak-anak bersiap-siap untuk shalat di rumah. Saya tidak dapat menahan tangis pada saat menjadi imam shalat subuh itu. Pada rakaat pertama saya beberapa kali tertegun menahan tangis, tapi pada rakaat kedua tangis saya benar-benar tidak dapat ditahan lagi. Selesai shalat, saya kembali berpamitan dengan para jamaah dengan suara terisak-isak. Saya mohon agar saya dan keluarga saya didoakan agar selamat pulang dan pergi ke Tanah suci. Karena hari itu hari libur (tahun baru Cina), sesudah shalat ada kuliah subuh. Ustad yang akan mengisi kuliah subuh mendoakan kami dengan khusyuk dan sesudah itu, sebelum saya berpamitan, jemaah mesjid bergantian bersalaman dan memeluk saya. Beberapa orang jamaah ikut larut dalam tangis. Setelah itu saya pulang, untuk bersiap-siap, karena kami akan berangkat jam tujuh pagi dari rumah.
Jam tujuh, saya ajak anak-anak untuk ke mesjid, untuk shalat sunat sebelum berangkat. Dan setelah itu barulah kami meninggalkan rumah dengan diantarkan oleh adik saya. Kami menuju Mesjid Al Furqan, dekat kantor Dewan Dakwah di Kramat Raya. Pagi itu ada acara pelepasan jemaah oleh Pimpinan Yayasan yang dihadiri pula oleh beberapa orang ustad Dewan Dakwah. Acara terpaksa dibuat padat, karena jam sepuluh kami sudah harus berangkat ke Bandara.
Alhamdulillah, segala sesuatu berjalan sesuai dengan rencana. Jam sebelas kurang kami sudah sampai di Bandara. Jam dua belas lebih seperempat kami sudah mulai naik ke pesawat dan jam satu tepat pesawat Saudi Arabia yang membawa kami menuju Madinah Munawarah sudah tinggal landas di landasan pacu Bandara Sukarno – Hatta. Kami berlima duduk di bangku tengah pada deretan ke 32 di pesawat Boeing 777 itu.
Labbaika Allahuma Labbaik. Labbaika laa syariikalaka labbaik. Innal hamda wani’mata laka walmulk, laa syariikalak. Kalimat talbiyah itu saya ulang-ulang dalam hati dan mata saya berlinang-linang. Setelah pesawat itu terbang dengan lebih tenang dan mendatar, kami lakukan shalat zuhur dan ashar dengan dijamak dan diqasar. Dan setelah itu kami jalani sepuluh jam penerbangan yang cukup menyenangkan diselingi acara makan, menonton, mendengarkan tilawah al Quran dari remote cassete, ngobrol, zikir dan tidur. Di layar tv terpampang informasi mengenai penerbangan ini secara teratur. Tinggi jelajah, kecepatan penerbangan, jarak yang sudah ditempuh, jarak yang tersisa, perkiraan waktu sampai di tujuan dsb.
Dua bangku di depan saya, di kursi sebelah kiri, duduk Prof. Quraisy Syihab dan istrinya, Mula-mula ada keinginan untuk berkenalan dengannya, tapi saya urungkan. Saya khawatir saya hanya akan mengganggunya saja. Tapi pada kesempatan lain istri saya sempat ngobrol dengan istrinya, waktu mereka bersantai melepas ketegangan otot-otot di bagian belakang pesawat. Penerbangan itu benar-benar menyenangkan dan adalah penerbangan langsung menuju kota Madinah. Akhirnya, jam sebelas malam waktu Jakarta atau jam tujuh malam waktu Madinah, pesawat itu mendarat di Bandara Madinah. Meski agak lelah sesudah terbang non stop selama sepuluh jam, kami, sebagaimana umumnya penumpang lain kembali bersemangat. Pemeriksaan di imigrasi bandara itu berjalan cukup cepat karena hanya rombongan kami itu saja yang mereka periksa. Jam delapan malam kami sudah sampai di pemondokan, di hotel Durrat Al-Andalus, yang terletak lebih kurang dua ratus meter dari mesjid Nabawi.
Waktu berada di dalam lift ada seorang ibu-ibu yang mungkin karena melihat kami berlima dengan tiga anak gadis, lalu mengingatkan agar berhati-hati. Lengkap dengan contoh kasus. Katanya, baru minggu kemarin kejadian, ada orang yang anak gadisnya lagi berhalangan ditinggal di hotel ini sendirian, lalu di perkosa. Wallahi, saya sebenarnya sedih dan tidak suka mendengar cerita seperti ini. Biasanya kalau didesak, apakah ibu melihat sendiri? Jawabannya biasanya, saya diceritain. Cerita yang sejak saya pergi haji tahun 90 dulu pernah pula saya dengar, yang entah darimana sumbernya. Dan sejujurnya, saya tidak terlalu percaya. Cerita seperti itu banyak versinya dan bahkan ada yang lebih seram, bahwa setelah diperkosa wanita itu dibunuh. Tapi kalau ditelusuri, biasanya sumbernya diceritain oleh orang lain yang melihatnya. Siapa yang melihat itu? Ya orang lain.
Setelah menaruh barang bawaan di kamar, kami bersiap-siap untuk pergi ke mesjid Nabawi untuk shalat maghrib dan isya. Hari sudah sekitar jam sembilan malam, waktu shalat isya sudah lebih sejam berlalu. Waktu mau masuk ke tempat shalat wanita, petugas pintu dan petugas kebersihan melarang istri dan anak-anak saya masuk. Mereka mengucapkan kata-kata yang kami tangkap hanya ‘shubh - shubh’, yang maksudnya nanti saja waktu subuh. Karena tempat shalat wanita dan laki-laki terpisah saya tidak berusaha lagi untuk masuk ke dalam mesjid dan akhirnya kami shalat di lantai luar saja. Kami shalat maghrib dan isya dijamak dan diqasar.
Setelah itu kami kembali ke pemondokan untuk makan malam dan beristirahat. Saya sudah mendapatkan informasi bahwa waktu subuh besok adalah jam 5.30. Saya memasang alarm di HP untuk bangun jam empat kurang seperempat. Tapi ternyata pagi itu saya terbangun sekitar jam tiga (sudah jam tujuh di Jakarta) dan segera bersiap-siap untuk pergi ke mesjid.
*****
Malam sebelum berangkat saya tidur lebih awal. Rasanya tidak sabar menunggu saat keberangkatan. Waktu bangun subuhnya perasaan saya bergelora-gelora. Ada perasaan harap, cemas, tidak sabaran bercampur aduk. Dalam hati saya berdoa, mudahkanlah perjalanan ini ya Allah. Subuh itu saya ke mesjid ditemani istri sementara anak-anak bersiap-siap untuk shalat di rumah. Saya tidak dapat menahan tangis pada saat menjadi imam shalat subuh itu. Pada rakaat pertama saya beberapa kali tertegun menahan tangis, tapi pada rakaat kedua tangis saya benar-benar tidak dapat ditahan lagi. Selesai shalat, saya kembali berpamitan dengan para jamaah dengan suara terisak-isak. Saya mohon agar saya dan keluarga saya didoakan agar selamat pulang dan pergi ke Tanah suci. Karena hari itu hari libur (tahun baru Cina), sesudah shalat ada kuliah subuh. Ustad yang akan mengisi kuliah subuh mendoakan kami dengan khusyuk dan sesudah itu, sebelum saya berpamitan, jemaah mesjid bergantian bersalaman dan memeluk saya. Beberapa orang jamaah ikut larut dalam tangis. Setelah itu saya pulang, untuk bersiap-siap, karena kami akan berangkat jam tujuh pagi dari rumah.
Jam tujuh, saya ajak anak-anak untuk ke mesjid, untuk shalat sunat sebelum berangkat. Dan setelah itu barulah kami meninggalkan rumah dengan diantarkan oleh adik saya. Kami menuju Mesjid Al Furqan, dekat kantor Dewan Dakwah di Kramat Raya. Pagi itu ada acara pelepasan jemaah oleh Pimpinan Yayasan yang dihadiri pula oleh beberapa orang ustad Dewan Dakwah. Acara terpaksa dibuat padat, karena jam sepuluh kami sudah harus berangkat ke Bandara.
Alhamdulillah, segala sesuatu berjalan sesuai dengan rencana. Jam sebelas kurang kami sudah sampai di Bandara. Jam dua belas lebih seperempat kami sudah mulai naik ke pesawat dan jam satu tepat pesawat Saudi Arabia yang membawa kami menuju Madinah Munawarah sudah tinggal landas di landasan pacu Bandara Sukarno – Hatta. Kami berlima duduk di bangku tengah pada deretan ke 32 di pesawat Boeing 777 itu.
Labbaika Allahuma Labbaik. Labbaika laa syariikalaka labbaik. Innal hamda wani’mata laka walmulk, laa syariikalak. Kalimat talbiyah itu saya ulang-ulang dalam hati dan mata saya berlinang-linang. Setelah pesawat itu terbang dengan lebih tenang dan mendatar, kami lakukan shalat zuhur dan ashar dengan dijamak dan diqasar. Dan setelah itu kami jalani sepuluh jam penerbangan yang cukup menyenangkan diselingi acara makan, menonton, mendengarkan tilawah al Quran dari remote cassete, ngobrol, zikir dan tidur. Di layar tv terpampang informasi mengenai penerbangan ini secara teratur. Tinggi jelajah, kecepatan penerbangan, jarak yang sudah ditempuh, jarak yang tersisa, perkiraan waktu sampai di tujuan dsb.
Dua bangku di depan saya, di kursi sebelah kiri, duduk Prof. Quraisy Syihab dan istrinya, Mula-mula ada keinginan untuk berkenalan dengannya, tapi saya urungkan. Saya khawatir saya hanya akan mengganggunya saja. Tapi pada kesempatan lain istri saya sempat ngobrol dengan istrinya, waktu mereka bersantai melepas ketegangan otot-otot di bagian belakang pesawat. Penerbangan itu benar-benar menyenangkan dan adalah penerbangan langsung menuju kota Madinah. Akhirnya, jam sebelas malam waktu Jakarta atau jam tujuh malam waktu Madinah, pesawat itu mendarat di Bandara Madinah. Meski agak lelah sesudah terbang non stop selama sepuluh jam, kami, sebagaimana umumnya penumpang lain kembali bersemangat. Pemeriksaan di imigrasi bandara itu berjalan cukup cepat karena hanya rombongan kami itu saja yang mereka periksa. Jam delapan malam kami sudah sampai di pemondokan, di hotel Durrat Al-Andalus, yang terletak lebih kurang dua ratus meter dari mesjid Nabawi.
Waktu berada di dalam lift ada seorang ibu-ibu yang mungkin karena melihat kami berlima dengan tiga anak gadis, lalu mengingatkan agar berhati-hati. Lengkap dengan contoh kasus. Katanya, baru minggu kemarin kejadian, ada orang yang anak gadisnya lagi berhalangan ditinggal di hotel ini sendirian, lalu di perkosa. Wallahi, saya sebenarnya sedih dan tidak suka mendengar cerita seperti ini. Biasanya kalau didesak, apakah ibu melihat sendiri? Jawabannya biasanya, saya diceritain. Cerita yang sejak saya pergi haji tahun 90 dulu pernah pula saya dengar, yang entah darimana sumbernya. Dan sejujurnya, saya tidak terlalu percaya. Cerita seperti itu banyak versinya dan bahkan ada yang lebih seram, bahwa setelah diperkosa wanita itu dibunuh. Tapi kalau ditelusuri, biasanya sumbernya diceritain oleh orang lain yang melihatnya. Siapa yang melihat itu? Ya orang lain.
Setelah menaruh barang bawaan di kamar, kami bersiap-siap untuk pergi ke mesjid Nabawi untuk shalat maghrib dan isya. Hari sudah sekitar jam sembilan malam, waktu shalat isya sudah lebih sejam berlalu. Waktu mau masuk ke tempat shalat wanita, petugas pintu dan petugas kebersihan melarang istri dan anak-anak saya masuk. Mereka mengucapkan kata-kata yang kami tangkap hanya ‘shubh - shubh’, yang maksudnya nanti saja waktu subuh. Karena tempat shalat wanita dan laki-laki terpisah saya tidak berusaha lagi untuk masuk ke dalam mesjid dan akhirnya kami shalat di lantai luar saja. Kami shalat maghrib dan isya dijamak dan diqasar.
Setelah itu kami kembali ke pemondokan untuk makan malam dan beristirahat. Saya sudah mendapatkan informasi bahwa waktu subuh besok adalah jam 5.30. Saya memasang alarm di HP untuk bangun jam empat kurang seperempat. Tapi ternyata pagi itu saya terbangun sekitar jam tiga (sudah jam tujuh di Jakarta) dan segera bersiap-siap untuk pergi ke mesjid.
*****
Thursday, March 6, 2008
Oleh-oleh Dari Perjalanan Haji 1424H (1)
1. Persiapan
Saya adalah seorang ahli geologi yang bekerja pada sebuah perusahaan eksplorasi minyak swasta asing di Jakarta. Pada tahun 2001, ketika sudah beberapa saat sejak saya terbebas dari hutang-hutang kantor untuk cicilan rumah dan kendaraan, serta uang tabungan sudah pula agak terkumpul sedikit, saya putuskan untuk membawa keluarga beserta ibu saya pergi umrah. Perjalanan umrah itu kami laksanakan di bulan Juli tahun 2001 dan berlangsung selama seminggu. Anak-anak saya sangat menikmati perjalanan ibadah itu. Di perjalanan pulang dari umrah itu, anak saya yang tengah nyeletuk lepas secara spontan.
‘Entah kapanlah saya akan menginjak tanah suci ini lagi. Iya kalau nanti saya dapat suami yang mau membawa pergi haji......’
Sebuah ungkapan tak bermakna. Tapi terekam di kepala saya. Waktu itu tidak saya komentari apa-apa.
Awal tahun 2003 saya ingat bahwa saya boleh mengambil sebagian dari pembayaran pensiun pada tahun itu, sesuai dengan peraturan perusahaan tempat saya bekerja. Pembayaran itu biasanya dibayarkan persis pada bulan ulang tahun ke lima puluh dua setiap karyawan dan untuk saya hal itu jatuh pada bulan Agustus. Serta-merta melintas di benak saya keinginan membawa keluarga saya melaksanakan rukun Islam kelima, pergi haji. Saya dengan istri sudah melaksanakan ibadah itu di tahun 1990 yang lalu, tapi kali ini disamping membawa anak-anak, kami niatkan pula untuk menghajikan ayah kami masing-masing.
Pertama-tama hal itu saya rundingkan dengan istri. Dia tertarik, tapi tidak yakin anak-anak akan mau ikut mengingat mereka masih sibuk dengan urusan sekolah masing-masing. Saya coba menanyai mereka satu persatu. Mereka menanyakan tanggal dan bulan apa jatuhnya pelaksanaan haji tahun ini serta berapa lama kira-kira pelaksanaannya. Setelah kita hitung hati-hati, ternyata semua berminat dan menjawab mantap bahwa mereka sangat tertarik untuk ikut. Yang sulung insya Allah sudah (akan) selesai kuliahnya bulan September 2003. Yang tengah insya Allah pada waktu itu nanti sudah (akan) selesai ujian semester. Biarlah tidak bisa mengambil semester pendek kali ini, ujarnya. Yang bungsu, yang duduk di kelas tiga SMU dengan mantap mengatakan akan minta izin tidak masuk sekolah saja pada saat pelaksanaan haji itu. Dia bahkan sudah menanyakan ke LIA, tempat dia kursus bahasa Inggeris apakah dia boleh minta izin untuk beberapa minggu nanti.
Saya sangat puas dengan antusiasme anak-anak tersebut. Mulailah saya mencari informasi tentang biaya perjalanan haji khusus. Ikut dengan biaya khusus ini semata-mata karena pertimbangan waktu, agar anak-anak saya, terutama si Bungsu tidak terlalu lama meninggalkan sekolah. Ternyata variasi biaya yang ditawarkan cukup banyak. Akhirnya kami memilih sebuah biro perjalanan haji yang dikelola oleh Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia, mengambil paket dengan fasilitas lima orang sekamar di pemondokan nanti. Waktu mendaftar di sekitar bulan April 2003, saya bayar tanda jadi sebesar 10% dari biaya total, sementara cicilan berikutnya (60%) harus dilunasi sekitar bulan Agustus dan sisanya menjelang bulan puasa atau awal Oktober. Di bulan Juni saya diberitahu bahwa ada perubahan jadwal pembayaran. Yang enam puluh persen harus saya lunasi paling lambat pertengahan bulan Juli untuk menjamin agar kami mendapatkan tempat, begitu ceritanya. Waktu saya katakan bahwa bulan Juli saya belum punya uang fihak penyelenggara menawarkan untuk menggunakan fasilitas jaminan dari bank tertentu, tentu saja dengan biaya ekstra. Saya sangat kurang setuju dengan cara itu karena pinjaman uang untuk biaya haji harus saya bayar lebih, yang rasa-rasanya, seperti saya meminjam dengan sistim riba.
Saya coba menanyakan di kantor apakah pembayaran awal uang pensiun yang saya tunggu itu dapat diajukan. Alhamdulillah, ternyata memang bisa, bahkan kalau diminta sejak awal, uang itu bisa dibayarkan tiga bulan sebelum ulang tahun karyawan. Subhanallah, saya minta agar uang itu segera saja diturunkan karena saya akan segera pula melunasi BPIH kami.
Setelah itu kami mulai mempersiapkan diri sedikit demi sedikit. Saya ingatkan kepada anak-anak bahwa perjalanan kali ini jauh lebih berat dari umrah dulu. Untuk itu disamping diperlukan kesiapan fisik dan kesehatan juga diperlukan kesabaran dan yang lebih utama niat yang tulus dan ikhlas semata-mata karena Allah. Perjalanan haji bukanlah perjalanan wisata, bukan perjalanan untuk bersenang-senang, begitu selalu saya mengingatkan mereka.
Pertengahan bulan Desember kami ikut manasik haji di Cipayung selama tiga hari, bergabung dengan grup lain yang juga dibimbing oleh ustad-ustad dari Dewan Dakwah. Jemaah grup itu lebih dua ratus orang sementara rombongan kami hanya terdiri dari enam puluh orang. Rencananya kami akan berangkat dalam satu kloter tanggal 21 Januari, menggunakan penerbangan Emirat, yang akan terbang dari Jakarta via Singapura, Dubai, Jeddah terakhir menuju Madinah dan akan sampai di Madinah pada tanggal 23 Januari pagi-pagi.
Tanggal 10 Januari kami mendapat berita bahwa ada perubahan jadwal pemberangkatan karena penerbangan Emirat yang biasanya bisa mendarat lima kali sehari di Bandara King Abdul Aziz di Jeddah dikurangi menjadi hanya tiga kali, sehingga fihak Emirat terpaksa merubah rencana penerbangannya secara menyeluruh. Kami yang enam puluh orang tidak jadi bisa bergabung dengan kelompok yang dua ratus orang dan kalau tetap menggunakan Emirat kami harus berangkat dari Jakarta tanggal 20 untuk sampai di Madinah tanggal 23 Januari. Tapi alhamdulillah, fihak penyelenggara mendapatkan tempat di pesawat Saudia yang akan terbang langsung nonstop dari Jakarta menuju Madinah pada tanggal 22 Januari. Benar-benar suatu kemudahan dari Allah SWT.
*****
Saya adalah seorang ahli geologi yang bekerja pada sebuah perusahaan eksplorasi minyak swasta asing di Jakarta. Pada tahun 2001, ketika sudah beberapa saat sejak saya terbebas dari hutang-hutang kantor untuk cicilan rumah dan kendaraan, serta uang tabungan sudah pula agak terkumpul sedikit, saya putuskan untuk membawa keluarga beserta ibu saya pergi umrah. Perjalanan umrah itu kami laksanakan di bulan Juli tahun 2001 dan berlangsung selama seminggu. Anak-anak saya sangat menikmati perjalanan ibadah itu. Di perjalanan pulang dari umrah itu, anak saya yang tengah nyeletuk lepas secara spontan.
‘Entah kapanlah saya akan menginjak tanah suci ini lagi. Iya kalau nanti saya dapat suami yang mau membawa pergi haji......’
Sebuah ungkapan tak bermakna. Tapi terekam di kepala saya. Waktu itu tidak saya komentari apa-apa.
Awal tahun 2003 saya ingat bahwa saya boleh mengambil sebagian dari pembayaran pensiun pada tahun itu, sesuai dengan peraturan perusahaan tempat saya bekerja. Pembayaran itu biasanya dibayarkan persis pada bulan ulang tahun ke lima puluh dua setiap karyawan dan untuk saya hal itu jatuh pada bulan Agustus. Serta-merta melintas di benak saya keinginan membawa keluarga saya melaksanakan rukun Islam kelima, pergi haji. Saya dengan istri sudah melaksanakan ibadah itu di tahun 1990 yang lalu, tapi kali ini disamping membawa anak-anak, kami niatkan pula untuk menghajikan ayah kami masing-masing.
Pertama-tama hal itu saya rundingkan dengan istri. Dia tertarik, tapi tidak yakin anak-anak akan mau ikut mengingat mereka masih sibuk dengan urusan sekolah masing-masing. Saya coba menanyai mereka satu persatu. Mereka menanyakan tanggal dan bulan apa jatuhnya pelaksanaan haji tahun ini serta berapa lama kira-kira pelaksanaannya. Setelah kita hitung hati-hati, ternyata semua berminat dan menjawab mantap bahwa mereka sangat tertarik untuk ikut. Yang sulung insya Allah sudah (akan) selesai kuliahnya bulan September 2003. Yang tengah insya Allah pada waktu itu nanti sudah (akan) selesai ujian semester. Biarlah tidak bisa mengambil semester pendek kali ini, ujarnya. Yang bungsu, yang duduk di kelas tiga SMU dengan mantap mengatakan akan minta izin tidak masuk sekolah saja pada saat pelaksanaan haji itu. Dia bahkan sudah menanyakan ke LIA, tempat dia kursus bahasa Inggeris apakah dia boleh minta izin untuk beberapa minggu nanti.
Saya sangat puas dengan antusiasme anak-anak tersebut. Mulailah saya mencari informasi tentang biaya perjalanan haji khusus. Ikut dengan biaya khusus ini semata-mata karena pertimbangan waktu, agar anak-anak saya, terutama si Bungsu tidak terlalu lama meninggalkan sekolah. Ternyata variasi biaya yang ditawarkan cukup banyak. Akhirnya kami memilih sebuah biro perjalanan haji yang dikelola oleh Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia, mengambil paket dengan fasilitas lima orang sekamar di pemondokan nanti. Waktu mendaftar di sekitar bulan April 2003, saya bayar tanda jadi sebesar 10% dari biaya total, sementara cicilan berikutnya (60%) harus dilunasi sekitar bulan Agustus dan sisanya menjelang bulan puasa atau awal Oktober. Di bulan Juni saya diberitahu bahwa ada perubahan jadwal pembayaran. Yang enam puluh persen harus saya lunasi paling lambat pertengahan bulan Juli untuk menjamin agar kami mendapatkan tempat, begitu ceritanya. Waktu saya katakan bahwa bulan Juli saya belum punya uang fihak penyelenggara menawarkan untuk menggunakan fasilitas jaminan dari bank tertentu, tentu saja dengan biaya ekstra. Saya sangat kurang setuju dengan cara itu karena pinjaman uang untuk biaya haji harus saya bayar lebih, yang rasa-rasanya, seperti saya meminjam dengan sistim riba.
Saya coba menanyakan di kantor apakah pembayaran awal uang pensiun yang saya tunggu itu dapat diajukan. Alhamdulillah, ternyata memang bisa, bahkan kalau diminta sejak awal, uang itu bisa dibayarkan tiga bulan sebelum ulang tahun karyawan. Subhanallah, saya minta agar uang itu segera saja diturunkan karena saya akan segera pula melunasi BPIH kami.
Setelah itu kami mulai mempersiapkan diri sedikit demi sedikit. Saya ingatkan kepada anak-anak bahwa perjalanan kali ini jauh lebih berat dari umrah dulu. Untuk itu disamping diperlukan kesiapan fisik dan kesehatan juga diperlukan kesabaran dan yang lebih utama niat yang tulus dan ikhlas semata-mata karena Allah. Perjalanan haji bukanlah perjalanan wisata, bukan perjalanan untuk bersenang-senang, begitu selalu saya mengingatkan mereka.
Pertengahan bulan Desember kami ikut manasik haji di Cipayung selama tiga hari, bergabung dengan grup lain yang juga dibimbing oleh ustad-ustad dari Dewan Dakwah. Jemaah grup itu lebih dua ratus orang sementara rombongan kami hanya terdiri dari enam puluh orang. Rencananya kami akan berangkat dalam satu kloter tanggal 21 Januari, menggunakan penerbangan Emirat, yang akan terbang dari Jakarta via Singapura, Dubai, Jeddah terakhir menuju Madinah dan akan sampai di Madinah pada tanggal 23 Januari pagi-pagi.
Tanggal 10 Januari kami mendapat berita bahwa ada perubahan jadwal pemberangkatan karena penerbangan Emirat yang biasanya bisa mendarat lima kali sehari di Bandara King Abdul Aziz di Jeddah dikurangi menjadi hanya tiga kali, sehingga fihak Emirat terpaksa merubah rencana penerbangannya secara menyeluruh. Kami yang enam puluh orang tidak jadi bisa bergabung dengan kelompok yang dua ratus orang dan kalau tetap menggunakan Emirat kami harus berangkat dari Jakarta tanggal 20 untuk sampai di Madinah tanggal 23 Januari. Tapi alhamdulillah, fihak penyelenggara mendapatkan tempat di pesawat Saudia yang akan terbang langsung nonstop dari Jakarta menuju Madinah pada tanggal 22 Januari. Benar-benar suatu kemudahan dari Allah SWT.
*****
Tuesday, March 4, 2008
KETUPAT LEBARAN (1428)
KETUPAT LEBARAN (1428)
Anak muda Ketua Remaja Mesjid itu menatapku tajam. Terlihat rona gusar di wajahnya yang biasa penuh semangat. Aku sudah menduga apa yang ada dalam hatinya. Dia pasti kecewa, karena tahun ini jamaah mesjid kami akan berbagi lagi dalam merayakan hari raya Idul Fitri, tanggal 1 Syawal. Kami, para jamaah mesjid baru saja terlibat dalam sebuah diskusi, dalam sebuah musyawarah, tentang bagaimana menyikapi kenyataan bahwa hari raya tahun ini kembali terpecah. Sebagian akan merayakannya sesudah selesai dengan 29 hari berpuasa, sementara sebagian yang lain akan menggenapkan bilangan puasa mereka menjadi 30 hari. Seperti tahun-tahun lalu ketika hal yang sama muncul, sebagian dari jamaah berkeyakinan bahwa mereka wajib mentaati ’ulil amri’ alias pemerintah yang berkuasa. Yang lain beralasan bahwa perhitungan matematis yang dilakukan oleh ahli hitung lebih patut ditaati karena ahli hitung itu tidak mungkin mengada-ada, ditambah pula oleh ketentuan agama bahwa berpuasa pada tanggal 1 Syawal haram hukumnya. Kedua-dua pendapat itu sah-sah belaka.
Dalam hal seperti ini aku selalu berusaha menempatkan diri di tengah-tengah. Tidak memihak kemanapun, meski aku tentu saja mempunyai pilihanku sendiri. Aku selalu mempersilahkan setiap pribadi mengikuti jalan mana yang mereka yakini, mau berhari raya besok atau mau menambah puasa satu hari lagi. Anak muda itu masih sekali-sekali mencuri pandang kepadaku. Sepertinya dia menginginkan agar aku, sebagai ketua pengurus mesjid, lebih tegas dalam bersikap. Tapi aku memang tidak mau bergeser dari tempatku berpijak. Aku tidak akan memutuskan sesuatu secara sefihak, yang justru akan memperuncing perselisihan.
Dalam musyawarah yang nyaris agak emosional dan baru saja selesai, masih terngiang di telingaku, betapa kerasnya keyakinan pak Daud yang mengatakan bahwa perintah mentaati ’ulil amri min kum’ itu adalah perintah al Quran. Dan dia menyitir ayat itu, Yaa ayyuhallatziina aamanuu, athiiulLaaha wa athiiur rasuula wa ulil amri minkum. (Surah An Nisaa ayat 59). Namun alasan yang diberikan pak Suhaili tidak kalah bernasnya. Katanya, ’ulil amri’ kita terkesan tidak konsisten. Pemerintah sebenarnya sudah menetapkan hari-hari besar agama, dan tentu saja termasuk hari besar Islam, dalam kalender resmi. Ketetapan atas hari-hari besar itu dikeluarkan dengan surat keputusan menteri agama. Artinya pemerintah sudah membuat perhitungan atau menghisab jauh hari sebelumnya. Tapi selalu saja, setiap akan memulai awal bulan puasa atau hari raya, pemerintah mengakomodir kembali metoda rukyat. Tidak ada yang salah dengan metoda rukyat itu kecuali bahwa me’rukyat’ atau melihat anak bulan yang ukurannya super mini, waktunya hanya beberapa puluh detik, di langit yang hampir selalu ditutupi awan adalah pekerjaan yang lebih banyak kemungkinan gagalnya. Dan biasanya lagi, pemerintah akan mengumumkan bahwa berhubung karena anak bulan belum terlihat maka perhitungan bulan baru ditunda menjadi keesokan harinya. Arti menunda sampai besok itu sama saja dengan menyesuaikan dengan yang sudah tertera di penanggalan, seperti yang juga terjadi pada tahun ini.
Musyawarah kami tadi diakhiri dengan kesepakatan bahwa masing-masing jamaah bebas untuk memilih. Mau berhari raya besok atau lusa silahkan. Silahkan disesuaikan dengan keyakinan hati nurani masing-masing. Inilah yang ditentang oleh anak muda ketua Remaja Mesjid.
Anak muda itu akhirnya datang mendekatiku dan kami terlibat lagi dalam perbincangan.
’Maaf, pak. Bapak sendiri, seperti bapak katakan akan berhari raya besok bukan?’ katanya memulai.
’Benar. Insya Allah begitu,’ jawabku.
’Bapak sependapat dengan pak Suhaili?’ tanyanya pula.
’Saya sependapat dengan hasil hisab,’ jawabku pula.
’Bukankah keterangan pak Suhaili lebih masuk di akal? Dan ternyata bapakpun sependapat untuk mempercayai hasil perhitungan. Kenapa bapak tidak menetapkan saja, bahwa mesjid kita ini berhari raya besok? Bapak berikan alasan seperti yang diberikan pak Suhaili, insya Allah jamaah akan mengikuti bapak,’ desaknya.
’Tidak bisa demikian. Kenyataannya, kebanyakan jamaah cenderung menunggu keputusan pemerintah. Bukankah telah kamu lihat bahwa kita bermusyawarah secara baik-baik dan masing-masing pihak mempunyai alasan dan keyakinan yang berbeda? Dan disamping itu pula, ini adalah masalah keyakinan, dan saya tidak boleh melawan keyakinan mayoritas jamaah. Kita semua sudah mendengar semua alasan dan keterangan maka sekarang terpulang kepada hati nurani kita masing-masing,’ aku mencoba menjelaskan.
’Kalau menurut bapak bagaimana hukumnya seandainya kita masih berpuasa besok?’ tanyanya lagi.
’Bagi saya, yang berkeyakinan bahwa besok adalah tanggal 1 Syawal, haram hukumnya berpuasa.’
’Nah, buat jamaah yang lain itu? Kalau besok mereka berpuasa, apakah tidak haram hukumnya?’
’Kalau menurut keyakinan mereka besok belum tanggal 1 Syawal, lalu mereka berpuasa tidak ada masalah buat mereka.’
’Tapi ada yang berkeyakinan bahwa besok memang sudah tanggal 1 Syawal, tapi mereka masih saja mau taat kepada ’ulil amri’. Yang seperti ini bagaimana menurut bapak?’ tanyanya setengah menjebak.
’Apakah kamu yakin ada yang seperti itu? Yang saya simak adalah pernyataan pak Daud bahwa kita tidak mempunyai keahlian, maka kita serahkan saja kepada petugas ’ulil amri’ dan kita taati ’ulil amri’. Seperti itu yang saya dengar.’
’Tapi bukankah dengan demikian kita tidak tegas? Kita tidak punya keahlian. Ada orang yang mempunyai keahlian, mereka melakukan hisab atau perhitungan, tapi kita tidak mau menerima hasil perhitungan mereka. Tapi mau menerima keputusan ’ulil amri’ yang berdalih karena hilal tidak terlihat sebab tertutup awan?’
’Untuk diri saya, maka saya sependapat dengan kamu. Saya percaya kepada perhitungan ahli hisab itu. Itu sebabnya saya berhari raya besok,’ jawabku pula.
’Dan bapak tidak mau mengajak jamaah mesjid ini mengikuti bapak?’
’Saya sudah menyatakan terang-terangan bahwa besok saya tidak akan puasa lagi. Tapi saya tidak bisa memaksa-maksa atau memprovokasi jamaah lain agar mengikuti saya. Tidak mungkin itu saya lakukan. Tapi kalau ada di antara mereka mau ikut, silahkan. Saya tidak mungkin pula melarangnya.’
’Sayang sekali, pak. Apakah umat Islam di negeri kita akan begini terus? Selalu sulit dipersatukan?’ ungkapnya kecewa.
’Mudah-mudahan satu saat nanti akan ada perubahan. Mudah-mudahan ada jalan keluarnya,’ jawabku asal-asalan.
’Apakah bapak melihat jalan keluar itu?’ tanyanya lagi.
’Mungkin suatu saat nanti pemerintah bisa lebih tegas. Misalnya, diawali dengan mengajak para ahli hisab untuk bersama-sama menghitung peredaran bulan dalam satu tahun. Persis seperti yang dilakukan pemerintah ketika akan menetapkan hari-hari besar. Pemerintah seyogianya melibatkan sebanyak mungkin ahli hisab yang mewakili setiap organisasi massa umat Islam. Sesudah dimusyawarahkan seperti itu, baru dituntaskan dan ditetapkan dengan sebuah ketetapan pemerintah yang tidak boleh lagi dibatalkan. Tentu saja pemerintah harus pula mensosialisasikan kenyataan bahwa untuk melihat bulan di penghujung setiap bulan qamariah itu, lebih banyak kemungkinan gagalnya karena negeri kita sangat berawan. Nah, kalau sudah ditetapkan begitu, tidak boleh ada lagi perhitungan susulan. Tidak boleh ada lagi yang membatalkan ketetapan itu. Dengan demikian barulah semua orang harus benar-benar tunduk kepada keputusan pemerintah. Keputusan ’ulil amri’. Begitu pendapat saya,’ aku mencoba menjelaskan panjang lebar.
’Wah. Bukankah itu sebuah jalan keluar yang sangat elok pak. Kenapa tidak bapak usulkan saja langsung kepada pemerintah agar melakukan seperti itu?’
’Nantilah, kalau saya sudah berkenalan dengan salah seorang menteri,’ jawabku tersenyum.
’Betul, pak. Pendapat bapak itu sangat masuk akal. Dan mudah-mudahan dengan cara seperti itu tidak akan ada lagi jamaah dalam satu mesjid berhariraya di hari yang berbeda,’ tambahnya bersemangat.
Malam harinya, sesudah shalat isya, aku meninggalkan mesjid ketika jamaah bersiap-siap akan melakukan shalat tarawih. Shalat tarawih mereka yang terakhir. Ada beberapa orang jamaah lain yang juga ikut keluar. Aku menggumamkan takbir dalam hati disela-sela langkahku menuju rumah. Allaahu Akbar Allaahu Akbar Allaahu Akbar, Laa ilaaha illa ‘Llaahu wAllahu Akbar – Allaahu Akbar waliLlaahil hamd. Allaahu Akbar – Allaahu Akbar – Allaahu Akbar Allaahu Akbar Kabiiran, walhamdu liLlaahi katsiiran, wa subhanaLlaahi bukratan wa ashiila, Laa ilaaha illa ‘Llaahu wAllaahu Akbar – Allaahu Akbar waliLlaahil hamd.
Allah Maha Besar, segala puji hanya kepunyaan Allah. Takbir yang menggema, kali ini hanya dalam rongga dadaku saja
Jatibening, awal Syawal 1428H.
*****
Anak muda Ketua Remaja Mesjid itu menatapku tajam. Terlihat rona gusar di wajahnya yang biasa penuh semangat. Aku sudah menduga apa yang ada dalam hatinya. Dia pasti kecewa, karena tahun ini jamaah mesjid kami akan berbagi lagi dalam merayakan hari raya Idul Fitri, tanggal 1 Syawal. Kami, para jamaah mesjid baru saja terlibat dalam sebuah diskusi, dalam sebuah musyawarah, tentang bagaimana menyikapi kenyataan bahwa hari raya tahun ini kembali terpecah. Sebagian akan merayakannya sesudah selesai dengan 29 hari berpuasa, sementara sebagian yang lain akan menggenapkan bilangan puasa mereka menjadi 30 hari. Seperti tahun-tahun lalu ketika hal yang sama muncul, sebagian dari jamaah berkeyakinan bahwa mereka wajib mentaati ’ulil amri’ alias pemerintah yang berkuasa. Yang lain beralasan bahwa perhitungan matematis yang dilakukan oleh ahli hitung lebih patut ditaati karena ahli hitung itu tidak mungkin mengada-ada, ditambah pula oleh ketentuan agama bahwa berpuasa pada tanggal 1 Syawal haram hukumnya. Kedua-dua pendapat itu sah-sah belaka.
Dalam hal seperti ini aku selalu berusaha menempatkan diri di tengah-tengah. Tidak memihak kemanapun, meski aku tentu saja mempunyai pilihanku sendiri. Aku selalu mempersilahkan setiap pribadi mengikuti jalan mana yang mereka yakini, mau berhari raya besok atau mau menambah puasa satu hari lagi. Anak muda itu masih sekali-sekali mencuri pandang kepadaku. Sepertinya dia menginginkan agar aku, sebagai ketua pengurus mesjid, lebih tegas dalam bersikap. Tapi aku memang tidak mau bergeser dari tempatku berpijak. Aku tidak akan memutuskan sesuatu secara sefihak, yang justru akan memperuncing perselisihan.
Dalam musyawarah yang nyaris agak emosional dan baru saja selesai, masih terngiang di telingaku, betapa kerasnya keyakinan pak Daud yang mengatakan bahwa perintah mentaati ’ulil amri min kum’ itu adalah perintah al Quran. Dan dia menyitir ayat itu, Yaa ayyuhallatziina aamanuu, athiiulLaaha wa athiiur rasuula wa ulil amri minkum. (Surah An Nisaa ayat 59). Namun alasan yang diberikan pak Suhaili tidak kalah bernasnya. Katanya, ’ulil amri’ kita terkesan tidak konsisten. Pemerintah sebenarnya sudah menetapkan hari-hari besar agama, dan tentu saja termasuk hari besar Islam, dalam kalender resmi. Ketetapan atas hari-hari besar itu dikeluarkan dengan surat keputusan menteri agama. Artinya pemerintah sudah membuat perhitungan atau menghisab jauh hari sebelumnya. Tapi selalu saja, setiap akan memulai awal bulan puasa atau hari raya, pemerintah mengakomodir kembali metoda rukyat. Tidak ada yang salah dengan metoda rukyat itu kecuali bahwa me’rukyat’ atau melihat anak bulan yang ukurannya super mini, waktunya hanya beberapa puluh detik, di langit yang hampir selalu ditutupi awan adalah pekerjaan yang lebih banyak kemungkinan gagalnya. Dan biasanya lagi, pemerintah akan mengumumkan bahwa berhubung karena anak bulan belum terlihat maka perhitungan bulan baru ditunda menjadi keesokan harinya. Arti menunda sampai besok itu sama saja dengan menyesuaikan dengan yang sudah tertera di penanggalan, seperti yang juga terjadi pada tahun ini.
Musyawarah kami tadi diakhiri dengan kesepakatan bahwa masing-masing jamaah bebas untuk memilih. Mau berhari raya besok atau lusa silahkan. Silahkan disesuaikan dengan keyakinan hati nurani masing-masing. Inilah yang ditentang oleh anak muda ketua Remaja Mesjid.
Anak muda itu akhirnya datang mendekatiku dan kami terlibat lagi dalam perbincangan.
’Maaf, pak. Bapak sendiri, seperti bapak katakan akan berhari raya besok bukan?’ katanya memulai.
’Benar. Insya Allah begitu,’ jawabku.
’Bapak sependapat dengan pak Suhaili?’ tanyanya pula.
’Saya sependapat dengan hasil hisab,’ jawabku pula.
’Bukankah keterangan pak Suhaili lebih masuk di akal? Dan ternyata bapakpun sependapat untuk mempercayai hasil perhitungan. Kenapa bapak tidak menetapkan saja, bahwa mesjid kita ini berhari raya besok? Bapak berikan alasan seperti yang diberikan pak Suhaili, insya Allah jamaah akan mengikuti bapak,’ desaknya.
’Tidak bisa demikian. Kenyataannya, kebanyakan jamaah cenderung menunggu keputusan pemerintah. Bukankah telah kamu lihat bahwa kita bermusyawarah secara baik-baik dan masing-masing pihak mempunyai alasan dan keyakinan yang berbeda? Dan disamping itu pula, ini adalah masalah keyakinan, dan saya tidak boleh melawan keyakinan mayoritas jamaah. Kita semua sudah mendengar semua alasan dan keterangan maka sekarang terpulang kepada hati nurani kita masing-masing,’ aku mencoba menjelaskan.
’Kalau menurut bapak bagaimana hukumnya seandainya kita masih berpuasa besok?’ tanyanya lagi.
’Bagi saya, yang berkeyakinan bahwa besok adalah tanggal 1 Syawal, haram hukumnya berpuasa.’
’Nah, buat jamaah yang lain itu? Kalau besok mereka berpuasa, apakah tidak haram hukumnya?’
’Kalau menurut keyakinan mereka besok belum tanggal 1 Syawal, lalu mereka berpuasa tidak ada masalah buat mereka.’
’Tapi ada yang berkeyakinan bahwa besok memang sudah tanggal 1 Syawal, tapi mereka masih saja mau taat kepada ’ulil amri’. Yang seperti ini bagaimana menurut bapak?’ tanyanya setengah menjebak.
’Apakah kamu yakin ada yang seperti itu? Yang saya simak adalah pernyataan pak Daud bahwa kita tidak mempunyai keahlian, maka kita serahkan saja kepada petugas ’ulil amri’ dan kita taati ’ulil amri’. Seperti itu yang saya dengar.’
’Tapi bukankah dengan demikian kita tidak tegas? Kita tidak punya keahlian. Ada orang yang mempunyai keahlian, mereka melakukan hisab atau perhitungan, tapi kita tidak mau menerima hasil perhitungan mereka. Tapi mau menerima keputusan ’ulil amri’ yang berdalih karena hilal tidak terlihat sebab tertutup awan?’
’Untuk diri saya, maka saya sependapat dengan kamu. Saya percaya kepada perhitungan ahli hisab itu. Itu sebabnya saya berhari raya besok,’ jawabku pula.
’Dan bapak tidak mau mengajak jamaah mesjid ini mengikuti bapak?’
’Saya sudah menyatakan terang-terangan bahwa besok saya tidak akan puasa lagi. Tapi saya tidak bisa memaksa-maksa atau memprovokasi jamaah lain agar mengikuti saya. Tidak mungkin itu saya lakukan. Tapi kalau ada di antara mereka mau ikut, silahkan. Saya tidak mungkin pula melarangnya.’
’Sayang sekali, pak. Apakah umat Islam di negeri kita akan begini terus? Selalu sulit dipersatukan?’ ungkapnya kecewa.
’Mudah-mudahan satu saat nanti akan ada perubahan. Mudah-mudahan ada jalan keluarnya,’ jawabku asal-asalan.
’Apakah bapak melihat jalan keluar itu?’ tanyanya lagi.
’Mungkin suatu saat nanti pemerintah bisa lebih tegas. Misalnya, diawali dengan mengajak para ahli hisab untuk bersama-sama menghitung peredaran bulan dalam satu tahun. Persis seperti yang dilakukan pemerintah ketika akan menetapkan hari-hari besar. Pemerintah seyogianya melibatkan sebanyak mungkin ahli hisab yang mewakili setiap organisasi massa umat Islam. Sesudah dimusyawarahkan seperti itu, baru dituntaskan dan ditetapkan dengan sebuah ketetapan pemerintah yang tidak boleh lagi dibatalkan. Tentu saja pemerintah harus pula mensosialisasikan kenyataan bahwa untuk melihat bulan di penghujung setiap bulan qamariah itu, lebih banyak kemungkinan gagalnya karena negeri kita sangat berawan. Nah, kalau sudah ditetapkan begitu, tidak boleh ada lagi perhitungan susulan. Tidak boleh ada lagi yang membatalkan ketetapan itu. Dengan demikian barulah semua orang harus benar-benar tunduk kepada keputusan pemerintah. Keputusan ’ulil amri’. Begitu pendapat saya,’ aku mencoba menjelaskan panjang lebar.
’Wah. Bukankah itu sebuah jalan keluar yang sangat elok pak. Kenapa tidak bapak usulkan saja langsung kepada pemerintah agar melakukan seperti itu?’
’Nantilah, kalau saya sudah berkenalan dengan salah seorang menteri,’ jawabku tersenyum.
’Betul, pak. Pendapat bapak itu sangat masuk akal. Dan mudah-mudahan dengan cara seperti itu tidak akan ada lagi jamaah dalam satu mesjid berhariraya di hari yang berbeda,’ tambahnya bersemangat.
Malam harinya, sesudah shalat isya, aku meninggalkan mesjid ketika jamaah bersiap-siap akan melakukan shalat tarawih. Shalat tarawih mereka yang terakhir. Ada beberapa orang jamaah lain yang juga ikut keluar. Aku menggumamkan takbir dalam hati disela-sela langkahku menuju rumah. Allaahu Akbar Allaahu Akbar Allaahu Akbar, Laa ilaaha illa ‘Llaahu wAllahu Akbar – Allaahu Akbar waliLlaahil hamd. Allaahu Akbar – Allaahu Akbar – Allaahu Akbar Allaahu Akbar Kabiiran, walhamdu liLlaahi katsiiran, wa subhanaLlaahi bukratan wa ashiila, Laa ilaaha illa ‘Llaahu wAllaahu Akbar – Allaahu Akbar waliLlaahil hamd.
Allah Maha Besar, segala puji hanya kepunyaan Allah. Takbir yang menggema, kali ini hanya dalam rongga dadaku saja
Jatibening, awal Syawal 1428H.
*****
Monday, March 3, 2008
KETUPAT LEBARAN (1427)
KETUPAT LEBARAN (1427)
Telah datang Ramadhan 1427 hijriyah. Tapi tidak lama, hanya sebulan diapun berlalu. Begitu cepatnya waktu berjalan. Berlari di antara waktu berbuka dan sahur. Di antara shalat subuh dan maghrib. Berulang-ulang untuk beberapa hari untuk kemudian usai dan selesai. Sementara sebagian umat begitu-begitu jua. Berselingkit pingkit mempertaruhkan segala-galanya di penghujung bulan, membela-belakan...... mudik. Yang tiba-tiba saja sudah menjadi wajib pula. Yang rela dicapai dengan pengorbanan tak berperi. Bahkan dengan mengorbankan nyawa dan kehancuran motor honda yang dibeli cicil sekalipun. Entah kenapa mesti mudik. Entah apa yang dituju sebenarnya di udik itu.
Padahal. ‘Seandainya umatku mengetahui keistimewaan bulan Ramadhan niscaya mereka akan menginginkan agar sepanjang tahun adalah Ramadhan,’ sabda Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam. Karena Ramadhan seutuhnya sangat istimewa. Bulan yang penuh rahmat. Jauh lebih banyak pemberian dan kasih sayang Allah di bulan itu. Allah Yang Maha Pemurah memberikan kebajikan sepuluh kali lipat dari setiap kebaikan yang dilakukan hamba-Nya yang beriman. ‘Man jaa a bil hasanati fa laHuu ‘asyru amtsaa liHaa’ firman Allah dalam surah Al An’am ayat 160. ‘Siapa yang berbuat kebajikan akan memperoleh sepuluh kali lipat kebaikan.’ Itu kondisi biasa. Kondisi sehari-hari.
Yang dibulan Ramadhan justru akan dilipatgandakan lebih banyak lagi oleh Allah subhanaHu wa ta’ala, yang hanya Allah ta’ala saja yang tahu berapa besar ganjarannya. Karena Allah berfirman dalam sebuah hadits qudsiy, ‘Kulluu ‘aamalibnu Adamu laHuu, illashshiyam. FainnaHuu liy, wa Ana ajrubiHii.’ (Setiap amal anak Adam adalah untuk dirinya kecuali puasa. Puasa itu untuk-Ku dan Aku yang akan membalasnya.) Allah akan memberikan ganjaran khusus untuk amalan puasa setiap hambanya yang beriman yang dilakukan mereka dengan ‘iimanan wahtisaaban’. Yang dilakukan mereka dengan dasar iman dan patuh kepada Allah semata. Yang dilaksanakan dengan penuh keberhati-hatian agar terhindar dari hal-hal yang mungkin mengurangi nilai puasa itu atau bahkan membatalkannya.
Dan Ramadhan adalah bulan penuh ampunan Allah. Siapakah di antara kita, manusia yang lemah ini yang tidak berdosa. Berdosa akibat mulut terdorong, akibat tangan terpanjangkan, akibat kaki salah langkah, akibat telinga salah dengar, akibat mata salah lihat, akibat segala kekeliruan yang kita lakukan. Dan Allah Yang Maha Pengampun memberikan kesempatan lebih khusus di bulan ini mengampuni hamba-hamba-Nya yang meminta ampun kepada-Nya. Allah mengampuni segala macam dosa selama hamba yang memohon ampun itu bersungguh-sungguh dalam permohonannya. Sebesar apapun dosa itu. Selama hamba yang berdosa itu bertaubat dengan taubatan nashusa.
Setiap pribadi yang beriman kepada Allah dan hari akhirat pastilah beriman dengan keberadaan neraka Allah yang bernyala-nyala yang disediakan Allah untuk mereka-mereka yang durhaka kepada Allah. Orang-orang durhaka itu akan dimasukkan ke dalam neraka itu sesuai dengan takaran kedurhakaannya. Ada yang hanya ’sebentar’ di dalamnya ada yang akan kekal berada disana. Dan di dalam neraka Allah itu ada derita tak berujung. Ada kepedihan tak berujung. Ada api yang membakar dengan pedih yang menusuk ke hulu hati. Sebentar? Se sebentar-sebentarnya waktu akhirat, seharinya setara dengan seribu tahun waktu kehidupan di dunia. Orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari akhirat menyadari itu. Namun orang-orang yang beriman meyakini pula janji Allah melalui lisan Rasulullah bahwa Allah menjamin pembebasan dari siksa neraka Allah yang bernyala-nyala itu, ketika mereka, orang-orang yang beriman, yang berpuasa ’iimanan wahtisaban’ di bulan Ramadhan, memohon di sepuluh hari terakhir Ramadhan agar mereka dihindarkan dari siksa tersebut.
Rahmat Allah yang berlebih dari biasanya. Ampunan Allah yang lebih dari biasanya. Jaminan Allah agar terhindar dari siksa neraka. Allah berikan hanya dibulan Ramadhan. Bagaimana mungkin umat Rasulullah yang memahaminya tidak akan berharap agar kiranya sepanjang tahun hanya Ramadhan belaka.
’Iimanan wahtiisaban.’ Atas dasar iman dan penuh keberhati-hatian. Atas dasar iman bahwa puasa ini adalah perintah Allah maka dia tunduk patuh melaksanakannya. Bukan karena yang lain-lain. Bukan karena merasa tertantang untuk beradu kuat menahan haus dan lapar sekitar tiga belas jam sehari untuk kemudian merasa gagah bahwa dia ternyata mampu. Karena sepertinya ada orang yang seperti itu. Rajin puasanya. Tapi anehnya dia tidak shalat. Masya Allah. Atau dia shalat juga sekadar ’calak-calak ganti asah’, sekedarnya saja. Karena pada dasarnya, sehari-hari dia tidak shalat.
Dan puasa yang dilakukan dengan penuh keberhati-hatian, agar jangan sampai ternodai oleh hal-hal yang pasti tidak diridhai Allah. Dia tahan segenap anggota tubuhnya untuk tidak melanggar hal-hal yang mungkin akan mengurangi atau merusak nilai puasanya. Dia tahan mulutnya agar tidak bergunjing atau mengeluarkan kata-kata yang menyakitkan. Dia tahan matanya agar tidak jelalatan memandang hal-hal yang tidak halal untuk dilihat. Dia tahan telinganya dari mendengarkan omong kosong dan tipuan yang menggoda. Dan tangannya. Dan kakinya. Dia jaga dari melakukan hal-hal yang tidak boleh dan tidak pantas dikerjakan.
Karena Ramadhan sejatinya adalah bulan latihan. Latihan mengendalikan diri dan hawa nafsu. Ketika orang-orang yang beriman diperintahkan menahan diri bahkan dari sesuatu yang halal untuk mereka lakukan di hari-hari yang lain. Dalam jangka waktu sebulan penuh. Sepertinya memang tidak mudah. Paling tidak seperti terlihat dari menurunnya jumlah jamaah shalat tarawih. Yang membeludak di hari-hari pertama tapi dengan pasti melorot makin ke penghujung.
Dan Allah menjanjikan ganjaran yang berlipat ganda untuk usaha yang memang tidak mudah itu. Janji Allah pasti adanya. Maka, bagaimana mungkin seorang yang benar-benar beriman tidak akan berdesir darahnya, penuh harap dan penuh kebahagiaan tatkala usianya menjelang dan menghampiri sebuah Ramadhan. Penuh harap akan ikut mendapatkan rahmat Allah. Penuh harap akan mendapatkan ampunan Allah serta pemeliharaan Allah dari api neraka. Penuh harap dan cita-cita, kiranya dia akan termasuk salah satu pemenang di penghujungnya nanti, mendapatkan predikat ’muttaqiin’.
Demikian harapan hamba-hamba Allah yang jujur. Mereka yang dengan jujur mengakui bahwa dia adalah hamba yang dhaif. Yang lemah. Banyak sudah dosa yang dia lakukan. Banyak kekeliruan yang sudah dia perbuat. Entah tersengaja ataupun bukan. Dia menyadari semua itu. Seandainya Allah tidak mengampuni dosanya, betapa akan celakanya dia. Dia yakin dengan janji Allah. Dia yakin dengan ancaman Allah baik di dunia maupun di akhirat kelak. Dan dia tidak sanggup membayangkan siksa yang akan diterimanya nanti di akhirat sana. Kepada siapa lagi dia akan minta pertolongan? Akan minta perlindungan? Kalau bukan kepada Allah?
Detak jantung penuh harap itu semakin berpacu menjelang usainya Ramadhan. Akankah? Akankah dia meraihnya? Akankah rahmat, maghfirah dan itkun minannaar itu diperoleh? Tahun ini? Karena tahun depan belum tentu dia masih akan hadir. Duduknya semakin khusyuk di mesjid. Dalam zikir dan doa.
Ramadhan itupun berakhir sudah. Terlepas dari perbedaan keyakinan yang menghitung dua puluh sembilan hari atau menggenapkan tiga puluh hari. Masing-masing tentu dengan keyakinan yang dilandasi oleh ilmu dari Allah. Tidaklah untuk dipertentang-tentangkan. ’Wa litukmilul’iddata wa litukabbirullaaHa ’alaa maa Hadaa kum wa la’allakaum tasykuruun.’ ’Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangan bulan dan mengagungkan Allah, karena Dia telah menunjuki kamu. Dan mudah-mudahan kamu bersyukur.’
Dan kini, Ramadhan 1427 Hijriyah sudah usai. Sudah berlalu dan tidak akan kembali lagi. Sudah pergi membawa serta laporan amalan setiap shaimin-shaimat. Dengan segala pencapaiannya masing-masing. Dengan kualitas yang berbeda-beda. Yang kemarin itu tidak akan kembali lagi. Yang akan datang ? Wallahu a’lam.
Dan takbir menggema diseluruh pelosok mengagungkan asma Allah. AllaaHu Akbar – AllaaHu Akbar – AllaaHu Akbar. Laa ilaaHa illa ‘LlaaHu waLlaaHu Akbar. AllaaHu Akbar walilLaaHil hamd. Menggema mengagungkan asma Allah sekaligus dengan luapan kegembiraan. Karena telah berhasil menjalani bulan ujian itu. Telah berusaha maksimal selama Ramadhan. Dengan puasa yang didasari keimanan kepada Allah semata dan dilakukan dengan penuh hati-hati. Disertai amalan-amalan lain yang dilakukan dengan penuh keikhlasan. Shalat malamnya. Tadarus al Qurannya. Zikirnya. Sadaqahnya. Infaqnya. Mudah-mudahan kita termasuk salah satu dari orang-orang yang beriman itu. Yang puasa Ramadhannya mendapat ganjaran maksimal dari Allah. Yang setiap ibadah selama Ramadhan lalu itu diridhai Allah. Wahai, betapa indahnya jika benar demikian.
Tantangan berikutnya adalah hari-hari esok. Seberapa kuat pengaruh latihan sebulan Ramadhan itu akan membekas kepada kita. Dalam mempertahankan keteguhan iman kita kepada-Nya. Pengendalian diri agar tidak menyimpang dari jalan-Nya yang lurus.
Jatibening, penghujung Ramadhan 1427H.
******
Telah datang Ramadhan 1427 hijriyah. Tapi tidak lama, hanya sebulan diapun berlalu. Begitu cepatnya waktu berjalan. Berlari di antara waktu berbuka dan sahur. Di antara shalat subuh dan maghrib. Berulang-ulang untuk beberapa hari untuk kemudian usai dan selesai. Sementara sebagian umat begitu-begitu jua. Berselingkit pingkit mempertaruhkan segala-galanya di penghujung bulan, membela-belakan...... mudik. Yang tiba-tiba saja sudah menjadi wajib pula. Yang rela dicapai dengan pengorbanan tak berperi. Bahkan dengan mengorbankan nyawa dan kehancuran motor honda yang dibeli cicil sekalipun. Entah kenapa mesti mudik. Entah apa yang dituju sebenarnya di udik itu.
Padahal. ‘Seandainya umatku mengetahui keistimewaan bulan Ramadhan niscaya mereka akan menginginkan agar sepanjang tahun adalah Ramadhan,’ sabda Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam. Karena Ramadhan seutuhnya sangat istimewa. Bulan yang penuh rahmat. Jauh lebih banyak pemberian dan kasih sayang Allah di bulan itu. Allah Yang Maha Pemurah memberikan kebajikan sepuluh kali lipat dari setiap kebaikan yang dilakukan hamba-Nya yang beriman. ‘Man jaa a bil hasanati fa laHuu ‘asyru amtsaa liHaa’ firman Allah dalam surah Al An’am ayat 160. ‘Siapa yang berbuat kebajikan akan memperoleh sepuluh kali lipat kebaikan.’ Itu kondisi biasa. Kondisi sehari-hari.
Yang dibulan Ramadhan justru akan dilipatgandakan lebih banyak lagi oleh Allah subhanaHu wa ta’ala, yang hanya Allah ta’ala saja yang tahu berapa besar ganjarannya. Karena Allah berfirman dalam sebuah hadits qudsiy, ‘Kulluu ‘aamalibnu Adamu laHuu, illashshiyam. FainnaHuu liy, wa Ana ajrubiHii.’ (Setiap amal anak Adam adalah untuk dirinya kecuali puasa. Puasa itu untuk-Ku dan Aku yang akan membalasnya.) Allah akan memberikan ganjaran khusus untuk amalan puasa setiap hambanya yang beriman yang dilakukan mereka dengan ‘iimanan wahtisaaban’. Yang dilakukan mereka dengan dasar iman dan patuh kepada Allah semata. Yang dilaksanakan dengan penuh keberhati-hatian agar terhindar dari hal-hal yang mungkin mengurangi nilai puasa itu atau bahkan membatalkannya.
Dan Ramadhan adalah bulan penuh ampunan Allah. Siapakah di antara kita, manusia yang lemah ini yang tidak berdosa. Berdosa akibat mulut terdorong, akibat tangan terpanjangkan, akibat kaki salah langkah, akibat telinga salah dengar, akibat mata salah lihat, akibat segala kekeliruan yang kita lakukan. Dan Allah Yang Maha Pengampun memberikan kesempatan lebih khusus di bulan ini mengampuni hamba-hamba-Nya yang meminta ampun kepada-Nya. Allah mengampuni segala macam dosa selama hamba yang memohon ampun itu bersungguh-sungguh dalam permohonannya. Sebesar apapun dosa itu. Selama hamba yang berdosa itu bertaubat dengan taubatan nashusa.
Setiap pribadi yang beriman kepada Allah dan hari akhirat pastilah beriman dengan keberadaan neraka Allah yang bernyala-nyala yang disediakan Allah untuk mereka-mereka yang durhaka kepada Allah. Orang-orang durhaka itu akan dimasukkan ke dalam neraka itu sesuai dengan takaran kedurhakaannya. Ada yang hanya ’sebentar’ di dalamnya ada yang akan kekal berada disana. Dan di dalam neraka Allah itu ada derita tak berujung. Ada kepedihan tak berujung. Ada api yang membakar dengan pedih yang menusuk ke hulu hati. Sebentar? Se sebentar-sebentarnya waktu akhirat, seharinya setara dengan seribu tahun waktu kehidupan di dunia. Orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari akhirat menyadari itu. Namun orang-orang yang beriman meyakini pula janji Allah melalui lisan Rasulullah bahwa Allah menjamin pembebasan dari siksa neraka Allah yang bernyala-nyala itu, ketika mereka, orang-orang yang beriman, yang berpuasa ’iimanan wahtisaban’ di bulan Ramadhan, memohon di sepuluh hari terakhir Ramadhan agar mereka dihindarkan dari siksa tersebut.
Rahmat Allah yang berlebih dari biasanya. Ampunan Allah yang lebih dari biasanya. Jaminan Allah agar terhindar dari siksa neraka. Allah berikan hanya dibulan Ramadhan. Bagaimana mungkin umat Rasulullah yang memahaminya tidak akan berharap agar kiranya sepanjang tahun hanya Ramadhan belaka.
’Iimanan wahtiisaban.’ Atas dasar iman dan penuh keberhati-hatian. Atas dasar iman bahwa puasa ini adalah perintah Allah maka dia tunduk patuh melaksanakannya. Bukan karena yang lain-lain. Bukan karena merasa tertantang untuk beradu kuat menahan haus dan lapar sekitar tiga belas jam sehari untuk kemudian merasa gagah bahwa dia ternyata mampu. Karena sepertinya ada orang yang seperti itu. Rajin puasanya. Tapi anehnya dia tidak shalat. Masya Allah. Atau dia shalat juga sekadar ’calak-calak ganti asah’, sekedarnya saja. Karena pada dasarnya, sehari-hari dia tidak shalat.
Dan puasa yang dilakukan dengan penuh keberhati-hatian, agar jangan sampai ternodai oleh hal-hal yang pasti tidak diridhai Allah. Dia tahan segenap anggota tubuhnya untuk tidak melanggar hal-hal yang mungkin akan mengurangi atau merusak nilai puasanya. Dia tahan mulutnya agar tidak bergunjing atau mengeluarkan kata-kata yang menyakitkan. Dia tahan matanya agar tidak jelalatan memandang hal-hal yang tidak halal untuk dilihat. Dia tahan telinganya dari mendengarkan omong kosong dan tipuan yang menggoda. Dan tangannya. Dan kakinya. Dia jaga dari melakukan hal-hal yang tidak boleh dan tidak pantas dikerjakan.
Karena Ramadhan sejatinya adalah bulan latihan. Latihan mengendalikan diri dan hawa nafsu. Ketika orang-orang yang beriman diperintahkan menahan diri bahkan dari sesuatu yang halal untuk mereka lakukan di hari-hari yang lain. Dalam jangka waktu sebulan penuh. Sepertinya memang tidak mudah. Paling tidak seperti terlihat dari menurunnya jumlah jamaah shalat tarawih. Yang membeludak di hari-hari pertama tapi dengan pasti melorot makin ke penghujung.
Dan Allah menjanjikan ganjaran yang berlipat ganda untuk usaha yang memang tidak mudah itu. Janji Allah pasti adanya. Maka, bagaimana mungkin seorang yang benar-benar beriman tidak akan berdesir darahnya, penuh harap dan penuh kebahagiaan tatkala usianya menjelang dan menghampiri sebuah Ramadhan. Penuh harap akan ikut mendapatkan rahmat Allah. Penuh harap akan mendapatkan ampunan Allah serta pemeliharaan Allah dari api neraka. Penuh harap dan cita-cita, kiranya dia akan termasuk salah satu pemenang di penghujungnya nanti, mendapatkan predikat ’muttaqiin’.
Demikian harapan hamba-hamba Allah yang jujur. Mereka yang dengan jujur mengakui bahwa dia adalah hamba yang dhaif. Yang lemah. Banyak sudah dosa yang dia lakukan. Banyak kekeliruan yang sudah dia perbuat. Entah tersengaja ataupun bukan. Dia menyadari semua itu. Seandainya Allah tidak mengampuni dosanya, betapa akan celakanya dia. Dia yakin dengan janji Allah. Dia yakin dengan ancaman Allah baik di dunia maupun di akhirat kelak. Dan dia tidak sanggup membayangkan siksa yang akan diterimanya nanti di akhirat sana. Kepada siapa lagi dia akan minta pertolongan? Akan minta perlindungan? Kalau bukan kepada Allah?
Detak jantung penuh harap itu semakin berpacu menjelang usainya Ramadhan. Akankah? Akankah dia meraihnya? Akankah rahmat, maghfirah dan itkun minannaar itu diperoleh? Tahun ini? Karena tahun depan belum tentu dia masih akan hadir. Duduknya semakin khusyuk di mesjid. Dalam zikir dan doa.
Ramadhan itupun berakhir sudah. Terlepas dari perbedaan keyakinan yang menghitung dua puluh sembilan hari atau menggenapkan tiga puluh hari. Masing-masing tentu dengan keyakinan yang dilandasi oleh ilmu dari Allah. Tidaklah untuk dipertentang-tentangkan. ’Wa litukmilul’iddata wa litukabbirullaaHa ’alaa maa Hadaa kum wa la’allakaum tasykuruun.’ ’Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangan bulan dan mengagungkan Allah, karena Dia telah menunjuki kamu. Dan mudah-mudahan kamu bersyukur.’
Dan kini, Ramadhan 1427 Hijriyah sudah usai. Sudah berlalu dan tidak akan kembali lagi. Sudah pergi membawa serta laporan amalan setiap shaimin-shaimat. Dengan segala pencapaiannya masing-masing. Dengan kualitas yang berbeda-beda. Yang kemarin itu tidak akan kembali lagi. Yang akan datang ? Wallahu a’lam.
Dan takbir menggema diseluruh pelosok mengagungkan asma Allah. AllaaHu Akbar – AllaaHu Akbar – AllaaHu Akbar. Laa ilaaHa illa ‘LlaaHu waLlaaHu Akbar. AllaaHu Akbar walilLaaHil hamd. Menggema mengagungkan asma Allah sekaligus dengan luapan kegembiraan. Karena telah berhasil menjalani bulan ujian itu. Telah berusaha maksimal selama Ramadhan. Dengan puasa yang didasari keimanan kepada Allah semata dan dilakukan dengan penuh hati-hati. Disertai amalan-amalan lain yang dilakukan dengan penuh keikhlasan. Shalat malamnya. Tadarus al Qurannya. Zikirnya. Sadaqahnya. Infaqnya. Mudah-mudahan kita termasuk salah satu dari orang-orang yang beriman itu. Yang puasa Ramadhannya mendapat ganjaran maksimal dari Allah. Yang setiap ibadah selama Ramadhan lalu itu diridhai Allah. Wahai, betapa indahnya jika benar demikian.
Tantangan berikutnya adalah hari-hari esok. Seberapa kuat pengaruh latihan sebulan Ramadhan itu akan membekas kepada kita. Dalam mempertahankan keteguhan iman kita kepada-Nya. Pengendalian diri agar tidak menyimpang dari jalan-Nya yang lurus.
Jatibening, penghujung Ramadhan 1427H.
******
KETUPAT LEBARAN (1426)
KETUPAT LEBARAN (1426)
Setiap kehidupan berlalu dalam suatu siklus perulangan keteraturan yang nyaris abadi. Sebuah keteraturan yang berulang seperti teraturnya matahari terbit dan terbenam. Seperti teraturnya perputaran siang dan malam. Seperti teratur datangnya waktu-waktu shalat. Seperti teraturnya peredaran bulan di langit yang diawali dengan manzilah tipis. Lalu semakin berisi. Lalu semakin membulat purnama untuk kemudian bergerak lagi turun semakin kecil menuju bentuk kelopak tua. Sebelum menghilang dan memulai lagi urut-urutan yang sama. Keteraturan peredaran bulan itu bahkan dapat digunakan manusia untuk alat pengenal waktu. 'Yas aluu naka 'anil ahillah. Qul hiya mawaaqiitu linnasi wal hajj' (Mereka bertanya kepadamu tentang besar kecilnya bulan. Katakanlah, 'bulan itu menunjukkan tanda-tanda waktu bagi manusia dan untuk menentukan waktu berhaji.' (Q2-189)).
Bulan-bulan waktu itu selalu datang dan pergi dalam keteraturan yang nyaris abadi. Dianya akan tetap berputar seperti itu insya Allah sampai hari kiamat. Sampai Allah Sang Maha Pencipta menetapkan lain. Sya'ban berlalu Ramadhan datang. Ramadhan usai Syawal menjelang. Begitu terus. Dan manusia menumpang menghitung perjalanan waktu hidupnya diantara Ramadhan-Ramadhan yang dilaluinya itu, sampai akhirnya dia terpaksa mengalah dalam usianya yang singkat. Ramadhan demi Ramadhan bagaikan makhluk lincah berlompatan yang satu sesudah yang lain.
Sebuah Ramadhan baru saja berlalu mengiringi terbenamnya matahari sore hari tadi. Membawa kesaksian pengabdian hamba-hamba Allah yang beriman. Yang sebelum Ramadhan itu datang diseru ulang untuk menjalankan sebuah perintah Allah 'azza wa jalla, yakni perintah menjalankan puasa, menahan diri dari gejolak hawa nafsu. Menahan diri dan mengendalikan hawa nafsu itu sedemikian rupa agar jatuh tersungkur kedalam sebuah kepatuhan total kepada Sang Khaliq. Pengendalian dan pengekangan dari penyimpangan yang mungkin terjadi melalui setiap anggota panca indera. Ada saja mereka yang patuh total menahan diri itu. Ada saja mereka yang setengah-setengah dalam menahan diri itu. Ada saja mereka yang sebegitu beraninya menantang perintah yang tidak sulit itu.
Manusia yang dibekali akal, selera dan nafsu memang harus menapaki hidup dengan penuh hati-hati, kalau ingin selamat baik untuk kehidupan dunia maupun untuk menghadang kehidupan akhirat. Terdorong akal takabur jadinya. Terdorong selera akan membawa penyakit. Terdorong nafsu miriplah dia dengan hewan. Maka Allah bekali pula manusia itu dengan hati dan kecenderungan kepada kebenaran. Dan kebenaran yang hakiki itu datangnya hanya dari Allah semata. Hati yang mau menuruti kebenaran yang datang dari Allah itulah yang dimiliki oleh orang-orang yang beriman. Orang-orang beriman yang diseru untuk patuh menjalankan perintah-perintah Allah termasuk perintah menjalankan ibadah puasa di bulan Ramadhan.
Perintah pengendalian diri. Dimulai dengan pengendalian selera makan minum. Dan pengendalian nafsu biologis. Dan pengendalian nafsu berkata-kata yang tidak perlu. Pengendalian dari mendengar kata-kata yang tidak bermanfaat yang cenderung mengarah kepada yang tidak senonoh. Dan pengendalian mata dari memelototi hal-hal yang tidak pantas untuk dilihat. Pengendalian jiwa dari khayalan-khayalan porno. Semua itu. Semua itu dilatih dalam Ramadhan. Dan itu bukanlah latihan yang mudah. 'Betapa banyak orang yang berpuasa tapi yang mereka dapatkan tidak lebih dari rasa lapar dan haus,' sabda Rasulullah shalallahu 'alaihi wasallam. Karena meskipun mereka berhasil mengendalikan rasa lapar dan haus namun mereka gagal total dalam mengendalikan diri dari kata-kata kosong. Dari mata yang jelalatan. Dari tangan-tangan kotor mereka untuk menggerayangi hal-hal yang tidak halal. Entah itu mengambil hak orang lain. Entah itu menzhalimi orang lain. Entah itu membuat persekongkolan jahat untuk memenuhi nafsu serakah. Meskipun mereka puasa pula. Nilai puasa mereka itu tidak ada di sisi Allah.
Berbagai ragam kepatuhan mereka-mereka yang diseru. Bermacam-macam cara mereka-mereka menyikapi perintah Allah itu. Ada yang maksimal usahanya. Ada yang penuh keberhati-hatian. Namun tidak kurang pula yang asal-asalan. Yang sekedar ikut-ikutan. Bahkan ada pula yang menghindar dengan kesombongan. Dengan seribu dalih. Padahal Allah Maha Tahu dengan apa yang mereka perbuat. Seandainya saja kita termasuk kedalam golongan orang-orang yang Allah berkenan dengan ibadah Ramadhan yang lalu itu. Yang Allah ridha dengan apa yang kita lakukan selama bulan Ramadhan itu. Baik puasanya. Maupun ibadah-ibadah malamnya. Sadaqahnya, infaqnya, zakatnya. Tadarus al Qurannya. i'tikafnya. Silaturrahmi sesama jamaahnya. Bahkan tidur diantara waktu-waktu sempitnya. Seandainya saja kekeliruan-keliruan kecil kita yang perbuat juga namun kita cepat-cepat minta ampun kepada Allah, lalu Allah segera mengampuninya. Seandainya saja kita termasuk orang yang mempunyai kesabaran untuk mengendalikan diri selama bulan Ramadhan itu, dan pengendalian diri itupun dinilai oleh Allah. Betapa akan bahagianya kita mendapatkan pahala dari sisi Allah. Betapa akan berbahagianya kita ketika Allah mengakui bahwa jiwa kita dinilai Allah kembali fitri, suci murni seperti ketika kita baru saja dilahirkan ibu kita. Dan tentulah kita akan berusaha keras menikmati kebersihan jiwa itu selama mungkin. Menjaga agar ianya jangan segera pula menjadi cacat dan kotor kembali oleh berbagai dosa.
Karena kita tidak tahu entahkah kita akan berjumpa kembali dengan Ramadhan berikutnya. Siapa tahu tepian tempat kita berlabuh sudah semakin dekat. Siapa tahu perputaran waktu yang sangat teratur itu sudah membawa kita kepada akhir petualangan dunia. Dan seandainya demikian apa lagi yang dapat kita perbuat?
Menyempurnakan bilangan hari puasa di bulan Ramadhan telah menyentakkan hati kita untuk taat dan patuh kepada Allah semata. Untuk mengakui keesaan Allah dan oleh karenanya semua ibadah hanya tertuju bagiNya semata. 'Walitukmilul 'iddata walitukabbirullaaha 'alaa maa hadaakum wa la'allakum tasykuruun'. (Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangan hari berpuasa dan mengagungkan Allah karena Dia telah menunjuki kamu. Mudah-mudahan kamu bersyukur. (Q2 - 185)).
Dan sesudah berakhirnya bilangan Ramadhan bergemuruhlah gema takbir mengagungkan asma Allah. Allaahu Akbar - Allaahu Akbar - Allaahu Akbar. Laa ilaha illallaahu Allaahu Akbar. Allaahu Akbar wa lillaahil hamd. Gema takbir yang merasuk kedalam relung hati. Mengakui kebesaran Allah. Tiada Tuhan selain Allah. Dan kita tidak menyembah kepada selain Allah. Dan kita mengikhlaskan beragama dengan agamaNya, meskipun orang-orang kafir tidak menyukainya. Tidak ada Tuhan selain Allah sendiri Nya. Dia membenarkan janjiNya, menolong hamba-hambaNya, menghancurkan segala rombongan musuhNya. Tidak ada Tuhan selain Allah dan Allah Maha besar.
Begitu gema takbir itu berkumandang. Laa ilaha illallaahu wa laa na'budu illaa iyyaahu mukhlishshiinalahuddiin walau karihal kaafiruun. Laa ilaha illallaahu wahdahu, sadaqaa wa'dahu, wa nashara 'abdahu, wa a'azzajundahu wa hazamal ahzaaba wahdahu. Laa ilaha illallaahu wallaahu akbar.
*****
Setiap kehidupan berlalu dalam suatu siklus perulangan keteraturan yang nyaris abadi. Sebuah keteraturan yang berulang seperti teraturnya matahari terbit dan terbenam. Seperti teraturnya perputaran siang dan malam. Seperti teratur datangnya waktu-waktu shalat. Seperti teraturnya peredaran bulan di langit yang diawali dengan manzilah tipis. Lalu semakin berisi. Lalu semakin membulat purnama untuk kemudian bergerak lagi turun semakin kecil menuju bentuk kelopak tua. Sebelum menghilang dan memulai lagi urut-urutan yang sama. Keteraturan peredaran bulan itu bahkan dapat digunakan manusia untuk alat pengenal waktu. 'Yas aluu naka 'anil ahillah. Qul hiya mawaaqiitu linnasi wal hajj' (Mereka bertanya kepadamu tentang besar kecilnya bulan. Katakanlah, 'bulan itu menunjukkan tanda-tanda waktu bagi manusia dan untuk menentukan waktu berhaji.' (Q2-189)).
Bulan-bulan waktu itu selalu datang dan pergi dalam keteraturan yang nyaris abadi. Dianya akan tetap berputar seperti itu insya Allah sampai hari kiamat. Sampai Allah Sang Maha Pencipta menetapkan lain. Sya'ban berlalu Ramadhan datang. Ramadhan usai Syawal menjelang. Begitu terus. Dan manusia menumpang menghitung perjalanan waktu hidupnya diantara Ramadhan-Ramadhan yang dilaluinya itu, sampai akhirnya dia terpaksa mengalah dalam usianya yang singkat. Ramadhan demi Ramadhan bagaikan makhluk lincah berlompatan yang satu sesudah yang lain.
Sebuah Ramadhan baru saja berlalu mengiringi terbenamnya matahari sore hari tadi. Membawa kesaksian pengabdian hamba-hamba Allah yang beriman. Yang sebelum Ramadhan itu datang diseru ulang untuk menjalankan sebuah perintah Allah 'azza wa jalla, yakni perintah menjalankan puasa, menahan diri dari gejolak hawa nafsu. Menahan diri dan mengendalikan hawa nafsu itu sedemikian rupa agar jatuh tersungkur kedalam sebuah kepatuhan total kepada Sang Khaliq. Pengendalian dan pengekangan dari penyimpangan yang mungkin terjadi melalui setiap anggota panca indera. Ada saja mereka yang patuh total menahan diri itu. Ada saja mereka yang setengah-setengah dalam menahan diri itu. Ada saja mereka yang sebegitu beraninya menantang perintah yang tidak sulit itu.
Manusia yang dibekali akal, selera dan nafsu memang harus menapaki hidup dengan penuh hati-hati, kalau ingin selamat baik untuk kehidupan dunia maupun untuk menghadang kehidupan akhirat. Terdorong akal takabur jadinya. Terdorong selera akan membawa penyakit. Terdorong nafsu miriplah dia dengan hewan. Maka Allah bekali pula manusia itu dengan hati dan kecenderungan kepada kebenaran. Dan kebenaran yang hakiki itu datangnya hanya dari Allah semata. Hati yang mau menuruti kebenaran yang datang dari Allah itulah yang dimiliki oleh orang-orang yang beriman. Orang-orang beriman yang diseru untuk patuh menjalankan perintah-perintah Allah termasuk perintah menjalankan ibadah puasa di bulan Ramadhan.
Perintah pengendalian diri. Dimulai dengan pengendalian selera makan minum. Dan pengendalian nafsu biologis. Dan pengendalian nafsu berkata-kata yang tidak perlu. Pengendalian dari mendengar kata-kata yang tidak bermanfaat yang cenderung mengarah kepada yang tidak senonoh. Dan pengendalian mata dari memelototi hal-hal yang tidak pantas untuk dilihat. Pengendalian jiwa dari khayalan-khayalan porno. Semua itu. Semua itu dilatih dalam Ramadhan. Dan itu bukanlah latihan yang mudah. 'Betapa banyak orang yang berpuasa tapi yang mereka dapatkan tidak lebih dari rasa lapar dan haus,' sabda Rasulullah shalallahu 'alaihi wasallam. Karena meskipun mereka berhasil mengendalikan rasa lapar dan haus namun mereka gagal total dalam mengendalikan diri dari kata-kata kosong. Dari mata yang jelalatan. Dari tangan-tangan kotor mereka untuk menggerayangi hal-hal yang tidak halal. Entah itu mengambil hak orang lain. Entah itu menzhalimi orang lain. Entah itu membuat persekongkolan jahat untuk memenuhi nafsu serakah. Meskipun mereka puasa pula. Nilai puasa mereka itu tidak ada di sisi Allah.
Berbagai ragam kepatuhan mereka-mereka yang diseru. Bermacam-macam cara mereka-mereka menyikapi perintah Allah itu. Ada yang maksimal usahanya. Ada yang penuh keberhati-hatian. Namun tidak kurang pula yang asal-asalan. Yang sekedar ikut-ikutan. Bahkan ada pula yang menghindar dengan kesombongan. Dengan seribu dalih. Padahal Allah Maha Tahu dengan apa yang mereka perbuat. Seandainya saja kita termasuk kedalam golongan orang-orang yang Allah berkenan dengan ibadah Ramadhan yang lalu itu. Yang Allah ridha dengan apa yang kita lakukan selama bulan Ramadhan itu. Baik puasanya. Maupun ibadah-ibadah malamnya. Sadaqahnya, infaqnya, zakatnya. Tadarus al Qurannya. i'tikafnya. Silaturrahmi sesama jamaahnya. Bahkan tidur diantara waktu-waktu sempitnya. Seandainya saja kekeliruan-keliruan kecil kita yang perbuat juga namun kita cepat-cepat minta ampun kepada Allah, lalu Allah segera mengampuninya. Seandainya saja kita termasuk orang yang mempunyai kesabaran untuk mengendalikan diri selama bulan Ramadhan itu, dan pengendalian diri itupun dinilai oleh Allah. Betapa akan bahagianya kita mendapatkan pahala dari sisi Allah. Betapa akan berbahagianya kita ketika Allah mengakui bahwa jiwa kita dinilai Allah kembali fitri, suci murni seperti ketika kita baru saja dilahirkan ibu kita. Dan tentulah kita akan berusaha keras menikmati kebersihan jiwa itu selama mungkin. Menjaga agar ianya jangan segera pula menjadi cacat dan kotor kembali oleh berbagai dosa.
Karena kita tidak tahu entahkah kita akan berjumpa kembali dengan Ramadhan berikutnya. Siapa tahu tepian tempat kita berlabuh sudah semakin dekat. Siapa tahu perputaran waktu yang sangat teratur itu sudah membawa kita kepada akhir petualangan dunia. Dan seandainya demikian apa lagi yang dapat kita perbuat?
Menyempurnakan bilangan hari puasa di bulan Ramadhan telah menyentakkan hati kita untuk taat dan patuh kepada Allah semata. Untuk mengakui keesaan Allah dan oleh karenanya semua ibadah hanya tertuju bagiNya semata. 'Walitukmilul 'iddata walitukabbirullaaha 'alaa maa hadaakum wa la'allakum tasykuruun'. (Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangan hari berpuasa dan mengagungkan Allah karena Dia telah menunjuki kamu. Mudah-mudahan kamu bersyukur. (Q2 - 185)).
Dan sesudah berakhirnya bilangan Ramadhan bergemuruhlah gema takbir mengagungkan asma Allah. Allaahu Akbar - Allaahu Akbar - Allaahu Akbar. Laa ilaha illallaahu Allaahu Akbar. Allaahu Akbar wa lillaahil hamd. Gema takbir yang merasuk kedalam relung hati. Mengakui kebesaran Allah. Tiada Tuhan selain Allah. Dan kita tidak menyembah kepada selain Allah. Dan kita mengikhlaskan beragama dengan agamaNya, meskipun orang-orang kafir tidak menyukainya. Tidak ada Tuhan selain Allah sendiri Nya. Dia membenarkan janjiNya, menolong hamba-hambaNya, menghancurkan segala rombongan musuhNya. Tidak ada Tuhan selain Allah dan Allah Maha besar.
Begitu gema takbir itu berkumandang. Laa ilaha illallaahu wa laa na'budu illaa iyyaahu mukhlishshiinalahuddiin walau karihal kaafiruun. Laa ilaha illallaahu wahdahu, sadaqaa wa'dahu, wa nashara 'abdahu, wa a'azzajundahu wa hazamal ahzaaba wahdahu. Laa ilaha illallaahu wallaahu akbar.
*****
Subscribe to:
Posts (Atom)