Saturday, October 11, 2008

SANG AMANAH (12)

(12)

Tapi sekarang, pak Umar ini, pak kepala sekolah yang baru ini, yang sekarang statusnya belum kepala sekolah ini, mau datang menjenguk, melihat keadaan ibunya. Bukankah ini benar-benar mencengangkan? Tapi biarlah. Dia akan cepat-cepat pulang. Dia akan memberi tahu apa adanya. Bahwa ada pak kepala sekolah yang baru, pak pengganti kepala sekolah yang saat ini masih calon kepala sekolah, akan datang melihat mami bersama bapak kepala sekolah yang akan pensiun, yang akan segera digantikan. Terus kalau mami bertanya, bagaimana bapak-bapak ini tahu kalau dia sedang sakit? Anto akan bercerita. Anto akan menjelaskan apa adanya pelan-pelan nanti. Anto akan menceritakan tentang kenakalannya nanti. Pokoknya tentang segala-galanya. Tidak ada yang akan ditutup-tutupinya. Dan yang paling penting untuk diketahui mami adalah tekadnya untuk berubah. Anto sudah berjanji bersungguh-sungguh bahwa dia tidak akan bandel lagi. Bagaimana kalau mami kaget mendengar Anto yang begitu baik di rumah ternyata badung di sekolah? Dia akan mengulangi janjinya di hadapan mami. Bahwa dia akan sebaik di rumah kalau berada di luar rumah. Mudah-mudahan mami akan menerima keterangannya. Mudah-mudahan mami bisa memahaminya. Jadi tidak ada yang perlu dicemaskan. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Seperti kata pak Umar tadi. Anto merasa tenang. Dengan perasaan mantap dia kembali ke kelasnya

Sampai di kelas, kali ini ibu Sofni yang bertanya.

‘Bagaimana Adrianto? Ada masalah apa lagi?’

‘Tidak ada masalah buk.’

‘Kenapa kamu barusan dipanggil pak Umar kembali? Ada apa?’

‘Pak Umar ingin mengunjungi ibu saya buk. Ingin melihat ibu saya yang sedang sakit. Tadi beliau menanyakan alamat rumah saya?’

‘Hanya itu?’

‘Ya buk. Hanya itu, buk.”

‘Baik kalau begitu, mari kita teruskan pelajaran kembali. Kamu boleh duduk..’

Anto kembali ke tempat duduknya. Iwan, teman sebangkunya bertanya setengah berbisik, karena hampir tidak percaya.’

‘Bener hanya itu?’

‘Ya, bener. Hanya itu.’

Iwan memperhatikan Anto dengan perasaan heran. Ini baru aneh.

*****


Pak Umar memberi tahu pak Suprapto bahwa dia sudah mendapatkan alamat Adrianto. Bahwa Adrianto hanya meminta agar kunjungan itu dilakukan kalau dia sudah sampai di rumah, jadi sekitar jam tiga nanti, agar dia bisa memberi tahu ibunya terlebih dahulu. Pak Suprapto setuju. Pak Suprapto menawarkan untuk naik mobilnya saja. Pak Umar menerima tawaran itu. Sementara itu pak Umar minta izin untuk melihat-lihat bagian lain dari sekolah. Pak Suprapto mempersilahkannya, sementara dia sendiri tinggal di kantornya karena ada hal-hal lain yang harus diselesaikannya.


*****

3. Hari Perkenalan (3)

Pak Umar memulai kunjungannya ke kantor Tata Usaha di sebelah ruang guru-guru. Kantor inipun sangat teratur dengan meja tulis, komputer, lemari-lemari besar tertata dan tersusun rapi dan bersih. Dindingnya dicat putih. Ada lima orang karyawan sekolah berkantor di sana. Kepala Tata Usaha adalah pak Dadang yang tadi sudah diperkenalkan oleh bapak kepala sekolah. Meja pak Dadang, terletak di pojok kanan, dibatasi penyekat dari rotan. Pak Dadang memperkenalkan karyawan-karyawan bukan guru SMU 369. Dimulai dengan yang berkantor di kantor Tata Usaha. Pertama-tama adalah pak Kosasih yang mengurusi perpustakaan sekolah dan laboratorium sekolah. Lalu ada pak Hamdan dan ibu Yasmiati sebagai juru tulis atau sekretaris sekolah. Dan ibu Astri sebagai penanggung jawab tata ruang dan penggunaan gedung sekolah. Ada satu orang lagi, pak Sumitro, petugas komputer yang kadang-kadang ikut berkantor di ruangan Tata Usaha, meski lebih banyak bertugas di ruangan komputer sekolah.

Pak Dadang memberitahukan pula nama-nama karyawan yang tidak berkantor di ruangan yang sama. Ada dua orang petugas masing-masing pak Simin, penjaga merangkap tukang kebun sekolah dan pak Tugiman sebagai penanggung jawab kebersihan ruangan-ruangan sekolah serta petugas dapur yang menyiapkan minuman guru-guru. Mereka ini tidak berkantor di kantor Tata Usaha. Ada ruangan khusus buat mereka di sebelah kantin sekolah. Terakhir adalah petugas Satpam sekolah, ada empat orang yang bertugas jaga bergantian. Siang hari hanya satu orang sedangkan malam hari ada dua orang petugas yang menjaga. Pak Umar menanyakan beberapa hal yang menyangkut urusan administrasi sekolah, tentang perpustakaan, tentang pengurusan laboratorium, tentang kebun mini, tentang sistim penyimpanan data guru-guru, murid-murid serta karyawan sekolah bukan guru. Pak Dadang menjelaskan dengan sangat rinci. Beliau ini benar-benar seorang petugas Tata Usaha yang sangat teliti.

Pak Dadang memintakan data-data pribadi pak Umar untuk keperluan administrasi sekolah.

‘Maaf, pak apakah saya bisa mendapatkan data-data pribadi bapak yang akan kami ‘input’ kan ke dalam pusat informasi?’

‘Tentu pak Dadang, saya akan memberikan biodata saya nanti kepada pak Dadang.’

‘Maksud saya, sementara ini mungkin saya bisa tahu terlebih dahulu alamat tempat tinggal bapak?’

‘Tentu saja. Saya tinggal di Kompleks Perumas Jatiwangi Blok D Nomor 3 di Pondok Gede Bekasi.’

‘Ya..ya.. langsung akan saya tulis saja nih pak. Bolehkah saya tahu nomor teleponnya juga?’

‘86475162.’

‘delapan – enam – empat – tujuh – lima – satu – enam – dua. Maaf apa saya boleh minta nomor HP bapak?’

‘Saya tidak punya HP, pak Dadang.’

‘Maaf kalau begitu pak. Jadi bapak hanya dapat dihubungi di rumah saja, kalau lagi tidak di sekolah?’

‘Kalau nanti saya sudah berkantor secara definitif di sini, saya akan berada kalau bukan di sini ya di rumah saya. Sementara kalau saya di jalan tidak akan mungkin di hubungi dengan HP. Bagaimana mungkin saya akan dapat berbicara di HP sambil mengendarai Vespa. Ha..ha..ha..ha..’

‘Iya pak…he..he..he… Lalu kalau mengenai jumlah anggota keluarga bapak?’

‘Baiklah. Mau langsung ditulis juga? Saya punya satu istri, namanya Fatimah. Seorang ibu rumah tangga biasa. Pendidikannya sampai Fakultas Sastra Inggeris. Dulu sama-sama jadi guru. Tapi dia kurang sabar. Setelah mengajar dua tahun tapi belum juga diangkat jadi pegawai negeri, akhirnya dia berhenti. Sejak kami menikah dia menjadi ibu rumah tangga saja. Anak saya tiga orang. Yang paling tua laki-laki, bernama Faisal, sekarang kelas tiga SMP. Yang kedua juga laki-laki, bernama Amir, kelas satu SMP. Yang terakhir, perempuan, namanya Fauziah, kelas empat SD.’

‘Maaf, yang tadi pagi dapat musibah yang mana pak?’

‘Yang nomor dua, Amir.’

‘Bagaimana keadaannya sekarang pak?’

‘Mudah-mudahan baik-baik. Tadi sempat dibawa ke rumah sakit untuk perawatan luka di kepalanya. Luka itu dijahit, tapi setelah itu dia sudah dibolehkan dokter pulang.’

‘Jadi selain luka di kepalanya itu tidak apa-apa ya, pak.’

‘Alhamdulillah, tidak apa-apa. Mungkin sedikit lecet-lecet. Tapi karena tadi darahnya lumayan banyak keluar jadi agak pusing-pusing. Oleh dokter disuruh istirahat dulu.’

‘Ya, mudah-mudahan cepat pulih pak.’

Rupanya pak Dadang mencatat semua informasi yang diperlukan yang disampaikan pak Umar itu langsung di komputer.

‘Baiklah, pak. Yang mengenai pribadi bapak biar saya nantikan biodatanya saja. Kami berharap bapak akan betah di sini dan semoga bapak dapat memimpin sekolah ini dengan sebaik-baiknya nanti.’

‘Insya Allah akan saya usahakan. Tolong saja bapak-bapak dan ibu-ibu doakan.’

‘Tentu, pak. Insya Allah kami akan doakan.’

‘Nah, satu hal terakhir. Berkaitan dengan doa. Apakah bapak-bapak dan ibu-ibu ini tidak memanfaatkan mesjid sekolah untuk shalat?’

‘Mh..eh..mh… ada juga pak. Kadang-kadang. Kadang-kadang. Tapi lebih sering kami shalat di rumah saja.’

‘Di rumah? Jam berapa bapak-bapak dan ibu-ibu sampai di rumah? Kan sudah habis waktu shalat zuhur?’

‘Mh..eh.. mh.. ya. Tidak juga pak. Saya biasanya jam tiga sudah sampai di rumah.’

‘Oh..begitu. Baiklah. Saya undang bapak-bapak dan ibu-ibu ini untuk menemani saya shalat zuhur di mesjid itu mulai besok.’

‘Ya..ya.. baik pak. Insya Allah pak…ya..’

‘Baiklah bapak-bapak dan ibu-ibu, saya akan meneruskan melihat-lihat dulu berkeliling. Apakah pak Kosasih bisa menemani saya untuk melihat-lihat perpustakaan dan laboratorium sekolah.’

‘Tentu pak.’

‘Baik. Kalau begitu kita pergi sekarang. Terima kasih bapak-bapak, ibu-ibu. Assalamu’alaikum.’

‘Wa’alaikum salam..pak.’

Pak Dadang dan pegawai Tata Usaha yang lain sangat terkesan dengan keramahan pak Umar. Orangnya penuh perhatian dan sangat bersahaja. Dan yang lebih mengesankan adalah kesalehannya. Pak Dadang merasa malu waktu ditanyai tentang seberapa sering dia mengerjakan shalat di mesjid sekolah. Sejujurnya sebenarnya dia hampir tidak pernah shalat di sana kecuali waktu shalat Jumat masih dilaksanakan di mesjid itu beberapa kali dulu, waktu mesjid itu baru selesai dibangun. Pak Dadang mengerti betul bahwa ajakan pak Umar untuk menemaninya shalat mulai besok di mesjid itu merupakan perintah. Ya biarlah, dia memang masih pantas untuk diperintah untuk menjadi taat dalam menjalankan agama. Diapun berjanji dengan dirinya untuk lebih memperhatikan shalatnya agar tidak terkesan nanti shalatnya karena pak Umar.


*****

SANG AMANAH (11)

(11)

Anto sedang dirubung teman-temannya di kantin. Mereka ramai sekali, tidak ketinggalan reporter-reporter gossip seperti Tina dan Ames. Dua yang terakhir ini sekalian berusaha menunjukkan perhatian mereka sebagai fans berat Anto. Dan Anto memang punya banyak sekali penggemar. Mereka menanyakan bagaimana keputusan akhir pak kepsek atas dirinya sehubungan dengan kasusnya tadi pagi. Anto bercerita datar, tidak melebih-lebihkan. Bagian akhir yang paling penting adalah bahwa pak kepsek yang baru itu memaafkannya. Tidak ada hukuman. Tidak ada skorsing. Dan dia tidak dikeluarkan dari SMU 369. Padahal tadi sempat beredar rumor bahwa ‘kemungkinan besar’ Anto akan dikeluarkan, karena kelakuannya menjahili motor calon kepsek itu dinilai sangat keterlaluan. Apalagi dia tertangkap basah. Apalagi pak calon kepsek itu pas kena musibah dan tidak dapat menggunakan Vespanya untuk mengurus anaknya di rumah sakit. Apalagi ini bukan pertama kalinya Anto membuat masalah di sekolah ini. Pokoknya, kata gossip yang sudah sempat beredar santer, ‘Anto is finished’. Dan itu sangat wajar.

Tapi ternyata bukan. Tapi ternyata dia bilang dia dimaafkan. Tidak ada hukuman apa-apa. Kok enak benar ya? Kok Anto seperti diberi angin untuk tetap jahil ya?

Tapi Anto tidak lupa menceritakan bahwa sesuai dengan keinginan pak kepsek lama dia dikenakan sangsi. Dia dapat peringatan pertama dan terakhir. Kalau dia membuat masalah lagi, walau sekecil apapun, begitu kata ‘jenderal’, maka tidak ada ampun lagi baginya. Artinya semenjak sekarang dia harus menjadi anak baik-baik di sekolah ini. Dia tidak boleh lagi jadi bergajulan. Dia tidak boleh lagi jahil kepada siapa-siapa. Artinya, jabatannya sebagai ‘penyelenggara dan penanggung jawab terjadinya duel’ juga harus dilepaskan. Dan dia bilang pada konferensi persnya itu agar ‘lo-lo semua tolong dong bantuin gue, biar gue berubah jadi anak baek-baek. Dan lo-lo yang menunggu kesempatan buat ngejahilin gue biar gue dikeluarkan dari sekolah ini, tolong dong jangan ngambil kesempatannya sekarang. Kan kasihan para fans gue, kalau entar gue mesti cabut dari SMU 369. Jadi tolong deh ya… lo-lo bantuin gue. Sumpah! Gue mau berubah nih. Gue mau jadi anak baek. Jadi anak baek sekali kalau perlu. Sekian dan terima kasih.’

Kok Anto ngetop banget ya? Sebenarnya hanya karena; dia memang gagah. Dia itu ganteng. Tampangnya bersahabat, murah senyum, bahkan seperti orang yang mau senyum terus. Dia pemain basket yang lincah. Kalau ada kegiatan ekstra kurikuler, acara yang ada ramai-ramainya, Anto pasti jadi bintang karena dia pemain gitar dan penyanyi solo. Suaranya mantap. Dan dia sangat pas membawakan lagu-lagu berirama ‘country’.

Tapi kok keterusan bandel? Ya siapa sih yang tidak bandel seumur anak SMU yang dalam masa pancaroba itu? Apalagi kalau digiring banyak fans untuk jadi bandel. Mulanya bandel lucu-lucuan akhirnya jadi bandel sungguhan. Ada penyebab lain sebenarnya kenapa Anto jadi bandel. Suasana di rumahnya. Anto sebenarnya dari keluarga berada. Ayahnya seorang pengusaha sukses. Dan Anto, tadinya anak manja meski dia tidak dididik untuk cengeng. Papinya mengajarnya berdisiplin, yang kata papi, agar bisa menghargai waktu dan benda-benda atau barang-barang. Dia dibelikan mobil karena dia berprestasi baik di sekolah, tapi mobil bukan untuk dipakai ugal-ugalan. Anto sebenarnya sangat memuja papi, sebagai figur untuk dijadikan contoh, karena kesuksesan dan kedisiplinan papi.

Tapi tiba-tiba terjadi malapetaka. Maminya jatuh sakit. Mami kena kanker payudara. Satu payudaranya dioperasi. Yang sangat menyedihkan, papi bukannya membantu merawat mami, atau paling tidak bersimpati kepada mami, malahan menjauhi mami. Proses itu berjalan cepat. Pada awalnya papi masih penuh perhatian pada mami. Sampai hari keputusan mami mau dioperasi. Papi tidak setuju mami dioperasi. Papi menginginkan agar mami mencoba pengobatan alternatif seperti yang dia dengar dari teman-temannya. Mami tidak percaya dan berkeras dengan keputusan untuk dioperasi. Papi sampai saat terakhir tetap tidak mau menanda tangani surat persetujuan operasi mami. Tapi mami nekad. Mami membuat kesalahan dengan meminta persetujuan kakek. Tentu saja kakek jadi serba salah. Tapi demi anaknya yang disayanginya, karena menurut kakek, keyakinan untuk sembuh dengan suatu cara pengobatan itu sudah merupakan sebagian dari obat, kakek lalu menyetujuinya. Kakek berusaha meyakinkan papi bahwa apa yang dia setujui itu untuk kebaikan mami. Dan ternyata penyakit mami memang tidak serta merta sembuh. Malahan kelihatannya bertambah parah. Sebelum dioperasi mami masih bisa leluasa bergerak di rumah meski sangat kelihatan bahwa dia tidak sehat. Tapi sekarang dia tidak sanggup lagi. Sehari-harinya mami terbaring lemah di tempat tidur.

Papi marah. Papi menunjukkan ketidak senangannya atas proses pengobatan mami. Papi bahkan protes keras pada kakek. Dan keluar pernyataan yang sangat tidak ditunggu-tunggu itu. ‘Karena bapak sudah mengambil alih tanggung jawab saya sebagai suami dalam hal pengobatan anak bapak, sekalian saja saya serahkan kembali anak bapak.’

Pernyataan itu jelas berat sekali. Pernyataan itu sama saja dengan papi menceraikan mami. Padahal mami dalam keadaan sakit berat seperti itu. Mami minta maaf sama papi. Papi bilang ada bagian yang dimaafkan papi tapi ada bagian yang tidak bisa dimaafkannya. Dan kemarahan papi tidak hanya sampai di sana. Papi seperti menghindar untuk pulang ke rumah. Papi menginap di tempat nenek, mamanya papi di Tebet. Anto pernah mengingatkan papi untuk memperhatikan mami. Tapi papi malahan tambah marah. Anto dimarah-marahi. Mami dimarah-marahi. Anto kecewa sama papi. Anto kasihan dan sayang sama mami. Anto mengerti papi tersinggung tapi masak harus sampai seserius ini. Anto pernah pergi mengadu kepada nenek di Tebet. Nenek mengerti. Nenek faham. Dan nenek sudah berusaha menasihati papi. Tapi papi orangnya memang keras. Lebih parah lagi papi bilang dia mau kawin lagi saja. Semua gempar. Semua berusaha menasihati papi. Semua oom-oom dan tante-tante saudara papi protes. Semua, kecuali mami. Mami bilang, mami tidak keberatan. Silahkan papi kalau mau kawin lagi. Mami mengerti dan ikhlas. Sehingga papi semakin nekad dan minta sama nenek di Tebet untuk mencarikan istri baru atau dia sendiri akan mencarinya.

Dalam suasana kacau seperti itu di rumah, Anto mencari pelarian di sekolah dengan menjadi bandel. Masih untung tingkat kebandelannya belum sampai melibatkan ‘narko’. Meski dia berubah jadi ugal-ugalan. Di rumah, di samping mami Anto tetap berusaha jadi anak manis. Dia sangat memperdulikan mami. Dia selalu berusaha menghibur mami. Dia selalu menolong mami sebisa-bisanya.


*****


Pak Umar mencari Anto ke kantin sesuai dengan saran anak kelas dua C yang baru saja ditanyainya. Anak ini, yang barusan mendengarkan konferensi persnya Anto jadi heran. Kok pak ‘new’ kepsek ini masih mencari Anto lagi? Diam-diam, Tono, anak itu, membututi pak Umar dari jauh. Pandangan pak Umar segera menemukan Anto yang sedang menikmati semangkok mie bakso. Anto jadi agak berdebar-debar, ada apa lagi nih, pikirnya. Dia berdiri, menghadap kepada pak Umar. Pak Umar memberi isyarat agar dia kembali duduk dan mengatakan.

‘Bisa kamu menemui bapak di ruangan guru sesudah selesai jajan?’

‘Bi… bisa pak. Saya ke sana sekarang.’

‘Tidak sekarang. Selesaikan makanmu. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Saya tunggu kamu di sana, ya?!’

‘Ba..baik pak. Saya segera ke sana.’

Semua anak-anak di kantin mendengar itu. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Tapi Anto diminta datang ke ruang guru. Ada apa? Apa yang akan disampaikan pak Umar kepadanya? Masih belum selesai jugakah urusan tadi pagi? Bukankah tadi dia sudah dimaafkan? Atau…. oh..ya, mungkin surat perjanjian bahwa dia tidak akan bandel lagi itu. Surat peringatan itu harus ditandatanganinya. Ya..ya..ya.. itu yang paling mungkin. Dia harus menanda tangani surat pernyataan tidak akan nakal lagi itu. Kalau benar itu, dia akan tanda tangani. Biar harus rangkap sepuluh, atau rangkap 40, sebanyak jumlah guru SMU 369, dia akan tanda tangani. Dia ikhlas. Dia tidak akan protes. Dan dia akan menepati janjinya itu. Bahwa dia akan berubah menjadi anak yang baik, tidak akan membuat ulah lagi. Pokoknya apapun konsep surat peringatan itu, kalau dia disuruh menanda tangani dia akan tanda tangani. Titik. Titik. Titik.

Anto cepat-cepat menghabiskan mie baksonya. Waktu dia mau bayar, Herman mencegahnya.

‘Lo urus dulu tuh urusan lo. Ini biar gue yang bayar. Mudah-mudahan bukan yang aneh-aneh lagi.’

‘Gue rasa nggak. Gue rasa gue bakal disuruh menanda tangani surat pernyataan menyerah. Lo-lo doain gue aja.’

‘Wadduh. Udah urusan-urusan doa sekarang. Bener-bener udah insap temen kite.’

Anto berlari-lari kecil ke ruangan guru. Bel masuk kelas persis sedang berbunyi. Guru-guru yang mau mengajar pada keluar dari ruangan itu. Di dalam ruangan tinggal tiga orang guru. Salah satunya pak Umar yang duduk di pojok dekat lemari besar. Pak Umar melihat Anto langsung menyuruhnya masuk.

‘Kamu ambil satu kursi di sebelah sana itu dan pindahkan ke sini.’ Pak Umar memerintahkan Anto mengambil sebuah kursi dari jajaran meja guru di tengah ruangan.

‘Kamu duduk di sana!’

Anto duduk.

‘Baiklah, ada yang ingin bapak tanyakan kepadamu. Bagaimana keadaan ibumu sesungguhnya sekarang?’

‘Beliau sakit, pak. Beliau tidur di tempat tidur, di rumah.’

‘Ya, kamu sudah mengatakan itu tadi. Begini, bapak ingin mengunjungi ibumu, menengok beliau. Bagaimana pendapatmu?’

Anto terdiam. Dia mencoba melihat ke arah pak Umar. Badannya bergetar. Tapi dia tidak bisa bersuara. Dalam hatinya dia bergumam, masak sih orang tua ini tidak percaya mami gue sakit?

Pak Umar mengerti bahwa Anto curiga.

‘Begini, Adrianto. Ini tidak ada hubungannya dengan kasus kamu tadi pagi. Urusan tadi pagi sudah selesai. Ini urusan manusia dengan manusia. Kamu mengatakan ibumu sakit. Kamu mengatakan ibumu depresi. Oleh karena itu bapak ingin menengoknya. Bapak jamin bahwa tidak akan ada pembicaraan mengenai kejadian hari ini dengan ibumu. Bapak hanya mau mengunjungi orang sakit. Bagaimana pendapatmu?’

‘Si…silahkan pak. Silahkan bapak datang…’ jawab Anto terbata-bata.

‘Dan saya akan ke sana bersama-sama pak kepala sekolah, pak Suprapto. Bapak mengajaknya untuk melihat ibumu dan pak Suprapto bersedia. ‘

‘Baik, pak…. silahkan bapak datang. Tapi sebaiknya biar sesudah saya sampai di rumah pak. Biar saya jelaskan dulu ke ibu saya bahwa bapak akan datang melihat beliau. Biar beliau tidak kaget…’

‘Ya..ya.. itu ide yang baik.. Jam berapa biasanya kamu sampai di rumah?’

‘Dari sekolah saya langsung pulang, pak. Biasanya sekitar jam setengah tiga saya sudah sampai di rumah.’

‘Baik, kalau begitu…. kami datang sekitar jam tiga nanti… bisa?’

‘Bisa, pak.’

‘Oh, ya.. dimana alamat kamu?’

‘Di Kompleks Perumahan Bambu Kuning Permai di Pondok Bambu pak. Jalan Bambu Kuning II nomor 7, dekat mesjid Nurul Iman, pak.’

‘Baiklah. Sampai bertemu dirumahmu nanti. Sekarang kembalilah ke kelasmu.’

‘Ya, pak. … Terima kasih pak….. Permisi pak.’

Anto kembali ke kelasnya. Kok aneh benar ya, pak guru kepala sekolah yang baru ini? Apa memang dia sebegitu perdulinya terhadap orang lain? Atau apa karena dia ingin membuktikan bahwa mami sakit? Ah, dia sudah membantahnya. Dia bahkan berjanji tidak akan membicarakan masalah dirinya pagi ini dengan mami? Atau dia memang orang yang baik sekali? Belum ada seorangpun guru-guru ini yang datang ke rumahnya. Belum ada seorangpun guru-guru ini yang datang melihat mami. Ya, memang tidak ada yang tahu kalau mami sakit. Tadi dia bercerita bahwa mami sakit karena menghindari agar mami jangan dilibatkan dalam kasus kenakalannya di sekolah karena mami sedang sakit itu. Dia berkata sejujurnya. Dia tidak ingin kesehatan mami bertambah buruk.

Friday, October 10, 2008

SANG AMANAH (10)

(10)

‘Jadi begitulah rangkaian cerita kejadian pagi ini pak Umar. Bagaimana kalau kita lihat keadaan Vespa pak Umar itu ke belakang sekarang?’

‘Rasanya tidak perlu, pak. Saya percaya bahwa mereka telah memompa ban dan menghapus noda itu kembali.’

‘Begitulah perangai anak-anak sekarang pak Umar. Ini yang jadi tanggung jawab kita meskipun tentu bukan tanggung jawab kita seratus persen. Orang tua merekalah yang seharusnya lebih bertanggung jawab. Tadi saya benar-benar ingin meminta orang tua Adrianto itu datang ke sekolah. Tapi setelah mendengar ceritanya saya tidak tega.’

‘Benar, pak. Bagaimana pendapat bapak kalau kita pergi melihat orang tuanya yang sakit itu?’ pak Umar mengalihkan pembicaraan.

‘Oh..ya? Betul juga itu. Maksud pak Umar untuk membuktikan apakah ibunya benar-benar sakit?’

‘Bukan pak. Saya percaya ibu anak itu benar-benar sakit. Jadi maksud saya kita datang untuk menengoknya. Mengunjungi orang sakit itu berpahala pak.’

‘Ya..ya… Baik. Kapan kita pergi? Bagaimana kalau sore ini sesudah jam sekolah?’

‘Ya. Saya rasa bisa pak. ‘

‘Baik. Saya akan mencari alamatnya di tata usaha. Atau kita beritahukan Adrianto bahwa kita ingin datang?’

‘Kalau bapak tidak keberatan saya akan menanyakan kepadanya nanti waktu istirahat kedua.’

‘Oh ya… tentu. Silahkan pak Umar tanyakan.. Ngomong-ngomong jam berapa pak Umar sampai kembali di sekolah tadi? Maksud saya apakah bertemu dengan guru-guru di ruang sebelah waktu anda datang?’

‘Ya. Saya tadi datang waktu jam istirahat dan sempat bertemu guru-guru yang lain. Saya juga diperkenalkan kepada ibu Purwati, ibu wakil kepala sekolah.’

‘Oo.. begitu. Ya ibu Purwati sudah sangat ingin naik pangkat menjadi kepala sekolah. Bahkan sudah pernah ada rumor, entah darimana datangnya, mungkin juga dari ibu Purwati sendiri, bahwa dia yang akan menggantikan saya. Katanya, kata rumor itu, berita itu berasal dari Depdiknas. Saya… ya tenang-tenang saja. Tidak menanggapinya. Dan sekarang setelah terbukti bahwa SK pak Umar yang duluan keluar mungkin beliau akan sedikit rikuh di hadapan guru-guru lain. Ini sekedar untuk tambahan informasi pak Umar saja.’

‘Terima kasih pak. Mudah-mudahan keinginan ibu Purwati cepat terkabul. Setiap guru tentu ingin karirnya cepat naik.’

‘Ya. Tentu saja. Satu hal lagi, ini juga perlu saya jelaskan bahwa kadang-kadang ibu Purwati suka meliwati garis wewenangnya. Saya sudah beberapa kali menegornya secara baik-baik. Tapi berurusan dengan ibu-ibu kita memang perlu lebih sabar.’

‘Terima kasih bapak memberi tahukan hal ini.’

‘Hal lain adalah mengenai guru sejarah yang sekarang sedang sakit. Pak Waluyo, dia sakit sejak sebulan yang lalu. Kasihan dia itu. Istrinya juga sedang sakit. Pak Waluyo ada gejala kena hepatitis A. Mungkin karena terlalu capek, kita kurang tahu. Anak mereka masih kecil-kecil. Yang paling besar baru kelas dua SD. Saya pergi melihatnya waktu dia di rumah sakit dua minggu yang lalu. Sekarang sih sudah pulang ke rumah. Tapi masih perlu istirahat agak lama. Untuk urusan mengajar, biasanya digantikan oleh ibu Rukmini yang juga guru sejarah. Hanya, ibu Rukmini tidak bisa menggantikan seratus persen karena ada jam yang bentrok untuk kelas yang berbeda. Untuk sementara saya harap pak Umar bisa membantu mengatasi masalah ini, menggantikan mengajar.’

‘Baik, pak. Mudah-mudahan jamnya tidak bentrok pula. Paling tidak selama dua minggu ini, karena saya masih bertugas di SMU 267. Saya sudah menyanggupi kepada pak Edi Supratman bahwa kewajiban saya untuk mengajar di sana akan tetap saya laksanakan sampai hari ‘H’ nya saya resmi pindah ke sini.’

‘Tentu saja. Tentu saja.’

‘Kembali ke masalah pak Waluyo yang sakit itu. Dia perlu banyak dana untuk biaya pengobatan. Meskipun kita mendapatkan asuransi kesehatan atau Askes, tentu tidak mungkin mengandalkan itu seratus persen. Dia membutuhkan biaya lebih dari itu. Semampunya kita bantu. Ada policy yang saya terapkan di sini. Di awal tahun, sekolah mendapat sumbangan resmi dari orang tua murid baru. Terus terang ada sedikit tawar menawar untuk beberapa orang wali murid baru mengenai jumlah sumbangan. Uang itu sebagian saya masukkan ke dalam tabungan khusus yang saya sebut sebagai dana taktis sekolah. Biasanya digunakan untuk keperluan-keperluan khusus yang tidak terduga. Termasuk di antaranya untuk membantu pak Waluyo. Kalau pak Umar tidak suka dengan policy ini tentu pak Umar bisa memperbaikinya nanti. Nah, uang yang ada dalam tabungan untuk dana taktis itu nanti akan saya serahkan kepada pak Umar dan silahkan pak Umar menyimpannya atas nama pak Umar kembali. Bagaimanapun di Bank tentu harus ada yang mempertanggung jawabkan. Maksud saya tabungan itu tentu harus atas nama seseorang.’

‘Apakah sekolah tidak punya bendahara misalnya pak? Yang bisa diserahi tanggung jawab untuk menyimpan uang seperti itu dan kemudian dikontrol pemakainannya?’

‘Saya tidak menggunakan cara seperti itu. Tidak ada bendahara di sekolah. Tapi untuk yang akan datang ya.. terserah pak Umar.’

Pembicaraan kedua orang itu masih berlanjut kepada hal-hal lain seputar sekolah. Pak Suprapto bersungguh-sungguh menyerahkan tanggung jawab sebagai kepala sekolah kepada pak Umar. Dia menceritakan segala-galanya sampai sangat detil sekali dan pak Umar sangat menghormati cara-cara pak Suprapto itu. Orang tua ini benar-benar sangat baik. Pengaturan segala sesuatu di sekolah ini sangat cermat. Ini terlihat dari serba keteraturan yang ada. Termasuk ruang guru-guru yang tadi sudah diamati pak Umar. Kelihatan sekali bahwa pak Suprapto telah memimpin dan berbuat banyak untuk kemajuan sekolah ini. Apalagi kalau diingat seperti yang diceritakannya bahwa sepuluh ruangan kelas tambahan dibangun selama kepemimpinannya. Pak Umar sebenarnya juga ingin melihat-lihat sarana yang ada tapi dia pikir kalau belum ditawarkan biarlah nanti-nanti saja.

Dari jauh kedengaran suara azan zuhur. Pak Umar melihat jamnya. Jam 12 kurang satu menit. Azan itu sedikit kecepatan. Menurut jadwal shalat, hari ini zuhur jam 12.03. Pak Suprapto mengamati dan melihat bahwa pak Umar sudah resah. Mungkin dia ingin segera pergi shalat. Pak Suprapto masih ingat bagaimana disiplinnya pak Umar dengan waktu shalat. Dia lalu menanyakan.

‘Pak Umar mau pergi shalat sekarang?’

‘Iya pak. Tapi saya rasa azan yang terdengar itu agak kecepatan. Zuhur hari ini harusnya jam 12.03. Jadi masih dua menit lagi.’

‘Mau shalat di mesjid sekolah atau mau shalat di sini?’

Pertanyaan ini sebenarnya agak konyol untuk pak Umar. Sudah barang tentu dia akan shalat di mesjid sekolah sekalian ingin melihat siapa-siapa saja yang datang untuk shalat di sana.

‘Ya pak. Saya akan ke mesjid sekolah itu. Bapak nggak sekalian bersama-sama ke sana sekarang?’

‘Mh..mh.. Kalau tidak ingat omongan guru-guru lain nanti, saya mau pergi shalat sekarang. Begini saja…. Pak Umar pergi saja duluan.’

Pak Umar langsung keluar, menuju ke arah mesjid sekolah di dekat tempat parkir sepeda motor. Meskipun bel istirahat sudah dibunyikan tepat jam dua belas, suasana di mesjid itu sangat sepi. Dia tidak melihat siapapun yang mendekat ke sana. Padahal murid-murid sudah pada keluar untuk beristirahat. Dia membayangkan dalam hatinya, mungkin sebentar lagi mereka akan datang ke sini. Pak Umar melepas sepatunya dan pergi berwuduk. Sekilas didalam mesjid itu dilihatnya ada tiga orang murid yang sudah siap-siap untuk shalat. Lamat-lamat pak Umar mendengar seorang membaca iqamat. Sesudah berwuduk, pak Umar bergegas memasuki mesjid. Tidak ada yang menyusul di belakangnya. Tidak ada lagi murid yang datang untuk shalat. Pak Umar ikut shalat sebagai makmum dengan tiga orang yang tengah berjamaah dan sudah selesai satu rakaat itu. Sesudah salam, murid yang jadi imam itu pindah duduk ke belakang. Pak Umar melanjutkan shalatnya, mencukupkan rakaat yang tertinggal. Waktu dia selesai shalat, dua dari tiga murid tadi sudah keluar. Tinggal satu orang yang masih berzikir. Dia memandangi anak itu yang juga melirik dirinya dengan sudut mata. Rupanya hanya mereka bertiga ini saja yang memanfaatkan mesjid sekolah yang indah ini. Tapi, tidak juga. Ada dua orang murid lagi datang. Mereka shalat sendiri-sendiri. Pak Umar meneruskan zikir. Lalu shalat sunah. Murid yang jadi imam tadi juga melaksanakan shalat sunah. Sesudah shalat sunah, pak Umar menanyai murid yang jadi imam itu.

‘Siapa namumu? Dan dari kelas berapa kamu?’

‘Nama saya Arif, pak. Saya kelas dua A.’

‘Hanya sebegini ini yang shalat di sini sehari-hari?’

‘Iya, pak. Kalau pak Darmawan ada, biasanya beliau juga shalat zuhur di sini. Sebenarnya ada juga yang lain pak. Tapi biasanya nanti-nanti dan masuk satu-satu. Jarang yang mau ikut berjamaah.’

‘Kenapa tidak ada yang azan?’

‘Dilarang, pak. Dulu pernah saya azan, tapi dilarang pak.’

‘Siapa yang melarang, Maksud saya guru mana yang melarang?’

‘Pak Mursyid, pak. Katanya kita bukan di pesantren. Tidak usah pakai azan.’

‘Baiklah Arif. Terima kasih atas keterangan kamu itu. Mudah-mudahan besok-besok kita dapat melakukan sesuatu untuk memakmurkan mesjid ini.’

Waktu pak Umar mau keluar dilihatnya pak Suprapto masuk mesjid untuk mengerjakan shalat. Rupanya jadi juga dia datang. Atau barangkali, seperti kata Arif, mereka datang sendiri-sendiri dan shalat sendiri-sendiri. Tidak ada jamaah di sini. Tidak ada kebersamaan dalam shalat di sini. Inipun akan jadi PR tersendiri gumamnya dalam hati.


*****

Thursday, October 9, 2008

SANG AMANAH (9)

(9)

‘Saya barusan ke rumah sakit Harmoni ingin melihat anak pak Umar. Rupanya sudah dibawa pulang. Jadi bagaimana keadaannya?’

‘Ternyata tidak terlalu mengkhawatirkan pak. Lukanya hanya memerlukan jahitan dan setelah itu sudah boleh langsung pulang. Tadi saya antar dulu sebelum saya kembali ke sekolah. Perlu istirahat dulu. Mungkin karena banyak darah keluar dia tadi merasa pusing.’

‘Pak Umar tinggal dimana sih? Kalau saya tahu alamatnya pasti saya barusan langsung ke sana.’

‘Saya tinggal di Perumnas Jatiwangi pak.’

‘Ya, syukurlah kalau ternyata tidak mengkhawatirkan keadaan anaknya. Anak ke berapa itu dan siapa namanya pak Umar?’

‘Anak saya nomor dua. Namanya Amir. Baru kelas satu SMP.’

‘Kakaknya sekolah dimana?’

‘Kakaknya Faisal juga sekolah di SMP yang sama di kelas tiga. Tadi pagi seperti biasa berangkat ke sekolah sama-sama. Sampai di sekolah ingin membeli buku tulis di warung di depan sekolah. Turun dari angkot, mau menyeberang rupanya tidak melihat dulu kiri kanan. Rupanya ada sepeda motor. Pengendaranya tidak menyangka ada orang menyeberang dari belakang angkot yang sedang berhenti itu. Lalu terjadi kecelakaan itu.’

‘Pengendara sepeda motornya bagaimana?’

‘Ya, alhamdullah dia tidak apa-apa. Amir jatuh, pengendara sepeda motor itu jatuh menimpa Amir. Cuma saja Amir terbentur kepalanya di trotoir makanya luka dan lukanya lumayan besar sehingga memerlukan jahitan. Untunglah orangnya bertanggung jawab sekali. Tadi dia yang mengantarkan ke rumah sakit bersama-sama Faisal. Bahkan dia juga yang membayar biaya rumah sakit atas permintaannya sendiri.’

‘Ya.. ya.. Yang namanya musibah. Baiklah. Apakah bisa kita lanjutkan diskusi mengenai sekolah kalau begitu pak Umar?’

‘Tentu pak.’

‘Tapi sebelumnya ada cerita yang pasti akan mengagetkan pak Umar tentang kejadian di sini tadi pagi.’

‘Mungkin saya bisa menduga pak. Mungkin berhubungan dengan Vespa saya.’

‘Benar sekali. Tentu pak Umar tahu bahwa tadi ada yang mengusili Vespa itu.’

‘Ya. Tadi waktu saya mau pergi saya dapatkan kedua bannya kempes dan bagian depannya dicoret-coret dengan cat semprot. Rupanya meriah juga sambutan yang saya terima pagi ini.’

‘Tapi apakah pak Umar tahu penyebab sebenarnya kenapa itu terjadi?’

‘Tidak pak. Kenapa rupanya?’

‘Sebenarnya murid yang bersangkutan sebentar lagi yang akan menjelaskannya. Tapi saya hanya ingin menyampaikan bahwa itu berawal dari hardikan pak Umar waktu akan ada duel tadi pagi.’

‘Ya..ya.. saya bisa mengerti. Tentu mereka menganggap saya pengganggu acara duel mereka. Dan mereka tidak mengenal saya.’

‘Persis demikian.’

‘Tapi bagaimana bisa langsung ketahuan pelakunya, pak?’

‘Ya kebetulan. Mereka adalah dua murid yang tadi pak Umar lihat di parkiran sepeda motor di belakang.’

‘Tapi waktu saya lihat di belakang mereka seperti mencari-cari sesuatu di got. Aneh juga. Atau mereka menjahili Vespa saya tadi pagi-pagi sekali?’

‘Untuk jelasnya mari kita panggil saja mereka. Tadi saya sudah membuat perjanjian dengan satu dari mereka yang benar-benar pelakunya untuk menjelaskan kepada pak Umar semua kejadian itu. Biar saya suruh panggil sebentar.’

Pak Suprapto minta tolong seorang pegawai tata usaha untuk menjemput Anto dan Iwan di kelas dua C. Tidak lama kemudian keduanya datang di kantor pak Suprapto. Mereka memberi hormat dengan sopan. Penampilan mereka lebih percaya diri sekarang. Tidak pucat seperti waktu diinterogasi sebelumnya.

‘Adrianto! Masih ingat perjanjian kita?’

‘Ya pak. Saya masih ingat.’

‘Baik. Sekarang coba kamu jelaskan.’

‘Ya pak. Pertama saya minta maaf kepada bapak... kepada bapak kepala sekolah yang baru. Saya telah berlaku kurang ajar dengan menjahili motor Vespa bapak. Semua ini kesalahan saya sendiri yang saya lakukan karena… karena kebodohan dan kenakalan saya…. Dan sekali lagi saya minta maaf.’

‘Apa alasan kamu menjahili motor itu?’ tanya pak Umar.

‘Alasan yang tidak pantas pak. Alasan yang sebenarnya… karena saya usil. Karena saya nakal.’

‘Kamu tahu bahwa itu Vespa kepunyaan saya?’ tanya pak Umar lagi.

‘Tahu pak. Tapi saya tadi tidak tahu siapa bapak.’

‘Tadi saya melihat kamu berdua di belakang pada waktu jam pelajaran. Waktu itukah kalian melakukan aksi itu?’

‘Bukan pak. Saya melakukannya sebelum upacara tadi pagi pak. Dan yang melakukannya saya sendiri. Waktu bapak Suprapto menyebutkan bahwa bapak adalah pengganti beliau, saya mulai ketakutan. Setelah masuk kelas saya minta izin keluar. Saya mengajak Iwan menemani saya untuk mencari pentil ban Vespa yang saya buang ke got.’

‘Oo.. jadi begitu ceritanya. Maaf ya, saya hanya sekedar ingin tahu. Apa pekerjaan orang tua kamu?’ tanya pak Umar.

‘Itu dia pak Umar. Menurut dia orang tuanya punya masalah keluarga. Ibunya sedang sakit keras. Ayahnya sering terlibat pertengkaran dengan ibunya. Benar begitu, Adrianto?’ pak kepala sekolah menjelaskan.

‘Ya, pak. Ibu saya sedang sakit. Beliau menghabiskan waktunya di tempat tidur. Ayah jarang pulang. Kalaupun pulang hanya marah-marah kepada ibu saya.’

‘Bagaimana dengan keadaan Vespa itu sekarang? Kan tadi saya suruh kalian memompa ban itu kembali. Sudah kalian lakukan?’ tanya pak Suprapto.

‘Sudah pak.’

‘Bagaimana dengan kata-kata yang kamu semprotkan di Vespa itu? Apakah bisa hilang?’ tambahnya lagi.

‘Sudah saya hapus dengan lap menggunakan bensin pak. Sudah hilang tulisannya. Tapi masih kotor. Maaf, pak. Saya akan mengecat ulang Vespa itu kalau bapak izinkan.’

‘Tidak usah. Karena kalau dicat ulang saya tidak bisa menggunakannya untuk beberapa hari. Biarkan saja,’ jawab pak Umar.

‘Jadi begini pak Umar. Tadi saya katakan bahwa keputusan hukumannya saya serahkan kepada pak Umar. Apa mau diskors, atau mau dikeluarkan dari sekolah ini, atau diberi hukuman lain. Tadi saya juga mau memanggil orang tuanya datang ke sekolah agar mereka tahu kelakuan anaknya. Tapi anak ini memohon dengan sangat agar orang tuanya jangan diberi tahu karena dia khawatir akan menambah penyakit ibunya. Jadi sekarang, saya serahkan kepada pak Umar. Bukankah begitu tadi perjanjian kita, Adrianto?’

‘Benar pak.’

‘Maaf, sakit apa orang tua kamu?’ tanya pak Umar.

‘Kanker, pak.’

‘Tidak dirawat di rumah sakit?’

‘Dulu dirawat di rumah sakit sehabis dioperasi pak. Tapi sekarang di rumah saja.’

‘Apakah kamu sadar dengan kekeliruan kamu hari ini?’

‘Sadar pak.’

‘Baik, kalau begitu. Kamu saya maafkan. Mungkin mereka bisa kembali belajar ke kelas, pak?!’ tanya pak Umar kepada pak Suprapto.

‘Ada satu lagi sebelumnya pak Umar. Mereka….. bukan… terutama Adrianto harus diberi surat peringatan terakhir. Artinya kalau masih berbuat aneh-aneh lagi sesudah ini langsung dikeluarkan dari sekolah ini,’ pak Suprapto mengingatkan.

‘Ya..ya.. Ini perlu agar kamu berhati-hati di waktu yang akan datang. Agar kamu tidak nakal lagi.’

‘Nanti kita buatkan surat peringatan itu. Sekarang kalian boleh kembali ke kelas.’

‘Terima kasih pak. Sekali lagi saya minta maaf kepada bapak.’

‘Ya.. sudah. Kamu sudah saya maafkan,’ jawab pak Umar ringkas.

Kedua anak itu kembali ke kelas mereka. Anto senang bukan main. Bukan karena dia tidak dihukum. Dia senang karena dia mampu berlaku sportif. Dia telah mengaku bersalah. Dan dia telah minta maaf. Dan tentu saja dia sangat senang karena pak Umar itu baik sekali. Tidak terlihat kalau beliau itu berbasa basi memaafkannya. Tidak terlihat bahwa beliau memaafkan karena sebagai pendatang baru di sekolah ini misalnya. Anto menangkap bahwa pak Umar itu memaafkannya secara tulus. Di dalam lubuk hatinya, Anto berjanji sungguh-sungguh akan berubah. Dia ingin insaf. Dia ingin berubah menjadi anak yang baik. Pada dasarnya Anto memang anak yang baik.


*****

SANG AMANAH (8)

(8)


Di ruangan guru-guru para guru asyik ngerumpi. Ibu Purwati yang baru datang, karena akan mengajar sesudah jam istirahat pertama, menanyakan kepada ibu Sofni tentang pengganti kepala sekolah yang diceritakan pak kepsek minggu lalu. Ibu Purwati adalah wakil kepala sekolah sekarang. Dia sebenarnya sudah berharap-harap untuk naik pangkat menjadi kepala sekolah pula. Meski menurut kebiasaan kalau seorang wakil kepala naik pangkat jadi kepala sekolah harus pindah ke sekolah lain. Bahkan sebelum ini sudah cukup gencar issue bahwa yang akan menggantikan pak Suprapto adalah dirinya. Dia sudah ‘melatih’ diri untuk menduduki ruangan ber AC di sebelah itu. Tapi tiba-tiba saja seminggu yang lalu pak Suprapto mengatakan bahwa calon penggantinya akan datang seminggu lagi. Itu artinya hari ini. Dengan sedikit harapan jawabannya nanti adalah ‘tidak’ atau ‘belum ada’ ibu Purwati bertanya.

‘Apa benar calon boss sudah datang?’ ibu Purwati mengawali diskusi.

‘Betul. Tadi sudah di kenalkan pak Suprapto kepada kita semua serta kepada murid-murid saat upacara,’ jawab ibu Sofni.

‘Sekarang lagi kemana? Apa masih di dalam?’ tanya ibu Purwati lagi.

‘Kelihatannya sepi-sepi saja di dalam. Saya juga tidak tahu dia sedang kemana.’

‘Iya ya, kayaknya di dalam nggak ada orang deh,’ ibu Sarah menambahkan.

Tiba-tiba pak Mursyid datang. Guru olah raga pencetus ‘teori duel untuk mencegah tawuran’ ini langsung membuka cerita.

‘Wah, belum apa-apa sudah di kerjain anak-anak bapak kepala sekolah kita itu.’

‘Dikerjain bagaimana maksudnya? Oleh siapa?’ tanya ibu Purwati.

‘Oleh murid kelas dua C. Vespanya dijahilin. Ditulisi pakai cat semprot dan bannya dikempesin. Pelakunya Adrianto ditemani Iwan Tirta murid kelas dua C.’

‘Vespanya? Calon kepala sekolah naik Vespa?’ ibu Purwanti mengerutkan keningnya.

‘Iya. Memangnya kenapa? Sudah lumayan naik Vespa. Masih banyak lho kita yang masih naik angkot.’

‘Lho, pak Mursyid kok langsung ‘spanning’? Berarti dia masih belum kepala sekolah sebelum ini. Orangnya sudah berumur berapa sih kira-kira?’

‘Kok mesti ‘berarti’? Apa kalau kepala sekolah sudah pasti mampu punya mobil, begitu? Dia sih masih muda. Mungkin sekitar empat puluh tahunan. Dan sebelum ini memang dia wakil kepala sekolah di SMU 267.’

‘Yang mana ya, orangnya? Padahal saya banyak kenal lho guru-guru SMU 267. Ibu Sofni berarti sudah kenal sebelumnya?’ selidik ibu Purwati.

‘Ya, saya dulu sama-sama mengajar di sana. Di SMU 267.’

‘Sekarang sih masih pakai Vespa. Tapi sebentar lagi jadi orang penting. Pasti bakalan meningkat, lihat aja….’ ibu Purwati meramal.

‘Ya kita lihat saja. Tapi kalau dugaan saya sih belum tentu. Setahu saya orangnya lempeng banget. Tapi ya..…nggak tau juga sih. Siapa tahu kalau sudah jadi penjabat bisa berubah.’

‘Terus, sekarang dia lagi kemana, pak Mursyid?’

‘Ya, itulah. Tadi boss sama calon pengganti kan rapat. Mulai serah terima, begitu. Tau-tau ada telepon dari luar. Rupanya dari istri pak Umar itu. Dan tau nggak apa beritanya?’

‘Berita apa memangnya?’

‘Anaknya dapat musibah, kecelakaan lalu lintas dan dibawa ke rumah sakit. Jadi tadi dia buru-buru ke rumah sakit mau melihat anaknya itu. Pergi ke belakang, ke tempat parkir motor. Eh, nggak taunya motornya tidak bisa dipakai.’

‘Vespanya, maksudnya?’

‘Iya, Vespanya.’

‘Terus?’

‘Di belakang, dia lihat kedua anak-anak itu sedang mencari-cari sesuatu. Pak Umar menanyai, sedang ngapain mereka. Kedua anak itu gugup. Sama pak Umar disuruh masuk kelas. Karena ketakutan, karena memang bersalah, tadinya mereka mau kabur. Di depan ketangkap sama kepala sekolah.’

‘Detil sekali informasinya, pak Mursyid tahu dari mana tuh?’

‘Kan anak-anak itu diinterogasi. Ditanyain di ruang kepala sekolah. Saya diminta pak Prapto membantu mengusut mereka. Tadinya waktu tertangkap sama pak Prapto, karena keduanya pucat dan menggigil, dikirain kasus narko. Saya diminta menggeledah keduanya dan diminta memanggil teman-teman mereka yang duduk berdekatan di kelas. Ada empat orang lagi. Kita geledah di ruangan sebelah. Ya nggak ketemu apa-apa. Akhirnya Adriantonya bercerita panjang.’

‘Terus pak Umarnya naik apa ke rumah sakit?’

‘Naik ojek motor.’

‘Nah terus, pak Umarnya belum kembali?’ tanya ibu Sofni.

‘Kayaknya belum tuh.’

‘Bagaimana keadaan anaknya? Ada beritanya nggak?’

‘Saya kurang begitu jelas. Kalau nggak salah ditabrak motor pas baru sampai di sekolahnya. Kepalanya luka dan dibawa ke rumah sakit untuk dijahit.’

‘Iiih..ada-ada saja ya?! Ngeri, kalau sudah urusan berdarah-darah begitu. Kayaknya pertanda buruk juga tuh. Hari pertama berkenalan di SMU 369 sudah dirundung macam-macam persoalan.’

‘Yang anehnya kok anak-anak kita sebegitu nekad dan jahilnya sih? Ngerjain Vespa calon kepala sekolah?’ tanya ibu Sofni tidak habis pikir.

‘Menurut Adrianto lagi, tadi pagi mereka mau nonton duel. Sudah ada nih calonnya. Sudah hampir jadi. Kebetulan pak Umar ini liwat. Tentu saja dia kaget, kok pagi-pagi anak-anak seperti mau berantem. Nah, sama pak Umar dihardik. Duelnya batal… nggak jadi. Dan anak-anak itu kan belum tau siapa pak Umar. Tapi mereka sempat lihat waktu dia datang pakai Vespa. Mereka kira mungkin tamu biasa saja. Karena keki, dikerjain deh tuh Vespa. Nah terus, waktu upacara tadi, sama pak Prapto kan dikenalkan… bahwa itu adalah calon penggantinya. Kedua anak tadi… dasar anak-anak orkay… berani jahil tapi nyalinya ciut… lha jadi ketakutan. Sedang jam pelajaran pertama permisi keluar mau nyari kembali pentil ban Vespa yang tadi sudah dibuang. Nah, waktu itu kelihatan sama pak Umar. Tambah ketakutan. Rencananya mau kabur, di depan ketangkap sama kepala sekolah, jadi makin senewen.’

‘Jadi pak Umarnya nggak marah kalau Vespanya diusilin sampai nggak bisa dia pakai? Atau dia nggak tahu kalau anak-anak itu yang ngerjain?’

‘Kayaknya dia belum tahu apa yang terjadi. Waktu Anto dan temannya di belakang mereka tidak sedang melakukan apa-apa. Jadi dia nggak bisa menuduh dan memang dia tidak menuduh siapa-siapa. Mungkin karena sedang mikirin anaknya yang sedang di rumah sakit, pak Umar itu sedikitpun tidak mempermasalahkan Vespa yang tidak bisa dipakai saat itu.’

‘Terus, dia pergi naik ojek?’

‘Iya. Emang kenapa? Menteri aja naik ojek kalau udah kepepet waktu, ya nggak?’

‘Iya juga sih. Tapi saya masih penasaran, yang mana ya orangnya?’

‘Lha, nggak usah penasaran. Paling sebentar lagi juga datang.’

Dan tiba-tiba pak Umar muncul. Wajahnya biasa-biasa saja menunjukkan tidak ada hal yang terlalu mengkhawatirkan. Ibu Sofni menanyakan apa yang terjadi dan bagaimana keadaan anak pak Umar. Dia menceritakan secara ringkas peristiwa yang menimpa Amir. Pak Mursyid memperkenalkan pak Umar kepada ibu Purwati, ibu wakil kepala sekolah, dan mereka terlibat dalam omongan basa-basi sebentar. Kelihatan sekali sambutan perkenalan ibu Purwati tidak hangat dan sepertinya ada rasa ‘iri’ yang terlihat dari raut wajah ibu wakil kepala sekolah ini. Guru-guru itu terlibat dalam bincang-bincang sampai lonceng masuk kelas dibunyikan. Pak Umar menanyakan dimana pak Suprapto berada kepada guru-guru itu, karena dia tidak ada di ruangannya. Tapi tidak ada yang tahu. Waktu semua guru-guru itu pergi mengajar ke kelasnya masing-masing, pak Umar tinggal sendirian menunggu di ruangan guru itu.

Ruangan ini cukup luas, sedikit lebih besar dari ukuran ruangan kelas. Dindingnya dicat putih bersih. Ada beberapa gambar berupa foto pemandangan alam Indonesia digantung di dinding sebelah depan. Di bagian belakang terdapat jendela-jendela lebar berteralis besi. Di belakang jendela itu, kira-kira satu setengah meter terlihat tembok pagar sekolah. Udara bersirkulasi dengan baik di ruangan ini. Di langit-langit ada dua buah kipas angin yang berputar pelan-pelan. Meja-meja tulis diatur mengelilingi ruangan sebanyak 24 buah dengan posisi enam-enam. Di bagian tengah ada 14 buah meja lagi. Artinya meja itu mewakili setiap guru yang 38 orang. Di atas setiap meja-meja itu ada yang terdapat kotak surat masuk dan surat keluar atau tumpukan buku atau barang-barang kecil lain. Ada juga yang dihiasi dengan vas bunga berisi bunga segar. Tentu meja dengan vas ini menunjukkan bahwa pemiliknya adalah ibu guru. Dengan pengaturan seperti itu ruangan itu masih terkesan cukup lapang. Di sebelah kanan ruangan ada lemari besar yang terdiri dari rak-rak tertutup seperti ‘locker’. Rak-rak itu rupanya kepunyaan masing-masing guru dan ditandai dengan nama-nama setiap guru. Di atas lemari atau ‘locker’ itu diletakkan beberapa buah vandel dari sekolah di kota lain, mungkin yang pernah datang berkunjung ke sekolah ini. Ada pula beberapa buah piala. Di samping rak ada dua tempat air mineral ‘Aqua’ dan di sampingnya ada dua buah botol ‘Aqua’ gallon yang masih berisi penuh. Di sebelah kiri ruangan ada papan board putih besar. Penuh tulisan-tulisan yang umumnya berisi pesan dari guru yang satu kepada yang lain. Di antaranya terbaca sebuah pesan;

‘Pak Sofyan tolong hubungi saya sore ini di rumah sekitar jam 7 malam. Situmorang, 13/9.’

Tentu setiap guru harus rajin melihat ke papan pesan-pesan itu setiap hari.

Guru-guru menggunakan ruangan ini sebagai kantor. Biasanya pada saat menunggu waktu mengajar dan yang paling ramai pada waktu jam istirahat. Hampir tidak pernah semua guru hadir bersamaan di sini.

Tiba-tiba pak Suprapto muncul dan mendapatkan pak Umar sendirian.

Wednesday, October 8, 2008

SANG AMANAH (7)

(7)


Pak Umar diantar tukang ojek sampai ke samping ruang Gawat Darurat rumah sakit Harmoni. Dari jauh dia sudah melihat istrinya. Dia merasa senang setelah melihat ibu Fatimah dalam keadaan tenang-tenang saja. Ibu Fatimah yang juga melihat kedatangan pak Umar datang menyambut. Dia merasa heran melihat suaminya datang dibonceng sepeda motor.

‘Bagaimana keadaan Amir?’ tanya pak Umar.

‘Kepalanya luka bang, karena terbentur tembok trotoir dan sudah dijahit. Kata dokter perlu empat jahitan. Tadi dia merasa pusing-pusing, sehingga dokter menyuruh tunggu. Tapi sekarang sudah tidak pusing lagi dan kata dokter boleh segera pulang. Saya sengaja menunggu abang.’

‘Baiklah kalau begitu, biar abang urus masalah administrasinya dengan petugas rumah sakit ini.’

‘Maksud abang biayanya?’

‘Ya. Tentu saja. Dan sekalian abang ingin menanyakan bagaimana pendapat dokter tentang keadaan sebenarnya. Apakah luka di kepalanya itu tidak akan membahayakan?’

‘Biayanya sudah dibayarkan oleh bapak Sugiman ini bang. Beliau ini pengendara motor yang kecelakaan itu. Yang lainnya dapat abang tanyakan ke dokter yang merawatnya tadi. Dokter Susilo. Dia masih ada di ruangan dokter di sebelah.’ kata ibu Fatimah menjelaskan.

Tak lupa ibu Fatimah memperkenalkan pak Sugiman. Pak Sugiman menyalami pak Umar.

‘Saya mohon maaf pak. Karena kesalahan saya dek Amir celaka. Saya tadi terburu-buru karena ada keperluan, sehingga terjadi kecelakaan itu.’ kata pak Sugiman.

‘Ya, itu namanya takdir Allah. Pak Sugiman sendiri tidak apa-apa?’

‘Saya hanya luka lecet di tangan dan di lutut.’

‘Bagaimana dengan motornya? Rusak?’

‘Tidak pak. Hanya stangnya saja yang terpelintir. Jadi tidak apa-apa.’

‘Bapak ini bekerja dimana?’ tanya pak Umar lagi.

‘Saya pedagang di pasar Sumber Arta. Tadi saya ingin mendatangi ada orang yang mau menjual sepeda motor yang saya ketahui setelah membaca iklannya. Makanya saya terburu-buru. Begitulah asal terjadinya musibah tadi itu.’

‘Ya, itu namanya sudah takdir Allah. Lebih baik kita bersabar.’

‘Sekali lagi saya mohon maaf. Karena saya yang bersalah saya ingin bertanggung jawab atas kesalahan saya. Biaya dokter dan perawatan rumah sakit sudah saya bayar. Mudah-mudahan Amir cepat sembuh lukanya.’

‘Mungkin bukan semata-mata kesalahan pak Sugiman. Mungkin anak saya juga lalai, tidak melihat-lihat dulu sebelum menyeberang. Sebenarnya kalau akan memberatkan pak Sugiman, saya tidak keberatan menanggung biaya perawatan anak saya ini.’

‘Tidak pak. Saya ikhlas dan saya tidak merasa berat. Ini tanggung jawab saya atas kekeliruan saya. Hanya itu yang dapat saya bantu. Amir tentu lebih dirugikan lagi karena dia terpaksa tidak bersekolah. Jadi harap bapak terima keikhlasan saya ini.’

‘Kalau begitu baiklah. Saya berterima kasih kepada pak Sugiman.’

‘Satu hal lagi. Bolehkah saya tahu alamat bapak? Insya Allah saya akan menyempatkan melihat kemajuan keadaan Amir nanti dalam sehari dua ini.’

‘Terima kasih. Alamat saya di perumahan Perumnas Jatiwangi Pondok Gede, nomor D3. Silahkan bapak catat.’

‘Baiklah pak, kalau begitu saya mohon diri.’ Pak Sugiman menyalami pak Umar, memberi hormat kepada ibu Fatimah dan menyalami Amir sebelum berlalu meninggalkan rumah sakit.

Pak Umar menemui dokter yang merawat dan menjahit luka Amir untuk menanyakan keadaan Amir dengan luka di kepala itu. Dokter itu menjelaskan bahwa tidak ada yang mengkhawatirkan. Darah luka itu banyak karena di kepala dan hal itu yang menyebabkan Amir merasa pusing. Dokter menyarankan agar Amir beristirahat dulu di rumah barang dua hari. Kalau tidak merasa pusing-pusing selama dua hari itu boleh pergi bersekolah lagi. Dokter juga mengingatkan agar obat yang diberikannya diminum sampai habis.

Dengan menumpang taksi pak Umar, ibu Fatimah dan Amir meninggalkan Rumah sakit Harmoni. Ibu baru sadar bahwa pak Umar tidak mengendarai Vespanya datang ke rumah sakit.

‘Kok abang tidak naik Vespa dari sekolah tadi? Dimana Vespanya bang?’

‘Vespanya di sekolah. Abang tinggal karena bannya kempes.’

‘Siapa yang tadi mengantar abang itu?’

‘Sepeda motor ojek. Abang naik ojek.’

‘Abang balik lagi ke sekolah sehabis ini kan? Kenapa tidak langsung saja kita mengantar abang dulu. Biar saya berdua dengan Amir pulang.’

‘Biarlah abang antar kalian pulang. Setelah itu baru abang balik ke sekolah.’

Amir yang sudah merasa lebih baik bertanya kepada ayah.

‘Bagaimana keadaan sekolah itu ayah? Apakah ayah sudah diperkenalkan kepala sekolahnya kepada guru-guru dan murid-murid di sana?’

‘Sudah. Ayah sedang berbincang-bincang dengan pak Suprapto waktu ibumu menelepon tadi. Sebelum itu ayah diperkenalkan pak Suprapto kepada guru-guru dan semua murid waktu upacara. Jadi sementara ini umumnya baik-baik saja.’

‘Bagaimana murid-muridnya ayah? Betulkah anak-anak orang kaya semua? Betulkah pada membawa mobil pribadi ke sekolah?’

‘Ya ada saja. Di SMU 267 juga ada yang bermobil. Kalau mereka memang anak orang berpunya ya biarkan saja.’

‘Belum ketahuan ada yang nakal ayah?’

‘Sudah ada. Nantilah ayah ceritakan. Kamu sudah tidak pusing?’

‘Tidak ayah. Rasanya saya ingin kembali ke sekolah.’

‘Dengan bajumu penuh noda darah seperti ini?’

‘Amir! Bukankah dokter menyuruhmu beristirahat dulu dua hari ini. Jadi tidak usah memikirkan sekolah dulu!’ ibu mengingatkan.

‘Ya. Ibu benar. Kamu banyak kehilangan darah karena lukamu. Jadi kita ikuti saja saran dokter tadi. Lusa baru kamu kembali sekolah. Tentu abangmu Faisal tidak lupa memintakan izin bagimu.’

‘Baiklah ayah.‘

Setelah sampai di rumah dan melihat keadaan Amir yang tidak mengkhawatirkan sama sekali, pak Umar berangkat kembali ke sekolah.

*****


Jam sepuluh tepat adalah jam istirahat pertama. Murid-murid SMU 369 keluar untuk beristirahat dan bergerombol-gerombol di luar kelas. Ada yang pergi ke kantin sekolah. Di sana sedang beredar cerita tentang peristiwa Vespa pak calon kepala sekolah yang dijahili Anto, tentang Anto ketahuan pak kepala sekolah, tentang razia mendadak atas empat orang anak kelas dua C. Anto dan Iwan yang biasanya pelanggan kantin itu saat ini tidak kelihatan untuk dimintai konfirmasi cerita. Mungkin keduanya sengaja menghindar. Di tengah hiruk pikuk suasana kantin beberapa anak terlibat tanya jawab.

‘Jul! Lo lihat Anto nggak?’ Armen menanyai Julianto.

‘Nggak tuh. Gue denger dia ketangkap sama Jenderal.’

‘Emang ngapain lagi sih tu anak?’

‘Tadi pagi dia ngejahilan Vespanya pak kepala sekolah yang baru itu.’

‘Oh ya?! Terus?’

‘Ya gue nggak tahu. Gue nggak tau gimana ketangkapnya. Tadi abis upacara gue lihat dia masuk kelas biasa-biasa aja. Barusan gue diceritain Herman kalau dia juga tadi dipanggil ke kantor kepsek, sampai ditelanjangi segala?’

‘Hah?! Yang bener lo. Kok jadi ngacok gitu sih?’

‘Kalau menurut Herman, si Jenderal tuh kelihatannya curiga urusan ngeboat. Mereka berenam tadi digeledah, ditelanjangin.’

‘Herman ngapain emang?’

‘Ya itu dia. Mr. Mursyid datang ke dua C nangkapin yang diduga dekat ama Anto dan Iwan. Mangkanya Herman kejaring. Sama Bambang, sama siapa lagi nggak tau. Mangkanya barusan mereka ngamuk-ngamuk marah-marah gue lihat.’

‘Nggak ngerti gue. Kok urusan ngejahilin Vespa jadi dicurigai ngeboat sih? Apa hubungannya?’

‘Mendingan lo tungguin aja mereka deh. Ntar lo tanyain aja langsung.’

Tina dan Ames yang baru datang langsung nyerobot nanya.

‘Eh, ada kasus apa tuh anak-anak dua C?’ sergap Tina.

‘Mana gue tahu? Lo tanyain aja ke sono langsung!’ jawab Julianto.

‘Gue serius nih. Bukannya lo barusan ngobrolin mereka?’ tanya Ames.

‘Siapa yang ngobrolin mereka? Lo aja yang sok teu.’

‘Gue serius nih. Ada cerita apa sih? Katanya ada yang diduga ngeboat ya?’

‘Ah, lo. Dasar cewek biang gossip. Nanya pakek mancing.’

‘Bener, ya?! Urusan ngeboat?’

‘Gue nggak tau. Gimana sih lo.’

‘Terus kalian barusan ngobrolin apa? Gue denger ujungnya pakai kata-kata ‘ngeboat’. Iya, kan?!’

‘Eh, lo ngerti nggak siih?! Gue bilang gue nggak tau?’

‘Ah sialan. Emang dasar lo payah. Yok Mes, kita cari info!’

Kedua gadis kenes itu berlalu dari kantin.

Di depan kelas dua C masih ramai. Herman masih marah-marah sama Anto yang dikiranya sengaja melibat-libatkan dia dalam urusan yang nggak jelas. Anto tentu saja tidak merasa telah melibatkan Herman dan yang lain-lain. Hal itu adalah atas inisiatif Mr. Mursyid untuk mencomot mereka yang dikenal dekat dengan dirinya.

‘Bukan gue yang nyuruh nyomot lo, ngapain juga gue ngelibatin yang laen-laen. Lo tanya aja Iwan. Masak lo nggak percaya ama gue sih?’ kata Anto menjelaskan.

‘Ya apa urusannya? Kok jadinya gue ikut-ikutan dicurigain? Ditelanjangin? Gila nggak tuh?! Urusannya aja gue nggak ngerti. Siapa yang nyuruh gue dibawa-bawa? Tahu dimana tuh Mr. Mursyid nyomotin kita-kita. Sekarang gue tanya lo. Urusannya sebenarnya apa sih?’

‘Ya urusan Vespa itu! Gue kan udah bilang. Urusan Vespa yang gue semprotin cat dan gue kempesin itu. Gue nggak tau kalau orang itu calon kepsek. Pas tadi dibilangin kalau dia itu calon kepsek, gue ngeper. Gue nyesal. Gue ajak Iwan nyari lagi tuh pentil yang gue buang. Eh nggak taunya, dia pas lagi ke belakang. Ya, kita kena. Ketangkap.’

‘Terus?’

‘Cuman dia nggak tau kalau kita yang ngempesan motornya. Dia cuman nanya kita lagi ngapain. Gue bilang aja, ada perlu. Terus kita disuruh masuk kelas. Gue bener-bener udah ngeper. Tadinya gue mau ngabur. Mau cabut aja. Pas mau keluar, nggak taunya Jenderal lagi di gerbang depan. Ya, kita ketangkep. Tampang gue pasti pucat banget. Dan gue gemeteran. Mungkin gue dikirain lagi sakau. Si Jenderal tuh, pake ngedeketin hidungnya ke mulut gue segala. Nah begitu ceritanya. Kagak ada yang gue libat-libatin. Ngapain juga gue mau ngejahilin lo.’

‘Emang gitu Wan? Emang bener gitu itu ceritanya?’ Herman bertanya kepada Iwan untuk konfirmasi.

‘Iya, bener. Gue lebih parah lagi dari lo. Gue juga nggak ngapa-ngapain, cuman nemenin dia di tempat parkiran motor doang jadi habis-habisan kena getahnya.’

‘Ah dasar sialan memang. Hampir aja rasanya gue mau ngajak dia duel gara-gara urusan begini. Gue bener-bener mpet, tau nggak lo.’

‘Lo ajak duel juga nggak apa-apa. Kan duel tadi pagi batal.’

‘Lo jangan manas-manasin Wan! Ini aja ogut udah terancam nih. Entar kalau kejadian macam-macam lagi, benar-benar dihabisin deh gue. Jadi lo tolong jangan macem-macem deh. Man! Gue minta maaf, meski sebenarnya bukan gue yang membuat lo susah, tapi lo kena gara-gara urusan gue. Jadi gue minta maaf. OK?!’

‘Apanya yang OK?!’

‘Lo mau maafin gue nggak? Mau dong, tolong!’

‘Ya udah, gue maafin lo sekali ini.’

Anak-anak itu bergerak menuju kantin sekolah. Tapi tiba-tiba datang Tina dan Ames pemburu berita.

‘Hai, To.’ Ames menyapa sok ramah.

‘Hai juga.’

‘Gue denger ada peristiwa dengan lo?’

‘Kalau lo udah dengar, berarti iya ngkali.’

‘Peristiwa apa sih?’

‘Lha. Katanya lo udah denger. Harusnya gue dong yang nanya ke lo.’

‘Jangan gitu dong. Gue kan fans lo. Ceritain dong!’

‘Kalau gitu lo jangan nanya sekarang deh. Masih belum jelas urusannya.’

‘Masih belum jelas gimana maksud lo?’

‘Ya belum jelas, masih dalam proses. Daripada entar mengacaukan suasana sidang, mendingan lo gue ceritain nanti aja, kalau semuanya udah beres.’

‘Lo ngomong apaan sih? Bikin bingung aja. Urusannya apa?’

‘Ya itu dia. Entar aja gue ceritain. Waktu udah mau abis nih.’

‘Pelit amat sih lo. Sialan.’

*****

Tuesday, October 7, 2008

SANG AMANAH (6)

(6)

Kedua anak itu pergi keluar, ke tempat parkir sepeda motor. Anto merasa agak plong sesudah dia memberi keterangan yang sebenarnya tentang apa yang terjadi. Dia sudah tidak gemetaran seperti tadi lagi sekarang. Dan dia akan pasrah dengan hukuman apapun yang akan dijatuhkan bapak-bapak guru itu. Dia mengaku salah.

‘Apes bener gue hari ini.. ‘ kata Anto waktu mereka keluar dari ruangan kepala sekolah.

‘Ya…. Dan gue yang lebih apes lagi. Gue ketiban pulung gara-gara lo.’

‘Jadi lo protes? Atau mau ikut menghukum gue? Biar puas?’

‘Nggak juga. Cuman gue pikir sudah waktunya kita berubah. Sudah waktunya kita nggak ugal-ugalan lagi.’

‘Aah. Sok alim lo. Mau insaf? Bagus itu berarti. Ini benar-benar karena kita lagi apes aja, tau?! Ngapain juga kita pake nyari-nyari pentil yang udah di buang itu. Coba kalau kita nggak ke sana, nggak bakalan kita ketangkap basah sama calon kepala sekolah itu.’

‘Kita sebenarnya kan nggak ketangkap basah. Bapak itu juga kagak tau kita lagi ngapain di sana. Cuman lo aja yang udah ketakutan.’

‘Gimana nggak ketakutan?! Berada di tempat parkir pas jam pelajaran jelas aja mengundang kecurigaan. Makanya gue pikir itu kesalahan kita. Ngapain juga kita kembali ke sana. Lo mau aja lagi ikut.’

’Lah, kan elo yang ngajak gue nyariin pentil itu. Kan elo yang keburu ngeper begitu tahu itu Vespa nya kepala sekolah yang baru.’

‘Ya itulah. Benar-benar ditelanjangin kita hari ini. Lain kali kayaknya harus lebih perhitungan kalau mau jahil.’

‘Oo..jadi lo belon kapok? Masih mau nantang lagi? Ada rencana baru yang lebih dahsyat lagi?’

‘Nggak juga sih. Sementara emang gue kapok kayak nya. Biar ‘cooling’ dulu lah.’

‘Terus?’

‘Terus nanti kita pikir-pikir lagi.’

‘Kalau begitu gini aja deh. Gue bukan sok nggak mau bertemen ama lo sih. Tapi gue pikir gue harus menentukan sikap. Karena kasus ban Vespa ini adalah hasil karya lo murni, biar gue pamit sekarang aja deh. Gue mau masuk kelas sekarang. Silahkan lo benahin hasil karya lo ini sendiri. Mulai hari ini gue nggak mau ikut-ikutan lagi urusan yang aneh-aneh kayak gini.’

‘Jadi lo mau ninggalin gue? Tega amat lo. Cuman segitu aja persahabatan?’

‘Ya. Cuman segitu aja. Tapi ini bukan persahabatan. Selama ini gue selalu ikut-ikutan lo. Gue selalu jadi pengikut lo. Buntutnya, lo semakin PD berbuat yang aneh-aneh. Jadi gue pikir mendingan gue istirahat dulu ‘ngefans’ ke lo.’

‘Wan, gue minta tolong deh. Lo bantuin gue ngurusin ban Vespa itu. Habis itu terserah lo. Kalau lo tega mau musuhin gue… ya terserah.’

‘Gue nggak ada niat buat ngemusuhin lo, tau nggak. Tapi gue juga nggak mau lo semakin gila karena selama ini gue selalu jadi pengagum lo. Akibatnya lo semakin pamer dengan keanehan-keanehan. Iya kan? OK, gue bantuin lo urusan kali ini.’

‘Kita harus nyari kunci ban Vespa dimana nih?’

‘Ngapain lo nyari kunci ban? Mau lo copot bannya? Bannya kan nggak apa-apa. Kita cari aja pentil baru ama pompa. Beres kan?’

‘Iya juga. Encer juga otak lo. Kalau gitu kita keluar aja sebentar ke tukang ban.’

‘Nggak, bukan kita. Lo aja yang pergi. Gue tungguin lo di sini. Pompa sebenarnya ada di mobil gue, tapi harus disambungin ke korek apinya mobil. Nanti Vespa ini kita dorong aja ke tempat parkir mobil.’

‘OK. Biar gue pergi sendiri deh. Tapi bagaimana kita mau mendorong ke parkiran mobil? Kan Vespa ini terkunci stangnya.’

‘Lo cari dulu tuh pentil! Soal pompa biar gue yang nyari. Ntar bisa kita pinjam ke pak Dadang, Tata Usaha itu. Gue pernah lihat dia mompa ban sepeda.’

‘Iya deh. Gue pergi sekarang.’

‘Ya sudah. Lo pergi sana.’

Anto bergegas pergi membeli pentil ke tukang ban dekat Kali Malang. Di pintu gerbang dia bilang ke petugas Satpam bahwa dia disuruh pak kepala sekolah. Petugas Satpam yang melihat Anto bersama pak Suprapto sebelumnya mengijinkannya keluar. Anto menanyakan ke tukang ban itu bagaimana cara menghilangkan bekas cat semprot. Tukang ban itu menyuruh coba menggunakan lap dengan bensin, meskipun katanya mungkin tidak akan bersih benar. Anto membeli satu liter bensin yang ditaruh di botol plastik bekas Aqua dan sepotong kain lap. Dia cepat-cepat kembali ke sekolah.

Iwan mendapatkan pompa ban sepeda yang dipinjamnya dari pak Dadang. Kedua anak itu memasangkan pentil baru dan memompa ban Vespa. Sebentar kemudian kedua ban Vespa itu sudah sempurna kembali. Anto mencoba melap bekas cat semprot dengan bensin dan kain lap. Meskipun tidak bersih benar tapi bekas cat itu sudah tidak terbaca lagi. Kedua anak itu tidak sadar bahwa sejak tadi mereka diawasi oleh pak Mursyid dari jauh. Waktu pekerjaan itu selesai pak Mursyid datang mendekat dan menyuruh mereka untuk segera pergi melapor kembali kepada pak Suprapto di ruangannya. Keduanya menuju ke kantor kepala sekolah.

‘Baik. Sekarang kalian boleh masuk kelas. Tapi nanti kalau pak Umar datang saya akan memanggil kalian kembali ke sini. Kamu ingat Anto, pak Umar yang akan memutuskan hukuman untuk kamu atas kelakuan tidak senonohmu hari ini. Kamu mengerti?’

‘Ya pak, saya mengerti.’

‘OK! Sekarang kalian pergi masuk kelas.’



*****

2. Hari Perkenalan (2)

Jam enam lebih tigapuluh lima menit Faisal dan Amir sudah sampai di depan sekolah mereka, SMP 501. Sekolah itu masih sepi. Seperti biasanya mereka termasuk yang paling awal datang di sekolah. Amir ingat bahwa dia harus membeli buku tulis baru. Dia memberi tahu Faisal bahwa dia akan membeli buku itu di kedai di seberang jalan. Faisal membiarkan Amir menyeberang sendiri dan segera memasuki pekarangan sekolah. Begitu turun dari angkot, Amir tergesa-gesa mau menyeberang dan tidak sempat melihat ke kiri dan kanan jalan. Tanpa disadarinya tiba-tiba saja sebuah sepeda motor datang dari arah berlawanan dengan kecepatan tinggi. Pengendara sepeda motor itu tidak menduga ada orang yang akan menyeberang dari belakang angkot yang sedang menurunkan penumpang itu. Meski dia berusaha menghindari tubrukan dengan membelokkan stang sepeda motornya, tidak urung dirinya dan bagian samping motor menghantam tubuh Amir. Amir terpelanting ke belakang dan terhempas ke sisi jalan membentur pinggiran trotoir. Pengendara sepeda motor juga terpelanting menindih tubuh Amir, sedang sepeda motor menghantam tubuh pengendaranya. Kepala Amir luka di dekat telinga kiri karena berbenturan dengan trotoir yang temboknya pecah. Darah mengalir banyak sekali. Faisal yang tengah berdiri di depan kelasnya mendengarkan bunyi rem sepeda motor diikuti hantaman keras dan bunyi benda berat jatuh, berlari ke arah sumber suara untuk mengetahui apa yang terjadi. Dia tidak menyangka bahwa yang ditabrak sepeda motor itu adalah adiknya Amir. Begitu melihat Amir terkapar berlumuran darah, Faisal meloncat sambil berteriak, ‘Ya Allaah….’ Faisal mengangkat tubuh Amir. Amir merintih kesakitan tapi untunglah dia masih bisa mengangkat badannya untuk berdiri. Dia merasa pusing karena benturan di kepalanya. Faisal menutupi kepala Amir yang berdarah itu dengan sapu tangan untuk menahan kucuran darah. Sementara orang-orang disekitar itu sudah berdatangan pula untuk menolong. Pemilik kedai di seberang jalan memberikan obat luka untuk diteteskan di luka itu. Melihat luka yang cukup besar, orang itu menyuruh agar Amir dibawa ke rumah sakit karena luka itu memerlukan jahitan. Sebuah angkot distop dan diminta mengantarkan korban tabrakan itu ke Rumah sakit Harmoni. Faisal yang menemani. Pengendara motor itu ikut pula mengantarkan setelah dia menitipkan sepeda motornya di SMP 501. Si pengendara sepeda motor itu minta maaf kepada Amir dan Faisal. Dia mengatakan bahwa dia akan mengurus pengobatan Amir. Sesampai di rumah sakit mereka langsung menuju ke tempat perawatan Gawat Darurat. Dokter jaga menjahit luka Amir dengan empat jahitan di kepalanya dan sesudah itu dia menyarankan agar Amir beristirahat sebentar di rumah sakit untuk diobservasi, khawatir kalau dia masih pusing.

Sementara Amir mendapatkan perawatan, Faisal teringat untuk memberi tahu ibunya. Dihubunginya ibunya dari telepon umum di rumah sakit itu. Ibu Fatimah sangat terkejut mendengar berita itu dan bergegas pergi menyusul ke rumah sakit. Didapatinya Amir sudah diperban kepalanya dan masih beristirahat di bangsal Gawat Darurat itu. Faisal menjelaskan secara ringkas bagaimana terjadinya kecelakaan itu. Pengendara motor yang menabrak Amir itu, yang bernama pak Sugiman sekali lagi minta maaf kepada ibu Fatimah atas kecelakaan itu dan mengulangi pernyataannya untuk membayar ongkos perawatan Amir. Ibu Fatimah menyadari bahwa kejadian itu semata-mata takdir dari Yang Maha Kuasa dan dia tidak menyalahkan siapa-siapa. Setelah dia mendapat penjelasan dari dokter jaga bahwa keadaan Amir tidak perlu dicemaskan dan dia boleh segera pulang kalau sudah tidak merasa pusing, ibu Fatimah merasa tenang dan bersyukur. Baru dia ingat untuk memberi tahu suaminya. Dia harus menanyakan nomor telepon SMU 369 terlebih dahulu ke Pelayanan Umum Telkom sebelum dapat menghubungi sekolah itu. Meskipun kondisi Amir sudah lebih baik dan dia tidak merasa pusing lagi, ibu menyuruh tunggu sampai ayah datang sebelum mereka bersama-sama pulang. Sementara itu Faisal minta izin untuk kembali ke sekolah.


*****