43. SEBUAH EVALUASI
Hati Imran yang selama ini dilatih untuk tegar, ternyata bisa juga bergetar. Bergetar karena obrolannya dengan Ratih siang itu. Sejujur-jujurnya, Imran menyukai Ratih. Gadis itu sopan, dan cantik. Dia termasuk yang dinominasi Imran untuk dilamarnya. Tapi nanti. Nanti yang mungkin setahun dua tahun lagi. Setelah dia bekerja. Dan setelah Ratih menamatkan kuliahnya. Tapi ternyata Syahrul sudah lebih dahulu mengutarakan maksud hatinya kepada Ratih. Sesuatu yang sangat wajar. Ratih, di samping sopan dan cantik, yang pasti juga dinilai demikian oleh Syahrul, belum mempunyai hubungan cinta dengan siapapun. Jadi sangat wajar kalau Syahrul melakukan pendekatan.
Imran terbawa perasaan. Dia melamun. Terbayang bagaimana hubungan mereka selama ini. Hubungan persahabatan yang didasari saling hormat menghormati. Hubungan yang terpelihara kesopanannya. Dia ingat ketika Syahrul mengatakan bahwa Ratih sebenarnya ada perhatian khusus kepadanya. Bahkan dulu, entah berapa tahun yang lalu, Ratih mengirim kartu undangan ke acara ulang tahunnya. Selembar kartu undangan yang berbeda. Berbau wangi. Kata Syahrul itu adalah sebuah pertanda. Bahwa di hati Ratih dia itu istimewa. Tapi waktu itu kebetulan dia tidak bisa menghadiri undangan tersebut. Dan tidak pernah mereka membahas tentang undangan itu sesudahnya. Dan undangan seperti itu hanya sekali itu saja.
Sekarang Imran terpaksa harus mencoret nama Ratih dari hatinya. Mencoret nama yang selama ini disimpannya rapat-rapat. Tidak mungkin dia bersaing dengan Syahrul. Itu tidak akan pernah dilakukannya. Dia sangat menghormati dan menghargai Syahrul. Kalau seandainya Syahrul berjodoh dengan Ratih, dia akan mendukung sepenuhnya.
***
Ratih segera menemui uci. Ternyata uci hanya ingin tahu bagaimana jawaban Imran untuk undangan makan malam. Uci senang karena Imran menerimanya. Uci sangat menyukai anak muda itu. Lucu juga nenek ini. Padahal sangat jarang beliau bertemu dengan Imran. Pertemuan yang tidak mungkin dilupakan uci adalah waktu anak muda itu datang membantu mengeluarkan beliau dari kamar mandi yang kuncinya macet.
Tapi beliau sering mendengar cerita Ratih. Ya, Ratih memang banyak bercerita tentang Imran kepada uci. Uci maklum bahwa cucunya menaruh hati terhadap Imran. Dan uci setuju. Beliau sangat senang melihat hubungan anak-anak muda itu, yang sejauh ini hanya sebatas hubungan persahabatan saja. Imran dan Syahrul pernah datang berhari raya ke rumah utama. Menemui keluarga besar pak Bambang Sadarta, bukan semata-mata menemui Ratih. Mereka datang berdua dan tidak mau duduk berlama-lama. Kedua anak muda itu memang pemuda yang sopan.
Ratih menyesal. Menyesal kenapa dia memberi tahu Imran bahwa Syahrul mengungkapkan perasaannya mau melamar dirinya. Ratih melihat perubahan raut wajah Imran ketika mendengar informasi itu. Sepertinya Imran kaget mendengarnya. Tapi kenapa dia kaget? Ah, mungkin dia tidak menyangka saja. Mungkin Syahrul tidak pernah bercerita kepadanya. Bukankah cerita seperti itu tidak akan menarik bagi Imran?
Tapi setelah dipikir-pikir, ada baiknya dia memberi tahu Imran. Ada baiknya juga hasil pembicaraannya dengan Imran tadi itu. Imran mengakui bahwa dia pernah mendengar cerita tentang dirinya dijodohkan dengan Lala. Artinya Imran mengetahui adanya skenario itu. Meskipun mungkin Imran belum dilibatkan. Belum ada yang menanyakan langsung pendapatnya. Bagaimanapun, tentu pada waktunya nanti Imran akan dihadapkan pada kenyataan itu. Akan datang waktunya dia diminta menikahi Lala, sepupunya itu dan Imran tidak akan mungkin menolak. Ratih mengenal Lala. Lala cantik. Rasanya tidak ada alasan bagi Imran untuk menolak menikahinya. Setidak-tidaknya, dari pembicaraan tadi siang Imran tidak menyatakan keberatannya atas kemungkinan itu meski dia juga tidak akan langsung menerimanya.
Ratih menyadari bahwa kemungkinan baginya untuk berjodoh dengan Imran sangat kecil. Boleh dikatakan sudah tidak ada sama sekali. Tidak akan mungkin dia bersaing dengan Lala. Karena faktor keluarga tentu akan sangat berpengaruh.
Tapi Ratih merasa puas. Setidak-tidaknya dia sudah memberi tanda yang sangat jelas bahwa dia tertarik kepada Imran. Meskipun mungkin sekarang sudah tidak akan ada artinya. Imran tetap seorang sahabat yang sangat baik.
***
Sadar bahwa melamun hanya akan membuat setan senang dan tertawa, Imran segera bangkit. Dia akan pergi ke Sekeloa. Sekalian untuk berpamitan. Berpamitan dengan abang Lutfi, teteh Yani dan Lina, bayi mungil yang lincah itu. Berpamitan dengan Lala dan Yuni. Imran mengunci pintu rumah pondokan dan segera berangkat.
***
Waktu Imran baru turun dari becak dilihatnya di kejauhan Lala baru datang dengan motor bebeknya. Rupanya Lala juga melihat Imran.
‘Dari kuliah?’ tanya Imran menyapa begitu Lala sampai di depan rumah.
‘Dari praktikum bang, terus mampir sebentar ke tempat teman.’
‘Kok sepi?’
‘Memang begini, kan. Tapi di dalam mungkin sudah ada Yuni.’
‘Si kecil Lina ndak ada?’
‘Kan di tempat neneknya. Nanti dijemput kalau ayah bundanya selesai praktek.’
‘Kalau ada Lina, pasti rame.’
‘Ya… tiga hari yang lalu ulang tahun pertama… Heboh….he..he..he..’
‘Iya, ya…. Udah setahun umurnya….. Wah, abang harus ngasih hadiah… Hadiah apa, bagusnya ya?’
‘Kalau abang tanya ke ayahnya, pasti permintaannya itu lagi – itu lagi….he..he..’
‘Masak gulai tunjang?’
‘Sudah pasti.’
Mereka masuk ke rumah. Ternyata di rumah memang hanya ada si bibik sendirian. Yuni belum pulang.
‘Abang jadi berangkat ke Jakarta?’ tanya Lala setelah mereka duduk di ruang tamu.
‘Jadi….. Hari Minggu besok insya Allah.’
‘Wuih…. Selamat tinggal Bandung, dong….’
‘Ya…… Tentu ada juga saatnya harus kembali ke Bandung nanti….’
‘Sudah ketahuan abang mau bekerja dimana?’
‘Belum…. Baru juga mengirim lamaran….’
‘Ke perusahaan-perusahaan minyak?’
‘Ya…. Ke perusahaan-perusahaan minyak..’
‘Abang melamar juga ke Caltex?’
‘Ya….. Sudah dikirim.’
‘Mudah-mudahan aja keterima, ya bang…’
‘Amiin……..‘
‘Terus…… Bang Syahrul kapan berangkat?’
‘Rencananya bulan depan. Tadi dia ke Jakarta mengurus visa Australia.’
‘Mantap juga dia, ya…’
‘Ya… dia mantap sekali sebagai pengajar. Dia memang pintar mengajar. Bakat turunan.’
‘Oo… orang tuanya bang Syahrul itu dosen juga?’
‘Bukan…., guru. Ayahnya guru abang waktu di SMA di Bukit Tinggi. Guru fisika dan beliau pintar sekali mengajar.’
‘Ooo, jadi guru sambil jadi pedagang kain?’
‘Yang berdagang kain ibunya.’
‘Ntar kalau bang Imran sudah nggak di Bandung pengiriman kain ke Bukit Tinggi bakalan macet dong.’
‘Ibu itu sudah merintisnya kesini. Mudah-mudahan tidak akan macetlah.’
‘Tidak pernah ada masalah selama abang yang mengurus pengiriman kain?’
‘Alhamdulillah, hampir tidak pernah. Pernah sekali truk pengangkut kain itu kecelakaan. Waktu itu banyak kain kiriman yang rusak. Tapi setelah itu aman-aman saja.’
‘Hebat sekali abang…. Pedagang beras…. pedagang kain…. Nggak kepingin melanjutkan bakat dagangnya bang?’
‘Biar dicoba pula makan gaji sebagai pegawai dulu. Kalau nanti ternyata tidak terlalu cocok, kan mudah saja untuk banting stir… he..he..he..’
‘Benar juga ya….’
Bibik mengingatkan bahwa di meja makan ada ketan dan sarikaya. Bibik menanyakan apa mau diambilkan.
‘Kita pindah ke meja makan aja, yuk bang,’ ajak Lala.
Mereka pindah ke meja makan. Bibik membawakan dua cangkir teh untuk mereka.
‘Bibik ini pintar membuat ketan sarikaya,’ Imran memuji.
‘Kan bibik diajarin sama juragan Ratna,’ jawab bibik.
Mereka menikmati ketan dan sarikaya itu. Tiba-tiba terdengar suara sepeda motor masuk. Ternyata Yuni yang datang.
‘Eh…, lagi berdua-dua,’ kata Yuni menggoda begitu dia masuk.
‘Bertiga kok, sama bibik. Sekarang jadi berempat,’ jawab Imran.
‘He…he..he… Benar juga….. Sudah lama, bang?’
‘Sudah setengah jam….. Bagaimana kabar, Yuni?’
‘Kabar kabur….. he..he..he..’ Yuni menarik sebuah kursi dan ikut duduk.
‘Ini orang cengengesan terus….. Dari mana kau?’ tanya Lala.
‘Daripada cemberut….Kan bagusan cengengesan….. he..he.. ya, nggak, bang?’
Imran tersenyum.
‘Tanyaku belum dijawab.’
‘Tanya kau? Kau nanya apa….?’
‘Kau dari mana? Bukannya hari Kamis siang kau nggak ada kuliah?’
‘Ooo….. Aku dari tempat Irma.’
Mereka berbincang-bincang santai sampai terdengar azan maghrib.
‘Kita shalat berjamaah yuk, bang?’ ajak Lala.
‘Ayok,’ jawab Imran.
Mereka shalat maghrib berjamaah berempat.
*****
Saturday, January 9, 2010
Tuesday, January 5, 2010
DERAI-DERAI CINTA (42)
42. SEBELUM MENINGGALKAN BANDUNG
Tibalah saatnya Imran harus meninggalkan Bandung. Karena dia ingin mencari kerja. Pusat lowongan kerja ada di Jakarta. Imran sudah mengirim beberapa buah lamaran ke perusahaan-perusahaan eksplorasi minyak bumi yang berkantor di Jakarta. Termasuk Caltex, karena mak dang Taufik menyarankan agar dia juga mengajukan lamaran ke perusahaan itu.
Imran bersiap-siap untuk meninggalkan Bandung. Dia akan ke Jakarta dan tinggal di rumah mak tuo Fatma sementara menunggu pekerjaan. Hal itu sudah dijelaskannya kepada Syahrul. Syahrul tentu saja tidak berkeberatan. Syahrul sendiri akan berangkat ke Australia bulan Juni nanti. Sepertinya akan berakhir kebersamaan mereka selama hampir lima tahun. Kebersamaan dalam persaudaraan sejati. Mereka sudah seperti bersaudara kandung saja. Senasib sepenanggungan
Suatu hari sebelum mereka berpisah itu, ketika Syahrul sedang ke Jakarta mengurus visa Australia, Imran sedang sendirian di rumah. Ratih datang bertamu.
‘Saya menyampaikan undangan uci,’ kata Ratih mengawali pembicaraan mereka.
‘Undangan apa?’ tanya Imran.
‘Uci ingin menjamu kak Imran dan kak Syahrul. Uci sudah mendengar bahwa kak Imran akan segera meninggalkan Bandung.’
‘Ucimu itu baik sekali. Saya akan meninggalkan Bandung karena saya akan melamar pekerjaan. Sekali-sekali tentu saya akan kembali juga ke Bandung….. Tapi undangan apa maksudnya?’
‘Undangan makan malam. Hari Sabtu ini. Lusa. Kak Imran belum berangkat kan?’
‘Saya akan berangkat hari Minggu sore,’ jawab Imran.
‘Berarti bisa dong?’
‘Insya Allah. Mudah-mudahan Syahrul sudah pulang sebelum hari Sabtu sore.’
‘Kak Syahrul kemana?’ tanya Ratih.
‘Dia ke Jakarta tadi pagi. Mengurus visa Australia.’
‘Iya, ya… Kak Syahrul juga mau berangkat, ya….’
‘Insya Allah satu setengah bulan lagi.’
‘Akan sepi tempat ini…..’ kata Ratih lirih.
‘Ya…. Itulah… Hidup kita ini dinamis…. Bergerak terus… Seperti air mengalir…’
‘Kak Imran berpuisi…. He..he..he..’
‘Tidak juga…. Saya hanya melihat kenyataan seperti itu…. Kehidupan ini bergulir. Dan kita kadang-kadang hanyut di dalamnya…’
‘Mungkin yang tepat kita berenang di dalamnya, kak. Berusaha mengendalikan diri di dalam arus kehidupan.’
‘Kamu benar….’
‘Dimana rencananya kak Imran mau bekerja?’
‘Saya sedang melamar di perusahaan-perusahaan eksplorasi minyak bumi.’
‘Seperti Caltex?’
‘Ya… Termasuk Caltex.’
‘Jadi kemungkinan akan bekerja di luar pulau Jawa?’
‘Belum tahu. Wallahu a’lam. Perusahan-perusahaan itu banyak sekali. Ada yang daerah operasinya di Sumatera, di Kalimantan, di Irian. Dan entah perusahaan mana yang akan mau menerima saya.’
‘Mudah-mudahan adalah, kak. Masak iya….. tidak ada yang mau menerima insinyur ITB?’
‘Semua itu di tangan Allah.’
‘Lalu…?’
‘Lalu kita harus bertawakkal… berdoa kepada Allah…’
‘Maksud saya….. Lalu…’
‘Lalu apa?’
‘Lalu bagaimana dengan……?’
‘Dengan apa?’ Imran balik bertanya sambil tersenyum.
‘Dengan niat kak Imran untuk….. berumah tangga….?’
Wajah Ratih memerah sesudah melontarkan pertanyaan itu.
‘Belum…. Belum saya pikirkan. Biarlah saya bekerja dulu. Saya kumpulkan sedikit uang dulu. Baru saya berpikir ke arah sana…’ jawab Imran.
‘Sudah ada calon?’ tanya Ratih lebih berani.
‘Belum,’ jawab Imran polos.
‘Belum….? Belum ada yang tercetus di dalam hati kak Imran?’
‘Belum…. Kalau sudah ada kemantapan hati saya untuk beristri, akan saya minta kepada Allah.’
‘Maksudnya?’
‘Saya akan shalat istikharah. Saya akan minta petunjuk kepada Allah.’
‘Begitu?’
‘Ya…. Begitu.’
‘Benarkah…. bahwa kak Imran sudah dijodohkan?’
‘Tidak….. ‘
‘Saya dengar……….’
Ratih mencuri pandang ke arah Imran dengan sudut mata.
‘Apa yang kamu dengar?’ tanya Imran
‘Saya dengar…. Kak Imran dijodohkan dengan anak pamannya itu….’
‘Dari mana kamu dengar?’
‘Jadi benar?’
‘Tidak….. Saya tidak tahu.’
‘Beritanya dari…dari…dari…’
‘Dari..dari..dari… Siapa? Saya tidak mengerti maksudnya.’
‘Saya diberitahu Irma. Irma dapat cerita dari Yuni. Yuni diberitahu kak Rizal saudara sepupu kak Imran itu.’
‘Ooo begitu…’
‘Jadi benar, kalau begitu?’
‘Saya tidak tahu. Benar, saya pernah mendengar dari Rizal ada pembicaraan orang-orang tua mengenai hal itu. Sudah lama sekali. Sudah lebih dua tahun yang lalu. Tapi tidak ada satu orangpun yang membicarakannya kepada saya selain Rizal.’
‘Maksudnya…. Kak Imran sedang menunggu pamannya akan menanyakan hal itu?’
‘Tidak juga.’
‘Seandainya ditanya? Apakah kak Imran akan langsung menerimanya?’
‘Belum tentu….. Seperti saya katakan tadi, saya akan beristikharah. Saya akan meminta petunjuk kepada Allah.’
‘Tentu tidak akan mudah bagi kak Imran menolak permintaan pamannya….’
‘Ya…… wallahu a’lam. Saya tidak tahu….’
Ratih kehabisan bahan pembicaraan untuk sementara. Mereka berdua terdiam beberapa saat. Ratih memandang dengan pandangan kosong. Melamun.
‘Sudah selesai ujian tengah semester?’ Imran memecah kesunyian.
‘Sudah, kak.’
‘Lancar?’
‘Biasa-biasa saja.’
‘Semoga ujian-ujiannya berhasil,’ Imran berbasa-basi.
‘Amiin…’
Mereka terdiam lagi. Beberapa saat lagi.
‘Kak Syahrul pernah cerita ke kak Imran?’
‘Tentang apa?’ Imran balik bertanya.
‘Tentang apa, ya….?’
‘Lho… Saya tidak mengerti maksudnya…. Tentang apa…?’
‘Tentang………’
‘Kok ragu-ragu?’
‘Tentang…….. Dia bilang…… Dia meminta saya……’
Imran terdiam. Diperhatikannya wajah Ratih. Akhirnya diajukannya juga pertanyaan.
‘Dia meminta Ratih…. Maksudnya dia meminta Ratih untuk jadi…..?’
Giliran Ratih terdiam. Dia menunduk tanpa menjawab. Imran juga tidak bisa berkata-kata. Dia cukup kaget mendengar apa yang baru saja diucapkan Ratih.
‘Saya percaya Syahrul bersungguh-sungguh. Saya sangat yakin itu. Sudah dijawab? Maksud saya sudah ada rencana yang lebih jelas?’ Imran memecah kesunyian.
‘Saya belum menjawabnya.’
‘Ya….. Ratih perlu memikirkannya…. Pikirkanlah sebaik-baiknya….’
‘Saya sudah memikirkannya………’
‘Bagus kalau begitu….’
‘Saya pikir, saya harus menyelesaikan kuliah dulu……’
‘Tentu saja…. Itu adalah rencana yang sangat baik.’
‘Dan sebelum kuliah ini selesai, saya belum mau…..’
‘Saya pikir Ratih benar…. Selesaikanlah dulu kuliahnya. Kan tinggal setahun dua tahun lagi saja. Sementara itu dia juga menyelesaikan sekolahnya… ’
‘Dia? Maksud kan Imran?’
‘Maksud saya Syahrul….. Kan tadi kita membicarakan Syahrul…’
Ratih kembali menunduk.
‘Ya…… Kak Syahrul itu berbeda dengan kakak…..’
Imran menangkap apa yang dimaksud Ratih.
Sukma datang mengetok pintu. Dia memberi tahu Ratih bahwa uci ingin menanyakan sesuatu. Ratih mohon pamit. Meninggalkan Imran sendirian.
*****
Tibalah saatnya Imran harus meninggalkan Bandung. Karena dia ingin mencari kerja. Pusat lowongan kerja ada di Jakarta. Imran sudah mengirim beberapa buah lamaran ke perusahaan-perusahaan eksplorasi minyak bumi yang berkantor di Jakarta. Termasuk Caltex, karena mak dang Taufik menyarankan agar dia juga mengajukan lamaran ke perusahaan itu.
Imran bersiap-siap untuk meninggalkan Bandung. Dia akan ke Jakarta dan tinggal di rumah mak tuo Fatma sementara menunggu pekerjaan. Hal itu sudah dijelaskannya kepada Syahrul. Syahrul tentu saja tidak berkeberatan. Syahrul sendiri akan berangkat ke Australia bulan Juni nanti. Sepertinya akan berakhir kebersamaan mereka selama hampir lima tahun. Kebersamaan dalam persaudaraan sejati. Mereka sudah seperti bersaudara kandung saja. Senasib sepenanggungan
Suatu hari sebelum mereka berpisah itu, ketika Syahrul sedang ke Jakarta mengurus visa Australia, Imran sedang sendirian di rumah. Ratih datang bertamu.
‘Saya menyampaikan undangan uci,’ kata Ratih mengawali pembicaraan mereka.
‘Undangan apa?’ tanya Imran.
‘Uci ingin menjamu kak Imran dan kak Syahrul. Uci sudah mendengar bahwa kak Imran akan segera meninggalkan Bandung.’
‘Ucimu itu baik sekali. Saya akan meninggalkan Bandung karena saya akan melamar pekerjaan. Sekali-sekali tentu saya akan kembali juga ke Bandung….. Tapi undangan apa maksudnya?’
‘Undangan makan malam. Hari Sabtu ini. Lusa. Kak Imran belum berangkat kan?’
‘Saya akan berangkat hari Minggu sore,’ jawab Imran.
‘Berarti bisa dong?’
‘Insya Allah. Mudah-mudahan Syahrul sudah pulang sebelum hari Sabtu sore.’
‘Kak Syahrul kemana?’ tanya Ratih.
‘Dia ke Jakarta tadi pagi. Mengurus visa Australia.’
‘Iya, ya… Kak Syahrul juga mau berangkat, ya….’
‘Insya Allah satu setengah bulan lagi.’
‘Akan sepi tempat ini…..’ kata Ratih lirih.
‘Ya…. Itulah… Hidup kita ini dinamis…. Bergerak terus… Seperti air mengalir…’
‘Kak Imran berpuisi…. He..he..he..’
‘Tidak juga…. Saya hanya melihat kenyataan seperti itu…. Kehidupan ini bergulir. Dan kita kadang-kadang hanyut di dalamnya…’
‘Mungkin yang tepat kita berenang di dalamnya, kak. Berusaha mengendalikan diri di dalam arus kehidupan.’
‘Kamu benar….’
‘Dimana rencananya kak Imran mau bekerja?’
‘Saya sedang melamar di perusahaan-perusahaan eksplorasi minyak bumi.’
‘Seperti Caltex?’
‘Ya… Termasuk Caltex.’
‘Jadi kemungkinan akan bekerja di luar pulau Jawa?’
‘Belum tahu. Wallahu a’lam. Perusahan-perusahaan itu banyak sekali. Ada yang daerah operasinya di Sumatera, di Kalimantan, di Irian. Dan entah perusahaan mana yang akan mau menerima saya.’
‘Mudah-mudahan adalah, kak. Masak iya….. tidak ada yang mau menerima insinyur ITB?’
‘Semua itu di tangan Allah.’
‘Lalu…?’
‘Lalu kita harus bertawakkal… berdoa kepada Allah…’
‘Maksud saya….. Lalu…’
‘Lalu apa?’
‘Lalu bagaimana dengan……?’
‘Dengan apa?’ Imran balik bertanya sambil tersenyum.
‘Dengan niat kak Imran untuk….. berumah tangga….?’
Wajah Ratih memerah sesudah melontarkan pertanyaan itu.
‘Belum…. Belum saya pikirkan. Biarlah saya bekerja dulu. Saya kumpulkan sedikit uang dulu. Baru saya berpikir ke arah sana…’ jawab Imran.
‘Sudah ada calon?’ tanya Ratih lebih berani.
‘Belum,’ jawab Imran polos.
‘Belum….? Belum ada yang tercetus di dalam hati kak Imran?’
‘Belum…. Kalau sudah ada kemantapan hati saya untuk beristri, akan saya minta kepada Allah.’
‘Maksudnya?’
‘Saya akan shalat istikharah. Saya akan minta petunjuk kepada Allah.’
‘Begitu?’
‘Ya…. Begitu.’
‘Benarkah…. bahwa kak Imran sudah dijodohkan?’
‘Tidak….. ‘
‘Saya dengar……….’
Ratih mencuri pandang ke arah Imran dengan sudut mata.
‘Apa yang kamu dengar?’ tanya Imran
‘Saya dengar…. Kak Imran dijodohkan dengan anak pamannya itu….’
‘Dari mana kamu dengar?’
‘Jadi benar?’
‘Tidak….. Saya tidak tahu.’
‘Beritanya dari…dari…dari…’
‘Dari..dari..dari… Siapa? Saya tidak mengerti maksudnya.’
‘Saya diberitahu Irma. Irma dapat cerita dari Yuni. Yuni diberitahu kak Rizal saudara sepupu kak Imran itu.’
‘Ooo begitu…’
‘Jadi benar, kalau begitu?’
‘Saya tidak tahu. Benar, saya pernah mendengar dari Rizal ada pembicaraan orang-orang tua mengenai hal itu. Sudah lama sekali. Sudah lebih dua tahun yang lalu. Tapi tidak ada satu orangpun yang membicarakannya kepada saya selain Rizal.’
‘Maksudnya…. Kak Imran sedang menunggu pamannya akan menanyakan hal itu?’
‘Tidak juga.’
‘Seandainya ditanya? Apakah kak Imran akan langsung menerimanya?’
‘Belum tentu….. Seperti saya katakan tadi, saya akan beristikharah. Saya akan meminta petunjuk kepada Allah.’
‘Tentu tidak akan mudah bagi kak Imran menolak permintaan pamannya….’
‘Ya…… wallahu a’lam. Saya tidak tahu….’
Ratih kehabisan bahan pembicaraan untuk sementara. Mereka berdua terdiam beberapa saat. Ratih memandang dengan pandangan kosong. Melamun.
‘Sudah selesai ujian tengah semester?’ Imran memecah kesunyian.
‘Sudah, kak.’
‘Lancar?’
‘Biasa-biasa saja.’
‘Semoga ujian-ujiannya berhasil,’ Imran berbasa-basi.
‘Amiin…’
Mereka terdiam lagi. Beberapa saat lagi.
‘Kak Syahrul pernah cerita ke kak Imran?’
‘Tentang apa?’ Imran balik bertanya.
‘Tentang apa, ya….?’
‘Lho… Saya tidak mengerti maksudnya…. Tentang apa…?’
‘Tentang………’
‘Kok ragu-ragu?’
‘Tentang…….. Dia bilang…… Dia meminta saya……’
Imran terdiam. Diperhatikannya wajah Ratih. Akhirnya diajukannya juga pertanyaan.
‘Dia meminta Ratih…. Maksudnya dia meminta Ratih untuk jadi…..?’
Giliran Ratih terdiam. Dia menunduk tanpa menjawab. Imran juga tidak bisa berkata-kata. Dia cukup kaget mendengar apa yang baru saja diucapkan Ratih.
‘Saya percaya Syahrul bersungguh-sungguh. Saya sangat yakin itu. Sudah dijawab? Maksud saya sudah ada rencana yang lebih jelas?’ Imran memecah kesunyian.
‘Saya belum menjawabnya.’
‘Ya….. Ratih perlu memikirkannya…. Pikirkanlah sebaik-baiknya….’
‘Saya sudah memikirkannya………’
‘Bagus kalau begitu….’
‘Saya pikir, saya harus menyelesaikan kuliah dulu……’
‘Tentu saja…. Itu adalah rencana yang sangat baik.’
‘Dan sebelum kuliah ini selesai, saya belum mau…..’
‘Saya pikir Ratih benar…. Selesaikanlah dulu kuliahnya. Kan tinggal setahun dua tahun lagi saja. Sementara itu dia juga menyelesaikan sekolahnya… ’
‘Dia? Maksud kan Imran?’
‘Maksud saya Syahrul….. Kan tadi kita membicarakan Syahrul…’
Ratih kembali menunduk.
‘Ya…… Kak Syahrul itu berbeda dengan kakak…..’
Imran menangkap apa yang dimaksud Ratih.
Sukma datang mengetok pintu. Dia memberi tahu Ratih bahwa uci ingin menanyakan sesuatu. Ratih mohon pamit. Meninggalkan Imran sendirian.
*****
Sunday, January 3, 2010
DERAI-DERAI CINTA (41)
41. DI UJUNG MASA KULIAH
Waktu terus berjalan. Pertengahan tahun 1986. Banyak yang berubah. Perubahan-perubahan yang terencana. Seperti uni Lani yang sudah menikah pada bulan Maret 1986 dengan seorang insinyur mesin. Abang Sofyan namanya. Mereka sudah saling kenal sejak abang Sofyan masih kuliah di ITB. Abang Sofyan adalah urang awak juga, berasal dari Padang Panjang. Dia bekerja di sebuah perusahaan otomotif di Jakarta. Uni Lani sudah menyelesaikan kuliahnya dan menjadi seorang psikolog. Sejak menikah dia ikut dengan suaminya pindah ke Jakarta.
*
Pasangan abang Lutfi dan teteh Yani sudah punya momongan seorang perempuan. Bayi itu lahir sebulan sesudah pesta pernikahan uni Lani. Keluarga muda yang berbahagia ini masih tetap tinggal di Sekeloa, untuk menemani Lala, atas permintaan mak dang Taufik. Sekurang-kurangnya sampai pertengahan tahun 1987 karena pada saat itu mak dang Taufik akan pensiun dan beliau berencana untuk tinggal di Bandung. Mak dang Taufik ingin mengajar di ITB sebagai dosen luar biasa.
Lala dan Yuni sudah menghadapi semester ke lima. Yuni masih tetap tinggal bersama di Sekeloa. Kedua anak gadis itu seperti tidak bisa dipisahkan. Sepertinya Yuni sudah semakin akrab dengan Rizal. Meskipun Rizal mengakui bahwa mereka tidak berpacaran, mungkin karena Rizal malu kepada Imran, tapi yang pasti Rizal semakin sering berkunjung ke Bandung. Sekurang-kurangnya sekali dalam sebulan. Kalau datang ke Bandung kadang-kadang dia menginap di tempat Imran, kadang-kadang di Sekeloa. Rizal berharap bisa menyelesaikan kuliahnya di tahun itu.
Sementara itu Lala menyibukkan dirinya dengan kuliah. Prestasi kuliahnya bagus. Lala tidak mau berpacaran karena terpengaruh dengan cara berfikir Imran. Berpacaran itu banyak ruginya terutama dilihat dari sudut pandang agama. Lala rajin mempelajari agama. Dia ikut pengajian remaja khusus untuk anak-anak perempuan di masjid Salman yang diadakan setiap hari Minggu pagi.
*
Syahrul sudah menyelesaikan kuliahnya bulan Mai tahun 1986. Dia diterima menjadi dosen di ITB. Menjadi dosen memang merupakan cita-cita Syahrul. Dia ingin seperti ayahnya, menjadi seorang guru. Rencananya dia akan melanjutkan kuliah ke strata dua di Australia. Tapi kapan realisasinya masih belum diketahui. Sementara itu dia tetap tinggal bersama-sama Imran di Taman Sari.
Diam-diam rupanya Syahrul tertarik kepada Ratih. Pernah dengan sangat hati-hati dia mencoba mengajuk hati Ratih, menyampaikan bahwa dia ingin menjadikan Ratih pasangan hidupnya. Ratih tidak menerima tapi tidak pula menolak. Jawaban Ratih waktu itu, dia ingin berkonsentrasi untuk menyelesaikan kuliahnya dulu.
Seperti pengakuannya kepada Syahrul, Ratih menyibukkan dirinya dengan kuliah. Selain Syahrul yang terang-terangan menyampaikan hasratnya ingin menyunting dirinya, selalu saja ada teman pria yang berusaha mendekati Ratih untuk jadi teman istimewa. Tidak ada seorangpun yang ditanggapinya. Dia hanya mau berteman biasa tetapi tidak mau dijadikan pacar. Sementara hubungan persahabatannya dengan Imran berjalan seperti di awal perkenalan mereka dulu. Tidak ada perubahan. Sekali-sekali mereka berdiskusi, berbincang-bincang tentang masalah apa saja. Tapi tidak pernah lebih dari sekedar obrolan biasa. Ratih semakin mengagumi Imran yang begitu keras memegang prinsip.
*
Kaki Imran yang patah akibat kecelakaan sudah kembali normal. Hampir tiga bulan lamanya kaki itu dipasangi gips dan selama itu pula dia harus menggunakan tongkat penyangga. Waktu itu Imran tinggal di Sekeloa selama satu bulan. Setelah itu dia kembali ke tempat tinggalnya di Taman Sari. Pengiriman kain ke Bukit Tinggi berjalan seperti biasa. Sempat terganggu sebentar ketika Imran baru mengalami kecelakaan.
***
Di akhir semester ke delapan Imran sudah menyelesaikan semua mata kuliah. Sekarang dia harus menyiapkan tugas akhir untuk mendapat gelar kesarjanaannya. Dia harus mengerjakan perpetaan geologi, mengumpulkan data-data di lapangan dan sesudah itu membuat laporan ilmiah untuk diuji oleh staf dosen di bagian geologi.
Di akhir bulan September Imran berangkat mengerjakan tugas perpetaan lapangan untuk keperluan thesisnya. Tugas itu dilakukannya berdua dengan Hidayat teman seangkatannya. Tempatnya di daerah Sukabumi selatan. Di sebuah daerah pegunungan seluas lebih kurang 150 kilometer persegi. Daerah itu terletak pada sebuah kecamatan. Lokasi itu memanjang dari arah barat ke timur. Imran mengerjakan bagian barat dan bagian timur dikerjakan oleh Hidayat.
Pada minggu pertama kedua anak muda itu tinggal di kampung yang sama, menumpang di rumah seorang penduduk yang ditunjuk oleh pak lurah setempat. Di minggu pertama itu mereka bekerja bersama-sama di bagian tengah daerah perpetaan. Nama kampung itu Bojongsari. Sebuah kampung yang cukup besar yang dilintasi sebuah kali besar yang mengalir dari arah timur ke barat. Kebanyakan penduduk kampung ini adalah petani. Orang-orang kampung itu sangat ramah.
Pekerjaan perpetaan lapangan artinya mengumpulkan data-data geologi yang diamati pada lapisan-lapisan batuan. Untuk mendapatkan data-data itu mereka menyusuri sungai-sungai kecil, karena tebing-tebing sungai adalah tempat yang ideal untuk mengamati lapisan-lapisan batuan itu. Banyak hal yang diamati pada lapisan tipis batu-batuan di tebing sungai itu. Batuan yang kadang-kadang terlihat seperti garis-garis halus bagaikan dilukis. Kadang-kadang terlihat seperti bergelombang halus. Ada juga batuan yang padat dan sangat keras. Banyak sekali ragamnya. Semua yang diamati itu dicatat, digambar berupa sketsa dan difotokan. Diukur dengan menggunakan kompas untuk mengetahui posisi lapisan yang satu terhadap lapisan yang lain. Kadang-kadang diambil contoh batuannya.
Pada minggu kedua, sesudah melakukan perpetaan bersama di daerah perbatasan, kedua anak muda itu berpisah. Imran berpindah dari satu kampung ke kampung lain. Di setiap kampung dia dibantu oleh seorang pembantu, seorang penduduk kampung yang mengenal sungai-sungai di daerah itu. Pembantu ini jadi penunjuk jalan sekaligus menolong membawakan contoh-contoh batuan yang diambilnya, yang nanti akan dianalisa lebih lanjut di laboratorium di sekolah. Mereka bekerja dari pagi, sekitar jam delapan sampai jam lima sore. Imran bekerja dengan tekun. Mengukur ketebalan batuan, mengukur kemiringannya, mengamati contoh-contoh batuan. Kadang-kadang dengan menggunakan kaca pembesar berukuran kecil yang selalu tergantung di lehernya, diamatinya potongan-potongan kecil batuan. Ada kalanya dia mengambil sedikit bongkah batuan untuk dibawa, memotokannya, mencatat dengan teliti di buku catatannya, serta meletakkan tanda-tanda di lembaran peta yang dibawanya. Lembaran peta itu diberinya warna-warna tertentu. Sang pembantu mengamati pekerjaan Imran dengan penuh heran bercampur kagum. Bagi orang kampung batu-batuan itu tidak banyak maknanya. Paling-paling mereka mengenal batu kali yang biasa digunakan untuk pondasi bangunan.
Begitulah caranya Imran bekerja itu hari demi hari. Pindah dari satu ke tempat lain. Menyusuri sungai, mendaki bukit-bukit dan ada kalanya harus melintasi semak belukar. Dia mengerjakan pekerjaan itu dengan penuh semangat dan selalu berhati-hati. Syukurlah bahwa tidak ada rintangan yang berarti selama menyelesaikan pekerjaan lapangan itu. Kecuali pernah terkendala beberapa kali karena hari hujan.
Imran menyukai susana di daerah itu yang sangat mirip dengan suasana di kampungnya di kaki gunung Marapi di Sumatera Barat. Sungai dan sawah-sawah, petani membajak sawah, kolam ikan, burung-burung yang berkicauan di pagi hari, suara azan di setiap awal waktu shalat. Semua itu hampir tidak ada bedanya. Dan penduduk desa-desanya yang ramah. Karena suasana yang menyenangkan itu tak terasa cepatnya waktu berlalu. Dalam waktu tepat dua bulan pekerjaan pemetaan itu berakhir sesuai dengan rencana. Kedua orang mahasiswa itu telah mengumpulkan semua data yang mereka perlukan. Sempat pula Imran dan Hidayat saling mengunjungi beberapa tempat di daerah masing-masing untuk mencocokkan data lapangan mereka yang saling terkait. Setelah yakin semuanya beres merekapun berpamitan dengan pak Camat untuk kembali ke Bandung.
***
Di Bandung semua contoh-contoh batuan itu dianalisa dan diamati dengan lebih teliti di laboratorium. Dikonsultasikan dengan dosen pembimbing, didiskusikan dengan rekan-rekan mahasiswa lain, dibandingkan dengan data-data perpustakaan. Dan Imran mulai menulis laporannya bab demi bab. Sebuah rangkaian pekerjaan yang sangat menuntut kesungguh-sungguhan. Dilakukannya semua itu tanpa mengenal lelah. Dilewatkannya hari-harinya di laboratorium dan perpustakaan selama berbulan-bulan.
Semua ketekunan itu akhirnya membuahkan hasil. Bulan April 1987 Imran diuji di hadapan staf pengajar bagian geologi. Hasilnya, dia dinyatakan lulus dengan sangat memuaskan. Selesailah masa pendidikan Imran. Betapa bersyukurnya dia. Tidak sia-sia jerih payahnya selama ini. Jerih payah dan perjuangannya seorang diri, telah berhasil menyeberangkan dirinya melalui bagian penting dalam hidupnya. Dia sekarang seorang sarjana.
Imran akan segera melamar pekerjaan. Dia tertarik untuk bekerja di industri perminyakan. Seperti mak dang.
*****
Waktu terus berjalan. Pertengahan tahun 1986. Banyak yang berubah. Perubahan-perubahan yang terencana. Seperti uni Lani yang sudah menikah pada bulan Maret 1986 dengan seorang insinyur mesin. Abang Sofyan namanya. Mereka sudah saling kenal sejak abang Sofyan masih kuliah di ITB. Abang Sofyan adalah urang awak juga, berasal dari Padang Panjang. Dia bekerja di sebuah perusahaan otomotif di Jakarta. Uni Lani sudah menyelesaikan kuliahnya dan menjadi seorang psikolog. Sejak menikah dia ikut dengan suaminya pindah ke Jakarta.
*
Pasangan abang Lutfi dan teteh Yani sudah punya momongan seorang perempuan. Bayi itu lahir sebulan sesudah pesta pernikahan uni Lani. Keluarga muda yang berbahagia ini masih tetap tinggal di Sekeloa, untuk menemani Lala, atas permintaan mak dang Taufik. Sekurang-kurangnya sampai pertengahan tahun 1987 karena pada saat itu mak dang Taufik akan pensiun dan beliau berencana untuk tinggal di Bandung. Mak dang Taufik ingin mengajar di ITB sebagai dosen luar biasa.
Lala dan Yuni sudah menghadapi semester ke lima. Yuni masih tetap tinggal bersama di Sekeloa. Kedua anak gadis itu seperti tidak bisa dipisahkan. Sepertinya Yuni sudah semakin akrab dengan Rizal. Meskipun Rizal mengakui bahwa mereka tidak berpacaran, mungkin karena Rizal malu kepada Imran, tapi yang pasti Rizal semakin sering berkunjung ke Bandung. Sekurang-kurangnya sekali dalam sebulan. Kalau datang ke Bandung kadang-kadang dia menginap di tempat Imran, kadang-kadang di Sekeloa. Rizal berharap bisa menyelesaikan kuliahnya di tahun itu.
Sementara itu Lala menyibukkan dirinya dengan kuliah. Prestasi kuliahnya bagus. Lala tidak mau berpacaran karena terpengaruh dengan cara berfikir Imran. Berpacaran itu banyak ruginya terutama dilihat dari sudut pandang agama. Lala rajin mempelajari agama. Dia ikut pengajian remaja khusus untuk anak-anak perempuan di masjid Salman yang diadakan setiap hari Minggu pagi.
*
Syahrul sudah menyelesaikan kuliahnya bulan Mai tahun 1986. Dia diterima menjadi dosen di ITB. Menjadi dosen memang merupakan cita-cita Syahrul. Dia ingin seperti ayahnya, menjadi seorang guru. Rencananya dia akan melanjutkan kuliah ke strata dua di Australia. Tapi kapan realisasinya masih belum diketahui. Sementara itu dia tetap tinggal bersama-sama Imran di Taman Sari.
Diam-diam rupanya Syahrul tertarik kepada Ratih. Pernah dengan sangat hati-hati dia mencoba mengajuk hati Ratih, menyampaikan bahwa dia ingin menjadikan Ratih pasangan hidupnya. Ratih tidak menerima tapi tidak pula menolak. Jawaban Ratih waktu itu, dia ingin berkonsentrasi untuk menyelesaikan kuliahnya dulu.
Seperti pengakuannya kepada Syahrul, Ratih menyibukkan dirinya dengan kuliah. Selain Syahrul yang terang-terangan menyampaikan hasratnya ingin menyunting dirinya, selalu saja ada teman pria yang berusaha mendekati Ratih untuk jadi teman istimewa. Tidak ada seorangpun yang ditanggapinya. Dia hanya mau berteman biasa tetapi tidak mau dijadikan pacar. Sementara hubungan persahabatannya dengan Imran berjalan seperti di awal perkenalan mereka dulu. Tidak ada perubahan. Sekali-sekali mereka berdiskusi, berbincang-bincang tentang masalah apa saja. Tapi tidak pernah lebih dari sekedar obrolan biasa. Ratih semakin mengagumi Imran yang begitu keras memegang prinsip.
*
Kaki Imran yang patah akibat kecelakaan sudah kembali normal. Hampir tiga bulan lamanya kaki itu dipasangi gips dan selama itu pula dia harus menggunakan tongkat penyangga. Waktu itu Imran tinggal di Sekeloa selama satu bulan. Setelah itu dia kembali ke tempat tinggalnya di Taman Sari. Pengiriman kain ke Bukit Tinggi berjalan seperti biasa. Sempat terganggu sebentar ketika Imran baru mengalami kecelakaan.
***
Di akhir semester ke delapan Imran sudah menyelesaikan semua mata kuliah. Sekarang dia harus menyiapkan tugas akhir untuk mendapat gelar kesarjanaannya. Dia harus mengerjakan perpetaan geologi, mengumpulkan data-data di lapangan dan sesudah itu membuat laporan ilmiah untuk diuji oleh staf dosen di bagian geologi.
Di akhir bulan September Imran berangkat mengerjakan tugas perpetaan lapangan untuk keperluan thesisnya. Tugas itu dilakukannya berdua dengan Hidayat teman seangkatannya. Tempatnya di daerah Sukabumi selatan. Di sebuah daerah pegunungan seluas lebih kurang 150 kilometer persegi. Daerah itu terletak pada sebuah kecamatan. Lokasi itu memanjang dari arah barat ke timur. Imran mengerjakan bagian barat dan bagian timur dikerjakan oleh Hidayat.
Pada minggu pertama kedua anak muda itu tinggal di kampung yang sama, menumpang di rumah seorang penduduk yang ditunjuk oleh pak lurah setempat. Di minggu pertama itu mereka bekerja bersama-sama di bagian tengah daerah perpetaan. Nama kampung itu Bojongsari. Sebuah kampung yang cukup besar yang dilintasi sebuah kali besar yang mengalir dari arah timur ke barat. Kebanyakan penduduk kampung ini adalah petani. Orang-orang kampung itu sangat ramah.
Pekerjaan perpetaan lapangan artinya mengumpulkan data-data geologi yang diamati pada lapisan-lapisan batuan. Untuk mendapatkan data-data itu mereka menyusuri sungai-sungai kecil, karena tebing-tebing sungai adalah tempat yang ideal untuk mengamati lapisan-lapisan batuan itu. Banyak hal yang diamati pada lapisan tipis batu-batuan di tebing sungai itu. Batuan yang kadang-kadang terlihat seperti garis-garis halus bagaikan dilukis. Kadang-kadang terlihat seperti bergelombang halus. Ada juga batuan yang padat dan sangat keras. Banyak sekali ragamnya. Semua yang diamati itu dicatat, digambar berupa sketsa dan difotokan. Diukur dengan menggunakan kompas untuk mengetahui posisi lapisan yang satu terhadap lapisan yang lain. Kadang-kadang diambil contoh batuannya.
Pada minggu kedua, sesudah melakukan perpetaan bersama di daerah perbatasan, kedua anak muda itu berpisah. Imran berpindah dari satu kampung ke kampung lain. Di setiap kampung dia dibantu oleh seorang pembantu, seorang penduduk kampung yang mengenal sungai-sungai di daerah itu. Pembantu ini jadi penunjuk jalan sekaligus menolong membawakan contoh-contoh batuan yang diambilnya, yang nanti akan dianalisa lebih lanjut di laboratorium di sekolah. Mereka bekerja dari pagi, sekitar jam delapan sampai jam lima sore. Imran bekerja dengan tekun. Mengukur ketebalan batuan, mengukur kemiringannya, mengamati contoh-contoh batuan. Kadang-kadang dengan menggunakan kaca pembesar berukuran kecil yang selalu tergantung di lehernya, diamatinya potongan-potongan kecil batuan. Ada kalanya dia mengambil sedikit bongkah batuan untuk dibawa, memotokannya, mencatat dengan teliti di buku catatannya, serta meletakkan tanda-tanda di lembaran peta yang dibawanya. Lembaran peta itu diberinya warna-warna tertentu. Sang pembantu mengamati pekerjaan Imran dengan penuh heran bercampur kagum. Bagi orang kampung batu-batuan itu tidak banyak maknanya. Paling-paling mereka mengenal batu kali yang biasa digunakan untuk pondasi bangunan.
Begitulah caranya Imran bekerja itu hari demi hari. Pindah dari satu ke tempat lain. Menyusuri sungai, mendaki bukit-bukit dan ada kalanya harus melintasi semak belukar. Dia mengerjakan pekerjaan itu dengan penuh semangat dan selalu berhati-hati. Syukurlah bahwa tidak ada rintangan yang berarti selama menyelesaikan pekerjaan lapangan itu. Kecuali pernah terkendala beberapa kali karena hari hujan.
Imran menyukai susana di daerah itu yang sangat mirip dengan suasana di kampungnya di kaki gunung Marapi di Sumatera Barat. Sungai dan sawah-sawah, petani membajak sawah, kolam ikan, burung-burung yang berkicauan di pagi hari, suara azan di setiap awal waktu shalat. Semua itu hampir tidak ada bedanya. Dan penduduk desa-desanya yang ramah. Karena suasana yang menyenangkan itu tak terasa cepatnya waktu berlalu. Dalam waktu tepat dua bulan pekerjaan pemetaan itu berakhir sesuai dengan rencana. Kedua orang mahasiswa itu telah mengumpulkan semua data yang mereka perlukan. Sempat pula Imran dan Hidayat saling mengunjungi beberapa tempat di daerah masing-masing untuk mencocokkan data lapangan mereka yang saling terkait. Setelah yakin semuanya beres merekapun berpamitan dengan pak Camat untuk kembali ke Bandung.
***
Di Bandung semua contoh-contoh batuan itu dianalisa dan diamati dengan lebih teliti di laboratorium. Dikonsultasikan dengan dosen pembimbing, didiskusikan dengan rekan-rekan mahasiswa lain, dibandingkan dengan data-data perpustakaan. Dan Imran mulai menulis laporannya bab demi bab. Sebuah rangkaian pekerjaan yang sangat menuntut kesungguh-sungguhan. Dilakukannya semua itu tanpa mengenal lelah. Dilewatkannya hari-harinya di laboratorium dan perpustakaan selama berbulan-bulan.
Semua ketekunan itu akhirnya membuahkan hasil. Bulan April 1987 Imran diuji di hadapan staf pengajar bagian geologi. Hasilnya, dia dinyatakan lulus dengan sangat memuaskan. Selesailah masa pendidikan Imran. Betapa bersyukurnya dia. Tidak sia-sia jerih payahnya selama ini. Jerih payah dan perjuangannya seorang diri, telah berhasil menyeberangkan dirinya melalui bagian penting dalam hidupnya. Dia sekarang seorang sarjana.
Imran akan segera melamar pekerjaan. Dia tertarik untuk bekerja di industri perminyakan. Seperti mak dang.
*****
Tuesday, December 29, 2009
DERAI-DERAI CINTA (40)
40. MINGGU CERIA
Minggu. Hari istirahat. Hari bebas dari rutinitas perkuliahan. Dari rutinitas pekerjaan. Hari untuk sedikit bersantai. Begitu biasanya. Di samping hari untuk bereksperimen memasak bagi uni Lani dan teteh Yani. Kadang-kadang teteh Yani membuat pepes ikan mas. Kadang-kadang uni Lani membuat nasi goreng istimewa. Dan kadang-kadang Lala dan Yuni juga ikut-ikutan. Memasak yang ringan-ringan, entah kue-kue kecil. Atau panekuk alias pan cake untuk sarapan. Atau misalnya membuat es buah dengan mencampurkan bermacam-macam buah dimasukkan ke dalam parutan es batu lalu dibubuhi susu kental manis. Dan anehnya, pada hari bereksperimen itu bibik justru tambah sibuk. Melayani permintaan untuk mencari atau bahkan membelikan bahan-bahannya ke pasar.
Hari Minggu ini uni Lani mau membuat gado-gado Padang. Kenapa sih, namanya gado-gado Padang, tanya teteh Yani. Kata uni, karena pakai lontong dan kerupuk merah. Tapi bukankah gado-gado memang pakai lontong? Gado-gado Tengku Angkasa juga pakai lontong. Kalau begitu bedanya hanya pada pemakaian kerupuk merah. Tidak juga, kata uni tidak mau kalah. Gado-gado Tengku Angkasa kuah kacangnya kental dan terasa manisnya. Gado-gado Padang kuahnya tidak terlalu kental dan pedas. Nah, begitu.
Uni lalu bereksperimen dengan membuat kuah atau bumbu kacang sesuai dengan yang dia maksud. Si bibik disuruh menggiling kacang tanah yang sudah digonseng, ditambahi dengan cabe dan sedikit sekali gula jawa.
Sementara itu Lala dan Yuni sedang membersihkan pot bunga di teras depan. Mereka ditemani Imran dan Rizal. Kaki Imran sudah semakin ringan rasanya. Sudah bisa dibawa sedikit lasak walaupun kaki kiri itu masih tetap harus diistirahatkan. Rizal mengangkat dan merapihkan susunan pot-pot itu, lalu Lala dan Yuni merapihkan kembang di dalamnya. Memotong daun-daun yang layu dan mencabuti rumput di sekitarnya. Mereka bekerja sambil bersenda gurau.
‘Kembang-kembang ini keterlaluan kalau tidak mau berbunga,’ kata Rizal.
‘Memangnya kenapa?’ tanya Lala.
‘Kan keterlaluan namanya kalau kembang tidak mau berbunga,’ jawab Rizal asal-asalan.
‘Maksud Rizal, sudah dirawat baik-baik, masak tidak mau berbunga,’ Imran mencoba menjawab.
‘Apa lagi dirawat oleh……’
‘Kok nggak diterusin? Dirawat siapa?’ tanya Yuni penasaran.
‘Dirawat saya yang sengaja datang jauh-jauh dari Jakarta,’ jawab Rizal tersenyum.
‘Yeeeeei… Kok GR amat sih, bang,’ kata Lala.
‘Kan benar……’
‘Maksud Rizal sebenarnya sudah dirawat dua pasang tangan anak gadis…. Iya kan Zal?’ kata Imran pula.
‘Iya sih…. Tapi kan dibantu sepasang tangan anak bujang. Anak bujang yang gagah lagi… he..he..he..’
‘Ih…. Abang Rizal ini ke GR an amat….’
‘Nggak GR-GR amat sih. Pas-pasan aja. Memang orangnya gagah sih…..’
‘Udahlah, Yun! Nggak usah didengerin.’
Sedang mereka bergurau, bertele-tele itu dua buah becak berhenti di depan rumah. Syahrul di satu becak dan Ratih ditemani adiknya Sukma di becak yang satunya lagi.
‘Lagi gotong royong rupanya…….,’ Syahrul menyapa.
‘Kalau aku sedang berjemur… Sambil memandori orang bekerja….,’ jawab Imran.
‘Bagaimana kaki kau, Ran?’ tanya Syahrul pula.
‘Alhamdulillah sudah tidak berdenyut-denyut lagi…… Berombongan benar kalian datang,’ kata Imran.
‘Ya…. Kami ingin tahu kondisi kesehatan kak Imran. Syukurlah, sudah berangsur baik kelihatannya, ya kak,’ kata Ratih.
‘Alhamdulillah….. Sudah berangsur-angsur baik…. Sudah pada kenal, kan ini…… Ratih, ini Lala…. Kalau Yuni sudah kenal kan? Dan itu Rizal saudara saya dari Jakarta…... Itu Sukma adiknya Ratih….’
‘Waktu itu kita ketemu di rumah sakit, kan,’ kata Ratih sambil menyalami Lala.
Lala tersenyum. Mereka semua bersalam-salaman.
Lala mempersilahkan tamu-tamu itu masuk. Sementara pekerjaan mengurus kembang mereka hentikan dulu. Imran bangkit dari tempat duduknya dan ikut masuk dibantu dengan tongkat penyangga.
Suasana dalam rumah itu menjadi ramai. Oleh tawa canda anak-anak muda. Apalagi setelah abang Lutfi ikut pula bergabung. Abang Lutfi dan Rizal sangat pandai melawak.
***
Mereka bersama-sama menikmati gado-gado lontong buatan uni. Yang lontongnya dipesan di tukang lotek di jalan Dipati Ukur dari kemarin. Yang enak dan agak pedas. Dan menyantap pudding yang dibawakan Ratih. Dan es buah campur kreasi Lala dan Yuni. Semua serba mantap.
‘Hebat-hebat makanan dan minuman ini,’ celetuk abang Lutfi.
‘Siapa dulu dong yang bikin…..,’ teteh Yani mengomentari.
‘Siapa memangnya?’ tanya abang pula berpura-pura.
‘He…he..he… Siapa ya?’ Lala ikut meramaikan sambil tertawa kecil.
Yang lain tersenyum.
‘Eih….. Abang baru sadar nih…..’ abang Lutfi mengalihkan pembicaraan.
‘Lho…. Dari tadi abang tidur? Jadi tadi itu ngelindur?’ tanya Rizal.
‘Bukan….. Ini serius nih……’
‘Serius apaan?’
‘Kalian ada tiga pasang…… Mungkin nggak ya? Suatu saat kalian menjadi tiga pasangan sungguhan?’
‘Ya Allaaah….. si abang ngomong apaan sih?’ kata uni Lani.
‘Bener lho….. Tiba-tiba abang kepikiran kayak gitu…. Emangnya salah?’
‘Ya…. nggak salah sih….. Tapi kok ya ada-ada saja begitu lho….’
Lala, Yuni dan Ratih hanya melongo mendengar. Begitu juga teteh Yani dan Sukma.
‘Gimana Zal?’ abang menyambung lagi.
‘Yaaah…. Kok abang ada-ada saja begitu lho…… Ya, nggak ni? Begitu kan, kata uni barusan….he..he..he.. Tapi kok abang nanya ke aku?’
‘Ya iyalah...., nanyanya ke kamu…. Kamu setuju nggak?’
‘Wah…. Aku harus menjawab apa nih? Kalau aku bilang setuju, alasannya apa? Kalau aku bilang nggak setuju, alasannya apa?’
‘Berarti kamu cenderung setuju dong?’
‘Wuih…. Hebat betul kesimpulan abang. Kok bisa begitu?’
‘Habis…., jawabanmu nggak jelas…Udahlah… Tapi kalau pendapatmu bagaimana Ran?’
‘Kalau kata abang mungkin…. Ya mungkin saja, kalau Allah berkehendak kenapa tidak, bisa saja ada di antara kita ini nanti ditetapkan Allah menjadi pasangan. Siapa? Itu rahasia Allah,’ jawab Imran polos.
‘Tapi belum bisa diketahui dari sekarang? Belum bisa diramal?’ tanya abang lebih serius.
‘Untuk apa diramal, bang…?’
‘Dan menurutmu juga tidak perlu direncanakan? Kehidupan berumahtangga nanti itu tidak perlu dipersiapkan sejak jauh hari? Begitu?’
‘Boleh-boleh saja direncanakan.’
‘Lalu?’
‘Merencanakannya itu kan ndak perlu buru-buru. Dan ndak perlu gembar-gembor.’
‘Abang nggak terlalu faham, nih. Maksudmu…..?’
‘Maksudnya Imran nggak perlu melalui proses berpacaran, begitu kan Ran?’ uni mencoba ikut menengahi.
‘Ya… Begitulah lebih kurang, uni.’
‘Jadi begitu ya, Ran?’ abang masih penasaran.
Hening beberapa saat.
‘Kalau pendapatmu bagaimana Rul?’
‘Saya nggak ikut berpendapat, bang he..he..he,’ jawab Syahrul.
‘Kamu punya pacar?’
‘Tidak….. Belum… eh… tidak punya.’
Yang lain tertawa melihat Syahrul gugup.
‘Abang yang ditanyain dari tadi kok yang cowok melulu… Tanya yang cewek-cewek juga dong,’ teteh Yani ikut menambahi.
‘Iya..ya. Bagaimana Yun?’
Yuni hanya mesem-mesem. Tidak ada jawaban.
‘Mungkin Yuni sudah punya pacar kali bang,’ Rizal berkomentar.
‘Kayaknya belum deh….. Atau, jangan-jangan kamu….he..he..he..”
‘Lho…Kok aku?’ jawab Rizal dengan muka sedikit memerah.
‘He..he..he… Kayaknya pas juga tuh… Seandainya iya.’
‘Udahlah bang…. Nggak usahlah jadi mak comblang…. Eh, ngomong-ngomong…. bagaimana? Jadi kita pergi nonton siang ini?’ uni Lani mengalihkan perhatian.
‘Jadi dong…. Syahrul, Ratih ikut yuk. Sukma juga boleh ikut kok. Kita nonton rame-rame.’
‘Film apa, teh?’ tanya Rizal.
‘Sound of Music. Film semua umur….. Ikutan ya….!?’ Jawab teteh Yani.
*****
Minggu. Hari istirahat. Hari bebas dari rutinitas perkuliahan. Dari rutinitas pekerjaan. Hari untuk sedikit bersantai. Begitu biasanya. Di samping hari untuk bereksperimen memasak bagi uni Lani dan teteh Yani. Kadang-kadang teteh Yani membuat pepes ikan mas. Kadang-kadang uni Lani membuat nasi goreng istimewa. Dan kadang-kadang Lala dan Yuni juga ikut-ikutan. Memasak yang ringan-ringan, entah kue-kue kecil. Atau panekuk alias pan cake untuk sarapan. Atau misalnya membuat es buah dengan mencampurkan bermacam-macam buah dimasukkan ke dalam parutan es batu lalu dibubuhi susu kental manis. Dan anehnya, pada hari bereksperimen itu bibik justru tambah sibuk. Melayani permintaan untuk mencari atau bahkan membelikan bahan-bahannya ke pasar.
Hari Minggu ini uni Lani mau membuat gado-gado Padang. Kenapa sih, namanya gado-gado Padang, tanya teteh Yani. Kata uni, karena pakai lontong dan kerupuk merah. Tapi bukankah gado-gado memang pakai lontong? Gado-gado Tengku Angkasa juga pakai lontong. Kalau begitu bedanya hanya pada pemakaian kerupuk merah. Tidak juga, kata uni tidak mau kalah. Gado-gado Tengku Angkasa kuah kacangnya kental dan terasa manisnya. Gado-gado Padang kuahnya tidak terlalu kental dan pedas. Nah, begitu.
Uni lalu bereksperimen dengan membuat kuah atau bumbu kacang sesuai dengan yang dia maksud. Si bibik disuruh menggiling kacang tanah yang sudah digonseng, ditambahi dengan cabe dan sedikit sekali gula jawa.
Sementara itu Lala dan Yuni sedang membersihkan pot bunga di teras depan. Mereka ditemani Imran dan Rizal. Kaki Imran sudah semakin ringan rasanya. Sudah bisa dibawa sedikit lasak walaupun kaki kiri itu masih tetap harus diistirahatkan. Rizal mengangkat dan merapihkan susunan pot-pot itu, lalu Lala dan Yuni merapihkan kembang di dalamnya. Memotong daun-daun yang layu dan mencabuti rumput di sekitarnya. Mereka bekerja sambil bersenda gurau.
‘Kembang-kembang ini keterlaluan kalau tidak mau berbunga,’ kata Rizal.
‘Memangnya kenapa?’ tanya Lala.
‘Kan keterlaluan namanya kalau kembang tidak mau berbunga,’ jawab Rizal asal-asalan.
‘Maksud Rizal, sudah dirawat baik-baik, masak tidak mau berbunga,’ Imran mencoba menjawab.
‘Apa lagi dirawat oleh……’
‘Kok nggak diterusin? Dirawat siapa?’ tanya Yuni penasaran.
‘Dirawat saya yang sengaja datang jauh-jauh dari Jakarta,’ jawab Rizal tersenyum.
‘Yeeeeei… Kok GR amat sih, bang,’ kata Lala.
‘Kan benar……’
‘Maksud Rizal sebenarnya sudah dirawat dua pasang tangan anak gadis…. Iya kan Zal?’ kata Imran pula.
‘Iya sih…. Tapi kan dibantu sepasang tangan anak bujang. Anak bujang yang gagah lagi… he..he..he..’
‘Ih…. Abang Rizal ini ke GR an amat….’
‘Nggak GR-GR amat sih. Pas-pasan aja. Memang orangnya gagah sih…..’
‘Udahlah, Yun! Nggak usah didengerin.’
Sedang mereka bergurau, bertele-tele itu dua buah becak berhenti di depan rumah. Syahrul di satu becak dan Ratih ditemani adiknya Sukma di becak yang satunya lagi.
‘Lagi gotong royong rupanya…….,’ Syahrul menyapa.
‘Kalau aku sedang berjemur… Sambil memandori orang bekerja….,’ jawab Imran.
‘Bagaimana kaki kau, Ran?’ tanya Syahrul pula.
‘Alhamdulillah sudah tidak berdenyut-denyut lagi…… Berombongan benar kalian datang,’ kata Imran.
‘Ya…. Kami ingin tahu kondisi kesehatan kak Imran. Syukurlah, sudah berangsur baik kelihatannya, ya kak,’ kata Ratih.
‘Alhamdulillah….. Sudah berangsur-angsur baik…. Sudah pada kenal, kan ini…… Ratih, ini Lala…. Kalau Yuni sudah kenal kan? Dan itu Rizal saudara saya dari Jakarta…... Itu Sukma adiknya Ratih….’
‘Waktu itu kita ketemu di rumah sakit, kan,’ kata Ratih sambil menyalami Lala.
Lala tersenyum. Mereka semua bersalam-salaman.
Lala mempersilahkan tamu-tamu itu masuk. Sementara pekerjaan mengurus kembang mereka hentikan dulu. Imran bangkit dari tempat duduknya dan ikut masuk dibantu dengan tongkat penyangga.
Suasana dalam rumah itu menjadi ramai. Oleh tawa canda anak-anak muda. Apalagi setelah abang Lutfi ikut pula bergabung. Abang Lutfi dan Rizal sangat pandai melawak.
***
Mereka bersama-sama menikmati gado-gado lontong buatan uni. Yang lontongnya dipesan di tukang lotek di jalan Dipati Ukur dari kemarin. Yang enak dan agak pedas. Dan menyantap pudding yang dibawakan Ratih. Dan es buah campur kreasi Lala dan Yuni. Semua serba mantap.
‘Hebat-hebat makanan dan minuman ini,’ celetuk abang Lutfi.
‘Siapa dulu dong yang bikin…..,’ teteh Yani mengomentari.
‘Siapa memangnya?’ tanya abang pula berpura-pura.
‘He…he..he… Siapa ya?’ Lala ikut meramaikan sambil tertawa kecil.
Yang lain tersenyum.
‘Eih….. Abang baru sadar nih…..’ abang Lutfi mengalihkan pembicaraan.
‘Lho…. Dari tadi abang tidur? Jadi tadi itu ngelindur?’ tanya Rizal.
‘Bukan….. Ini serius nih……’
‘Serius apaan?’
‘Kalian ada tiga pasang…… Mungkin nggak ya? Suatu saat kalian menjadi tiga pasangan sungguhan?’
‘Ya Allaaah….. si abang ngomong apaan sih?’ kata uni Lani.
‘Bener lho….. Tiba-tiba abang kepikiran kayak gitu…. Emangnya salah?’
‘Ya…. nggak salah sih….. Tapi kok ya ada-ada saja begitu lho….’
Lala, Yuni dan Ratih hanya melongo mendengar. Begitu juga teteh Yani dan Sukma.
‘Gimana Zal?’ abang menyambung lagi.
‘Yaaah…. Kok abang ada-ada saja begitu lho…… Ya, nggak ni? Begitu kan, kata uni barusan….he..he..he.. Tapi kok abang nanya ke aku?’
‘Ya iyalah...., nanyanya ke kamu…. Kamu setuju nggak?’
‘Wah…. Aku harus menjawab apa nih? Kalau aku bilang setuju, alasannya apa? Kalau aku bilang nggak setuju, alasannya apa?’
‘Berarti kamu cenderung setuju dong?’
‘Wuih…. Hebat betul kesimpulan abang. Kok bisa begitu?’
‘Habis…., jawabanmu nggak jelas…Udahlah… Tapi kalau pendapatmu bagaimana Ran?’
‘Kalau kata abang mungkin…. Ya mungkin saja, kalau Allah berkehendak kenapa tidak, bisa saja ada di antara kita ini nanti ditetapkan Allah menjadi pasangan. Siapa? Itu rahasia Allah,’ jawab Imran polos.
‘Tapi belum bisa diketahui dari sekarang? Belum bisa diramal?’ tanya abang lebih serius.
‘Untuk apa diramal, bang…?’
‘Dan menurutmu juga tidak perlu direncanakan? Kehidupan berumahtangga nanti itu tidak perlu dipersiapkan sejak jauh hari? Begitu?’
‘Boleh-boleh saja direncanakan.’
‘Lalu?’
‘Merencanakannya itu kan ndak perlu buru-buru. Dan ndak perlu gembar-gembor.’
‘Abang nggak terlalu faham, nih. Maksudmu…..?’
‘Maksudnya Imran nggak perlu melalui proses berpacaran, begitu kan Ran?’ uni mencoba ikut menengahi.
‘Ya… Begitulah lebih kurang, uni.’
‘Jadi begitu ya, Ran?’ abang masih penasaran.
Hening beberapa saat.
‘Kalau pendapatmu bagaimana Rul?’
‘Saya nggak ikut berpendapat, bang he..he..he,’ jawab Syahrul.
‘Kamu punya pacar?’
‘Tidak….. Belum… eh… tidak punya.’
Yang lain tertawa melihat Syahrul gugup.
‘Abang yang ditanyain dari tadi kok yang cowok melulu… Tanya yang cewek-cewek juga dong,’ teteh Yani ikut menambahi.
‘Iya..ya. Bagaimana Yun?’
Yuni hanya mesem-mesem. Tidak ada jawaban.
‘Mungkin Yuni sudah punya pacar kali bang,’ Rizal berkomentar.
‘Kayaknya belum deh….. Atau, jangan-jangan kamu….he..he..he..”
‘Lho…Kok aku?’ jawab Rizal dengan muka sedikit memerah.
‘He..he..he… Kayaknya pas juga tuh… Seandainya iya.’
‘Udahlah bang…. Nggak usahlah jadi mak comblang…. Eh, ngomong-ngomong…. bagaimana? Jadi kita pergi nonton siang ini?’ uni Lani mengalihkan perhatian.
‘Jadi dong…. Syahrul, Ratih ikut yuk. Sukma juga boleh ikut kok. Kita nonton rame-rame.’
‘Film apa, teh?’ tanya Rizal.
‘Sound of Music. Film semua umur….. Ikutan ya….!?’ Jawab teteh Yani.
*****
Tuesday, December 15, 2009
DERAI-DERAI CINTA (39)
39. SEKELOA
Setelah dua malam di rumah sakit Imran sudah dibolehkan pulang. Sudah dicobanya melatih menggunakan kedua tongkat penyangga. Tidak ada masalah. Kecuali kaki kirinya yang memang harus dijaga hati-hati sebab tersenggol sedikit saja langsung terasa nyeri.
Abang Lutfi dan teteh Yani bersungguh-sungguh menyuruh agar Imran tinggal di Sekeloa saja untuk sementara. Uni Lani juga sangat setuju. Apa lagi Lala. Dan apa lagi Yuni tentu saja. Imran akhirnya menerima tawaran itu. Dia menyadari bahwa urusan ke kamar kecil akan jadi masalah kalau dia pulang ke tempat tinggalnya di Taman Sari. Imran memberi tahu Syahrul tentang usulan ini. Bahwa dia akan mencoba tinggal disana paling tidak selama liburan semester di akhir tahun. Syahrulpun sependapat bahwa usulan itu sangat baik. Bukankah disana ada dua dokter yang akan merawatnya?
Rumah di Sekeloa itu besar. Ada tiga buah kamar yang masing-masing ditempati abang Lutfi dan teteh Yani, kamar uni Lani sendirian dan yang terakhir ditempati Lala dan Yuni. Di samping itu ada sebuah ruangan setengah terbuka, tadinya untuk mushala merangkap perpustakaan. Tapi akhir-akhir ini ruangan itu dimodifikasi untuk jadi ruangan praktek dokter. Sisi yang terbuka ditutup dengan dinding triplek. Di dalamnya ada sebuah dipan kecil untuk pemeriksaan pasien, meja kerja dokter, sebuah lemari yang entah apa isinya dan rak buku besar berisi banyak sekali buku-buku. Dengan isi seperti itu ruangan itu masih saja cukup lega. Masih ada bagian yang kosong. Memang ruangan ini digunakan kalau ada pasien yang datang berobat ke rumah. Tapi pasien yang datang ke rumah tidak banyak.
Imran akan menempati ruangan ini. Uni Lani dan Lala memindahkan sebuah dipan kecil, kembaran dipan yang terletak di bawah tempat tidur uni. Dipan kecil itu sekarang diletakkan di samping rak buku. Mereka merapihkannya dengan seprai dan bantal bersarung putih bersih. Itulah tempat tidur Imran.
Rumah itu bertambah ramai dengan kehadiran Imran. Terutama di saat makan malam bersama. Karena abang Lutfi dan teteh Yani praktek sampai sekitar jam setengah sembilan malam, makan malam selalu agak terlambat, menunggu sampai kedua dokter itu pulang.
‘Bagaimana rasanya Ran, pindah dari Hasan Sadikin ke rumkit Sekeloa ini?’ tanya abang Lutfi bercanda pada saat makan malam.
‘Sama, bang,’ jawab Imran.
‘Lho kok sama? Masak nggak ada bedanya?’
‘Sama-sama berbeda dengan di Taman Sari.’
‘Semprul……’
‘Di Sekeloa nggak ada perawatnya, ya Ran,’ teteh Yani menimpali.
‘Lha, ini? Kan ada tiga perawat..? Ada dua dokter, ada tiga perawat. Pasiennya cuman satu. Di Hasan Sadikin pasiennya banyak sekali.’
‘Itulah, bang. Yang membuat awak agak takut. Jangan-jangan ndak sanggup awak membayar biaya perawatannya nanti.’
‘Aaah…… awak jangan khawatir. Tagihannya nanti disampaikan kalau pasiennya sudah menerima gaji. Sementara ini tidak akan ada tagihan….. Tapi kalau pasiennya sudah agak baikan diminta ikut membantu staf dapur umum… he..he..he..’
‘Membuat gulai tunjang? Begitu?’ tanya Lala.
Semua tertawa.
‘Iyalah. Tapi itu nanti….. Kalau pasiennya sudah bisa diperbantukan ke dapur. Bukan sekarang-sekarang.’
‘Bang….. Kok abang suka banget dengan gulai tunjang?’ Yuni bertanya.
‘Itu sudah dari sononya….. Bukan ding… Abang dulu diperkenalkan papa dengan gulai tunjang nasi Kapau di Bukit Tinggi. Kami makan di warung di tengah pasar. Tapi rasa masakannya, wuih….. Sejak itu abang nggak pernah melupakannya. Pernah sesudah itu abang ke Bukit Tinggi, bukan ikut papa. Kalau nggak salah menemani mama waktu nenek sakit, abang pergi sendiri ke tempat nasi Kapau itu lagi. Pokoknya bukan main dah. Dan rasa gulai tunjang yang dibuat Imran persis sama dengan gulai Kapau itu. Ini abang nggak bohong…’
‘Sama, apa enakan masakan bang Imran?’ Lala menggoda.
‘Yaa, beda-beda tipislah…. Yang dimasak Imran wuiih…. Ini, baru ngomongin aja…. Titik air liur abang mengingatnya....’
‘Kalau sama, kenapa nggak dibeli aja yang di warung nasi Kapau…?’ giliran uni Lani.
‘Di warung Kapau yang di Bandung ini? Waah…jauh. Jauuh banget bedanya. Kayaknya yang di Bandung masakan Kapau tiruan, atau masakan orang Kapau yang sudah lama merantau, jadi sudah lupa resep aslinya…’
‘Masakan Imran juga masakan Kapau tiruan. Orang dia bukan orang Kapau…hayooo.’
‘Tapi sepertinya dia sudah dapat sertifikat dari orang Kapau. Masakan dia Kapau banget.’
‘Abang memuji-muji karena ada maunya,’ kata Lala.
‘Memang…. Kan abang nggak menutupinya. Ya nggak, Ran?’
Imran tersenyum.
‘Teteh pintar memasak juga ‘teh?’ Imran mengalihkan pembicaraan.
‘Nggak pinter…’
‘Teteh pinter membuat pepes ikan mas…. Pepes ikan mas itu mirip-mirip…… apa itu kalau masakan Minang….. ?’ uni Lani yang mengomentari.
‘Mirip pangek ikan. Tapi pangek tidak dibungkus daun pisang,’ jawab Imran.
‘Gulai Kapau itu ada juga pangek ikannya kan?’ tanya Lala.
‘Ya…. Pangek ikan tawes. Mereka menyebutnya ikan paweh. Ikan paweh batalua…’
‘Dimasak pakai telor maksudnya?’ tanya teteh Yani.
‘Bukan….. Ikannya yang bertelor. Ikannya gemuk-gemuk dan di dalam perutnya berisi telor ikan. Ikan seperti itu yang dimasak. Dibuat pangek. Waah… itu juga sangat OK punya.’
‘Wuuuf. Pasti mantap itu,’ kata teteh.
‘Enak mana dengan gulai tunjang bang?’ giliran Yuni.
‘Beda enaknya. Tapi kalau abang berkunjung ke nasi Kapau seperti di Bukit Tinggi itu lima kali, abang akan minta gulai tunjang tiga atau empat kali…he..he..he..’
‘Yang satu sampai dua kalinya pakai ikan tawes bertelur?’
‘Ya… yang sekalinya pakai tawes bertelur tambah belut goreng balado… Wuuuuuiih.’
‘Kata mama, abang ini bapusa-pusa di perut,’ kata uni.
‘Apa itu? Maksudnya puser?’ Kalau puser kan memang diperut…he..he..he,’
‘Pusa-pusa itu, ini ‘teh,’ kata Imran sambil menunjukkan ke pusaran rambut di kepalanya.
‘Lalu apa maksudnya? Kok dibilang ada pusaran di perut? Kan nggak ada rambut di perut… ‘ teteh penasaran.
‘Ungkapan itu diberikan kepada orang yang terlalu doyan makan,’ uni menjelaskan.
‘Ooooh. Kalau itu….. abang memang orangnya….’
‘Aaah nggak begitu-begitu amat,’ abang Lutfi membela diri.
‘Kalau makan harus masakan Padang ya, bang?’ tanya Yuni lagi.
‘Nomor satu….. asal yang enak. Tapi masakan lain OK juga. Masakan Sunda juga boleh. Masakan Cina juga boleh…. Makan steak sama kentang goreng OK.’
‘Lalap-lalapan OK juga bang?’ tanya Imran pula.
‘Nggak semua. Kayak ada terong kecil mentah, yang Yani suka banget, abang nggak suka. Daun kemangi mentah, abang juga nggak suka…’
Obrolan itu berlanjut kemana-mana.
***
Seperti itu suasana santai di Sekeloa. Sejak awal Lala, dan juga Yuni berusaha memberikan perhatian khusus kepada Imran. Mereka berlomba, meski secara halus dan diam-diam, untuk melayani Imran. Lala membuatkan minuman di pagi hari. Yuni membuatkan di sore hari. Lala mengingatkan bibik untuk memasakkan air untuk mandi Imran. Kadang-kadang Lala sendiri yang meletakkan ke kamar mandi dan memberi tahu Imran kalau air untuk mandi sudah disiapkan.
Mereka berusaha selalu menyempatkan untuk berbincang-bincang dengan Imran. Kalau bisa sendiri-sendiri, tapi kadang-kadang bertiga. Untuk bertanya. Berdiskusi. Imran memang kawan berdiskusi yang asyik. Dia mau mendengar lawan bicaranya dengan sabar. Lalu memberikan pendapatnya tanpa memaksakan dia yang benar. Itu sudah menjadi sifatnya.
Bagaimanapun sikap dan perhatian Lala dan Yuni kepadanya, Imran menanggapi semua itu sebagai ketulusan dalam persaudaraan biasa. Sedikitpun dia tidak menangkap adanya pesan khusus dalam perlakuan mereka. Imran menganggap mereka seperti adiknya sendiri. Tidak lebih.
***
Hari Jumat sore Rizal datang dari Jakarta. Berita bahwa Imran mendapat musibah telah sampai di Jakarta. Nenek sangat cemas dan menyuruh Rizal pergi melihat keadaannya. Imran senang sekali dengan kedatangan Rizal.
Suasana jadi bertambah ramai dengan kedatangan Rizal. Diskusi di meja makan pada malam harinya bertambah seru.
‘Apa kata nenek mendengar kabar cucu kesayangannya dapat musibah, Zal?’
‘Sedih banget nenek. Rasanya mau beliau ikut ke Bandung. Tentu saja dilarang mama. Waktu aku bilang aku mau ke Bandung, beliau sangat senang. Beliau menyuruh agar cepat-cepat pergi,’ jawab Rizal.
‘Langsung menyuruh etek membuat rendang, begitu?’
‘Ya, iyalah. Nenek kan selalu begitu.’
‘Terus, tadi rendang ini, khusus buat si awak saja, dong?’
‘Kayaknya sih begitu. Kan oleh-oleh untuk orang sakit he..he..he..’
‘Jadi bagaimana dong?’
‘Abang ini paling bisa….,’ kata Imran.
Begitulah omongan mereka disertai canda. Sampai berlama-lama duduk di meja makan. Disertai tertawa terkekeh-kekeh. Abang Lutfi dan Rizal sama-sama pandai melawak. Ada-ada saja celotehan mereka yang mengundang tawa.
‘Ngomong-ngomong, bang. Abang percaya nggak sama dukun patah tulang yang mampu mengobati orang patah?’ tanya Rizal.
‘Percaya dan nggak percaya.’
‘Maksud abang?’
‘Perawatan patah tulang itu pada dasarnya adalah memberi kesempatan pada bagian yang patah itu untuk tersambung kembali secara alamiah. Untuk itulah dibalut dengan gips supaya proses penyambungan itu tidak terganggu. Dukun patah tulangpun melakukan hal yang sama, biasanya dengan menggunakan penyangga dari kayu atau bambu. Prinsipnya sama-sama saja. Dengan menggunakan gips, tentu lebih aman karena perlindungan pada bagian yang patah itu lebih menyeluruh.’
‘Ada temanku jatuh dari motor, tulang kakinya remuk, dibawa ke dukun urut. Sama dukun itu diurut . Dan temanku itu sembuh kembali.’
‘Diurut itu mungkin maksudnya untuk meletakkan bagian-bagian yang kamu bilang remuk itu di tempatnya semula. Baru setelah itu dibantu kembali dengan penyangga. Untuk membiarkan bagian-bagian tulang yang patah itu saling menyatu kembali. Masih bisa diterima akal.’
‘Ada yang bilang dia dibantu oleh makhluk halus.’
‘Wah, kalau itu sih abang nggak ikut campur.’
‘Jadi abang nggak percaya?’
‘Tidak terlalu percaya.’
*****
Setelah dua malam di rumah sakit Imran sudah dibolehkan pulang. Sudah dicobanya melatih menggunakan kedua tongkat penyangga. Tidak ada masalah. Kecuali kaki kirinya yang memang harus dijaga hati-hati sebab tersenggol sedikit saja langsung terasa nyeri.
Abang Lutfi dan teteh Yani bersungguh-sungguh menyuruh agar Imran tinggal di Sekeloa saja untuk sementara. Uni Lani juga sangat setuju. Apa lagi Lala. Dan apa lagi Yuni tentu saja. Imran akhirnya menerima tawaran itu. Dia menyadari bahwa urusan ke kamar kecil akan jadi masalah kalau dia pulang ke tempat tinggalnya di Taman Sari. Imran memberi tahu Syahrul tentang usulan ini. Bahwa dia akan mencoba tinggal disana paling tidak selama liburan semester di akhir tahun. Syahrulpun sependapat bahwa usulan itu sangat baik. Bukankah disana ada dua dokter yang akan merawatnya?
Rumah di Sekeloa itu besar. Ada tiga buah kamar yang masing-masing ditempati abang Lutfi dan teteh Yani, kamar uni Lani sendirian dan yang terakhir ditempati Lala dan Yuni. Di samping itu ada sebuah ruangan setengah terbuka, tadinya untuk mushala merangkap perpustakaan. Tapi akhir-akhir ini ruangan itu dimodifikasi untuk jadi ruangan praktek dokter. Sisi yang terbuka ditutup dengan dinding triplek. Di dalamnya ada sebuah dipan kecil untuk pemeriksaan pasien, meja kerja dokter, sebuah lemari yang entah apa isinya dan rak buku besar berisi banyak sekali buku-buku. Dengan isi seperti itu ruangan itu masih saja cukup lega. Masih ada bagian yang kosong. Memang ruangan ini digunakan kalau ada pasien yang datang berobat ke rumah. Tapi pasien yang datang ke rumah tidak banyak.
Imran akan menempati ruangan ini. Uni Lani dan Lala memindahkan sebuah dipan kecil, kembaran dipan yang terletak di bawah tempat tidur uni. Dipan kecil itu sekarang diletakkan di samping rak buku. Mereka merapihkannya dengan seprai dan bantal bersarung putih bersih. Itulah tempat tidur Imran.
Rumah itu bertambah ramai dengan kehadiran Imran. Terutama di saat makan malam bersama. Karena abang Lutfi dan teteh Yani praktek sampai sekitar jam setengah sembilan malam, makan malam selalu agak terlambat, menunggu sampai kedua dokter itu pulang.
‘Bagaimana rasanya Ran, pindah dari Hasan Sadikin ke rumkit Sekeloa ini?’ tanya abang Lutfi bercanda pada saat makan malam.
‘Sama, bang,’ jawab Imran.
‘Lho kok sama? Masak nggak ada bedanya?’
‘Sama-sama berbeda dengan di Taman Sari.’
‘Semprul……’
‘Di Sekeloa nggak ada perawatnya, ya Ran,’ teteh Yani menimpali.
‘Lha, ini? Kan ada tiga perawat..? Ada dua dokter, ada tiga perawat. Pasiennya cuman satu. Di Hasan Sadikin pasiennya banyak sekali.’
‘Itulah, bang. Yang membuat awak agak takut. Jangan-jangan ndak sanggup awak membayar biaya perawatannya nanti.’
‘Aaah…… awak jangan khawatir. Tagihannya nanti disampaikan kalau pasiennya sudah menerima gaji. Sementara ini tidak akan ada tagihan….. Tapi kalau pasiennya sudah agak baikan diminta ikut membantu staf dapur umum… he..he..he..’
‘Membuat gulai tunjang? Begitu?’ tanya Lala.
Semua tertawa.
‘Iyalah. Tapi itu nanti….. Kalau pasiennya sudah bisa diperbantukan ke dapur. Bukan sekarang-sekarang.’
‘Bang….. Kok abang suka banget dengan gulai tunjang?’ Yuni bertanya.
‘Itu sudah dari sononya….. Bukan ding… Abang dulu diperkenalkan papa dengan gulai tunjang nasi Kapau di Bukit Tinggi. Kami makan di warung di tengah pasar. Tapi rasa masakannya, wuih….. Sejak itu abang nggak pernah melupakannya. Pernah sesudah itu abang ke Bukit Tinggi, bukan ikut papa. Kalau nggak salah menemani mama waktu nenek sakit, abang pergi sendiri ke tempat nasi Kapau itu lagi. Pokoknya bukan main dah. Dan rasa gulai tunjang yang dibuat Imran persis sama dengan gulai Kapau itu. Ini abang nggak bohong…’
‘Sama, apa enakan masakan bang Imran?’ Lala menggoda.
‘Yaa, beda-beda tipislah…. Yang dimasak Imran wuiih…. Ini, baru ngomongin aja…. Titik air liur abang mengingatnya....’
‘Kalau sama, kenapa nggak dibeli aja yang di warung nasi Kapau…?’ giliran uni Lani.
‘Di warung Kapau yang di Bandung ini? Waah…jauh. Jauuh banget bedanya. Kayaknya yang di Bandung masakan Kapau tiruan, atau masakan orang Kapau yang sudah lama merantau, jadi sudah lupa resep aslinya…’
‘Masakan Imran juga masakan Kapau tiruan. Orang dia bukan orang Kapau…hayooo.’
‘Tapi sepertinya dia sudah dapat sertifikat dari orang Kapau. Masakan dia Kapau banget.’
‘Abang memuji-muji karena ada maunya,’ kata Lala.
‘Memang…. Kan abang nggak menutupinya. Ya nggak, Ran?’
Imran tersenyum.
‘Teteh pintar memasak juga ‘teh?’ Imran mengalihkan pembicaraan.
‘Nggak pinter…’
‘Teteh pinter membuat pepes ikan mas…. Pepes ikan mas itu mirip-mirip…… apa itu kalau masakan Minang….. ?’ uni Lani yang mengomentari.
‘Mirip pangek ikan. Tapi pangek tidak dibungkus daun pisang,’ jawab Imran.
‘Gulai Kapau itu ada juga pangek ikannya kan?’ tanya Lala.
‘Ya…. Pangek ikan tawes. Mereka menyebutnya ikan paweh. Ikan paweh batalua…’
‘Dimasak pakai telor maksudnya?’ tanya teteh Yani.
‘Bukan….. Ikannya yang bertelor. Ikannya gemuk-gemuk dan di dalam perutnya berisi telor ikan. Ikan seperti itu yang dimasak. Dibuat pangek. Waah… itu juga sangat OK punya.’
‘Wuuuf. Pasti mantap itu,’ kata teteh.
‘Enak mana dengan gulai tunjang bang?’ giliran Yuni.
‘Beda enaknya. Tapi kalau abang berkunjung ke nasi Kapau seperti di Bukit Tinggi itu lima kali, abang akan minta gulai tunjang tiga atau empat kali…he..he..he..’
‘Yang satu sampai dua kalinya pakai ikan tawes bertelur?’
‘Ya… yang sekalinya pakai tawes bertelur tambah belut goreng balado… Wuuuuuiih.’
‘Kata mama, abang ini bapusa-pusa di perut,’ kata uni.
‘Apa itu? Maksudnya puser?’ Kalau puser kan memang diperut…he..he..he,’
‘Pusa-pusa itu, ini ‘teh,’ kata Imran sambil menunjukkan ke pusaran rambut di kepalanya.
‘Lalu apa maksudnya? Kok dibilang ada pusaran di perut? Kan nggak ada rambut di perut… ‘ teteh penasaran.
‘Ungkapan itu diberikan kepada orang yang terlalu doyan makan,’ uni menjelaskan.
‘Ooooh. Kalau itu….. abang memang orangnya….’
‘Aaah nggak begitu-begitu amat,’ abang Lutfi membela diri.
‘Kalau makan harus masakan Padang ya, bang?’ tanya Yuni lagi.
‘Nomor satu….. asal yang enak. Tapi masakan lain OK juga. Masakan Sunda juga boleh. Masakan Cina juga boleh…. Makan steak sama kentang goreng OK.’
‘Lalap-lalapan OK juga bang?’ tanya Imran pula.
‘Nggak semua. Kayak ada terong kecil mentah, yang Yani suka banget, abang nggak suka. Daun kemangi mentah, abang juga nggak suka…’
Obrolan itu berlanjut kemana-mana.
***
Seperti itu suasana santai di Sekeloa. Sejak awal Lala, dan juga Yuni berusaha memberikan perhatian khusus kepada Imran. Mereka berlomba, meski secara halus dan diam-diam, untuk melayani Imran. Lala membuatkan minuman di pagi hari. Yuni membuatkan di sore hari. Lala mengingatkan bibik untuk memasakkan air untuk mandi Imran. Kadang-kadang Lala sendiri yang meletakkan ke kamar mandi dan memberi tahu Imran kalau air untuk mandi sudah disiapkan.
Mereka berusaha selalu menyempatkan untuk berbincang-bincang dengan Imran. Kalau bisa sendiri-sendiri, tapi kadang-kadang bertiga. Untuk bertanya. Berdiskusi. Imran memang kawan berdiskusi yang asyik. Dia mau mendengar lawan bicaranya dengan sabar. Lalu memberikan pendapatnya tanpa memaksakan dia yang benar. Itu sudah menjadi sifatnya.
Bagaimanapun sikap dan perhatian Lala dan Yuni kepadanya, Imran menanggapi semua itu sebagai ketulusan dalam persaudaraan biasa. Sedikitpun dia tidak menangkap adanya pesan khusus dalam perlakuan mereka. Imran menganggap mereka seperti adiknya sendiri. Tidak lebih.
***
Hari Jumat sore Rizal datang dari Jakarta. Berita bahwa Imran mendapat musibah telah sampai di Jakarta. Nenek sangat cemas dan menyuruh Rizal pergi melihat keadaannya. Imran senang sekali dengan kedatangan Rizal.
Suasana jadi bertambah ramai dengan kedatangan Rizal. Diskusi di meja makan pada malam harinya bertambah seru.
‘Apa kata nenek mendengar kabar cucu kesayangannya dapat musibah, Zal?’
‘Sedih banget nenek. Rasanya mau beliau ikut ke Bandung. Tentu saja dilarang mama. Waktu aku bilang aku mau ke Bandung, beliau sangat senang. Beliau menyuruh agar cepat-cepat pergi,’ jawab Rizal.
‘Langsung menyuruh etek membuat rendang, begitu?’
‘Ya, iyalah. Nenek kan selalu begitu.’
‘Terus, tadi rendang ini, khusus buat si awak saja, dong?’
‘Kayaknya sih begitu. Kan oleh-oleh untuk orang sakit he..he..he..’
‘Jadi bagaimana dong?’
‘Abang ini paling bisa….,’ kata Imran.
Begitulah omongan mereka disertai canda. Sampai berlama-lama duduk di meja makan. Disertai tertawa terkekeh-kekeh. Abang Lutfi dan Rizal sama-sama pandai melawak. Ada-ada saja celotehan mereka yang mengundang tawa.
‘Ngomong-ngomong, bang. Abang percaya nggak sama dukun patah tulang yang mampu mengobati orang patah?’ tanya Rizal.
‘Percaya dan nggak percaya.’
‘Maksud abang?’
‘Perawatan patah tulang itu pada dasarnya adalah memberi kesempatan pada bagian yang patah itu untuk tersambung kembali secara alamiah. Untuk itulah dibalut dengan gips supaya proses penyambungan itu tidak terganggu. Dukun patah tulangpun melakukan hal yang sama, biasanya dengan menggunakan penyangga dari kayu atau bambu. Prinsipnya sama-sama saja. Dengan menggunakan gips, tentu lebih aman karena perlindungan pada bagian yang patah itu lebih menyeluruh.’
‘Ada temanku jatuh dari motor, tulang kakinya remuk, dibawa ke dukun urut. Sama dukun itu diurut . Dan temanku itu sembuh kembali.’
‘Diurut itu mungkin maksudnya untuk meletakkan bagian-bagian yang kamu bilang remuk itu di tempatnya semula. Baru setelah itu dibantu kembali dengan penyangga. Untuk membiarkan bagian-bagian tulang yang patah itu saling menyatu kembali. Masih bisa diterima akal.’
‘Ada yang bilang dia dibantu oleh makhluk halus.’
‘Wah, kalau itu sih abang nggak ikut campur.’
‘Jadi abang nggak percaya?’
‘Tidak terlalu percaya.’
*****
DERAI-DERAI CINTA (38)
38. DI RUMAH SAKIT
Imran terbangun sekitar jam setengah lima subuh. Perutnya sakit. Dibangunkannya Syahrul yang tertidur di kursi dengan kepala terletak di dekat kepalanya. Tidurnya sangat lelap. Bisa-bisanya dia tertidur dalam posisi duduk seperti itu.
‘Rul…….. Rul..,’ katanya pelan-pelan membangunkan Syahrul.
‘Yaah… Kenapa?’ tanya Syahrul sambil menggeliat mengangkat kepalanya.
‘Ada urusan yang paling sulit ini……… Perutku sakit….’
‘Ooo….. Tunggu sebentar…. Aku panggilkan perawat…..’
Syahrul segera bangkit dan pergi keluar memanggil perawat. Dan perawat itu segera datang.
‘Kenapa mas?’ tanya perawat itu ramah.
‘Saya…… Saya malu ini….. Saya mau …..’ kata Imran ragu-ragu.
‘Mau apa? Mau b.a.b.?’ tanya perawat itu tersenyum.
‘Iya suster…. Tapi bagaimana caranya….?’
‘Tunggulah sebentar… Caranya biasa saja….. Jangan malu… Ini kan di rumah sakit.’
Perawat itu membantu Imran dengan telaten sekali, tanpa sedikitpun ada rasa jijik dan sungkan. Dia sudah biasa menghadapi bermacan-macan keadaan orang sakit. Imran terpaksa menyerah saja pasrah.
‘Apa mau sekalian dimandiin? Biar segar dan biar nggak bolak balik….,’ kata perawat itu.
‘Mandi? Bagaimana caranya saya dimandiin, suster?’ Imran terheran-heran.
‘Maksudnya, badannya dilap pakai lap basah…he..he.. Bukan mandi diguyur air… Mau sekarang?’
‘Oo begitu… Ya, maulah suster… terima kasih.’
Suster pergi menyiapkan air dan peralatan lainnya. Sementara itu Syahrul kembali dari luar.
‘Sudah beres?’ tanya Syahrul.
‘Sudah….. Dari mana kau?’
‘Dari mushala. Kau sudah shalat?’
‘Belum. Kata suster tadi aku sekalian mau dilap-lap. Habis itu nanti aku shalat.’
‘Oh ya? Biar aku belikan sabun dan sikat gigi. Tunggulah sebentar.’
Syahrul langsung pergi dan beberapa menit kemudian dia sudah kembali. Suster tadi segera membersihkan tubuh Imran. Dia memang cekatan sekali.
‘Aku harus segera pulang. Nanti aku ujian jam tujuh. Kau mau aku belikan roti bakar dan teh susu untuk sarapan?’
‘Rotinya aku mau. Tapi teh manis biasa saja, tidak usah pakai susu,’ jawab Imran.
‘Abangnya sangat perhatian benar. Jarang orang bersaudara seakrab ini,’ suster itu berkomentar.
Syahrul tersenyum. Dia kembali pergi membelikan sarapan untuk Imran. Setelah itu baru dia buru-buru pulang.
***
Imran merasa segar. Sudah bersih dan sudah sarapan pula. Dan sudah shalat subuh. Tidak ada rasa sakit. Hanya kaki kirinya yang dipasangi gips terasa berat dan tidak leluasa. Kaki kanannya biru lebam di dekat lutut, mungkin karena benturan waktu kecelakaan kemarin. Tapi yang lebam itu tidak terasa apa-apa.
Sedang Imran berbaring sambil menerawang, mengingat peristiwa yang menimpanya kemarin, Yuni masuk dan menyapa.
‘Assalaamu’alaikum…. Bagaimana keadaannya bang?’
Imran tersentak. Dan keheranan.
‘Wa’alaikum salaam… Ya…. Beginilah….. Lagi kena musibah…’ jawab Imran agak terbata-bata..
‘Apa yang terasa sakit?’
‘Sekarang sudah tidak ada….. Sudah tidak terasa sakit.’
‘Katanya kakinya dioperasi?’
‘Ndak. Tapi…… Yuni tahu dari mana kalau saya ada di rumah sakit?’
‘Dari saudara. Yang kemarin menolong bang Imran.’
‘Pak Fauzi?’
‘Bukan… Dari Irma…..’
‘Oo ya… Irma yang dulu datang ke rumah Ratih…. Tapi…….. Lala ndak ikut kesini?’
‘Tidak. Mungkin belum, bang. Saya dari rumah Irma. Tadi malam nginap disana.’
‘Ooo begitu…. Iya, ya…. Irma itu temannya Yuni sama-sama dari Pakan Baru juga?’
‘Sepupu. Anak oom saya. Anak adiknya mama…’
‘Oo ya… Irma dan pak Fauzi kemarin mengantarkan saya kesini.’
‘Irma bercerita, kemarin dokter yang merawat bang Imran di UGD bilang kemungkinan akan dipasang pen di kakinya.’
‘Ndak jadi. Ada dokter lain yang memeriksa saya tadi malam dan dia menyimpulkan tidak perlu dipasang pen. Jadi ndak dioperasi.’
‘Mudah-mudahan abang cepat baik. Sementara ini belum boleh bangun ya, bang?’
‘Tadi sudah saya coba duduk. Bangkit pelan-pelan. Capek juga berbaring terus.’
‘Harus sabar, bang.’
‘Ya… ‘
‘Perawat disini baik-baik?’
‘Alhamdulillah baik-baik.’
Sedang mereka berbincang-bincang itu, Ratih muncul memberi salam.
‘Tahu dari siapa saya ada disini?’ tanya Imran setelah menjawab salam Ratih.
‘Dari kak Syahrul,’ jawab Ratih. ‘Tadi kak Syahrul ketemu Sukma dan dia bilang kak Imran dirawat disini. Bagaimana, kak? Apa yang sakit?’
‘Kaki dan kepala saya. Kaki patah dan dipasangi gips. Kepala luka kena kaca dan dijahit.’
‘Kemarin itu kak Imran dari mana?’
‘Dari Asia Afrika dekat Alun-Alun. Habis itu naik angkutan Suzuki kecil itu mau pulang. Di ujung jalan Dago kecelakaan….,’ jawab Imran.
‘Ya Allah….. Kalau mau kena musibah, ya….. Terus langsung diantar kesini?’
‘Ya… Saya diantar Irma. Irma yang teman Ratih itu. Ternyata dia saudaranya Yuni ini. Dia kebetulan lewat dan melihat saya sedang berdarah-darah. Saya diantar Irma dengan saudaranya kesini.’
‘Tadi malam bang Imran ditemani bang Syahrul?’ giliran Yuni bertanya.
‘Ya... Dia tidur sambil duduk di kursi ini. Tadi dia buru-buru pergi karena pagi ini dia ujian.’
‘Pantasan tadi dia terburu-buru dari rumah…. Ngomong-ngomong, kak Imran sarapan, ya. Saya bawain nasi goreng,’ Ratih menawarkan.
‘Saya sudah sarapan roti. Tadi dibeliin Syahrul.’
‘Saya bawain nasi goreng bikinan uci. Uci menitip salam dan mendoakan kak Imran cepat sembuh.’
‘Terima kasih…. Biarlah nanti saya makan.’
Tiba-tiba muncul pula Lala sama uni Lani.
‘Wah, lagi rame, nih. Bagaimana Ran? Terlihatnya seger-seger aja. Sudah nggak sakit?’ uni Lani mencecar.
‘Sudah lumayan uni. Sudah tidak terasa sakit. Uni dan Lala berdua saja?’
‘Ada abang sama teteh juga, sebentar menyusul,’ Lala yang menjawab.
‘Yuni pagi-pagi sudah disini. Tahu dari siapa?’ tanya uni Lani ke Yuni.
‘Dari Irma un. Kemarin yang mengantar bang Imran ke sini Irma. Tadi malam dia cerita.’
‘Irma ada di angkot itu juga, bang?’ giliran Lala bertanya.
‘Ndak. Dia kebetulan lewat.’
‘Semalam bisa tidur? Kakinya nggak senut-senut?’ tanya Lala lagi.
‘Alhamdulillah bisa.…. Kemarin dikasih dokter obat. Mungkin ada obat tidurnya.’
Ruangan itu bertambah ramai ketika abang Lutfi dan teteh Yani juga datang. Abang Lutfi membawakan sepasang kruk, tongkat penyangga untuk membantu berjalan.
‘Dokter Aditya sudah datang pagi ini?’ tanya abang Lutfi.
‘Belum ada , bang.’
‘Semalam nggak susah tidur?’ abang Lutfi meraba kening Imran.
‘Aman aja, bang.’
‘Tidur nyenyak sampai pagi?’
‘Tadi pagi pas azan subuh sakit perut. Pengen ke belakang. Terus dibantu sama zuster perawat.’
‘Dibantu suster untuk ke kamar kecil? Bisa?’ Lala yang bertanya.
‘Dibantu suster disinilah. Mana mungkin ke kamar kecil,’ abang Lutfi yang menjawab.
‘He..he..he.. Nggak malu bang?’ Lala menggoda Imran.
‘Kata susternya nggak usah malu…. Ini di rumah sakit…. Ya, begitulah…’
Semua tertawa mendengar.
‘Bakalan betah dong kamu disini, he..he..he,’ abang Lutfi bercanda.
‘Ndaklah bang. Awak ingin cepat pulang. Kapan awak boleh pulang bang?’
‘Nanti kita tanya dokter Aditya. Tapi abang bilang sih kamu boleh segera pulang. Kan nggak ada demam, atau apa-apanya lagi. Cuma kakimu itu perlu waktu lama penyembuhannya.’
‘Maksudnya bagaimana, bang?’
‘Untuk bisa berjalan normal perlu waktu dua tiga bulan. Harus ditunggu sampai tulang yang patah itu bersatu kembali. Itu yang memakan waktu. Dan harus benar-benar sudah kuat baru boleh digunakan karena dia akan menopang berat badan.’
‘Sebelum dia kuat betul harus pakai tongkat, begitu ya bang,’ Lala yang bertanya.
‘Ya.. Harus begitu.’
‘Sabar aja, kak Imran,’ Ratih yang berkomentar.
Imran tersenyum.
‘Oh, ya. Kalau nanti boleh pulang, abang sarankan kamu di Sekeloa saja dulu.’
‘Kenapa, bang?’ tanya Imran.
‘Kamu akan kesulitan menggunakan kloset jongkok…..’
‘Benar… ‘ teteh Yani menambahkan.
‘Masak, sih bang?’
‘Ya, iyalah. Dan dirumahmu kan tidak ada lagi suster yang akan menolong.’
‘Waduh…. Iya juga ya….. Nantilah bang, dipikirkan…’
‘Nggak usah dipikirkan. Nggak ada jalan keluarnya sementara ini. Paling tidak sampai kakimu tidak berasa nyeri lagi kalau dibawa bergerak.’
‘Wah…. Saya bakal merepotkan, dong….’
‘Nanti di Sekeloa sering-sering saja kita buat gulai tunjang. Untuk memasak, kakimu kan tidak ada masalah.’
Semua tertawa mendengar omongan bang Lutfi.
‘Abang ini menggunakan kesempatan dalam kesempitan…’ kata Lala cemberut.
‘Lha, iya kan….? Kalau Imran di Sekeloa, tanpa dimintapun pasti dia akan berkreasi di dapur. Abang akan minta tolong agar stok tunjang selalu ada di kulkas… he..he..he..’
‘Si abang meuni serius pisan….’
Ngalor ngidul itu berlangsung sampai dokter Aditya datang jam setengah delapan. Dokter Aditya menganjurkan agar Imran diobservasi satu malam lagi di rumah sakit.
*****
Imran terbangun sekitar jam setengah lima subuh. Perutnya sakit. Dibangunkannya Syahrul yang tertidur di kursi dengan kepala terletak di dekat kepalanya. Tidurnya sangat lelap. Bisa-bisanya dia tertidur dalam posisi duduk seperti itu.
‘Rul…….. Rul..,’ katanya pelan-pelan membangunkan Syahrul.
‘Yaah… Kenapa?’ tanya Syahrul sambil menggeliat mengangkat kepalanya.
‘Ada urusan yang paling sulit ini……… Perutku sakit….’
‘Ooo….. Tunggu sebentar…. Aku panggilkan perawat…..’
Syahrul segera bangkit dan pergi keluar memanggil perawat. Dan perawat itu segera datang.
‘Kenapa mas?’ tanya perawat itu ramah.
‘Saya…… Saya malu ini….. Saya mau …..’ kata Imran ragu-ragu.
‘Mau apa? Mau b.a.b.?’ tanya perawat itu tersenyum.
‘Iya suster…. Tapi bagaimana caranya….?’
‘Tunggulah sebentar… Caranya biasa saja….. Jangan malu… Ini kan di rumah sakit.’
Perawat itu membantu Imran dengan telaten sekali, tanpa sedikitpun ada rasa jijik dan sungkan. Dia sudah biasa menghadapi bermacan-macan keadaan orang sakit. Imran terpaksa menyerah saja pasrah.
‘Apa mau sekalian dimandiin? Biar segar dan biar nggak bolak balik….,’ kata perawat itu.
‘Mandi? Bagaimana caranya saya dimandiin, suster?’ Imran terheran-heran.
‘Maksudnya, badannya dilap pakai lap basah…he..he.. Bukan mandi diguyur air… Mau sekarang?’
‘Oo begitu… Ya, maulah suster… terima kasih.’
Suster pergi menyiapkan air dan peralatan lainnya. Sementara itu Syahrul kembali dari luar.
‘Sudah beres?’ tanya Syahrul.
‘Sudah….. Dari mana kau?’
‘Dari mushala. Kau sudah shalat?’
‘Belum. Kata suster tadi aku sekalian mau dilap-lap. Habis itu nanti aku shalat.’
‘Oh ya? Biar aku belikan sabun dan sikat gigi. Tunggulah sebentar.’
Syahrul langsung pergi dan beberapa menit kemudian dia sudah kembali. Suster tadi segera membersihkan tubuh Imran. Dia memang cekatan sekali.
‘Aku harus segera pulang. Nanti aku ujian jam tujuh. Kau mau aku belikan roti bakar dan teh susu untuk sarapan?’
‘Rotinya aku mau. Tapi teh manis biasa saja, tidak usah pakai susu,’ jawab Imran.
‘Abangnya sangat perhatian benar. Jarang orang bersaudara seakrab ini,’ suster itu berkomentar.
Syahrul tersenyum. Dia kembali pergi membelikan sarapan untuk Imran. Setelah itu baru dia buru-buru pulang.
***
Imran merasa segar. Sudah bersih dan sudah sarapan pula. Dan sudah shalat subuh. Tidak ada rasa sakit. Hanya kaki kirinya yang dipasangi gips terasa berat dan tidak leluasa. Kaki kanannya biru lebam di dekat lutut, mungkin karena benturan waktu kecelakaan kemarin. Tapi yang lebam itu tidak terasa apa-apa.
Sedang Imran berbaring sambil menerawang, mengingat peristiwa yang menimpanya kemarin, Yuni masuk dan menyapa.
‘Assalaamu’alaikum…. Bagaimana keadaannya bang?’
Imran tersentak. Dan keheranan.
‘Wa’alaikum salaam… Ya…. Beginilah….. Lagi kena musibah…’ jawab Imran agak terbata-bata..
‘Apa yang terasa sakit?’
‘Sekarang sudah tidak ada….. Sudah tidak terasa sakit.’
‘Katanya kakinya dioperasi?’
‘Ndak. Tapi…… Yuni tahu dari mana kalau saya ada di rumah sakit?’
‘Dari saudara. Yang kemarin menolong bang Imran.’
‘Pak Fauzi?’
‘Bukan… Dari Irma…..’
‘Oo ya… Irma yang dulu datang ke rumah Ratih…. Tapi…….. Lala ndak ikut kesini?’
‘Tidak. Mungkin belum, bang. Saya dari rumah Irma. Tadi malam nginap disana.’
‘Ooo begitu…. Iya, ya…. Irma itu temannya Yuni sama-sama dari Pakan Baru juga?’
‘Sepupu. Anak oom saya. Anak adiknya mama…’
‘Oo ya… Irma dan pak Fauzi kemarin mengantarkan saya kesini.’
‘Irma bercerita, kemarin dokter yang merawat bang Imran di UGD bilang kemungkinan akan dipasang pen di kakinya.’
‘Ndak jadi. Ada dokter lain yang memeriksa saya tadi malam dan dia menyimpulkan tidak perlu dipasang pen. Jadi ndak dioperasi.’
‘Mudah-mudahan abang cepat baik. Sementara ini belum boleh bangun ya, bang?’
‘Tadi sudah saya coba duduk. Bangkit pelan-pelan. Capek juga berbaring terus.’
‘Harus sabar, bang.’
‘Ya… ‘
‘Perawat disini baik-baik?’
‘Alhamdulillah baik-baik.’
Sedang mereka berbincang-bincang itu, Ratih muncul memberi salam.
‘Tahu dari siapa saya ada disini?’ tanya Imran setelah menjawab salam Ratih.
‘Dari kak Syahrul,’ jawab Ratih. ‘Tadi kak Syahrul ketemu Sukma dan dia bilang kak Imran dirawat disini. Bagaimana, kak? Apa yang sakit?’
‘Kaki dan kepala saya. Kaki patah dan dipasangi gips. Kepala luka kena kaca dan dijahit.’
‘Kemarin itu kak Imran dari mana?’
‘Dari Asia Afrika dekat Alun-Alun. Habis itu naik angkutan Suzuki kecil itu mau pulang. Di ujung jalan Dago kecelakaan….,’ jawab Imran.
‘Ya Allah….. Kalau mau kena musibah, ya….. Terus langsung diantar kesini?’
‘Ya… Saya diantar Irma. Irma yang teman Ratih itu. Ternyata dia saudaranya Yuni ini. Dia kebetulan lewat dan melihat saya sedang berdarah-darah. Saya diantar Irma dengan saudaranya kesini.’
‘Tadi malam bang Imran ditemani bang Syahrul?’ giliran Yuni bertanya.
‘Ya... Dia tidur sambil duduk di kursi ini. Tadi dia buru-buru pergi karena pagi ini dia ujian.’
‘Pantasan tadi dia terburu-buru dari rumah…. Ngomong-ngomong, kak Imran sarapan, ya. Saya bawain nasi goreng,’ Ratih menawarkan.
‘Saya sudah sarapan roti. Tadi dibeliin Syahrul.’
‘Saya bawain nasi goreng bikinan uci. Uci menitip salam dan mendoakan kak Imran cepat sembuh.’
‘Terima kasih…. Biarlah nanti saya makan.’
Tiba-tiba muncul pula Lala sama uni Lani.
‘Wah, lagi rame, nih. Bagaimana Ran? Terlihatnya seger-seger aja. Sudah nggak sakit?’ uni Lani mencecar.
‘Sudah lumayan uni. Sudah tidak terasa sakit. Uni dan Lala berdua saja?’
‘Ada abang sama teteh juga, sebentar menyusul,’ Lala yang menjawab.
‘Yuni pagi-pagi sudah disini. Tahu dari siapa?’ tanya uni Lani ke Yuni.
‘Dari Irma un. Kemarin yang mengantar bang Imran ke sini Irma. Tadi malam dia cerita.’
‘Irma ada di angkot itu juga, bang?’ giliran Lala bertanya.
‘Ndak. Dia kebetulan lewat.’
‘Semalam bisa tidur? Kakinya nggak senut-senut?’ tanya Lala lagi.
‘Alhamdulillah bisa.…. Kemarin dikasih dokter obat. Mungkin ada obat tidurnya.’
Ruangan itu bertambah ramai ketika abang Lutfi dan teteh Yani juga datang. Abang Lutfi membawakan sepasang kruk, tongkat penyangga untuk membantu berjalan.
‘Dokter Aditya sudah datang pagi ini?’ tanya abang Lutfi.
‘Belum ada , bang.’
‘Semalam nggak susah tidur?’ abang Lutfi meraba kening Imran.
‘Aman aja, bang.’
‘Tidur nyenyak sampai pagi?’
‘Tadi pagi pas azan subuh sakit perut. Pengen ke belakang. Terus dibantu sama zuster perawat.’
‘Dibantu suster untuk ke kamar kecil? Bisa?’ Lala yang bertanya.
‘Dibantu suster disinilah. Mana mungkin ke kamar kecil,’ abang Lutfi yang menjawab.
‘He..he..he.. Nggak malu bang?’ Lala menggoda Imran.
‘Kata susternya nggak usah malu…. Ini di rumah sakit…. Ya, begitulah…’
Semua tertawa mendengar.
‘Bakalan betah dong kamu disini, he..he..he,’ abang Lutfi bercanda.
‘Ndaklah bang. Awak ingin cepat pulang. Kapan awak boleh pulang bang?’
‘Nanti kita tanya dokter Aditya. Tapi abang bilang sih kamu boleh segera pulang. Kan nggak ada demam, atau apa-apanya lagi. Cuma kakimu itu perlu waktu lama penyembuhannya.’
‘Maksudnya bagaimana, bang?’
‘Untuk bisa berjalan normal perlu waktu dua tiga bulan. Harus ditunggu sampai tulang yang patah itu bersatu kembali. Itu yang memakan waktu. Dan harus benar-benar sudah kuat baru boleh digunakan karena dia akan menopang berat badan.’
‘Sebelum dia kuat betul harus pakai tongkat, begitu ya bang,’ Lala yang bertanya.
‘Ya.. Harus begitu.’
‘Sabar aja, kak Imran,’ Ratih yang berkomentar.
Imran tersenyum.
‘Oh, ya. Kalau nanti boleh pulang, abang sarankan kamu di Sekeloa saja dulu.’
‘Kenapa, bang?’ tanya Imran.
‘Kamu akan kesulitan menggunakan kloset jongkok…..’
‘Benar… ‘ teteh Yani menambahkan.
‘Masak, sih bang?’
‘Ya, iyalah. Dan dirumahmu kan tidak ada lagi suster yang akan menolong.’
‘Waduh…. Iya juga ya….. Nantilah bang, dipikirkan…’
‘Nggak usah dipikirkan. Nggak ada jalan keluarnya sementara ini. Paling tidak sampai kakimu tidak berasa nyeri lagi kalau dibawa bergerak.’
‘Wah…. Saya bakal merepotkan, dong….’
‘Nanti di Sekeloa sering-sering saja kita buat gulai tunjang. Untuk memasak, kakimu kan tidak ada masalah.’
Semua tertawa mendengar omongan bang Lutfi.
‘Abang ini menggunakan kesempatan dalam kesempitan…’ kata Lala cemberut.
‘Lha, iya kan….? Kalau Imran di Sekeloa, tanpa dimintapun pasti dia akan berkreasi di dapur. Abang akan minta tolong agar stok tunjang selalu ada di kulkas… he..he..he..’
‘Si abang meuni serius pisan….’
Ngalor ngidul itu berlangsung sampai dokter Aditya datang jam setengah delapan. Dokter Aditya menganjurkan agar Imran diobservasi satu malam lagi di rumah sakit.
*****
Monday, December 14, 2009
DERAI-DERAI CINTA (37)
37. TIGA DARA CEMAS
Kuliah selesai jam empat sore. Diluar hari sedang hujan. Yuni dan teman-temannya masih duduk di ruang kuliah menunggu hujan reda. Sambil ngobrol.
‘Sudah lama nggak ke Titimplik, Yun,’ kata Rita.
‘Nggak lama juga. Tapi nih sekarang mau kesana,’ jawab Yuni.
‘Oh ya? Pas bener aku nanya kalau gitu ya..he..he..’
‘Kamu belum mau pulang?’
‘Ya, mau dong. Tapi kan masih hujan begitu…’
‘Kamu bawa motor?’
‘Nggak. Kenapa memang?’
‘Kalau gitu kita naik beca aja. Mau berangkat sekarang?’
‘Kasihan mang becaknya dong. Kamu nggak lihat itu hujan masih deras gitu..’
‘Benar juga ya….,’ jawab Yuni.
Sudah hampir jam lima ketika hujan baru reda. Para mahasiswa Psikologi itu mulai beranjak dari ruang kuliah. Yuni dan Rita naik becak ke rumah kos-an Rita di Titimplik. Tiba-tiba matahari terlihat menyeruak di antara gumpalan awan di sore hari itu. Lumayan membawa kehangatan di saat udara lembab. Meski tepat di atas awan hitam masih bergelayut. Sepertinya hujan akan berlanjut lagi. Dan benar saja, begitu mereka sampai di rumah hujan mulai turun kembali. Cuaca seolah-olah sekedar memberi mereka kesempatan untuk pulang tanpa gangguan hujan.
Yuni langsung menuju kamar Irma. Pintu kamar itu terbuka, tetapi Irma tidak ada di dalam. Di meja belajar Irma ada dua buah album foto. Yuni mengambil dan melihat album itu. Ketika sedang asyik mengamati foto-foto itu Irma masuk.
‘Heh, dari mana kamu?’ tanya Yuni.
‘Dari kamar mandi,’ jawab Irma pendek.
‘Oo…. Bagus-bagus ya foto ini. Kapan kalian ke Cibodas?’
‘Minggu kemarin…… Kamu nggak nanya ngapain aku di kamar mandi…?’
Yuni mengamati wajah Irma.
‘Nggak, ya? Kenapa emang? Memangnya kamu ngapain di kamar mandi?’
‘Nyuci…’
‘Oooo… tumben rajin.’
‘Kamu nggak nanya aku nyuci apa?’
‘Apaan sih? Emangnya kamu nyuci apa?’
‘Nyuci sal. Salku kena darah.’
‘Salmu kena darah? Aneh amat. Kok bisa darah sampai ke sal? Kamu jorok, ah.’
‘Kamu nggak nanya darah apa?’
‘Sial…… kamu ini ngomong apa sih? Dari tadi berteka-teki melulu? Darah apaaaa?’
‘Darah Imran….’
‘Apaa?’ tanya Yuni dengan mata mendelik.
‘Ya, darah Imran. Imran mahasiswa ITB itu.’
‘Kamu nggak sedang becanda kan?’
‘Ngapain aku becanda…… Imran kecelakaan di angkutan kota. Kepalanya berdarah dan kakinya patah……’
‘Apa kamu bilang????’
‘Tenang….. Tenang…… Aku menceritakan yang sebenarnya…’
‘Kamu bilang kakinya patah? Dan berdarah-darah? Dimana? Dimana dia sekarang?’
‘Tenang…… Tenang saja, Neng. Jangan panik …’
‘Irma! Coba ceritakan yang jelas…. ‘
‘Baik! Sekarang coba dengarkan! Aku lewat di ujung jalan Dago. Ada sebuah angkutan kota menabrak pohon. Mobil itu agak ringsek di bagian depannya. Di jok depan mobil angkutan itu ada Imran. Kepalanya berdarah. Darah mengalir di tangannya yang dipakainya untuk menutupi kepalanya itu. Aku memberikan sal yang kupakai untuk menutup lukanya. Habis itu aku menjemput uda Fauzi di Rangga Malela lalu dengan mobilnya kami antarkan Imran ke rumah sakit Hasan Sadikin. Aku dan uda Fauzi menunggu disana sampai temannya Syahrul datang. Syahrul dijemput Rinto. Sebelumnya Rinto mengiringkan aku sejak dari foto studio di jalan Merdeka. Waktu aku meninggalkan rumah sakit, kepalanya yang luka sudah dijahit. Dokter yang mengurusnya mengatakan kemungkinan Imran harus dioperasi untuk memasang pen di kakinya yang patah. Aku tidak tahu kelanjutannya.’
Yuni ternganga mendengar uraian panjang Irma. Lama dia tidak bisa berkata-kata.
‘Kau mau mengantarkan aku melihatnya ke rumah sakit?’ tanya Yuni kemudian.
‘Tidak di saat hujan lebat seperti sekarang ini.’
‘Kalau nanti hujan berhenti?’
‘Kalau belum terlalu malam…….’
‘Aku benar-benar ingin melihat keadaannya…’
***
Lutfi dan Yani agak terlambat pulang dari biasanya. Pasien sore itu banyak. Pasien-pasien itu menunggu ketika Lutfi pergi ke rumah sakit Hasan Sadikin melihat Imran,. Tidak semua terlayani oleh Yani sendirian. Setelah kembali, Lutfi meneruskan memeriksa mereka. Sudah jam setengah sepuluh waktu kedua dokter muda itu sampai di rumah. Uni Lani dan Lala masih duduk di meja makan sesudah selesai makan.
‘Imran kecelakan,’ kata abang Lutfi memberi tahu begitu masuk rumah.
‘Hah?’ uni dan Lala berteriak kaget bersamaan.
‘Ya… Dia dapat musibah. Sekarang dia dirawat di Hasan Sadikin,’ abang Lutfi menambahkan.
‘Musibah apa bang? Bagaimana keadaannya?’ tanya Lala.
‘Angkutan yang ditompanginya mengalami kecelakaan. Kaki Imran patah dan harus digips. Tadi waktu abang tinggalkan dia sudah istirahat di kamar rawat ditemani Syahrul.’
‘Kita pergi melihatnya sekarang ‘yok, un,’ Lala mengajak uni Lani.
Uni tidak segera menjawab.
‘Abang rasa sekarang sudah kemalaman. Bagaimana kalau besok pagi saja?’
‘Aku kepingin melihat dia sekarang. Kita pinjam mobil abang, deh. Uni yang nyetir. Mau nggak un?’
‘Biar dia istirahat malam ini. Kalau kita kesana, pasti akan mengganggu waktu istirahatnya. Besok pagi-pagi abang antarin deh. Gimana?’
‘Kayaknya benar seperti kata abang,’ uni Lani menambahkan.
Lala akhirnya mengalah.
***
Syahrul meninggalkan rumah sakit pagi-pagi sekali karena dia akan ujian. Dan dia harus pulang dulu kerumah. Keadaan Imran tidak mengkhawatirkan. Tadi malam dia bisa tidur dengan tenang karena dokter memberinya obat untuk menghilangkan rasa sakit. Perawat-perawat rumah sakit berlaku sangat baik dalam melayani dan mengurus keperluan Imran.
Di gang menuju rumah, Syahrul bertemu dengan Sukma yang baru pulang dari berbelanja di Balubur.
‘Dari mana kak, pagi-pagi begini?’ Sukma yang duluan menyapa.
‘Dari rumah sakit. Kak Imran kecelakaan kemarin dan dirawat di rumah sakit,’ jawab Syahrul.
‘Kecelakaan? Kecelakaan apa, kak?’
‘Kecelakaan mobil. Mobil yang ditompanginya menabrak pohon.’
‘Bagaimana keadaannya?’
‘Kakinya patah.’
‘Aduuuh kasihan…. Di rumah sakit mana?’
‘Di Hasan Sadikin.’
‘Aduh kasihan ya kak. Mudah-mudahan kak Imran cepat sembuh….’
‘Ya.. Kamu doain saja.’
Syahrul sudah sampai di rumah pondokannya dan Sukma berlari menuju rumahnya.
Sampai di rumah Sukma segera melapor ke semua orang yang sedang sibuk bersiap-siap di pagi itu.
‘Kak Imran kecelakaan…’ katanya.
‘Apa?’ tanya Ratih yang paling duluan bertanya.
‘Kak Imran kecelakaan mobil angkutan kemarin. Dia sekarang di rumah sakit. Aku barusan dikasih tahu kak Syahrul,’ jawab Sukma.
‘Di rumah sakit mana?’ tanya uci pula.
‘Kata kak Syahrul di rumah sakit Hasan Sadikin.’
Ratih bergegas keluar ke rumah Syahrul ingin menanyakan kepastian berita itu. Ditemuinya Syahrul sedang buru-buru mau berangkat lagi.
‘Kak! Benar kak Imran dapat musibah?’
‘Ya,’ jawab Syahrul pendek, sambil mengunci pintu rumah.
‘Di ruang berapa?’
‘Kok saya malahan lupa nomornya. Kalau kamu mau pergi melihatnya kamu tanyakan saja di bagian informasi.’
‘Bagaimana keadaannya, kak?’
‘Kakinya dipasangi gips. Kepalanya diverban dan kemarin dijahit. Tapi keadaannya tenang-tenang saja kok. Maaf, ya. Saya harus buru-buru. Saya mau ujian.’
‘Kok pagi-pagi amat, kak. Baru juga jam setengah tujuh.’
‘He..he.. Kami ujiannya jam tujuh. Jam tujuh kurang sudah harus ada di ruangan… Maaf sekali lagi ya….’
Syahrul langsung berangkat. Ratih masih termangu mendengar informasi dari Syahrul.
*****
Kuliah selesai jam empat sore. Diluar hari sedang hujan. Yuni dan teman-temannya masih duduk di ruang kuliah menunggu hujan reda. Sambil ngobrol.
‘Sudah lama nggak ke Titimplik, Yun,’ kata Rita.
‘Nggak lama juga. Tapi nih sekarang mau kesana,’ jawab Yuni.
‘Oh ya? Pas bener aku nanya kalau gitu ya..he..he..’
‘Kamu belum mau pulang?’
‘Ya, mau dong. Tapi kan masih hujan begitu…’
‘Kamu bawa motor?’
‘Nggak. Kenapa memang?’
‘Kalau gitu kita naik beca aja. Mau berangkat sekarang?’
‘Kasihan mang becaknya dong. Kamu nggak lihat itu hujan masih deras gitu..’
‘Benar juga ya….,’ jawab Yuni.
Sudah hampir jam lima ketika hujan baru reda. Para mahasiswa Psikologi itu mulai beranjak dari ruang kuliah. Yuni dan Rita naik becak ke rumah kos-an Rita di Titimplik. Tiba-tiba matahari terlihat menyeruak di antara gumpalan awan di sore hari itu. Lumayan membawa kehangatan di saat udara lembab. Meski tepat di atas awan hitam masih bergelayut. Sepertinya hujan akan berlanjut lagi. Dan benar saja, begitu mereka sampai di rumah hujan mulai turun kembali. Cuaca seolah-olah sekedar memberi mereka kesempatan untuk pulang tanpa gangguan hujan.
Yuni langsung menuju kamar Irma. Pintu kamar itu terbuka, tetapi Irma tidak ada di dalam. Di meja belajar Irma ada dua buah album foto. Yuni mengambil dan melihat album itu. Ketika sedang asyik mengamati foto-foto itu Irma masuk.
‘Heh, dari mana kamu?’ tanya Yuni.
‘Dari kamar mandi,’ jawab Irma pendek.
‘Oo…. Bagus-bagus ya foto ini. Kapan kalian ke Cibodas?’
‘Minggu kemarin…… Kamu nggak nanya ngapain aku di kamar mandi…?’
Yuni mengamati wajah Irma.
‘Nggak, ya? Kenapa emang? Memangnya kamu ngapain di kamar mandi?’
‘Nyuci…’
‘Oooo… tumben rajin.’
‘Kamu nggak nanya aku nyuci apa?’
‘Apaan sih? Emangnya kamu nyuci apa?’
‘Nyuci sal. Salku kena darah.’
‘Salmu kena darah? Aneh amat. Kok bisa darah sampai ke sal? Kamu jorok, ah.’
‘Kamu nggak nanya darah apa?’
‘Sial…… kamu ini ngomong apa sih? Dari tadi berteka-teki melulu? Darah apaaaa?’
‘Darah Imran….’
‘Apaa?’ tanya Yuni dengan mata mendelik.
‘Ya, darah Imran. Imran mahasiswa ITB itu.’
‘Kamu nggak sedang becanda kan?’
‘Ngapain aku becanda…… Imran kecelakaan di angkutan kota. Kepalanya berdarah dan kakinya patah……’
‘Apa kamu bilang????’
‘Tenang….. Tenang…… Aku menceritakan yang sebenarnya…’
‘Kamu bilang kakinya patah? Dan berdarah-darah? Dimana? Dimana dia sekarang?’
‘Tenang…… Tenang saja, Neng. Jangan panik …’
‘Irma! Coba ceritakan yang jelas…. ‘
‘Baik! Sekarang coba dengarkan! Aku lewat di ujung jalan Dago. Ada sebuah angkutan kota menabrak pohon. Mobil itu agak ringsek di bagian depannya. Di jok depan mobil angkutan itu ada Imran. Kepalanya berdarah. Darah mengalir di tangannya yang dipakainya untuk menutupi kepalanya itu. Aku memberikan sal yang kupakai untuk menutup lukanya. Habis itu aku menjemput uda Fauzi di Rangga Malela lalu dengan mobilnya kami antarkan Imran ke rumah sakit Hasan Sadikin. Aku dan uda Fauzi menunggu disana sampai temannya Syahrul datang. Syahrul dijemput Rinto. Sebelumnya Rinto mengiringkan aku sejak dari foto studio di jalan Merdeka. Waktu aku meninggalkan rumah sakit, kepalanya yang luka sudah dijahit. Dokter yang mengurusnya mengatakan kemungkinan Imran harus dioperasi untuk memasang pen di kakinya yang patah. Aku tidak tahu kelanjutannya.’
Yuni ternganga mendengar uraian panjang Irma. Lama dia tidak bisa berkata-kata.
‘Kau mau mengantarkan aku melihatnya ke rumah sakit?’ tanya Yuni kemudian.
‘Tidak di saat hujan lebat seperti sekarang ini.’
‘Kalau nanti hujan berhenti?’
‘Kalau belum terlalu malam…….’
‘Aku benar-benar ingin melihat keadaannya…’
***
Lutfi dan Yani agak terlambat pulang dari biasanya. Pasien sore itu banyak. Pasien-pasien itu menunggu ketika Lutfi pergi ke rumah sakit Hasan Sadikin melihat Imran,. Tidak semua terlayani oleh Yani sendirian. Setelah kembali, Lutfi meneruskan memeriksa mereka. Sudah jam setengah sepuluh waktu kedua dokter muda itu sampai di rumah. Uni Lani dan Lala masih duduk di meja makan sesudah selesai makan.
‘Imran kecelakan,’ kata abang Lutfi memberi tahu begitu masuk rumah.
‘Hah?’ uni dan Lala berteriak kaget bersamaan.
‘Ya… Dia dapat musibah. Sekarang dia dirawat di Hasan Sadikin,’ abang Lutfi menambahkan.
‘Musibah apa bang? Bagaimana keadaannya?’ tanya Lala.
‘Angkutan yang ditompanginya mengalami kecelakaan. Kaki Imran patah dan harus digips. Tadi waktu abang tinggalkan dia sudah istirahat di kamar rawat ditemani Syahrul.’
‘Kita pergi melihatnya sekarang ‘yok, un,’ Lala mengajak uni Lani.
Uni tidak segera menjawab.
‘Abang rasa sekarang sudah kemalaman. Bagaimana kalau besok pagi saja?’
‘Aku kepingin melihat dia sekarang. Kita pinjam mobil abang, deh. Uni yang nyetir. Mau nggak un?’
‘Biar dia istirahat malam ini. Kalau kita kesana, pasti akan mengganggu waktu istirahatnya. Besok pagi-pagi abang antarin deh. Gimana?’
‘Kayaknya benar seperti kata abang,’ uni Lani menambahkan.
Lala akhirnya mengalah.
***
Syahrul meninggalkan rumah sakit pagi-pagi sekali karena dia akan ujian. Dan dia harus pulang dulu kerumah. Keadaan Imran tidak mengkhawatirkan. Tadi malam dia bisa tidur dengan tenang karena dokter memberinya obat untuk menghilangkan rasa sakit. Perawat-perawat rumah sakit berlaku sangat baik dalam melayani dan mengurus keperluan Imran.
Di gang menuju rumah, Syahrul bertemu dengan Sukma yang baru pulang dari berbelanja di Balubur.
‘Dari mana kak, pagi-pagi begini?’ Sukma yang duluan menyapa.
‘Dari rumah sakit. Kak Imran kecelakaan kemarin dan dirawat di rumah sakit,’ jawab Syahrul.
‘Kecelakaan? Kecelakaan apa, kak?’
‘Kecelakaan mobil. Mobil yang ditompanginya menabrak pohon.’
‘Bagaimana keadaannya?’
‘Kakinya patah.’
‘Aduuuh kasihan…. Di rumah sakit mana?’
‘Di Hasan Sadikin.’
‘Aduh kasihan ya kak. Mudah-mudahan kak Imran cepat sembuh….’
‘Ya.. Kamu doain saja.’
Syahrul sudah sampai di rumah pondokannya dan Sukma berlari menuju rumahnya.
Sampai di rumah Sukma segera melapor ke semua orang yang sedang sibuk bersiap-siap di pagi itu.
‘Kak Imran kecelakaan…’ katanya.
‘Apa?’ tanya Ratih yang paling duluan bertanya.
‘Kak Imran kecelakaan mobil angkutan kemarin. Dia sekarang di rumah sakit. Aku barusan dikasih tahu kak Syahrul,’ jawab Sukma.
‘Di rumah sakit mana?’ tanya uci pula.
‘Kata kak Syahrul di rumah sakit Hasan Sadikin.’
Ratih bergegas keluar ke rumah Syahrul ingin menanyakan kepastian berita itu. Ditemuinya Syahrul sedang buru-buru mau berangkat lagi.
‘Kak! Benar kak Imran dapat musibah?’
‘Ya,’ jawab Syahrul pendek, sambil mengunci pintu rumah.
‘Di ruang berapa?’
‘Kok saya malahan lupa nomornya. Kalau kamu mau pergi melihatnya kamu tanyakan saja di bagian informasi.’
‘Bagaimana keadaannya, kak?’
‘Kakinya dipasangi gips. Kepalanya diverban dan kemarin dijahit. Tapi keadaannya tenang-tenang saja kok. Maaf, ya. Saya harus buru-buru. Saya mau ujian.’
‘Kok pagi-pagi amat, kak. Baru juga jam setengah tujuh.’
‘He..he.. Kami ujiannya jam tujuh. Jam tujuh kurang sudah harus ada di ruangan… Maaf sekali lagi ya….’
Syahrul langsung berangkat. Ratih masih termangu mendengar informasi dari Syahrul.
*****
Subscribe to:
Posts (Atom)