Tuesday, March 18, 2008

Oleh-oleh Dari Perjalanan Haji 1424H (11)

11. Zam-zam


Siti Hajar yang ditinggalkan suaminya (nabi Ibrahim a.s.) di lembah yang gersang nyaris tak berpenduduk itu, berusaha mencari air untuk minum bayinya (nabi Ismail a.s.) yang sedang kehausan. Ibu yang tabah dan sangat bertawakkal itu berlari-lari di antara dua gundukan Shafa dan Marwa sambil matanya mencoba mencari-cari kalau-kalau di sekitar tempat itu ada sumber mata air. Beliau bolak balik sampai tujuh kali antara Shafa dan Marwa, sangat boleh jadi dengan sedikit kekhawatiran dalam hatinya karena mendengar tangis bayinya itu. Proses berlari-lari sampai tujuh kali antara Shafa dan Marwa itulah yang diabadikan Allah sebagai bagian dari ibadah haji yang terus dilakukan orang yang melaksanakan ibadah haji sampai hari ini bahkan insya Allah sampai akhir jaman nanti.

Pencarian Siti Hajar tidak membuahkan hasil. Dia tidak menemukan satu titikpun disekitar tempat itu yang dapat dicurigai mengandung air. Tapi… tidak. Ternyata di dekat bayi kecil itu terbaring tiba-tiba merembes air. Siti Hajar gembira bukan kepalang. Beliau berusaha mengumpulkan aliran air yang kecil itu sebelum menciduknya. ‘Zum – zum’ (berkumpullah – berkumpullah), begitu menurut riwayat awal dikenalnya keberadaan sumur Zam - zam yang kita warisi sampai sekarang.

Janganlah disuruh pula membuktikan secara ilmiah kejadian itu. Karena keberadaan sumur Zam – zam bagaikan sebuah misteri bagi mereka yang sok ilmiah. Zam – zam adalah sebuah mu’jizat Allah.

Menurut ketetapan Allah yang berlaku dimana-mana (sunatullah) air menempati rongga-rongga atau pori-pori batuan (yang sangat umum adalah batu pasir). Di negeri kita Indonesia ini sangat ideal untuk membayangkan keberadaan air di dalam tanah. Dalam sirkulasi peredarannya, air dijatuhkan sebagai air hujan yang berasal dari awan yang sebelumnya berasal dari penguapan air laut. Di tempat yang ketinggian, di gunung-gunung dan bukit-bukit air mengalir di permukaan tanah dari tempat yang tinggi ke tempat yang rendah di sungai-sungai. Disamping itu air meresap masuk kedalam tanah mencari tempat-tempat yang berpori-pori di antara batu-batuan untuk seterusnya mengalir pula di bawah permukaan tanah. Di lembah-lembah sering kita temui mata air, atau bahkan air memancur ke atas, yang sebenarnya adalah air yang muncul ke permukaan sebagai akibat hukum tekanan air, di tempat yang kerendahan pada saat dia mengalir dari tempat yang tinggi di perbukitan itu. Air sumur kita adalah bahagian dari air bawah tanah seperti itu.

Mari kita amati lembah Makkah yang dikelilingi oleh bukit-bukit batu. Secara kasat mata kita menyebutnya ‘bukit batu’ karena memang terdiri dari batu cadas, begitu kita mengenalnya secara awam. ‘Batu cadas’ itu adalah batuan beku menurut istilah geologi. Batuan beku merupakan pembekuan dari intrusi magma yang berasal dari dalam perut bumi dan adalah induk dari segenap material permukaan bumi (magma dalam perut bumi itu encer dan sangat panas, dengan suhu diatas 1500 derajat Celcius). Semua material muka bumi (tanah, pasir, batu-batuan yang lain) berasal dari pelapukan batuan beku akibat proses panas matahari, pergantian cuaca, yang terjadi dalam rentang waktu berjuta-juta, bahkan bermilyar tahun. Batuan beku yang masih utuh itu biasanya masif, tidak mempunyai pori atau rongga karena proses pembekuannya yang relatif singkat. Badan atau tubuh batuan beku itu tertanam sampai ke bagian bawah kulit bumi (kalau tidak akan dikatakan sampai ke pusat bumi) . Batuan beku seperti inilah yang kita temui di sekitar Makkah dan Madinah.

Ada gundukan pasir dimana-mana, yang merupakan hasil pelapukan dari batuan beku tadi itu di seantero jazirah Arab. Gundukan pasir itu memang bagus untuk meluluskan dan mengandung air. Bahkan bagus untuk menjadi batuan reservoir mengandung minyak jika tempatnya memungkinkan dibawah perut bumi. Tapi yang ada di lembah Makkah? Tidak banyak terdapat endapan batu pasir seperti itu di sekitar kota ini. Volume atau dimensi batu pasir seperti itu di lembah ini tidaklah besar seperti yang dapat dengan mudah kita lihat. Makkah umumnya di kelilingi bukit batu hasil intrusi batuan beku yang kita sebut tadi.

Baiklah, seberapa besarpun ukuran batu pasir tempat menyimpan air di lembah itu, mari kita cari sumber air yang tersimpan di dalamnya. Air ini tidak mungkin merupakan air tanah yang mengalir dari bukit-bukit batu intrusi batuan beku di sekitarnya karena batuan itu masif, tidak berpori dan tentu tidak menyimpan air. Jadi tetap ada ‘sesuatu’ yang hilang untuk menerangkan keberadaan sumur zam – zam di lembah Makkah itu.

Ada pula yang menduga-duga bahwa air zam – zam berasal dari rembesan air laut Merah di sebelah barat semenanjung Arab. Namun pendapat ini sangat mudah dipatahkan mengingat air zam – zam itu air tawar disamping tidak mungkin air laut mengintrusi sampai seratus kilometer ke daratan apalagi menembus batuan beku yang masif seperti kita sebut di atas.

Salah satu guru besar saya mengatakan bahwa air zam – zam itu diduga sebagai endapan air purba yang terperangkap dan ‘berada’ disana menempati batuan reservoir penyimpan air yang melintasi lembah Makkah. Teori inipun tidak pula mudah untuk dipahami. Berapa besar dimensinya? Kondisi apa yang menyebabkan endapan batu pasir (batuan reservoir) itu terawetkan di tengah lingkungan batuan beku? Namun, tentu saja harus dicari keterangan untuk menjelaskan keberadaan sumur zam – zam sesuai dengan sunatullah. Hanya saja tidak semua ilmu Allah dapat kita fahami dengan mudah karena keterbatasan akal kita.

Dan sumur zam – zam itu, yang diambil jutaan orang jemaah haji berjeriken-jeriken untuk dibawa kekampung halaman masing-masing, dan dikonsumsi ratusan ribu orang setiap hari, tidak pernah susut-susut airnya. Subhanallah.



*****

Oleh-oleh Dari Perjalanan Haji 1424H (10)

10. Thawaf Dan Sa’i Lagi


Hari Kamis tanggal 29 Januari atau tanggal 7 Zulhijjah, tepat delapan hari sejak kami berangkat dari Jakarta. Si Tengah sudah lebih yakin bahwa dia sudah selesai dengan ‘periode’. Sebenarnya kemarin pagi dia sudah ‘bersih’ tapi pengalaman beberapa hari sebelumnya, dia merasa bersih, lalu mandi, lalu ikut shalat zuhur ke mesjid, tapi ya Allah.... sorenya waktu mau ke mesjid shalat maghrib ternyata .... belum. ‘Begitulah wanita....’ kata istri saya suka nyeletuk. Memang......., memang begitulah wanita. Waktu si Tengah dengan mata berlinang bertanya, ‘bagaimana dong pa?’ saya jawab, semua itu adalah kekuasaan Allah. Jadi bertawakkal saja kepada Allah. Bahwa kamu tadi shalat karena berharap sudah ‘selesai’ ternyata belum, biarlah Allah saja yang menilai. Minta ampun kepada Allah di samping memohon agar diberi kemudahan oleh Allah. Begitu jawab saya agak panjang lebar.

Sebelum berangkat sebenarnya istri saya berencana mau menggunakan pil pencegah ‘haid’ tapi sebelumnya dia minta pendapat saya. Saya bilang tidak usah. Tidak usah melawan kodrat dan ketentuan Allah. Berdoa dan kemudian jalani saja. Pil itu baru ada sekarang-sekarang ini, ibadah haji sudah ada sejak 14 abad. Insya Allah kalau kita memohon kepada Allah, Allah akan menolong. Tapi waktu kita terbatas, katanya. Waktu kita insya Allah cukup. Dalam keadaan tidak suci di samping shalat hanya thawaf yang tidak boleh. Dan thawaf itu bisa dikerjakan kalau sudah bersih dari haid. Akhirnya dia terima saran saya. Tidak ada yang menggunakan obat penunda haid.

Pagi itu saya, si Tengah bersama suami istri pak dan ibu H ditemani seorang ustad dari penyelenggara berangkat ke Masjidil Haram naik omprengan. Saya ragu-ragu, apakah kami harus ke Tan’im, karena baik si Tengah maupun ibu H sudah melepas pakaian ihram mereka di kamar. Saya cenderung bahwa kami harus ke Tan’im dulu. Tapi atas saran dari ustad pembimbing yang ahli hadits kami tidak perlu ke Tan’im. Saya yang sudah terlanjur memakai pakaian ihram lagi, dengan pertimbangan bahwa nanti saya akan ikut sa’i sedangkan sa’i sunat tidak ada, jadi sekalian saja saya berniat umrah lagi, tapi oleh ustad dikatakan tidak ada dalilnya mengulang-ulang umrah seperti itu sebelum melaksanakan haji. Akhirnya saya mengalah, tidak jadi berniat umrah, tapi biarlah berpakaian ihram karena sudah terlanjur saya pakai. Ustad itu diam saja.

Ustad itu hanya akan mengantarkan saja. Nanti sesudah shalat zuhur, kami akan bertemu lagi di depan Pemadam Kebakaran tidak jauh dari ‘Jam Gadang‘ kemarin. Pak H mengusulkan agar kita berpisah saja. Maksudnya dia akan thawaf berdua dengan istrinya dan saya berdua dengan anak saya si Tengah. Tawaran itu saya terima.

Kamipun mulai thawaf. Manusia lebih padat lagi dari kemarin. Kami bergerak beringsut-ingsut di tengah-tengah lautan manusia yang subhanallah.... banyaknya. Sambil berzikir, berdoa dan kadang-kadang saya baca hafalan al Quran saya. Anak saya berpegangan di kain ihram sambil berzikir pula. Waktu saya lirik saya lihat matanya merah dengan air mata berlinang. Kami selesaikan putaran demi putaran itu dengan sabar. Udara lumayan panas karena sinar matahari pukul sepuluhan itu cukup terik. Akhirnya kami selesaikan ketujuh putaran itu dalam waktu lebih satu setengah jam. Sesudah selesai, seperti kemarin kami bergeser ke belakang sejajar dengan maqam Ibrahim untuk shalat sunat. Kami shalat di belakang rombongan jamaah lain yang juga sedang shalat. Orang ada saja yang melintas di depan kami. Tidak bisa dihindari. Bukankah mereka juga ada keperluan untuk ibadahnya, bukan sengaja untuk mengganggu. Dan seterusnya berdoa. Si Tengah pun panjang doanya. Dan katanya pula banyak permintaan teman-temannya untuk didoakan. Jadi dia doakan semua.

Setelah itu kami mampir di keran zam-zam yang sekarang baru saya tahu tempatnya. Kami minum dulu sebelum melanjutkan dengan sa’i.

Di tempat sa’ipun sepertinya lebih ramai dari kemarin. Kami jalani sa’i itu dengan sabar. Padatnya orang terasa betul ketika kami berada baik di bagian bukit Shafa maupun bukit Marwa. Hal ini disebabkan pula karena kebanyakan jemaah sengaja berhenti disana untuk berdoa. Mungkin karena kami mulai lebih awal dibandingkan dengan kemarin, hari ini kami selesai lebih awal pula. Saat hampir selesai kami lihat bapak dan ibu H yang juga sudah hampir selesai. Meskipun lumayan berdesak-desak, karena jamaah sa’i masih bergerak, saya mengajak pak dan ibu H untuk mencari tempat di jalur Marwa – Shafa. Kami dapat tempat terpisah-pisah dekat pintu masuk ke dalam mesjid. Sebenarnya bukan tempat lapang, karena tidak muat untuk berdiri dengan baik di antara dua orang jamaah yang sudah duduk. Saya pikir, biar nanti pada waktu shalat sunat, semua orang berdiri, tempat itu akan lebih baik.

Lalu terdengar azan. Orang yang sa’i mulai berhenti sambil menyambung shaf di jalan jalur sa’i. Tempat itu jadi agak longgar sedikit. Tapi bukan berarti lebih lapang untuk tempat shalat. Tempat itu hanya sekedar untuk diisi oleh jamaah yang tadi duduk berdempet ke depan dan ke belakang. Saya mendapat kira-kira lebih sedikit 60 senti untuk tempat sujud. Di depan agak ke samping ada beberapa orang jamaah wanita. Ya begitulah adanya.

Sesudah shalat zuhur kami keluar melalui pintu di samping Marwa karena kami berjanji untuk bertemu dengan ustad yang tadi mengantar di Pemadam Kebakaran dekat pintu itu. Dia belum kelihatan. Agak ke kanan sedikit terdapat tempat tukang cukur berjajar-jajar. Dengan tulisan ‘BARBAR SHOP’. Kemarin saya sudah ingin bercukur pendek, tapi antriannya agak panjang. Kali ini orang yang antri lebih sedikit. Saya beritahu pak H bahwa saya akan memotong rambut dulu dan minta agar dia menunggu sebentar. Saya masuk ke ‘BARBAR SHOP’ yang paling sebelah kiri. Dengan bahasa isyarat saya beritahu saya minta dicukur pendek. Dia tanya ‘knife or machine?’ Saya jawab ‘machine’. Five rial, dia bilang sambil menyuruh salah satu anak buahnya ‘menangani’ saya. Mungkin anak buahnya ini kurang cekatan menurut dia, mesin pencukur itu diambilnya dan dia langsung mencukur saya. Caranya mencukur terlalu kasar malahan, hingga hampir melukai telinga kanan saya. Saya peringatkan dia untuk berhati-hati. Mungkin dalam hitungan beberapa detik saja kepala saya sudah tercukur rata dengan sisa rambut yang tinggal setengah senti. Ini jatah untuk tahalul haji insya Allah. Waktu saya mau membayar, dia suruh saya membayar diluar. Kasirnya khusus menerima pembayaran saja di luar, sekalian bertugas memanggil calon client baru.

Ustad yang menemani kami ternyata sudah datang. Segera saja kami berjalan ke tempat mencegat taksi di terowongan seperti kemarin. Dengan taksi kami kembali ke pemondokan. Selesailah acara umrah si Tengah.



*****

Oleh-oleh Dari Perjalanan Haji 1424H (9)

9. Menyempurnakan Umrah

Dari informasi yang saya dapatkan, Aziziah terletak antara empat sampai lima kilometer ke Masjidil Haram. Sebenarnya saya ingin pergi shalat kesana tapi tidak tahu dengan apa saya bisa pergi dari tempat kami menginap. Dan tidak ada pula anggota rombongan yang berminat untuk kesana subuh-subuh ini. Akhirnya saya putuskan untuk mencari mesjid terdekat saja. Mesjid itu hanya sekitar dua ratus meter dari tempat tinggal kami. Namanya mesjid Abu Bakar. Mesjid yang lumayan besar tapi tentu tidak untuk dibandingkan dengan mesjid Nabawi di Madinah. Menurut perkiraan saya mesjid ini sanggup menampung sampai seribu orang jamaah. Waktu saya datang subuh-subuh hari Rabu pagi itu, sudah banyak jamaah di dalamnya. Umumnya jamaah haji yang baru datang karena mereka masih berpakaian ihram. Kali ini jamaah dari Turki yang paling banyak.

Sesudah shalat subuh saya bergegas pulang. Pagi ini kami akan berangkat ke Masjidil Haram untuk menyempurnakan umrah. Waktu bertemu saya pagi itu, si Tengah terlihat seperti habis menangis. Rupanya dia belum kunjung bersih juga sampai sore kemarin. Padahal sudah tujuh hari dia dalam keadaan tidak suci. Dan pagi ini dia tidak yakin untuk ikut thawaf. Untunglah ada seorang ibu yang juga sedang berhalangan. Saya tanyakan kepada petugas penyelenggara apakah aman meninggalkan mereka berdua saja. Menurut penyelenggara insya Allah aman. Ternyata ada juga jamaah dari rombongan lain yang tinggal di lantai atas. Akhirnya anak saya dan ibu itu tinggal.

Kami berangkat dengan menggunakan bis coaster jam setengah sembilan pagi. Sebelum berangkat fihak penyelenggara mengingatkan bagi yang mau, silahkan melakukan thawaf dan sa’i dengan rombongan-rombongan kecil dan nanti sesudah selesai agar berkumpul di bawah ‘Jam Gadang’ di sebelah kanan luar bukit Marwa. Saya sangat setuju karena kalau tidak penyelenggara akan kesulitan mengontrol kami sekitar lima puluh orang, sementara orang yang sedang melaksanakan thawaf banyak sekali. Saya putuskan untuk melakukannya berempat dengan istri dan dua anak saya.

Kami diturunkan di terowongan di luar mesjid. Dengan menggunakan escalator kami naik ke atas, ke pelataran di luar mesjid. Semua anggota rombongan masuk beriringan. Di dalam mesjid tidak ramai tapi di pelataran Ka’bah lumayan ramainya jamaah. Saya terharu dapat melihat Ka’bah lagi.

Segera kami mulai thawaf sambil berdesak-desakan dengan jamaah yang ramai itu. Para jamaah itu banyak yang berpakaian ihram dan banyak pula yang tidak. Saya tidak berusaha untuk mendekat ke Ka’bah karena ruang gerak terlalu sempit. Putaran demi putaran kami selesaikan sambil berzikir dan berdoa. Setiap kali mengawali putaran kami hanya memberi isyarat saja ke arah sudut hajar aswad. Sampai akhirnya selesai ketujuh putaran. Setelah itu kami menyingkir ke tepi. sejajar dengan maqam Ibrahim dan shalat sunat disana. Tempat yang meski sudah jauh ke belakang tapi tetap saja dilintasi jamaah lain yang lalu lalang. Kami lalu berdoa sesudah shalat. Saya yang lebih dulu selesai, memperhatikan istri saya, si Sulung dan si Bungsu berdoa dengan air mata bercucuran. Tentulah mereka punya kepentingan yang berbeda dan punya permintaan masing-masing kepada Allah SWT.

Sesudah itu kami mencari-cari tempat minum zam-zam karena sudah tidak ada lagi sumur yang turun ke bawah di pelataran Ka’bah. Mungkin karena agak pangling, kami tidak menemukan tempat minum. Kami langsung saja menuju ke bukit Shafa untuk segera memulai sa’i. Disinipun jamaah ramai sekali meski sedikit kurang dari yang thawaf. Kami dapat menyelesaikan sa’i beberapa menit sebelum masuk waktu shalat zuhur. Dan seterusnya bertahalul. Hari itu saya hanya menggunting beberapa helai rambut.

Masjidil Haram benar-benar sangat padat dengan jamaah. Maklumlah tinggal tiga hari lagi menjelang wukuf. Hampir seluruh jamaah haji saat ini berkumpul di Makkah dan sekitarnya menunggu saat wukuf. Kami yang sesudah memotong rambut bertahalul, berada di sebelah luar pintu mesjid di daerah Marwa, tidak dapat lagi masuk kedalam karena sudah penuh sesak dengan jamaah. Akhirnya kami mengambil tempat terpencar-pencar di emperan di luar pintu mesjid itu. Istri dan anak-anak, saya suruh agak ke belakang. Tidak berapa lama kemudian berkumandang azan zuhur. Saya hanya kebagian tempat sangat sempit untuk sujud di selang-seling berbaurnya jamaah laki-laki dan wanita. Waktu saya sedang shalat qabliyah, ada jamaah wanita yang berdiri di depan saya, disuruh pindah oleh seorang jamaah dari Tunisia.

Di Masjidil Haram hampir tidak mungkin mengatur shaf laki-laki hanya untuk laki-laki di depan dan shaf wanita di belakang. Laki-laki dan wanita terpaksa harus bercampur baur. Ini disebabkan karena baik thawaf maupun sa’i baru berhenti ketika azan berkumandang. Dan tidak mungkin bagi jamaah wanita untuk pindah jauh-jauh ke belakang pada saat mereka berhenti sementara thawaf atau sa’i. Namun demikian sebisanya diusahakan juga agar kelompok beberapa orang laki-laki terpisah dengan kelompok beberapa orang wanita.

Sesudah shalat zuhur kami menuju ke bawah ‘Jam Gadang’. Benar sekali, satu persatu anggota rombongan berdatangan. Setelah semua lengkap kami menuju ke tempat tadi kami di turunkan dari bus. Berjalan kaki menyeberangi jalan di terowongan yang sedang macet-macetnya oleh berjubelnya kendaraan. Kami menemukan bus yang tadi mengantar, yang rupanya memang sudah dihubungi penyelenggara. Bus yang berdiri sebentar menaikkan kami itu didatangi polisi sambil memukul-mukul bus itu dengan tongkat karet menyuruh maju agar tidak menghalangi lalu lintas di belakang kami.

Sebelum ashar kami sampai di pemondokan. Si Tengah alhamdulillah aman-aman saja. Dia merasa sudah bersih sekarang. Syukurlah, saya bilang. Dengan demikian insya Allah besok dia bisa melaksanakan thawaf dan sa’i, satu-satunya hari yang tinggal karena hari berikutnya, Jumat tanggal 8 Zulhijjah kami akan berangkat ke Mina mengawali prosesi haji.

Saya cepat-cepat mandi dan memakai pakaian biasa karena mau pergi shalat ashar ke mesjid Abu Bakar. Hanya bapak-bapak saja yang pergi shalat ke mesjid itu karena kelihatannya memang tidak ada jamaah wanita ikut shalat disana.



*****

Thursday, March 13, 2008

Oleh-oleh Dari Perjalanan Haji 1424H (8)

8. Meninggalkan Madinah


Kami berada di Madinah sampai hari Selasa tanggal 27 Januari. Syukurlah tidak pernah lagi saya luput shalat berjamaah di mesjid Nabawi sampai saat meninggalkan kota itu. Dan saya sempat ke Raudhah lagi pada hari Senin dan Selasa, keduanya pada waktu dhuha. Bermunajat disana, memohon ampun, memohon pertolongan, memohon keridhaan Allah SWT. Tentu saja saya berdoa agar kiranya Allah mengizinkan saya lagi untuk kembali berziarah ke mesjid ini kelak, entah kapan-kapan.

Dan berziarah lagi ke makam Rasulullah SAW. Assalamu’alaika ya Rasulullah…… Agak lama saya berdiri memandang ke arah makam itu, mengulang-ulang ucapan salam dan shalawat. Berat sekali rasanya dada ini waktu itu. Dan menyampaikan salam kepada Abu Bakar dan Umar. Sebelum akhirnya melangkah keluar dari pintu mesjid sebelah timur.

Sekarang tiba waktunya untuk meninggalkan kota nabi ini. Setelah kunjungan singkat lima hari. Hari Selasa itu, sepulang dari mesjid sekitar jam sembilan kurang saya buru-buru mandi lagi (subuh tadi saya sudah mandi) untuk ihram. Dan memakai dua potong kain ihram saya sebaik-baiknya. Harus dua potong, tidak boleh dilebih-lebihkan. Tidak boleh pakai underwear. Itu mutlak.

Istri dan anak-anak saya sudah lebih dahulu siap. Barang-barang bawaan kami sudah dikeluarkan dari kamar dan bahkan sudah dibawa turun ke lobby hotel untuk dinaikkan ke bus. Menurut informasi dari fihak penyelenggara kami akan berangkat sekitar jam sembilan. Tapi ternyata kemudian baru benar-benar berangkat sudah liwat jam sebelas. Padahal kami sudah duduk di bus sejak jam sembilan. Entah kenapa sampai menunggu sekian lama. Bahkan ketika semua tas-tas dan koper-koper kami sudah dinaikkan, bus-bus itu belum juga diberangkatkan. Lucunya lagi, mula-mula kami tidak diizinkan sopir bus itu turun, karena katanya sudah segera mau berangkat. Setelah menunggu sekian lama, tak urung ada yang ingin ke belakang dan memaksa untuk turun, sopir itu tidak bisa lagi melarang.

Akhirnya bus itu berangkat juga. Beriring-iring 7 buah bus, karena kami bergabung dengan rombongan besar. Berhenti sebentar untuk pengurusan pasport di check point di luar kota Madinah sebelum melanjutkan perjalanan ke Bir Ali. Di mesjid Bir Ali kami shalat zuhur dan ashar dijamak dan diqasar. Shalat berjamaah berkelompok-kelompok karena jamaah datang dan pergi. Dan kami berpisah dengan rombongan wanita.

Sudah sejak berangkat dari Madinah tadi saya merasa gejolak dalam hati. Rasa haru yang dalam. Dan saat ini acara utama rangkaian ibadah haji segera dimulai. Saya menangis lagi. Waktu shalat terisak-isak. Dan waktu melafatzkan niat umrah juga terisak-isak. Labbaika Allahumma ‘umratan ‘an Saibi bin Ismail.

Sesudah itu kami kembali ke bus masing-masing. Kali ini bertalbiyah bersahut-sahutan. Bus masih menunggu beberapa saat sebelum melanjutkan perjalanan. Di luar orang datang dan pergi ke dan dari mesjid itu. Yang datang ada yang masih belum memakai ihram tapi yang pergi semua sudah dalam berihram. Tampak pula jamaah-jamaah wanita dari India dengan mukena berwarna hitam. Dan jamaah Turki. Dan jamaah Pakistan. Yang berombongan besar. Yang berombongan kecil. Dengan keperluan yang sama belaka. Memenuhi panggilan Allah untuk datang ke Baitullah. Labbaika Allahuma Labbaik. Labbaika laa syariikalaka labbaik. Innal hamda wani’mata laka walmulk, laa syariikalak.

Kami berangkat menuju Makkah. Dengan mengumandangkan talbiyah. Kami datang memenuhi panggilan Mu ya Allah. Kami datang memenuhi panggilan Mu. Tiada sekutu bagi Mu. Sesungguhnya segala pujian, dan ni’mat dan kerajaan kepunyaan Mu, tidak ada sekutu bagi Mu. Dan air matapun bercucuran.

Anak saya si Tengah berharap hari ini dia sudah benar-benar ‘bersih’. Setelah kemarin pagi-pagi dia merasa sudah bersih, tapi sore hari terharu lagi karena ternyata belum. Alhamdulillah sampai hari ini kami semua sehat-sehat saja. Dan semua antusias, terutama anak-anak saya tentu saja. Ini adalah awal pelaksanaan umrah yang akan dilanjutkan dengan haji. Semua sudah melafatzkan niat masing-masing. Bagi saya dan istri, kami sudah meniatkannya untuk ayah kami masing-masing.

Perjalanan menuju Makkah berjalan dengan mulus dan alhamdulillah tidak ada halangan apapun. Di tempat pemeriksaan di luar kota Makkah kami mendapat hadiah dari Khadamul Harramain, dari raja Saudi, sebuah kotak berwarna hijau dengan tulisan hadiah, berisi kue-kue dan minuman kotak. Hadiah yang kelihatannya dibagikan kepada semua jamaah haji yang datang. Sampai di Makkah sudah malam selepas maghrib. Mampir dulu ke kantor maktab 106 dan sesudah itu kami menuju ke Aziziah. Menurut rencana perjalanan kami akan menginap disini sampai hari Jumat pagi. Di Aziziah kami berkumpul di satu bangunan (rumah besar) hanya rombongan kecil kami saja. Rombongan besar menempati bangunan lain. Disini jamaah wanita dan pria dipisah. Kami ditempatkan delapan sampai sepuluh orang dalam satu kamar dan masing-masih mendapat ranjang.

Rupanya sebagian jamaah ada yang langsung berangkat untuk thawaf dan sai malam itu juga. Saya tidak termasuk kelompok ini. Karena sudah kecapekan, saya cepat-cepat tidur. Pagi-paginya saya termasuk yang duluan terbangun, kira-kira jam setengah empat. Waktu itu saya lihat sudah ada yang berganti pakaian. Artinya mereka sudah tahallul, sudah selesai thawaf dan sai. Dan rupanya mereka baru saja kembali dari Masjidil Haram. Saya buru-buru mandi dan shalat malam. Jam lima liwat saya ke luar mau pergi ke mesjid. Mesjid Abu Bakar, tidak jauh dari tempat kami menginap.


*****

Oleh-oleh Dari Perjalanan Haji 1424H (7)

7. Renungan Di Mesjid Nabawi


Kadang-kadang timbul pertanyaan dalam hati saya, berapa orang kira-kira yang ikut berjamaah setiap kali waktu shalat fardu di mesjid nabi ini? Pernah saya coba menghitung secara bodoh-bodohan. Panjang mesjid ini dari kiri ke kanan (barat ke timur) saya perkirakan sekitar 600m. Lebar utara selatan paling kurang 150m. Untuk panjangnya, seandainya di setiap meter diisi dua orang maka satu shaf dari barat ke timur (dengan mengabaikan tonggak-tonggak mesjid) tentulah diisi oleh 1200 orang. Kalau satu shaf lebarnya satu meter maka dari muka ke belakang ada 150 shaf. Jadi pada saat mesjid terisi penuh, dengan hitungan bodoh-bodohan saya ada 180,000 jamaah. Bolehlah kita kurangi 10% tempat berdirinya tonggak-tonggak besar dalam mesjid, berarti masih ada lebih dari 160,000 orang yang shalat berjamaah. Dan kalau ditambah dengan yang shalat di pekarangan mesjid (pada waktu shalat Jumat misalnya) jumlah itu bisa jadi dua kali lipat. Jelas tidak sebanding dengan mesjid di kompleks tempat saya tinggal yang paling banyak mampu menampung sekitar lima ratus orang kalau diisi sampai bagian luar.

Dengan jumlah jamaah sebanyak itu, seandainya setiap jamaah memberikan manfaat/pahala ‘salam’ kepada jamaah yang lain, ketika dia menyudahi shalatnya dengan ucapan Assalamu’alaikum warahmatullah, maka..... subhanallah, betapa besarnya manfaat/pahala itu. Barangkali inilah ma’na sabda Rasulullah SAW yang mengatakan bahwa shalat di mesjid ini lebih utama dari shalat di mesjid lain 1000 kali.

Kadang-kadang, terutama pada saat menjelang shalat subuh, saya suka memperhatikan jamaah yang hadir dari segenap penjuru bumi ini. Bermacam-macam warna kulit, bermacam-macam cara berpakaian, bermacam-macam keperibadian. Tentu bermacam-macam pula status sosial mereka. Tentu bermacam-macam pula tinggi rendahnya pangkat, kekayaan, kecerdasan. Ada yang terlihat dengan pakaian rapih dan bersih, tapi ada yang terlihat dengan pakaian sederhana dan kusam. Ada yang mengenakan gamis, ada yang memakai stelan lengkap berjas dan berdasi, di subuh-subuh begini. Ada yang bersorban besar, ada yang berkopiah hitam. Ada yang tinggi besar ada yang rendah dan kecil badannya. Namun saya menduga tentang satu hal, mudah-mudahan mereka semua mempunyai tingkat keimanan yang tidak jauh berbeda, paling tidak pada waktu menjelang shalat subuh seperti ini. Saya menduga demikian karena mereka mau datang subuh-subuh ke mesjid ini, tentulah karena dorongan iman semata. Kalau bukan karena iman mungkin mereka lebih memilih tidur di penginapannya. Apalagi cuaca lumayan dingin.

Disini, di dalam mesjid yang mulia ini, luluh segala macam perbedaan tadi. Semua duduk dengan takzim dan sabar. Semua larut dalam zikir, atau dalam qiraah/bacaan al Quran. Hampir tidak ada yang mengisi waktu dengan ngobrol. Kalaupun sekali-sekali ada yang bersuara, mereka menahan suara itu agar tidak mengganggu ke kiri dan ke kanan. Disini kita semua bersaudara. Innamal mukminuuna ikhwah, sesungguhnya orang-orang beriman itu bersaudara. Tidak kira dia hitam atau putih. Tidak kira dia parlente atau lusuh. Tidak kira dia bersorban atau berkopiah. Maka tidak terlihat sekali jugapun pertengkaran di dalam mesjid ini. Tidak terlihat sekalipun ketersinggungan yang satu terhadap yang lain. Karena mereka semua menahan diri. Padahal seandainya mau, banyak alasan untuk protes. Banyak alasan untuk marah. Banyak alasan untuk berlaku kasar atau mengajak bertengkar. Seperti ketika yang satu melintas ‘seenaknya’ dihadapan kita shalat. Seperti ketika yang satu bertelekan ke kepala kita ketika dia mau melintas mencari tempat duduk. Atau ketika yang lain tiba-tiba ‘memaksakan’ ikut duduk di depan kita yang padahal sudah sempit. Tidak ada yang marah. Tidak ada yang protes. Mungkin inilah buktinya hadits Rasulullah SAW yang lain yang mengatakan iman itu berkumpul ke Madinah (Sesungguhnya iman itu pergi berhimpun ke kota Madinah seperti berhimpunnya ular-ular yang berkumpul ke sarangnya. H.R. Bukhari).

Waktu mereka masing-masing shalat sunah (qabliyah, tahiyatul masjid dsb) agak berbeda rithme shalat mereka yang satu dengan yang lain. Tapi semua itu kemudian dipersatukan oleh kebersamaan berjamaah dibawah komando seorang imam. Dan tidak ada yang protes kepada imam karena rithme shalat mereka berbeda dengan imam. Tidak ada yang menyangkal terhadap komando imam. Artinya mereka tunduk patuh atas kepemimpinan imam shalat.

Oh, ya. Dari bermacam-macam rithme atau kecepatan orang shalat, saya merasa sangat bahagia karena rithme saya hampir sama dengan rithme imam mesjid ini. Ini tercirikan dengan mudah pada saat shalat ‘sirr’ seperti shalat zuhur dan ashar. Hampir tidak berbeda waktu yang digunakan imam dengan yang saya gunakan untuk setiap bagian shalat. Berdirinya, rukuknya, i’tidalnya, sujudnya, duduk antara dua sujudnya, tasyahudnya. Kok ya hampir-hampir pas saja. Tidak berlebih-lebihan dan tidak tergesa-gesa. Bahkan saya sudah lama meniru melamakan dan memanjangkan bacaan waktu i’tidal rakaat kedua di shalat subuh seperti imam di mesjid Nabawi ini, untuk memberi kesempatan mereka yang ingin membaca doa qunut. Dan di mesjid di kompleks tempat saya tinggal dengan demikian terpersatukan yang suka dan yang tida suka dengan qunut.

Kembali ke soal kebersamaan dalam jamaah. Seandainya kebersamaan seperti ini bisa terpelihara di luar shalat, masya Allah..... Seandainya persatuan seperti ini bisa terpelihara di luar shalat berjamaah. Sayang, ini hanya sekedar angan-angan.

Waktu keluar dari mesjid, ketika berjalan beriringan dengan rombongan demi rombongan, atau berpapasan dengan rombongan yang lain, terdengarlah sayup-sayup macam-macam bahasa. Saya kenali mereka yang berbahasa Bugis, berbahasa Sunda, berbahasa Jawa, berbahasa Minang. Saya kenali mereka yang berbahasa Malaysia, berbahasa Turki (karena yang berbicara orang-orang Turki), yang berbahasa Hindustan, yang berbahasa Xin Jiang, yang berbahasa Inggeris, yang berbahasa Perancis. Mereka benar-benar datang dari segala penjuru bumi. Dan dari tulisan di punggungnya saya kenali jemaah dari Kazakhstan, dari Tajikistan, bahkan dari Bulgaria (jadi tidak hanya Kosovo). Melihat umat dari segala bangsa yang bertaburan keluar dari mesjid ini, entah kenapa menguraikan pula air mata saya. Maha Besar Engkau ya Allah yang menggerakkan hati-hati umatMu untuk berkumpul disini.




*****

Oleh-oleh Dari Perjalanan Haji 1424H (6)

6. Ziarah Di Madinah


Hari Ahad tanggal 25 Januari, hari ketiga kami berada di Madinah ada acara ziarah yang dikordinir oleh penyelenggara. Jam setengah sembilan pagi kami sudah bersiap-siap untuk berangkat. Rombongan kami yang 60 orang kembali bergabung dengan rombongan besar yang dua ratus orang lebih. Rombongan gabungan itu menggunakan tujuh buah bus. Di setiap bus ada seorang ustad pembimbing.

Tujuan pertama adalah ke mesjid Quba. Mesjid yang pertama kali dibangun Rasulullah SAW di kota ini. Sebelum berangkat kami sudah dalam keadaan berwudhuk, karena ada sebuah hadits Rasulullah SAW yang berbunyi, ‘Barangsiapa berwudhu di rumahnya dan pergi ke mesjid Quba lalu shalat di dalamnya, maka dia mendapat pahala seperti pahala umrah.’ (Hadits riwayat Ibnu Majah dan Hakim).

Mesjid Quba lumayan besar dan terpelihara kebersihannya. Bercat putih bersih. Kami memasukinya secara terpisah antara jamaah laki-laki dan wanita. Setelah shalat dua rakaat di dalamnya rombongan peziarah ini berfoto-foto di pekarangan mesjid. Saya yang pernah dua kali kesempatan sebelum ini datang untuk haji dan umrah tidak pernah mau difoto karena ingin menghindari kesan sedang piknik, kali ini jadi luluh dan mau juga dijepret oleh anak saya yang membawa kamera digitalnya.

Dari mesjid Quba kami melanjutkan kunjungan ke bukit (jabal) Uhud. Saya sekeluarga ikut naik ke bukit Uhud yang tidak seberapa tinggi. Bukit batu cadas seperti bukit-bukit lainnya di sekitar Madinah ini. Memandang ke sekitar sambil membayangkan (mengkhayalkan) suasana perang Uhud waktu itu. Tentu dari balik bukit sebelah sana Khalid bin Walid yang waktu itu memimpin tentara pasukan kafir Quraisy melakukan serangan balik ketika pasukan pemanah berlarian turun dari atas bukit ini untuk mengejar rampasan perang. Tentu dalam rombongan Khalid bin Walid itu ikut Wahsyi si ahli tombak yang berhasil melemparkan tombaknya ke dada Hamzah radiallahu anhu. Tentu disana, di dalam kompleks yang sekarang dipagari dengan tembok itu perang itu berkecamuk. Dan disitu Hamzah gugur dan kemudian dimakamkan beserta para syuhada lainnya. Tentu somewhere di bawah sini Rasulullah SAW waktu itu berdiri dibentengi oleh Ali beserta sahabat lainnya radiallahu anhum yang benar-benar pasang badan melindungi Rasulullah. Subhanallah. Disini, di tempat ini perang yang dahsyat itu terjadi waktu itu. Dan perang yang meminta korban 70 orang syuhada dari kalangan kaum Muslimin. Dan konon menurut riwayat, empat puluh enam tahun sesudah peristiwa itu, terjadi hujan lebat yang mengakibatkan banjir sehingga makam para syuhada itu diguyur air bah dan jasad para syuhada itu terbawa keluar. Dan jasad itu masih seperti itu, seperti ketika mereka dikuburkan, dengan senyuman terpancar diwajah mereka. Subhanallah. Bahkan sampai sekarangpun, saya yakin seyakin-yakinnya jasad mereka masih seperti itu. Seperti ketika mereka gugur 1400 + tahun yang lalu.
Dari bukit Uhud kami melanjutkan perjalanan ke tempat percetakan al Quran. Masuk ke dalam kompleks percetakan dan melihat pekerjaan pencetakan itu dari pelataran seperti balkon, sementara aula besar tempat mesin-mesin percetakan itu berada di bawah kami. Tidak banyak orang yang bekerja di aula itu. Pekerjaan ini dilakukan oleh mesin yang tidak banyak memerlukan tenaga manusia. Al Quran memang dicetak dalam jumlah jutaan, dengan terjemahan ke berbagai bahasa, termasuk ke bahasa Indonesia. Semua dicetak disini. Tidak lupa kami mampir ke toko yang menjual al Quran yang dicetak disana yang terletak bersebelahan dengan percetakan itu. Di toko itu dijual juga kaset maupun CD al Quran. Saya membeli beberapa mushaf al Quran dan kaset untuk oleh-oleh.

Dari percetakan itu kami menuju ke mesjid Qiblatain. Mesjid dimana perintah shalat menghadap ke Baitul Maqdis dirubah Allah menjadi ke Masjidil Haram. Kami tidak turun di mesjid ini karena waktu sudah menjelang siang. Agenda berikutnya harusnya ke pasar korma untuk berbelanja korma dan oleh-oleh. Ibu-ibu biasanya sudah punya rencana tersendiri untuk acara seperti ini. Anak-anak sayapun masing-masing punya daftar nama teman-temannya yang nanti akan dibawakan oleh-oleh. Bisa dibayangkan kalau pergi kesana, waktu shalat zuhur pasti akan terliwatkan. Untunglah akhirnya fihak panitia membatalkan acara itu dan menjanjikan akan mencarikan waktu lain sehingga kami bisa segera kembali ke pemondokan.

Sebelum pulang sambil lalu ditunjukkan juga tempat dimana dulu digali parit untuk menghadapi tentara kafir Quraisy yang bersekutu dengan kaum Yahudi di Madinah pada peperangan Ahzab. Bekas parit itu tentu saja sudah tidak terlihat lagi sekarang.

Kami sampai di depan hotel sudah jam dua belas siang, cepat sekali waktu berlalu. Turun dari bus sayup-sayup terdengar azan. Saya bergegas menuju mesjid tanpa mampir lagi ke pondokan. Istri dan anak-anak saya tetap harus naik dulu karena barang bawaan dan belanjaan mereka tidak mungkin dibawa-bawa ke mesjid.

Saya berwudhu dulu di tempat wudhu sebelum masuk ke mesjid. Dan ternyata saya hanya kebagian tempat di shaf paling belakang di mesjid yang luar biasa besar ini. Masih mendingan, karena jamaah lain ada yang shalat di pekarangan mesjid. Indahnya iman yang bertaburan di tanah Haram ini, semua seperti takut ketinggalan shalat berjamaah. Setiap kali shalat jamaah membludak sampai ke luar mesjid. Allahu Akbar.

Demikianlah acara ziarah kami pada hari itu. Sorenya sesudah ashar panitia menepati janjinya menyediakan waktu untuk ‘menziarahi’ pasar korma. Istri dan anak-anak saya ikut. Tapi saya memilih tidak ikut karena khawatir kehilangan waktu maghrib lagi.



*****

Oleh-oleh Dari Perjalanan Haji 1424H (5)

5. Ke Raudhah


Subuh berikutnya saya bangun jam empat kurang, pada saat alarm HP berbunyi. Saya segera bersiap-siap dan setelah itu membangunkan istri dan si Sulung untuk bersiap-siap pula. Pagi inipun kami pergi bertiga ke mesjid. Si Bungsu disuruh tinggal menemani kakaknya seperti kemarin. Waktu sampai di mesjid azan pertama berkumandang. Ternyata berangkat ke mesjid hampir setengah jam lebih lambat dari kemarin tidak banyak bedanya. Saya masih bisa masuk ke ‘ring’ dua dibawah tenda seperti kemarin subuh. Hal ini dikarenakan tidak semua jamaah mengisi shaf paling depan terlebih dahulu. Banyak juga jamaah yang datang langsung duduk di shaf bagian belakang mesjid. Bahkan tadinya saya ingin mencoba masuk ke bagian depan melalui babussalaam, tapi melihat jamaah berdesak-desak di pintu masuk niat itu saya batalkan.

Saya mengerjakan shalat malam dan shalat witir dengan santai dan sesudah itu masih sempat membaca al Quran beberapa halaman sebelum azan subuh berkumandang.

Imam membaca surah Ar Rahman dalam shalat subuh pagi ini. Penekanan suaranya setiap membaca ‘fabiayyiaa laa i rabbikumaa tukatztzibaan’ benar-benar mengundang sesenggukan dan haru. Wahai diri... maka nikmat tuhan mu manakah yang (masih juga) engkau dustakan?

Sesudah zikir sehabis shalat subuh saya langsung pulang. Nanti sekitar jam sembilan saya akan kembali dan pada waktu itu saya akan masuk ke Raudhah insya Allah. Saya memang tidak memaksakan untuk masuk kesana sesudah shalat subuh karena berkeyakinan sekali bahwa sesudah shalat subuh tidak ada lagi shalat sebelum matahari sempurna terbit sesuai hadits Rasulullah SAW, sedangkan masuk ke Raudhah itu sunahnya adalah dengan melakukan shalat dua rakaat lalu berdoa. Saya ingat waktu kami berdiskusi tentang tidak ada shalat sesudah shalat subuh itu di tahun sembilan puluh, persis dekat Raudhah. Seorang jamaah dari Indonesia yang saya tidak kenal nyeletuk menganjurkan saya keluar dulu lalu masuk dan mengerjakan shalat tahiyatul masjid di Raudhah. Saya tidak menerima saran itu ketika itu, karena itu rasanya main akal-akalan. Kalau tidak ada shalat sesudah subuh ya sudah, lebih baik ditunggu saja menjelang waktu dhuha.

Teman saya yang kritis memprotes lagi, kok shalat jenazah sesudah shalat subuh ikut? Saya menjawab agak sekenanya karena saya memang belum mendapat jawaban yang pas untuk itu, ‘Shalat jenazah sesudah subuh itu, kita lakukan dengan kekeliruan secara kolektif. Sebagian besar jamaah melakukannya dan tujuannya agar jenazah tidak dibiarkan menunggu untuk segera dikebumikan. Saya rasa itu pertimbangannya, jadi hukumnya agak berbeda.’ Wallahu a’lam.

Sesuai dengan yang saya rencanakan, sekitar jam sembilan saya kembali ke mesjid. Masuk dari babussalaam. Suasananya agak sepi. Saya shalat sunat tahiyatul masjid dulu di belakang tempat imam berdiri. Lalu berusaha masuk ke Raudhah. Di dalam penuh sesak dengan jamaah. Tempatnya jadi agak kecil karena pagi-pagi begini sebagian disediakan untuk jamaah wanita dan antara kedua tempat dibatasi dengan tabir pemisah yang tinggi. Suaranya juga lumayan heboh di kedua belah sisi.

Bermacam-macam cara jamaah shalat dan bedoa di tengah ruangan yang sempit karena dijejali banyak sekali manusia ini. Banyak sekali yang berdoa dengan bercucuran air mata. Barangkali disinilah semua dosa dimintakan ampunan, segala kesulitan diadukan dan segala harapan dipanjatkan kepada Allah Yang Maha Pengasih Yang Maha Penyayang. Semua jamaah, dari segala macam negeri asal, bersimpuh disini, meratap dan bermohon. Dengan keyakinan bahwa ditempat ini doa-doa itu insya Allah diijabah oleh Allah Rabbul ‘Aalamiin.

Saya mencari tempat dekat tiang dan menunggu seorang jamaah yang sedang shalat sambil mencoba melindunginya agar orang tidak melintas di depannya. Pekerjaan yang tidak mudah, karena dalam suasana begini orang melintas saja dengan semaunya di depan orang yang sedang shalat. Setelah orang itu selesai shalat dan berdoa, saya mengambil tempatnya untuk shalat. Sama saja, sekarang orang melintas di depan saya. Setelah selesai shalat dua rakaat saya berdoa. Doa yang ringkas seperti umumnya doa yang selalu saya ulang-ulang. Agar Allah mengampuni dosa-dosa saya, agar Allah mengampuni dosa kedua ibu bapa saya, agar Allah menerima amalan-amalan saya yang tidak seberapa, agar Allah memaafkan kekurangan-kekurangannya, agar Allah menolong kami untuk menyelesaikan ibadah haji dengan sebaik-baiknya. Tentu saja masih ada tambahan doa yang lain. Yang khusus untuk anak-anak saya, yang khusus untuk yang menitip untuk didoakan dan sebagainya. Karena orang lain juga antri untuk masuk dan shalat disana, saya cepat-cepat bangkit dan pindah ke depan ke dekat tempat imam. Disana saya tuntaskan dan saya ulangi lagi doa-doa tadi.

Lalu saya shalat lagi dua rakaat, shalat dhuha. Dan melanjutkan bacaan al Quran. Target saya adalah menamatkan al Quran selama hari-hari pelaksanaan haji ini. Kira-kira jam sepuluh, karena mata saya sudah terasa capek, saya pulang ke pemondokan. Melangkah kesebelah kiri mesjid, melintas di depan makam Rasulullah SAW untuk mengucapkan salam. Dan mengucapkan salam pula kepada Abu Bakar dan Umar.

Di pemondokan saya dapati istri dan anak-anak dengan kesibukannya masing-masing. Yang sibuk mencuci, yang sibuk mengaji, yang sibuk tidur. Kami berbincang-bincang sebentar. Dan setelah itu saya melanjutkan lagi tadarus sesanggupnya. Menjelang berangkat kembali ke mesjid untuk shalat zuhur.



*****