Thursday, May 7, 2009

DERAI-DERAI CINTA (24)

24. MENGANTAR KADO

Akhirnya Imran membeli sebuah tafsir al Quran sebagai kado. Seingatnya, Lala cukup perhatian tentang masalah agama. Tafsir Mahmud Yunus dengan kulit berwarna merah. Kepada pelayan toko dimintanya agar tafsir itu dibungkus dengan kertas kado. Sebelum dibungkus dimasukkannya secarik kartu dengan tulisan ‘Selamat.... Mudah-mudahan tafsir ini bermanfaat untuk meningkatkan pemahaman agama.. Dari bang Imran..’ Tidak ditulisnya selamat ulang tahun. Kan ulang tahunnya sudah lewat. Tapi kalau nanti Lala bertanya akan dijelaskannya bahwa itu adalah kado ulang tahun yang dijanjikannya kemaren.

Sorenya Imran pergi ke rumah di Sekeloa mengantarkan kado yang disimpannya di dalam ransel kuliahnya. Ternyata di rumah hanya ada Yuni, ditemani bibik. Menurut Yuni, tante Ratna dan Lala pergi mengantar oom Taufik ke stasiun.

‘Sudah lama mereka pergi?’ tanya Imran.

‘Tadi, kurang jam setengah empat. Oom Taufik akan naik kereta jam empat,’ jawab Yuni.

Imran melirik jam. Sudah jam empat lebih sepuluh menit. Harusnya mak dang sudah berangkat.

‘Tunggu ajalah, bang. Sebentar lagi pasti mereka pulang.’

‘Ya lah....... Kapan mulai masa orientasi di Unpad?’

‘Minggu depan bang...... Kalau ITB hari Sabtu ini kan..... ? Duduklah sebentar bang, saya buatkan minum. Abang mau minum apa?’

‘Apa sajalah....’

‘Maksud saya, abang mau minum teh? Atau kopi? Atau minum dingin?’

‘Teh saja. Terima kasih.’

Yuni pergi ke dapur membuat minuman. Ternyata sudah dibuatkan si bibik. Dua cangkir teh. Yuni mengangkat minuman itu ke ruangan tamu.

‘Dag dig dug nih... Ngeri membayangkan masa orientasi. Takut dijahilin,’ kata Yuni setelah meletakkan cangkir teh itu di meja.

‘Di Unpad biasanya nggak aneh-aneh.... Di ITB di jurusan-jurusan tertentu biasanya agak berat. Termasuk di geologi.’

‘Kenapa begitu, ya bang?’

‘Mungkin karena kebanyakan mahasiswanya laki-laki. Di geologi sedikit sekali mahasiswa cewek..’

‘Bang Imran ikut jadi panitia?’

‘Nggak. Tapi biar bukan panitia pun boleh saja datang mengikuti acaranya.’

‘Bang Imran ikut-ikutan galak sama mahasiswa baru?’

‘Nggak ikutan. Saya nggak pandai jadi orang galak... he..he..he..’

‘Ya.. kelihatan kok. Bang Imran itu orangnya santun.....’ kata Yuni tersenyum.

‘Kamu berlebihan...’

‘Benar, kok. Saya perhatikan..... Bang Imran itu penyabar...’

Mungkin benar seperti yang dikatakan Syahrul, Yuni senang mengamati dirinya. Baru kenal beberapa hari saja sudah merasa tahu banyak tentang diriku orang ini, kata Imran dalam hati.

‘Kamu terlalu cepat menilai orang...’ kata Imran akhirnya.

‘He..he.. iya juga barangkali ya, bang. Tapi benar, kok. Kesan saya bang Imran memang seperti itu.’

‘Ngomong-ngomong, di Rumbai kamu tinggal berdekatan dengan Lala?’

‘Nggak, bang. Papa saya staf biasa saja di Caltex. Tempat tinggal kami berbeda. Kalau oom Taufik kan bos.’

‘Tapi tinggal di Rumbai juga, kan?’

‘Iya bang. Kami tinggal dekat rumah sakit di Rumbai.’

‘Rumah sakit Caltex......? Papa kamu bekerja di rumah sakit itu?’

‘Bukan. Papa bekerja di bagian Maintenance istilahnya. Kalau oom Taufik kan di bagian Engineering. Tempat tinggal atau rumah kami berdekatan dengan rumah sakit Caltex.’

‘Oo begitu. Dan kalian berteman sejak dari SD?’

‘Ya, bang. Bahkan sejak dari TK.’

‘Awet sekali persahabatannya. Tidak pernah kalian bertengkar?’

‘Waktu masih kecil dulu sering. Tapi biasanya bertengkar, bermusuhan sebentar, habis tu berbaikan lagi. Sejak di SMP sudah tidak pernah lagi.’

‘Hebat..... Hanya kalian berdua saja yang bersahabat dekat atau ada lagi yang lain?’

‘Ada satu lagi. Teman kami itu sekarang diterima di UI.’

‘Ngomong-ngomong.... orang tua Yuni berasal dari mana?’

‘Ibu orang Maninjau. Papa dari Palembang.’

‘Itu namanya orang Minang iya, orang Palembang juga iya... Hebat...’

‘Kayaknya kami lebih dekat ke Minang. Papa pandai berbahasa Minang. Papa dan mama di rumah biasanya berbahasa Minang.’

‘Sering mana, pulang ke Maninjau atau pergi ke Palembang?’

‘Ke Maninjau lebih sering karena lebih dekat. Ke Palembang ada juga. Akas, papanya papa masih ada di Palembang.’

Akas itu maksudnya kakek?’

‘Ya. Orang Palembang menyebut akas.’

Terdengar suara mesin mobil memasuki pekarangan. Tante Ratna dan Lala turun dari mobil. Bang Lutfi kembali buru-buru berangkat. Dia mau menyusul teteh Yani ke tempat praktek mereka.

‘Heh, ada bang Imran.....,’ teriak Lala tersenyum lebar.

‘Sudah lama kamu datang, Ran? Mak dang sudah berangkat ke Jakarta. Besok pagi dia terus ke Rumbai,’ kata tante Ratna.

‘Sudah kira-kira setengah jam, tante. Awak ndak tahu kalau mak dang berangkat sore ini.’

‘Rencananya berubah sedikit. Tadinya memang mau ke Jakarta besok siang. Ternyata ada pekerjaan penting. Jadi harus buru-buru pulang.’

‘Bang Imran kesini mau bikinin gulai tunjang lagi?’ tanya Lala.

‘Masak tiap kesini urusan gulai tunjang terus?’

‘Kan sudah janji?’

‘He..he..he.. Kamu ngarang.... Kapan lagi abang berjanji?’

‘Tadi malam, kan? Katanya kado ulang tahun Lala mau diganti dengan masakin gulai tunjang. Benar, kan?’

‘Itu kamu yang ngomong. Abang ndak ada ngomong begitu... he..he....’

‘Ya... abang... Kalau gitu mana kadonya?’

‘Ada... Nih...’

Imran mengeluarkan bungkusan kado dari tas ranselnya dan menyerahkannya kepada Lala.

‘Asyiiiiikk.... Apaan nih bang? Kayaknya besar banget...’

‘Silahkan dibuka......’

Lala membuka bungkusan itu hati-hati. Tante Ratna dan Yuni juga ikut memperhatikan, ingin tahu apa isi bungkusan itu. Ternyata sebuah tafsir al Quran. Lala tersenyum dengan mata sedikit berkaca-kaca.

‘Terima kasih bang.... Terima kasih... Lala sangat senang dengan kado ini.’

‘Ada kartu ucapan selamatnya nggak?’ tanya Yuni.

Lala membalik lembaran tafsir itu dan menemukan kartu ucapan selamat bertuliskan ; ‘Selamat.... Mudah-mudahan tafsir ini bermanfaat untuk meningkatkan pemahaman agama.. Dari bang Imran..’

‘Terima kasih sekali lagi, bang. Di Rumbai Lala sering membaca tafsir Mahmud Yunus kepunyaan papa. Sekarang Lala punya sendiri.’

Imran ingin segera pamit, tapi ditahan tante Ratna dan Lala. Dia disuruh makan malam dulu disitu.


*****

Wednesday, May 6, 2009

DERAI-DERAI CINTA (23)

23. KADO

Ketika Imran sampai di rumah Syahrul sedang tidak ada. Di meja belajarnya ada sebuah amplop berwarna merah muda. Imran mengambil amplop itu yang bertuliskan ‘Buat kak Imran’. Rupanya sebuah undangan pesta ulang tahun. Dari Ratih. Wah, ulang tahun lagi? Tercium bau wangi dari amplop itu. Imran mendekatkannya ke hidung. Benar, amplop itu berbau semerbak. Wangi. Tapi ada yang agak ganjil. Hari ini baru tanggal 4. Undangan itu untuk tanggal 22. Kok jauh-jauh amat sudah mengirim undangan? Imran mencermatinya lagi. Ternyata lebih aneh lagi, undangan itu untuk sebulan setengah yang lalu. Apa maksudnya ini? Imran berpikir keras.

Dia faham sekarang. Ulang tahun Ratih rupanya tepat sehari sesudah dia berangkat ke Karang Sambung tempohari. Dia diundang ketika itu tapi sudah terlanjur berangkat. Tapi kenapa sekarang undangan ini tiba-tiba ada di atas meja belajarnya? Apa Ratih tetap menginginkan dia tahu hari ulang tahunnya? Lalu mengirim undangan yang sudah kedaluarsa ini sekarang? Kalau benar demikian agak norak juga ya? Semua pertanyaan itu menari di otak Imran.

Imran kembali mengingat-ingat acara makan malam barusan. Makan malam merayakan hari ulang tahun Lala. Imran belum pernah sekali juga merayakan hari ulang tahunnya. Di kampung mana pula ada orang merayakan ulang tahun. Ini sebuah kebudayaan orang-orang kota. Anak-anak sejak dari masih bayi dirayakan ulang tahunnya. Seperti yang dilakukan tetangga-tetangga ketika merayakan ulang tahun anak-anak mereka. Baru pula dia sadar, anak-anak yang datang ke acara ulang tahun, seperti yang biasa dilihatnya, membawa kado. Bungkusan kecil berwarna-warni dan diberi berpita. Anak-anak menyanyikan lagu selamat ulang tahun di acara itu. Seperti tadi mereka bernyanyi untuk Lala di restoran di hotel Homan.

Kado. Ya, kado atau hadiah untuk yang berulang tahun. Dia ingat tentang kado. Tadi Lala menagih kado. Kado ini rupanya menjadi bagian dari sebuah pesta ulang tahun. Ketika kita diundang, kita wajib membawa hadiah ulang tahun. Begitu rupanya. Tapi dia tidak membawa kado untuk Lala. Tentulah orang akan menilainya tidak sopan. Tidak tahu aturan perulang-tahunan. Wah, memang memalukan. Meski tadi Imran menjanjikan akan menyusulkan kado. Artinya dia harus mencari dan membelikan kado untuk Lala. Kado apa yang harus diberikannya? Biarlah dia tunggu Syahrul. Dia akan bertanya kepada Syahrul. Meskipun rasanya belum pernah dia melihat Syahrul membelikan kado untuk ulang tahun siapapun.

Sedang Imran melamun di depan tv hitam putih ukuran 20 inci yang dinyalakan sekali-sekali itu, Syahrul datang. Dia baru pulang dari menonton di bioskop Braka Sky.

‘Sudah lama kau pulang?’ tanya Syahrul.

‘Sudah setengah jam...... Kau dari mana?’

‘Dari nonton.... Bagaimana acara makan malamnya ?’

‘Makan malam mahal. Tapi bagiku tidak seberapa ternikmati,’ jawab Imran.

‘He..he..he.. Dasar selera kampung. Memangnya apa saja makanannya.’

‘Kaupun pasti tidak akan suka. Lalap mentah disiram minyak... entah minyak apa. Daging panggang dimakan dengan kentang ditumbuk. Makan kentang lumat itu meloyo perutku.’

‘Ha..ha..ha... Payah kali kau. Itu steak namanya. Makanan orang Eropah itu. Jadi mau muntah kau memakannya? Ha..ha..ha..’

‘Apapun namanya.’

‘Tapi tak sampai muntah, kan?’

‘Untunglah tidak sampai. Dan kentang lumat itu tidak sanggup aku menghabiskan.’

‘Sementara yang lain menikmatinya?’

‘Sepertinya begitu. Sepertinya semua orang menikmati makanan seperti itu, kecuali aku.’

‘Paling tidak kau sudah bertambah pengalaman. Tidak makanan Minang melulu.’

‘Hebat sekali cara orang menikmati uang. Merayakan hari ulang tahun.’

‘Mungkin perlu kau tiru. He..he..he.’

Imran tersenyum kecut.

‘Tadi ada pula undangan ulang tahun di mejaku. Dari Ratih. Kau yang menaroknya ?’ tanya Imran.

‘Ooo, itu. Itu diantar Ratih tepat hari kau berangkat ke Jawa Tengah dulu. Besoknya dia ulang tahun. Dia kecewa sekali ketika tahu kau tidak ada.’

‘Tapi kenapa baru tadi ada di mejaku?’

‘Aku baru ingat. Ketika kau mengatakan akan pergi makan malam ulang tahun Lala, aku ingat undangan ulang tahun dari Ratih. Undangan yang sangat istimewa, untuk orang istimewa dengan amplop istimewa. Tadi aku tarok di mejamu,’ jawab Syahrul.

‘Undangan untuk orang istimewa? Apa maksudnya?’

‘Kau itu orang istimewa bagi Ratih. Tidak kau cium bau amplopnya? Wangi dan segar. Itu amplop khusus untuk orang istimewa. Begitu biasanya.’

‘Maksudmu aku ini orang istimewa, begitu?’

‘Ya. Bagi Ratih kau diistimewakannya. Aku juga dapat undangan waktu itu. Amplopnya biasa-biasa saja. Tidak seperti amplop untukmu.’

‘Dan kau datang? Ke undangannya Ratih?’

‘Ya. Aku datang. Yang datang teman-teman kuliahnya. Mungkin sekitar sepuluh orang. Ada yang berbisik-bisik bertanya, mana yang namanya Imran.’

‘Ah, kau pasti mengada-ada.’

‘Tidak ada untungnya aku mengada-ada. Aku bercerita sebenarnya.’

‘Lalu.... Kau membawa kado waktu itu ?’

‘Ya... Memang begitu aturannya. Aku membawa kado. Kado main-main... Boneka panda putih yang aku beli di pasar Kota Kembang.’

‘Jadi.... Membawa kado itu wajib hukumnya, ya?’

‘Begitu tata kramanya. Bukan pula wajib. Tandanya kita memberi perhatian kepada orang yang mengundang kita. Masak kau tidak faham?’

‘Jadi, maksudnya kau ada perhatian kepada Ratih?’

‘Oo tidak. Aku tahu diri. Dia naksir kepadamu, aku tidak mau berusaha mendekatinya.’

‘Naksir itu maksudnya dia menginginkan aku mendekatinya, begitu ya ?’

‘Naksir itu, dia menginginkanmu jadi pacarnya... Payah kau ini....’

‘Biar sajalah kalau begitu... Ngomong-ngomong tentang kado. Apakah kado itu bisa berma’na sesuatu pula? Seperti ketika kau memberi kado boneka panda, bisakah diartikan bahwa itu sekedar pemberian tanpa maksud?’

‘Entahlah. Mudah-mudahan saja begitu?’

‘Aku sedang berpikir, kado apa sebaiknya yang aku belikan buat Lala. Mungkin seperti yang kau lakukan. Kubelikan kado boneka berupa beruang besar. Untuk lucu-lucuan.’

‘Jadi tadi kau tidak memberi kado?’

‘Belum. Aku bilang kadonya menyusul.’

‘Payah kau.’

‘Tadinya aku berniat membelikannya buku. Sebuah novel atau sebangsanya. Tapi aku ragu-ragu lagi. Kalau aku belikan buku yang aku sendiri belum membacanya? Jangan-jangan ceritanya nanti tidak karuan. Tentu akan sangat memalukan. Lalu terpikir pula untuk membelikan al Quran dan tafsirnya. Harusnya pemberian seperti itu kan banyak manfaatnya. Tapi setelah mendengar ceritamu, aku bertambah ragu.’

‘Untuk adikmu, pemberian tafsir al Quran itu bagus aku rasa,’ komentar Syahrul.

‘Kau rasa begitu?’

‘Ya, kurasa begitu. Kurang tepat seandainya kado seperti itu kau berikan untuk Ratih. Nanti jangan-jangan dikira mahar... he..he..he..’

‘Iya, ya. Apalagi kalau ku tambah pula dengan seperangkat alat shalat he..he..he..’

Keduanya tertawa terkekeh-kekeh.

‘Sudah ketemu Ratih?’ tanya Syahrul beberapa saat kemudian.

‘Belum. Kenapa?’

‘Dia sangat nyinyir menanyakan kapan kau pulang.’

‘Terus kau bilang apa?’

‘Kubilang awal bulan. Tiga hari yang lalu dia bertanya lagi. Inikan sudah awal bulan, kapan kak Imran pulang ?’

‘Kita lihat saja apa yang akan dikatakannya kalau nanti ketemu,’ kata Imran.

‘Kira-kira bagaimana? Sudah ada perubahan di hatimu? Terhadap Ratih?’

‘Tidak ada yang berubah. Hatiku tetap untukku... he..he..he.’

‘Mungkin kau perlu agak jelas dengan dia. Dari pada dia menggantang-gantang asap. Berharap-harap yang tidak jelas.’

‘Apa yang harus kuperjelas? Aku akan biasa-biasa saja.’

‘Seandainya dia mengingatkan bahwa dia dulu mengundangmu ke acara ulang tahunnya, kau masih akan memberinya kado atau tidak?’

‘Tidak. Tidak pada tempatnya lagi. Kalau aku memberinya kado, bisa-bisa nanti dia akan menafsirkannya macam-macam.’

‘Betul juga. Sebenarnya kasihan juga Ratih.’

‘Kasihan kenapa? Kau bersimpati kepadanya? Tertarik kepadanya?’

‘Kasihan karena sepertinya dia bertepuk sebelah tangan.’

‘Atau, kau saja yang mendekatinya.’

‘Aku tidak berminat.’

‘Kalau begitu ndak usah dipikirkan. Nanti malahan pusing. Ngomong-ngomong nonton dimana kau tadi?’

‘Di Braka Sky.’

‘Sendiri?’

‘Nggak. Ramai-ramai sebioskop. He..he..he.. Pertanyaan kau aneh-aneh saja.’

‘Film apa?’

‘Film lama. Gone with the wind.’

‘Kepengen juga aku sekali-sekali pergi menonton.’

‘Ya udah. Pergi nonton sana... Ajak si Ratih... he..he..he..’

‘Ah.. Si Ratih saja isi kepalamu. Sepertinya kau yang memimpi-mimpikan dia.... ‘


*****

Tuesday, May 5, 2009

DERAI-DERAI CINTA (22)

22. ULANG TAHUN

Beberapa bulan berlalu. Pengumuman hasil ujian saringan masuk perguruan tinggi sudah keluar. Lala diterima di jurusan Biologi ITB. Jurusan itu sebenarnya pilihan keduanya. Lala senang bukan main. Papanya Lala, (mak dang Taufik) senang bukan main. Harapannya agar ada di antara anaknya yang mengikuti jejaknya masuk ITB, sekarang terkabul. Sesudah mendengar pengumuman itu papa dan mama datang ke Bandung. Papa mengambil cuti beberapa hari.

Dan Yuni diterima di Unpad. Di bagian Psikologi, pilihan keduanya pula. Yuni juga sangat bahagia. Sesuai rencana mereka sejak dari Rumbai, Yuni akan ikutan tinggal di rumah di Sekeloa ini. Yuni memang kawan akrab Lala. Lala yang mendesak agar mereka tinggal bersama-sama. Papa dan mama menyetujuinya.

Segera setelah mendaftar sebagai mahasiswa baru mereka akan menjalani masa perkenalan. Dulu namanya masa perkenalan mahasiswa atau disingkat mapram. Setelah itu namanya diganti beberapa kali. Intinya tetap sama, masa perkenalan dengan mahasiswa senior. Pada saat mana mahasiswa lama akan menggojlok mental mahasiswa baru, memperlakukan mereka sebagai objek lucu-lucuan. Disuruh berpakaian aneh-aneh dan norak, dijahili, disuruh mencari dan membawa benda yang aneh-aneh, dibentak-bentak.

Lala dan Yuni sedang mempersiapkan diri untuk masa perkenalan itu. Jadwalnya hampir bersamaan. Mereka sedang menunggu hari. Sambil takut-takut. Sambil harap-harap cemas. Sambil bahagia karena status mereka sebentar lagi adalah mahasiswa. Kedatangan mama sangat penting artinya untuk memberi dukungan moral. Disamping mengawasi gizi dan makanan, terutama selama berlangsungnya masa perkenalan itu. Mama pasti akan cerewet mengingatkan makan agar jangan sampai jatuh sakit karena kecapekan.

Ada alasan lain bagi papa dan mama untuk datang. Persis tiga hari sesudah hari pengumuman ujian itu adalah hari ulang tahun Lala yang ke delapan belas. Seolah-olah diterima di ITB merupakan sebuah kado istimewa buat Lala. Papa dan mama datang untuk mengucapkan selamat diterima di ITB dan sekaligus mengucapkan selamat ulang tahun. Merayakan hari ulang tahun memang dibiasakan keluarga ini. Karena begitu pula lazimnya di lingkungan tempat mereka tinggal di Rumbai. Di Rumbai ada yang membuat pesta besar ketika merayakan ulang tahun. Di keluarga Taufik, hari ulang tahun dirayakan sekedarnya saja. Makan-makan di rumah atau makan ke luar ke restoran diikuti beberapa orang teman akrab yang berulang tahun. Tidak meriah-meriah amat. Kali inipun mereka akan makan malam di hotel Homan untuk merayakan ulang tahun Lala.


***


Setiap kali berada di Bandung mak dang selalu menyuruh Imran datang. Pesan itu dititipkan melalui Tahir Tarigan, melalui kakaknya yang teman uni Lani. Dan Imran pasti segera datang kalau mendengar mak dang ada di Bandung.

Imran baru saja kembali dari tugas praktek lapangan di Karang Sambung. Kulitnya hitam seperti habis terbakar. Selama bertugas di lapangan setiap hari dia bekerja di alam terbuka sejak jam delapan pagi sampai jam empat sore. Menyusuri tebing sungai, mendaki bukit, melintasi hamparan batuan yang terbuka. Semua dilakukannya dibawah terik matahari Karang Sambung.

Kemarin sore Tahir datang ke tempat tinggalnya di Taman Sari, tapi Imran sedang keluar. Tahir menitipkan pesan dari mak dang melalui Syahrul. Jam sembilan pagi Imran datang ke Sekeloa. Di rumah hanya ada mak dang dan bibik. Mak dang heran melihat penampilan Imran seperti itu.

‘Kenapa kau? Kulitmu matang seperti baru pulang dari padang pasir,’ komentar mak dang pertama kali melihat Imran.

‘Awak baru dari lapangan di Karang Sambung, mak dang,’ jawab Imran.

‘Apa yang kau kerjakan disana ?’

‘Praktek lapangan, mak dang. Mempraktekkan ilmu-ilmu geologi,’ jawab Imran pula.

‘Berapa tahun lagi kau akan tamat?’

‘Kuliahnya masih dua tahun lagi. Setelah itu mempersiapkan skripsi.’

‘Untuk skripsi ada lagi tugas lapangan biasanya, kan?’

‘Betul, mak dang. Awak harus melakukan perpetaan geologi. Lapangannya bisa dimana saja nanti.’

‘Syukurlah.... Tapi sementara itu pengiriman kain ke Bukit Tinggi masih tetap berjalan ?’

‘Masih, mak dang.’

Mak dang dan Imran meneruskan obrolan tentang apa saja. Tentang kuliah, tentang usaha sampingan Imran, tentang rencana setelah selesai kuliah nanti. Mak dang berharap agar Imran nanti bisa pula bekerja di Caltex.

‘Nanti kita pergi makan malam di hotel Homan. Kau ikut ya ?’ kata mak dang.

‘Kok di hotel makannya mak dang. Dalam rangka apa?’ tanya Imran.

‘Hari ini Lala berulang tahun. Kita makan istimewa merayakan ulang tahunnya,’ jawab mak dang.

‘Iyalah, mak dang. Tapi kemana Lala? Kemana tante dan uni Lani?’ tanya Imran pula.

‘Lani pergi seminar ke kampus. Lala sama mamanya, sama Yuni sedang pergi sebentar. Kan Lala mau mengikuti perpeloncoan. Mungkin entah mencari apa.’

‘Kalau begitu, awak pergi dulu sebentar mak dang. Biar nanti sore awak kesini lagi.’

‘Mau kemana kau?’

‘Awak mau mengembalikan peralatan yang awak pinjam untuk tugas kemarin itu. Petugas gudang ini biasanya sudah tidak ada di tempat sesudah jam dua belas.’

‘Peralatan apa?’

‘Palu dan kompas geologi,’ jawab Imran.

‘Baiklah. Atau nanti sore kau tunggu saja di tempat kau tinggal itu. Biar mak dang jemput kesana. Bersiap-siap sehabis maghrib.’

‘Baik, mak dang. Akan awak tunggu. Awak pergi, mak dang.’


***

Mak dang ditemani abang Lutfi menjemput Imran ke rumah kontrakannya. Imran sudah siap ketika mak dang datang. Ada Syahrul di rumah. Mak dang mengajak Syahrul ikut, tapi dia menolak dengan sopan. Syahrul beralasan dia sudah ada janji dengan temannya. Syahrul sudah menebak tidak akan ada tempat untuknya di mobil.

Bang Lutfi yang menyetir mobil Kijang itu. Mak dang duduk di depan di samping bang Lutfi. Tante Ratna dan uni Lani di bangku tengah sementara Lala, teteh Yani dan Yuni di bangku belakang. Imran duduk di samping uni Lani. Mobil Kijang itu pas untuk mereka delapan orang.

Imran bersalaman dengan tante Ratna sebelum naik mobil. Dan menyalami Lala sambil mengucapkan selamat ulang tahun.

‘Kok bang Imran tahu ini ulang tahun Lala?’ tanya Lala.

‘Diberi tahu mak dang,’ jawab Imran polos.

‘Mana kadonya?’ Lala sengaja mengolok.

‘Iya, ya. Abang belum menyiapkan kado. Nantilah. Menyusul. Boleh kan menyusul ?’ tanya Imran.

‘Ya.... abang...... Kalau begitu kadonya masakin gulai tunjang lagi.’

‘Ha..ha...ha... Abang setuju banget itu,’ abang Lutfi langsung menyambar.

‘Boleh juga itu, Ran. Mak tuo baru mendengar saja cerita gulai tunjang. Ingin juga mencobanya,’ tante Ratna ikut menimpali.

‘Tumben mama jadi ‘mak tuo’. Bukannya ‘tante’. Biasanya tante?!’ giliran Lala.

‘Kalau di Rumbai, tante. Kalau disini atau di kampung boleh mak tuo he..he..he..’ mak dang yang menjawab.

‘Bukan begitu. Karena Imran memanggil mak dang, yang paling pas jadi pasangan mak dang itu memang hanya mak tuo,’ jawab mama asal-asalan.

Giliran Imran jadi agak bingung.

Tanpa terasa mereka sudah sampai di hotel Homan. Mereka langsung menuju restoran. Sebuah meja dengan delapan kursi sudah ditandai ‘reserved’ untuk mereka. Papa dan abang Lutfi duduk di ujung meja. Tante Ratna , uni Lani dan teteh Yani di satu sisi. Imran, Lala dan Yuni disisi yang lain. Imran berhadapan dengan tante Ratna di dekat mak dang. Yuni dan teteh Yani dekat abang Lutfi.

Mereka makan ala Eropa. Sebelum makan mak dang memimpin doa. Mendoakan agar Lala berhasil kuliahnya. Diberi panjang umur dan dilindungi Allah. Baru mereka mulai makan. Dimulai dengan salad. Sayur-sayuran hijau yang disiram dengan ‘dressing’. Diikuti sup asparagus. Setelah itu baru menu utama. Sirloin steak dengan kentang pure. Minumannya ice lemon tea. Namanya keren, ternyata maksudnya teh es pakai jeruk. Imran menyimak dan mengikuti saja dengan hati-hati. Diliriknya cara mak dang menggunakan alat-alat makan. Mak dang lebih banyak menggunakan garpu. Makan salad pakai garpu, sesudah sayuran itu diiris-iris. Makan steak atau daging panggang pakai garpu, sesudah daging itu diiris juga. Makan kentang lumat pakai garpu. Sendok hanya untuk makan sup. Imran meniru sebisa-bisanya. Meniru cara makan tidaklah seberapa sulit. Tapi menerima makanan itu di lidah terasa sangat pelik. Bagi Imran, pecal jauh lebih enak dari salad ini. Sup asparagusnya bolehlah, tidak terlalu masalah. Tapi kemudian giliran daging panggang dengan kentang dilumatkan timbul kesulitan. Perut Imran berontak rasanya. Tapi dia berusaha setenang mungkin.. Menghabiskan daging panggang lebih mudah. Tapi urusan kentang pure, Imran menyerah. Lebih separo terpaksa ditinggalkannya.

Lalu datang sebuah kue tart dengan lilin menyala di atasnya. Rupanya itu kue ulang tahun. Semua menyanyi selamat ulang tahun. Lala meniup lilin berangka delapan belas. Lala memotong-motong kue lalu membagi-baginya. Semua mencicipi kue ulang tahun. Dan semua mengucapkan selamat ulang tahun sekali lagi kepada Lala.

Masih ada lagi es krim sesudah itu. Hebat betul cara makan orang-orang ini, kata Imran dalam hati. Terakhir, mak dang masih memesan teh dan kopi.

Sudah hampir jam sembilan malam acara ulang tahun itu berakhir. Imran diantar ketempatnya sebelum mereka semua pulang ke Sekeloa. Sebuah pengalaman baru dilalui Imran malam ini. Pengalaman yang diajarkan oleh mak dang dan keluarganya.


*****

Monday, May 4, 2009

DERAI-DERAI CINTA (21)

21. SEBUAH DISKUSI

Semua makan besar siang itu. Abang Lutfi makan bertambuh-tambuh sampai keluar keringat. Dia benar-benar pencinta gulai tunjang. Lala menyindir bahwa abang Lutfi sudah termimpi-mimpi makan gulai tunjang sejak hari Jumat malam. Teteh Yani memuji-muji gurihnya sayur rebung, teman gulai tunjang.

‘Benar, Ran. Kita seharusnya membuka restoran. Pasti akan laku keras,’ kata bang Lutfi.

‘Memangnya banyak orang seperti abang di Bandung ini?’ tanya Imran bercanda.

‘Pasti banyak. Masakan seperti ini, tidak usah diiklankan, orang akan kata mengatakan satu sama lain. Dalam tempo singkat masakan kau ini akan sangat dikenal orang. Bagaimana? Kau sanggup? Bak kata papa, lantas tidak angan kau?’

‘Abang serius nih?’ tanya Lala.

‘Kenapa tidak?’ jawab abang.

‘Si abang paling bisa. Ya, kenapa tidak. Itukan, kata abang. Si abang kan jadi manajernya saja. Enteng kerjanya,’ teteh Yani mengomentari.

‘Yaaa... enggaklah. Kita bekerja samalah. Gimana Ran?’

‘Maksudnya kita siapa nih? Abang berdua Imran atau kita yang lain juga dilibatkan?’ tanya uni Lani.

‘Siapa yang mau ikut. Ya, nggak Ran? Kalau perlu memasaknya gotong royong kayak tadi. Semua terlibat. Abang ikutlah, tukang cuci-cuci he..he..he...’.

‘Ndak dulu lah bang. Ndak jadi selesai sekolah awak nanti... he..he..he....’ jawab Imran.

‘Yaa..... Awak........ Awak nggak yakin sih. Tapi benar, Ran. Ini serius. Kamu benar-benar punya skill memasak. Kamu ahli. Dari mana kau belajar?’

‘Dari pengalaman saja, bang. Bertahun-tahun akrab dengan dapur, bertambah juga pengalaman.’

‘Di tempat kalian, selalu kamu yang masak?’

‘Dibantu Syahrul. Syahrul ahli membuat nasi goreng,’ jawab Imran.

‘Hebat kalian. Pasti senang istri kalian nanti, kalau kalian sudah punya istri...’

‘Emangnya......... ‘ kata Lala dan Yuni berbarengan.

‘Kalau sudah punya istri nanti, saya tidak mau lagi memasak, bang. Saya akan pensiun memasak,’ jawab Imran.

‘Kalau masakan istrimu nggak enak ? Hayo.... Pasti kau kembali lagi masuk dapur....’

‘Diajari dululah dia, bang. Diajar dulu, sampai dia pintar memasak. Baru saya pensiun.’

Omongan hilir mudik itu berlangsung lama. Disertai canda dan derai ketawa. Pertemuan yang menyenangkan. Sudah menjelang sore waktu Imran dan Syahrul berpamitan.


***

‘Cantik sekali Lala, sepupu kau itu. Dan Yuni temannya itupun manis sekali,’ kata Syahrul waktu mereka berbincang santai malam harinya.

‘Ya. Betul,’ jawab Imran pendek.

‘Tapi kau sepi-sepi saja kulihat terhadap mereka.’

‘Maksudmu?’

‘Kau seperti acuh tak acuh saja kepada mereka.’

‘Acuh tak acuh bagaimana? Adikku itu minta dibuatkan gulai, aku buatkan. Bagaimana bisa kau katakan aku acuh tak acuh?’

‘Bukan itu maksudku.’

‘Lalu apa?’

‘Aku lihat, kau tidak sedikitpun tertarik kepada mereka. Sebagai seorang laki-laki. Faham tidak kau?’

‘Ya ndaklah. Lala adik ku. Yuni, teman adikku. Mau tertarik kepada siapa? Dan tertarik bagaimana maksudnya?’

‘Lala, adik sepupumu. Baik. Yuni teman adik sepupumu. Sah-sah saja seandainya kau tertarik kepada Yuni, misalnya.’

‘Maksudnya tertarik itu apa?’ tanya Imran kembali.

‘Ah, masak kau nggak faham. Laki-laki tertarik kepada perempuan? Anak muda tertarik kepada anak gadis?’

‘Baik. Lalu setelah itu mau apa? Mau berpacaran?’

‘Ya. Katakan begitu. Wajar kan? Selama kita menjaga norma-norma pergaulan, tentu saja.’

‘Itulah yang aku tidak sependapat. Begini. Kau tertarik kepada seorang anak gadis. Kepada seorang cewek. Kau datangi dia. Kau sampaikan perasaan hatimu kepadanya. Diapun menanggapi. Diapun jatuh cinta kepadamu. Lalu apa? Kalian berpacaran. Berpacaran itu apa? Kalian menyerempet-nyerempet hal-hal yang seharusnya tidak boleh dilakukan. Mulai dari yang kecil-kecil. Yang kau anggap tidak apa-apa. Kau lupa. Ada setan yang selalu menggoda. Pasti kau masih ingat pak Rusyad, guru agama kita. Beliau menerangkan hadits nabi. Bila sepasang anak manusia yang bukan mahram berkhalwat, berdua-dua, maka yang ketiganya adalah setan. Kata setan, tidak apa-apa kalian sekedar berpandang-pandangan. Hari ini kalian sekedar berpandang-pandangan. Besok setan membisikkan lagi. Tidak apa-apa kalian sekedar berpegang-pegangan tangan. Kalian lakukan lagi. Begitu seterusnya. Sampai akhirnya kalian terjerumus. Setan bertepuk tangan.’

‘Wah...... Berat betul pengajianmu.’

‘Bukan pengajian. Aku mengatakan apa yang aku tanamkan di dalam diriku,’ jawab Imran.

‘Jadi.... Maksudmu? Kau tidak akan pernah berpacaran? Tidak akan pernah membuka hatimu untuk wanita? Untuk seorang anak gadis?’

‘Kau salah. Pada waktunya nanti, insya Allah aku juga akan menikah. Aku akan membuka hatiku untuk wanita. Yang sudah menjadi istriku, tentu saja. Tapi itu masih jauh. Biarlah kita tamatkan dulu sekolah ini. Baru nanti aku berpikir ke arah itu.’

‘Terus terang, bagaimana perasaanmu kalau berdekatan dengan anak perempuan? Dengan anak gadis? Katakan misalnya dengan si Ratih tetangga kita?’

‘Aku membunuh perasaan ke arah yang tidak-tidak. Aku beristighfar. Aku ingatkan diriku dalam hati, perlakukan orang ini baik-baik dan wajar-wajar.‘

‘Jadi artinya, sebenarnya di dalam bagian hatimu pasti ada juga katakanlah sebangsa keinginan. Ada hasrat untuk......’

‘Ada. Aku alhamdulillah laki-laki normal. Tapi aku berusaha keras untuk tidak salah langkah.’

Syahrul terdiam. Baru sekali ini mereka berdiskusi seperti ini.

‘Kau tahu tidak, Ratih sebenarnya menaruh hati kepadamu?’ tanya Syahrul kembali memecah kesunyian.

‘Entahlah. Aku tidak memperdulikannya, kalau iya sekalipun.’

‘Maksudmu tidak memperdulikan? Buktinya kau layani dia ketika dia minta tolong diajarkan matematika ?’

‘Itulah bedanya. Sebagai teman. Sebagai tetangga, atau sebagai orang yang saling kenal, aku harus berbuat baik secara wajar. Kalau orang minta tolong, dan kebetulan aku sanggup menolong, insya Allah aku tolong. Tapi kalau ada anak gadis misalnya mengarah kepada.... katakanlah tertarik kepadaku seperti yang kau katakan, aku tidak akan menanggapinya. Dan rasanya tidak mungkin wanita akan lebih dulu mengatakan bahwa dia jatuh hati kepada seorang laki-laki.’

‘Kau keliru. Sangat mungkin. Mungkin tidak secara nyata mengatakan demikian, tapi dengan tingkah laku, dengan perhatian khusus. Banyak saja sekarang anak gadis yang terang-terangan mencoba menarik perhatian laki-laki.’

‘Dalam hal itu aku tidak akan menanggapinya.’

‘Kau akan cuek saja?’

‘Ya. Aku tidak akan memberi harapan. Tidak akan menunjukkan bahwa aku merespon harapan seperti itu.’

‘Aku menduga Yunipun tertarik kepadamu.’

‘Kok bisa? Kok bisanya kau tahu, padahal baru tadi kau mengenalnya.’

‘Aku berkali-kali memergoki matanya mencuri pandang ke arahmu.’

‘Wah ! Apa itu cukup sebagai bukti?’

‘Bagiku itu sebuah indikasi sangat positif.’

‘Tapi maaf.... Berarti kau juga sering mencuri-curi pandang ke arahnya kalau begitu...’

‘Maksudmu ?’

‘Kau sendiri yang bilang. Kau sering memergoki matanya.’

‘Ya,’ jawab Syahrul sedikit jengah.

‘Kau tertarik kepada Yuni ?’

‘Dia itu cantik.’

‘Sepupuku kau bilang juga cantik.’

‘Sepupumu tidak levelku. Dia itu anak ‘orkay’.’

‘Lalu?’

‘Aku tidak berminat mendapatkannya.’

‘Dan berminat untuk mendapatkan Yuni?’

‘Ya... tapi menduga bahwa Yuni lebih tertarik kepadamu.’

‘Repotkan? Jadi sudahlah. Kalau kau sependapat denganku, tidak usah mengurusi hal-hal seperti itu sekarang. Kau akan jadi pengkhayal. Akan banyak berangan-angan. Semua itu hanya membuang-bunag energi dan waktu. Tunggu sajalah.’


*****

Sunday, May 3, 2009

DERAI-DERAI CINTA (20)

20. GULAI TUNJANG

Hari Minggu pagi yang cerah. Imran bersiap untuk pergi begitu mereka selesai sarapan nasi goreng buatan Syahrul. Nasi goreng pete. Lumayan enak. Syahrul masih bermalas-malas membalik-balik koran Pikiran Rakyat.

‘Mau kemana kau, pagi-pagi begini sudah rapi?’ tanya Syahrul.

‘Mau ke pasar. Kau ada acara hari ini?’ Imran balik bertanya.

‘Ndak. Aku mau istirahat. Tapi, kenapa memang?’

‘Mau ikut aku ke pasar? Habis tu ke Sekeloa ?’

‘Hah? Ngapain?’

‘Adik sepupuku itu minta dibikinin gulai tunjang. Aku mau ke pasar berbelanja.’

‘Terus? Aku ngapain ikut?’

‘Menemaniku. Katanya ingin berkenalan dengan adik sepupuku.’

‘Wah, iya juga. Baik. Mau...mau..’

‘Ayo, buruan kalau gitu.’

‘Ke pasar mana?‘ tanya Syahrul sambil mengganti pakaian buru-buru.

‘Kosambi,’ jawab Imran

‘Kok jauh amat?’

‘Disana lengkap. Dan murah.’

Kedua anak muda itu berangkat ke pasar dengan naik oplet. Imran sangat cekatan berbelanja. Tidak lebih dari setengah jam semua bahan yang diperlukan sudah diperolehnya. Lengkap dengan nangka muda dan rebung muda.


***

‘Kau yakin bang Imran itu benaran datang ?’ tanya Yuni.

‘Pasti dia datang,’ jawab Lala.

‘Mau pergi belanja jam berapa? Sudah siang begini......’

‘Tenang aja. Kalau dia bilang datang, dia pasti datang. Kenapa? Kau mau menemani dia belanja ke pasar?’ tanya Lala.

‘Kalau dia ajak, aku mau banget... he..he..’

‘Semprul.....’

‘Nggak apa-apa kan.. he..he..he..?’

‘Cengengesan melulu.... Atau kita aja yang pergi ke pasar. Kita ajak si bibik. Mau nggak?’

‘Yaa.... Terus, yang mau dibeli apa?’

‘Kikil mentah, kan?’

‘Lah, masak cuman kikil mentah. Bahan-bahan lainnya ?’

‘Nggak tau?!’

‘Makanya itu...’

‘Ya, udah. Kalau gitu kita tungguin aja bang Imran....’

Terdengar bel berbunyi.

‘Itu dia datang.....’ Lala bergegas menuju pintu.

Yuni ikut menyusul. Disana berdiri Imran dan satu lagi temannya. Keduanya menjinjing plastik belanjaan. Lala mempersilahkan keduanya masuk.

‘Wadduuh. Ternyata dia sudah dari pasar...’ teriak Lala.

‘Memangnya kenapa?’ tanya Imran.

‘Kami nungguin mau diajak pergi belanja ke pasar... he..he...,’ jawab Lala.

‘Ngapain repot-repot menjemput dulu kesini. Kelamaan. Kami langsung saja ke pasar. Oh ya....Kenalkan ini. Ini teman abang, namanya bang Syahrul. Rul, ini adik sepupuku, Lala. Ini temannya Yuni,’ Imran memperkenalkan.

Mereka bersalam-salaman.

Bibik datang mengambil bungkusan belanjaan itu lalu membawanya ke dapur.

‘Abang, teteh dan uni kemana?’ tanya Imran.

‘Mereka pergi sebentar. Nggak tahu kemana,’ jawab Lala.

‘Makan di luar?’

‘Pasti bukan. Abang dari tadi pagi nggak berhenti-henti ngomongin mau makan gulai tunjang siang ini.’

‘Masak iya sampai sebegitunya.’

‘Masak Lala bohong..... Terus kapan mau masaknya?’

‘Ya . Entar dululah. Untuk makan siang kan? Pokoknya beres....’

Yuni datang membawakan minuman. Yuni terlihat agak salah tingkah.

‘Mau mulai sekarang?’ tanya Imran.

‘Ayo...ayo...’ kata Lala dan Yuni bersemangat.

‘Mau ikut bekerja semua, nih?’ tanya Imran.

Lala dan Yuni berpandang-pandangan sambil tersenyum.

‘Apa yang bisa dibantu, bang?’ tanya Lala.

‘Lala bisa apa sih? Bisa mengupas bawang?’

‘Ya bisalah. Berapa banyak?’

Imran mengambil segenggam bawang dan menyerahkannya ke Lala.

Imran membagi-bagi tugas. Si bibik disuruh mengulek cabe. Yuni kebagian mengupas dan mengiris jahe, kunyit dan lengkuas. Syahrul yang juga ikut, kebagian memotong nangka muda dan mengiris rebung. Semua sibuk. Imran yang memberi komando. Dia sendiri sibuk memotong dan kemudian merebus potongan kikil.

Anak-anak dara itu terlihat sangat kikuk bekerja di dapur tapi tetap memaksakan diri. Sambil menarik perhatian? Berkali-kali mata Yuni mencuri-curi pandang. Begitu pula berkali-kali mata Syahrul mencuri-curi pandang. Entahlah. Hanya Imran yang berkonsentrasi penuh dengan gulai yang sedang dimasak itu. Dia mengamati, menakar, menambahkan bumbu-bumbu yang beraneka macam.

Setengah jam kemudian gulai tunjang itu sudah terjerang di atas kompor. Kuah bersantan berwarna merah kekuningan. Pelan-pelan gulai sekuali penuh itu mulai bergejolak mendidih. Pelan-pelan bau wanginya mulai tercium.

‘Berapa lama lagi itu, bang ?’ tanya Lala.

‘Setengah jam,’ jawab Imran.

Diceduknya sedikit kuah yang sedang menggelegak pelan itu dengan sendok kecil lalu dicicipinya.

‘Mmmh.... ‘ Imran mendesah.

‘Enak? Mantap? Lala boleh nyoba?’ Lala tidak sabaran.

‘Silahkan. Pakai sendok itu,’ Imran menunjuk ke rak piring.

Lala ikut mencicipi.

‘Waaaaw. Benar-benar......’

Yuni ikut-ikutan pula mencoba.

‘Paten.... Benar-benar gulai Kapau,’ komentarnya.

Terdengar suara bel. Rupanya abang, teteh dan uni sudah kembali.

‘Ha haaa.... Gulai Kapau...... ‘ teriak abang begitu masuk.

Abang Lutfi diikuti teteh Yani dan uni Lani berebutan menuju dapur. Bau gulai tunjang itu semakin semriwing.


*****

Saturday, May 2, 2009

DERAI-DERAI CINTA (19)

19. ANAK-ANAK MAK DANG

Ruang perpustakaan ramai dengan mahasiswa yang datang untuk belajar. Tapi tetap tertib dalam kesunyian. Setiap pengunjung mentaati aturan untuk tidak berisik dan mengganggu orang lain, tidak merokok dan tidak tidur di dalam ruangan ini. Imran mendapat sebuah kursi kosong di sebuah sudut. Di meja yang sama ada tiga orang mahasiswa lain. Ketiganya sedang tekun dengan buku mereka masing-masing. Imran mengangguk kepada mereka dan menarik kursi pelan-pelan. Diapun segera ikut tenggelam.

Dua jam belajar di perpustakaan sangat efektif. Waktu dua jam itu cepat saja habis. Imran sadar setelah melihat satu persatu teman-teman mahasiswa itu meninggalkan ruangan. Dia melirik jam. Ternyata sudah hampir jam enam. Imran mengemasi buku-bukunya dan segera keluar. Sudah hampir masuk waktu maghrib. Benar saja, sampai di luar terdengar suara azan maghrib bersahut-sahutan. Imran melangkah ke arah mesjid Salman untuk ikut shalat berjamaah.

Waktu sedang memasang sepatu sehabis shalat, Imran ditepuk seseorang dari belakang. Rupanya temannya sama-sama mahasiswa geologi, Tahir Tarigan.

‘Sudah mantap belajarnya ?’ tanya Tahir.

‘Belajar? Ya.... lumayanlah. Kau sendiri bagaimana?’

‘Pokoknya berusaha. Ngomong-ngomong mana teman kau si Padang satunya lagi?’

‘Si Syahrul ?’

‘Iya, si Caun. Kata si Masri, di Padang si Syahrul itu panggilannya si Caun. Benar, kan ? Mana dia ? Biasanya kalian selalu sama-sama.’

‘He..he.. Iya. Si Masri itu di kampungnya dipanggil si Maih. Syahrul lagi membikin tugas sama temannya.’

‘Pantas tak kulihat dia. Pantas kau sendiri saja tadi kulihat di perpustakaan.’

‘Kau tadi di perpustakaan juga ?’

‘Iyalah.’

‘Aku nggak lihat.’

‘Aku di ruangan yang sama dengan kau tadi. Terus mau kemana lagi, kau? Ndak ada kau pergi-pergi lagi ke tempat saudara kau itu ?’ tanya Tahir.

‘Saudaraku yang mana ?’

‘Itu.... Anak ‘mamak’ kau itu...., yang tetangga sama aku itu... bah.’

‘Ooooo. Anak ‘tulang’ ku? Yang di Sekeloa ?’

‘Iya. Kan anak mamak kau nya itu kau bilang. Anak ninik mamak kau, nan gadang basa bertuah..... he..he..he.. begitu kan?’

‘Kebetulan kau bertanya. Aku mau kesana nih, sekarang,’ jawab Imran.

‘Betulan?’

‘Betulan.’

‘Ya, sudah. Mari ikut aku,’ ajak Tahir.

Kebenaran sekali. Imran dibonceng Tahir Tarigan sampai ke depan rumah abang Lutfi.

‘Terima kasih banyak, Hir,’ kata Imran begitu sampai.

‘Kapan-kapan kau mau kesini lagi, hubungi saja aku. Jangan khawatir...he..he...’ kata Tahir sebelum berlalu.

Tahir memang tinggal berjarak beberapa buah rumah dari rumah tempat abang Lutfi ini.

***

Imran menekan bel. Lala yang membukakan pintu.

‘Baru aja diomongin. Masuk bang!’ kata Lala.

‘Diomongin, kenapa?’ tanya Imran.

‘Uni nanyain. Mana si Imran yang katanya mau datang, gitu.’

‘Mana uni Lani? Kok sepi?’

‘Uni di dalam. Baru habis mandi. Abang belum pulang dari praktek.’

‘Gimana bimbelnya? Lancar?’

‘Bimbel lancar. Menjelang ujiannya yang dag dig dug.’

Yuni, teman Lala, keluar dari kamar.

‘Kenalin, bang. Ini Yuni, teman Lala. Yun, ini abang Imran yang aku ceritain.’

Imran dan Yuni bersalaman.

‘Sama-sama dari Rumbai ?’ tanya Imran.

‘Iya,’ jawab Lala dan Yuni bersamaan.

‘Sama-sama ikut bimbel di Dago ?’ tanya Imran lagi.

‘Nggak. Saya di Dipati Ukur, dekat sini,’ jawab Yuni.

‘Yuni pengen masuk kedokteran Unpad,’ Lala menambahkan.

Uni Lani keluar dari kamar.

‘Kemana aja nih, saudagar? Nggak pernah nongol,’ uni Lani menyapa.

‘Mahasiswa dibilang saudagar. Ada-ada saja uni ini.’

‘Sibuk sekali kamu, Ran? Bagaimana usaha pertekstilan?’

‘Sibuk seperti biasa saja, un. Tekstil, jalan terus. Kan remah-remahnya saja yang dikirim ke Bukit Tinggi.’

‘Sudah mulai ujian lagi?’

‘Minggu depan, un.’

‘Uni dengar dari kakak temanmu, yang tinggal dekat sini, kalian mau praktek lapangan. Masak sudah mau praktek lapangan aja sih? Apa benar?’

‘Ooo, kakaknya si Tahir Tarigan? Itu teman uni ya? Benar, kami mau kerja praktek di lapangan. Nanti pas libur semester.’

‘Ya. Farida Tarigan, dia di farmasi tapi satu angkatan sama uni. Adiknya satu angkatan sama kamu kan?’

‘Iya. Barusan saya ikut dia. Kami ketemu di mesjid Salman habis shalat maghrib.’

‘Praktek lapangan apa maksudnya? Dimana?’ tanya uni Lani lagi.

‘Lebih tepatnya praktikum lapangan, uni. Tempatnya di Karang Sambung dekat Kebumen di Jawa Tengah. Mahasiswa geologi yang sudah menyelesaikan empat semester kerja praktek disana. Mengenali ilmu-ilmu geologi langsung di alam terbuka. Mengenali jenis batu-batuan, mengenali kenampakan kumpulan batu-batuan itu, letak satu lapisan batuan dibandingkan dengan lapisan yang lain, kejadian alam di masa lalu yang berlaku terhadap batu-batuan, sisa atau cangkang binatang-binatang purba yang terdapat dalam batuan. Semua ilmu itu sudah kami pelajari di ruang kuliah. Praktikumnya kami kerjakan di laboratorium. Sekarang kami akan melihat keadaan aslinya di alam terbuka.’

‘Hebat! Berapa lama kerja praktek itu?’

‘Empat puluh hari, un.’

‘Kayak petapa, dong. Empat puluh hari.’

Bibik datang membawakan minuman. Teh panas.

‘Ceritanya bang Imran bikin minder, nih,’ kata Lala.

‘Kamu ada-ada saja. Masak cerita begitu bikin minder?’

‘Nggak usah ngomongin kuliahan, ah. Tambah bikin dag dig dug aja. Bang, tembak langsung saja. Kapan mau bikinin gulai tunjang?’

‘Lho. Maksudnya apa nih?’

‘Tadi, uni cerita. Abang pernah bikin gulai tunjang Kapau. Kata uni enak sekali. Ayooo, bikin lagi dong.’

‘He... he..he... Gulai tunjang tinggal beli saja di restoran...’

‘Bang Imran! Serius nih.’

‘Ya, sudah. Kapan-kapan. Kan harus beli dulu tunjang mentahnya.’

‘Hari Minggu, besok?’

‘Waduh. Serius benar, nih?’

‘Serius.’

‘Boleh. Lala bisa nggak pergi membeli tunjang mentahnya?’

‘Harus Lala, ya ? Bisa, lah. Bisa.’

‘Nggak usahlah. Biar abang deh, yang belanja hari Minggu nanti.’

Sambil mereka ngobrol ke barat – ke timur itu bang Lutfi dan istrinya datang.

‘Tumben, Ran. Sudah lama datang?’ sapa bang Lutfi.

‘Sudah, bang. Tadi ketemu Lala di jalan. Dia suruh datang. Ternyata untuk disuruh bikin gulai tunjang.’

‘Wah! Mantap itu. Kapan?’

‘Hari Minggu, bang. Bang Imran sudah janji,’ Lala yang menjawab.

‘Abang kirain sekarang,’ kata bang Lutfi asal-asalan.

‘Ya, nggak mungkin lah bang. Kan bahannya harus dibeli dulu,’ jawab Imran.

‘Ayok makan, yok. Sudah lapar banget, nih,’ ajak bang Lutfi.

Dia tahu, pasti semua masih menunggu dia.


*****

Friday, May 1, 2009

DERAI-DERAI CINTA (18)

18. ANAK GADIS TETANGGA

Imran baru selesai makan siang. Sendirian saja karena Syahrul belum pulang kuliah. Dia duduk santai sambil berkipas-kipas karena kepanasan dan kepedasan. Suara musik dangdut radio tetangga terdengar menghentak-hentak. Siang ini tidak ada lagi kegiatan kuliah. Hari Kamis memang hanya ada satu mata kuliah dan tidak ada praktikum. Tadi pagi dia mengurus pengiriman kain ke Bukit Tinggi. Terus mampir di Bank Bumi Daya di jalan Merdeka. Mengambil uang untuk biaya tugas praktek lapangan ke Karang Sambung. Praktek lapangan geologi itu akan dilaksanakan selama empat puluh hari pada saat liburan semester nanti.

Sore ini Imran mau belajar ke perpustakaan. Belajar di perpustakaan jauh lebih enak karena tenang. Di tempat tinggalnya sering berisik. Disini rumah-rumah kontrakan sangat rapat satu sama lain. Banyak anak-anak kecil bermain dan mereka biasanya sangat ribut. Ditambah pula suara berisik radio yang dipasang keras-keras. Di rumah ini waktu yang aman untuk belajar hanya di waktu subuh.

Imran terkantuk-kantuk ketika terdengar suara memanggil.

‘Kak Imran........’

Imran bangkit dari duduknya. Suara itu suara Ratih. Anak pemilik rumah kontrakan. Ratih baru mulai kuliah di fakultas Farmasi Unpad.

‘Kak Imran.......’

‘Ya,’ jawab Imran sambil menuju pintu.

‘Kak Imran lagi sibuk, ya?’ tanya Ratih.

‘Saat ini nggak. Kenapa?’ Imran balik bertanya.

‘Ajarin Ratih, dong. Boleh nggak?’

‘Belajar apa?’

‘Ini, matematika. Ratih nggak ngerti-ngerti nih. Ratih boleh masuk nggak?’

‘Boleh. Silahkan. Memang kapan ujiannya?’

‘Besok, kak.’

‘Yang lebih jago sebenarnya kak Syahrul,’ kata Imran.

‘Dia kan nggak ada. Kak Imran kan juga jago.’

‘Kok tahu dia nggak ada ?’ tanya Imran asal-asalan.

Ratih tidak menjawab. Mukanya sedikit memerah.

Imran mengamati soal matematika itu. Berpikir sebentar. Beberapa saat kemudian dia sudah menemukan jawabannya. Imran menerangkan pemecahan soal itu kepada Ratih. Ratih manggut-manggut mengerti. Selesai soal itu, Ratih minta diterangkan dua buah soal yang lain. Kebetulan Imran juga dapat menyelesaikannya. Soal yang ketiga agak susah. Imran berpikir lama sebelum berhasil menemukan pemecahannya.

‘Terima kasih, ya kak,’ Ratih tersenyum.

‘Terima kasih kembali,’ jawab Imran, juga sambil tersenyum.

‘Kak Imran nggak pergi-pergi?’

‘Nanti saya mau ke perpustakaan. Mau belajar juga,’ jawab Imran.

‘Kapan mulai ujiannya, kak?’

‘Minggu depan sudah mulai mid test.’

‘Ratih sudah mulai minggu ini. Berat-berat nih.’

‘Tapi bisa, kan ?’

‘Yang kemarin, kimia susah. Ah, nggak tahulah.’

‘Mudah-mudahan berhasil.’

‘Amiin.’

Syahrul datang.

‘Asyik, nih. Berduaan,’ Syahrul menggoda.

‘Asyiik dong,’ jawab Ratih agak genit. ‘Udah, deh. Ratih pamit dulu, ya. Terima kasih ya kak Imran?’

‘Kok saya datang, langsung bubar? Terganggu ya?’

‘Ah nggak. Ratih minta tolong diajarin matematika. Sudah selesai. Dan kak Imran katanya mau pergi. Udah, kak ya....’

‘Sudah faham matematikanya? Sudah siap menghadapi ujian?’ tanya Syahrul.

‘Mudah-mudahanlah. Pamit dulu ya, kakak-kakak.’

Ratih lalu pergi.

Syahrul yang baru datang bergegas pergi shalat. Sudah jam setengah tiga. Selesai shalat baru dia makan.

‘Kau sudah makan, Ran?’ tanya Syahrul.

‘Sudah,’ jawab Imran pendek.

‘Beres urusan kiriman tadi pagi?’ tanya Syahrul lagi.

‘Alhamdulillah, beres. Dan sudah aku telepon ibu. Mudah-mudahan minggu depan sudah sampai disana.’

Syahrul makan dengan lahap. Pasti dia sangat kelaparan.

‘Pedas sekali asam padeh ini,’ komentar Syahrul.

‘Iya. Aku tadi juga kepedasan. Tadi cabe merah hanya dua buah, aku ganti dengan cabe rawit. Ternyata pedas sekali.’

‘Patutlah...... Tapi enak sekali ini. Kalau si Ratih lewat lagi, tidak akan kelihatan,’ kata Syahrul melucu.

Kambut. Kalau kau duduk disana, mana pula akan kelihatan dia lewat.’

‘Maksudku, kalaupun dia lewat di mukaku disini, tidak akan terlihat.’

‘Saking enaknya asam padeh?’

‘Bukan. Saking pedasnya. Terkerinyit-kerinyit mata menahan pedas.’

Kambut..... ‘

‘Jadi......., kau berminat nih, sama si Ratih?’ tanya Syahrul mengalihkan cerita.

‘Berminat apa ?’ tanya Imran.

‘Alaaah... Sudah mau berdua-dua... Masak masih kura-kura dalam perahu.... huuu haah... pedas....’

‘Berdua-dua? Ooo, tadi itu? Dia datang bertanya. Minta tolong ditunjukkan matematika, apa pula salahnya.’

‘Ah. Kau tidak arif-arif juga. Dia bukan sekedar minta diajari matematika, itu. Tapi ada maksud yang terkandung di hati. Ada udang dibalik bakwan. Masak kau tidak merasa?’

‘Tidak. Aku tidak merasa apa-apa. Aku datar-datar saja. Dia minta tolong, aku tolong.’

‘Iya pulalah kalau begitu. Siapa tahu nanti bersemi juga bunga sakura.’

‘Banyak benar puisimu. Bunga sakura mana pula yang akan bersemi?’

‘Entah. Bunga sakura dihati remaja barangkali...He..he..he..’

‘Aku mau ke perpustakaan sebentar lagi. Kau mau ikut?’ Imran mengalih pembicaraan.

‘Kau pergi sajalah. Aku mau beristirahat sebentar. Lagi pula nanti sore aku sudah janjian mau menyelesaikan tugas di rumah si Rinto.’

‘Dari perpustakaan, aku mau ke Sekeloa. Mungkin pulangnya malam.’

‘Berarti, nanti malam kau tidak makan di rumah?’

‘Mungkin tidak.’

‘Kalau begitu, nanti malam asam pedasnya kuhabiskan. He..he..he..’

‘Habiskanlah. Hati-hati... siap-siap saja dengan obat sakit perut.’

‘Tenang saja. Kan ada pisang. Netralkan dengan pisang, habis perkara.’


*****