Saturday, March 22, 2008

Oleh-oleh Dari Perjalanan Haji 1424H (18)

18. Melontar Jumrah (2)


Hari Senin tanggal 2 Februari, atau tanggal 11 Zulhijjah. Bagian terbesar dari anggota rombongan akan pergi melaksanakan thawaf ifadha dan sa’i hari ini. Mereka berangkat sekitar jam delapan pagi dari Mina. Kami yang sepuluh orang, rombongan saya dan rombongan pak J akan tinggal di Mina. Masih ada lagi pak dan ibu I yang juga tinggal karena ibu I sedang berhalangan bulanan pula. Pak W, petugas penyelenggara, ikut menemani rombongan itu ke Makkah. Sebelum berangkat dia berpesan, seandainya nanti mereka terlambat pulang, agar kami ikut bergabung saja dengan rombongan besar untuk pergi melontar. Pak W sudah pula memberi tahu ustad pembimbing di rombongan besar itu untuk mengajak kami bersama nanti sore.

Setelah rombongan itu berangkat saya meneruskan membaca al Quran. Sudah juz delapan belas. Insya Allah sebelum pulang ke tanah air bisa tamat. Masih ada waktu seminggu lebih lagi untuk menyelesaikannya. Tapi setelah membaca beberapa lembar, dari pengeras suara terdengar takbir. Saya memperhatikan suara takbir itu dengan penuh perhatian. Ya, hari ini adalah hari-hari tasyrik, hari raya yang disunahkan untuk bertakbir. Kalau di negeri kita, seingat saya orang bertakbir sesudah shalat-shalat fardhu pada tanggal 10, 11, 12 Zulhijjah ini. Tapi disini jam sembilan pagi. Tidak berapa lama sesudah takbir itu dikumandangkan terdengar pengumuman dalam berbagai-bagai bahasa. Bahasa Inggeris, Perancis, Turki, Pakistan, India, Indonesia dibacakan bergantian. Isinya mengingatkan pada jamaah yang sudah melontar agar berpindah ke pinggir dan segera meninggalkan area melontar untuk memberi tempat kepada jemaah yang baru datang. Saya yang dari subuh belum melihat keluar ke arah tempat melontar (tenda kami terletak dibagian dalam), bertanya-tanya apakah orang sudah mulai melontar jam segini. Karena ingin tahu saya berhenti membaca al Quran lalu pergi ke dekat pintu gerbang. Pemandangan yang saya lihat sungguh sangat mencengangkan. Jamaah yang bepuluh atau mungkin bahkan sudah beratus ribu banyaknya sudah hadir disini. Jalan raya penuh ditutupi jamaah yang umumnya berpakaian putih-putih. Mereka berjalan berombongan-rombongan. Ada yang membawa bendera kafilah, serta ada yang membawa bendera negara mereka masing-masing. Semua bergerak tak berhenti-henti, baik menuju tempat melontar atau yang sudah keluar dari sana. Terlihat bendera Canada, bendera RRC, bendera Turki, Pakistan, Bangladesh, India, Indonesia. Ada yang membawa plat bertuliskan nama negara saja. Terbaca Hongaria, terbaca Kazakhstan. Dan lain-lain. Subhanallah.

Sudah berdiri dekat gerbang saya jadi ingin keluar. Saya ingin pergi mencukur habis rambut yang kemarin belum sempat saya lakukan. Tempat tukang cukur persis di seberang jalan, dekat jumratul Wustha. Saya menyeberang, memotong arus jamaah yang banyak itu dengan hati-hati. Sekelompok jamaah Turki yang baru selesai melontar melintas di depan saya sambil bertakbir dipimpin oleh satu orang. Allahu Acbar, Allahu Acbar, Allahu Acbar. Orang Turki rupanya sulit memprononsiasikan ‘Akbar’ dan tererosi menjadi ‘Acbar’.

Setelah selesai bercukur gundul, saya kembali ke tenda. Melihat rombongan manusia yang makin bertambah banyak. Untuk menyeberang saya perlu lebih hati-hati. Takbir melalui pengeras suara dari tempat petugas tadi berkumandang berulang-ulang diselingi dengan pengumuman peringatan yang sama dibaca berulang-ulang pula. ‘Para-para haji yang dihormati sekelian.......... dan seterusnya.’ Logatnya malahan lebih mirip bahasa Malaysia.

Saya suka memperhatikan lautan manusia yang bergelombang-gelombang itu. Memperhatikan wajah-wajah yang tidak gentar karena memang tidak ada yang perlu ditakuti selain Allah. Mereka bahkan tidak surut meski korban sudah berjatuhan. Wajah-wajah patuh, mematuhi keyakinan bahwa ini adalah ibadah kepada Allah. Dan semua berlalu, baik yang baru datang maupun yang berangkat pulang dengan langkah-langkah yang wajar. Dengan ekspresi yang wajar. Tidak dengan kuyu dan loyo dan tidak pula dengan ceria dan sombong. Berkali-kali saya datang ke dekat gerbang untuk memandangnya. Semakin siang semakin ramai. Dan ambulans-ambulans datang dengan sirine dibunyikan dari arah jumrah Aqabah. Beriring-iring. Apakah ada korban musibah lagi? Namun sekali lagi keberadaan ambulas dengan sirinenya itu tidak berpengaruh apa-apa kepada rombongan manusia yang beribu-ribu ini.

Sesudah makan siang, saya diberitahu ustad dari rombongan besar bahwa mereka akan segera pergi melontar dan menanyakan apakah kami akan ikut. Saya jawab bahwa kami ingin menunggu rombongan yang sedang thawaf dulu. Mereka pergi tanpa kami ikuti. Berseragam, kaus biru dan jilbab biru. Hampir dua ratus orang jumlahnya. Saya terheran-heran, apakah mereka akan bisa melontar dengan aman jika pergi dalam rombongan sebesar itu? Mereka berangkat dengan strategi jamaah laki-laki saling berpegangan tangan, memagari jamaah wanita. Saya tetap belum terlalu yakin bahwa mereka akan dapat menyelesaikan melontar itu dengan mudah.

Kira-kira empat puluh lima menit, rombongan itu sudah kembali. Tentu mereka sudah selesai melontar. Ustad pembimbing itu mengatakan bahwa di tempat melontar di atas jumlah jamaah tidak terlalu banyak. Mereka baru saja bisa melontar dari bibir pembatas tempat melontar. Dia menawarkan untuk menemani kami kalau mau pergi melontar sesudah ashar.

Sementara itu kami terima berita buruk. Seorang jamaah wanita, sudah tua, yang tadi thawaf bersama-sama terlepas dari rombongan dan hilang. Para petugas sudah berusaha mencarinya tapi belum berhasil. Akibatnya anggota rombongan lain yang meski sudah selesai thawaf dan sa’i belum mau pulang karena masih berusaha mencari nenek-nenek itu. Jadi sudah tidak perlu kami tunggu rombongan itu dan saya usulkan untuk melontar sesudah ashar seperti yang ditawarkan ustad tadi. Pas sesudah shalat ashar, kami berdua belas ditemani ustad pembimbing itu yang mengajak dua orang petugas lain, melangkah menuju ke tempat melontar. Dia meminta agar kami yang laki-laki memagari yang wanita, persis seperti yang dilakukan rombongan besar tadi. Mendekati jumrah Ulaa ustad itu memimpin untuk masuk kedalam kerumunan orang secara perlahan-lahan. Setiap satu orang yang keluar dari tempatnya melontar kami gantikan sampai akhirnya kami sampai ke bibir pelontaran itu. Wanita-wanita disuruh melontar lebih dulu baru dikuti oleh bapak-bapak (saya, pak J dan pak I). Ternyata cara memasuki area melontar seperti ini sangat efektif dan aman. Menurut istilah ustad itu, bergerak dengan lentur, tidak agresif dan mendekat sampai ke tepi tempat melontar.

Kami segera kembali ke tenda. Saya menanyakan apa yang harus dilakukan sendainya nenek yang hilang tadi itu tetap tidak diketemukan. Kata ustad, kita akan sweeping ke maktab-maktab jamaah Indonesia. Saya tanya lagi pernah tidak, hal yang sama selama ini terjadi. Dia bilang pernah, bahkan sampai dua hari. Saya menawarkan diri untuk ikut membantu jika nanti memang harus melakukan sweeping.

Tapi syukur alhamdulillah, nenek itu ternyata pulang dengan diantar jamaah haji dari Pacitan yang menolongnya persis menjelang maghrib. Dia sampai lebih dulu dari anggota rombongan yang lain.




*****

Oleh-oleh Dari Perjalanan Haji 1424H (17)

17. Melontar Jumrah (1)


Menjelang jam empat kami sampai di Mina. Mina masih ramai sekali dengan jamaah yang datang dan pergi untuk melontar. Sejauh mata memandang dari depan kompleks tenda-tenda kami, yang terlihat adalah ribuan manusia. Baik yang di jalan maupun yang berada di jalur jamarat, di bagian bawah. Semua bergerak. Ada yang baru datang ada yang mau berangkat pergi. Yang juga menarik perhatian saya adalah suara sirine ambulans yang tetap ramai. Apakah sampai sore hari ini masih ada lagi korban?

Kami langsung menuju ke tenda. Rencananya kami akan melontar sesudah shalat ashar nanti. Begitu sampai, salah satu jamaah bercerita bahwa dia baru saja menerima sms dari Jakarta yang mengatakan peristiwa musibah Mina sudah ditayangkan tv Indosiar. Katanya lebih dua ratus empat puluh orang korban meninggal dan sebagian besar orang Indonesia. Innaa lillahi wa innaa ilaihi raaji’uun. Cerita tentang bagaimana musibah itu terjadi agak simpang siur.

Ingatan saya kembali melayang ke tahun sembilan puluh. Waktu itu terjadi musibah yang paling besar di terowongan Mina, juga tanggal 10 Zulhijjah. Ketika itu jamaah yang datang dari melontar dan yang akan pergi melontar sama-sama berada dalam terowongan yang panjang itu. Tiba-tiba entah karena apa, konon lampu penerangan dalam terowongan itu mati. Terjadi kepanikan di kalangan para jamaah. Itulah yang jadi pangkal terjadinya musibah yang menyedihkan itu. Ribuan jumlahnya korban yang jatuh ketika itu dan dari jamaah Indonesia juga yang terbanyak. Saya sendiri pada waktu terjadinya musibah itu masih berada di dalam bus yang tidak kunjung menemukan lokasi tenda kami. Bus itu berputar-putar di sekitar Mina sejak jam enam pagi sampai jam sebelas siang ketika akhirnya kami diturunkan kira-kira tiga ratus meter dari tenda jamaah Indonesia yang ditandai dengan bendera merah putih. Selama tertahan dibawa hilir mudik oleh bus itu terdengar suara sirine ambulans tidak pernah berhenti-henti. Kami baru tahu bahwa terjadi musibah dahsyat keesokan harinya dari jamaah yang membaca koran terbitan Saudi.

Melontar jumrah, khususnya pada hari pertama (tanggal 10 Zulhijjah) dan hari ketiga (12 Zulhijjah) memang perlu keberhati-hatian ekstra karena jumlah jamaah yang ingin mengerjakannya pada waktu afdal (waktu dhuha untuk yang pertama dan segera setelah masuk waktu zuhur untuk yang kedua). Tanggal 10, jamaah ingin cepat-cepat pergi melontar kemudian sesegera mungkin pula turun ke Makkah untuk thawaf ifadha. Tanggal 12, mereka yang akan segera meninggalkan Mina (nafar awal) berebutan untuk secepatnya pergi melontar. Yang pertama lebih sulit lagi karena jumrah yang dilontar hanya satu (jumrah Aqabah) dan dari setengah sisi pula. Disinilah tingkat ‘kesulitan’nya bertambah. Namun satu hal yang perlu disadari, ada, bahkan lebih banyak musim haji dimana korban yang jatuh pada saat melontar itu bisa diabaikan. Artinya, dengan keberhati-hatian khusus, insya Allah bisa selamat.

Bagaimana dong terjadinya kecelakaan itu? Seberapa jauh tanggung jawab aparat keamanan Saudi untuk mengamankan pelaksanaan ibadah tadi? Bagi yang belum melaksanakan haji, mungkin tidak bisa membayangkan bagaimana keadaannya ketika ratusan ribu umat manusia berkumpul kesatu titik yang relatif sempit pada saat yang hampir bersamaan dengan tujuan yang sama pula. Jumlah itu benar-benar ratusan ribu, dua ratus ribu, tiga ratus ribu dari dua setengah juta jumlah jamaah haji, berdesak-desak. Bagaimana petugas keamanan akan mengamankan manusia sebanyak itu dan berapa banyak petugas yang harus diadakan? Hampir tidak mungkin mereka dikerahkan untuk mengawalnya dan lalu dengan pengawalan diharapkan keadaan akan menjadi aman. Petugas keamanan ada disekitar sana (asykar, polisi) tapi tidak banyak yang bisa mereka perbuat. Lalu bagaimana dong? Lingkungan melontar itu bisa dianggap aman sampai ke jarak dua puluh sampai tiga puluh meter ke dekat jumrah yang akan dilempar karena sampai titik itu arus gelombang manusia masih searah. Di dalam radius dua puluhan meter barulah suasananya rawan karena sebagian dari jamaah itu berbalik setelah selesai melontar. Selama masing-masing individu menguasai suasana, berusaha untuk lentur dengan dorongan-dorongan orang banyak untuk mencari celah, seperti yang umumnya dilakukan oleh sebagian besar jamaah, insya Allah akan selamat. Tapi jangan cepat panik, jangan melawan arus, jangan membuat gerakan-gerakan yang membahayakan seperti mengambil barang jatuh, karena hal-hal inilah yang sering menimbulkan bencana. Suasana panik sangat buruk akibatnya. Itulah yang terjadi di terowongan Mina tahun sembilan puluh. Orang-orang panik yang menerjang kemana saja, menimbulkan kepanikan baru dikalangan yang di terjang, akhirnya berubah menjadi malapetaka, ketika orang-orang yang terjatuh tidak dapat bangkit menyelamatkan diri, akhirnya menjadi korban terinjak-injak.

Melontar jumrah tidak mungkin di drop dari wajib haji. Orang akan tetap datang untuk melakukannya kesana biar sudah banyak jatuh korban sekalipun. Pemerintah Saudi, yang menurut pandangan netral saya, sudah berbuat sangat banyak untuk kemashlahatan jamaah haji dari seluruh pelosok bumi Allah ini, tengah merencanakan membuat tempat melontar itu menjadi tujuh tingkat untuk mengantisipasi musim-musim haji masa mendatang.

*****

Sesudah mandi dan shalat ashar kami yang sepuluh orang ditambah pak W, pergi melontar. Orang tetap masih ramai. Saya mengajak semua anggota berdoa khusyuk-khusyuk untuk keselamatan bersama. Sebagai manusia biasa ada juga rasa ketar-ketir di hati saya. Tapi sudahlah, kepada Allah saya bertawakkal.

Kami mendekati jumrah itu sampai jarak sepuluh meter. Jarak yang relatif aman pada saat itu. Setelah itu saya kawal istri dan anak-anak saya satu persatu untuk melontar dari jarak yang lebih dekat, kira-kira lima meter dari jumrah. Kami terdorong-dorong waktu mendekat itu, tapi alhamdulillah selamat. Saya berusaha untuk berdiri kokoh dengan membuka kaki waktu melindungi mereka. Akhirnya kami berhasil menyelesaikan lontaran itu dan kembali ke tenda.



*****

Oleh-oleh Dari Perjalanan Haji 1424H (16)

16. Thawaf Ifadha, Sa’i, Tahallul


Karena tempat duduk di bus hanya lima puluh, sementara kami jumlahnya enam puluh maka sepuluh orang dari anggota rombongan dititipkan untuk bergabung ke rombongan besar. Yang sepuluh orang itu terdiri dari saya sekeluarga dan pak J dengan istri, anak perempuan, adik dan adik iparnya. Semua anggota rombongan pak J adalah wanita. Jadi kami bersama-sama terdiri dari dari dua orang laki-laki dan delapan orang perempuan. Kalau bus yang kami ikuti pagi ini langsung ke Makkah, tidak demikian halnya dengan rombongan yang lain. Rupanya waktu berangkat dari Arafah kemarin malam mereka mengambil jalan yang berbeda dengan kami, sehingga di Muzdalifah kami terpisah, dan pagi ini mereka tidak bisa langsung ke Makkah.

Setelah bersuci, berwudhuk dan menggosok gigi di toilet umum Masjidil Haram saya kembali berkumpul dengan jamaah yang akan melakukan thawaf. Oleh pembimbing kami disarankan untuk thawaf dalam rombongan-rombongan kecil dan nanti kalau sudah selesai dengan sa’i kami akan berkumpul di tempat pertemuan favorit di bawah ‘Jam Gadang’. Ini sangat membantu bagi ustad-ustad pembimbing dan mereka dapat lebih berkonsentrasi menolong jamaah yang sudah tua. Saya dan pak J sepakat untuk bergabung dalam satu rombongan. Seorang anggota penyelenggara dari rombongan kami, pak W, ikut bergabung. Kami mengantarkan dulu istri dan anak saya si Sulung ke dekat ‘Jam Gadang’ karena mereka tidak ikut thawaf. Setelah itu barulah kami masuk ke mesjid, langsung mendekati garis coklat. Orang yang thawaf luar biasa banyaknya. Seluruh pelataran Ka’bah seperti ditutup rapat dengan manusia. Orang banyak itu bergerak pelan sekali. Hampir seluruh laki-laki dalam pakaian ihram. Ternyata yang langsung turun ke Makkah dari Muzdalifah pagi ini banyak sekali. Kami menjalani putaran demi putaran dengan sabar. Saya selalu berusaha mengenali nomor setiap putaran. Pada putaran terakhir saya beritahukan bahwa kita sudah hampir menyelesaikan ketujuh putaran. Pak J minta konfirmasi karena dia menghitung baru lima yang sudah selesai. Anak-anak serta ibu J setuju dengan saya bahwa kita sudah menyelesaikan enam putaran. Akhirnya pak J mengatakan bahwa yang petama sekali tidak dia hitung karena waktu itu dia tidak melihat garis coklat. Dia menanyakan apakah kalau kita tidak melihat garis coklat, putaran itu syah. Saya coba menjelaskan bahwa garis coklat itu hanya alat bantu. Biarpun kita tidak melihatnya, tapi sudah melaluinya tentu putaran itu syah. Pak J bisa menerima. Selesai thawaf kami mundur ke belakang sejajar dengan maqam Ibrahim untuk shalat sunat dua rakaat. Di dekat itu banyak jamaah lain yang shalat. Namun demikian tetap saja ada jamaah yang menerobos melintas di depan orang yang lagi shalat itu.

Sesudah berdoa, kami menuju ke tempat sa’i tapi sebelumnya mampir dulu untuk minum air zam-zam. Tadinya saya memperkirakan bahwa sa’i akan lebih longgar. Ternyata dugaan saya salah. Jamaah yang sa’i sama membludaknya. Kami berdesak-desak mendekat ke ‘bukit’ Shafa. Formasinya tetap sama seperti waktu thawaf. Saya dan pak W di depan. Di belakang saya si Tengah dan si Bungsu. Di belakangnya lagi ibu J dan adiknya. Seterusnya anak dan adik pak J dan dibelakang sekali pak J. Kami ikuti arus manusia yang banyak itu, yang bergerak sangat pelan sekali. Ada sedikit kendala sebenarnya dengan jalur sa‘i dari Shafa ke Marwa ini. Ada beberapa pintu untuk masuk ke mesjid di sepanjang jalur ini. Dan jamaah yang akan ke mesjid memaksakan juga masuk melalui pintu-pintu itu. Maka terjadi tabrakan arus manusia. Pada waktu jamaah sa’i tidak banyak, orang-orang yang masuk itu bisa saja memotong jalan mereka yang sedang sa’i tanpa banyak resiko. Tapi pada saat ramai seperti ini suasananya berbeda. Beberapa kali anak-anak saya terdorong dari belakang sampai tergencet ke punggung saya. Ini disebabkan jamaah di depan saya berhenti karena harus memberi jalan kepada mereka yang masuk, sementara dari belakang tetap mendorong untuk maju. Kalau sudah begitu biasanya banyak jamaah mengangkat tangan kanan dengan kelima jari dipertemukan dan mengatakan ‘suaya’ (maaf kalau salah ejaannya), yang artinya menyuruh yang di belakang bersabar dan tidak mendorong-dorong. Kode itu cukup efektif. Tapi di dekat pintu masuk berikutnya kejadian dorong-dorongan terulang kembali. Saya jadi kehilangan keberanian jadinya. Terlalu berat untuk perempuan-perempuan yang enam orang di belakang saya. Saya usulkan kepada semua agar kita menarik diri saja, tidak jadi melanjutkan sa’i. Dan semua setuju. Mendekati pintu berikutnya saya minta jalan sambil memberi tahu bahwa kami akan keluar. Kami diberi jalan untuk keluar dan langsung menuju ke tempat istri dan anak saya menunggu. Pak W, anggota penyelenggara itu, tanpa menganjurkan untuk mengikutinya, mengatakan bahwa dia akan mencoba sa’i di lantai dua. Saya yang sedikit grogi sehabis berdesak-desakan sebentar ini tidak berminat ikut. Dan yang lain setuju dengan saya.

Terasa lapar. Pagi ini kami hanya sarapan selembar ‘crape’ yang dibagi-bagikan ustad tadi di bus. Kami keluar mencari makanan (sandwich kebab). Lumayan untuk mengganjel perut. Sesudah itu kami istirahat di tempat teduh dari panas matahari, dekat Pemadam Kebakaran. Saya seperti kehilangan semangat dan hanya duduk saja istirahat di tempat itu. Lama juga kami berdiri disana sambil tiap sebentar mengintip kalau-kalau sudah ada yang datang ke bawah ‘Jam Gadang‘. Sampai masuk waktu zuhur, tidak ada yang datang kesana. Kami pindah ke halaman mesjid di luar jalur Shafa – Marwa untuk shalat zuhur. Setelah shalat barulah jamaah rombongan besar dengan jilbab seragam berwarna biru muncul satu persatu. Dan hadir pula ustad pembimbing ahli hadits. Saya ceritakan bahwa kami belum sa’i karena saya tadi takut meneruskannya. Ustad itu mendesak agar kami mengerjakan sa’i sekarang di lantai dua. Dia bilang mereka akan menunggu kami. Saya beritahukan hal itu kepada pak J dan saya ajak dia untuk ikut saja. Ternyata dia setuju. Kami berdelapan naik ke lantai dua untuk mulai lagi sa’i. Ternyata di atas lebih teratur. Meskipun jamaahnya sama mbludaknya tapi tidak ada rombongan jamaah masuk memotong arus. Kira-kira satu setengah jam kami selesaikan sa’i itu. Sesudah bertahalul, kami turun dan mencari rombongan tadi. Ternyata tidak ada orang di tempat itu. Saya mencari-cari sambil memandang berkeliling. Tidak ada siapapun. Ibu J menanyakan nomor HP istri saya. Setelah saya beritahu dia coba menelpon. Tapi tiba-tiba muncul istri dan anak saya. Rupanya mereka menunggu di tempat lain. Rombongan jamaah tadi sudah lebih dulu diantar pulang ke Mina. Tapi ustad tadi dan ustad yang lain masih ikut menunggu kami. Kami segera berangkat menuju Mina dengan bus kecil coaster. Waktu itu saya mendengar berita bahwa pagi tadi telah terjadi (lagi) musibah dengan banyak korban di Mina.



*****

Friday, March 21, 2008

Oleh-oleh Dari Perjalanan Haji 1424H (15)

15. Mabit Di Muzdalifah


Perlu waktu agak lama juga untuk mengumpulkan anggota rombongan mendapatkan busnya masing-masing. Mendekati jam delapan malam baru kami akhirnya meninggalkan Arafah. Jalan menuju Muzdalifah relatif tidak ramai meskipun tidak pula terlalu lancar. Benar-benar sangat kontras dengan waktu saya melaksanakan haji dulu yang jalanan macet bukan main. Mungkin kali ini disamping jalan menuju ke Mina melalui Muzdalifah sudah bertambah, disertai pula waktu keberangkatannya lebih awal. Saya ingat dulu itu kami baru kebagian bus sudah jam sebelas malam dan jalan sudah dipadati banyak sekali bus. Dulu kami hanya singgah sebentar saja di Muzdalifah, sekedar untuk mencari kerikil, meski saya dan istri melakukan shalat maghrib dan isya di jamak ta’khir waktu itu, dengan terlebih dahulu mengingatkan sopir bus agar jangan meninggalkan kami.

Kali ini kami sampai di Muzdalifah menjelang jam setengah sepuluh malam. Bus berhenti di tempat banyak bus-bus lain sudah lebih dahulu berhenti. Kami turun dan menggelar tikar plastik yang sudah disiapkan. Setelah itu saya segera mengajak anak-anak melakukan shalat maghrib dan isya (istri dan si Sulung sudah mulai dapat cuti). Disekitar tempat itu sudah ada jamaah dari bermacam-macam negara. Ada di antara mereka yang sudah mulai tidur.

Baru saja kami selesai shalat seorang ustad pembimbing mengatakan, tempat ini ‘belum’ Muzdalifah karena Muzdalifah mulai beberapa meter lagi ke arah dalam. Dia meminta kami segera pindah. Kamipun mengemasi tikar plastik dan bawaan lainnya dan mengikuti ustad itu. Di tempat yang baru, jemaahnya jauh lebih banyak. Tidak mudah menemukan tempat lapang. Dan tempat itu tidak pula rata karena terletak dekat tebing batu. Akhirnya rombongan kami terpaksa berpencar-pencar. Saya sekeluarga mendapatkan tempat yang ternyata adalah bahu jalan di kaki tebing. Kami gelar kembali tikar di bawah langit lepas. Tempat itu agak remang-remang karena tidak ada lampu disitu. Lampu penerangan jalan terletak agak jauh ke tengah. Ustad tadi masih sempat bergurau, ‘silahkan dinikmati hotel berbintang-bintang ini.’ Tempat itu pas-pasan untuk kami berlima bersempit-sempit. Saya segera ingin mencoba tidur. Ternyata cukup mudah (pada dasarnya saya memang diberi nikmat oleh Allah dengan mudah sekali tertidur, pokoknya asal kepala diistirahatkan, dalam bilangan beberapa menit sudah langsung ‘fly’).

Jam satu malam saya terbangun karena rasa dingin yang sangat menusuk. Benar-benar dingin luar biasa. Biarpun saya meringkuk melipat badan rasa dingin itu tetap terasa. Apa lagi saya hanya berpakaian ihram dan saya tidak ingin menutupi kepala. Saya berdoa (sambil menangis lagi), ya Allah berilah hamba kekuatan. Ya Allah hamba ini sedang mematuhi perintah Engkau, sedang beribadah kepada Engkau. Berilah hamba kekuatan ya Allah. Allah Maha Besar, entah dengan cara bagaimana, saya tertidur kembali. Tapi dua jam kemudian, jam tiga saya terbangun lagi, oleh serangan dingin yang lebih dingin dari tadi. Saya ulang doa yang sama. Dan tertidur pula kembali. Setelah itu jam empat kembali terbangun. Subhanallah, kali ini tidak karena dingin. Saya ingin buang hajat kecil. Nah, bagaiman caranya? Saya bawa botol air kecil yang isinya sudah tinggal sedikit dan pergi ke bongkah batu besar yang agak terpisah dari kumpulan jamaah. Saya harus memanjat tebing untuk mendapatkan tempat yang benar-benar terlindung dan melepaskan hajat sambil duduk diatas batu besar. Waktu saya kembali istri dan anak saya mengatakan ingin buang air kecil juga. Mereka pergi ke bus yang terparkir beberapa puluh meter dari tempat itu. Baru saya ingat bahwa bus itu ada toiletnya.

Saya sudah tidak tidur lagi. Para jamaah satu persatu terbangun. Pemandangan itu mungkin replika kecil bangkitnya kita nanti di Padang Mahsyar. Ustad pembimbing mengajak saya mencari air untuk berwudhuk. Katanya dia tadi malam melihat mobil tangki tidak jauh dari tempat bus parkir. Kami berjalan kesana. Mobil tangki itu kami temukan, tapi tidak ada air yang bisa kami dapatkan. Mobil itu ternyata bukan mobil penyuplai air wudhu untuk jamaah seperti yang diduga ustad tadi. Akhirnya kami putuskan untuk bertayamum saja. Jam setengah enam lebih sedikit masuk waktu subuh. Azan berkumandang. Ternyata sama lagi seperti di tenda, bahkan disini mungkin lebih ramai yang azan. Kami shalat qabliyah subuh. Dan shalat subuh berjamaah dengan imam yang banyak (lebih dari satu). Sesudah shalat subuh para jamaah bersiap-siap berangkat. Kamipun mengemasi tikar dan barang-barang sebelum melangkah ke bus yang rupanya stand by semalaman disini. Sebuah sistim transportasi yang sama sekali berbeda dengan tahun lalu. Sampai di bus, anak-anak saya setengah protes kepada ustad pembimbing dengan mengatakan bahwa di Muzdalifah ini waktu yang paling baik untuk berdoa adalah sesudah shalat subuh sampai terbit matahari. Ustad itu dengan tersenyum mengatakan, kalau kalian masih ingin berdoa lagi, pergilah tapi jangan lama-lama. Mereka bertiga turun dan pergi kembali untuk berdoa. Saya biarkan saja mereka pergi bertiga. Setelah kira-kira sepuluh menit mereka kembali ke bus. Jamaah lain toh belum semua hadir.

Sudah hampir terang waktu semua anggota rombongan naik ke bus. Kami punya dua kemungkinan sekarang. Kalau jalan ke Makkah tidak macet, maka kami akan langsung kesana untuk thawaf ifadha. Tapi kalau macet kami akan kembali ke tenda di Mina untuk nanti pergi melontar. Ternyata jalan ke Makkah sangat lancar. Kami sampai di Makkah saat khatib sedang berkhotbah (Idul Adha). Bus kami berhenti kira-kira dua ratus meter dari Masjidil Haram. Kami mengatur rencana untuk masuk mesjid untuk thawaf. Tapi sebelumnya harus ke kamar kecil dulu untuk berbersih-bersih dan berwudhuk.



*****

Oleh-oleh Dari Perjalanan Haji 1424H (14)

14. Wukuf


Agak lama kami menunggu bus yang akan membawa ke Arafah. Karena jalan macet sekali. Bus-bus itu berjalan sedikit lalu berhenti, berjalan sedikit, berhenti lagi. Saya bertanya-tanya dalam hati, apakah macet seperti ini, yang nyaris tak bergerak ini sampai ke Arafah? Kalau benar, betapa besarnya resiko. Saat itu sudah lebih jam sembilan. Nah, kalau lalu lintas macet seperti ini berjam-jam, kapan sampainya di Arafah? Tapi saya tidak yakin macet ini sampai kesana yang jaraknya sekitar lima belas kilometer dari Mina. Paling tidak, melihat fihak penyelenggara santai-santai saja, saya yakin tidak ada yang perlu dikhawatirkan.

Jam sepuluh kurang, bus kami datang. Perlu sekitar lima sampai sepuluh menit sampai semua anggota rombongan naik ke atas bus. Inilah rupanya yang menyebabkan kemacetan. Pada waktu sebuah bus menaikkan penumpang, bus tersebut menghalangi bus dibelakangnya. Setelah semua anggota rombongan naik, bus itu berjalan perlahan-lahan sampai persimpangan ke arah Arafah yang terletak lebih kurang satu kilometer dari tempat kami naik. Ternyata kemacetan itu hanya sampai menjelang persimpangan itu saja dan sesudah itu jalan lancar sampai ke Arafah. Jalan menuju ke Arafah dari Mina dibuat berlapis-lapis banyak sekali. Jalan itu dibangun demikian untuk mengurangi kemacetan. Kami melintas di hadapan mesjid Namira, mesjid yang sebagian berada di Arafah dan sebagian lagi di Tanah Haram. Tapi kami tidak berhenti disana melainkan langsung menuju tenda maktab 106 di area tenda-tenda jamaah Indonesia. Kami harus berjalan sekitar seratus meter dari pinggir jalan menuju ke tenda. Disana sudah banyak jamaah dari kafilah lain. Saat itu sudah hampir waktu zuhur, sudah mendekati saat dimulainya wukuf, rukun haji itu.

Kami mendapatkan sebuah tenda besar untuk semua jamaah rombongan kami yang 60 orang. Tenda ini juga dilengkapi kasur dan bantal. Salah satu tenda, (bukan tenda kami) bahkan dilengkapi kasur spring bed. Mungkin untuk jamaah Super Plus agaknya. Tidak ada pemisah antara tempat laki-laki dan perempuan dalam tenda ini. Jemaah ibu-ibu menempatkan tas mereka di tengah-tengah sebagai pembatas.

Tidak berapa lama kemudian masuk waktu zuhur. Azan berkumandang dari tiap-tiap tenda seperti di Mina. Ustad pembimbing kelompok kami menyampaikan khotbah Arafah. Seputar ma’na wukuf dan apa saja yang seharusnya dilakukan. Intinya, ini adalah kesempatan di antara banyak kesempatan lain selama melaksanakan rangkaian ibadah haji, untuk bertaubat. Untuk minta ampun atas segala kesalahan dan kekhilafan masa lalu. Untuk memohon kepada Allah agar diteguhkan iman dan taqwa. Agar Allah meridhai amalan dan ibadah yang dilakukan. Agar Allah membalasnya dengan pahala di akhirat nanti. Di samping itu para jamaah diingatkan untuk banyak-banyak berzikir, bertafakur, merenung, menghitung-hitung apa saja yang sudah disiapkan untuk dibawa menghadap Allah kelak. Sesudah khotbah kami lakukan shalat zuhur dan ashar, dijamak dan diqasar dan setelah itu masing-masing jamaah langsung menerapkan apa yang baru saja dinasihatkan. Berzikir dan berdoa. Banyak yang meneteskan air mata dalam keheningan zikir dan doa itu.

Saya ingat waktu melaksanakan haji tahun 90, saya dengan beberapa jamaah lain keluar dari tenda dan duduk di bawah pohon yang waktu itu masih rendah untuk berzikir. Tahun 90 itu haji dilaksanakan di bulan Juni dengan temperatur lebih dari 50 derajat Celcius. Kali ini saya ingin mengulangi duduk di bawah pohon di luar tenda. Dan sayapun keluar dari tenda. Tapi saya kecewa karena tenda kami dibatasi pagar dan di dalam area berpagar itu tidak terdapat sebatang pohonpun. Saya tidak berusaha untuk keluar dari pagar dan kembali ke tenda. Biarlah saya berzikir di dalam saja. AC di tenda ini kebetulan tidak berfungsi, karena kelihatannya ada masalah dengan aliran listrik. Kipas angin yang disediakan juga tidak berfungsi. Tapi alhamdulillah udara di dalam tenda tidak terlalu panas meskipun di luar sinar matahari terasa cukup terik.

Wukuf ini akan berlangsung sampai waktu maghrib nanti, sekitar lima setengah jam lagi. Waktu yang cukup panjang. Saya berniat, lalu berusaha untuk tidak tertidur. Sesudah berdoa dan berzikir saya kembali membaca al Quran meneruskan tadarusan. Kalau mata saya sudah terasa capek, saya keluar sebentar untuk melemaskan otot-otot dan setelah itu kembali lagi dengan zikir, doa dan tadarusan.

Kira-kira jam lima sore seorang di antara ustad pembimbing, memimpin kami untuk berdoa. Lebih tepatnya dia berdoa dan kami mengaminkan. Dia berdoa dengan kata-kata yang dirangkai sedemikian rupa dengan kalimat-kalimat yang menyentuh. Ditambah dengan kepandaiannya berdoa (berorasi) dan sambil terisak-isak pula, membuat suasana haru segera muncul. Dan para jamaahpun bertangisan tanpa terkecuali. Saya yang sejak berangkat dari Mina berkali-kali tercegut dalam linangan air mata, kali ini ikut terisak-isak. Cukup lama waktu berdoa ini. Dan diakhiri dengan saling bermaaf-maafan sesama jamaah. Saling bermaafan antara suami dengan istri. Antara anak-anak dan orang tua. Suasana benar-benar sangat mengharukan. Di penghujung doa itu kami dianjurkan untuk melanjutkan dengan doa sendiri-sendiri di luar tenda. Kamipun keluar. Ternyata suasana haru terjadi di semua tenda. Di luar kami mendengar para ustad dari masing-masing kafilah memimpin doa yang mengharukan pula. Meski ada yang dengan penekanan dan bahasa yang kurang ‘indah‘ dibandingkan dengan ustad kami tadi (yang memang bolehlah).

Tidak berapa lama kami dapat kabar duka. Seorang jamaah dari rombongan lebih besar (partner rombongan kami) meninggal dunia sesaat setelah berakhirnya pembacaan doa di tendanya. Orang tua itu, yang memang kurang sehat, menghembuskan nafas terakhir dihadapan istri dan anaknya, benar-benar sesudah mengaminkan doa yang mengharukan. Innaa lillahi wa innaa ilaihi raaji’uun. Mudah-mudahan beliau akan bangkit di padang mahsyar nanti dengan berpakaian ihram sambil melantunkan talbiyah seperti yang disabdakan Rasulullah SAW. Saya menyempatkan untuk melayat ke tendanya yang agak terpisah dari tenda kami.

Menjelang berakhirnya waktu wukuf, sayangnya, banyak di antara jamaah yang melampiaskan rasa sukacita (?) dengan berfoto-foto. Apa lagi ada bintang sinetron terkenal di antara jamaah. Mereka menyempatkan berfoto bersama dengan aktor itu. Laki-laki dan perempuan. Suasananya jadi agak bising, dengan senda gurau dan tawa. Pada hal baru saja bertangis-tangisan. Ya begitulah.

Maghrib segera menjelang. Kami berkemas-kemas untuk segera meninggalkan Arafah menuju Muzdalifah. Kami tidak shalat maghrib disini tapi nanti di Muzdalifah akan dijamak ta’khir. Beriring-iringan kami melangkah menuju bus yang akan membawa kami ke Muzdalifah.


*****

Oleh-oleh Dari Perjalanan Haji 1424H (13)

13. Mabit Di Mina Sebelum Wukuf


Tenda-tenda di Mina itu terbuat dari terpal yang kononnya tahan api. Dibuat pas-pasan (pintar sekali menghitungnya) untuk masing-masing kafilah dan kalau berlebih, anggota satu kafilah digabung dengan kafilah lain. Antara kafilah yang satu dengan kafilah yang lain dipisahkan oleh dinding terpal yang sama. Kami menempati dua bahagian tenda untuk laki-laki dan perempuan. Mula-mula saya mengambil tempat sembarang di bagian tengah. Ternyata ada sedikit bagian pemisah antara tenda laki-laki dan wanita tidak cukup rapi karena terbuka dibagian bawah. Saya dan seorang jamaah lain (pak J) di minta menempati perbatasan itu sementara di sebelah tempat wanita ditempati istri dan anak-anak saya (dekat saya) dan istri serta anak pak J dekatnya pula.

Karena kami rombongan kecil, beberapa orang jamaah dari rombongan besar digabungkan ke tenda kami. Tidak ada masalah. Tenda laki-laki ditempati lebih empat puluh orang. Kalau tidur berbaris-baris dalam dua shaf memanjang. Jadi kami tidurnya berjamaah, meski tanpa imam.

Dekat gerbang masuk ada dapur umum, tempat memasak makanan untuk ribuan jamaah sekali gus. Jadi untuk rasa makanan tidak usah terlalu banyak berharap. Menu yang paling sering hadir melibatkan ayam dengan versi yang tidak banyak. Kerupuk berwarna-warni dan sambel selalu hadir. Makanan di letakkan di beberapa pojok, diatas meja yang diatasnya juga sudah disediakan piring dan gelas kertas serta sendok plastik. Para jamaah kemudian antri untuk mengambil makanan, lalu dibawa ke tenda masing-masing. Buah (apel dan jeruk) disediakan lebih dari cukup.

Tenda kami terletak persis di depan kamar mandi yang juga merangkap kamar kecil. Fasilitas kamar mandi plus itu untuk jamaah dari beberapa buah tenda. Kamar mandi mempunyai fasilitas shower, keran yang disambung dengan selang air sepanjang 50 senti dan wc jongkok. Ada dua kali delapan pintu, bertolak belakang masing-masing untuk laki-laki dan perempuan. Masing-masing petak berukuran satu meter kali 60 senti. Kebersihan kamar mandi + kakus itu adalah tanggung jawab setiap jamaah, namun air untuk menjaga kebersihan tersedia hampir tak terbatas. Kondisi lantai dan dindingnya kurang rapi, banyak ceceran semen yang sudah mengering dan keramik dinding yang pecah, mungkin karena dikerjakan / diperbaiki buru-buru. Tapi sistim penampung najis cukup bagus dan tidak mengeluarkan bau. Untuk menggunakan fasilitas kamar mandi ini pagi-pagi, harus antri. Puncak antrian terjadi pada saat mendekati waktu shalat subuh. Jadi kalau tidak mau antri terlalu lama dan tidak mau ketinggalan shalat di awal waktu harus bangun lebih cepat.

Sesuai dengan yang sudah diberitahukan pembimbing, kami shalat pada setiap awal waktu dengan diqasar. Sesudah shalat ustad-ustad memberikan kultum. Topiknya di seputar pelaksanaan haji dan kadang-kadang tentang ‘apa?’ sesudah haji. Selalu diingatkan, karena sedang memakai kain ihram agar selalu menjaga hal-hal yang bisa menimbulkan resiko. Ini cukup penting, karena salah-salah tercabut bulu hidung, atau bulu mata, atau tertutup kepala dengan sengaja oleh jamaah laki-laki akan berakibat didenda (dam).

Saya meliwatkan waktu dengan membaca al Quran, di sela-sela waktu shalat. Hal ini cukup efektif untuk menghindar dari terlalu banyak ngobrol. Terlalu banyak ngobrol beresiko salah omong, yang bisa berlanjut jadi rafats, atau jidal atau fusuq yang tentunya akan merusak ibadah haji. Kalau mata saya sudah tidak tahan saya coba tidur-tiduran (atau tidur benaran). Malamnya saya cepat tidur. Mula-mula AC dibiarkan hidup tapi karena udara mulai dingin AC dimatikan oleh jamaah. Beruntung karena tempat pengontrol AC itu ada dalam tenda. Tadinya dikhawatirkan sistim AC itu sentral dan tidak bisa diutak-utik.

Kira-kira jam empat pagi saya terbangun dan cepat-cepat ke kamar mandi. Saya bersyukur karena selama menjalankan ibadah ini sistim pencernaan dan pembuangan saya berfungsi sangat baik. Bangun pagi-pagi sekali itu saya bisa segera buang hajat. Setelah mandi dan berwudhu saya lakukan shalat malam. Ada beberapa jamaah yang sudah lebih dulu bangun dari saya dan juga melakukan shalat malam. Kami shalat diatas kasur. Arah kiblat persis diagonal kasur. Jadi kami hanya bisa shalat di dua kasur berdekatan yang jamaahnya sudah bangun.

Pada saat masuk waktu subuh, azan kembali berkumandang bersahut-sahutan dari setiap tenda. Masing-masing menggunakan portable microphone. Yang lebih seru, pada waktu shalat, masing-masing kafilah shalat berjamaah di dalam tenda masing-masing dipimpin oleh imamnya masing-masing. Karena jaraknya sangat dekat, hanya beberapa meter, suara imam waktu membaca alfatihah maupun surah terdengar seperti bersahut-sahutan pula. Begitu juga halnya pada saat kultum. Saya bertanya-tanya untuk diri saya sendiri. Apakah hal ini memang harus demikian? Apakah tidak bisa dikoordinir agar shalat berjamaahnya cukup dengan satu orang imam untuk sekian buah tenda. Bukankah itu akan lebih afdal? Tapi kelihatannya, paling tidak untuk saat ini belum bisa dilakukan. Mungkin karena masing-masing pembimbing belum ada koordinasi dan tidak ada yang mau memulainya.

Sesudah kultum ba’da shalat subuh saya membuat teh susu panas. Nikmat sekali rasanya di saat udara dingin memanaskan perut dengan minuman panas. Dan setelah itu melanjutkan tadarus lagi. Pagi ini, sesudah sarapan kami harus bersiap-siap untuk meninggalkan tempat ini untuk pergi ke Arafah. Kami diingatkan untuk membawa perlengkapan seringkas mungkin. Sebagian besar barang bawaan kami ditinggal disini. Menurut penyelenggara meninggalkan barang-barang di tenda ini, insya Allah aman. Kami diminta menumpuk barang-barang kami di tengah-tengah ruangan tenda lalu kemudian ditutupi dengan selimut kain. Jam sembilan kami sudah siap untuk berangkat dan keluar dari kompleks perkemahan menunggu bus. Lalu lintas di depan tenda sedang macet berat. Bus ukuran besar-besar antri di sepanjang jalan. Semua menuju kesatu arah. Padang Arafah.



*****

Oleh-oleh Dari Perjalanan Haji 1424H (12)

12. Berangkat Ke Mina


Hari Rabu dan Kamis malam sesudah shalat maghrib, ada taklim di mesjid Abu Bakar disampaikan oleh seorang ustad muda mesjid itu dalam bahasa Arab yang diterjemahkan ke bahasa Indonesia oleh seorang (mungkin) mahasiswa Indonesia disana perihal persiapan pelaksanaan haji. Jadi seperti manasik lagilah. Hanya saja ini untuk langsung dipraktekkan besok. Diantara yang disampaikan bahwa besok, hari tarwiyah, jamaah haji itu berangkat ke Mina untuk mabit disana sampai tanggal 9 Zulhijjah pagi. Setelah itu wukuf di Arafah, lalu mabit di Muzdalifah, melontar jumrah hari pertama, tawaf ifadhah dan sa’i, tahallul, melontar jumrah hari kedua dan ketiga dan hari keempat.

Dan itu pula yang ada dalam program kami. Hari Jumat 30 Januari atau 8 Zulhijjah, kami sudah bersiap-siap sejak pagi-pagi sekali. Sejak pulang dari shalat subuh bahkan ada yang sejak sebelum pergi shalat. Mandi, lalu memakai pakaian ihram dan melafazkan niat haji. Hari ini kami akan berangkat ke Mina. Mengikuti contoh Nabi SAW mengerjakan haji beliau dulu, berangkat ke Mina untuk tinggal disana sampai tanggal 9 Zulhijjah pagi, seterusnya meninggalkan Mina untuk sampai di Arafah sebelum zuhur. Ini termasuk yang berbeda dengan pelaksanaan haji saya tahun 90, waktu kami sore hari tanggal 8 Zulhijjah berangkat langsung ke Arafah untuk mabit / menginap di Arafah. Bagaimanapun cara itu berbeda, ini baru awal pelaksanaan haji yang sunnah (mengikuti cara nabi) sementara puncaknya (yang rukun) akan dilalui besok di Arafah.

Dari Aziziah ke Mina tidak jauh, kalau mengambil jalan pintas mungkin hanya kurang dari dua kilometer. Tapi kami menggunakan bus untuk kesana. Sebelumnya, fihak penyelenggara mewanti-wanti, bahwa jika sistim pembagian tempat seperti tahun kemarin, maka lokasi kami di Mina terletak sekitar 3 kilometer dari jamarat. Tapi ternyata, alhamdulillah, kali ini tempatnya persis di depan jumratul wustha, kira 50m saja jaraknya. Konon tahun lalu, jemaah khusus (ONH Plus) dari Indonesia berjumlah 24,000 orang. Pemerintah Arab Saudi mengalokasikan tempat yang dekat dengan jamarat di Mina untuk Indonesia hanya 12,000. Konon lagi, seperti tahun ini, pemerintah kita sesudah itu mendesak-desak minta tempat khusus itu untuk 24,000 orang. Tidak dikasih karena memang sudah tidak ada, dan karena tempat yang secuil itu dibagi-bagi pula untuk negara-negara lain. Jadilah pemerintah kita kelabakan. Akhirnya untuk keadilan, semua jamaah haji khusus, tidak ada yang mendapat tempat dekat jamarat, tapi semuanya ditempatkan 3 kilometer dari sana. Konon lagi, para penyelenggara haji khusus waktu itu, terutama yang super khusus, dikomplain habis-habisan oleh jamaahnya.

Dan pagi ini kira-kira jam setengah sepuluh kami berangkat meninggalkan Aziziah. Dalam pakaian ihram kami mengumandangkan talbiyah. Inilah awal dari rangkaian ibadah haji yang sesungguhnya, yang akan kami jalani sampai tanggal 13 Zulhijjah nanti. Lalu lintas menuju Mina tidak terlalu lancar meski juga tidak macet. Menjelang waktu zuhur, kami sudah sampai di tenda di Mina. Di gerbang tenda-tenda maktab 106 itu terpasang spanduk iklan dari hampir semua PT penyelenggara haji khusus. Kami melangkah melalui gerbang yang bisa ditutup dengan pintu besi dan dikawal petugas keamanan. Tenda untuk jamaah wanita dipisah dengan jamaah laki-laki. Di sebelah tenda kami adalah kafilah atau rombongan haji dari penyelenggara yang berbeda-beda. Masing-masing jamaah mendapat kasur bulu ayam selebar 60 senti, sudah ditutupi alas kasur dan sebuah selimut. Kasur yang satu berdempet dengan kasur yang lain. Tenda kami berada persis di dekat kamar mandi.

Sebelumnya sudah diberitahukan oleh para ustad pembimbing bahwa kami tidak akan melakukan shalat jumat karena semua anggota rombongan sedang musafir. Shalat zuhur, ashar dan isya akan dilakukan pada waktunya masing-masing tapi di ringkas (qasar).

Ketika waktu shalat zuhur masuk, bersahut-sahutan suara azan dari masing-masing tenda. Seorang anggota pengurus mengatakan bahwa shalat dilakukan sendiri-sendiri. Saya rasa pendapat itu keliru. Kemudian ternyata dia mengakui pendapatnya itu tidak benar dan kami shalat berjamaah. Shalat diatas hamparan kasur-kasur.

Pada waktu memberikan kultum sesudah shalat zuhur, ustad pembimbing mengingatkan bahwa kita (sudah) sedang melaksanakan ibadah haji. Jadi agar diingat hal-hal yang dapat mengurangi pahala haji atau mungkin bisa menyebabkan dikenakannya denda (dam) atau yang lebih parah lagi yang dapat membatalkan ibadah itu sama sekali. Ustad itu menceritakan apa saja yang akan kita lakukan di Mina, di Arafah, di Muzdalifah dan kembali ke Mina. Beliau juga menunjukkan sebuah ke’ajaiban’ Mina. Cobalah perhatikan, disini tidak ada lalat. Lihatlah nanti ketika tong-tong sampah sudah berisi sampah sisa-sisa makanan, coba perhatikan apakah ada lalat atau tidak. Hal yang beliau katakan ini terbukti memang demikian. Saya pernah menemukan seekor lalat, benar-benar seekor, waktu saya berdiri dekat gerbang maktab 106 ini. Memang aneh juga kalau dipikir-pikir. Saya tanyakan apakah ada hadits yang menceritakan tentang ‘keanehan’ Mina ini, ustad itu mengatakan tidak ada, tapi begitu kenyataannya. Allah seolah-olah menyingkirkan lalat-lalat itu agar tidak mengganggu jamaah haji di Mina.

Yang juga pantas diacungi jempol adalah pengadaan air. Di Mina seperti halnya di Madinah dan di Makkah, air keran selalu sangat deras, jauh lebih deras dari keran air di rumah saya. Rasanya seperti kita bukan sedang berada di tengah padang pasir ketika membuka keran air. Sebenarnya hal ini sudah saya dapati tahun 90 dulu. Hanya saja waktu itu air masih didatangkan dengan mobil-mobil tangki sedangkan sekarang air didistribusikan melalui pipa. Air tawar di sana berasal dari penyulingan air laut Merah yang dilakukan di Jeddah. Menurut pendapat saya ini adalah salah satu pelayanan yang baik yang diberikan pemerintah Saudi untuk jemaah haji.



*****