(83)
‘Maksud saya…… bagaimana ya, pak ya? Maksud saya…….. anak saya itu…. Edwin namanya, sekarang bekerja, pak. Dia bekerja untuk menunjang kehidupan kami anak beranak. Dia membantu saya mencari nafkah. Untuk membiayai sekolah adik-adiknya. Mungkin bapak faham maksud saya sekarang,’ ujar ibu Winarni dengan kepala ditegakkan. Tampak sekali dia berusaha menahan perasaannya.
‘Ya… saya paham maksud ibu,’ giliran pak Umar sekarang yang terdiam.
Tiba-tiba terdengar suara orang mengucapkan salam.
‘Assalamu’alaikum.’
Ibu Winarni melangkah ke arah pintu keluar, menyambut yang mengucapkan salam.
‘Wa’alaikumsalam….. eeeei. Beneran jadi datang. Waduuh maaf nih. Begini keadaannya di sini. Silahkan masuk, pak.’
‘Wush, jangan manggil pak. Ini suami saya lho, Win. Kenalkan, mas ini Winarni teman terkurung di lift kemarin dulu itu. Tapi…eh, maaf. Lagi ada tamu ya Win?’
‘Iya. Masuk aja, nggak apa-apa,’ Winarni mempersilahkan Ningsih dan suaminya masuk.
Betapa kagetnya mereka melihat di dalam ruangan tamu itu ada pak Umar dan istrinya, ibu Fat.
‘Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh….. apa kabar bapak dan ibu Umar?’ mas Yanto mengucapkan salam.
‘Wa’alaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh. Kabar baik…. kabar baik. Wah…kok bisa ketemu di sini kita? Subhanallah….subhanallah. Silahkan pak Yanto… silahkan…kebetulan saya ada keperluan sedikit dengan ibu Winarni,’ pak Umar menyapa pak Suryanto dan ibu Ningsih dengan ramah.
Giliran ibu Winarni yang kebingungan sebenar-benarnya bingung. Ada apa ini? Tapi dengan cepat otaknya berpikir. Oh, pastilah pak guru ini mengenal Ningsih dan suaminya karena anak Ningsih sekolah di SMU 369. Tapi kok kayaknya akrab sekali? Yaa…... mungkin saja mereka masih bersaudara. Tapi bagaimana kalau pak guru ini masih melanjutkan lagi pembicaraan tadi? Ah, rasanya sih pembicaraan mereka sudah selesai tadi.
‘Maaf… Silahkan duduk Ningsih, silahkan mas…. Maaf… Biar saya ambil satu kursi lagi di dalam,’ ibu Winarni berusaha tenang.
Ibu Winarni menenteng sebuah kursi dari ruangan dalam dan ikut duduk kembali.
‘Rupanya bapak-bapak dan ibu-ibu ini sudah saling kenal,’ ibu Winarni mencoba membuka kembali pembicaraan.
‘Maaf, saya cerita sedikit. Kamu ingat Win? Cerita saya bahwa saya baru saja sakit berat? Pak Umar ini yang membantu kesembuhan saya,’ ujar ibu Ningsih.
‘Oh begitu?’ jawab ibu Winarni sambil mengangguk ke pak Umar.
‘Saya hanya membantu dengan doa. Jadi sudah sehat benar sekarang ibu Ningsih? Sudah bisa beraktifitas secara normal kembali?' tanya pak Umar
‘Alhamdulillah, pak. Berkat doa bapak. Alhamdulillah saya sudah sehat,’ jawab Ningsih.
'Ngomong-ngomong, mana anak-anak kamu Win?’ tanya ibu Ningsih pula.
‘Mereka ada di dalam. Biar sebentar saya panggil,’ jawab ibu Winarni.
‘Win! Ini ada sedikit untuk anak-anak,’ ibu Ningsih menyerahkan kotak yang kelihatannya kotak kue-kue kepada ibu Winarni.
‘Kamu merepotkan diri,’ ibu Winarni berbasa basi. Dia meletakkan kotak kue itu ke belakang.
‘Wah, saya mohon maaf. Karena kami sudah cukup lama di sini, saya rasa kami mau mohon diri dulu,’ ujar pak Umar.
‘Kok buru-buru pak Umar?’ tanya pak Yanto.
‘Kami sudah dari tadi di sini pak Yanto. Saya mohon maaf, sudah merepotkan ibu Winarni. Baiklah kami mohon izin pamit dulu,’ pak Umar mengulangi kata-katanya.
‘Saya berterima kasih sekali atas perhatian bapak, tapi sekali lagi saya harap bapak bisa mengerti keadaan saya,’ ujar ibu Winarni.
‘Saya mengerti bu. Mudah-mudahan Allah SWT mencarikan jalan keluar yang terbaik buat ibu,’ pak Umar menambahkan.
‘Maaf, kalau boleh saya tahu. Kira-kira apa sih yang sedang pak Umar dan Winarni bicarakan? Maaf, hanya ingin tahu saja, karena pembicaraan yang terakhir ini seolah-olah menggunakan bahasa sandi bagi saya,’ Ningsih memberanikan ikut berbicara.
Winarni terdiam. Mukanya agak pucat. Sepertinya dia tidak ingin hal ini diketahui Ningsih. Ningsih menyesal bertanya. Dia mengerti bahwa pembicaraan tadi mungkin tidak boleh diketahuinya.
Pak Umar dan ibu Fat bangkit dari tempat duduk. Mereka bersiap-siap mau pergi. Pak Umar menyalami pak Yanto dan mengangguk kepada ibu Ningsih dan ibu Winarni. Ibu Fat mengangguk kepada pak Yanto dan menyalami ibu Ningsih dan ibu Winarni. Pak Umar dan istrinya pergi sesudah mengucapkan salam.
*****
Setelah pak Umar pergi mereka meneruskan berbincang-bincang bertiga. Ningsih kembali mencoba menanyakan, ada keperluan apa pak Umar tadi datang. Winarni masih ragu-ragu. Tapi Ningsih mendesak secara halus.
‘Kalau sekiranya kamu punya masalah, tidak ada salahnya kamu bagi-bagi Win. Siapa tahu dengan dipikirkan bersama-sama suatu masalah bisa lebih mudah diatasi,’ ujar Ningsih.
‘Ya.. kamu benar. Tapi tidak ada masalah kok Ning. Pak guru tadi itu menawarkan anak saya untuk masuk sekolah kembali. Padahal dia sudah terlalu lama bolos. Dan lagi pula dia sudah bekerja sekarang. Jadi saya rasa, tentu dia sudah tidak mau sekolah lagi,’ ibu Winarni menjelaskan.
‘Kamu yakin anak kamu sudah tidak ingin kembali ke sekolah?’
‘Ya..hampir yakin. Anak itu ……. Sangat bertanggung jawab sekali. Dia bekerja atas kemauannya sendiri,’ jawab ibu Winarni.
‘Tujuh belas tahun kayaknya masih terlalu muda untuk bekerja.’
Ibu Winarni terdiam.
‘Win, maaf. Mana anak-anak kamu?’ tanya Ningsih mengalihkan pembicaraan.
Ibu Winarni memanggil anak-anaknya. Anak-anak itu muncul satu persatu dari ruang belakang. Edwirna, Edwar dan Edwanto. Mereka bersalaman dengan ibu Ningsih dan pak Suryanto, yang berbasa basi menanyakan sekolah mereka. Anak-anak itu menjawab pertanyaan ibu Ningsih maupun pak Suryanto malu-malu, dan kemudian mereka kembali ke belakang.
‘Win, ada satu hal lagi yang ingin saya sampaikan. Kamu bilang, kamu dulu pernah bekerja sebagai tenaga pembukuan selama empat tahun, bukan? Bagaimana kalau sekarang kamu bekerja di perusahaan suami saya? Sebagai tenaga pembukuan?’
Winarni terdiam. Dia melongo mendengar penawaran itu. Ningsih melanjutkan lagi kata-katanya.
‘Saya sudah mengajukan lamaran atas nama kamu. Dan lamaran itu diterima oleh pimpinan ……..’ ujar ibu Ningsih terputus.
‘Benar, Winarni. Kamu diterima bekerja sebagai pemegang pembukuan di perusahaan yang saya pimpin. Tapi ada satu syaratnya. Mudah-mudahan kamu sanggup menerima syarat ini. Syaratnya, anak kamu yang paling besar bersekolah kembali,’ bapak Suryanto menyambung pembicaraan istrinya.
Winarni tambah melongo. Kali ini dengan air mata mulai mengalir. Dia tidak tahu apa yang akan dikatakan. Bagaimana ini? Dia tidak pernah mengajukan apa-apa, tapi tiba-tiba Ningsih datang mengulurkan tangannya yang lembut dibantu oleh suaminya yang santun menawarkan sesuatu yang terlalu indah. Tidak sedikitpun dia bermimpi akan menerima anugrah yang sebegini mulianya. Sepasang suami istri ini sungguh-sungguh telah diutus Tuhan untuk membantunya anak beranak.
‘Bagaimana Winarni? Apakah ada yang tidak berkenan?’ tanya bapak Suryanto kembali.
Ibu Winarni tambah berurai air mata. Suaranya tidak keluar karena ditelan oleh sesenggukannya. Anak-anaknya yang mendengar suara ibu mereka menangis bermunculan. Tiba-tiba pula muncul Edwin yang baru pulang dari tempat bekerjanya. Anak laki-laki yang sudah mendengar dari ibunya kemarin tentang rencana teman ibunya untuk datang ke rumah mereka, langsung mengerti bahwa tamu inilah teman ibu itu. Hanya dia tidak mengerti kenapa ibu menangis sesenggukan di hadapan orang ini. Edwin menyalami pak Suryanto dan ibu Ningsih, tanpa berkata sepatahpun. Matanya melirik wajah ibunya yang basah oleh air mata.
Edwin tidak tahan untuk tidak bertanya.
‘Ada apa ibu? Kenapa ibu menangis?’
Ibunya tetap diam dalam sesenggukan tangisnya. Edwin bingung seperti adik-adiknya yang juga bingung melihat ibu mereka menangis tapi tersenyum.
Ibu Ningsih mencoba memecah kebekuan itu.
‘Kamu yang namanya Edwin?’ tanyanya.
‘Benar tante,’ jawab Edwin singkat.
‘Begini, Edwin. Tante sudah mengajukan lamaran untuk ibu kalian bekerja di perusahaan suami tante ini. Ibu kalian berpengalaman sebagai karyawan tata buku. Lamaran itu ternyata diterima pimpinan perusahaan itu. Namun ada syaratnya. Syaratnya adalah, agar kamu kembali bersekolah. Hanya saja, ibu kalian belum menjawab apakah bersedia untuk bekerja di perusahaan suami tante ini. Bagaimana menurut pendapat kalian?’
Anak-anak itu berebutan memeluk ibu mereka. Keempat-empatnya. Keempat-empatnya menangis memeluk ibu mereka.
Edwin menyalami bapak Suryanto dan ibu Ningsih serta mencium tangan keduanya. Ibu, anak beranak itu larut dalam tangis bahagia.
*****
Thursday, December 4, 2008
SANG AMANAH (82)
(82)
Pak Umar sudah mendapat berita yang lebih lengkap baik dari OSIS maupun dari ibu Hartini, ibu Lastri dan ibu Sofni. Berita itu saling cocok. Hampir tidak ada tambahan berarti dari apa-apa yang sudah mereka dapatkan sebelumnya, kecuali untuk hal-hal berikut;
Informasi dari ibu Sofni mengatakan bahwa Parlin memang sudah pindah ke Medan. Anak itu sudah bersekolah kembali di sebuah SMU swasta di sana. Sebelum itu, anak itu sudah dimasukkan orang tuanya ke pusat rehabilitasi korban narkoba dan sudah sembuh. Menurut berita sekarang sudah aman-aman di Medan sana.
Yang kedua Danta sudah mau berangkat ke Australia bulan April mendatang. Dia akan di sekolahkan ayahnya di Perth, Australia Barat. Segala sesuatunya sudah disiapkan untuk keberangkatannya, dan dia sudah mendapat konfirmasi diterima di sebuah sekolah menengah atas di kota itu.
Dari ibu Lastri didapatkan informasi mengenai Wanto, yang sebelumnya dikatakan dalam keadaan sakit berat. Berita ini paling mengenaskan. Wanto sudah meninggal seminggu yang lalu, setelah berbulan-bulan terkapar sakit.
Ibu Hartini telah mendatangi orang tua Wahyu dan menanyakan keadaan anak mereka. Ibu Hartini sudah memberi bayangan kepada mereka, seandainya anak mereka Wahyu mau masuk kembali bersekolah, kemungkinannya akan diterima dengan persyaratan-persyaratan yang tegas. Orang tuanya sangat berminat, tapi Wahyu sendiri tidak bersedia. Dia merasa malu untuk kembali bersekolah di SMU 369. Dia ingin bersekolah di Pesantren. Kemungkinan dia akan bersekolah di Pesantren di Surakarta, sesuai dengan permintaannya kepada orang tuanya. Orang tuanya kemungkinan besar akan mengabulkan permintaan Wahyu.
Ibu Hartini sudah mendatangi alamat orang tua Edwin, tapi yang ada di rumah hanya adik-adik Edwin. Ibunya biasanya baru pulang sekitar waktu maghrib. Ibu Hartini akan mencoba mendatanginya lagi, tapi kalau pergi malam hari dia belum bisa, karena biasanya suaminya pulang terlambat setiap hari. Ibu Hartini berjanji akan pergi mengunjungi orang tua Edwin hari Sabtu karena pada hari itu dia libur.
Dari OSIS ada tambahan berita, bahwa Edwin yang bekerja di pompa bensin itu sekarang adalah anak baik-baik, bukan pengguna narkoba. Dia saat ini bekerja untuk membantu ibunya mendapatkan uang. Kelihatannya dia tidak mungkin untuk kembali bersekolah karena bekerja mencari nafkah itu menjadi kewajiban baginya.
Pak Umar sedang mengamat-amati semua laporan singkat tadi itu. Baik yang dari guru-guru, maupun yang dari OSIS. Jadi tidak ada yang tertarik di antara kelima anak-anak itu. Tepatnya tidak ada yang mungkin untuk kembali bersekolah di sini. Kasus yang paling akhir ini agak menarik perhatian pak Umar. Anak yang namanya Edwin itu. Dia ini, ‘kelihatannya tidak mungkin kembali ke sekolah karena sekarang bekerja untuk mencari nafkah bagi keluarganya’. Pernyataan ini kok kelihatannya menyedihkan sekali. Ada apa dengan keluarga ini? Pak Umar mencari lagi tambahan informasi dari ‘intelijen’ OSIS. Hampir tidak ada tambahan. Berita bahwa ayah anak itu meninggal beberapa bulan yang lalu, sudah didengarnya dari pak Mursyid waktu rapat dengan guru-guru kemarin. Tapi benarkah dia harus membantu mengambil alih tugas ayahnya mencari nafkah? Mengharukan sekali kalau begitu.
Pak Umar memutuskan akan pergi sendiri menyelidiki keberadaan keluarga anak ini. Dia akan mengunjunginya langsung. Harus sesudah maghrib? Malam ini dia tidak bisa pergi. Setiap malam Jum’at ada pengajian di mesjid Al Muhajirin dan nanti malam giliran pak Umar mengisi pengajian. Kalau begitu dia akan ke sana besok. Besok habis shalat maghrib dia akan mengajak istrinya mencari alamat anak yang namanya Edwin itu. Tidak baik kalau dia pergi sendirian ke sana karena ibu Edwin itu sudah janda.
*****
Habis shalat maghrib, pak Umar dan istrinya, berboncengan naik Vespa menyusuri jalan raya Kali Malang sampai ke ujung jalan itu, ke dekat persimpangan dengan jalan DI Panjaitan atau yang lebih dikenal dengan jalan ‘By Pass’. Mendekati jalan DI Panjaitan ada jalan bercabang ke kiri. Mereka menempuh jalan ini, lalu berbelok ke kiri, menyusuri Kali Malang dari seberang kali. Beberapa ratus meter, ada sebuah gang yang bernama gang Haji Sanip. Pak Umar membelokkan Vespanya memasuki gang itu. Akhirnya dia menemui kumpulan rumah petak bernomor 24. Dia memarkir Vespa di depan rumah petak nomor tiga. Pak Umar mengucapkan salam dan mengetuk pintu. Dari dalam muncul seorang remaja kecil.
‘Assalamu’alaikum.’
‘Wa’alaikum salam, bapak mencari siapa?’ tanya remaja kecil itu. Anak gadis itu memandang heran kepada tamu yang tidak dikenalnya ini.
‘Apakah ini rumahnya ibu Winarni?’ tanya pak Umar.
‘Betul. Tapi bapak dan ibu ini siapa?’ jawab anak itu dan sekalian bertanya. Tampangnya sangat keheranan.
‘Saya bernama Umar. Ini istri saya. Saya guru di SMU 369. Boleh saya bertemu dengan ibu Winarni?’ tanya pak Umar.
Anak remaja itu terlihat kebingungan. Beberapa saat dia tidak bersuara. Pak Umar tersenyum memperhatikannya.
‘Maaf, pak. Ibu ada. Ibu baru saja pulang dan sedang mandi. Ada keperluan apa bapak datang?’ tanya anak itu. Sopan dan bijak sekali.
‘Bapak ingin bertemu dengan ibu Winarni. Ada yang ingin ditanyakan. Tolong beritahukan ke ibu!’ ujar pak Umar.
‘Baik pak. Maaf, silahkan masuk bapak, ibu. Silahkan duduk, saya akan memberi tahu ibu,’ kata anak gadis itu lagi.
Anak gadis itu, yang di rumah dipanggil Wina, memberi tahu ibunya, atas kedatangan tamu, guru SMU 369. Ibu Winarni kaget mendengarnya. Apa tidak salah? Ada urusan apa guru SMU 369 datang ke sini. Bukankah anaknya sudah lama tidak lagi bersekolah di SMU 369? Dia memang sedang berdandan ala kadarnya, karena menunggu kedatangan temannya yang berjanji akan datang sore ini. Ah, kenapa mesti khawatir. Tentu ada kepentingannya dia datang. Ibu merapihkan pakaian dan keluar dari kamar satu-satunya di rumah petak itu.
Di ruang tamu didapatinya, bapak dan ibu Umar masih saja berdiri. Begitu melihat kedatangannya, pak Umar kembali mengucapkan salam. Ibu Winarni membalas salam itu dan mempersilahkan tamunya duduk. Ruang tamu itu sempit, berukuran kira-kira dua kali tiga meter . Ada satu set kursi tamu plastik di ruangan itu.
‘Maaf, ada perlu apa ya bapak dan ibu ini?’ tanya ibu Winarni hati-hati.
‘Kedatangan kami ini adalah untuk menanyakan beberapa hal. Saya harap apa yang ingin saya tanyakan ini tidak akan menyusahkan ibu. Baiklah. Sebelumnya saya perkenalkan diri saya. Nama saya Umar. Saya guru di SMU 369. Saya mendapat berita bahwa putra ibu dulu sekolah di SMU 369,’ ujar pak Umar hati-hati.
‘Benar, pak. Tapi sekarang dia sudah tidak sekolah lagi,’ jawab ibu Winarni.
‘Saya mendengar dan mengetahui hal itu. Pertanyaan saya berikutnya apakah benar anak ibu sekarang tidak bersekolah di tempat lainpun?’
‘Benar. Dia tidak bersekolah lagi, sejak dia dikeluarkan dari SMU 369. Anak saya itu dulu nakal. Jadi dikeluarkan,’ jawab ibu Winarni.
‘Apakah kira-kira anak ibu masih berminat untuk sekolah? Dan apakah kira-kira ibu masih ingin menyekolahkan anak ibu?’ tanya pak Umar lagi.
Ibu Winarni membelalak mendengar pertanyaan itu. Dia tidak mengerti sedikitpun maksud pertanyaan ini. Masak iya sih? Anaknya ditawarkan kembali ke sekolah? Mimpi apa dia? Dan orang ini datang menanyakan itu? Apa mungkin dia mau menawarkan agar anaknya bisa kembali sekolah asal dia mau membayar. Hah? Membayar? Edwin sekolah lagi? Dengan apa akan dibayarnya uang sekolah anak itu? Ini pasti omong kosong.
Setelah hening beberapa saat, ibu Winarni memberanikan diri membuka suara.
‘Maaf, pak. Saya tidak mengerti maksud bapak,’ ujarnya.
‘Maksud saya, seandainya anak ibu masih berminat untuk bersekolah, maka kami akan menerimanya kembali. Hanya itu maksud saya.’
‘Tapi dia sudah tidak bersekolah hampir satu tahun. Bagaimana mungkin dia kembali lagi bersekolah?’
‘Tentu saja kalau dia mau kembali, dia masuk ke kelasnya yang lama. Artinya dia masih kelas dua,’ jawab pak Umar.
‘Maaf pak. Aduh… Tawaran ini indah sekali. Tapi rasa-rasanya…….Rasa-rasanya kami sudah tidak sanggup….’ ujar ibu Winarni terbata-bata.
‘Seandainya, yang jadi keberatan ibu mengenai uang sekolah, mudah-mudahan bisa saya carikan jalan keluarnya. Anak ibu saya usahakan tidak usah membayar uang SPP,’ kata pak Umar pula.
‘Bagaimana mungkin bapak membebaskan uang SPP……?’ tanya ibu Winarni dengan suara tertahan.
‘Maaf, bu…. Begini…… Saya tidak bermaksud menonjolkan diri. Kebetulan saya dipercaya memimpin SMU 369 itu sekarang. Dan saya yakin, saya berwewenang untuk membebaskan murid yang memang pantas untuk dibebaskan dari membayar uang SPP,’ kata pak Umar.
Ibu Winarni menggigit bibirnya. Apa yang harus diucapkannya? Apa maksud orang ini sebenarnya? Dan siapa dia ini sebenarnya? Dia inikah kepala sekolah SMU 369 sekarang? Kalau iya, alangkah sederhananya orang ini. Tapi sekali lagi, apa sebenarnya maunya? Mau menawarkan Edwin bersekolah kembali dengan keringanan tidak usah membayar SPP? Bukan hanya uang SPP yang jadi masalah. Edwin saat ini adalah tulang punggung utama buat mencari nafkah. Mereka bisa bertahan hidup, anak-anaknya yang lain masih bisa sekolah, karena mereka berdua mencari nafkah. Karena ibu Winarni dan Edwin bekerja dan mendapatkan upah. Dengan penghasilan mereka berdua anak-anak yang lain masih bisa sekolah. Lalu kalau Edwin sekolah?
Wina muncul membawa tatakan berisi tiga cangkir teh. Wina meletakkan cangkir itu di hadapan pak Umar, ibu Fat dan ibu.
‘Wah, pintar sekali. Terima kasih. Siapa namanya?’ ibu Fat menyapa Wina.
‘Edwirna, bu. Silahkan diminum bu. Silahkan pak!’ Wina mempersilahkan tamu itu dengan sopan.
Wina kembali ke belakang.
‘Silahkan pak, bu. Cuma ada teh,’ ibu Winarni mempersilahkan minum.
‘Terima kasih,’ jawab ibu Fat kembali.
Suasana kembali hening. Ibu Winarni masih belum mampu menyusun kata-kata untuk menjelaskan kesulitan sebenarnya yang dihadapinya sekeluarga.
‘Begini pak,’ lanjut ibu Winarni akhirnya sesudah suasana hening itu berlalu beberapa saat.
‘Pertama, saya sangat berterima kasih atas kebaikan bapak. Padahal saya tidak mengenal bapak. Tapi bapak pastilah seorang yang sangat baik. Bapak sudi datang ke sini menyampaikan tawaran yang sangat berharga itu, merupakan bukti kebaikan bapak. Tapi…….. Saya harus berterus terang… Tawaran bapak itu tidak mungkin kami terima. Tawaran itu terlalu mahal buat kami….’ kata ibu Minarni berusaha tegar.
‘Maksud ibu?’ pak Umar masih mencoba menjajaki lebih lanjut.
Pak Umar sudah mendapat berita yang lebih lengkap baik dari OSIS maupun dari ibu Hartini, ibu Lastri dan ibu Sofni. Berita itu saling cocok. Hampir tidak ada tambahan berarti dari apa-apa yang sudah mereka dapatkan sebelumnya, kecuali untuk hal-hal berikut;
Informasi dari ibu Sofni mengatakan bahwa Parlin memang sudah pindah ke Medan. Anak itu sudah bersekolah kembali di sebuah SMU swasta di sana. Sebelum itu, anak itu sudah dimasukkan orang tuanya ke pusat rehabilitasi korban narkoba dan sudah sembuh. Menurut berita sekarang sudah aman-aman di Medan sana.
Yang kedua Danta sudah mau berangkat ke Australia bulan April mendatang. Dia akan di sekolahkan ayahnya di Perth, Australia Barat. Segala sesuatunya sudah disiapkan untuk keberangkatannya, dan dia sudah mendapat konfirmasi diterima di sebuah sekolah menengah atas di kota itu.
Dari ibu Lastri didapatkan informasi mengenai Wanto, yang sebelumnya dikatakan dalam keadaan sakit berat. Berita ini paling mengenaskan. Wanto sudah meninggal seminggu yang lalu, setelah berbulan-bulan terkapar sakit.
Ibu Hartini telah mendatangi orang tua Wahyu dan menanyakan keadaan anak mereka. Ibu Hartini sudah memberi bayangan kepada mereka, seandainya anak mereka Wahyu mau masuk kembali bersekolah, kemungkinannya akan diterima dengan persyaratan-persyaratan yang tegas. Orang tuanya sangat berminat, tapi Wahyu sendiri tidak bersedia. Dia merasa malu untuk kembali bersekolah di SMU 369. Dia ingin bersekolah di Pesantren. Kemungkinan dia akan bersekolah di Pesantren di Surakarta, sesuai dengan permintaannya kepada orang tuanya. Orang tuanya kemungkinan besar akan mengabulkan permintaan Wahyu.
Ibu Hartini sudah mendatangi alamat orang tua Edwin, tapi yang ada di rumah hanya adik-adik Edwin. Ibunya biasanya baru pulang sekitar waktu maghrib. Ibu Hartini akan mencoba mendatanginya lagi, tapi kalau pergi malam hari dia belum bisa, karena biasanya suaminya pulang terlambat setiap hari. Ibu Hartini berjanji akan pergi mengunjungi orang tua Edwin hari Sabtu karena pada hari itu dia libur.
Dari OSIS ada tambahan berita, bahwa Edwin yang bekerja di pompa bensin itu sekarang adalah anak baik-baik, bukan pengguna narkoba. Dia saat ini bekerja untuk membantu ibunya mendapatkan uang. Kelihatannya dia tidak mungkin untuk kembali bersekolah karena bekerja mencari nafkah itu menjadi kewajiban baginya.
Pak Umar sedang mengamat-amati semua laporan singkat tadi itu. Baik yang dari guru-guru, maupun yang dari OSIS. Jadi tidak ada yang tertarik di antara kelima anak-anak itu. Tepatnya tidak ada yang mungkin untuk kembali bersekolah di sini. Kasus yang paling akhir ini agak menarik perhatian pak Umar. Anak yang namanya Edwin itu. Dia ini, ‘kelihatannya tidak mungkin kembali ke sekolah karena sekarang bekerja untuk mencari nafkah bagi keluarganya’. Pernyataan ini kok kelihatannya menyedihkan sekali. Ada apa dengan keluarga ini? Pak Umar mencari lagi tambahan informasi dari ‘intelijen’ OSIS. Hampir tidak ada tambahan. Berita bahwa ayah anak itu meninggal beberapa bulan yang lalu, sudah didengarnya dari pak Mursyid waktu rapat dengan guru-guru kemarin. Tapi benarkah dia harus membantu mengambil alih tugas ayahnya mencari nafkah? Mengharukan sekali kalau begitu.
Pak Umar memutuskan akan pergi sendiri menyelidiki keberadaan keluarga anak ini. Dia akan mengunjunginya langsung. Harus sesudah maghrib? Malam ini dia tidak bisa pergi. Setiap malam Jum’at ada pengajian di mesjid Al Muhajirin dan nanti malam giliran pak Umar mengisi pengajian. Kalau begitu dia akan ke sana besok. Besok habis shalat maghrib dia akan mengajak istrinya mencari alamat anak yang namanya Edwin itu. Tidak baik kalau dia pergi sendirian ke sana karena ibu Edwin itu sudah janda.
*****
Habis shalat maghrib, pak Umar dan istrinya, berboncengan naik Vespa menyusuri jalan raya Kali Malang sampai ke ujung jalan itu, ke dekat persimpangan dengan jalan DI Panjaitan atau yang lebih dikenal dengan jalan ‘By Pass’. Mendekati jalan DI Panjaitan ada jalan bercabang ke kiri. Mereka menempuh jalan ini, lalu berbelok ke kiri, menyusuri Kali Malang dari seberang kali. Beberapa ratus meter, ada sebuah gang yang bernama gang Haji Sanip. Pak Umar membelokkan Vespanya memasuki gang itu. Akhirnya dia menemui kumpulan rumah petak bernomor 24. Dia memarkir Vespa di depan rumah petak nomor tiga. Pak Umar mengucapkan salam dan mengetuk pintu. Dari dalam muncul seorang remaja kecil.
‘Assalamu’alaikum.’
‘Wa’alaikum salam, bapak mencari siapa?’ tanya remaja kecil itu. Anak gadis itu memandang heran kepada tamu yang tidak dikenalnya ini.
‘Apakah ini rumahnya ibu Winarni?’ tanya pak Umar.
‘Betul. Tapi bapak dan ibu ini siapa?’ jawab anak itu dan sekalian bertanya. Tampangnya sangat keheranan.
‘Saya bernama Umar. Ini istri saya. Saya guru di SMU 369. Boleh saya bertemu dengan ibu Winarni?’ tanya pak Umar.
Anak remaja itu terlihat kebingungan. Beberapa saat dia tidak bersuara. Pak Umar tersenyum memperhatikannya.
‘Maaf, pak. Ibu ada. Ibu baru saja pulang dan sedang mandi. Ada keperluan apa bapak datang?’ tanya anak itu. Sopan dan bijak sekali.
‘Bapak ingin bertemu dengan ibu Winarni. Ada yang ingin ditanyakan. Tolong beritahukan ke ibu!’ ujar pak Umar.
‘Baik pak. Maaf, silahkan masuk bapak, ibu. Silahkan duduk, saya akan memberi tahu ibu,’ kata anak gadis itu lagi.
Anak gadis itu, yang di rumah dipanggil Wina, memberi tahu ibunya, atas kedatangan tamu, guru SMU 369. Ibu Winarni kaget mendengarnya. Apa tidak salah? Ada urusan apa guru SMU 369 datang ke sini. Bukankah anaknya sudah lama tidak lagi bersekolah di SMU 369? Dia memang sedang berdandan ala kadarnya, karena menunggu kedatangan temannya yang berjanji akan datang sore ini. Ah, kenapa mesti khawatir. Tentu ada kepentingannya dia datang. Ibu merapihkan pakaian dan keluar dari kamar satu-satunya di rumah petak itu.
Di ruang tamu didapatinya, bapak dan ibu Umar masih saja berdiri. Begitu melihat kedatangannya, pak Umar kembali mengucapkan salam. Ibu Winarni membalas salam itu dan mempersilahkan tamunya duduk. Ruang tamu itu sempit, berukuran kira-kira dua kali tiga meter . Ada satu set kursi tamu plastik di ruangan itu.
‘Maaf, ada perlu apa ya bapak dan ibu ini?’ tanya ibu Winarni hati-hati.
‘Kedatangan kami ini adalah untuk menanyakan beberapa hal. Saya harap apa yang ingin saya tanyakan ini tidak akan menyusahkan ibu. Baiklah. Sebelumnya saya perkenalkan diri saya. Nama saya Umar. Saya guru di SMU 369. Saya mendapat berita bahwa putra ibu dulu sekolah di SMU 369,’ ujar pak Umar hati-hati.
‘Benar, pak. Tapi sekarang dia sudah tidak sekolah lagi,’ jawab ibu Winarni.
‘Saya mendengar dan mengetahui hal itu. Pertanyaan saya berikutnya apakah benar anak ibu sekarang tidak bersekolah di tempat lainpun?’
‘Benar. Dia tidak bersekolah lagi, sejak dia dikeluarkan dari SMU 369. Anak saya itu dulu nakal. Jadi dikeluarkan,’ jawab ibu Winarni.
‘Apakah kira-kira anak ibu masih berminat untuk sekolah? Dan apakah kira-kira ibu masih ingin menyekolahkan anak ibu?’ tanya pak Umar lagi.
Ibu Winarni membelalak mendengar pertanyaan itu. Dia tidak mengerti sedikitpun maksud pertanyaan ini. Masak iya sih? Anaknya ditawarkan kembali ke sekolah? Mimpi apa dia? Dan orang ini datang menanyakan itu? Apa mungkin dia mau menawarkan agar anaknya bisa kembali sekolah asal dia mau membayar. Hah? Membayar? Edwin sekolah lagi? Dengan apa akan dibayarnya uang sekolah anak itu? Ini pasti omong kosong.
Setelah hening beberapa saat, ibu Winarni memberanikan diri membuka suara.
‘Maaf, pak. Saya tidak mengerti maksud bapak,’ ujarnya.
‘Maksud saya, seandainya anak ibu masih berminat untuk bersekolah, maka kami akan menerimanya kembali. Hanya itu maksud saya.’
‘Tapi dia sudah tidak bersekolah hampir satu tahun. Bagaimana mungkin dia kembali lagi bersekolah?’
‘Tentu saja kalau dia mau kembali, dia masuk ke kelasnya yang lama. Artinya dia masih kelas dua,’ jawab pak Umar.
‘Maaf pak. Aduh… Tawaran ini indah sekali. Tapi rasa-rasanya…….Rasa-rasanya kami sudah tidak sanggup….’ ujar ibu Winarni terbata-bata.
‘Seandainya, yang jadi keberatan ibu mengenai uang sekolah, mudah-mudahan bisa saya carikan jalan keluarnya. Anak ibu saya usahakan tidak usah membayar uang SPP,’ kata pak Umar pula.
‘Bagaimana mungkin bapak membebaskan uang SPP……?’ tanya ibu Winarni dengan suara tertahan.
‘Maaf, bu…. Begini…… Saya tidak bermaksud menonjolkan diri. Kebetulan saya dipercaya memimpin SMU 369 itu sekarang. Dan saya yakin, saya berwewenang untuk membebaskan murid yang memang pantas untuk dibebaskan dari membayar uang SPP,’ kata pak Umar.
Ibu Winarni menggigit bibirnya. Apa yang harus diucapkannya? Apa maksud orang ini sebenarnya? Dan siapa dia ini sebenarnya? Dia inikah kepala sekolah SMU 369 sekarang? Kalau iya, alangkah sederhananya orang ini. Tapi sekali lagi, apa sebenarnya maunya? Mau menawarkan Edwin bersekolah kembali dengan keringanan tidak usah membayar SPP? Bukan hanya uang SPP yang jadi masalah. Edwin saat ini adalah tulang punggung utama buat mencari nafkah. Mereka bisa bertahan hidup, anak-anaknya yang lain masih bisa sekolah, karena mereka berdua mencari nafkah. Karena ibu Winarni dan Edwin bekerja dan mendapatkan upah. Dengan penghasilan mereka berdua anak-anak yang lain masih bisa sekolah. Lalu kalau Edwin sekolah?
Wina muncul membawa tatakan berisi tiga cangkir teh. Wina meletakkan cangkir itu di hadapan pak Umar, ibu Fat dan ibu.
‘Wah, pintar sekali. Terima kasih. Siapa namanya?’ ibu Fat menyapa Wina.
‘Edwirna, bu. Silahkan diminum bu. Silahkan pak!’ Wina mempersilahkan tamu itu dengan sopan.
Wina kembali ke belakang.
‘Silahkan pak, bu. Cuma ada teh,’ ibu Winarni mempersilahkan minum.
‘Terima kasih,’ jawab ibu Fat kembali.
Suasana kembali hening. Ibu Winarni masih belum mampu menyusun kata-kata untuk menjelaskan kesulitan sebenarnya yang dihadapinya sekeluarga.
‘Begini pak,’ lanjut ibu Winarni akhirnya sesudah suasana hening itu berlalu beberapa saat.
‘Pertama, saya sangat berterima kasih atas kebaikan bapak. Padahal saya tidak mengenal bapak. Tapi bapak pastilah seorang yang sangat baik. Bapak sudi datang ke sini menyampaikan tawaran yang sangat berharga itu, merupakan bukti kebaikan bapak. Tapi…….. Saya harus berterus terang… Tawaran bapak itu tidak mungkin kami terima. Tawaran itu terlalu mahal buat kami….’ kata ibu Minarni berusaha tegar.
‘Maksud ibu?’ pak Umar masih mencoba menjajaki lebih lanjut.
Wednesday, December 3, 2008
SANG AMANAH (81)
(81)
Beberapa saat kemudian Ningsih kembali bertanya.
‘Berapa orang anakmu Win?’
‘Empat. Empat orang. Tiga laki-laki satu perempuan,’ jawab Winarni.
‘Sudah besar-besar? Sudah umur berapa?’ tanya Ningsih.
‘Yang paling besar sudah hampir tujuh belas tahun. Laki-laki. Adiknya satu-satunya wanita sudah empat belas tahun, lalu laki-laki dua orang masing-masing sebelas dan delapan tahun. Kalau anakmu berapa orang Ning?’ tanya Winarni.
‘Hanya satu orang. Laki-laki. Sudah enam belas tahun. Sekarang kelas dua SMU. Kayaknya anak kita hampir seumur,’ jawab Ningsih.
‘Anakmu yang paling besar sekolah dimana? Kelas berapa?’ tanya Ningsih lagi.
Winarni menggigit bibirnya dan menarik nafas dalam-dalam.
‘Anak saya yang paling besar tidak bersekolah. Dulu dia dikeluarkan dari sekolah dan sekarang dia bekerja, Ning. Dia bekerja di pompa bensin. Adiknya yang perempuan kelas dua SMP. Terus yang laki-laki berikutnya kelas lima dan kelas dua SD,’ jawab Winarni, tegar.
Ningsih kembali terdiam mendengar cerita itu. Anaknya dikeluarkan dari sekolah? Karena….. tidak sanggup membayar uang sekolah? Air mata Ningsih kembali menetes tanpa disadarinya.
‘Sampai kelas berapa anakmu yang paling tua itu bersekolah?’
‘Sampai kelas dua SMA. Dulu dia sekolah di SMA 369 di Kali Malang.’
‘Anakku juga sekolah di SMU 369,’ ucap Ningsih.
‘Oh ya? Mungkin mereka saling kenal. Tapi anak saya sudah hampir setahun tidak bersekolah. Teman-temannya sudah naik ke kelas tiga sekarang. Anakmu kelas berapa Ning? Kelas tiga?’
‘Masih kelas dua. Ya, mungkin mereka saling kenal. Siapa nama anakmu?’
‘Edwin. Dan anakmu?’
‘Adrianto.’
‘Tamat dari SMP dulu, tetap di Bandung aja ya Ning?’
‘Iya. Saya belum bercerita. Saya tetap di Bandung. Abis SMP saya masuk SMA Dago dan sesudah itu saya kuliah di Unpad. Tamat sekolah saya menikah. Nama suami saya Suryanto. Dia ini pengusaha meubel. Meubel yang dibuat di Jepara dan diekspor. Pagi ini suami saya mengajak saya untuk menemui calon pembeli dari Hong Kong. Saya tidak bekerja tapi hanya membantu suami saya. Biar tidak sumpek di rumah, kadang-kadang saya diajak suami kemana saja. Oh ya, saya habis sakit. Sejak saya sembuh dari sakit, suami saya lebih sering mengajak saya mengikutinya. Biar nggak terlalu stress di rumah,’ Ningsih bercerita tentang dirinya secara ringkas.
‘Habis sakit apa, Ning?’
‘Sakit agak beratlah pokoknya. Tapi Alhamdulillah sekarang saya sudah sembuh betul. Ngomong-ngomong kamu tinggal dimana Win? Kalau anakmu dulu sekolah di SMU 369, mungkin tempat kamu tidak jauh dari dari tempat saya. Dimana kamu tinggal?’ tanya Ningsih.
‘Di dekat perempatan Kali Malang dengan jalan By Pass itu. Di Gang H. Sanip namanya. Di rumah petak,’ jawab Winarni.
‘Saya pingin datang ke rumah kamu deh. Boleh? Nanti saya ajak suami saya datang melihat kamu. Boleh ya?’
‘Saya tinggal di gang becek, Ning. Di rumah petak. Nggak masuk mobil ke sana. Bagaimana kamu akan ke sana?’
‘Tapi ada jalan kan? Saya akan berjalan ke rumahmu. Yang penting boleh kan? Saya akan ke sana besok-besok.’
‘Saya tidak ada di rumah siang-siang. Saya baru sampai di rumah menjelang maghrib. Kamu pasti akan repot. Saya rasa…….,’
‘Tidak baik menolak. Saya ingin mengunjungi kamu. Ingin melihat anak-anakmu. Tolong berikan alamat kamu yang jelas. Di Gang H. Sanip itu masuk dari arah Kali Malang kan?’
‘Saya bukan mau menolak. Tapi saya malu menerima kamu dan suamimu di tempat tinggal saya,’ ujar Winarni.
‘Win, kami ini manusia biasa. Saya dan suami saya orang biasa-biasa saja. Tidak ada yang perlu kamu khawatirkan. Sudahlah. Saya memaksa mau datang dan kamu jangan menolak. Besok… Jangan besok… Lusa. Ya lusa sore. Lusa, hari Jumat sore. Saya akan ke sana sekitar jam tujuh. Sekarang beritahukan alamat kamu yang jelas,’ Ningsih setengah memerintah.
‘Ya… di Gang Haji Sanip itu. Masuk dari pertigaan sebelum By Pass dari arah Kali Malang, mutar menyeberangi kali. Dekat banyak tumpukan getek bambu di Kali Malang, tapi yang di seberangnya itu. Di sana ada Gang Haji Sanip. Masuk gang itu kira-kira dua ratus meter, ada rumah-rumah petak di sebelah kanan gang. Nomor 24. Saya tinggal di rumah petak nomor tiga kalau dari pintu masuk gang,’ Winarni menjelaskan.
‘Baik. Besok lusa saya akan ke sana insya Allah. OK kan?’
Winarni tidak menjawab.
Tiba-tiba lift itu bergerak. Lift itu naik dan berhenti di lantai 10. Pintunya terbuka. Kedua wanita itu menghambur keluar. Petugas Satpam di lantai 10 itu langsung memberi tahu ke bawah melalui pesawat handy-talky bahwa lift kanan tengah itu sudah berjalan dan orang di dalamnya sudah keluar.
Tak terasa mereka terkurung di dalam lift itu selama 40 menit. Winarni langsung berpamitan dengan Ningsih. Dia harus meneruskan pekerjaannya. Dan dia malu mau bertemu dengan suami Ningsih. Ningsih menggenggam tangan Winarni erat-erat dan memeluknya waktu Winarni pamit. Petugas Satpam terbingung-bingung melihat adegan itu.
Ningsih menghubungi suaminya melalui HP. Ternyata mas Yanto menunggunya di kantor Indocorp di lantai 10 itu. Mas Yanto memeluk Ningsih dengan mesra dan sangat gembira waktu dia mendapatkan istrinya dalam keadaan baik-baik saja. Urusannya dengan Mr. Yew Ching Quo ternyata sudah selesai.
*****
Sesuai aturan baru yang tadi diberitahukan mas Hendro, Edwin bisa pulang lebih cepat sore ini. Setelah Mansur datang, dan setelah Edwin menyerahkan amplop titipan dari bapaknya Tomi untuk Mansur, dia langsung cabut. Pulang jam delapan malam ini tentu saja lebih enak. Angkot masih banyak.
Edwin menyimpan amplop pemberian orang tadi itu di kantong dalam jaketnya. Edwin sadar, naik kendaraan umum di Jakarta ini beresiko tinggi. Copet-copet Jakarta sangat ahli dalam soal gerayang menggerayang. Kalau tidak hati-hati, kehilangan akibat kecopetan di angkutan umum bukan lagi merupakan berita.
Jam sembilan kurang Edwin sudah sampai di rumah. Ibu kaget melihat Edwin pulang lebih awal. Juga adik-adiknya.
‘Tumben pulang cepat bang?’ si kecil Edwanto, adik kesayangan Edwin menyapa.
‘Mulai hari ini abang dikasih pulang jam delapan sama mas Hendro,’ jawab Edwin.
‘Asyik, dong bang. Nggak usah lama-lama nungguin angkot,’ Wanto gembira.
Adiknya Wina buru-buru mengambilkan segelas air putih buat Edwin. Edwin menerima gelas itu dan langsung meminumnya. Dia memang sangat haus.
‘Bang, abang punya duit nggak bang?’ tanya Wina setengah berbisik.
‘Duit buat apa, kamu?’ Edwin balik bertanya.
‘Saya belum bayar uang SPP lho bang. Ibu kan belum gajian,’ kata Wina.
‘Ntar abang kasih,’ jawab Edwin.
‘Terima kasih bang,’ ucap Wina berseri-seri.
Dan ibu juga kelihatan berseri-seri sore hari ini. Ada apa gerangan?
‘Ibu kelihatan senang betul hari ini, kenapa bu?’ tanya Edwin
‘Eh, bang. Tadi ibu terperangkap di lift. Hampir sejam dalam lift, nggak bisa keluar. Kita barusan diceritain ibu,’ Wanto mendahului bercerita.
‘Iya. Tadi ibu terkurung di lift. Tapi nggak disangka-sangka ibu ketemu teman ibu di SMP dulu. Kami berdua saja dalam lift macet itu. Teman ibu itu dari sebelumnya ngelihatin ibu terus. Ibu juga memperhatikannya. Kok rasanya kayak kenal. Waktu kemudian dia ngomong dengan suaminya, melalui alat bicara di lift itu, ibu dengar dia menyebut namanya. Ningsih. Wah, bener. Dia itu bener teman ibu dulu. Mula-mula dia yang nanya. Mbak, rasanya saya kenal dengan mbak, tapi dimana, ya? Ibu langsung mengingatkan, kita dulu sekelas di SMP. Dua puluh tujuh tahun yang lalu. Jadi deh ibu berpeluk-pelukan dengan dia. Dia itu baik sekali. Memang sih dulu teman sekelas ibu. Tapi sekarang kan dia orang kaya. Tapi baik sekali. Malahan katanya mau datang ke sini. Ibu larang, karena ibu malu. Tapi dia maksa mau datang. Katanya dia akan ke sini hari Jumat lusa,’ cerita ibu.
‘Dan ibu tidak apa-apa terkurung dalam lift segitu lama?’ tanya Edwin.
‘Tidak apa-apa. Malahan jadinya kami ngobrol. Sambil lesehan di lantai lift itu. Teman ibu itu bertanya macam-macam. Ibu bercerita panjang. Dia bercerita panjang. Malahan tidak terasa kami terkurung lebih empat puluh menit dalam lift itu karena kami ngobrol,’ kata ibu.
‘Akhirnya? Pintu lift itu terbuka sendiri?’
‘Akhirnya, lift itu bergerak. Lift itu naik sampai ke lantai 10. Lalu pintunya terbuka. Kami berdua langsung cepat-cepat keluar. Ibu senang sekali. Teman ibu itu juga. Senang karena bisa keluar dari lift itu. Sesudah kami bercerita panjang.’
Edwin senang melihat ibu bahagia. Edwin ikut bahagia. Dan dia ingat amplop pemberian ayah Tomi yang kecelakaan tadi malam. Amplop yang tadi diberikan ayah Tomi waktu dia berkunjung ke rumah sakit. Amplop yang masih utuh. Dan dia tidak tahu apa saja isinya. Edwin merogoh kantong jaketnya sebelah dalam.
‘Bu, tadi saya dikasih hadiah. Sama ayah anak yang saya tolong tadi malam. Tadi waktu saya sedang bekerja, adiknya anak yang kecelakaan itu datang dan mengajak saya ke rumah sakit. Katanya saudaranya sama ibunya pengen ketemu. Mau bilang terima kasih. Kata mas Hendro, pergi aja. Saya pergi ke rumah sakit. Anak itu menangis mengucapkan terima kasih. Ibunya juga nangis. Saya bilang, syukurlah sudah dibantu dokter. Saya doakan agar cepat sembuh. Tiba-tiba ayahnya memberikan amplop ini. Katanya sebagai ucapan terima kasih karena sudah menolong anaknya tadi malam. Mula-mula saya menolak. Tapi dia memaksa. Saya bilang, nanti akan saya bagi dua dengan Mansur. Dia bertanya, siapa itu Mansur. Saya bilang teman yang ikut membantu tadi malam. Eh, dia kasih satu amplop lagi untuk Mansur,’ cerita Edwin.
Wanto memperhatikan abangnya bercerita. Dia mengambil amplop di tangan abangnya itu. Sambil menimang-nimangnya.
‘Belum dibuka, bang. Isinya apa? Saya buka, ya?’
‘Berikan sama ibu. Biar ibu yang membuka,’ perintah Edwin.
Wanto menyerahkan amplop itu ke ibu.
‘Kenapa tidak kamu buka saja, Win? Itukan hadiah untuk kamu?’ kata ibu menyerahkan amplop itu kembali kepada Edwin.
‘Biar ibu saja yang membukanya, bu. Saya rasa isinya duit. Biar ibu saja yang membuka,’ ujar Edwin.
Ibu terharu. Ibu lalu membuka amplop itu. Ada uang lembaran-lembaran seratus ribu. Ibu menghitungnya. Sepuluh lembar. Berarti sejuta rupiah. Uang sebanyak itu, sangat banyak artinya bagi mereka. Dan ada selembar kartu nama. Atas nama Ir. Suminta, lengkap dengan alamat kantor dan rumahnya. Di belakangnya ada tulisan,
‘Kami sekeluarga mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada sdr. Edwin, semoga Tuhan Yang Maha Kuasa akan membalas jasa baik ini dengan ganjaran berlipat ganda. Tertanda keluarga Suminta.’
‘Buat diapakan uang ini Win?’ tanya ibu.
‘Buat ibu gunakan, bu. Buat membayar uang SPP Wina yang katanya belum dibayar juga,’ jawab Edwin.
‘Kamu tidak ingin membeli apa-apa untukmu sendiri?’
‘Nggak bu. Dan saya masih ada uang. Ibu simpan sajalah uang itu,’ jawab Edwin.
Tiba-tiba Wina mengingatkan.
‘Bang, makanan sudah saya siapkan. Abang makan dululah, bang. Kita tadi sudah makan semua,’ ujar Wina.
‘Ya. Kamu baik sekali,’ jawab Edwin sambil tersenyum kepada Wina.
Dan Edwin pergi makan. Sebenarnya dia ingin juga menceritakan berita yang dibawa Samsul dan Amir tadi siang. Tapi niat itu diurungkannya. Berita itu hanya akan membuat ibu trenyuh. Membuat adik-adiknya trenyuh. Ya, berita itu hanya akan membuat mereka semua trenyuh. Edwin mengunyah nasi dengan lauk sederhana itu lambat-lambat. Dia menikmati makan malam yang sangat sederhana ini. Di tengah-tengah secuil kebahagian yang dirasakan ibu, yang dirasakan adik-adiknya. Kelihatannya Allah langsung menjawab doanya sesudah shalat subuh tadi pagi.
*****
Beberapa saat kemudian Ningsih kembali bertanya.
‘Berapa orang anakmu Win?’
‘Empat. Empat orang. Tiga laki-laki satu perempuan,’ jawab Winarni.
‘Sudah besar-besar? Sudah umur berapa?’ tanya Ningsih.
‘Yang paling besar sudah hampir tujuh belas tahun. Laki-laki. Adiknya satu-satunya wanita sudah empat belas tahun, lalu laki-laki dua orang masing-masing sebelas dan delapan tahun. Kalau anakmu berapa orang Ning?’ tanya Winarni.
‘Hanya satu orang. Laki-laki. Sudah enam belas tahun. Sekarang kelas dua SMU. Kayaknya anak kita hampir seumur,’ jawab Ningsih.
‘Anakmu yang paling besar sekolah dimana? Kelas berapa?’ tanya Ningsih lagi.
Winarni menggigit bibirnya dan menarik nafas dalam-dalam.
‘Anak saya yang paling besar tidak bersekolah. Dulu dia dikeluarkan dari sekolah dan sekarang dia bekerja, Ning. Dia bekerja di pompa bensin. Adiknya yang perempuan kelas dua SMP. Terus yang laki-laki berikutnya kelas lima dan kelas dua SD,’ jawab Winarni, tegar.
Ningsih kembali terdiam mendengar cerita itu. Anaknya dikeluarkan dari sekolah? Karena….. tidak sanggup membayar uang sekolah? Air mata Ningsih kembali menetes tanpa disadarinya.
‘Sampai kelas berapa anakmu yang paling tua itu bersekolah?’
‘Sampai kelas dua SMA. Dulu dia sekolah di SMA 369 di Kali Malang.’
‘Anakku juga sekolah di SMU 369,’ ucap Ningsih.
‘Oh ya? Mungkin mereka saling kenal. Tapi anak saya sudah hampir setahun tidak bersekolah. Teman-temannya sudah naik ke kelas tiga sekarang. Anakmu kelas berapa Ning? Kelas tiga?’
‘Masih kelas dua. Ya, mungkin mereka saling kenal. Siapa nama anakmu?’
‘Edwin. Dan anakmu?’
‘Adrianto.’
‘Tamat dari SMP dulu, tetap di Bandung aja ya Ning?’
‘Iya. Saya belum bercerita. Saya tetap di Bandung. Abis SMP saya masuk SMA Dago dan sesudah itu saya kuliah di Unpad. Tamat sekolah saya menikah. Nama suami saya Suryanto. Dia ini pengusaha meubel. Meubel yang dibuat di Jepara dan diekspor. Pagi ini suami saya mengajak saya untuk menemui calon pembeli dari Hong Kong. Saya tidak bekerja tapi hanya membantu suami saya. Biar tidak sumpek di rumah, kadang-kadang saya diajak suami kemana saja. Oh ya, saya habis sakit. Sejak saya sembuh dari sakit, suami saya lebih sering mengajak saya mengikutinya. Biar nggak terlalu stress di rumah,’ Ningsih bercerita tentang dirinya secara ringkas.
‘Habis sakit apa, Ning?’
‘Sakit agak beratlah pokoknya. Tapi Alhamdulillah sekarang saya sudah sembuh betul. Ngomong-ngomong kamu tinggal dimana Win? Kalau anakmu dulu sekolah di SMU 369, mungkin tempat kamu tidak jauh dari dari tempat saya. Dimana kamu tinggal?’ tanya Ningsih.
‘Di dekat perempatan Kali Malang dengan jalan By Pass itu. Di Gang H. Sanip namanya. Di rumah petak,’ jawab Winarni.
‘Saya pingin datang ke rumah kamu deh. Boleh? Nanti saya ajak suami saya datang melihat kamu. Boleh ya?’
‘Saya tinggal di gang becek, Ning. Di rumah petak. Nggak masuk mobil ke sana. Bagaimana kamu akan ke sana?’
‘Tapi ada jalan kan? Saya akan berjalan ke rumahmu. Yang penting boleh kan? Saya akan ke sana besok-besok.’
‘Saya tidak ada di rumah siang-siang. Saya baru sampai di rumah menjelang maghrib. Kamu pasti akan repot. Saya rasa…….,’
‘Tidak baik menolak. Saya ingin mengunjungi kamu. Ingin melihat anak-anakmu. Tolong berikan alamat kamu yang jelas. Di Gang H. Sanip itu masuk dari arah Kali Malang kan?’
‘Saya bukan mau menolak. Tapi saya malu menerima kamu dan suamimu di tempat tinggal saya,’ ujar Winarni.
‘Win, kami ini manusia biasa. Saya dan suami saya orang biasa-biasa saja. Tidak ada yang perlu kamu khawatirkan. Sudahlah. Saya memaksa mau datang dan kamu jangan menolak. Besok… Jangan besok… Lusa. Ya lusa sore. Lusa, hari Jumat sore. Saya akan ke sana sekitar jam tujuh. Sekarang beritahukan alamat kamu yang jelas,’ Ningsih setengah memerintah.
‘Ya… di Gang Haji Sanip itu. Masuk dari pertigaan sebelum By Pass dari arah Kali Malang, mutar menyeberangi kali. Dekat banyak tumpukan getek bambu di Kali Malang, tapi yang di seberangnya itu. Di sana ada Gang Haji Sanip. Masuk gang itu kira-kira dua ratus meter, ada rumah-rumah petak di sebelah kanan gang. Nomor 24. Saya tinggal di rumah petak nomor tiga kalau dari pintu masuk gang,’ Winarni menjelaskan.
‘Baik. Besok lusa saya akan ke sana insya Allah. OK kan?’
Winarni tidak menjawab.
Tiba-tiba lift itu bergerak. Lift itu naik dan berhenti di lantai 10. Pintunya terbuka. Kedua wanita itu menghambur keluar. Petugas Satpam di lantai 10 itu langsung memberi tahu ke bawah melalui pesawat handy-talky bahwa lift kanan tengah itu sudah berjalan dan orang di dalamnya sudah keluar.
Tak terasa mereka terkurung di dalam lift itu selama 40 menit. Winarni langsung berpamitan dengan Ningsih. Dia harus meneruskan pekerjaannya. Dan dia malu mau bertemu dengan suami Ningsih. Ningsih menggenggam tangan Winarni erat-erat dan memeluknya waktu Winarni pamit. Petugas Satpam terbingung-bingung melihat adegan itu.
Ningsih menghubungi suaminya melalui HP. Ternyata mas Yanto menunggunya di kantor Indocorp di lantai 10 itu. Mas Yanto memeluk Ningsih dengan mesra dan sangat gembira waktu dia mendapatkan istrinya dalam keadaan baik-baik saja. Urusannya dengan Mr. Yew Ching Quo ternyata sudah selesai.
*****
Sesuai aturan baru yang tadi diberitahukan mas Hendro, Edwin bisa pulang lebih cepat sore ini. Setelah Mansur datang, dan setelah Edwin menyerahkan amplop titipan dari bapaknya Tomi untuk Mansur, dia langsung cabut. Pulang jam delapan malam ini tentu saja lebih enak. Angkot masih banyak.
Edwin menyimpan amplop pemberian orang tadi itu di kantong dalam jaketnya. Edwin sadar, naik kendaraan umum di Jakarta ini beresiko tinggi. Copet-copet Jakarta sangat ahli dalam soal gerayang menggerayang. Kalau tidak hati-hati, kehilangan akibat kecopetan di angkutan umum bukan lagi merupakan berita.
Jam sembilan kurang Edwin sudah sampai di rumah. Ibu kaget melihat Edwin pulang lebih awal. Juga adik-adiknya.
‘Tumben pulang cepat bang?’ si kecil Edwanto, adik kesayangan Edwin menyapa.
‘Mulai hari ini abang dikasih pulang jam delapan sama mas Hendro,’ jawab Edwin.
‘Asyik, dong bang. Nggak usah lama-lama nungguin angkot,’ Wanto gembira.
Adiknya Wina buru-buru mengambilkan segelas air putih buat Edwin. Edwin menerima gelas itu dan langsung meminumnya. Dia memang sangat haus.
‘Bang, abang punya duit nggak bang?’ tanya Wina setengah berbisik.
‘Duit buat apa, kamu?’ Edwin balik bertanya.
‘Saya belum bayar uang SPP lho bang. Ibu kan belum gajian,’ kata Wina.
‘Ntar abang kasih,’ jawab Edwin.
‘Terima kasih bang,’ ucap Wina berseri-seri.
Dan ibu juga kelihatan berseri-seri sore hari ini. Ada apa gerangan?
‘Ibu kelihatan senang betul hari ini, kenapa bu?’ tanya Edwin
‘Eh, bang. Tadi ibu terperangkap di lift. Hampir sejam dalam lift, nggak bisa keluar. Kita barusan diceritain ibu,’ Wanto mendahului bercerita.
‘Iya. Tadi ibu terkurung di lift. Tapi nggak disangka-sangka ibu ketemu teman ibu di SMP dulu. Kami berdua saja dalam lift macet itu. Teman ibu itu dari sebelumnya ngelihatin ibu terus. Ibu juga memperhatikannya. Kok rasanya kayak kenal. Waktu kemudian dia ngomong dengan suaminya, melalui alat bicara di lift itu, ibu dengar dia menyebut namanya. Ningsih. Wah, bener. Dia itu bener teman ibu dulu. Mula-mula dia yang nanya. Mbak, rasanya saya kenal dengan mbak, tapi dimana, ya? Ibu langsung mengingatkan, kita dulu sekelas di SMP. Dua puluh tujuh tahun yang lalu. Jadi deh ibu berpeluk-pelukan dengan dia. Dia itu baik sekali. Memang sih dulu teman sekelas ibu. Tapi sekarang kan dia orang kaya. Tapi baik sekali. Malahan katanya mau datang ke sini. Ibu larang, karena ibu malu. Tapi dia maksa mau datang. Katanya dia akan ke sini hari Jumat lusa,’ cerita ibu.
‘Dan ibu tidak apa-apa terkurung dalam lift segitu lama?’ tanya Edwin.
‘Tidak apa-apa. Malahan jadinya kami ngobrol. Sambil lesehan di lantai lift itu. Teman ibu itu bertanya macam-macam. Ibu bercerita panjang. Dia bercerita panjang. Malahan tidak terasa kami terkurung lebih empat puluh menit dalam lift itu karena kami ngobrol,’ kata ibu.
‘Akhirnya? Pintu lift itu terbuka sendiri?’
‘Akhirnya, lift itu bergerak. Lift itu naik sampai ke lantai 10. Lalu pintunya terbuka. Kami berdua langsung cepat-cepat keluar. Ibu senang sekali. Teman ibu itu juga. Senang karena bisa keluar dari lift itu. Sesudah kami bercerita panjang.’
Edwin senang melihat ibu bahagia. Edwin ikut bahagia. Dan dia ingat amplop pemberian ayah Tomi yang kecelakaan tadi malam. Amplop yang tadi diberikan ayah Tomi waktu dia berkunjung ke rumah sakit. Amplop yang masih utuh. Dan dia tidak tahu apa saja isinya. Edwin merogoh kantong jaketnya sebelah dalam.
‘Bu, tadi saya dikasih hadiah. Sama ayah anak yang saya tolong tadi malam. Tadi waktu saya sedang bekerja, adiknya anak yang kecelakaan itu datang dan mengajak saya ke rumah sakit. Katanya saudaranya sama ibunya pengen ketemu. Mau bilang terima kasih. Kata mas Hendro, pergi aja. Saya pergi ke rumah sakit. Anak itu menangis mengucapkan terima kasih. Ibunya juga nangis. Saya bilang, syukurlah sudah dibantu dokter. Saya doakan agar cepat sembuh. Tiba-tiba ayahnya memberikan amplop ini. Katanya sebagai ucapan terima kasih karena sudah menolong anaknya tadi malam. Mula-mula saya menolak. Tapi dia memaksa. Saya bilang, nanti akan saya bagi dua dengan Mansur. Dia bertanya, siapa itu Mansur. Saya bilang teman yang ikut membantu tadi malam. Eh, dia kasih satu amplop lagi untuk Mansur,’ cerita Edwin.
Wanto memperhatikan abangnya bercerita. Dia mengambil amplop di tangan abangnya itu. Sambil menimang-nimangnya.
‘Belum dibuka, bang. Isinya apa? Saya buka, ya?’
‘Berikan sama ibu. Biar ibu yang membuka,’ perintah Edwin.
Wanto menyerahkan amplop itu ke ibu.
‘Kenapa tidak kamu buka saja, Win? Itukan hadiah untuk kamu?’ kata ibu menyerahkan amplop itu kembali kepada Edwin.
‘Biar ibu saja yang membukanya, bu. Saya rasa isinya duit. Biar ibu saja yang membuka,’ ujar Edwin.
Ibu terharu. Ibu lalu membuka amplop itu. Ada uang lembaran-lembaran seratus ribu. Ibu menghitungnya. Sepuluh lembar. Berarti sejuta rupiah. Uang sebanyak itu, sangat banyak artinya bagi mereka. Dan ada selembar kartu nama. Atas nama Ir. Suminta, lengkap dengan alamat kantor dan rumahnya. Di belakangnya ada tulisan,
‘Kami sekeluarga mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada sdr. Edwin, semoga Tuhan Yang Maha Kuasa akan membalas jasa baik ini dengan ganjaran berlipat ganda. Tertanda keluarga Suminta.’
‘Buat diapakan uang ini Win?’ tanya ibu.
‘Buat ibu gunakan, bu. Buat membayar uang SPP Wina yang katanya belum dibayar juga,’ jawab Edwin.
‘Kamu tidak ingin membeli apa-apa untukmu sendiri?’
‘Nggak bu. Dan saya masih ada uang. Ibu simpan sajalah uang itu,’ jawab Edwin.
Tiba-tiba Wina mengingatkan.
‘Bang, makanan sudah saya siapkan. Abang makan dululah, bang. Kita tadi sudah makan semua,’ ujar Wina.
‘Ya. Kamu baik sekali,’ jawab Edwin sambil tersenyum kepada Wina.
Dan Edwin pergi makan. Sebenarnya dia ingin juga menceritakan berita yang dibawa Samsul dan Amir tadi siang. Tapi niat itu diurungkannya. Berita itu hanya akan membuat ibu trenyuh. Membuat adik-adiknya trenyuh. Ya, berita itu hanya akan membuat mereka semua trenyuh. Edwin mengunyah nasi dengan lauk sederhana itu lambat-lambat. Dia menikmati makan malam yang sangat sederhana ini. Di tengah-tengah secuil kebahagian yang dirasakan ibu, yang dirasakan adik-adiknya. Kelihatannya Allah langsung menjawab doanya sesudah shalat subuh tadi pagi.
*****
Tuesday, December 2, 2008
SANG AMANAH (80)
(80)
Masih ingat kan, ibu Ningsih? Beliau ini sudah 95% sembuh. Atau bahkan mungkin lebih dari 95%. Sekarang dia sudah bisa hidup normal Dia kembali mengisi kesibukan dengan membantu mengurus karyawan di perusahaan suaminya. Meskipun biasanya dia cukup bekerja di depan PC di rumah, tapi kalau diperlukan kadang-kadang dia bisa juga pergi keluar. Kadang-kadang dia diajak ikut oleh suaminya untuk memberikan penjelasan tentang produk-produk meubelair baru yang akan diekspor keluar negeri, jika calon pembeli dari luar negeri datang dan menanyakan spesifikasi secara detail.
Hari ini suaminya mengajak pergi ke Plaza Nusantara, menemui calon pembeli dari Hong Kong. Mereka berjanji bertemu di gedung itu jam sepuluh pagi ini. Ningsih akan berangkat langsung dari rumah, sementara suaminya akan ke sana setelah mengecek barang-barang setengah jadi yang baru datang dari Jepara, di gudang Pulo Gadung.
Jam sepuluh kurang lima Ningsih sudah sampai di Plaza Nusantara dengan diantar sopirnya. Sebelum turun dari mobil dihubunginya mas Yanto melalui HP. Ternyata mas Yanto sudah lebih dulu datang dan sedang berbincang-bincang dengan Mr. Yew Ching Quo, tamu dari Hong Kong itu, di kantor perantaranya, PT Indocorp di lantai sepuluh Plaza Nusantara itu. Ningsih bergegas menuju lift. Ada enam buah lift di sana, berjejer tiga-tiga di sebelah kiri dan kanan. Lift tengah di sebelah kanan yang duluan terbuka. Ningsih melangkah masuk ke dalam lift itu, memencet nomor 10. Di dalam lift ada seorang wanita kira-kira seumur Ningsih, berpakaian seragam petugas kebersihan. Wanita itu asyik bekerja mengelap kaca cermin dalam lift itu tanpa memperdulikan Ningsih. Pintu lift tertutup dan lift itu bergerak naik. Angka penunjuk lantai yang terdapat di atas pintu lift berkedip bergantian menandakan lantai mana yang sedang dilalui. Lantai 5 baru saja dilalui. Tiba-tiba lampu mati dan lift itu berhenti. Wanita tukang bersih-bersih itu mengomel.
‘Ah, sialan. Ada apa lagi sih ni?’ dia seperti bertanya kepada dirinya sendiri.
Beberapa detik kemudian lampu kembali menyala. Mungkin baru saja listrik PLN mati dan generator pengganti segera dihidupkan. Tapi lift ini tetap tidak bergerak.
Wanita itu mencoba memencet angka-angka penunjuk lantai. Semua angka itu bisa menyala. Tapi lift ini diam saja. Dipencetnya tombol pembuka pintu. Pintu itu tidak bergerak.
‘Wah, macet ni bu,’ ujar wanita itu kepada Ningsih.
‘Kalau begini, apa yang harus dilakukan?’ tanya Ningsih.
‘Kita panggil petugas melalui panggilan darurat ini,’ katanya sambil memencet tombol ‘emergency call’.
Berkali-kali tombol itu dia pencet, tidak ada reaksi apa-apa. Wanita itu kelihatan mulai agak panik. Ningsih sebenarnya juga ikut cemas. Tapi dia lebih bisa mengendalikan dirinya. Dalam hatinya, Ningsih sibuk membaca ayat Kursiy. Dan berdoa. Dia coba menelpon mas Yanto. Tapi tidak ada signal dalam lift ini. Percuma saja dia mencoba memencet-mencet HPnya.
Wanita itu masih terus memencet tombol ‘emergency call’. Belum juga ada reaksi dari mana-manapun. Sepertinya wanita itu mulai kehilangan kesabarannya. Dia mulai menggedor-gedor pintu lift. Ningsih berusaha tetap tenang dan mencoba menenangkan wanita itu juga.
‘Tidak usah panik. Tekan saja tombol ‘emergency’ itu lagi. Mudah-mudahan sebentar lagi petugasnya mengetahui bahwa kita sedang di sini,’ katanya setenang mungkin.
‘Lift yang ini memang sering rusak bu. Entah kenapa nggak dibetulin sampai tuntas. Ini kan berbahaya,’ katanya sambil telunjuknya tidak henti-hentinya memencet tombol itu. Tiba-tiba terdengar suara.
‘Ada berapa orang di dalam lift ini dan dimana posisinya kira-kira?’ bunyi suara yang terdengar melalui ‘speaker’ dalam lift itu.
‘Ada dua orang. Dua orang wanita. Posisi kami di atas lantai lima,’ jawab wanita petugas pembersih itu.
‘Ini suaranya seperti saya kenal. Ini mbak Nani, ya?’ tanya suara itu.
‘Iya , benar. Ini dengan siapa?’ tanya wanita itu lagi.
‘Saya Muji mbak. Petugas Satpam. Mbak tenang-tenang aja di sana, ya! Ini mekaniknya sudah dipanggil. Yang satunya tamu ya mbak?’
‘Oh kamu Muji. Iya, tenang sih tenang. Tapi saya deg-degan ini. Kami nggak bisa kemana-mana. Satunya lagi ada ibu-ibu, mau ke lantai 10,’ jawab wanita yang namanya mbak Nani ini.
‘Ya tenang aja mbak. Pokoknya kita sedang berusaha nih. Nih mekaniknya sudah datang,’ suara Muji dari sana.
Dan Ningsih berdua dengan wanita itu menunggu dengan sabar. Apa lagi yang bisa diperbuat selain menunggu? Dari tadi Ningsih mengamat-amati wanita yang namanya ‘mbak Nani’ ini. Rasa-rasanya dia kok seperti kenal. Tapi dimana ya? Ningsih memutar otak mengingat-ingat siapa kira-kira orang ini. Tidak ingat sedikitpun. Tiba-tiba wanita itu bertanya kepada Ningsih. Pertanyaan basa basi.
‘Mau ke kantor mana di lantai 10, bu?’ tanyanya.
‘Oh. Saya mau bertamu ke kantor Indocorp. Kebetulan ada suami saya sedang menunggu di sana,’ jawab Ningsih.
‘Oh Indokop. Itu kantornya di sebelah kanan kalau kita keluar dari lift ini,’ kata wanita itu.
Ningsih masih memperhatikan wajah orang itu melalui bayangannya di cermin. Dia semakin yakin mengenal orang ini tapi dimana? Kapan kira-kira dia pernah bertemu dengannya? Makin diusahakannya mengingat, makin yakin dia, tapi makin tidak tahu dia dimana. Dicobanya mengingat teman-temannya yang bernama ‘Nani’. Tetap tidak ada yang muncul.
Waktu terus merambat pelan-pelan. Sudah hampir sepuluh menit mereka berdua terkurung. Belum ada tanda-tanda akan berakhir ‘penyanderaan’ ini. Tiba-tiba terdengar suara melalui speaker itu lagi.
‘Mbak Nani. Tamunya tadi mau ke lantai 10 ya?’ terdengar suara Muji.
‘Iya benar. Kenapa memang?’
‘Apa namanya ibu Ningsih, mbak Nani?’
‘Iya. Saya Ningsih. Apa di sana ada suami saya?’ Ningsih langsung menjawab.
‘Ning. Ini mas. Kamu nggak apa-apa?’ terdengar suara mas Yanto.
‘Nggak apa-apa sih, mas. Tapi ya deg-degan juga. Nggak tahu mau sampai berapa lama nih, kami nyangsang di sini.’
‘Ning, mereka sedang berusaha membetulin lift ini. Kamu tenang-tenang saja. Ini kerusakan mekanis. Lift itu insya Allah aman. Cuma mereka perlu waktu untuk memperbaiki. Kita tunggu saja. Mas tunggu kamu di sini, OK?’
‘OK mas. Saya akan tenang-tenang saja di sini,’ jawab Ningsih.
Mereka kembali melanjutkan penantian itu. Ningsih akhirnya tidak sabar. Dia beranikan untuk bertanya.
‘Maaf, mbak. Saya merasa kenal dengan mbak deh. Tapi sungguh mati dari tadi saya coba mengingat-ingat, tetap nggak ketemu. Kira-kira kita pernah kenal nggak mbak? Atau kebetulan mbak mirip teman saya?’ Ningsih bertanya.
‘Saya kenal. Ingat SMP 371 di Bandung tahun 73 sampai 75?’ ujar wanita itu.
‘Oh, iya. SMP 371 Bandung. Iya tahun 73. Benar…benar…benar… Tapi saya nggak ingat punya teman namanya Nani…,’ ujar Ningsih.
‘Kalau Win ingat? Winarni, ingat?’
‘Astaga…… Win…. Win…. Ini teh kamu? Astaghfirullah….. Winarni,’ Ningsih memeluk wanita itu. Winarni, temannya sekolah dulu di SMP.
Kedua wanita itu berpelukan. Lama sekali. Air mata Ningsih meleleh.
‘Dari tadi saya perhatikan, kamu. Kok seperti saya kenal. Tapi siapa? Terus waktu tadi kamu menyebut namamu mbak Nani. Saya coba terus mengingat-ingat. Nggak ada teman saya yang namanya Nani. Kamu sudah mengenali saya dari tadi?’ tanya Ningsih.
‘Saya juga dari tadi, asa wawuh, kitu. Tapi juga nggak ingat-ingat. Tapi saya pikir lagi, mana mungkin ada teman saya wanita bergengsi kayak gini. Begitu kamu…. nggak apa-apakan…saya berkamu…..’
‘Ya nggak apa-apalah. Kamu ini gimana sih? Terus, gimana kamu bilang?’
‘Begitu barusan kamu ngomong dengan siapa itu… dengan suamimu ya..? Kamu bilang namamu Ningsih, saya sudah yakin seyakin-yakinnya, ini teh pasti kamu, Ningsih teman di SMP Bandung. Tapi saya teu wani mau nanya. Saya pikir kalau kamu nggak ngenalin saya ya sudah sajalah, kitu.’
‘Bener-bener deh. Kekuasaan Tuhan. Kita kok bertemu di sini, kayak gini. Ya sudah, Win. Kita anggap aja kita sedang pikinik kayak dulu waktu di SMP. Biarin aja mereka mau membetulin lift ini berapa lama kek. Saya capek berdiri. Udah, kita duduk aja di lantai ini. Mari kita cerita aja,’ ajak Ningsih bersemangat.
Winarni mengikuti Ningsih duduk di lantai lift. Diperhatikannya Ningsih dengan pandangan hati-hati. Wanita ini jelas orang kaya, orang berpunya, orang bergengsi sekarang. Sesudah barusan mereka hanyut dengan kenangan masa remaja di SMP, segera Winarni menyadari kembali bahwa teman SMPnya ini bukanlah orang yang selevel dengan dirinya. Dia hanyalah seorang ‘cleaning service’. Makanya Winarni terdiam. Ningsih membaca sekilas apa yang ada di balik pikiran temannya itu. Diajaknya Winarni untuk berbincang-bincang.
‘Berapa lama kita berpisah, Win?’ tanya Ningsih.
‘Berapa lama, ya? Sejak kita tamat SMP tahun 1975. Berarti dua puluh tujuh tahun lebih,’ jawab Winarni.
‘Iya, ya. Dua puluh tujuh tahun lebih. Rasanya baru kemarin kita antri beli bakso di warungnya mang Alma.’
‘Kamu masih ingat saja mang Alma?’
‘Iya. Baksonya enak dan porsi mienya besar, ingat nggak?’
‘Iya. Saya ingat, kamu sering meneraktir saya.’
‘Win, coba ceritakan. Kamu kemana saja setamat dari SMP 371 dulu itu?’ tanya Ningsih.
‘Saya masuk SMEA. Orang tua saya pindah ke Ciamis dan saya masuk SMEA di Ciamis. Cuman sampai tamat SMEA itu. Dulu saya coba-coba mencari kerja. Pernah saya bekerja sebagai tenaga pembukuan di sebuah PT di Bandung. Ada kira-kira empat tahun. Terus saya menikah dan berhenti bekerja. Suami saya dulu mula-mula bekerja sebagai pemborong kecil-kecilan di Jakarta ini. Sampai suatu saat dia ditipu orang. Kami habis-habisan waktu itu. Suami saya menganggur beberapa lama. Saya coba melamar kerja kembali, tapi tidak pernah dapat. Akhirnya saya diterima di sini, jadi seperti saya sekarang. Sejak enam tahun yang lalu,’ cerita Winarni.
‘Suamimu sekarang dimana?’ tanya Ningsih pula.
‘Sudah meninggal,’ jawab Winarni.
‘Ya Allah. Inna lillahi wainna ilaihi raaji’uun. Kapan Win?’
‘Baru enam bulan yang lalu. Suami saya, mas Edi, sempat menganggur agak lama. Setelah saya bekerja di sini, dia melamar juga menjadi apa saja di kantor ini. Keterima jadi Satpam. Enam bulan yang lalu dia mengalami kecelakaan lalu lintas. Pulang dari mengawal pengambilan uang di bank, mobil Kijang yang ditompanginya mengalami kecelakaan karena mau dirampok. Ban mobil itu ditembak bandit perampok itu. Mobilnya menabrak pembatas jalan dan berguling-guling. Mas Edi terlempar keluar dan meninggal di sana saat itu juga,’ cerita Winarni.
Kedua wanita itu terisak-isak. Ningsih memeluk Winarni dan membelai-belai rambut wanita malang itu. Mereka terdiam.
Masih ingat kan, ibu Ningsih? Beliau ini sudah 95% sembuh. Atau bahkan mungkin lebih dari 95%. Sekarang dia sudah bisa hidup normal Dia kembali mengisi kesibukan dengan membantu mengurus karyawan di perusahaan suaminya. Meskipun biasanya dia cukup bekerja di depan PC di rumah, tapi kalau diperlukan kadang-kadang dia bisa juga pergi keluar. Kadang-kadang dia diajak ikut oleh suaminya untuk memberikan penjelasan tentang produk-produk meubelair baru yang akan diekspor keluar negeri, jika calon pembeli dari luar negeri datang dan menanyakan spesifikasi secara detail.
Hari ini suaminya mengajak pergi ke Plaza Nusantara, menemui calon pembeli dari Hong Kong. Mereka berjanji bertemu di gedung itu jam sepuluh pagi ini. Ningsih akan berangkat langsung dari rumah, sementara suaminya akan ke sana setelah mengecek barang-barang setengah jadi yang baru datang dari Jepara, di gudang Pulo Gadung.
Jam sepuluh kurang lima Ningsih sudah sampai di Plaza Nusantara dengan diantar sopirnya. Sebelum turun dari mobil dihubunginya mas Yanto melalui HP. Ternyata mas Yanto sudah lebih dulu datang dan sedang berbincang-bincang dengan Mr. Yew Ching Quo, tamu dari Hong Kong itu, di kantor perantaranya, PT Indocorp di lantai sepuluh Plaza Nusantara itu. Ningsih bergegas menuju lift. Ada enam buah lift di sana, berjejer tiga-tiga di sebelah kiri dan kanan. Lift tengah di sebelah kanan yang duluan terbuka. Ningsih melangkah masuk ke dalam lift itu, memencet nomor 10. Di dalam lift ada seorang wanita kira-kira seumur Ningsih, berpakaian seragam petugas kebersihan. Wanita itu asyik bekerja mengelap kaca cermin dalam lift itu tanpa memperdulikan Ningsih. Pintu lift tertutup dan lift itu bergerak naik. Angka penunjuk lantai yang terdapat di atas pintu lift berkedip bergantian menandakan lantai mana yang sedang dilalui. Lantai 5 baru saja dilalui. Tiba-tiba lampu mati dan lift itu berhenti. Wanita tukang bersih-bersih itu mengomel.
‘Ah, sialan. Ada apa lagi sih ni?’ dia seperti bertanya kepada dirinya sendiri.
Beberapa detik kemudian lampu kembali menyala. Mungkin baru saja listrik PLN mati dan generator pengganti segera dihidupkan. Tapi lift ini tetap tidak bergerak.
Wanita itu mencoba memencet angka-angka penunjuk lantai. Semua angka itu bisa menyala. Tapi lift ini diam saja. Dipencetnya tombol pembuka pintu. Pintu itu tidak bergerak.
‘Wah, macet ni bu,’ ujar wanita itu kepada Ningsih.
‘Kalau begini, apa yang harus dilakukan?’ tanya Ningsih.
‘Kita panggil petugas melalui panggilan darurat ini,’ katanya sambil memencet tombol ‘emergency call’.
Berkali-kali tombol itu dia pencet, tidak ada reaksi apa-apa. Wanita itu kelihatan mulai agak panik. Ningsih sebenarnya juga ikut cemas. Tapi dia lebih bisa mengendalikan dirinya. Dalam hatinya, Ningsih sibuk membaca ayat Kursiy. Dan berdoa. Dia coba menelpon mas Yanto. Tapi tidak ada signal dalam lift ini. Percuma saja dia mencoba memencet-mencet HPnya.
Wanita itu masih terus memencet tombol ‘emergency call’. Belum juga ada reaksi dari mana-manapun. Sepertinya wanita itu mulai kehilangan kesabarannya. Dia mulai menggedor-gedor pintu lift. Ningsih berusaha tetap tenang dan mencoba menenangkan wanita itu juga.
‘Tidak usah panik. Tekan saja tombol ‘emergency’ itu lagi. Mudah-mudahan sebentar lagi petugasnya mengetahui bahwa kita sedang di sini,’ katanya setenang mungkin.
‘Lift yang ini memang sering rusak bu. Entah kenapa nggak dibetulin sampai tuntas. Ini kan berbahaya,’ katanya sambil telunjuknya tidak henti-hentinya memencet tombol itu. Tiba-tiba terdengar suara.
‘Ada berapa orang di dalam lift ini dan dimana posisinya kira-kira?’ bunyi suara yang terdengar melalui ‘speaker’ dalam lift itu.
‘Ada dua orang. Dua orang wanita. Posisi kami di atas lantai lima,’ jawab wanita petugas pembersih itu.
‘Ini suaranya seperti saya kenal. Ini mbak Nani, ya?’ tanya suara itu.
‘Iya , benar. Ini dengan siapa?’ tanya wanita itu lagi.
‘Saya Muji mbak. Petugas Satpam. Mbak tenang-tenang aja di sana, ya! Ini mekaniknya sudah dipanggil. Yang satunya tamu ya mbak?’
‘Oh kamu Muji. Iya, tenang sih tenang. Tapi saya deg-degan ini. Kami nggak bisa kemana-mana. Satunya lagi ada ibu-ibu, mau ke lantai 10,’ jawab wanita yang namanya mbak Nani ini.
‘Ya tenang aja mbak. Pokoknya kita sedang berusaha nih. Nih mekaniknya sudah datang,’ suara Muji dari sana.
Dan Ningsih berdua dengan wanita itu menunggu dengan sabar. Apa lagi yang bisa diperbuat selain menunggu? Dari tadi Ningsih mengamat-amati wanita yang namanya ‘mbak Nani’ ini. Rasa-rasanya dia kok seperti kenal. Tapi dimana ya? Ningsih memutar otak mengingat-ingat siapa kira-kira orang ini. Tidak ingat sedikitpun. Tiba-tiba wanita itu bertanya kepada Ningsih. Pertanyaan basa basi.
‘Mau ke kantor mana di lantai 10, bu?’ tanyanya.
‘Oh. Saya mau bertamu ke kantor Indocorp. Kebetulan ada suami saya sedang menunggu di sana,’ jawab Ningsih.
‘Oh Indokop. Itu kantornya di sebelah kanan kalau kita keluar dari lift ini,’ kata wanita itu.
Ningsih masih memperhatikan wajah orang itu melalui bayangannya di cermin. Dia semakin yakin mengenal orang ini tapi dimana? Kapan kira-kira dia pernah bertemu dengannya? Makin diusahakannya mengingat, makin yakin dia, tapi makin tidak tahu dia dimana. Dicobanya mengingat teman-temannya yang bernama ‘Nani’. Tetap tidak ada yang muncul.
Waktu terus merambat pelan-pelan. Sudah hampir sepuluh menit mereka berdua terkurung. Belum ada tanda-tanda akan berakhir ‘penyanderaan’ ini. Tiba-tiba terdengar suara melalui speaker itu lagi.
‘Mbak Nani. Tamunya tadi mau ke lantai 10 ya?’ terdengar suara Muji.
‘Iya benar. Kenapa memang?’
‘Apa namanya ibu Ningsih, mbak Nani?’
‘Iya. Saya Ningsih. Apa di sana ada suami saya?’ Ningsih langsung menjawab.
‘Ning. Ini mas. Kamu nggak apa-apa?’ terdengar suara mas Yanto.
‘Nggak apa-apa sih, mas. Tapi ya deg-degan juga. Nggak tahu mau sampai berapa lama nih, kami nyangsang di sini.’
‘Ning, mereka sedang berusaha membetulin lift ini. Kamu tenang-tenang saja. Ini kerusakan mekanis. Lift itu insya Allah aman. Cuma mereka perlu waktu untuk memperbaiki. Kita tunggu saja. Mas tunggu kamu di sini, OK?’
‘OK mas. Saya akan tenang-tenang saja di sini,’ jawab Ningsih.
Mereka kembali melanjutkan penantian itu. Ningsih akhirnya tidak sabar. Dia beranikan untuk bertanya.
‘Maaf, mbak. Saya merasa kenal dengan mbak deh. Tapi sungguh mati dari tadi saya coba mengingat-ingat, tetap nggak ketemu. Kira-kira kita pernah kenal nggak mbak? Atau kebetulan mbak mirip teman saya?’ Ningsih bertanya.
‘Saya kenal. Ingat SMP 371 di Bandung tahun 73 sampai 75?’ ujar wanita itu.
‘Oh, iya. SMP 371 Bandung. Iya tahun 73. Benar…benar…benar… Tapi saya nggak ingat punya teman namanya Nani…,’ ujar Ningsih.
‘Kalau Win ingat? Winarni, ingat?’
‘Astaga…… Win…. Win…. Ini teh kamu? Astaghfirullah….. Winarni,’ Ningsih memeluk wanita itu. Winarni, temannya sekolah dulu di SMP.
Kedua wanita itu berpelukan. Lama sekali. Air mata Ningsih meleleh.
‘Dari tadi saya perhatikan, kamu. Kok seperti saya kenal. Tapi siapa? Terus waktu tadi kamu menyebut namamu mbak Nani. Saya coba terus mengingat-ingat. Nggak ada teman saya yang namanya Nani. Kamu sudah mengenali saya dari tadi?’ tanya Ningsih.
‘Saya juga dari tadi, asa wawuh, kitu. Tapi juga nggak ingat-ingat. Tapi saya pikir lagi, mana mungkin ada teman saya wanita bergengsi kayak gini. Begitu kamu…. nggak apa-apakan…saya berkamu…..’
‘Ya nggak apa-apalah. Kamu ini gimana sih? Terus, gimana kamu bilang?’
‘Begitu barusan kamu ngomong dengan siapa itu… dengan suamimu ya..? Kamu bilang namamu Ningsih, saya sudah yakin seyakin-yakinnya, ini teh pasti kamu, Ningsih teman di SMP Bandung. Tapi saya teu wani mau nanya. Saya pikir kalau kamu nggak ngenalin saya ya sudah sajalah, kitu.’
‘Bener-bener deh. Kekuasaan Tuhan. Kita kok bertemu di sini, kayak gini. Ya sudah, Win. Kita anggap aja kita sedang pikinik kayak dulu waktu di SMP. Biarin aja mereka mau membetulin lift ini berapa lama kek. Saya capek berdiri. Udah, kita duduk aja di lantai ini. Mari kita cerita aja,’ ajak Ningsih bersemangat.
Winarni mengikuti Ningsih duduk di lantai lift. Diperhatikannya Ningsih dengan pandangan hati-hati. Wanita ini jelas orang kaya, orang berpunya, orang bergengsi sekarang. Sesudah barusan mereka hanyut dengan kenangan masa remaja di SMP, segera Winarni menyadari kembali bahwa teman SMPnya ini bukanlah orang yang selevel dengan dirinya. Dia hanyalah seorang ‘cleaning service’. Makanya Winarni terdiam. Ningsih membaca sekilas apa yang ada di balik pikiran temannya itu. Diajaknya Winarni untuk berbincang-bincang.
‘Berapa lama kita berpisah, Win?’ tanya Ningsih.
‘Berapa lama, ya? Sejak kita tamat SMP tahun 1975. Berarti dua puluh tujuh tahun lebih,’ jawab Winarni.
‘Iya, ya. Dua puluh tujuh tahun lebih. Rasanya baru kemarin kita antri beli bakso di warungnya mang Alma.’
‘Kamu masih ingat saja mang Alma?’
‘Iya. Baksonya enak dan porsi mienya besar, ingat nggak?’
‘Iya. Saya ingat, kamu sering meneraktir saya.’
‘Win, coba ceritakan. Kamu kemana saja setamat dari SMP 371 dulu itu?’ tanya Ningsih.
‘Saya masuk SMEA. Orang tua saya pindah ke Ciamis dan saya masuk SMEA di Ciamis. Cuman sampai tamat SMEA itu. Dulu saya coba-coba mencari kerja. Pernah saya bekerja sebagai tenaga pembukuan di sebuah PT di Bandung. Ada kira-kira empat tahun. Terus saya menikah dan berhenti bekerja. Suami saya dulu mula-mula bekerja sebagai pemborong kecil-kecilan di Jakarta ini. Sampai suatu saat dia ditipu orang. Kami habis-habisan waktu itu. Suami saya menganggur beberapa lama. Saya coba melamar kerja kembali, tapi tidak pernah dapat. Akhirnya saya diterima di sini, jadi seperti saya sekarang. Sejak enam tahun yang lalu,’ cerita Winarni.
‘Suamimu sekarang dimana?’ tanya Ningsih pula.
‘Sudah meninggal,’ jawab Winarni.
‘Ya Allah. Inna lillahi wainna ilaihi raaji’uun. Kapan Win?’
‘Baru enam bulan yang lalu. Suami saya, mas Edi, sempat menganggur agak lama. Setelah saya bekerja di sini, dia melamar juga menjadi apa saja di kantor ini. Keterima jadi Satpam. Enam bulan yang lalu dia mengalami kecelakaan lalu lintas. Pulang dari mengawal pengambilan uang di bank, mobil Kijang yang ditompanginya mengalami kecelakaan karena mau dirampok. Ban mobil itu ditembak bandit perampok itu. Mobilnya menabrak pembatas jalan dan berguling-guling. Mas Edi terlempar keluar dan meninggal di sana saat itu juga,’ cerita Winarni.
Kedua wanita itu terisak-isak. Ningsih memeluk Winarni dan membelai-belai rambut wanita malang itu. Mereka terdiam.
Monday, December 1, 2008
SANG AMANAH (79)
(79)
18. Harapan Kembali (2)
Setelah kedua temannya tadi pergi Edwin masih termangu-mangu agak lama. Apakah dia bermimpi? Dia ditawarkan kembali ke sekolah? Sejujurnya dia sangat ingin kembali bersekolah. Dia sangat ingin membuktikan untuk siapa saja yang dulu curiga kepadanya sebagai pemadat, bahwa dia tidak serusak yang dibayangkan orang-orang itu. Betapa bahagianya kalau dia bisa kembali bersekolah. Dan dia tidak keberatan jika dia memang harus mengulang kembali di kelas dua. Ya jelas dong. Mana mungkin dia duduk di kelas tiga. Dan kalau saja ayahnya masih ada. Betapa akan bahagianya ayah mendengar cerita ini. Ayah yang, dia sangat yakin, akhirnya kembali mempercayai bahwa keterlibatannya dengan minuman berekstasi waktu itu hanya karena iseng. Ayah yang meski pernah terlanjur menamparnya, karena saking kecewa akibat dia dikeluarkan dari sekolah, diam-diam berniat untuk mencarikan sekolah baru baginya, bila sudah ada biaya.
Tapi… Tapi apakah semua itu mungkin? Sekarang sudah tidak ada ayah. Bahkan dia harus membantu ibu dengan bekerja seperti sekarang ini. Dengan mengharapkan penghasilan ibu semata, mana mungkin cukup untuk membiayai sekolah mereka berempat? Penghasilan ibu bahkan tidak akan cukup untuk membiayai sekolah adik-adiknya bertiga. Penghasilan ibu hanya cukup untuk keperluan makan mereka sehari-hari secara sederhana. Masih diperlukan uang untuk sewa rumah. Untuk membayar listrik. Untuk uang sekolah adik-adiknya.
Ah…… kembali bersekolah itu sangat mustahil. Sangat tidak mungkin. Memang sudah ketentuan dari sananya bahwa dia harus mengambil alih tugas ayah untuk membantu ibu. Ya sudahlah. Tidak usah muluk-muluk. Tidak usah bermimpi. Biarlah dia tetap bekerja di sini saja.
Tanpa disadarinya, tangannya menyentuh kantong celananya. Ada amplop di dalam kantong itu. Ada dua amplop. Yang satu untuk Mansur dan satunya untuk dirinya. Edwin jadi tidak enak, waktu tadi menceritakan bahwa yang menolong Tomi tadi malam adalah bertiga. Dia, Mansur dan sopir taksi. Bukan maksudnya minta hadiah tambahan untuk Mansur. Tapi dia hanya sekedar nyeletuk bahwa isi amplop itu nanti akan dibaginya dengan Mansur. Waktu itu ayah Tomi menanyakan, siapa itu Mansur, dan siapa saja yang tadi malam menolong anaknya. Dan Edwin bercerita apa adanya. Ayah Tomi akhirnya mencari satu amplop lagi dan menyerahkan ke Edwin serta mengingatkan agar yang satunya ini, yang diberi tanda dengan tulisan MANSUR, diserahkan nanti kepada Mansur.
Edwin ingin mengetahui apa isi amplop itu. Pasti uang, tapi berapa? Ingin dia pergi sebentar ke kamar kecil untuk membuka amplop itu. Tapi ah, tidak. Tidak usah. Amplop itu akan dibukanya bersama ibu nanti malam. Biarlah nanti diperlihatkannya amplop utuh itu kepada ibu. Biar nanti mereka bahagia bersama melihat isinya.
Sementara Edwin meneruskan bekerja masih dengan setengah ngelamun, mas Hendro datang menyamperinya dan bertanya.
‘Ngapain teman-teman lo tadi ke sini Win?’ tanya mas Hendro.
‘Mereka bilang lagi memantau, mas. Lagi nyelidikin keadaan gue sesudah nggak sekolah. Apa gue masih bernafas atau sudah enggak, mungkin gitu kali,’ jawab Edwin tersenyum.
‘Kayak kurang kerjaan gitu mereka?’ ujar mas Hendro setengah bertanya.
‘Mungkin disuruh guru-gurunya kali mas. Mungkin buat perbandingan. Bahagia mana anak sekolah sama anak putus sekolah. Mungkin begitu kali… he..he..he..’
‘Emangnya lo bahagia kerja di sini?’
‘Ya….. karena dibayar jelas bahagia dong mas. Kalau gue kerjanya nggak dibayar pasti nggak bahagia,’ jawab Edwin sekenanya.
‘Ngomong-ngomong, lo betah kerja di sini Win?’
‘Ya..betah aja. Emang kenapa sih mas?’
‘Soalnya, gue perhatiin lo kayaknya serius banget gitu. Emangnya lo bekerja, duitnya bakal apaan sih Win?’
‘Bakal dibagi-bagiin, mas. Dibagi-bagiin ke tukang becak ama tukang ojek.. he..he…. Ah, mas Hendro kok pertanyaannya aneh-aneh sih? Buat hidup mas. Jelas buat biaya hidup,’ jawab Edwin serius.
‘Ya.. justru itu. Gue suka perhatiin lo, nggak ngerokok, nggak jajan. Sangat jarang gue lihat lo jajan. Emang duit lo bakal apaan aja? Jadi beneran nih, duit lo buat ngebantuin nyak lo?’
‘Ya… emang iyalah mas. Gimana nggak. Adik gue tiga orang masih sekolah. Nyokap cuman pekerja kasar. Duit dari mana kalau nggak?’ jawab Edwin lagi.
‘Harusnya lo sekolah yang tinggi Win. Biar gampang cari duit. Lo sih, ngapain juga waktu itu lo ampe dikeluarin segala. Gue lihat, lo orangnya nggak bandel-bandel amat. Emang kenapa sih lo dulu itu? Lo berantem di sekolah? Lo ngajak berantem guru?’
‘Ya nggaklah mas. Masak iya gue berani ngajak guru berantem. Dulu itu sih karena lagi apes aja mas. Pas gue lagi agak bandel dikit tapi ketahuan. Jadi deh gue ditendang dari sekolah. Kalau sekarang sih, emang udah nggak mungkin lagi gue sekolah, mas. Biaya dari mana buat bayar uang sekolah,’ ujar Edwin lirih.
‘Ngomong-ngomong, tadi disamperin sama saudara yang kecelakaan, diajak kemana lo?’
‘Ke rumah sakit. Ngelihat anak yang semalam kecelakaan itu. Semalam dia kan pingsan. Tadi udah sadar. Dia ngucapin terima kasih ceritanya, gitu. Nyokapnya juga. Nyokapnya ampe nangis segala sambil nyalamin gue. Gue bilang karena gue kebetulan pas ada dekat kejadian. Masak nggak ditolongin. Gitu deh,’ jawab Edwin.
‘Terus, lo dikasih hadiah?’ tanya Hendro lagi.
‘Iya nih. Dikasih amplop. Dua amplop. Satunya buat Mansur.’
‘Berapa duit lo dikasih?’
‘Gue belom buka mas. Ntar mau gue buka bareng ama nyokap?’ jawab Edwin.
Hendro terkesima mendengar itu. ‘Perhatian bener nih anak’, pikirnya. ‘Amplop hadiah buat dia sendiri aja, dia mau buka barengan sama nyaknya. Bener-bener deh… ni anak,’ Hendro membatin.
‘Bener-bener hebat lo. Gue lihat, lo sayang banget ama nyak lo.’
‘Ya iyalah mas. Nyokap juga sayang banget ame gue. Ame adik-adik gue. Mas Hendro nggak sayang ama nyokapnya?’
‘Sayang juga dong. Tapi nyak gue udah kagak ada Win,’ jawab Hendro.
‘Oh ya?! Ya sori deh, mas. Tapi mas Hendro udah punya keluarga kan?’
‘Udah. Anak gue udah dua. Kecil-kecil.’
‘Umur berapa, mas?’
‘Yang gede tiga taun, yang kecil belum setaun.’
‘Pasti anaknya mas Hendro juga sayangkan, sama mas Hendro sama istrinya mas Hendro?’
‘Iya kali,’ jawab Hendro.
‘Kok kali? Kok kayak nggak yakin?’
‘Udah ah. Nggak usah ngomongin keluarga. Tapi ngomong-ngomong, kok lo kagak pernah protes sih Win? Gue ampe bingung juga ngelihat lo?’
‘Apa yang mau diprotes mas? Mas Hendro mau gue protes?’
‘Lo, gue suruh masuk siang terus, kerja ampe malam terus, nggak bosan lo? Dan lo nggak pingin libur sekali-sekali?’
‘Kalau soal jam kerja, ya pas banget aja sih mas. Soalnya gue berangkat ke sini, nungguin adik gue pulang sekolah dulu. Dia pulang sekolahnya jam sebelas gitu sampai di rumah. Begitu dia nyampe, gue langsung berangkat. Dan di sini ampe jam sepuluh malam kan memang begitu aturannya. Jadi gue nggak apa-apa. Kalau urusan libur, gue kan digajinya harian, mas. Ngapain juga libur. Di rumah mau ngapain. Sumpek. Jadi apa yang mesti gue protes?’
‘Jadi kalau lo misalnya gue suruh masuk pagi, lo nolak dong?’
‘Ah, nggak juga. Kalau disuruh sih gue mau aja.’
‘Katanya lo harus nungguin adik lo pulang sekolah dulu? Gimana sih? Kalau lo kerja pagi, kan adik lo masih di sekolah?’
‘Nggak masalah mas. Orang kate, ‘no problem’. Kalau mas Hendro yang nyuruh, pasti gue bisa. Rumah dikunci aja pagi-pagi. Kunci titip ke tetangga. Nggak ada susahnya itu,’ jawab Edwin mantap.
‘Hebat lo kalau gitu. Ya udah deh. Gini aja. Gue juga mau berbuat baik ama lo nih. Mulai hari ini lo boleh pulangnya jam delapanan. Begitu Mansur datang lo boleh langsung pulang. Pokoknya lo tungguin Mansur aja.’
‘He..he..he.. terima kasih mas. Kok tumben baik mas?’
‘Sialan lo. Lo bilang gue tumben baik . Apa selama ini gue nggak baik ama lo?’
‘He..he..he.. terima kasih mas. Terima kasih sekali lagi.’
*****
18. Harapan Kembali (2)
Setelah kedua temannya tadi pergi Edwin masih termangu-mangu agak lama. Apakah dia bermimpi? Dia ditawarkan kembali ke sekolah? Sejujurnya dia sangat ingin kembali bersekolah. Dia sangat ingin membuktikan untuk siapa saja yang dulu curiga kepadanya sebagai pemadat, bahwa dia tidak serusak yang dibayangkan orang-orang itu. Betapa bahagianya kalau dia bisa kembali bersekolah. Dan dia tidak keberatan jika dia memang harus mengulang kembali di kelas dua. Ya jelas dong. Mana mungkin dia duduk di kelas tiga. Dan kalau saja ayahnya masih ada. Betapa akan bahagianya ayah mendengar cerita ini. Ayah yang, dia sangat yakin, akhirnya kembali mempercayai bahwa keterlibatannya dengan minuman berekstasi waktu itu hanya karena iseng. Ayah yang meski pernah terlanjur menamparnya, karena saking kecewa akibat dia dikeluarkan dari sekolah, diam-diam berniat untuk mencarikan sekolah baru baginya, bila sudah ada biaya.
Tapi… Tapi apakah semua itu mungkin? Sekarang sudah tidak ada ayah. Bahkan dia harus membantu ibu dengan bekerja seperti sekarang ini. Dengan mengharapkan penghasilan ibu semata, mana mungkin cukup untuk membiayai sekolah mereka berempat? Penghasilan ibu bahkan tidak akan cukup untuk membiayai sekolah adik-adiknya bertiga. Penghasilan ibu hanya cukup untuk keperluan makan mereka sehari-hari secara sederhana. Masih diperlukan uang untuk sewa rumah. Untuk membayar listrik. Untuk uang sekolah adik-adiknya.
Ah…… kembali bersekolah itu sangat mustahil. Sangat tidak mungkin. Memang sudah ketentuan dari sananya bahwa dia harus mengambil alih tugas ayah untuk membantu ibu. Ya sudahlah. Tidak usah muluk-muluk. Tidak usah bermimpi. Biarlah dia tetap bekerja di sini saja.
Tanpa disadarinya, tangannya menyentuh kantong celananya. Ada amplop di dalam kantong itu. Ada dua amplop. Yang satu untuk Mansur dan satunya untuk dirinya. Edwin jadi tidak enak, waktu tadi menceritakan bahwa yang menolong Tomi tadi malam adalah bertiga. Dia, Mansur dan sopir taksi. Bukan maksudnya minta hadiah tambahan untuk Mansur. Tapi dia hanya sekedar nyeletuk bahwa isi amplop itu nanti akan dibaginya dengan Mansur. Waktu itu ayah Tomi menanyakan, siapa itu Mansur, dan siapa saja yang tadi malam menolong anaknya. Dan Edwin bercerita apa adanya. Ayah Tomi akhirnya mencari satu amplop lagi dan menyerahkan ke Edwin serta mengingatkan agar yang satunya ini, yang diberi tanda dengan tulisan MANSUR, diserahkan nanti kepada Mansur.
Edwin ingin mengetahui apa isi amplop itu. Pasti uang, tapi berapa? Ingin dia pergi sebentar ke kamar kecil untuk membuka amplop itu. Tapi ah, tidak. Tidak usah. Amplop itu akan dibukanya bersama ibu nanti malam. Biarlah nanti diperlihatkannya amplop utuh itu kepada ibu. Biar nanti mereka bahagia bersama melihat isinya.
Sementara Edwin meneruskan bekerja masih dengan setengah ngelamun, mas Hendro datang menyamperinya dan bertanya.
‘Ngapain teman-teman lo tadi ke sini Win?’ tanya mas Hendro.
‘Mereka bilang lagi memantau, mas. Lagi nyelidikin keadaan gue sesudah nggak sekolah. Apa gue masih bernafas atau sudah enggak, mungkin gitu kali,’ jawab Edwin tersenyum.
‘Kayak kurang kerjaan gitu mereka?’ ujar mas Hendro setengah bertanya.
‘Mungkin disuruh guru-gurunya kali mas. Mungkin buat perbandingan. Bahagia mana anak sekolah sama anak putus sekolah. Mungkin begitu kali… he..he..he..’
‘Emangnya lo bahagia kerja di sini?’
‘Ya….. karena dibayar jelas bahagia dong mas. Kalau gue kerjanya nggak dibayar pasti nggak bahagia,’ jawab Edwin sekenanya.
‘Ngomong-ngomong, lo betah kerja di sini Win?’
‘Ya..betah aja. Emang kenapa sih mas?’
‘Soalnya, gue perhatiin lo kayaknya serius banget gitu. Emangnya lo bekerja, duitnya bakal apaan sih Win?’
‘Bakal dibagi-bagiin, mas. Dibagi-bagiin ke tukang becak ama tukang ojek.. he..he…. Ah, mas Hendro kok pertanyaannya aneh-aneh sih? Buat hidup mas. Jelas buat biaya hidup,’ jawab Edwin serius.
‘Ya.. justru itu. Gue suka perhatiin lo, nggak ngerokok, nggak jajan. Sangat jarang gue lihat lo jajan. Emang duit lo bakal apaan aja? Jadi beneran nih, duit lo buat ngebantuin nyak lo?’
‘Ya… emang iyalah mas. Gimana nggak. Adik gue tiga orang masih sekolah. Nyokap cuman pekerja kasar. Duit dari mana kalau nggak?’ jawab Edwin lagi.
‘Harusnya lo sekolah yang tinggi Win. Biar gampang cari duit. Lo sih, ngapain juga waktu itu lo ampe dikeluarin segala. Gue lihat, lo orangnya nggak bandel-bandel amat. Emang kenapa sih lo dulu itu? Lo berantem di sekolah? Lo ngajak berantem guru?’
‘Ya nggaklah mas. Masak iya gue berani ngajak guru berantem. Dulu itu sih karena lagi apes aja mas. Pas gue lagi agak bandel dikit tapi ketahuan. Jadi deh gue ditendang dari sekolah. Kalau sekarang sih, emang udah nggak mungkin lagi gue sekolah, mas. Biaya dari mana buat bayar uang sekolah,’ ujar Edwin lirih.
‘Ngomong-ngomong, tadi disamperin sama saudara yang kecelakaan, diajak kemana lo?’
‘Ke rumah sakit. Ngelihat anak yang semalam kecelakaan itu. Semalam dia kan pingsan. Tadi udah sadar. Dia ngucapin terima kasih ceritanya, gitu. Nyokapnya juga. Nyokapnya ampe nangis segala sambil nyalamin gue. Gue bilang karena gue kebetulan pas ada dekat kejadian. Masak nggak ditolongin. Gitu deh,’ jawab Edwin.
‘Terus, lo dikasih hadiah?’ tanya Hendro lagi.
‘Iya nih. Dikasih amplop. Dua amplop. Satunya buat Mansur.’
‘Berapa duit lo dikasih?’
‘Gue belom buka mas. Ntar mau gue buka bareng ama nyokap?’ jawab Edwin.
Hendro terkesima mendengar itu. ‘Perhatian bener nih anak’, pikirnya. ‘Amplop hadiah buat dia sendiri aja, dia mau buka barengan sama nyaknya. Bener-bener deh… ni anak,’ Hendro membatin.
‘Bener-bener hebat lo. Gue lihat, lo sayang banget ama nyak lo.’
‘Ya iyalah mas. Nyokap juga sayang banget ame gue. Ame adik-adik gue. Mas Hendro nggak sayang ama nyokapnya?’
‘Sayang juga dong. Tapi nyak gue udah kagak ada Win,’ jawab Hendro.
‘Oh ya?! Ya sori deh, mas. Tapi mas Hendro udah punya keluarga kan?’
‘Udah. Anak gue udah dua. Kecil-kecil.’
‘Umur berapa, mas?’
‘Yang gede tiga taun, yang kecil belum setaun.’
‘Pasti anaknya mas Hendro juga sayangkan, sama mas Hendro sama istrinya mas Hendro?’
‘Iya kali,’ jawab Hendro.
‘Kok kali? Kok kayak nggak yakin?’
‘Udah ah. Nggak usah ngomongin keluarga. Tapi ngomong-ngomong, kok lo kagak pernah protes sih Win? Gue ampe bingung juga ngelihat lo?’
‘Apa yang mau diprotes mas? Mas Hendro mau gue protes?’
‘Lo, gue suruh masuk siang terus, kerja ampe malam terus, nggak bosan lo? Dan lo nggak pingin libur sekali-sekali?’
‘Kalau soal jam kerja, ya pas banget aja sih mas. Soalnya gue berangkat ke sini, nungguin adik gue pulang sekolah dulu. Dia pulang sekolahnya jam sebelas gitu sampai di rumah. Begitu dia nyampe, gue langsung berangkat. Dan di sini ampe jam sepuluh malam kan memang begitu aturannya. Jadi gue nggak apa-apa. Kalau urusan libur, gue kan digajinya harian, mas. Ngapain juga libur. Di rumah mau ngapain. Sumpek. Jadi apa yang mesti gue protes?’
‘Jadi kalau lo misalnya gue suruh masuk pagi, lo nolak dong?’
‘Ah, nggak juga. Kalau disuruh sih gue mau aja.’
‘Katanya lo harus nungguin adik lo pulang sekolah dulu? Gimana sih? Kalau lo kerja pagi, kan adik lo masih di sekolah?’
‘Nggak masalah mas. Orang kate, ‘no problem’. Kalau mas Hendro yang nyuruh, pasti gue bisa. Rumah dikunci aja pagi-pagi. Kunci titip ke tetangga. Nggak ada susahnya itu,’ jawab Edwin mantap.
‘Hebat lo kalau gitu. Ya udah deh. Gini aja. Gue juga mau berbuat baik ama lo nih. Mulai hari ini lo boleh pulangnya jam delapanan. Begitu Mansur datang lo boleh langsung pulang. Pokoknya lo tungguin Mansur aja.’
‘He..he..he.. terima kasih mas. Kok tumben baik mas?’
‘Sialan lo. Lo bilang gue tumben baik . Apa selama ini gue nggak baik ama lo?’
‘He..he..he.. terima kasih mas. Terima kasih sekali lagi.’
*****
Sunday, November 30, 2008
SANG AMANAH (78)
(78)
Samsul dikejar ‘dead line’. Dia seharusnya sudah memberikan informasi penyelidikannya tentang Edwin kepada ketua OSIS hari ini. Tapi dia belum mendapatkan informasi yang memadai. Dia belum berhasil menemui Edwin. Dan siang ini dia harus berusaha mengejar kembali berita penting itu. Dia harus bertemu dengan Edwin. Samsul minta tolong dan sekalian mengajak Amir untuk menunjukkan pompa bensin tempat Edwin bekerja. Kedua anak itu sudah setuju pergi ke sana pulang dari sekolah hari ini. Dengan berboncengan sepeda motor mereka langsung menuju ke arah Tebet, melalui jalan raya Kali Malang, Cawang, jalan M.T Haryono dan berputar di bawah jembatan layang menuju jalan Prof. Dr. Saharjo di Tebet. Mereka melaju sampai ke pompa bensin tempat Edwin bekerja. Di pompa bensin itu ada empat orang pegawai pengisi bensin berpakaian seragam. Tapi tidak ada Edwin. Amir mencari mas Hendro di kantor pompa bensin. Mas Hendro agak heran melihat kedatangan Amir dengan temannya dan menyapa akrab.
‘Tumben lo Mir. Ada apa?’ tanya mas Hendro.
‘Nyari Edwin mas. Dia masih kerja di sini kan?’ Amir balik bertanya.
‘Masih. Tapi barusan di ajak saudara orang yang ditolonginnya tadi malam ke rumah sakit,’ jawab mas Hendro.
‘Orang yang ditolongin? Siapa bang?’
‘Tadi malam ada tabrakan maut di depan sini. Ada yang meninggal satu orang. Terus…. Edwin katanya nolongin yang satunya, yang luka parah tapi masih hidup. Ngantarin ke rumah sakit naik taksi. Orang yang selamat ini, tadi malam waktu dibawa ke rumah sakit lagi pingsan. Terus tadi pagi udah sadar. Katanya pingin ketemu orang yang nolongin. Nah barusan Edwin dijemput sama adiknya… kayaknya sih. Baru aja. Belum juga seperempat jam,’ mas Hendro menjelaskan.
‘Rumah sakit mana, mas?’
‘Katanya di Keluarga Sejahtera Jatinegara. Emang ada apa sih?’ mas Hendro jadi penasaran.
‘Yaa. Ada perlu aja mas. Kira-kira lama nggak, mas ya?’
‘Yaa…itu sih gue kagak tau. Tapi gue rasa nggak bakalan lama. Kan dia lagi kerja. Tadi waktu dijemput itu, anak yang jemput bilang, sebentar aja. Karena saudaranya yang kecelakaan, sama ibunya pingin ketemu. Tapi..ngomong-ngomong gue jadi penasaran bener. Ada apaan sih emangnya?’
‘Ah nggak. Pengen ngobrol-ngobrol aja. Ada yang mau ditanyain sih. Tapi ngomong-ngomong gimana dia kerjanya di sini bang?’ tanya Amir.
‘Baik-baik aja. Anaknya rajin dan nggak macem-macem. Jujur. Gaulnya sama yang lain-lain di sini enak. Dan dia belum pernah bolos. Kan udah lumayan lama juga dia kerja di sini. Ada empat bulanan gue rasa. Dan nggak pernah protes. Sebenarnya lagi gue test juga nih. Sejak dari pertama kali masuk gue biarin masuk siang terus. Dia kerja dari jam dua belas siang sampai jam sepuluh malam. Dan dia nggak pernah ngomel. Paling-paling, pernah agak terlambat datang, mungkin gara-gara macet, eh besoknya dia datang lebih cepet. Pokoknya baik-baik aja deh,’ jawab mas Hendro.
‘Jadi nggak pernah ada masalah, gitu mas?’ tanya Amir.
‘Nggak tuh. Masalah apa sih, maksud lo?’
‘Ya nggak tau. Masalah apa aja barangkali. Tapi kalau mas Hendro bilang nggak ada ya bagus dong. Gue kan nggak enak kalau ternyata ada masalah.’
‘Nggak ada masalah apa-apa. Kalau ada kan nggak bakalan dia bisa bertahan lama kerja di sini. Ngomong-ngomong lo barusan dari sekolah langsung ke sini? Nggak pulang dulu lo?’ tanya mas Hendro lagi.
‘Kebetulan ada perlu aja mas. Oh ya, kenalin ni teman gue di sekolah, mas. Samsul,’ Amir memperkenalkan Samsul.
‘Pengen kerja di sini juga? He..he..he,’ mas Hendro bercanda.
‘Pengen juga kali mas. Ngomong-ngomong, berapa gajinya kalau kerja di sini mas?’ tanya Samsul, ‘to the point’.
‘Gajinya berapa bener sih. Dua puluh rebu sehari tambah uang makan tujuh rebu lima ratus. Ya lumayan, biar nggak ngenyusahin orang tua lah. He..he..he,’ jawab mas Hendro pula.
‘Dibayarnya bulanan mas?’ tanya Samsul lagi.
‘Nggak. Mingguan. Tiap hari Sabtu. Biar bisa buat ngajak pacar nonton layar tancap. He..he..he. Gimana? Lo mau ikut kerja juga nggak?’
‘Belum sekarang, mas. Siapa tahu nanti-nanti saya kepingin kerja.’
Amir mungkin sudah sangat lapar. Dia mengajak Samsul untuk pergi makan dulu di warung di sekitar tempat itu.
‘Sul! Edwin mungkin agak lama nih. Mendingan kita pergi makan dulu aja, yuk! Gue lapar nih. Ntar kita ke sini lagi.’
‘Mau makan dimana?’ tanya Samsul.
‘Mas! Warteg yang di sebelah sana itu masih ada ya?’ tanya Amir ke mas Hendro.
‘Masih. Bener juga, mendingan lo pergi makan dulu aja ke sana. Nih, gue kasih duit buat makan. Kalau di Warteg segini cukup buat berdua,’ mas Hendro memberikan selembar dua puluh ribuan.
‘Yaa. Terima kasih banget nih. Dengan duit segini masih bisa lebih nih, buat makan berdua di Warteg. Yok Sul, kita pergi makan,’ Amir menerima uang itu sambil tersenyum. Kedua anak itu berjalan menuju Warteg.
Waktu mereka kembali dari makan, Edwin sudah ada di pompa bensin itu. Anak itu merasa heran, ada urusan apa kedua temannya itu datang menemuinya ke tempat dia bekerja. Tapi dia berusaha tenang-tenang saja. Karena tidak ada yang perlu dikhawatirkan.
‘Tumben Sul, Mir. Lagi ngapain lo? Katanya mas Hendro lo nyariin gue?’ Edwin menyapa kedua temannya itu ramah.
‘Iya. Emang bener sih. Ada yang mau kita tanyain,’ jawab Samsul.
‘Semalam lo ke rumah kata nyokap gue. Ada apa Sul?’
‘Bener. Semalam gue ke rumah lo. Gue lagi dapat tugas nih dari OSIS. Tugasnya memantau…ciiieh… bahasanya keren ya? Memantau bagaimana keadaan lo sekarang. Maksudnya bagaimana keadaan lo sejak sudah nggak sekolah. Lo nggak keberatan kan?’ tanya Samsul.
‘Ah, nggak. Tapi apanya yang mau lo pantau? Apa gue masih bernafas atau udah enggak? Begitu?’ tanya Edwin santai.
‘Ceritanya sih panjang, nih. Gini. Di sekolah sekarang kepseknya kan baru. Kepsek yang sekarang memang agak beda dengan pak Suprapto. Orangnya, gue bilang keras, tapi baik banget. Maksudnya dalam soal peraturan dia ini keras. Lo tau nggak. Di sekolah sekarang udah nggak ada yang berani merokok. Bahkan guru-guru udah nggak ada yang ngerokok, begitu peraturan dia. Tapi perhatian dia ke kita-kita, maksudnya buat kemajuan pelajaran kita, baik banget. Nah, kemarin ini ada anak berkasus mau dimasukin sekolah di sana. Anak itu keponakannya ibu Purwati. Kasusnya apa nggak usah gue ceritain dulu. Anak itu sih belum atau mungkin juga nggak diterima. Tapi ceritanya terus jadi berkembang kemana-mana. OSIS mau protes kalau memang anak berkasus itu mau diterima, karena dulu teman-teman kita dikeluarin. Eh, nggak taunya sama pak kepsek yang baru ini OSIS disuruh memantau tadi itu. Kita disuruh memantau keberadaan teman-teman yang dulu dikeluarin. Kayak-kayaknya sih, kalau lo mau, lo bakal diijinin kembali ke sekolah. Tapi ini biar guru-guru nanti yang menghubungi lo. Tugas gue adalah menyelidiki, apakah lo sudah tidak terlibat lagi dengan barang-barang gituan. Dan menurut cerita yang gue dengar dan melihat juga keadaan lo seperti sekarang, gue yakin kalau lo ini bersih. Dan biar lo tau, yang dipantau adalah semua yang dikeluarin dari sekolah waktu itu. Jadi bukan cuma lo aja. Begitu ceritanya,’ Samsul bercerita panjang.
Edwin termangu mendengar cerita Samsul. Lama dia tidak bisa mengatakan apa-apa. Matanya menerawang jauh. Bersekolah kembali? Betapa sebenarnya dia sangat gembira mendapatkan tawaran ini. Ah, seandainya ayah masih ada. Betapa ayah akan sangat gembira mendengar tawaran ini. Tapi itulah masalahnya. Ayah sudah tidak ada. Dan dia sekarang membantu ibu untuk mencari nafkah, menggantikan ayah. Kayaknya tawaran itu terlalu indah tapi sudah tidak mungkin lagi terjangkau.
‘Kenapa Win? Kok lo ngelamun?’ tanya Samsul.
‘Ah, nggak. Jadi begitu ceritanya? Ya gue senang dong, kalau memang begitu ceritanya. Lo memang pernah ngelihat gue ‘sakau’ kan waktu itu? Dulu. Di sekolah. Itu akibat kedunguan gue. Sebenarnya sih gue nggak pernah nyandu dengan itu barang. Dua tiga kali gue dicekokin anak-anak dengan pil yang dimasukin ke minuman. Sesudah dikeluarkan dari sekolah itu gue kapok. Gue bersumpah nggak bakalan lagi gue mau iseng nyobain benda haram itu. Tapi ya itulah. Gue terlambat. Sampai dikeluarin dari sekolah. Tapi sekarang. Lo bilang, mungkin gue mau ditawarin lagi kembali ke sekolah? Sesudah hampir setahun nggak sekolah? Gue senang banget sebenarnya. Tapi kayaknya nggak mungkin. Terus terang aja. Lo taukan, babe gue udah nggak ada? Dan sekarang gue bekerja nyari duit untuk membantu nyokap gue. Buat biaya sekolah adik-adik gue,’ Edwin bercerita sendu.
‘Gue ngerti Win. Tapi gini aja deh. Karena tugas gue adalah mendapatkan berita tentang lo, maka gue mau ceritain apa adanya. Tentang gimana kelanjutannya, seandainya lo ditawarin kembali ke sekolah, sementara ini nggak usah kita bicarakan dulu. Gimana Win?’ Samsul mengusul.
‘Ya nggak apa-apa. Silahkan lo bilangin aja apa adanya. Paling tidak gue berterima kasih banyak kalau memang nasib gue diperhatiin lagi. Apakah kenyataannya nanti gue bisa beneran bersekolah lagi atau nggak, kan lain lagi ceritanya,’ jawab Edwin pula.
‘Jadi gitu aja deh Win. Sori nih ngegangguin lo lagi kerja. Kalau gitu gue balik dulu ya?’
‘Ya deh. Sekali lagi gue berterima kasih nih. Salam aja buat teman-teman,’ jawab Edwin.
Kedua anak itu berpamitan ke mas Hendro sebelum meninggalkan pompa bensin itu. Edwin memperhatikan mereka pergi. Sambil bertanya dalam hatinya. Siapa agaknya kepala sekolah SMU 369 yang baru itu? Yang punya rencana yang tidak umum itu? Mau menerima kembali murid yang sudah pernah dikeluarkan. Rasanya terlalu indah untuk benar-benar jadi kenyataan.
Ah ngapain juga hal itu dipikirin, bisikan dalam hati Edwin.
*****
Samsul dikejar ‘dead line’. Dia seharusnya sudah memberikan informasi penyelidikannya tentang Edwin kepada ketua OSIS hari ini. Tapi dia belum mendapatkan informasi yang memadai. Dia belum berhasil menemui Edwin. Dan siang ini dia harus berusaha mengejar kembali berita penting itu. Dia harus bertemu dengan Edwin. Samsul minta tolong dan sekalian mengajak Amir untuk menunjukkan pompa bensin tempat Edwin bekerja. Kedua anak itu sudah setuju pergi ke sana pulang dari sekolah hari ini. Dengan berboncengan sepeda motor mereka langsung menuju ke arah Tebet, melalui jalan raya Kali Malang, Cawang, jalan M.T Haryono dan berputar di bawah jembatan layang menuju jalan Prof. Dr. Saharjo di Tebet. Mereka melaju sampai ke pompa bensin tempat Edwin bekerja. Di pompa bensin itu ada empat orang pegawai pengisi bensin berpakaian seragam. Tapi tidak ada Edwin. Amir mencari mas Hendro di kantor pompa bensin. Mas Hendro agak heran melihat kedatangan Amir dengan temannya dan menyapa akrab.
‘Tumben lo Mir. Ada apa?’ tanya mas Hendro.
‘Nyari Edwin mas. Dia masih kerja di sini kan?’ Amir balik bertanya.
‘Masih. Tapi barusan di ajak saudara orang yang ditolonginnya tadi malam ke rumah sakit,’ jawab mas Hendro.
‘Orang yang ditolongin? Siapa bang?’
‘Tadi malam ada tabrakan maut di depan sini. Ada yang meninggal satu orang. Terus…. Edwin katanya nolongin yang satunya, yang luka parah tapi masih hidup. Ngantarin ke rumah sakit naik taksi. Orang yang selamat ini, tadi malam waktu dibawa ke rumah sakit lagi pingsan. Terus tadi pagi udah sadar. Katanya pingin ketemu orang yang nolongin. Nah barusan Edwin dijemput sama adiknya… kayaknya sih. Baru aja. Belum juga seperempat jam,’ mas Hendro menjelaskan.
‘Rumah sakit mana, mas?’
‘Katanya di Keluarga Sejahtera Jatinegara. Emang ada apa sih?’ mas Hendro jadi penasaran.
‘Yaa. Ada perlu aja mas. Kira-kira lama nggak, mas ya?’
‘Yaa…itu sih gue kagak tau. Tapi gue rasa nggak bakalan lama. Kan dia lagi kerja. Tadi waktu dijemput itu, anak yang jemput bilang, sebentar aja. Karena saudaranya yang kecelakaan, sama ibunya pingin ketemu. Tapi..ngomong-ngomong gue jadi penasaran bener. Ada apaan sih emangnya?’
‘Ah nggak. Pengen ngobrol-ngobrol aja. Ada yang mau ditanyain sih. Tapi ngomong-ngomong gimana dia kerjanya di sini bang?’ tanya Amir.
‘Baik-baik aja. Anaknya rajin dan nggak macem-macem. Jujur. Gaulnya sama yang lain-lain di sini enak. Dan dia belum pernah bolos. Kan udah lumayan lama juga dia kerja di sini. Ada empat bulanan gue rasa. Dan nggak pernah protes. Sebenarnya lagi gue test juga nih. Sejak dari pertama kali masuk gue biarin masuk siang terus. Dia kerja dari jam dua belas siang sampai jam sepuluh malam. Dan dia nggak pernah ngomel. Paling-paling, pernah agak terlambat datang, mungkin gara-gara macet, eh besoknya dia datang lebih cepet. Pokoknya baik-baik aja deh,’ jawab mas Hendro.
‘Jadi nggak pernah ada masalah, gitu mas?’ tanya Amir.
‘Nggak tuh. Masalah apa sih, maksud lo?’
‘Ya nggak tau. Masalah apa aja barangkali. Tapi kalau mas Hendro bilang nggak ada ya bagus dong. Gue kan nggak enak kalau ternyata ada masalah.’
‘Nggak ada masalah apa-apa. Kalau ada kan nggak bakalan dia bisa bertahan lama kerja di sini. Ngomong-ngomong lo barusan dari sekolah langsung ke sini? Nggak pulang dulu lo?’ tanya mas Hendro lagi.
‘Kebetulan ada perlu aja mas. Oh ya, kenalin ni teman gue di sekolah, mas. Samsul,’ Amir memperkenalkan Samsul.
‘Pengen kerja di sini juga? He..he..he,’ mas Hendro bercanda.
‘Pengen juga kali mas. Ngomong-ngomong, berapa gajinya kalau kerja di sini mas?’ tanya Samsul, ‘to the point’.
‘Gajinya berapa bener sih. Dua puluh rebu sehari tambah uang makan tujuh rebu lima ratus. Ya lumayan, biar nggak ngenyusahin orang tua lah. He..he..he,’ jawab mas Hendro pula.
‘Dibayarnya bulanan mas?’ tanya Samsul lagi.
‘Nggak. Mingguan. Tiap hari Sabtu. Biar bisa buat ngajak pacar nonton layar tancap. He..he..he. Gimana? Lo mau ikut kerja juga nggak?’
‘Belum sekarang, mas. Siapa tahu nanti-nanti saya kepingin kerja.’
Amir mungkin sudah sangat lapar. Dia mengajak Samsul untuk pergi makan dulu di warung di sekitar tempat itu.
‘Sul! Edwin mungkin agak lama nih. Mendingan kita pergi makan dulu aja, yuk! Gue lapar nih. Ntar kita ke sini lagi.’
‘Mau makan dimana?’ tanya Samsul.
‘Mas! Warteg yang di sebelah sana itu masih ada ya?’ tanya Amir ke mas Hendro.
‘Masih. Bener juga, mendingan lo pergi makan dulu aja ke sana. Nih, gue kasih duit buat makan. Kalau di Warteg segini cukup buat berdua,’ mas Hendro memberikan selembar dua puluh ribuan.
‘Yaa. Terima kasih banget nih. Dengan duit segini masih bisa lebih nih, buat makan berdua di Warteg. Yok Sul, kita pergi makan,’ Amir menerima uang itu sambil tersenyum. Kedua anak itu berjalan menuju Warteg.
Waktu mereka kembali dari makan, Edwin sudah ada di pompa bensin itu. Anak itu merasa heran, ada urusan apa kedua temannya itu datang menemuinya ke tempat dia bekerja. Tapi dia berusaha tenang-tenang saja. Karena tidak ada yang perlu dikhawatirkan.
‘Tumben Sul, Mir. Lagi ngapain lo? Katanya mas Hendro lo nyariin gue?’ Edwin menyapa kedua temannya itu ramah.
‘Iya. Emang bener sih. Ada yang mau kita tanyain,’ jawab Samsul.
‘Semalam lo ke rumah kata nyokap gue. Ada apa Sul?’
‘Bener. Semalam gue ke rumah lo. Gue lagi dapat tugas nih dari OSIS. Tugasnya memantau…ciiieh… bahasanya keren ya? Memantau bagaimana keadaan lo sekarang. Maksudnya bagaimana keadaan lo sejak sudah nggak sekolah. Lo nggak keberatan kan?’ tanya Samsul.
‘Ah, nggak. Tapi apanya yang mau lo pantau? Apa gue masih bernafas atau udah enggak? Begitu?’ tanya Edwin santai.
‘Ceritanya sih panjang, nih. Gini. Di sekolah sekarang kepseknya kan baru. Kepsek yang sekarang memang agak beda dengan pak Suprapto. Orangnya, gue bilang keras, tapi baik banget. Maksudnya dalam soal peraturan dia ini keras. Lo tau nggak. Di sekolah sekarang udah nggak ada yang berani merokok. Bahkan guru-guru udah nggak ada yang ngerokok, begitu peraturan dia. Tapi perhatian dia ke kita-kita, maksudnya buat kemajuan pelajaran kita, baik banget. Nah, kemarin ini ada anak berkasus mau dimasukin sekolah di sana. Anak itu keponakannya ibu Purwati. Kasusnya apa nggak usah gue ceritain dulu. Anak itu sih belum atau mungkin juga nggak diterima. Tapi ceritanya terus jadi berkembang kemana-mana. OSIS mau protes kalau memang anak berkasus itu mau diterima, karena dulu teman-teman kita dikeluarin. Eh, nggak taunya sama pak kepsek yang baru ini OSIS disuruh memantau tadi itu. Kita disuruh memantau keberadaan teman-teman yang dulu dikeluarin. Kayak-kayaknya sih, kalau lo mau, lo bakal diijinin kembali ke sekolah. Tapi ini biar guru-guru nanti yang menghubungi lo. Tugas gue adalah menyelidiki, apakah lo sudah tidak terlibat lagi dengan barang-barang gituan. Dan menurut cerita yang gue dengar dan melihat juga keadaan lo seperti sekarang, gue yakin kalau lo ini bersih. Dan biar lo tau, yang dipantau adalah semua yang dikeluarin dari sekolah waktu itu. Jadi bukan cuma lo aja. Begitu ceritanya,’ Samsul bercerita panjang.
Edwin termangu mendengar cerita Samsul. Lama dia tidak bisa mengatakan apa-apa. Matanya menerawang jauh. Bersekolah kembali? Betapa sebenarnya dia sangat gembira mendapatkan tawaran ini. Ah, seandainya ayah masih ada. Betapa ayah akan sangat gembira mendengar tawaran ini. Tapi itulah masalahnya. Ayah sudah tidak ada. Dan dia sekarang membantu ibu untuk mencari nafkah, menggantikan ayah. Kayaknya tawaran itu terlalu indah tapi sudah tidak mungkin lagi terjangkau.
‘Kenapa Win? Kok lo ngelamun?’ tanya Samsul.
‘Ah, nggak. Jadi begitu ceritanya? Ya gue senang dong, kalau memang begitu ceritanya. Lo memang pernah ngelihat gue ‘sakau’ kan waktu itu? Dulu. Di sekolah. Itu akibat kedunguan gue. Sebenarnya sih gue nggak pernah nyandu dengan itu barang. Dua tiga kali gue dicekokin anak-anak dengan pil yang dimasukin ke minuman. Sesudah dikeluarkan dari sekolah itu gue kapok. Gue bersumpah nggak bakalan lagi gue mau iseng nyobain benda haram itu. Tapi ya itulah. Gue terlambat. Sampai dikeluarin dari sekolah. Tapi sekarang. Lo bilang, mungkin gue mau ditawarin lagi kembali ke sekolah? Sesudah hampir setahun nggak sekolah? Gue senang banget sebenarnya. Tapi kayaknya nggak mungkin. Terus terang aja. Lo taukan, babe gue udah nggak ada? Dan sekarang gue bekerja nyari duit untuk membantu nyokap gue. Buat biaya sekolah adik-adik gue,’ Edwin bercerita sendu.
‘Gue ngerti Win. Tapi gini aja deh. Karena tugas gue adalah mendapatkan berita tentang lo, maka gue mau ceritain apa adanya. Tentang gimana kelanjutannya, seandainya lo ditawarin kembali ke sekolah, sementara ini nggak usah kita bicarakan dulu. Gimana Win?’ Samsul mengusul.
‘Ya nggak apa-apa. Silahkan lo bilangin aja apa adanya. Paling tidak gue berterima kasih banyak kalau memang nasib gue diperhatiin lagi. Apakah kenyataannya nanti gue bisa beneran bersekolah lagi atau nggak, kan lain lagi ceritanya,’ jawab Edwin pula.
‘Jadi gitu aja deh Win. Sori nih ngegangguin lo lagi kerja. Kalau gitu gue balik dulu ya?’
‘Ya deh. Sekali lagi gue berterima kasih nih. Salam aja buat teman-teman,’ jawab Edwin.
Kedua anak itu berpamitan ke mas Hendro sebelum meninggalkan pompa bensin itu. Edwin memperhatikan mereka pergi. Sambil bertanya dalam hatinya. Siapa agaknya kepala sekolah SMU 369 yang baru itu? Yang punya rencana yang tidak umum itu? Mau menerima kembali murid yang sudah pernah dikeluarkan. Rasanya terlalu indah untuk benar-benar jadi kenyataan.
Ah ngapain juga hal itu dipikirin, bisikan dalam hati Edwin.
*****
Saturday, November 29, 2008
RODA - RODA
RODA-RODA
Roda berputar ke atas ke bawah. Semua roda. Seperti roda keretapi. Seperti roda mobil. Seperti roda pesawat terbang. Seperti roda gerobak demo, gerobak beroda tiga itu sekalipun. Setiap titik pada bagian roda itu bergantian turun dan naik. Menarik sekali mengamati perputaran roda-roda itu.
Cerita ini asli tentang perputaran roda. Bukan cerita kiasan. Roda pertama yang bersinggungan dengan mataku adalah roda sepeda ayahku. Sejak mulai dengan didudukkan di kursi rotan yang diikat entah dengan cara bagaimana di batang sepeda laki-laki ayah, di depan, sampai kemudian dibonceng di belakang. Dibonceng di belakang itu aku alami selama setahun aku bersekolah di Taman Kanak-Kanak Ibu Kate di Atas ngarai. Ketika itu kami tinggal di Lambau, di seberang sekolah pertanian di Bukit Tinggi. Ayahku menjemput dan mengantarku dengan sepeda setiap hari.
Di jalan Lambau itu lalu lalang banyak mobil. Lebih istimewa di hari Rabu dan Sabtu, hari pasar di Bukit Tinggi, karena bus dari arah timur (dari arah Paya Kumbuh) dibelokkan melalui jalan itu. Melihat roda oto berbaris-baris itu jadi pandangan yang menyenangkan, sedang naik oto merupakan keinginan yang terbawa mimpi ketika itu. Sekali-sekali ada juga aku dibawa ayah menompang naik mobil. Bahkan suatu kali aku dijemput ke sekolah (SR 11 Simpang Mandiangin) dan dibawa ayah ikut dalam perjalanan dinas beliau ke Lubuk Basung. Kami singgah di sebuah restoran di tepi danau Maninjau dan ayah membawaku melihat orang kedai mengambil ikan yang akan digoreng dari dalam danau. Kenangan itu sudah berumur lebih setengah abad. Ketika itu usiaku baru enam tahun lebih sedikit. Di Lubuk Basung kami melihat beruk memanjat kelapa, kenangan yang juga selalu bercokol di benakku.
Beberapa puluh meter saja dari tempat kami tinggal terdapat rel keretapi Bukit Tinggi - Paya Kumbuh. Cuitan panjang keretapi serta asap hitamnya adalah bagian lain dari kenangan masa kanak-kanakku. Roda-roda lokomotif uap yang banyak sekali dan saling berpacu-pacu itu sempat pula jadi bahan pengamatanku. Kami, kanak-kanak, biasa meniru-niru gerakan roda keretapi itu dengan mengayun-ayunkan tangan kiri dan kanan bergantian, sambil mendesus-desus meniru bunyi lokomotif berwarna hitam itu. Tidak lupa kami meniru cuitan keretapi dengan suara melengking.
Ada sebuah permainan yang kami buat (tepatnya aku dibuatkan) dari tutup botol limun yang dipipihkan dengan cara dilindihkan di rel keretapi, lalu dibuat gasing. Botol limun itu menjadi pipih, bulat dengan pinggiran bergerigi. Bagian tengahnya dilobangi dengan paku dan ke dalam lobang itu dimasukkan benang yang lalu dipertautkan. Gasing tutup botol limun pipih itu kami mainkan dengan menarik dan mengulur benangnya dengan kedua tangan digerakkan saling mendekat lalu saling menjauh.
Kalau berpergian sekeluarga, misalnya ke kampung, kami dibawa ayah dan ibu berkendaraan bendi. Sebuah bendi untuk kami sekeluarga. Aku sering duduk di depan, dekat mak Kusir. Jadi paslah, duduk di samping mak Kusir yang sedang bekerja.
Ketika kami hijrah ke kampung karena perang PRRI, pemandangan roda-roda tidak lagi sebanyak waktu di jalan Lambau. Di kampung yang agak sering terlihat hanyalah roda bendi. Dan roda pedati yang ditarik kerbau. Atau roda gerobak dorong pengangkut kerupuk ke pekan Lasi. Kampung kami satu setengah kilometer dari pinggir rel keretapi. Tapi cuitan keretapi masih terdengar sangat jelas. Ketika berumur delapan tahun, aku pernah ikut dengan teman-teman yang lebih besar naik keretapi ke Bukit Tinggi tanpa minta ijin kepada ibu. Waktu ibu tahu sore harinya, aku dimarahi.
Tamat sekolah rakyat, aku melanjutkan sekolah ke SMP di Tanjung Alam, sekitar tiga setengah kilometer dari kampung. Ada teman-teman yang memilih naik keretapi untuk pergi ke sekolah dengan resiko sering terlambat. Aku lebih menyukai berjalan kaki saja, bergerombol melalui jalan pintas. Kadang-kadang kami berjalan memotong jalur melalui pematang sawah. Di kejauhan dapat kami lihat keretapi dengan asap hitam membubung ke udara. Di kejauhan terlihat pula mobil besar kecil lalu lalang di jalan besar di sebelah rel keretapi itu.
Hujan besar dan banjir yang menghanyutkan jembatan terjadi ketika aku sekolah di SMP sekitar tahun 1964. Sebuah jembatan berlantai kayu, yang kutempuh setiap hari untuk pergi ke sekolah runtuh karena tebing sungai dikikis air bah. Sebuah jembatan lain yang lebih vital ikut pula runtuh. Jembatan Batang Air Tumbuk, antara Biaro dan Baso di jalan raya Bukit Tinggi – Paya Kumbuh. Akibatnya lalu lintas dibelokkan melalui kampung kami. Jadilah jalan kampung kami seperti jalan besar. Oto gadang-gadang, bus dan oto prah, berseliweran menolong menambah rusak jalan kampung yang tidak beraspal, yang selama ini hanya untuk ditempuh bendi. Dan kampung jadi ramai oleh dendang kalason bus yang mendayu-dayu. Bus-bus yang datang dari Pakan Baru, di subuh buta dapat kami tebak dari bunyi dan irama kalasonnya. Ada bus Lega Ekspress yang akan ke Padang. Ada bus Kampar Djaja yang akan ke Bukit Tinggi.
Di akhir tahun 1966 aku duduk di sebuah bus menuju Pakan Baru. Bus Batang Kampar nomor 10. Sopirnya si Idrus (dalam lidah Minang si Duruih) adalah seorang jagoan sejati. Dia memetik, memainkan kalason sambil berdendang, sambil menyetir bus besar itu melalui jalan yang berlobang-lobang sangat besar. Roda bus itu terpelanting-pelanting keluar masuk lobang sebesar kubangan gajah. Jalan Bukit Tinggi – Pakan Baru sejauh 221 km itu aku tempuh berkali-kali dengan bermacam-macam bus (yang paling sering Cahaya Kampar), antara tahun 1967 dan 1969 awal, ketika aku ikut kakak sepupuku, bersekolah SMA di Rumbai.
Di Rumbai aku sering melihat roda traktor besar pembajak jalan. Jalan tanah yang dibajak itu kemudian disiram dengan minyak mentah. Begitu cara orang Caltex membuat jalan di daerah operasional mereka. Jalan berminyak itu aman untuk kendaraan Caltex yang dibekali paku pengaman pada bannya, tapi sangat berbahaya bagi kendaraan umum yang menggunakan roda dengan ban biasa. Tahun 1978, ketika mahasiswa Bandung menuntut agar Suharto berhenti menjadi Presiden, aku menulis sebuah makalah kecil untuk buku biru perjuangan mahasiswa, menyoroti pemerintah yang tidak pernah terpikir untuk membuat jalan beraspal antara Pakan Baru – Dumai.
Kelas tiga SMA aku pindah ke SMA 3 Bukit Tinggi Aku bersekolah disana sepanjang tahun 1969. Inilah masa ketika aku berlangganan keretapi. Di hari pekan keretapi itu dijejajali penumpang dan jalannyapun sangat terlambat. Seringkali aku bergelayut di bordes (bagian luar gerbong) sambil mengamati roda keretapi yang berdengkang-dengkang di atas rel. Menompang keretapi seperti itu sangat tidak mengenakkan. Sering-sering mata kelilipan pecahan bara sebesar ujung beras.
Naik keretapi yang sedikit lebih nyaman aku rasakan antara Jakarta dan Bandung di saat aku kuliah di Bandung. Jarak lebih kurang 180 km antara kedua kota ini ditempuh sekitar lima jam. Keretapi Parahiyangan belum lahir waktu itu. Jauh hari kemudian, di tahun 1983 aku naik keretapi dari Paris ke Madrid. Di perbatasan Perancis dengan Spanyol roda keretapi harus diganti karena ukuran rel di kedua negara itu tidak sama. Kami dikejutkan oleh suara berdengkang-dengkang pula di tengah malam. Tapi anehnya kereta api sedang berhenti. Suara aneh itu berasal dari pekerjaan mengganti roda tersebut.
Roda pesawat Boeing 747 menggelinding selama lebih dari 60 detik sebelum pesawat itu mengapung ke udara. Roda yang menggelinding itu tidak tampak tapi suara dan getarannya dapat dirasakan. Ketika menunggu menjelang take off di kesibukan turun naiknya pesawat di bandara, kita bisa melihat dari jendela, roda pesawat lain menimbulkan asap saat dia mendarat. Seandainya roda-roda itu macet maka pastilah akan menjadi urusan besar bagi pesawat yang mendarat itu.
Di dalam pesawat, menggelinding roda troley yang didorong pramugari ketika menghidangkan makanan dan minuman. Roda yang berderit halus, seringkali tertahan-tahan di sela senyuman sang pramugari.
Roda yang berputar kencang dari mobil yang kukendarai sendiri pernah naas dua kali. Yang pertama ketika aku berlima beranak dalam perjalanan menuju ke arah selatan Perancis. Mobil yang sedang melaju dalam kecepatan 140 km sejam itu tiba-tiba bergetar dahsyat. Bawah sadarku menyuruh tanganku melepaskan kontrol pegangan stir sekaligus menarik kaki dari injakan gas. Dalam beberapa puluh detik mobil itu pelan-pelan berhasil aku ketepikan dan berhenti. Ternyata ban belakang sebelah kanan pecah. Aku menggigil dan berkeringat dingin. Dan tidak punya kekuatan bahkan untuk sekedar membuka baut roda. Istrikulah yang membuka baut-baut itu.
Kejadian kedua hampir sama, terjadi di jalan tol Cikampek beberapa bulan yang lalu. Untungnya saat jalan agak ramai dan kecepatan mobilku sedang-sedang saja. Ban roda kanan depan hancur berderai bagai kerupuk. Masih aku temukan penyebabnya. Paku besar menancap di ban yang malang itu.
Roda-roda yang menggelinding itu selalu asyik diamati.
*****
Roda berputar ke atas ke bawah. Semua roda. Seperti roda keretapi. Seperti roda mobil. Seperti roda pesawat terbang. Seperti roda gerobak demo, gerobak beroda tiga itu sekalipun. Setiap titik pada bagian roda itu bergantian turun dan naik. Menarik sekali mengamati perputaran roda-roda itu.
Cerita ini asli tentang perputaran roda. Bukan cerita kiasan. Roda pertama yang bersinggungan dengan mataku adalah roda sepeda ayahku. Sejak mulai dengan didudukkan di kursi rotan yang diikat entah dengan cara bagaimana di batang sepeda laki-laki ayah, di depan, sampai kemudian dibonceng di belakang. Dibonceng di belakang itu aku alami selama setahun aku bersekolah di Taman Kanak-Kanak Ibu Kate di Atas ngarai. Ketika itu kami tinggal di Lambau, di seberang sekolah pertanian di Bukit Tinggi. Ayahku menjemput dan mengantarku dengan sepeda setiap hari.
Di jalan Lambau itu lalu lalang banyak mobil. Lebih istimewa di hari Rabu dan Sabtu, hari pasar di Bukit Tinggi, karena bus dari arah timur (dari arah Paya Kumbuh) dibelokkan melalui jalan itu. Melihat roda oto berbaris-baris itu jadi pandangan yang menyenangkan, sedang naik oto merupakan keinginan yang terbawa mimpi ketika itu. Sekali-sekali ada juga aku dibawa ayah menompang naik mobil. Bahkan suatu kali aku dijemput ke sekolah (SR 11 Simpang Mandiangin) dan dibawa ayah ikut dalam perjalanan dinas beliau ke Lubuk Basung. Kami singgah di sebuah restoran di tepi danau Maninjau dan ayah membawaku melihat orang kedai mengambil ikan yang akan digoreng dari dalam danau. Kenangan itu sudah berumur lebih setengah abad. Ketika itu usiaku baru enam tahun lebih sedikit. Di Lubuk Basung kami melihat beruk memanjat kelapa, kenangan yang juga selalu bercokol di benakku.
Beberapa puluh meter saja dari tempat kami tinggal terdapat rel keretapi Bukit Tinggi - Paya Kumbuh. Cuitan panjang keretapi serta asap hitamnya adalah bagian lain dari kenangan masa kanak-kanakku. Roda-roda lokomotif uap yang banyak sekali dan saling berpacu-pacu itu sempat pula jadi bahan pengamatanku. Kami, kanak-kanak, biasa meniru-niru gerakan roda keretapi itu dengan mengayun-ayunkan tangan kiri dan kanan bergantian, sambil mendesus-desus meniru bunyi lokomotif berwarna hitam itu. Tidak lupa kami meniru cuitan keretapi dengan suara melengking.
Ada sebuah permainan yang kami buat (tepatnya aku dibuatkan) dari tutup botol limun yang dipipihkan dengan cara dilindihkan di rel keretapi, lalu dibuat gasing. Botol limun itu menjadi pipih, bulat dengan pinggiran bergerigi. Bagian tengahnya dilobangi dengan paku dan ke dalam lobang itu dimasukkan benang yang lalu dipertautkan. Gasing tutup botol limun pipih itu kami mainkan dengan menarik dan mengulur benangnya dengan kedua tangan digerakkan saling mendekat lalu saling menjauh.
Kalau berpergian sekeluarga, misalnya ke kampung, kami dibawa ayah dan ibu berkendaraan bendi. Sebuah bendi untuk kami sekeluarga. Aku sering duduk di depan, dekat mak Kusir. Jadi paslah, duduk di samping mak Kusir yang sedang bekerja.
Ketika kami hijrah ke kampung karena perang PRRI, pemandangan roda-roda tidak lagi sebanyak waktu di jalan Lambau. Di kampung yang agak sering terlihat hanyalah roda bendi. Dan roda pedati yang ditarik kerbau. Atau roda gerobak dorong pengangkut kerupuk ke pekan Lasi. Kampung kami satu setengah kilometer dari pinggir rel keretapi. Tapi cuitan keretapi masih terdengar sangat jelas. Ketika berumur delapan tahun, aku pernah ikut dengan teman-teman yang lebih besar naik keretapi ke Bukit Tinggi tanpa minta ijin kepada ibu. Waktu ibu tahu sore harinya, aku dimarahi.
Tamat sekolah rakyat, aku melanjutkan sekolah ke SMP di Tanjung Alam, sekitar tiga setengah kilometer dari kampung. Ada teman-teman yang memilih naik keretapi untuk pergi ke sekolah dengan resiko sering terlambat. Aku lebih menyukai berjalan kaki saja, bergerombol melalui jalan pintas. Kadang-kadang kami berjalan memotong jalur melalui pematang sawah. Di kejauhan dapat kami lihat keretapi dengan asap hitam membubung ke udara. Di kejauhan terlihat pula mobil besar kecil lalu lalang di jalan besar di sebelah rel keretapi itu.
Hujan besar dan banjir yang menghanyutkan jembatan terjadi ketika aku sekolah di SMP sekitar tahun 1964. Sebuah jembatan berlantai kayu, yang kutempuh setiap hari untuk pergi ke sekolah runtuh karena tebing sungai dikikis air bah. Sebuah jembatan lain yang lebih vital ikut pula runtuh. Jembatan Batang Air Tumbuk, antara Biaro dan Baso di jalan raya Bukit Tinggi – Paya Kumbuh. Akibatnya lalu lintas dibelokkan melalui kampung kami. Jadilah jalan kampung kami seperti jalan besar. Oto gadang-gadang, bus dan oto prah, berseliweran menolong menambah rusak jalan kampung yang tidak beraspal, yang selama ini hanya untuk ditempuh bendi. Dan kampung jadi ramai oleh dendang kalason bus yang mendayu-dayu. Bus-bus yang datang dari Pakan Baru, di subuh buta dapat kami tebak dari bunyi dan irama kalasonnya. Ada bus Lega Ekspress yang akan ke Padang. Ada bus Kampar Djaja yang akan ke Bukit Tinggi.
Di akhir tahun 1966 aku duduk di sebuah bus menuju Pakan Baru. Bus Batang Kampar nomor 10. Sopirnya si Idrus (dalam lidah Minang si Duruih) adalah seorang jagoan sejati. Dia memetik, memainkan kalason sambil berdendang, sambil menyetir bus besar itu melalui jalan yang berlobang-lobang sangat besar. Roda bus itu terpelanting-pelanting keluar masuk lobang sebesar kubangan gajah. Jalan Bukit Tinggi – Pakan Baru sejauh 221 km itu aku tempuh berkali-kali dengan bermacam-macam bus (yang paling sering Cahaya Kampar), antara tahun 1967 dan 1969 awal, ketika aku ikut kakak sepupuku, bersekolah SMA di Rumbai.
Di Rumbai aku sering melihat roda traktor besar pembajak jalan. Jalan tanah yang dibajak itu kemudian disiram dengan minyak mentah. Begitu cara orang Caltex membuat jalan di daerah operasional mereka. Jalan berminyak itu aman untuk kendaraan Caltex yang dibekali paku pengaman pada bannya, tapi sangat berbahaya bagi kendaraan umum yang menggunakan roda dengan ban biasa. Tahun 1978, ketika mahasiswa Bandung menuntut agar Suharto berhenti menjadi Presiden, aku menulis sebuah makalah kecil untuk buku biru perjuangan mahasiswa, menyoroti pemerintah yang tidak pernah terpikir untuk membuat jalan beraspal antara Pakan Baru – Dumai.
Kelas tiga SMA aku pindah ke SMA 3 Bukit Tinggi Aku bersekolah disana sepanjang tahun 1969. Inilah masa ketika aku berlangganan keretapi. Di hari pekan keretapi itu dijejajali penumpang dan jalannyapun sangat terlambat. Seringkali aku bergelayut di bordes (bagian luar gerbong) sambil mengamati roda keretapi yang berdengkang-dengkang di atas rel. Menompang keretapi seperti itu sangat tidak mengenakkan. Sering-sering mata kelilipan pecahan bara sebesar ujung beras.
Naik keretapi yang sedikit lebih nyaman aku rasakan antara Jakarta dan Bandung di saat aku kuliah di Bandung. Jarak lebih kurang 180 km antara kedua kota ini ditempuh sekitar lima jam. Keretapi Parahiyangan belum lahir waktu itu. Jauh hari kemudian, di tahun 1983 aku naik keretapi dari Paris ke Madrid. Di perbatasan Perancis dengan Spanyol roda keretapi harus diganti karena ukuran rel di kedua negara itu tidak sama. Kami dikejutkan oleh suara berdengkang-dengkang pula di tengah malam. Tapi anehnya kereta api sedang berhenti. Suara aneh itu berasal dari pekerjaan mengganti roda tersebut.
Roda pesawat Boeing 747 menggelinding selama lebih dari 60 detik sebelum pesawat itu mengapung ke udara. Roda yang menggelinding itu tidak tampak tapi suara dan getarannya dapat dirasakan. Ketika menunggu menjelang take off di kesibukan turun naiknya pesawat di bandara, kita bisa melihat dari jendela, roda pesawat lain menimbulkan asap saat dia mendarat. Seandainya roda-roda itu macet maka pastilah akan menjadi urusan besar bagi pesawat yang mendarat itu.
Di dalam pesawat, menggelinding roda troley yang didorong pramugari ketika menghidangkan makanan dan minuman. Roda yang berderit halus, seringkali tertahan-tahan di sela senyuman sang pramugari.
Roda yang berputar kencang dari mobil yang kukendarai sendiri pernah naas dua kali. Yang pertama ketika aku berlima beranak dalam perjalanan menuju ke arah selatan Perancis. Mobil yang sedang melaju dalam kecepatan 140 km sejam itu tiba-tiba bergetar dahsyat. Bawah sadarku menyuruh tanganku melepaskan kontrol pegangan stir sekaligus menarik kaki dari injakan gas. Dalam beberapa puluh detik mobil itu pelan-pelan berhasil aku ketepikan dan berhenti. Ternyata ban belakang sebelah kanan pecah. Aku menggigil dan berkeringat dingin. Dan tidak punya kekuatan bahkan untuk sekedar membuka baut roda. Istrikulah yang membuka baut-baut itu.
Kejadian kedua hampir sama, terjadi di jalan tol Cikampek beberapa bulan yang lalu. Untungnya saat jalan agak ramai dan kecepatan mobilku sedang-sedang saja. Ban roda kanan depan hancur berderai bagai kerupuk. Masih aku temukan penyebabnya. Paku besar menancap di ban yang malang itu.
Roda-roda yang menggelinding itu selalu asyik diamati.
*****
Subscribe to:
Posts (Atom)