(5)
Pak Umar bergegas menuju ke tempat parkir motor. Pikirannya terpusat kepada keadaan Amir yang saat ini sedang ditangani dokter di rumah sakit Harmoni. ‘Ya Allah, mudah-mudahan Engkau lindungi anak hamba itu,’ pinta pak Umar dalam doa di hatinya. Di dekat tempat parkir itu ada dua orang murid sedang berjongkok seperti mencari sesuatu di selokan. Pak Umar langsung menegor mereka.
‘Sedang melakukan apa kalian di sini? Apa kalian tidak belajar di kelas?’
Kedua anak itu terkejut dan menoleh ke arah pak Umar. Keduanya berubah pucat dan menggigigil ketakutan seperti sedang melihat hantu.
‘Eh nggak.. anu pak. Kami minta izin keluar kelas sebentar karena ada keperluan.’
‘Apa kalian sedang belajar biologi pagi ini? Apa yang kalian cari di got itu?’
‘Bukan pak. Eh anu… pak. Maaf pak… kami mau kembali ke kelas.’
‘Siapa nama kalian?’
Kedua anak itu berpandangan satu sama lain dengan sangat ketakutan tapi tidak menjawab pertanyaan itu.
‘Ada apa dengan kalian ini? Siapa nama kalian dan dari kelas berapa?’
Sekarang mereka benar-benar hampir pingsan. Ingin rasanya mereka cepat-cepat lari dari sana tapi bagaimana mungkin? Mereka benar-benar telah tertangkap basah biarpun pak kepala sekolah yang baru ini tidak tahu kesalahan mereka.
‘Hei kenapa kalian diam saja? Hayo jawab! Siapa nama kalian?’
‘Saya Iwan Tirta pak. Kelas dua C dan dia ini Adrianto pak. Kami sekelas.’
‘Ya sudah. Kalian pergi masuk kelas.’
Keduanya bergegas pergi. Tidak menuju kelas tapi mengendap-endap menuju ke arah gerbang. Tapi… ya ampun. Di sana sedang berdiri pak Suprapto memandang ke arah mereka. Tidak mungkin maju terus ke arah sana. Mereka merubah langkah ke arah tempat parkir mobil. Namun pak Suprapto sudah melihat mereka dan berteriak memanggil.
‘Iwan.. Adrianto… kemari kalian!’
Kedua anak itu berpandang-pandangan. Keduanya semakin pucat. Keduanya semakin menggigil ketakutan. Tapi keduanya terpaksa sekali harus mendatangi pak Suprapto.
‘Ya, pak.’
‘Ada apa dengan kalian? Kenapa kalian pucat begini. Coba mendekat ke sini!’
Pak Suprapto mengamati kedua anak itu penuh kecurigaan. Mencoba mendekatkan hidungnya ke arah mulut mereka. Tidak tercium bau yang mencurigakan.
‘Kalian ikut saya ke kantor!’
‘Anu pak. Anto sakit. Saya mau mengantarnya pulang.’
‘Jangan bohong kamu. Kamu pun sakit. Saya akan menggeledah kalian berdua. Ada apa dengan kalian berdua ini? Tadi kalian ikut upacara, nggak?’
‘Ah .. eh.. ya pak. Ikut pak.’
‘Benar? Kalian tidak berbohong? Baik. Saya akan tanyai teman-teman kalian. Sekarang ikut ke kantor saya.’
Keduanya tidak bisa berkutik lagi. Habislah harapan mereka. Keduanya terpaksa mengikuti pak Suprapto dari belakang. Anto ingin rasanya berbuat nekad melarikan diri, tapi lututnya gemetar. Tidak mungkin dia bisa lolos. Seandainya dia lari ke arah gerbang itu, biar pak Suprapto tidak sanggup mengejarnya, di sana ada petugas Satpam. Dia pasti akan dengan mudah ditangkap petugas Satpam bertubuh kekar itu. Ya sudahlah. Mungkin ini akan menjadi akhir petualangan kenakalannya di sekolah ini. Mungkin dia akan dikeluarkan dari sekolah ini. Dia sudah berkali-kali berurusan dengan jenderal, eh.. dengan pak Suprapto. Bahkan dia yang mula-mula mempopulerkan panggilan ‘jenderal’ itu. Tiba-tiba ia ingat mami. Mami yang menghabiskan banyak waktunya di tempat tidur karena sakit. Dia ingat mami pasti akan sangat kecewa dengan dia. Dan penyakit mami pasti akan bertambah gara-gara ini. Padahal dia sudah berjanji sama mami akan merubah sikapnya. Akan jadi anak baik-baik. Dia ingin membahagiakan mami. Dia ingin mami sembuh. Mami sudah terlalu banyak menderita gara-gara papi. Gara-gara papi mau kawin lagi. Apalagi kalau papi tahu. Papi akan bertambah mengomel-omeli mami. Dan mami akan bertambah pilu. Mami akan bertambah parah sakitnya. Ah. Dia anak yang sangat menyusahkan. Dia selalu saja menyusahkan.
Lamunan panjang Anto terhenti waktu dari arah sana pak Umar berjalan tergopoh-gopoh. Pak Suprapto memandang pak Umar dengan pandangan heran dan bertanya.
‘Tidak jadi ke rumah sakit pak Umar? Pak Umar dari mana?’
‘Jadi pak. Saya akan berangkat sekarang.’
‘Oh. Saya pikir tadi sudah berangkat. Maaf apakah pak Umar ada kesulitan? Maksud saya mungkin perlu uang barangkali untuk di rumah sakit?’
‘Terima kasih, pak. Tidak. Saya punya uang. Saya berangkat pak.’
‘Baik kalau begitu. Tapi? Pak Umar naik apa? Kok berjalannya ke arah sana?’
Pak Suprapto bertambah heran ketika melihat pak Umar berjalan kaki tergopoh-gopoh menuju pintu gerbang.
‘Naik kendaraan umum pak.’
Pak Umar mempercepat langkahnya. Petugas Satpam memandang heran kepada pak Umar yang mengangguk kepadanya dan bergegas menghampiri tukang ojek. Pak Umar menaiki ojek motor itu dan terus berlalu. Pak Suprapto yang memperhatikan semua itu dari jauh tidak kalah heran. Ada apa dengan pak Umar? Anto dan Iwan memperhatikan juga dengan wajah kebingungan.
*****
Anto dan Iwan dibawa ke kantor pak Suprapto. Keduanya pucat pasi. Keduanya menggigil ketakutan. Keduanya seperti sedang sakit parah. Pak Suprapto menyuruh panggil pak Hardjono atau pak Mursyid. Kebetulan hanya pak Mursyid yang ada sementara pak Hardjono sedang mengajar. Pak Suprapto menyuruh petugas Tata Usaha mengambil tas sekolah kedua anak ini dan menyuruh panggil empat orang murid kelas dua C yang biasanya akrab dengan mereka. Pak Mursyid yang pergi memanggil anak-anak itu. Empat orang itu segera datang. Herman, Lutfi, Djoko dan Bambang. Keempat anak itu juga harus membawa tas sekolah mereka. Sapto tidak ikut. Sapto berbuat seolah-olah bukan teman akrab Anto dan Iwan.
Pak Suprapto meminta pak Mursyid menggeledah keenam tas anak-anak itu. Menggeledah kantong baju dan celana mereka. Pak Mursyid bahkan menyuruh mereka melepas pakaian sehingga yang tinggal hanya pakaian dalam saja. Sesudah itu semua mereka disuruh mengambil air seni masing-masing bergantian untuk diperiksa. Pak Suprapto menduga bahwa ini pasti kasus narkoba. Tetapi tidak ada bukti sedikitpun. Tidak ada yang ditemukan dari tas maupun dari kantong mereka. Herman, Lutfi, Djoko dan Bambang diizinkan kembali ke kelas, tapi Iwan dan Anto tetap ditahan.
Pak Suprapto mulai menginterogasi mereka.
‘Ada apa dengan kalian? Lebih baik mengaku saja karena pasti akan ketahuan juga. Apa yang telah kalian lakukan?’
‘Tidak pak…. Anu pak… kami.. anu pak..’ Anto tergagap-gagap.
‘Berbicara yang benar! Kalian anak laki-laki, ngomongnya kok seperti anak perempuan. Hayo! Ada apa dengan kalian?’ desak pak Suprapto.
‘Anu pak… Kami… Saya minta maaf pak. Saya yang bersalah, Iwan hanya ikut-ikutan saja. Saya yang melakukan.’
‘Baik… melakukan apa? Apa yang kalian perbuat?’
‘Saya telah mencoret-coret Vespa bapak Kepala Sekolah yang baru itu pak. Saya tidak tahu kalau beliau itu pengganti bapak.’
‘Mencoret-coret Vespanya?’(‘Oo.. jadi dia masih naik Vespa seperti lima tahun yang lalu itu?’) Pak Suprapto baru sadar. ‘Apa yang kalian tulis? Dengan apa kalian coret?’
‘Dengan cat semprot pak.’
‘Apa yang kalian tulis?’
‘Anu pak…. heh…anu pak.’
‘Kalau begitu hayo kita lihat ke sana! Kalian tunjukkan dimana Vespa itu berada sekarang!’
Dengan tubuh gemetaran seperti orang sakit parah, kedua murid bandel yang malang itu digiring ketempat parkir motor diikuti pak Suprapto dan pak Mursyid. Vespa itu masih di sana. Tulisan ‘sok tau lo’ terbaca dari kejauhan. Rupanya ini ulah anak-anak bandel ini, pikir pak Suprapto. Apa pak Umar tidak memakai kendaraannya untuk pergi ke Rumah Sakit karena coretan itu? Setelah dekat betul pak Mursyid melihat ketidak beresan lain dari Vespa itu.
‘Wah bannya kempes pak. Kedua-duanya lagi. Jangan-jangan anak-anak ini juga yang menjahili.’ kata pak Mursyid.
‘Apa yang kalian lakukan dengan bannya?’ bentak pak Mursyid.
‘Saya lepas anginnya pak dan pentilnya saya buang.’ Anto mengaku dengan pasrah.
Pak Mursyid hampir saja menempeleng Anto kalau tidak cepat di cegah pak Suprapto.
‘Baik, kalau begitu cukup jelas sekarang mengenai urusan kalian. Hayo, kita selesaikan di ruangan saya.’
Mereka kembali digiring ke kantor kepala sekolah dan interogasi dilanjutkan. Pak Suprapto meminta pak Mursyid ikut serta menanyai anak-anak itu.
‘Kapan perbuatan jahil itu kalian lakukan?’
‘Tadi pagi pak. Sebelum upacara.’
‘Sekarang coba kamu jelaskan, apa alasan kalian menjahili Vespa pak Umar. Bukankah kalian belum kenal dengan pak Umar sebelum ini?’
‘Belum pak.’
‘Lalu?’
‘Kejadiannya begini pak. Tadi pagi ada yang mau berantam pak. Ada yang mau duel. Kami sedang ramai-ramai mau menyaksikannya. Tiba-tiba kami dibentak pak Umar menanyakan apa yang kami lakukan. Duelnya batal, pak. Saya tidak tahu beliau itu siapa, pak. Tapi saya melihat beliau itu yang tadi datang mengendarai Vespa. Saya kesal, lalu saya jahili Vespa beliau itu, pak. Tapi setelah bapak memperkenalkan bahwa beliau itu calon pengganti bapak, kami ketakutan. Saya ketakutan dan mengajak Iwan menemani saya mencari pentil ban Vespa yang saya buang di got. Waktu kami sedang mencari itu, pak Umar itu datang ke tempat parkir sepeda motor. Kami tambah ketakutan. Beliau menanyakan apa yang kami lakukan. Beliau menanyakan nama kami berdua dan dari kelas mana. Setelah itu beliau menyuruh kami kembali ke kelas. Saya tadinya mau mengajak Iwan kabur dari sekolah, tapi kepergok bapak di gerbang. Itulah yang terjadi pak.’
Pak Suprapto berpandang-pandangan dengan pak Mursyid, hampir tak percaya.
‘Baiklah. Saya ingin kamu mengulangi cerita ini di depan orang tua kamu. Sekarang beritahukan berapa nomor telepon orang tua kamu, karena saya akan memintanya segera datang sekarang juga.’
‘Saya minta maaf pak. Mohon jangan bapak panggil orang tua saya ke sini pak. Saya mohon dengan sangat. Saya bersedia bapak hukum apa saja.’
‘O..itu tidak bisa. Kekurang ajaran kamu ini harus diketahui juga oleh orang tua kamu. Berikan nomor teleponnya atau handphonenya sekarang!’
‘Saya benar-benar memohon pak. Akibatnya bisa fatal pak.’
‘Fatal? Fatal untuk kamu? Apa kamu diancam akan dibunuh orang tua kamu kalau mereka tahu bagaimana kurang ajarnya kamu? Apa kamu ini di rumah anak yang sangat baik? Tidak. Bagaimana juapun orang tua kamu harus diberi tahu. Ini bukan sekedar perbuatan iseng, tapi sudah menjurus ke kriminalitas. Kamu tahu, pak Umar itu barusan bergegas mau ke rumah sakit karena dia dapat telepon anaknya mengalami kecelakaan. Tapi dia tidak bisa menggunakan kendaraannya karena kejahatan yang kamu lakukan. Kalau kamu tidak mau memberi tahu nomor telepon orang tua kamu, saya akan mencarinya di Tata Usaha.’
‘Pak. Sekali lagi saya mohon maaf. Saya akan menerima hukuman apapun yang akan bapak berikan kepada saya. Tapi mohon jangan telepon ibu saya. Ibu saya sedang sakit di rumah. Ibu saya menghabiskan hari-hari beliau di tempat tidur. Beliau menderita kanker. Kalau beliau diberi tahu tentang saya sekarang, saya takut ibu saya tidak akan kuat menerimanya.’
‘Kalau begitu saya akan telepon ayah kamu.’
‘Bahkan akan lebih gawat pak. Orang tua saya dalam proses mau bercerai. Ayah saya selalu memarah-marahi ibu. Sedang ibu saya dalam keadaan sakit. Saya tidak takut untuk ditempelengi ayah, tapi saya takut kalau ibu dibentak-bentak ayah, penyakit ibu akan semakin parah.’
‘Kalau tahu begitu kenapa kamu masih berlaku kurang ajar di sini?’
‘Saya mengaku salah pak. Saya minta maaf. Saya akan minta maaf kepada pak Umar. Saya akan pasrah seandainya bapak mau memukul saya. Atau mau menghukum saya dengan hukuman apapun.’
‘Bagaimana kalau kamu saya keluarkan dari sekolah ini?’
‘Itupun akan saya terima pak. Dan saya harus berpura-pura kepada ibu saya bahwa saya masih tetap sekolah. Dan saya akan mencoba mencari sekolah lain diam-diam dan menjaga jangan sampai ibu saya tahu.’
‘Baiklah. Saya tangguhkan hukuman kamu sampai pak Umar kembali. Saya akan jelaskan cerita ini nanti kepada pak Umar. Bukan…bukan begitu. Kamu yang harus mengulangi penjelasan ini nanti kepada pak Umar. Sekarang, kalian berdua, kalian bongkar ban Vespa pak Umar itu dan kalian bawa ke tukang ban untuk dipompa kembali. Setelah itu kalian pasang kembali. Dan kalian usahakan menutupi coret-coretan di sepeda motor itu paling tidak agar tulisannya tidak terbaca lagi. Seandainya pak Umar memaafkan kalian, terutama kamu Adrianto, maka ini merupakan peringatan terakhir untuk kamu. Kalau kamu melakukan lagi hal-hal kurang ajar sesudah ini, kamu segera dikeluarkan. Kamu akan diberi surat peringatan yang akan di tempel di ruangan guru sehingga setiap guru akan mengawasi kamu secara khusus. Sekarang kalian pergi lakukan yang saya katakan!’
*****
Tuesday, October 7, 2008
Monday, October 6, 2008
SANG AMANAH (4)
(4)
Sementara guru-guru masuk ke kelas masing-masing untuk memulai pelajaran pertama, pak Suprapto dan pak Umar kembali ke ruangan kepala sekolah melanjutkan pembicaraan mereka tadi. Di ruangan pak Suprapto ada papan board besar berisi informasi lengkap tentang data-data pribadi setiap guru-guru yang mengajar di SMU 369.
Pak Suprapto memanggil pak Dadang, kepala Tata Usaha sekolah dan memperkenalkannya kepada pak Umar. Pak Suprapto meminta pak Dadang untuk mengambil daftar semua kelas beserta jumlah murid masing-masing kelas. Tidak lama kemudian pak Dadang datang membawa tiga buah map tebal berisi macam-macam informasi yang diminta.
‘Mari kita lanjutkan pak Umar. Jumlah murid di SMU ini ada 718 orang dalam 18 kelas. Masing-masing kelas satu, dua dan tiga ada enam kelas. Jumlah ruangan belajar sementara ini disesuaikan dengan jumlah kelas yakni 18. Masih ada dua ruangan lagi yang bisa digunakan sebagai ruang kelas yang sementara ini dijadikan aula pertemuan dan untuk kegiatan ekstra-kurikuler dan kesenian. Kita mempunyai laboratorium biologi/kimia dan fisika serta ruangan komputer. Bukannya saya membanggakan diri, tapi sepuluh buah ruangan yang ada dibangun selama saya menjabat menjadi kepala sekolah. Wali-wali murid di sini banyak yang kaya-kaya dan saya berhasil melibatkan mereka untuk membangun sekolah ini. Oh ya, kita juga punya mesjid. Ini tentu penting sekali buat pak Umar ketahui. Tentu pak Umar akan dapat memajukan penggunaan mesjid ini nantinya untuk pendidikan anak-anak yang beragama Islam.’
Pak Umar tersenyum mendengar uraian pak Suprapto yang terakhir ini.
‘Apakah mesjid itu tidak penting untuk bapak?’
‘Ooh penting juga. Saya sering juga shalat di sana. Beberapa kali dulu kami mengadakan shalat Jumat di sini. Tapi lama kelamaan karena yang jadi khatibnya selalu pak Darmawan, guru agama itu, anak-anak bosan. Akhirnya malahan tidak ada lagi shalat Jumat di sini. Kalau mau shalat Jumat kita pergi ke mesjid kampung di sebelah timur sana yang saya lupa namanya.’
‘Jadi mesjid sekolah ini sehari-hari tidak pernah digunakan lagi pak?’ tanya pak Umar menyelidik.
‘Masih digunakan. Masih ada anak-anak yang shalat di sana. Biasanya digunakan juga untuk pesantren kilat di bulan puasa. Di samping itu perayaan hari-hari besar Islam kita lakukan di mesjid itu juga. Untuk jelasnya pak Umar bisa menanyakan kepada pak Darmawan nanti. Baiklah saya teruskan mengenai guru-guru. Staf guru yang mengajar di sini saat ini termasuk saya sendiri ada 39 orang seperti yang tertera di papan board besar ini. 22 orang guru laki-laki dan 17 orang guru wanita. Ada 2 orang guru olah raga yang sangat berambisi untuk memajukan olah raga di sekolah ini yaitu pak Hardjono, mengajar kelas satu dan sebagian kelas dua serta pak Mursyid yang mengajar kelas lainnya. Ada kebijaksanaan guru olah raga ini yang sedang mereka uji cobakan, yang sebenarnya saya pribadi tidak terlalu suka yaitu membiarkan anak-anak di sekolah ini duel atau berkelahi dengan syarat satu lawan satu dan tidak boleh menggunakan senjata. Kata kedua guru itu hal ini untuk menyalurkan hasrat berkelahi anak-anak agar mereka tidak terlibat tawuran. Katanya lagi perkelahian itu harus selesai hari itu juga dan tidak boleh ada dendam serta tidak boleh dibawa keluar sekolah. Tapi siapa yang bisa menjamin? Hal ini baru diperkenalkan kedua guru olah raga itu sejak dua bulan ini. Hampir tiap hari sekarang ada duel seperti itu.’
‘Saya hampir menyaksikannya tadi pagi pak. Tapi saya yang tidak tahu peraturan tersebut membentak mereka tanpa sadar. Mereka bubar sesudah itu.’
‘Seperti saya katakan, saya sebenarnya keberatan karena mengandung resiko dimana anak-anak itu bisa jadi semakin suka berkelahi. Tapi jalan ini ditempuh setelah diputuskan majelis guru sebagai uji coba yang akan dievaluasi ulang setelah tiga bulan. Ada lagi ketentuan lain. Guru-guru tidak boleh melibatkan diri untuk melerai, jadi harus dibiarkan mereka berkelahi sampai salah satu menyerah kalah.’
‘Lalu setelah itu apakah yang menang tidak jadi sewenang-wenang terhadap yang mengaku kalah, pak?’
‘Entahlah. Saya belum pernah dapat laporan tentang itu. Memang saya akui sebelum ini anak-anak ini beberapa kali terlibat tawuran dengan sekolah lain. Bahkan pernah sekolah ini diserang murid-murid sekolah lain sehingga saya harus menelepon polisi. Untung waktu itu polisi cepat datang. Kebetulan pos polisi memang tidak terlalu jauh dari sini. Urusan kenakalan remaja ini memang memerlukan perhatian khusus.’
‘Bagaimana dengan kasus penggunaan obat-obat terlarang pak. Apakah juga ada di sini?’
‘Persis. Saya telah mengeluarkan lima orang murid dari sekolah tahun ini saja karena terlibat kasus narkoba itu. Mereka kedapatan sedang dalam keadaan mabuk berat atau mereka sebut ‘sakau’. Dua atau tiga orang di antaranya telah mengalami hal yang sama sampai dua kali di sekolah. Kelakuan mereka persis seperti orang gila. Saya panggil orang tuanya untuk menyaksikan anak mereka dalam keadaan mabuk berat seperti itu. Rupanya anak-anak itu memang dari keluarga bermasalah. Sebangsa ‘broken home’ begitu. Saya terpaksa mengembalikan mereka kepada orang tuanya. Semenjak itu secara berkala, tanpa pemberi tahuan terlebih dahulu, kami adakan razia dengan memeriksa tas-tas anak-anak, kantong baju dan celana mereka, menguji air seni mereka yang dicurigai terlibat obat-obat terlarang itu. Sementara ini belum ada lagi kasus lain. Yang juga perlu jadi perhatian adalah kasus moral anak-anak. Terus terang, hal ini tidak hanya menyangkut anak didik tapi para gurupun ada yang patut diawasi. Sepertinya ada oknum guru kita yang tidak baik moralnya karena suka ‘mengganggu’ dalam tanda kutip murid-murid wanita. Ini saya dengar dari rumor yang beredar di kalangan guru-guru. Saya sudah pernah memanggil dan menanyai guru yang diduga bermasalah itu tapi tentu saja dia tidak mengaku. Belum lagi kasus yang terjadi antara sesama murid. Bahkan pernah terjadi setahun yang lalu seorang murid wanita akhirnya terpaksa berhenti sendiri dari sekolah karena hamil.’
‘Boleh saya menanyakan hal lain dulu pak, selain yang menyangkut masalah akhlak seperti yang bapak ceritakan?’
‘Silahkan. Masalah apa yang ingin anda tanyakan?’
‘Bagaimana mengenai kegiatan belajar tambahan yang dilakukan di sekolah ini khususnya untuk anak-anak kelas tiga yang sedang mempersiapkan diri untuk masuk perguruan tinggi. Apakah ada bimbingan belajar khusus yang diadakan sekolah?’
‘Ada, meskipun sifatnya sukarela. Dan karena sukarela itu hasilnya tidak maksimal. Guru-guru tidak mungkin mengorbankan waktu tambahannya kalau tidak ada imbalan yang memadai. Ini kan hal yang sangat wajar saja. Waktu saya mintakan partisipasi wali murid untuk memikirkan kesejahteraan guru, mereka meminta agar pelajaran tambahan itu diberikan oleh guru-guru dari luar yang lebih profesional. Katakanlah dari guru-guru bimbingan belajar yang sifatnya komersial itu. Tentu saja itu tidak dapat kita penuhi karena di samping biayanya akan mahal sekali, kita juga ingin pelajaran tambahan ini ditangani oleh guru-guru di sini. Jadi tidak ada titik temu antara pendapat mayoritas wali murid dengan kondisi yang kita tawarkan. Akhirnya tetap kita adakan juga dengan sumbangan dari beberapa wali murid saja. Pesertanya hanya dua kelas dan itupun tidak penuh . Melibatkan kira-kira 60 orang murid. Kelas ekstra ini diadakan tiga kali seminggu, setiap hari Senin, Rabu dan Kamis.’
‘Berapa orang guru yang menangani kelas ekstra itu pak?’
‘Perlu saya jelaskan bahwa kita punya guru yang punya dedikasi tinggi dan sangat bersungguh-sungguh untuk membantu anak-anak, yaitu pak Sofyan guru matematika dan pak Amir guru kimia. Beliau berdua ini boleh dikatakan tanpa pamrih. Pernah terjadi hal lucu. Pak Sofyan menerangkan pelajaran fisika yang ditanyakan oleh murid waktu pelajaran tambahan itu. Pak Situmorang guru fisika mengetahui bahwa murid itu diajar oleh pak Sofyan dan oleh karenanya dia protes. Oleh pak Sofyan dengan santai diberitahu kalau pak Situmorang tersinggung lebih baik pak Situmorang membantu pula mengajar kelas tambahan. Untunglah dia akhirnya juga setuju untuk memberi pelajaran ekstra itu. Ada sepuluh orang guru yang terlibat dalam memberikan pelajaran tambahan itu sekarang. ’
Diskusi antara pak Suprapto dan pak Umar berlangsung santai. Mereka membahas hal-hal lain yang menyangkut pendidikan anak-anak diselingi masalah lainnya di seputar keadaan sekolah. Sementara itu telepon berdering. Pak Suprapto mengangkat telepon dan terlibat pembicaraan dengan orang di seberang sana.
‘Halo, selamat pagi…. Wa’alaikum salam…... Ya betul, ini SMU 369.’………..’Ya betul, saya sendiri. Ini dari mana?’……….’Oh ya. Mau berbicara dengan siapa?’……….’Oh ya ada. Ini sedang bersama saya. Kami sedang rapat. Ibu mau berbicara?’………..
‘Pak Umar, ini dari istri anda. Silahkan diterima.’
Pak Suprapto menyerahkan gagang telepon itu kepada pak Umar.
‘Ya halo. Assalamu’alaikum. Ada apa Fat?’……..’Innalillahi… kamu sekarang dimana?’…….’Bagaimana keadaannya?’…….’Baiklah, abang segera ke sana. Kamu tunggu di sana saja ya!’…… ‘Wa’alaikum salam warahmatullah’. Pak Umar meletakkan gagang telepon.
‘Pak, kami dapat musibah nih. Anak saya Amir mendapat kecelakaan ditabrak sepeda motor di depan sekolahnya. Bagaimana kalau saya minta izin dulu melihatnya ke rumah sakit sebentar?’
‘Apakah dia selamat? Maksud saya …..’
‘Ya dia luka dan harus di jahit. Sekarang di Rumah sakit Harmoni.’
‘Tapi benar dia tidak apa-apa? Atau ada yang meninggal karena kecelakaan itu?’
‘Tidak apa-apa pak. Tidak ada yang meninggal. Hanya lukanya agak serius di kepalanya dan harus dijahit.’
‘Saya dengar tadi pak Umar menyebut ‘Innalillahi’?
‘Oh ya pak. Setiap mendapat musibah saya membacanya. Itu sunnah nabi.’
‘Syukurlah kalau begitu. Silahkan kalau pak Umar mau menengok anaknya dulu. Ini bisa kita teruskan besok-besok.’
‘Kalau urusan di rumah sakit itu selesai cepat saya segera kembali ke sini pak.’
‘Terserah pak Umar. Tapi kalau memang ada yang perlu diselesaikan, selesaikan dulu urusannya. Kitakan masih punya banyak waktu. Saya masih akan di sini dua minggu lagi. Silahkan kalau pak Umar mau pergi sekarang.’
‘Baiklah pak, kalau begitu saya minta permisi dulu.’
‘Silahkan pak Umar. Mudah-mudahan anaknya tidak apa-apa dan segera sembuh. Salam saya untuk ibu Umar.’
‘Baik pak. Assalamu’alaikum.’
‘Wa’alaikum salam.’
*****
Sementara guru-guru masuk ke kelas masing-masing untuk memulai pelajaran pertama, pak Suprapto dan pak Umar kembali ke ruangan kepala sekolah melanjutkan pembicaraan mereka tadi. Di ruangan pak Suprapto ada papan board besar berisi informasi lengkap tentang data-data pribadi setiap guru-guru yang mengajar di SMU 369.
Pak Suprapto memanggil pak Dadang, kepala Tata Usaha sekolah dan memperkenalkannya kepada pak Umar. Pak Suprapto meminta pak Dadang untuk mengambil daftar semua kelas beserta jumlah murid masing-masing kelas. Tidak lama kemudian pak Dadang datang membawa tiga buah map tebal berisi macam-macam informasi yang diminta.
‘Mari kita lanjutkan pak Umar. Jumlah murid di SMU ini ada 718 orang dalam 18 kelas. Masing-masing kelas satu, dua dan tiga ada enam kelas. Jumlah ruangan belajar sementara ini disesuaikan dengan jumlah kelas yakni 18. Masih ada dua ruangan lagi yang bisa digunakan sebagai ruang kelas yang sementara ini dijadikan aula pertemuan dan untuk kegiatan ekstra-kurikuler dan kesenian. Kita mempunyai laboratorium biologi/kimia dan fisika serta ruangan komputer. Bukannya saya membanggakan diri, tapi sepuluh buah ruangan yang ada dibangun selama saya menjabat menjadi kepala sekolah. Wali-wali murid di sini banyak yang kaya-kaya dan saya berhasil melibatkan mereka untuk membangun sekolah ini. Oh ya, kita juga punya mesjid. Ini tentu penting sekali buat pak Umar ketahui. Tentu pak Umar akan dapat memajukan penggunaan mesjid ini nantinya untuk pendidikan anak-anak yang beragama Islam.’
Pak Umar tersenyum mendengar uraian pak Suprapto yang terakhir ini.
‘Apakah mesjid itu tidak penting untuk bapak?’
‘Ooh penting juga. Saya sering juga shalat di sana. Beberapa kali dulu kami mengadakan shalat Jumat di sini. Tapi lama kelamaan karena yang jadi khatibnya selalu pak Darmawan, guru agama itu, anak-anak bosan. Akhirnya malahan tidak ada lagi shalat Jumat di sini. Kalau mau shalat Jumat kita pergi ke mesjid kampung di sebelah timur sana yang saya lupa namanya.’
‘Jadi mesjid sekolah ini sehari-hari tidak pernah digunakan lagi pak?’ tanya pak Umar menyelidik.
‘Masih digunakan. Masih ada anak-anak yang shalat di sana. Biasanya digunakan juga untuk pesantren kilat di bulan puasa. Di samping itu perayaan hari-hari besar Islam kita lakukan di mesjid itu juga. Untuk jelasnya pak Umar bisa menanyakan kepada pak Darmawan nanti. Baiklah saya teruskan mengenai guru-guru. Staf guru yang mengajar di sini saat ini termasuk saya sendiri ada 39 orang seperti yang tertera di papan board besar ini. 22 orang guru laki-laki dan 17 orang guru wanita. Ada 2 orang guru olah raga yang sangat berambisi untuk memajukan olah raga di sekolah ini yaitu pak Hardjono, mengajar kelas satu dan sebagian kelas dua serta pak Mursyid yang mengajar kelas lainnya. Ada kebijaksanaan guru olah raga ini yang sedang mereka uji cobakan, yang sebenarnya saya pribadi tidak terlalu suka yaitu membiarkan anak-anak di sekolah ini duel atau berkelahi dengan syarat satu lawan satu dan tidak boleh menggunakan senjata. Kata kedua guru itu hal ini untuk menyalurkan hasrat berkelahi anak-anak agar mereka tidak terlibat tawuran. Katanya lagi perkelahian itu harus selesai hari itu juga dan tidak boleh ada dendam serta tidak boleh dibawa keluar sekolah. Tapi siapa yang bisa menjamin? Hal ini baru diperkenalkan kedua guru olah raga itu sejak dua bulan ini. Hampir tiap hari sekarang ada duel seperti itu.’
‘Saya hampir menyaksikannya tadi pagi pak. Tapi saya yang tidak tahu peraturan tersebut membentak mereka tanpa sadar. Mereka bubar sesudah itu.’
‘Seperti saya katakan, saya sebenarnya keberatan karena mengandung resiko dimana anak-anak itu bisa jadi semakin suka berkelahi. Tapi jalan ini ditempuh setelah diputuskan majelis guru sebagai uji coba yang akan dievaluasi ulang setelah tiga bulan. Ada lagi ketentuan lain. Guru-guru tidak boleh melibatkan diri untuk melerai, jadi harus dibiarkan mereka berkelahi sampai salah satu menyerah kalah.’
‘Lalu setelah itu apakah yang menang tidak jadi sewenang-wenang terhadap yang mengaku kalah, pak?’
‘Entahlah. Saya belum pernah dapat laporan tentang itu. Memang saya akui sebelum ini anak-anak ini beberapa kali terlibat tawuran dengan sekolah lain. Bahkan pernah sekolah ini diserang murid-murid sekolah lain sehingga saya harus menelepon polisi. Untung waktu itu polisi cepat datang. Kebetulan pos polisi memang tidak terlalu jauh dari sini. Urusan kenakalan remaja ini memang memerlukan perhatian khusus.’
‘Bagaimana dengan kasus penggunaan obat-obat terlarang pak. Apakah juga ada di sini?’
‘Persis. Saya telah mengeluarkan lima orang murid dari sekolah tahun ini saja karena terlibat kasus narkoba itu. Mereka kedapatan sedang dalam keadaan mabuk berat atau mereka sebut ‘sakau’. Dua atau tiga orang di antaranya telah mengalami hal yang sama sampai dua kali di sekolah. Kelakuan mereka persis seperti orang gila. Saya panggil orang tuanya untuk menyaksikan anak mereka dalam keadaan mabuk berat seperti itu. Rupanya anak-anak itu memang dari keluarga bermasalah. Sebangsa ‘broken home’ begitu. Saya terpaksa mengembalikan mereka kepada orang tuanya. Semenjak itu secara berkala, tanpa pemberi tahuan terlebih dahulu, kami adakan razia dengan memeriksa tas-tas anak-anak, kantong baju dan celana mereka, menguji air seni mereka yang dicurigai terlibat obat-obat terlarang itu. Sementara ini belum ada lagi kasus lain. Yang juga perlu jadi perhatian adalah kasus moral anak-anak. Terus terang, hal ini tidak hanya menyangkut anak didik tapi para gurupun ada yang patut diawasi. Sepertinya ada oknum guru kita yang tidak baik moralnya karena suka ‘mengganggu’ dalam tanda kutip murid-murid wanita. Ini saya dengar dari rumor yang beredar di kalangan guru-guru. Saya sudah pernah memanggil dan menanyai guru yang diduga bermasalah itu tapi tentu saja dia tidak mengaku. Belum lagi kasus yang terjadi antara sesama murid. Bahkan pernah terjadi setahun yang lalu seorang murid wanita akhirnya terpaksa berhenti sendiri dari sekolah karena hamil.’
‘Boleh saya menanyakan hal lain dulu pak, selain yang menyangkut masalah akhlak seperti yang bapak ceritakan?’
‘Silahkan. Masalah apa yang ingin anda tanyakan?’
‘Bagaimana mengenai kegiatan belajar tambahan yang dilakukan di sekolah ini khususnya untuk anak-anak kelas tiga yang sedang mempersiapkan diri untuk masuk perguruan tinggi. Apakah ada bimbingan belajar khusus yang diadakan sekolah?’
‘Ada, meskipun sifatnya sukarela. Dan karena sukarela itu hasilnya tidak maksimal. Guru-guru tidak mungkin mengorbankan waktu tambahannya kalau tidak ada imbalan yang memadai. Ini kan hal yang sangat wajar saja. Waktu saya mintakan partisipasi wali murid untuk memikirkan kesejahteraan guru, mereka meminta agar pelajaran tambahan itu diberikan oleh guru-guru dari luar yang lebih profesional. Katakanlah dari guru-guru bimbingan belajar yang sifatnya komersial itu. Tentu saja itu tidak dapat kita penuhi karena di samping biayanya akan mahal sekali, kita juga ingin pelajaran tambahan ini ditangani oleh guru-guru di sini. Jadi tidak ada titik temu antara pendapat mayoritas wali murid dengan kondisi yang kita tawarkan. Akhirnya tetap kita adakan juga dengan sumbangan dari beberapa wali murid saja. Pesertanya hanya dua kelas dan itupun tidak penuh . Melibatkan kira-kira 60 orang murid. Kelas ekstra ini diadakan tiga kali seminggu, setiap hari Senin, Rabu dan Kamis.’
‘Berapa orang guru yang menangani kelas ekstra itu pak?’
‘Perlu saya jelaskan bahwa kita punya guru yang punya dedikasi tinggi dan sangat bersungguh-sungguh untuk membantu anak-anak, yaitu pak Sofyan guru matematika dan pak Amir guru kimia. Beliau berdua ini boleh dikatakan tanpa pamrih. Pernah terjadi hal lucu. Pak Sofyan menerangkan pelajaran fisika yang ditanyakan oleh murid waktu pelajaran tambahan itu. Pak Situmorang guru fisika mengetahui bahwa murid itu diajar oleh pak Sofyan dan oleh karenanya dia protes. Oleh pak Sofyan dengan santai diberitahu kalau pak Situmorang tersinggung lebih baik pak Situmorang membantu pula mengajar kelas tambahan. Untunglah dia akhirnya juga setuju untuk memberi pelajaran ekstra itu. Ada sepuluh orang guru yang terlibat dalam memberikan pelajaran tambahan itu sekarang. ’
Diskusi antara pak Suprapto dan pak Umar berlangsung santai. Mereka membahas hal-hal lain yang menyangkut pendidikan anak-anak diselingi masalah lainnya di seputar keadaan sekolah. Sementara itu telepon berdering. Pak Suprapto mengangkat telepon dan terlibat pembicaraan dengan orang di seberang sana.
‘Halo, selamat pagi…. Wa’alaikum salam…... Ya betul, ini SMU 369.’………..’Ya betul, saya sendiri. Ini dari mana?’……….’Oh ya. Mau berbicara dengan siapa?’……….’Oh ya ada. Ini sedang bersama saya. Kami sedang rapat. Ibu mau berbicara?’………..
‘Pak Umar, ini dari istri anda. Silahkan diterima.’
Pak Suprapto menyerahkan gagang telepon itu kepada pak Umar.
‘Ya halo. Assalamu’alaikum. Ada apa Fat?’……..’Innalillahi… kamu sekarang dimana?’…….’Bagaimana keadaannya?’…….’Baiklah, abang segera ke sana. Kamu tunggu di sana saja ya!’…… ‘Wa’alaikum salam warahmatullah’. Pak Umar meletakkan gagang telepon.
‘Pak, kami dapat musibah nih. Anak saya Amir mendapat kecelakaan ditabrak sepeda motor di depan sekolahnya. Bagaimana kalau saya minta izin dulu melihatnya ke rumah sakit sebentar?’
‘Apakah dia selamat? Maksud saya …..’
‘Ya dia luka dan harus di jahit. Sekarang di Rumah sakit Harmoni.’
‘Tapi benar dia tidak apa-apa? Atau ada yang meninggal karena kecelakaan itu?’
‘Tidak apa-apa pak. Tidak ada yang meninggal. Hanya lukanya agak serius di kepalanya dan harus dijahit.’
‘Saya dengar tadi pak Umar menyebut ‘Innalillahi’?
‘Oh ya pak. Setiap mendapat musibah saya membacanya. Itu sunnah nabi.’
‘Syukurlah kalau begitu. Silahkan kalau pak Umar mau menengok anaknya dulu. Ini bisa kita teruskan besok-besok.’
‘Kalau urusan di rumah sakit itu selesai cepat saya segera kembali ke sini pak.’
‘Terserah pak Umar. Tapi kalau memang ada yang perlu diselesaikan, selesaikan dulu urusannya. Kitakan masih punya banyak waktu. Saya masih akan di sini dua minggu lagi. Silahkan kalau pak Umar mau pergi sekarang.’
‘Baiklah pak, kalau begitu saya minta permisi dulu.’
‘Silahkan pak Umar. Mudah-mudahan anaknya tidak apa-apa dan segera sembuh. Salam saya untuk ibu Umar.’
‘Baik pak. Assalamu’alaikum.’
‘Wa’alaikum salam.’
*****
SANG AMANAH (3)
(3)
Pak Umar meneruskan langkahnya mendekati kantor guru-guru. Di ruangan itu sudah ada beberapa orang guru dan pak Umar mengenali ibu Sofni yang dulu pernah sama-sama mengajar di SMU 267. Ibu Sofni datang menghampiri pak Umar. Pak Umar mengucapkan salam kepada guru-guru itu.
‘Selamat pagi pak Umar. Surprise nih. Saya dengar mau jadi atasan kami di sini.’
‘Selamat pagi bu Sofni. Bagaimana kabar? Dari SMU 267 dulu pindah ke sini dan belum pindah lagi ya?’
‘Ya begitulah pak. Tapi di sini menyenangkan buat saya. Lebih dekat ke rumah.’
‘Tapi ngomong-ngomong apa pak Suprapto sudah datang?’
‘Sudah. Barusan beliau bercerita bahwa sedang menunggu sampeyan. Silahkan masuk saja pak. Itu ruangan beliau.’
‘Baik bu Sofni. Kalau begitu saya temui beliau dulu.’
Pak Umar mengetuk pintu ruangan pak Suprapto. Pak Suprapto datang membukakan pintu dan menyilahkannya masuk ke ruangan ber AC itu. Kedua orang itu terlibat dalam pembicaraan basa basi. Pak Suprapto langsung menunjukkan bagian-bagian kantornya itu, menunjukkan lemari-lemari yang ada berikut isinya. Sementara itu jam sudah menunjukkan pukul tujuh kurang lima.
‘Jam tujuh kita upacara. Biar sekalian saya perkenalkan anda kepada murid-murid di sini. Tapi sebelumnya saya kenalkan dulu kepada guru-guru yang ada di ruangan sebelah. Mari pak Umar.’
Pak Umar mengikuti pak Suprapto yang kemudian memperkenalkannya kepada staf guru-guru. Ada pak Muslih guru bahasa Inggeris, pak Sofyan guru matematika, pak Darmaji guru bahasa Jepang, pak Situmorang guru fisika, pak Hardjono guru olah raga. Ada ibu Sofni, ibu Dewi, ibu Pratiwi, ibu Sarah yang pakai jilbab, ibu Hartini, ibu Lastri. Guru-guru yang lain sudah ke lapangan upacara.
Jam tujuh tepat upacara itu di mulai. Murid-murid berbaris menurut kelasnya masing-masing. Barisan itu tidak rapi-rapi amat, karena maklumlah mereka selalu saja berusaha menunjukkan kebandelannya. Guru-guru berbaris pula dalam satu garis lurus menghadap ke arah murid-murid itu. Bagian paling penting dari upacara itu adalah pidato kepala sekolah atau amanat inspektur upacara. Disaat pak Suprapto berpidato biasanya sekali-sekali terdengar celetukan nakal dari barisan murid-murid itu. Mereka menggelari pak Suprapto itu ‘jenderal’. Pagi ini, waktu pak Suprapto mengambil tempat di podium upacara murid-murid di barisan belakang meneriakkan, ‘Hidup jenderal!!!’
Pagi ini pak Suprapto terlihat lebih ceria dari biasanya. Dan ini mengherankan guru-guru maupun murid-murid. Seperti biasa beliau menyampaikan nasihat yang oleh sebagian anak-anak dikatakan sudah basi karena itu-itu melulu.
‘Jadilah anak-anak berprestasi. Jadilah anak-anak yang bercita-cita luhur dan tinggi. Mari kita jaga nama sekolah kita ini sebagai sebuah lembaga pendidikan yang disegani masyarakat dengan murid-muridnya yang berprestasi.’
‘Siaaap jenderaaal!!!’ teriak anak-anak tadi lagi.
‘Rekan-rekan guru dan anak-anak sekalian. Hari ini ada suatu berita penting yang harus saya sampaikan kepada kalian semua. Sebagaimana yang sudah pernah saya sampaikan bahwa saya segera akan memasuki pensiun. Saya sudah tua, umur saya sudah 60 tahun. Saya sudah menjadi pendidik selama 36 tahun. Sekarang waktunya bagi saya untuk beristirahat. Namun pendidikan tentu saja tidak akan pernah berhenti di SMU 369 ini. Saya sangat bangga untuk memperkenalkan kepada kalian pengganti saya yang jauh lebih muda dari saya. Mudah-mudahan dengan kepemimpinan beliau ini nanti prestasi belajar murid-murid SMU 369 ini bisa lebih ditingkatkan lagi. Untuk itu saya perkenalkan kepada kalian semua…Bapak Drs. Umar Hamzah. Pak Umar tolong berdiri di sini dengan saya.’
Pak Umar naik ke podium ke dekat pak Suprapto. Beliau berdua melambaikan tangan ke arah murid-murid. Murid-murid dibarisan depan membalas lambaian itu dengan lambaian tangan pula.
‘Pak Umar silahkan anda kembali ke barisan guru-guru karena saya masih akan melanjutkan pidato saya sedikit lagi.’
Pak Umar turun dari podium kembali ke barisan guru di belakang. Guru-guru yang tadi belum sempat berkenalan menyalami beliau, mengucapkan selamat datang.
‘Rekan-rekan guru dan anak-anakku sekalian. Saya merasa perlu menceritakan pribadi pak Umar yang saya kenal. Beliau pernah mengajar di SMU yang saya pimpin sebelum saya datang ke sekolah ini lima tahun yang lalu. Beliau adalah seorang yang sangat sederhana dan sangat disiplin. Saya bahkan sangat mengagumi beliau untuk kedua hal itu. Beliau seorang yang sangat teguh pada pendiriannya. Namun beliau juga adalah seorang yang berkepribadian menyenangkan. Beliau sangat perduli dengan kesulitan siapa saja dan dengan sekuat tenaganya selalu berusaha membantu. Saya tidak memuji-muji beliau karena tidak ada manfaatnya memuji-muji itu bagi saya maupun bagi kalian semua. Tapi saya sampaikan ini agar kalian dapat menyambut kedatangan beliau untuk bekerja sama dengan beliau. Sekali lagi, kepada pak Umar saya ucapkan selamat datang, selamat berkarya di sekolah ini. Sekolah ini memerlukan tangan anda, tenaga anda, pikiran-pikiran anda. Sekolah ini kadang-kadang disinyalir orang luar sebagai sekolah anak-anak orang kaya. Sekolah anak-anak borjuis. Sekolah ini dikenal orang luar sebagai sekolah anak-anak bandel dengan reputasi belajar yang tidak cemerlang. Saya telah berbuat untuk memperbaiki citra itu semampu saya. Walaupun tidak banyak hasilnya, kami para guru-guru di sini sudah bekerja keras memperbaiki citra itu sedikit demi sedikit. Ada anak-anak yang terpaksa kami keluarkan dari sini. Ada anak-anak yang terpaksa kami skors dari sekolah ini. Namun juga ada beberapa anak yang kami bebaskan uang sekolahnya di sini karena orang tuanya tidak mampu. Di sini ada anak-anak yang orang tuanya orang berduit, tapi kami juga menyediakan tempat untuk anak-anak berprestasi yang orang tua mereka kurang beruntung. Dan kami bersyukur, tahun ini untuk pertama kalinya sejak sekolah ini berdiri sudah ada 2 orang murid sekolah ini yang diterima di ITB. Demikianlah pak Umar, saya serah terimakan tanggung jawab memimpin sekolah ini kepada anda. Sekian dan terima kasih.’
Upacara selesai. Murid-murid itu masuk ke kelasnya masing-masing. Trio ‘pemberani’ Anto, Iwan dan Sapto terlihat lusuh. Anto bahkan sangat pucat karena ketakutan.
‘Kepala sekolah yang baru? Mampus deh kita,’ kata Iwan.
‘Lo sih, tadi ikut-ikutan. Mana banyak anak yang lihat lagi tadi. Gimana dong nih?’ Sapto cemas sekali.
‘Sudahlah kita lihat saja nanti. Tapi entar lo temanin gue ya, ngambil pentil ban Vespa tadi yang gue buang di got.’
Anto berusaha sok tenang meski suaranya bergetar. Ketiganya melangkah lesu menuju kelas mereka.
*****
Pak Umar meneruskan langkahnya mendekati kantor guru-guru. Di ruangan itu sudah ada beberapa orang guru dan pak Umar mengenali ibu Sofni yang dulu pernah sama-sama mengajar di SMU 267. Ibu Sofni datang menghampiri pak Umar. Pak Umar mengucapkan salam kepada guru-guru itu.
‘Selamat pagi pak Umar. Surprise nih. Saya dengar mau jadi atasan kami di sini.’
‘Selamat pagi bu Sofni. Bagaimana kabar? Dari SMU 267 dulu pindah ke sini dan belum pindah lagi ya?’
‘Ya begitulah pak. Tapi di sini menyenangkan buat saya. Lebih dekat ke rumah.’
‘Tapi ngomong-ngomong apa pak Suprapto sudah datang?’
‘Sudah. Barusan beliau bercerita bahwa sedang menunggu sampeyan. Silahkan masuk saja pak. Itu ruangan beliau.’
‘Baik bu Sofni. Kalau begitu saya temui beliau dulu.’
Pak Umar mengetuk pintu ruangan pak Suprapto. Pak Suprapto datang membukakan pintu dan menyilahkannya masuk ke ruangan ber AC itu. Kedua orang itu terlibat dalam pembicaraan basa basi. Pak Suprapto langsung menunjukkan bagian-bagian kantornya itu, menunjukkan lemari-lemari yang ada berikut isinya. Sementara itu jam sudah menunjukkan pukul tujuh kurang lima.
‘Jam tujuh kita upacara. Biar sekalian saya perkenalkan anda kepada murid-murid di sini. Tapi sebelumnya saya kenalkan dulu kepada guru-guru yang ada di ruangan sebelah. Mari pak Umar.’
Pak Umar mengikuti pak Suprapto yang kemudian memperkenalkannya kepada staf guru-guru. Ada pak Muslih guru bahasa Inggeris, pak Sofyan guru matematika, pak Darmaji guru bahasa Jepang, pak Situmorang guru fisika, pak Hardjono guru olah raga. Ada ibu Sofni, ibu Dewi, ibu Pratiwi, ibu Sarah yang pakai jilbab, ibu Hartini, ibu Lastri. Guru-guru yang lain sudah ke lapangan upacara.
Jam tujuh tepat upacara itu di mulai. Murid-murid berbaris menurut kelasnya masing-masing. Barisan itu tidak rapi-rapi amat, karena maklumlah mereka selalu saja berusaha menunjukkan kebandelannya. Guru-guru berbaris pula dalam satu garis lurus menghadap ke arah murid-murid itu. Bagian paling penting dari upacara itu adalah pidato kepala sekolah atau amanat inspektur upacara. Disaat pak Suprapto berpidato biasanya sekali-sekali terdengar celetukan nakal dari barisan murid-murid itu. Mereka menggelari pak Suprapto itu ‘jenderal’. Pagi ini, waktu pak Suprapto mengambil tempat di podium upacara murid-murid di barisan belakang meneriakkan, ‘Hidup jenderal!!!’
Pagi ini pak Suprapto terlihat lebih ceria dari biasanya. Dan ini mengherankan guru-guru maupun murid-murid. Seperti biasa beliau menyampaikan nasihat yang oleh sebagian anak-anak dikatakan sudah basi karena itu-itu melulu.
‘Jadilah anak-anak berprestasi. Jadilah anak-anak yang bercita-cita luhur dan tinggi. Mari kita jaga nama sekolah kita ini sebagai sebuah lembaga pendidikan yang disegani masyarakat dengan murid-muridnya yang berprestasi.’
‘Siaaap jenderaaal!!!’ teriak anak-anak tadi lagi.
‘Rekan-rekan guru dan anak-anak sekalian. Hari ini ada suatu berita penting yang harus saya sampaikan kepada kalian semua. Sebagaimana yang sudah pernah saya sampaikan bahwa saya segera akan memasuki pensiun. Saya sudah tua, umur saya sudah 60 tahun. Saya sudah menjadi pendidik selama 36 tahun. Sekarang waktunya bagi saya untuk beristirahat. Namun pendidikan tentu saja tidak akan pernah berhenti di SMU 369 ini. Saya sangat bangga untuk memperkenalkan kepada kalian pengganti saya yang jauh lebih muda dari saya. Mudah-mudahan dengan kepemimpinan beliau ini nanti prestasi belajar murid-murid SMU 369 ini bisa lebih ditingkatkan lagi. Untuk itu saya perkenalkan kepada kalian semua…Bapak Drs. Umar Hamzah. Pak Umar tolong berdiri di sini dengan saya.’
Pak Umar naik ke podium ke dekat pak Suprapto. Beliau berdua melambaikan tangan ke arah murid-murid. Murid-murid dibarisan depan membalas lambaian itu dengan lambaian tangan pula.
‘Pak Umar silahkan anda kembali ke barisan guru-guru karena saya masih akan melanjutkan pidato saya sedikit lagi.’
Pak Umar turun dari podium kembali ke barisan guru di belakang. Guru-guru yang tadi belum sempat berkenalan menyalami beliau, mengucapkan selamat datang.
‘Rekan-rekan guru dan anak-anakku sekalian. Saya merasa perlu menceritakan pribadi pak Umar yang saya kenal. Beliau pernah mengajar di SMU yang saya pimpin sebelum saya datang ke sekolah ini lima tahun yang lalu. Beliau adalah seorang yang sangat sederhana dan sangat disiplin. Saya bahkan sangat mengagumi beliau untuk kedua hal itu. Beliau seorang yang sangat teguh pada pendiriannya. Namun beliau juga adalah seorang yang berkepribadian menyenangkan. Beliau sangat perduli dengan kesulitan siapa saja dan dengan sekuat tenaganya selalu berusaha membantu. Saya tidak memuji-muji beliau karena tidak ada manfaatnya memuji-muji itu bagi saya maupun bagi kalian semua. Tapi saya sampaikan ini agar kalian dapat menyambut kedatangan beliau untuk bekerja sama dengan beliau. Sekali lagi, kepada pak Umar saya ucapkan selamat datang, selamat berkarya di sekolah ini. Sekolah ini memerlukan tangan anda, tenaga anda, pikiran-pikiran anda. Sekolah ini kadang-kadang disinyalir orang luar sebagai sekolah anak-anak orang kaya. Sekolah anak-anak borjuis. Sekolah ini dikenal orang luar sebagai sekolah anak-anak bandel dengan reputasi belajar yang tidak cemerlang. Saya telah berbuat untuk memperbaiki citra itu semampu saya. Walaupun tidak banyak hasilnya, kami para guru-guru di sini sudah bekerja keras memperbaiki citra itu sedikit demi sedikit. Ada anak-anak yang terpaksa kami keluarkan dari sini. Ada anak-anak yang terpaksa kami skors dari sekolah ini. Namun juga ada beberapa anak yang kami bebaskan uang sekolahnya di sini karena orang tuanya tidak mampu. Di sini ada anak-anak yang orang tuanya orang berduit, tapi kami juga menyediakan tempat untuk anak-anak berprestasi yang orang tua mereka kurang beruntung. Dan kami bersyukur, tahun ini untuk pertama kalinya sejak sekolah ini berdiri sudah ada 2 orang murid sekolah ini yang diterima di ITB. Demikianlah pak Umar, saya serah terimakan tanggung jawab memimpin sekolah ini kepada anda. Sekian dan terima kasih.’
Upacara selesai. Murid-murid itu masuk ke kelasnya masing-masing. Trio ‘pemberani’ Anto, Iwan dan Sapto terlihat lusuh. Anto bahkan sangat pucat karena ketakutan.
‘Kepala sekolah yang baru? Mampus deh kita,’ kata Iwan.
‘Lo sih, tadi ikut-ikutan. Mana banyak anak yang lihat lagi tadi. Gimana dong nih?’ Sapto cemas sekali.
‘Sudahlah kita lihat saja nanti. Tapi entar lo temanin gue ya, ngambil pentil ban Vespa tadi yang gue buang di got.’
Anto berusaha sok tenang meski suaranya bergetar. Ketiganya melangkah lesu menuju kelas mereka.
*****
Saturday, October 4, 2008
SANG AMANAH (2)
(2)
SMU 369 terletak di jalan Swadaya, kira-kira 500 meter dari jalan raya Kali Malang. Jalan Swadaya ini terletak di kompleks perumahan. Setiap jarak 50 meter diberi ‘polisi tidur’ supaya kendaraan tidak melaju kencang. Pagi hari begini beriring-iringan rombongan anak sekolah menuju ke arah SMU 369. Tidak semuanya murid SMU, karena di samping sekolah itu ada pula SD dan SMP. Begitu pula mobil-mobil pribadi beriring-iringan sehingga jalan kecil inipun hampir macet. Mobil-mobil pribadi itu ada yang dikendarai sendiri oleh murid SMU dan ada yang hanya mengantar. Karena yang mengantar ini bergantian berhenti di gerbang sekolah maka kendaraan yang di belakangnya tertahan sementara dan inilah yang menjadikan macet. Yang mengendarai sepeda motor juga banyak meski tidak semuanya murid SMU karena ada pula tukang ojek motor yang mengantar murid sekolah sebagai penumpangnya.
Jam baru menunjukkan pukul 6.30. Pak Umar mengendarai Vespanya perlahan-lahan mengikuti laju iringan kendaraan lain yang banyak itu. Sesampai di gerbang sekolah petugas satpam menahan pak Umar karena tidak mengenalinya. Pak Umar melepas helm dan ‘topeng’ saputangan sebelum memperkenalkan dirinya. Petugas satpam itu tidak tahu siapa pak Umar karena memang belum pernah bertemu sebelum itu. Pak Umar menjelaskan bahwa dia adalah tamu pak Suprapto. Dia dipersilahkan masuk. Tidak lupa petugas itu mengingatkan bahwa tempat parkir sepeda motor terletak di bagian samping kanan bangunan sekolah. Sementara dia ditahan oleh petugas satpam untuk menanyai identitasnya tadi, pak Umar sempat memperhatikan bahwa mobil-mobil yang memasuki pintu gerbang tidak hanya dikendarai oleh murid-murid SMU tapi ada juga yang dikendarai oleh orang lebih tua yang mungkin guru-guru sekolah itu. Tidak satu orangpun yang dikenal Pak Umar. Gerbang sekolah itu terletak di tempat yang lebih tinggi di sisi jalan Swadaya, kira-kira 50 meter dari bangunan sekolah. Untuk mencapai kompleks bangunan sekolah ada jalan menurun. Di sebelah kiri jalan itu, di tempat yang rata adalah pelataran parkir mobil yang cukup luas, dapat menampung puluhan mobil. Tempat itu sudah separuhnya terisi mobil dari berbagai merek, ada yang baru ada yang sudah agak tua, terparkir bersusun-susun rapi. Ada petugas yang mengaturnya. Pak Umar terus ke samping kanan sekolah seperti yang dikatakan petugas satpam tadi dan segera menemukan tempat parkir motor. Tempat parkir motor lebih kecil, terletak di bawah rimbunan pohon mahoni. Pak Umar memarkir Vespanya di sana dan melepas atribut bersepeda motornya. Jaketnya dilipatnya dan dimasukkan kedalam tas kulit. Ada beberapa orang murid laki-laki yang baru datang dan memarkir motor pula di pelataran itu. Mereka meletakkan helm masing-masing di sebuah rak besar yang sengaja disiapkan untuk itu. Pak Umarpun meletakkan helmnya di rak itu. Seorang murid yang baru datang menyapanya ramah.
‘Mau ketemu siapa oom?’
‘Oh yaa. Saya mau menemui bapak kepala sekolah. Bapak Suprapto,’ jawab pak Umar.
Murid itu sekilas memperhatikan dirinya sebelum berlalu sesudah terlebih dahulu mengangguk sopan. Pak Umar bergerak ke arah bangunan induk, mencari plang penunjuk kantor kepala sekolah. Tiba-tiba dia berpapasan dengan kerumunan murid-murid yang sedang berteriak-teriak sambil mengelilingi dua orang murid yang sedang berdorong-dorongan seperti akan berkelahi, tapi belum ada yang mulai memukul. Yang satu berbadan gempal, lebih jangkung tapi kelihatannya agak jengah, sementara yang satunya lebih kurus tapi terlihat gesit dan lebih agresif. Yang berkerumun memprovokasi agar perkelahian itu segera saja dimulai. Pak Umar spontan saja setengah menghardik kepada kerumunan itu.
‘Ada apa ini?’
Suara itu begitu berwibawa. Suara guru yang sudah berpengalaman mengajar selama lebih lima belas tahun. Suara wibawa andalan orang sederhana seperti pak Umar. Semua mata menoleh ke arah pak Umar dengan pandangan penuh tanda tanya termasuk kedua orang yang seperti akan berkelahi itu. Seorang murid bertanya dengan setengah berteriak.
‘Siapa nih Jul? Bokaplo? Jangan bawa-bawa bokap dong ke sekolah.’
‘Bukan….. Gue nggak tau nih siapa. Ada apa oom? Jangan ikut-ikutan dong urusan anak muda.’
‘Mau jualan apa pagi-pagi ini ke sini oom?’ yang lain menimpali.
Mungkin mereka menyangka dirinya seorang ‘salesman’. Pak Umar hanya memperhatikan murid-murid itu satu persatu tanpa bersuara. Meskipun masih berteriak-teriak satu sama lain, mereka pelan-pelan membubarkan diri. Acara duel yang sudah hampir terjadi tadi terpaksa batal. Pak Umar melanjutkan langkahnya mencari kantor pak Suprapto.
*****
Tiga orang murid dari kerumunan tadi Anto, Iwan dan Sapto rupanya punya rencana lain.
‘Siapa orang tua sok tau tadi?’ tanya Anto.
‘Mana gue tau. Pedagang obat ngkali. Lihat aja gayanya.’
‘Itu yang pakai Vespa tadi kan? Yang tadi ditahan petugas Satpam?’
‘Kayaknya iya deh.’
‘Kalau gitu mari kita cari Vespanya ke belakang.’
‘Lo mau ngapain?’
‘Kita kasih dia oleh-oleh atas sikap sok taunya tadi.’
‘Maksud lo?’
‘Sini aja ikut gue.’
Ketiganya bergegas ke tempat parkir motor. Di sana hanya ada satu Vespa. Anto mengambil sesuatu dari balik rak tempat helm. Tabung cat semprot. Tabung itu di kocoknya dengan menggoyang-goyangkannya. Lalu dengan keahlian seorang profesional vandalis bagian depan Vespa biru muda itu ditulisinya kata-kata ‘sok tau lo’. Tulisan yang cukup besar untuk dibaca dari jarak dua puluh meter. Ketiga anak muda itu tertawa kegirangan atas lelucon mereka. Beberapa murid lain yang baru datang memandang sambil tersenyum seolah-olah itu sangat biasa-biasa saja. Seorang di antaranya menyapa.
‘Vespa siapa To?’
‘Vespa tukang obat sok tau. Yang barusan menggagalkan duel pagi ini.’
‘Emangnya barusan siapa yang mau duel?’
‘Ah sok interogasi lo. Herman sama Samson. Kenapa emang?’
‘Nggak. Gue kan petugas peliput acara duel. Nyaris kehilangan berita dong gue hari ini.’
‘Kalau gitu lo datangin lagi aja mereka. Suruh lagi berantem. Atau mendingan nanti siang pas bubaran. Tapi kayaknya sih si Gendut ngeper tuh.’
Anto menyimpan kaleng cat semprot ke tempatnya dan kembali menghampiri Vespa malang itu sambil berjongkok.
‘Terus lo mau ngapain lagi tuh?’ Iwan bertanya penasaran.
‘Ngempesin ban Vespa ini. Biar lebih seru. Gue pengen lihat ntar dia mendorong Vespa ini nanjak ke gerbang sana sampai jontor.’
‘Iya kempesin aja dua-duanya sekalian.’
‘Oou.. itu so pasti.’
‘Lo nggak ngeri nih? Jangan-jangan yang punya sodaranya si jenderal. Ntar kita di suruh upacara lagi rame-rame.’
‘Ah. Takut amat sih lo? Si jenderal udah mau pensiun aja. Bila perlu mobil si jenderal sekalian kita preteli.’
‘Sok jago lo!’
‘Emang jago. Mau nantang duel?’
‘Ah enggak. Kita duelnya di Blok M aja. Duel makan mie.’
‘Gitu dong. Jangan macam-macam sama ogut.’
Anto bukan saja mengempesi kedua ban Vespa itu tapi sekalian membuang pentilnya ke got. Bel jam tujuh berbunyi. Murid-murid SMU itu berkumpul untuk upacara di depan sekolah.
*****
SMU 369 terletak di jalan Swadaya, kira-kira 500 meter dari jalan raya Kali Malang. Jalan Swadaya ini terletak di kompleks perumahan. Setiap jarak 50 meter diberi ‘polisi tidur’ supaya kendaraan tidak melaju kencang. Pagi hari begini beriring-iringan rombongan anak sekolah menuju ke arah SMU 369. Tidak semuanya murid SMU, karena di samping sekolah itu ada pula SD dan SMP. Begitu pula mobil-mobil pribadi beriring-iringan sehingga jalan kecil inipun hampir macet. Mobil-mobil pribadi itu ada yang dikendarai sendiri oleh murid SMU dan ada yang hanya mengantar. Karena yang mengantar ini bergantian berhenti di gerbang sekolah maka kendaraan yang di belakangnya tertahan sementara dan inilah yang menjadikan macet. Yang mengendarai sepeda motor juga banyak meski tidak semuanya murid SMU karena ada pula tukang ojek motor yang mengantar murid sekolah sebagai penumpangnya.
Jam baru menunjukkan pukul 6.30. Pak Umar mengendarai Vespanya perlahan-lahan mengikuti laju iringan kendaraan lain yang banyak itu. Sesampai di gerbang sekolah petugas satpam menahan pak Umar karena tidak mengenalinya. Pak Umar melepas helm dan ‘topeng’ saputangan sebelum memperkenalkan dirinya. Petugas satpam itu tidak tahu siapa pak Umar karena memang belum pernah bertemu sebelum itu. Pak Umar menjelaskan bahwa dia adalah tamu pak Suprapto. Dia dipersilahkan masuk. Tidak lupa petugas itu mengingatkan bahwa tempat parkir sepeda motor terletak di bagian samping kanan bangunan sekolah. Sementara dia ditahan oleh petugas satpam untuk menanyai identitasnya tadi, pak Umar sempat memperhatikan bahwa mobil-mobil yang memasuki pintu gerbang tidak hanya dikendarai oleh murid-murid SMU tapi ada juga yang dikendarai oleh orang lebih tua yang mungkin guru-guru sekolah itu. Tidak satu orangpun yang dikenal Pak Umar. Gerbang sekolah itu terletak di tempat yang lebih tinggi di sisi jalan Swadaya, kira-kira 50 meter dari bangunan sekolah. Untuk mencapai kompleks bangunan sekolah ada jalan menurun. Di sebelah kiri jalan itu, di tempat yang rata adalah pelataran parkir mobil yang cukup luas, dapat menampung puluhan mobil. Tempat itu sudah separuhnya terisi mobil dari berbagai merek, ada yang baru ada yang sudah agak tua, terparkir bersusun-susun rapi. Ada petugas yang mengaturnya. Pak Umar terus ke samping kanan sekolah seperti yang dikatakan petugas satpam tadi dan segera menemukan tempat parkir motor. Tempat parkir motor lebih kecil, terletak di bawah rimbunan pohon mahoni. Pak Umar memarkir Vespanya di sana dan melepas atribut bersepeda motornya. Jaketnya dilipatnya dan dimasukkan kedalam tas kulit. Ada beberapa orang murid laki-laki yang baru datang dan memarkir motor pula di pelataran itu. Mereka meletakkan helm masing-masing di sebuah rak besar yang sengaja disiapkan untuk itu. Pak Umarpun meletakkan helmnya di rak itu. Seorang murid yang baru datang menyapanya ramah.
‘Mau ketemu siapa oom?’
‘Oh yaa. Saya mau menemui bapak kepala sekolah. Bapak Suprapto,’ jawab pak Umar.
Murid itu sekilas memperhatikan dirinya sebelum berlalu sesudah terlebih dahulu mengangguk sopan. Pak Umar bergerak ke arah bangunan induk, mencari plang penunjuk kantor kepala sekolah. Tiba-tiba dia berpapasan dengan kerumunan murid-murid yang sedang berteriak-teriak sambil mengelilingi dua orang murid yang sedang berdorong-dorongan seperti akan berkelahi, tapi belum ada yang mulai memukul. Yang satu berbadan gempal, lebih jangkung tapi kelihatannya agak jengah, sementara yang satunya lebih kurus tapi terlihat gesit dan lebih agresif. Yang berkerumun memprovokasi agar perkelahian itu segera saja dimulai. Pak Umar spontan saja setengah menghardik kepada kerumunan itu.
‘Ada apa ini?’
Suara itu begitu berwibawa. Suara guru yang sudah berpengalaman mengajar selama lebih lima belas tahun. Suara wibawa andalan orang sederhana seperti pak Umar. Semua mata menoleh ke arah pak Umar dengan pandangan penuh tanda tanya termasuk kedua orang yang seperti akan berkelahi itu. Seorang murid bertanya dengan setengah berteriak.
‘Siapa nih Jul? Bokaplo? Jangan bawa-bawa bokap dong ke sekolah.’
‘Bukan….. Gue nggak tau nih siapa. Ada apa oom? Jangan ikut-ikutan dong urusan anak muda.’
‘Mau jualan apa pagi-pagi ini ke sini oom?’ yang lain menimpali.
Mungkin mereka menyangka dirinya seorang ‘salesman’. Pak Umar hanya memperhatikan murid-murid itu satu persatu tanpa bersuara. Meskipun masih berteriak-teriak satu sama lain, mereka pelan-pelan membubarkan diri. Acara duel yang sudah hampir terjadi tadi terpaksa batal. Pak Umar melanjutkan langkahnya mencari kantor pak Suprapto.
*****
Tiga orang murid dari kerumunan tadi Anto, Iwan dan Sapto rupanya punya rencana lain.
‘Siapa orang tua sok tau tadi?’ tanya Anto.
‘Mana gue tau. Pedagang obat ngkali. Lihat aja gayanya.’
‘Itu yang pakai Vespa tadi kan? Yang tadi ditahan petugas Satpam?’
‘Kayaknya iya deh.’
‘Kalau gitu mari kita cari Vespanya ke belakang.’
‘Lo mau ngapain?’
‘Kita kasih dia oleh-oleh atas sikap sok taunya tadi.’
‘Maksud lo?’
‘Sini aja ikut gue.’
Ketiganya bergegas ke tempat parkir motor. Di sana hanya ada satu Vespa. Anto mengambil sesuatu dari balik rak tempat helm. Tabung cat semprot. Tabung itu di kocoknya dengan menggoyang-goyangkannya. Lalu dengan keahlian seorang profesional vandalis bagian depan Vespa biru muda itu ditulisinya kata-kata ‘sok tau lo’. Tulisan yang cukup besar untuk dibaca dari jarak dua puluh meter. Ketiga anak muda itu tertawa kegirangan atas lelucon mereka. Beberapa murid lain yang baru datang memandang sambil tersenyum seolah-olah itu sangat biasa-biasa saja. Seorang di antaranya menyapa.
‘Vespa siapa To?’
‘Vespa tukang obat sok tau. Yang barusan menggagalkan duel pagi ini.’
‘Emangnya barusan siapa yang mau duel?’
‘Ah sok interogasi lo. Herman sama Samson. Kenapa emang?’
‘Nggak. Gue kan petugas peliput acara duel. Nyaris kehilangan berita dong gue hari ini.’
‘Kalau gitu lo datangin lagi aja mereka. Suruh lagi berantem. Atau mendingan nanti siang pas bubaran. Tapi kayaknya sih si Gendut ngeper tuh.’
Anto menyimpan kaleng cat semprot ke tempatnya dan kembali menghampiri Vespa malang itu sambil berjongkok.
‘Terus lo mau ngapain lagi tuh?’ Iwan bertanya penasaran.
‘Ngempesin ban Vespa ini. Biar lebih seru. Gue pengen lihat ntar dia mendorong Vespa ini nanjak ke gerbang sana sampai jontor.’
‘Iya kempesin aja dua-duanya sekalian.’
‘Oou.. itu so pasti.’
‘Lo nggak ngeri nih? Jangan-jangan yang punya sodaranya si jenderal. Ntar kita di suruh upacara lagi rame-rame.’
‘Ah. Takut amat sih lo? Si jenderal udah mau pensiun aja. Bila perlu mobil si jenderal sekalian kita preteli.’
‘Sok jago lo!’
‘Emang jago. Mau nantang duel?’
‘Ah enggak. Kita duelnya di Blok M aja. Duel makan mie.’
‘Gitu dong. Jangan macam-macam sama ogut.’
Anto bukan saja mengempesi kedua ban Vespa itu tapi sekalian membuang pentilnya ke got. Bel jam tujuh berbunyi. Murid-murid SMU itu berkumpul untuk upacara di depan sekolah.
*****
SANG AMANAH (1)
SANG AMANAH (1)
Sebuah cerita fiksi yang ditulis di tahun 2003. Dicoba menawarkan ke beberapa penerbit tapi belum berhasil diterbitkan. Sekarang dimuat di blog ini untuk dinikmati yang berminat. Cerita ini cukup panjang, hampir 500 halaman A4 dan akan saya muat secara bersambung.
1. Hari Perkenalan (1)
’Dan Kami jadikan tidurmu untuk istirahat. Dan Kami jadikan malam sebagai pakaian’. Begitu bunyi firman Allah Ta’ala di dalam Al Quran - Surat An Nabaa’ ayat 9 dan 10. Malam dan siang dipergantikan Allah kehadirannya. Kali ini fajar kembali merekah di ufuk timur. Hari sudah menjelang subuh. Kesunyian malam mulai diusik oleh kokok ayam bersahut-sahutan. Kelelawar-kelelawar, sang binatang malam, sudah puas memenuhi hasrat lapar mereka. Dengan perut kenyang sesudah memanen buah-buahan dari pohon yang tumbuh dimana saja, sekehendak mereka, kini mereka mengepakkan sayap bersiap-siap untuk pulang ke sarangnya. Langit cerah dihiasi bulan kurang setengah lingkaran yang baru muncul dari sebelah timur, di penghujung bulan Rajab, menurut perhitungan tahun qamariah. Langit sangat cerah tak berawan. Namun tidak banyak bintang-bintang yang terlihat karena pengaruh cahaya bulan. Udara yang di siang hari pengap menyesakkan, pada saat seperti ini terasa sejuk. Angin yang bertiup malas lebih menambah lagi kesejukan. Bulan di penghujung malam itu terlihat sangat cantik.
Bulan yang juga terlihat cantik di kompleks perumnas Jatiwangi Pondok Gede Bekasi. Sebagian besar penghuninya sedang menikmati tidur yang paling indah pada saat seperti itu. Di kompleks yang terdiri dari sekitar dua ratusan rumah. Rumah-rumah yang nyaris seragam ukuran dan modelnya. Penghuni kompleks ini terdiri dari kalangan menengah ke bawah, para pegawai negeri atau pegawai perusahaan swasta kecil. Perumahan ini dibagi menjadi beberapa blok yang dinamai mengikuti abjad mulai dari blok A sampai M. Warganya mewakili hampir setiap etnis yang ada di Indonesia, hidup dalam suasana rukun satu sama lain.
Di tengah-tengah kompleks itu terdapat sebuah mesjid yang oleh warga dinamai Mesjid Al Muhajirin. Mesjid mungil namun cukup asri yang dibangun dengan swadaya masyarakat. Menaranya menjulang tinggi dengan sosok yang kokoh bagaikan sebuah benteng, tempat penjaga mengawasi keamanan kompleks perumahan itu. Warga memanfaatkan mesjid Al Muhajirin dengan sebaik-baiknya untuk shalat lima waktu berjamaah. Lima kali sehari azan berkumandang melalui pengeras suara di puncak menaranya. Walaupun siang hari hanya dua tiga orang saja yang hadir shalat karena umumnya penghuni perumahan itu sedang sibuk mencari nafkah, tapi pada waktu-waktu subuh, maghrib dan isya jamaahnya lumayan banyak. Jamaahnya terdiri dari warga kompleks dan penduduk di sekitarnya.
Salah satu rumah disitu, di blok D3, dihuni oleh keluarga pak Umar Hamzah. Beliau ini seorang guru SMU yang sudah tinggal di sana sejak awal kompleks tersebut dibangun. Di rumah mungil ini kehidupan sehari-hari dimulai jam empat subuh. Ibu Fatimah biasanya yang paling dahulu bangun, disusul suaminya pak Umar. Kadang-kadang mereka bahkan bangun lebih awal lagi untuk melaksanakan shalat malam. Seperempat jam sebelum azan subuh baru bangun anak-anak mereka Faisal, Amir dan Fauziah. Begitu azan subuh berkumandang mereka bersama-sama menuju mesjid untuk shalat berjamaah. Di mesjid itu biasanya pak Umar bergantian jadi imam shalat dengan pak Abdus Salam yang tinggal di blok B.
Hari ini hari Senin. Seselesai shalat subuh ibu Fatimah bergegas pulang ditemani Fauziah untuk menyiapkan sarapan. Faisal dan Amir menyusul kemudian. Pak Umar biasanya selalu yang paling akhir keluar dari mesjid. Pagi itu pak Umar bahkan lebih terlambat lagi dari biasanya. Lama benar dia asyik dalam zikirnya yang panjang. Sarapan sudah dari tadi siap. Anak-anak sudah rapi dengan pakaian seragam sekolahnya masing-masing dan sudah duduk di meja makan yang mungil itu. Belum ada yang mulai makan. Semua menunggu ayah. Jam setengah enam kurang lima baru pak Umar masuk rumah. Ibu berseloroh begitu melihat ayah datang.
‘Berdebar juga hati abang rupanya. Panjang betul doa tadi. Apakah sekarang sudah mantap betul?’
‘Insya Allah. Kita serahkan segala urusan kepada Allah dan hanya kepada Allah kita bertawakkal. Maafkan ayah karena terlambat. Mari kita sarapan!’
‘Jadi hari ini ayah akan ke SMU 369 itu?’ tanya Faisal, si sulung.
‘Ya. Kemarin ayah ditelpon pak Suprapto, kepala sekolah SMU 369 itu. Dia meminta ayah datang hari ini. Dia ingin ayah mendampinginya di sana selama dua minggu terakhir masa dinasnya ini. Dan pak Eddi Supratman mengijinkannya.’
‘Hati-hati ayah. Murid SMU 369 itu terkenal bandel-bandel. Mereka kebanyakan anak orang-orang kaya,’ giliran Amir angkat bicara.
‘Dari mana kamu tahu?’
‘Itu sudah rahasia umum ayah. Semua orang tahu. Masak ayah tidak pernah dengar?’
‘Ya, ya. Ibu kalian benar. Sebenarnya berdebar hati ayah untuk pergi ke sana karena ayahpun tahu banyak tentang sekolah itu. Mudah-mudahan Allah memberi ayah kekuatan. Kalian tolong pulalah doakan.’
‘Tentu ayah. Kami semua ikut berdoa untuk ayah. Iyakan ‘bu? Iyakan kak?’ celoteh si bungsu Fauziah dengan jenaka.
‘Yaaa..yaaa, insya Allah,’ jawab yang lain seperti sedang paduan suara.
Sesudah sarapan semua bersiap untuk berangkat ke sekolah masing-masing. Pak Umar masuk kamar untuk berganti baju. Dia mengenakan baju putih bersih lengan panjang dan celana abu-abu yang terbaik dari koleksi pakaiannya. Tidak seperti biasanya kali ini dia memasang dasi. Ibu Fatimah kembali menggoda.
‘Benar-benar hari istimewa hari ini rupanya. Entah kapan terakhir kali abang menggunakan dasi.’
‘Ini untuk menghormati pak Suprapto. Hari-hari selanjutnya mungkin abang tidak akan memakai dasi ini. Apakah tidak pantas menurutmu?’
‘Pantas saja. Bahkan abang gagah kelihatannya. Apakah abang gugup?’
‘Entahlah. Tapi jantung abang berdebar-debar memang.’
‘Memangnya kenapa sih bang? Apa abang khawatir murid-murid di sana akan memusuhi abang? Kan belum tentu mereka semuanya bandel, bang.’
‘Bukan begitu. Ini awal dari amanah yang lebih berat Fat. Abang khawatir kalau-kalau nanti abang tidak kuat memikulnya.’
‘Bukankah Allah sebaik-baik Penolong dan sebaik-baik tempat memohon?’
‘Betul. Dan abang sudah memohon. Abang berdoa agar abang diberi kekuatan memikul amanah ini.’
‘Kalau begitu biarlah kita serahkan sepenuhnya kepada Allah, bang. Tidak ada yang sulit bagi Allah.’
‘Kamu benar Fat. Bismillah. Baiklah, abang berangkat sekarang.’
‘Bertawakkal kepada Allah, bang!’
‘Bismillahi tawakaltu’alallah. Assalamu’alaikum.’
‘Wa’alaikum salam.’
Faisal dan Amir setelah mohon pamit kepada kedua orang tuanya, telah berangkat bersama-sama lebih dahulu pada jam enam kurang seperempat. Mereka sekolah di sekolah yang sama di SMP 501. Faisal kelas tiga dan Amir kelas satu. Keduanya berjalan kaki ke gerbang kompleks dan dari sana naik angkot sampai ke depan sekolah. Sekolah mereka terletak kira-kira empat kilometer dari rumah. Mereka selalu bersama-sama. Kalau Faisal tidak ada kelas tambahan di siang hari, Amir menunggunya untuk pulang bersama-sama.
Fauziah yang masih duduk di kelas empat SD berangkat bersama ayah, berboncengan naik Vespa. Setelah mengantar Fauziah, pak Umar menuju SMU 369 yang jaraknya kira-kira 7 km lagi. Berkendaraan Vespa di Jakarta memang lebih praktis untuk menghadapi kemacetan meski beresiko menghirup udara kotor terpolusi. Tapi pak Umar sudah terbiasa dengan semua itu. Dia cukup menutup hidungnya dengan sapu tangan yang diikatkan kebelakang kepala sebelum ditutupi helm. Lumayan untuk sedikit menyaring udara yang penuh dengan CO2 itu masuk ke paru-paru. Dan untuk menahan angin dari depan pak Umar memakai jaket yang di dalamnya ditambah dengan lipatan koran. Seperti itulah selalu cara berpakaian pak Umar kalau mengendarai Vespa. Tasnya yang cukup besar diletakkan di dek Vespa. Tas ini nanti akan menampung jaket yang dipakainya. Vespa tua ini sudah jadi bagian dirinya semenjak masih mahasiswa dua puluh tahun yang lalu, mengantarkannya kemana-mana.
*****
Sebuah cerita fiksi yang ditulis di tahun 2003. Dicoba menawarkan ke beberapa penerbit tapi belum berhasil diterbitkan. Sekarang dimuat di blog ini untuk dinikmati yang berminat. Cerita ini cukup panjang, hampir 500 halaman A4 dan akan saya muat secara bersambung.
1. Hari Perkenalan (1)
’Dan Kami jadikan tidurmu untuk istirahat. Dan Kami jadikan malam sebagai pakaian’. Begitu bunyi firman Allah Ta’ala di dalam Al Quran - Surat An Nabaa’ ayat 9 dan 10. Malam dan siang dipergantikan Allah kehadirannya. Kali ini fajar kembali merekah di ufuk timur. Hari sudah menjelang subuh. Kesunyian malam mulai diusik oleh kokok ayam bersahut-sahutan. Kelelawar-kelelawar, sang binatang malam, sudah puas memenuhi hasrat lapar mereka. Dengan perut kenyang sesudah memanen buah-buahan dari pohon yang tumbuh dimana saja, sekehendak mereka, kini mereka mengepakkan sayap bersiap-siap untuk pulang ke sarangnya. Langit cerah dihiasi bulan kurang setengah lingkaran yang baru muncul dari sebelah timur, di penghujung bulan Rajab, menurut perhitungan tahun qamariah. Langit sangat cerah tak berawan. Namun tidak banyak bintang-bintang yang terlihat karena pengaruh cahaya bulan. Udara yang di siang hari pengap menyesakkan, pada saat seperti ini terasa sejuk. Angin yang bertiup malas lebih menambah lagi kesejukan. Bulan di penghujung malam itu terlihat sangat cantik.
Bulan yang juga terlihat cantik di kompleks perumnas Jatiwangi Pondok Gede Bekasi. Sebagian besar penghuninya sedang menikmati tidur yang paling indah pada saat seperti itu. Di kompleks yang terdiri dari sekitar dua ratusan rumah. Rumah-rumah yang nyaris seragam ukuran dan modelnya. Penghuni kompleks ini terdiri dari kalangan menengah ke bawah, para pegawai negeri atau pegawai perusahaan swasta kecil. Perumahan ini dibagi menjadi beberapa blok yang dinamai mengikuti abjad mulai dari blok A sampai M. Warganya mewakili hampir setiap etnis yang ada di Indonesia, hidup dalam suasana rukun satu sama lain.
Di tengah-tengah kompleks itu terdapat sebuah mesjid yang oleh warga dinamai Mesjid Al Muhajirin. Mesjid mungil namun cukup asri yang dibangun dengan swadaya masyarakat. Menaranya menjulang tinggi dengan sosok yang kokoh bagaikan sebuah benteng, tempat penjaga mengawasi keamanan kompleks perumahan itu. Warga memanfaatkan mesjid Al Muhajirin dengan sebaik-baiknya untuk shalat lima waktu berjamaah. Lima kali sehari azan berkumandang melalui pengeras suara di puncak menaranya. Walaupun siang hari hanya dua tiga orang saja yang hadir shalat karena umumnya penghuni perumahan itu sedang sibuk mencari nafkah, tapi pada waktu-waktu subuh, maghrib dan isya jamaahnya lumayan banyak. Jamaahnya terdiri dari warga kompleks dan penduduk di sekitarnya.
Salah satu rumah disitu, di blok D3, dihuni oleh keluarga pak Umar Hamzah. Beliau ini seorang guru SMU yang sudah tinggal di sana sejak awal kompleks tersebut dibangun. Di rumah mungil ini kehidupan sehari-hari dimulai jam empat subuh. Ibu Fatimah biasanya yang paling dahulu bangun, disusul suaminya pak Umar. Kadang-kadang mereka bahkan bangun lebih awal lagi untuk melaksanakan shalat malam. Seperempat jam sebelum azan subuh baru bangun anak-anak mereka Faisal, Amir dan Fauziah. Begitu azan subuh berkumandang mereka bersama-sama menuju mesjid untuk shalat berjamaah. Di mesjid itu biasanya pak Umar bergantian jadi imam shalat dengan pak Abdus Salam yang tinggal di blok B.
Hari ini hari Senin. Seselesai shalat subuh ibu Fatimah bergegas pulang ditemani Fauziah untuk menyiapkan sarapan. Faisal dan Amir menyusul kemudian. Pak Umar biasanya selalu yang paling akhir keluar dari mesjid. Pagi itu pak Umar bahkan lebih terlambat lagi dari biasanya. Lama benar dia asyik dalam zikirnya yang panjang. Sarapan sudah dari tadi siap. Anak-anak sudah rapi dengan pakaian seragam sekolahnya masing-masing dan sudah duduk di meja makan yang mungil itu. Belum ada yang mulai makan. Semua menunggu ayah. Jam setengah enam kurang lima baru pak Umar masuk rumah. Ibu berseloroh begitu melihat ayah datang.
‘Berdebar juga hati abang rupanya. Panjang betul doa tadi. Apakah sekarang sudah mantap betul?’
‘Insya Allah. Kita serahkan segala urusan kepada Allah dan hanya kepada Allah kita bertawakkal. Maafkan ayah karena terlambat. Mari kita sarapan!’
‘Jadi hari ini ayah akan ke SMU 369 itu?’ tanya Faisal, si sulung.
‘Ya. Kemarin ayah ditelpon pak Suprapto, kepala sekolah SMU 369 itu. Dia meminta ayah datang hari ini. Dia ingin ayah mendampinginya di sana selama dua minggu terakhir masa dinasnya ini. Dan pak Eddi Supratman mengijinkannya.’
‘Hati-hati ayah. Murid SMU 369 itu terkenal bandel-bandel. Mereka kebanyakan anak orang-orang kaya,’ giliran Amir angkat bicara.
‘Dari mana kamu tahu?’
‘Itu sudah rahasia umum ayah. Semua orang tahu. Masak ayah tidak pernah dengar?’
‘Ya, ya. Ibu kalian benar. Sebenarnya berdebar hati ayah untuk pergi ke sana karena ayahpun tahu banyak tentang sekolah itu. Mudah-mudahan Allah memberi ayah kekuatan. Kalian tolong pulalah doakan.’
‘Tentu ayah. Kami semua ikut berdoa untuk ayah. Iyakan ‘bu? Iyakan kak?’ celoteh si bungsu Fauziah dengan jenaka.
‘Yaaa..yaaa, insya Allah,’ jawab yang lain seperti sedang paduan suara.
Sesudah sarapan semua bersiap untuk berangkat ke sekolah masing-masing. Pak Umar masuk kamar untuk berganti baju. Dia mengenakan baju putih bersih lengan panjang dan celana abu-abu yang terbaik dari koleksi pakaiannya. Tidak seperti biasanya kali ini dia memasang dasi. Ibu Fatimah kembali menggoda.
‘Benar-benar hari istimewa hari ini rupanya. Entah kapan terakhir kali abang menggunakan dasi.’
‘Ini untuk menghormati pak Suprapto. Hari-hari selanjutnya mungkin abang tidak akan memakai dasi ini. Apakah tidak pantas menurutmu?’
‘Pantas saja. Bahkan abang gagah kelihatannya. Apakah abang gugup?’
‘Entahlah. Tapi jantung abang berdebar-debar memang.’
‘Memangnya kenapa sih bang? Apa abang khawatir murid-murid di sana akan memusuhi abang? Kan belum tentu mereka semuanya bandel, bang.’
‘Bukan begitu. Ini awal dari amanah yang lebih berat Fat. Abang khawatir kalau-kalau nanti abang tidak kuat memikulnya.’
‘Bukankah Allah sebaik-baik Penolong dan sebaik-baik tempat memohon?’
‘Betul. Dan abang sudah memohon. Abang berdoa agar abang diberi kekuatan memikul amanah ini.’
‘Kalau begitu biarlah kita serahkan sepenuhnya kepada Allah, bang. Tidak ada yang sulit bagi Allah.’
‘Kamu benar Fat. Bismillah. Baiklah, abang berangkat sekarang.’
‘Bertawakkal kepada Allah, bang!’
‘Bismillahi tawakaltu’alallah. Assalamu’alaikum.’
‘Wa’alaikum salam.’
Faisal dan Amir setelah mohon pamit kepada kedua orang tuanya, telah berangkat bersama-sama lebih dahulu pada jam enam kurang seperempat. Mereka sekolah di sekolah yang sama di SMP 501. Faisal kelas tiga dan Amir kelas satu. Keduanya berjalan kaki ke gerbang kompleks dan dari sana naik angkot sampai ke depan sekolah. Sekolah mereka terletak kira-kira empat kilometer dari rumah. Mereka selalu bersama-sama. Kalau Faisal tidak ada kelas tambahan di siang hari, Amir menunggunya untuk pulang bersama-sama.
Fauziah yang masih duduk di kelas empat SD berangkat bersama ayah, berboncengan naik Vespa. Setelah mengantar Fauziah, pak Umar menuju SMU 369 yang jaraknya kira-kira 7 km lagi. Berkendaraan Vespa di Jakarta memang lebih praktis untuk menghadapi kemacetan meski beresiko menghirup udara kotor terpolusi. Tapi pak Umar sudah terbiasa dengan semua itu. Dia cukup menutup hidungnya dengan sapu tangan yang diikatkan kebelakang kepala sebelum ditutupi helm. Lumayan untuk sedikit menyaring udara yang penuh dengan CO2 itu masuk ke paru-paru. Dan untuk menahan angin dari depan pak Umar memakai jaket yang di dalamnya ditambah dengan lipatan koran. Seperti itulah selalu cara berpakaian pak Umar kalau mengendarai Vespa. Tasnya yang cukup besar diletakkan di dek Vespa. Tas ini nanti akan menampung jaket yang dipakainya. Vespa tua ini sudah jadi bagian dirinya semenjak masih mahasiswa dua puluh tahun yang lalu, mengantarkannya kemana-mana.
*****
Wednesday, October 1, 2008
MUDIK LEBARAN
MUDIK LEBARAN
Aku menerima pesan singkat sms dari kakak ipar di Bukit Tinggi. Isinya, ’apkh add sprti biasa ttp tdk plng berhr ry thn ini?’ Yang aku jawab, ’Insya Allah tdk, mhn maaf lhr btn.’ Setiap tahun dia bertanyakan hal yang sama. Bahkan kalau ada kesempatan bertemu di luar hari raya, dia bertanya lebih tegas. Kenapa aku tidak pernah mau berhari raya di kampung. Dan setiap kali pula aku katakan bahwa aku tidak sempat untuk pulang kampung di penghujung Ramadhan. Baginya, jawabanku itu terdengar musykil. Dimana-mana orang semakin bersemangat pulang kampung alias mudik untuk berhariraya, kok aku tidak tertarik.
’Begini,’ aku mencoba menjelaskan, pada suatu ketika. ’Bulan Ramadhan, bulan yang penuh rahmat, bulan yang di dalamnya terdapat ampunan Allah, bulan yang Allah menjanjikan kepada mereka yang beribadah atas dasar keimanan dan penuh keberhati-hatian, janji pemeliharaan dari api neraka. Sangat sayang waktu khusus itu dikorbankan untuk sebuah acara pulang kampung. Bukankah kalau perlu sekali aku tetap menyempatkan diri untuk hadir di kampung?’
’Ya, tapi bukankah dengan pulang kampung ibadah Ramadhan itu tetap bisa diteruskan. Bahkan dilanjutkan dengan bersilaturrahim dengan sanak keluarga di kampung?’ dia masih belum kehabisan alasan.
’Jujur saja. Acara berkendaraan waktu pulang kampung itu pasti akan merusak kekhusyukan beribadah Ramadhan. Itu sebabnya aku tidak melakukannya,’ jawabku.
Mudik lebaran adalah sebuah kebiasaan baru masyarakat negeri ini. Berhari raya sesudah menjalankan puasa di bulan Ramadhan selama sebulan penuh di kampung. Di tempat bernostalgia ke masa kanak-kanak dulu. Berduyun-duyun mudik. Mudik memang sebuah ritual baru. Sebuah tradisi yang baru diciptakan. Nyaris-nyaris sebuah bid’ah.
Mudik lebaran sudah sedemikian rupa mewabah. Sekitar sepuluh tahun yang lalu, orang Minang belum ikut dalam ritual mudik. Paling tidak belum seriuh seperti sekarang. Tapi coba lihat sekarang. Bukit Tinggi, Batu Sangkar, Paya Kumbuh dibanjiri para pemudik, yang pulang dengan kendaraan pribadi. Mobil-mobil berpelat nomor Jakarta, Medan, Pakan Baru, Palembang dan entah kota mana lagi memenuhi kota-kota Sumatera Barat. Itu artinya mereka datang dari tempat yang ratusan bahkan ribuan kilometer dari kampung. Menempuh jalan berpuluh jam untuk sampai di kampung. Bukit Tinggipun jadi macet di mana-mana.
Padahal mudik itu mengandung banyak sekali resiko. Resiko kecelakaan di jalan raya bagi yang naik kendaraan pribadi atau naik bus umum. Resiko kecopetan di stasiun bagi yang naik kereta api. Resiko kena tipu ketika memaksakan membeli tiket atau karcis kendaraan melalui calo. Resiko tertahan karena antri di penyeberangan.
Yang paling mengerikan tentu saja resiko celaka, apalagi yang berakhir dengan maut. Berita tv atau surat kabar di sekitar hari-hari mudik lebaran tidak pernah sepi dari berita kecelakaan. Keretapi menerjang bus yang sarat penumpang. Kijang diseruduk keretapi dan semua penumpangnya tewas. Bus masuk jurang karena sopir yang mengejar target ternyata ngantuk. Bus sama bus berlaga dan penumpangnya babak belur. Sudah beratus-ratus korban. Banyak diantaranya terkorban secara konyol. Karena kendaraan mereka pecah ban lalu berguling-guling di jalan tol. Karena kendaraan mereka dihantam keretapi ketika pengendaranya nekad menerobos pintu kereta. Karena dua bus berlaga, sebab pengemudinya yang sedang mengejar setoran ternyata ngantuk. Atau kapal kayu yang terbalik karena kelebihan muatan lalu penumpangnya yang tidak pandai berenang mati tenggelam. Sulit membayangkan bahwa resiko yang diambil itu setara dengan kepuasan menikmati aroma kampung halaman di hari-hari mudik.
Kalau sudah celaka, niat pulang kampung kandas di tengah jalan dan berakhir dalam duka nestapa tak terkira. Keluarga korban pasti berurai air mata.
Namun semangat mudik semakin gencar saja. Tidak surut sedikitpun. Sekarang, ketika memiliki sepeda motor cukup mudah, cukup dengan fotokopi KTP dan uang muka 700 ribu rupiah, motor baru sudah boleh dibawa pulang, semangat mudik semakin menggebu. Mudik bersepeda motor sedang ’ngetrend’. Naik motor berdua, bertiga, berempat dengan anak, anak didudukkan di atas tangki bensin dengan alas duduk sekedarnya, menuju kampung yang tiga, empat ratus kilometer jaraknya. Masya Allah. Dan menurut berita, ada anak kecil balita yang didudukkan di atas tangki bensin sepeda motor itu, ketika sudah menempuh separuh jalan lalu berhenti beristirahat, ternyata balita itu sudah almarhum. Sudah kaku dan tidak bernyawa. Tidak tahan badan kecilnya melawan terpaan angin di sepanjang jalan.
Apa yang dilakukan para pemudik di kampung? Aku pernah menanyakan hal ini kepada beberapa orang. Sejak dari pembantu rumah tangga, buruh bangunan, pedagang asongan, karyawan pabrik atau bahkan teman sekantor. Yang terakhir ini boleh dibilang rata-rata dari kalangan mapan dan berpendidikan. Jawabannya hampir seragam. Berkumpul dengan para kerabat, teman waktu kecil, lalu bernostalgia di kampung. Hanya itu? Sepertinya hanya itu. Apakah mereka wajib sungkeman kepada orang tua, atau para sesepuh di kampung? Ternyata tidak. Jadi yang paling utama memang acara reunian itu saja. Dan itu dilakukan secara rutin, dengan biaya besar, dengan resiko besar, menempuh jalan panjang menuju kampung. Mudik. Rugi rasanya kalau tidak mudik.
Andil pemerintah serta media massa sangat besar dalam mendorong acara mudik ini. Mereka menyemangati pemudik untuk semakin bersemangat meniti arus mudik. Berita perbaikan jalan untuk kelancaran para pemudik, berita persiapan angkutan lebaran untuk mudik, berita penjualan tiket kendaraan umum untuk mudik. Semua dihembuskan dengan tiupan sihir. Hasilnya luar biasa. Semua terhipnotis untuk mudik.
Seorang penceramah di penghujung Ramadhan membandingkan kekhusyukan beribadah umat Islam perkotaan Indonesia dengan umat Islam di negeri-negeri Arab. Disini, katanya, jemaah tarawih meluap sampai keluar mesjid di awal Ramadhan. Namun secara berangsur namun pasti berkurang sampai nyaris habis di hari-hari terakhir Ramadhan. Di Masjidil Haram yang terjadi sebaliknya. Manusia semakin ramai mendatangi mesjid. Jamaah mesjid melimpah kemana-mana karena tidak tertampung. Disana umat Islam tergiur dengan keutamaan sepuluh malam terakhir bulan puasa. Tergiur dengan janji Allah untuk terbebaskan dari siksa neraka. Tergiur untuk mendapatkan malam Qadar yang lebih baik dari seribu bulan.
Disini begitu mendekati akhir Ramadhan, orang sibuk menghadang Lebaran. Orang sibuk menyiapkan mudik. Yang berduit sudah memesan tiket pesawat atau karcis keretapi sejak jauh-jauh hari. Yang berpenghasilan pas-pasan sudah menyisihkan uang untuk membeli karcis bis. Pokok-e, yang penting mudik.
’Memang ada yang salah dengan ’mudik’?’ tanya seorang teman yang seperti tersindir.
Tidak seberapa salah dari segi keduniaan. Paling tidak para pemudik toh sudah tahu resiko yang mereka hadang di jalan. Bahkan teman lain, seorang ekonom yang tidak ikut mudik merasa yakin bahwa mudik lebaran sangat baik untuk pemerataan peredaran uang. Dan yang lebih penting, katanya, penduduk kota besar, terutama seperti Jakarta bisa menikmati lancarnya arus lalu lintas di jalan raya untuk beberapa hari di sekitar hari raya.
Dari segi pertimbangan bulan Ramadhan sebagai bulan ibadah total, bulan rahmat Allah, bulan ampunan Allah, bulan pembebasan dari api neraka serta lailatul qadr yang bernilai sangat tinggi, mudik lebaran terasa merugikan. Akhirnya tentu terpulang kepada para pemudik juga. Mau memparipurnakan ibadah Ramadhan atau mau bermudik ria.
*****
Aku menerima pesan singkat sms dari kakak ipar di Bukit Tinggi. Isinya, ’apkh add sprti biasa ttp tdk plng berhr ry thn ini?’ Yang aku jawab, ’Insya Allah tdk, mhn maaf lhr btn.’ Setiap tahun dia bertanyakan hal yang sama. Bahkan kalau ada kesempatan bertemu di luar hari raya, dia bertanya lebih tegas. Kenapa aku tidak pernah mau berhari raya di kampung. Dan setiap kali pula aku katakan bahwa aku tidak sempat untuk pulang kampung di penghujung Ramadhan. Baginya, jawabanku itu terdengar musykil. Dimana-mana orang semakin bersemangat pulang kampung alias mudik untuk berhariraya, kok aku tidak tertarik.
’Begini,’ aku mencoba menjelaskan, pada suatu ketika. ’Bulan Ramadhan, bulan yang penuh rahmat, bulan yang di dalamnya terdapat ampunan Allah, bulan yang Allah menjanjikan kepada mereka yang beribadah atas dasar keimanan dan penuh keberhati-hatian, janji pemeliharaan dari api neraka. Sangat sayang waktu khusus itu dikorbankan untuk sebuah acara pulang kampung. Bukankah kalau perlu sekali aku tetap menyempatkan diri untuk hadir di kampung?’
’Ya, tapi bukankah dengan pulang kampung ibadah Ramadhan itu tetap bisa diteruskan. Bahkan dilanjutkan dengan bersilaturrahim dengan sanak keluarga di kampung?’ dia masih belum kehabisan alasan.
’Jujur saja. Acara berkendaraan waktu pulang kampung itu pasti akan merusak kekhusyukan beribadah Ramadhan. Itu sebabnya aku tidak melakukannya,’ jawabku.
Mudik lebaran adalah sebuah kebiasaan baru masyarakat negeri ini. Berhari raya sesudah menjalankan puasa di bulan Ramadhan selama sebulan penuh di kampung. Di tempat bernostalgia ke masa kanak-kanak dulu. Berduyun-duyun mudik. Mudik memang sebuah ritual baru. Sebuah tradisi yang baru diciptakan. Nyaris-nyaris sebuah bid’ah.
Mudik lebaran sudah sedemikian rupa mewabah. Sekitar sepuluh tahun yang lalu, orang Minang belum ikut dalam ritual mudik. Paling tidak belum seriuh seperti sekarang. Tapi coba lihat sekarang. Bukit Tinggi, Batu Sangkar, Paya Kumbuh dibanjiri para pemudik, yang pulang dengan kendaraan pribadi. Mobil-mobil berpelat nomor Jakarta, Medan, Pakan Baru, Palembang dan entah kota mana lagi memenuhi kota-kota Sumatera Barat. Itu artinya mereka datang dari tempat yang ratusan bahkan ribuan kilometer dari kampung. Menempuh jalan berpuluh jam untuk sampai di kampung. Bukit Tinggipun jadi macet di mana-mana.
Padahal mudik itu mengandung banyak sekali resiko. Resiko kecelakaan di jalan raya bagi yang naik kendaraan pribadi atau naik bus umum. Resiko kecopetan di stasiun bagi yang naik kereta api. Resiko kena tipu ketika memaksakan membeli tiket atau karcis kendaraan melalui calo. Resiko tertahan karena antri di penyeberangan.
Yang paling mengerikan tentu saja resiko celaka, apalagi yang berakhir dengan maut. Berita tv atau surat kabar di sekitar hari-hari mudik lebaran tidak pernah sepi dari berita kecelakaan. Keretapi menerjang bus yang sarat penumpang. Kijang diseruduk keretapi dan semua penumpangnya tewas. Bus masuk jurang karena sopir yang mengejar target ternyata ngantuk. Bus sama bus berlaga dan penumpangnya babak belur. Sudah beratus-ratus korban. Banyak diantaranya terkorban secara konyol. Karena kendaraan mereka pecah ban lalu berguling-guling di jalan tol. Karena kendaraan mereka dihantam keretapi ketika pengendaranya nekad menerobos pintu kereta. Karena dua bus berlaga, sebab pengemudinya yang sedang mengejar setoran ternyata ngantuk. Atau kapal kayu yang terbalik karena kelebihan muatan lalu penumpangnya yang tidak pandai berenang mati tenggelam. Sulit membayangkan bahwa resiko yang diambil itu setara dengan kepuasan menikmati aroma kampung halaman di hari-hari mudik.
Kalau sudah celaka, niat pulang kampung kandas di tengah jalan dan berakhir dalam duka nestapa tak terkira. Keluarga korban pasti berurai air mata.
Namun semangat mudik semakin gencar saja. Tidak surut sedikitpun. Sekarang, ketika memiliki sepeda motor cukup mudah, cukup dengan fotokopi KTP dan uang muka 700 ribu rupiah, motor baru sudah boleh dibawa pulang, semangat mudik semakin menggebu. Mudik bersepeda motor sedang ’ngetrend’. Naik motor berdua, bertiga, berempat dengan anak, anak didudukkan di atas tangki bensin dengan alas duduk sekedarnya, menuju kampung yang tiga, empat ratus kilometer jaraknya. Masya Allah. Dan menurut berita, ada anak kecil balita yang didudukkan di atas tangki bensin sepeda motor itu, ketika sudah menempuh separuh jalan lalu berhenti beristirahat, ternyata balita itu sudah almarhum. Sudah kaku dan tidak bernyawa. Tidak tahan badan kecilnya melawan terpaan angin di sepanjang jalan.
Apa yang dilakukan para pemudik di kampung? Aku pernah menanyakan hal ini kepada beberapa orang. Sejak dari pembantu rumah tangga, buruh bangunan, pedagang asongan, karyawan pabrik atau bahkan teman sekantor. Yang terakhir ini boleh dibilang rata-rata dari kalangan mapan dan berpendidikan. Jawabannya hampir seragam. Berkumpul dengan para kerabat, teman waktu kecil, lalu bernostalgia di kampung. Hanya itu? Sepertinya hanya itu. Apakah mereka wajib sungkeman kepada orang tua, atau para sesepuh di kampung? Ternyata tidak. Jadi yang paling utama memang acara reunian itu saja. Dan itu dilakukan secara rutin, dengan biaya besar, dengan resiko besar, menempuh jalan panjang menuju kampung. Mudik. Rugi rasanya kalau tidak mudik.
Andil pemerintah serta media massa sangat besar dalam mendorong acara mudik ini. Mereka menyemangati pemudik untuk semakin bersemangat meniti arus mudik. Berita perbaikan jalan untuk kelancaran para pemudik, berita persiapan angkutan lebaran untuk mudik, berita penjualan tiket kendaraan umum untuk mudik. Semua dihembuskan dengan tiupan sihir. Hasilnya luar biasa. Semua terhipnotis untuk mudik.
Seorang penceramah di penghujung Ramadhan membandingkan kekhusyukan beribadah umat Islam perkotaan Indonesia dengan umat Islam di negeri-negeri Arab. Disini, katanya, jemaah tarawih meluap sampai keluar mesjid di awal Ramadhan. Namun secara berangsur namun pasti berkurang sampai nyaris habis di hari-hari terakhir Ramadhan. Di Masjidil Haram yang terjadi sebaliknya. Manusia semakin ramai mendatangi mesjid. Jamaah mesjid melimpah kemana-mana karena tidak tertampung. Disana umat Islam tergiur dengan keutamaan sepuluh malam terakhir bulan puasa. Tergiur dengan janji Allah untuk terbebaskan dari siksa neraka. Tergiur untuk mendapatkan malam Qadar yang lebih baik dari seribu bulan.
Disini begitu mendekati akhir Ramadhan, orang sibuk menghadang Lebaran. Orang sibuk menyiapkan mudik. Yang berduit sudah memesan tiket pesawat atau karcis keretapi sejak jauh-jauh hari. Yang berpenghasilan pas-pasan sudah menyisihkan uang untuk membeli karcis bis. Pokok-e, yang penting mudik.
’Memang ada yang salah dengan ’mudik’?’ tanya seorang teman yang seperti tersindir.
Tidak seberapa salah dari segi keduniaan. Paling tidak para pemudik toh sudah tahu resiko yang mereka hadang di jalan. Bahkan teman lain, seorang ekonom yang tidak ikut mudik merasa yakin bahwa mudik lebaran sangat baik untuk pemerataan peredaran uang. Dan yang lebih penting, katanya, penduduk kota besar, terutama seperti Jakarta bisa menikmati lancarnya arus lalu lintas di jalan raya untuk beberapa hari di sekitar hari raya.
Dari segi pertimbangan bulan Ramadhan sebagai bulan ibadah total, bulan rahmat Allah, bulan ampunan Allah, bulan pembebasan dari api neraka serta lailatul qadr yang bernilai sangat tinggi, mudik lebaran terasa merugikan. Akhirnya tentu terpulang kepada para pemudik juga. Mau memparipurnakan ibadah Ramadhan atau mau bermudik ria.
*****
Tuesday, September 30, 2008
KETUPAT LEBARAN (1429)
KETUPAT LEBARAN (1429)
Allahu Akbar wa lillahilhamd. Gema takbir berkumandang lagi, seiring tenggelamnya matahari sebagai pembatas selesainya Ramadhan dan bermulanya bulan Syawal. Selesai pulalah ibadah puasa tahun 1429 H ini. Seperti tahun-tahun sebelumnya. Waktu satu bulan penuh itu berakhir begitu cepatnya. Mengakhiri kegiatan rutin di bulan suci itu.
Rutin dengan shalat berjamaah. Dengan kultum. Dengan menyediakan iftar di mesjid. Dengan tarawih. Dengan tadarus. Dengan i’tikaf semampunya. Dalam kebersamaan jamaah. Alhamdulillah, kesadaran jamaah yang meski tidak kentara tapi pasti ada kemajuannya dibanding tahun-tahun yang lalu. Dan rutin pula dalam menampung zakat, infaq dan sadakah dari jamaah serta warga di sekitar komplek. Untuk kemudian disalurkan kepada para mustahiq. Para yang berhak menerimanya, yang tinggal dilingkungan terdekat dengan komplek perumahan kami.
Dalam diskusi antar jamaah timbul pertanyaan dan usulan agar pengkriteriaan mustahiq ini diperbaiki. Harus diseleksi benar-benar mereka yang dikategorikan sebagai yang berhak menerima limpahan zakat. Bagian utama adalah para fakir dan miskin. Nah, siapa yang benar-benar fakir? Yang benar-benar miskin?
Fakir, kata ustad, adalah mereka yang tidak punya apa-apa untuk dimakannya hari ini. Sementara yang disebut miskin pula adalah mereka yag masih punya makanan untuk hari ini tapi tidak punya apa-apa untuk dimakannya besok.
Ternyata sulit mencari fakir dan miskin yang memenuhi kriteria itu. Tukang pulung, yang mengumpulkan karton dan plastik bekas. Yang mengumpulkan barang-barang terbuang langsung dari tempat sampah. Menurut sebuah wawancara, mereka masih mampu mendapat penghasilan 20,000 sampai 30,000 rupiah sehari. Jumlah itu bagi mereka cukup untuk sekedar makan hari ini.
Mustahiq yang datang meminta pembagian zakat ke mesjid kami termasuk para kaum pemulung ini, yang jumlahnya selalu bertambah dari tahun ke tahun.
Di sebelah komplek kami ada perumahan kampung. Disitu terdapat banyak sekali rumah-rumah petak kontrakan. Rumah-rumah petak yang disewa oleh tukang atau buruh bangunan, oleh tukang sol sepatu keliling, tukang ojek, pekerja bengkel, sopir angkot, sopir taksi, pedagang asongan, pedagang kaki lima, petugas keamanan atau petugas sekuriti. Ada yang istri mereka juga bekerja sebagai pembantu rumah tangga. Ada yang keluarga kecil dan ada yang keluarga cukup besar dengan 6 orang anak, bersempit-sempit di dalam sempitnya rumah petak kontrakan. Ada juga janda-janda tua atau bahkan para orang tua jompo. Mereka itulah yang kami kategorikan sebagai mustahiq penerima zakat.
Sahkah mereka kami anggap sebagai orang-orang miskin? Mereka mampu menyewa rumah petak. Mereka pasti masih punya bekal untuk makan besok dan lusa. Tapi mereka adalah orang-orang yang berjuang sangat keras untuk menopang kehidupan. Mereka adalah orang-orang yang mengekas untuk mendapatkan makan. Seorang tukang yang bergaji harian antara 50,000 sampai 60,000 rupiah sehari, dengan kondisi tidak ada kerja, tidak ada gaji, harus membiayai kehidupan keluarganya. Serta membayar uang sekolah anak-anaknya.
Mereka kami data, dan kami bagi kupon. Keluarga dengan maksimum tiga jiwa dapat satu kupon. Dengan empat sampai enam jiwa dapat 2 kupon. Diatasnya 3 kupon.
Kupon yang kami bagi-bagikan ketika kami mensurvai langsung ke tempat tinggal mereka. Kami, para jamaah masjid, bergotong royong, berombongan-rombongan melakukannya. Tentu saja dengan melibatkan para remaja mesjid.
Dan kami minta mereka datang pada hari terakhir puasa, ba’da shalat asar, ke mesjid untuk menukarkan kupon dengan amplop berisi uang. Jumlah mustahiq kami tidak sampai ribuan. Kami membagikan sekitar 600 buah kupon. Masing-masing kupon kami tukar dengan amplop berisi 50,000 rupiah. Lalu kami layani mereka dengan tertib.
Tentu saja termasuk para pemulung yang tidak tinggal di rumah petak di sebelah komplek. Tapi datang dari tempat yang sedikit lebih jauh. Mereka datang berombongan-rombongan dengan pakaian dinas lengkap dengan pengais besi dan karung goni rombeng. Jumlah mereka sudah mencapai lebih seratus orang. Empat lima tahun yang lalu hanya beberapa orang saja, yakni yang biasa dinas ke tempat-tempat sampah di komplek. Mereka kami suruh berbaris teratur lalu juga diberi kupon.
Semua berjalan lancar dengan cara seperti itu.
Tidak semua yang terkumpul kami bagi-bagikan kepada para mustahiq. Ada bagian amil yang kami serahkan kepada para remaja mesjid yang bertugas menerima ZIS. Mereka bekerja pada sepuluh hari terakhir Ramadhan. Ada yang kami masukkan ke dalam baitul maal mesjid, dana yang dapat dipinjamkan tanpa bunga kepada pedagang asongan dan sebangsanya, lalu dibayar cicil. Ada yang kami berikan untuk mensubsidi murid-murid Taman Pendidikan Al Quran di mesjid kami.
Cara seperti ini telah kami lakukan sejak bertahun-tahun. Selalu dengan laporan panitia Ramadhan yang setransparan mungkin kepada jamaah. Alhamdulillah jumlah ZIS yang kami himpun selalu meningkat dari tahun ke tahun. Jamaah, yang adalah jamaah mesjid, yang adalah kami-kami juga, semakin percaya menitipkan zakat infaq sadakahnya.
Betapa tragisnya kejadian di Jawa Timur yang memakan korban jiwa sampai 21 orang, meninggal karena lemas akibat terdesak dan terinjak-injak ketika masyarakat berbondong-bondong tidak terkendali untuk menerima zakat. Pristiwa menyedihkan itu jadi tontonan di televisi. Menyedihkan sekali. Di rumah para puteriku mewanti-wanti, jangan sampai terjadi kejadian yang sama seperti itu ketika kami membagi-bagikan zakat.
Alhamdulillah kami tidak mengalami hal seperti itu. Karena jumlah mustahiq yang relatif kecil disamping kami menggunakan sistim kupon. Kami membuat enam buah loket untuk melayani pembawa kupon yang sudah diberi nomor sebelumnya. Sehingga benar-benar tertib dan mudah dikendalikan.
Seorang puteriku bertanya, kenapa orang tidak mau menyerahkan zakat infaq dan sadakah mereka kepada BAZIS atau LAZIS, yakni badan pengumpul zakat yang dibentuk pemerintah. Bukankah seandainya hal itu dikelola dengan benar kejadian menyedihkan seperti di Jawa Timur itu bisa dihindari?
Rasa-rasanya, jawabku, karena umat belum terlalu yakin dengan cara kerja badan-badan tersebut. Belum jelas dengan cara apa ZIS yang dikumpulkan umat itu dikelola. Belum ada laporan yang transparan. Yang ada baru sekedar iklan. Padahal, seandainya badan amil zakat itu dapat menarik simpati umat karena cara kerjanya yang amanah, kekuatan ZIS umat Islam di negara ini pastilah tidak tanggung-tanggung. Aku membandingkan dengan komplek perumahan kami yang hanya terdiri dari 200 an buah rumah. Yang Muslimnya sekitar 85%. Yang akrab dengan mesjid sekitar separuhnya. Tahun ini kami mampu mengumpulkan hampir 50 juta rupiah. Suatu jumlah yang cukup lumayan.
Sekitar delapan tahun yang lalu aku hadir pada sebuah rapat lembaga amil zakat itu. Pada rapat itu, pimpinan LAZIS menggebu-gebu meminta agar semua zakat yang terkumpul di setiap mesjid dikumpulkan kepada mereka untuk dibagikan kepada para mustahiq. Ketika itu aku jawab, hal itu sudah kami lakukan. Kami telah membagikannya kepada para mustahiq di sekitar perumahan kami. Mereka menanyakan apakah kami yakin bahwa yang menerima benar-benar mustahiq. Aku menjelaskan para mustahiq yang sama seperti disebut di atas. Aku balik bertanya, apakah LAZIS sudah punya contoh nyata, kemana mereka menyalurkan ZIS yang mereka kumpulkan? Sudahkah ada laporannya? Ternyata belum ada. Kalau begitu, kataku waktu itu, biarlah kami meneruskan saja seperti yang kami lakukan, karena kami selalu membuat laporan pertanggung-jawaban setiap kali kami membagi-bagikan zakat. Mereka berjanji akan membuat laporan serupa untuk tahun berikutnya. Tapi sejak itu kami tidak ada kontak lagi.
Pernah pula kami menerima kupon dari kelurahan beratus-ratus lembar dengan nominal rupiah di setiap lembarnya. Kami diminta menyerahkan sebanyak nilai kumulatif kupon tersebut kepada pengumpul zakat dari kelurahan. Seandainya kami ikuti, maka semua ZIS yang dikumpulkan terpaksa diserahkan kepada petugas dari kelurahan.
Dengan sangat hati-hati, kami kembalikan kupon-kupon itu, dan hanya beberapa ratus ribu rupiah yang kami serahkan. Kami jelaskan kepada pak Lurah bahwa kami telah membagi-bagikan zakat kepada para mustahiq di sekitar kami. Sejak itu, sudah cukup lama kami tidak lagi menerima bundelan kupon dari kelurahan.
Aku masih berharap, bahwa ZIS ini suatu saat benar-benar bisa dikelola dengan baik dan benar secara nasional, karena manfaatnya pasti akan besar sekali.
Allahu Akbar.
Jatibening, awal Syawal 1429H.
*****
Allahu Akbar wa lillahilhamd. Gema takbir berkumandang lagi, seiring tenggelamnya matahari sebagai pembatas selesainya Ramadhan dan bermulanya bulan Syawal. Selesai pulalah ibadah puasa tahun 1429 H ini. Seperti tahun-tahun sebelumnya. Waktu satu bulan penuh itu berakhir begitu cepatnya. Mengakhiri kegiatan rutin di bulan suci itu.
Rutin dengan shalat berjamaah. Dengan kultum. Dengan menyediakan iftar di mesjid. Dengan tarawih. Dengan tadarus. Dengan i’tikaf semampunya. Dalam kebersamaan jamaah. Alhamdulillah, kesadaran jamaah yang meski tidak kentara tapi pasti ada kemajuannya dibanding tahun-tahun yang lalu. Dan rutin pula dalam menampung zakat, infaq dan sadakah dari jamaah serta warga di sekitar komplek. Untuk kemudian disalurkan kepada para mustahiq. Para yang berhak menerimanya, yang tinggal dilingkungan terdekat dengan komplek perumahan kami.
Dalam diskusi antar jamaah timbul pertanyaan dan usulan agar pengkriteriaan mustahiq ini diperbaiki. Harus diseleksi benar-benar mereka yang dikategorikan sebagai yang berhak menerima limpahan zakat. Bagian utama adalah para fakir dan miskin. Nah, siapa yang benar-benar fakir? Yang benar-benar miskin?
Fakir, kata ustad, adalah mereka yang tidak punya apa-apa untuk dimakannya hari ini. Sementara yang disebut miskin pula adalah mereka yag masih punya makanan untuk hari ini tapi tidak punya apa-apa untuk dimakannya besok.
Ternyata sulit mencari fakir dan miskin yang memenuhi kriteria itu. Tukang pulung, yang mengumpulkan karton dan plastik bekas. Yang mengumpulkan barang-barang terbuang langsung dari tempat sampah. Menurut sebuah wawancara, mereka masih mampu mendapat penghasilan 20,000 sampai 30,000 rupiah sehari. Jumlah itu bagi mereka cukup untuk sekedar makan hari ini.
Mustahiq yang datang meminta pembagian zakat ke mesjid kami termasuk para kaum pemulung ini, yang jumlahnya selalu bertambah dari tahun ke tahun.
Di sebelah komplek kami ada perumahan kampung. Disitu terdapat banyak sekali rumah-rumah petak kontrakan. Rumah-rumah petak yang disewa oleh tukang atau buruh bangunan, oleh tukang sol sepatu keliling, tukang ojek, pekerja bengkel, sopir angkot, sopir taksi, pedagang asongan, pedagang kaki lima, petugas keamanan atau petugas sekuriti. Ada yang istri mereka juga bekerja sebagai pembantu rumah tangga. Ada yang keluarga kecil dan ada yang keluarga cukup besar dengan 6 orang anak, bersempit-sempit di dalam sempitnya rumah petak kontrakan. Ada juga janda-janda tua atau bahkan para orang tua jompo. Mereka itulah yang kami kategorikan sebagai mustahiq penerima zakat.
Sahkah mereka kami anggap sebagai orang-orang miskin? Mereka mampu menyewa rumah petak. Mereka pasti masih punya bekal untuk makan besok dan lusa. Tapi mereka adalah orang-orang yang berjuang sangat keras untuk menopang kehidupan. Mereka adalah orang-orang yang mengekas untuk mendapatkan makan. Seorang tukang yang bergaji harian antara 50,000 sampai 60,000 rupiah sehari, dengan kondisi tidak ada kerja, tidak ada gaji, harus membiayai kehidupan keluarganya. Serta membayar uang sekolah anak-anaknya.
Mereka kami data, dan kami bagi kupon. Keluarga dengan maksimum tiga jiwa dapat satu kupon. Dengan empat sampai enam jiwa dapat 2 kupon. Diatasnya 3 kupon.
Kupon yang kami bagi-bagikan ketika kami mensurvai langsung ke tempat tinggal mereka. Kami, para jamaah masjid, bergotong royong, berombongan-rombongan melakukannya. Tentu saja dengan melibatkan para remaja mesjid.
Dan kami minta mereka datang pada hari terakhir puasa, ba’da shalat asar, ke mesjid untuk menukarkan kupon dengan amplop berisi uang. Jumlah mustahiq kami tidak sampai ribuan. Kami membagikan sekitar 600 buah kupon. Masing-masing kupon kami tukar dengan amplop berisi 50,000 rupiah. Lalu kami layani mereka dengan tertib.
Tentu saja termasuk para pemulung yang tidak tinggal di rumah petak di sebelah komplek. Tapi datang dari tempat yang sedikit lebih jauh. Mereka datang berombongan-rombongan dengan pakaian dinas lengkap dengan pengais besi dan karung goni rombeng. Jumlah mereka sudah mencapai lebih seratus orang. Empat lima tahun yang lalu hanya beberapa orang saja, yakni yang biasa dinas ke tempat-tempat sampah di komplek. Mereka kami suruh berbaris teratur lalu juga diberi kupon.
Semua berjalan lancar dengan cara seperti itu.
Tidak semua yang terkumpul kami bagi-bagikan kepada para mustahiq. Ada bagian amil yang kami serahkan kepada para remaja mesjid yang bertugas menerima ZIS. Mereka bekerja pada sepuluh hari terakhir Ramadhan. Ada yang kami masukkan ke dalam baitul maal mesjid, dana yang dapat dipinjamkan tanpa bunga kepada pedagang asongan dan sebangsanya, lalu dibayar cicil. Ada yang kami berikan untuk mensubsidi murid-murid Taman Pendidikan Al Quran di mesjid kami.
Cara seperti ini telah kami lakukan sejak bertahun-tahun. Selalu dengan laporan panitia Ramadhan yang setransparan mungkin kepada jamaah. Alhamdulillah jumlah ZIS yang kami himpun selalu meningkat dari tahun ke tahun. Jamaah, yang adalah jamaah mesjid, yang adalah kami-kami juga, semakin percaya menitipkan zakat infaq sadakahnya.
Betapa tragisnya kejadian di Jawa Timur yang memakan korban jiwa sampai 21 orang, meninggal karena lemas akibat terdesak dan terinjak-injak ketika masyarakat berbondong-bondong tidak terkendali untuk menerima zakat. Pristiwa menyedihkan itu jadi tontonan di televisi. Menyedihkan sekali. Di rumah para puteriku mewanti-wanti, jangan sampai terjadi kejadian yang sama seperti itu ketika kami membagi-bagikan zakat.
Alhamdulillah kami tidak mengalami hal seperti itu. Karena jumlah mustahiq yang relatif kecil disamping kami menggunakan sistim kupon. Kami membuat enam buah loket untuk melayani pembawa kupon yang sudah diberi nomor sebelumnya. Sehingga benar-benar tertib dan mudah dikendalikan.
Seorang puteriku bertanya, kenapa orang tidak mau menyerahkan zakat infaq dan sadakah mereka kepada BAZIS atau LAZIS, yakni badan pengumpul zakat yang dibentuk pemerintah. Bukankah seandainya hal itu dikelola dengan benar kejadian menyedihkan seperti di Jawa Timur itu bisa dihindari?
Rasa-rasanya, jawabku, karena umat belum terlalu yakin dengan cara kerja badan-badan tersebut. Belum jelas dengan cara apa ZIS yang dikumpulkan umat itu dikelola. Belum ada laporan yang transparan. Yang ada baru sekedar iklan. Padahal, seandainya badan amil zakat itu dapat menarik simpati umat karena cara kerjanya yang amanah, kekuatan ZIS umat Islam di negara ini pastilah tidak tanggung-tanggung. Aku membandingkan dengan komplek perumahan kami yang hanya terdiri dari 200 an buah rumah. Yang Muslimnya sekitar 85%. Yang akrab dengan mesjid sekitar separuhnya. Tahun ini kami mampu mengumpulkan hampir 50 juta rupiah. Suatu jumlah yang cukup lumayan.
Sekitar delapan tahun yang lalu aku hadir pada sebuah rapat lembaga amil zakat itu. Pada rapat itu, pimpinan LAZIS menggebu-gebu meminta agar semua zakat yang terkumpul di setiap mesjid dikumpulkan kepada mereka untuk dibagikan kepada para mustahiq. Ketika itu aku jawab, hal itu sudah kami lakukan. Kami telah membagikannya kepada para mustahiq di sekitar perumahan kami. Mereka menanyakan apakah kami yakin bahwa yang menerima benar-benar mustahiq. Aku menjelaskan para mustahiq yang sama seperti disebut di atas. Aku balik bertanya, apakah LAZIS sudah punya contoh nyata, kemana mereka menyalurkan ZIS yang mereka kumpulkan? Sudahkah ada laporannya? Ternyata belum ada. Kalau begitu, kataku waktu itu, biarlah kami meneruskan saja seperti yang kami lakukan, karena kami selalu membuat laporan pertanggung-jawaban setiap kali kami membagi-bagikan zakat. Mereka berjanji akan membuat laporan serupa untuk tahun berikutnya. Tapi sejak itu kami tidak ada kontak lagi.
Pernah pula kami menerima kupon dari kelurahan beratus-ratus lembar dengan nominal rupiah di setiap lembarnya. Kami diminta menyerahkan sebanyak nilai kumulatif kupon tersebut kepada pengumpul zakat dari kelurahan. Seandainya kami ikuti, maka semua ZIS yang dikumpulkan terpaksa diserahkan kepada petugas dari kelurahan.
Dengan sangat hati-hati, kami kembalikan kupon-kupon itu, dan hanya beberapa ratus ribu rupiah yang kami serahkan. Kami jelaskan kepada pak Lurah bahwa kami telah membagi-bagikan zakat kepada para mustahiq di sekitar kami. Sejak itu, sudah cukup lama kami tidak lagi menerima bundelan kupon dari kelurahan.
Aku masih berharap, bahwa ZIS ini suatu saat benar-benar bisa dikelola dengan baik dan benar secara nasional, karena manfaatnya pasti akan besar sekali.
Allahu Akbar.
Jatibening, awal Syawal 1429H.
*****
Subscribe to:
Posts (Atom)