Saturday, December 12, 2009

DERAI-DERAI CINTA (36)

36. IMRAN DIRAWAT

Syahrul kembali membawa sebungkus nasi dan sebotol aqua. Di dekat Imran saat itu hanya ada Rinto. Imran masih terbaring di tempat tidur UGD. Syahrul mengambil sebuah bangku-bangku dan duduk di dekat tempat tidur itu. Dibukanya bungkusan nasi Padang itu dan dimulainya menyendokkan ke mulut Imran.

‘Jadi repot kau,’ kata Imran.

‘Sebegini ini ndak ada repotnya,’ jawab Syahrul.

‘Hebat banget persaudaraan kalian,’ Rinto menyela.

Keduanya hanya tersenyum.

‘Bagaimana kejadiannya tadi?’ tanya Syahrul.

‘Ada pengandara motor jatuh di depan angkutan yang aku tompangi. Sopir angkutan itu terkejut dan membanting stirnya ke kiri. Ndak tahunya langsung menabrak pohon,’ jawab Imran.

‘Sopir itu bagaimana?’

‘Aku lihat dia luka juga. Tapi tidak parah dan dia masih bisa keluar dari mobil. Aku sudahlah patah, pintu sebelah kiri tidak pula bisa dibuka.’

‘Jadi bagaimana caranya kau keluar?’

‘Digotong polisi sama Rinto. Mula-mula badanku ditarik polisi itu ke pintu sebelah kanan. Sesudah itu digotong mereka bertiga.’

‘Kesini diantar mobil polisi?’

‘Tidak. Diantar si Irma, temannya Rinto. Si Irma datang dengan ada satu orang lagi, namanya Fauzi. Aku dibawa pakai mobil pak Fauzi itu.’

‘Uda Fauzi… he..he..he..’ Rinto membetulkan sambil tertawa.

‘Siapa itu?’

‘Kayaknya saudaranya Irma,’ jawab Rinto.

‘Dan kau, kebetulan lewat dekat kejadian waktu itu?’ tanya Syahrul ke Rinto.

‘Ya… Gue ketemu Irma di jalan Merdeka. Irma habis mengambil foto disana. Waktu dia mau pergi gue ikutin. Rencananya gue mau ikutin sampai ke kos-annya dia. Di ujung jalan Dago kita lihat ada rame-rame. Kita berhenti. Gue langsung ngenalin dia nih, lagi berdarah-darah.’

‘Yaa…namanya musibah. Luka di kepala itu kenapa, Ran?’

‘Kena pecahan kaca.’

‘Kaca dari mana? Bukannya kaca depan mobil itu pecahnya buyar begitu?’

‘Kaca jendela di belakang tempat dudukku. Itu kan kaca biasa.’

‘Besar lukanya?’

‘Kata dokter tidak besar, tapi agak dalam. Kaca itu tadi tertancap disini, lalu aku keluarkan dan aku buang.’

‘Bagaimana ketahuannya ada pecahan kaca disana?’

‘Mula-mula aku merasa bahu kananku basah. Aku raba pakai tangan kiri. Ternyata darah. Aku raba dari mana sumber darah. Waktu itu tanganku meraba pecahan kaca tertancap di kepala. Lalu aku buang.’

‘Tertancapnya nggak dalam?’ Rinto yang bertanya.

‘Ndak. Kaca itu runcing.’

‘Yang lain nggak ada yang sakit?’ tanya Rinto lagi.

‘Ya… kakiku.’

‘Kaki kau bagaimana rasanya?’

‘Tadi tidak berasa. Sekarang baru mulai agak sedikit nyeri. Tadi aku tidak merasa apa-apa, tapi tidak bisa digerakkan.’

‘Sebenarnya, ada juga sih dukun patah tulang. Gue kenal ada dukun kayak gitu di Cimahi. Tapi sekarang udah di rumah sakit gini apa mungkin dibawa lagi kesana?’

‘Sebenarnya mungkin aja. Bagaimana pendapat kau, Ran?’

‘Tadi dokter yang mengobati aku bilang dia mau menghubungi bang Lutfi. Tadi dia bilang juga bahwa perawatan kakiku bisa maksimal dengan menggunakan pen. Artinya aku harus dioperasi. Aku sudah bilang setuju mau dipasangi pen.’

‘Ya, itu sih terserah lu.’

‘Coba kau tanya juga nanti ke bang Lutfi, Ran?’ saran Syahrul.

‘Bang Lutfi itu dokter, kan?’

‘Ya.’

‘Kalau lu tanya sama dokter mana mungkin dia percaya sama dukun.’

Imran tidak menjawab. Dia memberi isyarat kepada Syahrul bahwa dia sudah kenyang.

‘Habiskan sedikit lagi,’ kata Syahrul.

‘Cukuplah. Aku sudah kenyang,’ jawab Imran.


***

Lutfi dan Yani melayani pasien masing-masing di ruang praktek yang terpisah di tempat praktek mungil mereka. Kedua dokter muda itu disenangi pasien karena mereka sangat ramah dan telaten. Di musim penghujan ini banyak orang yang batuk pilek.

Tiba-tiba telepon berdering. Yani yang mengangkat. Telepon itu dari dokter Aditya di rumah sakit Hasan Sadikin. Dia ingin berbicara dengan Lutfi. Yani menyerahkan gagang telepon itu kepada Lutfi.

Lutfi terlibat dalam pembicaraan singkat dengan dr. Aditya di ujung telepon.

‘Abang harus segera pergi, Yan. Imran kecelakaan,’ kata Lutfi begitu selesai berbicara di telepon.

‘Kenapa dia? Bagaimana keadaannya?’ tanya Yani.

‘Kata dr. Aditya kepalanya luka, sudah dijahit. Kakinya fracture. Dr. Aditya menyuruh abang segera datang,’ jawab Lutfi sambil bergegas mau pergi.

‘Hati-hati, bang,’ Yani mengingatkan.

Lutfi segera berangkat. Di luar hari hujan gerimis.


***

Lutfi bertemu dengan dr. Aditya di ruang UGD. Mereka berbincang sebentar sambil menuju ke tempat Imran terbaring.

‘Bagaimana Ran?’ tanya abang Lutfi.

‘Kaki saya terasa semakin sakit, bang,’ jawab Imran.

Lutfi memeriksa kaki Imran yang patah itu.

‘Tadi saya sudah konsultasikan ke dr. Lukito. Dia berjanji akan segera kesini. Tapi belum datang,’ kata dr. Aditya.

‘Pendapat dokter bagaimana?’ tanya Lutfi.

‘Pendapat saya bisa langsung digips saja. Tapi sebaiknya kita dengar saran dr. Lukito.... Tu dia datang.’

Dr. Lukito menyalami kedua sejawatnya itu.

‘Kenapa, mas?’ dia bertanya ke Imran.

‘Kecelakaan angkutan kota, dokter,’ jawab Imran.

Dr. Lukito memeriksa kaki Imran dengan hati-hati. Imran meringis kesakitan. Dokter itu mengajak Imran ngobrol. Dr. Lukito sangat ramah.

‘Kecelakaan dimana?’

‘Di Dago, dokter,’ jawab Imran.

‘Kenapa? Angkutannya menabrak apa?’

‘Menabrak pohon. Menghindarkan pengendara motor yang jatuh.’

‘Jatuh kenapa? Ngebut dia?’

‘Saya kurang tahu juga dokter. Tiba-tiba dihadapan kami motor itu terpelanting. Sopir angkutan membanting stir menghindarinya. Akibatnya mobil itu menabrak pohon.’

‘Wah! Seru juga ceritanya. Kepalanya luka kena kaca?’

‘Benar, dokter.’

‘Tapi kakinya mudah-mudahan nggak apa-apa. Nanti kita pasang gips......... Ngomong-ngomong kuliah dimana?’

‘Di geologi, dokter.’

‘Di ITB?’

‘Ya, dok.’

‘Hebat. Sudah selesai semesteran?’

‘Masih satu ujian lagi dok. Harusnya lusa saya ujian yang terakhir.’

‘Nanti minta ikut ujian susulan saja....... Baik... Nggak apa-apa ini. Dr. Aditya, saya sarankan tidak usah dipasang pen, langsung digips saja.’

Setelah memberikan saran dr. Lukito meninggalkan ruang UGD. Sementara dr. Aditya menyiapkan pemasangan gips, Lutfi mengurus kamar untuk Imran.

Sudah jam setengah tujuh malam ketika Imran masuk ke ruangan kelas dua, ruangan dengan empat tempat tidur. Ada dua pasien di kamar itu. Syahrul masih menemaninya, semenatara Rinto karena ada keperluan sudah lebih dahulu pergi. Bang Lutfi pamitan mau pergi.

‘Abang tinggal kau, ya? Tenang-tenang aja disini,’ katanya.

‘Baik, bang. Terima kasih, bang.’

‘Besok abang lihat lagi kau kesini. Nanti abang carikan kruk, tongkat penyangga. Kau harus menggunakan kruk untuk beberapa waktu.’

‘Terima kasih, bang..... tapi berapa lama awak harus tinggal di sini, bang?’

‘Kita lihatlah sehari dua ini. Kalau tidak ada keluhan kau boleh segera pulang. Tapi, untuk sementara kau terpaksa memakai tongkat penyangga.’

‘Baik, bang.’

‘OK ya? Abang pergi dulu ya?’

‘Ya, bang. Terima kasih...... Salam buat teteh, uni dan Lala, ya bang.’

‘Nanti abang sampaikan.’

Tinggal Imran dan Syahrul. Syahrul akan menemani Imran malam ini di rumah sakit.


*****

Friday, December 11, 2009

DERAI-DERAI CINTA (35)

35. MUSIBAH

Sudah lebih sebulan musim hujan hadir. Hampir setiap sore turun hujan. Bahkan seringkali hujan lebat disertai guntur dan petir. Udara di sore dan malam hari di Bandung jadi semakin dingin di saat seperti ini. Udara basah dan lembab. Bagi Imran cuaca seperti ini adalah sebuah tantangan tambahan. Kegiatan sehari-hari tetap harus berjalan. Kuliah, praktikum, asistensi, ujian-ujian, semua berjalan seperti biasa. Kalau harus keluar di saat hari hujan, dipakainya jas hujan. Ditambah payung. Tidak ada lagi masalah. Jalan yang ditempuh itu-itu juga. Tempat yang dituju itu-itu juga. Setelah sampai di tujuan, apakah di ruang kuliah, apakah di laboratorium atau di perpustakaan, dilepasnya semua atribut tambahan itu, disimpan di dalam tas plastik, maka hilanglah bekas tetesan air hujan. Lalu kegiatan dapat berjalan seperti biasa.

Untunglah ujian semester sudah segera akan berakhir. Tinggal satu ujian lagi yang akan dilaluinya hari Kamis lusa. Sesudah itu tinggal menunggu hasil semester ini. Seperti biasanya, Imran selalu optimis. Karena sebelum setiap ujian dia sudah mempersiapkan diri semaksimal mungkin. Tidak pernah dia berangkat ke ujian tanpa persiapan yang matang. Pada semester-semester yang lalu, dengan usaha seperti itu hasilnya alhamdulillah selalu memuaskan. Semester inipun dia berharap akan mendapat hasil yang sama.

Urusan pengiriman kain-kain ke Bukit Tinggi tetap berjalan seperti biasa. Bahkan akhir-akhir ini volumenya semakin bertambah. Imran menyisihkan empat sampai lima jam waktunya dalam seminggu untuk mengontrol dan menyiapkan pengiriman barang. Hari Minggu dia bekerja agak lama, memilih dan menyeleksi kain-kain. Dan hari Selasa berurusan dengan kantor ekspedisi. Karena pada hari itu biasanya kain-kain itu dikirim. Siang ini Imran harus pergi mengurus pengiriman barang tersebut.

Seperti biasanya, jam dua siang urusan itu sudah selesai. 3 koli besar paket kain sudah siap untuk diberangkatkan. Setelah urusan administrasi dengan kantor ekspedisi beres, Imran bergegas pulang karena dia akan melanjutkan belajar untuk menghadapi ujian lusa. Cuaca mendung. Tadi sudah sempat turun hujan tapi sementara ini berhenti lagi. Jalan raya masih basah dan disana sini air masih tergenang. Imran menompang angkutan kota, mobil penumpang Suzuki. Dia duduk di muka di samping sopir.

Mujur tak dapat diraih, malang tak dapat ditolak. Ketika mobil angkutan mini itu baru saja memasuki jalan Dago dari arah jalan Merdeka, sebuah sepeda motor yang melaju kencang dan berbelok dari arah jalan R E Martadinata, terjatuh beberapa meter di depan angkutan yang ditompangi Imran. Sepertinya pengendara sepeda motor itu melanggar lampu merah dan entah kenapa dia tergelincir. Sopir angkutan kaget bukan main. Bermaksud menghindar dari menabrak pengendara motor yang terkapar di jalan di depannya, sopir itu membanting stir ke kiri. Ternyata akibatnya fatal. Mobil angkutan itu menabrak pohon pelindung di pinggir jalan. Meskipun tidak sedang berkecepatan tinggi, tapi akibat tabrakan itu cukup parah. Bagian depan sebelah kiri mobil angkot itu penyok dan terdorong ke dalam sementara kacanya pecah.

Imran menjerit kaget dan kesakitan. Darah segera mengucur dari kepalanya yang kena pecahan kaca jendela pembatas dengan tempat duduk di belakang. Kakinya terasa berat dan tidak bisa digerakkan. Tapi kesadarannya tidak hilang. Dia berusaha mengusap kepalanya yang berdarah. Ada pecahan kaca tertancap di kepalanya sebelah kanan. Pecahan kaca itu dapat diambilnya. Darah semakin keras mengalir. Imran menutup luka itu dengan tangannya sekuat-kuatnya. Tapi dia sama sekali tidak bisa menggerakkan kakinya. Sopir angkot juga luka di mukanya tapi masih dapat bergerak. Dia bisa keluar dari pintu sebelah kanan.

Penumpang di bagian belakang angkot berhamburan keluar. Mereka hampir tidak ada yang cedera. Pengendara kendaraan lain segera berhenti melihat kecelakaan itu. Beberapa orang menolong anak muda yang terjatuh dari motor yang ternyata pingsan. Anak muda itu dibawa dengan sebuah angkot lain ke rumah sakit. Polisi segera datang, mengamankan sepeda motor yang jatuh itu dan melihat ke angkot yang menabrak pohon. Dia melihat Imran yang masih duduk di dalam mobil itu.

‘Pak, tolong saya pak. Badan saya tidak bisa digerakkan,’ Imran memohon.

Polisi itu mencoba membuka pintu kiri yang ternyata macet. Imran tidak bisa segera dikeluarkan.

Di antara kerumunan orang-orang itu ada Irma dan Rinto. Irma baru saja dari jalan Merdeka dan disana dia bertemu Rinto. Irma sedang menuju pulang ke tempat kosnya dan Rinto ikut menemani. Keduanya mengendarai sepeda motor mereka masing-masing. Mereka segera berhenti di dekat kerumunan orang-orang. Rinto yang mula-mula mengenali Imran, penumpang angkutan yang berdarah-darah tapi belum dikeluarkan dari dalam mobil. Irma juga melihat Imran. Melihat tangan Imran penuh darah yang mengalir dari kepalanya, Irma spontan melepas sal dari lehernya dan melap darah di tangan Imran. Anak muda yang malang itu membuka matanya. Dilihatnya Irma dan dikenalinya anak gadis teman Ratih itu.

‘Pakai kain ini untuk menutup luka itu sementara,’ kata Irma.

Imran menurut. Dengan menempelkan sal tebal itu aliran darah lukanya bisa dihentikan sementara. Irma memberi tahu Rinto untuk menunggu karena dia akan menjemput teman yang juga masih familinya di Rangga Malela. Temannya itu punya mobil. Irma akan minta tolong teman itu mengantar Imran ke rumah sakit.

Tepat ketika Irma kembali bersama Fauzi familinya itu, badan Imran berhasil dilkeluarkan dari dalam mobil angkutan digotong oleh dua orang polisi bertiga dengan Rinto. Sepertinya kaki kirinya patah. Imran mendesah menahan sakit. Irma meminta agar Imran dinaikkan ke mobil Kijang Fauzi. Imran dibaringkan di tempat duduk di bagian tengah.

‘Kita ke rumah sakit,’ kata Irma.

‘Tolong antarkan saya ke Hasan Sadikin,’ pinta Imran.

‘Baik,’ jawab Irma. ‘Mas Rinto, tolong diberi tahu teman serumahnya bang……. Maaf, bang apa namanya bang?’ tanya Irma.

‘Saya Imran. Terima kasih sekali. Tolong beri tahu Syahrul, Rinto. Aku dibawa ke Hasan Sadikin.’

‘Baik. Aku akan cari Syahrul dan menyusul ke rumah sakit,’ jawab Rinto.

Imran dibawa ke Unit Gawat Darurat di RS Hasan Sadikin. Dokter jaga segera merawat luka di kepalanya. Luka itu tidak lebar tapi cukup dalam dan harus dijahit. Kaki kiri Imran patah di tulang keringnya. Patah itu perlu perawatan lebih teliti.

Irma dan Fauzi menunggu sampai perawatan luka di kepala Imran selesai. Dokter UGD itu menanyakan apakah Irma dan Fauzi famili Imran.

‘Bukan, dok,’ jawab Irma. ‘Tapi kenapa memangnya dok?’ tanyanya pula.

‘Kaki saudara……’

‘Imran,’ jawab Irma menjelaskan.

‘Ya, saudara Imran. Kakinya patah. Bisa langsung kita gips, tapi bisa juga kita pasangi pen. Kalau dipasangi pen, mudah-mudahan hasilnya lebih optimal. Tapi untuk memasang pen harus dioperasi. Kami harus menanyakan dulu kepada keluarga pasien, apa pilihan yang akan diambil.’

‘Wah…. Saya bukan familinya dok. Tapi kalau memang dipasang pen hasilnya bisa lebih baik, kenapa tidak dipasang pen saja dok?’ tanya Irma pula.

‘Karena menyangkut biaya juga,’ jawab dokter.

‘Begitu ya, dok,’ kali ini Irma menoleh ke arah Imran yang masih terbaring.

Imran mendengar lamat-lamat pembicaraan itu.

‘Tolong tanyakan berapa biayanya,’ kata Imran setengah berbisik karena tubuhnya terasa sangat lemah.

Dokter itu mendengar perkataan Imran. Dia lalu memberi tahu perkiraan biayanya.

‘Saya sanggupi dokter. Insya Allah saya sanggupi membayarnya. Silahkan saya dipasangi pen saja,’ jawab Imran.

‘Disini ada saudaranya? Maksud saya di Bandung ini?’ tanya dokter lagi.

‘Ada dokter. Sepupu saya. Namanya Lutfi. Dokter Lutfi.’

‘Dokter Lutfi Taufik?’

‘Ya, dokter.’

‘Oh, dia sejawat saya. Akan saya hubungi dia,’ kata dokter itu pula.

Sementara itu Syahrul datang bersama Rinto. Syahrul sangat sedih melihat keadaan Imran. Kepala Imran dibalut perban putih.

‘Apa yang sakit?’ tanya Syahrul.

‘Kakiku patah, Rul. Dan kepala ini tadi luka kena kaca,’ jawab Imran lirih.

‘Sabar!’

‘Insya Allah aku sabar.’

‘Kau pasti belum makan. Kau pasti lapar.’

‘Ya… aku lapar,’ jawab Imran polos.

‘Biar aku carikan kau makanan. Tunggulah sebentar,’ kata Syahrul sambil langsung bergegas pergi.

‘Saya barusan membelikan roti ini. Bolehkah dia makan disini dok?’ tanya Irma.

‘Boleh saja. Saya sedang menghubungi dokter Lutfi. Setelah itu nanti kita carikan kamar. Sementara biar disini dulu. Silahkan kalau mau makan,’ jawab dokter.

Irma menyerahkan roti dan susu ultra yang dibelinya di luar.

‘Makanlah bang,’ kata Irma sambil mengulurkan roti dan susu itu.

Imran menerimanya. Dia memang lapar.

‘Terima kasih. Terima kasih banyak…. Maaf, saya tidak ingat nama mbak ini,’ kata Imran.

‘Saya Irma. Teman Ratih.’

‘Ya, saya ingat mbak temannya Ratih. Tapi saya lupa namanya.’

Irma tersenyum.

Imran memakan roti yang berbungkus plastik dan minum susu kotak ultra itu.

‘Baiklah bang. Teman bang Imran sudah datang, saya tinggal dulu. Semoga abang cepat sembuh,’ Irma berpamitan.

‘Waduh….. Terima kasih banyak mbak. Terima kasih banyak mas…. Mas dan mbak telah menolong menyelamatkan saya. Terima kasih banyak,’ kata Imran bersungguh-sungguh.

‘Nggak apa-apa bang. Sesama manusia kita wajib saling menolong. Satu hal bang, jangan panggil saya mbak. Saya urang awak juo. Panggil saja nama saya Irma.’

‘Terima kasih kalau begitu Irma. Kalau mas ini?’

‘Fauzi. Uda Fauzi,’ Irma yang menjawab.

‘Terima kasih banyak, da. Maafkan saya, darah saya berceceran di mobil uda.’

‘Ndak apa-apa. Nanti bisa dicuci. Baiklah, semoga cepat sembuh, ya.’

‘Saya harus banyak-banyak minta maaf.... Sal Irma itu berlumuran darah. Bagaimana saya mengembalikannya…..?’

‘Nggak apa-apa bang. Nanti biar saya cuci,’ jawab Irma.

Irma mengambil sal berlepotan darah yang mulai mengering itu dan memasukkannya ke kantong plastik.

Irma dan Fauzi berpamitan kembali kepada Imran dan Rinto lalu meninggalkan ruangan rumah sakit itu.


*****

Thursday, December 10, 2009

DERAI-DERAI CINTA (34)

34. SAINGAN BARU?

Sudah jam setengah enam sore waktu Yuni sampai di rumah Sekeloa. Di rumah hanya ada Lala dan bibik. Lala sedang menonton tv sendirian. Ada liputan tentang gunung Marapi yang sedang aktif. Saking terpesonanya dengan liputan itu, dia tidak sadar waktu Yuni masuk rumah.

‘Asyik ‘kali kau…..’ kata Yuni menyapa.

‘Heh… kapan kau masuk? Kok nggak kedengaran? Lihat tu, kampung kita sedang dapat musibah,’ jawab Lala sambil matanya tidak berkedip dari layar tv.

‘Iya…. Heboh betul beritanya akhir-akhir ini…. Itu Bukit Tinggi kan? Ya…lihat itu…. Semua diselimuti debu… sampai kuda dan bendipun kena debu….’

‘Ah…. Berisik ‘kali kau. Dengarkan sajalah cerita itu dulu….’

‘Waduh…. Maaf……, maaf juragan puteri…. Terganggu ya…..gan…?’

Lala diam saja. Matanya terus memperhatikan tayangan tv itu. Sampai akhirnya liputan itu selesai.

‘Yaah…. Kasihan orang di sekitar gunung Marapi….. Heh ngomong-ngomong gimana keadaan Irma? Sudah sembuh betul dia?’ Lala menoleh ke Yuni.

‘Sudah…. Sudah lumayan… Besok sudah mau ikut kuliah lagi.’

‘Mamanya sudah pulang ke Jakarta?’

‘Sudah. Begitu Irma keluar dari rumah sakit tante Salma langsung pulang ke Jakarta. Katanya, sempit di kamar kos Irma….. Tante Salma memang paling bisa…’

‘Ya, iya juga ‘kali. Kan sudah lama dia meninggalkan rumah di Jakarta. Ada semingguan kan? Sejak Irma masuk rumah sakit?’

‘Sepuluh hari…’

‘Mangkanya…… Mama aja kalau sudah sepuluh hari disini pasti juga resah pengen cepat-cepat pulang.’

‘He..he… begitu rupanya kebiasaan mak-mak ya… Jadi wajar-wajar saja rupanya… Eh, uni kemana?’

‘Dia ke Jakarta tadi siang. Pulangnya besok…’

‘Oooo… Aku ada berita lho….’

‘Berita apa?’

‘Berita penting….’

‘Berita penting apa?’

‘Adalah pokoknya…’

‘Ya udah… ceritain!’

‘Ah nggak. Ntar ajalah…. Aku mau mandi dulu… Ntar abis tu baru aku ceritain… Soalnya pasti bakalan menarik buat kau juga….’

‘Semprul! Ceritain aja sekarang…. Kenapa mesti menunggu entar?’

‘Ntar aja…. Udah mau maghrib…. He..he… Biar kau penasaran dulu.’

‘Berarti nggak penting-penting amat…..’

‘Tunggu sajalah nanti!’

‘Ya sudah! Cepatlah kau pergi mandi sana!’

‘Penasaran, kan? He..he..he..’

***

Sehabis shalat maghrib Lala duduk di depan meja belajarnya sambil menghadapi diktat Biologi. Dia tidak mau mendesak Yuni tentang cerita yang mau diceritakannya tadi. Biar Yuni yang penasaran bahwa dia seolah-olah tidak tertarik mendengar yang akan diceritakan Yuni. Benar seperti yang diduga Lala. Justru Yuni yang tidak sabar ingin bercerita.

‘Mau dengar nggak nih?’ tanya Yuni mengawali.

‘Silahkan…… kalau mau cerita…’ jawab Lala dengan nada tidak terlalu tertarik.

‘Tadi aku ketemu bang Imran.’

‘Oooo… cuman itu? Ketemu terus ngapain emang?’

‘Kamu nggak mau tahu aku ketemu dimana?’

‘Ketemu dimana? Di bioskop? Nonton bareng?’

‘Di rumahnya.’

‘Hah? Kau ke rumahnya?’

‘Penasaran, kan? Mulai penasaran kan? Ya, aku ketemu bang Imran di rumahnya di Taman Sari.’

‘Ngapain kau kesana?’

‘Ada urusan. Dan ketemu bang Imran.’

‘Berurusan lalu ketemu bang Imran? Urusan apa?’

‘He..he.. pasti kau penasaran….’

‘Cerita sajalah yang jelas…… kalau kau benar-benar mau bercerita!’

‘Baik. Biar kau tidak menduga yang bukan-bukan, begini ceritanya. Tadi aku ke Taman Sari mengantar Irma ke rumah temannya. Irma mau meminjam catatan kuliah. Mau memfotokopi catatan selama dia nggak masuk. Nama temannya itu Ratih. Aku sudah kenal Ratih di tempat Irma. Tapi Ratih tidak ada di rumahnya. Sama adiknya Ratih kami diantarkan mencarinya. Lalu kami ketemu Ratih di rumah bang Imran. Berdua saja.’

‘Wah! Terus?’ Lala menutup diktat Biologi dan menoleh ke Yuni.

‘Ya…. Bang Imran berdua dengan Ratih di rumah pondokannya itu. Katanya sih sedang berdiskusi tentang gunung Marapi yang sedang meletus. Aneh kan? Mahasiswa Farmasi berdiskusi gunung meletus dengan mahasiswa geologi?’

‘Mmmh…. Agak aneh memang. Mungkin mahasiswa farmasi bertanya tentang gunung berapi ke mahasiswa geologi. Terus? Maaf aku tanya satu hal. Waktu kalian datang pintu masuk rumah bang Imran itu tertutup atau terbuka? Maksudku…, apa mereka berdua-dua itu di rumah yang tertutup?’

‘Nggak sih. Pintu masuknya terbuka. Tapi di dalam hanya ada mereka berdua. Bang Syahrul belum pulang.’

‘Bang Imran bagaimana? Kikuk? Maksudku, apa dia salah tingkah waktu kalian datang?’

‘Nggak. Dia biasa-biasa saja.’

‘Kalau begitu, aku percaya mereka tidak melakukan hal yang tidak-tidak.’

‘Yeeeeei…. Siapa yang bilang dia melakukan yang tidak-tidak?’

‘Lha… terus memang kenapa kalau begitu? Rumahnya……. Siapa tadi namanya?’

‘Ratih.’

‘Rumahnya Ratih seberapa jauh dari rumah bang Imran?’

‘Bang Imran tinggal di rumah petak di samping rumah Ratih. Sepertinya tempat bang Imran itu kepunyaan orang tua Ratih. Rumah petak dan rumah induk itu nyambung, tidak ada pagar di antaranya.’

‘Ya… iyalah kalau gitu. Mereka bertetangga. Ratih anak ibu kosnya atau ibu yang punya rumah yang disewanya. Pastilah mereka akrab. Mungkin Ratih dianggap bang Imran sebagai adiknya, begitu kali. Kan nggak ada masalah kalau gitu?’

‘Dasar kau sok tahu…. Ceritaku belum selesai kau sudah membuat kesimpulan.’

‘Lho….. ada lagi? Ya silahken diterusin!’

‘Silahken…… Meniru-niru aja kau…’

‘Mangga atuh neng….. silahkan… terusin…’

‘Ratih bilang…………’

‘Dia bilang apa?’

‘Dia bilang, dia tertarik sama bang Imran…..’

‘Kok bisa….. Kok bisa dia bilang begitu. Emangnya kau interview dia?’

‘Makanya…. Jangan sok tahu dulu….. Irma yang menginterview dia. Begini. Ratih menyuruh adiknya memfotokopikan catatan kuliah. Sementara menunggu adiknya, kami lanjutkan ngobrol-ngobrol. Irma menggoda Ratih sambil bertanya apakah dia berpacaran sama bang Imran. Dia bilang tidak. Dia bilang kalau bang Imran itu tidak tertarik untuk berpacaran. Bahkan dia bilang, sepertinya bang Imran itu tidak tertarik sama perempuan. Jadi mereka berteman saja. Bersahabat. Hanya Ratih mengulang-ulang omongan bahwa dia tertarik dengan bang Imran.’

‘Mmmmmh……. Ya nggak apa-apa juga kali. Mereka bertetangga. Lebih sering ketemu. Bang Imran itu pribadinya menarik, ganteng. Mungkin si Ratihnya juga cakep. Artinya mungkin dia merasa, seandainya dia jadi kekasih bang Imran itu pas-pas saja. Menurut aku wajar-wajar saja…’

‘Gitu? Kau nggak khawatir?’

‘Khawatir apa?’

‘Nggak khawatir………?’

‘Kok nggak diterusin?’

‘Nggak khawatir kalau bang Imran didapatkan orang lain?’

‘Siapa juga yang mendapatkan siapa…… Kan kau sudah bilang, katanya si Ratih dia tertarik tapi dia menyadari bahwa bang Imran tidak berminat….katakanlah untuk berpacaran. Dia menyadari bahwa bang Imran seperti orang yang tidak punya perhatian terhadap cewek-cewek. Sehingga dia hanya berteman saja. Begitu kan kau bilang tadi?’

‘Ya… Begitu katanya si Ratih….’

‘Nah! Apa yang dikhawatirin? Lagi pula kita, atau aku siapanya bang Imran untuk khawatir. Aku sepupunya, ding. Tapi ya….. tidak lebih dari itu.’

‘Kalau aku khawatir…. Aku khawatir dia akan jatuh cinta kepada cewek lain.’

‘He..he..he.. terus? Kau mau ngapain? Kalau nggak, pergilah suruh lamar dia sekarang-sekarang. Suruh ninik mamak kau melamar bang Imran ke papaku. Biar kau punya kepastian. Diteimanya lamaran kau atau ditolaknya….. he..he..he..’

‘Gila kau!’

‘Lho…. Kok aku yang gila? Cobalah kau pikir tenang-tenang.’

‘Kau sedang tidak membohongi hatimu, kan?’

‘Tidak.’

‘Kau bilang, kau juga tertarik sama bang Imran, kan?’

‘Iya. Betul. Aku tertarik. Aku mau jadi istrinya seandainya kami berjodoh.’

‘Lalu?’

‘Nggak ada lalu. Aku hanya berdoa saja. Aku tidak mungkin mengemis, tidak akan aku lakukan itu. Aku akan berusaha terlihat sebagai orang baik-baik di depannya. Seterusnya terserah dia.’

‘Kau akan pasrah, begitu?’

‘Kalau nggak, mau ngapain? Aku sudah mengenal sifatnya. Kalau dia bilang dia tidak suka berpacaran terus aku mau apa? Nggak akanlah aku mau merayu-rayu dia.’

‘Begitu ya?’

‘Terus kau sendiri….? Yang katanya….. kau juga tertarik kepadanya…. Kau mau ngapain?’

‘Nggak tahu juga…….’

‘Mangkanya……’

‘Terus…… Seandainya….. lima tahun ke depan…. Dia punya istri yang bukan kau…. Kau menyesal tidak?’

‘Kenapa menyesal?’

‘Seandainya istrinya aku….. he…he…he Seandainya, boleh saja kan seandainya? Terus, kau menyesal tidak? Atau kau akan memusuhiku, nggak?’

‘Nggak.’

‘Hebat….. Sudahlah kalau gitu….. Jangan-jangan kita ini sedang menggantang asap.’

‘Hah? Apa pula maksudnya itu?’

‘Kita seperti sedang membincangkan sesuatu yang tidak jelas juntrungannya, tapi hati kita bergetar….’

‘Juntrungannya sebenarnya jelas. Bang Imran….. Iya, kan? Tapi kita tidak tahu siapa yang akan mendapatkannya.’

‘Sudahlah. Pusing aku.’

‘He…he..he…’

‘Kenapa kau cengengesan?’

‘Nggak….. Sudahlah! Aku mau belajar…’


*****

Tuesday, December 8, 2009

DERAI-DERAI CINTA (33)

33. OBROLAN ANAK-ANAK DARA

Ketiga anak gadis itu berpamitan dengan Imran. Irma dan Yuni mengikuti Ratih ke rumahnya. Yuni bertanya-tanya dalam hati. Apakah Ratih pacar bang Imran? Apakah diam-diam sebenarnya bang Imran sudah punya kekasih yang tinggal di sebelah rumah? Dan dia sengaja berpura-pura tidak punya pacar? Toh berpacaran ke sebelah rumah tidak mesti menunggu malam Minggu? Tadi mereka berdua saja di tempat bang Imran. Alasan Ratih karena dia bertanya tentang masalah gunung Marapi di Sumatera Barat. Benarkah alasan itu? Atau itu hanya sekedar untuk menghindar? Yuni mengamati mata Ratih yang berbinar-binar ketika berbicara di depan bang Imran. Ah, apakah dia cemburu? Masak iya cemburu. Tapi kenapa ya? Dada Yuni berdebar-debar.

Di rumah Ratih mereka kembali terlibat dalam obrolan.

‘Kapan keluar dari rumah sakit, Ma?’ tanya Ratih.

‘Hari Selasa, kemarin,’ jawab Irma.

‘Lama juga ya, di rumah sakit?’

‘Sepuluh hari.’

‘Waktu aku nengokin kamu hari Sabtu itu kayaknya sudah sehat. Tapi masih belum boleh pulang ternyata ya?’

‘Waktu itu trombositku sudah mulai kembali naik tapi masih enam puluh ribu. Sama dokter belum dibolehin pulang. Memang sih, waktu itu rasanya badan sudah segar. Tapi kayaknya gejala demam berdarah memang begitu. Makanya kata dokter, jangan mengambil resiko. Dia suruh tunggu sampai trombosit kembali normal.’

‘Sampai naik berapa baru boleh pulang?’

‘Ketika diperiksa darah hari Senin siang sudah 160,000. Tapi hasilnya kan baru ketahuan jam delapan malam. Jadi aku baru pulang hari Selasa pagi.’

‘Sekarang sudah kuat betul?’

‘Tadi pagi masing agak pusing-pusing sih. Makanya aku belum berani pergi kuliah. Takut ambruk lagi. Tapi sekarang sudah jauh lebih lumayan.’

‘Benar. Ngapain juga dipaksain.’

‘Tapi kalau kelamaan nggak masuk kan makin repot aku nanti. Belum lagi ketinggalan praktikum.’

‘Tenang aja. Kan bisa ikut praktikum susulan. Sebentar ya, aku ambilin catatan-catatan kuliah itu. Mau langsung difotokopi semua atau sebagian-sebagian dulu?

‘Ada berapa sih? Ada lima kuliah kan? Aku fotokopi sekalian aja kali, ya. Aku mau langsung fotokopi di dekat sini saja. Biar abis tu langsung aku kembaliin. Jadi kamu nggak terganggu.’

‘Oo begitu. Sebentar aku ambil, ya.’

Ratih masuk ke dalam. Sukma datang membawakan minuman.

‘Silahkan, kakak-kakak,’ kata Sukma.

‘Wah, jadi repot kamu, Sukma. Sudah ngantarin ke depan nyari Pocut, bikinin minuman lagi. Terima kasih ya, dik.’

‘Nggak apa-apa kak. Terima kasih kembali,’ jawab Sukma sambil tersenyum manis.

Ratih kembali muncul.

‘Dik! Kamu mau ucapan terima kasih lagi nggak?’ tanya Ratih becanda.

‘Apa lagi, Cut?’

‘Kamu mau pergi memfotokopiin catatan kuliah ini nggak buat kak Irma?’

‘Mau aja. Tapi pake motor, ya? Boleh pinjam motornya nggak, kak Irma?’

‘Nggak usah pake motor. Naik sepeda aja. Dekat gitu aja kok.’

‘Ya, boleh. Tapi hanya sampai Balubur aja, jangan dibawa jauh-jauh nanti kamu berurusan sama polisi,’ jawab Irma.

Ratih menandai catatan yang perlu difotokopi itu dan menyerahkannya kepada Sukma.

‘Kamu lihat dulu hasil fotokopiannya, ya. Jangan sampai nggak kebaca.’

‘Beres, Cut,’ jawab Sukma bersemangat.

Irma memberikan uang untuk ongkos fotokopi itu. Dan Sukma segera pergi.

‘Ayo silahkan diminum, Ma, Yun,’ Ratih kembali membasakan. ‘Maaf ga ada apa-apa nih.’

Yuni dan Irma meraih cangkir teh bersamaan.

‘Ngomong-ngomong, kamu akrab banget sama Imran. Ada hubungan khusus ya?’

‘Ah, nggak. Hubungan biasa-biasa saja.’

‘Tadi berdua-duaan.’

‘Lha. Aku memang ada yang perlu ditanyakan, aku datang ke sana. Kenapa? Kamu pikir aku berpacaran dengan dia?’ tanya Ratih tersenyum.

‘Barangkali aja. Anak muda ganteng kayak gitu kan wajar aja kalau Pocut terpikat.’

‘He..he..he iya, ya,’ Ratih tertawa renyah.

‘Jadi beneran?’

‘Ah, nggak kok. Masak kamu nggak percaya sih?’

‘Sekedar bertanya aja. Boleh kan?’

‘Bener kok. Aku nggak bohong. Kak Imran itu terlalu baik. Tapi sepertinya dia tidak suka berpacaran. Jadi kami hanya sekedar berteman begitu saja.’

‘Tapi kayaknya kamu naksir deh, sama dia,’ Irma menggoda.

‘He..he.. Kan kamu sendiri bilang. Anak muda seganteng itu. Siapa yang nggak akan naksir…he..he..he.. Kamu sendiri bagaimana dengan mas Rinto?’

‘Aku juga sekedar berteman aja.’

‘Aku sering lihat mas Rinto ke sini. Mengerjakan tugas sama kak Syahrul.’

‘Syahrul teman serumahnya Imran?’

‘Benar. Kalau kamu, kayaknya kamu yang menghindar dari Rinto, ya?’

‘Tahu dari mana kamu?’

‘Aku dengar dari teman-teman.’

‘Aku juga nggak suka berpacaran. Nggak berani. Tapi kalau sekedar berteman bolehlah. Nggak apa-apa.’

‘Gitu, ya? Tapi benarkan, kalau mas Rinto mengejar-ngejar kamu?’

‘Dia sering datang. Ya, aku terima kalau sekedar untuk ngobrol-ngobrol. Kalau diajak pergi keluar aku nggak pernah mau. Pernah dia bilang kalau dia naksir ke aku. Aku bilang bahwa aku tidak mau berpacaran. Jadi gitu deh….’

‘Memang harusnya begitu, kali ya? Kamu bagaimana Yun? Diam aja dari tadi…’

‘Aku tidak ada komentar,’ jawab Yuni tersipu.

‘Punya pacar?’ tanya Ratih tersenyum.

‘Mmmh. Nggak,’ jawab Yuni juga tersenyum.

‘Emang bagusnya gitu kali, ya? Ngapain juga berpacaran. Kata uci, kalau sampai salah jalan, berat akibatnya. Apa lagi buat kita, perempuan.’

‘Nah! Tu, tahu. Tapi, uci tu siapa?’

‘Uci itu nenekku. Mamanya mamaku. Tahu nggak aku berkenalan dengan kak Imran itu gara-gara uciku itu,’

‘Oh ya?’

‘Uci terkunci di kamar mandi. Pintu kamar mandi itu nggak bisa dibuka dari dalam dan nggak bisa dibuka dari luar. Kuncinya ngadat. Di rumah waktu itu hanya ada aku dan uci. Aku kehilangan akal. Akhirnya aku pergi keluar minta tolong. Yang ada di rumah sewaan di sebelah waktu itu hanya kak Imran. Aku minta tolong ke dia. Itu asal mulanya kami berkenalan.’

‘Kejadiannya kapan? Waktu mereka baru tinggal disini?’

‘Bukan. Belum lama. Belum setahun, kali. Sebelumnya itu, aku sering sih melihat kedua anak muda itu, kak Imran sama kak Syahrul. Tapi kami seperti orang nggak kenal. Paling kalau ketemu di jalan sekedar senyum aja. Tapi sejak pristiwa kunci macet itu, kami jadi lebih akrab.’

‘Dia sering datang ke sini sesudah itu?’ tanya Yuni.

‘Nggak pernah. Pada hal dia sering lewat di depan rumah ini kalau mau ke mushala. Tapi tidak pernah mampir.’

‘Tapi kamu yang sering ke tempatnya?’ giliran Irma bertanya.

‘Beberapa kali uci menyuruh mengantar makanan ke sana. Uci merasa berhutang budi kepada kak Imran.‘

Sukma kembali dari tempat fotokopi. Diserahkannya hasil fotokopian itu ke Ratih. Ternyata hasilnya bagus dan jelas. Ratih menyerahkan fotokopian itu ke Irma.

Mereka masih melanjutkan obrolan sebentar lagi. Dan sesudah itu mereka berpamitan.

***
Mereka sengaja mampir ke tempat Imran sebelum pulang. Yuni ingin berpamitan dulu. Tapi rupanya Imran sedang pergi. Yang ada hanya Syahrul. Jadinya Yuni menitip salam saja melalui Syahrul.

‘Kamu tahu, tidak,’ kata Yuni waktu mereka sudah di jalan menuju pulang.

‘Tahu apa?’ tanya Irma.

‘Aku juga menyukai bang Imran,’ jawab Yuni polos.

‘He..he.. Terus?’

‘Ya. Aku suka. Aku naksir dia. Aku ingin jadi pacarnya.’

‘Gila. Terus apa yang kamu perbuat?’

‘Tidak ada. Belum ada apa-apa. Tapi sungguh. Aku benar-benar sangat menyukainya. Sampai termimpi-mimpi.’

‘Istighfar! He..he..he..’

‘Memang berdosa kalau anak perempuan naksir anak laki-laki?’

‘Yuni…. Yuni. Kalau berpacaran, terus kamu mau ngapain? Mau bergaul bebas? Mau celaka?’

‘Ih, kamu ini. Amit-amit. Ya nggak, lah.’

‘Lha terus mau ngapain? Cukuplah berteman saja. Nanti pasti akan datang masanya. Waktu itu nanti kita menikah. Nah, dengan suami sendiri silahkan berpacaran. Silahkan berbuat apa saja. Tidak akan berdosa.’

‘Kok kamu gitu amat, sih?’

‘Ya, aku memang begitu. Aku akan berusaha jangan sampai perlu berpacaran.’

Yuni terdiam.

Mereka sampai di tempat kos Irma. Yuni segera berpamitan. Dia ingin segera pulang ke Sekeloa. Dia ingin berbagi cerita dengan Lala tentang pertemuan tidak sengaja dengan Imran hari ini.


*****

DERAI-DERAI CINTA (32)

32. YUNI DAN RATIH

Yuni mempunyai seorang saudara sepupu yang kuliah di Farmasi Unpad. Namanya Irma. Ayah Irma adalah kakak mamanya Yuni. Umur mereka hampir sama. Tapi Irma satu angkatan di atas Yuni karena dia pernah meloncati kelas enam waktu di SD. Irma dulu bersekolah di Jakarta. Dia indekos di Titimplik. Tadinya Irma mengajak Yuni untuk kos bersama-sama, tapi Yuni sudah terlanjur setuju untuk tinggal di rumah Lala. Yuni sering datang ke tempat Irma karena memang tidak terlalu jauh dari kampus Unpad. Kadang-kadang dia menginap di sana. Begitu pula kadang-kadang Irma datang ke Sekeloa ke tempat Yuni. Hubungan mereka memang sangat akrab. Sebagai teman sebaya maupun sebagai saudara sepupu.

Baru-baru ini Irma sakit demam berdarah dan dirawat di Rumah Sakit Hasan Sadikin selama sepuluh hari. Sebelumnya dia pulang ke Jakarta di akhir minggu. Sekembali dari Jakarta, badannya tiba-tiba jadi lemas dan panas tinggi. Ketika itu di dekat tempat tinggalnya di Grogol sedang berjangkit penyakit demam berdarah. Mula-mula dicobanya mengatasi demam itu dengan minum obat turun panas. Tapi ternyata tidak mempan. Panasnya tidak turun. Irma terpaksa tidak pergi kuliah. Melalui teman kosnya, Rita dia beritahu Yuni kalau dia sakit dan meminta Yuni datang. Rita teman kuliah Yuni di Psikologi. Irma mau minta tolong Yuni mengantarnya ke dokter.

Yuni segera datang siang harinya. Waktu itu Irma dalam keadaan demam dan panas tinggi. Mukanya merah dan matanya terlihat sayu.

‘Tolong antar aku ke dokter, Yun,’ pinta Irma.

‘Ayo kita segera pergi sekarang. Kamu sanggup dibonceng dengan motor?’ tanya Yuni.

‘Mudah-mudahan sangguplah. Aku pakai jaket tebal biar nggak kedinginan.’

‘Kita ke tempat praktek bang Lutfi saja. Di dekat sini.’

‘Terserah kamulah,’ jawab Irma pasrah.

Yuni membawa Irma ke tempat praktek bang Lutfi di jalan Diponegoro. Kebetulan bang Lutfi dan teteh Yani baru saja sampai di tempat praktek.

Kedua dokter muda itu segera memeriksa Irma.

‘Wah, ini sepertinya demam berdarah. Sebaiknya Irma diopname saja,’ kata bang Lutfi.

‘Begitu ya bang?’ jawab Irma lemas.

‘Irma harus periksa darah. Dan harus diinfus. Jadi sebaiknya segera saja diopname,’ teteh Yani menambahkan.

Irma mengangguk lemas.

‘Ya. Biar abang antar ke rumah sakit sekarang. Mau?’

‘Saya menyerah saja bang. Badan saya sangat lemas,’ jawab Irma.

‘Ayo kita segera berangkat. Naik mobil abang saja. Yuni mau ikut?’

‘Ke rumah sakit mana bang? Biar aku susul pakai motor saja. Nanti pasti perlu motor lagi untuk wira-wiri,’ jawab Yuni.

‘Ke Hasan Sadikin. Ya sudah kalau gitu. Mari kita berangkat sekarang.’

Irma diantar bang Lutfi sementara Yuni menyusul pakai sepeda motor.

Irma lalu diopname. Diinfus dan diperiksa darah tiap hari. Selama dia di rumah sakit hampir tiap hari Yuni menemaninya, bergantian dengan tante Salma, mamanya Irma yang sengaja datang dari Jakarta. Waktu itu trombosit di dalam darah Irma turun sampai rendah sekali. Sampai 20 ribuan. Baru setelah itu pelan-pelan naik kembali. Perawatan demam berdarah menghabiskan banyak waktu. Dokter tidak akan mengizinkan pasien pulang sebelum kandungan trombosit darah kembali normal. Untuk menjadikannya normal perlu beberapa hari. Tapi untunglah sekarang dia sudah sembuh dan sudah boleh pulang ke tempat kos. Tante Salma sudah kembali ke Jakarta. Irma tidak kuliah selama hampir dua minggu. Sesudah keluar dari rumah sakit Yuni masih menemani Irma dua hari lagi di tempat kosnya. Hari ini Yuni rencananya akan pulang ke Sekeloa. Tapi sebelumnya Irma minta diantarkan ke rumah temannya di Taman Sari karena dia mau meminjam catatan kuliah yang tertinggal selama dia dirawat di rumah sakit.

‘Kamu masih ingat Ratih, kan? Antarin aku ke rumahnya, yuk! Aku mau minjam catatan-catatannya. Maksudnya ntar mau aku fotokopi aja,’ kata Irma mengajak Yuni.

‘Sekarang? Pagi ini? Bagaimana kalau ntar habis kuliah? Aku kuliah hanya dua jam hari ini. Jam sebelas nanti aku sudah selesai.’

‘Iya, maksudku hari ini. Katanya kamu ‘dah mau pulang ke Sekeloa. Aku masih belum pas kayaknya bawa motor. Masih agak gemetaran. Makanya kamu tolong nganterin aku ke sana. Ntar siang juga nggak apa-apa.’

‘Ya udah. Nanti sepulang aku dari kuliah aku antar. Kamu nggak usah kuliah dulu hari ini.’

‘Memang aku belum kuat untuk kuliah hari ini kok. Mungkin besok kali, aku coba-coba.’


***

Gunung Marapi di Sumatera Barat sedang aktif. Kepundannya menyemburkan api disertai awan tebal berwarna hitam. Kota Bukit Tinggi ditutupi debu vulkanis dari gunung Marapi. Debu halus hitam kecoklatan menutupi apa saja, atap rumah, jalan-jalan dan pohon-pohon. TVRI menyiarkan gambar gunung yang sedang meradang itu. Begitu pula dengan koran-koran memuat berita yang sama. Penduduk Bukit Tinggi dan sekitarnya, meski merasa tidak nyaman tapi tidak terlalu merisaukannya. Gunung Marapi memang seringkali menunjukkan gelagat seperti itu.

Ratih yang sedang sangat tertarik dengan apa saja yang berbau Sumatera Barat mengikuti berita gunung Marapi itu dari koran. Koran Kompas memuat gambar dan berita yang cukup rinci. Ratih ingin bertanya lebih jauh tentang kejadian itu kepada Imran. Dia kan mahasiswa geologi. Tentu Imran punya pengetahuan tentang sifat gunung berapi. Dan bukankah Imran serta Syahrul berasal dari Bukit Tinggi yang terletak tidak jauh dari gunung itu?

Waktu pulang kuliah siang itu Ratih melihat pintu rumah Imran terbuka. Tidak terlihat siapa-siapa, tapi tentu ada orang di dalamnya. Ratih mengetok pintu sambil mengucapkan salam. Ternyata Imran ada di dalam. Dia juga sedang membaca koran Pikiran Rakyat di kamarnya sesudah selesai makan siang. Syahrul belum pulang dari kuliah.

‘Apa kabar?’ tanya Imran menyapa, sambil tersenyum ramah.

‘Kabar baik, kak. Tapi ada yang mau ditanyakan, nih. Kak Imran lagi sibuk?’

‘Ah ndak. Mau menanyakan apa? Silahkanlah masuk,’ jawab Imran.

Ratih masuk dan duduk di meja belajar Syahrul.

‘Pertanyaan tentang gunung meletus. Boleh?’

‘Lho. Gunung mana yang meletus?’ tanya Imran lagi.

‘Kak Imran nggak membaca koran? Maksudnya, nggak tahu tentang gunung Merapi yang sedang meletus di Sumatera Barat itu?’

‘Oh ya. Saya tahu. Namanya gunung Marapi, pakai ‘a’. Marapi. Untuk membedakan dengan gunung Merapi, pakai ‘e’, yang di Jawa Tengah. Memang gunung itu sedang aktif saat ini,’ jawab Imran datar.

‘Nggak khawatir? Maksudnya, apakah gunung itu tidak mengancam keselamatan penduduk di sekitarnya? Katanya kampung kak Imran juga di kaki gunung Marapi itu.’

‘Ya, tidak terlalu khawatir. Gunung itu memang terhitung sangat aktif. Sering menyemburkan awan panas dan api. Masyarakat di sekitarnya sudah terbiasa dengan kejadian itu,’ jawab Imran.

‘Menurut berita di koran Kompas ini kejadian seperti yang sekarang ini justru tidak sering terjadi. Maksudnya, kegiatannya sekarang terhitung cukup mengkhawatirkan. Debu yang dimuntahkannya telah menimbulkan penyakit sesak nafas penduduk.’

‘Itu benar. Tapi mudah-mudahan tidak akan lebih dari itu. Biasanya gunung itu terbatuk-batuk untuk beberapa hari setelah itu dia akan beristirahat lagi dengan tenang.’

‘Maksudnya?’

‘Maksudnya, kepundan gunung itu dalam keadaan terbuka dan hal ini insya Allah aman. Kegiatan yang terjadi di dapur magma tersalurkan keluar karena kepundan tidak tertutup. Sama halnya dengan gunung Tangkuban Perahu yang dekat ini. Gunung berapi berbahaya kalau kepundannya tersumbat. Magma akan mendesak sumbat itu dan bisa mengakibatkan letusan hebat yang melemparkan isi perut gunung itu ke udara.’

‘Oo, begitu. Jadi sementara ini gunung itu tidak mengancam dengan bahaya yang menakutkan? Begitu juga dengan gunung Tangkuban Perahu?’

‘Insya Allah demikian.’

‘Tapi, saya dengar kabarnya, gunung Marapi di Sumatera Barat itu pernah menimbulkan banjir bandang yang menghanyutkan batu-batu besar. Apakah batu-batu besar itu bukan berasal dari letusan gunung itu?’

‘Banjir bandang....... Hmmmh…. Orang kampung kami menyebutnya galodo……’

Mata Imran menerawang jauh ketika mengucapkan kata-kata itu. Ratih heran melihat raut muka Imran tiba-tiba berubah.

‘Ya… Kenapa kak? Apa yang kak Imran pikirkan? Apakah banjir batu itu bukan hasil gunung berapi?’’

‘Eh… tidak. Kalau banjir yang menghanyutkan batu-batu itu berbeda…… Memang batu-batu itu juga merupakan muntahan gunung Marapi pada jaman dulu, lalu terbawa hanyut oleh banjir yang terjadi sekarang?’

‘Saya kurang faham maksudnya. Jadi gunung Marapi itu jaman dulu pernah memuntahkan batu-batu besar? Jaman dahulu itu kapan? Lalu kalau begitu, kenapa sekarang kak Imran katakan bahaya seperti itu bisa diabaikan? Bukannya kalau gunung itu pernah dan mampu meletus serta mengeluarkan muntahan berupa batu besar-besar hal itu dapat saja terjadi kembali?’

‘Seperti saya katakan sebelumnya, sebuah gunung berapi berpotensi mendesak dan melemparkan isi perutnya kalau jalan keluar atau kawah gunung itu tersumbat. Suatu saat dulu, mungkin beribu-ribu tahun yang lalu, kawah gunung Marapi tersumbat dan dia memuntahkan batu-batu besar itu ketika meletus. Saat ini keadaannya tidak demikian. Kepundannya tidak tersumbat.’

‘Ooo… Begitu ya kak? Iyalah… Mudah-mudahan tidak terjadi mala petaka yang dahsyat. Tidak terjadi hal yang menyusahkan masyarakat…’

‘Mudah-mudahan,’ jawab Imran sambil tersenyum lirih.

***

Sedang mereka berbincang-bincang itu, Irma dan Yuni datang, ditemani Sukma adik Ratih. Mereka mencari Ratih ke rumahnya, tapi kata Sukma mungkin Cut (panggilannya kepada Ratih) sedang di rumah kak Imran. Irma minta tolong diantarkan, dan ternyata benar, Ratih sedang berbincang-bincang dengan Imran.

Yuni sangat kaget mengetahui bahwa Imran tinggal disitu. Dia tidak menyangka akan bertemu Imran. Dalam hatinya dia lebih kaget lagi ketika melihat Imran sedang berdua saja dengan Ratih di dalam rumah itu.

‘Wah, lagi berduaan nih? Jangan-jangan kami mengganggu……,’ Irma menyapa begitu dipersilahkan Imran masuk.

‘Ah, nggak. Aku lagi belajar ilmu gunung berapi sama kak Imran,’ jawab Ratih sambil tersenyum.

‘Wah! Asyik dong….. Terus? Sudah faham?’

Ratih hanya tersenyum.

‘Bang Imran tinggal disini?’ tanya Yuni masih penasaran.

‘Ya, saya tinggal disini. Berdua dengan Syahrul. Masih ingat kan teman saya Syahrul?’ jawab Imran.

‘Ya… masih ingat. Yang datang waktu bikin gulai tunjang kan? Kok dia nggak ada?’

‘Benar, yang itu. Dia belum pulang. Mungkin sedang di tempat temannya mengerjakan tugas,’ jawab Imran.

‘Lho… sudah pada kenal to?’ Irma menyela.

‘Bang Imran kan sering ke Sekeloa…. Bang Imran sepupunya Lala,’ Yuni menjelaskan.

‘Oooo. Pantesan. Gimana Cut? Aku mau pinjam catatan-catatan. Boleh kan?’

‘Ya bolehlah. Gimana? Kamu sudah sehat betul?’

‘Alhamdulillah. Sudah lumayan. Besok aku rencana mau mulai masuk lagi,’ jawab Irma.

Setelah berbincang berbasa basi, Ratih mohon pamit. Dia mengajak Irma dan Yuni ke rumahnya, mengambil buku-buku catatan yang akan dipinjam Irma.


*****

Wednesday, November 18, 2009

GEMPA SUMATERA BARAT 30 SEPTEMBER 2009

GEMPA SUMATERA BARAT 30 SEPTEMBER 2009

Antara Musibah, Derita dan Fakta

Sudah tercatat, bahwa pada hari Rabu tanggal 30 September 2009 jam 5 lebih 16 sore gempa berkekuatan 7.6 skala Richter menggoncang pantai barat Sumatera Barat. Kota-kota Padang dan Pariaman berikut kampung-kampung disekitarnya menderita kerusakan. Kerusakan ringan sampai kerusakan sangat parah. Lebih seribu orang terkorban dalam musibah itu. Selama berhari-hari sesudah kejadian dahsyat ini beberapa stasiun televisi tidak henti-hentinya mengabarkan berita disertai tayangan gambar tentang kerusakan akibat gempa. Tayangan tentang usaha mengeluarkan mayat-mayat yang tertimbun runtuhan bangunan. Disamping ada juga tayangan tentang korban yang jiwanya selamat sesudah badannya dikeluarkan dari puing reruntuhan. Ranah Minang menangis haru dalam derita. Bantuan datang dari mana-mana. Secara spontan, baik melalui kelompok-kelompok perorangan atau dari badan-badan sosial di dalam dan luar negeri.

Empat hari sesudah gempa, tanggal 4 Oktober, jam tiga sore hari, saya sampai di Bandara Minangkabau. Mulanya kedatangan saya ini direncanakan untuk keperluan keluarga, menghadiri perhelatan seorang kemenakan di Sawahlunto. Karena adanya musibah gempa, saya ikut mengantarkan sumbangan untuk para korban gempa. Ada dua kelompok yang menitipkan sumbangan kepada saya. Yang pertama jamaah masjid Al Husna di Kompleks Depkes II Jatibening Bekasi, di tempat saya tinggal. Yang kedua anggota milis Rantau Net, sebuah komunitas maya urang awak yang anggotanya tersebar di sekeliling dunia.

Saya yang datang berdua dengan istri dijemput ke Bandara oleh kemenakan yang lain, sepasang suami istri pula. Kami akan langsung ke Sawahlunto sore hari itu juga. Sebelum menuju Sawahlunto, kami ditawari untuk melihat suasana kota Padang paska gempa. Bangunan Bandara terlihat berdiri utuh, tidak ada kesan terkena pengaruh gempa. Ketika kami di jalan menuju kota Padang, juga belum terlihat kerusakan yang berarti. Istri saya sempat berkomentar, kok kelihatannya aman-aman saja. Baru setelah berada di dalam kota terlihat beberapa buah rumah yang runtuh. Ada yang retak-retak, ada yang dindingnya jebol, ada yang atapnya runtuh ke tanah. Saya menangkap sedikit keanehan. Beberapa buah rumah berjejer, satu yang di tengah hancur sementara yang di kiri kanannya utuh. Bagaimana mungkin yang digoyang hanya rumah yang di tengah itu saja, tanya istri saya. Tidak ada yang bisa menjawab.

Kami kelilingi kota Padang. Kami temukan lebih banyak lagi rumah, kantor, gedung sekolah, toko-toko dan ruko (rumah toko), show room mobil yang runtuh. Kami lalui daerah Pondok. Di sini kehancuran nyaris total. Kami tidak bisa masuk ke area hotel Ambacang karena jalan di dekat hotel itu ditutup polisi dengan police line. Laa hawla wa laa quwwata illa billah (tiada daya, tiada kekuatan kecuali dengan izin Allah). Bergetar hati melihatnya. Kemenakan kami bercerita tentang bangunan yang sekarang terlihat satu tingkat padahal tadinya ruko bertingkat tiga.

Kenapa bangunan-bangunan itu seolah-olah sebegitu rapuh? Bisa luluh lantak seperti itu? Sementara ada bangunan-bangunan lain di sebelah menyebelahnya masih berdiri utuh? Saya bukan ahli bangunan, tapi saya menduga bahwa mutu bangunan-bangunan itu tidak sama semuanya. Mungkin ada kekeliruan teknis pada pembuatan sebagian dari bangunan-bangunan yang runtuh itu.

Sepanjang jalan kami berbincang tentang gempa. Kemenakan itu menceritakan keanehan gempa hari Rabu sore itu. Katanya, getaran gempa itu tidak hanya horizontal tapi juga vertikal. Sebuah gentong tempat beras terlempar naik turun di atas lantai sampai akhirnya pecah, katanya. Bahkan lemari bofet tempat menaruh barang pecah belah juga seperti dilemparkan naik turun sehingga isinya berhamburan keluar.

Saya terheran-heran mendengar cerita itu. Tiga hari kemudian, ketika pergi mengantarkan sumbangan untuk korban gempa dan melintas di lembah Anai, saya terkesima melihat dua bongkah batu, yang satunya berukuran lebih kurang 2x3x3 m3 di pinggir jalan, kira-kira satu kilometer sebelum air terjun dari arah Bukit Tinggi. Kedua bongkah itu pastilah terjatuh dari bukit setinggi 30 meter di atas. Seandainya ketika itu ada sebuah tank baja melintas dan ditimpanya, pastilah tank itu akan jadi gepeng.

Gempa berkekuatan 7.6 skala Richter adalah gempa yang kuat. Bulan Maret tahun 2007 kota Solok dan sekitarnya dilanda gempa berkekuatan 5.8 skala Richter juga memporak-porandakan kampung dan nagari. Banyak rumah dan bahkan masjid yang rusak kala itu. Beberapa buah masjid ada yang rubuh kubahnya atau hancur dindingnya. Ketika itu saya juga pergi mengantarkan sumbangan untuk korban gempa.

Gempa memang merupakan ketetapan Allah. Dalam bahasa para ulama, gempa adalah sunatullah. Sekarang kita semakin terbiasa dengan istilah para ahli tentang lempeng-lempeng benua yang saling bertumbukan. Bahwa seluruh pantai barat Sumatera sampai pantai selatan Jawa adalah daerah yang selalu dipengaruhi oleh tumbukan lempeng-lempeng benua itu dan merupakan daerah rawan gempa. Ingin kita perjelas sedikit informasi tumbukan lempeng itu dengan bahasa yang lebih sederhana. Bayangkan sebuah jeruk bali. Jeruk yang tebal kulitnya dan di bawah kulit itu terdapat isi buah berwarna merah yang biasa kita makan. Seperti itulah lebih kurang keadaan bumi kita ini. Bagian yang seperti kulit jeruk bali itu adalah lapisan atas bumi yang terdiri dari lapisan-lapisan batuan. Bagian isi buah berwarna merah adalah serupa dengan bagian isi bumi yang terdiri dari lava bertemperatur sangat tinggi. Ketika gunung berapi meletus lava ini dimuntahkan keluar.

Kulit bumi yang terlihat seolah-olah diam saja, ternyata dinamis. Dia bergerak satu terhadap yang lain dengan kecepatan beberapa sentimeter pertahun. Di mana titik awal pergerakannya? Di suatu tempat dimana bagian kulit itu lahir dan muncul ke permukaan. Tempat dia keluar itu berupa sebuah rekahan terletak di dasar laut. Para ahli menyebutnya ‘sea floor spreading’ (dasar laut yang merekah). Pada bagian-bagian tertentu lempeng-lempeng yang bergerak itu dapat saling bertemu dan bertumbukan. Dua lempeng yang berbeda massa dan kandungannya akan berbeda pula reaksinya terhadap tumbukan itu. Tumbukan lempeng yang terjadi di sebelah barat Sumatera , dimana lempeng yang datang dari arah lautan hindia lebih plastis, dia menekuk atau menunjam ke bawah lempeng benua yang lebih kekar. Tempat penunjaman lempeng ini dicirikan dengan munculnya tonjolan-tonjolan ke permukaan. Itulah yang kita lihat sebagai pulau-pulau yang berbaris di sebelah barat Sumatera sejak dari pulau Simeulue di utara sampai pulau Enggano di selatan.

Tempat dua lempeng bertumbukan ini adalah merupakan daerah yang paling tidak stabil. Bagian kulit bumi yang bertumbukan ini mengalami retak-retak, patah-patah dan masing-masing bagian yang rekah-rekah ini, karena pengaruh panas tinggi dari bagian dalam bumi ‘dengan mudah’ bergeser, berpindah tempat, yang satu jatuh terhadap yang lain. Kejadian itulah yang kita rasakan sebagai gempa. Bagian yang bergerak, bergeser atau jatuh ini berada pada kedalaman belasan sampai puluhan kilometer dan biasa disebut sebagai pusat gempa atau epicenter. Sayangnya tidak ada alat yang dapat digunakan untuk memprediksi kapan datangnya gempa, dimana pusatnya, dan berapa kekuatannya. Para ahli hanya bisa mencatat data statistik dari gempa-gempa terdahulu

Bagian lempeng benua yang lebih kekar mengalami pula penonjolan berupa gunung-gunung seperti yang kita temui di bagian barat pulau Sumatera. Sebagian besar dari gunung-gunung tersebut adalah gunung berapi aktif.

Seperti halnya gempa bumi, letusan gunung berapi juga sangat akrab dengan daerah tempat bertemunya lempeng-lempeng benua ini. Letusan gunung itu pernah sedemikian dahsyatnya yang meninggalkan kawah raksasa danau Toba dan danau Maninjau sekarang. Gunung Toba dan Gunung Maninjau purba itu meletus sekitar 75,000 tahun yang lalu. Pada saat meletus gunung berapi melemparkan berjuta-juta ton material keluar dari kepundannya. Ada yang berupa bongkahan batu berbagai ukuran, berupa pasir dan debu vulkanis. Pasir dan debu vulkanis ini disebut sebagai ignimbrite. Penyebarannya bisa sampai beratus-ratus kilometer dari kepundan gunung berapi dan ketebalannya bisa sampai beratus-ratus meter.

Di Sumatera Barat, ignimbrite ini disebut penduduk sebagai bungin putih. Dinding tebing ngarai Sianok di Bukit Tinggi yang berwarna putih adalah contoh yang sangat baik. Sebagian besar Bukit Tinggi yang berbukit-bukit diselimuti material ignimbrit yang sebenarnya sangat labil dan mudah longsor. Penduduk menambangnya di tempat-tempat tertentu di tebing-tebing gundukan yang menyerupai bukit. Pasir putih ini biasa digunakan sebagai bahan bangunan bersama-sama dengan pasir pantai yang berwarna hitam.

Tumpukan pasir ignimbrit ini tidak berlapis dan mempunyai pori-pori yang mampu menyerap air. Jadi rawan longsor. Di bagian atas yang ditutupi oleh tanah soil, tumbuh-tumbuhan bahkan pohon-pohonan tinggi dapat tumbuh.

Pada saat berkunjung ke kampung (nagari) Lubuak Laweh tanggal 7 Oktober yang lalu, saya lihat kampung-kampung itu tertimbun oleh pasir putih ignimbrite ini. Bukit-bukit yang mengitari kampung-kampung itu rupanya ditutupi oleh ignimbite yang meluncur turun dalam volume raksasa sesudah disentakkan oleh getaran gempa.

Apa yang dapat kita simpulkan dari tulisan ini ?

Semua bagian barat Sumatera, seperti halnya bagian selatan Jawa adalah daerah yang rawan gempa. Sudah seperti itu sejak dulu dan akan seperti itu seterusnya. Itu sudah ketetapan Sang Maha Pencipta.

Membuat bangunan, apalagi bangunan beton bertingkat hendaklah memperhatikan dengan sungguh-sungguh ilmu teknik sipil. Salah penggunaan bahan seperti pemakaian kerangka besi yang tidak tepat akan sangat fatal akibatnya. Namun ini hanya sebatas ikhtiar.

Hendaklah mengenali lokasi tempat membangun dengan baik. Hindari tempat yang terancam kena longsoran atau bahkan kejatuhan batu dari tempat yang lebih tinggi. Sekali lagi ini hanya sebatas ikhtiar.

Banyak-banyaklah bertawakkal dan berserah diri kepada Sang Khaliq. Dia yang telah menciptakan bumi dan segala isinya dan Dia Maha Kuasa untuk berbuat sekehendak Nya. Dalam hitungan beberapa puluh detik, bencana mencekam yang menimbulkan ribuan korban bisa terjadi dengan izin dan kekuatan Nya.



*****

Saturday, September 26, 2009

KETUPAT LEBARAN (1430)

KETUPAT LEBARAN (1430)

Sepertinya akan terjadi sesuatu yang luar biasa. Sepertinya Hari Raya Aidil Fitri tahun ini tidak akan mengikuti hari yang tertera di kalender. Sepertinya kita akan berhari raya lebih cepat satu hari. Menteri Agama sendiri yang memberi keterangan tentang kemungkinan itu. Bahwa boleh jadi 1 Syawal akan jatuh pada hari Ahad. Kami pengurus masjid bersiap-siap untuk menghadapi kemungkinan hari raya lebih awal, meskipun ini bukan yang pertama kali kami alami. Beberapa tahun yang lalu, ketika sebagian umat Islam sudah yakin akan berhari raya sesudah berpuasa dua puluh sembilan hari, kami juga menyiapkan pembagian zakat pada sore hari ke dua puluh sembilan bulan Ramadhan.


Sesudah shalat zhuhur kami bergotong royong memasukkan uang ke dalam amplop yang nanti akan dibagikan kepada para mustahiq. Yaitu mereka yang berhak menerima pembagian zakat. Sambil berbincang-bincang santai.


'Saya yakin telah mendapatkan malam lailatul qadar tahun ini,’ kata pak Marwan, salah satu di antara kami.


’Kok bisa?’ tanya pak Kus pendek.


’Tadi menjelang sahur saya diterpa kantuk bersangatan, setelah bertadarus sejak sehabis tarawih tadi malam. Akhirnya saya tertidur sebentar dan bermimpi. Ada cahaya sangat terang menunjam masuk ke dalam tubuh saya. Saya terbangun, badan saya berkeringat.’


’Dari mana datangnya cahaya itu? Maksudnya, apakah cahaya itu datang dari arah langit?’ tanya pak Sulaiman.


’Saya tidak tahu. Saya hanya melihat tiba-tiba seberkas cahaya datang ke arah saya,’ jawab pak Marwan.


’Lalu?’ tanya pak Kus dengan mata tak berkedip.


’Saya yakin itu isyarat bahwa saya telah mendapatkan malam lailatul qadar,’ jawab pak Marwan pula.


’Mungkinkah itu, pak?’ tanya pak Kus kepada pak Hasbullah.


Pak Hasbullah hanya tersenyum. Beliau tetap asyik meneruskan pekerjaan memasukkan uang ke dalam amplop. Mata jamaah yang lain bergantian mengamati pak Marwan dan pak Hasbullah.


’Tolonglah jelaskan lagi tentang lailatul qadar itu pak Hasbullah. Mungkinkah yang dialami pak Marwan itu betul-betul merupakan isyarat?’ pinta pak Kus.


’Baiklah,’ kata pak Hasbullah setelah menarik nafas.


’Sebelumnya saya ingin bertanya. Apakah pak Marwan pernah mendengar cerita orang lain yang mendapatkan malam lailatul qadar pula?’ tanya pak Hasbullah.


’Pernah, pak. Kakak ipar saya. Dia juga bermimpi didatangi cahaya di malam-malam terakhir bulan Ramadhan sekitar lima tahun yang lalu. Setelah itu dia jatuh sakit. Demam panas selama beberapa hari. Sesudah sembuh, dia merasa bahwa dia mempunyai kemampuan untuk mengobati orang sakit. Dia benar-benar menjadi dukun sesudah itu. Banyak orang datang berobat kepadanya. Dan banyak pula dari orang yang datang berobat itu sembuh dari penyakitnya. Saudara-saudaranya, termasuk istri saya, yakin bahwa dia mendapatkan malam lailatul qadar.’


’Sepertinya pak Marwan sangat terpengaruh oleh cerita itu dan sangat berkeinginan untuk mendapat pengalaman yang sama,’ kata pak Hasbullah.


’Sejujurnya, benar demikian itu, pak. Saya bertanya kepada kakak ipar saya amalam apa yang diperbuatnya waktu itu. Dia mengatakan agar pada sepuluh malam terakhir bulan Ramadhan lebih rajin berdiam di mesjid, banyak berzikir dan banyak mengaji al Quran. Sayapun mencoba mengikuti sarannya dan berharap agar saya mendapatkan malam lailatul qadar. Sampai saya bermimpi tadi pagi itu, pak,’ pak Marwan menjelaskan.


’Apakah pak Marwan berharap untuk menjadi dukun pula?’ tanya pak Hasbullah tersenyum.


Pak Marwan hanya tersenyum tapi tidak menjawab.


’Begini. Sebenarnya ayat Allah tentang lailatul qadar itu sangat tegas dan jelas dan mudah difahami. Cobalah simak! ’Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (al Quran) pada malam kemuliaan. Tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu? Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan. Pada malam itu turun para malaikat dan Jibril dengan seizin Rabb nya untuk mengatur segala urusan. Malam itu sejahtera sampai terbit fajar.’


Ayat al Quran pertama kali turun bertepatan dengan malam kemulian atau yang sering kita sebut sebagai lailatul qadar karena bahasa aslinya di dalam al Quran memang seperti itu. Malam kemuliaan itu dianugerahkan Allah untuk umat nabi Muhammad SAW, dan dihadirkan Allah setiap tahun di dalam bulan yang sama yakni bulan Ramadhan. Rasulullah SAW mengingatkan kita umatnya untuk beribadah secara bersungguh-sungguh pada malam-malam terakhir bulan Ramadhan agar memperoleh bahagian dalam malam kemuliaan itu. Keistimewaan beribadah pada malam itu, seperti yang dijelaskan pada salah satu ayat tadi, adalah lebih utama dari ibadah selama seribu bulan. Artinya lagi, bila seseorang melaksanakan shalat maghrib dengan sebaik-baiknya pada malam itu, nilainya setara dengan seribu bulan shalat maghrib. Begitu pula dengan shalat isya. Begitu pula dengan shalat tarawih. Begitu pula dengan shalat subuh di penghujung malam. Begitu pula dengan amalan-amalan lain yang dilakukannya pada malam hari itu. Tentu saja semua amal ibadah itu harus dilakukan dengan ikhlas semata-mata karena ingin mendapatkan ridha Allah, dilakukan dengan khusyuk. Dilakukan dengan sebaik-baiknya. Amalan yang mana saja, termasuk shalat tarawih dan mentadarus al Quran.’


Yang mendengar terdiam semua. Termasuk pak Kus dan pak Marwan.


’Tapi, pak. Bagaimana dengan keterangan Nabi SAW bahwa kita dianjurkan untuk mencarinya pada sepuluh malam terakhir? Karena harus mencari, tentu tidak semua orang mendapatkannya,’ pak Sulaiman bertanya.


’Benar sekali. Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan Imam Muslim disebutkan; Dari Ibnu Umar r.a., katanya beberapa orang sahabat Nabi SAW bermimpi melihat malam qadar dalam tidur mereka pada tujuh hari yang terakhir bulan Ramadhan. Maka bersabda Rasulullah SAW; ’Aku juga bermimpi seperti mimpimu itu, melihat malam qadar jatuh bertepatan pada tujuh yang terakhir bulan Ramadhan. Maka siapa yang mencarinya, carilah di tujuh yang akhir itu.’


Pada hadits yang lain Rasulullah SAW menyuruh cari pada malam-malam yang ganjil pada sepuluh malam terakhir. Nabi SAW dan para sahabat beliau bahkan melakukan i’tikaf, yakni berdiam di masjid pada sepuluh malam terakhir dalam ikhtiar untuk mendapatkannya.


Timbul pertanyaan kemudian, siapa yang mendapatkannya? Adakah tanda-tanda bagi orang yang mendapatkan malam qadar itu? Jawabannya jadi sulit. Karena tidak ada tanda-tanda itu. Kakak ipar pak Marwan yang menjadi dukun tidak bisa dibuktikan sebagai tanda bahwa beliau mendapatkan malam qadar. Keutamaan dari malam qadar, malam kemuliaan itu, bukanlah untuk dilihat hasilnya di dunia ini, karena itu merupakan pahala dari Allah yang insya Allah baru akan diterima nanti di akhirat. Siapa yang mendapatkannya? Kalau kita simak kembali ayat ketiga surat tentang lailatul qadar tadi, semua yang beramal pada malam itu insya Allah akan mendapatkan keutamaannya. Tentu bersesuaian pula dengan ibadah yang dilakukannya. Yang beramal sedikit akan mendapatkan keutamaan seribu bulan untuk amal yang sedikit itu. Yang beramal banyak pada malam hari itu akan mendapatkan setara dengan seribu bulan untuk setiap amalannya,’ pak Hasbullah menerangkan secara rinci.


’Bagaimana pula dengan tanda-tanda alam yang terjadi pada saat datangnya malam qadar itu, pak?’ tanya pak Kus.


’Tanda-tanda alam yang mana? Dalam salah satu hadits yang lain disebutkan bahwa pada suatu malam qadar, terjadi hujan pada malam itu. Dijelaskan pula bahwa sesudah shalat subuh terlihat tanah basah menempel di kening dan hidung Rasulullah SAW. Namun hujan pada malam hari itu bukanlah dikarenakan malam qadar. Malam qadar adalah malam istimewa yang ditetapkan Allah untuk orang-orang yang beriman pengikut Rasulullah SAW. Sementara hujan yang turun adalah rahmat Allah untuk semua makhluk Nya. Malam itu sejahtera sampai terbitnya fajar, seperti kita simak pada ayat terakhir surat al Qadar itu. Sejahtera karena malaikat turun menebarkan rahmat atas perintah Allah untuk hamba-hamba Nya yang beramal shaleh.’


’Maksud saya, ada keterangan yang mengatakan bahwa pada saat turunnya lailatul qadar itu, pohon-pohon sujud ke tanah, air membeku, ombak di laut berhenti menghempas, dan banyak lagi tanda-tanda yang lainnya,’ pak Kus menambahkan.


’Wah.... Kalau itu saya tidak tahu. Maksudnya selama semalam itu pohon-pohon pada sujud, rebah ke tanah? Belum pernah saya melihatnya. Dan sepertinya agak mustahil cerita itu. Atau adakah bapak-bapak yang pernah melihatnya?’ pak Hasbullah balik bertanya.


’Katanya lagi, itu hanya terlihat oleh orang yang mendapatkan lailatul qadar itu saja.’


’Begini!. Cerita seperti itu menurut hemat saya banyak kelirunya. Malam qadar itu adalah sepanjang malam, bukan sesaat dalam semalam. Tidak ada keterangan bahwa yang dihitung hanya sedetik atau beberapa saat di malam itu. Karena sepanjang malam, makanya saya bertanya, seandainya cerita bahwa pohon-pohon rebah bersujud pada waktu datangnya malam qadar, apakah pohon itu bersujud sepanjang malam? Kalau benar demikian harusnya tentu banyak orang dapat menyaksikannya. Waktu kita berangkat ke masjid dari rumah kita, tentulah kita dapat menyaksikan pohon-pohon bertiarap. Ternyata tidak demikian. Paling tidak saya tidak pernah menyaksikannya.’


’Jadi menurut bapak keterangan tentang tanda-tanda alam seperti yang saya sebutkan tadi itu, pohon bersujud, air membeku, semua itu tidak benar?’


’Saya tidak pernah mendapat atau mendengar keterangan yang membenarkan cerita seperti itu. Memang di tengah masyarakat banyak terdapat cerita-cerita yang entah dari mana asal-usulnya. Cerita tentang ibu-ibu yang bangun tengah malam mau mempersiapkan makan sahur. Didapatinya air yang akan direbus untuk membuat teh ternyata beku. Lalu ibu itu bercerita bahwa dia telah mendapatkan malam qadar. Atau bapak-bapak yang pergi berwudhuk di tengah malam. Kopiahnya digantungkannya pada sebuah cabang pohon dekat tempat berwudhuk. Sesudah selesai berwudhuk, ketika akan mengambil kopiahnya, ternyata pohon itu bangkit dari sujud dan kopiah yang diletakkan di cabang pohon itu tiba-tiba sudah terletak di tempat yang tinggi. Atau cerita orang yang berjumpa dengan nabi Khaidir di tengah malam qadar itu. Entah bagaimana dia tahu bahwa orang itu nabi Khaidir. Jadi banyak sekali ragamnya. Dan biasanya lagi, orang-orang yang kononnya mendapat malam qadar ini berubah menjadi oarng yang memiliki kemampuan supra natural. Misalnya jadi mampu mengobati orang sakit atau menjadi dukun dan sebagainya. Tidak ada keterangan yang saya ketahui tentang ciri-ciri malam qadar seperti cerita-cerita menakjubkan itu.’


’Lalu? Bagaimana dengan mimpi, pak. Seperti mimpi pak Marwan didatangi seberkas cahaya itu?’


’Wallahu a’lam. Pada hadits yang kita sebutkan tadi, para shabat Rasulullah SAW dan bahkan beliau sendiri bermimpi tentang keberadaan malam qadar pada tujuh malam terakhir. Bukan memberi isyarat bahwa yang bermimpi itu secara khusus mendapatkan malam qadar untuk mereka saja.’


’Kalau begitu, mungkinkah arti mimpi pak Marwan itu bahwa tadi malam adalah malam qadar, pak?’ tanya pak Hamid.


’Wallahu a’lam. Allah saja Yang Maha Tahu. Meskipun seandainya malam qadar itu tadi malam, cocok saja dengan keterangan lain bahwa keberadaannya di malam-malam ganjil. Tadi malam adalah malam ke dua puluh sembilan.’


’Dan ibadah setiap kita tadi malam nilainya lebih baik dari seribu bulan. Begitu pak?’ tanya pak Marwan.


’Insya Allah demikian,’ jawab pak Hasbullah.


Kami sudah selesai mempersiapkan amplop zakat yang nanti akan dibagikan sesudah shalat ashar.


Jatibening, awal Syawal 1430H.



*****