Wednesday, December 10, 2008

SANG AMANAH (89)

(89)


Ujian kenaikan kelas telah selesai. Pengumuman lulus anak-anak kelas tiga sudah keluar sejak lebih awal lagi. Murid SMU 369 lulus 99.6%. Hanya satu orang yang tidak lulus karena sakit pada saat ujian akhir berlangsung. Dan sekarang mereka sedang libur panjang. Waktu penantian untuk mendaki gunung Salak akhirnya datang juga. Grup Pencinta Alam sudah memilih hari untuk melaksanakan acara mendaki gunung itu.

Tiga puluh tiga orang anak dari kelas satu dan kelas dua (yang sekarang sudah naik ke kelas dua dan tiga) ikut serta dalam acara itu. Anak-anak kelas tiga lama tidak ada yang ikut karena mereka sedang menghadapi ujian saringan masuk perguruan tinggi. Semua peserta adalah murid laki-laki. Murid perempuan tidak diizinkan ikut, sesuai dengan arahan pak kepala sekolah, mengingat resiko yang dapat terjadi selama kegiatan mendaki gunung itu. Beberapa anak-anak perempuan itu sempat memprotes kepala sekolah, tapi pak Umar dapat meyakinkan mereka untuk tidak ikut. Di antara peserta terdapat Anto, Iwan, Edwin dan tentu saja Hardi. Anto yang akhir-akhir ini lebih akrab dengan Edwin mengajak Edwin untuk ikut serta. Dari kalangan guru-guru, pak Mursyid ditemani pak Sofyan dan pak Darmaji.

Acara mendaki gunung Salak itu dilaksanakan pada hari Minggu. Kebetulan saat itu sedang musim kemarau. Saat yang ideal karena jalan yang akan ditempuh tidak terlalu becek dan licin. Pak Mursyid sudah mengingatkan agar para peserta membawa bekal seperlunya saja karena rencananya mereka akan kembali hari itu juga. Mereka tidak jadi mengadakan acara berkemah karena sebahagian besar pesertanya tidak setuju untuk menginap. Masing-masing berbekal makanan dan air minum serta baju dingin yang dimasukkan kedalam tas punggung dan masker kain penutup hidung untuk berjaga-jaga seandainya di puncak gunung nanti bau belerang terlalu mengganggu. Hardi tidak lupa membawa kamera foto. Anak-anak itu terheran-heran waktu pak Mursyid menyuruh mereka masing-masing membeli sebungkus rokok untuk bekal. Tapi pak Mursyid segera menjelaskan bahwa tembakau itu nanti, setelah dibasahi akan digosokkan ke bagian tubuh yang terbuka untuk menangkal gigitan pacet dan lintah. Binatang itu biasanya tidak akan mau menempel di kulit yang berbau tembakau.

Perjalanan itu diawali dengan naik bus umum dari terminal Kampung Rambutan ke arah Bogor. Mereka berkumpul di Kampung Rambutan jam enam pagi untuk seterusnya naik bus umum yang berangkat jam enam lebih sepuluh menit. Jam tujuh mereka sudah sampai di Bogor dan dari Bogor mereka menyewa bus khusus untuk menuju desa Cidahu di kaki gunung Salak. Desa itu terletak di sisi sebelah selatan gunung Salak, kira-kira tiga puluh kilometer dari Bogor atau kira-kira sepuluh kilometer dari Cicurug di jalan raya antara Bogor dan Sukabumi.

Alam pedesaan dengan sawah menghijau terhampar sejauh-jauh mata memandang sejak dari Cicurug menuju ke desa Cidahu. Di desa Cidahu itu terdapat Wana Wisata Cangkuang yang merupakan objek wisata. Di objek wisata ini terdapat air terjun yang indah, namun tujuan rombongan kali ini bukanlah mengunjungi tempat itu. Taman wisata Cangkuang ini, yang juga biasa digunakan pelancong untuk tempat berkemah, merupakan gerbang tempat memulai pendakian ke gunung Salak. Di sini mereka harus mendaftar dan membayar biaya masuk. Petugas pengawas di sana mencatat setiap anggota rombongan yang akan mendaki gunung Salak. Hal ini untuk antisipasi seandainya ada yang tersesat dalam perjalanan menjelajahi hutan atau dalam pendakian gunung.

Sebelum memulai pendakian, pak Mursyid memberikan pengarahan sekali lagi. Semua anggota rombongan dilarang memencar baik sendiri-sendiri maupun dalam rombongan kecil. Tidak boleh membuang kotoran sembarangan, tidak boleh mencoret-coret dimanapun. Tidak boleh membuat masalah dengan pendaki dari kelompok lain yang mungkin ditemui di sepanjang jalan. Tidak boleh merusak hutan maupun tanaman penduduk. Setiap peserta harus memberitahu kalau ada yang mendapatkan kesulitan seperti kejang, sakit perut, pusing dan sebagainya. Terakhir sekali diingatkan agar menjelang puncak gunung nanti, terlebih dahulu menunggu aba-aba pimpinan rombongan. Seandainya bau belerang terlalu keras, semua akan menghindar meskipun belum mencapai puncak.

Semua anggota kelompok itu menerima semua kondisi itu dan berjanji akan mematuhinya. Menjelang jam delapan pagi dimulailah acara pendakian. Tujuan mereka adalah Kawah Ratu dimana terdapat kepundan gunung Salak yang masih aktif. Mereka menempuh jalan setapak, jalan tanah berbatu-batu, berbelok berliku-liku menuju ke puncak gunung. Jalan itu umumnya mendaki dengan sudut kemiringan kadang-kadang cukup terjal. Di kiri dan kanan jalan setapak adalah lereng gunung yang ditumbuhi pohon-pohonan besar. Kadang-kadang mereka melalui tebing terjal yang di salah satu sisi merupakan lembah yang cukup dalam. Di sisi yang lain ada dinding batu padas yang sayangnya dikotori oleh tulisan-tulisan tidak bermutu yang dibuat para vandalis.

Cuaca cerah sekali pagi ini. Sinar matahari menerobos melalui celah-celah rimbunan pepohonan. Puncak gunung Salak terlihat jelas seolah-olah hanya beberapa depa ke depan. Udara pagi di lereng gunung ini sangat bersih dan segar. Kadang-kadang tercium bau apak dari kayu lapuk basah.

Pada awalnya rombongan tiga puluh enam orang itu berjalan beriring-iringan dengan bersemangat menuju ke arah puncak gunung. Pak Mursyid berjalan paling depan memimpin rombongan dan di paling belakang pak Sofyan dan pak Darmaji sebagai pengawal. Mereka saling bercanda. Ada juga yang bernyanyi-nyanyi kecil. Tapi tidak berapa lama kemudian nafas mereka mulai terdengar menderu-deru. Jalan mendaki tiada hentinya menguras tenaga dengan cepat. Meskipun cuaca pegunungan dingin, baru berjalan kira-kira satu jam tubuh mereka mulai basah oleh keringat. Tiba-tiba mereka sampai di sebuah tempat pemberhentian, tempat yang agak rata. Kelihatannya tempat berkemah juga. Terlihat beberapa tungku dari batu bekas tempat memasak. Anak-anak itu melepas dahaga. Pak Mursyid mengingatkan anggota rombongan itu agar tidak terlalu banyak minum karena tujuan utama masih jauh. Terlalu banyak minum justru akan melelahkan waktu berjalan menanjak berikutnya.

Sepuluh menit kemudian, perjalanan itu dilanjutkan kembali. Kali ini mereka melalui jalan yang teduh dan lembab tertutup pohon-pohon. Beberapa kali mereka melintasi sungai kecil yang airnya sangat jernih. Pak Mursyid kembali memperingatkan agar berhati-hati dengan pacet dan lintah. Inilah saatnya membalur tubuh yang terbuka dengan air tembakau. Setelah itu mereka melintasi tempat yang di kiri dan kanan jalan banyak tumbuh pohon pisang sehingga mirip hutan pisang. Di pohon-pohon kayu yang lebih tinggi terlihat beberapa ekor monyet bergantungan, memandang ke arah mereka dengan pandangan menyelidik. Kelihatannya monyet-monyet itu menghindar dari rombongan manusia yang banyak ini. Pastilah gerombolan monyet-monyet itu yang jadi pemilik atau paling tidak penguasa pohon-pohon pisang di tengah hutan begini.

Sesudah berjalan kira-kira empat puluh lima menit kembali mereka menemukan sebuah lapangan tempat beristirahat, yang kelihatannya juga biasa dipakai untuk mendirikan kemah. Rombongan itu tidak berhenti di sini. Perjalanan diteruskan melalui jalan yang kadang-kadang becek dan licin. Untunglah di pinggir jalan itu terdapat akar-akar pohon tempat berpegangan. Namun mereka harus berhati-hati sekali terhadap pacet yang banyak bergelantungan di daun-daun. Seperti yang diingatkan dan dicontohkan pak Mursyid, mereka membalur tangan dan muka mereka dengan tembakau rokok yang sudah dibasahi. Anto mengamati seekor pacet yang sudah bertengger di tangannya yang sudah dilumuri air tembakau tadi. Dan ternyata pacet itu tidak berhenti berjalan dengan gerakannya yang aneh dan tidak berusaha untuk menggigitnya sedikitpun. Anto memotret makhluk kecil yang seperti menari-nari di tangannya itu.

Jalan semakin menanjak. Bahkan melalui pinggiran tebing-tebing yang lumayan terjal. Beberapa kali mereka melalui sungai kecil yang mengalir di jalan yang harus mereka tempuh. Air sungai itu sangat jernih tapi dasarnya tanah berlumpur. Mereka harus berhati-hati sekali menyeberanginya agar tidak terperosok. Tidak ada jembatan di sungai itu dan menyeberanginya harus dengan melintas di dalam sungai berlumpur itu. Kira-kira jam sebelas mereka sampai di sebuah lapangan lagi dan di sini jalan bercabang dua.

Di tempat ini mereka kembali beristirahat beberapa menit. Sambil menikmati pemandangan yang terhampar indah di bawah. Kecuali suara sejenis serangga yang melengking berirama bersahut-sahutan, hampir tidak terdengar suara satwa lain di hutan ini. Boleh jadi para penghuni hutan ini masih beristirahat di sarangnya masing-masing pada saat siang begini. Di kejauhan terlihat burung elang terbang berputar-putar. Pak Darmaji mengatakan bahwa itu adalah jenis burung elang Jawa yang sekarang semakin langka. Mungkin burung perkasa itu sedang mengamat-amati dan mencari mangsanya di bawah sana.

Pak Mursyid yang sudah mengenal tempat ini menerangkan bahwa jalan ke kanan menuju ke puncak gunung Salak yang terletak di ketinggian 2210 meter dari muka laut. Puncak paling tinggi itu masih jauh dari tempat ini. Diperlukan waktu sekitar lima jam lagi untuk mencapainya. Jalan ke kiri menuju ke Kawah Ratu atau puncak kedua gunung Salak. Puncak kedua ini, yang terletak pada ketinggian hampir 2100 meter adalah merupakan tujuan mereka. Menurut pak Mursyid, jarak ke kawah itu masih kira-kira satu jam perjalanan lagi dari tempat mereka saat ini.

Pak Mursyid mengingatkan agar rombongan menyiapkan masker penutup hidung untuk berjaga-jaga. Seandainya bau belerang selama mendekati kawah nanti terlalu tajam yang berarti kawah itu mengeluarkan banyak uap belerang, mereka tidak akan melanjutkan menuju kawah karena terlalu berbahaya. Sudah pernah jatuh korban dikalangan para pendaki gunung karena terhisap udara bercampur belerang. Tapi kalau bau belerang tidak terlalu keras, mereka akan meneruskan perjalanan ke sana. Hardi bertanya kenapa tujuan akhir tidak ke arah puncak gunung Salak saja. Pak Mursyid menjelaskan karena tempat itu lebih jauh dan jalan ke sana lebih berbahaya. Itulah sebabnya pak Mursyid memang tidak merencanakan untuk pergi ke puncak utama pada kesempatan ini. Kalau ingin menuju puncak utama mereka harus mempersiapkan diri untuk menginap atau berkemah.

Setelah beristirahat lebih kurang seperempat jam mereka meneruskan perjalanan itu kembali. Pak Mursyid selalu berada di depan sebagai pemimpin rombongan. Tak terasa mereka sudah berjalan selama tiga setengah jam sejak dari desa Cidahu tadi. Kalau berhasil mencapai kawah, mungkin mereka akan sampai di sana sekitar jam setengah satu siang. Anggota rombongan itu tetap bersemangat. Mereka berjalan beriring-iringan, sambil sekali-sekali masih terdengar ada yang ngobrol dan diselingi ketawa. Jalan yang terus menanjak menyebabkan suara nafas mereka terdengar gemuruh. Makin mendekati puncak, pohon-pohonan yang tumbuh di sepanjang jalan berubah menjadi semak belukar. Pemandangan ke bawah jauh lebih leluasa untuk dilihat.

Seperti yang diperkirakan, menjelang jam setengah satu akhirnya rombongan itu sampai di puncak Kawah Ratu. Terdapat tiga buah lubang kepundan atau kawah di puncak itu. Sebuah kawah yang paling besar dan dua buah kawah yang lebih kecil. Pak Mursyid menjelaskan bahwa yang disebut Kawah Ratu adalah kawah yang paling besar. Kawah itu masih aktif. Terlihat asap mengepul di bagian bawah kawah itu. Tercium bau belerang walaupun tidak terlalu keras. Satu di antara kawah yang lebih kecil juga masih aktif yang oleh masyarakat dinamai Kawah Hurip atau kawah hidup sedangkan yang satunya lagi disebut Kawah Paeh atau kawah mati. Di jalan disekitar lubang kawah terdapat pula lubang-lubang yang bagian luarnya terdapat tumpukan belerang seperti kristal berwarna kekuning-kuningan.

Setelah berada di kawasan kawah sekitar sepuluh menit pak Mursyid mengajak rombongan itu untuk terus berjalan. Mereka meninggalkan tempat itu menuju ke arah yang lebih tinggi untuk mengamati pemandangan sambil beristirahat. Tidak aman untuk berada terlalu dekat dengan kawah yang sewaktu-waktu bisa saja menghembuskan uap belerang. Kira-kira empat ratus meter ke arah puncak utama ada hamparan sempit tempat mereka dapat beristirahat dengan lebih aman. Di sana mereka beristirahat sambil makan siang.

Pemandangan sangat indah dari tempat ini. Puncak utama tidak seutuhnya terlihat karena tertutup awan. Nun ke arah selatan terlihat laut Pelabuhan Ratu, bagaikan hanya sepelemparan jaraknya. Ke arah tenggara terlihat kota Sukabumi, diikuti hamparan serta pegunungan begelombang sayup-sayup berlapis-lapis sampai berakhir ke tepi lautan Hindia. Di sebelah timur berdiri gunung Pangrango. Ke sebelah utara terlihat kota Bogor dan hamparan yang berkejar-kejaran diselingi bukit-bukit kapur ke arah Jakarta. Jalan tol Jakarta Bogor terlihat seperti seekor ular hitam panjang dan kendaraan yang bergerak melintas terlihat seperti semut beriring-iring. Hardi sibuk menjepret-jepret pemandangan yang mengagumkan itu. Diselingi memotret anggota rombongan yang ingin berfoto dengan bermacam-macam gaya. Tidak keliru Hardi membekali diri dengan tiga roll filem untuk mengabadikan acara ini. Anto juga tidak mau kalah. Meskipun dia bukan seahli Hardi dalam urusan pemotretan tapi dia menggunakan kamera digital yang lebih canggih.

Sesudah makan dan beristirahat di tempat itu sekitar satu jam mereka bersiap-siap untuk kembali pulang. Tidak lupa mereka melakukan shalat zuhur dan asar berjamaah dengan dijamak qasar meski tidak semua yang ikut shalat. Pak Sofyan yang jadi imam. Sangat beruntung karena udara tetap cerah sampai siang hari ini. Jam dua tepat mereka mulai perjalanan menurun. Jalan menurun jauh lebih mudah dan tidak menguras tenaga. Sangat berbeda dengan waktu mendaki tadi. Di tempat yang lebih terjal dan becek mereka tetap harus berhati-hati agar tidak terpeleset jatuh.

Jam setengah empat mereka sudah sampai di hutan pisang. Kali ini lebih banyak monyet-monyet bergerombol. Pantas buah-buah pisang itu umumnya ompong-ompong, karena setiap buah yang masak sudah dipanen oleh monyet-monyet itu. Rombongan itu berhenti sejenak menonton atraksi monyet-monyet yang kelihatan lebih berani dari tadi pagi. Beberapa ekor induk monyet menggendong anaknya di perut sambil tetap bergerak lincah ke sana kemari. Hardi dan Anto memotret pula monyet-monyet itu.

Setelah berhenti kira-kira sepuluh menit mereka kembali melanjutkan perjalanan dengan gembira. Ada yang sambil bernyanyi-nyanyi. Tapi tiba-tiba dari arah hutan di sebelah kiri terdengar suara seperti tapak kaki binatang berlari. Pak Mursyid berteriak menyuruh rombongan itu berhenti dan waspada. Semua berhenti dan menoleh ke arah datangnya suara. Beberapa detik kemudian kelihatan dua ekor babi hutan berlari berkejaran menurun ke arah mereka, persis di bahagian depan barisan rombongan yang dipimpin pak Sofyan. Di samping pak Sofyan ada Darmanto, Wisman dan pak Darmaji. Kedua ekor babi itu berlari semakin mendekat dan tidak takut sedikitpun kepada mereka. Pak Sofyan berteriak menyuruh pak Darmaji dan Darmanto yang persis berada di hadapan kedua babi nekad itu meloncat kesamping. Kedua orang itu berhasil melompat dan menghindar dari terjangan babi. Tapi Darmanto yang meloncat ke arah pak Sofyan, tidak sengaja mendorong tubuh pak Sofyan sehingga terpeleset dan berguling jatuh ke arah jurang. Semua berteriak histeris melihat pak Sofyan terguling kira-kira sepuluh meter kedalam lembah dan akhirnya tersangkut di pangkal sebuah pohon yang menahan tubuhnya untuk jatuh lebih jauh lagi ke dalam lembah. Pristiwa itu terjadi begitu tiba-tiba dan tidak disangka-sangka. Pak Sofyan mungkin tidak sadar bahwa dia berdiri di pinggir jurang. Dinding tebing tempat dia jatuh cukup terjal dan ditumbuhi semak-semak.

Tuesday, December 9, 2008

SANG AMANAH (88)

(88)


Sore itu ternyata Edwin datang latihan. Dia datang sendiri, tanpa dijemput Amir. Malahan Amir yang tidak datang. Latihan yang dimulai jam setengah lima itu berlangsung seru karena anak-anak berlatih dengan bersemangat. Edwin dilibatkan dalam latihan dan dimasukkan kedalam tim B. Tidak ada anak-anak yang protes. Pada awal-awalnya beberapa anak agak ragu-ragu bermain bersama Edwin. Tapi itu tidak berlangsung lama karena Edwin memang masih sangat lincah. Permainannya hidup. Dia mengoper bola dengan akurat, menerima operan dengan mantap dan mendrible bola dengan lincah. Tembakannya menyamai kemampuan Herman yang selama ini selalu jadi andalan tembakan ‘tiga angka’.

Iwan senang sekali dengan kehadiran dan keikutsertaan Edwin dalam timnya. Teman-temannya satu tim demikian juga. Pokoknya kehadiran Edwin seperti tambahan darah segar dalam tim mereka. Meskipun tim mereka sebenarnya sudah cukup mantap selama ini. Rasa-rasanya sudah langsung bisa dipastikan bahwa Edwin akan ikut memperkuat tim B dalam kompetisi nanti. Itu pula yang dipikirkan oleh pak Hardjono. Anak itu memang sangat mengagumkan.

Seperti biasa sehabis latihan pak Hardjono terlibat dalam obrolan santai dengan anak-anak peserta latihan. Pak Hardjono ingin tahu bagaimana pendapat mereka tentang dilibatkannya Edwin.

‘Saya ingin tahu sejujurnya. Bagaimana pendapat kalian tentang keikutsertaan Edwin?’ tanya pak Hardjono.

‘Bagus pak. Sangat bagus. Dia kan mainnya bagus banget,’ kata Herman.

‘Bagaimana pendapat yang lain? Terutama anggota tim B?’

‘Kayaknya OK-OK aja pak,’ jawab Dimas.

‘Baik. Begini. Kita masih akan terus latihan. Masih dua minggu lagi sebelum pertandingan kompetisi. Sementara itu saya minta Edwin untuk mengikuti latihan yang masih tersisa ini. Bagaimana Edwin? Kamu sanggup?’

‘Sanggup pak,’ jawab Edwin.

Latihan sore itu berakhir. Sesudah shalat maghrib berjamaah di mesjid sekolah anak-anak itu bubar. Sebelum pulang Anto masih sempat bertanya kepada Iwan waktu keduanya berjalan ke tempat parkir mobil.

‘Kok lo nggak protes lagi Edwin diajak ikut main?’ tanya Anto.

‘Emang kenapa?’ jawab Iwan balik bertanya dengan nada sedikit cari gara-gara.

‘Sialan. Kan lo dulu kenceng banget nggak suka sama tuh anak?’

‘Kalau sekarang gue suka emangnya kenapa?’

‘Oh begitu. Jadi lo senang dia ikutan? Jadi lo yang minta ke pak Hardjono agar dia ikutan?’

‘Kok nadanya sekarang lo yang sirik?’

‘Ya nggak lah. Kalau lo berubah jadi orang baik, gue ikutan senang dong. Gitu aja. OK man?’ Anto pamit sambil menaiki mobilnya.



*****

20. Grup Pencinta Alam


Kompetisi bola basket telah berakhir. Setelah selama lima minggu pertandingan demi pertandingan itu berlangsung, setiap hari Sabtu sore dan Minggu pagi. Dan setiap pertandingan itu selalu ramai dikunjungi para penonton. Hampir semua murid masing-masing sekolah berusaha untuk hadir pada saat tim dari sekolah mereka bertanding. Bola basket menjadi begitu populer dan jadi bahan omongan dimana-mana di kalangan murid-murid SMU. Syukurlah semua berjalan tertib dan lancar selama masa kompetisi itu. Tidak ada berantem-beranteman. Tidak ada tawuran. Panitia telah berusaha maksimal untuk menjaga ketertiban dan keamanan kompetisi tersebut.

SMU 369 kembali meraih juara tiga setelah mengalahkan tim SMU 444 Pondok Kopi dalam memperebutkan tempat ketiga. Sebelumnya, tim B itu dikalahkan tim A SMU 475 Rawamangun di semifinal. Tim A SMU 369 bahkan gugur di babak perdelapan final, juga dikalahkan tim yang sama dari SMU 475. Tim SMU 475 itu akhirnya menjadi juara kompetisi tahun ini setelah mengalahkan SMU 212 Cililitan di final. Pak Hardjono harus mengakui bahwa dia sedikit keliru menempatkan Edwin tidak satu tim dengan Herman. Seandainya kedua anak itu berada dalam satu tim, kekuatan mereka pasti akan jauh lebih baik, karena mereka berdua memang merupakan bintang dan ‘play maker’ di timnya masing-masing. Tapi hal itu tentu saja tidak perlu dimasalahkan lagi. Karena seperti di setiap pertandingan, harus ada yang kalah dan yang menang.

Murid-murid SMU 369, meskipun agak kecewa, masih dapat menerima prestasi tim sekolah mereka mempertahankan posisi juara tiga. Kekalahan ‘dua setengah bola’ dari tim A SMU 475 di semifinal memang sangat menyesakkan dada, apalagi sepanjang pertandingan kedua tim selalu saling berkejar-kejaran dan beberapa kali SMU 369 pernah memimpin dalam mengumpulkan angka. Namun, sekali lagi itulah pertandingan.

Edwin menjadi bintang selama berlangsungnya kompetisi basket kemarin. Dan hal itu sangat beralasan karena di setiap penampilan dia bermain habis-habisan. Mungkin sebagai ungkapan gembira, mungkin sebagai pembuktian kecintaannya kepada SMU 369. Mungkin juga karena mendapatkan kembali keasyikan bermain basket yang cukup lama terhenti. Atau karena apa sajalah. Pokoknya cukup untuk merehabilitasi namanya yang pernah tercemar waktu dia dikeluarkan dari sekolah.

Tapi Edwin tidak suka dijadikan idola. Dipuja-puja karena dia seorang pemain handal dan permainannya bagus. Dia tidak suka dikagumi berlebih-lebihan oleh teman-teman. Dia sangat menyadari bahwa dia bukan siapa-siapa dalam arti yang sesungguh-sungguhnya. Itulah sebabnya dia tidak pernah merasa bangga. Kalau ada yang ingin ‘dekat’ dengannya, biasanya teman-teman wanita, Edwin berusaha untuk biasa-biasa saja. Tidak untuk terkesan sombong dan juga tidak untuk terkesan kesenangan, atau ke ‘ge-er’ an istilah anak-anak, karena didekati teman-teman cewek itu. Pokoknya ‘keep cool’ saja.

Namun masih ada sisi baiknya sesudah jadi bintang bola basket SMU 369. Edwin semakin mantap dan tenang untuk belajar. Rasa percaya dirinya makin bertambah. Dia semakin yakin bahwa dia sekarang adalah bahagian dari sekolah ini. Teman-teman pada baik, guru-guru pada baik. Memang indah sekali rasanya kembali bersekolah.

Tentu saja diperlukan kerja ekstra keras untuk menguasai kembali pelajaran-pelajaran yang sudah lama ditinggalkan. Biarpun dulu Edwin termasuk murid yang cukup pintar di kelasnya, tapi sesudah ‘libur panjang’ selama sepuluh setengah bulan, tanpa usaha maksimal nyaris mustahil baginya untuk berhasil mengikuti pelajaran.

Sebentar lagi ada ujian tengah semester. Edwin khawatir membayangkan ujian tersebut, karena boleh dikatakan persiapannya hampir tidak ada. Dan dia terpaksa pontang panting bekerja keras. Beruntung sekali teman-temannya banyak membantu. Anto mempelopori membuatkan foto kopi catatan-catatan maupun latihan-latihan soal-soal. Hal itu tentu saja sangat besar artinya bagi Edwin.


*****


Dan sekarang semua murid-murid kembali pada kegiatan normal di sekolah. Mereka harus bersiap-siap menghadapi ujian tengah semester sementara anak-anak kelas tiga menunggu saat ujian akhir negara, yang sebentar lagi akan berlangsung. Hanya ada satu orang yang masih punya kesibukan tambahan sesudah berakhirnya masa kompetisi itu. Anak itu adalah Hardi.

Selama berlangsung kompetisi kemarin, Hardi, anak kelas dua A, kebagian tugas menjadi juru foto. Pak Hardjono menugasinya untuk mengabadikan momen-momen indah di tengah gegap gempitanya kompetisi. Hardi memang sangat hobi serta terampil menggunakan kamera foto. Dua rol filem masing-masing berisi 36 jepretan telah dihabiskan. Pengambilan foto selama kompetisi itu agak dihemat-hemat karena biayanya dimintakan dari sekolah. Hari ini semua foto-foto itu harusnya sudah jadi dicetak. Hardi mengajak Arif untuk pergi mengambil hasilnya ke Foto Studio di jalan Otto Iskandar Dinata, di Cawang, sepulang dari sekolah siang ini.

Ternyata hasil fotonya bagus-bagus. Jepretan Hardi memang profesional, meski dia sendiri masih tidak terlalu puas. Ada-ada saja yang kurang menurut pengamatannya. Hardi sibuk mengamat-amati dan menyortir foto-foto tersebut. Si mbak pegawai Foto Studio itu menyerahkan dua buah album plastik sebagai hadiah serta dua buah kupon undian yang harus diisi untuk ikut undian berhadiah mobil mewah. Hardi yang masih saja sibuk dengan foto-foto itu meminta Arif mengisi kupon berhadiah itu. Arif hanya tertawa karena dia tidak yakin undian-undian itu bersungguh-sungguh di samping dia juga tidak menyukai undian seperti itu. Rasanya kok ya mudah sekali orang mendapatkan hadiah benda-benda super mahal.

‘Jangan aku yang mengisi Har. Ntar kalau menang aku nggak sanggup dikasih mobil mewah,’ ujar Arif berseloroh.

‘Siapa bilang kamu yang mau menang? Lagian hadiahnya juga belum tentu ada beneran kok. Isi aja buat ngeramein!’ komentar Hardi setengah cuek.

‘Mendingan nggak usah diisi aja ya?’ usul Arif.

‘Hadiahnya beneran lho. Kalau nggak percaya, hadiah itu bisa dilihat di kantor produser film dan percetakan foto merek ini di jalan Melawai di Blok M. Ini ada foto-foto dari hadiah-hadiah yang sudah dipajang di sana. Pemenang undian untuk hadiah pertama akan mendapat sebuah sedan BMW. Enam pemenang kedua akan mendapat hadiah Toyota Kijang,’ mbak petugas Foto Studio itu mengingatkan.

‘Kalau begitu kenapa nggak mbak saja yang mengisi? Kalau nanti dapat hadiah ajak-ajak kami naik mobil mewahnya. He..he..he..,’ kata Arif bercanda.

‘Saya tidak boleh ikutan. Begitu peraturannya. Semua karyawan Foto Studio ini tidak boleh ikutan,’ jawab si mbak itu.

‘Saya justru takut kalau menang undiannya, mbak. Saya tidak sanggup punya mobil mewah. Saya belum bisa nyetir. He..he..he..’ ujar Arif sambil tertawa.

‘Isi aja Rif! Isi aja atas nama sekolah!’ usul Hardi kembali, yang sekarang sibuk memasuk-masukkan foto-foto itu kedalam album plastik.

Arif mengisi kupon itu asal-asalan. Dia memasukkan nama lengkap pak Umar dan mengisi keterangan identitas dengan ‘Kepala Sekolah SMU 369 Jakarta’ di kupon itu, sebelum memasukkannya ke kotak yang disediakan. Potongan kupon itu dimasukkannya kedalam album di belakang foto, kebetulan yang ada dirinya. Setelah itu mereka berdua meninggalkan Foto Studio, langsung pulang. Hardi terlebih dahulu mengantarkan Arif ke rumahnya, di Pondok Bambu.

Sampai di rumah Hardi menempelkan foto-foto itu di kertas karton manila untuk dipajang di papan pengumuman OSIS besok. Setiap foto itu diberi nomor untuk memudahkan bagi yang berminat memesannya.

Keesokan harinya, pagi-pagi sekali Hardi menempel karton manila berisi foto-foto itu di papan pengumuman OSIS. Beberapa orang murid-murid yang berada dekat papan pengumuman langsung ramai-ramai melihatnya. Hardi tidak lupa menyediakan lembaran khusus untuk diisi oleh yang ingin memesan foto-foto tersebut.

Sementara itu mata Hardi menangkap sebuah pengumuman lain tentang rencana mendaki gunung Salak pada saat libur kenaikan kelas nanti yang akan dipimpin oleh pak Mursyid. Pengumuman itu berasal dari Grup Pencinta Alam SMU 369.

Hardi adalah anggota Grup Pencinta Alam tersebut. Grup ini sudah lama ada di SMU 369 namun selama ini belum terlalu banyak kiprahnya. Selama tahun ajaran ini, kelompok ini sudah melakukan tiga kali kegiatan yakni melakukan perjananan lintas alam, menyusuri sungai di sekitar Kebun Raya Bogor, melalui daerah perbukitan dan hutan-hutan di sekitar Kebun Bunga di Puncak dan yang terakhir menyusuri pantai di sekitar Anyer. Kegiatan itu dilakukan pada saat libur sekolah. Untuk masa liburan panjang sesudah ujian kenaikan kelas nanti, pak Mursyid merencanakan perjalanan di sekitar gunung Salak dan berkemah di kaki gunung tersebut. Yang berminat untuk ikut serta harus mendaftarkan diri di kantor Tata Usaha mulai dari sekarang.


*****

SANG AMANAH (87)

(87)


Iwan jadi agak bersimpati sesudah mendengar cerita singkat Edwin tadi. Waktu istirahat kedua, waktu Anto pergi shalat, Iwan yang hanya kadang-kadang ikut shalat di mesjid sekolah itu, mengajak Edwin untuk ngobrol-ngobrol.

‘Emangnya lo kerja di pompa bensin selama ini?’ tanya Iwan mengawali obrolan mereka.

‘Emang,’ jawab Edwin pendek.

‘Kapan lo berhenti kerja di sana?’

‘Hari Minggu kemarin.’

‘Kerja karena kemauan lo atau karena…….?’ Iwan tidak meneruskan kata-katanya.

‘Karena kemauan gue dan karena kebutuhan keluarga gue. Nyokap gue buruh kasar, bokap gue sudah nggak ada. Adik gue tiga orang masih pingin sekolah. Makanya gue kerja buat nyari uang. Buat ngebantuin nyokap gue,’ Edwin bercerita datar.

Iwan terperangah mendengarnya.

‘Bokap lo udah nggak ada?’

‘Ya, bokap gue meninggal enam bulan yang lalu. Kecelakaan lalu lintas juga. Dan gue mulai bekerja sesudah bokap gue nggak ada. Amir yang ngenalin gue dengan mandor di pompa bensin tempat gue bekerja itu. Mandornya itu saudaranya Amir,’ cerita Edwin lagi.

‘Nah, terus……… Sekarang lo sekolah….gimana caranya dong. Maksud gue, kalau tadinya lo harus bekerja untuk ngebantuin nyokaplo, sekarang gimana caranya?’

‘Itu sih panjang lagi ceritanya. Pokoknya Tuhan yang menolong deh. Gue juga nggak nyangka bakal bisa sekolah lagi. Tadinya gue pikir udah pasti nggak bakalan mungkin gue kembali sekolah. Ternyata ada aja pertolongan Tuhan yang tidak diduga-duga.’

‘Maksud lo ada yang nolongin?’

‘Maksud gue Tuhan memberikan kemudahan. Nyokap gue yang tadinya hanya bekerja sebagai buruh kasar, tiba-tiba ada yang nawarin untuk bekerja di kantoran gitu, dengan gaji yang lebih baik. Tiba-tiba saja. Dan tiba-tiba pula gue ditawarin kalau mau kembali bersekolah. Ya jelas gue mau banget. Semua terjadi dalam waktu singkat. Hari Jumat gue masih bekerja seperti biasa. Hari Jumat malam waktu gue pulang dari tempat kerja, terjadi semua perubahan itu,’ lanjut Edwin.

Iwan melongo mendengar cerita itu. Meski masih agak samar-samar tapi dia mengerti apa yang diceritakan Edwin. Iwan masih punya sedikit uneg-uneg.

‘Sori, Win. Gue bukannya mau usil. Tapi……… Tapi gue bener-bener sekedar pingin tahu. Abis lo dikeluarin dari sekolah tahun lalu itu, lo lama nggak sih masih kecanduan?’

‘Gue nggak pernah kecanduan. Lo nggak bakalan percaya. Biar kata lo nggak percaya juga, gue ngomong sebenarnya. Dulu itu gue dicekokin anak-anak beberapa kali. Ada yang gue dikasih tahu kalau minuman gue dikasih pil. Akibatnya gue sampe sakau emang. Ada empat kali gue sakau. Nggak sadar. Tapi sekali lagi gue nggak pernah nyandu. Gue nggak pernah merasa kepingin. Dan gue nggak ngerasain apa-apa waktu gue mabok. Paling nggak, waktu itu nggak ada rasa enaknya yang bikin gue kepingin lagi, gitu. Pada hari gue dikeluarin dari sekolah, gue dikasih ‘Sprite’ yang dicampur pil ama Parlin, itu anak yang juga dikeluarin. Dia udah duluan minum. Gue nggak niat mau minum. Justru gue kepingin lihat kayak apa tampangnya orang lagi sakau itu. Sialnya, waktu itu kita ketangkap pak Mursyid. Begitu ceritanya waktu itu. Dan sejak dikeluarin dari sekolah gue nggak pernah lagi nyoba tuh barang. Nggak mau dan gue benci amat.’

Iwan terperangah mendengar cerita Edwin. Ternyata anak ini tidak ‘sejahat’ yang dipikirnya. Ternyata selama ini dia telah keliru menilai Edwin.

Lonceng masuk untuk pelajaran terakhir berbunyi. Anak-anak kembali masuk kelas.


*****


Hari Kamis pagi. Hari keempat Edwin bersekolah. Sore nanti ada latihan basket kembali. Masih dua minggu lagi sebelum hari kompetisi. Anak-anak kelas dua C diwakili tiga orang pemain tangguh tim bola basket SMU 369, yaitu Herman, Iwan dan Anto. Pak Hardjono menempatkan Herman dan Anto dalam tim A dan Iwan di tim B.

Diam-diam Iwan ingin agar Edwin dimasukkan ke dalam timnya, tim B. Tapi, mungkin banyak anak-anak yang tidak akan suka, seperti kemarin-kemarin dia sendiri juga tidak suka. Iwan ingin mengajak Edwin ikut latihan nanti sore. Pada waktu istirahat pertama Iwan tidak keluar dari kelas. Dia mendatangi Edwin yang juga tidak keluar kelas dan mengajak ngobrol.

‘Win, lo kan disuruh pak Hardjono ikut latihan basket?’ Iwan mengawali pancingannya.

‘Pak Hardjono mungkin sekedar ngajak aja. Lagian kan lo-lo latihan buat mengikuti kompetisi. Gue nggak enak dong mau ikut-ikutan.’

‘Lha, lo kan disuruh? Kalau sekedar latihan aja kan nggak ada salahnya?’

‘Iya sih. Tapi gue kayaknya emang nggak bisa tuh,’ jawab Edwin hati-hati.

‘Kenapa sih, emang?’

‘Gue belom siap aja.‘

‘Belom siap apanya sih? Mendingan lo datang aja. Ikut latihan ama kita-kita,’ Iwan mendesak.

Edwin tidak menjawab. Anto yang masuk ke kelas lagi karena kayaknya ada yang kelupaan, heran melihat Iwan lagi ngobrol dengan Edwin. Dia mendengar ujung pembicaraan mereka barusan. Ada apa nih, kok tumben-tumbenan Iwan berubah begini. Memang dari kemarin-kemarin dia lihat Iwan beberapa kali ngobrol dengan Edwin tapi dia tidak tahu apa yang mereka bincangkan.

Tiba-tiba Amir datang. Dia sengaja mencari Edwin.

‘Win. Ntar lo mau nonton basket lagi nggak?’ tanyanya begitu dia lihat Edwin.

‘Ah, nggak deh kayaknya Mir,’ jawab Edwin.

‘Kenapa lo. Kan waktu itu pak Hardjono nyuruh lo ikut latihan. Masak lo berani nolak?’

‘Nggak berani sih. Tapi ntar gue ada perlu,’ jawab Edwin pura-pura.

‘Mau kemana lo?’

‘Ada perlu aja di rumah,’ jawab Edwin sekenanya.

‘Ya udah. Maksud gue, kalau lo mau datang biar gue jemput. Jadi lo nggak datang nih?’

‘Kayaknya nggak deh.’

‘Kalau lo ntar disuruh beneran sama pak Hardjono, gimana?’

‘Ah, lo lagi. Gue nggak bakalan disuruh datang.’

‘He..he..he. Gini aja, kalau nanti ada perubahan lo kasih tahu gue,’ ujar Amir sambil terus berlalu.

Iwan dapat akal. Dia akan menghubungi pak Hardjono dan meminta pak Hardjono yang menyuruh Edwin datang latihan. Diam-diam Iwan keluar menuju ke kantor guru sendirian. Didapatinya pak Hardjono sedang di ruangan itu dengan guru-guru lain. Iwan minta izin untuk berbicara dengan pak Hardjono.

‘Ada apa Wan?’ tanya pak Hardjono.

‘Tentang latihan nanti sore pak,’ jawab Iwan.

‘Iya. Kenapa?

‘Waktu itu bapakkan mengajak Edwin ikut latihan pak?’ ujar Iwan.

Pak Hardjono mengernyitkan keningnya. Apa maksud anak ini? Apa dia mau mendikte? Apa dia mau menghalang-halangi Edwin diikut sertakan? Pak Hardjono mengerti kalau ada di antara anak-anak itu tidak siap menerima Edwin dilibatkan dalam kompetisi nanti. Tapi kalau sampai ada di antara murid-murid ini yang terlalu memaksakan agar Edwin diisolir, jelas ini tidak sehat.

‘Apa maksud kamu Wan?’ tanya pak Hardjono dengan pandangan serius.

‘Maksud saya, kalau dia diikut sertakan menghadapi kompetisi, agar dia diikutkan dalam tim saya pak, tim B,’ jawab Iwan.

Pak Hardjono bertambah bingung. Ditatapnya wajah Iwan dengan pandangan hati-hati. Ini benar-benar aneh. Bukankah kemarin-kemarin anak ini tidak suka kalau Edwin diajak ikut latihan?

‘Tapi rasanya kemarin itu, waktu latihan hari Senin, kamu tidak suka kalau Edwin diikutsertakan. Kok sekarang berubah?’ tanya pak Hardjono.

‘Saya sudah berbincang-bincang dengan Edwin pak. Saya bersimpati kepadanya sekarang,’ jawab Iwan polos.

‘Oh begitu. Jadi kamu tidak keberatan kalau Edwin diikutsertakan?’

‘Tidak pak. Bahkan saya ingin dia berada dalam satu tim dengan saya.’

‘Baik kalau demikian. Coba kita ajak dia latihan nanti dan kita lihat. Kita lihat juga bagaimana reaksi teman-temanmu yang lain,’ jawab pak Hardjono.

‘Tapi ada masalah kecil lagi pak.’

‘Masalah apa lagi?’

‘Dia tidak mau datang nanti sore, pak. Saya sudah mengajaknya dan dia tidak mau.’

‘Tidak mau kenapa?’

‘Saya tidak tahu pak. Tadi ada Amir, anak kelas tiga IPA itu juga mengajaknya, tapi katanya dia tidak mau. Sama Amir ditanya, bagaimana kalau bapak yang menyuruh, dia diam. Makanya saya mau minta tolong kepada bapak untuk menyuruh Edwin ikut latihan nanti sore,’ kata Iwan.

Pak Hardjono tersenyum. Dia mengerti sekarang. Syukurlah anak-anak muridnya ini mempunyai hati yang polos seperti ini. Pak Hardjono menyanggupi untuk mengajak Edwin nanti sore.

‘Kalau begitu kamu panggil dia sekarang. Kamu bilang saya ingin bertemu,’ perintah pak Hardjono.

‘Baik, pak,’ jawab Iwan.

Dia langsung keluar dari kantor guru, menuju ke kelasnya kembali. Didapatinya anak-anak tadi masih dalam kelas. Anto sedang berbincang-bincang dengan Edwin dan Sapto.

‘Win! Lo dipanggil pak Hardjono,’ Iwan memberi tahu Edwin.

‘Oh ya? Lo ketemu pak Hardjono dimana?’ Edwin bertanya, sedikit curiga.

‘Nggak, gue pas keluar. Ketemu pak Hardjono. Terus dia nyuruh manggil elo,’ Iwan sedikit berbohong.

Edwin pergi menuju kantor guru. Anto mengamati Iwan dengan pandangan penuh tanda tanya. Permainan apa yang sedang dimainkan Iwan? Ah mudah-mudahan saja bukan permainan ‘kotor’.

‘Lo barusan dari mana Wan?’ tanya Anto.

‘Dari luar,’ jawab Iwan pendek.

‘Lo menghadap pak Hardjono?’

‘Iya. Kenapa emang?’

‘Lo, yang kenapa emang. Lo ngapain menghadap pak Hardjono?’

‘Ada aja,’ jawab Iwan menambah penasaran Anto.

‘Lo mau ngerjain Edwin?’ tanya Anto lagi.

‘Nggak. Ngapain sih lo banyak tanya amat, kayak intel?’

‘Bukan gitu. Tapi gue serius nih nanya. Apa lo mau ngerjain Edwin?’

‘Tidak saudara. Saya tidak ada niat menjahili Edwin. Saudara tidak perlu curiga. OK?’ jawab Iwan mantap.


*****

Sunday, December 7, 2008

SANG AMANAH (86)

(86)

Edwin melemparkan bola itu ke arah ring yang jaraknya sekitar enam meter pula. Bola itu masuk dengan sangat baik. Sebagian anak-anak yang sedang beristirahat mendinginkan badan di pinggir lapangan bertepuk melihat tembakan Edwin yang hebat.

‘Kamu masih tetap hebat. Berminat ikut memperkuat tim?’ tanya pak Hardjono.

‘Saya sudah lama tidak latihan pak. Saya rasa sementara ini biar saya jadi supporter saja pak,’ jawab Edwin merendah.

‘Kenapa? Kamu tidak berminat?’

‘Berminat sih pak. Tapi saya lihat teman-teman sudah sangat kompak. Kalau saya ikut nanti kekompakan mereka bisa terganggu,’ jawab Edwin.

‘Oh begitu. Jadi kamu khawatir dengan teman-temanmu. Tapi tidak ada salahnya ikut latihan, kalau kamu mau,’ ujar pak Hardjono.

Edwin tidak menjawab. Kelihatannya tawaran pak Hardjono mengajaknya ikut berlatih tidaklah berlebih-lebihan. Hal itu semata-mata dikarenakan pak Hardjono mengetahui bahwa dia dulu adalah salah seorang pemain basket yang baik di SMU 369. Tapi seandainya dia ikut, dia khawatir ada di antara teman-temannya ini akan menolak keikutsertaannya.

Di antara anak-anak yang ikut latihan itu ada yang tidak suka kalau Edwin disisipkan menjadi anggota tim mereka. Mereka tidak suka kalau anak yang baru masuk kembali itu diikutsertakan dalam kompetisi mendatang ini. Iwan termasuk di dalam kelompok ini. Pak Hardjono sebenarnya memahami bahwa mengajak Edwin bergabung sekarang dalam tim yang sudah disiapkan sejak beberapa bulan yang lalu, tidaklah bijaksana. Tapi dia ingin menunjukkan kepada anak-anak yang ikut latihan itu bahwa teman mereka yang sudah diterima kembali di sekolah ini, dulunya adalah seorang pemain basket yang baik.

‘Kalian masih ingat kan, kalau Edwin dulu adalah anggota tim inti sekolah?’ tanya pak Hardjono berbasa-basi ke arah anak-anak yang duduk di pinggir lapangan.

‘Iya sih pak. Tapi itu kan dulu,’ Iwan menjawab sekenanya. Cukup untuk menunjukkan bahwa dia tidak menyukai Edwin.

Pak Hardjono hanya tersenyum. Rupanya Iwan tidak berharap Edwin dilibatkan lagi dalam tim yang sekarang. Tentu saja pak Hardjono tidak ingin memaksakan untuk melibatkan Edwin dalam kompetisi yang akan datang.

Mereka masih ngobrol-ngobrol sampai terdengar azan maghrib. Pak Hardjono dan anak-anak itu bangkit dari duduk mereka. Yang cukup mengherankan Edwin, ternyata sebagian besar mereka menuju ke mesjid sekolah dan bersiap-siap untuk shalat. Edwinpun ikut menuju mesjid sekolah.

Semua shalat berjemaah. Pak Hardjono yang jadi imam. Sesudah shalat barulah mereka bersiap-siap untuk pulang. Pak Hardjono menawari Edwin ikut bersamanya karena dia pulang ke arah yang sama.


*****


Dua orang polisi dari polsek Tebet datang ke SMU 369 jam setengah sepuluh pagi ini. Kedua polisi itu masing-masing adalah sersan Muroji dan sersan Taufik. Mereka ditemani mas Hendro, mandor di pompa bensin di jalan Prof. Dr. Saharjo. Waktu itu persis jam istirahat. Murid SMU 369 sedang ramai di seantero pekarangan sekolah. Banyak murid-murid yang melihat kedatangan kedua polisi itu. Sebagian besar tidak terlalu perduli, karena sudah beberapa kali memang ada saja polisi berkunjung ke sekolah ini. Samsul melihat mas Hendro lalu menghampirinya dan bertanya.

‘Mau ketemu siapa mas?’ tanyanya.

‘Bapak-bapak ini mau ketemu Edwin tapi mau ketemu kepala sekolah dulu,’ jawab mas Hendro. ‘Kantor kepala sekolah di belah mana?’ tanya mas Hendro pula.

‘Itu yang di sana mas. Itu kantor guru-guru. Dan kantor kepala sekolah di sana juga tapi terpisah di dalam,’ Samsul menunjukkan.

Ketiga orang itu menuju ke arah yang ditunjukkan Samsul. Pak Mursyid yang kebetulan sedang berdiri dekat pintu kantor memperhatikan kedatangan dua polisi dan satu orang berpakaian sipil itu. Sersan Murodji memberi hormat kepada pak Mursyid serta memberi tahu maksud kedatangannya ingin berjumpa dengan pak kepala sekolah. Pak Mursyid mempersilahkan tamu-tamu itu menunggu sementara dia memanggil seorang murid dan menyuruhnya mencari pak Umar. Murid itu, Raflis segera pergi mencari pak Umar.

Seperti biasa, pak Umar sedang berkeliling pekarangan mengawasi anak-anak yang sedang beristirahat. Kebiasaan yang hampir tidak pernah luput dalam ke seharian pak Umar. Dengan kebiasaan ini, alhamdulillah, ketertiban di sekolah ini jadi lebih baik.

Raflis menemukan pak Umar dekat mesjid sekolah. Pak Umar rupanya baru saja mengerjakan shalat dhuha. Raflis memberitahu bahwa ada dua orang polisi sedang menunggu beliau di kantor guru. Pak Umar bergegas menuju kantor. Beberapa orang murid yang berada dekat itu mendengar bahwa ada polisi ingin bertemu pak Umar, bertanya kepada Raflis. Raflis tidak tahu apa urusan polisi itu. Mereka yang ingin tahu ini diam-diam mengiringi pak Umar ke arah kantor guru dengan maksud ingin mendengarkan apa yang terjadi.

Pak Umar menyalami ketiga orang itu dan mengajaknya masuk ke kantornya lalu menanyakan maksud kedatangan mereka.

‘Apa yang bisa saya bantu, bapak-bapak?’ tanya pak Umar.

‘Begini pak. Sebelumnya kami mohon maaf, karena merepotkan bapak. Kami ingin bertemu dengan murid bapak yang bernama Edwin,’ ujar sersan Murodji.

‘Oh, ya? Ada keperluan apa kalau boleh saya tahu?’ tanya pak Umar agak kaget.

‘Kami ingin mengkonfirmasi sebuah berita dimana saudara Edwin ini menurut informasi menjadi saksi atas sebuah kejadian,’ jawab sersan itu.

‘Maksudnya, apa dia mau dibawa ke kantor polisi untuk diinterogasi begitu?’ pak Umar kembali bertanya.

‘Tidak, pak. Tidak perlu. Cukup kalau kami boleh bertemu di sini. Bahkan bapak boleh menyaksikan kami mengajukan pertanyaan-pertanyaan itu.’

‘Oh ya? Baiklah kalau begitu. Biar saya suruh panggil dulu dia sebentar,’ ujar pak Umar sambil berdiri.

Lonceng masuk berbunyi. Guru-guru bersiap menuju kelas masing-masing. Pak Umar menitip pesan ke ibu Sofni yang akan mengajar di kelas dua C untuk menyuruh Edwin datang ke kantornya. Guru-guru lain yang mendengar jadi ikut bertanya-tanya dalam hati mereka. Ada urusan apa Edwin dengan polisi-polisi itu? Tapi tidak ada yang bertanya. Mereka satu persatu keluar dari ruangan guru.

Ibu Sofni memberitahu Edwin untuk menemui kepala sekolah di kantornya serta mengingatkan bahwa ada polisi di kantor pak Umar. Ibu Sofni menanyakan apa urusan polisi itu dengan Edwin yang dijawabnya bahwa dia tidak tahu. Edwin bergegas keluar menuju kantor pak Umar. Kelas jadi agak berisik setelah dia keluar itu.

Ada apa? Edwin yang baru dua hari kembali sekolah, sesudah kasus yang menyebabkan dia dikeluarkan tahun lalu, lalu sekarang didatangi polisi. Ada apa dengan anak itu?

Iwan yang duduk sebangku dengan Anto berbisik kepada Anto.

‘Gue rasa…gue rasa nih,’ ujarnya dengan nada menuduh.

Anto tidak mau melayani. Ibu Sofni minta agar murid-murid tenang dan ia segera memulai pelajaran.


*****


Edwin mengetuk pintu ruangan pak Umar. Dia disuruh masuk. Edwin melihat mas Hendro di antara tamu-tamu itu. Mas Hendro tersenyum kepadanya.

‘Ambil sebuah kursi di kantor guru di sebelah dan bawa kemari Edwin!’ ujar pak Umar.

Edwin mengambilnya dan pak Umar menyuruhnya duduk di kursi yang diambilnya itu.

‘Edwin. Bapak-bapak ini ingin bertanya kepada kamu. Silahkan bapak-bapak,’ pak Umar mempersilahkan kedua polisi itu.

Sersan Murodji yang mulai bertanya.

‘Begini saudara Edwin. Saya langsung ke masalahnya saja. Apakah benar bahwa saudara Edwin menyaksikan kecelakaan lalu lintas di jalan Prof. Dr. Saharjo pada hari Selasa malam minggu lalu sekitar jam sebelas malam?’

‘Benar, pak,’ jawab Edwin pendek. Dia langsung merasa lega.

‘Benarkah bahwa saudara Edwin menolong korban yang celaka dalam mobil yang menabrak dan terguling waktu itu?’

‘Benar, pak.’

‘Dengan berapa orang saudara Edwin menolong mereka itu?’

‘Bertiga pak. Dengan seorang sopir taksi dan teman saya bekerja di pompa bensin, Mansur namanya lalu saya sendiri,’ jawab Edwin.

‘Berapa orang di dalam mobil yang mengalami kecelakaan itu?’

‘Dua orang pak,’ jawab Edwin.

‘Dan yang satu orang saudara keluarkan lalu diantar ke rumah sakit bersama taksi, benar begitu?’

‘Benar, pak.’

‘Yang seorang lagi bagaimana keadaannya waktu itu?’

‘Menurut sopir taksi, yang seorang lagi itu sudah meninggal. Jadi tidak kami keluarkan,’ jawab Edwin.

‘Saudara yakin bahwa dia sudah meninggal waktu itu?’

‘Saya tidak tahu persis, pak. Sebab yang lebih berinisiatif membantu dan memeriksa korban waktu itu adalah sopir taksi itu, pak. ‘

‘Saudara bersama-sama sopir taksi dengan menggunakan taksinya membawa korban yang luka-luka tapi masih hidup ke rumah sakit Keluarga Sejahtera Jatinegara dan meninggalkan korban satunya tetap di mobil?’

‘Betul pak. Tapi teman saya Mansur segera menghubungi kantor polisi dan ambulan sesudah itu. Mansur tinggal di dekat tempat kejadian itu dan tidak ikut ke rumah sakit.’

‘Kenapa yang seorang lagi itu tidak segera dikeluarkan?’

‘Karena dia sudah meninggal, untuk mengeluarkannya perlu waktu agak lama karena mobil itu ringsek sekali dan wanita itu dalam posisi terjepit. Sementara yang satunya perlu segera mendapat pertolongan. Itu saja alasannya pak.’

‘Baiklah kalau begitu. Jadi begini, maksud kami hanya ingin mencocokkan berita dari teman saudara serta sopir taksi itu. Ternyata semua cerita itu cocok. Kami berterima kasih sekali kepada saudara Edwin. Begitu juga kepada bapak kepala sekolah. Sekali lagi kami mohon maaf, telah mengganggu. Dan kami ucapkan terima kasih banyak,’ ujar sersan Murodji mengakhiri tanya jawab itu.

Kedua polisi itu berikut mas Hendro segera pamit dan berlalu dari sekolah. Pak Umar menyuruh Edwin kembali ke kelas. Pak Umarpun merasa sangat lega setelah mendengar cerita tadi.

Setelah Edwin kembali ke kelasnya, ibu Sofni menyuruhnya duduk lalu menanyakan apa yang terjadi.

‘Apa polisi tadi menenyakan sesuatu kepadamu, Edwin?’ tanya ibu Sofni.

‘Benar, buk,’ jawab Edwin.

‘Tentang apa?’ tanya ibu Sofni lagi.

‘Tentang kecelakaan lalu lintas yang terjadi di Tebet seminggu yang lalu, buk.’

‘Bisa kamu ceritakan sedikit? Ibu yakin teman-temanmu ini juga ingin tahu ceritanya. Biar mereka mendengar dari kamu langsung.’

‘Baik buk. Hari Selasa malam minggu lalu saya menyaksikan kecelakaan tabrakan mobil di Tebet, dekat tempat saya bekerja. Sebuah mobil dengan kecepatan tinggi menabrak mobil yang sedang berhenti karena menunggu mau berbelok sesudah keluar dari pompa bensin. Di mobil yang menabrak itu ada dua orang. Akibat tabrakan itu, yang satu orang luka-luka dan yang satunya meninggal. Saya bersama seorang teman saya yang bekerja di pompa bensin serta seorang sopir taksi menolong korban kecelakaan itu. Yang luka-luka kami keluarkan dan kami bawa ke rumah sakit. Saya dan sopir taksi itu yang mengantarkan. Teman saya menelpon polisi dan ambulan untuk mengurus yang sudah meninggal dan terjepit dalam mobil. Bapak polisi tadi datang untuk mencocokkan keterangan sopir taksi dan teman saya di pompa bensin itu dengan keterangan saya sendiri tentang korban yang meninggal itu. Serta alasan kenapa kami tidak segera menolong mengeluarkannya juga. Begitu cerita ringkasnya buk.’

Murid-murid terdiam mendengar cerita Edwin. Ibu Sofni juga. Tapi akhirnya ibu Sofni bertanya.

‘Kamu menyaksikan terjadinya kecelakaan itu ?’

‘Benar, buk. Saya sedang menunggu angkutan mau pulang. Waktu itu jam setengah sebelas malam. Saya melihat kecelakaan itu sejak sebelum terjadi sampai terjadi. Mobil yang menabrak itu datang dengan kecepatan tinggi dari arah Pancoran, menabrak mobil yang sedang menunggu mau berbelok itu, lalu berguling-guling di jalan,’ jawab Edwin.

‘Penumpangnya anak muda?’ tanya ibu Sofni.

‘Benar buk. Laki-laki dan perempuan. Yang selamat tapi luka-luka yang laki-laki. Yang perempuannya meninggal.’

Murid-murid, terutama yang wanita bergidik, bahkan ada yang gemetar mendengar cerita Edwin.

‘Baiklah. Jadi? Sudah selesai urusan polisi-polisi yang datang tadi?’

‘Sudah buk. Mereka sudah pergi,’ jawab Edwin.

‘Baik, kalau begitu kita lanjutkan pelajaran kita,’ ujar ibu Sofni.


*****

Saturday, December 6, 2008

SANG AMANAH (85)

(85)

Edwin merasa paling bahagia hari ini. Seperti dalam mimpi rasanya dia bisa kembali bersekolah di sini. Begitu cepatnya proses perubahan itu terjadi. Hari Rabu minggu lalu temannya Samsul dan Amir datang ketempatnya bekerja ‘memantau’ keadaannya, kata mereka waktu itu. Hari Jumat sore, pak kepala sekolah ini datang ke rumah dan berbicara dengan ibunya. Pada sore yang sama teman sekolah ibunya di SMP datang berkunjung dan menerima ibu bekerja di perusahaan suaminya di Pulo Gadung. Dan hari ini dia mulai bersekolah. Hampir-hampir dia tidak percaya waktu om Yanto, suami tante Ningsih teman ibunya itu, menelpon bapak kepala sekolah ini, kemudian sesudah itu mengatakan kepadanya bahwa dia boleh mulai bersekolah hari Senin. Sesuatu yang tidak pernah muncul dalam mimpinya sedikitpun. Betul-betul kurnia Tuhan yang sangat besar.

Dan banyak sekali yang berubah di sekolah ini. Kepala sekolah yang baru dikenalnya pagi ini, yang baru saja menyampaikan pidato pada upacara bendera, sangat mengagumkannya. Orang tua itu kelihatan sangat santun. Dan sangat berwibawa. Tadi pagi, sebelum upacara bendera dia datang menghadap beliau. Dia dinasihati dengan sangat lemah lembut. Dia diminta untuk membaca dan kemudian menanda tangani surat perjanjian. Tidak ada keberatannya sedikitpun dengan isi surat itu. Apa yang tertulis di surat itu sangat wajar dan pantas. Dia berjanji bersungguh-sungguh dengan dirinya, tidak akan berbuat keonaran sekecil apapun di sekolah ini. Ini benar-benar kesempatan emas yang tidak boleh disalahgunakan.

Tapi tidak semua murid-murid senang dengan kedatangan Edwin kembali di sekolah. Ada saja yang usil dan ingin mencari ‘gara-gara’. Edwin sudah mengantisipasi hal itu. Sesudah upacara tadi bahkan ada yang menyindir dengan mengatakan, ‘hati-hati, bandar ekstasi hadir lagi di sekolah’. Bahkan ada yang terang-terangan melecehkannya dengan kata-kata, ‘ngapain lagi lo balik ke sini? dasar nggak tau diri!’. Edwin tidak mau meladeninya.

Untunglah teman-teman yang bersimpati justru lebih banyak. Teman-temannya sekelas dulu yang sekarang sudah duduk di kelas tiga umumnya menyambut kedatangan Edwin dengan baik. Karena Edwin dulu memang teman mereka yang menyenangkan. Sekarang dia dimasukkan ke kelas dua C. Di kelas ini sebenarnya banyak anak-anak ‘borju’. Edwin mengenal sebagian dari mereka ini sejak mereka masih di kelas satu, termasuk di antaranya Anto.

Anto sangat bersimpati dengan Edwin, terutama karena dia mendengar cerita mami dan papi tentang pengalaman keluarga anak itu. Anto sudah tahu sejak hari Jumat malam ketika papinya bercerita bahwa Edwin akan kembali bersekolah mulai hari Senin ini. Dia tidak menyangka bahwa anak itu akan dimasukkan di kelasnya. Pada mulanya, banyak murid kelas dua C tidak suka dengan dimasukkannya Edwin di kelas mereka, tapi Anto membelanya. Dan Anto adalah murid yang disegani di kelas dua C. Jadi Edwin selamat.

Iwan, teman sebangku Anto, termasuk yang tidak suka dengan kehadiran Edwin. Mereka terlibat dalam bersoal jawab agak seru waktu istirahat pertama di kantin sekolah.

‘Kok lo ngebelain banget sih, itu anak dimasukin di kelas kita?’ Iwan memprotes Anto.

‘Ya nggak apa-apa. Sudah diatur guru-guru ngapain kita mau nolak,’ jawab Anto.

‘Tapi efeknya nanti itu, lho. Lo nggak takut ntar ketularan?’

‘Ketularan apaan? Dia kan nggak sakit,’ jawab Anto pula enteng.

‘Ah, lo. Sok sosial. Masak lo nggak tau kasus dia itu dulu sih? Dalam seminggu dia berani ‘sakau’ dua kali di sekolah. Masak lo percaya orang kayak gitu bisa baik beneran.’

‘Lo jangan kebanyakan nyangkain yang nggak-nggak. Menerima dia kembali itu keputusan kepala sekolah, tau nggak lo. Dan kepala sekolah mendapat masukan dari mana-mana. Dari guru-guru, dari anak-anak OSIS. Kalau sudah diputusin menerima dia kembali, artinya pak kepsek itu sudah tau banget kondisi anak itu.’

‘Kalau iya pun? Kenapa dimasukin di kelas kita?’

‘Ah, lo lagi. Kelas kita itu kan sekolah. Sekolah ini bukan milik kita. Kalau dia mau diterima, terus nggak boleh di kelas kita, ntar kelas yang lain bilang gitu juga, tuh anak nggak jadi bisa sekolah dong.’

‘Tapi gue, tetap nggak setuju. Dan gue mau protes.’

‘Eh, man! Lo denger ya. Kalau lo mau protes itu hak lo. Tapi karena lo teman gue, biar nggak malu-maluin gue, lo mendingan mikir. Kenapa sih lo kok sirik amat sama anak itu? Apanya yang salah? Lo nggak diganggu ama dia. Dia nggak ngambil tempat lo. Kenapa mesti ribut? Udah deh. Mendingan kita konsentrasi aja buat kompetisi basket.’

‘Dan lo, kenapa sih kok lo semangat amat ngebelain dia? Emang dia itu siapanya lo? Sodara lo?’

‘Ah, picik emang lo. Dia itu bukan siapa-siapanya gue. Dia itu dulu murid sini juga. Lebih duluan masuk dari kita. Terus dikeluarin karena dulu dia bersalah. Terus sama pak kepsek disuruh selidikin apa dia sudah insap. Apa dia sudah nggak lagi bermasalah. Terus setelah menurut pak kepsek ternyata dia itu sudah baik-baik, tidak lagi ‘pemakai’, sama pak kepsek diberi kesempatan lagi untuk bersekolah. Itu urusan dan kebijaksanaannya pak kepsek. Dan gue nggak ada masalah dengan itu. Gue setuju-setuju aja. Kalau dia sekarang disuruh masuk di kelas kita, itu urusannya sekolah. Nah! Sekarang lo nggak setuju. Itu bagus. Jadi gini aja. Kalau lo mau protes, gue nggak jadi ngelarang lo deh. Lo silahkan aja protes. OK?’ kelihatannya Anto mulai sedikit emosi.

Dan kalau sudah begitu, Iwan biasanya mengalah. Dia tidak berani melanjutkan diskusi itu lagi. Anak-anak lain yang mendengarkan debat terbuka di kantin itu banyak yang bersimpati dengan pemikiran Anto. Tapi ada juga yang masih ragu-ragu. Masih ada yang bertanya meski pertanyaannya lebih netral, tidak ‘tendensius’ seperti pertanyaan Iwan.

‘Emang gimana ceritanya sih To? Dan kok cuman Edwin aja yang balik? Kan dulu ada yang lainnya juga kayak Danta, Parlin, Wahyu gitu. Pada kemana yang lain? Apa yang dinilai udah insap cuman Edwin doang?’ tanya Santo.

‘Wah, persisnya gue juga kagak tau. Yang gue denger sih Parlin, udah pindah ke Medan. Atau mendingan entar kita tanya aja sama ketua OSIS,’ jawab Anto

‘Gue denger lagi Wanto yang dulu juga dikeluarin udah meninggal,’ komentar Tito menyambung.

‘Meninggal, To? Lo tau dari siapa?’ Herman bertanya kaget.

‘Dari Tigor anak kelas tiga IPA. Teman sekelasnya dulu,’ jawab Tito.

‘Bener nggak, gue bilang. Pokoknya urusan narko-narko itu maut deh akibatnya. Makanya kalau bisa menghindar, mendingan menghindar deh,’ Iwan kembali bekoar.

‘Betul! Seratus buat lo,’ jawab Anto.

‘Jadi kenapa dong?’

‘Apanya yang kenapa dong?’

‘Kenapa dong kita mau aja mengambil resiko?’

‘Jangan mau dong! Siapa yang mau ngambil resiko?’

‘Lha, buktinya lo nggak keberatan menerima ‘mantan’ di kelas kita.’

‘He..he..he.. Payah lo Wan. Gue kan udah bilang. Kalau lo mau protes, lo protes aja langsung. Sini! Biar gue temenin lo sekalian. Lo mau protes ke siapa sih? Sini gue antarin. Tapi lo ngomong yang tegas ya? Berani nggak?’

Anto sudah tahu kalau nyali Iwan sebenarnya kecil, cuma kadang-kadang suka agak cerewet.

Lonceng masuk sesudah istirahat pertama berbunyi. Anak-anak itu bergerak menuju kelas masing-masing.


*****


Edwin sedang berbincang-bincang dengan Amir, Tigor dan Misran anak-anak kelas tiga IPA 2 di gang depan kelas dua C. Mereka ini dulu cs dan teman sekelas Edwin di kelas dua. Anak-anak itu sengaja mendatangi Edwin ke kelasnya, sekalian untuk mengucapkan selamat atas kembalinya ‘teman yang hilang’ itu. Di antara ketiga anak itu, Amir adalah sohib yang paling akrab dan perduli terhadap Edwin.

‘Wah, lo bisa memperkuat tim basket buat kompetisi dong Win,’ ujar Misran.

‘Ya nggak lah. Gue kan udah nggak pernah latihan. Udah hampir setahun gue nggak pernah menyentuh bola basket,’ jawab Edwin.

‘Kayaknya entar sore mereka pada latihan deh. Lo mau ikut nonton nggak?’ tanya Tigor pula.

‘Pengen juga sih. Tapi latihannya jam empatan gitu ya? Repot juga kalau gue harus bolak balik. Masak gue harus nungguin di sini sampai jam empat?’ jawab Edwin.

‘Kalau lo mau nonton, entar gue jemput,’ Amir langsung menawarkan diri.

‘Ya lihat gimana ntar aja deh,’ jawab Edwin.

‘Lo yang pasti! Kalau lo mau datang ntar gue jemput,’ Amir setengah memaksa.

‘Ya deh. Kalau lo nyamperin gue, gue datang,’ jawab Edwin.

Ternyata sore itu Edwin datang bersama Amir untuk menonton tim basket latihan. Anak-anak yang lainpun banyak yang hadir. Mungkin mereka memenuhi himbauan pidato Herman Mokoginta tadi pagi.

Pak Hardjono sudah memilih dua tim yang nanti akan ikut berkompetisi sebagai tim A dan tim B dari SMU 369. Kedua tim itu sama-sama kompak dan kelihatannya sangat seimbang baik dalam penguasaan lapangan, kemampuan bertahan maupun keagresifan menyerang. Melihat kedua tim ini berlatih tanding bagaikan melihat pertandingan yang sangat bermutu. Pak Hardjono melibatkan keseluruhan pemain pilihan itu dalam uji coba. Matanya yang jeli mengamati masih ada beberapa dari para pemain itu yang masih ragu-ragu dan kurang percaya diri. Anak-anak itu dinasihati Pak Hardjono dengan sabar dan hati-hati agar lebih percaya diri.

Latihan itu berlangsung sampai jam 5.30 sore. Sebelum latihan itu bubar, pak Hardjono yang dari tadi melihat kehadiran Edwin mendatangi anak itu dan menyapanya.

‘Kamu masih bisa main kan?’ tanya pak Hardjono pendek.

Edwin kaget ditanya seperti itu, dan sedikit gugup. Pertanyaan itu tidak dijawabnya. Dulu Edwin termasuk seorang di antara pemain basket yang sangat berbakat dan sering ikut dalam pertandingan-pertandingan antar sekolah. Tentu saja pak Hardjono masih ingat hal itu karena Edwin dulu termasuk murid yang dilatihnya. Pak Hardjono melemparkan bola basket di tangannya ke arahnya. Edwin menangkap bola itu dengan gerakan refleks.

‘Kamu jangan pulang dulu ya! Saya ingin berbicara dengan kamu sebentar,’ ujar pak Hardjono.

Edwin agak salah tingkah. Tapi sekali lagi dia tidak mampu bersuara.

Setelah latihan selesai dan sementara anak-anak itu beristirahat mendinginkan badan, pak Hardjono kembali menghampiri Edwin.

‘Win! Kamu masih bisa main kan?’ tanya pak Hardjono.

‘Saya sudah tidak pernah bermain lagi pak,’ jawab Edwin pendek.

‘Ayo. Coba kamu maju ke sini!’ perintah pak Hardjono sambil melemparkan bola sekali lagi ke arah Edwin dari jarak enam meter. Edwin menangkap bola itu dengan mantap.

‘Coba kamu shoot dari sana!’ perintah pak Hardjono lagi.

KERETAPI, RIWAYATMU DULU (2)

KERETAPI, RIWAYATMU DULU (2)

Lokomotipnya berwarna hitam kelam. Hitam pekat. Kalau sedang berjalan dia mengepulkan asap yang juga berwarna hitam pekat. Masyarakat menyebutnya kepala keretapi. Di bagian bawahnya berjejer 6 pasang roda besi. Ada diantara roda besi itu yang tidak menyentuh rel tapi berputar menarik ulur sebatang tuas. Di bagian belakang kepala keretapi itu terdapat kabin untuk masinis dan stokar. Ada beberapa buah panel (entah berapa jumlahnya) di dalam kabin itu. Ada kemudi dengan bulatan lebih kecil dari bulatan setir mobil. Ada tuas rem. Ada tangkai tuter yang tergantung ke langit-langit yang kalau ditarik akan terdengar bunyi cuitan melengking. Di bagian depan kabin itu ada tungku besar. Secara berkala stokar memasukkan batubara ke dalam tungku berapi itu. Di sebelah depan kabin masinis ada ketel air besar. Ketel itu diisi air dari pancuran yang tersedia di stasiun besar, seperti stasiun Bukit Tinggi. Bagian sebelah depan (rasanya bukan semuanya merupakan ketel) berdimensi bulat memanjang, dengan tiga buah tonjolan ke arah atas. Tonjolan paling depan adalah cerobong asap yang tidak berhenti mengepulkan asap hitam.

Ada tiga generasi kepala keretapi yang terlihat di atas rel antara Padang sampai Paya Kumbuh di tahun-tahun terakhir keberadaan keretapi uap itu di Negeri Awak. Generasi pertama bertahun pembuatan sebelum tahun 1900. Sosoknya lebih kecil dan lebih ramping. Dengan kata lain, kelasnya memang lebih ringan. Ciri lainnya adalah cerobong asapnya yang lebih tinggi. Dan suara lengkingan cuitnya keras dan kecil menyelekit. Di tahun-tahun 60an, jenis ini masih beroperasi tapi hanya di sekitar Padang. Untuk mendaki di Lembah Anai sepertinya sudah tidak dipercaya.

Generasi kedua bertahun pembuatan sesudah tahun 1900an. Ada yang tahun 1902, 1905 dan 1908. Penampilannya lebih gemuk. Mungkin juga cc nya (kalau istilah mobil) lebih besar dari generasi pertama. Cerobong asapnya lebih rendah, sama tinggi dengan dua tonjolan lain (entah apa fungsi kedua tonjolan lain ini). Cuitannya kurang melengking dibandingkan dengan yang pertama tadi. Dengusannya waktu mulai bergerak ‘menakutkan’ disertai dengan hembusan uap putih ke kiri dan ke kanan , terlebih-lebih ketika menarik beban lebih berat. Dengusan berat itu juga dikeluarkannya ketika tertatih-tatih mendaki pendakian Dama (dengan rel bergigi) antara Padang Tarok dan Baso atau di pendakian Koto Baru arah ke Padang Panjang. Melihat keretapi yang mendengus-dengus itu menyesakkan nafas sementara orang. Sehingga orang itu disindir, keretapi yang mendaki, kenapa nafas awak yang sesak.

Yang terakhir adalah generasi yang jauh lebih muda, kelahiran tahun 60 an. Mirip dengan yang kedua. Bedanya, cerobong asapnya tidak berbentuk bulat tapi sedikit menyerupai kotak persegi. Persegi yang dihaluskan tentu saja. Jenis ini tidak ‘mencuit’ tapi ‘menggerang’ karena bunyi tuternya bernada ‘ooongngng’. Generasi terakhir ini datang bersamaan dengan gerbong baru sebagai pampasan perang dari Jepang. Karena kedatangannya berdekatan waktunya dengan penyelenggaraan Ganefo di Jakarta, keretapi berloko baru dan bergerbong baru itu dijuluki keretapi Ganefo. Keretapi ini dijalankan pulang pergi antara Paya Kumbuh dan Padang dalam sehari. Sementara keretapi regular dari Bukit Tinggi ke Padang diperjalankan satu arah dalam sehari.

Gerbong kereta yang oleh masyarakat disebut daresi (agak-agaknya berasal dari bahasa asing, mungkin bahasa Belanda) ada bermacam-macam ukuran. Semua bercat hijau tua di bagian luar. Ada yang agak panjang dan ada yang lebih pendek. Di atas pintu masuk tertempel pelat menunjukkan kapasitas tempat duduk yang tersedia di dalam daresi itu. Dinding dan bagian dalam semua terbuat dari kayu. Begitu juga dengan bangku-bangku tempat duduk. Bagian dalam daresi dibedakan untuk kelas dua dan kelas tiga. Kelas dua dengan bangku berorientasi menghadap ke depan dan ke belakang berhadap-hadapan. Tempat duduknya dari anyaman rotan. Di dalam daresi jenis ini ada peturasan atau kakus. Daresi kelas tiga mempunyai tiga jejer bangku memanjang. Dua bangku dengan sandaran ke dinding di kedua sisi daresi dan satu bangku lagi di tengah tanpa sandaran.

Gerbong keretapi Ganefo adalah seperti gerbong yang kita lihat sekarang. Semua sama panjangnya dan semua tempat duduknya menghadap kedepan atau ke belakang berhadap-hadapan.

Di tahun-tahun terakhir sudah tidak ada perbedaan kelas. Penumpang boleh naik ke daresi mana saja. Di daresi dengan bangku memanjang (bekas kelas tiga), bangku di tengah yang tanpa sandaran seringkali jadi tempat meletakkan barang dagangan para pedagang. Di atas tempat duduk ada pula rak tempat meletakkan barang. Daresi ini mempunyai jendela kayu yang bisa ditutup. Biasanya ditutup dengan menurunkan daun jendelanya kalau hari hujan. Pintu masuk ke ruang penumpang terletak di kedua ujung daresi. Sebelum masuk ke ruang penumpang ada bordes dengan anak tangga di kedua sisinya pula. Di bordes bagian luar yang dibatasi oleh pagar besi ada tuas rem. Ada dua macam tuas rem. Tuas panjang yang ditarik melengkung pada sumbunya dan tuas berupa engkol yang dapat diputar. Di setiap daresi ada seorang petugas tukang rem, yang akan melakukan tugasnya sesuai dengan kode dari masinis melalui cuitan.

Rangkaian keretapi juga membawa gerbong barang. Biasanya disebut gerobak. Gerobak ini terbuat dari besi. Pintunya di tengah-tengah dan ukuran pintunya besar. Tidak ada bangku tempat duduk di dalamnya. Bedanya lagi, setiap gerobak hanya mempunyai satu bordes, yang juga dilengkapi dengan tuas rem. Gerobak khusus untuk membawa batu bara berbeda lagi bentuknya. Jenis ini lebih menyerupai bak atau kotak persegi tanpa atap. Ada lagi pula gerobak tanpa dinding dan tanpa atap. Jadi hanya berupa sebuah dek. Entah untuk apa kegunaannya.

Urut-urutan rangkaian yang umum adalah kepala keretapi di depan, diikuti dengan rangkaian beberapa buah daresi lalu dibagian paling belakang diletakkan beberapa buah gerobak. Di stasiun tujuan, sebelum kembali ke stasiun asal kepala keretapi tentu harus pindah posisi, agar tetap berada di depan. Pada waktu itu lokomotip ini akan memindahkan juga posisi gerobak-gerobak kebagian belakang. Pekerjaan memindahkan ini disebut langsir. Lokomotip sibuk maju mundur mengatur ulang rangkaiannya.

Ada beberapa macam tempat pemberhentian keretapi. Yang paling kecil namanya stoplat. Disini ada loket tempat membeli karcis dan ruangan tunggu kecil. Dan pelataran peron, ditembok, tempat penumpang menaiki kereta. Di Biaro dekat kampungku ada stoplat.

Pemberhentian kedua dinamai stasiun kecil. Disini ada rel ganda. Fungsi utamanya untuk memfasilitasi dua rangkaian keretapi berselisih. Satu rangkaian bisa menunggu di rel kedua ketika rangkaian lain lewat. Karena ada rel ganda maka di stasiun kecil kepala kereta bisa langsir. Ciri lain, stasiun kecil mempunyai tiang bendera sinyal. Kereta baru boleh memasuki stasiun kalau bendera merah sudah naik. Kalau belum maka keretapi itu harus menunggu. Contoh stasiun kecil ini adalah Tanjung Alam

Berikutnya adalah stasiun menengah. Contohnya stasiun Baso. Sama seperti stasiun kecil, disini juga ada rel ganda bahkan ada beberapa buah. Diantaranya tempat meletakkan atau memarkir daresi atau gerobak yang tidak ikut ditarik. Ciri lain, stasiun menengah mempunyai pancuran air tempat menambah persedian air dalam ketel uap. Dan biasanya di komplek stasiun ada restoran kecil.

Lalu ada stasiun besar. Tentu saja yang lebih besar dari stasiun menengah. Banyak daresi dan gerobak disini. Lokomotip mangkal disini di waktu malam. Dan ada lebih dari satu lokomotip. Stasiun Bukit Tinggi adalah stasiun besar. Kami mengenalnya dengan nama stasiun gadang.

Berikutnya stasiun yang lebih besar lagi dan merangkap bengkel. Contohnya yang di Padang Panjang.

Untuk menompang keretapi, penumpang harus membeli karcis. Seharusnya setiap penumpang punya jatah tempat duduk meski tidak ditandai di karcis. Tapi adakalanya penumpang keretapi itu penuh sesak. Terutama pada hari-hari pekan. Boro-boro dapat tempat duduk, banyak penumpang yang terpaksa berdiri bahkan sampai di bagian luar daresi atau di bordes. Bahkan ada yang kebagian sekedar tempat berpijak alakadarnya dan tempat bergantung alakadarnya. Tidak terlalu masalah karena jarak yang akan ditempuh tidak terlalu jauh. Karena sudah berselingkit-pingkit ini mulai ada yang malas membeli karcis. Ketika diperiksa kondektur, dibayar saja langsung ke kondektur. Dengan uang. Kondektur itu ternyata senang-senang saja. Maka di hari-hari pekan, tangan kondektur menggenggam uang kertas setumpuk besar.

Ketika turun dari kereta, karena rangkaian cukup panjang, ada resiko penumpang turun cukup jauh dari stoplat. Cukup jauh dari jalan menuju kerumah masing-masing. Yang tidak sabaran belajar turun ‘talen’. Artinya meloncat turun ketika kereta masih berlari cukup kencang. Anak-anak muda biasanya menyenangi atraksi ini. Beradu berani siapa yang paling jagoan turun talen. Yang paling hebat yang mampu turun persis di depan stoplat. Perlu latihan untuk mampu turun talen. Dan perlu keberanian tentu saja.

Anak muda yang talen-talen itu jarang yang membeli karcis. Mula-mula mereka membeli tiket berlangganan atau abonemen. Ketika kondektur menanyakan karcis, cukup menjawab abonemen sambil menunjukkan tiket abonemen itu. Kondektur tidak menanya lebih jauh. Tapi adakalanya kondektur memeriksa lebih teliti. Ketahuanlah bahwa abonemen itu sudah kadaluarsa berbulan-bulan. Paling-paling kalau ketahuan seperti itu anak muda talen itu membayar dengan uang tunai. Uang yang biasanya dipakai untuk membeli rokok.

Para pelanggan atau penumpang rutin keretapi sering mempunyai ciri agak khas. Bajunya bolong-bolong, bekas terbakar pecahan bara. Resiko yang juga sering dihadapi penumpang kelas bordes (yang jarang membeli karcis) adalah kelilipan pecahan bara. Matapun merah karenanya.


*****

Friday, December 5, 2008

SANG AMANAH (84)

(84)

19. Latihan Basket

Ada upacara bendera seperti setiap hari Senin di lapangan tengah SMU 369. Murid-murid berbaris rapi sesuai dengan kelasnya masing-masing. Biasanya, di sekolah manapun, acara pada upacara seperti ini selalu membosankan. Menaikkan bendera, hormat bendera, menyanyikan lagu kebangsaan, mengheningkan cipta, amanat inspektur upacara dst.dst. Tidak ada yang salah dengan acara-acara itu. Tapi kalau yang dilakukan setiap hari Senin, di bawah sengatan matahari Jakarta yang meski baru jam tujuh pagi tapi sudah terasa menggigit, selalu itu-itu melulu, ya pasti ada bosannya.

Pak Umar paham benar tentang hal itu. Beliau mengerti bahwa anak-anak remaja itu pasti akan cepat bosan dengan acara rutin seperti itu. Namun menghilangkan sama sekali kegiatan ini tentu tidak mungkin. Menghargai dan menghormati bendera sebagai simbol pemersatu bangsa itu perlu. Menyanyikan lagu kebangsaan untuk memupuk semangat cinta tanah air adalah perlu. Mendengarkan nasihat dari kepala sekolah meskipun terasa diulang-ulang untuk mengingatkan agar setiap individu di sekolah itu berprilaku, berkepribadian, bermoral baik juga perlu. Maka agar rutinitas tadi tidak terasa hambar, pak Umar memperkenalkan sesuatu yang baru.

Acara itu adalah ‘berpidato’ oleh murid-murid pada hari upacara. Tepatnya, setiap kelas bergantian menyampaikan pidatonya setiap hari Senin, yang diwakili oleh seorang murid kelas yang bersangkutan. Murid-murid kelas menentukan atau memilih di antara ‘warga’ nya siapa yang akan menyampaikan pidato mingguan itu. Temanya bebas, tapi harus memenuhi aturan yakni, tidak menggunakan kata-kata kasar dan jorok, tidak memaki-maki dan menjelek-jelekkan siapapun dan tidak menghasut. Boleh mengeritik siapa saja, memprotes siapa saja, termasuk guru-guru bahkan kepala sekolah sekalipun, tapi kritikan atau protes itu harus didukung data dan fakta.


Ternyata acara ini disenangi. Karena ada nilai tantangannya. Mula-mula mungkin karena sesuatu yang baru, jadi banyak yang ingin tahu dan tertarik untuk mencoba. Menggunakan teks tidak dilarang, tapi yang lebih utama dan dianjurkan adalah berpidato tanpa teks. Dan ternyata tidak mudah untuk berpidato. Perlu kepintaran berbicara, kepintaran membentuk kerangka yang akan dibicarakan, kepintaran menguasai bahasa. Dan yang paling sulit dirasakan oleh kebanyakan mereka yang berpidato adalah perasaan demam panggung. Mental atau nyali harus kuat. Betapa sulitnya meyakinkan diri sendiri waktu berpidato di hadapan sekitar delapan ratus orang. Jadi perlu latihan. Salah-salah bisa jadi bulan-bulanan. Jadi bahan ketawaan dan cemoohan orang banyak.

Tidak semua murid berminat untuk ikut berpidato, tapi selalu ada murid-murid yang sebenarnya berbakat untuk berpidato dan inilah yang dijadikan target oleh pak Umar waktu memperkenalkan acara tersebut. Pada awal-awalnya, memang terdengar pidato yang masih asal-asalan. Tidak terarah dan ragu-ragu. Akibatnya, ya itu tadi. Diteriaki teman-teman dengan….. huuuuuuu.. yang panjang. Tapi setelah berjalan beberapa minggu mulai terlihat bentuknya. Bila pada minggu ini wakil dari kelas X berpidato bagus, pasti wakil dari kelas Y akan berusaha keras untuk menyampaikan pidato yang lebih bagus lagi minggu dimuka.

Penyampaian pidato itu diselipkan sebelum amanat inspektur upacara. Waktunya dibatasi, minimum lima menit, maksimum sepuluh menit. Siapa yang akan berpidato, dari kelas mana, dengan tema apa sudah ditempelkan di papan pengumuman sekolah sejak hari Kamis setiap minggu. Dan yang namanya sudah dicantumkan biasanya akan berlatih untuk tampil sebaik-baiknya.

Sejak acara pidato ini dipopulerkan lima bulan yang lalu, sudah bermacam-macam tema yang diangkat. Ajakan untuk berprestasi (ini sering agak klise), ajakan untuk menjaga kebersihan, himbauan berpartisipasi pada donor darah, himbauan perduli terhadap korban banjir, kritikan terhadap sistim penilaian yang dinilai pelit, kritikan terhadap guru yang suka terlambat, kritikan terhadap guru yang suka menyuruh-nyuruh murid untuk kegiatan yang dianggap tidak jelas, kritikan terhadap teman yang suka nyontek.

Sisi positip tambahan dari ‘pidato hari Senin’ ini adalah terciptanya usaha lebih berhati-hati oleh semua pihak termasuk oleh guru-guru. Karena salah-salah tindakan, bisa jadi bahan kritikan tajam yang akan disampaikan di depan umum pada hari Senin berikutnya. Bisa dikatakan bahwa ‘pidato’ sudah menjadi polisi sendiri di SMU 369 untuk meningkatkan ketertiban.

Hari Senin ini giliran anak kelas dua C yang akan menyampaikan pidato mingguan. Wakil anak kelas dua C adalah Herman Mokoginta. Anak ini berbakat jadi orator. Kemampuan berbicara dan penggunaan bahasanya bagus. Suaranya juga bagus. Inilah sebahagian dari cuplikan pidatonya yang disampaikan dalam waktu delapan menit.

‘…………. Saudara-saudara yang saya hormati. Pada kesempatan ini saya ingin mengingatkan bahwa dalam waktu dekat ini kita akan menghadapi kompetisi basket antar siswa SMU se Jakarta Timur. Pemain-pemain basket kita sudah berlatih dengan tekun sejak beberapa minggu terakhir. Latihan-latihan ini masih akan dilanjutkan dengan lebih giat lagi. Kita berterima kasih dan bersyukur mempunyai seorang pelatih yang sangat sabar dan penuh dedikasi yaitu guru olah raga kita bapak Hardjono. Marilah kita berikan tepuk tangan sebagai tanda penghargaan kita atas kesabaran dan kesungguhan bapak Hardjono!………..

(murid-murid bertepuk tangan)

Namun, saudara-saudaraku siswa 369 sekalian. Perlu saya ingatkan bahwa untuk meraih kemenangan di ajang lomba yang bergengsi itu, tidak cukup hanya dengan mengandalkan para pemain terlatih saja. Diperlukan juga dukungan dan support dari segenap warga 369 untuk memberi semangat kepada para pemain kita, terlebih-lebih pada saat berlangsungnya pertandingan-pertandingan yang pasti akan sangat melelahkan itu nanti. Oleh karena itu, saya menghimbau saudara-saudara sekalian sebagai pendukung tim bola basket SMU 369 untuk mempersiapkan diri pula, guna mendukung rekan-rekan kita yang bertanding pada hari-hari H nya itu nanti. Bahkan pada hari-hari latihan sekalipun kehadiran saudara-saudara pasti akan menambah semangat pemain-pemain basket kita untuk berlatih dengan lebih giat dan tekun.

Saudara-saudara sekalian. Saya juga ingin mengingatkan teman-teman para pemain-pemain basket yang sudah dipilih, yang saya sendiri termasuk di dalamnya, agar kita mampu menjunjung tinggi sportifitas. Kita ingin berhasil, kita ingin menang, kita ingin jadi juara, tapi kemenangan yang kita raih dengan sportif dan jujur. Tidak ada nilainya kemenangan itu kalau kita memperolehnya dengan kecurangan atau kelicikan. Oleh karena itu mari kita tingkatkan ketangguhan dan pada waktu bersamaan kita tingkatkan pula kesportifan dalam bertanding.

Perlu pula kita ketahui saudara-saudara sekalian, bahwa sportifitas bukan melulu milik dan tanggung jawab para pemain. Para supporterpun diminta untuk berlaku sportif. Kita harus mampu menghargai lawan tanding kita. Seandainya…. saya ulangi, seandainya lawan bertanding kita memang lebih hebat dari kita, maka kita harus berjiwa besar mengakui keunggulan mereka. Jadi perlu kita sadari dan kita ingat bahwa kita datang ke lapangan untuk memberi dukungan yang meriah namun wajar kepada tim sekolah kita. Dan kita tidak datang ke lapangan untuk membela mati-matian regu sekolah kita dengan persiapan ekstra untuk berkelahi dalam tawuran, seandainya regu sekolah kita kalah. Kalau tim sekolah kita menang, kita siap untuk ikut menghormati dan merayakan hasil perjuangan mereka tanpa melecehkan lawan, dan kalau mereka kalah, kita juga siap untuk tidak melecehkan teman-teman kita sendiri dan mengakui keunggulan lawan.

Akhirnya, saya mengajak setiap pemain untuk tetap bersemangat tinggi. Saudara-saudara warga 369. Mari kita berikan tepuk tangan pula untuk pemain-pemain kita yang hebat-hebat ini.

(murid-murid bertepuk tangan)

Saya sudahi pidato saya ini dengan mengajak saudara-saudara sekalian meneriakkan yel-yel kemenangan SMU 369…Hidup SMU 369…Hidup SMU 369… Hidup SMU 369…

Terima kasih

Kali ini terdengar tepuk tangan murid-murid tanpa dikomando. Ini artinya pidato itu berkenan di hati mereka.

Sesudah itu, tetap ada amanat dari kepala sekolah. Pak Umar pandai sekali mengangkat topik-topik yang memang perlu untuk diamanatkan. Yang perlu dinasihatkan untuk siapa saja. Baik untuk guru-guru, pegawai Tata Usaha, petugas keamanan dan tentu saja untuk murid-murid. Kalau beliau menegor biasanya beliau sampaikan dengan santun. Tidak pernah menggunakan kata-kata kasar. Tidak pernah mempermalukan siapa saja.

Pada kesempatan Senin kali ini beliau memulai dengan perlunya sifat toleransi dan pemaaf. Manusia yang pemaaf adalah manusia yang berhati mulia, kata beliau. Setiap kita harus bisa menjadi orang pemaaf, karena setiap kita pernah berbuat salah dan berharap untuk dimaafkan. Tuhan menyukai orang-orang yang pemaaf. Sebagian dari pesan-pesan beliau berbunyi sebagai berikut;

‘…………….. Saudara guru-guru dan murid-murid sekalian. Setiap kita pasti pernah berbuat keliru. Salah dan keliru adalah sifat manusia. Manusia itu adalah wadahnya, tempatnya kesalahan dan kekeliruan. Tidak ada manusia yang sempurna karena kesempurnaan itu hanyalah sifat Tuhan Yang Maha Kuasa. Maka oleh karena itu terlanjur bersalah tidak mesti menjadikan seseorang berputus asa. Terlanjur keliru tidak mesti menjadikan kita membuat kesalahan baru dengan berbohong untuk menutupi kekeliruan itu. Seorang yang bersalah lalu sadar akan kesalahannya, lalu berusaha memperbaiki dirinya adalah seorang yang mempunyai jiwa yang besar. Orang seperti ini pantas untuk diteladani.

Dengan menyadari bahwa setiap kita selalu berkesempatan untuk keliru baik secara sengaja ataupun secara tidak sengaja, maka seyogianya pula setiap kita mempunyai sifat pemaaf. Sangatlah wajar jika kita berharap agar orang lain akan memaafkan kita pada saat kita mengakui bahwa kita telah terlanjur berbuat kesalahan. Pada sisi lain, itu berarti bahwa kita juga harus mampu menjadi orang yang pemaaf. Kita harus mampu memaafkan orang lain yang sesudah mengakui kekeliruannya datang meminta maaf kepada kita. Dengan sifat pemaaf, maka kehidupan umat manusia akan lebih damai.

Saudara guru-guru dan murid-muridku sekalian.

Pada hari ini, seorang teman kalian, yang pernah keliru lalu insaf, dan sudah menunjukkan bahwa dia itu sudah insaf, kita terima kembali untuk bersama-sama dengan kita di sini. Maka saya meminta agar kita semua mau memaafkan kekeliruannya dimasa lalu. Saya meminta agar kita mau menerima kehadirannya kembali dengan sewajar-wajarnya. Dia adalah bagian dari kita di waktu yang lalu dan sekarang kita terima dia kembali dengan tangan terbuka. Keputusan untuk menerimanya kembali ini adalah hasil dari musyawarah panjang antara kepala sekolah dengan para guru-guru maupun dengan para pengurus OSIS. Memberi kesempatan kepada mereka-mereka yang pernah mendapat sangsi dari sekolah di waktu yang lalu itu, semata-mata di dasarkan pada pemikiran bahwa kita adalah orang-orang yang mau memaafkan.

Saya merasa perlu mengingatkan, bahwa lebih kurang sepuluh bulan yang lalu lima orang teman-teman kalian telah dikenakan sangsi di sekolah ini akibat penggunaan obat-obat terlarang. Sangsi yang diberikan pada waktu itu sangat adil dan perlu. Karena tanpa sangsi, maka hukum yang seharusnya ditegakkan tidak akan pernah bisa tegak. Sesudah waktu berjalan cukup lama, kita mencoba memonitor apa saja yang terjadi terhadap mereka-mereka itu. Ternyata ada di antara mereka yang berusaha keras memperbaiki dirinya. Mereka pergi berobat, atau berusaha dengan sekuat tenaga menghindari perbuatan keliru yang pernah mereka lakukan. Terhadap mereka yang sudah nyata-nyata insaf ini, kita merasa berkewajiban untuk menerima mereka kembali sebagai bahagian dari diri kita. Namun perlu pula saya beritahukan, bahwa tidak semua mereka-mereka itu beruntung, bisa kembali insaf. Satu orang dari mereka bahkan membayar kekeliruan di masa lampau itu dengan biaya yang paling mahal, yakni kematian. Tiga orang yang lain, yang sudah menjalani masa perawatan intensif telah memilih sekolah lain untuk melanjutkan pendidikan mereka. Satu orang lagi hari ini kita terima kembali di sini. Saya ulang kembali pesan saya, agar kalian bergaul wajar satu sama lain. Melupakan kekeliruan masa lalu kawan kalian tersebut.

Kepada anakku Edwin, saya atas nama sekolah mengucapkan selamat datang kembali di sekolah ini. Saya yakin, pengalaman pahit yang pernah kamu dapatkan, akan senantiasa mengingatkan kamu untuk tidak mengulangi kekeliruan dimasa lampau. Jadilah murid yang berprestasi dan bergaullah dengan wajar dengan teman-temanmu yang lain.

Cukup sekian yang dapat saya sampaikan pada kali ini. Mari kita mulai awal pekan ini dengan semangat tinggi.

Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.


*****