(27)
Hasil akhir jajak pendapat di kalangan guru-guru seperti yang tertera di papan tulis serba guna di ruangan guru, dari 35 guru yang ikut berpartisipasi, 30 orang setuju acara dangdut, lima orang tidak setuju. Dari murid-murid, kebalikannya, 78% tidak setuju dengan acara itu dan sisanya setuju. Yang setuju adalah hampir semua anak-anak kelas tiga IPA. Mungkin mereka terlalu capek dengan pelajaran dan menganggap dangdut dan joged akan dapat mengendorkan saraf. Ketua OSIS, Syamsurizal, menyerahkan hasil jajak pendapat itu kepada ibu Purwati. Ibu Purwati mengernyitkan keningnya ketika melihat hasil itu. Ibu Purwati menyuruh ketua OSIS menuliskannya di papan tulis serba guna, di bawah hasil jajak pendapat dikalangan guru-guru. Di bawahnya ditulis kesimpulan dengan huruf besar-besar, ‘ACARA DANGDUT DAN JOGED DITOLAK’
*****
Empat buah ruangan kelas dilantai bawah disulap jadi ruangan khusus untuk pertunjukkan sejak hari Sabtu siang. Sekolah praktis dihentikan sesudah istirahat pertama pada hari itu. Murid-murid dan guru-guru bergotong royong membuka pembatas kelas, mengatur ruangan dan membuat pentas dari tumpukan meja belajar di kelas paling ujung. Perlengkapan sekolah untuk membuat pentas itu berikut untuk tirai penutup pentas merupakan barang inventaris sekolah yang dapat dipasang dengan cepat dan mudah. Pentas itu kemudian dihiasi, dipasang spanduk besar bertuliskan tema hari perpisahan itu sesuai hasil rapat panitia perpisahan beberapa hari yang lalu.
ACARA PERPISAHAN DENGAN KEPALA SEKOLAH SMU 369
BAPAK DRS SUPRAPTO M.PD
SESUDAH 36 TAHUN PENGABDIAN DI DUNIA PENDIDIKAN.
Selamat jalan Pak Suprapto - Selamat Datang Pak Umar
Tidak semua murid-murid terlibat gotong royong menyiapkan ruangan dan pentas. Sebagian lagi melanjutkan latihan untuk acara yang akan di pertunjukkan besok. Latihan drama, latihan tari-tarian, latihan musik dan sebagainya. Yang bergotong royong terlibat dalam obrolan santai selama bekerja;
‘Wah sayang, nih! Acara joged ditiadakan. Kalau nggak kan asyik banget nih adu geyol di depan sini.’
‘Iya..yah. Ngapain sih itu anak-anak kok pada alergi sama joged. Apa takut dikira kampungan?’
‘Ya nggak tau yak. Atau kali juga pada malu. Atau benar nganggap kampungan. Di sini kan banyakan anak-anak orkay.’
‘Sok kotaan. Sok orkay. Sebel gue.’
‘Lha….. emang gitu, yak. Joged itu bukan mainannya anak gedongan.’
‘Mainan anak gedongan ‘mang apa?’
‘Mainan anak gedongan dansa, he..he..he..’
‘Hei…Lina! Lo waktu itu memilih apa sih? Setuju joged atau nggak?’
‘Joged? Nggak lah yaaouuwww.’
‘Emang kenapa sih?’
‘Joged? Jijai……, tau nggak lo. Apalagi entar joged sama guru-guru….. wah gue nggak bisa ngebayangin deh?’
‘Jangan dibayang-bayangin dong! Joged nggak usah dibayang-bayangin.’
‘Yeeei, bolehnya lo yang usil sih?’
‘Dasar lo! Sok keren, sok nggak suka dicap kampungan!’
‘Ngapain juga lo marah-marah ke gue? Pan udah di jajak pendapat. Udah diputusin. Apa lagi?’
‘Gue bukannya marah-marah. Gue cuman sebel sama orang yang menentang joged. Joged itu halal, tau nggak lo?’
‘Yeeiii. Apa hubungannya? Mo lo bilang halal kek, mo haram kek, ‘sak bodoh. Gue nggak suka ya nggak suka.’
‘Padahal kalau joged ama lo pasti asyik deh.’
‘Ah…. otak lo ngeres.’
‘Eh, tau nggak sih, guru-guru padahal suka banget tuh joged ‘poco-poco’. Mereka pada kuciwa tuh?’
‘Sok tau lo. Dengar dari mana sih? Main pukul rata aja.’
‘Main pukul rata gimana? Lo tau kan, guru-guru sebagian besar, 85% memilih ada acara joged. Di kantor guru-guru gue sering dengar kaset ‘poco-poco’ di puterin.’
‘Terus lo lihat guru-guru pada joged gitu?’
‘Ya enggak sih. Tapi itu kan sudah bisa disimpulkan.’
‘Kayak matematika aja lo, pake disimpulkan.’
‘Tapi entar acara jingkrak-jingkrak kayak ‘break-dance’ gitu boleh nggak ya?’
‘Gila, lo. Orang acara joged aja nggak boleh, apalagi acara gituan.’
‘Kan nggak sama dengan joged?’
‘Kalau gitu lo coba aja ntar. Kalau dibiarin berarti boleh.’
‘Ah nggak ah. Kagak berani gue.’
‘Mangkanya jangan sok aneh-aneh!’
‘Kalau emang kepingin tampil di pentas lo ikut aja latihan tari tuh sama pak Wayan!’
‘Kalau nari sih gue ogah. Mending juga nyumbang lagu.’
‘Berani, lo?’
‘Berani. Kenapa enggak? Siapa takut?’
‘Ah kalau dia sih pasti berani. Cuman bukan nyumbang suara, tapi suara sumbang..he..he..he..he.’
‘Jangan sok melecehkan, lo kan belum pernah denger suara gue.’
‘Gini aja Djon! Lo ikut aja ntar nyanyi sama Anto dan Iwan anak kelas dua C itu!’
‘Wah, itu sih enggak level.’
‘Yang nggak levelnya itu lo, apa mereka?’
‘Ya jelas mereka dong. Gimana sih lo..he..he..he..?’
‘Bukan nggak level, nggak nyambung. Mereka membawakan lagu-lagu ‘Bob Dylan’ lo maunya lagunya ‘Waljinah’, ya nggak pas.’
‘Emangnya gue cewek, lagu Waljinah?’
‘Ya nggak pa-apa. Sekalian lo di dandanin kayak embok-embok, asyik juga tuh Djon! he.he.he…’
‘Wah! Pernyataan lo menjurus pada pelecehan nih. Bisa berakibat fatal nih. Bisa-bisa gue nantang lo duel nih.’
‘Iya Djon…. bener. Ini sih udah nggak bener nih. Ayo…. ngajak duel aja Djon.’
‘Wah…promotor duel dapat proyek nih. Ntar malahan lo yang gue ajak duel..mau nggak?’
‘Urusannya lo ama Djoni kok maunya dilimpahkan kegue. Apa-apaan lo?’
Pak Sutisna muncul. Dia meminta anak-anak yang sedang asyik ‘ngalor-ngidul’ itu untuk menyusun meja-meja belajar yang tidak dipakai di belakang ruangan kelas. Obrolan tidak berujung pangkal mereka itu terhenti dengan sendirinya. Begitu pentasnya selesai, alat-alat musik disusun di atasnya. Pemain-pemain band amatir sibuk mencoba alat-alat itu. Suara brang-breng-brong lumayan memekakkan telinga. Pemain-pemain band itu minta izin untuk latihan malam ini dan diizinkan oleh pak Mursyid yang akan datang menemani mereka sampai jam sembilan malam. Kelompok drama juga akan mengadakan latihan malam ini. Izin hanya diberikan untuk anak-anak yang benar-benar terlibat latihan di bawah pengawasan guru-guru masing-masing. Sementara anak-anak yang tidak ikut latihan untuk mengisi acara tidak diizinkan tinggal di sekolah.
*****
Monday, October 20, 2008
Sunday, October 19, 2008
SANG AMANAH (26)
(26)
‘Pasti. Pasti saya akan protes. Saya sedang menunggunya nih.’
Dan pak Umar masuk ke ruangan guru bersama-sama pak Suprapto, lalu terus ke kantor kepala sekolah. Keduanya baru kembali dari mesjid sekolah, dari melakukan shalat zuhur. Pak Mursyid yang tadi menggebu-gebu ternyata jadi agak ciut. Pak Kus yang memperhatikannya mendehem-dehem seolah-olah mengingatkan. Pak Mursyid gelisah. Dia berdiri sebentar lalu duduk kembali. Kelihatan betul gugupnya. Guru-guru lain yang baru selesai shalat menyusul masuk ruangan guru. Ada pak Sofyan, pak Darmawan dan pak Hardjono. Pak Mursyid mengamati mereka itu satu persatu. Bertambah gelisah dia. Pak Sofyan melihat pak Mursyid sedang uring-uringan begitu bertanya,
‘Ada apa pak Mursyid?’
‘Ah nggak. Masih urusan kemarin.’
‘Urusan apa?’
‘Urusan sekolah yang sudah jadi pesantren,’ pak Mursyid mengeraskan suaranya. Mungkin berharap pak Umar akan mendengarnya.
‘Lha..Tadi katanya mau membicarakan. Ya bicarakan saja sana. Kan sudah ada tuh orangnya di dalam,’ pak Kus menimpali.
Pak Mursyid berdiri. Tapi duduk lagi. Rupanya keberanian beliau memang pas-pasan. Tiba-tiba pak Suprapto muncul dari pintu memanggil pak Mursyid untuk masuk ke ruangannya. Wah celaka. Pak Mursyid sampai menyenggol meja guru lain di sebelah mejanya sehingga gelas air di atas meja itu jatuh dan airnya tumpah. Dengan jantung deg-degan dia masuk ke ruangan pak Suprapto.
‘Ada apa pak?’
‘Apa sudah dengar hasil jajak pendapat yang direncanakan kemarin, pak Mursyid?’
‘Belum pak. Saya rasa anak-anak sedang melaksanakannya sekarang. Mungkin nanti sesudah jam pulang mereka akan menyerahkannya.’
‘Kalau yang dari guru-guru?’
‘Tadi belum selesai semua pak. Tapi tadi hampir semua guru-guru ‘pro’ kelihatannya. Hitung-hitung tambahan hiburan, pak. Biar nggak stress.’
‘Ini pak Mursyid. Pak Umar ingin menanyakan tentang ide ‘duel’ dikalangan anak-anak. Silahkan pak Umar. Langsung saja ditanyakan!’
‘Begini pak Mursyid! Sebelumnya saya minta maaf. Tadi saya berbincang-bincang dengan pak Suprapto dan akhirnya beliau menyarankan agar saya minta penjelasan langsung dari pak Mursyid. Pertanyaan saya adalah, seberapa serius ide ‘duel’ untuk mencegah tawuran ini dapat dipertanggung jawabkan secara ilmiah?’
‘Baik pak. Jadi begini. Pertama, ini masih dalam taraf percobaan. Tujuannya ya itu, untuk menyalurkan gatal-gatalnya darah muda dari sementara anak-anak yang berkecenderungan untuk membuat ribut, untuk berkelahi. Kedua, tujuannya adalah mengajarkan sportifitas. Karena ‘duel’ artinya berkelahi secara jantan, satu lawan satu, tanpa menggunakan senjata. Ketiga, karena ini projek percontohan, harapannya kita akan ditiru oleh sekolah lain dan dengan demikian tawuran anak-anak sekolah bisa diberantas sedikit demi sedikit.’
‘Baiklah. Kalau begitu seberapa jauh keberhasilan yang sudah dicapai selama masa percobaan beberapa bulan ini? Apakah terbukti murid-murid yang bandel itu berubah jadi sportif? Lebih jauh, apakah bisa dijamin bahwa perkelahian atau duel mereka di sekolah benar-benar akan berakhir hanya di sini? Tidak akan merembet akhirnya keluar? Bagaimana kalau mereka merasa perkelahian itu belum selesai di sekolah lalu mereka lanjutkan lagi diluar sekolah?’
‘Keberhasilannya ada pak. Sebelum ini, bahkan pada awal kebijaksanaan ‘duel’ ini, kalau saya boleh menyebutnya kebijaksanaan, adalah dikarenakan murid-murid kita terlibat tawuran dengan murid SMU HARAPAN BANGSA. Mereka membuat kekacauan dijalan raya Kali Malang sehingga mengundang campur tangan aparat keamanan. Waktu itu mereka diberi hukuman. Aparat keamanan meminta kita guru-guru memikirkan suatu langkah antisipasi untuk menghindari terjadinya lagi perkelahian massal seperti itu. Sebelum itu juga pernah terjadi beberapa kali tawuran dengan sekolah lain. Itu latar belakangnya ‘duel’. Tapi sekarang kalau bapak mau melarangnya ya silahkan.’
‘Lho, bukan begitu pak Mursyid, ya tunggu dulu. Bukan maksud saya mau melarang atau mau menyuruh. Ini termasuk tanggung jawab. Kita boleh saja melakukan uji coba, tapi tentu perlu pengawasan secara ketat mengingat ini urusan murid-murid. Artinya menyangkut keselamatan mereka. Saya ingin menanyakan seberapa jauh faktor keselamatan dan ketertiban juga diperhitungkan. Atau mungkin memang sudah ada, tapi saya belum tahu jadi saya bertanya.’
‘Baik pak. Waktu kami guru-guru menyepakati rencana ini sudah kami buatkan ketentuan tertulis ‘apa-apa yang boleh’ dan ‘apa-apa yang tidak boleh’ Istilah kerennya ‘the musts’ dan ‘the must nots’. Di antaranya berisi apa resiko jika ‘yang tidak boleh’ dilanggar. Ini dijelaskan kepada murid-murid. Saya bisa memberikan fotokopi aturan ini kepada bapak sekarang kalau bapak mau. Yang paling sederhana kalau saja terjadi pelanggaran, misalnya perkelahian menggunakan senjata, atau perkelahian keroyokan, atau perkelahian dilanjutkan diluar sekolah seperti yang bapak khawatirkan tadi, maka sangsinya dikeluarkan dari sekolah. Aturan ini ditanda tangani kepala sekolah. Di samping itu perkelahian atau duel itu harus dilakukan atas dasar sama-sama mau untuk berkelahi. Jadi tidak bisa satu orang murid memukul murid lain lalu mengajaknya duel. Harus melaporkan kepada koordinator ‘duel’ di kelas masing-masing bahwa dia, menantang duel si ‘X’ dari kelas anu. Koordinator menjajaki melalui koordinator di kelas lain apakah lawannya itu menerima tantangan. Perkelahian harus disaksikan koordinator duel. Sebelumnya koordinator duel mengetahui betul dan menanyakan untuk kemudian mengumumkan apakah yang akan berkelahi itu mempunyai keahlian bela diri tertentu. Ini maksudnya agar jangan perkelahian itu berjalan tidak seimbang dan salah satu jadi bulan-bulanan lawan berkelahinya. Dengan perangkat aturan seperti itu saya yakin tidak ada resiko bagi anak-anak yang berkelahi itu. Paling-paling kesakitan. Tidak mungkin akan cedera berat. Begitu pak.’
‘Ya, baiklah kalau begitu. Saya benar-benar sekedar ingin tahu. Bagaimana dengan meningkatnya animo berkelahi, sehingga hampir dua hari sekali terjadi duel? Apakah itu dianggap wajar atau dapat disimpulkan bahwa cara ini berhasil?’
‘Kalau menurut saya iya pak. Anak-anak muda seumur murid-murid itu ada yang memang senang melampiaskan emosi mereka dengan berkelahi. Sejauh pemantauan saya, mereka-mereka yang sudah berkelahi itu tidak ada yang sampai menjadi musuh satu sama lain. Bahwa banyak terjadi ‘duel’ mungkin karena ini masih baru. Banyak yang ingin coba-coba. Dan sekali lagi itu saya monitor terus. Itu juga sebabnya saya hampir selalu ada di sekolah pak. Biarpun bukan pada jam mengajar saya. Artinya saya juga merasa bertanggung jawab. Saya usahakan setiap hari pulang sesudah bubar sekolah.’
‘Ya….. terima kasih kalau begitu pak Mursyid. Saya mengerti, meskipun agak sedikit kaget karena baru sekali ini metoda ini saya temui.’
‘Jadi bapak sudah bisa menerimanya?’
‘Ya.. saya mengerti. Tapi saya masih belum seratus persen yakin metoda ini yang terbaik.’
‘Baiklah pak. Sekarang, sayapun ada yang ingin disampaikan.’
‘Silahkan pak Mursyid!’
‘Pertama-tama, saya yakin bahwa pak Umar seorang yang sangat demokratis. Ini saya amati selama rapat kemarin. Bapak bisa menerima pendapat yang berbeda dengan pendapat bapak. Yang kedua, langsung saja ke pokok masalah. Saya keberatan dengan diserukan azan di sekolah ini. Dulu sudah pernah juga ada di antara murid yang berinisiatif untuk melakukan azan, lalu saya larang. Saya sudah menjelaskan kepada bapak kepala sekolah alasan saya melarangnya. Baiklah saya ulangi sekali lagi sekarang. Sekolah ini sekolah umum, bukan sekolah agama, bukan pesantren. Di Madrasah Aliyah saja setahu saya tidak ada azan di sekolah. Kenapa saya larang? Karena tidak semua guru-guru di sini beragama Islam. Bapak sudah kenal kemarin dengan pak Situmorang, pak Wayan, ibu Grace. Tidak semua murid-murid di sini Islam. Ada sekitar lima puluh orang lebih yang beragama selain Islam. Dan yang melarangnya dulu adalah saya sendiri seperti saya katakan tadi. Dulu itu atas seizin bapak kepala sekolah. Sekarang dengan dilakukan lagi, saya benar-benar merasa bahwa kehormatan saya di depan murid dilanggar. Sepertinya wibawa saya di hadapan murid-murid dijatuhkan. Oleh karena itu, dengan hormat saya memohon agar bapak mempertimbangkan kembali untuk tetap memberlakukan peraturan sekolah umum di sekolah ini. Itu saja pak. Terima kasih.’
‘Ya. Baiklah. Maaf, pak Mursyid sendiri beragama apa, kalau boleh saya tahu?’
‘Saya juga Islam pak. Tapi mungkin toleransi saya terhadap agama lain lebih banyak. Saya rasa itu tidak ada salahnya.’
‘Sudah berapa lama bapak jadi guru di sini? Maaf, maksud saya begini. Apakah waktu mesjid sekolah itu dulu dibangun pak Mursyid sudah mengajar di sini?’
‘Ya..sudah cukup lama. Saya sudah mengajar di sini selama enam tahun. Mesjid itu dibangun empat tahun yang lampau. Saya tidak memprotes mesjidnya pak. Yang saya protes adalah azannya.’
‘Jadi pak Mursyid mau memisahkan antara mesjid dengan azan, begitu? Itu justru perlakuan semena-mena terhadap Islam. Mesjid dibangun begitu baik, dengan biaya besar, tapi hanya sekadar untuk jadi hiasan saja. Kegiatan agama tidak digalakkan di mesjid itu. Ini keliru sekali, pak Mursyid.’
‘Saya ulangi, pak. Mesjid dan shalat di mesjid itu tidak saya anggap bermasalah dan bukan pula saya menghalang-halanginya. Tapi kenapa mesti diadakan azan sementara kita berada dilingkungan sekolah umum?’
‘Kenapa memangnya dengan azan? Apakah mengganggu?’
‘Jelas mengganggu pak. Suaranya jelas mengganggu. Apalagi bagi orang yang bukan Islam. Yang tidak mengerti arti yang diserukan itu. Hal itu pasti mengganggu.’
‘Pak Mursyid pernah dapat keluhan dari guru lain yang bukan Islam karena merasa terganggu oleh azan itu? Maaf pak Suprapto, apakah ada guru-guru yang beragama lain mengeluhkan kepada bapak dengan keberadaan mesjid itu di sekolah ini?’
’Tidak ada, pak Umar. Mungkin yang dibayangkan oleh pak Mursyid ini kalau-kalau suatu saat nanti muncul protes itu. Selama ini sih belum ada.’
‘Memang belum ada, pak. Tapi jangan ditunggu sampai mereka mengeluh. Pada saat itu suasananya sudah akan lebih panas.’
‘Begini pak Mursyid. Azan itu aturan dalam agama Islam. Gunanya untuk menyeru orang-orang Islam untuk datang melaksanakan shalat berjamaah. Shalat itu rukun agama Islam. Tidak dikatakan Islam seseorang yang tidak melaksanakan rukun agama. Shalat berjamaah itu juga aturan yang sangat dianjurkan dalam Islam. Pak Mursyid mengatakan ini sekolah umum, tapi tetap ada pelajaran agama di sini. Kita juga berkewajiban mendidik murid-murid di sini untuk menjadi manusia yang faham dengan agamanya. Di sekolah ini juga diajarkan agama Islam. Pelajaran itu bukan sekedar untuk memenuhi jam pelajaran saja tapi benar-benar untuk mendidik murid-murid memahami makna dari shalat, dari puasa, dari zakat serta perintah agama lainnya. Perlu ada contoh kongkrit. Itu gunanya dibangun mesjid sekolah. Di sana bisa dipraktekkan apa-apa yang dipelajari di kelas, terutamanya shalat berjamaah itu. Jadi ringkasnya, azan itu diajarkan di sekolah, shalat itu diajarkan di sekolah, puasa begitu juga. Lalu dipraktekkan, dikerjakan secara nyata. Maka ada panggilan azan. Tadi pak Mursyid mengatakan di sini ada yang non Islam. Itu bukan alasan. Silahkan tanyakan kepada mereka apakah mereka keberatan, biar nanti saya yang menjelaskan bahwa azan itu bagian dari rangkaian ibadah agama Islam.’
‘Tapi kan bisa saja shalat dilakukan tanpa azan. Azan itu kan tidak wajib hukumnya pak?’
‘Baik. Pak Mursyid tahu mana yang wajib, mana yang tidak wajib bukan? Lalu sekarang saya tanyakan sejujurnya apa ada keharusan meninggalkan suatu amalan karena amalan itu tidak wajib? Apa ada aturan seperti itu? Sekali lagi saya ulangi apa ada protes dari guru-guru non Islam? Atau hanya karena perasaan toleransi pak Mursyid saja?’
‘Saya bukan orang Islam yang baik pak. Tapi sedikit-sedikit saya juga belajar tentang ibadah, mana yang wajib mana yang hanya sekadar anjuran saja atau yang sunah. Sementara jika yang sunah itu cenderung menuai protes, kenapa mesti dipaksakan? Guru-guru non Islam belum ada yang protes, tapi saya yakin suatu saat mereka akan protes?’
‘Dasarnya mereka mau protes apa? Ini merupakan tata cara peribadatan dalam agama Islam, bagaimana mungkin diprotes? Coba perhatikan. Di kompleks BTN tempat saya tinggal. Beragam etnis penghuninya. Bermacam-macam pula agama dan keyakinannya. Di sana kami punya mesjid tempat shalat wajib lima waktu. Lima kali sehari dikumandangkan azan dari mesjid itu. Tidak ada masalah. Tidak ada protes. Lagi pula apa yang salah dengan suara azan itu? Orang diluar Islam boleh mengajukan protes kalau memang bisa membuktikan bahwa mereka terganggu. Tapi cobalah yang agak wajar cara bereaksinya. Agak wajar cara berfikirnya. Dan pak Mursyid coba nilai sejujurnya. Selama ini, dan yang saya amati pada hari pertama saya di sini, sedikit sekali yang shalat di mesjid itu. Tapi waktu dikumandangkan azan bukan hanya murid-murid, tapi karyawan tata usaha, guru-guru, semua berdatangan. Jangan katakan saya yang menyuruh mereka datang dengan meminta mereka satu persatu agar hadir ke mesjid itu, karena mereka datang memenuhi panggilan azan. Ini sesuai dengan guna dan makna azan itu untuk menghimbau orang melaksanakan shalat. Dan ini diajarkan dalam pelajaran agama Islam.’
‘Dan Islam kan juga mengajarkan agar kita toleransi dengan agama lain, benar kan pak?’
‘Benar. Tapi apa hubungannya? Apa karena saya toleransi lalu saya tidak mengerjakan aturan agama saya. Karena saya toleransi dengan agama lain saya tidak usah shalat? Atau kalaupun saya shalat saya lakukan sembunyi-sembunyi, begitu? Dimana logikanya?’
‘Maksud saya, di tempat umum kita berprilaku umum. Di rumah kita masing-masing baru kita lakukan ibadah sebaik-baiknya.’
‘Wah, ini ilmu dari mana pak Mursyid? Kalau pikiran pak Mursyid ini diikuti, semua mesjid harus ditutup, begitu juga semua tempat ibadah lain, karena umumnya sarana-sarana ibadah itu berdiri di tempat umum. Maaf, jadi agak menjurus pertanyaan saya, pak Mursyid di rumah mengerjakan shalat tidak?’
‘Itu kan urusan pribadi saya dengan Tuhan, pak.’
‘Saya tahu itu urusan pribadi pak Mursyid. Tapi berhubungan dengan apa yang kita sedang bahas. Saya sekedar bertanya sejujurnya, apakah pak Mursyid mengerjakan shalat di rumah?’
‘Kalau saya bilang tidak, memangnya kenapa, pak?’
‘Itu lebih mudah saya pahami. Berarti pak Mursyid tidak faham dengan agama Islam, meski mengakunya Islam.’
‘Apa hubungannya itu, pak?’
‘Kalau pak Mursyid faham dengan agama Islam, pak Mursyid tidak akan meninggalkan shalat. Dan tidak mungkin muncul di kepala pak Mursyid pemikiran bahwa azan mengganggu ketertiban.’
‘Saya, belajar juga sedikit-sedikit mengenai agama ini. Rasanya tidak begitu betul pak. Tuhan itu kan Maha Adil Maha Bijaksana, pak.’
‘Jangan belajarnya sedikit-sedikit, pak. Belajar yang banyak. Tuhan itu, Allah Subhanahu wata’ala itu, Allah Yang Maha Suci dan Maha Tinggi itu, Maha Adil, Maha Bijaksana, Maha Kuasa. Dia yang memerintahkan tata cara peribadatan kepada Nya. Dia yang mengajarkan ketentuan-ketentuan agama, untuk ditegakkan. Jangan kita yang baru belajar sedikit-sedikit mau merubah apa-apa yang di tetapkan Allah lalu mengatakan bahwa Tuhan itu Maha Bijaksana.’
‘Apakah Allah yang memerintahkan azan itu, begitu pak?’
‘Allah yang memerintahkan shalat, perintah ini ada di dalam Al Quran. Allah yang memerintahkan shalat itu dilakukan berjamaah melalui lisan nabi Muhammad SAW. Allah yang memerintahkan mengumandangkan azan itu untuk memanggil jamaah shalat melalui lisan nabi Muhammad SAW. Tapi sekarang pak Mursyid yang melarangnya. Pak Mursyid yang mengaku Islam, melarangnya karena merasa… saya ulangi… karena merasa azan itu mengganggu kepada mereka yang bukan Islam. Padahal pak Mursyid belum pernah menanyakan kepada mereka apakah mereka terganggu atau tidak. Dan seandainya mereka terganggupun, alih-alih menerangkan makna azan sebagai bagian ibadat, pak Mursyid maunya azannya saja ditiadakan. Bahkan lebih hebat lagi, agar shalat itu cukup dilakukan di rumah saja, jangan di tempat umum. Padahal Allah menetapkan melalui lisan nabi Muhammad SAW bahwa bumi yang luas ini adalah tempat sujud, artinya tempat menegakkan shalat bagi setiap Muslim.’
‘Ya, sudahlah pak. Kalau bapak mau merubah kebijaksanaan sekolah ini terserah bapak. Sebentar lagi kan bapak jadi kepala sekolah di sini.’
‘Baik, kalau memang mau disudahi sampai di sini. Mengenai kebijaksanaan, saya akan mempertanggung jawabkan setiap perubahan, kalau memang saya melakukan perubahan. Bukan saja kepada sesama guru, kepada murid tapi yang lebih utama, kepada Allah SWT.’
‘Apakah, itu berarti bapak akan merubah sekolah ini menjadi pesantren barangkali?’
‘Tidak. Sekolah ini milik pemerintah. Pemerintah mempunyai garis besar panduan bagaimana menjalankan kegiatan di sekolah ini. Itu akan saya ikuti.’
‘Apakah mengumandangkan azan juga di sebutkan dalam garis besar itu, pak?’
‘Tidak. Namanya juga garis besar, jadi tidak mungkin mengatur sampai yang kecil-kecil seperti itu. Namun diluar itu kita bisa melakukan aturan-aturan lain yang dirasa perlu asal tidak bertabrakan dengan garis besar tadi, selama itu bisa dipertanggung jawabkan.’
‘Ya.. baik pak. Saya permisi dulu deh. Maaf pak Suprapto.’
*****
‘Pasti. Pasti saya akan protes. Saya sedang menunggunya nih.’
Dan pak Umar masuk ke ruangan guru bersama-sama pak Suprapto, lalu terus ke kantor kepala sekolah. Keduanya baru kembali dari mesjid sekolah, dari melakukan shalat zuhur. Pak Mursyid yang tadi menggebu-gebu ternyata jadi agak ciut. Pak Kus yang memperhatikannya mendehem-dehem seolah-olah mengingatkan. Pak Mursyid gelisah. Dia berdiri sebentar lalu duduk kembali. Kelihatan betul gugupnya. Guru-guru lain yang baru selesai shalat menyusul masuk ruangan guru. Ada pak Sofyan, pak Darmawan dan pak Hardjono. Pak Mursyid mengamati mereka itu satu persatu. Bertambah gelisah dia. Pak Sofyan melihat pak Mursyid sedang uring-uringan begitu bertanya,
‘Ada apa pak Mursyid?’
‘Ah nggak. Masih urusan kemarin.’
‘Urusan apa?’
‘Urusan sekolah yang sudah jadi pesantren,’ pak Mursyid mengeraskan suaranya. Mungkin berharap pak Umar akan mendengarnya.
‘Lha..Tadi katanya mau membicarakan. Ya bicarakan saja sana. Kan sudah ada tuh orangnya di dalam,’ pak Kus menimpali.
Pak Mursyid berdiri. Tapi duduk lagi. Rupanya keberanian beliau memang pas-pasan. Tiba-tiba pak Suprapto muncul dari pintu memanggil pak Mursyid untuk masuk ke ruangannya. Wah celaka. Pak Mursyid sampai menyenggol meja guru lain di sebelah mejanya sehingga gelas air di atas meja itu jatuh dan airnya tumpah. Dengan jantung deg-degan dia masuk ke ruangan pak Suprapto.
‘Ada apa pak?’
‘Apa sudah dengar hasil jajak pendapat yang direncanakan kemarin, pak Mursyid?’
‘Belum pak. Saya rasa anak-anak sedang melaksanakannya sekarang. Mungkin nanti sesudah jam pulang mereka akan menyerahkannya.’
‘Kalau yang dari guru-guru?’
‘Tadi belum selesai semua pak. Tapi tadi hampir semua guru-guru ‘pro’ kelihatannya. Hitung-hitung tambahan hiburan, pak. Biar nggak stress.’
‘Ini pak Mursyid. Pak Umar ingin menanyakan tentang ide ‘duel’ dikalangan anak-anak. Silahkan pak Umar. Langsung saja ditanyakan!’
‘Begini pak Mursyid! Sebelumnya saya minta maaf. Tadi saya berbincang-bincang dengan pak Suprapto dan akhirnya beliau menyarankan agar saya minta penjelasan langsung dari pak Mursyid. Pertanyaan saya adalah, seberapa serius ide ‘duel’ untuk mencegah tawuran ini dapat dipertanggung jawabkan secara ilmiah?’
‘Baik pak. Jadi begini. Pertama, ini masih dalam taraf percobaan. Tujuannya ya itu, untuk menyalurkan gatal-gatalnya darah muda dari sementara anak-anak yang berkecenderungan untuk membuat ribut, untuk berkelahi. Kedua, tujuannya adalah mengajarkan sportifitas. Karena ‘duel’ artinya berkelahi secara jantan, satu lawan satu, tanpa menggunakan senjata. Ketiga, karena ini projek percontohan, harapannya kita akan ditiru oleh sekolah lain dan dengan demikian tawuran anak-anak sekolah bisa diberantas sedikit demi sedikit.’
‘Baiklah. Kalau begitu seberapa jauh keberhasilan yang sudah dicapai selama masa percobaan beberapa bulan ini? Apakah terbukti murid-murid yang bandel itu berubah jadi sportif? Lebih jauh, apakah bisa dijamin bahwa perkelahian atau duel mereka di sekolah benar-benar akan berakhir hanya di sini? Tidak akan merembet akhirnya keluar? Bagaimana kalau mereka merasa perkelahian itu belum selesai di sekolah lalu mereka lanjutkan lagi diluar sekolah?’
‘Keberhasilannya ada pak. Sebelum ini, bahkan pada awal kebijaksanaan ‘duel’ ini, kalau saya boleh menyebutnya kebijaksanaan, adalah dikarenakan murid-murid kita terlibat tawuran dengan murid SMU HARAPAN BANGSA. Mereka membuat kekacauan dijalan raya Kali Malang sehingga mengundang campur tangan aparat keamanan. Waktu itu mereka diberi hukuman. Aparat keamanan meminta kita guru-guru memikirkan suatu langkah antisipasi untuk menghindari terjadinya lagi perkelahian massal seperti itu. Sebelum itu juga pernah terjadi beberapa kali tawuran dengan sekolah lain. Itu latar belakangnya ‘duel’. Tapi sekarang kalau bapak mau melarangnya ya silahkan.’
‘Lho, bukan begitu pak Mursyid, ya tunggu dulu. Bukan maksud saya mau melarang atau mau menyuruh. Ini termasuk tanggung jawab. Kita boleh saja melakukan uji coba, tapi tentu perlu pengawasan secara ketat mengingat ini urusan murid-murid. Artinya menyangkut keselamatan mereka. Saya ingin menanyakan seberapa jauh faktor keselamatan dan ketertiban juga diperhitungkan. Atau mungkin memang sudah ada, tapi saya belum tahu jadi saya bertanya.’
‘Baik pak. Waktu kami guru-guru menyepakati rencana ini sudah kami buatkan ketentuan tertulis ‘apa-apa yang boleh’ dan ‘apa-apa yang tidak boleh’ Istilah kerennya ‘the musts’ dan ‘the must nots’. Di antaranya berisi apa resiko jika ‘yang tidak boleh’ dilanggar. Ini dijelaskan kepada murid-murid. Saya bisa memberikan fotokopi aturan ini kepada bapak sekarang kalau bapak mau. Yang paling sederhana kalau saja terjadi pelanggaran, misalnya perkelahian menggunakan senjata, atau perkelahian keroyokan, atau perkelahian dilanjutkan diluar sekolah seperti yang bapak khawatirkan tadi, maka sangsinya dikeluarkan dari sekolah. Aturan ini ditanda tangani kepala sekolah. Di samping itu perkelahian atau duel itu harus dilakukan atas dasar sama-sama mau untuk berkelahi. Jadi tidak bisa satu orang murid memukul murid lain lalu mengajaknya duel. Harus melaporkan kepada koordinator ‘duel’ di kelas masing-masing bahwa dia, menantang duel si ‘X’ dari kelas anu. Koordinator menjajaki melalui koordinator di kelas lain apakah lawannya itu menerima tantangan. Perkelahian harus disaksikan koordinator duel. Sebelumnya koordinator duel mengetahui betul dan menanyakan untuk kemudian mengumumkan apakah yang akan berkelahi itu mempunyai keahlian bela diri tertentu. Ini maksudnya agar jangan perkelahian itu berjalan tidak seimbang dan salah satu jadi bulan-bulanan lawan berkelahinya. Dengan perangkat aturan seperti itu saya yakin tidak ada resiko bagi anak-anak yang berkelahi itu. Paling-paling kesakitan. Tidak mungkin akan cedera berat. Begitu pak.’
‘Ya, baiklah kalau begitu. Saya benar-benar sekedar ingin tahu. Bagaimana dengan meningkatnya animo berkelahi, sehingga hampir dua hari sekali terjadi duel? Apakah itu dianggap wajar atau dapat disimpulkan bahwa cara ini berhasil?’
‘Kalau menurut saya iya pak. Anak-anak muda seumur murid-murid itu ada yang memang senang melampiaskan emosi mereka dengan berkelahi. Sejauh pemantauan saya, mereka-mereka yang sudah berkelahi itu tidak ada yang sampai menjadi musuh satu sama lain. Bahwa banyak terjadi ‘duel’ mungkin karena ini masih baru. Banyak yang ingin coba-coba. Dan sekali lagi itu saya monitor terus. Itu juga sebabnya saya hampir selalu ada di sekolah pak. Biarpun bukan pada jam mengajar saya. Artinya saya juga merasa bertanggung jawab. Saya usahakan setiap hari pulang sesudah bubar sekolah.’
‘Ya….. terima kasih kalau begitu pak Mursyid. Saya mengerti, meskipun agak sedikit kaget karena baru sekali ini metoda ini saya temui.’
‘Jadi bapak sudah bisa menerimanya?’
‘Ya.. saya mengerti. Tapi saya masih belum seratus persen yakin metoda ini yang terbaik.’
‘Baiklah pak. Sekarang, sayapun ada yang ingin disampaikan.’
‘Silahkan pak Mursyid!’
‘Pertama-tama, saya yakin bahwa pak Umar seorang yang sangat demokratis. Ini saya amati selama rapat kemarin. Bapak bisa menerima pendapat yang berbeda dengan pendapat bapak. Yang kedua, langsung saja ke pokok masalah. Saya keberatan dengan diserukan azan di sekolah ini. Dulu sudah pernah juga ada di antara murid yang berinisiatif untuk melakukan azan, lalu saya larang. Saya sudah menjelaskan kepada bapak kepala sekolah alasan saya melarangnya. Baiklah saya ulangi sekali lagi sekarang. Sekolah ini sekolah umum, bukan sekolah agama, bukan pesantren. Di Madrasah Aliyah saja setahu saya tidak ada azan di sekolah. Kenapa saya larang? Karena tidak semua guru-guru di sini beragama Islam. Bapak sudah kenal kemarin dengan pak Situmorang, pak Wayan, ibu Grace. Tidak semua murid-murid di sini Islam. Ada sekitar lima puluh orang lebih yang beragama selain Islam. Dan yang melarangnya dulu adalah saya sendiri seperti saya katakan tadi. Dulu itu atas seizin bapak kepala sekolah. Sekarang dengan dilakukan lagi, saya benar-benar merasa bahwa kehormatan saya di depan murid dilanggar. Sepertinya wibawa saya di hadapan murid-murid dijatuhkan. Oleh karena itu, dengan hormat saya memohon agar bapak mempertimbangkan kembali untuk tetap memberlakukan peraturan sekolah umum di sekolah ini. Itu saja pak. Terima kasih.’
‘Ya. Baiklah. Maaf, pak Mursyid sendiri beragama apa, kalau boleh saya tahu?’
‘Saya juga Islam pak. Tapi mungkin toleransi saya terhadap agama lain lebih banyak. Saya rasa itu tidak ada salahnya.’
‘Sudah berapa lama bapak jadi guru di sini? Maaf, maksud saya begini. Apakah waktu mesjid sekolah itu dulu dibangun pak Mursyid sudah mengajar di sini?’
‘Ya..sudah cukup lama. Saya sudah mengajar di sini selama enam tahun. Mesjid itu dibangun empat tahun yang lampau. Saya tidak memprotes mesjidnya pak. Yang saya protes adalah azannya.’
‘Jadi pak Mursyid mau memisahkan antara mesjid dengan azan, begitu? Itu justru perlakuan semena-mena terhadap Islam. Mesjid dibangun begitu baik, dengan biaya besar, tapi hanya sekadar untuk jadi hiasan saja. Kegiatan agama tidak digalakkan di mesjid itu. Ini keliru sekali, pak Mursyid.’
‘Saya ulangi, pak. Mesjid dan shalat di mesjid itu tidak saya anggap bermasalah dan bukan pula saya menghalang-halanginya. Tapi kenapa mesti diadakan azan sementara kita berada dilingkungan sekolah umum?’
‘Kenapa memangnya dengan azan? Apakah mengganggu?’
‘Jelas mengganggu pak. Suaranya jelas mengganggu. Apalagi bagi orang yang bukan Islam. Yang tidak mengerti arti yang diserukan itu. Hal itu pasti mengganggu.’
‘Pak Mursyid pernah dapat keluhan dari guru lain yang bukan Islam karena merasa terganggu oleh azan itu? Maaf pak Suprapto, apakah ada guru-guru yang beragama lain mengeluhkan kepada bapak dengan keberadaan mesjid itu di sekolah ini?’
’Tidak ada, pak Umar. Mungkin yang dibayangkan oleh pak Mursyid ini kalau-kalau suatu saat nanti muncul protes itu. Selama ini sih belum ada.’
‘Memang belum ada, pak. Tapi jangan ditunggu sampai mereka mengeluh. Pada saat itu suasananya sudah akan lebih panas.’
‘Begini pak Mursyid. Azan itu aturan dalam agama Islam. Gunanya untuk menyeru orang-orang Islam untuk datang melaksanakan shalat berjamaah. Shalat itu rukun agama Islam. Tidak dikatakan Islam seseorang yang tidak melaksanakan rukun agama. Shalat berjamaah itu juga aturan yang sangat dianjurkan dalam Islam. Pak Mursyid mengatakan ini sekolah umum, tapi tetap ada pelajaran agama di sini. Kita juga berkewajiban mendidik murid-murid di sini untuk menjadi manusia yang faham dengan agamanya. Di sekolah ini juga diajarkan agama Islam. Pelajaran itu bukan sekedar untuk memenuhi jam pelajaran saja tapi benar-benar untuk mendidik murid-murid memahami makna dari shalat, dari puasa, dari zakat serta perintah agama lainnya. Perlu ada contoh kongkrit. Itu gunanya dibangun mesjid sekolah. Di sana bisa dipraktekkan apa-apa yang dipelajari di kelas, terutamanya shalat berjamaah itu. Jadi ringkasnya, azan itu diajarkan di sekolah, shalat itu diajarkan di sekolah, puasa begitu juga. Lalu dipraktekkan, dikerjakan secara nyata. Maka ada panggilan azan. Tadi pak Mursyid mengatakan di sini ada yang non Islam. Itu bukan alasan. Silahkan tanyakan kepada mereka apakah mereka keberatan, biar nanti saya yang menjelaskan bahwa azan itu bagian dari rangkaian ibadah agama Islam.’
‘Tapi kan bisa saja shalat dilakukan tanpa azan. Azan itu kan tidak wajib hukumnya pak?’
‘Baik. Pak Mursyid tahu mana yang wajib, mana yang tidak wajib bukan? Lalu sekarang saya tanyakan sejujurnya apa ada keharusan meninggalkan suatu amalan karena amalan itu tidak wajib? Apa ada aturan seperti itu? Sekali lagi saya ulangi apa ada protes dari guru-guru non Islam? Atau hanya karena perasaan toleransi pak Mursyid saja?’
‘Saya bukan orang Islam yang baik pak. Tapi sedikit-sedikit saya juga belajar tentang ibadah, mana yang wajib mana yang hanya sekadar anjuran saja atau yang sunah. Sementara jika yang sunah itu cenderung menuai protes, kenapa mesti dipaksakan? Guru-guru non Islam belum ada yang protes, tapi saya yakin suatu saat mereka akan protes?’
‘Dasarnya mereka mau protes apa? Ini merupakan tata cara peribadatan dalam agama Islam, bagaimana mungkin diprotes? Coba perhatikan. Di kompleks BTN tempat saya tinggal. Beragam etnis penghuninya. Bermacam-macam pula agama dan keyakinannya. Di sana kami punya mesjid tempat shalat wajib lima waktu. Lima kali sehari dikumandangkan azan dari mesjid itu. Tidak ada masalah. Tidak ada protes. Lagi pula apa yang salah dengan suara azan itu? Orang diluar Islam boleh mengajukan protes kalau memang bisa membuktikan bahwa mereka terganggu. Tapi cobalah yang agak wajar cara bereaksinya. Agak wajar cara berfikirnya. Dan pak Mursyid coba nilai sejujurnya. Selama ini, dan yang saya amati pada hari pertama saya di sini, sedikit sekali yang shalat di mesjid itu. Tapi waktu dikumandangkan azan bukan hanya murid-murid, tapi karyawan tata usaha, guru-guru, semua berdatangan. Jangan katakan saya yang menyuruh mereka datang dengan meminta mereka satu persatu agar hadir ke mesjid itu, karena mereka datang memenuhi panggilan azan. Ini sesuai dengan guna dan makna azan itu untuk menghimbau orang melaksanakan shalat. Dan ini diajarkan dalam pelajaran agama Islam.’
‘Dan Islam kan juga mengajarkan agar kita toleransi dengan agama lain, benar kan pak?’
‘Benar. Tapi apa hubungannya? Apa karena saya toleransi lalu saya tidak mengerjakan aturan agama saya. Karena saya toleransi dengan agama lain saya tidak usah shalat? Atau kalaupun saya shalat saya lakukan sembunyi-sembunyi, begitu? Dimana logikanya?’
‘Maksud saya, di tempat umum kita berprilaku umum. Di rumah kita masing-masing baru kita lakukan ibadah sebaik-baiknya.’
‘Wah, ini ilmu dari mana pak Mursyid? Kalau pikiran pak Mursyid ini diikuti, semua mesjid harus ditutup, begitu juga semua tempat ibadah lain, karena umumnya sarana-sarana ibadah itu berdiri di tempat umum. Maaf, jadi agak menjurus pertanyaan saya, pak Mursyid di rumah mengerjakan shalat tidak?’
‘Itu kan urusan pribadi saya dengan Tuhan, pak.’
‘Saya tahu itu urusan pribadi pak Mursyid. Tapi berhubungan dengan apa yang kita sedang bahas. Saya sekedar bertanya sejujurnya, apakah pak Mursyid mengerjakan shalat di rumah?’
‘Kalau saya bilang tidak, memangnya kenapa, pak?’
‘Itu lebih mudah saya pahami. Berarti pak Mursyid tidak faham dengan agama Islam, meski mengakunya Islam.’
‘Apa hubungannya itu, pak?’
‘Kalau pak Mursyid faham dengan agama Islam, pak Mursyid tidak akan meninggalkan shalat. Dan tidak mungkin muncul di kepala pak Mursyid pemikiran bahwa azan mengganggu ketertiban.’
‘Saya, belajar juga sedikit-sedikit mengenai agama ini. Rasanya tidak begitu betul pak. Tuhan itu kan Maha Adil Maha Bijaksana, pak.’
‘Jangan belajarnya sedikit-sedikit, pak. Belajar yang banyak. Tuhan itu, Allah Subhanahu wata’ala itu, Allah Yang Maha Suci dan Maha Tinggi itu, Maha Adil, Maha Bijaksana, Maha Kuasa. Dia yang memerintahkan tata cara peribadatan kepada Nya. Dia yang mengajarkan ketentuan-ketentuan agama, untuk ditegakkan. Jangan kita yang baru belajar sedikit-sedikit mau merubah apa-apa yang di tetapkan Allah lalu mengatakan bahwa Tuhan itu Maha Bijaksana.’
‘Apakah Allah yang memerintahkan azan itu, begitu pak?’
‘Allah yang memerintahkan shalat, perintah ini ada di dalam Al Quran. Allah yang memerintahkan shalat itu dilakukan berjamaah melalui lisan nabi Muhammad SAW. Allah yang memerintahkan mengumandangkan azan itu untuk memanggil jamaah shalat melalui lisan nabi Muhammad SAW. Tapi sekarang pak Mursyid yang melarangnya. Pak Mursyid yang mengaku Islam, melarangnya karena merasa… saya ulangi… karena merasa azan itu mengganggu kepada mereka yang bukan Islam. Padahal pak Mursyid belum pernah menanyakan kepada mereka apakah mereka terganggu atau tidak. Dan seandainya mereka terganggupun, alih-alih menerangkan makna azan sebagai bagian ibadat, pak Mursyid maunya azannya saja ditiadakan. Bahkan lebih hebat lagi, agar shalat itu cukup dilakukan di rumah saja, jangan di tempat umum. Padahal Allah menetapkan melalui lisan nabi Muhammad SAW bahwa bumi yang luas ini adalah tempat sujud, artinya tempat menegakkan shalat bagi setiap Muslim.’
‘Ya, sudahlah pak. Kalau bapak mau merubah kebijaksanaan sekolah ini terserah bapak. Sebentar lagi kan bapak jadi kepala sekolah di sini.’
‘Baik, kalau memang mau disudahi sampai di sini. Mengenai kebijaksanaan, saya akan mempertanggung jawabkan setiap perubahan, kalau memang saya melakukan perubahan. Bukan saja kepada sesama guru, kepada murid tapi yang lebih utama, kepada Allah SWT.’
‘Apakah, itu berarti bapak akan merubah sekolah ini menjadi pesantren barangkali?’
‘Tidak. Sekolah ini milik pemerintah. Pemerintah mempunyai garis besar panduan bagaimana menjalankan kegiatan di sekolah ini. Itu akan saya ikuti.’
‘Apakah mengumandangkan azan juga di sebutkan dalam garis besar itu, pak?’
‘Tidak. Namanya juga garis besar, jadi tidak mungkin mengatur sampai yang kecil-kecil seperti itu. Namun diluar itu kita bisa melakukan aturan-aturan lain yang dirasa perlu asal tidak bertabrakan dengan garis besar tadi, selama itu bisa dipertanggung jawabkan.’
‘Ya.. baik pak. Saya permisi dulu deh. Maaf pak Suprapto.’
*****
SANG AMANAH (25)
(25)
6. Jajak Pendapat
Sebelum lonceng masuk dibunyikan ketua OSIS dan sekretarisnya sudah berhasil menghubungi semua ketua kelas untuk hadir rapat nanti pada saat istirahat pertama. Desas desus bahwa akan ada jajak pendapat sebenarnya sudah mulai beredar di kalangan sebagian murid-murid.
Pada waktu jam istirahat pertama, seperti yang dijadwalkan semua ketua-ketua kelas hadir di ruang serba guna. Ketua OSIS memberi tahukan tujuan rapat tersebut;
‘Kemarin berlangsung rapat persiapan acara perpisahan bapak kepsek. Bapak Hardjono sebagai perancang acara menyebutkan bahwa salah satu acaranya berupa acara bebas dengan dangdut dan joged. Acara bebas seperti ini mendapat kritikan dan protes dari salah seorang guru yaitu ibu Sarah, yang menilainya kurang pantas. Sebenarnya beberapa orang guru yang ikut memberikan pendapat cenderung setuju dengan acara tersebut. Tinggal ibu Sarah sendiri yang tetap teguh pada pendiriannya. Kemudian ketua rapat menanyakan pendapat bapak pengganti kepala sekolah. Ternyata dia sependapat dengan ibu Sarah. Namun setelah diskusi berlanjut, beliau ini seperti menemukan suatu jalan untuk mengetahui seberapa besar minat murid-murid dengan acara dangdut dan joged itu. Caranya adalah dengan mengadakan jajak pendapat dikalangan semua murid untuk mengetahui apakah murid-murid menginginkannya atau tidak. Jawaban dari jajak pendapat itu akan kita serahkan segera setelah hasilnya didapat. Oleh karena itu kepada setiap kelas diminta untuk melaksanakannya pada waktu istirahat kedua nanti. Adapun caranya adalah dengan menggoreskan tanda di papan tulis. Papan tulis dibagi dua bagian. Mereka yang setuju menggores di sebelah kanan dan yang tidak setuju menggores di sebelah kiri. Ketua kelas dan wakil ketua mengawasi pemberian suara. Agar pemberian suara tidak dipengaruhi oleh teman, maka semua murid berbaris diluar kelas sebelum memberikan suara dan kembali keluar sesudah selesai. Apakah ada pertanyaan?’
’Yak…ada. Apa hubungannya sih acara ‘dangdut and joged’ dengan pendapat kita-kita?’
‘Hubungannya adalah untuk mengetahui yang getol banget sama acara joged ini guru-guru apa murid-murid? Kalau nanti ternyata sebagian besar murid setuju diadakan acara tersebut maka akan diadakan. Begitu pula sebaliknya. Untuk kamu-kamu ketahui, guru-gurupun akan ikut memberikan suara.’
‘Jadi kalau yang setuju lebih banyak maka acara itu dijalanin? Boleh juga nih ide jajak pendapat kayak gini. Abis ini gue mo usul agar acara ‘duel’ dijajakpendapatkan lagi juga.’
‘Itu entar belakangan. Sekarang yang ini dulu. OK!… masih ada yang kurang jelas nggak nih?’
‘Kenapa mesti repot amat sih Mister Chairman? Mesti masuk kelas satu-satu, nyonteng di papan tulis segala? Kenapa nggak disuruh aja ngacung siapa yang suka terus siapa yang nggak suka, gantian. Tinggal dihitung. Beres kan?’
‘Nggak. Kalau caranya gitu entar nggak serius. Pasti becanda.’
‘Ya belum tentu. Gimana bisa mastiin cara kayak gitu nggak serius?’
‘Ah..yakin dah. Lo tanyain siapa yang setuju dia ngacung, lo tanyain siapa yang nggak setuju dia ngacung lagi. Kan pusing?’
‘Ya itu kan belum dibuktiin.’
‘Gini aja deh. Ini kan sesuatu yang baru. Kita coba dulu aja deh. Kalau ternyata entar emang repot…. emang tidak bisa dipertanggung jawabkan…baru kita cari cara lain.’
‘Ya udah. Coba aja lihat.’
‘Untuk pelaksanaannya masih ada pertanyaan nggak nih?’
Ternyata tidak ada lagi pertanyaan.
‘Kalau nggak, ya udah. Jadi kamu-kamu mengadakannya serentak entar pas istirahat kedua ya? Begitu sudah ada hasilnya ditulis di kertas, ditanda tangani ketua kelas. Hasilnya harus dilihat semua anak-anak biar seru. Biar ‘legitimate’ kata orang politik. Terus diserahin ke gue atau ke Aris. Kita akan kumpulin hasil semua kelas untuk dilaporkan ke ibu ketua panitia, ibu Purwati. OK??!!’
‘Hati-hati aja Mister Chairman. Gue baru ingat nih. Istirahat kedua tuh waktu shalat. Nggak tau kemarin ‘new’ kepsek azan dan rakyat berbondong-bondong pergi shalat? Mister Chairman bisa disangka macem-macem ntar. Nggak takut?’
‘Lha…. ini kan waktunya sebentar. Pas masuk lo-lo umumin aja langsung. Entar pas istirahat kedua baru dilaksanain. Kalau emang ada yang shalat lo-lo tungguin aja bentar!’
‘Kenapa mesti buru-buru sih emang? Kan masih banyak waktu.’
‘Ya biar cepat tuntas. Itu aja. OK yak?’
‘Entar dulu, gue mau nanya nih. Boleh kampanye nggak nih? Misalnya gue setuju diadakan terus gue kampanye ke anak-anak boleh nggak?’
‘Nggak ada aturan yang melarangnya kok. Lagian seberapa hebat sih lo kampanye biar anak-anak mau ngikut kemauan lo?’
‘Jadi pada pokoknya boleh, yak?’
‘Gue bilang sih terserah lo.’
‘Jadi OK nih ya?’
Sesuai instruksi ketua OSIS semua ketua-ketua kelas pun sibuk. Memberikan penjelasan singkat tentang rencana jajak pendapat kepada semua murid di kelasnya masing-masing. Reaksi anak-anak ternyata cukup positif. Mereka umumnya menganggap ini sebagai sebuah permainan. Begitu lonceng istirahat kedua dibunyikan murid-murid keluar dan sebagian besar berkumpul. Seterusnya dipanggil satu-satu oleh ketua kelas untuk memberikan pendapat dengan cara yang sudah ditetapkan. Hasilnya sangat mengejutkan bagi pencinta joged. 78% tidak setuju acara itu diadakan. Di empat belas kelas, yang tidak setuju sangat dominan. Ada tiga kelas, semua kelas tiga IPA, yang dimenangkan pro dangdut. Disatu kelas tiga IPS yang setuju dan yang tidak setuju berjumlah sama.
Hasil ini dilaporkan kepada ibu ketua panitia. Seperti yang mungkin sudah bisa diduga, di kalangan guru-guru mayoritas memilih ‘setuju’. Tentu guru-guru itu akan kecewa dengan hasil yang diperoleh dari suara murid-murid.
*****
Begitu masuk waktu shalat, seperti kemarin, berkumandang azan dari mesjid sekolah. Kali ini Arif yang azan. Pak Umar sudah pula berada di mesjid. Pak Umar yang menyuruh Arif azan. Tapi ternyata murid-murid tidak sebanyak kemarin yang datang untuk shalat. Hal ini agak mengherankan pak Umar maka dia bertanya kepada salah satu anak. Anak itu memberi tahukan bahwa teman-temannya sedang mengikuti ‘referendum’, istilah seperti yang dijelaskan oleh ketua kelasnya. Pak Umar tersenyum mendengar penjelasan itu. Semua karyawan Tata Usaha hadir seperti kemarin. Guru-guru lebih banyak. Mereka shalat berjamaah seperti kemarin.
Sementara itu pak Mursyid semakin tidak senang. Yang melarang azan sebelum ini adalah dia sendiri. Sekarang rasanya wibawanya dibuat jatuh. Dia tidak bisa terima hal ini. Sebentar lagi dia harus menghadap pak Umar untuk protes. Dia yakin bahwa dia benar. Bahwa sekolah ini adalah sekolah umum dan karenanya harus memakai peraturan umum. Azan di sekolah umum adalah tidak umum. Harus dihentikan. Dulu waktu pak Suprapto menegornya dia cukup memberikan alasan seperti itu dan pak Suprapto akhirnya setuju azan di mesjid sekolah dihentikan.
Kentara sekali bahwa pak Mursyid sedang jengkel. Mukanya ditekuk dan matanya memerah. Pak Kus yang menyapanya dengan selamat siang, dijawab pendek dan ketus. Tapi kemudian dia kembali sadar.
‘Saya merasa benar-benar dipermalukan oleh azan itu!’ katanya.
‘Lho, kenapa memangnya pak Mursyid.?’ Pak Kus berlagak tidak tahu.
‘Coba pikir! Ini sekolah umum. Kenapa tiba-tiba mau dirubah menjadi pesantren? Dulu saya larang anak-anak azan karena saya pikir di sekolah ini kita harus menegakkan peraturan yang berlaku umum. Oleh kepala sekolah yang lama sudah disetujui. Sekarang? Tiba-tiba sama calon kepala sekolah itu diadakan lagi. Dimana harga diri saya di depan murid-murid?’
‘Yaa…nggak seserius itulah pak Mursyid. Itukan bukan maksudnya kepsek yang baru itu mau menjatuhkan wibawa pak Mursyid.’
‘Bagaimana nggak. Anak-anak kan bisa mencibir kepada saya sekarang.’
‘Ah saya nggak yakin. Nggak mungkin itu.’
‘Kok pak Kus kayaknya membelain benar sih? Kalau pak Kus barangkali memang tidak keberatan dengan azan itu ya?’
‘Kalau saya sih….. ya jelas enggak keberatan. Apa mengganggunya sih? Siapa yang dirugikan?’
‘Tidak ada yang dirugikan sekarang. Tapi suatu saat ini bisa jadi pemicu kerusuhan. Ini masalah sensitif.’
‘Wah! Masak sih? Logikanya pak Mursyid bagaimana sih?’
‘Begini, pak Kus. Sampeyan sadarkan, bahwa tidak semua murid di sini beragama Islam. Tidak semua guru-guru beragama Islam. Apa kata mereka yang non Islam kalau yang Islam selalu semena-mena? Mereka pasti merasa terpinggirkan. Mereka pasti merasa dirugikan. Suatu saat mereka tidak hanya protes tapi dapat saja membalas dengan hal yang buruk. Apa itu nggak berbahaya?’
‘He..he..he.. Pak Mursyid terlalu membesar-besarkan masalah. Jujur saja. Saya orang Islam meski tidak menjalankan perintah agama ini dengan baik. Tapi saya tidak merasa bahwa melakukan azan, terus shalat, terus puasa itu bisa dianggap semena-mena terhadap orang bukan Islam.’
‘Wah, sampeyan jangan memelintir begitu. Saya tidak mengatakan shalat dan puasa termasuk semena-mena. Saya juga Islam. Saya mungkin juga seperti pak Kus. Tapi dengan setiap kali meneriakkan azan melalui pengeras suara itu, jangankan orang non Islam, saya saja merasa terganggu.’
‘Ya… terganggunya kenapa? Karena bising? Masak suara segitu itu bising?’
‘Jelas bising. Jelas mengganggu. Dan ini sekolah. Ini bukan pesantren.’
‘Lha kan itu azannya di mesjid kok. Mesjid sekolah.’
‘Ya itu dia. Mesjid sekolah. Di tengah-tengah kompleks sekolah. Silahkan saja shalat. Kan nggak mesti pakai azan.’
‘Wah begini aja deh pak Mursyid. Daripada kita yang ramai di sini. Mendingan pak Mursyid protes saja langsung ke pak kep sek yang baru itu.’
6. Jajak Pendapat
Sebelum lonceng masuk dibunyikan ketua OSIS dan sekretarisnya sudah berhasil menghubungi semua ketua kelas untuk hadir rapat nanti pada saat istirahat pertama. Desas desus bahwa akan ada jajak pendapat sebenarnya sudah mulai beredar di kalangan sebagian murid-murid.
Pada waktu jam istirahat pertama, seperti yang dijadwalkan semua ketua-ketua kelas hadir di ruang serba guna. Ketua OSIS memberi tahukan tujuan rapat tersebut;
‘Kemarin berlangsung rapat persiapan acara perpisahan bapak kepsek. Bapak Hardjono sebagai perancang acara menyebutkan bahwa salah satu acaranya berupa acara bebas dengan dangdut dan joged. Acara bebas seperti ini mendapat kritikan dan protes dari salah seorang guru yaitu ibu Sarah, yang menilainya kurang pantas. Sebenarnya beberapa orang guru yang ikut memberikan pendapat cenderung setuju dengan acara tersebut. Tinggal ibu Sarah sendiri yang tetap teguh pada pendiriannya. Kemudian ketua rapat menanyakan pendapat bapak pengganti kepala sekolah. Ternyata dia sependapat dengan ibu Sarah. Namun setelah diskusi berlanjut, beliau ini seperti menemukan suatu jalan untuk mengetahui seberapa besar minat murid-murid dengan acara dangdut dan joged itu. Caranya adalah dengan mengadakan jajak pendapat dikalangan semua murid untuk mengetahui apakah murid-murid menginginkannya atau tidak. Jawaban dari jajak pendapat itu akan kita serahkan segera setelah hasilnya didapat. Oleh karena itu kepada setiap kelas diminta untuk melaksanakannya pada waktu istirahat kedua nanti. Adapun caranya adalah dengan menggoreskan tanda di papan tulis. Papan tulis dibagi dua bagian. Mereka yang setuju menggores di sebelah kanan dan yang tidak setuju menggores di sebelah kiri. Ketua kelas dan wakil ketua mengawasi pemberian suara. Agar pemberian suara tidak dipengaruhi oleh teman, maka semua murid berbaris diluar kelas sebelum memberikan suara dan kembali keluar sesudah selesai. Apakah ada pertanyaan?’
’Yak…ada. Apa hubungannya sih acara ‘dangdut and joged’ dengan pendapat kita-kita?’
‘Hubungannya adalah untuk mengetahui yang getol banget sama acara joged ini guru-guru apa murid-murid? Kalau nanti ternyata sebagian besar murid setuju diadakan acara tersebut maka akan diadakan. Begitu pula sebaliknya. Untuk kamu-kamu ketahui, guru-gurupun akan ikut memberikan suara.’
‘Jadi kalau yang setuju lebih banyak maka acara itu dijalanin? Boleh juga nih ide jajak pendapat kayak gini. Abis ini gue mo usul agar acara ‘duel’ dijajakpendapatkan lagi juga.’
‘Itu entar belakangan. Sekarang yang ini dulu. OK!… masih ada yang kurang jelas nggak nih?’
‘Kenapa mesti repot amat sih Mister Chairman? Mesti masuk kelas satu-satu, nyonteng di papan tulis segala? Kenapa nggak disuruh aja ngacung siapa yang suka terus siapa yang nggak suka, gantian. Tinggal dihitung. Beres kan?’
‘Nggak. Kalau caranya gitu entar nggak serius. Pasti becanda.’
‘Ya belum tentu. Gimana bisa mastiin cara kayak gitu nggak serius?’
‘Ah..yakin dah. Lo tanyain siapa yang setuju dia ngacung, lo tanyain siapa yang nggak setuju dia ngacung lagi. Kan pusing?’
‘Ya itu kan belum dibuktiin.’
‘Gini aja deh. Ini kan sesuatu yang baru. Kita coba dulu aja deh. Kalau ternyata entar emang repot…. emang tidak bisa dipertanggung jawabkan…baru kita cari cara lain.’
‘Ya udah. Coba aja lihat.’
‘Untuk pelaksanaannya masih ada pertanyaan nggak nih?’
Ternyata tidak ada lagi pertanyaan.
‘Kalau nggak, ya udah. Jadi kamu-kamu mengadakannya serentak entar pas istirahat kedua ya? Begitu sudah ada hasilnya ditulis di kertas, ditanda tangani ketua kelas. Hasilnya harus dilihat semua anak-anak biar seru. Biar ‘legitimate’ kata orang politik. Terus diserahin ke gue atau ke Aris. Kita akan kumpulin hasil semua kelas untuk dilaporkan ke ibu ketua panitia, ibu Purwati. OK??!!’
‘Hati-hati aja Mister Chairman. Gue baru ingat nih. Istirahat kedua tuh waktu shalat. Nggak tau kemarin ‘new’ kepsek azan dan rakyat berbondong-bondong pergi shalat? Mister Chairman bisa disangka macem-macem ntar. Nggak takut?’
‘Lha…. ini kan waktunya sebentar. Pas masuk lo-lo umumin aja langsung. Entar pas istirahat kedua baru dilaksanain. Kalau emang ada yang shalat lo-lo tungguin aja bentar!’
‘Kenapa mesti buru-buru sih emang? Kan masih banyak waktu.’
‘Ya biar cepat tuntas. Itu aja. OK yak?’
‘Entar dulu, gue mau nanya nih. Boleh kampanye nggak nih? Misalnya gue setuju diadakan terus gue kampanye ke anak-anak boleh nggak?’
‘Nggak ada aturan yang melarangnya kok. Lagian seberapa hebat sih lo kampanye biar anak-anak mau ngikut kemauan lo?’
‘Jadi pada pokoknya boleh, yak?’
‘Gue bilang sih terserah lo.’
‘Jadi OK nih ya?’
Sesuai instruksi ketua OSIS semua ketua-ketua kelas pun sibuk. Memberikan penjelasan singkat tentang rencana jajak pendapat kepada semua murid di kelasnya masing-masing. Reaksi anak-anak ternyata cukup positif. Mereka umumnya menganggap ini sebagai sebuah permainan. Begitu lonceng istirahat kedua dibunyikan murid-murid keluar dan sebagian besar berkumpul. Seterusnya dipanggil satu-satu oleh ketua kelas untuk memberikan pendapat dengan cara yang sudah ditetapkan. Hasilnya sangat mengejutkan bagi pencinta joged. 78% tidak setuju acara itu diadakan. Di empat belas kelas, yang tidak setuju sangat dominan. Ada tiga kelas, semua kelas tiga IPA, yang dimenangkan pro dangdut. Disatu kelas tiga IPS yang setuju dan yang tidak setuju berjumlah sama.
Hasil ini dilaporkan kepada ibu ketua panitia. Seperti yang mungkin sudah bisa diduga, di kalangan guru-guru mayoritas memilih ‘setuju’. Tentu guru-guru itu akan kecewa dengan hasil yang diperoleh dari suara murid-murid.
*****
Begitu masuk waktu shalat, seperti kemarin, berkumandang azan dari mesjid sekolah. Kali ini Arif yang azan. Pak Umar sudah pula berada di mesjid. Pak Umar yang menyuruh Arif azan. Tapi ternyata murid-murid tidak sebanyak kemarin yang datang untuk shalat. Hal ini agak mengherankan pak Umar maka dia bertanya kepada salah satu anak. Anak itu memberi tahukan bahwa teman-temannya sedang mengikuti ‘referendum’, istilah seperti yang dijelaskan oleh ketua kelasnya. Pak Umar tersenyum mendengar penjelasan itu. Semua karyawan Tata Usaha hadir seperti kemarin. Guru-guru lebih banyak. Mereka shalat berjamaah seperti kemarin.
Sementara itu pak Mursyid semakin tidak senang. Yang melarang azan sebelum ini adalah dia sendiri. Sekarang rasanya wibawanya dibuat jatuh. Dia tidak bisa terima hal ini. Sebentar lagi dia harus menghadap pak Umar untuk protes. Dia yakin bahwa dia benar. Bahwa sekolah ini adalah sekolah umum dan karenanya harus memakai peraturan umum. Azan di sekolah umum adalah tidak umum. Harus dihentikan. Dulu waktu pak Suprapto menegornya dia cukup memberikan alasan seperti itu dan pak Suprapto akhirnya setuju azan di mesjid sekolah dihentikan.
Kentara sekali bahwa pak Mursyid sedang jengkel. Mukanya ditekuk dan matanya memerah. Pak Kus yang menyapanya dengan selamat siang, dijawab pendek dan ketus. Tapi kemudian dia kembali sadar.
‘Saya merasa benar-benar dipermalukan oleh azan itu!’ katanya.
‘Lho, kenapa memangnya pak Mursyid.?’ Pak Kus berlagak tidak tahu.
‘Coba pikir! Ini sekolah umum. Kenapa tiba-tiba mau dirubah menjadi pesantren? Dulu saya larang anak-anak azan karena saya pikir di sekolah ini kita harus menegakkan peraturan yang berlaku umum. Oleh kepala sekolah yang lama sudah disetujui. Sekarang? Tiba-tiba sama calon kepala sekolah itu diadakan lagi. Dimana harga diri saya di depan murid-murid?’
‘Yaa…nggak seserius itulah pak Mursyid. Itukan bukan maksudnya kepsek yang baru itu mau menjatuhkan wibawa pak Mursyid.’
‘Bagaimana nggak. Anak-anak kan bisa mencibir kepada saya sekarang.’
‘Ah saya nggak yakin. Nggak mungkin itu.’
‘Kok pak Kus kayaknya membelain benar sih? Kalau pak Kus barangkali memang tidak keberatan dengan azan itu ya?’
‘Kalau saya sih….. ya jelas enggak keberatan. Apa mengganggunya sih? Siapa yang dirugikan?’
‘Tidak ada yang dirugikan sekarang. Tapi suatu saat ini bisa jadi pemicu kerusuhan. Ini masalah sensitif.’
‘Wah! Masak sih? Logikanya pak Mursyid bagaimana sih?’
‘Begini, pak Kus. Sampeyan sadarkan, bahwa tidak semua murid di sini beragama Islam. Tidak semua guru-guru beragama Islam. Apa kata mereka yang non Islam kalau yang Islam selalu semena-mena? Mereka pasti merasa terpinggirkan. Mereka pasti merasa dirugikan. Suatu saat mereka tidak hanya protes tapi dapat saja membalas dengan hal yang buruk. Apa itu nggak berbahaya?’
‘He..he..he.. Pak Mursyid terlalu membesar-besarkan masalah. Jujur saja. Saya orang Islam meski tidak menjalankan perintah agama ini dengan baik. Tapi saya tidak merasa bahwa melakukan azan, terus shalat, terus puasa itu bisa dianggap semena-mena terhadap orang bukan Islam.’
‘Wah, sampeyan jangan memelintir begitu. Saya tidak mengatakan shalat dan puasa termasuk semena-mena. Saya juga Islam. Saya mungkin juga seperti pak Kus. Tapi dengan setiap kali meneriakkan azan melalui pengeras suara itu, jangankan orang non Islam, saya saja merasa terganggu.’
‘Ya… terganggunya kenapa? Karena bising? Masak suara segitu itu bising?’
‘Jelas bising. Jelas mengganggu. Dan ini sekolah. Ini bukan pesantren.’
‘Lha kan itu azannya di mesjid kok. Mesjid sekolah.’
‘Ya itu dia. Mesjid sekolah. Di tengah-tengah kompleks sekolah. Silahkan saja shalat. Kan nggak mesti pakai azan.’
‘Wah begini aja deh pak Mursyid. Daripada kita yang ramai di sini. Mendingan pak Mursyid protes saja langsung ke pak kep sek yang baru itu.’
Saturday, October 18, 2008
SANG AMANAH (24)
(24)
‘Justru itu, saya harap kita bisa mengambil keputusan sekarang.’
‘Maaf, maksud saya seandainyapun kita lakukan ‘voting’ dan seandainya lagi yang tidak setuju yang dominan, bagaimana kita menjelaskan kepada anak-anak?’
‘Maaf, ibu ketua. Boleh saya berbicara lagi?’ pak Umar mengangkat tangan.
‘Tentu, pak. silahkan!’
‘Saya sangat menghormati demokrasi dalam rapat kita ini. Saya sangat menghargainya. Terlepas dari ketidak setujuan saya maupun ibu Sarah, saya sependapat dengan kekhawatiran bapak Hardjono sebentar ini. Jalan keluarnya saya rasa, atau saya usul, lakukan jajak pendapat dengan melibatkan seluruh murid-murid. Kita mintakan kepada OSIS untuk melaksanakannya. Jajak pendapat bisa dilakukan di masing-masing kelas. Cukup dengan memberi tanda di sebelah kanan papan tulis bagi yang suka, dan di sebelah kiri bagi yang tidak suka. Dengan cepat dan mudah kita akan tahu apa hasilnya. Jajak pendapat dilakukan juga dikalangan guru-guru.’
‘Wah. Ide yang sangat baik saya kira. Bagaimana bapak-bapak dan ibu-ibu yang lain?’
Ternyata tidak ada yang berkomentar. Tidak ada satupun peserta rapat bisa memberikan pendapat setuju atau tidak setuju.
‘Wah, bagaimana ini kok tidak ada suara?’
‘Relevansinya apa kira-kira melibatkan murid-murid untuk menentukan acara seperti ini?’ pak Sutisna nyeletuk.
‘Bagaimana, pak Umar. Mungkin bisa bapak jelaskan?’
‘Relevansinya, untuk mengetahui siapa sebenarnya yang ingin diadakan acara ‘joged’ ini, guru-guru atau termasuk murid-murid. Di samping mengajar murid-murid menghargai demokrasi dengan menghormati hasil jajak pendapat. Seandainya yang setuju acara itu diadakan yang menang, yang tidak setuju bisa menghargai, begitu juga sebaliknya.’
‘Cukup jelas kalau begitu, pak. Bapak Tisna bisa menerima?’
Pak Sutisna hanya mengangguk.
‘Jadi bagaimana bapak-bapak? Bisa kita setujui usulan pak Umar ini?’
Tetap tidak ada reaksi. Mungkin masing-masing khawatir hasil jajak pendapat dengan melibatkan murid nanti tidak sesuai dengan keinginannya.
‘Kalau begitu saya akan lakukan penjajakan langsung untuk mengetahui setuju atau tidaknya kita diadakan jajak pendapat dengan melibatkan murid-murid. Pertama saya harapkan bagi bapak-bapak dan ibu-ibu yang setuju diadakan jajak pendapat itu, tolong mengangkat tangan…. OSIS juga diminta memberikan suara sesuai aspirasinya…..! Silahkan bapak-bapak dan ibu-ibu saya segera akan menghitungnya….. Baik saya akan hitung……..ada dua puluh orang yang setuju. Terima kasih…. Berikutnya yang tidak setuju……..dua belas orang…… Sebentar, …. Kita ada 35 orang..berarti ada tiga orang yang abstain… Mohon yang abstain juga ikut angkat tangan….. Lho kok cuma dua orang? Berarti kurang satu…’
‘Kan ibu ketua sendiri satunya lagi.’
‘Oh iya… baiklah. Saya tentu saja abstain juga….’
‘Baik, saya pikir kita putuskan demikian. Dan kepada OSIS diminta untuk melakukan jajak pendapat tersebut segera. Saya rasa cukup dengan pertanyaan; ‘SETUJUKAH SAUDARA JIKA PADA ACARA PERPISAHAN BP KEPSEK TGL 3 SEPTEMBER MENDATANG DIADAKAN ACARA ‘DANGDUT’ DAN ‘JOGED’?. Bisa dilaksanakan kira-kira pengurus OSIS?’
‘Bisa buk.’
‘Baiklah, dengan demikian urusan acara kita anggap selesai, sedang keputusan acara joged, menunggu hasil jajak pendapat. Dengan demikian kita meningkat ke pokok bahasan berikutnya yaitu mengenai biaya. Perlu kita ketahui, saya dapat titipan dari bapak kepala sekolah, bapak Suprapto bahwa beliau tidak ingin biaya ini dibebankan kepada guru-guru maupun kepada murid-murid. Kalau ada yang ingin menyumbang sukarela, silahkan, tapi tidak diwajibkan. Menurut pak Suprapto ada uang sebanyak dua juta rupiah dari dana ‘taktis’ sekolah yang bisa digunakan untuk menunjang acara ini, namun mungkin uang sejumlah itu tidak akan mencukupi. Untuk mengetahui rencana biaya mungkin kita bisa minta penjelasan dari bapak Kus dan ibu Hartini, dan mungkin juga dari bapak Sutisna untuk hal yang menyangkut perlengkapan. Silahkan bapak-bapak dan ibu-ibu.’
‘Baik ibu ketua,’ pak Kus yang memberikan penjelasan.
‘Biaya yang kami hitung pertama-tama adalah biaya untuk konsumsi. Dengan asumsi kita hanya menyediakan makanan kecil, untuk menghemat biaya. Maksudnya kue-kue, mungkin dua atau tiga potong dan satu gelas Aqua. Biaya per kotak kami perkirakan dua ribu lima ratus rupiah dan jumlah yang harus disediakan termasuk untuk setiap murid, berarti untuk hampir delapan ratus orang. Dengan demikian hanya untuk konsumsi makanan kecil itu saja sudah dua juta rupiah. Berikutnya untuk perlengkapan kami minta pak Sutisna yang menjelaskan.’
‘Terima kasih pak Kus. Dari perlengkapan yang paling memerlukan dana adalah penyewaan alat-alat band. Seperti biasa kita menyewa alat-alat musik itu untuk pemakaian satu hari yang sewanya lima ratus ribu rupiah. Sudah termasuk ongkos transport. Di samping itu kita perlu bahan-bahan untuk dekorasi panggung, saya rasa cukup dengan biaya dua ratus ribu rupiah. Tentu saja seandainya uangnya berlebih akan kita kembalikan kepada panitia. Ini dengan asumsi acara dilaksanakan didalam ruangan. Karena kalau di luar ruangan kita akan memerlukan pula tenda minimal untuk panggungnya sendiri sebagai antisipasi kalau hari hujan. Mengingat acara sudah diputuskan akan dilaksanakan di ruangan, hal ini tidak perlu lagi dibahas. Berikutnya adalah biaya untuk dokumentasi, untuk pembelian film untuk foto, berikut ongkos cuci cetak berikut album. Rencananya satu album akan di serahkan kepada bapak Suprapto sebagai kenang-kenangan. Biayanya mungkin agak besar yakni tiga ratus ribu rupiah. Saya rasa itu saja.’
‘Terima kasih pak Sutisna. Jadi dengan demikian, biaya yang diperlukan adalah tiga juta rupiah. Kami tidak menambahkan dengan biaya tak terduga. Itu saja laporannya sementara ibu ketua.’
‘Jadi saya ulangi, konsumsi adalah makanan ringan saja. Maaf bagaimana kalau umpama ada yang mensponsori dan konsumsinya dirubah menjadi makan siang yang sederhana seperti nasi kotak yang kita makan siang ini? Ini baru sekedar wacana saja. Silahkan bapak-bapak yang lain ikut juga memikirkan!’
‘Saya jawab langsung, ibu ketua. Itu artinya, kalau nasi kotaknya seharga enam ribu rupiah, maka untuk nasi kotak saja perlu biaya empat juta delapan ratus ribu rupiah. Jadi keseluruhan biaya bisa mencapai hampir enam juta. Jadi perlu dipikir-pikirkan betul,’ kata ibu Hartini.
‘Maaf, ibu ketua, boleh saya berbicara?’ pak Suprapto minta waktu.
‘Silahkan pak!’
‘Saya rasa kita tidak usah memikirkan untuk mencari sponsor. Saya khawatir, sponsor ini pada gilirannya akan melibatkan wali murid. Saya rasa kita cukupkan dengan kemungkinan yang pertama tadi, yaitu dengan suguhan makanan kecil. Yang lebih utama adalah berkumpul-kumpul pada saat terakhir masa dinas saya di sini. Itu saja komentar saya. Terima kasih.’
‘Baik pak. Saya tadi menyebut sebagai wacana saja. Saya rasa bapak benar, mungkin kita berkonsentrasi dengan biaya yang kira-kira kita sanggup.’
‘Mohon izin berbicara ibu ketua,’ kali ini giliran pak Situmorang.
‘Silahkan pak Situmorang!’
‘Kalau saya tidak salah untuk pilihan pertama sajapun sudah kekurangan sekitar satu juta rupiah. Tadi saya dengar dana tersedia dari bapak kepala sekolah hanya dua juta rupiah. Kebutuhan tiga juta rupiah. Dari mana kekurangan yang satu juta ini akan diambil? Itu saja ibu ketua.’
‘Ya. Saya mohon maaf sebelumnya. Justru saya sudah melihat kekurangan satu juta rupiah yang harus kita cari. Timbul pikiran nekad saya. Karena memang kurang, mau tidak mau kita harus mencari sponsor. Maaf, maksud saya, kita mintakan kepada wali murid yang memang bonafide, yang punya perusahaan misalnya, atau yang jadi direktur perusahaan besar. Nah, kalau mau minta, dan hanya satu juta mungkin buat orang seperti itu akan jadi bahan tertawaan. Apalagi kalau kita tunjukkan proposal berikut biaya acara yang akan kita lakukan. Tapi karena dari bapak kepala sekolah tadi ada arahan agar kita tidak melakukan yang saya pikirkan ini, maka mari kita pikirkan bersama jalan keluarnya. Jadi silahkan bapak-bapak dan ibu-ibu sekalian.’
‘Maaf, saya langsung saja bertanya. Apakah ibu ketua punya daftar orang tua murid yang dikatakan bonafide tadi itu? Maksudnya kalau memang orang-orangnya dikenal mungkin kami dari POMG bisa mencoba menghubungi. Itu saja, mohon maaf karena saya berbicara langsung,’ pak Djoko Rismianto.
‘Sebelum saya jawab, saya ingin kesepakatan rapat terlebih dahulu apakah cara ini mau dicoba atau tidak. Mohon maaf juga pak Djoko.’
‘Maaf ibu ketua. Saya tambahkan sedikit informasi,’ pak Suprapto.
‘Silahkan, pak!’
‘Saya sampaikan terus terang bahwa dana taktis yang ada pada saya saat ini berjumlah empat juta rupiah. Saya sudah menyampaikan kepada pak Umar yang akan menggantikan saya bahwa sisa dana taktis ini akan saya serahkan ke pak Umar. Bukan saya ngotot, saya lebih cenderung dana ini saja yang kita pakai. Hanya saja, dana yang akan saya serah terimakan kepada pak Umar nanti tentu tinggal satu juta rupiah. Dalam hal ini saya perlu menanyakan pendapat pak Umar sebagai orang yang akan mewarisinya.’
‘Bisa langsung dijawab pak Umar?’
‘Ya… saya rasa hal itu sepenuhnya wewenang pak Suprapto. Apapun yang nanti diserahkan oleh beliau kepada saya akan saya pertanggung jawabkan apa adanya. Dalam kasus ini saya bukan pada posisi untuk mengatakan setuju atau tidak setuju.’
‘Mungkin kita simpulkan saja pak Suprapto, bagaimana keputusan bapak?’
‘Kalau saya yang memutuskan, kita keluarkan tiga juta dari dana tersebut.’
‘Terima kasih pak… dengan demikian masalah dana kita anggap selesai dan sudah bisa diketokkan palu.’ Tok…tok…tok..
‘Berikut adalah masalah keamanan dan kita minta masukan dari bapak Tatang. Apakah ada yang perlu disampaikan?’
‘Semua siap ibu ketua. Kita minta semua petugas satpam bekerja lembur pada saat pelaksanaan untuk antisipasi hal-hal yang tidak diinginkan. Itu saja. Terima kasih.’
‘Yang terakhir sekali sebelum masuk ke acara bebas kita akan tutup dengan doa. Untuk itu yang akan memimpin doa adalah pak Darmawan. Siap pak Darmawan?’
‘Insya Allah siap ibu ketua.’
‘Terima kasih kalau begitu pak.’
‘Baiklah bapak-bapak dan ibu-ibu serta perwakilan OSIS yang saya hormati. Dengan demikian rapat kita pada hari ini sudah bisa kita simpulkan sebagai berikut; pertama, tema seperti yang sudah kita sepakati bersama. Kedua, acara kita laksanakan hari Minggu pagi mulai jam delapan diperkirakan sampai sekitar jam dua belas. Tempat acara adalah di ruangan serba guna. Materi acara seperti yang sudah disiapkan oleh bapak Hardjono, terdiri dari sambutan-sambutan (ada tiga sambutan). penyerahan cindera mata, acara hiburan yang terdiri dari drama tiga babak oleh murid-murid, diselingi dengan tari-tarian oleh murid-murid di bawah asuhan bapak Wayan, grup band murid-murid, duet gitar, paduan suara guru-guru, puisi perpisahan dan penutup dengan doa yang akan dipimpin bapak Darmawan. Seterusnya, acara bebas joged dangdut masih menunggu hasil jajak pendapat. Konsumsi berupa makanan kecil. Dana yang diperlukan untuk konsumsi, sewa peralatan musik band, dekorasi, dokumentasi adalah tiga juta rupiah yang akan diambil dari dana taktis kepala sekolah. Apakah ada lagi yang perlu ditambahkan, bapak-bapak dan ibu-ibu?’
‘Pertanyaan buk,’ ketua OSIS mengangkat tangan.
‘Silahkan!’
‘Mengenai jajak pendapat. Kapan harus dilaksanakan, buk? Dan apakah dikalangan murid-murid saja?’
‘Saya rasa secepatnya saja. Mungkin besok pagi direncanakan dengan setiap ketua kelas. Seandainya kalian bisa rapat dengan ketua kelas pada saat istirahat pertama, mungkin jajak pendapatnya sendiri bisa dilaksanakan pada istirahat kedua. Seperti arahan pak Umar tadi cukup dengan membubuhkan tanda pada sisi papan tulis kiri dan kanan masing-masing untuk yang setuju dan yang tidak setuju. Dalam lima sampai sepuluh menit sudah selesai saya rasa. Kemudian untuk guru-guru, bagaimana bapak-bapak dan ibu-ibu apakah akan diadakan sekarang atau besok?’
‘Saya rasa besok saja, kita lakukan juga dengan cara yang sama di ruangan guru. Kalau dilakukan sekarang nanti berpengaruh kepada jajak pendapat dikalangan siswa,’ usul pak Mursyid.
‘Setuju dengan usul pak Mursyid, bapak-bapak, ibu-ibu?’
‘Setuju….’ jawab guru-guru serempak.
‘Baik…masih ada yang lain? Saran, pertanyaan atau komentar?’
Peserta rapat mungkin sudah kecapaian sehingga tidak ada lagi yang berkomentar. Rapat itupun akhirnya ditutup.
*****
‘Justru itu, saya harap kita bisa mengambil keputusan sekarang.’
‘Maaf, maksud saya seandainyapun kita lakukan ‘voting’ dan seandainya lagi yang tidak setuju yang dominan, bagaimana kita menjelaskan kepada anak-anak?’
‘Maaf, ibu ketua. Boleh saya berbicara lagi?’ pak Umar mengangkat tangan.
‘Tentu, pak. silahkan!’
‘Saya sangat menghormati demokrasi dalam rapat kita ini. Saya sangat menghargainya. Terlepas dari ketidak setujuan saya maupun ibu Sarah, saya sependapat dengan kekhawatiran bapak Hardjono sebentar ini. Jalan keluarnya saya rasa, atau saya usul, lakukan jajak pendapat dengan melibatkan seluruh murid-murid. Kita mintakan kepada OSIS untuk melaksanakannya. Jajak pendapat bisa dilakukan di masing-masing kelas. Cukup dengan memberi tanda di sebelah kanan papan tulis bagi yang suka, dan di sebelah kiri bagi yang tidak suka. Dengan cepat dan mudah kita akan tahu apa hasilnya. Jajak pendapat dilakukan juga dikalangan guru-guru.’
‘Wah. Ide yang sangat baik saya kira. Bagaimana bapak-bapak dan ibu-ibu yang lain?’
Ternyata tidak ada yang berkomentar. Tidak ada satupun peserta rapat bisa memberikan pendapat setuju atau tidak setuju.
‘Wah, bagaimana ini kok tidak ada suara?’
‘Relevansinya apa kira-kira melibatkan murid-murid untuk menentukan acara seperti ini?’ pak Sutisna nyeletuk.
‘Bagaimana, pak Umar. Mungkin bisa bapak jelaskan?’
‘Relevansinya, untuk mengetahui siapa sebenarnya yang ingin diadakan acara ‘joged’ ini, guru-guru atau termasuk murid-murid. Di samping mengajar murid-murid menghargai demokrasi dengan menghormati hasil jajak pendapat. Seandainya yang setuju acara itu diadakan yang menang, yang tidak setuju bisa menghargai, begitu juga sebaliknya.’
‘Cukup jelas kalau begitu, pak. Bapak Tisna bisa menerima?’
Pak Sutisna hanya mengangguk.
‘Jadi bagaimana bapak-bapak? Bisa kita setujui usulan pak Umar ini?’
Tetap tidak ada reaksi. Mungkin masing-masing khawatir hasil jajak pendapat dengan melibatkan murid nanti tidak sesuai dengan keinginannya.
‘Kalau begitu saya akan lakukan penjajakan langsung untuk mengetahui setuju atau tidaknya kita diadakan jajak pendapat dengan melibatkan murid-murid. Pertama saya harapkan bagi bapak-bapak dan ibu-ibu yang setuju diadakan jajak pendapat itu, tolong mengangkat tangan…. OSIS juga diminta memberikan suara sesuai aspirasinya…..! Silahkan bapak-bapak dan ibu-ibu saya segera akan menghitungnya….. Baik saya akan hitung……..ada dua puluh orang yang setuju. Terima kasih…. Berikutnya yang tidak setuju……..dua belas orang…… Sebentar, …. Kita ada 35 orang..berarti ada tiga orang yang abstain… Mohon yang abstain juga ikut angkat tangan….. Lho kok cuma dua orang? Berarti kurang satu…’
‘Kan ibu ketua sendiri satunya lagi.’
‘Oh iya… baiklah. Saya tentu saja abstain juga….’
‘Baik, saya pikir kita putuskan demikian. Dan kepada OSIS diminta untuk melakukan jajak pendapat tersebut segera. Saya rasa cukup dengan pertanyaan; ‘SETUJUKAH SAUDARA JIKA PADA ACARA PERPISAHAN BP KEPSEK TGL 3 SEPTEMBER MENDATANG DIADAKAN ACARA ‘DANGDUT’ DAN ‘JOGED’?. Bisa dilaksanakan kira-kira pengurus OSIS?’
‘Bisa buk.’
‘Baiklah, dengan demikian urusan acara kita anggap selesai, sedang keputusan acara joged, menunggu hasil jajak pendapat. Dengan demikian kita meningkat ke pokok bahasan berikutnya yaitu mengenai biaya. Perlu kita ketahui, saya dapat titipan dari bapak kepala sekolah, bapak Suprapto bahwa beliau tidak ingin biaya ini dibebankan kepada guru-guru maupun kepada murid-murid. Kalau ada yang ingin menyumbang sukarela, silahkan, tapi tidak diwajibkan. Menurut pak Suprapto ada uang sebanyak dua juta rupiah dari dana ‘taktis’ sekolah yang bisa digunakan untuk menunjang acara ini, namun mungkin uang sejumlah itu tidak akan mencukupi. Untuk mengetahui rencana biaya mungkin kita bisa minta penjelasan dari bapak Kus dan ibu Hartini, dan mungkin juga dari bapak Sutisna untuk hal yang menyangkut perlengkapan. Silahkan bapak-bapak dan ibu-ibu.’
‘Baik ibu ketua,’ pak Kus yang memberikan penjelasan.
‘Biaya yang kami hitung pertama-tama adalah biaya untuk konsumsi. Dengan asumsi kita hanya menyediakan makanan kecil, untuk menghemat biaya. Maksudnya kue-kue, mungkin dua atau tiga potong dan satu gelas Aqua. Biaya per kotak kami perkirakan dua ribu lima ratus rupiah dan jumlah yang harus disediakan termasuk untuk setiap murid, berarti untuk hampir delapan ratus orang. Dengan demikian hanya untuk konsumsi makanan kecil itu saja sudah dua juta rupiah. Berikutnya untuk perlengkapan kami minta pak Sutisna yang menjelaskan.’
‘Terima kasih pak Kus. Dari perlengkapan yang paling memerlukan dana adalah penyewaan alat-alat band. Seperti biasa kita menyewa alat-alat musik itu untuk pemakaian satu hari yang sewanya lima ratus ribu rupiah. Sudah termasuk ongkos transport. Di samping itu kita perlu bahan-bahan untuk dekorasi panggung, saya rasa cukup dengan biaya dua ratus ribu rupiah. Tentu saja seandainya uangnya berlebih akan kita kembalikan kepada panitia. Ini dengan asumsi acara dilaksanakan didalam ruangan. Karena kalau di luar ruangan kita akan memerlukan pula tenda minimal untuk panggungnya sendiri sebagai antisipasi kalau hari hujan. Mengingat acara sudah diputuskan akan dilaksanakan di ruangan, hal ini tidak perlu lagi dibahas. Berikutnya adalah biaya untuk dokumentasi, untuk pembelian film untuk foto, berikut ongkos cuci cetak berikut album. Rencananya satu album akan di serahkan kepada bapak Suprapto sebagai kenang-kenangan. Biayanya mungkin agak besar yakni tiga ratus ribu rupiah. Saya rasa itu saja.’
‘Terima kasih pak Sutisna. Jadi dengan demikian, biaya yang diperlukan adalah tiga juta rupiah. Kami tidak menambahkan dengan biaya tak terduga. Itu saja laporannya sementara ibu ketua.’
‘Jadi saya ulangi, konsumsi adalah makanan ringan saja. Maaf bagaimana kalau umpama ada yang mensponsori dan konsumsinya dirubah menjadi makan siang yang sederhana seperti nasi kotak yang kita makan siang ini? Ini baru sekedar wacana saja. Silahkan bapak-bapak yang lain ikut juga memikirkan!’
‘Saya jawab langsung, ibu ketua. Itu artinya, kalau nasi kotaknya seharga enam ribu rupiah, maka untuk nasi kotak saja perlu biaya empat juta delapan ratus ribu rupiah. Jadi keseluruhan biaya bisa mencapai hampir enam juta. Jadi perlu dipikir-pikirkan betul,’ kata ibu Hartini.
‘Maaf, ibu ketua, boleh saya berbicara?’ pak Suprapto minta waktu.
‘Silahkan pak!’
‘Saya rasa kita tidak usah memikirkan untuk mencari sponsor. Saya khawatir, sponsor ini pada gilirannya akan melibatkan wali murid. Saya rasa kita cukupkan dengan kemungkinan yang pertama tadi, yaitu dengan suguhan makanan kecil. Yang lebih utama adalah berkumpul-kumpul pada saat terakhir masa dinas saya di sini. Itu saja komentar saya. Terima kasih.’
‘Baik pak. Saya tadi menyebut sebagai wacana saja. Saya rasa bapak benar, mungkin kita berkonsentrasi dengan biaya yang kira-kira kita sanggup.’
‘Mohon izin berbicara ibu ketua,’ kali ini giliran pak Situmorang.
‘Silahkan pak Situmorang!’
‘Kalau saya tidak salah untuk pilihan pertama sajapun sudah kekurangan sekitar satu juta rupiah. Tadi saya dengar dana tersedia dari bapak kepala sekolah hanya dua juta rupiah. Kebutuhan tiga juta rupiah. Dari mana kekurangan yang satu juta ini akan diambil? Itu saja ibu ketua.’
‘Ya. Saya mohon maaf sebelumnya. Justru saya sudah melihat kekurangan satu juta rupiah yang harus kita cari. Timbul pikiran nekad saya. Karena memang kurang, mau tidak mau kita harus mencari sponsor. Maaf, maksud saya, kita mintakan kepada wali murid yang memang bonafide, yang punya perusahaan misalnya, atau yang jadi direktur perusahaan besar. Nah, kalau mau minta, dan hanya satu juta mungkin buat orang seperti itu akan jadi bahan tertawaan. Apalagi kalau kita tunjukkan proposal berikut biaya acara yang akan kita lakukan. Tapi karena dari bapak kepala sekolah tadi ada arahan agar kita tidak melakukan yang saya pikirkan ini, maka mari kita pikirkan bersama jalan keluarnya. Jadi silahkan bapak-bapak dan ibu-ibu sekalian.’
‘Maaf, saya langsung saja bertanya. Apakah ibu ketua punya daftar orang tua murid yang dikatakan bonafide tadi itu? Maksudnya kalau memang orang-orangnya dikenal mungkin kami dari POMG bisa mencoba menghubungi. Itu saja, mohon maaf karena saya berbicara langsung,’ pak Djoko Rismianto.
‘Sebelum saya jawab, saya ingin kesepakatan rapat terlebih dahulu apakah cara ini mau dicoba atau tidak. Mohon maaf juga pak Djoko.’
‘Maaf ibu ketua. Saya tambahkan sedikit informasi,’ pak Suprapto.
‘Silahkan, pak!’
‘Saya sampaikan terus terang bahwa dana taktis yang ada pada saya saat ini berjumlah empat juta rupiah. Saya sudah menyampaikan kepada pak Umar yang akan menggantikan saya bahwa sisa dana taktis ini akan saya serahkan ke pak Umar. Bukan saya ngotot, saya lebih cenderung dana ini saja yang kita pakai. Hanya saja, dana yang akan saya serah terimakan kepada pak Umar nanti tentu tinggal satu juta rupiah. Dalam hal ini saya perlu menanyakan pendapat pak Umar sebagai orang yang akan mewarisinya.’
‘Bisa langsung dijawab pak Umar?’
‘Ya… saya rasa hal itu sepenuhnya wewenang pak Suprapto. Apapun yang nanti diserahkan oleh beliau kepada saya akan saya pertanggung jawabkan apa adanya. Dalam kasus ini saya bukan pada posisi untuk mengatakan setuju atau tidak setuju.’
‘Mungkin kita simpulkan saja pak Suprapto, bagaimana keputusan bapak?’
‘Kalau saya yang memutuskan, kita keluarkan tiga juta dari dana tersebut.’
‘Terima kasih pak… dengan demikian masalah dana kita anggap selesai dan sudah bisa diketokkan palu.’ Tok…tok…tok..
‘Berikut adalah masalah keamanan dan kita minta masukan dari bapak Tatang. Apakah ada yang perlu disampaikan?’
‘Semua siap ibu ketua. Kita minta semua petugas satpam bekerja lembur pada saat pelaksanaan untuk antisipasi hal-hal yang tidak diinginkan. Itu saja. Terima kasih.’
‘Yang terakhir sekali sebelum masuk ke acara bebas kita akan tutup dengan doa. Untuk itu yang akan memimpin doa adalah pak Darmawan. Siap pak Darmawan?’
‘Insya Allah siap ibu ketua.’
‘Terima kasih kalau begitu pak.’
‘Baiklah bapak-bapak dan ibu-ibu serta perwakilan OSIS yang saya hormati. Dengan demikian rapat kita pada hari ini sudah bisa kita simpulkan sebagai berikut; pertama, tema seperti yang sudah kita sepakati bersama. Kedua, acara kita laksanakan hari Minggu pagi mulai jam delapan diperkirakan sampai sekitar jam dua belas. Tempat acara adalah di ruangan serba guna. Materi acara seperti yang sudah disiapkan oleh bapak Hardjono, terdiri dari sambutan-sambutan (ada tiga sambutan). penyerahan cindera mata, acara hiburan yang terdiri dari drama tiga babak oleh murid-murid, diselingi dengan tari-tarian oleh murid-murid di bawah asuhan bapak Wayan, grup band murid-murid, duet gitar, paduan suara guru-guru, puisi perpisahan dan penutup dengan doa yang akan dipimpin bapak Darmawan. Seterusnya, acara bebas joged dangdut masih menunggu hasil jajak pendapat. Konsumsi berupa makanan kecil. Dana yang diperlukan untuk konsumsi, sewa peralatan musik band, dekorasi, dokumentasi adalah tiga juta rupiah yang akan diambil dari dana taktis kepala sekolah. Apakah ada lagi yang perlu ditambahkan, bapak-bapak dan ibu-ibu?’
‘Pertanyaan buk,’ ketua OSIS mengangkat tangan.
‘Silahkan!’
‘Mengenai jajak pendapat. Kapan harus dilaksanakan, buk? Dan apakah dikalangan murid-murid saja?’
‘Saya rasa secepatnya saja. Mungkin besok pagi direncanakan dengan setiap ketua kelas. Seandainya kalian bisa rapat dengan ketua kelas pada saat istirahat pertama, mungkin jajak pendapatnya sendiri bisa dilaksanakan pada istirahat kedua. Seperti arahan pak Umar tadi cukup dengan membubuhkan tanda pada sisi papan tulis kiri dan kanan masing-masing untuk yang setuju dan yang tidak setuju. Dalam lima sampai sepuluh menit sudah selesai saya rasa. Kemudian untuk guru-guru, bagaimana bapak-bapak dan ibu-ibu apakah akan diadakan sekarang atau besok?’
‘Saya rasa besok saja, kita lakukan juga dengan cara yang sama di ruangan guru. Kalau dilakukan sekarang nanti berpengaruh kepada jajak pendapat dikalangan siswa,’ usul pak Mursyid.
‘Setuju dengan usul pak Mursyid, bapak-bapak, ibu-ibu?’
‘Setuju….’ jawab guru-guru serempak.
‘Baik…masih ada yang lain? Saran, pertanyaan atau komentar?’
Peserta rapat mungkin sudah kecapaian sehingga tidak ada lagi yang berkomentar. Rapat itupun akhirnya ditutup.
*****
SANG AMANAH (23)
(23)
‘Saya ingin juga mendapat masukan dari POMG maupun OSIS, kalau bisa, pak. Silahkan bapak dari POMG. Maaf tolong disebutkan nama dan orang tua dari siapa bapak?’ ibu Purwati minta pendapat lain.
‘Terima kasih. Nama saya Djoko Rismianto orang tua dari Indah, murid kelas dua B. Langsung ke pokok masalah saja, saya sebagai orang tua dari seorang anak perempuan memang lebih cenderung acara ini dilaksanakan siang hari. Kalau malam hari akan lebih sulit bagi kami untuk mengontrolnya. Acara sudah selesai jam sebelas, tapi jam dua belas anak kami belum pulang, terus kami mau bertanya kepada siapa? Sedangkan kalau acaranya siang hari, seandainya anak-anak muda itu ingin menambah acara, pasti tidak akan terlalu nekad, karena masih dapat dikontrol oleh masyarakat. Mungkin itu saja, ibu ketua.’
‘Terima kasih pak Djoko. OSIS bagaimana? Apa memang lebih cenderung acaranya malam begitu?’
‘Sejujurnya, buk. Kalau malam hari biasanya memang lebih susah diawasi, buk. Bahkan selama acara masih berlangsung, bisa saja nanti ada di antara kawan-kawan pergi mojok ketempat-tempat gelap. Suasananya mendukung sih, buk. Itu saja, buk. Kalau banyak-banyak saya bisa diajak duel nanti.’
Peserta rapat gerrrr…ketawa, mendengar pernyataan yang polos itu.
‘Baiklah, pak Mursyid. Saya rasa tidak usah kita adakan voting nih, kelihatannya sebagian besar suara sudah jelas menantang pendapat pak Mursyid. Namun demikian saya beri kesempatan yang terakhir seandainya masih ada hal baru yang ingin ditambahkan!’
‘Ya, sudah ibu ketua. Saya menyerah. OSIS saja sudah ikut-ikutan menyerang kok he..he..he.’
‘Wau, panjang diskusi kita. Jadi saya ketukkan palu bahwa acaranya diadakan hari Minggu pagi sampai selesai.’ Tok…tok…tok..
‘Berikutnya mengenai acaranya. Apakah ada yang ingin mengomentari?’
‘Saya ingin bertanya ibu ketua!’ kata ibu Lastri.
‘Bahasan kita acara sekarang, ibu Lastri. Silahkan!’
‘Pak Hardjono tadi tidak menyebutkan kapan waktu menyerahkan cindera mata untuk bapak kepala sekolah yang akan pensiun. Apa ini tidak dibahas? Itu saja dan terima kasih.’
‘Saya pikir mungkin sudah ada, cuma belum dikomunikasikan saja. Sama halnya dengan selingan oleh paduan suara guru-guru dan deklamasi atau sajak yang akan dibawakan salah seorang guru. Tapi, bagaimanapun saya persilahkan pak Hardjono menanggapinya langsung. Silahkan, pak.’
‘Benar sekali. Tadi yang saya sampaikan adalah pembagian acara secara garis besar. Untuk tepatnya, menurut pikiran saya, saat yang paling tepat untuk menyerahkan cindera mata adalah sesudah sambutan dari pak kepala sekolah dan sebelum memasuki acara hiburan.’
‘Maaf, ibu ketua. Boleh saya mengajukan usul?’ ibu Sarah mengangkat tangan.
‘Silahkan ibu Sarah!’
‘Saya usul agar acara dangdut dan joged ditiadakan saja, karena bisa mengundang penilaian negatif. Apalagi nanti kalau sampai terjadi guru dan murid berjoged ria bersama, rasanya tidak pantas. Itu saja ibu ketua.’
‘Bagaimana bapak-bapak dan ibu-ibu yang lain?’
‘Saya tidak setuju, ibu ketua,’ kembali pak Mursyid mengacungkan tangan.
‘Silahkan pak Mursyid. Bagaimana tidak setujunya?’
‘Kita jangan terlalu piciklah hendaknya. Kalau sekedar berjoged apa sih salahnya? Apalagi ini pada saat acara resmi sekolah. Biar guru berjoged dengan muridpun saya rasa tidak usah dipermasalahkan. Toh hanya sekedar joged.’
‘Maaf, apa saya boleh menanggapi langsung, ibu ketua?’ tanya ibu Sarah kembali.
‘Silahkan ibu Sarah!’
‘Saya rasa bukan masalah picik atau bukan. Kita ini seperti lupa dengan pribahasa ‘guru kencing berdiri, murid kencing berlari’. Seharusnya kita sebagai guru mendidik murid-murid agar berakhlak yang baik. Bukan malah sebaliknya, mengajarkan kepada mereka betapa sangat ‘permissive’nya kita. Betul, itu hanya sekedar joged, tapi dari arena main-main seperti itu, yang kita restui, atau lebih parah lagi kita bahkan ikut serta, akan terpicu hal-hal negatif sesudahnya. Joged itu sejauh yang saya lihat, identik dengan hal-hal yang kurang baik, identik dengan keramaian di tempat-tempat yang tidak sopan.’
‘Saya sangat tidak setuju. Joged hanyalah penyaluran jiwa seni rakyat kelas bawah. Kesenian rakyat jelata. Sama seperti musik dangdut. Memang bukan mainan orang gedongan. Tidak ada hubungannya dengan hal-hal yang tidak sopan. Kalau dilingkungan kumuh atau di lingkungan tidak ‘sopan’ dalam tanda kutip joged itu populer, justru karena sebagian besar rakyat negeri ini masih hidup dilingkungan kumuh, dilingkungan orang-orang miskin. Begitu juga saya tidak sependapat dengan pribahasa yang ibu Sarah katakan tadi, untuk dikaitkan dengan urusan joged antara guru dan murid.’
‘Bagaimana ibu Sarah? Atau bapak-bapak, ibu-ibu yang lain?’
‘Boleh saya menambahkan lagi, ibu ketua?’
‘Silahkan, ibu Sarah!’
‘Saya ingin bertanya saja. Adakah nilai tambah yang bisa dipetik dari acara dangdut dan joged? Saya ajak bapak-bapak dan ibu-ibu yang lain menilai. Tentu kita pernah melihat paling tidak di televisi, bagaimana seronok dan erotisnya….., saya ulangi….., erotisnya gerakan-gerakan joged itu. Dan saya tanya sekali lagi nilai tambah apa yang kita harapkan dari ‘seni’ dalam tanda kutip seperti itu? Tidakkah kita merasa malu melakukan gerakan-gerakan yang saya rasa kurang pantas itu, berpasangan dengan anak didik kita, atau di depan mata anak didik kita?’
‘Minta waktu ibu ketua,’ kali ini pak Wayan mengangkat tangan.
‘Silahkan pak Wayan!’
‘Saya juga ingin bertanya kepada ibu Sarah. Bagaimana pandangan ibu tentang seni tari? Ada juga kadang-kadang gerakan-gerakannya yang dapat diartikan seronok saya kira. Apakah itu juga tidak pantas?’
‘Silahkan langsung ibu Sarah, ditanggapi!’
‘Begini, pak Wayan. Seni tari dipertunjukkan sebagai tontonan. Setelah itu tergantung kepada selera yang menonton. Ada yang suka dan ada yang tidak suka. Kalau seseorang tidak suka, dia tidak menontonnya. Saya sependapat dengan pak Wayan. Ada gerakan-gerakan tari tertentu yang menurut sebagian orang seronok. Atau ada pakaian penari yang setengah terbuka, memperlihatkan bagian tubuh yang seharusnya ditutupi. Misalnya seperti tari perut. Kebetulan memang bukan dari budaya kita. Yang dari negeri kita, tanpa maksud melecehkan, kalau pandangan saya pribadi, pakaian penari Jawa ataupun penari Bali yang menggunakan kemben saja kurang elok. Tapi sekali lagi, tarian seperti itu adalah kesenian untuk jadi tontonan. Jadi terserah kepada yang menonton.’
‘Ini mungkin karena ibu Sarah berjilbab. Jangan dibandingkan dengan ibu Sarah, dong!’ kata pak Muslih.
‘Maaf, pak Muslih apa ada saran? Atau pendapat yang lebih terarah? Setuju atau tidak setuju dengan pendapat ibu Sarah?’
‘Saya, ibu ketua,’ kali ini pak Situmorang.
‘Langsung saja, pak Situmorang!’
‘Saya usul diambil jalan tengah saja. Biar anak-anak yang berjoged, sebagai hiburan mereka. Kita guru-guru jadi penonton saja.’
Gerrr……. Peserta rapat ketawa mendengar usulan ini.
‘Ya.. Pak Sofyan! Pak Sofyan selalu kompak dengan pak Situmorang biasanya. Apa ada ide tambahan?’
‘Betul. Saya ingin menambahkan. Jogednya dibagi dua kloter saja. Joged murid-murid duluan. Sesudah itu joged guru sama guru. Jadi biar tidak dikatakan murid meniru guru seperti pribahasa tadi.’
Geeerrrrrrrrr…. Lebih riuh.
‘Minta waktu, ibu ketua,’ kata ibu Lastri.
‘Baik, silahkan ibu!’
‘Walaupun kedengarannya guyon, usulan pak Sofyan itu cukup simpatik saya rasa. Saya jadi ingat, di kantor-kantor pemerintah, setiap hari Jum’at pagi biasa diadakan senam massal. Pada waktu itu juga bercampur baur antara laki-laki dan perempuan dalam melakukan senam. Sejauh ini belum ada yang menganggapnya sebagai sesuatu yang sumbang.’
‘Jadi bagaimana ibu Sarah? Mungkin masih ada sanggahan?’
‘Ya…. kalau bapak-bapak dan ibu-ibu semua sependapat bahwa joged itu wajib, silahkan. Tapi saya mohon maaf. Saya tidak mungkin ikut.’
‘Jadi…??? Atau bagaimana pendapat pak Umar? Mungkin ada pendapat lain untuk membantu ibu Sarah? Silahkan pak!’
‘Singkat saja, saya sependapat dengan ibu Sarah,’ jawab pak Umar.
‘Tidak ingin menambahkan, pak? Alasannya barangkali yang lebih spesifik?’
‘Alasannya, sama seperti yang sudah disampaikan juga oleh ibu Sarah. Kita, guru-guru adalah pendidik dan karenanya harus bisa memberi contoh yang baik kepada anak didik. Berjoged, meliuk-liukkan tubuh, berpasang-pasangan dengan orang lain, apalagi misalnya dengan murid, menurut pendapat saya pribadi, sangat tidak pantas.’
‘Tapi bagaimana seandainya mayoritas peserta rapat setuju dengan acara itu diadakan, apakah bapak keberatan?’
‘Saya, tidak suka, tidak akan ikut berpartisipasi, tapi saya tidak pada posisi untuk melarangnya.’
‘Baik, apakah kalau begitu kita lakukan ‘voting’? Atau, iya…. pak Hardjono? Ada tambahan?’
‘Bukan….., saya hanya ingin tahu apakah memang perlu diadakan ‘voting’ untuk menentukan hal seperti ini.’
‘Saya ingin juga mendapat masukan dari POMG maupun OSIS, kalau bisa, pak. Silahkan bapak dari POMG. Maaf tolong disebutkan nama dan orang tua dari siapa bapak?’ ibu Purwati minta pendapat lain.
‘Terima kasih. Nama saya Djoko Rismianto orang tua dari Indah, murid kelas dua B. Langsung ke pokok masalah saja, saya sebagai orang tua dari seorang anak perempuan memang lebih cenderung acara ini dilaksanakan siang hari. Kalau malam hari akan lebih sulit bagi kami untuk mengontrolnya. Acara sudah selesai jam sebelas, tapi jam dua belas anak kami belum pulang, terus kami mau bertanya kepada siapa? Sedangkan kalau acaranya siang hari, seandainya anak-anak muda itu ingin menambah acara, pasti tidak akan terlalu nekad, karena masih dapat dikontrol oleh masyarakat. Mungkin itu saja, ibu ketua.’
‘Terima kasih pak Djoko. OSIS bagaimana? Apa memang lebih cenderung acaranya malam begitu?’
‘Sejujurnya, buk. Kalau malam hari biasanya memang lebih susah diawasi, buk. Bahkan selama acara masih berlangsung, bisa saja nanti ada di antara kawan-kawan pergi mojok ketempat-tempat gelap. Suasananya mendukung sih, buk. Itu saja, buk. Kalau banyak-banyak saya bisa diajak duel nanti.’
Peserta rapat gerrrr…ketawa, mendengar pernyataan yang polos itu.
‘Baiklah, pak Mursyid. Saya rasa tidak usah kita adakan voting nih, kelihatannya sebagian besar suara sudah jelas menantang pendapat pak Mursyid. Namun demikian saya beri kesempatan yang terakhir seandainya masih ada hal baru yang ingin ditambahkan!’
‘Ya, sudah ibu ketua. Saya menyerah. OSIS saja sudah ikut-ikutan menyerang kok he..he..he.’
‘Wau, panjang diskusi kita. Jadi saya ketukkan palu bahwa acaranya diadakan hari Minggu pagi sampai selesai.’ Tok…tok…tok..
‘Berikutnya mengenai acaranya. Apakah ada yang ingin mengomentari?’
‘Saya ingin bertanya ibu ketua!’ kata ibu Lastri.
‘Bahasan kita acara sekarang, ibu Lastri. Silahkan!’
‘Pak Hardjono tadi tidak menyebutkan kapan waktu menyerahkan cindera mata untuk bapak kepala sekolah yang akan pensiun. Apa ini tidak dibahas? Itu saja dan terima kasih.’
‘Saya pikir mungkin sudah ada, cuma belum dikomunikasikan saja. Sama halnya dengan selingan oleh paduan suara guru-guru dan deklamasi atau sajak yang akan dibawakan salah seorang guru. Tapi, bagaimanapun saya persilahkan pak Hardjono menanggapinya langsung. Silahkan, pak.’
‘Benar sekali. Tadi yang saya sampaikan adalah pembagian acara secara garis besar. Untuk tepatnya, menurut pikiran saya, saat yang paling tepat untuk menyerahkan cindera mata adalah sesudah sambutan dari pak kepala sekolah dan sebelum memasuki acara hiburan.’
‘Maaf, ibu ketua. Boleh saya mengajukan usul?’ ibu Sarah mengangkat tangan.
‘Silahkan ibu Sarah!’
‘Saya usul agar acara dangdut dan joged ditiadakan saja, karena bisa mengundang penilaian negatif. Apalagi nanti kalau sampai terjadi guru dan murid berjoged ria bersama, rasanya tidak pantas. Itu saja ibu ketua.’
‘Bagaimana bapak-bapak dan ibu-ibu yang lain?’
‘Saya tidak setuju, ibu ketua,’ kembali pak Mursyid mengacungkan tangan.
‘Silahkan pak Mursyid. Bagaimana tidak setujunya?’
‘Kita jangan terlalu piciklah hendaknya. Kalau sekedar berjoged apa sih salahnya? Apalagi ini pada saat acara resmi sekolah. Biar guru berjoged dengan muridpun saya rasa tidak usah dipermasalahkan. Toh hanya sekedar joged.’
‘Maaf, apa saya boleh menanggapi langsung, ibu ketua?’ tanya ibu Sarah kembali.
‘Silahkan ibu Sarah!’
‘Saya rasa bukan masalah picik atau bukan. Kita ini seperti lupa dengan pribahasa ‘guru kencing berdiri, murid kencing berlari’. Seharusnya kita sebagai guru mendidik murid-murid agar berakhlak yang baik. Bukan malah sebaliknya, mengajarkan kepada mereka betapa sangat ‘permissive’nya kita. Betul, itu hanya sekedar joged, tapi dari arena main-main seperti itu, yang kita restui, atau lebih parah lagi kita bahkan ikut serta, akan terpicu hal-hal negatif sesudahnya. Joged itu sejauh yang saya lihat, identik dengan hal-hal yang kurang baik, identik dengan keramaian di tempat-tempat yang tidak sopan.’
‘Saya sangat tidak setuju. Joged hanyalah penyaluran jiwa seni rakyat kelas bawah. Kesenian rakyat jelata. Sama seperti musik dangdut. Memang bukan mainan orang gedongan. Tidak ada hubungannya dengan hal-hal yang tidak sopan. Kalau dilingkungan kumuh atau di lingkungan tidak ‘sopan’ dalam tanda kutip joged itu populer, justru karena sebagian besar rakyat negeri ini masih hidup dilingkungan kumuh, dilingkungan orang-orang miskin. Begitu juga saya tidak sependapat dengan pribahasa yang ibu Sarah katakan tadi, untuk dikaitkan dengan urusan joged antara guru dan murid.’
‘Bagaimana ibu Sarah? Atau bapak-bapak, ibu-ibu yang lain?’
‘Boleh saya menambahkan lagi, ibu ketua?’
‘Silahkan, ibu Sarah!’
‘Saya ingin bertanya saja. Adakah nilai tambah yang bisa dipetik dari acara dangdut dan joged? Saya ajak bapak-bapak dan ibu-ibu yang lain menilai. Tentu kita pernah melihat paling tidak di televisi, bagaimana seronok dan erotisnya….., saya ulangi….., erotisnya gerakan-gerakan joged itu. Dan saya tanya sekali lagi nilai tambah apa yang kita harapkan dari ‘seni’ dalam tanda kutip seperti itu? Tidakkah kita merasa malu melakukan gerakan-gerakan yang saya rasa kurang pantas itu, berpasangan dengan anak didik kita, atau di depan mata anak didik kita?’
‘Minta waktu ibu ketua,’ kali ini pak Wayan mengangkat tangan.
‘Silahkan pak Wayan!’
‘Saya juga ingin bertanya kepada ibu Sarah. Bagaimana pandangan ibu tentang seni tari? Ada juga kadang-kadang gerakan-gerakannya yang dapat diartikan seronok saya kira. Apakah itu juga tidak pantas?’
‘Silahkan langsung ibu Sarah, ditanggapi!’
‘Begini, pak Wayan. Seni tari dipertunjukkan sebagai tontonan. Setelah itu tergantung kepada selera yang menonton. Ada yang suka dan ada yang tidak suka. Kalau seseorang tidak suka, dia tidak menontonnya. Saya sependapat dengan pak Wayan. Ada gerakan-gerakan tari tertentu yang menurut sebagian orang seronok. Atau ada pakaian penari yang setengah terbuka, memperlihatkan bagian tubuh yang seharusnya ditutupi. Misalnya seperti tari perut. Kebetulan memang bukan dari budaya kita. Yang dari negeri kita, tanpa maksud melecehkan, kalau pandangan saya pribadi, pakaian penari Jawa ataupun penari Bali yang menggunakan kemben saja kurang elok. Tapi sekali lagi, tarian seperti itu adalah kesenian untuk jadi tontonan. Jadi terserah kepada yang menonton.’
‘Ini mungkin karena ibu Sarah berjilbab. Jangan dibandingkan dengan ibu Sarah, dong!’ kata pak Muslih.
‘Maaf, pak Muslih apa ada saran? Atau pendapat yang lebih terarah? Setuju atau tidak setuju dengan pendapat ibu Sarah?’
‘Saya, ibu ketua,’ kali ini pak Situmorang.
‘Langsung saja, pak Situmorang!’
‘Saya usul diambil jalan tengah saja. Biar anak-anak yang berjoged, sebagai hiburan mereka. Kita guru-guru jadi penonton saja.’
Gerrr……. Peserta rapat ketawa mendengar usulan ini.
‘Ya.. Pak Sofyan! Pak Sofyan selalu kompak dengan pak Situmorang biasanya. Apa ada ide tambahan?’
‘Betul. Saya ingin menambahkan. Jogednya dibagi dua kloter saja. Joged murid-murid duluan. Sesudah itu joged guru sama guru. Jadi biar tidak dikatakan murid meniru guru seperti pribahasa tadi.’
Geeerrrrrrrrr…. Lebih riuh.
‘Minta waktu, ibu ketua,’ kata ibu Lastri.
‘Baik, silahkan ibu!’
‘Walaupun kedengarannya guyon, usulan pak Sofyan itu cukup simpatik saya rasa. Saya jadi ingat, di kantor-kantor pemerintah, setiap hari Jum’at pagi biasa diadakan senam massal. Pada waktu itu juga bercampur baur antara laki-laki dan perempuan dalam melakukan senam. Sejauh ini belum ada yang menganggapnya sebagai sesuatu yang sumbang.’
‘Jadi bagaimana ibu Sarah? Mungkin masih ada sanggahan?’
‘Ya…. kalau bapak-bapak dan ibu-ibu semua sependapat bahwa joged itu wajib, silahkan. Tapi saya mohon maaf. Saya tidak mungkin ikut.’
‘Jadi…??? Atau bagaimana pendapat pak Umar? Mungkin ada pendapat lain untuk membantu ibu Sarah? Silahkan pak!’
‘Singkat saja, saya sependapat dengan ibu Sarah,’ jawab pak Umar.
‘Tidak ingin menambahkan, pak? Alasannya barangkali yang lebih spesifik?’
‘Alasannya, sama seperti yang sudah disampaikan juga oleh ibu Sarah. Kita, guru-guru adalah pendidik dan karenanya harus bisa memberi contoh yang baik kepada anak didik. Berjoged, meliuk-liukkan tubuh, berpasang-pasangan dengan orang lain, apalagi misalnya dengan murid, menurut pendapat saya pribadi, sangat tidak pantas.’
‘Tapi bagaimana seandainya mayoritas peserta rapat setuju dengan acara itu diadakan, apakah bapak keberatan?’
‘Saya, tidak suka, tidak akan ikut berpartisipasi, tapi saya tidak pada posisi untuk melarangnya.’
‘Baik, apakah kalau begitu kita lakukan ‘voting’? Atau, iya…. pak Hardjono? Ada tambahan?’
‘Bukan….., saya hanya ingin tahu apakah memang perlu diadakan ‘voting’ untuk menentukan hal seperti ini.’
Friday, October 17, 2008
SANG AMANAH (22)
(22)
‘Kalau soal resiko, segalanya tentu ada resiko. Mungkin dalam hal ini pak Darmawan harus tolong mendoakan sejak sekarang-sekarang agar pada hari ‘H’nya tidak turun hujan. Saya justru ingin menanyakan apakah pada acara ini kita tidak melibatkan artis dari luar. Apa acara ini nanti benar-benar hanya dari kita untuk kita saja?’
‘Silahkan ditanggapi langsung pak Hardjono!’
‘Ini kaitannya tentu dengan dana, pak Mursyid. Dengan asumsi dananya sehemat mungkin, kami tidak berani mengusulkan artis dari luar yang pasti akan memerlukan biaya lebih besar. Mungkin itu saja jawabannya.’
‘Maaf, bagaimana seandainya ada artis atau penyanyi dari luar yang bisa gratis. Apakah akan ditolak?’
‘Boleh saya menambahkan ibu ketua?’ kata pak Muslih.
‘Silahkan pak Muslih!’
‘Saya rasa acara ini sebaiknya hanya melibatkan murid-murid kita sendiri saja. Karena kalau melibatkan artis luar, meskipun gratis, kita tetap harus memikirkan paling tidak transportnya dan mungkin konsumsinya. Biasanya, nanti mereka akan meminta layanan agak khusus. Saya pernah punya pengalaman. Artisnya gratis, tapi minta dijamu dengan bir, tidak mau makan nasi kotak. Dan yang lebih penting lagi kalau kita bawa artis dari luar, mungkin acara ini nanti akan melebar jadi panggung hiburan umum. Artinya kita harus siap-siap menghadapi resiko yang lebih serius yang berasal dari orang luar yang bukan murid kita. Atau kita harus meminta bantuan aparat keamanan. Artinya harus ada lagi permohonan izin khusus dan perlu biaya ekstra lagi. Jadi urusannya akan tambah sulit. Itu saja untuk pertimbangan pak Mursyid.’
‘Mungkin ada benarnya yang disampaikan pak Muslih. Tapi, silahkan ditambahkan bapak-bapak dan ibu-ibu yang lain. Mungkin dari OSIS ada usul?’
‘Hanya pertanyaan saja, buk. Apakah dari guru-guru tidak ada sumbangan acara, apakah nyanyian atau mungkin apa begitu, buk? Terima kasih buk,’ tanya ketua OSIS, Syamsurijal.
‘Setahu saya nanti akan ada sumbangan nyanyi dari paduan suara guru-guru dan pembacaan puisi oleh salah seorang guru, saya rasa ini sudah di program oleh pak Hardjono. Benar tidak, pak Hardjono?’
‘Benar, ibu ketua.’
‘Baik, masih ada yang lain?’
‘Maaf, masih urusan acara dengan artis dari luar tadi itu. Maksud saya, kita undang atau tidak, saya yakin akan ada orang luar yang datang. Murid-murid kita ini sudah pada remaja. Sudah banyak yang punya pacar dan pacarnya dari luar sekolah. Bagaimana kalau pacar mereka datang? Atau apakah harus dibuatkan undangan khusus dan hanya yang memegang undangan yang boleh datang dan setiap murid diberi satu undangan dan setiap undangan berlaku hanya untuk satu orang, agar orang luar tidak bisa masuk? Apa begitu maksudnya?’ pak Mursyid masih penasaran.
‘Wah, jadi mumet nih. Coba saya klarifikasi. Apakah maksudnya diundang atau tidak, orang luar pasti hadir? Lalu faktor keamanan harus ditingkatkan? Dengan demikian mendatangkan artis dari luar tidak perlu dikhawatirkan selama itu gratis karena ada petugas keamanan. Apa betul demikian urut-urutan logikanya, pak Mursyid?’ tanya ibu Purwati.
‘Ya. Saya hanya menunjukkan bahwa acara ini sangat mungkin dihadiri oleh orang luar, diundang atau tidak diundang. Jadi apa yang disampaikan pak Muslih tadi bahwa perlu pengamanan khusus, saya rasa memang perlu. Jika faktor keamanan ditingkatkan, kita tidak perlu khawatir seandainyapun acara ini berubah menjadi pentas untuk umum. Hitung-hitung memberi hiburan gratis kepada masyarakat.’
‘Maaf ibu ketua. Boleh saya berkomentar?’ tanya pak Sofyan.
‘Silahkan pak Sofyan!’
‘Begini, pak Mursyid. Kalau diadakan acara terbuka untuk umum, meskipun pihak keamanan dilibatkan, kita sebagai panitia tetap harus bertanggung jawab jika terjadi kerusuhan. Coba pak Mursyid bayangkan, seandainya nanti ada keonaran yang tidak tertangani oleh aparat keamanan. Misalnya, terjadi keributan karena tidak semua orang dapat masuk menonton panggung terbuka, pasti panitia akan diminta pertanggungjawaban. Belum kalau ada pengacau yang memang sengaja mencari gara-gara. Akibatnya bisa fatal bagi sekolah. Itu saja. Tolong dipertimbangkan!’
‘Jadi kongkritnya apa dong, pak Sofyan?’
‘Kongkritnya, saya usul agar acaranya dibuat tertutup, diruangan sekolah dan hanya untuk kalangan sekolah.’
‘Ibu ketua rapat! Apakah saya juga boleh bertanya,’ pak Suprapto mengangkat tangan.
‘Tentu, pak. Silahkan!’
‘Pertanyaan saya, apakah pak Umar boleh bertanya atau memberikan sumbang saran? Dari tadi saya lihat beliau hanya jadi pendengar yang baik saja.’
‘Tentu, pak. Silahkan. Dari bapak juga kalau ada silahkan saja pak. Ini kan untuk kepentingan kita bersama. Dan ini kan demokrasi.’
‘Nah… pak Umar! Mungkin ada usul atau sumbang saran dari pak Umar?’ pak Suprapto memancing.
‘Wah, saya khawatir pendapat saya akan berbeda sendiri, pak. Maksud saya kalau saya mengemukakan pendapat, pendapat saya mungkin akan melawan arus. Sementara ini alur rapat kan sangat bagus. Seperti kata ibu ketua sangat demokratis.’
‘Apa maksud pak Umar? Adakah yang bapak tidak berkenan atau tidak setuju dengan yang sedang dibahas? Apa begitu pak Umar?’ tanya ibu Purwati.
‘Ada ibu ketua.’
‘Mungkin bisa dijelaskan, pak. Biar sama-sama kita dengarkan.’
‘Baiklah. Saya khawatir tentang bahasan yang terakhir ini, khususnya mengenai acara. Saya rasa sudah keluar dari konteks. Tadi saya menyimak tema acara yang sudah disepakati bersama. Temanya bagus. Acara ini adalah acara perpisahan. Lebih tepatnya untuk menghormati bapak kepala sekolah, bapak Suprapto. Tapi akhirnya kita malahan terjebak dengan keinginan mau mengadakan pentas terbuka untuk umum. Saya sependapat dengan pak Sofyan. Panitia tentu harus bertanggung jawab seandainya acara ini nanti berubah jadi tidak terkendali. Agaknya yang perlu kita ingat, acara ini acara sekolah, acara lembaga pendidikan. Panitianya guru-guru. Jadi seharusnya acara ini bisa dipertanggung jawabkan secara moral. Menurut pendapat saya, sebaiknya acara ini dibuat tertutup untuk sekolah saja, melibatkan guru, karyawan sekolah dan murid ditambah perwakilan POMG karena mereka ini yang sehari-hari bergaul dengan pak kepala sekolah. Mereka ini yang mengadakan perpisahan. Harusnya acara ini meninggalkan sesuatu yang bisa dikenang dengan baik oleh pak Suprapto. Seandainya terjadi huru-hara tentu tidak akan dapat dijadikan kenangan yang baik. Saya pikir sebagian besar dari acara yang diusulkan tadi sudah bagus. Semua hanya melibatkan murid-murid dan guru-guru. Namun ada satu hal lagi yang harus juga jadi pertimbangan kita sebagai panitia. Fihak panitia, dari sekarang-sekarang harus bisa mengantisipasi agar tidak ada penyimpangan yang tidak diinginkan nantinya baik di dalam maupun diluar acara. Tepatnya begini. Saya dengar tadi acaranya diadakan malam hari. Sampai jam sebelas malam. Tidakkah terpikirkan oleh kita keselamatan setiap orang sesudah acara itu berakhir? Maaf, bagaimana kalau acara sudah kita tutup secara resmi, tapi masih ada yang melanjutkan secara tidak resmi dan dengan cara yang tidak bisa dipertanggung jawabkan pula? Panitia, karena sudah kecapekan langsung pulang. Lalu di sini, di sekolah ini masih tinggal mereka-mereka yang memanfaatkan malam minggu. Siapa yang bertanggung jawab? Padahal ini adalah lembaga pendidikan? Itu saja dulu. Masih ada nanti yang akan saya tambahkan kalau masih diizinkan.’
‘Wah! Bakalan jadi mentah nih kalau begini,’ kata pak Mursyid.
‘Maaf, pak Mursyid. Kalau anda tidak setuju atau berkeberatan silahkan dibantah,’ kata ibu Purwati.
‘Saya bukannya mau membantah. Tapi jelas, tidak ada pekerjaan yang tidak mengandung resiko. Kalau mau terhindar dari resiko ya… tidak usah melakukan apa-apa.’
‘Bagaimana pak Umar?’ tanya ibu Purwati lagi.
‘Pak Mursyid benar. Tidak ada perbuatan yang tidak mengundang resiko. Tapi resiko bisa diminimalkan. Mengadakan acara keramaian malam hari menurut saya lebih beresiko dibandingkan kalau dilaksanakan siang hari. Melibatkan orang-orang luar yang tidak di bawah tanggung jawab kita lebih beresiko dibandingkan melibatkan orang-orang dari lingkungan kita sendiri.’
‘Jadi kesimpulan pak Umar, lebih baik diadakan siang hari, di ruangan tertutup yang artinya bukan pentas terbuka, tidak melibatkan orang luar atau artis dari luar, benar begitu, pak?’ ibu Purwati ingin penegasan.
‘Benar sekali,’ jawab pak Umar pendek.
‘Bagaimana pak Hardjono? Sepertinya ada yang ingin ditambahkan?’
‘Saya rasa yang disampaikan pak Umar itu perlu jadi perhatian kita bersama. Kita harus menjaga jangan sampai acara ini mencorengkan malu bagi SMU 369 sebagai sebuah lembaga pendidikan. Ringkasnya saya setuju dengan pak Umar. Mungkin acaranya bisa kita lakukan hari Minggu pagi, mulai jam delapan sampai selesai sekitar siang. Dari segi acara yang kita susun rasanya tidak ada masalah. Malahan lebih enak kalau siang hari.’
‘Saya keberatan ibu ketua,’ kata pak Mursyid.
‘Silahkan dijelaskan keberatannya pak Mursyid!’
‘Begini. Saya rasa kita tidak usah terlalu banyak berprasangka. Apalagi terhadap anak-anak didik kita sendiri. Tadi pak Umar mengatakan khawatir, kalau ada yang meneruskan acara di sini sesudah acara resmi ditutup jika acaranya dibuat malam hari. Kita bisa antisipasi dengan memberi peringatan atau nasihat kepada murid-murid kita agar mereka segera pulang begitu acara selesai. Bila perlu kita berikan sangsi kepada yang melanggar. Saya rasa dengan cara seperti itu resikonya bisa kita kurangi. Jadi saya tetap mengusulkan agar acaranya diadakan malam hari.’
‘Maaf pak Mursyid, bisa lebih spesifik? Apa alasannya pak Mursyid memilih malam hari? Apa keuntungannya dibandingkan kalau diadakan siang hari?’ ibu Purwati minta penjelasan.
‘Ini masalah tradisi saja ibu ketua. Acara seperti ini, apalagi ada drama, ada grup musik, biasanya lebih pantas dilaksanakan malam hari.’
‘Permisi ibu ketua,’ giliran pak Wayan minta waktu berbicara.
‘Silahkan pak Wayan!’
‘Kalau dikatakan tradisi saya kurang sependapat. Ada juga orang melakukan pentas seni musik atau tari-tarian siang hari dan itu tidak mengurangi nilai seninya. Tetap banyak juga pengunjungnya kalau memang acara itu menarik. Saya ikut khawatir, acara sudah selesai jam sebelas malam, murid-murid sudah diberi peringatan atau bahkan ancaman bahwa kalau mereka masih berkeliaran juga di sekolah kita beri sangsi. Tapi bagaimana kalau mereka pergi dari sekolah tapi tidak langsung pulang. Namanya anak muda. Mereka pergi dulu ngebut-ngebutan, atau pesta-pestaan, karena malam panjang kata mereka. Besoknya kita baca di koran, siswa SMU 369 begini-begitu. Secara moril tentu kita tidak enak. Satu lagi, ini maaf kepada rekan-rekan guru, terutamanya yang masih lajang, banyak desas desus beliau-beliau ini ikut-ikutan menggunakan kesempatan. Jadi saya sependapat dengan pak Umar. Terlalu besar resikonya.’
‘Kalau soal resiko, segalanya tentu ada resiko. Mungkin dalam hal ini pak Darmawan harus tolong mendoakan sejak sekarang-sekarang agar pada hari ‘H’nya tidak turun hujan. Saya justru ingin menanyakan apakah pada acara ini kita tidak melibatkan artis dari luar. Apa acara ini nanti benar-benar hanya dari kita untuk kita saja?’
‘Silahkan ditanggapi langsung pak Hardjono!’
‘Ini kaitannya tentu dengan dana, pak Mursyid. Dengan asumsi dananya sehemat mungkin, kami tidak berani mengusulkan artis dari luar yang pasti akan memerlukan biaya lebih besar. Mungkin itu saja jawabannya.’
‘Maaf, bagaimana seandainya ada artis atau penyanyi dari luar yang bisa gratis. Apakah akan ditolak?’
‘Boleh saya menambahkan ibu ketua?’ kata pak Muslih.
‘Silahkan pak Muslih!’
‘Saya rasa acara ini sebaiknya hanya melibatkan murid-murid kita sendiri saja. Karena kalau melibatkan artis luar, meskipun gratis, kita tetap harus memikirkan paling tidak transportnya dan mungkin konsumsinya. Biasanya, nanti mereka akan meminta layanan agak khusus. Saya pernah punya pengalaman. Artisnya gratis, tapi minta dijamu dengan bir, tidak mau makan nasi kotak. Dan yang lebih penting lagi kalau kita bawa artis dari luar, mungkin acara ini nanti akan melebar jadi panggung hiburan umum. Artinya kita harus siap-siap menghadapi resiko yang lebih serius yang berasal dari orang luar yang bukan murid kita. Atau kita harus meminta bantuan aparat keamanan. Artinya harus ada lagi permohonan izin khusus dan perlu biaya ekstra lagi. Jadi urusannya akan tambah sulit. Itu saja untuk pertimbangan pak Mursyid.’
‘Mungkin ada benarnya yang disampaikan pak Muslih. Tapi, silahkan ditambahkan bapak-bapak dan ibu-ibu yang lain. Mungkin dari OSIS ada usul?’
‘Hanya pertanyaan saja, buk. Apakah dari guru-guru tidak ada sumbangan acara, apakah nyanyian atau mungkin apa begitu, buk? Terima kasih buk,’ tanya ketua OSIS, Syamsurijal.
‘Setahu saya nanti akan ada sumbangan nyanyi dari paduan suara guru-guru dan pembacaan puisi oleh salah seorang guru, saya rasa ini sudah di program oleh pak Hardjono. Benar tidak, pak Hardjono?’
‘Benar, ibu ketua.’
‘Baik, masih ada yang lain?’
‘Maaf, masih urusan acara dengan artis dari luar tadi itu. Maksud saya, kita undang atau tidak, saya yakin akan ada orang luar yang datang. Murid-murid kita ini sudah pada remaja. Sudah banyak yang punya pacar dan pacarnya dari luar sekolah. Bagaimana kalau pacar mereka datang? Atau apakah harus dibuatkan undangan khusus dan hanya yang memegang undangan yang boleh datang dan setiap murid diberi satu undangan dan setiap undangan berlaku hanya untuk satu orang, agar orang luar tidak bisa masuk? Apa begitu maksudnya?’ pak Mursyid masih penasaran.
‘Wah, jadi mumet nih. Coba saya klarifikasi. Apakah maksudnya diundang atau tidak, orang luar pasti hadir? Lalu faktor keamanan harus ditingkatkan? Dengan demikian mendatangkan artis dari luar tidak perlu dikhawatirkan selama itu gratis karena ada petugas keamanan. Apa betul demikian urut-urutan logikanya, pak Mursyid?’ tanya ibu Purwati.
‘Ya. Saya hanya menunjukkan bahwa acara ini sangat mungkin dihadiri oleh orang luar, diundang atau tidak diundang. Jadi apa yang disampaikan pak Muslih tadi bahwa perlu pengamanan khusus, saya rasa memang perlu. Jika faktor keamanan ditingkatkan, kita tidak perlu khawatir seandainyapun acara ini berubah menjadi pentas untuk umum. Hitung-hitung memberi hiburan gratis kepada masyarakat.’
‘Maaf ibu ketua. Boleh saya berkomentar?’ tanya pak Sofyan.
‘Silahkan pak Sofyan!’
‘Begini, pak Mursyid. Kalau diadakan acara terbuka untuk umum, meskipun pihak keamanan dilibatkan, kita sebagai panitia tetap harus bertanggung jawab jika terjadi kerusuhan. Coba pak Mursyid bayangkan, seandainya nanti ada keonaran yang tidak tertangani oleh aparat keamanan. Misalnya, terjadi keributan karena tidak semua orang dapat masuk menonton panggung terbuka, pasti panitia akan diminta pertanggungjawaban. Belum kalau ada pengacau yang memang sengaja mencari gara-gara. Akibatnya bisa fatal bagi sekolah. Itu saja. Tolong dipertimbangkan!’
‘Jadi kongkritnya apa dong, pak Sofyan?’
‘Kongkritnya, saya usul agar acaranya dibuat tertutup, diruangan sekolah dan hanya untuk kalangan sekolah.’
‘Ibu ketua rapat! Apakah saya juga boleh bertanya,’ pak Suprapto mengangkat tangan.
‘Tentu, pak. Silahkan!’
‘Pertanyaan saya, apakah pak Umar boleh bertanya atau memberikan sumbang saran? Dari tadi saya lihat beliau hanya jadi pendengar yang baik saja.’
‘Tentu, pak. Silahkan. Dari bapak juga kalau ada silahkan saja pak. Ini kan untuk kepentingan kita bersama. Dan ini kan demokrasi.’
‘Nah… pak Umar! Mungkin ada usul atau sumbang saran dari pak Umar?’ pak Suprapto memancing.
‘Wah, saya khawatir pendapat saya akan berbeda sendiri, pak. Maksud saya kalau saya mengemukakan pendapat, pendapat saya mungkin akan melawan arus. Sementara ini alur rapat kan sangat bagus. Seperti kata ibu ketua sangat demokratis.’
‘Apa maksud pak Umar? Adakah yang bapak tidak berkenan atau tidak setuju dengan yang sedang dibahas? Apa begitu pak Umar?’ tanya ibu Purwati.
‘Ada ibu ketua.’
‘Mungkin bisa dijelaskan, pak. Biar sama-sama kita dengarkan.’
‘Baiklah. Saya khawatir tentang bahasan yang terakhir ini, khususnya mengenai acara. Saya rasa sudah keluar dari konteks. Tadi saya menyimak tema acara yang sudah disepakati bersama. Temanya bagus. Acara ini adalah acara perpisahan. Lebih tepatnya untuk menghormati bapak kepala sekolah, bapak Suprapto. Tapi akhirnya kita malahan terjebak dengan keinginan mau mengadakan pentas terbuka untuk umum. Saya sependapat dengan pak Sofyan. Panitia tentu harus bertanggung jawab seandainya acara ini nanti berubah jadi tidak terkendali. Agaknya yang perlu kita ingat, acara ini acara sekolah, acara lembaga pendidikan. Panitianya guru-guru. Jadi seharusnya acara ini bisa dipertanggung jawabkan secara moral. Menurut pendapat saya, sebaiknya acara ini dibuat tertutup untuk sekolah saja, melibatkan guru, karyawan sekolah dan murid ditambah perwakilan POMG karena mereka ini yang sehari-hari bergaul dengan pak kepala sekolah. Mereka ini yang mengadakan perpisahan. Harusnya acara ini meninggalkan sesuatu yang bisa dikenang dengan baik oleh pak Suprapto. Seandainya terjadi huru-hara tentu tidak akan dapat dijadikan kenangan yang baik. Saya pikir sebagian besar dari acara yang diusulkan tadi sudah bagus. Semua hanya melibatkan murid-murid dan guru-guru. Namun ada satu hal lagi yang harus juga jadi pertimbangan kita sebagai panitia. Fihak panitia, dari sekarang-sekarang harus bisa mengantisipasi agar tidak ada penyimpangan yang tidak diinginkan nantinya baik di dalam maupun diluar acara. Tepatnya begini. Saya dengar tadi acaranya diadakan malam hari. Sampai jam sebelas malam. Tidakkah terpikirkan oleh kita keselamatan setiap orang sesudah acara itu berakhir? Maaf, bagaimana kalau acara sudah kita tutup secara resmi, tapi masih ada yang melanjutkan secara tidak resmi dan dengan cara yang tidak bisa dipertanggung jawabkan pula? Panitia, karena sudah kecapekan langsung pulang. Lalu di sini, di sekolah ini masih tinggal mereka-mereka yang memanfaatkan malam minggu. Siapa yang bertanggung jawab? Padahal ini adalah lembaga pendidikan? Itu saja dulu. Masih ada nanti yang akan saya tambahkan kalau masih diizinkan.’
‘Wah! Bakalan jadi mentah nih kalau begini,’ kata pak Mursyid.
‘Maaf, pak Mursyid. Kalau anda tidak setuju atau berkeberatan silahkan dibantah,’ kata ibu Purwati.
‘Saya bukannya mau membantah. Tapi jelas, tidak ada pekerjaan yang tidak mengandung resiko. Kalau mau terhindar dari resiko ya… tidak usah melakukan apa-apa.’
‘Bagaimana pak Umar?’ tanya ibu Purwati lagi.
‘Pak Mursyid benar. Tidak ada perbuatan yang tidak mengundang resiko. Tapi resiko bisa diminimalkan. Mengadakan acara keramaian malam hari menurut saya lebih beresiko dibandingkan kalau dilaksanakan siang hari. Melibatkan orang-orang luar yang tidak di bawah tanggung jawab kita lebih beresiko dibandingkan melibatkan orang-orang dari lingkungan kita sendiri.’
‘Jadi kesimpulan pak Umar, lebih baik diadakan siang hari, di ruangan tertutup yang artinya bukan pentas terbuka, tidak melibatkan orang luar atau artis dari luar, benar begitu, pak?’ ibu Purwati ingin penegasan.
‘Benar sekali,’ jawab pak Umar pendek.
‘Bagaimana pak Hardjono? Sepertinya ada yang ingin ditambahkan?’
‘Saya rasa yang disampaikan pak Umar itu perlu jadi perhatian kita bersama. Kita harus menjaga jangan sampai acara ini mencorengkan malu bagi SMU 369 sebagai sebuah lembaga pendidikan. Ringkasnya saya setuju dengan pak Umar. Mungkin acaranya bisa kita lakukan hari Minggu pagi, mulai jam delapan sampai selesai sekitar siang. Dari segi acara yang kita susun rasanya tidak ada masalah. Malahan lebih enak kalau siang hari.’
‘Saya keberatan ibu ketua,’ kata pak Mursyid.
‘Silahkan dijelaskan keberatannya pak Mursyid!’
‘Begini. Saya rasa kita tidak usah terlalu banyak berprasangka. Apalagi terhadap anak-anak didik kita sendiri. Tadi pak Umar mengatakan khawatir, kalau ada yang meneruskan acara di sini sesudah acara resmi ditutup jika acaranya dibuat malam hari. Kita bisa antisipasi dengan memberi peringatan atau nasihat kepada murid-murid kita agar mereka segera pulang begitu acara selesai. Bila perlu kita berikan sangsi kepada yang melanggar. Saya rasa dengan cara seperti itu resikonya bisa kita kurangi. Jadi saya tetap mengusulkan agar acaranya diadakan malam hari.’
‘Maaf pak Mursyid, bisa lebih spesifik? Apa alasannya pak Mursyid memilih malam hari? Apa keuntungannya dibandingkan kalau diadakan siang hari?’ ibu Purwati minta penjelasan.
‘Ini masalah tradisi saja ibu ketua. Acara seperti ini, apalagi ada drama, ada grup musik, biasanya lebih pantas dilaksanakan malam hari.’
‘Permisi ibu ketua,’ giliran pak Wayan minta waktu berbicara.
‘Silahkan pak Wayan!’
‘Kalau dikatakan tradisi saya kurang sependapat. Ada juga orang melakukan pentas seni musik atau tari-tarian siang hari dan itu tidak mengurangi nilai seninya. Tetap banyak juga pengunjungnya kalau memang acara itu menarik. Saya ikut khawatir, acara sudah selesai jam sebelas malam, murid-murid sudah diberi peringatan atau bahkan ancaman bahwa kalau mereka masih berkeliaran juga di sekolah kita beri sangsi. Tapi bagaimana kalau mereka pergi dari sekolah tapi tidak langsung pulang. Namanya anak muda. Mereka pergi dulu ngebut-ngebutan, atau pesta-pestaan, karena malam panjang kata mereka. Besoknya kita baca di koran, siswa SMU 369 begini-begitu. Secara moril tentu kita tidak enak. Satu lagi, ini maaf kepada rekan-rekan guru, terutamanya yang masih lajang, banyak desas desus beliau-beliau ini ikut-ikutan menggunakan kesempatan. Jadi saya sependapat dengan pak Umar. Terlalu besar resikonya.’
Thursday, October 16, 2008
SANG AMANAH (21)
(21)
‘Gile, cing. Jadi lo beneran insap nih? Hebat beneeer……. Gue kagum nih,’ Herman membuka sambutan sekembali Anto dari shalat.
‘Emangnya kenapa? Keberatan?’ Anto sok serius.
‘Ah enggak. Ngapain juga gue keberatan. Cuman kagum, tau nggak lo. Kok lo bisa berubah kayak gitu ya? Emang ada apa sih?’
‘Lo mau tau? Gini pren. Gue ini insap. Gue ini lagi perlu pertolongan Tuhan. Lo denger nggak? Gue lagi perlu pertolongan Tuhan. Nyokap gue lagi sakit. Sakit parah. Sakit yang bisa fatal. Abis dioperasi udah dua bulan kagak bisa bangun, di tempat tidur melulu. Bokap gue frustrasi, bermasalah, runyem, kacau. Tiba-tiba… Lo dengerin nih…tiba-tiba terjadi peristiwa kemaren. Yang lo juga dipanggil. Yang lo protes gara-gara ditelanjangin sama Mr. Mursyid. Terus gue diinterogasi. Gue cerita apa adanya. Terus si ‘jenderal’ mau manggil nyokap gue, gue bilang nggak bisa karena nyokap gue lagi sakit. Lagi istirahat terus di tempat tidur. Dia mau panggil bokap gue, gue bilang kagak bisa karena bakal menambah sakit nyokap gue. Dan ‘new’ kepsek itu, yang datangnya terlambat, waktu gue dihadapkan lagi siang-siang, bilang dengan entengnya bahwa dia maapin gue. Begitu dia tau nyokap gue sakit, gara-gara diceritain si ‘jenderal’, dia bilang dia mau nengokin. Naah…panjang kan ceritanya. Dia datang deh tu siang-siang berdua sama si ‘jenderal’. Dan gue kemaren itu sering banget terkaget-kaget. Waktu gue nyampe di rumah gue lihat nyokap ama bokap udah baekan. Gue bilang terima kasih Tuhan. Terus itu ‘new’ kepsek ngasih tauin cara pengobatan untuk penyakit nyokap gue yang dia bilang sudah pernah dicoba sodaranya dan berhasil. Sodaranya sembuh. Nyokap gue seneng banget. Obatnya dia bilangin ada di kebon sekolahan sini, tinggal minta Mister Simin. Itu yang tadi pagi-pagi gue ambil. Dan…. dan…. itu ‘new’ kepsek mengagumkan kita semua. Bokap gue, nyokap gue sampe sak pembokat-pembokat di rumah gue semuanya terkagum-kagum. Kagum kenapa? Pasti lo mau nanya. Jawabnya, gue nggak tau. Tapi kita semua senang melihat tampangnya. Kemarin, pas azan asar, dia masih di rumah gue, pamitan. Bukan mau pulang tapi mau shalat ke mesjid deket rumah gue. Nyokap gue nyuruh gue ikutan. Bokap gue juga ikut-ikutan. Dan yang lebih bikin lo penasaran…. Tadi pagi… gue kebangun pas azan subuh. Udah segitu lama gue tinggal di sana rasanya belum pernah gue kebangun subuh-subuh pas azan kayak tadi pagi. Dan gue shalat. Gue mau insap. Gue mau berdoa banyak-banyak sama Tuhan, mohon agar nyokap gue sembuh. Nah… lo-lo mau bilang gue anak mami? Iya kan?! Sebodo amat. Pokoknya EGP. Naah begitu ceritanya pren. Kenapa lo-lo pada? Kok pada mangap semua?’
‘Hebat…bener-bener hebat. Gue bener-bener kagum,’ kata Herman.
‘Masih nyindir nih?’
‘Enggak. Siapa bilang gue nyindir? Gue kagum, masak nggak boleh kagum sih?’
‘Tadi pagi lo shalat ke mesjid juga, gitu?’ tanya Iwan.
‘Ya enggak. Belum. Cuman gue kebangun. Gue shalat aja di kamar gue.’
‘Gimana Wan? Lo mau ikutan?’ tanya Herman sama Iwan.
Iwan tidak menjawab. Dia tersenyum-senyum sambil memonyong-monyongkan bibirnya dan kepalanya mengangguk-angguk. Entah apa maksudnya. Bel masuk sudah dibunyikan lagi. Ketiga ‘jagoan’ itu bergegas menuju kelas.
*****
5. Rapat Acara Perpisahan
Pak Suprapto baru kembali dari kantor Depdiknas jam satu lebih. Dia buru-buru ke mesjid sekolah mau shalat zuhur. Di mesjid dia lihat pak Umar lagi berbincang-bincang dengan pak Simin, pak Tugiman dan pak Kosasih. Kelihatannya asyik betul. Pak Suprapto membayangkan mereka berempat ini baru selesai shalat. Tentu shalat berjamaah dengan pak Umar. Tentu pak Umar yang mengajak mereka-mereka ini shalat berjamaah. Pak Umar memang dari dulu sangat pandai mengambil hati bawahan. Orangnya sangat penuh perhatian dan biasanya orang lain cepat sekali menurut kepadanya. Ah, pak Umar ini memang hebat.
Pak Suprapto shalat sendirian. Seperti kemarin. Pak Suprapto memang biasa shalat sendiri biar di rumah pun. Dia biasanya shalat berjamah hanya hari Jumat. Atau shalat taraweh kalau bulan puasa. Dan shalat hari raya. Yang lainnya sering sendiri. Tapi pak Suprapto adalah orang yang selalu melakukan shalat. Waktu dia selesai, bapak-bapak yang empat orang itu masih duduk-duduk berbincang-bincang. Pak Suprapto ikut bergabung.
‘Baru pada habis shalat juga?’ tanya pak Suprapto.
‘Sudah dari tadi pak. Kami lagi ngobrol ke barat – ke timur. Dari urusan shalat berjamaah sampai ke urusan tanaman obat,’ pak Umar menjelaskan.
‘Iya. Mengenai urusan shalat. Nanti-nanti bapak-bapak ini bakalan diajak pak Umar shalat berjamah di mesjid ini terus nih,’ kata pak Suprapto.
‘Pan udah mulain tadi, pak. Tadi pan kita udah bejamaah ramai banget di sini,’ pak Simin menjelaskan.
‘Oh ya? Saya baru saja kembali dari rapat. Tadi kebetulan ada rapat di luar sekolah. Maksudnya tadi murid-murid di suruh shalat di sini semua begitu, pak Umar?’ tanya pak Suprapto.
‘Ah, tidak juga kok pak. Tidak saya suruh. Cuman saya panggil. Saya azan dan mereka berdatangan. Murid-murid, bapak-bapak ini, guru-guru. Lumayan ramai. Ternyata cukup dengan panggilan azan, mesjid ini sudah dapat difungsikan dengan baik. Alhamdulillah. Saya sungguh bersyukur.’
‘Oh ya? Dan… tidak ada masalah?’
‘Ah tidak pak… Sampai sejauh ini tidak ada masalah. Aman-aman saja. Mudah-mudahan ke sananya juga tidak ada masalah. Lagi pula masak shalat akan menimbulkan masalah, pak. Kayaknya kok ya terbalik. Harusnya tidak shalat yang akan menimbulkan masalah,’ jawab pak Umar.
‘Maksud saya tidak ….. tidak ada yang protes misalnya?’ Tanya pak Suprapto lagi.
‘Tidak ada pak. Tapi, masak sih kita shalat, ada yang protes?’ jawab pak Umar pura-pura tidak mengerti.
‘Syukurlah kalau begitu. Syukurlah kalau tidak ada yang protes,’ kata pak Suprapto pula.
*****
Jam setengah tiga rapat guru-guru untuk persiapan hari perpisahan pak Suprapto baru bisa dimulai. Sesudah terlebih dahulu makan nasi bungkus. Selama makan sudah ada lobi-lobi kecil tentang acara perpisahan yang akan di gelar. Ibu Purwati yang memimpin rapat. Tidak semua guru bisa hadir. 12 orang guru tidak dapat ikut serta karena ada keperluan lain. Pak Suprapto ikut hadir sebagai pemberi saran. Pak Umar juga diminta ikut hadir. Sebenarnya ini bukan rapat guru-guru melulu. Ada pula tiga orang perwakilan wali murid yang ikut diundang. Dan perwakilan OSIS. Ibu Purwati, ketua panitia, membuka rapat.
‘Selamat siang bapak-bapak, ibu-ibu serta anak-anak yang mewakili OSIS. Seperti dijadwalkan kita akan mengadakan rapat dalam rangka perpisahan kepala sekolah yaitu pak Drs. Suprapto M.Pd, karena beliau akan segera memasuki usia pensiun. Kami sudah susun agenda rapat kita siang hari ini sebagai berikut, yaitu pembukaan, pemilihan tema, acara, pembiayaan dan terakhir penutup. Saya yang diserahi tanggung jawab memimpin ke panitiaan ini mengharapkan rapat kita ini bisa berjalan lancar, tidak bertele-tele. Bagian yang paling pokok dan akan banyak menyita waktu saya rasa adalah yang menyangkut acara dan pendanaan. Jadi seyogianya kita bisa lebih terarah dalam membahas keduanya nanti. Baiklah, bapak-bapak dan ibu-ibu sekalian, karena rapat sudah resmi dibuka, saya pikir kita langsung menginjak ke acara kedua yaitu pemilihan tema. Apakah cukup kalau temanya kita ambil ‘ACARA PELEPASAN KEPALA SEKOLAH SMU 369 - BAPAK DRS SUPRAPTO M.PD’ dengan sub tema ‘SESUDAH 36 TAHUN PENGABDIAN DI DUNIA PENDIDIKAN’. Mungkin ada bapak-bapak atau ibu-ibu yang akan mengomentari. Silahkan.’
Pak Mursyid mengangkat tangan.
‘Langsung saja pak Mursyid!’
‘Baik, terima kasih ibu ketua. Saya usul agar kata-kata ‘pelepasan’ diganti dengan ‘perpisahan’ saja. Tepatnya ‘acara perpisahan dengan….’ Dan seterusnya. Dan tidak usah pakai sub tema. Itu saja terima kasih.’
‘Bagaimana bapak-bapak dan ibu-ibu yang lain?’
‘Saya, ibu ketua,’ kata ibu Lastri.
‘Silahkan!’
‘Saya setuju dengan pak Mursyid untuk mengganti kata ‘pelepasan’. Tapi sub tema tidak perlu dihilangkan. Malahan ditambahkan lagi dengan kata-kata, ‘selamat jalan pak Suprapto – selamat datang pak Umar’. Karena pada kesempatan ini kita kan juga mengucapkan selamat datang di SMU 369 kepada bapak Umar, pengganti kepala sekolah. Itu saja usulan saya.’
‘Baik. Masih ada yang ingin menambahkan? Pak Sofyan barangkali? Silahkan langsung saja pak!’
‘Saya sependapat dengan ibu Lastri, ibu ketua.’
‘Mungkin masih ada yang lain?’
Ternyata sudah tidak ada yang berkomentar.
‘Baik, kalau begitu maka temanya secara utuh kita putuskan saja, ‘ACARA PERPISAHAN DENGAN KEPALA SEKOLAH SMU 369 - BAPAK DRS SUPRAPTO M.PD’ dengan sub tema ‘SESUDAH 36 TAHUN PENGABDIAN DI DUNIA PENDIDIKAN’ dan di bawahnya lagi, ‘selamat jalan pak Suprapto – selamat datang pak Umar’. Terima kasih. Kita lanjutkan dengan bahasan berikutnya, yang mungkin akan banyak usulan-usulan yaitu mengenai ‘acara’. Mungkin pak Hardjono bisa memberikan sedikit gambaran tentang susunan acara yang akan kita laksanakan. Silahkan pak Hardjono!’
‘Terima kasih ibu ketua. Saya bersama-sama dengan bapak-bapak dan ibu-ibu yang lain di antaranya, pak Wayan, pak Muslih, ibu Lastri sudah merancang acara secara garis besar sebagai berikut. Pertama acara sambutan-sambutan, kita batasi saja, sambutan dari ketua panitia, dalam hal ini ibu Purwati. Berikutnya sambutan dari ketua POMG sebagai penyampai ucapan terima kasih dan selamat jalan kepada bapak Suprapto dan terakhir sambutan dari pak Suprapto sendiri. Acara berikutnya langsung saja kepada acara hiburan yang didalamnya ada drama ‘Kenangan dengan pak ‘Jenderal’ Suprapto’. Ini maaf … pak Suprapto. Drama ini terdiri dari tiga babak, akan dimainkan oleh murid-murid kita. Di antara ketiga drama akan ada pertunjukkan tari-tarian oleh murid-murid juga, asuhan pak Wayan dan grup band dan nyanyian-nyanyian serta duet gitar, seperti biasa Adrianto dan Iwan Tirta. Terakhir sekali acara bebas yang biasanya diisi dengan ‘dangdut dan joged’. Nah, itu yang sudah sempat kami orat-oret. Jadi silahkan bapak-bapak dan ibu-ibu tambahkan atau komentari!’
‘Baiklah. Terima kasih pak Hardjono. Namun sebelum lupa, apakah acara ini kita lakukan siang hari atau malam hari? Di panggung terbuka atau di ruangan tertutup? Mungkin bisa dijelaskan!’
‘Kami merencanakan acaranya malam, ibu ketua. Yaitu malam Minggu atau Sabtu malam. Acara kita mulai jam delapan dan ditutup jam sebelas. Dan di panggung terbuka di pelataran parkir mobil.’
‘Bapak-bapak atau ibu-ibu yang lain? Bagaimana komentar dan pendapatnya?’
‘Saya ibu ketua,’ pak Darmawan ikut bicara.
‘Silahkan pak Darmawan!’
‘Mengingat saat sekarang sering turun hujan apakah tidak beresiko kalau acara itu di panggung terbuka. Itu saja ibu ketua?’
‘Silahkan bapak-bapak yang lain. Ya pak Mursyid, silahkan!’
‘Gile, cing. Jadi lo beneran insap nih? Hebat beneeer……. Gue kagum nih,’ Herman membuka sambutan sekembali Anto dari shalat.
‘Emangnya kenapa? Keberatan?’ Anto sok serius.
‘Ah enggak. Ngapain juga gue keberatan. Cuman kagum, tau nggak lo. Kok lo bisa berubah kayak gitu ya? Emang ada apa sih?’
‘Lo mau tau? Gini pren. Gue ini insap. Gue ini lagi perlu pertolongan Tuhan. Lo denger nggak? Gue lagi perlu pertolongan Tuhan. Nyokap gue lagi sakit. Sakit parah. Sakit yang bisa fatal. Abis dioperasi udah dua bulan kagak bisa bangun, di tempat tidur melulu. Bokap gue frustrasi, bermasalah, runyem, kacau. Tiba-tiba… Lo dengerin nih…tiba-tiba terjadi peristiwa kemaren. Yang lo juga dipanggil. Yang lo protes gara-gara ditelanjangin sama Mr. Mursyid. Terus gue diinterogasi. Gue cerita apa adanya. Terus si ‘jenderal’ mau manggil nyokap gue, gue bilang nggak bisa karena nyokap gue lagi sakit. Lagi istirahat terus di tempat tidur. Dia mau panggil bokap gue, gue bilang kagak bisa karena bakal menambah sakit nyokap gue. Dan ‘new’ kepsek itu, yang datangnya terlambat, waktu gue dihadapkan lagi siang-siang, bilang dengan entengnya bahwa dia maapin gue. Begitu dia tau nyokap gue sakit, gara-gara diceritain si ‘jenderal’, dia bilang dia mau nengokin. Naah…panjang kan ceritanya. Dia datang deh tu siang-siang berdua sama si ‘jenderal’. Dan gue kemaren itu sering banget terkaget-kaget. Waktu gue nyampe di rumah gue lihat nyokap ama bokap udah baekan. Gue bilang terima kasih Tuhan. Terus itu ‘new’ kepsek ngasih tauin cara pengobatan untuk penyakit nyokap gue yang dia bilang sudah pernah dicoba sodaranya dan berhasil. Sodaranya sembuh. Nyokap gue seneng banget. Obatnya dia bilangin ada di kebon sekolahan sini, tinggal minta Mister Simin. Itu yang tadi pagi-pagi gue ambil. Dan…. dan…. itu ‘new’ kepsek mengagumkan kita semua. Bokap gue, nyokap gue sampe sak pembokat-pembokat di rumah gue semuanya terkagum-kagum. Kagum kenapa? Pasti lo mau nanya. Jawabnya, gue nggak tau. Tapi kita semua senang melihat tampangnya. Kemarin, pas azan asar, dia masih di rumah gue, pamitan. Bukan mau pulang tapi mau shalat ke mesjid deket rumah gue. Nyokap gue nyuruh gue ikutan. Bokap gue juga ikut-ikutan. Dan yang lebih bikin lo penasaran…. Tadi pagi… gue kebangun pas azan subuh. Udah segitu lama gue tinggal di sana rasanya belum pernah gue kebangun subuh-subuh pas azan kayak tadi pagi. Dan gue shalat. Gue mau insap. Gue mau berdoa banyak-banyak sama Tuhan, mohon agar nyokap gue sembuh. Nah… lo-lo mau bilang gue anak mami? Iya kan?! Sebodo amat. Pokoknya EGP. Naah begitu ceritanya pren. Kenapa lo-lo pada? Kok pada mangap semua?’
‘Hebat…bener-bener hebat. Gue bener-bener kagum,’ kata Herman.
‘Masih nyindir nih?’
‘Enggak. Siapa bilang gue nyindir? Gue kagum, masak nggak boleh kagum sih?’
‘Tadi pagi lo shalat ke mesjid juga, gitu?’ tanya Iwan.
‘Ya enggak. Belum. Cuman gue kebangun. Gue shalat aja di kamar gue.’
‘Gimana Wan? Lo mau ikutan?’ tanya Herman sama Iwan.
Iwan tidak menjawab. Dia tersenyum-senyum sambil memonyong-monyongkan bibirnya dan kepalanya mengangguk-angguk. Entah apa maksudnya. Bel masuk sudah dibunyikan lagi. Ketiga ‘jagoan’ itu bergegas menuju kelas.
*****
5. Rapat Acara Perpisahan
Pak Suprapto baru kembali dari kantor Depdiknas jam satu lebih. Dia buru-buru ke mesjid sekolah mau shalat zuhur. Di mesjid dia lihat pak Umar lagi berbincang-bincang dengan pak Simin, pak Tugiman dan pak Kosasih. Kelihatannya asyik betul. Pak Suprapto membayangkan mereka berempat ini baru selesai shalat. Tentu shalat berjamaah dengan pak Umar. Tentu pak Umar yang mengajak mereka-mereka ini shalat berjamaah. Pak Umar memang dari dulu sangat pandai mengambil hati bawahan. Orangnya sangat penuh perhatian dan biasanya orang lain cepat sekali menurut kepadanya. Ah, pak Umar ini memang hebat.
Pak Suprapto shalat sendirian. Seperti kemarin. Pak Suprapto memang biasa shalat sendiri biar di rumah pun. Dia biasanya shalat berjamah hanya hari Jumat. Atau shalat taraweh kalau bulan puasa. Dan shalat hari raya. Yang lainnya sering sendiri. Tapi pak Suprapto adalah orang yang selalu melakukan shalat. Waktu dia selesai, bapak-bapak yang empat orang itu masih duduk-duduk berbincang-bincang. Pak Suprapto ikut bergabung.
‘Baru pada habis shalat juga?’ tanya pak Suprapto.
‘Sudah dari tadi pak. Kami lagi ngobrol ke barat – ke timur. Dari urusan shalat berjamaah sampai ke urusan tanaman obat,’ pak Umar menjelaskan.
‘Iya. Mengenai urusan shalat. Nanti-nanti bapak-bapak ini bakalan diajak pak Umar shalat berjamah di mesjid ini terus nih,’ kata pak Suprapto.
‘Pan udah mulain tadi, pak. Tadi pan kita udah bejamaah ramai banget di sini,’ pak Simin menjelaskan.
‘Oh ya? Saya baru saja kembali dari rapat. Tadi kebetulan ada rapat di luar sekolah. Maksudnya tadi murid-murid di suruh shalat di sini semua begitu, pak Umar?’ tanya pak Suprapto.
‘Ah, tidak juga kok pak. Tidak saya suruh. Cuman saya panggil. Saya azan dan mereka berdatangan. Murid-murid, bapak-bapak ini, guru-guru. Lumayan ramai. Ternyata cukup dengan panggilan azan, mesjid ini sudah dapat difungsikan dengan baik. Alhamdulillah. Saya sungguh bersyukur.’
‘Oh ya? Dan… tidak ada masalah?’
‘Ah tidak pak… Sampai sejauh ini tidak ada masalah. Aman-aman saja. Mudah-mudahan ke sananya juga tidak ada masalah. Lagi pula masak shalat akan menimbulkan masalah, pak. Kayaknya kok ya terbalik. Harusnya tidak shalat yang akan menimbulkan masalah,’ jawab pak Umar.
‘Maksud saya tidak ….. tidak ada yang protes misalnya?’ Tanya pak Suprapto lagi.
‘Tidak ada pak. Tapi, masak sih kita shalat, ada yang protes?’ jawab pak Umar pura-pura tidak mengerti.
‘Syukurlah kalau begitu. Syukurlah kalau tidak ada yang protes,’ kata pak Suprapto pula.
*****
Jam setengah tiga rapat guru-guru untuk persiapan hari perpisahan pak Suprapto baru bisa dimulai. Sesudah terlebih dahulu makan nasi bungkus. Selama makan sudah ada lobi-lobi kecil tentang acara perpisahan yang akan di gelar. Ibu Purwati yang memimpin rapat. Tidak semua guru bisa hadir. 12 orang guru tidak dapat ikut serta karena ada keperluan lain. Pak Suprapto ikut hadir sebagai pemberi saran. Pak Umar juga diminta ikut hadir. Sebenarnya ini bukan rapat guru-guru melulu. Ada pula tiga orang perwakilan wali murid yang ikut diundang. Dan perwakilan OSIS. Ibu Purwati, ketua panitia, membuka rapat.
‘Selamat siang bapak-bapak, ibu-ibu serta anak-anak yang mewakili OSIS. Seperti dijadwalkan kita akan mengadakan rapat dalam rangka perpisahan kepala sekolah yaitu pak Drs. Suprapto M.Pd, karena beliau akan segera memasuki usia pensiun. Kami sudah susun agenda rapat kita siang hari ini sebagai berikut, yaitu pembukaan, pemilihan tema, acara, pembiayaan dan terakhir penutup. Saya yang diserahi tanggung jawab memimpin ke panitiaan ini mengharapkan rapat kita ini bisa berjalan lancar, tidak bertele-tele. Bagian yang paling pokok dan akan banyak menyita waktu saya rasa adalah yang menyangkut acara dan pendanaan. Jadi seyogianya kita bisa lebih terarah dalam membahas keduanya nanti. Baiklah, bapak-bapak dan ibu-ibu sekalian, karena rapat sudah resmi dibuka, saya pikir kita langsung menginjak ke acara kedua yaitu pemilihan tema. Apakah cukup kalau temanya kita ambil ‘ACARA PELEPASAN KEPALA SEKOLAH SMU 369 - BAPAK DRS SUPRAPTO M.PD’ dengan sub tema ‘SESUDAH 36 TAHUN PENGABDIAN DI DUNIA PENDIDIKAN’. Mungkin ada bapak-bapak atau ibu-ibu yang akan mengomentari. Silahkan.’
Pak Mursyid mengangkat tangan.
‘Langsung saja pak Mursyid!’
‘Baik, terima kasih ibu ketua. Saya usul agar kata-kata ‘pelepasan’ diganti dengan ‘perpisahan’ saja. Tepatnya ‘acara perpisahan dengan….’ Dan seterusnya. Dan tidak usah pakai sub tema. Itu saja terima kasih.’
‘Bagaimana bapak-bapak dan ibu-ibu yang lain?’
‘Saya, ibu ketua,’ kata ibu Lastri.
‘Silahkan!’
‘Saya setuju dengan pak Mursyid untuk mengganti kata ‘pelepasan’. Tapi sub tema tidak perlu dihilangkan. Malahan ditambahkan lagi dengan kata-kata, ‘selamat jalan pak Suprapto – selamat datang pak Umar’. Karena pada kesempatan ini kita kan juga mengucapkan selamat datang di SMU 369 kepada bapak Umar, pengganti kepala sekolah. Itu saja usulan saya.’
‘Baik. Masih ada yang ingin menambahkan? Pak Sofyan barangkali? Silahkan langsung saja pak!’
‘Saya sependapat dengan ibu Lastri, ibu ketua.’
‘Mungkin masih ada yang lain?’
Ternyata sudah tidak ada yang berkomentar.
‘Baik, kalau begitu maka temanya secara utuh kita putuskan saja, ‘ACARA PERPISAHAN DENGAN KEPALA SEKOLAH SMU 369 - BAPAK DRS SUPRAPTO M.PD’ dengan sub tema ‘SESUDAH 36 TAHUN PENGABDIAN DI DUNIA PENDIDIKAN’ dan di bawahnya lagi, ‘selamat jalan pak Suprapto – selamat datang pak Umar’. Terima kasih. Kita lanjutkan dengan bahasan berikutnya, yang mungkin akan banyak usulan-usulan yaitu mengenai ‘acara’. Mungkin pak Hardjono bisa memberikan sedikit gambaran tentang susunan acara yang akan kita laksanakan. Silahkan pak Hardjono!’
‘Terima kasih ibu ketua. Saya bersama-sama dengan bapak-bapak dan ibu-ibu yang lain di antaranya, pak Wayan, pak Muslih, ibu Lastri sudah merancang acara secara garis besar sebagai berikut. Pertama acara sambutan-sambutan, kita batasi saja, sambutan dari ketua panitia, dalam hal ini ibu Purwati. Berikutnya sambutan dari ketua POMG sebagai penyampai ucapan terima kasih dan selamat jalan kepada bapak Suprapto dan terakhir sambutan dari pak Suprapto sendiri. Acara berikutnya langsung saja kepada acara hiburan yang didalamnya ada drama ‘Kenangan dengan pak ‘Jenderal’ Suprapto’. Ini maaf … pak Suprapto. Drama ini terdiri dari tiga babak, akan dimainkan oleh murid-murid kita. Di antara ketiga drama akan ada pertunjukkan tari-tarian oleh murid-murid juga, asuhan pak Wayan dan grup band dan nyanyian-nyanyian serta duet gitar, seperti biasa Adrianto dan Iwan Tirta. Terakhir sekali acara bebas yang biasanya diisi dengan ‘dangdut dan joged’. Nah, itu yang sudah sempat kami orat-oret. Jadi silahkan bapak-bapak dan ibu-ibu tambahkan atau komentari!’
‘Baiklah. Terima kasih pak Hardjono. Namun sebelum lupa, apakah acara ini kita lakukan siang hari atau malam hari? Di panggung terbuka atau di ruangan tertutup? Mungkin bisa dijelaskan!’
‘Kami merencanakan acaranya malam, ibu ketua. Yaitu malam Minggu atau Sabtu malam. Acara kita mulai jam delapan dan ditutup jam sebelas. Dan di panggung terbuka di pelataran parkir mobil.’
‘Bapak-bapak atau ibu-ibu yang lain? Bagaimana komentar dan pendapatnya?’
‘Saya ibu ketua,’ pak Darmawan ikut bicara.
‘Silahkan pak Darmawan!’
‘Mengingat saat sekarang sering turun hujan apakah tidak beresiko kalau acara itu di panggung terbuka. Itu saja ibu ketua?’
‘Silahkan bapak-bapak yang lain. Ya pak Mursyid, silahkan!’
Subscribe to:
Posts (Atom)