Wednesday, October 15, 2008

SANG AMANAH (20)

(20)

Bel istirahat pertama berbunyi. Anak-anak keluar bergerombol-gerombol dari kelas mereka. Anto, Iwan dan Herman keluar kelas bersamaan, tapi Anto bilang kalau dia ada perlu lagi dengan pak Umar.

‘Sok sibuk gitu gaya lo. Kok bisa jadi lengket gitu sih lo sama ‘new’ kepsek itu?’

‘Emangnya perangko, lengket. Gue lagi wajib lapor nih. Udah lo-lo tungguin aja di kantin. Entar gue nyusul.’

‘Kayak tahanan politik aja lo. Kira-kira urusan apa lagi sih?’

‘Ya, mana gue tau. Apa lo mau nemenin ke sana?’

‘Kurang kerjaan amat. Pergi aja sendiri!’

Dan Anto berjalan cepat-cepat ke ruangan guru. Menghadap pak Umar yang sudah menunggunya. Pak Umar yang sedang berbicara dengan ibu Sofni, mamanggilnya.

‘Sini Adrianto. Sebenarnya bapak sudah dapat berita dari pak Suprapto. Tadinya memang ada yang ingin bapak tanyakan. Sekarang pertanyaan singkat saja. Apakah kamu bercerita kepada ayahmu tentang kejadian yang kamu alami di sekolah kemarin?’

‘Iya pak, ‘ jawabnya pendek.

‘Dan kamu mengatakan bahwa kemarin pak Suprapto ingin memanggil orang tuamu ke sekolah tapi kamu larang?’

‘Iya pak,’ jawabnya lagi.

‘Dan ayah kamu tidak marah kepadamu?’

‘Tidak pak.’

‘Ibu kamu juga tidak marah? Tidak cemas?’

‘Tidak, pak.’

‘Ya. Tadi ayah kamu bercerita ke pak Suprapto dan beliau bercerita kepada saya. Termasuk tentang masalah di rumah yang kamu katakan kemarin. Suasana di rumah kamu sudah membaik sekarang?’

‘Benar pak, sudah.’

‘Syukurlah kalau begitu. Baiklah, hanya itu saja kok yang ingin bapak ketahui. Kamu boleh pergi beristirahat kembali.’

‘Baik pak… terima kasih, pak.’

Anto kembali keluar, ke kantin menemui ‘his’ gang.


*****


Hari sudah jam dua belas tepat. Pak Umar keluar menuju mesjid sekolah. Arif sudah lebih dahulu sampai di sana. Hanya dia sendiri saja. Apakah dia memang keluar lebih awal dari kawan-kawannya sementara guru masih di kelas? Pak Umar bergumam dalam hati. Sesudah mengambil wudhu pak Umar masuk ke mesjid dan menghidupkan pengeras suara yang terdapat di dalam mesjid itu melalui miknya. Rupanya alat itu tidak disambungkan ke aliran listrik. Arif menyolokkannya kemudian menghidupkannya pada panel pengontrol dan pengeras suara itu berdengung. Pak Umar mengetuk-ngetuk memeriksa apakah alat itu berfungsi dengan baik. Ternyata berfungsi. Dan pak Umar azan. Ya, dia sendiri azan dengan bacaan pendek-pendek saja. Suara itu bergema ke seantero sekolah. Pak Mursyid orang yang paling kaget mendengar suara azan itu, karena dia pernah melarang azan dikumandangkan di mesjid sekolah dengan alasan sekolah ini bukan pesantren. Pak Mursyid datang tergopoh-gopoh melihat dari pintu mesjid sekedar ingin membuktikan bahwa yang azan itu adalah pak Umar. Sudah barang tentu memang dia. Pak Mursyid berbalik, tidak berani menghentikan seperti yang pernah dilakukannya kepada seorang murid dulu sekali. Tapi dia menggerutu.

Bahana azan itu mencengangkan. Sebentar saja berdatangan murid-murid, pak Dadang serta pegawai Tata Usaha lainnya, pak Simin, pak Tugiman. Bahkan pak Darmawan, pak Sofyan dan beberapa guru lain. Semua terpaksa antri mengambil air wudhu. Dan Anto, meski diplototi oleh Herman dan Iwan yang saking herannya, datang ke mesjid.

Pak Umar melakukan shalat sunat terlebih dahulu. Begitu juga Arif. Mengikut pula beberapa murid lain di belakang. Lalu sesudah itu Arif iqamat. Dan mereka shalat berjamaah diimami pak Umar. Tiga shaf laki-laki dan satu shaf perempuan.

Sesudah salam, disambung zikir dengan khusyuk dan hening. Dan shalat sunat lagi. Sementara murid-murid lain yang baru masuk, yang tadi tidak sempat ikut berjamaah membuat pula jamaah kecil. Satu orang jadi imam dan yang lain mengikuti jadi makmum. Ternyata mereka bisa menegakkan jamaah pula. Ternyata shalat berjamaah bisa dilakukan di mesjid ini. Hanya saja selama ini seperti dimatikan. Seolah-olah ada yang menghalangi. Padahal mesjid itu ada di sana. Padahal mesjid sekolah itu dulu dibangun dengan biaya mahal. Biaya yang dimintakan sebagai sumbangan dari para wali murid. Sebagai waqaf, sebagai infaq, sebagai sadaqah. Dan setelah jadi mesjid itu diresmikan dengan mengundang wakil wali murid. Dengan upacara yang cukup seronok. Dengan ‘slamatan’. Dengan pembacaan qalam Ilahi berikut sari tilawahnya. Lalu ada pula ceramah agama oleh seorang ustad kondang. Tapi kemudian sia-sia. Jarang dimanfaatkan dan hanya sekedar jadi hiasan pemantas saja.

Dan ini harus dirubah. Tidak sulit merubahnya asal ada kemauan. Hari ini pak Umar sudah membuktikan. Hari ini pak Umar membuktikan bahwa baik guru-guru maupun murid-murid bersedia diajak shalat berjamaah. Dan dia akan menegakkan shalat berjamaah dengan teratur di mesjid sekolah ini, mulai hari ini. Pak Umar mengetahui bahwa pasti ada yang tidak berkenan dengan apa yang dilakukannya. Seperti halnya yang diceritakan oleh murid yang kemarin jadi imam shalat . Tapi itu bukan hal yang perlu dikhawatirkan. Pak Umar akan menjelaskan kepada siapa saja yang berkeberatan, bagaimana pentingnya arti shalat. Bagaimana pentingnya menjalankan perintah agama.


*****

Pak Mursyid masih memperlihatkan bahwa dia tidak senang dengan ‘aksi’ azan pak Umar barusan. Dia masih menggerutu. Dan ada cukup banyak pula di antara guru-guru yang menyokong ketidak senangan pak Mursyid.

‘Emangnya ini pesantren? Kalau mau shalat ya shalat aja. Kenapa mesti ada azan segala sih. Ini kan sekolah umum, bukan pesantren. Wah kacau deh kalau begini.’

‘Kalau azan memangnya kenapa sih pak Mursyid?’ tanya ibu Sarah.

‘Ya nggak umum aja. Ini kan sekolah umum. Ini kan bukan madrasah Aliyah? Di madrasah aja belum tentu pakai azan segala.’

‘Dan yang lebih nggak enaknya, bapak calon kepala sekolah kita ini, masih belum serah terima jabatan sudah merubah-rubah kebijaksanaan,’ kata ibu Purwati.

‘Maaf, kalau saya kok tidak melihat itu sebagai unjuk kekuasaan. Mungkin pak Umar itu tidak tahu kalau di sini ‘tidak boleh azan’ lalu dia, yang kabarnya seorang pengurus mesjid mengambil inisiatif untuk azan. Kalau pak Mursyid tidak suka mungkin bisa dijelaskan saja dan minta supaya besok dia tidak azan atau menyuruh azan lagi,’ kata ibu Sarah lagi.

‘Saya pasti akan menyampaikannya nanti pada waktunya. Saya rasa ini berlebih-lebihan. Kalau diteruskan lama-lama kita harus ganti nama sekolah ini dari SMU menjadi MAU, madrasah aliyah umum,’ kata pak Mursyid.

‘Yang kurang berkenan itu yang mana pak Mursyid? Azannya, orangnya, perubahannya? Atau apa?’ ibu Sofni ikutan.

‘Begini bu ya. Seandainya ini pesantren kita berlakukan cara-cara pesantren. Tapi mengingat ini sekolah umum ya kita berlakukan cara-cara sekolah umum. Tidak semua murid di sini Islam. Tidak semua guru di sini Islam. Ini, pak Situmorang dia orang Kristen. Kan nggak enak sama dia. Jangan tanya apakah dia keberatan atau tidak karena nanti malah jadi nggak lucu. Di sini ada pak Wayan dia orang Hindu, sama lagi juga,’ pak Mursyid tambah bersemangat.

Pak Sofyan yang baru kembali dari shalat berjamaah, yang mendengar ujung pembicaran tapi dapat menduga apa yang sedang jadi bahan diskusi, bertanya setengah memancing;

‘Ada apa pak Mursyid?’

‘Ya itu tadi. Urusan azan di sekolah. Saya bilang ini kan sekolah umum. Ya mbok kita berlakukan peraturan yang sifatnya umum, begitu lho. Saya tahu, kalau pak Sofyan tentu tidak keberatan dengan suara azan. Tapi saya bilang kan tidak semua yang ada di sini orang Islam,’ lanjut pak Mursyid.

‘Saya pikir kalau azan saja kan tidak berlebih-lebihan. Orang namanya panggilan untuk melakukan shalat. Saya tadi begitu mendengar suara azan merasa terpanggil dan saya langsung datang untuk shalat. Saya tidak menilainya lebih dari itu. Saya rasa juga pak Umar itu bukan bermaksud yang aneh-aneh. Itu kalau pendapat saya. Karena saya memang berkepentingan, saya Islam.’

‘Tadi nama saya juga disebut-sebut. Saya kebetulan tinggal dekat mesjid. Bagi saya kalau soal azan itu tidak terasa mengganggu nya itu. Itu kalau pendapat saya pribadi,’ kata pak Situmorang.

‘Wah, jangan-jangan dalam rangka mengambil hati calon boss nih,’ celetuk ibu Purwati.

‘Tak usah pulak berprasangka. Kan sudah lamanya ibuk Purwati mengenal saya. Apa selama ini ada kebiasaan saya mengambil-ambil hati orang? Bagi saya, apa yang terasa saya keluarkan. Sebenarnya tidak enak juga saya ikut-ikut. Tapi berhubung karena tadi pak Mursyid menyebut-nyebut nama saya, menyangkut-nyangkutkan dengan keyakinan saya, saya merasa perlu membuat penjelasan. Dari segi agama saya tidak adanya larangan bagi orang lain menjalankan agamanya pula. Jadi saya tidak merasa keberatan apa-apa.’

‘Sudahlah, tidak perlu kita panjangi lagi. Pada suatu kesempatan resmi saya akan menyatakan keberatan saya secara resmi pula.’

‘Kalau pak Mursyid mau, mungkin nanti waktu rapat bisa disinggung sedikit. Kan nanti pak Umar ikut juga rapat bersama-sama kita,’ kata ibu Purwati.

‘Ya, kita lihat saja. Tapi mungkin pada kesempatan nanti itu tidak tepat karena yang kita bahas masalah lain.’

‘Tapi ngomong-ngomong barusan banyak yang ikut shalat nggak, pak Sofyan?’ tanya ibu Sofni mengalihkan pembicaraan.

‘Banyak, ada empat shaf saya lihat. Tiga shaf laki-laki satu shaf perempuan.’

‘Jadi kayaknya memang ada sambutan dari banyak orang dong. Murid-murid sampai guru-guru,’ kata ibu Sofni lagi.

‘Saya rasa begitu. Bagi saya seperti yang saya katakan, karena saya dengar azan lalu saya datang. Saya rasa murid-murid maupun yang lain datang secara spontan saja. Termasuk pegawai Tata Usaha.’

‘Guru-guru lain selain pak Sofyan, siapa yang ikut shalat?’

‘Ada siapa tadi tu? Ada pak Darmawan, ada pak Hardjono. Ibu-ibu juga ada saya lihat. Kalau tidak salah ibu Lastri,’ jawab pak Sofyan.

‘Kenapa? Ibu Sofni mau ikutan besok?’ tanya pak Mursyid.

‘Saya rasa iya. Saya rasa besok saya akan ikut shalat berjamaah di mesjid itu,’ jawab ibu Sofni.
*****

SANG AMANAH (19)

(19)

‘Kamu mau mengantarkannya pulang sekarang?’ tanya pak Umar.

‘Tidak, pak. Ayah saya akan menjemputnya ke sini,’ jawab Anto.

‘Jam berapa ayah kamu ke sini?’

‘Mungkin sekarang sudah ada di depan pak. Di tempat parkir. Tadi katanya ayah saya mau menunggu di sana.’

‘Baiklah kalau begitu. Adrianto! Nanti kamu temui lagi bapak waktu istirahat pertama ya? Ada lagi yang ingin bapak tanyakan.’

‘Barangkali mengenai ayah saya pak? Karena saya sebelumnya mengatakan ayah saya….’

‘Ya. Nanti saja kamu ceritakan. Pergi kamu antarkan tumbuhan itu ke ayah kamu sekarang.’

‘Baik, pak. Terima kasih, pak,’ jawab Anto.

Pak Umar kembali ke ruangan guru. Terlihat pak Suprapto sedang berbicara dengan seorang bapak-bapak. Rupanya pak Suryanto, ayah Anto. Pak Umar mengucapkan salam kepada mereka berdua yang menyambut dengan salam pula.

‘Maaf pagi-pagi sudah mengganggu nih, pak,’ kata pak Suryanto.

‘Tidak juga pak. Bagaimana kabarnya, pak?’ tanya pak Umar ke pak Suryanto.

‘Baik-baik pak. Istri saya antusias benar mau mencoba obat-obat seperti yang bapak ceritakan kemarin. Dan dari kemarin dia sudah melakukan terapi jus itu. Dia ingin sekali mencoba juga tumbuhan yang bapak sebutkan kemarin. Makanya saya sengaja datang menjemputnya.’

‘Barusan sudah kami ambilkan. Barusan dibawa Adrianto. Katanya bapak menunggunya di tempat parkir,’ kata pak Umar.

‘Iya. Saya barusan melihat pak Suryanto. Saya ajak masuk. Lebih baik kita ke ruangan saya saja, pak. Mungkin masih ada yang mau dibincangkan. Mungkin pak Suryanto ingin tahu seberapa banyak umbi itu dimakan,’ kata pak Suprapto sambil mempersilahkan masuk ke kantornya.

‘Maaf, apakah saya tidak mengganggu?’

‘Tentu tidak pak. Silahkan.’

Bapak-bapak itu masuk ke ruangan kerja pak Suprapto. Anto datang sesudah itu, mencari-cari papi. Pak Mursyid memberi tahukan bahwa papi ada di dalam bersama kepala sekolah.

‘Apa yang kamu bawa, Adrianto?’ tanya pak Mursyid.

‘Tanaman untuk obat pak. Untuk obat ibu saya.’

‘Dapat dari mana?’

‘Dari kebun sekolah pak, saya minta ke pak Simin.’

‘Resep obat dari siapa itu?’

‘Dari pak Umar, pak. Dari bapak kepala sekolah yang baru itu.’

‘Oh..ya. Pak Umar juga ada di dalam. Kamu mau masuk ke sana? Coba kamu ketok saja pintunya.’

‘Iya, pak. Terima kasih pak.’

Anto, mengetuk pintu kantor pak Suprapto yang mempersilahkannya masuk. Anto masuk sesudah memberi salam, ‘selamat pagi pak’. Dia minta izin untuk menyerahkan bungkusan plastik hitam itu kepada papi dan papi menerimanya serta melihat isinya. Anto minta izin untuk kembali keluar

‘Itu dia umbinya, pak. Tumbuh seolah membelah diri menjadi semakin besar. Nanti dicuci dulu bersih-bersih. Tidak usah sekaligus semua, tapi yang mau dipakai saja. Sisanya kalau ditarok di tanah, insya Allah akan hidup terus dan tumbuh. Kalau mau menanam bisa juga diambil umbi yang ada tunasnya. Kalau dibiarkan sesudah dicuci, tidak ditanamkan, airnya cepat habis menguap. Sesudah dicuci nanti terlihat kulitnya seperti kulit jahe, kekuning-kuningan. Kupas kulitnya itu maka akan kelihatan daging umbi berwarna putih seperti bengkoang. Umbinya itu boleh dimakan mentah. Kira-kira sebesar ibu jari. Selama seminggu ini suruh ibu memakannya dua kali pagi dan sore,’ pak Umar mengulangi penjelasannya.

‘Akan kami coba, pak,’ kata pak Suryanto.

‘Ada hal lain yang ingin saya tanyakan, kalau bapak tidak berkeberatan,’ lanjutnya.

‘Silahkan, pak. Kalau saya bisa membantu, akan saya bantu insya Allah,’ jawab pak Umar.

‘Sebenarnya saya malu menanyakan. Tapi karena saya benar-benar awam, saya harap bapak memakluminya. Begini, pak. Bagaimana caranya kalau istri saya ingin mengerjakan sembahyang sementara dia tidak kuat ke kamar mandi untuk berwudhu?’

‘Kan, boleh bertayamum, pak. Bapak tahu caranya bertayamum?’

‘Jujur saja, saya tidak tahu. Cuma seingat saya bertayamum itu dengan tanah kalau tidak ada air. Sementara di rumah kan ada air, pak.’

‘Benar, tapi ibu kan sedang sakit, sedang dalam keadaan tidak sehat. Boleh bertayamum. Caranya bertayamum dengan menggunakan debu tanah. Telapak tangan ditempelkan ke debu itu, setelah itu tangan di tepukkan seperti ini, lalu di usapkan ke muka, satu kali saja. Sesudah itu ditempelkan ke debu sekali lagi, ditepukkan lagi, lalu telapak tangan kiri disapukan mulai dari pergelangan tangan ketelapak tangan kanan terus ke punggung tangan kanan sampai ke pergelangan tangan dan seterusnya seperti itu pula oleh tangan kanan ke tangan kiri. Setelah itu selesai, ‘ pak Umar menjelaskan sambil memberi contoh.

‘Sesudah itu sudah boleh melakukan shalat, pak?’ tanya papi.

‘Iya, boleh. Kekuatannya sama seperti wudhu. Bahkan orang yang dalam keadaan junub, jika dia tidak dapat menggunakan air, entah karena air tidak ada atau karena dia sedang sakit, cukup bertayamum dan boleh shalat.’

‘Tidak perlu mandi maksudnya pak?’

‘Tidak mandi, karena ada halangan tadi itu.’

‘Tanahnya, apakah ada ketentuan tanah seperti apa, pak?’

‘Tanah yang suci, tidak kena najis. Tapi yang diperlukan itu sebenarnya debunya. Seandainya kita yakin di belakang kursi ini ada debu, maka itu sudah cukup memadai. Tapi kalau mau mengambil tanah juga tidak apa-apa, asal yang bersih atau suci.’

‘Terima kasih banyak pak. Akan saya sampaikan kepada istri saya. Tadi pagi dia menyatakan keinginannya untuk mengerjakan shalat, dan berdoa. Saya tidak tahu jawabannya. Terima kasih banyak sekali lagi, pak. Juga kepada bapak Suprapto, terima kasih banyak. Saya mohon diri dulu pak.’

‘Baik pak. Salam buat ibu,’ kata pak Suprapto.

‘Terima kasih pak,’ jawab pak Suryanto.


*****


‘Pak Umar, hari ini guru-guru akan mengadakan rapat. Rencananya mereka akan mengadakan acara perpisahan dengan saya. Tentu saja sekaligus menyambut kedatangan pak Umar di sekolah ini. Mereka sudah membentuk panitia yang ketuanya adalah ibu Purwati. Kalau pak Umar bersedia sebaiknya kita ikut hadir untuk mendengarkan.’

‘Saya bersedia saja pak. Tapi apakah mereka nanti tidak terganggu oleh kehadiran saya?’

‘Mudah-mudahan tidak. Saya sudah menanyakan ke ibu Purwati sebagai ketua panitia, dia malahan mengharapkan kehadiran kita untuk memberi masukan pada acara yang akan dilaksanakan hari Sabtu minggu depan itu.’

‘Kalau begitu baik, pak. Jam berapa rapatnya?’

‘Sesudah jam sekolah, berarti sesudah jam dua nanti siang.’

‘Ya baik, pak. Kira-kira acaranya apa saja nanti pak?’

‘Yang saya dengar akan ada panggung terbuka. Dengan melibatkan anak-anak. Jadi akan ada pertunjukan dan nyanyian-nyanyian oleh murid-murid kita. Mereka ada yang pemain band, meski bukan berlatih di sekolah. Ada juga pemain gitar seperti Adrianto. Anak itu sangat berbakat bermain gitar. Pak Hardjono guru olah raga yang satunya berbakat jadi sutradara. Sering dia mengerahkan anak-anak untuk membuat pertunjukan drama yang lumayan bagus.’

‘Bagus sekali kalau begitu pak. ‘

‘Ya, biasanya sih begitu. Hanya ada acara yang mungkin pak Umar tidak suka.’

‘Maksud bapak?’

‘Acara penutup. Biasanya disertai joged. Bagaimana menurut pak Umar?’

‘Kalau bapak menanyakan pendapat saya pribadi, maka jawaban saya adalah saya tidak menyukainya. Jadi, kalau memang ada acara itu, pada waktu itu mungkin saya akan lebih dahulu pamit. Tapi acaranya sendiri apakah siang atau malam hari, pak?’

‘Itu termasuk yang akan mereka bahas dalam rapat. Kembali lagi, kenapa dengan acara joged itu pak Umar? Apakah dilarang agama?’

‘Bukan karena dilarang agama saja pak. Saya khawatir itu merupakan awal dari rusaknya moral atau akhlak. Siapa saja yang berjoged? Tentu guru-guru juga ikut. Seandainya iya, menurut hemat saya, kita telah memberikan contoh tidak pantas kepada anak didik. Maaf ini pendapat saya lho, pak.’

‘Ya..ya.. saya mengerti. Biarlah nanti kita bahas bersama-sama. Meskipun saya agak khawatir guru-guru lain akan keberatan seandainya acara itu ditiadakan.’

‘Baik, pak. Kita lihat nanti saja.’

‘Tapi ngomong-ngomong, apa pak Umar sudah menemukan jawaban teka-teki Adrianto kemarin?’

‘Belum, pak. Tapi saya menyuruhnya untuk menemui saya jam istirahat pertama nanti. Maksud saya waktu itu akan saya tanyakan.’

‘Rasanya saya sudah mendapatkan jawabannya.’

‘Maksud bapak?’

‘Tadi pas saya datang, saya lihat ayahnya Adrianto itu di tempat parkir. Saya datangi dan saya ajak masuk ke sini. Kami berbincang-bincang selama melangkah dari tempat parkir. Dia menanyakan apa betul Adrianto mengganggu Vespa pak Umar kemarin? Saya balik bertanya apakah Adrianto bercerita di rumah. Dia bilang iya. Lalu saya ceritakan sepintas apa yang terjadi kemarin. Bahwa saya mau menghubungi orang tua Adrianto dan Adrianto melarangnya karena ibunya sakit. Saya bilang bahwa saya akan menghubungi ayahnya, dan dia juga melarangnya dan mengatakan bahwa ayah dan ibunya sedang ada masalah. Pada waktu itu pak Suryanto itu mengakui, benar bahwa sebelumnya dia sedang bermasalah dengan istrinya. Bahwa kemarin, entah kenapa tiba-tiba dia ingin menemui istrinya untuk menanyakan sesuatu hal, tapi berbalik malah jadi minta maaf kepada istrinya. Kemarin, hanya satu jam sebelum kita datang. Dia bahkan mengatakan bahwa dia juga minta maaf pada anaknya.’

‘Dramatis juga ceritanya, pak. Kalau begitu tidak ada yang ditutup-tutupi oleh anak itu. Saya, seperti saya katakan kemarin, percaya bahwa Adrianto itu tidak berbohong.’

‘Ya, rupanya memang begitu.’

‘Mungkin nanti kalau dia datang akan saya tanya kembali. Sekadar untuk ‘cross check’. Saya percaya anak itu cenderung jadi anak yang baik.’

‘Saya sependapat dengan pak Umar.’

‘Mungkin ada lagi yang ingin bapak sampaikan, pak?’

‘Oh, ya bagaimana dengan jadwal menggantikan pak Waluyo kemarin? Apakah sudah pak Umar periksa?’

‘Tidak ada masalah pak. Saya mengajar di SMU 267 hari Rabu dan Jumat. Keduanya pada jam pertama. Sementara di sini hari Rabu jam terakhir dan hari Kamis pagi.’

‘Bagus sekali kalau begitu. Jam sepuluh nanti saya harus ke kantor Debdikbud. Silahkan pak Umar menggunakan ruangan ini.’

‘Terima kasih pak. Sebenarnya saya juga tidak apa-apa di ruang sebelah.’

Pak Umar minta izin untuk mengunjungi pegawai-pegawai lain yang belum sempat ditemuinya kemarin. Dia pergi pula mengunjungi kantin sekolah, mengamati kebersihan dan kerapihan kantin itu. Di sana dia menemui pak Simin dan pak Tugiman dan berbicang-bincang dengan mereka. Setelah itu dia mengajak pak Simin untuk mengamati kebun sekolah kembali untuk menginventarisir tanaman yang ada di sana. Pak Umar akan meminta dibuatkan katalog khasiat dari setiap tanaman itu nanti kepada guru biologi.


*****

Tuesday, October 14, 2008

SANG AMANAH (18)

(18)

Mami mengangguk. Mami mengusap mukanya yang ditetesi air mata. Anto mengeluarkan sapu tangan dari kantongnya dan memberikan kepada mami. Mami tersenyum, bahagia.

‘Anto sarapan dulu, mi. Mami mau sarapan sekarang?’

‘Bilang ke mbak Sari, bikinkan mami jus apple saja pagi ini. Tidak usah susu. Mami mau berhenti dulu minum susu.’

‘Baik, mi. Papi mau sarapan sekarang?’

‘Ya. Biar papi temanin kamu sarapan,’ jawab papi.

Papi sarapan berdua Anto sambil melanjutkan obrolan.

‘To, coba kamu tanya guru agama di sekolah! Seingat papi untuk shalat bisa juga bertayamum. Tapi papi lupa caranya.’

‘Bertayamum itu kan kalau tidak ada air, pi.’

‘Iya..ya. Tapi coba kamu tanya juga deh! Untuk kasus seperti mami apakah boleh tayamum.’

‘Baik, pi. Nanti Anto tanya.’

Anto pamit ke mami sebelum berangkat.

‘Mi, Anto berangkat ya? Apa mami mau Anto antar tanaman dari sekolah itu pagi ini?’

‘Nggak usah. Anto bawa nanti aja pas pulang sekolah,’ jawab mami.

‘Atau biar papi jemput ke sekolah. Kamu masuk jam tujuh kan? Kamu berangkat duluan aja. Papi mandi sebentar nanti papi susul,’ kata papi pula.

‘Kalau gitu papi tungguin aja nanti di tempat parkir sekolah.’

‘Baik,’ jawab papi.

Jam enam tepat Anto berangkat ke sekolah. Lebih awal dari biasa. Dia ingin cepat-cepat mencari pak Simin penjaga kebun sekolah, mau minta daun dan umbi untuk obat itu. Tapi daun apa ya namanya? Berarti dia harus menemui pak Umar untuk menanyakan nama tumbuh-tumbuhan itu.

Sampai di sekolah Anto langsung mencari pak Simin tukang kebun itu dan menanyakan kalau dia boleh minta tanaman di kebun sekolah. Pak Simin keheranan mendengar permintaan seperti itu pagi-pagi begini.

‘Tanaman nyang mana, mas Anto?’ tanya pak Simin.

‘Waduh, saya lupa namanya. Tapi ada di kebun itu Mister Simin..eh.. pak Simin.’

‘Ada apa sih mas Anto ini? Kok tumben jadi sopan banget? Kok tumben pagi-pagi mau minta tanaman? Buat praktikum biologi yak? Buat tugas yak?’

‘Bukan… buat obat,’ kata Anto.

‘Hah… kagak salah nih? Buat obat apa? Ada nyang mimisan?’

‘Ah.. Pak Simin kok banyak bener sih pertanyaannya. Lagian mimisan itu apa?’

‘Syet dah….. Dan mas Anto tumben bener nih, manggil saya ‘pak’. Saya malahan jadi kagok jadinya. Biasanya main ‘mister’ mulu. Mimisan tu hidung bedarah. Apa ada nyang hidungnya bedarah?’

‘Oh enggak. Bukan buat hidung berdarah. Bukan buat yang abis berantem. Buat obat beneran.’

‘Ya… ayok kita lihat kesono. Yang mana dia maunya.’

Pak Simin mengajak Anto melihat ke kebun mini dan sekali lagi menanyakan tumbuhan mana yang dia maksud.

‘Bakal obat apa mas Anto, yak?’

‘Bakal obat kanker.’

‘Siapa nyang kanker?’

‘Adalah pokoknya. Pak Simin tau nggak yang mana yang bisa dipakai untuk obat kanker?’

‘Orang saya cuman ngurus doang. Kagak tahu yang namanya bakal obat kanker. Tapi lagi ntu ada nyang minta itu noh. Katanya bakal obat kanker juga. Noh, kunir putih noh, nyang ono.’

‘Itu ada umbinya?’

‘Ya bukan umbi. Pigimana sih? Kayak kunir nyang bakal bumbu dapur. Cuman nyang ini warnanya putih. Apa nyang ntu ngkali, yak?’

‘Rasanya bukan, deh. Pokoknya ada umbinya.’

‘Lha, yang mau minta situ, kagak tau namanya. Pigimana sih?’

‘Saya lupa. Atau gini aja. Saya tanya dulu ke orangnya. Pak Simin tungguin bentar di sini ya?’

‘Pegi, sanah. Emang mau ditanya ke siapa, yak?’

‘Ke pak kepala sekolah yang baru.’

‘Ya elah. Urusannya jadi kagak jelas begitu. Sampe ke kepala sekolah segala. Syet..dah. Ya udah, saya tungguin di sini,’ kata pak Simin sambil masuk ke kebun mini itu.

Anto kembali ke depan, mau mencari pak Umar. Apa jam segini dia sudah datang? Anto menuju ke ruang guru. Di sana ada pak Mursyid sedang berbicara dengan ibu Lastri. Anto memberi salam, selamat pagi. Anto menanyakan kalau pak Umar sudah datang. Pak Mursyid bilang sudah datang dan barusan jalan ke arah kelas. Anto mengucapkan terima kasih dan kembali keluar. Anto berkeliling mencari pak Umar. Dari jauh dia lihat pak Umar dekat kelasnya, kelas dua C. Jangan-jangan pak Umar juga mencari dia. Jangan-jangan…. Jangan-jangan pak Umar mau menanyakan ketidak cocokan informasinya tentang papi dengan kenyataan kemarin. Ah, biar saja. Dia bisa menjelaskan. Anto berjalan cepat-cepat ke arah pak Umar yang tidak melihat kedatangannya. Pak Umar berbicara sama Jessi, dan Jessi menunjuk ke arahnya. Berarti benar pak Umar mencarinya.

‘Selamat pagi, pak,’ sapa Anto.

‘Selamat pagi, Adrianto. Kamu sudah menemui pak Simin?’

‘Sudah pak. Pak Simin ada di kebun belakang. Tapi saya lupa nama tumbuh-tumbuhan yang bapak katakan kemarin,’ katanya.

‘Mari kita lihat ke belakang,’ ajak pak Umar.

Anto mengiringkan pak Umar menuju kebun sekolah. Murid-murid lain yang sudah pada datang mengamati dengan penuh tanda tanya. Ada apa lagi nih, antara Anto dan ‘new’ kepsek.

‘Assalamu’alaikum,’ pak Umar menyapa.

‘Wa’alaikumsalam.. eh..eh..iya pak… ‘ jawab pak Simin.

‘Sampeyan yang namanya pak Simin?’ tanya pak Umar.

‘Orang kata begitu..pak. Nyang ngurusin kebon.. saya,’ jawab pak Simin, nyengir.

‘Bagus sekali ini tanaman-tanamannya. Dikasih pupuk apa pak Simin?’

‘Dikasi pupuk kandang. Saya boleh ngambil di kampung di sono, belah wetan.’

‘Tapi tidak ada yang memanfaatkannya nih, pak Simin? Tidak pernah di panen?’

‘Ada juga yang menta, ini mah. Orang tempo-tempo ada ibu guru nyang menta bumbu dapur. Menta kunyit, jahe, cabe rawit. Tadi noh, mas Anto barusan mau menta obat, kagak tau namanya.’

‘Kalau nama tumbuh-tumbuhannya pak Simin tau semua nggak nih?’

‘Banyakan nyang tahu tapi ada juga nyang kagak tahu, pak.’

‘Itu, yang di sebelah sana, kenal namanya nggak tuh?’

‘Nyang mana, pak. Nyang nih?’

‘Bukan yang di sebelahnya.’

‘Wah, kagak tau…pak. Orang kata ada nama dewa-dewanya. Saya bilang aja daon dewa.’

‘Iya…. saya juga mendengar namanya ‘tapak dewa’. Tanaman itu yang mau diminta sama Adrianto. ‘

‘Emang bakal obat kanker yak, benar begitu pak?’

‘Insya Allah begitu. Tolong cabutkan pak Simin. Sama umbi-umbinya.’

‘Berapa banyak nih pakenya pak…’

‘Agak dua rumpun… yang itu saja yang paling tua kelihatannya. Hati-hati pak Simin… biasanya umbinya banyak. Diambil sama umbi-umbinya.’

Pak Simin mencabut tanaman itu dan memasukkan ke kantong plastik hitam yang sudah disediakannya tersimpan di sana, menyerahkannya kepada Anto. Anto mengucapkan terima kasih. Pak Umar juga mengucapkan terima kasih. Pak Simin terheran-heran. Dia denger kemarin mas Anto kena setrap gara-gara ngusilin Vespa kepala sekolah yang baru itu. Nah sekarang ke sini menta ‘daon dewa’.

*****

SANG AMANAH (17)

(17)

Panas matahari Jakarta masih terasa menyengat pada jam empat sore itu. Pak Umar menyusuri Jalan Kali Malang dengan Vespa yang melaju di sela-sela kendaraan roda empat yang sudah mulai macet. Seperti pagi hari di waktu semua orang berangkat ke tempat bertugas masing-masing maka pada sore hari ketika semua orang kembali ke rumah, jalan sepanjang Kali Malang yang dijejali banyak sekali kendaraan ini berubah macet. Yang membuat macet umumnya adalah angkot penuh penumpang, beriring-iring menuju Bekasi, membawa karyawan-karyawan, pegawai-pegawai negeri, mahasiswa-mahasiswa, murid-murid sekolah menuju pulang ke rumah masing-masing. Angkot-angkot itu biasa berhenti seenaknya, mengambil jalan sampai ke bahu jalan seenaknya, kadang-kadang berjajar sampai dua buah di jalan seenaknya. Lampu pengatur lalu lintas tidak ada artinya bagi sopir-sopir angkot. Meskipun lampu hijau, kalau mau berhenti mereka berhenti sesukanya, begitu pula meski lampu merah mereka liwati saja. Kalau sudah begitu seringkali terjadi macet total terutama di persimpangan-persimpangan jalan, hal yang ditunggu-tunggu oleh ‘petugas pengatur jalan’ partikulir yang biasa dipanggil polisi cepek. Mereka dapat mengumpulkan kepingan-kepingan uang seratus rupiah atau cepek dari pengendara-pengendara malang yang sudah dikepung macet. Kalau sudah macet total sepeda motorpun sulit untuk maju, terjebak dalam kesemrawutan luar biasa.

Pak Umar sudah sangat terbiasa dengan suasana di jalan seperti ini. Dia sudah terpaksa, sudah terlatih sabar. Dalam pakaian resmi memakai jaket penahan angin, bertopeng sapu tangan untuk menyaring udara kotor penuh polusi, dan kepala ditutupi dengan helm pak Umar menyesuaikan gerak Vespanya dengan suasana jalan. Bagaimanapun berkendaraan roda dua masih lebih lincah untuk keluar dari kebuntuan macet itu dibandingkan dengan kendaraan roda empat. Setelah meliwati puncak kemacetan di pertigaan dekat Pasar Sumber Arta, pak Umar terbebas dari macet dan melaju pulang ke rumahnya. Beberapa menit kemudian dia sudah sampai di rumah. Rumah yang oleh pak Umar dianggap sebagai ‘surga’nya, mengikuti sabda nabi Muhammad SAW. Rumah dimana kedatangannya ditunggu oleh segenap anggota keluarganya, karena di rumah itu dia adalah pemimpin yang sangat disayangi. Karena dia adalah ‘kawan’ untuk berbagi rasa, bertukar cerita oleh istri dan anak-anaknya. Di sana dia adalah imam sekaligus panutan bagi semua.

Pak Umar mendorong Vespanya ke samping rumah, ketempat Vespa itu biasanya diparkir. Dia ucapkan salam dengan utuh, ‘assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh’ yang dijawab oleh semua secara utuh pula mirip paduan suara. Ibu Fatimah segera datang menyongsong kedatangannya, menyambut tas kerjanya dan mengiringi pak Umar masuk rumah.

*****


Rumah keluarga Umar Bakri dulu dibeli melalui kredit BTN. Cicilan kredit selama enam belas tahun baru saja lunas. Rumah itu sederhana tapi sangat terpelihara dengan baik. Seluruh anggota keluarga bertanggung jawab dan bekerja sama dalam menjadikan rumah itu tempat tinggal yang asri menyejukkan. Tidak ada pembantu rumah tangga disitu tapi semua anggota keluarga saling membantu mengurus rumah. Pak Umar ada kalanya mengepel lantai, atau mencuci, atau menyeterika atau bahkan memasak. Yang terakhir ini diawali dari ‘kesukaan’ dan beralih menjadi ‘keahlian’. Pak Umar ahli memasak dan itu diakui istri dan anak-anaknya. Melakukan semua pekerjaan remeh temeh itu dilakukan pak Umar bersungguh-sungguh, dengan maksud untuk memberi contoh dalam arti sangat luas terutama kepada anak-anaknya. Tidak ada diskriminasi dalam pembagian tugas. Tidak ada hak istimewa pada siapapun. Dan semua itu dia awali dari dirinya sendiri.

Pak Umar adalah seorang pendidik sejati. Dia sangat menghargai kedisiplinan. Begitu pula istrinya ibu Fatimah yang dulu juga pernah jadi guru. Pasangan ini selalu saling isi dalam mengurus pendidikan anak-anak di rumah. Keduanya sama-sama taat dalam agama, sama-sama suka mempelajari agama dan saling mengingatkan dalam beramal. Anak-anak mereka diajar dan dididik untuk berdisiplin. Hidup ini adalah sebuah keteraturan, kata pak Umar. Oleh karena itu kita wajib menjaga keteraturan itu. Ada peraturan yang dibuat manusia dan ada peraturan yang ditentukan oleh Yang Maha Pencipta. Peraturan itu dibuat untuk kemashlahatan bersama dan oleh karenanya harus dijaga bersama pula. Tidak ada peraturan di rumah itu yang ditegakkan dengan paksaan tapi dengan terlebih dahulu memberi pengertian dan contoh nyata. Waktu pak Umar dan istrinya menyuruh anak-anak mereka membersihkan kamar masing-masing kedua orang tua itu sudah terlebih dahulu memberi contoh. Waktu orang tuanya menyuruh anak-anak shalat ke mesjid, mereka telah terlebih dahulu melakukan. Mereka mempunyai sebuah televisi berukuran 20 inci untuk ditonton keluarga. Pesawat televisi itu dihidupkan menurut jadwal, antara jam setengah lima sampai setengah enam sore dan antara jam delapan malam sampai jam sembilan malam, itupun kalau ada yang menarik untuk ditonton. Tidak semua tayangan boleh ditonton. Dan anak-anak menerima peraturan itu bahkan semenjak mereka masih kecil. Tayangan yang tidak boleh ditonton berarti tidak boleh dilihat oleh semua. Anak-anak mereka diberitahu sampai mengerti kenapa film-film tertentu tidak boleh atau tidak pantas ditonton.

Pak Umar sangat disegani di lingkungan tempat dia tinggal karena selalu menjadi contoh kepada para tetangga. Dia senang menolong siapa saja tapi tidak suka banyak omong yang tidak perlu. Dia ikut bergotong royong pada saat masyarakat kompleks itu bergotong royong. Dia imam shalat di mesjid kompleks dan aktif sebagai pengurus mesjid. Kalau sedang tidak mengajar dan sedang berada di rumah maka shalatnya selalu di mesjid itu.

*****

Keluarga itu berkumpul di meja makan, minum teh dan makan pisang goreng panas yang baru saja diangkat ibu dari penggorengan. Inilah waktu kebersamaan yang sangat disukai semua anggota keluarga untuk saling bercerita atau bertanya tentang yang dialami hari itu. Amir, alhamdulillah sudah baik. Pulang dari rumah sakit tadi pagi dia disuruh ibu tidur. Sebelumnya ibu membuatkannya segelas susu. Sekarang dia sudah tidak merasa pusing lagi meskipun masih agak pucat.

Ayah bercerita panjang tentang pengalamannya hari itu. Semua mendengarkan dengan penuh perhatian. Kadang-kadang Amir dan Fauziah bertanya hal-hal yang sulit mereka mengerti. Seperti tentang anak-anak yang tega berbuat jahil terhadap orang yang tidak bersalah dan tidak mereka kenal.


*****

4. Hari-hari perubahan

Anto bangun tepat pada waktu azan subuh pagi ini. Seperti mimpi rasanya. Seperti baru sekali ini dia mendengar azan di waktu subuh dari mesjid yang hanya beberapa langkah dari rumahnya. Mesjid tempat dia dan papi menemani pak Umar dan pak Suprapto salat asar kemarin. Anto bangkit dari tempat tidur langsung ke kamar mandi, mengambil air sembahyang. Lalu shalat subuh sendirian. Dan berdoa. Doanya panjang sekali. Semua untuk mami, agar mami sembuh dari penyakitnya. Setelah itu Anto masih duduk merenung di sajadah. Di tikar sembahyang. Semua kejadian hari kemarin seperti di ’rewind’ kembali. Kemarin itu betul-betul hari yang sangat istimewa. Hari yang dimulai dengan kebandelan dan berakhir dengan keindahan. Yang paling indah adalah kembalinya papi ke rumah. Dan papi berbaikan dengan mami. Dan mami yang sangat bahagia, terlihat dari muka mami memerah kembali. Dan harapan mami untuk sembuh. Dan pak Umar yang menceritakan cara pengobatan terapi jus. Dan daun serta umbi…oh ya… daun apa namanya dia sebut kemarin? Yang tumbuh di kebun mini sekolah? Anto akan mengambil tumbuhan itu pagi ini. Karena tadi malam mami beberapa kali mengingatkan. Mami yakin betul, percaya betul dengan apa yang diceritakan pak Umar kemarin.

Dan tadi malam. Waktu dia bercerita tentang apa yang terjadi sesungguhnya kepada papi dan mami. Peristiwa yang akhirnya membawa pak Umar datang berkunjung ke rumah untuk menengok mami sore kemarin. Papi tidak marah. Mami juga tidak. Kenapa mesti marah? Malahan dengan kebandelannya kemarin seolah-olah ada hikmahnya. Kebandelan itu telah jadi penyebab perkenalan papi dan mami dengan pak calon pengganti kepala sekolah. Dan semua terkesan kepada penampilan bersahaja pak calon pengganti kepala sekolah itu. Orang yang baru saja mereka kenal tapi sangat baik. Baru sekali ini ada guru datang menengok mami sakit.

Anto tidak lama-lama merenung. Dia lalu bersiap-siap untuk pergi sekolah. Mandi dan berganti pakaian dan turun ke bawah. Dia ingin melihat mami. Pintu kamar mami masih tertutup. Anto mengetuknya pelan-pelan dan memanggil mami. Terdengar suara mami menyuruh masuk. Anto membuka pintu dan masuk. Dilihatnya papi sedang duduk di tikar sembahyang. Ternyata papi juga shalat. Papi sedang berdoa, mengangkat tangannya. Anto menghampiri mami yang tersenyum kepada Anto dan bertanya;

‘Anto sudah sembahyang?’

Anto mengangguk. Belum pernah ada pertanyaan seperti ini sebelumnya.

‘Anto berdoa untuk mami?’

Anto mengangguk lagi.

‘Jangan lupa meminta daun dan umbi itu nanti di sekolah!’ kata mami.

Anto mengangguk lagi.

‘Kenapa sih kamu ini? Cuman mengangguk-angguk melulu, kok nggak ngomong?’

Anto menunjuk ke arah papi. Maksudnya papi sedang berdoa dan dia tidak ingin mengganggu konsentrasi papi berdoa itu. Anto mencium mami dan mami tersenyum. Muka mami memang lebih merah sedikit dari kemarin-kemarin. Ah, mungkin perasaannya saja.

Akhirnya papi selesai berdoa. Panjang sekali doa papi. Mungkin sama panjang dengan doa Anto tadi. Atau mungkin lebih panjang lagi.

‘Sudah rapi kamu pagi-pagi sekali. Jam berapa berangkat ke sekolah, To?’ tanya papi.

‘Ya entar-entar pi.. Anto belum sarapan. Dan lagian juga masih gelap di luar.’

‘Tumben kamu bangunnya cepat… Tadi Anto shalat?’

‘Iya..pi. Anto terbangun pas lagi azan. Anto sudah shalat dan berdoa untuk mami. Papi juga berdoa untuk mami?’

‘Iya To. Papi minta ampun sama Tuhan. Papi banyak berdosa selama ini. Papi tidak shalat selama ini. Tentu saja papi berdoa untuk mami. Untuk kita semua.’

Mami terisak. Anto kaget melihat mami menangis.

‘Mami kenapa mi?’

‘Nggak. Mami nggak kenapa-kenapa kok?’

‘Kenapa mami nangis?’

‘Mami senang sekali. Mami ingin juga shalat. Mami ingin juga berdoa sesudah shalat. Memohon kepada Tuhan. Tapi mami tidak bisa.’

‘Biar mami sehat dulu, mi. Biar mami sembuh dulu.’

‘Ya.. kita doakan semoga mami berangsur sembuh. Biar bisa bangun dan ke kamar mandi mengambil air wudhu. Biar mami bisa shalat,’ papi menambahkan.

‘Iya.. mi. Mami sabar aja ya.. mi?!’

Monday, October 13, 2008

SANG AMANAH (16)

(16)

‘Sudah berapa hari sejak ibu dioperasi?’

‘Sudah cukup lama, sudah lebih dua bulan, pak..’ jawab mami.

‘Bagaimana keadaan ibu sekarang? Apakah ada kemajuan sejak sesudah dioperasi itu?’

‘Saya jadi sangat lemah, pak. Tidak kuat berdiri lama. Kadang-kadang saya paksakan dan berlatih untuk berdiri tapi jadi pusing dan mual-mual. Jadi terpaksa banyak istirahat di tempat tidur saja.’

‘Bagaimana dengan pengobatannya?’

‘Itulah yang repot pak. Dokter menganjurkan saya dioperasi lagi. Tapi saya trauma. Ditawarkan pula untuk dikemoterapi, saya takut juga.’

‘Ibu tidak mencoba obat-obat tradisional sebagai alternatif?’ tanya pak Umar.

‘Ada yang memberi saya jamu. Sudah saya coba tapi mungkin belum banyak pengaruhnya. Sementara oleh dokter sepertinya saya hanya dikasih obat penenang. Saya tidak terlalu disiplin meminumnya karena menyebabkan saya mengantuk terus.’

‘Ada pengalaman saudara saya yang mungkin bisa saya ceritakan. Dia itupun sudah sempat di operasi satu kali. Tidak atau belum sembuh. Dokter menganjurkan untuk dioperasi ulang. Dia sangat takut. Lalu ada yang memberikan kepadanya artikel tentang pengobatan dengan metoda jus atau ‘juice therapy’. Apakah ibu pernah mendengar tentang metoda serupa itu?’ tanya pak Umar.

‘Mungkin dulu saya pernah membacanya. Tapi sekarang saya tidak ingat sama sekali.’

‘Bagaimana pengalaman saudara bapak itu?’ tanya papi.

‘Dia menerapkan terapi jus itu. Dia hanya mengkonsumsi jus buah dan jus wortel saja. Menurut analisa yang dia dengar, penyakitnya itu akan semakin berkembang kalau dia mengkonsumsi makanan yang mengandung lemak hewani, sebaliknya akan lumpuh kalau lemak hewani itu tidak dikonsumsi. Saya tidak tahu kebenaran hal ini secara ilmiah. Lalu dia hentikan memakan segala yang mengandung lemak hewan, bahkan dia hentikan minum susu. Selama dua minggu pertama dia benar-benar hanya minum jus itu saja. Alhamdulillah selama dua minggu itu dia merasakan kemajuan luar biasa, hari demi hari. Terapi itu diteruskannya. Akhirnya dengan pertolongan Allah, dia sembuh total.’

‘Saya tertarik mendengarnya. Saya akan mencobanya. Rasanya sangat masuk di akal...’ kata mami berseri-seri.

‘Kita kan wajib berusaha bu, sedangkan penyembuhan itu kekuasaan Allah. Oleh karenanya di samping berusaha kita harus pula banyak-banyak berdoa...’ lanjut pak Umar.

‘Benar pak… Benar sekali yang bapak katakan. Benar Ning… kamu cobalah terapi itu. Dan kita berdoa kepada ALLAH.’

‘Ada lagi obat lain, dari tumbuh-tumbuhan juga, yang sudah banyak pula dibuktikan orang sangat berkhasiat. Namanya ‘tapak dewa’. Namanya ini memang agak aneh. Tumbuh-tumbuhan ini berupa tanaman umbi-umbian. Daun dan umbinya sangat baik untuk obat.’

‘Bagaimana bentuk tumbuhan itu pak? Dan dimana terdapatnya?’ tanya papi.

‘Sebangsa tumbuh-tumbuhan rendah berbatang lunak dan berumbi mirip ubi rambat. Tadi kebetulan saya melihatnya di kebun sekolah.. tumbuh sangat subur di sana. Cara memakainya, daunnya di godok dan air rebusannya diminum. Umbinya bisa dimakan mentah atau bisa juga digodok. Rasanya tawar. Umbinya banyak mengandung air dan kelihatannya airnya itu yang sangat berkhasiat.’

‘Seberapa besar umbinya pak. Dan seberapa banyak harus dimakan?’ tanya mami penuh perhatian.

‘Umbinya sebesar kentang kecil-kecil. Sebesar kelereng barangkali, tapi saling tumbuh dan menempel satu sama lain sehingga membentuk kesatuan yang lumayan besar. Cukup dimakan mentah sebesar jempol jari dua kali sehari.’

‘Pak Umar melihat tumbuh-tumbuhan itu di kebun sekolah kita?’ tanya pak Suprapto.

‘Betul pak. Saya tadi melihatnya waktu saya berkeliling sekolah bersama pak Kosasih.’

‘Itupun saya mau mencobanya. Bolehkah saya meminta contohnya yang di sekolah itu pak?’ tanya mami.

‘Tentu bu. Adrianto, besok kamu tanyakan yang mana tanaman itu ke pak Umar!’ jawab pak Suprapto.

‘Kamu minta ke pak Simin, karena beliau itu yang merawatnya..’ pak Umar menambahkan.

Sementara itu terdengar azan ashar sangat lantang sekali. Rumah itu ternyata hanya beberapa puluh meter dari mesjid. Pak Suprapto melirik kepada pak Umar. Pak Umar tersenyum.

‘Bagaimana pak Umar? Apakah tidak sebaiknya kita pamit dulu? Terlalu lama kita mengganggu ibu Ningsih.’

‘Betul pak. Sebaiknya kita mohon diri dulu.’

‘Maaf pak. Sepertinya bik Inah menyiapkan sesuatu di luar…’ kata Anto.

‘Benar pak. Mari kita minum dulu di ruangan di luar.’ Papi menambahkan.

‘Bagaimana pak Umar? Apakah kita shalat dulu ke mesjid?’ tanya pak Suprapto.

‘Kalau bapak setuju, tentu saya akan senang sekali. Kelihatannya mesjidnya sangat dekat dari sini.’

‘Atau bapak-bapak mau shalat di sini barangkali?’ tanya ayah.

‘Biarlah kami ke mesjid saja, pak. Itu yang lebih afdal.’

‘Anto! Pergilah temani bapak-bapak ini ke mesjid!’ kata mami.

‘Ayo Anto! Papi juga mau ikut.’

‘Baik kalau begitu, bu Ningsih..kami langsung pamit..,’ kata pak Suprapto.

‘Terima kasih banyak..bapak-bapak.. Terima kasih banyak.. Tolong bapak-bapak bantu mendoakan saya..,’ pinta mami lirih.

‘Insya Allah bu..kami doakan.. Assalamu’alaikum..,’

‘Wa’alaikumsalam pak.’

Mesjid Nurul Iman hanya sekitar lima puluh langkah dari rumah keluarga Suryanto. Mesjid kompleks perumahan eksklusif itu bertingkat dua, sangat megah. Bercat putih dengan dua menara setinggi dua puluh meter menjulang gagah. Jendela-jendelanya lebar-lebar dan dicat warna hijau. Pekarangan mesjid sangat luas ditanami rumput hijau subur terpelihara. Ada beberapa pohon palem tumbuh teratur di pinggir taman itu. Ada beberapa orang yang sedang melangkah ke arah mesjid itu untuk melaksanakan shalat ashar. Termasuk di antaranya pak Suryanto, anaknya Anto dan kedua tamunya.

Pak Suryanto berjalan di samping pak Umar. Dengan setengah berbisik dia mengulangi permintaan istrinya untuk mendoakan istrinya itu sesudah shalat nanti. Entah kenapa, Suryanto sangat tertarik melihat pribadi orang ini. Mukanya bersih seperti bercahaya-cahaya. Dia sangat tergugah untuk ikut shalat bersamanya. Entah kapan terakhir kali dia shalat sebelum ini. Di dalam hatinya dia berjanji, dia akan mengerjakan shalat dengan teratur sesudah ini. Tuhan begitu sayang kepadanya. Ya… Allah Yang Maha Kuasa itu telah meluluhkan hatinya hari ini untuk kembali menyayangi keluarganya. Dan rupanya Allah Yang Maha Kuasa telah menggerakkan kaki orang-orang ini untuk datang ke rumahnya serta untuk ikut menambah keteguhan ke dalam hatinya. Tadi dia sudah berkali-kali menyebut Tuhan tapi masih dengan bayangan yang sangat mengambang. Orang-orang ini, terutama yang masih muda ini, yang umurnya mungkin hanya lebih tua beberapa tahun dari dirinya, mengajak untuk shalat mengingat Allah. Entah kenapa dia sangat ingin untuk ikut pergi shalat. Tiba-tiba dia merasa rindu untuk ikut sujud kepada Allah.

Sesudah shalat, atas permintaan papi, bapak-bapak itu mampir kembali ke rumah untuk minum yang tadi sudah disiapkan bik Inah. Mereka mampir sebentar memenuhi undangan itu, tapi hanya untuk beberapa menit saja. Papi berulang-ulang mengucapkan terima kasih atas kedatangan kedua orang guru itu, terutama atas informasi mengenai cara pengobatan dengan terapi jus. Mudah-mudahan cara pengobatan seperti itu bisa menyembuhkan mami. Apalagi mami kelihatan sangat antusias untuk mencobanya.

Papi dan Anto mengantarkan bapak-bapak itu ke mobil. Setelah guru-guru itu pergi, papi merangkul Anto masuk kembali ke dalam rumah.

‘Bapak apa namanya tadi To….? Calon pengganti kepala sekolah itu?’

‘Pak Umar, pi. Orangnya baik sekali ya pi..?’

‘Benar. Papi kagum melihat wajahnya yang bersih. Kelihatannya dia seorang yang sangat taat beragama. Papi percaya bahwa dia datang menengok mami ke sini semata-mata karena ketulusan hatinya.’

Mereka kembali ke kamar mami. Mamipun sangat terkesan dengan pak Umar. Mami segera menyuruh mbak Sri, perawat yang mengurus mami untuk menyiapkan wortel untuk dibuat jus. Mulai hari ini juga mami akan mencoba terapi itu. Mami benar-benar bahagia hari ini. Tuhan, Allah Subhanahu wa ta’ala telah menurunkan limpahan kasih sayang yang tidak terhingga. Dan mami penuh harap dalam keyakinannya bahwa Allah Yang Maha Pengasih itu akan menyembuhkannya dari sakit yang dideritanya.

*****

Pak Suprapto mengantar pak Umar kembali ke sekolah karena Vespanya masih tinggal di sana. Diperjalanan kedua bapak-bapak itu sempat bercerita santai, tentang penyakit yang diderita ibu Ningsih.

‘Ternyata ayahnya Adrianto ada di rumah. Apakah tadi dia berbohong mengatakan bahwa ayahnya tidak boleh diberi tahu? Bahwa kedua orang tuanya tengah bermasalah?’ tanya pak Suprapto.

‘Entahlah, kita tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi pak. Tapi kelihatannya ayahnya itu cukup baik dan sangat sayang kepada istrinya. Tadi dia ulangi lagi permintaan untuk mendoakan kesehatan istrinya itu kepada saya waktu kita mau ke mesjid.’

‘Ya..padahal menurut anak itu ayahnya jarang pulang dan kalau di rumah sering marah-marah..’

‘Besok insya Allah akan saya tanyakan pak. Sampai sejauh ini saya percaya saja kepada Adrianto itu.’

‘Ya..ya.. Mudah-mudahan dia tidak bohong. Lagi pula untuk apa dia bohong? Anak itu kelihatannya cukup jujur, meskipun bandel.’

Pak Suprapto menunggu sampai pak Umar menghidupkan Vespa dan mengendarai kendaraannya itu keluar dari tempat parkir. Setelah yakin kendaraan itu baik dan dapat dikedarai barulah beliau berangkat.

Pak Umar menuju pulang sesudah menyelesaikan hari pertama yang panjang di SMU 369.

*****

SANG AMANAH (15)

(15)

Tadi pagi mama mengingatkan Suryanto lagi untuk memaafkan istrinya Ningsih.

‘Tidak pantas kamu memperlakukannya seperti itu,’ kata mama. ‘Dia sedang sakit, sedang depressi, sedang perlu dorongan semangat. Kamu, suaminya sejak tujuh belas tahun, tempat dia bersandar, tempat dia berbagi rasa selama ini, hanya karena salah pengertian sedikit itu, pada waktu kamu ragu-ragu memberinya izin padahal penyakit itu semakin menggerogotinya, dia mengambil keputusan untuk dioperasi, eh..kamu malah uring-uringan dan marah-marah. Mama tahu kamu tidak ingin memiliki Ningsih yang cacad, Ningsih yang tidak seperti yang kamu kenal selama ini, tapi kamu juga harus sadar, bukankah penyakitnya itu bukan atas kehendaknya? Bukankah dia sakit diluar kemampuannya sebagai manusia? Hal yang sama dapat terjadi terhadap siapa saja, terhadap mama, terhadap dirimu sendiri. Jadi berfikirlah normal dan wajar. Kamu mengatakan Ningsih bersalah telah mengabaikan izin darimu, tapi lihat juga dong situasinya. Dia sakit, kamu sedang pergi. Itupun dia mengakuinya dan sudah berulang kali minta maaf. Masak kamu sebegitu teganya tidak memaafkannya? Seandainya Tuhan berkehendak, Yanto, lalu umurnya singkat, dia sampai meninggal, kamu akan menyesal seumur hidupmu. Dia mengaku bersalah, dia bahkan membuat pernyataan diluar dugaan, dia bahkan tidak keberatan kamu menikah lagi…sekarang… Ini benar-benar luar biasa. Kamu seharusnya tidak ‘mencampakkan’ begitu saja seorang istri yang begitu baik. Pikirkanlah!!!!’

“Maa… saya ini laki-laki normal!’

‘Laki-laki normal punya hati dan perasaan… sementara kamu…?!’

‘Sudahlah ma… saya mau ke kantor.’

Suryanto berangkat ke kantor dengan pikiran gundah. Terngiang-ngiang di telinganya ucapan mamanya, ‘…Ningsih sakit bukan atas kehendaknya…’. Ya, siapa pula yang ingin tubuhnya sakit? Di kantor dia tidak bisa berkonsentrasi. Pikirannya kacau balau. Tumpukan surat-surat di mejanya sedikitpun tidak menarik perhatiannya. Rapat dengan tenaga staf perusahaan pagi itu tidak dihadirinya. Apa yang harus diperbuatnya sekarang? Tiba-tiba muncul pikiran konyol di kepalanya. Dia ingin menanyakan langsung kepada Ningsih apa benar istrinya itu menyetujui seandainya dia menikah lagi. Apa dia sudah sedemikian frustrasi dengan keadaan penyakitnya? Dan dia putuskan siang ini akan pulang ke rumah, menemui Ningsih.

*****

Jam dua siang Suryanto sampai di rumahnya. Bik Inah yang membukakan pintu memberi tahu bahwa istrinya, Ningsih sedang tidur. Dia langsung ke kamar dan didapatinya Ningsih sedang tertidur pulas. Wajahnya tetap cantik biarpun sekarang pucat dan lebih kurus. Yanto mengamati wajah cantik itu. Darahnya berdebar. Wanita itu, istrinya, saat ini tengah menderita, sedang sakit. Dan penyakit itu datang bukan atas kehendaknya. Ada Yang Maha Kuasa yang menentukan sehat dan sakitnya seseorang. Oh Tuhan… Kenapa selama ini dia tidak pernah ingat kepada Nya? Betapa lalainya dia, dan istrinya, dan anaknya. Hidup ini selama ini hanya disibukkan dengan perusahaan, dengan mengejar keuntungan, dengan bersenang-senang, dengan uang. Dan sekarang ternyata tidak semuanya dapat dibeli dengan uang. Yanto berdiri diam terpaku di samping tempat tidur istrinya. Bukan….. itu adalah juga tempat tidurnya, kamarnya. Beberapa minggu terakhir ini dia seperti seorang pengecut melarikan diri dari kenyataan. Dia tidak mau tidur di kamar ini dan lari ke rumah orang tuanya di Tebet, di tempat mama. Dia lari dari kenyataan bahwa istrinya sedang mengidap penyakit berat. Dan dia bukannya ikut prihatin atau membantu merawatnya, malahan meninggalkannya. Wanita malang itu pasrah dalam ketidakberdayaannya. Sedangkan dia sendiri, apa yang diperolehnya? Kepuasan? Setelah melampiaskan ego dan marahnya? Tanpa disadarinya air matanya berlinang. Dia mendekat dan duduk di pinggir tempat tidur. Pandangannya tidak lepas dari wajah Ningsih. Dia tidak dapat menahan dirinya untuk tidak membelai wajah ayu dan pucat itu. Ningsih terbangun…. terkejut…ah… ini pasti mimpi. Dalam mimpinya dipandanginya wajah mas Yanto tersenyum kepadanya. Tapi tangan itu. Dia merasakan tangan yang membelai mukanya dengan lembut. Ini bukan mimpi…ini kenyataan..

‘Mas… mas Yanto…? Benarkah ini kamu mas…?’

‘Iya.. ini saya Ning… ini saya…Yanto..’

‘Nggak mungkin…saya bermimpi…. Ini nggak mungkin…’

‘Ini saya Ning….kamu tidak sedang mimpi…ini saya…’

‘Saya tidak mimpi…? Atau…… Oh iya…. baik..mas.., kamu… ada yang ingin kamu sampaikan?’

‘Ada Ning… ada…. Saya ingin minta maaf padamu. Saya telah menyia-nyiakan kamu dalam penderitaan dan penyakitmu.’

‘Kenapa mas? Ada apa…?’

‘Saya bersungguh-sungguh Ning. Saya minta maaf. Maukah kamu memaafkan saya?’

‘Ya Tuhaan…. Benarkah ini? Benarkah mas Yanto kembali? Ya Tuhaan…’

‘Ning. Kita telah lalai selama ini. Saya telah lalai selama ini dalam mengingat Tuhan. Sayapun seperti disentakkan dalam kekerdilan saya. Padahal Tuhan telah begitu banyak memberi kepada kita. Tapi kita…terutama saya.. lalai. Saya tidak pernah bersyukur kepada Tuhan. Saya menyadarinya sekarang.’

Ningsih terharu. Air matanya bercucuran. Air mata kebahagian dalam derita yang ditanggungnya selama beberapa bulan terakhir. Jantungnya berdegup kencang, degup penuh bahagia. Dia merasa hidup kembali. Dia merasa yakin Tuhan akan memberinya kebahagian dulu itu kembali. Yang dideritanya ini adalah peringatan Tuhan dan sekarang dia akan memohon kepada Tuhan agar dia diberi kesembuhan. Tidak ada yang sulit bagi Tuhan.

*****


Anto heran, kok rumah sepi amat? Kok nggak kedengaran suara papi? Anto menanyakan ke bik Inah, dimana papi. Bik Inah bilang ada di kamar. Pintu kamar mami terbuka, tidak kedengaran siapa-siapa dari dalam. Anto justru jadi berdebar-debar. Ada apa di dalam kamar mami? Dia mempercepat langkahnya menuju ke sana. Begitu sampai di pintu kamar, Anto tertegun. Dia tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. Papi sedang duduk di pinggir tempat tidur, membelai-belai rambut mami. Mami memegang tangan papi yang satunya. Mereka tidak bersuara. Anto benar-benar heran. Kok bisa mesra banget seperti ini? Ada apa? Anto bahkan tidak mampu bersuara, takut mengganggu. Tapi dia juga tidak mau beranjak keluar, hanya berdiri melongo melihat pemandangan yang sangat luar biasa itu, paling tidak sejak dua bulan belakangan. Beberapa detik berlalu, sebelum mami bersuara.

‘Kayaknya Anto sudah pulang…’

‘Mi, Anto di sini…’ dia spontan menjawab. ‘Mami kenapa…..?’

Kedua orang tuanya tersentak kaget dan menoleh ke arah Anto.

‘Kamu sudah lama berdiri di sana?’ tanya papi.

‘Ya…pi… Papi kenapa?…. Maksud Anto.. mami kenapa?’

‘Mami tidak kenapa-kenapa. Mami baik-baik saja…’ kata mami.

‘Maksudnya? Kan mami lagi sakit?’

‘Iya… iya. Mami lagi sakit. Tapi saat ini mami tidak apa-apa. Benar kok, mami tidak apa-apa.’

‘Kok aneh sih?’

‘Anto, sini. Duduk di sini dekat papi.’

Anto mengangkat bangku dari depan meja rias, menaruhnya ke dekat papi duduk dan duduk di sana.

‘Pi, ada apa sih sebenarnya?’ Anto memperhatikan papinya dengan pandangan sangat heran.

‘Papi akan mengatakannya langsung saja. Papi minta maaf sama Anto. Papi sudah minta maaf sama mami. Papi keliru selama ini telah memperlakukan mami secara tidak pantas. Papi berdosa. Papi bersalah, dan sekarang papi insaf. Papi minta maaf.’

Anto bangkit berdiri, menubruk papi, memeluk dan menciuminya. Dia menangis terisak-isak. Papi balas memeluk dan menciumi Anto. Papipun melelehkan air mata. Begitu pula mami. Anto tidak kuasa berkata-kata. Ketiganya bertangis-tangisan untuk beberapa saat. Tangis bahagia. Anto bahagia. Oh Tuhan, betapa bahagianya dia.

Anto sadar bahwa dia harus menyampaikan sesuatu.

‘Pi..mi… Anto mau ngasih tahu bahwa sebentar lagi ada bapak kepala sekolah mau datang ke sini…mau menengok mami..’

Papi dan mami memandang Anto keheranan. Keduanya terdiam tak bersuara.

‘Begini..pi..mi.. Tadi di sekolah ada peristiwa.. Ada calon pengganti kepala sekolah datang. Lalu ada diskusi. Setelah diskusi itu merembet kemana-mana, Anto memberi tahukan bahwa mami sedang sakit. Bapak calon kepala sekolah itu orangnya baik sekali. Dia kelihatannya sangat penuh perhatian. Waktu istirahat kedua dia datangin Anto, pas Anto lagi jajan di kantin. Dia suruh Anto datang menemuinya di kantor guru. Terus dia tanya apakah dia boleh datang menengok mami. Anto mula-mula bingung juga. Tapi masak Anto mau bilang nggak boleh. Akhirnya Anto bilang, silahkan saja pak, kalau mau datang. Tapi sebaiknya biar sesudah saya sampai di rumah, biar saya kasih tahu dulu ke orang tua saya, Anto bilang. Lalu dia bilang, iya. Nah sebentar lagi dia akan ke sini. Pak kepala sekolah sama calon penggantinya itu.’

‘Apa kamu berbuat sesuatu yang aneh-aneh di sekolah?’ tanya papi.

‘Kalau alasannya itu, pasti papi atau mami yang dipanggil ke sekolah, bukan mereka yang datang ke sini. Bukan karena itu. Bener-bener karena bapak calon pengganti kepala sekolah itu ingin melihat mami karena mami sakit. Dia mengajak pak kepala sekolah datang ke sini.’

‘Apakah kamu bercerita juga tentang suasana di rumah akhir-akhir ini?’ tanya papi lagi.

‘Ya.. pi..secara sepintas. Maksud Anto, Anto bilang kalau mami sakit dan mami hanya ditemani Anto saja di rumah. Bahwa papi…’

‘Bahwa papi bagaimana….?’ tanya papi, tapi sambil tersenyum.

‘Ya Anto bercerita begitu-begitu aja..tidak dirinci…’

‘Ya sudahlah. Kita tunggu saja kalau begitu...’ kata papi.

Terdengar suara bel. Dan suara bik Inah membukakan pintu. Terus suara bik Inah bertanya sesuatu. Dan bik Inah memanggil ‘mas’ Anto. Anto keluar dan mendapatkan di sana berdiri pak Suprapto dan pak Umar. Anto mempersilahkan bapak-bapak itu duduk. Papi yang menyusul di belakang Anto mengangguk sambil tersenyum kepada kedua bapak itu. Kedua orang itu balas mengangguk, bangkit lagi dari duduk dan bersalaman dengan papi sambil memperkenalkan diri. Papipun memperkenalkan diri.

‘Anto baru saja menceritakan rencana kedatangan bapak-bapak berdua. Saya mengucapkan terima kasih sekali atas kedatangan bapak-bapak.’

‘Iya, pak. Tadi kami mendengar dari Adrianto bahwa mamanya sakit. Saya tanyakan sakit apa? Dan dirawat dimana? Dia bilang baru menjalani operasi dua bulan yang lalu dan sekarang dirawat di rumah. Saya tanya, apakah boleh dilihat? Mungkin Adrianto agak heran, kok saya bertanya seperti itu. Tapi saya jelaskan bahwa mendatangi orang sakit itu merupakan suatu keharusan dan diperintahkan dalam agama. Begitu ceritanya pak.’

‘Benar, pak. Kami tentu senang sekali bapak-bapak menyempatkan datang untuk melihat istri kami. Mari pak… maaf… istri saya ada di kamar.. silahkan… kita bisa melihatnya ke sana …’

Pak Suprapto dan pak Umar mengikuti papi menuju ke kamar dan Anto mengiringkan di belakang. Pak Umar mengucapkan ‘Assalamu’alaikum’ begitu masuk ke kamar. Mami tersenyum dan membalas salam itu. Anto dibantu bik Inah mengambil kursi. Papi mempersilahkan bapak-bapak itu duduk. Pak Suprapto yang mengenali mami bertanya,

Sunday, October 12, 2008

SANG AMANAH (14)

(14)

Ir. Suryanto seorang pria gagah dan pengusaha yang lumayan berhasil. Insinyur Mesin lulusan ITS Surabaya ini mengusahakan pembuatan perabot rumah tangga dari kayu seperti meja dan kursi tamu, meja makan, tempat tidur, lemari-lemari yang semuanya untuk ekspor. Produksinya dikirim ke Amerika Serikat, Canada dan Jepang. Pabrik pengolahannya terdapat di Jepara sementara di Jakarta ada tempat pemeroses dan penghalusan perabot-perabot tersebut di kawasan industri di Pulo Gadung sebelum dikapalkan. Meskipun dia terbilang manusia sibuk yang mondar mandir keluar negeri maupun di dalam negeri pak Suryanto adalah seorang ‘family man’. Dia selalu menyediakan waktu cukup untuk keluarganya. Istrinya, Ningsih seorang wanita anggun dan cantik alami, adalah Sarjana Psikologi dari UNPAD. Dia tidak bekerja. Suaminya memintanya untuk jadi penasihat di perusahaannya yang mempekerjakan lebih dari 200 orang karyawan. Keluarga ini benar-benar merupakan pasangan yang sangat ideal. Mereka hanya mempunyai seorang anak laki. Adrianto.

Kehidupan bahagia yang mereka bina selama belasan tahun, meski kadang-kadang terusik juga oleh kerikil-kerikil kecil rumah tangga, boleh dikatakan nyaris sempurna. Pasangan ini mempunyai kepribadian yang keras kedua-duanya namun sama-sama pula sangat terbuka. Itulah sebabnya hampir tidak pernah diskusi yang kadang-kadang memuncak panas di antara mereka sampai berakhir dengan pertengkaran. Suryanto bukan saja sangat mencintai istrinya tapi sangat memuja kecantikan istrinya itu. Dia akan selalu setuju kalau Ningsih melakukan perawatan kebugaran tubuhnya biar dengan biaya berapapun. Tapi dia sangat tidak suka seandainya Ningsih ingin melakukan perubahan artifisial pada tubuhnya yang cantik itu.

Tidak ada yang abadi. Kabahagian yang hampir sempurna itu kira-kira lima bulan yang lalu seolah-olah diuji Tuhan. Suatu pagi Ningsih dikagetkan oleh benjolan di sekitar dadanya. Hal itu didiamkannya saja untuk beberapa hari karena kebetulan suaminya sedang ke Amerika waktu itu. Benjolan yang selalu menarik perhatiannya dikala mandi, sering dipegang-pegang dan ditekan-tekannya. Tidak ada rasa sakit. Akhirnya dia putuskan untuk memeriksakan ke dokter ahli penyakit dalam. Dokter itu menganjurkan untuk dilakukan pemeriksaan lebih lanjut kepada dokter spesialis. Ningsih sebenarnya mulai agak cemas, tapi dia memilih menunggu sampai suaminya pulang dari luar negeri. Waktu mas Suryanto pulang hal itu langsung diceritakannya. Tentu saja suaminya ikut cemas dan mendesak untuk segera memeriksakan ke dokter spesialis. Dokter menyimpulkan penyakit itu sebagai tumor dan menganjurkan untuk dioperasi. Mumpung masih kecil, katanya. Mereka menanyakan apa yang mungkin terjadi seandainya dioperasi dan apa yang mungkin terjadi seandainya tidak dioperasi. Dokter itu menjelaskan bahwa kalau dioperasi harus dilakukan diagnosa lebih rinci pada saat operasi itu dilaksanakan. Artinya, seandainya penyakit itu tumor biasa maka cukup benjolan itu saja yang dibuang. Akan tetapi seandainya itu adalah kanker dan ganas, maka konsekwensinya payudara Ningsih harus dibuang sebelah. Kalau tidak dioperasi, seandainya itu memang benjolan biasa, bukan penyakit, tentu tidak akan mengganggu. Tapi seandainya itu kanker ganas tentu dia akan menyebar ke bahagian tubuh yang lain.

Tentu saja pasangan itu sangat terkejut mendengar berita itu. Mereka minta waktu untuk memikirkan solusi yang ditawarkan itu. Dokter itu mengatakan jika operasi dilakukan lebih awal akan lebih besar harapan keberhasilannya. Pilihan mereka sebenarnya tidak banyak antara dioperasi atau tidak dioperasi.

Ada cerita ‘believe it or not’ dari kiri kanan bahwa pengobatan alternatif bukanlah sesuatu yang aneh sekarang-sekarang ini. Suryanto cenderung untuk mencoba pengobatan alternatif itu sementara Ningsih lebih cenderung untuk segera saja di operasi. Mereka memerlukan diskusi berminggu-minggu sebelum mengambil keputusan.

Dari perbincangan kiri-kanan, Suryanto menemukan seorang ahli pengobatan alternatif di daerah Kali Malang yang menggunakan pola seiki/prana, yang konon berasal dari India dan kononnya pula berhasil menyembuhkan penyakit orang-orang terkenal yang sudah akut. Suryanto ingin istrinya Ningsih mencoba cara pengobatan ini.

‘Sejauh yang saya dengar cara pengobatan ini cukup masuk diakal Ning, tidak ada mistik, tidak ada jampi-jampi, tidak ada cara-cara yang aneh-aneh seperti menggunakan media hewan untuk memindahkan penyakit seseorang misalnya, pokoknya bisa diterima akal, bagaimana kalau kita coba? Siapa tahu jodoh.’ kata Suryanto mengajak istrinya pada suatu hari.

‘Baik, mas. Saya bersedia untuk mencoba. Tapi kalau kira-kira cara pengobatan itu tidak dapat diterima akal saya, saya akan mengundurkan diri. Kapan mas menemani saya ke sana?’

‘Bagaimana kalau besok sore?’

‘Baik mas.’

Keesokan harinya mereka pergi ke alamat tabib ahli seiki/prana itu. Tempatnya di rumah tinggal yang dimodifikasi sedemikian rupa. Ada ruang tunggu, ada ruang praktek, bahkan ada ruangan rawat inap. Para ‘pasien’ harus antri dan mengambil nomor urut. Jumlah ‘pasien’nya puluhan. Umumnya yang punya masalah tumor dan kanker. Banyak di antara para ‘pasien’ itu, yang ditanyai Suryanto, menceritakan kemajuan kesehatan yang dialaminya.

Ningsih akhirnya mendapat giliran bertemu dengan tabib itu. Metoda perawatan itu menggunakan alat bantu kristal-kristal kaca yang disinari dengan cahaya lampu biasa yang lampunya diwarnai merah dan diarahkan kebagian tubuh yang sakit. Lalu ada pijitan refleksi di kaki. Pijitan itu lumayan sakit. Setelah itu kepadanya diberikan cairan dari akar tumbuh-tumbuhan dan daun-daunan untuk diminum dan dibawa pulang. Perawatan ini harus diulangi dua kali seminggu. Dan ada pula saran agar dia menjalani rawat inap di rumah itu selama beberapa hari untuk perawatan intensif.

Ini masalah keyakinan. Meskipun banyak cerita keberhasilan yang Ningsih ikut mendengar waktu diceritakan oleh orang-orang yang datang berobat itu, Ningsih, entah kenapa sejak pertama tidak terlalu yakin dengan metoda pengobatan itu. Apalagi setelah tabib itu menganjurkan untuk menjalani rawat inap, dan dia pergi melihat sendiri pasien yang sedang dirawat inap itu tidur di ruangan sempit berjajar-jajar seperti di tempat pengungsian, dia semakin tidak yakin. Hanya untuk menghormati suaminya, dia masih mau pergi diantar mas Yanto untuk kedua kalinya sesudah itu. Lalu mas Yanto harus berangkat lagi ke Jepang. Sebelum berangkat mas Yanto mengingatkan Ningsih untuk melanjutkan pengobatan itu tapi dia sudah tidak bersedia lagi pergi. Waktu mas Yanto pulang dari Jepang, dia kecewa karena Ningsih tidak mau melanjutkan pengobatan itu. Mereka terlibat dalam pertengkaran kecil. Ningsih masih tetap berkeyakinan bahwa penyakitnya itu adalah sesuatu yang nyata, jadi harus dibuang dengan cara dioperasi secara fisik, bukan dengan disinari cahaya dari lampu bercat merah atau dengan pijitan-pijitan di kaki, yang menurut dia tidak ada hubungannya.

‘Tapi kamu dengar sendiri, Ning. Orang-orang yang disembuhkan tabib itu bercerita. Apa salahnya sih, dicoba? Kamu coba, katakan agak sebulan misalnya setelah itu baru kita ambil kesimpulan. Sejujurnya, Ning, saya tidak rela tubuh kamu itu dilukai. Apalagi dirusak. Kalau nanti kata dokter itu, ternyata penyakit kamu itu kanker ganas, lalu payudara kamu dibuang. Saya benar-benar tidak mau membayangkannya.’

‘Tapi, mas. Itu kenyataan. Kenyataannya saat ini tubuh saya mengidap penyakit. Mas bilang supaya saya coba sebulan lagi. Sementara saya sendiri tidak punya keyakinan dengan cara pengobatan itu. Waktu berjalan juga, bagaimana kalau dalam waktu sebulan itu keadaannya bertambah gawat?’

Seminggu berselang mereka tidak berbuat apa-apa. Ningsih berulang-ulang minta izin untuk menjalani operasi saja, tapi Suryanto belum mau mengizinkan. Ningsih jadi stress. Dan rasanya, atau mungkin juga sebenarnya, penyakit itu mulai menjadi lebih serius. Benjolan itu sedikit bertambah besar. Ningsih jadi uring-uringan. Tiba-tiba Suryanto harus berangkat lagi ke Amerika. Ningsih sekali lagi minta izin dan meminta agar Suryanto menanda tangani ‘surat persetujuan suami’ untuk mengizinkan istrinya dioperasi pada sehelai formulir rumah sakit yang sudah diminta Ningsih pada waktu dia berkunjung ke dokter terakhir kalinya. Suryanto tetap tidak mau mengizinkan dan menjanjikan akan mempertimbangkannya sekembalinya dari Amerika. Ningsih makin senewen. Menunggu sepuluh hari lagi? Iya kalau sesudah itu nanti diizinkannya. Akhirnya dia nekad. Setelah Suryanto berangkat, Ningsih membujuk papanya untuk mewakili memberi izin untuk operasi itu. Papanya Ningsih, meskipun memahami posisinya tidak mudah, membubuhkan tanda tangannya, demi sayangnya kepada anak. Tidak ada maksudnya untuk melangkahi wewenang menantunya.

Dan Ningsihpun dioperasi di Rumah Sakit Metropolitan. Ternyata seperti kemungkinan kedua yang dikatakan dokter awal-awal dulu yang dia hadapi. Benjolan itu adalah kanker ganas. Payudaranya terpaksa dibuang sebelah. Itupun menurut dokter, kemungkinan kanker itu sudah mulai menjalar ketempat lain. Ningsih terpukul, tapi berusaha pasrah. Apalagi yang harus dia perbuat? Dia hanya berharap dan berdoa, agar kemungkinan berikutnya ini, bahwa kanker itu mulai menjalar tidak benar. Berita bahwa dia sudah dioperasi itu disampaikannya kepada Suryanto waktu suaminya menelepon dari Washington. Suryanto marah besar mendengarnya.

Seminggu sesudah dioperasi Ningsih sudah boleh pulang untuk beristirahat di rumah. Badannya masih sangat lemah. Keesokan harinya Suryanto pulang dan mendapatkannya terbaring di tempat tidur. Suryanto marah. Betul-betul marah. Dia merasa dilecehkan dan diabaikan. Dia marah kepada mertuanya. Dia seolah-olah tidak perduli dengan keadaan Ningsih yang terbaring lemah. Dan sejak itu dia tidak mau tinggal di rumahnya itu. Dia masih mau pulang ke rumah sebentar-sebentar, tapi setiap kali datang hanya untuk mengumbar marah.

Ningsih tidak pernah mau melayaninya untuk bertengkar. Dia terlalu lemah. Dia sudah minta maaf dan rasanya itu sudah cukup. Dia coba memahami Suryanto yang betul-betul berubah. Ningsih pasrah. Dia tidak menyesal. Dia bahkan merasa sudah mengambil tindakan tepat untuk dirinya, meskipun ternyata yang dilakukannya menempatkan posisinya di tempat yang lebih sulit baik dari segi kesehatan maupun dari sisi perlakuan suaminya.

Suryanto benar-benar tidak bisa diredakan. Waktu anaknya Adrianto mengingatkan, dimarahinya, mertuanya seolah-olah dijadikannya musuh, mamanya sendiri dibantahnya. Dia lebih nekad lagi bahkan menyatakan bahwa dia akan kawin lagi. Terjadilah gempar besar. Semua saudara-saudaranya, kakak-kakaknya, adik-adiknya menentang. Oom dan tantenya menentang. Mertuanya jelas tidak bisa berkutik. Tapi Ningsih yang mendengar berita itu menyatakan tidak keberatan. Ningsih mempersilahkan. Waktu mamanya Suryanto datang menengoknya yang terakhir kali (mertuanya yang sangat menyayanginya itu mengunjunginya dua hari sekali, berusaha menghiburnya, membawakan makanan dan obat-obat berupa jamu untuknya) menyinggung-nyinggung dengan halus kemungkinan itu, bahwa Suryanto seperti orang tidak normal mengatakan keinginannya mau menikah lagi, Ningsih secara spontan mengatakan bahwa dia mengikhlaskannya. Tentu saja mertuanya terperangah mendengarkan hal itu.


*****