Friday, April 17, 2009

DERAI-DERAI CINTA (6)

6. FIRASAT

Sehabis maghrib Muncak Amat mendatangi rumah guru Sofyan. Dia ingin berbincang-bincang lagi dengan guru itu. Muncak berfirasat ada bahaya yang sedang mengancam kampung. Dan dia ingin menanyakan kemungkinan itu. Guru Sofyan mempersilahkan Muncak Amat naik ke rumahnya. Kedua orang itu langsung terlibat dalam sebuah diskusi.

‘Ada apa engku Muncak? Masih penasaran dengan urusan air di batang air?’ tanya guru Sofyan begitu Muncak Amat duduk.

‘Benar guru. Cobalah guru jelaskan. Tidakkah mengkhawatirkan menurut pendapat guru, ketika air terkumpul di suatu tempat di atas gunung sana? Harusnya tempat terkumpulnya itu bukan tempat yang biasa menampung air. Bagaimana caranya tiba-tiba saja ada kolam tempat menampung air?’ tanya Muncak Amat.

‘Mungkin bukan sekedar kolam engku. Engku bayangkan saja lembah-lembah di punggung gunung itu. Sebuah lembah bisa saja berbentuk cekung menyerupai kuali. Mungkin disana air terkumpul,’ jawab guru Sofyan.

‘Seperti telaga, begitu ?’

‘Ya. Bisa seperti telaga.’

‘Bila terjadinya telaga itu? Karena selama ini air menghilir lancar-lancar saja ?’ tanya Muncak yang sangat kritis.

‘Betul juga. Atau mungkin.........., ini yang lebih masuk di akal, ada cekungan lembah yang tersumbat. Mungkin tersumbat oleh batu-batu, atau pohon-pohon kayu runtuh,’ kata guru Sofyan.

Kali ini dia menerawang ke langit-langit. Mungkin membayangkan yang baru saja dikatakannya.

‘Apakah itu aman guru? Kalau memang ada batu-batu besar atau pokok-pokok kayu rimba yang menahannya?’

‘Mudah-mudahan saja, engku,’ jawab guru Sofyan.

‘Tapi....... Seandainya, penahan air itu runtuh?’

‘Ya... lepaslah air ke bawah. Dihanyutkannya apa yang ada di lembah-lembah, di sepanjang batang air.’

‘Di hanyutkannya segala sampah rimba. Segala macam kayu dan ranting yang menyekat. Tentu begitu guru?’

‘Betul, engku. Apapun yang bisa dihanyutkan air tentu dihanyutkannya.’

‘Itu benar yang saya takutkan. Dan saya sudah memindahkan kerbau-kerbau saya dari kandangnya di tepi batang air itu.’

‘Baik juga itu untuk berjaga-jaga, engku. Itu kan seandainya air yang tertahan di atas sana lepas dan menghantam sekali gus. Boleh juga kita berharap, air itu akan mengalir saja pelan-pelan seperti yang kita lihat di batang air saat ini,’ jawab guru Sofyan.

‘Benar guru. Tapi ini firasat saja. Entah kenapa saya cemas saja. Baiklah guru, sepertinya hari mau hujan lagi. Sudah terdengar lagi guruh. Saya pergi dulu.’

‘Baik kalau begitu, engku.’


***

Tidak ada orang lain yang cemas seperti Muncak Amat. Karena siang tadi udara cerah sesudah seminggu diguyur hujan, mereka yang biasa main koa malam ini berkumpul lagi di dangau tempat mereka biasa main. Menikmati perburuan di atas tikar atau berburu babi di atas tikar. Begitu istilahnya. Begitu kalau hobi.

***

Imran memijit kaki ibu sesudah mereka makan malam. Sambil berbincang-bincang. Seperti biasa, ibu menasihati Imran.

‘Tek Ema tidak mau sama sekali menerima uang harga pisang, Ran?’ tanya ibu.

‘Tidak mau, bu. Awak katakan, inikan barang dagangan, tek. Biarlah awak bayar. Tapi kata etek, sudah etek terima bayarannya dan etek berikan untukmu,’ jawab Imran.

‘Uangnya kau berikan sungguh-sungguh, bukan? Bukan hanya seperti mau membayar?’

‘Sungguh-sungguh, bu. Awak serahkan ke tangan etek. Beliau ambil lalu dimasukkan kembali ke saku baju awak,’ Imran menjelaskan.

‘Dalam perdagangan sebenarnya, tidak ada pemberian seperti itu. Atau, kau memberikan dekat mak etek Nursal barangkali?’

‘Tidak, bu. Mak etek belum pulang dari kantor.’

‘Berarti dia ingin beramal. Karena kau anak yatim,’ kata ibu pula.

Imran teringat kata-kata mak Budin yang juga berbuat baik karena dia anak yatim.

‘Ran, dalam berdagang yang paling penting adalah kejujuran. Kamu harus faham itu,’ ibu menyambung pembicaraan.

‘Awak faham, bu.’

‘Ketika berjanji ditepati. Kalau berhutang jangan ditunda-tunda membayarnya. Begitu dulu petuah ayahmu. Dan ibu selalu memeliharanya.’

Imran terdiam.

‘Ayahmu memang banyak berpetuah. Banyak dia menasihati ibu. Menerangkan masalah agama kepada ibu. Dia berpesan agar ibu mendidikmu untuk bisa mandiri sejak kanak. Kau masih ingat ayah, kan? Masih ingat bagaimana disiplinnya dia?’

‘Awak masih ingat, bu. Ayah selalu sayang kepada awak. Tapi pernah juga awak dimarahi ayah, kalau awak malas-malas mengaji.’

‘Tentu saja beliau marah. Tapi semarah-marahnya, ayahmu tidak pernah dia memukulmu bukan?’

‘Tidak pernah, bu.’

‘Entah kenapa ibu jadi ingat ayah. Ingin rasanya ibu pergi menziarahi pusaranya. Tapi dimana pula akan mungkin.’

Imran kembali terdiam beberapa saat. Tiba-tiba dia ingat sesuatu.

‘Bagaimana kalau awak mengaji, bu? Dan awak doakan lagi ayah?’

‘Mengajilah. Pergilah berwuduk. Mengajilah, biar ibu dengarkan.’

Imran pergi berwuduk ke belakang. Agak heran dia, kenapa tiba-tiba ibu ingat ayah? Apakah memang seperti itu selalu perasaan beliau? Selalu mengenang ayah? Rupanya beliau benar-benar mencintai ayah. Padahal ayah sudah meninggal sejak lebih dari enam tahun. Beliau masih menyimpan derai-derai cinta.

Sudah sejak tadi terdengar suara guruh di luar. Kadang-kadang terlihat kilat dari sebelah dinding sumur. Sepertinya hari akan hujan lagi.

Imran sudah selesai berwuduk dan kembali ke kamar. Diambilnya kain sarung dan disarungkannya. Dia duduk di samping ibu di tempat tidur dan mulai mengaji. Dibacanya surat Yasiin. Ibu menyimak bacaan Imran.

Setelah selesai membaca surat Yasiin, ibu menyuruh Imran membaca surat ar Rahman, surat ke 55. Imran membacanya. Membaca fabiayyi alaa irabbikuma tukatztzibaan berulang-ulang dalam surat itu. Tidak sengaja mata Imran melirik ibu. Dilihatnya ibu menangis. Airmatanya bercucuran. Imran menghentikan bacaannya, tapi ibu menyuruh melanjutkan. Imran kembali mengaji sampai selesai.

Fabiayyi alaa irabbikuma tukatztzibaan... Maka nikmat Tuhanmu manakah yang engkau dustakan? Itu artinya. Ayahmu dulu menerangkan arti surat ar Rahman itu kepada ibu. Jangan sampai kita mendustakan segala karunia Tuhan. Melupakan segala nikmat yang diberikan Tuhan. Jangan sampai kita mengingkari Nya. Allah menjanjikan surga untuk orang-orang yang beriman, yang senantiasa taat patuh kepada perintah Nya. Kau camkan itu, nak!’ kata ibu.

Tanpa disadarinya, air mata Imran juga mengalir. Diambilnya tafsir al Quran. Dibukanya surat ar Rahman dan dibacanya arti ayat-ayat itu. Imran pun menangis.

Di luar hujan sudah mulai turun. Cukup lebat. Bunyi air hujan jatuh, menderu di atap seng. Terdengar pula suara guruh.

Imran ingat cerita mimpi ibu tentang petir. Dadanya berdebar-debar. Tapi, bukankah beberapa hari yang lalu petir menyambar berkali-kali, tidak terjadi apa-apa? Apakah ini sebuah firasat? Atau terbawa larut oleh ma’na surat ar Rahman?

Ibu sudah tertidur. Dipandanginya wajah ibu. Ibu tersenyum dalam tidurnya. Mungkin ibu tengah bermimpi. Imran berusaha pula untuk tidur.

*****

Thursday, April 16, 2009

DERAI-DERAI CINTA (5)

5. ALAM YANG GANJIL

Keesokan harinya ternyata cuaca cerah. Matahari bersinar cemerlang. Timbul semangat karenanya, sebab sudah beberapa hari ini matahari tidak terlihat di pagi hari. Gunung Marapi masih berselimut pada bagian puncaknya. Di bagian lainnya terlihat bersih berwarna biru cerah. Sarasah (air terjun) di bagian tengah gunung terlihat dengan jelas seperti sebuah codetan. Berwarna putih.

Kegiatan orang kampung kembali berjalan normal. Yang mengumpulkan pisang kembali mengumpulkan pisang. Banyak yang berancang-ancang mau menjemur padi sebelum digiling di heler. Sepertinya akan panas sehari ini.

Imran tidak bersekolah. Dia libur karena ini adalah minggu tenang sebelum ujian akhir. Dia berusaha belajar sebaik-baiknya sebelum menghadapi ujian minggu depan. Dan pagi ini disempatkannya pergi menebang pisang di kebun istri mak etek Nursal. Dua tandan besar pisang ambon itu dibawanya pulang dengan menggunakan gerobak dorong. Etek Ema, istri mak etek Nursal, tidak mau menerima uang pembelian pisang. Gunakan untuk keperluan sekolahmu, kata etek Ema. Imran sangat berterima kasih. Memang selalu demikian. Sudah beberapa kali dia disuruh menebang pisang di sana, tapi etek Ema tidak mau menerima uang. Paling-paling dia hanya meminta dua sisir pisang ditinggalkan. Yang lain disuruh ambil semua.

Sebelum sampai di rumah, Imran berpapasan dengan mobil toke pisang yang dulu membawanya ke Paya Kumbuh.

‘Mau langsung kau jual?’ tanya mak Budin, toke itu.

‘Boleh. Pisang ini sudah tidak perlu diperam. Sudah mulai masak. Di rumah ada dua tandan pisang batu yang sudah masak. Silahkan mak Budin ambil semua,’ jawab Imran.

‘Atau, mau kau ikut menjualnya ke Bukit?’ tanya mak Budin.

‘Ah, tidak. Awak mau belajar. Awak mau ujian minggu depan,’ jawab Imran.

‘Katanya kau tidak mau lagi ikut dengan mobilku, benar?’

‘Sekarang ini tidak. Karena awak mau belajar,’ jawab Imran tegas.

‘Ya, sudahlah. Naikkanlah pisang itu! Pergilah ambil yang lain, yang kau katakan ada di rumah!’ perintah toke itu.

Imran mengangkatnya ke atas truk. Di atas truk itu sudah banyak tandan pisang yang lain. Rupanya toke itu akan segera menjualnya ke Bukit Tinggi.

‘Mamak tunggulah sebentar. Awak jemput ke rumah,’ kata Imran.

Mak Budin mengangguk. Dimatikannya mesin mobil. Imran segera kembali mendorong gerobak dengan dua bakul besar pisang batu yang sudah masak, siap untuk dibuat jadi goreng pisang.

‘Untung benar dibawa keluar sekarang. Kalau tidak, besok-besok pisang itu akan semakin lunak. Sudah susah menjualnya,’ kata mak Budin.

Imran mengangkat pisang-pisang yang sudah dipisah menjadi banyak sisir ke dalam truk.

‘Angkat saja dengan ketiding-ketidingmu itu. Nanti aku kembalikan,’ perintah mak Budin.

Imran setuju.

‘Jadi berapa sisir semua pisang ambon tadi? Berapa pula pisang batu?’

Imran menghitung dan memberitahukan jumlahnya. Mak Budin menghitung harganya, mengeluarkan uang dari dompet dan menyerahkan uang itu kepada Imran.

‘Kenapa sebanyak ini? Ini kan harga di pasar, mak?’ tanya Imran.

‘Ya, harga di pasar. Aku anggap kau sendiri yang menjualnya di pasar. Aku ingin kau tahu, bahwa aku bukan laki-laki yang suka beranak jawi! Kau catat itu! Aku menolongmu karena bersimpati dengan keadaanmu. Karena kau anak yatim,’ kata mak Budin, yang sudah kembali duduk di belakang kemudi.

Imran menatap mobil truk itu bergerak, berlalu dan akhirnya menjauh.

***

Sampai sore, hari masih tetap panas. Berbeda benar dengan kemarin yang hujan sehari suntuk. Panas sampai petang rupanya hari ini. Imran minta izin ibu untuk pergi ke pekan, pergi membeli obat gosok. Obat gosok yang diberikan nenek sudah hampir habis. Tangan ibu yang waktu itu terlihat bisa digerakkan sedikit, tetap seperti itu saja. Tidak ada perubahan lebih lanjut. Tapi ibu senang dipijit dan diurut dengan obat gosok. Hangat dan enak terasa. Imran berharap, mudah-mudahan lama kelamaan ada juga pengaruh obat gosok itu nantinya.

Imran mengendarai sepeda dengan santai. Ketika melintas di dekat batang air, diperhatikannya anak-anak kecil sedang memandikan kerbau. Ada satu hal yang menarik perhatiannya. Air batang air itu biasa-biasa saja. Tidak deras mengalir seperti biasanya sesudah beberapa hari hujan. Imran sadar bahwa hal itu agak aneh, tapi dia tidak tahu apa sebabnya.

Setelah membeli obat gosok dia segera pulang. Untuk kembali belajar.

***

Karena hari cerah, bertambah pula gairah orang main domino di lepau. Berlapoh-lapoh dan berdentang-dentang bunyi batu plastik itu dihempaskan. Yang menonton tidak kalah asyik. Sambil mengobrol hilir mudik. Yang main kadang-kadang ikut pula menimpali.

Muncak Amat yang duduk di sudut lepau melaporkan pengamatannya tentang air batang air. Terjadilah hotar panjang.

‘Ada yang agak ganjil. Hampir seminggu hari hujan, selama itu pula gunung Marapi berselimut awan gelap, tapi air batang air biasa-biasa saja,’ kata Muncak Amat.

‘Lalu kenapa?’ tanya Lelo yang sedang mengamati batu dominonya.

‘Tidak normal air batang air seperti itu. Harusnya lebih deras,’ jawab Muncak Amat.

‘Muncak berbahasa tinggi. Pakai istilah tidak normal segala. Yang normal itu seperti apa...... ? Taroklah ganja anam itu Pudin dari pada mati terkepit,’ Yusran Sati, mandan Lelo ikut menimpali sambil tetap berkomentar tentang permainannya.

‘Yang normal...., yang biasa, kalau berhari-hari hujan, air batang air itu deras berhari-hari pula,’ Muncak Amat menjelaskan lagi.

‘Jadi dimana salahnya kalau begitu ?’ tanya Pudin Gindo.

‘Salahnya, ganja anam kau sudah mati he..he..he... Salahnya? Entah? Dimana salahnya Muncak?’ tanya Yusran.

‘Salahnya? Kemana pergi air hujan yang banyak itu?’

‘Pertanyaan Muncak betul-betul seperti pertanyaan profesor. Siapa pula yang akan tahu kemana perginya?’ Lelo berkomentar sambil menghempaskan batunya yang terakhir.

‘Betul Lelo. Pertanyaan Muncak ini sulit. Tidak pandai kita menjawab,’ kata Pudin yang dapat giliran mengocok batu.

‘Aku sependapat dengan Muncak. Cobalah perhatikan serasah itu. Airnya besar. Terlihat dari sini codetan putih air serasah jatuh. Karena di atas gunung Marapipun hujan besar selama ini. Tapi entah kemana pergi air itu,’ guru Sofyan ikut berkomentar.

‘Cobalah terangkan kalau begitu, guru! Kemana agaknya pergi air. Sepertinya hal itu menjadikan Muncak Amat rusuh benar,’ kata Lelo, kali ini sambil menghempaskan balak enam.

‘Kalau menurutku, kalau air itu tidak turun, tidak mengalir kesini, berarti masih tertahan di atas,’ jawab guru Sofyan.

‘Siapa pula agaknya yang menahan, guru? Atau jangan-jangan orang bunian...he..he..’ Lelo terkekeh.

‘Tidak mesti. Dan lagi, aku belum pernah bertemu orang bunian. Aku tidak tahu kalau mereka banyak minum,’ jawab guru, ikut-ikutan melantur.

‘Seandainya tertahan, dimana pula akan tertahannya guru? Bukankah tidak ada kolam besar di atas gunung itu?’ tanya Muncak Amat bersungguh-sungguh.

‘Kolam besar mungkin saja ada di atas sana engku Muncak. Cobalah engku perhatikan, kan ada lembah-lembah juga di sela-sela punggung gunung Marapi itu,’ guru Sofyan menjelaskan.

‘Kalau begitu kan sudah jelas. Apa pula yang ganjil? Berarti air itu tertahan di kolam-kolam dalam lembah seperti yang dikatakan guru Sofyan,’ kata Lelo.

‘Bagaimana kalau air di kolam besar itu tumpah, kalau benar ada kolam besar di atas sana?’ tanya Muncak Amat.

‘Aih, Muncak.... Tidak disini seharusnya Muncak berpidato. Panjang betul telaahan Muncak. Kalau dia tumpah tentu mengalir dia ke hilir. Besar kembali air batang air yang Muncak risaukan itu...... Pas aku Gindo.... Batuku pun ikut pusing mendengar pemikiran Muncak Amat....’ kata Yusran Sati.

‘Tidakkah engku-engku takut kampung ini akan disiram banjir?’ tanya Muncak Amat lagi.

‘Yang pasti-pasti sajalah yang akan dipikirkan Muncak. Kalau semua dipikirkan, tidak pantas kita tinggal di kampung ini. Tidak takut pulakah Muncak seandainya gunung Marapi ini meletus?’ giliran Lelo berkomentar.

Semua tediam sementara.

‘Ada lagi yang ganjil,’ kali ini Sinaro yang berbicara.

‘Apa pula lagi? Atau jangan-jangan sudah mau kiamat agaknya, banyak betul hal yang ganjil-ganjil,’ giliran Pudin Gindo.

‘Sudah lama aku tidak melihat landak. Tadi pagi aku lihat empat ekor di tepi batang air,’ kata Sinaro.

‘Lalu? Apa pula urusannya?’

‘Barangkali saja landak itu ingin berjemur panas matahari, sesudah sepekan hari hujan,’ Lelo mencoba menjawab.

‘Landak itu biasanya keluar malam dari sarangnya di tepi batang air. Dimana tepatnya Sinaro melihatnya?’ tanya guru Sofyan.

‘Di rumpun betung di pinggir batang air,’ jawab Sinaro.

‘Entahlah, mungkin juga......’ guru Sofyan tidak meneruskan kata-katanya.

‘Mungkin juga apa, guru?’ tanya Pudin Gindo.

‘Mungkin juga mereka merasa sarang mereka di tepi batang air tidak aman,’ jawab guru.

‘Itupun hal yang repot kalau begitu. Bagaimana pula akan menanyakannya kepada landak?’ sergah Lelo.

‘Mudah-mudahan saja tidak ada apa-apa. Sudahlah, sudah terlalu petang. Aku mau pulang dulu,’ kata guru Sofyan.

Dia keluar, meninggalkan lepau. Pertandingan domino pun sudah berakhir.


*****

Wednesday, April 15, 2009

DERAI-DERAI CINTA (4)

4. HUJAN

Beberapa hari terakhir cuaca sangat buruk. Udara gelap dan hujan turun tiap hari. Kadang-kadang hujan lebat disertai guruh petir. Gunung Marapi senantiasa berselimut awan dan kabut hitam. Air batang air di tengah kampung mengalir lebih deras dari biasanya. Airnya berwarna coklat tua. Dan air juga mengalir deras melalui bandar atau tali air untuk pengairan sawah. Di beberapa tempat air meluap dari kolam ikan dan mengalir ke pekarangan rumah. Becek dan lanyah di mana-mana.

Perdagangan pisang agak tersendat dari biasa. Pedagang dan pengumpul malas keluar menebang dan mengumpulkan pisang. Di lepau kopi orang-orang duduk berkelumun kain sarung karena kedinginan. Karena udara memang dingin. Namun yang main domino tetap saja jalan. Apalagi di sebelah siang. Sepertinya saat seperti itu adalah waktu yang paling asyik untuk menghempaskan batu domino. Untuk sindir menyindir dan untuk tertawa berderai-derai. Sambil menyeruput teh telor. Sambil mengepul-ngepulkan asap rokok.

Pagi inipun hari hujan sejak subuh. Mula-mula agak lebat, kemudian berhenti sebentar. Lalu hujan rintik-rintik lagi. Lalu lebat lagi. Begitu berulang-ulang. Karenanya orang malas keluar. Lebuh di tengah kampung terlihat sepi. Pada hal di hari biasa, ketika tidak hujan selalu ada saja kegiatan. Seperti orang mengangkut pisang dengan gerobak. Atau memuat pisang ke atas truk. Atau orang mengantar padi yang akan di giling ke heler alias mesin giling.

Yang tidak banyak berubah adalah kegiatan sekolah. Guru-guru dan murid-murid tetap hadir di sekolah. Ketika hujan turun seperti pagi ini, mereka menggunakan payung seadanya untuk datang. Bahkan ada yang berpayung daun pisang. Bedanya terlihat waktu istirahat bermain. Murid-murid sekolah SD di kampung itu tidak bisa keluar berkeluyuran tapi terpaksa tinggal dalam kelas. Biasanya pada saat jam istirahat murid-murid bisa pergi kemana saja di dalam kampung. Pergi mencari buar seri ke pekarangan orang, atau memanjat pohon jambu orang. Hanya sedikit saja yang tinggal bermain di pekarangan sekolah.

Imran juga pergi ke sekolah seperti biasa pagi ini. Dia memakai mantel hujan peninggalan ayah. Imran berusaha melindungi dirinya sebaik-baiknya agar jangan sampai jatuh sakit. Di rumah ibu menyuruhnya makan lebih banyak dan minum teh kental hangat. Kata ibu agar daya tahan tubuh terpelihara. Jarak dari rumah ke sekolah SMP hanya kira-kira satu setengah kilometer melalui jalan raya. Imran menggunakan sepeda, untuk pergi ke sekolah. Dia memerlukan waktu kurang dari sepuluh menit untuk sampai di sekolah. Dan biasanya dia tiba persis sebelum lonceng masuk kelas dibunyikan.

Begitu jam pelajaran berakhir, Imran bergegas pulang. Hujan rintik-rintik kembali turun. Imran sudah memakai jas hujan. Langit diliputi awan hitam. Bunyi guruh menderu-deru dan kadang-kadang di kejauhan terlihat kilat. Sepertinya akan turun hujan lebat. Imran mengayuh sepedanya sekuat-kuatnya. Dia ingin segera sampai di rumah. Baru setengah jalan hujan lebat turun mengguyur bumi. Kilat dan petir sambung menyambung.

Petir. Darah Imran berdesir. Dia ingat mimpi ibu. Serta merta dia ingat Allah. Dia perlu pertolongan Allah. Dia berdoa dalam hatinya. Ya Allah hindarkan segala mara bahaya. Hindarkan segala keburukan yang mungkin dibawa petir. Alhamdulillah, dia selamat sampai di rumah. Hujan masih turun dengan lebat. Diangkatnya sepedanya ke atas rumah. Dilepasnya jas hujan yang dipakainya dan dia segera masuk ke kamar menemui ibu. Ibu sedang berdua dengan nek Piah. Ibu tersenyum melihat Imran datang.

‘Keringkan badanmu Ran dan segeralah pergi makan,’ kata ibu.

‘Ya, bu. Nenek dan ibu sudah makan?’ tanya Imran.

‘Sudah. Kami sudah makan,’ jawab ibu.

Imran pergi makan. Lauk makan siang sering dibawakan nek Piah. Begitu juga kali ini. Ikan mujair digoreng dan sayur tumis bayam. Nek Piah masih cekatan memasak. Sebenarnya beliau menawarkan untuk memasakkan ibu dan anak itu setiap hari, tapi Imran menolak. ‘Biarlah nek, biar awak belajar pula memasak,’ begitu katanya.

Sesudah makan Imran kembali menemui ibu di kamar.

‘Coba lihat Ran. Tangan kiri ibu bisa ibu gerakkan sedikit,’ kata ibu sambil memperlihatkan gerakan tangan itu. Gerakan sangat pelan.

‘Ya. Allah. Alhamdulillah. Syukurlah, bu,’ kata Imran ceria.

‘Nenek mengurutnya dengan obat gosok. Tadi ibu kedinginan, lalu diurut nenek.’

‘Minyak gosok seperti apa?’ tanya Imran.

‘Minyak gosok reumason. Seperti ini,’ nenek menunjukkan botol kecil obat gosok.

Imran mengambil botol obat gosok itu. Dibukanya tutupnya. Tercium baunya yang khas.

‘Coba nanti kau urut-urut lagi tangan ibumu dengan obat gosok itu. Dan kakinya juga,’ nenek menambahkan.

‘Kenapa tidak dari dulu terpikirkan mengurut tangan ibu pakai obat gosok seperti ini,’ Imran bergumam.

‘Sudahlah. Sekarang kan sudah dikerjakan,’ jawab ibu.

‘Dimana nenek beli?’ tanya Imran.

‘Di kedai di pekan. Dekat sekolahmu. Sekarang pakai sajalah yang ini,’ kata nenek.

‘Kan nenek memerlukannya juga?’

‘Ada satu lagi,’ jawab nenek.

Mereka masih berbincang-bincang beberapa saat. Nenek mengingatkan pesan mak etek Nursal bahwa di kebun di rumah istrinya ada dua batang pisang yang sudah tua. Sudah ada buahnya yang masak di batang dan dimakan tupai. Kalau hari cerah, agar Imran pergi menebang pisang itu. Mak etek Nursal adalah anak laki-laki nenek.

Hujan mulai reda. Nenek pamit mau kembali ke rumah beliau di sebelah. Setelah beliau pergi Imran mengurut tangan dan kaki ibu dengan obat gosok itu kembali.

***

Imran tidak kemana-mana sore itu. Sesudah mengurut ibu dia belajar. Jam lima sore hari kembali hujan deras. Disertai petir dan kilat. Suara petir itu menggetarkan nyali. Setiap kali kilat menyambar darah Imran berdesir. Setiap kali petir menggelegar dia membaca laa hawla wa laa quwwata illa billaah dengan khusyuk. Hujan deras itu turun sampai menjelang maghrib. Persis sebelum maghrib cuaca tampak cerah. Terlihat matahari yang hampir terbenam di sebelah barat.

Sesudah makan malam ibu kembali minta tolong diurut pakai minyak gosok.

‘Sudah lama ibu tidak mendengar kau mengaji, Ran,’ kata ibu, ketika Imran sedang mengurut kaki beliau.

‘Iya, ya bu. Ibu mau mendengarkan awak mengaji?’ tanya Imran.

‘Mengajilah, nak. Baca surat Yasiin!’ kata ibu.

‘Ya, bu. Awak mengaji sesudah ini.’

‘Doakan ayahmu sesudah itu nanti!’ tambah ibu pula.

‘Baik, bu.’

‘Mudah-mudahan arwah ayahmu tenang di sisi Allah. Ayahmu itu orang yang sangat baik,’ kata ibu.

Entah kenapa ibu tiba-tiba ingat ayah.

‘Mudah-mudahan, bu,’ jawab Imran.

‘Rajin-rajinlah kau mengaji. Setiap kau mengaji, mengalir juga pahalanya untuk ayah. Karena dia yang mengajar kau mengaji. Setiap kau berdoa untuknya, niscaya dikabulkan Allah doamu. Jadilah kau seorang yang saleh. Doa anak yang saleh untuk kedua orang tuanya tidak dibatasi dinding oleh Allah. Niscaya dikabulkan Nya.’

Imran terdiam. Sambil sedikit bertanya-tanya karena belum pernah ibu berpetuah seperti ini sebelumnya.

Imran sudah selesai mengurut ibu. Dicucinya tangannya ke belakang. Dan dia sekalian berwuduk. Dipakainya kain sarung dan diambilnya al Quran. Imran mengaji dekat tempat tidur ibu. Dibacanya surat Yasiin.

Bacaan Imran baik lagi tartil. Ibu menyimak bacaan itu dalam hati. Baru saja dia membaca sekitar 40 ayat terdengar petir menggelegar. Imran terkesiap. Jantungnya berdebar-debar.

‘Baca laa hawla wa laa quwwata illa billaah kalau ada petir,’ kata ibu.

‘Awak sudah membacanya, bu,’ jawab Imran.

‘Teruskanlah kajimu!’ perintah ibu lagi.

‘Ibu tidak apa-apa?’ tanya Imran.

Dia agak sedikit salah tingkah sesudah bertanya demikian. Dia ingat cerita mimpi ibu.

‘Tidak. Ibu tidak apa-apa. Kenapa?’ ibu bertanya sambil tersenyum.

‘Tidak apa-apa, bu. Biar awak teruskan bacaan ini.’

Imran meneruskan mengaji. Masih ada beberapa kali lagi petir berbunyi. Dan guruh yang mengguntur. Serta suara hujan menimpa atap seng.

Sesudah mengaji Imran berdoa. Mendoakan ayahnya. Mendoakan agar ibu disembuhkan Allah. Mendoa agar dia berhasil dalam ujian akhir SMP nanti. Imran berdoa dengan suara keras. Ibu tersenyum mendengar doa itu. Dan beliau ikut mengaminkan.

Hujan mulai reda pula kembali. Bunyi curahan hujan di atap seng tidak terdengar lagi. Tapi guruh masih terdengar sekali-sekali.

Imran yang sudah keletihan tertidur di dipan di samping tempat tidur ibu.


*****

Tuesday, April 14, 2009

DERAI-DERAI CINTA (3)

3. MIMPI

Seperti biasa, pagi itu Imran menyiapkan makanan untuk ibunya. Sesudah membantu membersihkan tubuh orang tua yang dikasihinya itu. Imran sungguh seorang anak yang berbakti. Tidak pernah sekalipun dia menunjukkan kekesalannya dalam merawat ibunya itu. Dibantunya orang tuanya menggosokkan gigi, menyiapkan pispot, disiapkannya air untuk membersihkan diri sesudah ibunya buang hajat (alhamdulillah ibunya masih bisa melakukan itu sendiri dengan tangannya yang tidak lumpuh), mengangkat pispot sehabis digunakan, membantu mengganti pakaian ibu. Semua dibantu Imran tanpa omelan, tanpa kekasaran. Semua dilakukannya dengan sepenuh hati dan kesabaran. Dia pula yang mencuci pakaian orang tuanya itu. Dia yang memasak makanan. Sebuah rangkaian pekerjaan yang anak perempuan pun mungkin tidak banyak yang mampu melakukan.

Imran sadar bahwa ibu sangat memerlukan pertolongannya. Tanpa bantuannya ibunya tidak akan berdaya apa-apa. Tanpa bantuannya ibunya tidak akan terurus. Kalau ibunya sampai tidak terurus penyakitnya akan bertambah berat. Dan Imran tidak ingin kehilangan ibu. Imran sangat sadar akan semua itu. Kesadaran yang menambah semangatnya untuk semakin berbakti kepada ibu yang sangat dikasihinya.

Pagi itu, ketika menemani ibu sarapan, mereka terlibat dalam percakapan seperti biasa.

‘Tinggal berapa hari lagi sebelum ujian akhir Ran ?’ tanya ibu.

‘Tiga minggu lagi bu. Tanggal 14 Mai nanti,’ jawab Imran.

‘Bagaimana kira-kira? Sudah siap kamu?’

‘Mudah-mudahan bu. Mudah-mudahan sudah siap.’

‘Mungkin sementara ini dihentikan dulu mengurus pisang. Berhenti dulu main bola. Pergunakan waktumu sebaik-baiknya untuk belajar,’ kata ibu.

‘Tidak apa-apa ibu. Awak cukup belajar malam hari saja. Sebelum tidur dan pagi-pagi sebelum subuh,’ jawab Imran.

‘Jaga betul kesehatanmu Ran. Tidak terbayangkan kalau kamu ikut sakit pula......’ dan mata ibu mulai berlinang-linang.

‘Iya ibu. Awak berusaha menjaga kesehatan. Ibu doakan saja, mudah-mudahan awak senantiasa ditolong Tuhan Allah,’ jawab Imran sambil menyapu mata ibu yang berair.

Mereka sama-sama diam sejenak.

‘Ran, tadi malam ibu bermimpi agak aneh,’ ibu kembali memulai pembicaraan.

‘Mimpi apa bu ?’

‘Ibu bermimpi memetik petir di langit. Hari gelap gulita, tiba-tiba ada petir. Ibu berusaha mengambil petir itu di langit, tapi ibu terjungkal.’

‘Mungkin itu mimpi permainan tidur saja agaknya ibu,’ jawab Imran.

‘Ya. Sepertinya begitu. Sepertinya mimpi tidak karuan...... Tapi .... anehnya.’

Ibu tidak meneruskan kata-katanya karena tersedak. Imran mengambilkan gelas dan menyodorkan minuman itu ke mulut ibu. Ibu minum beberapa teguk.

‘Tapi anehnya, ibu bermimpi yang sama dua kali. Pada saat mimpi kedua, rasanya ibu terjungkal dan jatuh dihimpit batu.’

‘Terus bagaimana?’

‘Ibu terbangun, dan badan ibu basah oleh keringat.’

‘Atau mungkin karena di kampung kita sekarang sudah masuk listrik. Lalau ibu bermimpi seperti ketika kita dulu mengurus surat-surat untuk memasukkan listrik ke rumah ini,’ Imran mencoba menduga-duga arti mimpi itu.

‘Tapi sekarang kan rumah kita sudah diterangi listrik. Dan kita tidak ada masalah waktu memasukkannya dulu.’

‘Ya juga ya bu. Entah apalah artinya mimpi ibu. Mudah-mudahan, kalaupun ada artinya, sesuatu yang baik saja hendaknya yang akan terjadi.’

Ibu dan anak itu menyelesaikan sarapan mereka. Imran bergegas untuk berangkat ke sekolah. Setelah segala sesuatunya beres barulah dia berangkat. Ibu selalu mengingatkan agar dia berhati-hati di jalan.

Sepanjang jalan Imran memikirkan apa agaknya ma’na mimpi ibunya itu. Tiba-tiba dia tersadar, bahwa dia juga pernah bermimpi agak aneh beberapa hari yang lalu. Di dalam mimpinya dia melihat pohon-pohon pisang di kampung itu rubuh semua dilempari orang dengan batu. Entah siap yang melemparinya. Bahkan pisang yang sudah dibelinya, yang disimpan di dalam kandang di bawah rumah juga habis ditindis batu. Hanya saja Imran tidak memikirkan mimpi itu sedikitpun. Mimpi memang seringkali berbentuk aneh-aneh, seperti sesuatu yang tidak masuk di akal. Seperti mimpi ibu memetik petir.

Imran sampai di sekolah. Dan melupakan urusan mimpi-mimpi aneh itu.


***

Dua hari kemudian, ketika mereka sarapan bersama-sama lagi, ibu bercerita bahwa tadi malam, beliau kembali bermimpi tentang hal yang sama. Kali ini hati Imran bergetar. Diam-diam diperhatikannya wajah ibu. Ada seberkas kekhawatiran di dalam hatinya. Apa artinya ibu terjungkal ketika memetik petir? Diam-diam diperhatikannya tempat tidur ibu. Sebuah tempat tidur besi yang kokoh. Dan ibu tidur dibagian tengah tempat tidur itu. Di hadapan tempat tidur diletakkan meja, sebagai penghalang, sekaligus untuk digunakan ibu ketika beliau makan. Ah, mudah-mudahan itu hanya sebuah mimpi kosong. Atau sekurang-kurangnya, dia cukup yakin ibu tidak akan jatuh dari tempat tidur yang kokoh ini. Karena lumpuh separo badan, ibu tidak bisa banyak bergerak dalam tidurnya. Jadi mudah-mudahan mimpi itu tidak akan berarti ibu terjatuh dari tempat tidur.

Rupanya ibu juga memperhatikan kecemasan di muka Imran.

‘Tempat tidur ini cukup kokoh. Mudah-mudahan ibu tidak akan jatuh dari tempat tidur ini,’ kata ibu, ketika beliau melihat mata Imran mengamati tempat tidur.

‘Betul, bu. Tempat tidur ini cukup kokoh.’ Jawab Imran.

‘Dan bukankah ibu tidak sanggup bangun untuk duduk sendiri,’ tambah ibu.

‘Ya, benar bu. Mudah-mudahan tidak ada hubungannya mimpi ibu dengan.........’ Imran tidak meneruskan kata-katanya.

‘Mudah-mudahan demikian.’

Kedua ibu dan anak itu terdiam sejenak. Ibu melanjutkan menyuap sendiri makan paginya.

‘Kau harus melanjutkan sekolah setamat SMP nanti Ran,’ ibu mengalihkan pembicaraan.

Imran tidak menjawab. Ditatapnya mata ibu dengan hati-hati.

‘Lanjutkan sekolahmu. Entah ke STM entah ke SMA. Yang penting lanjutkan sekolahmu!’ kata ibu menambahkan.

‘SMA dan STM hanya ada di Bukit Tinggi ibu. Kalau pergi sekolah sejauh itu, pasti akan sangat lama awak meninggalkan ibu. Biarlah awak nantikan ibu lebih sehat. Baru awak bersekolah kembali,’ jawab Imran.

‘Penyakit ibu ini entah kapan akan sembuhnya. Kau pasti sanggup melakukan seperti sekarang ini, nak. Biarlah agak sedikit lebih lama kau berada di luar rumah. Insya Allah ibu tidak akan apa-apa.’

‘Awak khawatir kalau harus meninggalkan ibu terlalu lama. Kalau sekolah di Bukit Tinggi mungkin jam tiga baru awak akan sampai di rumah. Siapa yang akan menjaga ibu selama itu ?’

‘Kau jangan khawatir. Nek Piah selalu meluangkan waktu menolong ibu. Berjanjilah, bahwa kau akan melanjutkan sekolah.’

‘Biarlah awak pikir-pikir dulu ibu. Kita berdoa, mudah-mudahan ada nanti jalan keluarnya.’

Ibu tersenyum mendengar jawaban Imran.

‘Satu lagi Ran,’ ibu memulai lagi setelah hening sesaat.

‘Ya, ibu.’

‘Kita tidak tahu apa-apa yang akan terjadi besok atau lusa. Nyawa kita di tangan Allah. Seandainya singkat umur ibu....’

‘Jangan katakan itu, ibu......,’ Imran memotong kata-kata ibu.

‘Benar, nak. Nyawa kita ditangan Allah. Seandainya terjadi apa-apa dengan ibu, pandai-pandai kau meniti hidup, nak. Pandai-pandai kau membawa diri. Dan jangan sekali-kali kau lupakan shalat! Senantiasa doakan ayah dan ibu!’

Imran tidak dapat menahan tangis. Sesak dadanya mendengar kata-kata ibu. Pertanda apakah agaknya ini ?

Sebenarnya, tadi malam diapun bermimpi yang sama. Seperti mimpinya beberapa hari yang lalu. Semua pohon pisang di kampung itu habis runtuh ditimpa batu. Entah siapa yang melemparinya dengan batu. Kenapa dia sampai bermimpi yang sama dua kali? Atau mungkinkah karena terpengaruh cerita ibu yang juga bermimpi berulang-ulang? Imran tidak mau menceritakan mimpinya itu.

Imran mengemasi piring bekas mereka sarapan dan dibawanya ke dapur. Sebelum pamit mau berangkat ke sekolah, disalaminya ibu. Diciumnya tangan ibu.

‘Mudah-mudahan Tuhan Allah melindungi kita semua, ibu,’ katanya sesenggukan.

Ibu tersenyum dan mengangguk.

‘Hati-hati kau dijalan, nak,’ kata ibu seperti biasa.

Imran mengangguk.

Pikirannya buncah dalam perjalanan ke sekolah. Tidak henti-hentinya dia berdoa, agar kiranya dia dan ibunya senantiasa dilindungi Yang Maha Kuasa.


*****

Monday, April 13, 2009

DERAI-DERAI CINTA (2)

2. IMRAN

Pemandangan di kampung inipun sangat elok. Di sebelah selatan terlihat gunung Marapi dengan gagahnya. Kalau diperhatikan dengan teliti terlihat punggungan gunung ini berlembah-lembah. Semua bagian gunung, termasuk lembah-lembah itu ditumbuhi pohon-pohon kayu. Agak jauh ke arah timur terlihat pula gunung Singgalang. Kedua gunung itu diliputi warna biru kehijauan. Menyejukkan mata memandang.

Di tengah kampung mengalir sebuah sungai kecil. Penduduk menyebutnya batang air. Batang air itu mengalirkan air untuk mengairi sawah-sawah di kampung. Airnya tidak deras. Di dasarnya terdapat batu-batu gunung berbagai macam ukuran. Di pinggir batang air banyak tumbuh pohon betung dengan pucuknya menari-nari lemah gemulai.

Rumah penduduk terlihat bertumpuk-tumpuk. Ada yang terletak di pinggir jalan kampung yang dapat dilalui kendaraan beroda empat, ada pula yang terletak di tengah kampung. Ke bagian tengah ini hanya ada jalan setapak. Sebagian jalan setapak itu melalui pekarangan-pekarangan rumah. Antara satu tumpukan dengan tumpukan lain terdapat kebun-kebun pisang. Ada beberapa buah rumah gadang bergonjong di kampung ini. Yang lebih banyak adalah rumah kayu tanpa gonjong serta rumah tembok bergaya rumah-rumah di kota. Ada yang ditembok permanen seutuhnya, ada yang separo tembok separo papan. Di antara rumah-rumah itu, selain mempunyai kebun pisang banyak pula yang mempunyai kolam ikan. Di kolam dipelihara berjenis-jenis ikan, yang hasilnya, meski hanya dipanen sekali setahun, dapat pula di jual ke pasar.

Sebagaimana halnya di setiap nagari di Ranah Minang, masyarakat di kampung-kampung mempunyai sistim kekerabatan melalui jalur garis keturunan ibu. Meskipun sistim kekerabatan seperti ini sudah banyak mengalami pergeseran, terutama untuk mereka yang tidak lagi tinggal di kampung, tapi ada sisa dari sistim kekerabatan itu yang masih bertahan yaitu berkelompoknya kaum wanita sepersukuan di tanah pusaka mereka. Rumah-rumah baru yang dibangun masih menempati tanah pusaka adat di dalam kelompok asal. Mereka tinggal berkelompok di bawah payung persukuan. Seorang suami pulang ke rumah istrinya di persukuan lain. Meskipun tanggung jawab mencari nafkah sekarang dipikul oleh laki-laki sebagai kepala keluarga, hubungan kekerabatan melalui jalur garis ibu masih sangat kental. Ketika seorang suami membuat rumah baru untuk anak-anaknya di kampung, biasanya rumah itu dibangun di tanah pusaka istrinya.

Di suku Sikumbang di kampung itu ada empat buah rumah. Dua buah rumah bergaya lama, sebuah rumah tembok dan sebuah rumah semi permanen. Dua dari keempat buah rumah itu kosong. Rumah tembok dihuni seorang nenek yang sudah berumur enam puluh tahun lebih. Nenek ini mempunyai tiga orang anak laki-laki dan dua orang anak perempuan. Dua orang anak laki-lakinya tinggal di kampung, menikah dengan orang sekampung. Seorang anak laki-laki yang lain bekerja di Caltex di Rumbai. Kedua orang anak perempuannya tinggal di Jakarta. Satu dari rumah tradisional adalah rumah asal keluarga nenek itu, dibiarkan kosong.

Rumah papan tradisional yang satu lagi ditempati seorang wanita janda yang tinggal berdua saja dengan anak laki-laki remajanya. Saudara sepupu wanita itu, yang ikut memiliki rumah gedang itu, ada tiga orang wanita tapi tidak satupun yang tinggal di kampung. Ketiganya merantau ke Medan.

***

Imran seorang remaja yang duduk di kelas tiga SMP. Seorang anak muda yang gagah dan elok laku. Dia anak tunggal. Ibunya seorang janda yang tadinya seorang pedagang pengumpul pisang. Ayahnya meninggal ketika Imran masih duduk di kelas tiga SD.

Di sekolah Imran termasuk anak yang cerdas. Pergaulan dengan teman-temannya sangat baik. Dia disenangi semua orang. Bahkan anak-anak perempuan banyak yang suka melirik-lirik kepadanya. Melihat wajahnya yang gagah dengan rambut ikal bergelombang dan bayangan kumis yang mulai tumbuh. Tapi Imran tidak pernah mau mengacuhkan perhatian anak-anak perempuan yang agak-agak genit itu.

Ibu Imran seorang wanita yang ulet dan tabah. Dia bekerja keras mencari nafkah untuk menopang kehidupan mereka berdua. Ibu itu mendidik Imran dengan kasih sayang yang tulus disertai dengan disiplin yang keras. Imran dilatih mandiri sejak masih kanak-kanak. Kehidupan penuh kasih sayang antara ibu dan anak itu menjadi buah bibir tetangga-tetangga.

Pada suatu hari ibu itu jatuh sakit. Mulanya seperti sakit demam biasa. Badannya panas. Kemudian diikuti oleh rasa lemah dan lemas. Badannya jadi lemah sebelah. Sejak itu, ibu yang malang itu menghabiskan hari-harinya di atas tempat tidur. Imran dengan telaten merawat ibunya, semampu yang dia bisa. Pagi-pagi sekali ditolongnya orang tua itu membersihkan badan, diambilkannya makanan, disediakannya air minum dekat jangkauannya, sebelum dia sendiri bersiap-siap untuk pergi sekolah. Imran jugalah yang memasak nasi membuat lauk untuk mereka makan berdua. Karena keadaan ibunya yang sakit tak berdaya, dan rasa tanggung jawabnya yang tinggi, Imran berkembang menjadi seorang remaja yang cekatan dan serba bisa.

Nama ibu Imran itu Rohana. Orang banyak memanggilnya Ana. Tek Ana. Tek Ana seorang wanita yang sabar. Begitu ketika dulu dia segar bugar, begitu juga sekarang ketika dia dalam keadaan sakit. Tidak pernah terdengar keluh kesah dari mulutnya. Di awal masa sakitnya, dia dibawa ke rumah sakit di Bukit Tinggi. Di sana dia dirawat selama hampir satu bulan. Biaya pengobatan di rumah sakit itu cukup besar, menghabiskan simpanan hasil berdagang pisang selama ini. Namun penyakitnya tidak sedikitpun berkurang. Akhirnya dia minta dibawa pulang dan dirawat di rumah saja.

Selama Imran di sekolah nenek di sebelah rumah, yang oleh ibunya dipanggil mak Piah menolong melihat-lihatkan ibunya.

Nenek Rafiah adalah saudara ibu dari orang tua etek Ana. Artinya ibu nenek Rafiah dan nenek etek Ana beradik kakak kandung. Mereka tidak tinggal serumah. Masih banyak kaum famili mereka yang lain tapi umumnya sudah pergi merantau. Nenek Rafiah tinggal sendirian di rumah tembok baru, disamping rumah gedangnya. Sebenarnya dia mempunyai dua orang anak laki-laki yang tinggal di kampung. Keduanya jadi pegawai negeri di Bukit Tinggi dan mereka tinggal di rumah istri mereka masing-masing. Biasanya, mereka datang melihat orang tua itu hanya di hari Minggu saja.

Ketika etek Ana masih sehat, dia yang lebih banyak merawat dan membantu nenek Rafiah alias mak Piah. Dan sekarang, ketika dirinya terbujur sakit di tempat tidur, mak Piah yang rajin datang menolongnya. Begitulah keakraban orang perempuan di kampung yang masih sangat erat terikat dalam kekerabatan melalui garis ibu.

Tek Ana mengajari Imran untuk meneruskan usaha perdagangan pisang. Imran melakukannya di sela-sela kegiatan sekolah. Hasilnya tentu tidak maksimal, tapi masih lumayan bisa berjalan. Karena keeloklakuan anak bujang itu, banyak juga orang kampung yang bersimpati kepadanya. Ketika pedagang pengumpul berkeliling kampung untuk membeli pisang yang masih tergantung di pohon, pemiliknya tidak mau menjual dan mengatakan bahwa pisangnya sudah dibeli Imran.

Pekerjaan membeli dan mengumpulkan pisang itu tidaklah sulit. Pemiliknya memberi tahu dan Imran datang menebang dan mengambil buah pisangnya untuk dikumpulkan dulu di rumahnya. Pohon pisang yang ditebang itu disingkirkannya dengan baik, sehingga kebun pisang orang terpelihara kerapiannya. Pemilik kebun jadi semakin senang menjual pisang mereka kepada Imran.

Buah pisang itu kemudian dijual kepada pedagang pengumpul yang akan membawanya ke kota. Keuntungan yang diperolah Imran tidak sebesar keuntungan pedagang yang menjualnya di pasar. Pernah Imran dibawa ikut menjual pisang ke Paya Kumbuh di hari Minggu oleh seorang toke. Lebih lumayan keuntungan yang didapatnya. Tapi ada yang mementahkan semangatnya untuk ikut lagi dengan toke pisang pemilik truk itu. Toke itu mengiyakan ketika pedagang lain menanyakan apakah Imran ‘anak jawi’nya. Kata-kata anak jawi itu sangat menjijikkan di telinga Imran.

Kata-kata anak jawi itu sangat akrab, seakrab ungkapan carut, di kalangan preman cengkerik di kampung itu. Si Anu anak jawi si Anu. Si Fulan anak jawi si Falun. Anak jawi, konon artinya ‘gendak’ laki-laki orang laki-laki. Entahlah kebenaran arti kata-kata itu dan entah bagaimana ma’na sebenarnya dari kata-kata itu. Buat Imran kata-kata itu sangat menjijikkan.

Sibuk mengurus orang tuanya yang sakit ditambah dengan kesibukan mengumpul dan menjual pisang tidak berarti Imran tidak bisa ikut bermain dengan teman sama besar. Dia pemain sepak bola yang baik dan sangat menyukai olah raga itu. Sekali seminggu disempatkannya juga ikut berlatih dan bermain sepak bola. Kalau ada pertandingan dengan kesebelasan dari kampung lain, dia sering diikutsertakan meskipun umurnya masih muda. Yang ikut bertanding rata-rata adalah anak muda yang sudah sekolah di STM. Imran adalah perkecualian.

Meskipun masih muda tapi badannya tinggi kukuh dan atletis. Dia pandai dan lincah dalam bermain. Larinya kencang dan tendangan umpannya biasanya cermat. Kalau bola dikuasai lawan dia rajin mengejar dan berusaha keras merampasnya kembali. Tendangannya ke gawang lawan menggentarkan hati penjaga gawang itu.

Pada suatu pertandingan, dia hampir pula naik pitam. Seorang bukan pemain memprotes agar Imran jangan ikut dimainkan dalam pertandingan. Yang ada dalam pikiran si pemerotes itu adalah bahwa Imran akan jadi titik lemah karena dia masih muda. Kalau kesebelasan kampung mereka kalah, si pemerotes akan kalah dalam pertaruhan. Ujung-ujungnya ternyata urusan hampok lagi.

Tapi bukan itu yang menyakitkan hatinya. Yang memerotes itu mengomeli pelatih sepak bola kampung dan mengatakan dia membiarkan Imran ikut bermain karena Imran anak jawinya. Wuih! Sakitnya telinga mendengar kata-kata itu. Imran menatap mata tukang protes itu dengan mata terbelalak. Untunglah si pelatih menjawab dengan mengatakan bahwa dia bukanlah laki-laki penggemar anak jawi seperti si pemerotes. Dan si pemerotes terpaksa diam dan berlalu.

Imran juga seorang anak yang saleh. Dia senantiasa menjaga shalatnya dengan baik. Shalat maghrib kadang-kadang dia ikut berjamaah di mesjid. Tidak banyak orang kampung yang ikut shalat berjamaah di mesjid itu. Apalagi anak-anak muda. Imran adalah sebuah pengecualian.


*****

Sunday, April 12, 2009

DERAI-DERAI CINTA (1)

DERAI-DERAI CINTA

Sebuah cerita fiktif. Mulai ditulis hari Ahad, 12 April 2009



1. KAMPUNG KEBUN PISANG


Inilah sebuah kampung yang elok di kaki gunung Marapi. Dengan tanah subur. Sawah-sawah terbentang luas. Dan kebun pisang yang terpelihara, terpisah dari sawah-sawah yang luas itu. Ya, kebun pisang. Bermacam-macam jenis pisang. Pisang ambon yang legit manis. Pisang raja serai yang juga legit. Pisang raja dan pisang batu yang biasa dibuat pisang goreng. Pohon-pohon pisang itu tumbuh subur. Dan pisang merupakan hasil khusus kampung ini. Seperti halnya di kampung sebelah menyebelah. Bertruk-truk pisang dari nagari ini (nagari adalah kumpulan beberapa kampung) dibawa setiap minggu ke Bukit Tinggi, untuk seterusnya disebar ke kota lain. Bahkan sampai ke Pakan Baru, ke Jambi. Ada beberapa orang toke pisang di kampung ini. Toke adalah istilah untuk pedagang pengumpul. Toke-toke yang punya truk sendiri, untuk mengangkut bertandan-tandan pisang dari kampung. Truk yang dapat digunakan pula untuk mengangkut hasil pertanian lain dari kampung-kampung tetangga.

Perekonomian rakyat nagari boleh dikatakan sangat baik. Mereka hidup berkecukupan. Sebagian besar dikarenakan usaha perdagangan pisang. Termasuk perdagangan daun pisang, perdagangan kerisik atau daun pisang yang sudah kering. Sebagian lagi hidup jadi pegawai negeri, jadi guru atau bekerja di kantor pemerintah. Ada yang di kantor kecamatan, ada yang di kantor-kantor lainnya di Bukit Tinggi. Kemakmuran penduduk tercermin dari banyaknya rumah-rumah tembok permanen. Listrik baru saja dimasukkan pemerintah kesini. Dan kampung ini terang benderang di waktu malam.

Di tengah kampung terletak sebuah mesjid besar dan megah. Di samping mesjid ada pula sekolah ibtidaiyah tempat kanak-kanak belajar mengaji. Biaya pembangunan mesjid megah itu sebagian dibantu orang rantau. Banyak anak kemenakan orang kampung ini yang berhasil di perantauan. Sayangnya mesjid yang megah itu ramainya hanya sekali se Jumat. Ditambah ketika diadakan perayaan khataman al Quran sekali setahun. Ditambah pada saat shalat tarawih di bulan puasa. Sehari-hari boleh dikatakan lengang saja. Meskipun azan selalu berkumandang melalui pengeras suara yang terletak di menaranya yang tinggi.

Ketika terlepas dari kesibukan perdagangan pisang, orang kampung lebih banyak mengisi waktu dengan kegiatan di luar mesjid. Orang dewasa menghabiskan waktu di lepau kopi sambil bermain domino dan menghotar ke hilir ke mudik. Anak-anak muda senang dengan olah raga. Terutamanya sepak bola dan voli. Ada sebuah lapangan sepak bola di kampung itu. Pertandingan antar kampung sering dilakukan di situ. Dan banyak anak-anak muda kampung yang hebat dalam bermain bola.

Karena uang banyak beredar, main domino di lepau bukanlah sekedar main domino. Biasanya ‘berimpit’. Itu istilahnya untuk bertaruh. Tidak dengan taruhan besar-besar, cukuplah dengan sebungkus rokok. Atau segelas teh telor. Orang yang punya lepau senang karena dagangannya laku. Dan bunyi batu domino itu berlapoh-lapoh diiringi gelak tawa berderai-derai. Ditingkahi sindir menyindir. Ramailah pokoknya.

Hanya domino itu sajakah jenis perjudian? Oh tidak. Malam hari, orang pergi ke dangau di pinggir batang air untuk main kartu kuning. Istilahnya ‘bakoa’. Disini taruhannya benar-benar uang. Mau yang lebih heboh? Ada juga. Namanya main kiu-kiu. Alias main poceng. Main kartu remi yang dibagikan tiga-tiga lembar lalu diuji siapa yang mempunyai angka paling tinggi. Ada seorang yang jadi bandar dalam permainan kiu-kiu. Stokar truk pengangkut pisang biasanya sering menjadi bandar karena uangnya banyak. Setiap akhir pekan dia menerima gaji. Bandar yang mengocok kartu. Seorang pemain memotong kartu itu sebelum dibagi. Begitu pula aturan mainnya. Lalu bandar membagikan kartu remi itu satu demi satu lembar berkeliling untuk masing-masing peserta. Setiap pemain meletakkan nilai taruhannya di lantai di hadapan mereka. Bandar meletakkan jumlah uang yang lebih di hadapannya.

Bandar memidik, membuka kartunya dari ketiga lembar yang dilimpit dengan pelan-pelan dan hati-hati. Untuk melihat berapa mata kartunya. Pemain lain, pemasang istilahnya, menunggu harap-harap cemas. Apakah bandar menarik nafas kecewa, bahkan ada kalanya bercarut, untuk menunjukkan bahwa nilai kartunya rendah? Setelah itu setiap pemainpun ikut memidik kartu mereka dengan hati berdebar-debar. Diiringi desahan atau kegembiraan penuh harap. Lalu setiap mereka, meletakkan kartu-kartu yang sudah dibuka itu dilantai di hadapan mereka. Bandar mematut berkeliling. Sambil menghitung. Mana yang makanan, mana yang harus dibayar. Kalau angka kartu pemain lebih tinggi dari kartu bandar, bandar harus membayar. Sebaliknya kalau kartu bandar yang nilainya lebih tinggi, uang pasangan pemain dipungutnya. Main kiu-kiu cepat menghabiskan uang. Berapa uang yang dibawa bisa habis semalam itu. Gaji sepekan stokar truk bisa ludes dalam sekejap. Yang menang bisa panen dalam semalam.

Main koa, lebih irit. Permainan ini biasanya berlarut-larut memakan waktu. Pemainnya harus berusaha melengkapi dan menyusun kesebelas kartu ceki mereka untuk menang. Ada sedikit keahlian diperlukan. Keahlian dan kejelian menghitung kartu yang tercabut sebelum menentukan di kartu mana ceki akan dipasang. Main koa biasanya permainan orang dewasa. Permainan mamak-mamak. Mereka bermain dengan bertenang. Menang dan kalah biasanya tidak terlalu mencolok. Setiap peserta bergantian memenangkan permainan. Kalah menang jarang yang berhabis-habis.

Semua perjudian itu dilakukan dengan tenang-tenang dan aman-aman saja. Yang kalah herangkanlah sendiri. Yang menang tersenyum simpul. Kalau dia mau bolehlah sekedar membayarkan minum kopi kawan yang kalah pagi keesokan hari di lepau.

Judi memang tidak dilarang. Dan judi ada di mana-mana. Di Bukit Tinggi orang menjual kode buntut terang-terangan. Sekali semusim di Bukit Tinggi, seperti halnya di kota-kota lain diadakan pasar malam. Isi pasar malam itu berbagai arena ketangkasan. Arena ketangkasan adalah nama halus bagi perjudian ala kasino. Pemain menempatkan marka, di kotak angka pilihan mereka. Marka itu adalah lembaran plastik pengganti uang dengan nilai bertingkat-tingkat. Seorang pemain melemparkan panah ke arah lingkaran angka-angka atau roulette yang berputar kencang. Tidak seorangpun yang tahu di angka berapa panah itu tertancap. Roda itu dibiarkan berhenti pelan-pelan. Barulah jelas di angka berapa panah itu menancap. Pemain yang memasang di angka itu bersorak karena segera akan panen. Yang lain mendesah kecewa. Marka pasangannya ditarik bandar. Perjudian seperti ini juga cepat menguras dompet. Tidak jarang ada orang yang menjual murah jam tangan untuk penambah pokok. Ikut lagi bermain seputar dua putar. Habis lagi. Berjudi melawan baba Medan itu bagaikan menarik batu besar dalam lumpur. Makin dikerahkan tenaga makin dalam badan terpuruk.

Bandar arena ketangkasan di pasar malam itu datang dari Medan. Pasar malam biasanya berlangsung selama sebulan. Bahkan bisa pula diperpanjang. Meskipun namanya pasar malam, arena itu dibuka juga disiang hari. Pokoknya sangat berterang-terang. Bersuluh matahari, bergelanggang mata orang banyak. Banyak uang yang berhasil diraup bandar dari Medan itu.

Kegiatan di pasar malam itu mendapat izin resmi dari pemerintah kota. Konon, katanya bandar judi membayar pajak ke pemerintah kota dan uang pajak judi digunakan untuk memperbaiki fasilitas kebutuhan masyarakat. Anak-anak remaja dilarang masuk ke arena ketangkasan. Begitu teorinya. Ada polisi yang berjaga-jaga disitu. Tapi prakteknya anak-anak sekolah yang berjiwa preman, bebas saja ikut bermain.

Biasanya kalau ada pasar malam di Bukit Tinggi, kriminalitas meningkat. Perceraian suami istri meningkat. Bahkan seringkali jumlah orang yang bunuh diri meningkat.

Tidak adakah yang melarang? Yang menyeru agar masyarakat berhenti berjudi? Ada. Ulama, mubaligh, khatib tidak henti-hentinya menyampaikan kaji. Mengingatkan keburukan hampok alias judi. Keburukan dan nestapa yang diderita orang-orang kalah berjudi. Tapi sehebat seruan ulama, sekeras itu pula rayuan setan. Arena ketangkasan tidak pernah sepi. Belum pernah terdengar ada orang yang kaya karena berjudi. Sebaliknya sudah berpuluh beratus kasus orang yang hancur secara moril maupun materil karena judi. Namun judi tetap ramai juga.

Di kampung begitu pula. Ketika ada helat besar pasar malam di Bukit Tinggi, agak berkurang orang main. Mereka pergi ke Bukit Tinggi melawan toke judi dari Medan itu. Sama saja. Tidak pernah ada yang berhasil menangguk kemenangan. Bahkan ada pula desas-desus, baba Medan itu membawa serta jin topekong. Makanya mereka tidak pernah kalah. Sejauh ini memang belum ada yang sampai handam karam benar di kampung ini. Belum ada yang sampai menjual harta untuk dibawa ke meja judi. Tapi uang hasil perniagaan pisang, uang upah mengangkat pisang, upah melipat kerisik, gaji stokar oto prah, gaji pegawai negeri, sedikit sebanyak sudah sama-sama hanyut. Tapi mereka tidak ada yang kapok.

Kalau pasar malam usai judi di kampung kembali marak. Hampok koa atau main kiu-kiu sekurang-kurangnya sekali seminggu tetap berjalan. Sekedar untuk mengurangi kegusaran orang kampung yang tidak suka, judi itu dilakukan malam hari. Di dangau di tepi batang air atau di rumah tinggal yang tersisih di pinggir kampung.

Himbauan khatib dan ustad dari mimbar mesjid bagaikan sipongang kosong tak berbekas. Masuk di telinga kiri keluar di telinga kanan. Khatib boleh berkhotbah, ustad boleh menghimbau, tuanku boleh berpetuah, mengatakan bahwa judi itu haram, banyak mudaratnya, namun judi dan hampok tidak ada surut-surutnya.

Berapa banyak sebenarnya penduduk kampung yang terlibat perjudian? Meski tentu saja tidak semua anggota masyarakat menyukai judi, tapi jumlah yang terlibat cukup banyak. Ada kelompok anak-anak muda tanggung, biasa disebut preman cengkerik yang jadi buruh perdagangan pisang. Celakanya, ada yang masih bersekolah baik di SMP di kecamatan atau di STM di Bukit Tinggi ikut terpengaruh. Dan ada pula kelompok orang tua, toke-toke pisang, toke kerisik dan pegawai negeri. Biasanya anak-anak muda tidak mau sama duduk bermain dengan orang-orang tua. Karena perjudian orang-orang tua adalah hampok berhabis hari. Di samping rasa segan, karena yang bermain adalah mamak-mamak mereka. Tapi ada orang tua yang mau ikut bergalau di dangau anak-anak muda. Biasanya orang yang umurnya saja tua tapi wibawanya kosong di mata anak-anak muda..

Akibat maraknya judi, perbuatan kriminalitas pasti ada pula di kampung. Meskipun masih kelas maling ayam atau maling ikan di kolam. Atau pencurian pisang di kebun. Yang kemalingan pasti marah sekali. Mereka mengadu ke wali jorong, tapi tidak pernah ada hasilnya. Seolah-olah wali jorong melindungi kejahatan pencurian kecil-kecilan itu. Ketika ada yang mengadu ayamnya hilang, kata wali jorong, mungkin ayam itu ditangkap musang. Atau ketika ada yang mengadu tebat atau kolam ikannya dikacau maling, wali jorong menuduh berang-berang yang mencuri. Yang kecurian terpaksa hanya menyumpah dalam hati, tidak bisa berbuat lebih dari itu.

Pernah ada yang melaporkan sampai ke wali nagari. Wali nagari memarahi wali jorong. Tapi kemudian wali jorong balik memarahi si pelapor. Jadi kesimpulannya, kalau tidak mau ribut dengan wali jorong sebaiknya tidak usahlah melapor-lapor.


*****

Thursday, February 12, 2009

SHALAT DAN MESJID

SHALAT DAN MESJID

Bahwa shalat itu lebih utama dilakukan di awal waktu sudah lama aku dengar. Sudah lama juga aku dengar bahwa shalat berjamaah itu lebih baik dari shalat sendirian. Sudah lama pula aku dengar, sudah sejak masa-masa sekolah sampai masa jadi mahasiswa, bahwa shalat berjamaah di mesjid itu adalah lebih baik bagi laki-laki. Tapi untuk melaksanakan shalat dengan kondisi paling utama seperti itu lain lagi ceritanya. Tidak selalu mudah.

Sampai pada suatu hari di awal tahun 1991. Aku mendengarkan ta’lim dari seorang ustad yang waktu itu kami undang dari Dewan Dakwah Jakarta. Bahasan dalam ta’lim itu adalah mengenai keutamaan-keutamaan shalat. Ustad itu menyampaikan beberapa hadits Rasulullah SAW. Di antaranya tentang keutamaan yang nyaris merupakan kewajiban untuk mengerjakan shalat berjamaah di mesjid. Dalam sebuah hadits, kata ustad itu, Rasulullah SAW bersabda, ‘Demi jiwaku yang ada di tangan Nya, sesungguhnya aku hendak rasanya menyuruh orang-orang membawa kayu, lalu terkumpul, kemudian aku perintah supaya orang-orang shalat, lalu diadakan adzan buatnya, kemudian aku perintah seorang mengimami orang ramai, kemudian aku pergi kepada orang-orang yang tidak hadir buat shalat, lalu aku bakar rumah-rumah mereka buat kerugian mereka. Dan demi (Tuhan) yang diriku di tangan Nya, sekiranya seorang dari mereka mengetahui bahwasanya ia akan mendapat tulang yang berdaging gemuk atau daging dua rusuk yang baik, niscaya ia hadir di shalat isya.’

Begitu kerasnya anjuran Nabi SAW menyuruh pengikut beliau untuk mengerjakan shalat berjamaah di mesjid, meski tidak pernah sampai beliau membakar rumah orang yang tidak hadir shalat berjamaah.

Penyampaian ustad dari Dewan Dakwah itu menyentuh dalam ke lubuk hatiku. Kami, empat orang peserta pengajian yang tinggal dalam komplek perumahan kantor berunding, untuk mendiskusikan bagaimana cara mengimplementasikan ilmu yang baru kami terima. Untuk pergi ke mesjid terdekat dari komplek perumahan kami berjarak sekitar dua sampai tiga kilometer. Kami mempunyai kendaraan. Harusnya tidak ada alasan untuk tidak mendatangi mesjid terdekat.

Tapi kami masih menawar. Kami bersepakat untuk mulai mengerjakan shalat berjamaah berempat saja di sebuah mushala yang sudah tidak terpakai, yang diletakkan di pinggir lapangan olah raga. Bangunan mushala (port a camp) yang tadinya digunakan di lingkungan perkantoran kemudian dipindah sesudah sebuah mushala baru dibangun.

Kami yang empat orang ini, dengan segenap daya berusaha untuk istiqamah, untuk selalu hadir berjamaah, terutama di waktu subuh, maghrib dan isya karena shalat zhuhur dan asar kami lakukan di mushala kantor. Alhamdulillah, dengan segala tantangan yang kami hadapi, untuk jangka waktu cukup lama kami berhasil. Sangat jarang kami tidak berjamaah (berempat) di mushala mungil itu. Kadang-kadang kami bawa serta istri-istri kami di waktu maghrib dan isya. Bahkan di hari-hari libur ada satu dua orang rekan lain yang datang ikut berjamaah di waktu subuh. Apa yang kami lakukan menjadi perhatian rekan-rekan sekantor yang lain. Umumnya mereka hanya jadi penonton, meski ada juga yang berkomentar dan bertanya. Bahkan ada yang berkomentar miring, seolah-olah kami tiba-tiba berubah menjadi ekstrim di mata mereka.

Berjamaah berempat di mushala di pinggir lapangan olah raga itu berlangsung selama lebih dari satu tahun. Suatu saat, seorang di antara kami berangkat untuk bertugas di luar negeri. Satu orang yang lain kelihatannya mulai kecapek-an. Tinggallah hanya kami berdua orang saja. Nyaris berakhirlah kebiasaan berjamaah yang sudah dijalankan lebih setahun. Untunglah, kebetulan di komplek perumahan Pertamina dekat tempat kami tinggal, baru dibangun sebuah mesjid kecil. Ke sanalah akhirnya aku bergabung. Jamaah mesjid itu tidak banyak. Di waktu subuh hanya sekitar enam sampai delapan orang. Aku berusaha selalu hadir untuk shalat subuh, maghrib dan isya di mesjid kecil itu. Jemaah mesjid itu sedikit demi sedikit bertambah banyak. Terutama di waktu subuh. Beberapa teman sekantor yang lain, yang tinggal di komplek perumahan ikut pula bergabung. Kami latihan memberikan kuliah tujuh menit secara bergantian. Dan kami bergantian pula menjadi imam.

Aku berusaha memelihara kebiasaan berjamaah ini walaupun aku pergi ke kota lain. Misalnya ketika berada di kampung, di Bukit Tinggi atau di Pakan Baru di saat cuti. Atau kalau sedang bertugas kantor dan menginap di hotel di Jakarta. Sekurang-kurangnya aku shalat di mushala hotel.

Di akhir tahun 1993 aku pindah dari Balikpapan ke Jatibening Bekasi. Di komplek tempat tinggalku yang baru ada sebuah mesjid swadaya penghuni komplek. Mesjid yang terletak di tengah-tengah komplek itu sangat dekat dari rumahku. Aku selalu hadir untuk shalat berjamaah di mesjid itu. Jamaah subuhnya hanya sekitar delapan orang. Empat orang adalah tukang bangunan yang menompang menginap di mesjid. Sebagai pendatang baru, aku diterima cukup baik pada awalnya. Pada suatu subuh, aku ditawarkan menjadi imam. Aku menolak dengan alasan bahwa aku masih berstatus tamu. Bapak tua yang menawariku jadi imam itu setengah mendesak. Aku masih menolak dengan mengatakan bahwa aku tidak membaca qunut. Dia masih tetap menyuruhku maju dan mengatakan, tidak ada masalah, tapi tolong i’tidal (berdiri sesudah rukuk) kedua agak dipanjangkan. Akhirnya aku maju menjadi imam.

Bulan puasa di sekitar bulan Maret di tahun 1994. Jamaah tarawih ternyata banyak sekali dan sebagian jamaah terpaksa shalat di beranda mesjid. Aku segera menemui keganjilan pertama. Jamaah laki-laki dan jamaah perempuan bersisian di dalam mesjid. Mesjid itu dibagi dua memanjang. Jamaah laki-laki di sebelah kanan dan jamaah perempuan di sebelah kiri. Di antaranya ada pembatas / sekeram dari kain.

Di antara shalat tarawih dan witir ada kultum dari jamaah untuk jamaah. Aku diminta pula untuk ikut memberikan kultum. Aku sampaikan hadits Rasulullah tentang aturan saf laki-laki dan perempuan. Bahwa sebaik-baik saf untuk laki-laki adalah yang paling depan, sementara sebaik-baik saf untuk wanita adalah yang paling belakang. Aku jelaskan bahwa betapa beresikonya shalat bersisian antara bapak-bapak dan ibu-ibu yang hanya dibatasi selembar kain, padahal bapak dan ibu yang bersisian bukan muhrim.

Orang yang dituakan di mesjid ini dapat menerima yang aku sampaikan. Tapi tidak demikian halnya dengan beberapa orang jamaah lain. Pada suatu kesempatan yang aku tidak hadir bertarawih, si pemberi kultum menghujat dengan kata-kata pedas. Siapa itu orang baru yang sok sekali itu, katanya. Baru datang sudah merobah-robah aturan dan mengatur-atur. Kebetulan ada adikku yang hadir mendengarkannya dan menyampaikan isi kultum itu kepadaku. Maksudnya, agar aku jangan terlalu frontal mengoreksi kebiasaan-kebiasaan masyarakat komplek.

Selama bulan puasa tahun pertama itu posisi jamaah laki-laki dan perempuan bersisian tetap berlanjut. Barulah tahun berikutnya berubah menjadi laki-laki di depan.

Aku selalu hadir shalat berjamaah di mesjid itu. Shalat yang manapun, selama aku ada di rumah ketika masuk waktu shalat. Waktu akan shalat zhuhur dan asar di hari Minggu seringkali pintu mesjid terkunci dan aku shalat di beranda mesjid. Aku ajak pemuka mesjid mengadakan diskusi mingguan dengan menggunakan buku rujukan, misalnya kitab hadits shahih untuk membahas hal-hal ringan dan perlu-perlu. Alhamdulillah, orang yang paling dihormati di mesjid itu mau menerima ajakan tersebut. Meskipun diskusi seperti itu segera saja jadi tidak disenangi, ketika beberapa kali yang dibahas menyangkut hal-hal yang selama ini sudah dilakukan di mesjid ini. Contohnya seperti pengaturan saf.

Aku kritik pula kebiasaan melantunkan shalawat badar di antara azan dan iqamat, pada hal orang sedang mengerjakan shalat sunat. Silahkan bershalawat, kataku, tapi jangan sampai mengganggu urang yang sedang shalat (sunat). Orang yang sedang shalat itu sedang berusaha khusyuk dalam shalatnya, akan terganggu oleh lantunan shalawat badar yang menggunakan mikrofon.

Meskipun ada di antara jamaah itu yang terang-terangan menunjukkan ketidak-senangan terhadapku, aku berusaha santai saja. Tidak ada niatku untuk melayani dan mencari musuh. Bukankah mesjid tempat beribadah yang utama?

Jamaah shalat subuh tetap tidak lebih dari sepuluh orang dan sebagiannya adalah para tukang. Penghuni komplek yang ikut berjamaah hanya empat - lima orang dan itupun tidak semuanya secara berkesinambungan. Ketika shalat maghrib lumayan banyak yang ikut, bisa sampai belasan orang sementara shalat isya jumlahnya kembali berkurang. Karena aku selalu hadir lebih awal, seringkali akulah yang jadi imam.

Tanpa kusadari, ada kecenderungan jamaah dari warga komplek bertambah satu demi satu. Ini semata-mata karena hidayah Allah SWT. Aku tidak pernah sekalipun mengajak orang perorangan untuk ikut berjamaah, kecuali pada kesempatan kultum, aku sampaikan betapa baiknya seandainya kita bisa hadir berjamaah ke mesjid.

Pada saat pergantian pengurus mesjid, aku dipilih dan diangkat untuk menjadi ketua pengurus. Kami perbaiki sedikit demi sedikit kegiatan di lingkungan mesjid. Taman Pendidikan Al Quran yang sebelumnya sudah ada lebih diintensifkan lagi. Kegiatan-kegiatan sosial, kegiatan pengajian mingguan, majelis ta’lim ibu-ibu lebih ditingkatkan. Aku ajak jamaah yang sudah mulai juga bertambah untuk berdiskusi sekali seminggu.

Dari salah satu diskusi (setiap diskusi selalu dengan menggunakan kitab rujukan) kami sadari bahwa mesjid harus mempunyai imam shalat rawatib tetap. Jadi bukan imam bergantian karena senioritas. Maka kami adakan pemilihan imam yang melibatkan jamaah shalat tarawih (karena biasanya jumlahnya lebih banyak). Aku dipilih menjadi imam tetap. Tentu saja ada juga imam pengganti, yang akan menjadi imam kalau imam tetap berhalangan.

Alhamdulillah, sekali lagi alhamdulillah. Jumlah jamaah itu selalu bertambah. Puncaknya, pernah kami shalat subuh dengan 70 orang jamaah laki-laki dan tiga puluh orang jamaah perempuan. Walaupun ada sedikit penurunan sesudah itu. Karena ada beberapa dari mereka yang sudah meninggal dunia ataupun pindah ke tempat lain.

Ada-ada saja kejutan bagiku menyaksikan pertambahan jumlah jamaah. Ada bapak-bapak yang sering berpapasan denganku ketika aku pulang dari shalat subuh, beliau dalam pakaian olah raga, berjalan kaki di pagi buta. Kami saling bertegur sapa. Suatu saat, tahu-tahu beliau hadir di mesjid dan sejak itu jadi jamaah tetap mesjid. Ada yang berdiskusi denganku di tempat jaga malam, ketika dulu, di tahun 1998 kami ikut ambil bagian dalam pengamanan komplek. Dia bertanya bermacam-macam hal, seperti bagaimana hukumnya main gaple meski tidak bertaruh. Dibumbuinya pula, bukankah orang Padang sangat hobi main domino alias main gaple. Aku jawab tidak ada apa-apa, selama tidak terjadi apa-apa. Dia bingung dan bertanya apa maksudku. Aku suruh dia membayangkan, bagaimana seandainya, jika Allah berkehendak, dia menemui ajalnya di meja gaple itu? Mungkin karena serangan jantung? Tidakkah dia berpikir, hal itu akan sangat memalukan di hadapan Allah kelak? Bapak itu terdiam. Beberapa hari kemudian dia muncul di mesjid, ikut berjamaah. Ada yang baru diangkat jadi ketua RW, berpidato, menyampaikan ajakan kepada pengurus mesjid untuk bahu membahu menjaga dan membangun komplek. Waktu aku juga diminta mengucapkan pidato, aku hanya mengajak bapak ketua RW itu untuk ikut berjamaah ke mesjid dan dengan cara itu insya Allah kerja sama itu akan berjalan dengan sendirinya. Dan diapun ikut ke mesjid sejak itu.

Untuk istiqamah menegakkan shalat berjamaah memang perlu tekad dan perjuangan pribadi. Di antara penghuni komplek ada yang masih dalam taraf berusaha tapi belum berhasil. Aku melihat mereka mencoba hadir untuk beberapa lama, lalu kemudian kembali gagal. Mudah-mudahan saja suatu saat mereka berhasil.

Waktu aku mula-mula datang di komplek ini aku pernah mendengar ada anak-anak warga komplek yang terlibat narkoba. Alhamdulillah sekarang sudah tidak ada lagi kegiatan seperti itu. Mungkin juga karena remaja 15 tahun yang lalu sekarang sudah jadi bapak-bapak pula. Tapi paling tidak mereka itupun, tidak ada lagi yang terlibat dengan barang haram itu.

Dulu ada rumah khusus tempat bapak-bapak bergadang main gaple sampai pagi. Sudah lama kegiatan itu berhenti. Penghuni rumah khusus itu sudah pindah dan sebagian besar pesertanya sekarang adalah jamaah tetap mesjid.

Aku sangat menikmati lingkungan tempat tinggalku sekarang ini. Dengan rasa persaudaraan dan kekompakan yang tinggi di antara sesama warga. Dan jamaah mesjid yang juga sangat bersemangat. Jumlah zakat maal kami bertambah dari tahun ke tahun. Jumalah hewan kurban yang kami potong bertambah setiap tahun. Kami berusaha untuk selalu perduli dalam masalah sosial. Kami menyumbang dari kantong-kantong pribadi untuk mereka yang terkena musibah dimanapun mereka berada. Terakhir kamipun menghimpun sumbangan untuk dikirimkan kepada kaum Muslimin di Gaza.

Mudah-mudahan Allah selalu menunjuki kami dan menjadikan kami senantiasa mampu untuk tetap istiqamah.


*****