Friday, October 7, 2011

Santri

SANTRI

Rafki sampai di rumah orang tuanya. Untuk berlibur hari raya selama dua minggu. Betapa menyenangkan untuk kembali berada di rumah ini, dekat ayah dan ibu serta adik-adiknya. Rafki adalah seorang santri di sekolah penghafal al Quran di luar kota, di kaki gunung Marapi. Sudah setahun dia menuntut ilmu di sana. Atas perintah ayah, karena ayah ingin dia menjadi seorang hafidz. Seorang penghafal al Quran. Doa penghafal al Quran itu diijabah Allah dengan mudah. Orang tuanya pun nanti akan dihimbaunya masuk ke surga atas izin Allah. Itulah sebabnya ayahnya, Khatib Sulaiman sangat berambisi menyekolahkan Rafki ke pesantren itu.

Dan selama setahun itu baru kali ini dia pulang ke rumah orang tuanya di Jambi. Meskipun pada awalnya dia tidak terlalu bersemangat meninggalkan rumah orang tuanya, Rafki sebagai seorang anak yang penurut, mematuhi arahan ayah itu. Tapi ternyata suasana di pondok itu cukup menyenangkan. Kawan-kawannya semua baik-baik. Ustadz-ustadznya baik-baik. Lingkungannya ramah dan menyenangkan. Di sana Rafki termasuk santri yang terbaik. Prestasi sekolahnya bagus. Dan dia sudah menghafalkan 3 juz terakhir al Quran dengan bacaan yang fasih dan bersih tajwijnya. Sebuah prestasi yang luar biasa.

Kemajuan Rafki selalu dipantau Khatib Sulaiman ayahnya. Dua kali seminggu ayah dan anak itu berkomunikasi melalui sms, melalui hape ustadz Saiful. Ayah selalu saja bertanya sudah sejauh mana kemajuan hafalan al Qurannya. Bagi ayah hal itu adalah yang paling penting. Alhamdulillah Rafki selalu melaporkan kemajuan. Melaporkan surah demi surah pada setiap juz terakhir yang sudah dihafalkan. Khatib Sulaiman bangga berbunga-bunga. Ingin sekali dia mendengarkan langsung bacaan anaknya itu. Akan dimintakannya ijin imam mesjid agar si Rafki mengimami shalat subuh di mesjid. Betapa akan menyenangkan, punya anak penghafal al Quran.

Sekaranglah tiba waktunya. Di saat Rafki pulang berlibur ini. Khatib Sulaiman yang paling bahagia dengan kepulangan anak sulungnya itu. Rafki terlihat agak kurus sedikit tapi sangat sehat. Matanya bersinar-sinar. Sinar mata seorang penghafal al Quran.

Adik Rafki yang persis di bawahnya bernama Zain, duduk di kelas lima SD. Zain juga terkagum-kagum dengan Rafki. Dengan da Rafki atau lebih ringkas dipanggilnya da Raf. Kakaknya itu sangat berpaham penampilannya sekarang. Sangat berbeda dengan ketika sebelum dia berangkat ke pesantren. Sejak sampai di rumah tadi siang, sudah beberapa kali Zain memergoki Rafki sedang bergumam dengan nada seperti orang mengaji. Tapi suaranya terlalu halus untuk bisa didengar. Zain tidak dapat menahan hatinya untuk bertanya.

‘Sedang apa da Raf ini?’ akhirnya dia bertanya.

Rafki hanya tersenyum dan terus juga seperti bergumam.

‘Da Raf mengaji?’

Rafki mengangguk.

‘Cobalah baca yang keras. Awak ingin mendengar.’

Rafki menyaringkan suaranya. Terdengar bacaannya yang sangat elok, tartil, dan teratur dengan irama agak cepat. Zain terkagum-kagum mendengarnya. Sepertinya bacaan itu sangat lancar. Tidak pernah sekali juga dia terhenti atau ragu-ragu.

‘Surah apa yang da Raf baca? Biar awak simak,’ kata Zain. Tangannya sudah memegang sebuah mushaf al Quran.

Kali ini Rafki menghentikan bacaannya. Diambilnya al Quran itu dari tangan adiknya dan dibukanya surah al Mujadalah, awal juz ke dua puluh delapan.

‘Simaklah baik-baik!’ katanya.

Rafki kembali membaca dan Zain menyimaknya. Ayat demi ayat itu dibacanya dengan jelas. Jelas panjang dan pendeknya, jelas dengungnya, jelas tasydidnya, jelas qalqalahnya. Zain semakin terkagum-kagum. Tidak ada satupun bacaan itu yang salah. Sampai Rafki menyelesaikan keduapuluhdua ayat. Dilanjutkannya pula dengan surah al Hasyr sampai selesai.pula.

Rafki masih terus mengaji. Adiknya Zain menyimak dengan bersungguh-sungguh dengan kekaguman. Betapa hebatnya kakaknya itu. Betapa hebatnya da Raf. Setelah itu kedua adik kakak itu terlibat dalam pembicaraan.

‘Berapa lama da Raf menghafalkan juz ke dua puluh delapan itu?’ tanya Zain.

‘Hampir tiga bulan sampai benar-benar hafal,’ jawab Rafki.

‘Semua teman di pondok hafal seperti itu?’

‘Hampir semua. Ada bahkan yang lebih cepat, yang sudah mulai menghafalkan juz dua puluh tujuh.’

‘Kenapa dari belakang menghafalnya?’

‘Kata ustadz memang lebih baik seperti itu. Dimulai dengan yang susah dari belakang, karena ayat-ayatnya pendek-pendek dan banyak. Tapi kalau kita berhasil menghafalkan juz-juz terakhir itu, juz seterusnya jadi lebih mudah dihafalkan. Juz ‘ama atau juz tiga puluh baru bisa hafal dalam waktu hampir lima bulan. Juz berikutnya sekitar empat bulan. Terakhir juz dua puluh delapan selama tiga bulan.’

‘Sampai kelas tiga nanti bisa hafal sampai juz berapa?’

‘Mudah-mudahan sampai sepuluh juz. Target ustadz-ustadz di pondok seperti itu dan mudah-mudahan kesampaian.’

‘Hebat sekali…… Awak juga ingin sekolah ke sana,’ kata Zain bersungguh-sungguh.

‘Sudah diberitahukan ke ayah dan mak?’

‘Sudah. Ayah sangat setuju. Hanya mak yang ragu-ragu karena nanti rumah jadi sepi kalau awak pergi. Begitu kata mak.’

‘Kan masih dua tahun lagi. Mudah-mudahan saja nanti mak tidak lagi ragu-ragu.’

‘Tolong doakan ya da Raf?!’

‘Ya, insya Allah da Raf doakan.’

Di waktu shalat maghrib, di rumah, ayah menyuruh Rafki jadi imam. Dia membaca surah al Kaafiruun dan surah al Ikhlas. Surah yang pendek. Rafki membacanya dengan fasih dan tartil. Ayahnya berkomentar bahwa kedua surah itu terlalu pendek. Ayah ingin mendengar surah yang lebih panjang dan beliau meminta agar shalat isya nanti Rafki membaca yang lebih panjang. Dan Rafki mematuhinya. Dia baca surah al Muzzammil dan al Muddatstsir. Dengan fasih. Dengan lancar dan tartil.

Khatib Sulaiman bahagia dan bangga. Bacaan anaknya itu sangat mengagumkannya dan menyenangkan hati.

‘Besok subuh kita shalat di mesjid Al Barkah,’ kata ayah.

Rafki mengangguk.

‘Da Raf akan disuruh jadi imam?’ tanya Zain.

‘Kalau Haji Ahmad menyuruh kau maju, maka kau maju saja jadi imam!’ kata ayah.

‘Kan tidak enak sama orang tua-tua ayah,’ jawab Rafki.

‘Ayah sudah memberitahu Haji Ahmad. Beliau tidak keberatan. Beliau bahkan sangat setuju. Katanya, biar anak-anak muda, atau setidak-tidaknya orang tua yang punya anak muda tertarik pula mengirim anak mereka ke sekolah penghafal al Quran.’

‘Ya da Raf. Baca surah yang tadi itu lagi saja,’ Zain ikut menyemangati.

Di waktu subuh ketiga ayah dan anak itu pergi ke mesjid Al Barkah tepat saat azan subuh dikumandangkan. Jamaah subuh di mesjid ini ada sekitar empat puluh orang. Umumnya orang tua-tua. Sebahagian besar berpakaian haji atau sekurang-kurangnya bersorban. Sesudah iqamat, Haji Ahmad memanggil Rafki yang duduk di saf belakang dan menyuruhnya jadi imam. Meski agak sungkan, tapi Rafki maju juga. Sebelum takbir memulai shalat diingatkannya para jamaah agar meluruskan shaf. ‘Sawuu sufufakum….,’ katanya. Dan mereka mulai shalat.

Rafki membaca surah al Insaan di rakaat pertama dan surah al Mursalaat di rakaat kedua. Suaranya yang nyaring dan terang itu bertambah indah berkat bantuan alat pengeras suara. Lalu mereka rukuk di rakaat kedua. Lalu I’tidal. Lalu langsung sujud. Terjadi sedikit ‘huru-hara’. Ada yang berdehem-dehem dan ada yang membaca subhanallaah. Rafki yang tidak merasa ada yang salah tidak bereaksi apa-apa dan meneruskan saja shalatnya sampai selesai. Waktu dia menoleh dan mengarahkan pandangan ke belakang, dilihatnya orang-orang tua itu pada sujud. Rafki agak terheran-heran. Rupanya beliau-beliau itu sujud sahwi. Apa yang salah? Apa yang terlupa? Rafki tidak habis pikir.

Ayah mendekat kepadanya dan berbisik.

‘Kenapa kau tidak membaca doa qunut?’

Rafki baru sadar. Rupanya itu penyebabnya. Dia tidak membaca qunut waktu shalat tadi. Tapi Rafki diam saja. Dia tidak berkomentar apa-apa.

Sampai di rumah ayah kembali menanyakan.

‘Kenapa kau tidak qunut?’

‘Qunut itu kan sunah saja ayah. Di pondok ustadz-ustadz tidak membaca doa qunut,’ jawab Rafki dengan nada biasa-biasa saja.

‘Apa? Tidak membaca qunut?’ suara ayah meninggi.

‘Tidak ayah. Membaca qunut itu tidak wajib. Di masjidil Harampun imam shalat subuh tidak membaca qunut,’ jawab Rafki.

‘Wah! Kalau begitu kau sudah masuk perangkap. Kau sudah masuk ke golongan yang keliru. Kita adalah anggota ahlus sunnah wal jamaah. Kita wajib membaca qunut. Kalau kau lupa kau harus sujud sahwi. Sayang….. Bacaanmu yang bagus tadi tidak ada artinya karena kau menyalahi aturan. Karena kau tidak membaca qunut.’

‘Ayah… Membaca qunut itu hanya sunnah. Tidak wajib. Tidak membacanya tidak menjadikan shalat tidak sah. Kami menonton di televisi Arab Saudi, di Masjidil Haram imam shalat subuh tidak membaca qunut dan tidak ada orang yang sujud sahwi,’ jawab Rafki berhati-hati.

‘Ternyata pesantrenmu itu milik golongan itu. Golongan yang suka membid-‘ah-bid-‘ahkan orang lain. Membid-‘ah-bid-’ahkan kita. Sebaiknya, atau ayah putuskan, kau tidak usah lagi balik ke sana.’

Rafki terperangah mendengar ucapan ayah. Begitu juga Zain. Bukankah sampai tadi malam ayah sangat benar bangga dengan bacaan al Quran Rafki? Benarkah dengan tidak membaca qunut waktu shalat subuh tadi dia sudah membuat kesalahan fatal? Rafki tidak ingin meneruskan bantahan dan memilih diam.

Dan ternyata ayah tidak main-main dengan keputusannya melarang Rafki kembali ke pondok.

‘Nanti kita cari pondok yang lain. Pondok dari golongan ahlus sunnah wal jamaah. Ayah akan menghubungi pimpinan pondok itu untuk memberi tahu bahwa kau tidak akan kembali lagi ke sana,’ begitu kata ayah.

Rafki sedih tidak boleh kembali ke pondok. Lebih sedih lagi karena dia yakin alasan ayah itu tidak masuk akal. Tapi dia tidak mau membantah. Dia tidak mau mendurhakai ayah. Zain juga terheran-heran dengan keputusan ayah itu yang dirasanya sangat aneh dan tidak adil. Padahal dia sudah bertekad untuk mengikuti jejak da Raf. Untuk ikut jadi santri di sekolah penghafal al Quran itu. Yang sekarang ternyata jadi buyar.


*****

Friday, September 16, 2011

MUSYKIL

MUSYKIL

Hari Selasa yang cerah. Pak Broto dan istrinya datang bertamu ke rumah kami. Mereka baru kembali dari mudik lebaran. Dalam suasana ceria di pagi yang cerah itu kami berbincang-bincang santai. Tentang perjalanan mereka pulang kampung. Pak Broto bercerita bahwa perjalanan itu seperti biasanya setiap tahun, tersendat-sendat di tengah kemacetan arus lalu lintas.

‘Lama juga di kampung kali ini,’ aku berkomentar.

‘Lumayan….. Pas seminggu, kami berangkat dari sini hari Ahad dan tadi malam sampai kembali di rumah,’ jawab pak Broto.

‘Aman-aman saja sepanjang perjalanan? Berapa jam di jalan?’ tanyaku lagi bertubi-tubi.

‘Alhamdulillah….. Aman…. Tapi, ya itu….. Jakarta – Solo dua puluh jam lebih. Berangkat dari rumah sehabis subuh, kami sampai di kampung sudah menjelang sahur lagi. Begitu juga waktu pulang. Macet. Di mana-mana macet dan berdesak-desak. Tidak ada perobahan dari tahun ke tahun,’ jawabnya.

‘Mungkin semakin macet barangkali karena saya dengar pemudik bersepeda motor semakin bertambah. Perjalanan yang berat. Tapi….., tetap puasa selama dalam perjalanan pulang waktu itu?’

‘Tinggal ibu Broto saja yang masih bertahan. Saya menyerah. Hari panas luar biasa, dan jalanan macet. Di dekat Cirebon, saya dan anak-anak sudah tidak sanggup lagi meneruskan puasa. Jam dua siang kami terpaksa batal.’

‘Sayang, ya,’ aku berkomentar asal-asalan.

‘Sayang memang….. Tapi begitulah, resiko mudik……. Eh, ngomong-ngomong, udo hari apa berhari raya?’ tanyanya. Sepertinya mengalihkan pembicaraan.

‘Hari Selasa. Sampeyan hari apa?’ jawabku sekalian bertanya pula.

‘Kami ikut pemerintah…. Hari Rabu. Udo pengikut Muhammadiyah rupanya.’

‘Kebetulan saja bersamaan. Saya bukan anggota Muhammadiyah.’

‘Sayang, ya…. Kita, umat Islam selalu saja berbeda hari berhari raya….’

Aku hanya tersenyum, tak menjawab.

‘Sepertinya orang Muhammadiyah terlalu pede dan ngotot. Mereka tidak mau ikut pemerintah,’ pak Broto memancing-macing.

‘Sebenarnya………’ kataku ragu-ragu.

‘Sebenarnya bagaimana, udo?’

‘Sebenarnya……., kalau kita yakin tentang sesuatu hal, kita memang harus pede. Harus berani mempertahankan keyakinan kita tersebut,’ jawabku.

Pak Broto menatap wajahku dengan pandangan penuh tanda tanya.

‘Orang Muhammadiyah begitu yakin dengan hasil perhitungan mereka. Dan mereka tidak mau mundur setapakpun. Padahal……., demi kebersamaan, apa salahnya mundur? Demi keutuhan umat. Apa bukan begitu pendapat udo?’

‘Entahlah. Tapi sayapun, ketika saya yakin bahwa hari raya kemarin itu jatuh pada hari Selasa, saya juga tidak mau mundur. Tidak mau ikut dengan pendapat pemerintah.’

‘Apa alasan udo?’

‘Saya percaya dengan hasil perhitungan. Baik yang dilakukan Muhammadiyah, atau organisasi lainpun. Bahkan dari informasi yang saya dapatkan di internet, dari Google. Ditambah pula kesaksian di bawah sumpah orang yang melihat hilal pada hari Senin sore itu. Saya sangat percaya dan yakin dengan semua itu, lalu saya tidak puasa lagi hari Selasa alias berhari raya pada hari itu.’

‘Jadi bukan karena fanatik sebagai……… orang Muhammadiyah?’

‘Sudah saya katakan. Saya bukan anggota Muhammadiyah.’

Sedang kami asyik berbincang-bincang itu terdengar suara salam dari luar. Rupanya ada bapak dan ibu Tahir, tetangga kami yang lain, yang juga baru kembali dari Medan. Kami bersalam-salaman.

‘Rupanya baru sampai juga pak Tahir,’ pak Broto mengawali.

‘Tadi malam pak. Tadi subuh kami sudah bertemu di mesjid. Bukankah begitu udo?’ jawab pak Tahir.

‘Pak Tahir lewat udara ya? Enak dan tidak capek,’ pak Broto menambahkan.

‘Lebih capek sedikit di kantong….he..he..he…’ jawabnya pula.

Ibu Tahir bergabung dengan bu Broto di ruang tengah. Istriku menyuruh kami pindah ke meja makan. Ada mie goreng istimewa yang baru disiapkannya.

‘Wah! Kita masih benar-benar berhari raya rupanya,’ celetuk bu Broto.

‘Ada suatu hal yang musykil di pemikiran saya. Saya ingin menanya pendapat udo,’ kata pak Tahir ketika kami duduk mengelilingi meja makan.

‘Tentang apa itu?’ tanyaku.

‘Sebelumnya…….., hari apa udo berhari raya?’ tanya pak Tahir pula.

‘Hari Selasa,’ jawabku pendek.

‘Nah! Itulah! Kami juga berhari raya hari Selasa. Tapi ada seorang kawan menjelaskan bahwa dengan demikian berarti kita tidak taat kepada pemimpin. Kepada pemerintah. Padahal al Quran memerintahkan agar kita taat kepada pemimpin. Bagaimana itu udo?’

‘Perintah untuk taat kepada pemimpin itu benar. Allah memerintahkan kita tentang yang demikian itu seperti firman-Nya dalam surah An Nisaa’ ayat 59,’ jawabku.

‘Jadi mungkin maksud udo……. Pemerintah kita sekarang ini bukan ulil amri minkum. Apa demikian udo?’ giliran pak Broto bersuara.

‘Mereka ulil amri kita,’ jawabku tersenyum.

‘Lah….. Bagaimana dong udo. Kata teman saya itu sebetapa tidak setujunyapun kita dengan pemimpin, namun kita wajib taat kepadanya. Bahkan, jika kita mati dalam keadaan tidak taat kepada pemimpin, maka mati kita seperti mati dalam keadaan jahiliyah. Udo pernah mendengar tentang hadits itu?’

‘Pernah. Hadits itu insya Allah sahih,’ jawabku pula.

‘Lho…. Semakin bingung saya. Kalau begitu? Kalau udo tahu ayatnya, tahu haditsnya, kenapa dong udo ikut berhari raya hari Selasa. Menyalahi ketetapan pemerintah?!’

‘Iya, udo. Kok sepertinya udo tidak konsisten?’ pak Broto ikut mendesak.

‘Baiklah! Surah An Nisaa’ ayat 59 itu berbunyi, artinya; ‘Hai orang yang beriman! Taatilah Allah dan taatilah Rasul-Nya dan Ulil Amri di antara kalian! Sekiranya ada perbedaan di antaramu tentang sesuatu, maka kembalikanlah kepada Allah dan Rasul, sekiranya kamu memang beriman kepada Allah dan hari akhirat………’

Begitu bunyi ayat itu lebih kurang. Kita diperintah untuk taat kepada Allah. Itu yang pertama. Taat dan patuh atas ketetapan-ketetapan Allah. Lalu yang kedua, kita wajib taat kepada Rasulullah SAW. Terhadap apa saja yang disampaikan oleh beliau baik itu perintah maupun larangan. Dan terakhir kita wajib patuh dan taat kepada pemerintah. Namun urut-urutannya harus seperti itu. Taat dulu kepada Allah, lalu kepada Rasulullah baru kepada pemimpin. Artinya, kalau ada sesuatu ketaatan itu bertabrakan antara taat kepada Allah, kepada Rasulullah dan kepada pemimpin, maka yang didahulukan adalah taat kepada Allah. Sampai di sini apakah bapak-bapak faham dan setuju?’

Semua mengangguk-angguk, meski terlihat masih agak bingung.

‘Taat kepada pemimpin itu lebih banyak untuk urusan dunia. Ketika pemimpin menyuruh kita taat membayar pajak, taat bergotong royong, taat menjaga negeri, maka kita harus patuh. Kalau kita ingkari, di sanalah berlaku hadits tadi itu. Seandainya kita mati, maka mati kita seperti mati dalam keadaan jahiliyah.’

‘Tapi….. maaf, udo. Kemarin itu pemerintah menyuruh kita berhari raya di hari Rabu. Apakah pemerintah tidak berhak memerintahkan seperti itu karena itu untuk beribadah kepada Allah?’ pak Broto yang bertanya.

‘Tentu saja Pemerintah boleh menetapkan seperti itu. Tapi seyogianya, pemerintah meniru contoh Rasulullah dan menyimak perintah Allah untuk mempergunakan akal dalam menetapkan ayat-ayat Allah. Di jaman Rasulullah SAW, ketika ada seseorang mengaku telah melihat anak bulan, orang itu disuruh bersumpah dengan bersyahadatain, dan orang itu melakukannya, maka pengakuan orang itu dijadikan landasan hukum. Rasulullah SAW memerintahkan umat untuk mulai berpuasa ketika itu. Rasulullah memerintahkan untuk mengamati munculnya bulan. Di jaman Rasulullah belum ada alat untuk menghitung, untuk mengamati bulan selain dengan mata telanjang. Tapi sekarang? Allah telah mengajarkan ilmu. Peredaran bulan itu bisa dihitung. Dan itu menjadi tanda kepada orang yang berakal, firman Allah. Jadi kita harusnya mempertimbangkan pula hal itu.’

‘Saya masih belum pas dengan perbandingan itu. Menurut saya, pemerintah sebagai Ulil Amri tentu juga bersungguh-sungguh dalam ketetapan mereka.’

‘Saya tidak mengatakan bahwa pemerintah tidak bersungguh-sungguh. Tapi di sini diperlukan pengujian dengan keyakinan kita sendiri. Kalau nanti di pengadilan Allah kita ditanyai, kenapa kamu melakukan sesuatu, lalu kita jawab karena saya taat kepada pemerintah, saya khawatir Allah tidak akan menerimanya. Saya khawatir Allah akan menanyakan apakah kamu tidak memikirkan yang diperintah pemimpinmu itu, karena ini dalam hal beribadah kepada-Ku?’

‘Jadi bagaimana hubungannya dengan keterangan seseorang mati jahiliyah jika dia tidak taat kepada pemimpin tadi, udo?’ tanya pak Tahir.

‘Begini, pak Tahir. Di sebuah negeri, di ujung sebuah benua, yang penduduknya terdaftar hampir seratus persen beragama Islam. Pada suatu ketika, seorang pemimpin negeri, presiden negeri itu, jadi pucuk dari Ulil Amri mereka, berpidato begini. ‘Kita harus bekerja keras membangun negeri kita ini. Tanpa kerja keras kita akan ketinggalan karena negeri kita ini adalah negeri yang tandus. Kita harus bekerja keras. Kita tidak mungkin bekerja keras kalau perut kita lapar. Kita pasti akan kelaparan kalau kita berpuasa. Oleh karena itu, untuk kebaikan negeri kita, untuk membangun negeri kita, saya perintahkan anda semua meninggalkan puasa Ramadhan. Ikutilah saya. Saya tidak berpuasa Ramadhan,’ kata sang presiden sambil mempertunjukkan minum air di hadapan rakyatnya di siang hari di bulan puasa.

Sekarang. Seandainya pak Tahir berada di antara rakyat negeri itu, apakah pak Tahir akan mentaati perintah sang pemimpin tersebut?’

‘Apa iya ada yang seperti itu, udo?’ pak Broto seperti tidak percaya.

‘Itu contoh dari negeri jauh, pak Broto. Di negeri kita ini, di tahun enam puluhan. Ada orang yang tahu tentang agama, orang yang dekat dengan pemerintah, berpetuah agar jangan mengerjakan sembahyang. Jangan shalat, begitu katanya. Orangpun bertanya, kenapa? Karena Al Quran mengancam orang yang shalat. Mereka akan dimasukkan ke dalam neraka wail nanti di hari kiamat. ‘Fawaillullil mushalliin….’ Dikutipnya ayat Allah sepotong saja. Neraka wail bagi orang yang shalat. Apakah pak Broto akan mematuhi anjuran seperti ini, apalagi dia menyitir ayat al Quran pula?’

‘Tentu kita tidak harus menelan bulat-bulat saja Kita wajib menelaah apa yang kita dengar, kalau memang dari yang disampaikan itu tidak pas,’ jawab pak Broto.

‘Persis seperti itulah adanya. Dalam ketaatan kepada pemimpin, kita harus mampu menyaring dan memikirkan. Jadi tidak kita telan bulat-bulat saja apa yang mereka sampaikan, seperti kata pak Broto.’

‘Rumit juga, ya udo,’ pak Tahir mendesah.

‘Harusnya tidak rumit. Di mana rumitnya?’

‘Artinya akan selalu saja umat bertikai dalam penetapan hari raya.’

‘Mudah-mudahan suatu ketika nanti tidak lagi demikian. JIka Allah berkehendak. Wallahu a’lam.’


*****

Wednesday, March 2, 2011

BOK

BOK

Ada perintah baru dari komandan tentara pusat. Wanita-wanita itu sekarang harus jadi penghuni asrama di malam hari. Penghuni rumah yang sudah disiapkan untuk mereka di sebelah rumah komandan buterpra. Diapit oleh rumah yang dijadikan asrama tentara pusat. Orang kampung kemudian hari menyebut nama asrama para istri itu sebagai bok. Entah kenapa demikian. Mereka harus datang sore-sore dan boleh pulang pagi-pagi. Seperti itu tiap hari tanpa kecuali. Begitu bunyi perintah untuk wanita-wanita malang itu. Wanita-wanita para istri tentara PRRI. Entah dari mana datangnya perintah seperti itu. Alasannya, konon karena menurut informasi dari tukang tunjuk, ada saja tentara PRRI yang pulang menemui istrinya lewat tengah malam. Tapi sayangnya, berkali-kali diintai oleh tentara pusat tidak pernah ada satu juga yang tertangkap.

Wanita-wanita itu tidak punya pilihan selain patuh. Melawan? Besar sekali resikonya. Meski mereka sangat khawatir. Khawatir kalau-kalau diperlakukan jahat oleh tentara pusat itu di malam hari. Tapi apa hendak dikata. Sekedar usaha, mereka sepakat untuk datang ke bok dalam kondisi seselebor mungkin. Tidak usah mandi Bahkan ada yang datang dengan memakai kodek di luar. Baju daster atau baju tidur kumal ditambah dengan kain panjang atau kodek yang dipakaikan menutupi bagian bawah daster.

Sesudah sembahyang isya berjamaah pintu rumah mereka kunci dan pasak dari dalam. Sekedar usaha menyelamatkan diri ala kadarnya. Agar tidak ada yang masuk ke asrama mereka itu. Di bok semua tidur di ruang tengah rumah. Berjejer-jejer, bersaf-saf. Sebuah kamar dijadikan kamar kecil. Di dalamnya disediakan dua buah pispot dan sebuah ember berisi air. Kalau ada yang ingin melepas hajat tengah malam, silahkan menggunakan kamar kecil tersebut.

**

Mansur anggota kompi Udin Pitok bukan main masygul. Siapa yang akan menjamin bahwa istrinya tidak akan dijahili? Tidak akan dicabuli oleh tentara-tentara pusat itu? Kemasygulannya disampaikannya kepada komandannya. Komandan Udin tidak melihat jalan keluar. Tidak melihat cara mengatasi masalah musykil itu. Kekhawatiran Mansur sangat beralasan. Istrinya itu cantik. Wanita muda berumur dua puluh lima tahun beranak satu. Tapi Mansur tidak akan menyerahkan diri karena itu. Dia berserah diri kepada Allah. Senantiasa berdoa agar istrinya dilindungi dan dipelihara Allah dari kedurjanaan.

Meski sudah berdoa, sudah berserah diri, tidaklah semudah itu untuk terbebas dari ketidaktenangan. Pernah pula diusulkannya agar pos tentara pusat di Biaro itu diserang saja. Komandan Udin tahu berapa kekuatan tentara di sana. Tidak lebih dari dua puluh orang. Di atas kertas mereka sanggup menyerangnya. Sanggup?

‘Sanggup,’ kata komandan Udin bersemangat. ‘Tapi tidak akan menyelesaikan masalah. Resiko nomor satu, jika serangan itu berhasil, tentara-tentara bantuan sesudah itu akan membakar kampung Biaro seperti biasa mereka lakukan. Resiko kedua, siapa yang akan menjamin bahwa wanita-wanita yang diasramakan itu akan terselamatkan? Kalau iyapun, apakah mereka sesudah itu akan dibawa masuk hutan? Meninggalkannya di kampung? Wah! Itu resiko yang lebih berat. Mereka pasti akan dapat perlakuan lebih dahsyat lagi.’

Mansur dan beberapa anggota pasukan Udin Pitok terdiam sambil melongo. Yang dikatakan komandan itu benar. Jadi bukan masalah sanggup atau tidak sanggup menyerang pos tentara berkekuatan dua puluh orang itu. Dengan berhati-hati dan melakukan serangan di subuh buta, kemungkinan berhasil sangat besar. Tapi ya itu tadi. Terlalu besar akibat yang akan ditanggung sesudah itu. Tapi membiarkan istri diasramakan setiap malam di bok itu? Masya Allah…….

**

‘Aku ada usul,’ kata Karimuddin dengan suara setengah berbisik.

Mata komandan Udin terbelalak. Dia tahu, Karimuddin adalah anggotanya yang agak spesial. Karimuddin ini berisi.

‘Apa usul kau Karim?’ tanya komandan Udin.

‘Kita ingatkan komandan buter itu agar jangan sampai terjadi yang bukan-bukan dengan istri-istri kita di bok di Biaro itu.’

‘Diingatkan? Bagaimana caranya?’

‘Kita datangi dia. Aku akan menyampaikan peringatan itu kepadanya….’

Anggota pasukan yang lain terdiam. Karimuddin bukanlah orang yang suka bergurau. Dia hanya berbicara seperlunya saja. Kebetulan istrinya memang termasuk dalam penghuni asrama bok itu.

‘Bagaimana caranya?’ komandan Udin tetap belum faham.

‘Aku hanya memerlukan dua atau tiga orang untuk jadi kawan ke sana,’ kata Karimuddin.

**

Jam dua belas malam mereka berangkat dari markas mereka di lereng gunung Marapi. Empat orang. Termasuk komandan Udin Pitok dan Mansur. Sampai berangkat Karimuddin tetap tidak menceritakan bagaimana caranya dia akan melaksanakan niatnya. Dia hanya mengajak pergi dan menyuruh lihat saja hasilnya nanti. Komandan Udin yakin bahwa Karimuddin tahu betul apa yang direncanakannya dan tahu pula bagaimana melakukannya, meski dia sendiri belum tahu. Dia tidak mau memaksa menanyakannya lagi.

Jam setengah dua mereka sudah berada pada jarak lima ratus meter dari Biaro Malam itu sangat gelap. Mereka berhenti sebentar di bawah sebuah pohon. Karimuddin memberitahukan rencana kerjanya.

‘Aku akan menyirap tentara-tentara itu,’ bisiknya. ‘Dan yang pertama-tama harus kutertibkan adalah anjing-anjing yang berkeliaran.’

Barulah rombongan itu mengerti sekarang. Dan mereka yakin, Karimuddin memiliki ilmu itu. Ilmu untuk menyirap.

‘Satu saja syaratnya yang tidak boleh dilanggar. Jangan sampai ada darah yang tertumpah. Tidak darah seekor tikus atau katak loncek sekalipun. Apa lagi darah manusia. Kita akan mendekati rumah itu sampai jarak seratus lima puluh meter. Sesudah itu tidak ada lagi yang boleh melangkah dalam berjalan. Kita harus menyelosohkan kaki agar tidak ada katak yang terinjak. Semua nanti menantiku pada jarak dua puluh lima meter dari rumah itu. Nanti akan aku beri kode untuk mendekat. Karena nanti kita akan mengambil sedikit oleh-oleh dari mereka.’

Semua mengangguk tanda mengerti.

Mereka dekati rumah sasaran sesuai petunjuk. Di depan rumah komandan buter itu ada sebuah gardu monyet dijaga oleh seorang tentara. Di beranda asrama ada lima orang tentara piket. Mereka terlihat terkantuk-kantuk. Semua itu jelas terlihat dari tempat ke empat tentara PRRI itu berada di kegelapan.

Karimuddin berkomat-kamit lalu meniup ke arah markas tentara itu. Ketiga anggota rombongannya menyaksikan bagaimana tentara di gardu monyet terjelepok seperti tapai jatuh. Begitu pula kelima tentara piket. Mereka mendekat ke jarak dua puluh lima meter seperti dijelaskan Karimuddin sebelumnya.

Karimuddin melenggang ke arah rumah di sebelah kiri. Mukanya ditutupi kopiah sebo. Itu adalah kediaman komandan buter. Sebelum naik kerumah itu Karimuddin kembali berkomat-kamit. Setelah itu dia masuk ke dalam rumah. Ada empat orang tentara di ruang tengah yang tertidur bergelimpangan. Dia langsung masuk ke kamar sang komandan. Kamar yang terdengar sangat riuh oleh suara dengkur.

Karimuddin mengangkat kepala komandan tentara itu lalu ditiupnya mukanya. Komandan itu terbangun dengan mata melotot karena kaget. Dia mencoba berteriak tapi mulutnya telah terlebih dahulu disodori ujung bedil Karimuddin.

‘Dengar!’ kata Karimuddin berwibawa. ‘Aku bisa membunuhmu sekarang. Aku bisa membunuh semua anak buahmu di luar. Anak buahku ada tiga puluh orang di luar sana. Aku tidak melakukannya. Kami bukan tentara biadab seperti kalian. Aku hanya ingin mengingatkan kau. Jangan sekali-kali kalian, kau dan anak buahmu berani mengganggu dan merusak istri-istri kami yang kalian kumpulkan di sini. Kalau sampai aku mendapat kabar ada dari istri-istri kami yang kalian ganggu, aku akan kembali lagi menguliti kepala kalian dalam tidur kalian. Faham kau?’

Keringat komandan tentara itu bercucuran. Dia mengangguk.

‘Baik….. Pesanku sangat jelas. Sekarang kau boleh tidur kembali, Sebelum kau tidur, biar kau tidak menyangka kau bermimpi, aku akan mengambil beberapa pucuk senjata anak buahmu di luar. Dan juga pistolmu ini,’ kata Karimuddin yang sudah mengambil dan mengantongi pistol sang komandan. Muka komandan tentara itu diusapnya. Dia langsung tertidur kembali.

Karimuddin keluar dari rumah itu menuju ke markas tentara di paling kanan. Dari serambi, di tempat kelima tentara piket tertidur bergelimpangan, diberinya isyarat ke arah teman-temannya. Ketiga orang itu datang mendekat. Mereka mengambil empat pucuk senjata tentara piket itu lengkap dengan magazine pelurunya. Lalu berlalu dari sana.

**

Gempar keesokan harinya. Komandan buter mendapat laporan bahwa empat pucuk senjata hilang. Tapi anehnya, komandan tidak marah. Petugas piket malam itu hanya dihukum ringan dengan empat puluh kali push up. Anggota tentara yang lain terheran-heran. Apa sebenarnya yang terjadi?

**

Sekali sepuluh hari biasanya Mansur tetap pulang ke rumah. Seperti anggota tentara yang lain. Mereka umumnya menyempatkan untuk di rumah sehari dua hari. Dengan senyap-senyap. Datang lewat tengah malam. Mansur gembira mendengar bahwa istrinya tidak pernah diganggu tentara-tentara pusat itu. Bahkan ada seorang tentara yang pernah mencoba usil, kedapatan oleh komandannya, langsung dihukum, begitu cerita istri Mansur. Dia semakin yakin bahwa upaya Karimuddin ternyata cukup berhasil.

*****

Friday, February 25, 2011

KENANGAN MASA PRRI (4)

4. Di Lengangnya Malam

Jam sembilan malam di malam yang gelap. Malam yang kelam. Kelam pirik kata orang di kampung. Gelap yang sedemikian rupa sehingga seseorang tidak bisa melihat tangannya sendiri yang diacungkan ke mukanya. Gelap karena langit tak berbintang, ditutupi awan. Tapi bukan malam yang sunyi. Suara kodok heboh di mana-mana. Kodok selalu berpesta pora di musim penghujan seperti sekarang ini. Dan suara jengkerik yang nyaring bersahut-sahutan. Kadang-kadang terdengar pula suara kepakan kelelawar.

Junaidi berjalan menggunakan naluri di jalan yang lanyah di dalam gelap itu. Menuju rumah tuan Asmar, wali jorong. Rumah itu agak terjorok ke dalam di tengah kampung. Melalui parak atau kebun betung. Suara desir daun betung ditiup angin ikut menambah ramai orkes malam di dalam gelap gulita itu. Ada tebat besar di samping rumah tuan Asmar. Junaidi berjalan meraba-raba di sisi tebat agar tidak jatuh terjerembab masuk air. Tuan Asmar memelihara anjing, yang dulu, sebelum perang sering dibawanya pergi berburu. Anjing itu menyalak ketika Junaidi mendekat ke rumah itu tapi hanya sebentar. Mungkin anjing itu segera mengenali bahwa yang datang adalah orang yang biasa datang. Junaidi sudah sampai di halaman rumah tuan Asmar tapi dia harus memutar. Kamar tuan Asmar terletak di sisi sebelah ke hilir.

Junaidi bergeritik pelan di dinding dekat kamar tuan Asmar. Lalu menunggu beberapa puluh detik. Setelah itu dari dalam terdengar pula ketukan halus di dinding papan rumah itu. Terakhir Junaidi mengulangi lagi dengan ketukan pelan-pelan. Ditunggunya lagi beberapa saat sampai akhirnya terdengar suara pelan dari arah kamar.

‘Engkau?’ suara itu setengah berbisik.

‘Iya,’ jawab Junaidi, juga hampir berbisik.

‘Lalulah ke pintu,’ perintah dari dalam.

Junaidi sudah diberi tahu semua prosedur itu waktu dua hari yang lalu dia datang ke rumah ini. Dia harus datang dengan sangat rahasia, tidak boleh dilihat siapapun. Karena kalau ketahuan, akan buruk akibatnya untuk tuan rumah dalam suasana perang seperti sekarang ini. ‘Lalulah ke pintu’ yang dimaksud tuan Asmar adalah melewati pintu kandang. Pintu kandang itu terletak di bagian belakang rumah, dipasak dengan tongkat dari dalam rumah. Tuan Asmar berjalan berjinjit-jinjit ke dekat pasak kandang itu dan menarik tongkatnya. Junaidi mendorong pintu itu, lalu masuk, menutup pintu kembali, untuk kemudian meraba-raba ke arah tangga. Ada tangga untuk masuk ke rumah, ke bilik di bagian belakang rumah. Pintu masuk dari kandang ke bilik itu adalah lantai rumah yang dipotong dan bisa diangkat. Biasanya lantai yang dipotong jadi pintu itu ditutupi dengan tikar.

Junaidi naik ke rumah. Bilik itu diterangi sebuah lampu togok yang nyalanya sangat kecil. Tuan Asmar sudah duduk di lantai bilik itu.

‘Sudah benar-benar siap, kau?’ tuan Asmar bertanya dengan berbisik.

‘Sudah, tuan,’ jawab Junaidi, juga berbisik.

Mereka melanjutkan pembicaraan dengan berbisik-bisik.

‘Apa saja yang kau bawa dalam buntilmu ini?’

‘Pakaian tiga pasang dan kain sarung,’ jawab Junaidi.

‘Cukuplah itu. Kau tidak membawa-bawa uang, kan?’

‘Ada, dua ratus rupiah.’

‘Ya sudahlah. Tidak ada kau bawa barang-barang berharga, kan? Tidak kau bawa barang emas misalnya…’

‘Hanya jam tangan ini. Yang lain tidak ada, tuan.’

‘Apakah kau memerlukan benar jam tangan itu?’

‘Kenapa tuan?’

‘Untuk berjaga-jaga saja. Supaya tidak menjadi sesuatu yang menimbulkan perhatian. Yang aku khawatirkan, dalam keadaan tidak seperti biasanya di luar sana kawan-kawan pun bisa saja tergoda berbuat jahat. Faham kau?’

‘Akan ambo simpan di kantong saja kalau begitu tuan. Kalau memang tidak ada yang memakai jam tangan, tidak akan ambo pakai.’

‘Baiklah kalau begitu. Begini….. Kau tidur saja dulu di sini. Tan Basa akan datang lewat tengah malam nanti.’

‘Baik, tuan.’

‘Ada yang akan kau tanyakan?’

‘Tidak ada, tuan.’

‘Kau tentu sudah dinasihati orang tua kau tadi di rumah. Aku tidak akan menambahkan apa-apa lagi selain mengingatkan kau agar pandai-pandai menjaga diri. Yang akan kau sabung adalah nyawamu. Senantiasalah kau mengingat Tuhan Allah.’

‘Ya, tuan. Ambo pegang teguh nasihat tuan.’

‘Sudahlah…... Aku akan kembali ke bilikku dulu.’

Tuan Asmar meninggalkan Junaidi di dalam bilik itu. Dia keluar dengan berjinjit-jinjit kembali ke kamarnya.

Junaidi duduk bersandar ke dinding. Sambil menerawang. Mengingat langkah yang sudah dibuatnya sampai detik itu. Sejak dia berbicara menggunakan bahasa rahasia dengan tuan Asmar dua hari yang lalu. Bahasa kode yang diketahuinya dari temannya Tamrin yang dulu mengajaknya untuk ikut ke luar. Tamrin sudah ikut bergabung dengan tentara luar sejak tiga bulan yang lalu. Tamrin dulu mengajarkan, bagaimana caranya membuka pembicaraan dengan tuan Asmar seandainya suatu hari dia juga ingin ikut.

Mulanya, tuan Asmar tidak menanggapinya. Mungkin beliau tidak percaya bahwa Junaidi akan ikut-ikutan lari ke hutan. Bukankah dia seorang guru? Junaidi bercerita singkat tentang pengalamannya ditangkap dan dipekerjakan tentara APRI hari itu. Dan keinginannya untuk ikut bergabung dengan tentara luar dikarenakan pengalaman pahitnya itu. Tuan Asmar menanyakan kesungguh-sungguhannya, yang dijawabnya bahwa dia sangat bersungguh-sungguh. Wali jorong itu akhirnya percaya, bahkan mengatakan seandainya dia siap dia bisa langsung ikut malam itu juga.

Tapi Junaidi baru siap hari itu. Waktu mereka bertemu dan berbicara dengan berhati-hati dua hari yang lalu, tuan Asmar memberi tahu agar datang paling cepat jam sembilan malam. Lalu diberitahunya pula kode yang akan digunakan. Maksudnya agar jangan sampai ada orang kampung yang tahu atau melihat bahwa Junaidi datang ke rumah tuan Asmar sebelum dia menghilang dari kampung.

Tadi dia sudah berpamitan dengan ayah dan mak. Sudah berpergilah bertinggallah. Mak terlihat lebih tegar di saat-saat terakhir ini. Sejak kedatangan mak dang Endah Kayo tadi sore. Mak hanya berpesan agar dia senantiasa mendekatkan diri kepada Tuhan Allah. Tidak melupakan sembahyang. Ayah pun berpesan begitu pula. Dalam keadaan takut, dalam keadaan bahaya, sembahyang itu bahkan boleh dikerjakan dalam keadaan berjalan. Begitu ketetapan Tuhan Allah di dalam al Quran. Jadi, kata ayah, jangan sekali-kali sampai kau meninggalkan sembahyang. Kalaulah Tuhan Allah berkehendak, engkau terkorban, ayah doakan agar kau menjadi seorang syuhada. Begitu kata ayah memberinya nasihat. Disalaminya ayah dan mak dengan takzim. Dia minta doa restu dan minta maaf. Minta agar diikhlaskan seandainya terjadi apa-apa dengan dirinya selama dia pergi meninggalkan rumah. Dan mak sungguh sangat tegar. Beliau tidak meneteskan air mata sedikitpun.

Dan sekarang dia sudah berada di sini. Di rumah tuan Asmar. Menunggu rombongan tentara luar yang akan membawanya ikut pergi. Dan dia sudah siap untuk sehidup semati dengan mereka. Niatnya, melawan kemungkaran. Melawan kelaliman dan kesemena-menaan seperti yang telah dialaminya sendiri. Sudah disaksikannya korban berjatuhan di kampungnya. Anak-anak muda teman sepermainannya.

Dia tahu, yang dihadangnya adalah kesulitan. Tentara luar itu tinggal di hutan. Mungkin bukan di tempat yang layak. Mungkin tidak jelas bagaimana makan minumnya. Dan dia sudah siap. Kalau semua makan rumput hutan dia akan ikut makan rumput hutan. Kalau semua tidur di alam terbuka dia akan ikut tidur di alam terbuka. Dan semua telah diawalinya sejak menapakkan kaki dari rumah orang tuanya tadi. Dengan bismillah.

Malam semakin larut. Di luar terdengar suara kodok bersahut-sahutan, tidak berhenti-henti dari tadi. Dan suara jengkerik. Dan suara lolongan anjing di kejauhan.

Junaidi tidak berusaha tidur. Dia ingin menunggu sampai rombongan itu datang. Mungkin tiga jam lagi. Digiringnya ingatannya ke awal peperangan ini.

Terbayang di pelupuk matanya ketika puluhan pesawat terbang APRI menderu dari arah timur, melintas di udara. Saat itu dia sedang berada di atas bendi di Parit Putus akan menuju Bukit Tinggi. Pesawat-pesawat itu rupanya datang untuk membom pemancar RRI di Simpang Limau. Entah kenapa pemancar itu yang jadi sasaran. Melihat pesawat-pesawat itu meraung-raung di udara dan mendengar suara tembakan, mak kusir memutuskan untuk kembali ke Biaro. Mengerikan sekali pemandangan ketika itu. Kuda-kuda bendi bagaikan dipacu kusirnya menjauh dari Bukit Tinggi.

Beberapa pekan kemudian suasana perang semakin terasa. Tiap hari terdengar suara letusan mortir ditembakkan dari Bukit Tinggi ke arah Lasi di kaki gunung Marapi. Dimana-mana orang membicarakan peperangan. Kampung jadi ramai karena orang-orang dari kota-kota pulang ke kampung. Orang berharap di kampung bisa terhindar dari suasana perang.

Dan dia ingat Tamrin, temannya di Sekolah Rakyat. Junaidi melanjutkan sekolah ke SGB di Bukit Tinggi, sedangkan Tamrin melanjutkan ke SMP di Tanjung Alam. Ketika perang itu pecah, Tamrin sudah duduk di kelas tiga SMA B Bukit Tinggi, tapi dia tidak bisa melanjutkan sekolah karena Bukit Tinggi sudah diduduki tentara APRI. Tamrin memutuskan untuk ikut bergabung dengan tentara PRRI. Diajaknya Junaidi ikut. Alasannya karena negeri kita diserang dan kita diperangi, jadi kita ikut membela negeri. Alasan Tamrin hanya seperti itu. Junaidi faham dengan apa yang dikatakan Tamrin. Tapi dia sedang menikmati pekerjaannya sebagai guru. Dia berkeyakinan guru tidak akan terganggu oleh peperangan.

Ternyata dugaannya salah. Sebagai remaja berumur sembilan belas tahun dia tidak aman sedikitpun. Belum terlalu fatal yang dialaminya. Dan dia tidak ingin sampai kejadian yang benar-benar fatal itu menimpa dirinya.

*****

Sunday, February 20, 2011

KENANGAN MASA PRRI (3)

3. Berpetaruh

Sesudah sembahyang asar, Junaidi pergi ke rumah engku Mukhtar. Engku Mukhtar adalah guru senior di tempat Junaidi mengajar. Usianya sudah hampir 30 tahun. Dia tinggal di rumah istrinya yang juga jadi guru agama di sekolah di kampung mereka. Istri engku Mukhtar tamatan PGA Dinyah.

Uni Salma, istri engku Mukhtar mendengar ketika Junaidi mengucapkan salam. Dia sedang memasak di dapur.

‘Ada engku di rumah, uni?’ tanya Junaidi.

‘Ada. Naiklah, Jun! Beliau ada di atas.’

‘Apakah beliau sedang beristirahat? Kalau boleh, ambo ada perlu dengan engku sebentar.’

‘Tidak. Beliau tidak sedang istirahat. Sedang merintang-rintang si Bungsu. Naik sajalah ke rumah.’

Engku Mukhtar rupanya mendengar pembicaraan itu. Dijemputnya Junaidi ke pintu.

‘Ke rumahlah!’ katanya.

Junaidi segera naik ke rumah. Diikutinya engku Mukhtar ke ruangan tengah rumah gedang itu. Sebuah buayan bayi tergantung dengan tali-talinya diikatkan ke tonggak rumah. Buayan itu masih berayun-ayun. Di dalamnya ada bayi berumur tiga bulan sedang tidur. Kedua orang laki-laki itu duduk di tikar. Engku Mukhtar sekali-sekali menggoyangkan buayan itu agar tetap berayun.

‘Dari rumah, kau?’ tanya engku Mukhtar.

‘Ya, engku……,’ jawab Junaidi.

‘Bagaimana kabar etek Munah?’

‘Baik-baik saja engku.’

‘Bagaimana ceritanya sampai kau dibawa ke Lasi kemarin itu? Aku dengar kau sedang mengirik di sawah.’

‘Benar. Kami sedang mengirik di Bandar Panjang. Tiba-tiba sudah muncul saja tiga orang serdadu APRI itu. Mata mereka tertuju sangat ke ambo. Entah kenapa, sangat benar benci mereka kepada anak-anak muda. Ambo dihardiknya menanyakan apakah ambo tentara pemberontak. Ambo jawab bahwa ambo guru. Ditanyakannya surat-surat. Di mana pula terpikir akan membawa surat-surat ke sawah. Ambo jawab bahwa ambo tidak membawa surat apapun. Marah dia. Ambo ditamparnya. Begitulah. Setelah itu ambo, mak Kari Mudo dan mak Lenggang, kami bertiga dibawanya ke Lasi.’

‘Sampai disana? Apa yang mereka lakukan?’

‘Kami disuruh menggali lobang. Lobang besar mengelilingi rumah yang rupanya dijadikan markas mereka.’

‘Berapa orang semua yang disuruh bekerja seperti itu?’

‘Ada sekitar empat puluh orang. Mungkin lebih. Orang Biaro, orang Balai Gurah, orang Ampang Gadang.’

‘Ada pula yang kena tangan di sana?’

‘Tidak… Tapi kami dibentak-bentak mereka.’

‘Apa yang mereka katakan?’

‘Mereka katakan kami semua saudara-saudaranya pemberontak. Mereka bilang, mereka akan menghabisi semua pemberontak itu.’

‘Jumawa sekali…..’

‘Memang…. Mereka sangat sombong-sombong. Memandang kita seperti melihat sampah. Tidak ada sopan santunnya sedikit juga. Padahal banyak juga di antara kami yang sudah berumur.’

‘Peperangan memang selalu bengis. Selalu mengerikan. Terutama untuk rakyat yang tidak ikut-ikut berperang.’

Engku Mukhtar kembali mengayun-ayunkan anaknya dalam buayan. Anak itu terbangun dan merengek-rengek kecil.

‘Sampai jam berapa bekerja?’ engku Mukhtar melanjutkan.

‘Kira-kira sampai jam setengah lima.’

‘Lalu? Setelah itu disuruh pulang?’

‘Ya…. Kami disuruh pulang.’

‘Semua disuruh pulang? Tidak ada yang ditahan?’

‘Semua. Rupanya kami ditangkapi memang untuk dipekerjakan menggali lobang itu saja.’

‘Ya, syukurlah kau tidak diapa-apakan mereka….. Sangat memilukan nasib si Nurman, si Taufik, si Bahrin dan si Firman yang tertembak kemarin. Si Bahrin serupa pula dengan si Pudin yang mati pekan yang lalu, pecah kepalanya.’

‘Engku melihatnya?’

‘Ya, aku melihatnya. Bagaimana tidak akan melihatnya, dia terjelapak di bawah pohon damar di seberang tebat di belakang rumah ini.’

‘Engku sendiri? Dimana kemarin ketika tentara-tentara itu masuk kampung?’

‘Aku di rumah. Kami bersunyi diri saja di rumah. Kalau seandainya mereka naik, tentu kuperlihatkan saja surat keterangan kita. Tapi untunglah tidak ada yang naik ke rumah. Di halaman terdengar teriakan-teriakan dan sumpah serapah mereka.’

‘Terdengar tentunya bunyi tembakan?’

‘Sangat jelas terdengar. Anak-anak menjerit ketakutan. Waktu mendengar bunyi letusan itu mulut anak-anak kami tutup dengan tangan.’

‘Ya…. Itulah…. Enteng betul nyawa manusia bagi tentara-tentara kepuyuk itu….’

Sedang mereka berbincang-bincang itu, uni Salma datang membawa nasi dan gulai. Mereka rupanya akan makan sore. Junaidi agak salah tingkah. Mau ditinggal pergi, padahal dia belum sempat menyampaikan keperluannya.

‘Atau….. Biarlah ambo pergi dulu engku. Biar nanti ambo kembali lagi….,’ kata Junaidi ragu-ragu.

‘Mau kemana pula, kau? Di luar hari hujan. Ini si Salma meletakkan nasi. Makan kita dulu.’

‘Ndak usahlah engku….. Biarlah ambo……’ Junaidi tidak menyelesaikan kata-katanya karena dipotong oleh Salma.

‘Hei….. janganlah bertea-tea Junaid, di sini bukan rumah orang lain. Uni meletakkan nasi, masakan engkau mau pergi. Jangan pergi…… Makan dulu, nanti kita teruskan rundingan. Ada cerita yang akan uni sampaikan,’ kata Salma berwibawa.

Junaidi tidak berani lagi menolak.

Dan mereka makan sore beramai-ramai. Dengan mak tuo, ibu Salma dan juga dengan anak-anaknya.

‘Uni sudah sampaikan ke pak Tarmizi, agar kau diperbolehkan mengajar di sini saja. Jadi tidak usah berulang ke Lambah. Uni katakan, terlalu besar resiko bagi orang muda seusiamu, melintasi jalan besar di Biaro dalam suasana seperti sekarang ini,’ uni Salma bercerita sementara mereka makan.

‘Apa kata pak Tarmizi?’ tanya engku Mukhtar.

‘Beliau tidak menganjurkan tapi tidak pula melarang. Beliau faham bahwa anak-anak muda seusia Junaidi ini memang jadi sasaran tentara pusat itu. Uni simpulkan saja bahwa beliau mengizinkan.’

‘Bagaimana dengan engku Mukhtar sendiri?’ tanya Junaidi.

‘Uni usulkan juga. Tapi uda bersikukuh tidak mau pindah.’

‘Orang seusia aku ini mudah-mudahan tidak lagi jadi incaran tentara pusat. Aku tambah tuakan penampilan, aku selalu berkopiah dan aku bawa tas guru. Kalau mereka hentikan juga, aku perlihatkan surat keterangan,’ engku Mukhtar menjelaskan.

‘Sudah pernah engku berserobok dengan mereka?’

‘Sudah tiga kali. Sekali di Biaro, sekali di Lambah dan yang terakhir di lebuh kita ini.’

‘Aman-aman saja?’

‘Kecuali hardikan dan bentakan, alhamdulillah aman-aman saja. Bentakan-bentakan itu biarkan sajalah.’

Mereka selesai makan. Di luar hujan masih turun.

‘Sebenarnya begini, engku,’ kata Junaidi mengawali pembicaraan kembali.

‘Begini bagaimana? Apa yang ingin kau sampaikan?’

‘Ambo ingin mintak tolong, engku. Ambo berhutang kepada engku Rusyad dua puluh rupiah. Ambo mintak tolong disampaikan kepada beliau uang ini,’ kata Junaidi menyerahkan sebuah amplop yang dikeluarkannya dari saku bajunya.

‘Kok aneh benar? Kalaupun pindah mengajar ke sekolah di sini, apa tak sebaiknya engkau usahakan juga berpamitan dengan guru-guru di Lambah itu?’ tanya engku Mukhtar.

‘Mungkin tidak sempat lagi ambo ke sana engku…..,’ jawab Junaidi pula.

‘Tidak terlakit? Mau kemana kau?’

‘Begini engku…… Ambo akan ikut ke luar…’ jawab Junaidi setengah berbisik.

Engku Mukhtar terbelalak mendengar. Begitu pula dengan uni Salma, istrinya. Tidak ada yang berkata-kata untuk beberapa saat.

‘Engkau…Engkau bersungguh-sungguh?’ engku Mukhtar bertanya setengah tidak percaya.

Junaidi mengangguk.

‘Sudah kau pikirkan betul matang-matang? Bukankah perang ini sangat menakutkan? Kau akan ikut menyabung nyawa?’

‘Ambo sudah berpikir panjang, engku. Dan ambo sudah memutuskan.’

‘Apa kata etek Munah? Kata pak etek?’

‘Ambo telah berusaha meyakinkan beliau. Itu adalah yang terbaik yang dapat ambo lakukan. Tidak ada sedikitpun jaminan keamanan bagi ambo kalau tetap bertahan di kampung.’

‘Bukankah ada surat keterangan dari kepala sekolah?’

‘Tidak ada jaminan engku. Bukankah mereka yang ditembaki tentara pusat itu tanpa ditanya apa-apa? Dibedil begitu saja dari belakang….’

‘Terperangah aku medengar yang kau sampaikan. Tapi tidak pandai pula aku berkomentar..’

Junaidi tersenyum lirih.

‘Kapan kau….. akan pergi?’

‘Belum ada kepastian engku…. Tapi segera…’

‘Ya Allah….. peperangan ini……’ engku Mukhtar tidak meneruskan kata-katanya.

‘Engku….. Biarlah saya mohon diri dulu. Sekali lagi tolong engku sampaikan petaruh saya ini kepada engku Rusyad. Tolong sampaikan permohonan maaf saya kepada engku-engku dan ibu-ibu guru di Lambah.’

Mereka terdiam semua. Uni Salma meneteskan air mata tanpa disadarinya. Tapi itu bukan saat untuk berbagi duka. Junaidi segera berlalu setelah berpamitan.

*****

KENANGAN MASA PRRI (2)

2. Ketika Tekad Sudah Bulat

Jam lima petang hari. Matahari yang bersinar cemerlang sudah mendekati ufuk di tepi langit sebelah barat. Hujan panas di sore itu, sesudah hampir seharian cuaca senantiasa gelap-gelap panas. Di langit, di kaki gunung Marapi ada pelangi. Mangindo namanya kata orang kampung. Merah, kuning, biru, jingga yang sangat cemerlang, melengkung indah di atas bukit Bulek di ujung gunung Marapi. Saat itu memang di musim penghujan di tahun 1958. Batang air dan tali bandar dialiri air cukup deras. Dan lanyah di mana-mana.

Yazid Endah Kayo sedang menuju ke rumah saudara perempuannya, Maimunah di bawah kucuran hujan. Bertudung daun pisang. Adiknya itu memintanya datang ke rumah karena ada hal musykil yang ingin dibicarakannya. Sebenarnya Endah Kayo sudah tahu tentang hal musykil yang dimaksudkan adiknya itu. Maimunah memang sangat memerlukan sumbangan pemikiran, di saat hatinya sedang terombang-ambing dalam kegalauan.

Endah Kayo menaiki tangga rumah adiknya itu. Tudung daun pisang disandarkannya di cibuak betung tempat air pencuci kaki. Di rumah sudah ada Salim Sutan Panduko suami Maimunah. Mereka duduk di tikar menghadapi hidangan makan sore, menunggu kehadiran Endah Kayo. Di kampung orang makan di sore hari, terlebih-lebih sejak bergejolaknya perang. Orang jadi takut beraktifitas di malam hari. Sesudah waktu isya, kampung biasanya sudah sunyi senyap.

Mereka makan bertiga. Tanpa bicara. Endah Kayo melihat mata adiknya yang sembab. Tentu karena banyak menangis.

‘Apakah si Junaid sudah berbicara dengan tuan?’ tanya Sutan Panduko sesudah mereka selesai makan.

‘Ya, sudah,’ jawab Endah Kayo pendek.

Dinyalakannya sebatang rokok. Dihisapnya rokok itu dalam-dalam. Mata Endah Kayo menerawang mencari-cari. Semua terdiam. Tidak tahu entah dari mana akan memulai pembicaraan lanjutan.

‘Sekarang kemana dia?’ tanya Endah Kayo pula.

‘Tadi katanya mau menemui guru Mukhtar. Sudah sejak waktu asar tadi dia pergi,’ jawab Maimunah.

‘Kelihatannya sudah keras benar hatinya,’ kata Endah Kayo.

‘Kan itulah tuan. Itu yang mencemaskan kami benar. Sepertinya memang seperti yang tuan katakan, tidak bisa dilerai lagi. Bagaimana eloknya menurut tuan?’ tanya Sutan Panduko.

Endah Kayo menarik nafas Asap rokoknya bergabun-gabun ke udara.

‘Apa yang dikatakannya kepada tuan?’ giliran Maimunah bertanya, memecah kesunyian.

‘Dia mengatakan bahwa dia akan ikut ke luar. Itu saja…..’ jawab Endah Kayo.

‘Tidak tuan nasihati dia? Tidak tuan larang dia pergi?’

‘Aku tanyai. Apa alasan kau pergi? Apa gara-gara kau disuruh mereka menggali lobang di Lasi itu? Hanya karena itu kau mau ikut-ikutan ke luar? Begitu kukatakan.’

‘Apa katanya kepada tuan?’

‘Bukan hanya karena itu, katanya. Dia akan melawan kelaliman. Tentara pusat itu tentara lalim. Tentara yang tidak tahu sopan santun. Bengis, pembunuh rakyat sipil. Pembunuh anak-anak muda. Itu semua adalah kelaliman. Dan dia ingin ikut memerangi mereka. Begitu katanya.’

‘Tidakkah tuan nasihati dia? Bahwa yang akan dihadangnya adalah maut? Pergi berperang….. Ya Allah….., baru sembilan belas tahun umurnya. Akan ikut pula dia berperang,’ Maimunah berkeluh kesah.

‘Apa lagi yang mesti kukatakan? Apa yang disebutkannya benar belaka. Memang seperti itu pula yang aku perhatikan. Aku……. Kalaulah umurku masih sedikit lebih muda, mau pula rasanya aku pergi….’

‘Ya Allah! Usahlah tuan. Usahlah itu yang tuan sebut….’

‘Maaf…. Waktu kepada tuan tentara itu melepaskan tangan pula….. di hari mengirik kemarin itu… Apa yang dikatakannya?’ tanya Sutan Panduko.

‘Apa yang dikatakannya? Dia tanyakan apakah aku pemberontak. Aku jawab, tidak, aku ini petani. Eh, plak…… Langsung sampai tangannya di pipiku. Tidak pandaikah berbahasa Indonesia? katanya ketika menampar itu. Sudah hampir enam puluh tahun umurku. Ditampar tentara yang seumur dengan si Junaid itu. Memang sangat menyakitkan. Sakit hatiku kalau mengingat-ingat hal itu. Tentara-tentara ini lebih bejad dari tentara Jepang dulu. Orang Jepang main pukul juga, tapi tidak sembarangan menembak orang lalu lalang. Ini…. Di kampung kita ini. Sudah bertujuh anak-anak muda mati. Anak-anak muda tak bersenjata….. Anak-anak muda tak berdosa apa-apa.’

‘Ya… bertujuh. Termasuk si Pudin,’ kata Sutan Panduko lirih.

Semua kembali terdiam. Pasti Sutan Panduko juga teringat kepada kemenakannya Safruddin yang mati tertembak sepuluh hari yang lalu. Tertembak di rumpun betung, ketika dia akan mengeluarkan kerbau dari kandang. Si Pudin memang agak kurang pendengarannya. Mungkin dia tidak sadar ketika tentara pusat itu datang. Mungkin dia tidak mendengar ketika tentara itu berteriak ke arahnya. Lalu dia ditembak. Peluru menembus kepalanya dari arah samping sehingga otaknya berhamburan.

‘Jadi kalau menurut tuan?’ tanya Sutan Panduko.

‘Kalau menurutku, biarkanlah dia pergi. Lebih terjamin jiwanya dengan lari ke luar itu. Tinggal di kampung, meski dia guru, meski diperlihatkannya surat keterangan bahwa dia guru, aku khawatir ada saja di antara tentara-tentara yang tidak sendereh itu akan melepaskan tangan kepadanya. Dan aku khawatir pula, seandainya sekali waktu, tanpa sadar dilawannya tentara-tentara itu, maka serta merta habislah dia. Jadi….. kalau menurut pendapatku, biarlah dia pergi.’

‘Ya Allah….. Kalau nyampang singkat umurnya. Betapa akan pedihnya hatiku……’ ujar Maimunah.

‘Ucapanmu itu seperti kata-kata orang tidak beriman. Urusan umur ada di tangan Tuhan Allah. Di sini akan mati. Di luar akan mati. Eloklah di sana dia mati. Apatah lagi dia berniat berperang melawan kelaliman. Kita tidak mengerti urusan politik, tapi dengan apa yang diniatkannya itu, maka itu sudah yang sebaik-baik niat. Seandainya dia mati, insya Allah matinya syahid di jalan Allah.’

Salim Sutan Panduko mengangguk-angguk. Yang disampaikan iparnya itu benar belaka. Lebih banyak kemungkinan anaknya akan terpelihara kalau dia tidak tetap berada di kampung. Kemarin ditawarkannya pula untuk pergi merantau saja. Entah ke Medan, entah ke Jawa. Tapi Junaidi menolaknya. Dia sudah memilih untuk jadi guru, dan dia hanya mau jadi guru di kampung. Tapi sementara keadaan bergolak seperti saat ini, dia akan ikut pergi ke luar, bergabung bersama tentara PRRI. Kalau umur panjang, insya Allah nanti dia akan kembali melanjutkan jadi guru. Di kampung.

‘Kalau pendapatku pula,’ Endah Kayo melanjutkan. ‘Biarlah dia pergi dan kita tolong dengan doa. Kita titipkan dia kepada Tuhan Allah. Mudah-mudahan terpelihara jiwanya, selesai perang, kembali lagi dia dengan selamat.’

‘Perang yang entah akan kapan selesainya,’ Maimunah mendesah.

Airmatanya kembali bercucuran.

‘Itupun kita tidak tahu. Kita serahkan saja kepada Yang Maha Kuasa.’

‘Ya Allah….. Berat sungguh cobaan ini….. Perang…. Negeri ini diamuk perang,’ Maimunah mengusap matanya dengan selendang.

‘Sudahlah! Bertawakkal sajalah. Itu lebih baik.’

Maimunah sudah tidak dapat berkata-kata lagi. Di dalam hatinya dia menyadari bahwa dengan pergi ke luar masih ada harapan anaknya Junaidi akan kembali pulang. Sementara kalau dia bertahan di kampung, seperti yang dikatakan kakaknya Endah Kayo, banyak pula kemungkinan dia akan celaka. Kemenakan suaminya sudah celaka beberapa hari yang lalu. Dengan cara sangat mengenaskan. Dengan tubuh hancur kena peluru. Masya Allah…… Seandainya Junaidi terbunuh pula seperti itu di kampung ini…. Tidak…. Hatinya tiba-tiba jadi mantap. Biarlah Junaidi pergi. Biarlah dia berpisah dengan anaknya itu. Seperti kata kakaknya, biarlah urusan itu diserahkan saja kepada Allah. Memang hal ini bukan pilihan yang mudah, tapi mudah-mudahan itu jalan keluar yang terbaik.

‘Apakah dia mengatakan kapan dia akan pergi itu?’ tanya Endah Kayo pula sesudah mereka terdiam beberapa saat.

‘Katanya malam ini, tuan?’ jawab Sutan Panduko.

‘Malam ini?’

‘Begitu katanya.’

‘Dengan siapa dia berurusan?’

‘Dengan wali jorong, kalau tidak salah.’

‘Eloklah kalau begitu….. Aku mendengar Sutan Basa, komandan tentara luar itu sangat santun. Dari kampung kita ini sudah ada dua orang yang ikut dengannya,’ kata Endah Kayo.

‘Selain melalui wali jorong, ada lagikah yang mengurus orang pergi ke luar itu?’ Maimunah ikut bertanya.

‘Ada. Si Bahar anak kak Naemah kan ikut jadi tentara pelajar. Ada pula kawan-kawannya yang dibawanya.’

Diluar hujan sudah mulai reda. Sedang mereka berbincang-bincang itu Junaidi pulang. Wajahnya cerah dan bersemangat. Maknya, Maimunah mengambilkan piring untuknya.

‘Makanlah! Kami semua sudah selesai makan,’ kata mak.

‘Ambo sudah makan di rumah uda Mukhtar mak,’ jawab Junaidi.

‘Urusan apa kau ke sana?’ tanya Endah Kayo.

‘Menitipkan pesan mak dang,’ jawab Junaidi.

‘Benarkah, malam ini kau akan pergi?’ tanya Endah Kayo.

Junaidi memperhatikan ketiga orang tua itu sebelum menjawab. Dilihatnya muka mak tidak lagi penuh kecemasan seperti tadi.

‘Insya Allah iya, mak dang,’ jawab Junaidi pendek.

‘Kami telah membicarakannya panjang lebar. Kami akan mendoakanmu. Mudah-mudahan Tuhan Allah senantiasa melindungimu,’ kata Endah Kayo.

‘Amiiin. Terima kasih mak dang.’

‘Tentu kau hafal ayat Kursiy?’

‘Insya Allah hafal mak dang.’

‘Banyak-banyak kau membacanya, sambil difahami artinya. Kalau belum hafal artinya, tuliskan dan hafalkan.’

‘Ya mak dang. Insya Allah, mak dang.’

*****