Monday, February 7, 2011

OH JODOH

OH JODOH

Sore itu Sutan Sinaro datang ke rumah Sutan Bagindo dengan wajah ditekuk. Dengan kening berkerut dan muka terlihat tegang. Sutan Bagindo menyambutnya dengan terheran-heran. Tapi dia masih berusaha untuk sedikit berseloroh.

‘Ada apa yang terjadi ini, Naro? Kok seperti langit sudah mau runtuh saja,’ Sutan Bagindo mengawali perbincangan.

‘Memang seperti langit mau runtuh, Gindo. Malu. Entah kemana malu akan kusurukkan kalau hal ini benar-benar sampai terjadi,’ jawab Sutan Sinaro

‘Apa maksudnya?’

‘Kan itulah, Gindo. Makanya aku ingin minta sifat. Minta petuah Gindo. Karena Gindo lebih faham tentang agama dariku.’

‘Oooo…. jadi masalah yang bersangkut paut dengan agama? Cobalah teruskan!’

‘Tolonglah Gindo curai-paparkan. Bagaimana hukumnya pernikahan antara dua orang yang tidak seagama…..’

‘Antara orang Islam dengan orang beragama lain maksudnya?’

‘Iyalah….. Antara orang Islam dengan orang Nashrani. Antara wanita Islam dengan laki-laki Nashrani tepatnya.’

‘Wah….. kalau itu jelas tidak boleh. Dilarang Allah. Simaklah ayat al Quran surah al Baqarah ayat 221; ‘Dan janganlah kamu menikahi wanita-wanita musyrik, sebelum mereka beriman. Sesungguhnya hamba wanita yang mukmin lebih baik dari wanita musyrik walaupun dia menarik hatimu. Dan janganlah kamu menikahkan orang musyrik kepada wanita mukmin sebelum mereka beriman. Seorang hamba yang mukmin lebih baik dari pada seorang musyrik walaupun dia menarik hatimu…..’ Begitu perintah dan peringatan Allah. Sangat-sangat jelas. Tidak ada keraguan sedikitpun lagi.’

‘Tapi…… Apakah orang Nashrani itu orang musyrik? Siapa saja yang dimaksud dengan orang musyrik itu?’

‘Orang yang menyembah Tuhan selain Allah. Orang yang mengakui adanya Tuhan selain Allah. Mereka itulah yang disebut orang-orang musyrik. Musyrik itu artinya adalah mempersekutukan. Mempersekutukan Allah.’

‘Jadi? Orang Nashrani itu termasuk musyrik? Karena ada pula yang mengatakan orang Nashrani itu Ahli Kitab. Bagaimana itu?’

‘Menurut keterangan dari al Quran, mereka mempercayai bahwa Nabi Isa itu adalah anak Tuhan. Bahagian dari Tuhan. Jadi selain Allah mereka juga mempunyai Tuhan yang lain. Menurut pandangan Islam itu syirik namanya.’

‘Apa yang dimaksud dengan Ahli Kitab?’

‘Mereka-mereka yang pernah mendapat kitab petunjuk dari Allah. Nabi-nabi mereka menerima kitab dari Allah. Pengikut Nabi Musa adalah Ahli Kitab. Begitupun pengikut Nabi Isa adalah Ahli Kitab. Yaitu para pengikut Nabi Musa atau Nabi Isa yang mengikuti syariat yang dibawa oleh nabi-nabi itu. Syariat atau ketetapan dari Allah agar mereka mengesakan Allah, beribadah semata-mata hanya kepada Allah dan tidak menyembah kepada yang selain Allah.’

‘Jadi….. Orang-orang Nashrani sekarang? Bagaimana kedudukan mereka?’

‘Mereka tidak menjalankan syariat Nabi Isa. Mereka bahkan menganggap bahwa Nabi Isa itu adalah anak Tuhan. Atau bahagian dari Tuhan. Atau sepertiga dari Tuhan. Atau apa sajalah, yang sama sekali tidak pernah diajarkan oleh Nabi Isa.’

‘Bukankah mereka mempunyai kitab suci? Mereka mempunyai Injil?’

‘Ya. Tapi sekali lagi, mereka tidak mengesakan Allah. Tidak mentauhidkan Allah. Mereka tidak mengikuti Injil seperti yang diturunkan kepada Nabi Isa.’

‘Jadi….. Orang Nashrani yang sekarang itu tidak lagi dianggap Ahli Kitab dan menikah dengan mereka itu terlarang?’

‘Ya. Tapi….. Ngomong-ngomong siapa yang akan kawin berbeda agama.’

‘Itulah Gindo. Kemenakanku. Si Rita. Berkenalan dengan seorang Nashrani. Lalu merasa suka sama suka. Mereka ingin menikah. Adikku sudah melarang. Tapi sumando kita itu, mas Sugondo menganggap itu tidak ada halangan. Cobalah baca di al Quran ada ayat mengatakan makanan orang ahli kitab itu halal kita makan. Menikah dengan ahli kitab itu juga boleh. Apa memang iya ada ayat seperti itu, Gindo?’

‘Ayat yang mengatakan bahwa makanan Ahli Kitab halal bagi kita serta menikah dengan wanita Ahli Kitab juga diperbolehkan ada pada surah kelima, surah al Maidah ayat 5. Tetapi sekali lagi pengertian Ahli Kitab itu sangat jelas, sebagai orang yang beragama sesuai dengan tuntunan alkitab atau kitab suci.’

‘Orang-orang Nashrani…… tidak menjalankan agamanya sesuai dengan isi alkitab? Apakah Gindo yakin dengan penjelasan ini?’

‘Sudah aku jelaskan tadi, kan? Agama yang dibawa Nabi Isa, adalah agama yang menyuruh pengikutnya mengimani Allah Yang Tunggal untuk disembah. Allah tidak pernah mengutus nabi yang manapun dan menyuruh agar Dia disembah bersama-sama dengan Tuhan lain. Allah sangat murka dengan anggapan, perkataan, keyakinan bahwa ada sekutu baginya. Allah Maha Suci dari apa yang mereka sifatkan, bahwa Allah memerlukan sekutu.’

‘Jadi, apa yang terjadi atas kitab suci mereka. Kitab Injil yang mereka baca sekarang ini?’

‘Kitab itu tidak asli lagi? Dalam ketidak-asliannya itupun, tidak ada keterangan atau perintah agar pengikutnya menyembah Nabi Isa tertulis dalam kitab itu.’

Sutan Sinaro mengangguk-angguk. Tapi wajahnya tetap saja muram.

‘Jadi bagaimanalah caranya aku menjelaskan….,’ kata Sutan Sinaro lirih.

‘Sudahkah Naro ikut menasihati kemenakan itu?’

‘Belum…. Aku diminta si Ema, ibunya untuk mencoba memberi pencerahan kepada suami dan anaknya.’

‘Sampaikanlah seperti itu kalau begitu! Apa lagi yang jadi masalah?’

‘Yang membuat pusing adalah pendapat suaminya yang mengatakan hal itu tidak masalah, karena sudah jodoh, begitu katanya. Ini yang agak berat. Dia sudah berencana akan menyuruh anak gadisnya itu pergi menikah ke Australia.’

‘Banyak sebenarnya masalah dari apa yang diungkapkannya itu. Cobalah tengok tentang keyakinan bahwa mereka sudah jodoh. Itu adalah keyakinan yang sangat naïf. Kalaulah dia tahu sedikit tentang agama islam, tentang resiko yang akan dihadapi oleh pasangan berbeda agama itu di dunia ini saja, seperti bagaimana nanti dengan anak-anak mereka, agama siapa yang akan diikuti anak-anak mereka. Tentang resiko, bahwa sangat mungkin anak perempuannya itu nanti lambat laun justru akan terpengaruh dan akhirnya murtad. Keluar dari agama Islam.

Di samping itu, seharusnya dia mengerti bahwa pernikahan seperti itu tidak diizinkan di negara kita. Tapi dia masih juga nekad, menyuruh pergi meresmikan perkawinan anaknya itu ke luar negeri. Hukum luar negeri tidak akan berlaku di negeri ini. Artinya di sini tetap saja dia itu resminya belum menikah.

Kalau dia faham bahwa pernikahan itu adalah sesuatu yang suci di sisi Allah. Sepasang manusia menjadi halal sesudah mereka dinikahkan. Tetapi mereka tidak halal kalau belum dinikahkan. Di sini jelas sekali makna dari kehalalan itu harus disesuaikan dengan ajaran Allah. Dengan ajaran al Quran. Karena hakikat dari pernikahan itu adalah untuk saling melindungi dari ancaman api neraka kelak di akhirat. ‘Peliharalah dirimu dan keluargamu dari siksaan api neraka.’ Begitu firman Allah.’

‘Jadi menurut Gindo tidak tepat bahwa mereka, kemenakanku itu dikatakan berjodoh dengan laki-laki yang tidak seagama itu?’

‘Jelas tidak tepat. Bukankah dia masih bisa mendapatkan jodoh yang lain? Bukankah dengan laki-laki yang sekarang ini sementara ini dia belum terikat oleh jalinan apa-apa? Belum tentu itu jodohnya. Belum boleh dikatakan bahwa dia berjodoh dengan orang itu.’

‘Atau? Menurut Gindo? Masih mungkinkah…….?’

‘Masih mungkinkah mereka tidak berjodoh?’

‘Allah Yang Maha Tahu. Kalau Allah berkehendak bisa saja mereka dipisahkan. Kalau keduanya nekad juga melangsungkan apa yang mereka niatkan bisa pula mereka berjodoh. Tapi sekali lagi, saat ini kedua kemungkinan itu ada. Terpulang kepada keinginan mereka. Hanya saja, kalau mereka melanjutkan, artinya mereka melakukan yang dilarang Allah.’

‘Jadi…… maksudnya…. Harus ada ikhtiar sebelum jodoh itu ditetapkan Allah?’

‘Tepat sekali.’

‘Akan aku coba menerangkan seperti ini kepada iparku dan kemenakanku itu. Mudah-mudahan mereka bisa memahaminya.’

‘Aku iringi dengan doa.’

*****

Friday, January 14, 2011

KENANGAN MASA PRRI (1)

1. Awal Cerita

Aku memanggilnya mak etek. Mak etek Jun. Namanya Junaidi. Usianya sudah lebih tujuh puluh tahun. Tapi sosok tubuhnya masih gagah. Giginya masih utuh. Kecuali rambut ikalnya yang sudah hampir putih semuanya, beliau terlihat lebih muda dari usianya. Mak etek Jun adalah seorang pensiunan guru. Terakhir, sebelum pensiun, beliau menjadi kepala sekolah dasar di kampung kami.

Kalau lagi pulang kampung, aku suka sekali berkunjung ke rumah mak etek Jun. Selalu saja menarik berbincang-bincang dengan orang tua ini. Cerita apa saja. Masalah keadaan kampung, masalah pendidikan anak-anak, masalah politik ala kadarnya, masalah korupsi. Karena beliau memang seorang pengamat yang baik untuk hal-hal semua itu. Namun yang paling aku sukai adalah cerita tentang pengalaman masa muda beliau ketika ikut bergerilya di jaman PRRI.

Pada kunjunganku terakhir aku melihat sebuah foto hitam putih berukuran besar tergantung di dinding. Foto seorang laki-laki bagurambeh. Berjanggut dan bercambang lebat. Itu adalah foto beliau di waktu muda, karena sangat jelas terlihat wajahnya meski dibalut cambang dan janggut seperti itu.

‘Kok baru kelihatan foto yang satu ini, mak etek?’ aku berkomentar.

‘He..he..he.. Itu foto kenang-kenangan waktu baru balik dari rimba dulu. Si Pinto yang menemukan, lalu diperbesarnya dengan komputer, jadilah seperti itu. Dia pula yang membingkai dan meletakkan di situ,’ jawab mak etek Jun.

Pinto adalah cucu kesayangan mak etek yang sudah duduk di kelas tiga SMP.

Aku mendekat ke dinding tempat foto itu tergantung untuk mengamatinya lebih jelas. Ada catatan tanggal dan tahun di bawah foto itu.

‘Tahun 1961? Belum pernah ambo melihat mak etek seperti dalam foto itu. Bagaimana pula ceritanya sampai bergurambeh lebat begitu?’ tanyaku.

‘Di hutan itu di mana pula ada pisau cukur. Paling ada gunting kecil untuk memangkas misai. Karena bertahun-tahun dibiarkan, jadilah seperti itu,’ jawab mak etek tersenyum.

‘Gagah dan berwibawa terlihatnya,’ aku menambahkan.

‘Mungkin maksudmu mengerikan ha..ha..ha… ‘ mak etek terbahak-bahak.

Aku tersenyum.

‘Semua teman mak etek di luar seperti itu?’

‘Tentu tidak…. Ada yang memang berbakat. Badannya penuh bulu. Tapi banyak juga yang kelimis.’

‘Sampai seperti yang di foto itu…. Sudah berapa lama itu tidak dicukur?’

‘Sejak lari ke luar hanya dua atau tiga bulan pertama saja masih sempat mengurusnya. Sesudah itu tidak pernah lagi.’

‘Ulang pulalah cerita mak etek tentang lari ke luar itu. Masih ada yang belum ambo dengar. Bagaimana awalnya mak etek sampai ikut?’ tanyaku.

Mak etek Jun menarik nafas. Matanya sedikit menerawang. Mungkin sedang menjemput ingatan lama.

‘He..he..he.. Begini….,’ beliau mengawali.

Aku mempererat duduk, bersiap mendengar cerita yang biasanya akan cukup panjang.

‘Aku sudah mengajar di sekolah rakyat ketika perang pecah. Dulu, tamat dari SGB kami sudah diangkat jadi guru. Aku mengajar di Lambah. Berjalan kaki menyeberangi jalan kereta api dan jalan raya di Biaro. Pernah pada suatu siang, pulang sekolah, aku dihentikan tentara APRI di jalan raya itu. Mereka baru berani beroperasi di jalan raya, belum berani masuk ke jalan-jalan kampung. Mereka banyak sekali. Ada empat buah truk tentara dan tiga buah jip Rusia berhenti di tepi jalan. Mereka memeriksa dan membentak-bentak. Setiap penumpang bendi yang datang dari arah Bukit Tinggi disuruh turun. Barang belanjaan ibu-ibu diperiksa. Entah apa yang mereka cari. Ada beberapa orang laki-laki yang disuruh naik ke atas truk. Untungnya, kami guru-guru selalu membawa surat keterangan dari kepala sekolah yang menyatakan bahwa kami adalah guru. Waktu surat itu aku perlihatkan, tentara yang tadinya membentak-bentak sambil menyorongkan bedilnya ke arah dadaku, tidak lagi marah-marah dan aku dibiarkan meneruskan perjalanan pulang ke rumah.

Beberapa waktu kemudian, saat kami sedang liburan sekolah. Kami sedang mengirik padi di sawah di Bandar Panjang. Kecuali aku, yang bekerja siang itu semua orang tua-tua yang sudah berumur lebih lima puluh tahun. Kira-kira jam sebelas kami dengar derung mobil tentara di kejauhan. Mamakku, mak Endah menyuruh aku pergi bersembunyi. Tapi ada pula mamak yang lain, mak Malin menyuruh tinggal. ‘Kalau kau lari, bertemu di jalan, alamat kau akan dibedilnya. Lebih baik kau di sini saja,’ kata mak Malin.

Akupun lebih memilih untuk tidak pergi. Beberapa saat kemudian kami dengar beberapa kali bunyi tembakan. Mamak-mamak itu sama bergumam, mempertanyakan entah siapa pula yang sudah kena tembak. Tiba-tiba saja, telah muncul tiga orang tentara APRI, menuju ke arah kami sambil menodongkan senjata. ‘Angkat tangan,’ perintahnya. Aku memberi contoh bagaimana mengangkat tangan, karena ada di antara mamak-mamak itu yang tidak faham.

‘Kau…..! Kesini kau!’ perintahnya padaku. Akupun mendekat.

‘Kau pemberontak!’ hardiknya. Ujung bedilnya menempel di pelipisku. Aku berusaha tenang. Lalu aku jawab, bahwa aku seorang guru.

‘Bohong kau! Mana surat-surat!’ hardiknya pula.

‘Kami sedang bergotong royong. Saya tidak membawa surat-surat,’ jawabku.

‘Bohong!’ bentaknya lagi.

Kali ini aku ditamparnya, persis di mukaku. Bukan main sakitnya. Tapi yang lebih sakit adalah hatiku. Tentara itu mungkin seumur denganku. Dan aku ditampar perai saja. Mana mungkin aku membalas. Pondok kami diusainya. Mungkin dia curiga kalau-kalau ada senjata tersembunyi di sana. Mamak-mamak yang lain ditanyainya pula satu persatu. Mak Endah, mamakku yang memang terlihat tegap juga ditamparnya. Entah apa masalahnya aku tidak tahu.

Aku dan dua orang dari mamak-mamak itu dibawa mereka pergi. Agak kecut juga hatiku kalau-kalau aku akan dibedilnya pula. Rupanya kami dibawa ke Lasi. Di sana kami disuruh menggali lobang di sekitar sebuah rumah. Rumah itu mereka rampas untuk jadi markas. Ada puluhan orang yang bekerja paksa di sana, semua orang-orang yang mereka tangkap hari itu dari beberapa kampung.

Sorenya mak ditemani mak tuoku datang ke Lasi membawa surat keteranganku. Komandan mereka lebih ramah kepada orang-orang tua itu. Aku dipanggil anak buahnya untuk menghadap. Tentara itu minta maaf atas perlakuan anak buahnya kepada kami. Dan sore itu kami semua diizinkan pulang.

Tapi maaf tinggallah maaf. Hatiku sudah bulat. Selama bekerja membuat lobang itu otakku berpikir keras tentang pergi bergabung dengan tentara luar. Aku akan segera melakukannya. Aku akan membalas kekurangajaran tentara-tentara keparat ini. Yang telah menamparku. Memaksaku bekerja. Mereka adalah manusia-manusia tidak tahu sopan santun. Main bentak dan main tampar bahkan terhadap orang-orang tua yang pada hal adalah rakyat sipil. Dan entah berapa orang pula orang kampung yang mereka tembaki hari itu. Mereka memang tentara-tentara bengis dan semena-mena.

Dalam perjalanan pulang mak tuo bercerita bahwa di kampung kami saja siang hari itu empat orang anak muda lagi mati tertembak. Anak-anak muda yang berusaha menghindar waktu bersirobok dengan mereka. Anak-anak muda yang diteriaki supaya mengangkat tangan tapi tidak segera mengangkatnya. Mereka ditembak dari belakang. Ada yang kepalanya pecah. Yang dadanya rengkah. Yang perutnya terburai. Darahku tambah mendidih saja mendengar cerita itu. Meskipun sampai sejauh ini aku selamat berkat surat keterangan guru, bukan tidak mungkin, jika aku tetap bertahan di kampung besok atau lusa mereka akan menembakku pula.

Sesudah makan malam hari itu, secara tidak langsung aku beritahu mak bahwa aku akan ikut tentara luar. Beliau tidak setuju. Tapi aku jelaskan betapa besarnya resiko bagiku untuk tetap tinggal di kampung. ‘Apakah mak mau ambo mati serupa si Pudin pula?’ kataku. Si Pudin adalah kemenakan ayah yang ditembak tentara beberapa hari sebelumnya. Mak menangis malam itu. Beliau sangat faham tentang resiko dan kemungkinan itu.

Malam itu juga aku pergi menemui tuan Asmar. Beliau ini wali jorong. Tuan Asmar adalah penghubung dengan komandan tentara luar. Beberapa anak muda dari kampung kami yang sudah lebih dahulu pergi, memulai kontaknya melalui tuan Asmar. Kepada tuan Asmar aku sampaikan niatku itu. ‘Sebenarnya kalau kau siap, malam ini juga kau bisa ikut dengan mereka. Kau tunggulah disini. Biasanya mereka datang lewat tengah malam. Tapi kalau kau belum siap, biarlah aku sampaikan saja dulu niatmu itu kepada Tan Basa. Nah! Bagaimana pendapat kau?’ tanya tuan Asmar. Waktu itu sebenarnya aku siap saja. Tapi terpikir pula bahwa aku belum minta izin dengan bersungguh-sungguh kepada mak. Aku yakin beliau akan mengizinkan sesudah aku menjelaskan niatku tadi. Kusampaikan seperti itu dan tuan Asmar memahaminya.

Dua hari kemudian aku sudah benar-benar siap. Mak mengizinkan meski dengan tangis dan air mata. Jam sembilan malam aku berangkat dari rumah menuju rumah tuan Asmar. Dan malam itu aku ikut rombongan mak Tan Basa. Nama beliau Harun. Tentara berpangkat letnan. Sejak saat itu resmilah aku menjadi anak buah beliau.’

Aku mendengar cerita panjang mak etek Jun dengan mata tak berkedip.

‘Langsung diangkat jadi tentara? Maksud ambo, mak etek langsung diberi senjata?’

‘Tidaklah. Aku dilatih dulu. Bukan latihan baris berbaris, tapi latihan mempergunakan senjata. Sejak dari cara membersihkan sampai cara mempergunakannya.’

‘Berapa lama latihannya itu?’

‘Hanya beberapa pekan saja.’

Terdengar azan asar. Kami mengakhiri obrolan sampai di situ.


*****

Sunday, January 2, 2011

MUSIBAH AWAL TAHUN

MUSIBAH DI AWAL TAHUN

Pagi yang cerah. Matahari segera akan terbit. Langit biru pucat tak berawan di awal tahun baru ini. Mungkin warna pucat di langit disebabkan sisa-sisa asap kembang api dan mercun yang dibakar dan menimbulkan suara gegap gempita tadi malam. Ya, tadi malam adalah malam tahun baru. Malam yang diwarnai dengan sebuah budaya yang semakin menggila-gila dengan pesta kembang api. Sangat banyak orang yang merasa perlu melalui pukul dua belas tengah malam pada pergantian tahun dengan ritual-ritual yang dibuat-buat. Di antaranya pesta kembang api. Berdentam-dentam dan berdesir-desir bunyi kembang api yang dibakar tak henti-henti. Entah berapa biayanya. Entah berapa harga kembang api yang dibakar. Entah apa nikmatnya. Entah apa maknanya.

Ada pula orang yang sengaja melewatkan malam pergantian tahun di acara-acara khusus. Di hotel-hotel. Di kelab-kelab malam. Judulnya malam ‘Old and New’. Acaranya tentu khusus pula. Dan yang bisa menghadirinya hanyalah orang-orang khusus saja. Orang-orang yang punya uang berlebih, untuk difoya-foyakan.

Malam tahun baru itu sudah berlalu. Bagi yang tidak faham, atau bagi yang tidak ikut-ikutan, terlihat tidak ada bedanya malam tadi malam. Tidak ada bedanya pagi hari ini dengan hari-hari sebelumnya. Entahlah.

***

Teguh berjalan tergopoh-gopoh menuju rumah pak RT. Sudah jam enam saat itu dan sinar matahari sudah mulai tampak.

‘Assalaamu’alaikum…… Pak RT…pak RT…..,’ Teguh berteriak memanggil

Teguh mengulang ucapan salam beberapa kali dari luar pagar. Belum kunjung ada jawaban dari dalam rumah. Pak Fakhri, pak RT itu sedang menyapu pekarangan di belakang rumah. Setelah beberapa saat, ibu Lela yang mendengar teriakan salam itu, membuka pintu depan rumahnya dan melihat keluar.

‘Wa’alaikumussalam….. Ada apa Guh?’ tanya bu Lela.

‘Ada perlu dengan pak RT, bu. Beliau ada di rumah?’

Wajah Teguh terlihat tegang.

‘Ada…... Masuklah, Guh. Biar ibu panggilkan bapak ke belakang.’

Pak Fakhri muncul di ruang tamu.

‘Assalaamu’alaikum pak RT…… Maaf saya langsung saja…. Ada musibah pak….. Pak Martin meninggal…….,’ nafas Teguh tersengal-sengal.

‘Inna lillahi wa innaa ilaihi raaji’uun……. Pak Martin…..? Pak Martin tetanggamu….? Kapan Guh? Kenapa?’

Pak Fakhri tentu saja sangat kaget. Sore kemarin dia masih berbicara dengan pak Martin tentang rencana pertandingan voli antar RT. Waktu itu pak Martin terlihat sehat wal’afiat.

‘‘Iya, pak. Pak Martin….. Saya nggak tahu kenapa, pak RT. Tadi sebelum waktu subuh katanya, pak Martin dibawa ke rumah sakit, dan jam lima tadi beliau meninggal di Rumah Sakit Mitra. Jenazahnya sebentar lagi akan dibawa pulang,’ jawab Teguh masih tersengal-sengal.

Teguh adalah tetangga sebelah rumah pak Martin. Pak Martin yang baru berumur sekitar 35 tahun itu adalah pelatih voli Karang Taruna, sementara Teguh adalah pemain voli terbaik di komplek itu. Teguh sangat akrab dengan pak Martin seperti umumnya anak-anak muda Karang Taruna yang lain.

‘Baik, Guh. Kamu duluan saja ke sana. Saya segera menyusul,’ kata pak Fakhri.

Lima menit kemudian pak Fakhri sampai di rumah duka. Sudah banyak tetangga dan warga komplek di situ. Jenazah pak Martin masih belum tiba. Para pelayat saling bertanya-tanya, sakit apa pak Martin sebelum meninggal. Pak Kirno, ayah Teguh, bercerita bahwa dia dikagetkan oleh tangis dan teriakan histeris bibik Suma tadi subuh. Bibik Suma adalah pembantu di rumah keluarga Martin. Bibik Suma histeris setelah menerima berita melalui telepon dari ibu Sri, istri pak Martin. Dia langsung menggedor pintu rumah pak Kirno sambil berteriak-teriak dan meratap. Bibik Suma mengatakan bahwa dia baru saja ditelpon ibu Martin, disuruh agar memberitahu tetangga.

Menurut bibik Suma, bapak Martin baik-baik saja waktu berangkat dari rumah sekitar jam delapan tadi malam. Bapak dan ibu Martin pergi melewatkan malam tahun baru. Keduanya berpakaian seperti mau ke pesta. Dan keduanya belum pulang sejak tadi malam. Lalu tiba-tiba ibu Martin memberi kabar seperti itu.

Pak Kirno segera pula memberitahu tetangga-tetangga yang lain. Mereka berdatangan ke rumah duka.

Tidak berapa lama kemudian jenazah pak Martin datang dengan menggunakan mobil jenazah. Ibu Sri duduk di bagian depan mobil bersama dengan ibu mertuanya. Mata kedua wanita itu sembab karena tangis. Ibu Sri masih memakai gaun pesta, meski sekarang memakai selendang di kepalanya. Jenazah pak Martin diturunkan dari mobil dan dibaringkan di ruang tengah rumah itu. Ibu-ibu warga komplek yang datang melayat di pagi itu ikut menangis, larut dalam kepiluan bersama ibu Sri.

Jam sepuluh pagi jenazah pak Martin dimandikan. Rencananya akan dimakamkan sesudah shalat zuhur. Orang yang datang melayat semakin banyak. Pak Martin memang sosok pria yang pandai bergaul. Dia disenangi warga komplek dan rekan-rekan sejawatnya di kantor.

Melalui bisik-bisik, beredar cerita bagaimana pak Martin menghadapi maut. Di anrtara para pelayat. ada yang sama-sama hadir di tempat bapak dan ibu Martin melewatkan malam tahun baru.

Tadi malam mereka berpesta di sebuah hotel terkenal. Pengunjung di acara itu banyak sekali. Semua tempat duduk yang disediakan hotel di ruangan besar itu terisi. Menjelang tengah malam acara itu diisi dengan nyanyian dan pertunjukan sulap. Para pengunjung menonton sambil menikmati hidangan makan malam. Tepat tengah malam lampu di ruangan itu dimatikan. Semua pengunjung meniup terompet kertas yang sudah disiapkan. Waktu lampu dinyalakan kembali para pengunjung melakukan ‘adu gelas’ sambil mengucapkan selamat tahun baru. Gelas itu berisi sampanye.

Setelah itu mereka berdansa. Mula-mula mengikuti musik dengan irama pelan. Makin lama suara musik itu makin keras dan menggila. Peserta pesta itu semakin asyik menggoyang-goyangkan tubuh mereka di lantai dansa. Musik demi musik sambung menyambung. Suaranya sangat memekakkan telinga. Seperti itulah suasana pesta tahun baru itu.

Di tengah suara hingar bingar itu tiba-tiba ibu Sri menjerit histeris. Pak Martin yang sedang ikut berjingkrak-jingkrak tiba-tiba terjatuh. Terjatuh seperti tapai jatuh. Terjelepok. Dan akhirnya tergeletak di lantai. Nafasnya tersengal-sengal. Dia merintih kesakitan sambil tangannya memegang dadanya. Perlu beberapa menit sebelum musik bisa dihentikan, karena si pengatur musik tidak segera mengetahui bahwa ada yang jatuh pingsan. Suasana di ruang pesta berubah menjadi mencekam. Musik yang barusan berdentam-dentam sementara terhenti. Orang berkerumun di sekitar pak Martin tergeletak.

Pak Martin segera dilarikan ke rumah sakit. Dibawa ke ruangan gawat darurat. Dokter jaga di rumah sakit itu berusaha memberikan pertolongan tapi hasilnya sia-sia. Pak Martin tetap tidak sadarkan diri. Sampai akhirnya jam lima pagi malaikat maut melaksanakan tugasnya, mencabut nyawa pak Martin. Dokter menyimpulkan bahwa dia mendapat serangan jantung.

***

Siang itu jenazah pak Martin dimakamkan. Malamnya ada acara tahlilan di rumah duka. Orang membaca surah Yasin beramai-ramai. Ada yang hafal luar kepala, ada yang membaca dari kitab al Quran ada yang membaca buku Yasinan bahkan ada yang membaca melalui tulisan latin dari buku Yasinan itu. Semua membaca dengan suara keras, berpacu-pacu. Berdengung suaranya.

Pak Kiyai yang memimpin tahlil berulang-ulang mengirimkan bacaan alfatihah, bacaan surah-surah pendek, semuanya untuk bekal almarhum pak Martin di alam kubur. Tidak lupa pula beliau mengutip ayat-ayat terakhir dari surah Al Fajr dan terjemahannya. ‘Wahai jiwa yang tenang. Kembalilah kepada Rabb mu dengan senang dan diridhai Nya. Masuklah ke dalam golongan hamba-hamba Ku. Dan masuklah ke dalam surga Ku.’

Indah betul yang beliau harapkan. Mungkin beliau tidak tahu bagaimana kejadian sebelum kematian almarhum.

‘Apakah kematian seperti ini husnul khatimah, pak? tanya pak Karim berbisik kepada pak Somad di sampingnya.

‘Hus! Tidak usah hal itu ditanyakan,’ jawab pak Somad berbisik pula.

‘Saya bertanya sungguh-sungguh….,’ kata pak Karim pula.

‘Saya tidak tahu. Kenapa hal itu yang pak Karim tanyakan?’

‘Karena pak Kiyai menyitir ayat ‘wahai jiwa yang tenang’……. Apakah menurut bapak jiwa pak Martin tenang saat ini?’

‘Wallahu a’lam…… Saya tidak tahu. Pak Kiyai juga tidak tahu. Tidak ada di antara kita yang tahu,’ jawab pak Somad.

Pak Karim tidak meneruskan lagi pertanyannya.

Jam setengah sembilan acara tahlilan itu selesai. Yang hadir pulang membawa besek. Membawa berkah, yang disediakan tuan rumah, sesudah mereka bersama-sama mengirim amal bacaan untuk almarhum pak Martin. Hari pertama di tahun baru telah dimulai.

*****

Wednesday, October 27, 2010

MISIONARIS

MISIONARIS

Wanita muda itu bersirobok pandang lagi denganku. Ini adalah yang ke empat kali, kalau aku tidak salah, kami bertemu di dalam metro ini. Kali ini dia duduk di bangku diagonal berseberangan denganku. Sepertinya dia tersenyum kepadaku. Aku balas dengan senyuman pula. Melihat wanita yang warna kulitnya sama denganku memang menyuruhku untuk terlihat ramah kepadanya. Ingin juga aku menyapanya sekedar berbasa basi, tapi tentu tidak mungkin kulakukan dari jarak sejauh ini.

Ketika metro mendekati pemberhentian Lourmel, aku segera berdiri dari tempat dudukku dan memutar tubuhku menuju ke arah pintu, membelakangi wanita muda itu. Aku bergegas turun. Di luar gerbong metro udara terasa dingin sekali. Aku melilitkan syal ke leher dan menutupi sebahagian telinga. Aku melangkah cepat menuju ke luar, menuju ke tempat tinggalku di rue de Lourmel. Orang berduyun-duyun menaiki tangga untuk menyembul dari stasiun bawah tanah. Semua kedinginan. Semua tergopoh-gopoh. Memang begitu caranya di sini. Di Paris ini.

Lamat-lamat aku mendengar orang memanggil ‘monsieur – monsieur’ di belakangku. Tentu saja aku tidak menyangka bahwa panggilan itu ditujukan kepadaku, di tengah kerumunan sebegitu banyak orang. Sampai akhirnya si pemanggil itu menepuk pundakku. Aku menoleh dan ternyata si wanita muda di metro tadi. Dia berdua dengan seorang wanita lain berkulit putih.

‘Oui?!’ kataku dengan pandangan setengah tidak percaya.

‘Bolehkah kami minta waktu anda sebentar?’ tanyanya dengan bahasa Perancis yang fasih.

Sok benar wanita ini, pikirku dalam hati. Atau mungkin dia menjaga hati temannya yang wanita kulit putih itu sehingga dia berbahasa Perancis kepadaku? Ah, sesuka hatinyalah.

‘Ada apa? Apa yang bisa saya perbuat untuk anda?’ jawabku berbasa basi.

Tanganku seperti beku kedinginan. Aku meremas-remaskan kedua telapak tanganku menahan dingin. Di sebuah toko di depan sana terpampang pada sebuah running text informasi temperatur saat itu; satu derajad celcius.

‘Maukah anda kami ajak minum kopi di café itu? Disana kita berbicara sebentar? Disini dingin sekali,’ katanya. Mungkin memperhatikan keadaanku yang ‘mati’ kedinginan.

‘Kalian mau berbicara apa?’ tanyaku sambil setengah melotot kepada wanita muda berparas Solo itu.

‘Ayolah kita ke café itu,’ ajaknya lagi.

Aku menurut sambil bertanya-tanya dalam hati. Jangan-jangan wanita muda ini sedang ada masalah dengan wanita kulit putih itu lalu ingin meminta bantuanku. Kami masuki café itu dan mengambil tempat duduk di bagian dalam. Wanita muda itu memesan tiga cangkir kopi.

‘Maaf, kalau kami mengganggu anda. Kami ingin berkenalan dengan anda,’ katanya sambil mengulurkan tangannya untuk bersalaman.

‘Anda orang Indonesia, kan? Kenapa dari tadi berbahasa Perancis terus? Ada apa sebenarnya?’ tanyaku dalam bahasa Indonesia.

Dia mengangkat alis matanya dan tersenyum.

‘Anda berbicara kepada saya?’ tanyanya lagi dalam bahasa Perancis.

‘Ya,’ kataku. ‘Anda bukan orang Indonesia?’ tambahku lagi.

‘Ah…. Bukan. Tentu anda mengira saya orang Indonesia,’ katanya tersenyum.

‘Anda……… orang Pilipina?’

‘Non plus…… Saya orang Madagaskar katanya.’

Aku terperangah. Aku langsung ingat guru sejarah di SMA dulu yang bercerita bahwa, ‘nenek moyangku orang pelaut, menempuh badai tiada takut,’ lalu nenek moyang kita itu berhanyut-hanyut sampai ke Madagaskar dengan rakit pohon kelapa. Inilah bukti keterangan sejarah pak guruku itu. Sekarang di depan mataku. Wanita muda yang aku sangka orang Solo, ternyata adalah orang Madagaskar.

‘Mais….. est-ce que vous êtes originaire de Madagascar?’

‘Ya…. Anda mengira saya orang Indonesia ?’ tanyanya tersenyum.

‘Kulit anda dengan kulit saya persis sama.’

‘Anda orang Indonesia rupanya. Saya menyangka anda orang Jepang,’ katanya.

‘Ya sudahlah….. Apa maksud anda? Apa yang anda perlukan dari saya?’

‘Baiklah….. Agar anda tidak penasaran…. Kami ingin menyampaikan pesan kepada anda. Mudah-mudahan anda berkenan mendengarnya.’

‘Pesan? Pesan apa?’

‘Baik…. Saya mulai. Saya ingin bertanya. Apakah anda seorang yang beragama?’

Waaaw.. Aku mulai bisa menebak.

‘Ya. Saya beragama,’ jawabku pendek.

‘Anda bukan seorang Kristen?’

‘Malheureusement non. Pourquoi?’

‘Oui…. Malheureusement non. Pasti anda akan tertarik kalau anda saya tunjukkan jalan yang menuju keselamatan.’

Aku tersenyum. Bersobok lawan aku rupanya, kataku dalam hati.

‘Jalan apa itu maksud anda ?’ tanyaku.

‘Jalan juru selamat. Ikutilah, anda pasti selamat.’

‘Bagaimana kalau anda berdua saya ajak untuk berbicara di tempat tinggal saya saja ? Mungkin di tempat ini kita kurang leluasa untuk bercerita panjang,’ ajakku.

Wanita muda Madagaskar berwajah Solo itu tersenyum sumringah. Mungkin dalam hatinya dia berkeyakinan bahwa kailnya sudah dimakan ikan pancingannya.

‘Seandainya hal itu tidak mengganggu anda, kami akan sangat bersenang hati. Anda tinggal di mana ?’ tanyanya.

‘Tidak akan mengganggu. Lagi pula saya sudah ditunggu istri saya. Ayolah kita ke tempat saya,’ ajakku.

Kami tinggalkan café itu, menuju ke apartemenku di rue de Lourmel.

‘Anda tinggal dekat sini?’ tanya wanita berkulit putih. Baru sekali itu suaranya terdengar.

‘Ya,’ jawabku. ‘Di bangunan di depan itu,’ aku menunjuk ke bangunan beberapa puluh meter di hadapan kami.

Aku persilahkan kedua wanita itu masuk ke apartemen kecil kami. Istriku sedikit terheran-heran melihat mereka.

‘Sebelum kita lanjutkan pembicaraan tadi, saya minta izin untuk beberapa saat. Mungkin sekitar sepuluh menit. Mudah-mudahan anda tidak keberatan.’

‘Pasti tidak. Terima kasih, anda telah baik hati sekali mengajak mampir. Silahkan anda melakukan keperluan anda. Biar kami tunggu,’ kata wanita kulit putih, yang tiba-tiba sekarang jadi banyak bicara.

Apartemen kami itu kecil. Hanya ada satu kamar tidur, lalu ruangan tamu yang sempit dan dapur merangkap ruangan makan. Di ruang terakhir ini biasanya kami shalat berjamaah. Aku memberi isyarat kepada istriku untuk mengerjakan shalat isya.

Kami shalat isya berjamah. Dengan bacaan dijahar tentu saja. Sesudah shalat dan berzikir barulah aku menghampiri mereka.

‘Sebelumnya, walaupun kita belum saling kenal, tapi saya ingin memberitahu anda bahwa ini istri saya.’

Istri saya menyalami kedua wanita itu.

‘Lalu….., silahkanlah lanjutkan cerita anda tadi.’

‘Jadi….. Anda orang Islam ?’ tanya wanita kulit putih.

‘Ya…. Saya beragama Islam.’

‘Bon…. Tidak apa-apa….. Kami ini dari gereja Hati Kudus. Kami ingin mengajak anda untuk mengikuti juru selamat. Dia yang menyelamatkan umat manusia semuanya….’ Si wanita kulit putih agak terbata-bata.

‘Siapa itu juru selamat anda?’

‘Jesus. Dia yang mati di tiang salib untuk menyelamatkan semua manusia dari hukuman atas dosa-dosa mereka,’ giliran si wanita Madagaskar berbicara.

‘Begini…… Pertama, saya sudah mempunyai ‘juru selamat’ saya sendiri. Dia adalah Allah, Sang Maha Pencipta alam raya ini. Dia yang menciptakan bumi yang kita huni sebagaimana juga Dia yang menciptakan matahari, bulan dan bermilyar-milyar bintang……’

‘Ya….. itulah Tuhan. Dan Tuhan itu mengutus anak Nya yang tunggal untuk menyelamatkan semua manusia. Kita tidak akan sampai ke rumah Tuhan kalau tidak melalui anak Nya itu,’ kata wanita kulit putih memotong pembicaraanku.

‘Saya tidak percaya. Bagaimana dia akan menyelamatkan manusia sementara dia tidak mampu menyelamatkan dirinya sendiri?’

‘Dia tidak mau menyelamatkan dirinya karena dia mengorbankan dirinya untuk keselamatan manusia.’

‘Siapa yang mengatakan itu? Yang mengatakan bahwa dia membiarkan dirinya disalibkan orang untuk menyelamatkan manusia?’

‘Dia sendiri yang mengatakan.’

‘Anda punya bukti bahwa itu kata-katanya sendiri? Bahwa dia mengatakan dirinya disalib untuk keselamatan manusia? Apa bukan dia malahan merintih memanggil Tuhan dan protes kenapa Tuhan meninggalkan dia? Apa bukan dia yang mengatakan Eli..Eli Lama sabakhtani ?’

‘Anda tahu itu ?’

‘Ya saya tahu itu.’

‘Tapi dia adalah juru selamat……’

‘Tidak…. Dia adalah seorang nabi utusan Tuhan. Nabi Allah. Dia mengajak manusia, khususnya Bani Israel agar menyembah Allah. Allah Yang Maha Satu. Yang tidak ada Tuhan selain dari Dia. Yang tidak ada yang setara dengan Nya.’

‘Anda pernah mendengar tentang Jesus?’

‘Kami menyebutnya Nabi Isa. Dia seorang di antara nabi-nabi utusan Allah.’

‘Dia anak Tuhan. Dia lahir dari seorang perawan suci yang tidak bersuami.’

‘Dia bukan anak Tuhan. Dia adalah manusia biasa, makhluk ciptaan Tuhan. Ciptaan Allah.’

‘Dia bukan manusia biasa. Dia terlahir dari seorang wanita. Wanita suci yang tidak pernah disentuh manusia.’

‘Ya…. Wanita itu Maryam, seorang wanita tidak bersuami. Lalu Allah, Tuhan yang Maha Pencipta meniupkan ruh ke dalam rahimnya, sehingga dia mengandung kemudian melahirkan Isa. Kami juga menyebutnya sebagai Isa putera Maryam.’

‘Dia bukan manusia biasa. Dia anak Tuhan, diutus Tuhan untuk menyelamatkan anak-anak manusia yang berdosa.’

‘Terserah anda mau menyebutnya seperti itu. Tapi bagi kami orang Islam, Isa putera Maryam adalah seorang utusan Allah untuk Bani Israel. Kelahirannya tanpa ayah adalah hal yang mudah bagi Allah Yang Maha Pencipta. Sebagaimana mudahnya bagi Allah menciptakan Adam yang tidak punya ayah dan ibu.’

‘Jadi anda tidak mempercayainya sebagai juru selamat ?’

‘Dia seorang utusan Allah, dikhususkan untuk Bani Israel. Anda menyebutnya untuk menyelamatkan domba-domba yang hilang dari anak-anak Israel. Begitu kan?’

‘Dari mana anda tahu ?’

‘Saya membaca juga kitab anda sedikit-sedikit.’

‘Jadi anda mempunyai penyelamat sendiri? Anda yakin bahwa dia akan menyelamatkan anda? Tanpa bantuan sang juru selamat?’

‘Ya… Penyelamat dan penolong saya adalah Allah. Saya tidak memerlukan juru selamat selain Dia’

‘Maaf…. Tadi… Sebelum ini apa yang anda kerjakan berdua dengan istri anda?’

‘Kami mengerjakan shalat. Kami menyembah Allah, Tuhan Yang Maha Pencipta.’

‘Dimana Tuhan anda itu berada?‘

'Dia berada di tempat Nya. Yang tidak dapat dilihat oleh mata. Tapi Dia Maha Melihat. Dia menyaksikan dan mendengar apa yang sedang kita perbincangkan saat ini karena Dia Maha Mendengar.’

‘Pernahkah anda berjumpa dengan Nya ?’

‘Tidak pernah. Karena Dia tidak terjangkau oleh panca indera kita.’

‘Baiklah…… Kalau begitu…….. Karena anda sudah mempunyai penyelamat anda sendiri…. Mungkin kami tidak perlu lagi meneruskan…..’

‘Terserah anda.’

‘Maaf, kami telah mengganggu anda. Biarlah kami mohon diri kalau begitu…’

Kedua wanita itu meninggalkan apartemen kami.

‘Siapa mereka? Kenal di mana dengan mereka?’ tanya istriku setelah mereka pergi.’

‘Kan kamu dengar sendiri tadi siapa mereka. Tadi aku disamperi setelah keluar dari metro. Mula-mula diajak ke café. Setelah itu aku ajak sekalian ke sini,’ jawabku menjelaskan.


*****

Monday, October 25, 2010

GEMPA

GEMPA

Jam sembilan pagi. Matahari bersinar cerah mengusir embun dan udara dingin. Sinar matahari itu terasa enak menghangatkan badan. Malin Marajo, petugas mesjid sedang membersihkan kolam besar di belakang mesjid. Mengais dan membuang kumpulan kalayau sendok atau enceng gondok kata orang di Jawa. Kalau tidak segera dikeluarkan tumbuhan itu akan berkembang biak dengan cepat menutupi permukaan kolam dan pada gilirannya akan mengganggu kehidupan ikan-ikan di dalam kolam. Ikan mas, mujair dan gurame. Ikan-ikan yang merupakan cadangan dana mesjid. Kalayau sendok itu ikut masuk kolam bersama air bandar, entah dari mana asalnya.

Kak Zahara, seorang pedagang beras bersiap-siap akan menjemur padi di pagi hari itu. Wanita separuh baya itu biasa menjemurnya di pekarangan mesjid yang rata dan luas. Kak Zahara memergoki setumpuk kalayau sendok yang baru saja diangkat Malin Marajo tergeletak di tepi kolam dekat tempat dia biasa menjemur padi. Kak Zahara langsung mengingatkan.

‘Jangan di sana diletakkan kalayau itu Marajo. Tidak elok dipandang dan sebentar nanti dia akan berbau busuk,’ katanya.

‘Ah, di mana pula akan busuk. Dipanggang matahari sehari ini akan langsung kering. Kalau sudah kering nanti kubakar,’ jawab Malin Marajo.

‘Jangan kau bantah aku. Kalayau itu belum akan kering meski ditimpa panas matahari agak seminggu. Lebih baik kau buang ke pinggir kebun di seberang sana. Di sini, aku akan kena baunya, orang sembahyang di mesjid akan kena baunya.’

‘Bagaimana pula aku akan membuangnya ke pinggir sebelah sana, dia adanya di pinggir kolam sebelah sini. Kakak ini mempersulit pekerjaanku saja.’

‘Lebih baik kau dengar apa kataku. Atau kau akan dimarahi engku Imam. Bau kalayau ini busuk memusingkan kepala. Tanggung-tanggung bekerja, lebih baik kau lakukan sungguh-sungguh atau kalau tidak, tak usah kau kerjakan.’

‘Kenapa kakak pula yang memerintah-merintah?’

‘Aku bukan memerintah-merintah. Aku mengatakan yang benar. Bukan asal memerintah. Kalau sudah keluar bau busuknya nanti, pasti kau juga yang akan disuruh engku Imam memindahkannya.’

‘Kakak nyinyir. Pening kepalaku mendengar orang nyinyir.’

Malin Marajo bersungut-sungut sambil berusaha mendorong tumpukan kelayau yang masih di dalam kolam ke arah kebun yang dikatakan kak Zahara. Dia mendorongnya dengan galah bambu.

‘Yang ini jangan kau biarkan di sini,’ kak Zahara mengingatkan lagi, sambil menunjuk ke tumpukan yang sudah terangkat.

‘Berhentilah memerintah kak! Tanganku hanya dua. Dan berhentilah jadi orang nyinyir.’

Kak Zahara hanya tersenyum sambil medorong gerobak berisi karung-karung padi. Padi yang akan dijemurnya. Malin Marajo meneruskan pekerjaannya. Masih bersungut-sungut.

Tiba-tiba, Malin Marajo yang sedang mendorong-dorong kalayau sendok itu terpelanting masuk kolam. Air kolam itu beriak sejadi-jadinya sampai memancur ke atas. Air itu terpancur sangat tinggi, sementara yang di dalam kolam bergoyang-goyang. Bumi bergoncang sangat dahsyat. Malin Marajo yang tidak kehilangan kesadaran berpegangan ke pinggir kolam, pada saat bumi bergoncang luar biasa dan air kolam bagai diaduk-aduk itu. Entah berapa puluh detik suasana mencekam itu berlangsung. Malin beristighfar sambil menggigil ketakutan. Sambil berpegang kuat-kuat ke pinggir kolam.

Terdengar suara bunyi benda besar jatuh. Bunyi sesuatu yang runtuh menghantam bumi. Malin Marajo bertakbir dengan suara parau. Allaaahu Akbaaar. Dia menutup matanya. Rasanya inilah akhir hayatnya.

Kak Zahara dibantu sepupunya Salma baru saja selesai mengembangkan tikar penjemuran padi. Dua lembar tikar mensiro berukuran dua kali empat meter. Empat karung padi terletak di atasnya siap untuk dijemur, sebelum nanti digiling di mesin penggilingan padi. Kak Zahara baru akan menuangkan karung pertama ketika gempa dahsyat itu terjadi. Tubuh wanita separuh baya itu terpelanting dan terduduk di tanah. Salma yang berdiri dekat sebuah karung berpegangan erat-erat ke karung itu sambil berteriak ketakutan.

Kejadian itu berlalu begitu cepat. Hanya dalam bilangan beberapa detik. Kubah mesjid besar itu jatuh menimpa tepat ke tempat kedua wanita malang itu. Kedua wanita itu mungkin tidak sempat memikirkan apa yang tengah menimpa mereka. Keduanya terkorban. Innaa lillahi wa innaa ilaihi raaji’uun.


****

Gempa besar itu berlangsung sekitar seratus detik Seratus detik yang luar biasa mencekam. Yang luar biasa dahsyat. Meninggalkan kehancuran yang mengerikan. Di kampung itu dua puluh buah rumah runtuh, hancur, rata dengan tanah. Lebih banyak pula yang rusak sebagian atau retak-retak. Menara mesjid runtuh dan sebagian dinding mesjid rengkah. Dalam waktu begitu singkat. Beberapa buah pohon tumbang. Jalan kampung retak aspalnya di sana-sini. Gempa itu terjadi di bawah cuaca cerah di sebelah pagi. Ada empat orang yang terkorban maut, termasuk kak Zahara dan Salma.

Malin Marajo menangis meratap ketika dia yang pertama sekali mendapatkan jasad kak Zahara yang sudah tidak bernyawa.

‘Berdosa aku kaaaaak…….,’ rintihnya pilu sambil mengusap darah di mulut wanita itu dengan kain sarungnya.

Tubuh wanita malang itu terhimpit runtuhan kubah mesjid. Hanya bagian dadanya ke atas yang terlihat. Darah keluar dari mulutnya. Di sebelahnya, terlihat sebagian kaki Salma. Sungguh sangat mengerikan pemandangan itu. Belum sampai sepuluh menit sejak Malin Marajo berbantah-bantahan dengan kak Zahara, yang sekarang sudah menjadi mayat dengan kondisi sangat mengenaskan seperti itu.

Korban lain adalah seorang laki-laki tua yang terbaring sakit di tempat tidur. Rumahnya runtuh. Orang tua itu terhimpit kayu besar yang jatuh dari langit-langit rumah. Korban ke empat seorang anak laki-laki berumur tujuh tahun yang terhimpit runtuhan dinding sebuah rumah. Ada belasan orang yang luka-luka dan patah tulang. Sungguh sebuah musibah dahsyat. Musibah yang terjadi dalam sekejap mata.

Semua yang masih selamat terperangah. Terperanjat menyaksikan mimpi buruk di siang hari yang datang begitu tiba-tiba. Kampung itu jadi centang perenang mengenaskan. Tangis pilu terdengar di sana-sini. Tangis duka memandang kehancuran.

Terperangah itu tentu tidak bisa dibiarkan berlama-lama. Beberapa orang yang tinggal dekat mesjid bergotong royong mengeluarkan jasad kak Zahara dan Salma dari himpitan reruntuhan kubah mesjid. Lalu kedua jenazah itu dibawa pulang ke rumah mereka , sebuah rumah kayu lama, yang alhamdulillah tidak mengalami kerusakan berarti. Satu dari dua puteri kak Zahara jatuh pingsan ketika melihat jasad ibu dan etek mereka. Yang beberapa menit yang lalu masih segar bugar. Masih penuh semangat. Laa hawla wa laa quwwata illa billaahi. Kalau Allah berkehendak, apapun terjadi di bawah kekuasaan Nya.

****

Sore harinya bantuan datang dari kota. Dari perorangan maupun dari kelompok masyarakat. Menurut berita banyak sekali kampung dan nagari yang juga hancur seperti kampung ini, luluh-lantak disebabkan gempa pagi tadi itu. Berpuluh banyaknya korban yang meninggal. Entah berapa ratus yang terluka dan patah-patah. Entah berapa ratus, atau bahkan mungkin ribuan buah bangunan yang hancur..

Atas saran wali nagari, sekolah dasar yang alhamdulillah selamat, kecuali sedikit retak-retak, dijadikan tempat penampungan korban yang rumahnya hancur. Mesjid masih bisa dipakai untuk shalat berjamaah walaupun bagian atapnya sekarang terbuka karena kubahnya jatuh. Dinding mesjid hanya retak-retak di beberapa bagian.

Sesudah shalat maghrib, dengan jamaah lebih banyak dari biasanya, Buya Haji memberikan ceramah singkat untuk menenangkan hati masyarakat. Buya mengingatkan agar musibah yang terjadi dijadikan pelajaran untuk menyadari ke Maha Kuasaan Allah. Sebagai makhluk kita memang tidak ada apa-apanya di bawah kekuasaan Allah. Terjadi sedikit tanya jawab sesudah ceramah Buya Haji.

‘Buya! Apakah yang terjadi ini merupakan peringatan atau hukuman dari Allah?’ tanya guru Sofyan.

‘Biarlah kita berprasangka baik saja kepada Allah bahwa ini adalah sebuah peringatan. Kita diperingatkan agar lebih banyak mengingat Allah dan beribadah kepada Nya. Karena kita ini ternyata tidak ada apa-apanya. Karena Allah begitu Maha Perkasa dan Maha Berkuasa. Betapa mudahnya bagi Allah untuk berbuat sesuatu. Rumah, bangunan, mesjid yang kita bina bersusah payah dalam waktu lama, dalam beberapa detik saja, dengan kekuasaan Allah jadi porak poranda. Allah kuasa melakukannya. Allah kuasa menghancurkan alam raya ini.’

‘Tapi ada yang mengartikan bahwa ini adalah hukuman Allah karena sudah semakin banyaknya kemaksiatan, Buya. Bagaimana pula itu?’ tanya etek Syarifah.

‘Boleh-boleh saja ada yang berpendapat seperti itu. Tapi pada gilirannya, kan tetap saja merupakan sebuah peringatan Allah. Akankah kita sadar? Akankah mereka yang suka bermaksiat mau bertobat? Memperbaiki diri? Kalau mereka mau, maka beruntunglah mereka.’

‘Benarkah gempa itu juga merupakan sunatullah Buya?’ kembali guru Sofyan bertanya.

‘Benar sekali. Hujan, panas, laut bergelora, gunung-gunung mengeluarkan asap atau bahkan letusan yang melemparkan batu-batuan, gempa bumi semua itu adalah ketetapan-ketetapan Allah. Semua sudah diadakan Allah sejak dunia terkembang. Begitu kata para ahli. Tentulah guru Sofyan yang lebih tahu tentang itu. Tapi adakalanya sesuatu yang sunatullah itu dijadikan Allah untuk memperingatkan umat manusia bahkan ada juga umat-umat terdahulu yang dihukum Allah dengan bencana yang berasal dari alam. Kaum Luth yang dimusnahkan Allah dengan letusan gunung berapi. Kaum nabi Nuh yang ditenggelamkan dengan air bah. Kita sebagai orang yang beriman kepada Allah, tidak punya pilihan selain bertawakkal dan berserah diri kepada Allah. Seandainya musibah itu menimpa kita, mendatangkan maut kepada kita seperti yang dialami saudara-saudara kita hari ini, mudah-mudahan itu terjadi pada saat kita ikhlas bertawakkal kepada Nya.’

Begitu Buya Haji mengakhiri ceramah singkat beliau.


*****

Saturday, March 20, 2010

DIMADU

DIMADU

‘Tumben manyun...... ‘ Sri menyapa sahabatnya Wati, yang sudah lebih dulu hadir.

Wati hanya tersenyum kecut. Dia tidak menjawab. Tidak biasanya begitu. Wajah Wati memang terlihat seperti sedang bermasalah. Sri yang tahu watak Wati tidak mau menggoda lebih jauh. Jadilah mereka pagi hari itu diam-diaman, meski mereka duduk bersebelahan di kantor itu.

Wati dua kali kena marah pagi itu. Sesuatu yang luar biasa karena atasan mereka sangat jarang marah. Yang pertama ketika Wati menjawab telepon dan memberi tahu bahwa pak Adnan, atasan mereka sedang tidak ada di tempat. Pada hal pak Adnan ada di ruangannya dan sedang menunggu telepon tersebut. Waktu akhirnya pak Adnan yang menelepon, dia diberi tahu bahwa tadi waktu dihubungi, kata sekeretarisnya beliau sedang keluar. Pak Adnan menanyai mereka berdua, siapa tadi yang menerima telepon dan mengatakan bahwa dia sedang tidak ada di kantor. Wati mengaku dia yang menerima dan menyangka kalau pak Adnan sedang tidak ada di ruangannya.

Yang kedua waktu dia disuruh mengambil file undangan tender no 312. Wati mengatakan bahwa file itu tidak ketemu. Pada hal file itu ada di filing cabinet di sebelah mejanya karena memang dia yang bertanggung jawab menyimpannya.

‘Kenapa kamu uring-uringan hari ini? Kamu sakit?’ tanya pak Adnan.

‘Ya, pak. Saya kurang sehat,’ jawab Wati.

‘Pergilah ke dokter!’ perintah pak Adnan pula.

‘Nanti saya akan ke dokter, pak,’ jawabnya pula.

Wati berusaha keras untuk berkonsentrasi sesudah dua kesalahan fatal itu. Sangat konyol yang terjadi tadi itu dan dia seperti tidak sadar dengan apa yang dia lakukan. Sebelum siang, Sri menanyakan apakah dia mau ikut makan siang ke luar.

‘Aku nggak ikut. Aku mau tinggal di kantor saja,’ jawab Wati.

‘Atau....... Mau aku temani? Kita pesan makan siang dan makan disini?’ tanya Sri.

‘Terserah, kalau kau mau......,’ jawab Wati dengan nada lemas.

Akhirnya mereka memesan makanan yang diantar ke kantor siang itu. Sri menahan diri untuk tidak banyak tanya.

‘Aneh.......’ kata Wati mengeluh, ketika mereka mau mulai makan.

‘Aneh apanya?’ tanya Sri.

‘Suamiku. Aku merasa aneh dengan obrolannya,’ jawab Wati.

‘Oh, ya? Memangnya dia bercerita apa?’

‘Cerita tentang poligami....’

‘Maksudmu....... Dia..... ‘ Sri tidak meneruskan kata-katanya.

‘Ya.... Dia bercerita tentang laki-laki boleh beristri lebih dari satu....’

‘Dia mau menikah lagi?’ tanya Sri lebih tegas.

‘Entahlah. Aku tidak tahu apa yang ada di kepalanya. Dia bersemangat sekali bercerita tentang itu.’

‘Memangnya..... Apa yang diceritakannya?’

‘Ya.... Tentang aturan dalam Islam yang membolehkan laki-laki beristri sampai empat orang dan itu tertulis dalam al Quran. Ada ayatnya.... Begitu katanya.’

‘Kau curiga dia akan menikah lagi?’

‘Sejujurnya, iya...... Seandainya kau di posisiku, pasti kau juga akan merasakan hal yang sama. Khawatir suamimu akan menikah lagi......’

‘Bukankah.... Laki-laki tidak boleh sembarangan menikah lebih dari satu orang? Ada undang-undang perkawinan yang mengatur. Harus ada izin dari istri pertama. Apa suamimu tidak tahu tentang itu?’

‘Tentu saja dia tahu. Justru itu. Katanya undang-undang itu menyalahi ketetapan Allah. Tidak ada aturannya di dalam agama Islam, baik dari ayat-ayat al Quran maupun dari hadits Nabi Muhammad yang mengharuskan seorang laki-laki yang ingin menikah lagi meminta izin dulu kepada istri pertamanya.’

‘Maksudnya.....? Mereka boleh sesuka-sukanya menikahi empat orang wanita? Tanpa ada yang mengatur? Begitu?’

‘Ya.... Begitu kata suamiku. Begitu keterangan ustad yang didengarnya. Diulang-ulangnya kata-kata itu. Tidak ada keharusan meminta izin kepada istri pertama. Coba kau bayangkan.... Tahu-tahu suami kita tidak pulang dan ternyata dia menginap di rumah istri barunya..... Ih.... Benar-benar mengerikan kalau terjadi yang seperti itu.’

‘Ya.... Tapi aku rasa, itulah yang dicegah oleh pemerintah. Laki-laki tidak boleh berbuat semena-mena seperti itu.’

‘Menurut suamiku, laki-laki yang berbuat seperti itu bukan berlaku semena-mena. Selama dia bisa berlaku adil di antara istri-istrinya.’

‘Mana mungkin? Itu egois namanya.... Tapi kalau kau mau, coba kita tanyakan kepada Lela. Kau tahukan? Suaminya menikah lagi?’

‘Apa yang mau ditanyakan?’

‘Apa saja. Bagaimana sampai suaminya menikah lagi. Bagaimana perasaannya sesudah dirinya dimadu?’

‘Iya juga ya..... Tapi.... Kenapa mesti menanyakan hal itu?’

‘Lha.... Kan kau khawatir.... kalau-kalau suamimu sedang mempersiapkan pernikahannya yang berikutnya.’

‘Anehnya.... Ketika aku menanyakan hal itu, jawabnya justru dia bilang dia tidak ada niat untuk menikah lagi. Dia bilang satu istri sudah cukup...... memberinya masalah. Dia tidak ingin menambah masalah baru. Begitu katanya.’

‘Nah, kalau begitu apa yang mesti dikhawatirkan?’

‘Cemas saja.... Seandainya-seandainya....’

‘Seandainya.... dia benar-benar..... menikah lagi... Apa yang akan kau perbuat?’

‘Justru itulah yang membuat aku uring-uringan.’

‘Kalau menurut aku sih...., tidak usah hal itu terlalu dipikirkan. Apa lagi kalau sudah ada pernyataannya yang sangat gamblang seperti itu. Hadapi saja hidup ini dengan santai.’

‘Enak saja kau ngomong..... Kalau ternyata kemudian dia benar-benar menikah lagi?’

‘Kan dia sudah bilang tidak berniat?’

‘Ya...... Kita kan tidak tahu isi hatinya yang sesungguhnya.’

‘Kalau begitu, hadapi saja apa adanya...’

‘Maksudmu?’

‘Apa lagi? Hadapi saja kenyataan. Atau kalau kau memang tidak bersedia dimadu.... ya minta cerai?’

‘Kau tahu....? Repot berdiskusi dengan suami yang sudah rajin mengaji seperti suamiku. Katanya lagi, ada hadits, ada ucapan Nabi Muhammad bahwa wanita yang tanpa alasan yang jelas minta diceraikan suaminya, tidak akan masuk surga.’

‘Kan ada alasan.... Alasannya kau tidak sudi dimadu.....’

‘Katanya itu bukan alasan. Wanita boleh minta cerai kalau dia disakiti atau dia diabaikan suami. Tapi tidak bisa minta cerai hanya karena alasan dimadu....., katanya.’

‘Dengan menikah lagi itu, bukankah dia menyakiti hati istri?’

‘Entahlah.... Kata suamiku..... Selama dia bisa berlaku adil di antara istri-istrinya, tidak ada alasan seorang istri merasa disakiti hatinya.’

‘Ya nggak dong.... Dengan menikah lagi itu, pasti dia sudah menyakiti hati istrinya yang pertama.’

Di saat mereka asyik berbantah-bantahan itu Lela yang tadi mereka sebut-sebut melintas dengan setumpuk berkas surat di tangannya.

‘Lel! Mampirlah sebentar..... Ada yang mau kami tanyakan,’ kata Sri.

‘Tentang apa?’ tanya Lela tersenyum.

‘Kamu sudah makan? Mau ikut makan dengan kami?’ tanya Sri pula.

‘Pertanyaanmu itu pasti basa-basi. Kalau aku bilang aku mau ikut makan, kalian sudah tidak punya makanan lagi. Iya kan?’

‘Kalau kamu mau, aku pesan lagi. Mau?’

‘Ah nggak..... Aku bercanda. Aku lagi puasa....... Apa yang ingin ditanyakan?’

‘Ini pertanyaan serius.... Jadi jangan salah sangka...... ‘

‘Ya... pertanyaannya apa? Apanya yang serius?’

‘Suamimu menikah lagi......., benar kan?’

‘Ya.’

‘Kau mengijinkannya?’

‘Kenapa itu yang kau tanyakan? Suamimu kawin lagi juga?’

‘Bukan......... Tapi seandainya suami...... Seandainya suami memberi isyarat mau menikah lagi. Nah, suamimu itu dulu bagaimana ceritanya, sampai dia kawin lagi?’ tanya Sri.

‘Jadi benaran, suamimu sedang berencana mau kawin lagi?’

‘Katakan saja begitu..... Bukankah aturannya, menurut ketetapan atau undang-undang pemerintah, suami harus minta ijin ke istrinya dulu? Apakah hal sama juga kamu alami waktu itu?’

‘Jadi begitu? Baik..... Kalau kamu benar-benar ingin tahu ceritanya, begini pengalamanku itu. Suatu saat suamiku memberi tahu....... maksudnya minta ijin untuk menikah lagi. Jelas aku tidak mau memberi ijin. Lama sekali, ada berbulan-bulan, dia merayu-rayuku untuk minta persetujuanku. Aku tegas-tegas saja bilang, ceraikan saja aku, kalau dia mau menikah lagi. Dia nggak mau menceraikan aku tapi tetap bersikukuh mengatakan keinginannya untuk menikah lagi. Alasannya tidak masuk diakal. Katanya dia bersimpati kepada seorang perempuan yang ingin dinikahinya itu. Wanita itu seorang janda dengan dua orang anak yang masih kecil-kecil dan dia ingin membantu janda itu. Kataku silahkan saja dibantu, tapi jangan dinikahi. Katanya pula cara seperti itu justru tidak benar. Pokoknya ceritanya begitu-begitulah. Sampai suatu ketika dia memberi tahu bahwa dia sudah menikahi wanita tersebut. Reaksiku spontan, saat itu juga aku pergi dari rumah. Aku lari ke rumah orang tuaku. Aku beritahu orang tuaku bahwa kehidupan rumah tanggaku sudah bubar karena suamiku sudah menikahi wanita lain. Ayahku menasihatiku dan mengatakan bahwa tindakanku itu salah. Beliau mengatakan bahwa aku harus bersabar menghadapi kenyataan dan tidak seharusnya pergi dari rumah.

Ternyata suamiku menyusul ke rumah orang tuaku. Aku tidak mau menemuinya karena aku betul-betul muak melihatnya. Aku mengurung diri di kamar. Eh, dia malah minta ijin untuk ikut tinggal di rumah orang tuaku. Tentu saja akhirnya aku bertemu juga dengannya. Aku tidak mau menyapanya. Tapi, di rumah orang tuaku itu, entah dibuat-buat atau bagaimana, dia berlaku sebaik mungkin kepadaku.

Setelah beberapa hari, aku tetap belum mau pulang ke rumah, dan dia masih ikut tinggal di rumah orang tuaku, aku tanya, bagaimana dengan wanita itu? Maksudku, kenapa sekarang dia selalu hadir di rumah orang tuaku. Jawabnya benar-benar membuatku senewen dan mangkel. Dengan tenang dia katakan, minggu itu adalah giliranku, dan minggu berikutnya dia akan tinggal di rumah istri barunya. Aku mengamuk waktu itu dan mengusirnya ke luar kamar. Dia keluar kamar tapi tetap bertahan di rumah itu. Selama tiga hari berikutnya dia tidur di sofa di ruang tamu karena pintu kamar aku kunci. Dan benar saja, setelah seminggu dia memberi tahu bahwa dia akan ke tempat istri barunya untuk seminggu pula. Aku bentak dengan mengatakan, pergi saja kesana dan tidak usah kembali lagi.

Ayahku, seperti biasa selalu menasihatiku untuk bersabar. Seminggu kemudian dia kembali muncul. Aku tidak mau mengacuhkannya. Sementara dia tetap berusaha berbaik-baik denganku, tapi aku cuek saja. Selama seminggu pula dia ikut tinggal disitu dan tidur di sofa setiap malam.

Begitu yang terjadi sampai lebih kurang dua bulan. Dia datang seminggu dan pergi seminggu. Akhirnya aku menyerah. Mungkin benar, bahwa dia tidak ingin menceraikanku. Ditambah dengan nasihat kedua orang tuaku, akhirnya aku menerimanya kembali dan bersedia pula kembali ke rumah kami. Meskipun hatiku masih sering panas, apalagi ketika dia pergi seminggu dari rumah. Tetapi harus aku akui, bahwa ketika di rumah dia tetap seperti biasa. Memberikan perhatian dan memperlakukanku dengan sangat santun.

Akhirnya begitulah. Aku menerima nasib, mempunyai madu. Dan ternyata..... ya beginilah keadaannya,’ Lela mengakhiri ceritanya.

‘Artinya..... Sekarang kau menerima? Atau terpaksa menerima keadaan?’ tanya Sri

‘Ya..... Mungkin seperti kau bilang....., terpaksa menerima. Karena aku minta cerai dia tidak mau menceraikan aku. Aku lari ke rumah orang tuaku, disana orang tuaku mengijinkan dia ikut tinggal. Seolah-olah memberi angin kepada suamiku untuk tidak menceraikanku.’

‘Sudah berapa lama suamimu menikahi istri keduanya itu?’ tanya Wati.

‘Sudah hampir dua tahun.’

‘Pernah bertemu dengannya?’

‘Pernah.’

‘Berantem?’

‘Nggak.... Aku harus jujur mengakui bahwa dia wanita baik. Dia berlaku sangat sopan kepadaku dan sikapnya itu tidak dibuat-buat.’

‘Jadi? Kau berbaik-baik juga kepadanya?’

‘Awalnya aku bersikap judes kepadanya. Aku plototin, aku sinisin bahkan aku bentak. Tapi dia sangat sabar. Tidak melawan dan tidak mencari gara-gara. Tidak memancing-mancing pertengkaran. Akhirnya aku malu hati sendiri.’

‘Menurutmu apa kira-kira penyebab suamimu mau menikah dengannya?’

‘Anak. Kami tidak punya anak. Dan itu bukan salahku. Dokter mengatakan suamiku itu mandul sementara dia sangat ingin punya anak.’

‘Dan dia menyayangi anak tirinya itu?’

‘Ya..... ‘

‘Bagaimana dengan kau sendiri? Maksudku, apakah kau juga menyayangi anak tiri suamimu itu?’

‘Mereka memang anak-anak manis.... Yang memerlukan kasih sayang. Akupun menyukai mereka secara wajar-wajar saja.’

‘Memangnya apa yang terjadi dengan ayah mereka?’

‘Meninggal karena kecelakaan.’

‘Wah......! Seru juga pengalaman hidupmu....,’ Sri berkomentar.

‘Dan kalian? Apakah suami kalian sedang....... Atau sudah menikah lagi?’

‘Tidak,’ jawab Sri.

‘Mudah-mudahan jangan....’ Wati menambahkan.

‘Ya.... aku setuju denganmu. Mudah-mudahan jangan. Tapi kalau terjadi, ternyata ada kalanya tidak seburuk yang dibayangkan.’

Percakapan mereka terhenti ketika pak Adnan sudah kembali dari makan siang.


*****