Friday, January 18, 2008

ANAK MANUSIA KORBAN POLITIK (15)

ANAK MANUSIA KORBAN POLITIK (15)

15. KISAH CINTA

Marwan kembali melanjutkan ceritanya.

‘Namanya Rosita. Dia kuliah di Fakultas Ekonomi Universitas Airlangga. Ayahnya seorang dokter di Rumah Sakit Umum Malang. Ayahnya orang Bukit Tinggi dan ibunya orang Maninjau. Mereka sudah lama tinggal di Malang. Rosita angkatan 74. Dan tahun 74 itu dia masuk menjadi anggota HMI. Aku mengenalnya sejak masa perkenalan anggota baru. Sejak pandang pertama aku mulai kenai hati kepadanya meski aku tidak berani mengutarakannya. Orangnya cantik, ceria, baik, pandai berbicara. Paslah untuk jadi aktifis HMI.

Sesudah masa perkenalan anggota, dia langsung aktif dan diangkat menjadi pembantu pengurus sebuah bidang dalam organisasi HMI. Aku sendiri adalah salah satu pengurus ketika itu. Kami sering bertemu dalam rapat-rapat pengurus dan kami sering berdiskusi. Dia banyak bertanya tentang HMI dan aku berusaha memberikan keterangan untuk hal-hal yang ditanyakannya. Dan kami terlibat juga dalam pembicaraan di luar HMI. Aku makin tertarik saja kepadanya. Tapi aku sendiri heran, kenapa aku sangat takut untuk menunjukkan perasaanku. Aku berusaha menjaga penampilan. Menjaga image atau jaim kata anak-anak sekarang. Mungkin agak sedikit berlebihan.

Hubungan jaim itu berlangsung selama hampir setahun. Setiap kali aku maju mundur, antara keinginan mengutarakan perasaanku kepadanya atau tidak. Dan selama setahun itu selalu berakhir dengan ‘tidak usah sekarang, nanti-nati saja’. Sepertinya aku memang agak penakut. Diam-diam aku berusaha memonitor sambil dag dig dug apakah dia sudah punya pacar. Untungnya sejauh yang aku ketahui dia tidak punya pacar.

Kami secara berkala melakukan pertemuan pengurus sekali sebulan. Aku selalu hadir dan dia juga. Lama kelamaan timbul juga keberanianku. Dengan sindiran aku akhirnya menyampaikan bahwa aku menyukainya. Dia diam saja dan tidak menanggapi. Hanya dia jadi semakin sering dan betah berdiskusi denganku pada setiap kali bertemu dalam acara HMI. Kami semakin akrab, semakin kelihatan bahwa kami saling cocok. Akhirnya aku bertanya dengan lebih jelas, aku ingin dia jadi ibu anak-anakku suatu saat nanti. Aku tanyakan apakah dia setuju. Dia tetap tidak menjawab selain hanya tersenyum. Dan aku menganggap senyuman itu sebagai kesediaannya. Diam-diam, teman-teman HMI yang lain juga memberikan dukungan. Dengan sedikit keusilan mereka mengatakan, dasar Padang, maunya mesti ketemu Padang lagi.

Seperti itu awal hubungan cinta kami. Kami tidak berpacaran seperti orang lain berpacaran. Aku hampir tidak pernah datang ke tempat kostnya untuk berpacaran di malam minggu seperti yang banyak dilakukan mereka-mereka yang berpacaran. Kami hampir tidak pernah pergi berdua-dua. Tapi sebaliknya dia sering datang ke toko buku di hari Minggu. Dia betah di toko buku sambil membaca-baca. Dan kami sering berdiskusi. Begitulah cara berpomle kami yang aku katakan ala HMI.’

‘Wah... Kisah cintanya jadul sekali ya? Mirip kisah cinta jaman Siti Nurbaya. Tidak adakah acara pergi nonton, pergi piknik misalnya?’ tanya Desi menggoda.

‘Ya begitulah. Memang jadul. Memang hampir tidak pernah kami pergi nonton bioskop berdua. Kebetulan, kami memang orang yang tidak suka menonton filem. Seingatku kami pernah pergi menonton bioskop itu tiga kali. Dua kali bersama-sama teman HMI lain dan sekali, hanya sekali yang berdua. Tapi waktu datang ke rumah orang tuanya di Malang kami pergi berdua,’ jawab Marwan.

‘Jadi pernah ada juga acara pergi berduaan..he..he..he,’ aku berkomentar karena geli mendengar ceritanya.

‘Adalah. Sebelumnya, setiap kali pak etek menanyakan apakah Rosita itu pacarku, aku mengatakan bahwa dia teman di HMI. Tapi lama kelamaan, pak etekku tentu arif bahwa sebenarnya hubungan kami tidak hanya sekedar teman. Hanya beliau agak heran, bahwa aku tidak pernah pergi berkunjung ke rumahnya. Bahkan pernah beliau menanyakan, kenapa aku tidak berusaha mengenal keluarganya. Aku tidak berkomentar apa-apa. Pada kesempatan berdiskusi lagi, ketika Rosita datang lagi ke toko pada suatu hari Minggu, aku sampaikan apa yang dikatakan pak etek itu kepadanya. Dia mengajakku untuk datang mengunjungi orang tuanya di Malang.

Tawaran sekaligus tantangan itu tentu saja aku terima. Kami pergi ke Malang. Aku dikenalkan kepada kedua orang tuanya. Mereka sangat baik kepadaku, lebih-lebih ibunya. Kami berbicara dengan bahasa Minang di rumah itu, kecuali Rosita yang tidak pandai berbahasa Minang. Mereka bertanya tentang diriku dan aku bercerita seperlunya. Bahwa aku tinggal dengan pak etek di Surabaya, bahwa ayahku sudah meninggal, dan ibuku dan adik-adikku tinggal di kampung. Pokoknya setiap pertanyaan dan interview pak dokter dan istrinya aku jawab sebaik mungkin. Kedatanganku menemui orang tuanya di Malang itu terjadi di awal tahun 76.

Belum ada pernyataan apa-apa dari pihak orang tuanya waktu itu. Belum ada pertanyaan apa-apa yang menyangkut hubungan aku dengan Rosita. Kami tetap bergaul seperti biasa di Surabaya. Rosita tetap rajin ke toko buku. Atas saran pak etek lagi, (aku benar-benar sangat tergantung kepada beliau), Rosita kuajak pula datang ke rumah untuk berkenalan dengan keluarga pak etek. Sejak itu adik-adikku, anak-anak pak etek mengenal uni Rosita mereka, yang langsung mereka anggap sebagai kakak ipar. Mereka menyukai Rosita.

Pada hari raya Idul Fitri tahun 76 itu aku datang ke Malang untuk kedua kalinya bersama Rosita. Ketika itulah ayahnya bertanya agak lebih menjurus, apakah aku merencanakan untuk menikahi Rosita. Dan aku jawab sejujurnya, bahwa aku menyukai Rosita dan kalau diizinkan aku berniat menikah dengannya. Tapi tentu bukan untuk segera karena kuliahku belum selesai. Orang tua itu menerima yang aku sampaikan dan menasihatiku. Katanya, kalau aku bersungguh-sungguh, dia akan merestui anaknya jadi istriku.

Dalam perjalanan pulang ke Surabaya aku ceritakan pembicaraan kami itu kepada Rosita. Dia tersenyum mendengarnya. Dan dia menambahkan bahwa ibunya yang lebih ‘jatuh hati’ kepadaku, untuk menjadikan aku menantunya.’

Marwan berhenti sejenak dari cerita kisah cintanya untuk minum dulu seteguk. Aku dan Desi menunggu lanjutannya.

Cerita itu dilanjutkannya lagi.

‘Akhir tahun 76 sampai pertengahan tahun 77 aku disibukkan penulisan skripsi. Aku tidak setiap minggu datang ke toko. Karena pertemuan kami biasanya di toko pada hari Minggu, dengan sendirinya kami jadi agak jarang bertemu pada masa-masa itu. Hal itu tidak jadi masalah bagi hubungan kami. Lucunya waktu itu kami rajin bersurat-suratan. Tidak tanggung-tanggung, surat Rosita dia titipkan melalui pak etek di toko. Surat-surat kami bukanlah surat cinta. Rosita bertanya entah tentang apa saja. Atau menceritakan hal-hal sepele. Sangat kentara bahwa surat-surat itu hanya sekedar untuk membina hubungan. Setiap suratnya pasti aku balas. Surat balasan itu aku kirim dengan pos.

Bulan Oktober tahun 77 aku lulus ujian sarjana. Subhanallah, alhamdulillah. Aku jadi insinyur. Aku, si Marwan anak mak Syamsuddin Sutan Marajo, anak tukang pos, jadi insinyur. Terkabul cita-citaku. Betapa bahagianya aku ketika itu. Betapa bahagianya orang-orang di sekelilingku. Ibuku yang jauh di kampung. Pak etek dan etek. Adik-adikku, baik yang di kampung maupun anak-anak pak etek. Dan tentu saja Rosita ikut bahagia.’

‘Pasti bangga sekali kau ketika itu,’ aku menyela.

‘Bangga luar biasa. Aku lega sekali. Aku minta izin pak etek untuk pulang ke kampung menemui ibuku. Sekalian menziarahi pusara ayahku. Aku ingin mendatangi kuburan beliau, memberi tahu bahwa aku, anak beliau sudah tamat sekolah. Sudah jadi insinyur. Pak etek mengijinkanku. Sebelum pulang ke kampung aku menyempatkan pula menemui orang tua Rosita di Malang, untuk menyampaikan kabar bahwa aku sudah lulus. Mereka sangat senang dan memberi ucapan selamat. Ibu Rosita bertanya setengah memancing apa rencanaku selanjutnya. Aku jelaskan bahwa aku akan mencari kerja. Tapi sebelumnya aku ingin menemui ibuku dulu di kampung. Meski dengan nada gurau dia menanyakan apakah aku sudah punya calon istri di kampung. Aku jawab sejujurnya saja. Pertanyaan selanjutnya lebih tepat menuju sasaran. Kapan rencanaku mau menikahi Rosita. Aku ulangi sekali lagi keinginanku untuk mencari kerja terlebih dahulu. Ayah Rosita sangat setuju dengan rencana seperti itu, karena diharapkan kuliah Rosita akan selesai di tahun 78. Rasanya hidupku sangat berbunga-bunga.’

‘Tapi, apakah ibumu di kampung sudah tahu kau sudah punya pomle? Punya calon istri? Jangan-jangan ibumu di kampung memang sudah menyiapkan calon menantu,’ aku bertanya.

‘Aku pernah memberi tahu ibuku tentang Rosita. Sejak aku datang mengunjungi rumah orang tuanya yang pertama kali. Ada juga kekhawatiranku, seandainya ibuku entah dengan alasan apa menyatakan tidak setuju. Lebih baik aku mendengar pendapat beliau dulu sebelum terlanjur lebih jauh. Akupun menanyakan kepada beliau, bagaimana seandainya nanti, sesudah sekolahku selesai aku berjodoh dengan Rosita. Ibuku tidak keberatan. Beliau hanya menyuruh agar aku merundingkannya dengan pak etek. Jadi amanlah, karena pak etek sudah lebih dulu setuju.

Aku berangkat ke kampung. Dan tinggal di kampung selama hampir sebulan. Melepaskan rindu dan teragakku kepada kampung. Yang sudah tujuh tahun pula aku tinggalkan sejak kematian ayah. Ketika itu aku datang mengunjungi SMP kita. Masih ada dua orang guru kita dulu yang aku jumpai disana. Ibu Halimah dan ibu Rosna. Tentu kau masih ingat. Mereka masih ingat denganku. Aku datangi pula kepala sekolahnya dan mengatakan bahwa aku dulu bersekolah di sekolah itu.’

‘Aku ingat ibu Halimah guru Bahasa Indonesia dan ibu Rosna guru Bahasa Inggeris,’ jawabku.

‘Ketika sedang di kampung aku mendapat telegram dari pak etek, ada panggilan dari perusahaan minyak yang aku lamar, ingin menginterviewku di Jakarta. Aku segera berangkat ke Jakarta mendatangi kantor perusahaan itu. Sesudah diinterview aku disuruh menunggu hasilnya. Katanya aku akan dihubungi secepatnya seandainya aku diterima.

Aku kembali ke Surabaya. Santai-santai saja sambil tetap membantu pak etek di toko. Sampai pada suatu hari aku menerima surat panggilan dari perusahaan itu. Aku diterima bekerja. Aku disuruh segera datang ke Jakarta. Menggunakan pesawat udara. Itulah pertama kali aku naik pesawat udara.

Aku diharuskan menjalani pemeriksaan kesehatan dan wawancara politik alias screening di kantor security Pertamina. Kau tentu tahu tentang screening. Hatiku bergetar ketika mengisi pertanyaan tentang orang tua, tentang ayahku. Apakah ayahku pernah ikut organisasi terlarang. Aku berbohong. Aku tulis bahwa ayahku sudah meninggal dunia, dan setahuku beliau tidak pernah ikut organisasi terlarang. Ketika diwawancara, pertanyaan lebih banyak diarahkan tentang diriku karena aku menulis bahwa aku adalah anggota HMI. Aku ditanya bagaimana pendapatku tentang DI TII, tentang Piagam Jakarta. Dan kau tentu tahu, jawaban yang diharapkan adalah jawaban-jawaban klise. Aku diarah-arahkan untuk menjawab sesuai dengan yang mereka inginkan. Dan aku ikuti saja. Tidak ada sedikitpun pertanyaan tentang ayahku selama wawancara berlangsung.

Setelah itu aku mulai bekerja. Mula-mula hanya di kantor. Tapi segera aku diperkenalkan pula dengan pekerjaan di lapangan di daerah pedalaman Irian sana. Pekerjaan itu sangat menyenangkan. Aku sangat menyukainya. Pergaulanku dengan semua orang di kantor sangat baik. Dengan teman-teman, dengan atasanku yang orang Canada. Aku kost di Jakarta di daerah Tebet, tidak jauh dari kantorku. Kalau aku bertugas di lapangan dan tinggal disana untuk seminggu atau bahkan kadang-kadang lebih, maka setelah pulang aku berhak mendapat libur. Waktu libur itu aku gunakan untuk pulang ke rumah pak etek di Surabaya. Aku beruntung karena penerbangan dari Sorong di Irian mampir dulu di Ujung Pandang. Dengan seizin kantor, dari Ujung Pandang aku ganti pesawat dan aku ambil penerbangan melalui Surabaya.

Jadi aku sering pulang ke Surabaya. Menemui keluarga pak etek dan menemui Rosita. Aku telah membuat rencana pernikahan kami yang lebih tepat. Aku beritahu Rosita niatku untuk menikahinya awal tahun 79, ketika aku cuti tahunan yang pertama nanti. Dia setuju. Orang tuanya setuju. Pak etek setuju. Ibuku setuju. Pokoknya jalan lurus terhampar dihadapanku. Jalan lurus dan indah.’

‘Hebat. Terus menikah dong?’ Desi berkomentar.

‘Ketika kami sudah sama-sama setuju dengan hari pernikahan, yang hanya tinggal beberapa bulan lagi, Rosita sedang menyiapkan tugas akhir untuk jadi sarjana. Ajakanku itu memacunya untuk bekerja lebih keras. Akhirnya dia lulus sebagai sarjana ekonomi bulan November 78.

Kami terus mempersiapkan pernikahan itu setahap demi setahap. Rencananya kami akan menikah di Malang. Tentu saja disana karena orang tua Rosita tinggal di kota itu. Aku akan membawa ibu dan adik-adikku ke Surabaya untuk hadir pada hari pernikahan kami nanti. Aku akan pergi menjemput beliau ke kampung. Dan sesudah nikah aku akan membawa Rosita ke Jakarta. Kami akan menyewa rumah di Jakarta. Rosita setuju. Orang tuanyapun setuju dengan rencanaku.’


*****

Thursday, January 17, 2008

ANAK MANUSIA KORBAN POLITIK (14)

ANAK MANUSIA KORBAN POLITIK (14)

14. KULIAH

‘Aku sangat bahagia karena diterima di ITS. Ini benar-benar di luar dugaan. Waktu masih di SMP dulu cita-citaku sangat sederhana. Aku tahu bahwa otakku tidak pintar. Kemampuanku hanya rata-rata. Jadi tidak pernah terlintas di otakku untuk bersekolah tinggi. Tamat SMP aku ingin masuk STM. Sesudah itu mencari kerja. Ada orang kampungku bekerja di Caltex di Pekan Baru. Kelihatan hidupnya sangat berkecukupan. Itulah idolaku. Aku ingin nanti bisa bekerja seperti orang itu kalau aku besar.

Musibah yang menimpa ayahku ternyata membawa hikmah tersendiri. Sejak ikut dengan pak etek, cara pandangku berubah. Pertolongan pak etekku sungguh sangat luar biasa artinya dalam kehidupanku. Beliau mendorong agar aku rajin dan nanti bisa melanjutkan sekolah ke perguruan tinggi. Beliau mendapat amanah dari ayahku seperti itu dan itu beliau jaga. Di SMA di Surabaya, teman-temanku punya cita-cita. Punya keinginan untuk bersekolah tinggi. Mereka punya target ingin masuk ke perguruan tinggi tertentu. Aku ikut kena imbas. Mereka bersaing dan bekerja keras. Aku juga ikut-ikutan bersaing. Aku sadar bahwa aku menumpang di rumah pak etek, dan aku harus berusaha jangan sampai mengecewakan. Hal ini merupakan pemicu tersendiri. Aku bekerja keras dan ternyata aku juga bisa. Bisa mengikuti pelajaran dengan baik. Dan puncaknya adalah ketika ternyata aku diterima di ITS.

Ayah dan ibuku sangat bahagia mendengar berita ini. Pak etek senang. Dan aku bertekad untuk mengikuti kuliah ini dengan sungguh-sungguh. Aku ingin berhasil jadi seorang insinyur. Wah, alangkah tingginya cita-cita itu. Aku akan menjadi seorang insinyur? Di kampungku baru satu orang yang sudah menjadi insinyur.

Akupun mulai kuliah. Cakrawalaku bertambah luas. Kawan sekuliah datang dari lingkungan masyarakat yang lebih majemuk. Ada anak orang kaya, ada anak orang miskin. Dan di tempat kuliah nuansanya tidak melulu Jawa Timuran seperti di SMA. Banyak mahasiswa yang datang dari daerah lain di luar Jawa Timur, bahkan dari luar Jawa. Bahkan ada yang dari SMA Padang.

Kunikmati susana di kampus dengan segala macam kegiatannya. Yang berhubungan dengan kuliah ataupun yang ekstra kurikuler. Semuanya indah dan aku menyukainya. Ada teman yang mengajakku ikut organisasi HMI dan akupun ikut. Berorganisasi ini juga merupakan suatu hal yang menyenangkan bagiku terlebih-lebih setelah adanya pengalaman di PII. Yang agak berkurang adalah kegiatan olah raga. Meski sekali-sekali aku masih ikut main bola, tapi tidak sama seperti ketika masih di SMA.

Waktu aku sedang menghadapi ujian akhir semester pertama, aku mendapat surat dari ibuku. Beliau bercerita bahwa keadaan ayahku bertambah parah. Aku sedih sekali memikirkan hal itu. Aku sangat rindu, ingin melihat beliau. Aku perlihatkan surat itu ke pak etek. Beliau menyuruhku pulang. Begitu selesai ujian, aku berangkat ke kampung. Dengan keretapi ke Jakarta dan dengan kapal laut ke Padang.

Aku sampai di kampung. Ayahku terbaring sakit. Badan beliau benar-benar sudah habis, tapi beliau masih sadar. Nafasnya tersengal-sengal. Kedatanganku menambah semangat hidup beliau kelihatannya. Selama seminggu aku di kampung, sepertinya beliau berangsur agak membaik. Beliau mau makan, yang sebelumnya sangat susah. Muka beliau berubah jadi agak berseri. Dan beliau banyak menasihatiku. Dengan suara bisikan parau. Aku menangis mendengar nasihat-nasihat beliau. Seperti yang aku ceritakan, yang sangat benar beliau tekankan agar aku jangan ikut-ikutan berpolitik.

Satu hal lagi yang aku catat bahwa beliau sangat taat. Dalam keadaan sakit parah itu, beliau tidak meninggalkan shalat. Aku percaya ini berkat bimbingan ibuku yang dengan penuh kesabaran selalu mengingatkan beliau untuk senantiasa berzikir mengigat Tuhan. Dan beliau melakukannya. Beliau sangat senang mendengar kalau ada yang mengaji. Dan kami bergantian mengaji disisi tempat tidur beliau.

Minggu kedua aku di kampung, kesehatan beliau menurun lagi. Dua hari terakhir beliau tidak sadar. Kami menjagai beliau bergantian siang dan malam. Ibuku, aku dan adik-adikku. Dan akhirnya, tanggal 5 Juli 1970, jam 7 pagi beliau berpulang kerahmatullah,’ Marwan terdiam sesudah itu.

‘Meninggal di rumah sakit?’ tanyaku.

‘Tidak. Di rumah. Pernah beliau dirawat di rumah sakit sebelumnya. Tapi karena tidak ada angsuran kesehatannya, beliau merasa hal itu hanya membuang-buang biaya saja, beliau minta dibawa pulang.’

‘Berapa usia ayahmu ketika meninggal?’ tanyaku.

‘42 tahun.’

‘Masih muda sebenarnya,’ kata Desi.

‘Ya, masih muda. Pak tangah meninggal lebih muda lagi. Umur 31 tahun,’ jawab Marwan.

‘Pak etekmu tidak pulang ke kampung ketika itu?’

‘Pulang. Tapi sepuluh hari sesudah ayahku meninggal. Beliau menerima telegram tentang kematian ayah keesokan harinya. Waktu itu perjalanan pulang kampung hanya dengan kapal laut dan keretapi. Pesawat masih sangat mahal. Beliau tinggal di kampung sekitar sepuluh hari dan kembali ke Surabaya bersama-sama denganku.’

‘Berapa orang ayahmu bersaudara?’

‘Berlima. Ada dua orang saudara perempuan beliau. Mak tuo, yang paling tua, ayah dan pak tangah, ada etek satu orang lagi dan terakhir pak etekku.’

‘Saudara perempuan beliau semua di kampung?’

‘Ya. Keduanya masih ada di kampung sampai sekarang.’

‘Lalu, sesudah itu kau segera balik ke Surabaya, kembali lagi melanjutkan kuliah? Tidak terlambat?

‘Aku masih di kampung sekitar tiga minggu sesudah itu, karena masih dalam masa liburan semester. Dan kembali ke Surabaya bersama-sama pak etek. Tidak terlambat untuk memulai kuliah semester kedua. Aku kembali lagi mengikuti kegiatan-kegiatan di kampus. Ikut lagi kegiatan HMI. Aku cepat melupakan kehilangan ayah karena kesibukan. Aku selalu sibuk. Termasuk sibuk membantu pak etek di toko.

Dalam mengurus toko aku sudah sangat dipercaya. Aku sering disuruh beliau mengurus pembelian buku-buku ke penerbit, melakukan pengaduan ketika kami menerima buku yang kurang baik kualitas penjilidannya dan minta diganti.

Ketika etek sakit dan pak etek harus banyak mengurus beliau di rumah sakit, kendali pengurusan toko buku beliau percayakan kepadaku. Lalu beberapa bulan kemudian, beliau sendiri jatuh sakit, aku kembali disuruh mengurus toko. Aku selalu mengerjakannya dengan sepenuh hati dan penuh tanggung jawab. Setiap malam aku berikan laporan keuangan toko yang aku bukukan dengan rapi. Pak etek sangat senang dengan pekerjaanku. Sayang kuliahku agak tersendat pada tahun-tahun berikutnya karena kegiatan-kegiatan di toko. Tahun 73 pak etek pergi melaksanakan ibadah haji selama tiga bulan lebih. Dan selama itu aku hampir tidak pernah bisa kuliah. Di toko aku banyak waktu untuk membaca dan belajar tapi aku tidak mungkin meninggalkan toko untuk menghadiri kuliah. Aku dipinjami catatan-catatan kuliah oleh teman-teman. Di beberapa mata kuliah aku lulus tapi lebih separuhnya aku gagal. Karena dosen-dosen juga memperhitungkan kehadiran diruang kuliah.

Pak etek menyadari bahwa kuliahku terganggu karena keterlibatanku dalam mengurus toko. Sepulang dari ibadah haji, beliau lebih berkonsentrasi mengurus toko dan menyuruhku agar lebih bersungguh-sungguh menghadapi kuliah.’

‘Jadi kau tidak pernah dapat masalah selama itu ? Selama mengurus toko?’

‘Masalah karena tidak bisa hadir di kuliah. Dan akibatnya tidak lulus ujian. Untungnya sistim kuliah masih santai. Tidak lulus ambil lagi tahun berikutnya. Yang mengulang seperti itu cukup banyak dikalangan mahasiswa. Jadi tidak terasa berat.

Dalam mengelola toko hampir tidak pernah aku menghadapi kesulitan. Ada masalah, tapi dapat kuatasi sendiri. Misalnya ketika pak etek dan etek pergi naik haji. Sebulan sesudah mereka berangkat, datang adik etek dari Jakarta. Aku memanggilnya mak etek. Aku pernah mendengar bahwa dia kurang cocok dengan kakaknya. Maksudnya dengan etek. Hubungan kakak beradik ini kurang harmonis. Tapi itukan bukan urusanku. Di rumah ada ibunya, yang mengawasi anak-anak. Mak etek itu tidak mengatakan apa-apa. Besoknya dia datang ke toko dan bilang dia datang untuk meminjam uang. Cukup besar jumlah uang yang ingin dipinjamnya. Katanya akan dikembalikannya dalam tempo sebulan. Sebelum pak etek dan etek kembali uang itu sudah dibayarnya. Aku agak bingung. Menolak susah, menyerahkan aku tidak pula berani. Tapi akhirnya aku dapat akal. Aku perlihatkan buku besar berisi semua catatan jual beli toko. Lalu aku bilang, boleh dia meminjam uang tapi aku minta dia menanda tangani pernyataan bahwa dia berhutang di atas kertas meterai, yang nanti akan aku tulis di dalam buku besar. Dia marah kepadaku. Keluar kata-kata kasar. Dia mengatakan bahwa aku telah bertindak dibawah kepatutan karena tidak percaya kepadanya, adik istri pak etek. Aku jawab sesopan mungkin bahwa aku ini bukan siapa-siapa dan hanya menjalankan amanah. Aku tidak akan bisa nanti mempertanggungjawabkan peminjaman uang sebesar yang dia minta kalau tidak ada bukti hitam di atas putih. Dia pergi dalam kemarahannya, langsung kembali ke Jakarta.

Sore harinya aku ditanyai nenek, apakah benar adik etek itu tadi datang meminjam uang. Aku jawab, benar. Nenek itu menanyakan lagi, apakah aku berikan. Aku jawab, apa adanya, bahwa aku meminta beliau menandatangani surat pernyataan berhutang kalau memang beliau mau meminjam. Tapi beliau malah marah.

Jadi belum kau berikan, tanya nenek kepadaku. Aku jawab, belum. Syukurlah kalau begitu. Jangan kau berikan. Jadi masalah nanti, begitu kata nenek. Mak etek itu segera kembali ke Jakarta, tidak pernah bertemu denganku lagi. Waktu pak etek dan etek pulang, nenek yang menceritakan kejadian itu. Pak etek tersenyum saja kepadaku tanpa berkata-kata.’

‘Hebat. Jadi kuncinya adalah sifat amanah. Dan kau berhasil memegang teguh sifat itu,’ aku berkomentar.

‘Ya, alhamdulillah. Ditambah rasa hormat dan terima kasihku kepada pak etek yang sangat baik serta besar jasanya. Aku tidak berani mengkhianatinya. Apapun tugas yang diberikannya aku berusaha melaksanakan dengan hati-hati.’

‘Bagaimana hubunganmu dengan istri pak etekmu itu?’

‘Sangat baik. Beliau adalah seorang ibu rumah tangga yang sangat taat kepada suami. Tidak banyak bicara, tapi penuh perhatian. Aku dianggapnya seperti anaknya sendiri. Dan akupun menghormatinya seperti menghormati ibuku sendiri.’

‘Ibunya yang kau panggil nenek, selalu tinggal bersama di Surabaya?’

‘Tidak. Orang tua itu, yang juga sangat baik, sering berkeliling menemui anak-anaknya. Anak-anaknya ada di kampung, di Pekan Baru, di Jakarta dan di Surabaya. Tapi biasanya dia lebih banyak tinggal di kampung dengan anaknya.’

‘Tahun berapa kau selesai kuliah?’

‘Tahun 77, sesudah kuliah selama hampir delapan tahun.’

‘Langsung bekerja sesudah itu?’

‘Ya. Aku melamar ke beberapa perusahaan. Dan aku diterima di sebuah perusahaan eksplorasi minyak bumi milik Amerika. Aku mulai bekerja awal tahun 78 di perusahaan itu. Kantor pusatnya di Jakarta. Daerah operasinya di Irian. Aku sering pergi ke lapangan ke Irian ketika itu.’

‘Dan menikah tahun 79?’

‘Ya, kami menikah tahun 79. Di Malang. ’

‘Dimana kau berkenalan dengan calon istrimu?’

‘Dia kuliah di Universitas Airlangga. Aktif di HMI juga. Kami berkenalan di HMI sejak tahun 74. Dia 4 tahun lebih muda dariku. Ternyata dia keturunan orang awak. Ayah dan ibunya tinggal di Malang. Ayahnya seorang dokter.’

‘Sempat berpomle-pomle juga dong?’

‘Berpomle ala HMI. Ada jugalah.’


*****

Wednesday, January 16, 2008

ANAK MANUSIA KORBAN POLITIK (13)

ANAK MANUSIA KORBAN POLITIK (13)

13. SURABAYA

Marwan melanjutkan lagi ceritanya.

‘Aku berangkat dari kampung akhir tahun 66. Mula-mula ada terniat di hatiku untuk memberi tahu ke beberapa orang teman tentang keberangkatanku tapi akhirnya aku batalkan. Aku malu, kalau nanti teman-teman tahu alasanku meninggalkan kampung. Aku malu dan khawatir kalau-kalau nanti mereka semua tahu bahwa ayahku sedang di penjara karena beliau seorang anggota PKI. Bahkan setelah sampai di Surabaya dan bersekolah disana, aku sengaja tidak menulis surat kepada siapapun di antara teman-teman kita. Dengan alasan yang sama.

Aku berangkat berdua dengan mertua pak etek yang juga diminta datang oleh beliau. Aku dititipkanlah ibaratnya kepada mertua beliau itu. Nenek itu sudah berumur sekitar 60 tahun, masih gesit dan lincah. Dia sudah tiga kali bolak balik ke Surabaya. Kami naik kapal laut dari Teluk Bayur menuju Jakarta. Di Jakarta kami dijemput anak nenek itu, adik dari istri pak etek. Dua hari kemudian kami berangkat ke Surabaya dengan keretapi.

Di Surabaya, aku dimasukkan ke SMA. Aku mulai sekolah. Aku cepat beradaptasi dengan suasana sekolah. Dengan modal pandai main gitar seperti di SMP. Aku mulai punya teman. Mulai terlibat dalam kegiatan-kegiatan olah raga. Main voli dan main bola.

Di rumah aku berusaha menyesuaikan diri pula sebaik-baiknya. Aku bersyukur karena anak-anak pak etek itu sangat baik-baik kepadaku. Mereka benar-benar menganggapku sebagai kakak mereka. Mereka lebih banyak menggunakan bahasa Jawa Surabaya di rumah. Sesama mereka atau bahkan kadang-kadang kalau berbicara dengan ayah mereka. Dalam waktu singkat akupun mulai pandai berbahasa Jawa.

Hari Minggu aku menawarkan diri untuk membantu pak etek di toko beliau. Beliau mempunyai toko buku di pasar Tunjungan. Beliau mengijinkan dan aku ikut dengan beliau ke toko. Pelan-pelan aku berlatih mengingat dan menghafal harga buku-buku yang ratusan banyaknya. Berlatih melayani pembeli. Ternyata jauh hari kemudian ilmu itu yang paling banyak kupakai dalam hidup. Ketika aku punya toko buku sendiri seperti sekarang.

Dengan kesibukan baik di sekolah, di rumah dan di toko buku, aku betah-betah saja disana. Meskipun pada awal-awalnya, hampir setiap malam pikiranku selalu melayang ke kampung. Aku rajin menulis surat ke ayah dan ibuku. Beliaupun rajin membalas. Surat untuk ayah aku kirim melalui ibu di kampung. Ayahku sangat senang mendengar ceritaku seperti yang selalu beliau tulis di dalam surat-surat beliau. Beliau selalu berharap agar aku bisa melanjutkan sekolahku sampai ke perguruan tinggi. Ayahku menaruh harapan sangat besar padaku. Dan aku menyadari betul hal itu.

Begitulah kehidupanku pada waktu itu. Prestasi di sekolah hampir-hampir sama saja seperti ketika di SMP. Aku termasuk golongan sedikit di atas rata-rata,’ Marwan berhenti sejenak untuk meneguk teh telor.

‘Tidak ada berpomle-pomle?’ tanya Desi sambil tertawa.

‘Boleh dikatakan tidak ada. Ada teman-teman wanita, seperti di SMP juga. Tapi teman selama di sekolah saja. Anak-anak SMA waktu itu sudah ada yang berani berjalan berdua-dua pulang sekolah. Tapi aku belum berani. Tidak berani. Aku menjaga benar jangan sampai ditegor pak etek,’ jawab Marwan.

‘Kau bilang ikut main voli dan main bola. Ikut bertanding juga seperti ketika kita di SMP?’ tanyaku.

‘Main voli aku kurang masuk hitungan di sana. Banyak anak-anak lain yang lebih hebat dariku. Paling-paling aku terpakai kalau pertandingan antar kelas. Tapi main bola aku tetap terpakai. Kami cukup sering pergi bertanding antar sekolah. Ada juga hampir-hampir berkelahi. Biasalah, main bola, kalau tidak ada main kasar-kasarnya kan bukan main bola namanya. Kami pernah pergi bertanding ke luar kota. Ke Malang, ke Blitar. Pokoknya lumayan, aku bisa ikut melihat-lihat negeri orang.

Aku juga ikut bermain basket. Permainan yang juga aku sukai. Kadang-kadang diikutsertakan dalam pertandingan.

Dan aku pernah diajak ikut bermain band. Karena aku pandai bergitar. Untuk mengisi acara-acara sekolah, terutama mendekati tanggal tujuh belas Agustus. Ketika disekolah diadakan banyak perlombaan-perlombaan. Waktu di sekolah aku ikut. Teman-temanku mengajak untuk latihan hari Minggu. Cita-cita mereka ingin membuat grup band benaran di luar sekolah. Aku menolak, karena hari Minggu benar-benar aku gunakan untuk bekerja di toko.’

‘Dengan kegiatan seperti itu apakah kau tidak menjadi bintang? Sehingga disenangi anak-anak perempuan? Kan anak-anak perempuan senang kepada anak laki-laki yang olahragawan, yang pemain musik, apa bukan begitu?’ tanyaku.

‘Iya ya. Kalau uda pasti sudah dikerubuti anak-anak gadis barangkali ya? Sudah banyak pomle,’ Desi mengusik.

Aku tersenyum.

‘Ternyata tidak. Tapi entah jugalah. Mungkin karena aku berusaha benar untuk tidak berpacaran. Tidak mau mendekati, tidak mau didekati anak-anak perempuan,’ jawab Marwan.

‘Di luar sekolah tidak ada kegiatan?’

‘Ada, banyak. Aku ikut jadi anggota karang taruna. Aku ikut aktif jadi remaja mesjid di dekat kami tinggal. Aku ikut lagi jadi anggota PII. Ini secara tidak sengaja. Karena aktif di mesjid ada yang mengajakku masuk anggota PII. Aku bilang aku sudah jadi anggota PII. Kebetulan kartu anggota yang aku dapat di kampung dulu kubawa. Teman-teman itu sangat senang dan sejak itu aku selalu diajak ikut kegiatan mereka. Dan aku usahakan selalu ikut. Biasanya setiap hari Jumat dan Sabtu sore. Kadang-kadang hari Minggu pagi. Sekali-sekali aku minta izin pak etek untuk ikut. Sebenarnya pak etekku itu mengizinkan aku ikut kegiatan-kegiatan remaja di luar sekolah. Tapi aku harus tetap tahu diri.

Ada suatu pengalaman lucu dengan kegiatan PII. Aku ikut pelatihan selama seminggu ketika libur sekolah. Orang-orang Surabaya berbahasa Jawa agak kasar. Ini menurut pengakuan mereka sendiri. Dalam omongan sehari-hari sering kali mereka mengeluarkan kata-kata carut. Di dalam masa pelatihan itu semua peserta diminta menghindarkan kata-kata carut itu. Tapi mungkin karena sudah bagian dari kebiasaan, mereka tidak bercarut tapi mengganti setiap makian dengan kata PKI. Kalau ada hal yang kurang menyenangkan, mereka mengatakan, PKI tenan. Aku bergidik setiap kali ada yang mengeluarkan kata PKI.

Satu saat, aku bertanya kenapa dia mengganti kata makian dengan ‘PKI’. Jawabnya, karena PKI itu memang sama dengan carut. Maksudnya PKI itu brengsek.

Lalu kami membahas tentang keberengsekan PKI. Temanku itu bercerita bagaimana jahil dan biadabnya orang-orang PKI itu di kampung-kampung di Jawa Timur sebelum meletusnya peristiwa Gestapu. Mereka meneror masyarakat jauh lebih kejam. Kata temanku itu ada yang berani menyerang orang sedang shalat subuh di mesjid. Imam dan jamaah mesjid itu dipukuli ketika mereka sedang shalat. Ada yang membakar mesjid terang-terangan. Itulah sebabnya ketika kemudian PKI dan Gestapunya gagal, orang-orang PKI itu banyak yang dibunuhi masyarakat beramai-ramai.’

‘Seingatku di daerah kita tidak ada sampai kejadian seperti itu.’

‘Setahuku juga tidak pernah. Makanya orang-orang di kampungku mengatakan, seandainya Datuk Rajo Bamegomego tidak lari ke Medan dia akan selamat di kampung.’

‘Tapi mungkin dikirim ke pulau Buru,’ kataku.

‘Ya, itu sangat mungkin. Dan cerita itu belum selesai.

Aku bertanya kepada temanku itu, apakah cerita yang baru disampaikannya itu, tentang pembunuhan orang-orang PKI, dia dengar dari orang lain? Dia bilang, di antara peserta sekarang ini ada yang jadi saksi langsung. Nanti aku kenalkan, katanya. Dan aku berkenalan dengan seorang teman yang lain. Kakak ayahnya, atau pakdenya termasuk salah seorang anggota PKI yang terbunuh dikampungnya. Dia bercerita dengan nada biasa-biasa saja. Lalu aku tanya, apakah ketika PKI masih jaya, pakdenya itu pernah berlaku jahat juga di kampung itu? Jawabnya sungguh mengerikan. Di samping jahat dan beringasan, orang itu membunuh kakaknya sendiri yang adalah imam mesjid di kampung itu. Alasannya sangat di buat-buat. Katanya karena kakaknya tidak membagi harta warisan secara adil. Padahal harta warisan itu sudah dibagi ayah mereka dengan adil sesuai syariat Islam. Dua orang saudara wanita mereka mendapat seperempat bagian untuk berdua dan mereka bertiga laki-laki masing-masing mendapat seperempat. Kakak yang paling tua itu karena memang lebih baik ekonominya memberikan sebagian dari pembagiannya kepada kedua adik wanitanya sebagai tambahan. Lalu bapak yang PKI ini juga ikut-ikutan meminta dan tidak dikasih. Dia langsung naik pitam dan membunuh kakaknya. Sesudah kejadian itu dia ditahan polisi sebentar tapi segera dilepas lagi. Karena dia orang pentingnya PKI di kecamatan.’

‘Mengerikan sekali,’ ujar Desi

‘Memang mengerikan. Dan orang itu akhirnya dibunuh massa. Tapi bukan karena alasan pembunuhan kakaknya itu saja. Banyak kesewenang-wenangan yang dilakukannya di kampung sehingga penduduk kampung benar-benar sangat membencinya.’

‘Betul-betul mengerikan,’ aku ikut bergidik mendengarnya.

‘Sepertinya orang-orang PKI di Jawa memang lebih buas. Paling tidak dari apa yang aku dengar. Ada dua tiga orang temanku yang bercerita tentang prilaku orang-orang PKI di kampung mereka. Nadanya mirip semua. Suka meneror dan membuat onar.’

‘Tapi kemudian juga banyak orang PKI yang terbunuh, begitu aku pernah baca di koran.’

‘Benar. Seperti yang diceritakan temanku itu. Waktu mereka sudah tidak berkuku lagi, habis mereka. Ceritanya mengenaskan juga. Ribuan orang-orang PKI itu dibunuh. Pokoknya kacaulah. Dendam dibalas dendam. Kejahatan dibalas kejahatan. Di daerah kita rasanya tidak ada cerita seperti itu.’

‘Dan kau tidak bercerita..... Tentang orang-orang PKI di kampung kita?’ tanyaku.

‘Aku menahan diri untuk tidak bercerita. Aku takut kelepasan omong tentang ayah. Aku tidak ingin orang tahu ayahku juga PKI.’

Kami kembali terdiam. Aku mencomot sebuah pisang goreng. Marwan juga. Sementara kami menyibukkan diri dengan goreng pisang raja. Desi menanyakan apakah kami mau minum yang lain. Marwan minta segelas air putih.

‘Kau tidak pulang kampung waktu ayahmu dibebaskan?’ tanyaku lagi beberapa saat kemudian.

‘Tidak. Kebetulan pak etekku sudah berencana untuk membawa keluarganya pulang kampung ketika liburan sekolah. Tadinya dia menanyakan apakah aku juga ingin ikut pulang atau mau tinggal di Surabaya. Kalau aku mau tinggal, tokonya akan dipercayakannya kepadaku selama beliau pergi. Kalau aku memilih ikut pulang toko itu akan dipercayakan kepada kawannya. Aku bingung menjawabnya. Sebenarnya, tentu saja aku juga ingin pulang melihat ayah. Tapi tawaran mengurus toko merupakan tantangan yang cukup menarik. Aku menulis surat kepada ayahku menanyakan pendapat beliau. Beliau mengatakan, tidak usah pulang. Ambil kesempatan belajar mengurus toko itu dan usahakan sebaik-baiknya, jangan sampai gagal. Begitu pesan ayahku. Aku tidak ikut pulang kampung dan menggantikan pak etek mengurus toko. Tidak sulit bagiku karena selama dua tahun disana aku selalu berlatih setiap libur dan hari Minggu. Sebelum itu, pernah juga beliau menyuruhku menjaga toko sehari dua kalau beliau ada urusan ke Jakarta atau ke tempat lain.’

‘Apa saja pekerjaan di toko buku itu ?’ tanyaku.

‘Selain menjual buku juga memesan buku-buku baru. Menerima kiriman buku-buku baru dari penerbit. Mengirim buku yang dipesan pembeli. Semua tentu harus dicatat sehingga nanti mudah melaporkannya.’

‘Dan kau kerjakan sendirian ?’

‘Tidak. Ada seorang karyawan yang membantu.’

‘Berapa lama pak etekmu di kampung?’

‘Tiga minggu termasuk di perjalanan. Di kampungnya mungkin hanya dua minggu. Mereka naik kereta ke Jakarta dan naik kapal laut ke Padang.’

‘Dan kau berhasil menjalankan tugas itu dengan baik?’

‘Alhamdulillah, aku berhasil. Pak etek sangat senang. Ayahku yang kemudian kukabari juga senang. Kata pak etek aku boleh pulang kampung tahun berikutnya. Tapi tahun berikutnya aku sudah kelas tiga. Aku ingin masuk ITS. Jadi aku tidak menggunakan tawaran itu karena aku sibuk dengan pelajaran. Aku bekerja keras untuk menghadapi ujian akhir dan ujian saringan masuk.’

‘Dan kau hanya mendaftar untuk masuk ke ITS?’

‘Aku disuruh pak etek ikut test masuk di Gajah Mada. Sebagai cadangan seandainya gagal ke ITS. Tapi aku berharap agar aku diterima di Surabaya. Maksudku dengan demikian aku tetap bisa membantu-bantu beliau. Kalau aku sekolah di Yogya dengan biaya dari beliau rasanya kurang pas. Aku berdoa setiap saat agar aku dapat sekolah di Surabaya. Alhamdulillah doaku dikabulkan Allah. Malahan yang di Gajah Mada itu aku tidak lulus.’

‘Selama itu kau tidak pernah bertemu dengan siapapun dari kampung kita? Entah teman-teman atau siapa saja?’

‘Orang kampung yang aku kenal sejak di kampung tidak pernah. Ada orang kampung kami tapi sudah lama menetap di Surabaya dan aku baru kenal disana. Dengan teman-teman sama sekali tidak pernah. Aku sudah hilang lenyap dari mereka dan mereka sudah hilang dariku. Pelan-pelan aku sudah berubah kejawa-jawaan. Kecuali dengan pak etek dan etek di rumah aku tidak pernah lagi berbahasa Minang.’

‘Aku ingat, kali kedua mampir ditokomu, aku hampir menyapamu tapi tidak jadi karena aku mendengar kau berbahasa Jawa dengan orang di depanku.’

‘Ya, karena aku bergaul dengan orang Jawa semua.’

‘Lalu sesudah kau diterima di ITS?’

‘Begini lagi ceritanya,’ jawab Marwan.

Diapun melanjutkan ceritanya kembali.


*****

Tuesday, January 15, 2008

ANAK MANUSIA KORBAN POLITIK (12)

ANAK MANUSIA KORBAN POLITIK (12)

12. TAHANAN POLITIK

Sudah hampir menjelang asar ketika Marwan menyelesaikan cerita panjang itu. Aku dan istriku benar-benar menjadi pendengar yang baik selama itu. Kami simak setiap uraiannya dengan penuh perhatian. Sebagian dari kejadian itu samar-samar masih aku ingat nuansanya. Meski di kampungku sendiri tidak ada orang yang menjadi anggota PKI, aku ingat dengan lobang perlindungan yang disuruh buat entah oleh siapa ketika itu. Setiap rumah harus mempunyainya. Anak-anak yang lebih kecil dari kami menggunakannya untuk tempat bermain sembunyi-sembunyian. Aku ingat dimana letaknya tong-tong dirumahku. Alat dari bambu yang harus dibunyikan kalau ada bahaya sebagai peringatan atau sebagai permohonan bantuan. Tapi seingatku belum pernah tong-tong di rumah ibuku itu diguguh.

Kami berhenti sebentar untuk pergi shalat asar, lalu melanjutkan lagi kisah itu. Sambil menikmati ketan dan pisang goreng yang dibuatkan Desi. Dan minum teh telor seperti yang tadi aku pesan.

Aku menanyakan beberapa hal dari cerita yang sudah diuraikan Marwan.

‘Ada yang ingin kutanyakan. Pertama, tidak adakah keterangan tentang orang yang membunuh pak tangahmu itu sesudah perang selesai? Tidak adakah permintaan maaf atau apalah misalnya dari komandannya? Maksudku, apakah kematian beliau itu tidak diketahui oleh komandan barunya?’

‘Setahuku tidak ada yang datang minta maaf dan sepertinya keluarga kami sudah menerima itu sebagai takdir. Sebagai sebuah kemalangan di tengah susana perang. Tapi ada cerita dari orang lain, yang katanya ikut satu pasukan dengan pak tangahku itu. Orang ini dari kampung tetangga kami. Aku tidak kenal dengannya. Dia punya teman lain lagi di kampungku. Nah, orang kampungku ini yang mendapat cerita bahwa kejadian pembunuhan pak tangahku itu diluar sepengetahuan komandannya. Orang yang datang berempat malam itu, kata cerita ini, adalah yang paling kecewa dan marah ketika dikhianati komandannya kapten Udin Kulabu. Salah satu dari mereka itu bersumpah akan membunuh teman-teman yang meyerah itu kalau mereka bertemu. Teman pak tangahku yang dari kampung tetangga itu mendengar sumpahnya. Tapi aku merasa heran, kenapa pak tangah juga dijadikannya sasaran, padahal beliau bukan termasuk kelompok yang membelot. Tambahan ceritanya, si pembunuh itu juga terbunuh dalam suatu pertempuran di Lintau setahun kemudian.’

‘Atau jangan-jangan mereka memang berniat merampok ? Karena menduga pak tangahmu banyak uang ?’

‘Entahlah. Aku tidak tahu tentang itu.’

‘Pertanyaan berikutnya tentang rumah ibumu. Jadi tetap tidak diketahui siapa yang berusaha membakar rumah itu?’

‘Tidak. Memang sebuah teka-teki besar. Tapi orang kampung tidak pernah ada yang berhasil mengungkapkannya,’ jawab Marwan.

‘Dan kau bilang bahwa tidak ada kemenakan engku Datuk itu yang komunis satu orangpun. Tapi dia sangat dihormati oleh anggota kaumnya, terlepas dari kekomunisannya. Aneh juga orang itu ya? Maksudku, kalau dia sebegitu yakin dengan partai komunis sebagai sebuah ideologi, kenapa justru dia tidak mengajak para kemenakannya untuk ikut?’

‘Aku tidak tahu apakah dia benar-benar tidak pernah mengajak mereka jadi komunis. Tapi aku tahu dan sangat yakin bahwa tidak ada satupun kemenakannya yang komunis. Di tengah kaumnya dia benar-benar bertindak sebagai seorang penghulu. Seorang datuk yang mengayomi mereka semua. Dalam masalah adat, sebagai seorang penghulu dia juga disegani oleh penghulu-penghulu lain di kampungku. Orang tidak menyukainya kalau dia sudah berbicara atas nama partainya.’

‘Adakah dari kalangan kemanakannya yang alim? Karena kau bilang dia alergi terhadap orang-orang surau di kampung?’

‘Setahuku tidak. Tapi kenapa kau tanyakan itu ?’ tanya Marwan.

‘Akan cukup menarik juga mengetahui apakah para kemenakannya itu betul-betul diperlakukan secara khusus secara adat Minang saja. Tidak diajaknya kemenakannya masuk PKI meski dia seorang PKI tulen, sementara dia berusaha mempengaruhi orang lain. Dan apakah dibiarkannya saja kalau ada kemenakannya yang alim sementara kalau orang lain alim dia alergi?’

‘Entahlah. Tapi aku dengar, konon ibu kandungnya pernah berpesan ketika dia sudah tidak bisa lagi dipengaruhi oleh ibunya itu untuk berhenti jadi orang komunis, kalau dia mau jadi PKI, lakukan sajalah sendiri, tapi anak kemenakannya jangan sampai diajak-ajaknya pula ikut serta. Wallahu a’lam apakah itu penyebabnya.’

‘Boleh jadi itulah penyebabnya. Lalu, bagaimana dengan ayahmu sendiri? Apakah ayahmu mendapat kesulitan dari fihak militer?’

‘Mulanya ayahku bekerja saja seperti biasa. Sepertinya lancar-lancar saja. Tapi beliau tahu, suatu saat pasti akan timbul masalah karena bagaimanapun beliau memang terdaftar sebagai anggota PKI. Ternyata benar. Sekitar awal tahun 66 semua anggota PKI tidak diizinkan lagi masuk kantor. Kepala kantor ayahku menasihati beliau agar jangan kemana-mana. Maksudnya agar jangan pergi melarikan diri. Dan beliaupun memang tidak ada niat untuk meninggalkan kampung.

Sebenarnya adik beliau, pak etekku yang di Surabaya itu mengajak beliau agar datang saja ke Surabaya. Ayahku tidak mau. Termasuk ibukupun melarang beliau pergi. Ayahku siap menerima segala resiko di kampung ini. Beliau tidak ingin melarikan diri.

Datanglah waktunya petugas militer mendata anggota PKI ke kampung-kampung. Ada beberapa orang yang diwajibkan melapor sekali seminggu ke kantor koramil, termasuk ayahku. Kecuali ayahku, yang lain umumnya adalah petani bahkan ada yang buta huruf. Mereka yang buta huruf itu sesudah beberapa kali datang wajib lapor dibebaskan dan tidak perlu lagi datang. Ayahku akhirnya ditahan dan dimasukkan ke penjara di Padang, karena menurut catatan para petugas itu beliau adalah anggota PKI aktif. Dan kau tahu, waktu itu tidak ada pengadilan.

Ayahku menerima keputusan petugas militer itu tanpa perlawanan. Tiga bulan pertama beliau tidak boleh dikunjungi. Kami sangat khawatir dengan kesehatan beliau. Ibuku tetap tegar dan memperbanyak doa dan zikir. Hanya itu senjata beliau.

Ada famili ayah di Padang yang bekerja di kantor pemerintah. Dia berusaha mencari jalan agar kami dapat menjenguk beliau. Sebelum itu kami dibuat panik ketika mendengar kabar, kemungkinan ayahku akan dikirim ke pulau Buru. Ibuku tetap tegar dan semakin khusyuk dalam setiap shalatnya.

Alhamdulillah, akhirnya kami diizinkan untuk mengunjungi ayah. Ayahku terlihat sangat kurus, tapi menurut beliau, beliau tidak pernah sakit selama di penjara di Padang. Mungkin udara panas kota Padang lebih cocok untuk beliau. Walaupun kami kurang yakin akan hal itu. Beliau benar-benar kurus. Hanya anehnya, muka beliau terlihat lebih cerah. Kata beliau, di penjara beliau berusaha untuk beribadah dengan sebaik-baiknya.

Dua bulan kemudian pak etekku yang di Surabaya itu pulang ke kampung dalam rangka menjenguk ayah. Pak etekku menawarkan untuk membawaku ikut dengan beliau ke Surabaya. Mulanya ibuku keberatan karena aku anak laki-laki beliau satu-satunya. Tapi ayahku justru mengijinkan. Kata beliau, biarkan saja dia pergi, mudah-mudahan bisa lanjut sekolahnya. Aku sendiri sebenarnya tidak ingin pergi karena kasihan meninggalkan ibu dan ayahku di penjara. Tapi beliau selalu memberi semangat kepadaku. Akhirnya aku menerima tawaran pak etekku itu kalau aku sudah tamat SMP.

Ayahku ditahan selama dua tahun sampai pertengahan tahun 68. Entah atas pertimbangan apa akhirnya beliau dilepaskan. Kalau menurut ayah mungkin karena selama berada di dalam penjara beliau tidak terlihat sama sekali sebagai orang komunis. Beliau selalu sembahyang dan berpuasa hari Senin dan Kamis,’ Marwan berhenti sejenak.

‘Di penjara beliau ditahan bersama-sama penghuni penjara yang lain ? Maksudku bercampur dengan para penjahat kriminal ?’

‘Tidak. Beliau dan orang-orang PKI lain ditahan terpisah.’

‘Sesudah tiga bulan pertama itu beliau selalu boleh dikunjungi?’ tanya Desi.

‘Boleh. Kami datang bergantian sekali seminggu. Setiap kali datang kami boleh bertemu sekitar satu jam. Dan beliau juga diperbolehkan menerima buku-buku untuk bacaan. Ibuku membawakan banyak buku-buku agama. Beliau mengisi waktu di penjara dengan banyak membaca,’ jawab Marwan.

‘Selama di penjara apakah beliau pernah disakiti ? Atau diinterogasi oleh petugas ?’ tanyaku.

‘Menurut beliau tidak pernah beliau diperlakukan secara kasar. Tapi memang pernah diinterogasi berkali-kali. Biasanya untuk menanyakan tentang anggota PKI yang lain. Dan ayahku tidak banyak mengenal anggota PKI yang lain.’

‘Tidak adakah yang membela beliau pada waktu itu ? Misalnya yang membantu memberitahu bahwa beliau sebenarnya sudah keluar dari partai komunis ?’ tanya Desi istriku.

‘Tidak mungkin. Dan percuma saja. Pertama karena tidak ada pengadilan. Siapa yang akan percaya bahwa ayahku sudah keluar dari partai itu? Jelas tidak ada buktinya. Yang kedua orang pasti takut membela-bela karena khawatir akan ikut pula ditahan atau dipenjarakan. Ibuku sendiripun tidak mungkin melakukan pembelaan seperti itu. Lagi pula melalui siapa kita akan memberikan pembelaan ?’ jawab Marwan.

‘Tentulah merepotkan sekali bagi ibumu menjadi single parent ketika itu? tanyaku.

‘Tidak juga. Ibuku pedagang kecil-kecilan. Beliau berjualan beras. Adalah untung sedikit-sedikit. Dengan keuntungan itulah beliau dapat biaya untuk menjenguk ayah hampir tiap minggu.’

‘Setelah beliau bebas adakah masalah dengan penduduk di kampung?’ tanyaku.

‘Hampir tidak ada. Masyarakat kampung umumnya lebih mengerti dan pemaaf. Bahkan warga kampung sangat prihatin waktu ayahku ditahan, karena di kampung orang-orang tahu bahwa beliau sudah tidak ingin bersama partai komunis lagi. Bahkan rumah ibuku hampir habis dibakar gara-gara beliau ingin keluar dari partai. Semua orang tahu itu. Tapi, mereka tidak bisa membela apa-apa waktu ayahku ditahan. Jadi waktu ayahku bebas, orang kampung menerima dengan sangat baik. Hanya, ayahku merasakan ada sedikit kekurang nyamanan dalam pergaulan di kampung waktu itu dengan keluarga sepersukuan Datuk Rajo Bamegomego. Sepertinya ada anggota persukuan itu yang tidak rela ayah dibebaskan sesudah ditahan dua tahun. Mungkin mereka menginginkan agar ayah ditahan lebih lama. Mungkin juga karena mereka membandingkan dengan kerugian mereka sendiri dengan hilang lenyapnya penghulu mereka.’

‘Ya, itukan sudah takdirnya masing-masing. Tidak ada hubungan antara apa yang dialami engku Datuk dengan yang dialami ayahmu,’ aku berkomentar.

‘Betul. Tapi bukan seperti itu mungkin yang mereka rasakan.’

‘Lalu, apa yang terjadi? Kenapa kau bilang ayahmu sakit-sakitan sampai akhirnya beliau meninggal beberapa tahun kemudian?’

‘Ayahku memang sakit-sakitan. Di penjara itupun beliau pernah sakit dan hampir tidak pernah diobati. Waktu beliau keluar dari penjara badan beliau kurus. Aku tidak tahu apakah karena perbedaan cuaca antara Padang dan kampung kita. Di kampung penyakit sesak nafas beliau itu sering kumat. Beliau berobat kemana-mana di kampung dan di Bukit Tinggi, tapi tidak banyak hasilnya.’

‘Kau sendiri di akhir tahun 66 berangkat ke Surabaya. Masih sempatkah kau bertemu dengan beliau sebelum beliau meninggal?’ tanyaku.

‘Sempat. Persis sebelum beliau meninggal. Pak etekku itu menyuruhku pulang ke kampung di pertengahan tahun 70, waktu liburan semester pertama. Karena ibuku memberi khabar bahwa penyakit ayah semakin parah. Waktu aku sampai dikampung, beliau sangat gembira. Beliau sangat kurus. Tapi masih bisa berkomunikasi denganku. Ayahku menasihatiku tentang banyak hal. Tapi satu hal yang beliau tekankan betul agar aku jangan ikut-ikutan berpolitik. Politik itu sangat kotor, kata beliau ketika itu.’

‘Benar juga yang dikatakan ayahmu. Beliau benar-benar telah jadi korban politik. Dan tentunya nasihat beliau kau jalankan sampai sekarang.’

‘Ya. Aku tidak pernah mau ikut-ikutan berpolitik.’

‘Dan kau berangkat kembali ke Surabaya ketika beliau masih sakit?’

‘Tidak. Beliau meninggal ketika aku sedang di kampung. Seolah-olah beliau menunggu kedatanganku untuk meninggal.’

‘Jadi kau sempat mengurus jenazah beliau,’ kataku.

‘Ya. Dan beliau dimakamkan disamping makam pak tangahku,’ kata Marwan.

‘Lalu apa yang terjadi dengan kau? Kau kembali ke Surabaya untuk melanjutkan sekolah?’

‘Ya, aku kembali ikut dengan pak etekku. Meneruskan sekolah sampai selesai kuliah. Lalu bekerja. Lalu menikah dengan wanita, anak orang awak yang tinggal di Malang. Seterusnya akan kuceritakan pengalamanku sampai aku diberhentikan dari tempat kerjaku, sampai akhirnya aku berdagang buku seperti sekarang.’


*****

Monday, January 14, 2008

ANAK MANUSIA KORBAN POLITIK (11)

ANAK MANUSIA KORBAN POLITIK (11)

11. MELARIKAN DIRI

Siapa Datuk Rajo Bamegomego sebenarnya? Nama kecilnya adalah Saman. Dia ini penghulu adat salah satu suku di kampung. Istrinya orang kampung ini juga. Di tengah kaumnya dia adalah orang pilihan, makanya diangkat jadi penghulu adat. Dia tamat sekolah Schakel, setingkat sekolah dasar di jaman Belanda. Dia pandai berbahasa Belanda. Ketika Indonesia merdeka diapun ikut jadi tentara pelajar dan sudah mulai tertarik dengan partai komunis karena pergaulannya dengan orang-orang komunis. Sejarah mencatat, partai komunis membuat kekeliruan pada tahun 1948. Tapi kekomunisannya sesudah pemberontakan PKI yang gagal di Madiun itu tidak pernah surut. Dia tetap bertahan sebagai kader PKI.

Sesudah penyerahan kedaulatan dia diangkat kaumnya jadi penghulu dan sejak itu dia menyandang gelar Datuk Rajo Bamegomego. Dia bekerja di kantor pemerintahan kota di Bukit Tinggi. Orangnya ambisius. Sayangnya dalam pergaulan dia sombong dan tinggi hati. Di matanya orang lain bodoh saja semua. Sifat ini kadang-kadang salah pasang secara keterlaluan. Dengan teman sekantornya sering terjadi kesalahafahaman akibat sikap sombong itu. Padahal orang-orang di kantor itu ada yang lebih pintar dan lebih tinggi pendidikannya dari dia. Akibatnya dia mempunyai banyak musuh di kantor.

Dia semakin terkucil karena keaktifannya dalam partai komunis. Di kantornya kebetulan tidak ada orang yang sealiran dengannya. Dalam setiap diskusi dan perdebatan sering dia jadi bulan-bulanan kawan-kawannya. Dia frustrasi dan berbuat nekad dengan cara berhenti jadi pegawai negeri untuk lebih berkonsentrasi di partai. Jadilah dia semakin kental dalam kekomunisan.

Sebelum pecah perang PRRI dia lebih banyak tinggal di Padang tapi keluarganya tetap tinggal di kampung. Ketika perang pecah, kebanyakan orang pulang ke kampung masing-masing. Diapun ikut pulang kampung. Sejak itu dia tidak pernah meninggalkan kampung kecuali pergi sebentar-sebentar untuk keperluan partai. Karirnya di partai cukup baik. Pernah dia ikut rombongan anggota partai dalam perjalanan ke luar negeri.

Secara ekonomi dia hampir tidak punya masalah. Di kampung dia tergolong orang kaya. Di tengah kaum sepersukuan, saudara perempuannya terhitung kaya. Begitu pula istrinya, untuk ukuran kampung termasuk orang berpunya dengan sawah yang luas. Dalam kegiatan partai, meski partai tidak memberinya penghasilan, tetapi ketika ada rapat-rapat khusus ada jugalah uang pengganti. Kadang-kadang cukup juga jumlahnya. Ketika dia tinggal di Padang sebelum pindah kembali ke kampung, partai menyewakan sebuah rumah kecil untuknya.

Di tengah-tengah kaum sepersukuan, meskipun para kemenakannya tidak menyukai kekomunisannya, terlebih-lebih ketidakpercayaannya dengan Tuhan, namun hubungan kekeluargaan mereka cukup baik. Dalam masalah kepentingan kemenakan dia tetap seorang Minang yang sangat perduli kepada mereka. Para kemenakan yang laki-laki selalu diberinya semangat agar rajin sekolah. Banyak dari kemenakan itu yang mengidolakan dia sebagai seorang laki-laki panutan, karena dalam anggapan mereka dia adalah seorang penghulu yang pintar dan cerdas. Bagi kaum sepesukuannya dia adalah seorang pemimpin yang sangat dihargai.

Kebalikannya, di tengah-tengah keluarga istrinya dia kurang disenangi karena disebabkan keangkuhan juga. Dengan mamak rumahnya (saudara laki-laki istrinya) dia sangat bertentangan karena mamak rumah tersebut orang surau. Orang surau punya tempat tersendiri sebagai musuh dalam kehidupannya. Hubungan dengan istrinya cukup istimewa untuk ukuran di kampung karena dia bertahan dengan mempunyai seorang istri saja. Kalau dia mau dia bisa dengan sangat mudah kawin lagi, karena dia penghulu. Tapi hal itu tidak dilakukannya. Anaknya empat orang. Perempuan keempatnya. Anak-anak itu disuruhnya sekolah sampai sekolah menengah atas. Tidak ada yang sampai masuk ke perguruan tinggi. Dua orang anaknya bidan dan bekerja di rumah sakit. Yang dua orang lagi jadi guru sekolah rakyat dikampung. Hubungan ayah dan anak biasa-biasa saja. Tidak ada satupun dari anaknya yang tertarik dengan partai komunis.

Di dekat rumah saudaranya ada sebuah bangunan bekas surau yang tidak lagi difungsikan sebagai surau. Rumah kecil itu dijadikannya seperti kantor. Disana dia betah duduk membaca berlama-lama. Banyak buku-buku komunis terdapat disana. Umumnya buku-buku berbahasa Belanda dan sebagian berbahasa Indonesia. Dia juga menyimpan semua surat menyurat urusan partai dalam sebuah lemari kecil. Di dinding bagian mihrab surau ditempelkannya lambang PKI, sebuah bendera merah berlambang palu arit.

Saudara perempuannya sebenarnya sangat risih dengan lambang palu arit itu. Risih saja karena bangunan kecil itu tadinya adalah surau kaum. Benar bahwa surau itu sudah tidak digunakan sebagai surau lagi, tapi dengan melihat bendera merah besar itu, entah kenapa dia sangat kurang senang. Namun hanya sekedar tidak senang begitu saja. Tidak pernah dia berani mengatakan apa-apa. Setiap kali dia datang membawakan kopi untuk kakaknya kesana selalu dilengahkannya pandangannya dari bendera merah itu.

Kemenakan-kemenakan yang ingin berdiskusi atau bertanya kepadanya diterimanya di dalam kantornya yang bekas surau ini. Ada yang betah duduk dengannya berlama-lama disini, bertanya dan berdiskusi tentang masalah-masalah adat, karena dalam masalah adat dia cukup berpengetahuan. Aneh juga karena dia tidak pernah mempengaruhi seorangpun dari kemenakannya untuk jadi anggota PKI.

Seperti itulah sedikit latar belakang dan lingkungan kekerabatan Datuk Rajo Bamegomego.


***

Peristiwa yang terjadi tanggal 1 Oktober 1965 pagi di Jakarta, semakin jelas memojokkan posisi partai komunis. Hal itu tidak bisa lagi ditutup-tutupi. Namun Datuk Rajo Bamegomego bukan orang yang cepat putus asa. Dia ingat betul, tahun 1948 dulu PKI juga gagal. Tapi sesudah itu? PKI bangkit kembali dengan lebih gagah. Kali inipun dia yakin hal yang sama akan terjadi. Walaupun dia kecewa, karena sementara ini yang terjadi sangat berbeda dengan yang dia harapkan. Tapi dia tetap yakin dalam waktu yang tidak lama PKI akan bangkit lagi.

Dan dia harus melakukan sesuatu. Dia harus pergi dari kampung karena di kampung semua orang kenal dengan kePKIannya. Tahu dengan sepak terjangnya selama ini. Di kampung cepat atau lambat dia pasti tidak akan aman. Datuk Rajo Bamegomego berniat untuk pergi ke Medan. Ini termasuk strategi yang dibahas dalam rapat-rapat internal PKI, bahwa seandainya terjadi sesuatu yang menyulitkan di Sumatera Barat, mereka, para pengurus partai akan lari ke Jakarta. Tapi jika Jakarta dinilai tidak aman, mereka akan menghindar ke Medan.

Datuk Rajo Bamegomego merancang sebaik-baiknya hari keberangkatannya. Sebelum itu, semua surat-surat dan buku-buku partai cukup disurukkan ke atas loteng surau ini saja. Termasuk bendera palu arit. Toh nanti, kalau keadaan sudah kembali aman dan terkendali dia segera akan pulang dan akan kembali berkantor disini. Rencana keberangkatan itu sudah disampaikannya kepada saudara dan beberapa kemenakan terpercayanya.

Sanak saudara dan kemenakan-kemenakannya sebenarnya keberatan dia pergi. Terdengar berita bahwa di pulau Jawa, orang-orang PKI sudah mulai diburu-buru dan dibunuhi. Meski di kampung tidak ada yang sanggup menjamin keamanannya, tapi rasa-rasanya orang kampung belumlah akan seberingas orang-orang di Jawa itu. Yang ada dalam benak engku Datuk justru sebaliknya. Terlalu beresiko baginya kalau dia tetap tinggal di kampung. Akhirnya, keluarga menyetujui kepergiannya. Dan kepergian itu tetap dirahasiakan dari penduduk kampung. Seorang kemenakannya membelikan karcis oto Sibualbuali dan dipesankan bahwa dia nanti akan naik di Palupuh, sebuah kampung yang sangat jauh dari kampungnya. Disana ada rumah temannya satu partai.

Koper kecilnya dibawakan oleh seorang kemenakannya dengan dibonceng sepeda malam hari ke Bukit Tinggi. Koper kecil itu dititipkan di loket Sibualbuali. Dia sendiri berangkat subuh-subuh buta dengan berjalan sambil melenggang. Seandainya ada orang yang melihat dan bertanya dapatlah dia mengatakan bahwa dia akan pergi ke Bukit Tinggi saja. Kepada istrinya dia berpesan bahwa dia akan pergi keluar kota untuk beberapa hari. Jadi kepada istrinyapun kepergiannya itu dirahasiakannya. Dari Bukit Tinggi dia menyewa bendi ke Palupuh. Begitu benar dia menjaga diri agar tidak ada yang tahu kemana dia pergi. Maka berangkatlah dia ke Medan.


***

Agak tepat juga langkah Datuk Rajo Bamegomego. Tidak berapa lama kemudian ada petugas tentara dari kantor Kodim datang untuk mendata siapa-siapa saja orang PKI di setiap kampung. Untuk sementara hanya didata saja. Mereka yang memang terdaftar sebagai anggota PKI diwajibkan untuk datang melapor sekali seminggu ke kantor koramil terdekat. Tidak ditahan dan tidak diapa-apakan.

Petugas kantor Kodim itu tentu saja sudah dapat laporan bahwa di kampung ini ada seorang PKI dengan gelar Datuk Rajo Bamegomego. Petugas itu mendatangi rumah istrinya. Istrinya memberitahu bahwa engku Datuk sedang keluar kota untuk beberapa hari. Waktu ditanya kemana keluar kotanya, istrinya tidak tahu. Petugas itu berjanji akan datang lagi beberapa hari kemudian.

Seminggu kemudian petugas itu datang lagi. Ternyata engku Datuk tetap tidak ada. Tentu saja petugas-petugas itu kesal. Atas saran istri engku Datuk mereka disuruh menanyakan ke rumah saudaranya.

Adik Datuk Rajo Bamegomego, Rohana namanya, sangat gugup ketika didatangi tentara. Tapi tentara itu cukup simpatik dan memberitahukan bahwa tugas mereka hanya mendata saja semua anggota PKI. Kepada petugas itu akhirnya Rohana tidak berani berbohong. Dia memberitahukan terus terang bahwa kakaknya, engku Datuk sedang pergi ke Medan.

‘Untuk keperluan apa beliau pergi ke Medan?’ tanya tentara petugas itu.

‘Kami kurang tahu. Menurut beliau masih untuk keperluan partai,’ jawab Rohana.

‘Tahu ibu dimana alamat beliau disana?’

‘Tidak tahu.’

‘Ada sanak famili yang bisa dihubungi di Medan?’

‘Tidak ada.’

‘Pernyataan ibu kami percayai sebagai keterangan yang benar. Karena kalau kemudian hari ternyata ibu mengatakan sesuatu yang tidak benar, ibu akan berhadapan dengan petugas hukum. Saya rasa ibu faham tentang itu, ‘ ujar tentara petugas itu.

‘Saya faham,’ jawab Rohana mulai tersedu.

‘Atau ada keterangan ibu yang ingin dikoreksi?’ tanya petugas itu pula.

‘Tidak ada. Saya tidak menyembunyikan apa-apa. Semua keterangan saya sejujurnya.’

‘Baik ibu. Kalau seandainya beliau pulang suruh beliau segera melapor. Dengan demikian beliau berada di bawah perlindungan kami. Sementara ini tugas kami hanya mendata setiap anggota PKI. Mereka diwajibkan melapor ke kantor koramil. Seandainya dikemudian hari ada masalah-masalah hukum, maka hukumlah yang akan berbicara. Itu sudah diluar tanggung jawab kami,’ begitu pesan petugas tentara itu.


***

Datuk Rajo Bamegomego sepertinya membuat kesalahan fatal dengan keberangkatannya dari kampung untuk menyelamatkan diri. Terdorong oleh harapannya bahwa PKI akan kembali lagi suatu saat nanti, akibatnya sungguh mengenaskan. Beritanya tidak pernah terdengar lagi. Dia hilang raib seperti ditelan bumi. Di medan orang-orang PKI ternyata juga diburu dan dibunuh orang. Banyak mayat orang-orang PKI itu dicampakkan orang ke sungai Ular di kota Medan, hanyut ke selat Malaka.

Tidak ada yang tahu apakah Datu Rajo Bamegomego termasuk satu di antara yang jadi korban seperti itu. Yang diketahui orang hanyalah bahwa dia tidak pernah lagi pulang.

Kaum sepersukuannya merasakan ini sebagai aib besar. Penghulu mereka hilang tidak tentu rimbanya. Mati tidak tahu dimana kuburnya. Salah satu kemenakannya mencoba mencari jejaknya ke Medan. Bertanya kalau-kalau ada orang yang kira-kira tahu. Tapi pekerjaan itu sia-sia saja. Beberapa orang kemenakannya merasa malu dan sangat terpukul. Mereka jadi serba rumit. Untuk menegakkan penghulu yang baru pengganti Datuk yang hilang tidak mungkin dilakukan.

Kebalikannya, orang kampung mencatat di dalam hati saja kehilangan Datuk Rajo Bamegomego. Boleh dikatakan tidak ada yang perduli dengan hal itu. Rasanya, seandainya beliau tetap menetap dikampung, paling-paling akan ditinggalkan orang dalam pergaulan, tidaklah ada orang yang akan sampai hati mencelakai jiwanya. Masyarakat kampung lebih pemaaf.


*****

Sunday, January 13, 2008

ANAK MANUSIA KORBAN POLITIK (10)

ANAK MANUSIA KORBAN POLITIK (10)

10. PECAH

Suasana semakin mencekam saja. Sesudah terbakarnya dapur Siti Zahara, hari demi hari tambah menegangkan. Benar bahwa kegiatan ronda malam sudah ditingkatkan, tapi macam-macam pula yang terjadi sekarang. Sering rumah orang-orang tertentu dilempari tengah malam. Berdentang-dentang bunyi atap seng dilempari batu sebesar tinju. Yang punya rumah bangun, diguguhnya tong-tong, datang orang ronda. Tapi yang melemparkan batu entah sudah kemana lari. Tangga mesjid sudah beberapa kali dilumuri orang dengan najis, dengan cirik. Orang yang sudah berwudu mau masuk ke dalam mesjid, terinjak ‘barang lunak’ dan baunya menguap sesudah itu.

Ke dalam surau tempat anak-anak mengaji dimasukkan orang anjing yang diikat dengan rantai. Karena pintu surau itu mudah membukanya. Dimasukkannya anjing dan diletakkannya makanan sehingga anjing itu tenang saja. Siang hari waktu guru mengaji masuk dengan murid-muridnya, anjing itu menyalak.

Yang paling mengenaskan, seorang wanita tua yang akan pergi sembahyang subuh, berjalan di pinggir kolam mesjid, disikut oleh orang berkelumun kain sarung bertopi sebo sehingga terpelanting masuk kolam. Alhamdulillah dia tidak apa-apa, kecuali basah kuyup. Tidak jadi sembahyang subuh. Wanita tua itu ketua Aisyiah di kampung.

Singkat cerita rakyat sekarang diteror. Yang jadi korban umumnya orang-orang tertentu. Kalau ditarik garis, sepertinya ada hubungan antara orang yang kena teror dengan orang yang berani bersuara lantang melawan PKI. Orang yang berani berdebat dan menyinggung martabat PKI langsung mengalami teror. Rumahnya dilempari batu. Ini yang paling umum. Rumah Mantari Gobah sudah jadi langganan. Hebatnya, ketika Mantari Gobah mencoba mengintip diam-diam, sengaja dia berangin-angin di tengah malam, bersembunyi menantikan orang yang akan melempar rumah istrinya, tidak ada kejadian. Dua hari dia diam-diam meronda, tidak terjadi apa-apa. Hari ketiga dia beristirahat, menjelang tengah malam bunyi atap seng rumah itu kembali berdengkang-dengkang dilempari orang. Seolah-olah si pelaku itu tahu benar kapan Mantari Gobah lengah, barulah dia bertingkah.

Sebenarnya penduduk tahu siapa-siapa saja orang PKI di kampung itu. Induk angkangnya siapa lagi kalau bukan Datuk Rajo Bamegomego. Tapi dia ini sudah orang tua, rasanya tidak mungkinlah dia yang akan turun tangan meneror. Ada satu orang yang agak dicurigai masyarakat, seorang mantan anggota OPR, tentara bentukan APRI ketika perang PRRI. Orangnya memang masak mentah, beringas. Tapi ada pula alibinya. Dia lebih banyak berada di rumah istrinya di kampung lain yang cukup jauh dari kampung ini. Ada dua orang lagi yang biasa menemani engku Datuk dan memang dikenal sebagai orang PKI. Tapi orang ini agak bodoh dan lamban. Tidak ada yang yakin bahwa kedua orang ini yang membuat teror. Itulah yang rumit. Jadi siapa sipembuat onar ini sebenarnya? Atau mungkinkah orang dari kampung lain? Itupun sulit pula diterima akal. Bagaimana dia dapat mengetahui sasaran yang akan di teror dengan begitu tepat?

Suasana mencekam di kampung itu sudah pernah dilaporkan ke polisi dan tentara di kantor kecamatan, tapi keduanya sama saja nasihatnya. Tingkatkan penjagaan dengan ronda malam. Hati-hati dengan api di tungku, periksa benar sebelum tidur. Begitu pula hati-hati dengan lampu minyak tanah. Hanya itu saja nasihatnya. Sekali-sekali datang polisi berpatroli, senja hari. Padahal kejadian teror biasanya lewat tengah malam.

Begitulah suasana di kampung kala itu. Lebih dari cukup untuk membuat resah. Sebenarnya perbuatan teror itu semata-mata perang urat syaraf saja. Kecuali rumah Siti Zahara yang nyaris habis terpanggang, gangguan lain belum ada atau tidak ada yang fatal. Seperti melempari rumah dengan batu di tengah malam, mengotori tangga mesjid, mengganggu orang yang akan pergi ke mesjid. Semua kejadian pasti malam hari, bahkan di sekitar tengah malam sampai menjelang subuh. Tidak pernah siang hari atau waktu masih senja.

Siang hari kehidupan berjalan biasa-biasa saja. Lepau kopi tetap dikunjungi orang dan tetap ramai di sore hari. Mantari Gobah bukannya jadi takut karena rumah istrinya jadi langganan teror. Malahan semakin lantang suaranya setiap berdebat dengan Datuk Rajo Bamegomego.

‘Masih sering juga rumah istrimu dilempar orang tengah malam, Gobah,’ tanya Khaidir Malin Basa.

‘Masih,’ jawab Mantari Gobah singkat.

‘Aku dengar pernah kau rondai sendiri. Kau nantikan si pembuat onar itu. Benar?’

‘Benar. Tidak ada dia datang.’

‘Tidak takut kau?’ tanya Katik Sati.

‘Apa yang akan ditakutkan? Buktinya mereka juga orang-orang penakut. Orang gedang serawar,’ jawab Mantari Gobah.

‘Huh, hebat. Besar juga nyali kau Gobah,’ ujar Datuk Rajo Bamegomego.

‘Begitu buktinya engku Datuk. Siapapun orang-orang itu. Itu adalah orang-orang gedang serawar, pengecut. Beraninya hanya membuat teror. Beraninya berbuat sembunyi-sembunyi. Melempari rumah orang tengah malam, membakar rumah orang tengah malam. Kalau memang berani, keluar siang-siang begini. Buat perkara siang-siang begini. Baru jantan namanya itu,’ jawab Gobah.

‘Huh. Akan datang masanya Gobah. Akan datang masanya. Orang-orang seperti kau ini didatangi orang-orang revolusioner terang-terangan. Boleh kau terampun-ampun kala itu nanti,’ ujar engku Datuk.

‘Kenapa mesti menunggu? Kalau seandainya engku Datuk tahu orangnya, suruhlah dia datang sekarang-sekarang. Saya ini apa yang akan saya takutkan. Nyawa saya nyawa berlebih sisa perang kemarin. Dan saya, kalau dapat orang itu, siapapun dia, akan saya patahkan tangannya,’ Mantari Gobah mulai naik pasang.

‘Kalau aku tahu orangnya? Kalau aku tahu orangnya aku perkenalkan kau kepadanya,’ jawab engku Datuk. Entah apa maksudnya.

‘Kalau dipikir-pikir ini memang perang urat syaraf saja. Ada usaha untuk menakut-nakuti masyarakat. Entah apa tujuannya sesudah itu,’ Katik Sati berkomentar.

‘Betul. Itu hanya usaha menakut-nakuti masyarakat. Dan yang diteror orang-orang yang tertentu pula. Orang-orang yang dekat ke mesjid atau orang-orang yang sering berdebat di lepau ini,’ Mantari Gobah menambahkan.

‘Orang-orang yang berdebat di lepau ini belum tentu pula semua. Rumah anakku sudah pernah dilempari orang itu, begitu pula rumah anakmu. Rumah Malin Basa juga, bukan ?’ kata Katik Sati.

Khaidir Malin Basa mengangguk.

‘Ya iyalah. Rumah anak engku Datuk mana pula akan dilemparinya,’ Mantari Gobah menambahkan dengan sedikit menyindir.

‘Rumah anakku siapa pula yang akan berani melempari he..he..he,’ kata Datuk Rajo Bamegomego sambil tertawa menyeringai.

‘Tapi aku yakin, suatu saat si tukang lempar batu sembunyi tangan ini akan tertangkap juga,’ kata Mantari Gobah.

‘Dan kalau tertangkap kau patahkan tangannya?’ tanya engku Datuk.

‘Kalau tertangkap olehku, kupatahkan tangannya,’ jawab Mantari Gobah mantap.

‘Tidak percuma kau bekas tentara PRRI,’ kata engku Datuk.

‘Ya, tidak percuma. Dan aku tentara PRRI yang bertahan sampai perang selesai. Sudah dua kali aku ikut perang bersosoh. Sudah dua kali nyawaku hampir hilang. Jadi yang ada sekarang sisa nyawa saja lagi. Makanya aku tidak takut.’

‘Bagus itu. Siapa tahu pada saatnya bersobok betul kau dengan lawan yang setanding.’

‘Aku tunggu, engku Datuk. Aku tunggu. Biarlah sama di dengar angin, mudah-mudahan sampai tantanganku ini. Aku tunggu manusia jelatang kampung ini kapan saja. ’

***

Sejak kegiatan ronda malam lebih ditingkatkan lepau simpang dibuka sampai larut malam. Orang yang tidak sedang giliran rondapun senang duduk-duduk sambil mendengarkan radio transistor milik orang lepau. Transistor yang suaranya sayup-sayup sampai. Tidak banyak orang yang punya radio transistor di kampung ini. Salah satunya adalah orang lepau ini.

Sudah beberapa malam Datuk Rajo Bamegomego ikut bertahan di lepau ini mendengarkan radio. Dan dia minta agar yang didengar hanya RRI pusat saja. Siaran RRI isinya sebahagian besar adalah berita pengganyangan Malaysia dan ulasan beritanya, atau pidato-pidato Bung Karno entah pada kesempatan apapun.

Tapi malam itu agak berbeda. RRI banyak memutar lagu-lagu mars. Lagu Maju Tak Gentar, lagu Nasakom, lagu ganyang Malaysia. Hampir tidak ada berita apa-apa. Datuk Rajo Bamegomego terlihat agak berbeda dari biasanya. Dia terlihat gelisah. Sampai jauh malam, ketika orang lepau mau menutup lepau, tetap tidak ada berita apa-apa. Engku Datuk baru pulang setelah larut malam itu.

Keesokan harinya, orang-orang kembali berkumpul di lepau. Orang lepau bercerita, sepertinya telah terjadi sebuah peristiwa pagi itu di Jakarta. Begitu yang dia dengar di radio. Hanya beritanya tidak terlalu jelas. Samar-samar terdengar bahwa ada korban tentara-tentara yang terbunuh di Jakarta. Datuk Rajo Bamegomego yang juga hadir ikut mendengar berita. Masih sempat dia berkomentar bahwa kelihatannya mesin revolusi yang sangat besar itu sudah dinyalakan di Jakarta dan gelindingnya akan segera sampai ke daerah-daerah.

Ternyata berita itu semakin jelas. Malam hari itu RRI sudah kembali mengudara dan menurut berita telah terjadi sebuah usaha perebutan kekuasaan. Akan tetapi presiden Soekarno selamat dan dalam keadaan sehat. Enam orang jenderal TNI terkorban secara mengenaskan. Pelaku kudeta itu sedang ditumpas oleh tentara. Siapa yang melakukan perebutan kekuasaan masih samar-samar. Beberapa hari sesudah itu orang baru berbicara bahwa dalang kudeta itu adalah PKI.

Hah? PKI? PKI melakukan kudeta? Apakah ini yang dimaksud Datuk Rajo Bamegomego sebagai roda revolusi yang mulai menggelinding? Kalau benar demikian, maka sepertinya PKI tidaklah diatas angin sementara ini. Karena usaha kudeta itu sendiri ternyata dapat digagalkan. Dan sisa-sisa gerakan itu sedang ditumpas di Jakarta.

Selama dua hari Datuk Rajo Bamegomego tidak ada di kampung. Dia pergi ke Bukit Tinggi dan terus ke Padang untuk mencari informasi. Pulang dari Padang terjadi perubahan drastis atas diri engku Datuk. Serta merta hilang nada suara jumawanya. Bahkan kalaupun masih sama duduk di lepau tidak banyak lagi bicaranya. Kumis beranting berwarna kelabu itupun sepertinya agak layu sekarang. Matanya tidak segarang biasanya.

‘Kemana menghilang saja dua hari ini, engku Datuk?’ tanya Mantari Gobah.

‘Aku ke Padang menyilau anak,’ jawab engku Datuk tanpa gairah.

‘Menyilau anak atau mencari berita, engku?’ tanyanya pula.

‘Menyilau anak. Anakku sakit.’

‘Tidak sekalian pergi rapat? Bagaimana kabar roda revolusi, engku Datuk?’ Mantari Gobah terus mencecar.

‘Belum ada kabar. Belum ada kejelasan,’ jawabnya pula.

‘Tapi kata radio sudah jelas. Orang-orang PKI membuat onar di Jakarta dan sedang ditumpas. Kabarnya pula ketua besar PKI sudah menghilang dari Jakarta. Apa menemui dia engku di Padang?’ tanya Mantari Gobah bersemangat.

‘Belum tentu benar berita itu. Tunggulah dahulu. Kita lihat sebentar lagi. Nanti akan terbuka juga kejadian sebenarnya.’

‘Jadi menurut engku Datuk, masih harus kita tunggu roda revolusi itu bergulir? Roda revolusi yang akan menghancurkan musuh-musuh revolusi itu? ’

‘Tunggu sajalah Gobah. Tunggu sajalah dulu. Maaf aku kurang sehat sejak di Padang kemarin. Nantilah kita sambung cerita.’

Engku Datuk beranjak meninggalkan lepau. Belum pernah terjadi seperti ini. Biasanya orang lain yang mengalah. Orang lain yang keluar dari lepau kalau debat sudah terlanjur panas. Tapi sekali ini lain. Hanya ditanyakan hal-hal sederhana seperti itu saja engku Datuk sudah keletihan. Atau boleh jadi dia sakit ? Ah, selama ini tidak pernah dia mengeluh sakit. Memang berbeda sekarang. Datuk Rajo Bamegomego yang selama ini tuhuk-tahan, kali ini sepertinya sinarus. Yang selama ini seperti tidak ada matinya, kali ini terlihat loyo. Benar-benar sudah berakhirkah riwayat partainya?

Ada satu lagi yang tiba-tiba berubah. Tiba-tiba tidak ada lagi orang mengguguh tong-tong tengah malam karena rumahnya dilempari batu. Sudah tiga hari ini berturut-turut. Sudah amankah nagari dari teror? Namun atas saran wali nagari, kewaspadaan tetap harus dijaga. Ronda malam tetap harus dilakukan dengan penuh kesiagaan.

Suasana memang berubah dari sehari ke sehari. Berita tentang kudeta itu semakin jelas. Koran-koran menyebutnya sebagai pemberontakan Gestapu PKI. Gerakan tiga puluh September PKI. Rupanya tanggal 30 September itu PKI menghidupkan mesin besar revolusinya, seperti yang selalu digembar-gemborkan dan dinanti-nanti Datuk Rajo Bamegomego. Dan rupanya roda revolusi itu tidak berjalan sebagaimana yang mereka harapkan.

Datuk Rajo Bamegomego sekarang jarang hadir ke lepau. Dia ada di rumah anaknya, tapi lebih banyak bermenung saja. Roman mukanya semakin lusuh. Di rumahpun dia tidak seperti biasanya lagi. Selama ini Datuk yang satu ini memang terkenal penaik darah. Pemarah dan suka bercarut. Orang lain yang gelinggaman mendengarnya. Padahal dia penghulu adat.


*****

Saturday, January 12, 2008

ANAK MANUSIA KORBAN POLITIK (9)

ANAK MANUSIA KORBAN POLITIK (9)

9. BISUL YANG SEMAKIN MERADANG

Keesokan harinya ramai orang membicarakan tentang kebakaran tadi malam. Hampir semua yang melihat tempat kejadian sependapat bahwa yang terjadi bukan ‘kebakaran’ tapi justru pembakaran. Semua setuju mengatakan bahwa bagian dapur rumah Siti Zahara terbakar bukannya secara tidak sengaja tapi disengaja. Artinya ada orang yang membakar. Nah, ini dia masalahnya sekarang. Siapa yang membakar?

Di lepau hal itu dibahas orang. Begitu juga di surau. Begitu juga di kantor kepala jorong. Siapa agaknya yang membakar?

Saat ini bukanlah waktu yang tepat untuk sembarang menuduh. Salah-salah menuduh bisa balik awah penebangan. Bisa yang menuduh jadi tertuduh. Jadi tidak ada yang berani menuduh. Atau menyelidik-nyelidik. Lebih baik dengarkan saja cerita radio lutut. Siapa tahu nanti terbongkar juga sendirinya.

***

Subuh itu sedikit lebih banyak yang ikut sembahyang di mesjid. Mereka yang ikut berjaga-jaga di pos ronda sesudah memadamkan api, hadir ke mesjid pagi itu. Sesudah sembahyang, Kari Sutan, imam mesjid, mengajak jemaah subuh itu untuk berdoa bersama-sama, meminta perlindungan Allah bagi warga anak nagari beserta harta benda dari segala kezaliman. Dari segala sifat aniaya orang-orang zalim. Sesudah berdoa itu, jamaah masih berunding di mesjid, membicarakan apa langkah yang sebaiknya diambil untuk mengatasi situasi yang semakin tidak mengenakkan.

‘Takutnya, kalau-kalau mesjid inipun sekali waktu jadi sasaran pula,’ Ahmad Sinaro berkomentar.

‘Mungkin saja. Tapi itulah sebabnya saya mengajak engku-engku berdoa bersama. Kepada Allah kita memohon perlindungan. Dari perbuatan orang-orang jahil dan zalim yang memang semakin berani kelihatannya berbuat aniaya,’ jawab Kari Sutan.

‘Jadi bagaimana langkah kita di luar itu sebaiknya Kari?’ tanya Katik Sati.

‘Bagi kita-kita yang dapat giliran ronda, lebih sering datang mengawasi mesjid ini. Tuanku mesjid, Pakih Basa, banyak-banyaklah bangun malam hari berjaga-jaga. Seandainya terjadi yang membahayakan, cepat pukul tabuh. Itu jalan tambahan yang tampak oleh saya. Apalagi yang dapat kita upayakan di luar itu? Dan nanti kita bicarakan pula hal ini dengan engku wali jorong. Tentu nanti inyiak wali nagari akan hadir ke sini. Bisa pula kita bicarakan dengan beliau,’ jawab Kari Sutan pula.


***

Pagi harinya wali nagari datang pula meninjau. Beliaupun menyarankan supaya ronda malam lebih ditingkatkan. Hanya itu usaha yang paling baik bisa dilakukan sementara ini kata nyiak wali.

‘Perkara ronda iyalah nyiak wali. Saya sependapat. Ada suatu pertanyaan sambil berandai-andai. Seandainya tertangkap orang yang berbuat aniaya ini, orang yang tukang bakar ini, bagaimana kita bertindak ?’ tanya Mukhtar guru.

‘Diikat tangannya, kita antarkan ke kantor polisi,’ jawab wali nagari.

‘Kalau dipukuli beramai-ramai bagaimana ?’ tanya yang lain.

‘Sebaiknya jangan. Salah-salah tangan kita, nanti lain lagi urusan yang timbul,’ jawab nyiak wali.

‘Sebab tadi malam di pos ronda, ada yang mengusulkan, kalau dapat ditangkap perusuh ini, kita pukuli ramai-ramai. Bila perlu kita gantung hidup-hidup.’

‘Tidak usahlah menggunakan cara-cara seperti itu. Bertambah masai kusutnya nanti. Kita harus lebih banyak menahan diri.’

‘Tapi.... sampai kapan kita akan menahan diri terus? Orang sudah terang-terangan bersilantas angan kepada kita,’ Mukhtar guru masih penasaran.

‘Kalau saran ambo, seperti itu dululah. Kita tingkatkan kewaspadaan. Mudah-mudahan berhitung pula tukang kacau ini berbuat, kalau kita sudah siap siaga. Hikmah itu saja yang kita ambil. Ketika suasana agak panas, kita tingkatkan kewaspadaan,’ kata nyiak wali nagari mengakhiri diskusi di kantor kepala jorong pagi itu.

***

Sore harinya di lepau simpang masih itu juga bahasan orang. Dan yang memulai cerita adalah Datuk Rajo Bamegomego.

‘Habis kabarnya dapur rumah anak Sutan Marajo dilahap api tidak malam ya?’ Datuak Rajo Bamegomego bertanya lepas saja.

‘Betul, engku. Hampir habis. Rumah dapurpun sudah ikut terbakar sebagian,’ jawab Katik Sati.

‘Untung cepat kepintasan. Kalau tidak, tentu habis dengan telur-telur kepinding,’ tambah engku Datuk.

‘Ya. Untunglah. Ditolong Tuhan Allah, ada anak sekolah yang belajar di rumah guru Tahar, pergi ke jamban tengah malam. Dia yang melihat api mula-mula,’ tambah Katik Sati.

‘Mana yang benar ini? Ditolong Tuhan Allah atau karena dilihat anak kecil itu?’

‘Ya sejalan itu engku. Tuhan Allah yang menggerakkan sehingga anak itu turun ke halaman, lalu melihat api.’

‘Jangan-jangan Tuhan Allah justru yang membakar...he...he..he.’

‘Kalau melihat bukti, ada orang yang membakar,’ tambah Mantari Gobah.

‘Apa buktinya?’ tanya engku Datuk.

‘Paran di atas tungku selamat. Tidak ikut terbakar. Berarti api tidak dari tungku datangnya. Kalau tidak dari tungku dari mana lagi? Tentu dari luar. Kalau dari luar tentu ada orang yang membakar,’ Mantari Gobah menjelaskan.

‘Atau jangan-jangan ada lampu togok tersandung. Kan bisa juga,’ engku Datuk menimpali.

‘Api datang dari sebelah dapur. Maksudnya dapur yang mula-mula terbakar. Buat apa pula lampu togok ada di dapur,’ Mantari Gobah membantah.

‘Iya ya. Atau jangan-jangan api sikulambai. Api jadi-jadian he..he..he..’

‘Itu entahlah engku.’

‘Sebenarnya ada lagi tambahan cerita,’ tambah Khaidir Malin Basa.

‘Cerita apa itu? Cerita kau karang atau cerita sebenarnya?’ tanya engku Datuk.

‘Yang mula-mula melihat api, yang pergi ke jamban di rumah guru Tahar tadi malam itu kemenakan saya si Poan. Dia bercerita dia tidak bisa tidur. Heboh betul salak anjing waktu itu, katanya. Lalu kemudian anjing yang menyalak itu terkengkeng dan sesudah itu suaranya makin menjauh. Tentu anjing itu lari ketakutan agaknya. Tidak lama sesudah itu sunyi. Barulah dia turun ke sumur ditemani kawannya. Waktu itulah dia melihat api,’ Khaidir menjelaskan.

‘Apa maksudnya itu?’ tanya engku Datuk.

‘Pendapat saya, ada orang datang ke pekarangan itu. Dia disalak anjing. Anjing yang menyalak itu mungkin saja dilempar sehingga terkengkeng dan lari ketakutan. Sesudah itulah barangkali orang itu beraksi.’

‘Sumir itu. Tuduhan serupa itu lemah itu,’ kata engku Datuk.

‘Saya bukan menuduh. Saya berteori. Lagi pula siapa yang akan dituduh?’

‘Sejujurnya, kalau pendapat engku Datuk bagaimana terjadinya kebakaran itu kira-kira ?’ tanya Mantari Gobah.

‘Bagaimana pula aku bisa tahu? Aku kan bukan tukang tenung,’ jawabnya.

‘Siapa tahu, ada yang bercerita kepada engku,’ Mantari Gobah menambahkan.

‘Walaupun aku tidak tahu, sejujurnya, tapi aku rasa kebakaran itu merupakan suatu tanda,’ ujar engku Datuk.

Orang-orang yang hadir memandangnya penuh tanda tanya.

‘Tanda apa?’ tanya Mantari Gobah.

‘Tanda roda revolusi sudah mulai bergulir,’ jawabnya.

Datuk Rajo Bamegomego sedikit terbatuk-batuk. Dia kesedakan. Diraihnya gelas kopinya dan diseruputnya kopi yang sudah tinggal seperempat gelas itu. Matanya terlihat sedikit mendelik, lalu melihat berputar. Melihat ke sekeliling lepau. Yang lain diam.

‘Jadi maksud engku....... Revolusi yang membakar rumah itu tadi malam?’ tanya Gobah hati-hati.

‘Mungkin saja. Aku mencoba menyimpulkan demikian dari cerita yang engku-engku sampaikan. Bahwa kelihatannya rumah itu dibakar bukan terbakar. Siapa yang memakar di tengah malam buta begitu?’

‘Bagaimana kira-kira cara roda revolusi membakar rumah? Sebenarnya makhluk seperti apa roda revolusi itu?’ Mantari Gobah jadi lebih berani seperti biasa.

‘Kau memang pandir Gobah. Kalau memang ada yang membakar, tentulah manusia yang membakar. Mana pula mungkin anjing yang terkengkeng seperti disebut Malin Basa itu yang akan membakar. Kalau sekiranya itu memang dibakar, tentu manusia biasa yang membakarnya. Siapa manusia itu? Tentu manusia yang sedang menggulirkan roda revolusi. Roda revolusi yang menghukum orang-orang yang menjadi musuh revolusi. Orang-orang yang berkhianat kepada revolusi. Masakan itu saja tidak terjangkau oleh otakmu,’ Datuk Rajo Bamegomego mulai naik pasang.

‘Oh begitu?! Lebih jelasnya tentu orang PKI yang membakar rumah itu, apa betul begitu?’ tanya Mantari Gobah lebih berani.

‘Aku tidak mengatakan begitu. Tapi juga tidak keberatan dengan teori itu. Mungkin saja yang kau sebutkan itu bisa terjadi,’ jawab Datuk Rajo Bamegomego penuh percaya diri.

‘Mengerikan sekali kalau begitu. Kalau sudah mulai main bakar orang PKI. Alamat akan sansai nagari,’ ujar Mantari Gobah.

‘Sekali lagi aku hanya berandai-andai. Andainya memang orang partai kami yang melakukannya, hal itu adalah sesuatu yang sangat pantas. Memang kadang-kadang hukuman untuk yang melanggar disiplin itu sangat keras. Orang komunis di seluruh dunia ini memang sangat keras dalam berdisiplin, itu tidak perlu ditutup-tutupi. Sangat keras dalam menghukum. Tapi itu untuk kesejahteraan rakyat banyak. Rakyat berderai, rakyat kecil. Mereka-mereka penggerak roda revolusi.’

‘Seandainya yang engku Datuk andaikan benar pula, bahwa yang membakar rumah Siti Zahara tadi malam itu orang PKI, kenapa rumah itu yang dibakar? Katakanlah tuan Syamsuddin Sutan Marajo tidak mau lagi ikut partai, dia dianggap bersalah. Dia perlu dihukum. Tapi kenapa rumah istrinya yang dibakar ? Itukan rumah kaum istrinya? Kalau tidak cepat kepintasan tadi malam paling tidak empat buah rumah orang Simabur terpanggang jadi abu. Apa dosa orang Simabur?’

‘Kalau roda sudah menggelinding, kalau api sudah membakar, dimana pula dia akan tahu batas. Dimana pula dia tahu rumah orang Simabur atau bukan. Memang seperti itulah resikonya. Makanya jangan main-main dengan roda revolusi. Berbuat pelihara tangan, berjalan pelihara kaki, berkata pelihara mulut. Roda itu sangat perkasa. Kan sudah aku katakan, terbujur lalu, terbelintang patah. Tidak ada suatu apa yang akan dapat menghalanginya,’ ucapan dan percaya diri engku Datuk makin mantap saja

‘Ini jelas tidak bisa. Ini mengerikan sekali kalau dibiarkan. Nanti malam bisa merah semua rumah di kampung ini oleh api kalau begini caranya. Untunglah engku wali jorong sudah meminta supaya petugas ronda malam ditingkatkan jumlahnya,’ Mantari Gobah sedikit terbawa emosi.

‘Tidak akan terhalang oleh petugas ronda, Gobah. Tidak akan ada yang sanggup menahan. Kalau ini betul-betul sudah bagian dari gerakan roda revolusi. Hanya, sementara ini kan kita belum tahu secara pasti. Dari tadi aku masih berandai-andai. Jangan pula kau cepat memburansang,’ kata engku Datuk.

‘Harus diupayakan menghalanginya. Untuk kampung kita ini paling tidak. Jauhlah hendaknya siar bakar seperti ini.’

‘Betul. Ditingkatkan kesiagaan. Ketika ronda kita harus lebih banyak berjalan mengelilingi kampung di malam hari. Jangan hanya duduk-duduk di pos ronda saja,’ Katik Sati menambahkan.

‘Sama kita lihatlah bagaimana nanti. Kalau aku berharap mudah-mudahan cepat pecah bisul revolusi ini. Biarlah dia menggelinding, digilasnya semua musuh revolusi, semua antek-antek kolonialis, semua antek-antek kapitalis, semua antek-antek penyebar kebodohan, barulah selesai urusan. Barulah kita hidup dalam ketenteraman sesudah itu. Tidak ada lagi ketakutan.’

‘Entahlah engku Datuk. Kelihatannya memang seperti kata engku Datuk juga. Seperti menahan bisul mau pecah kita rasanya. Aku benar-benar takut, kalau bisul ini benar-benar pecah, berpetai-petai kita semua jadinya. Berhamburan nanah busuknya kemana-mana,’ kata Mantari Gobah.

‘Sebenarnya, kalau dijalankan kincir-kincir agak sedikit, tidak sulit benar ilmunya. Kalau sudah tahu kita bahwa roda akan menggilas, janganlah ditahankan tubuh kita, naiklah meloncat ke atas kereta yang punya roda. Tentu aman jadinya. Tapi kalau berani mengalangkan marih, harus berani pula menerima segala akibatnya. Kan seringkas itu saja kaji.’

‘Meminta kita kepada Tuhan Allah mudah-mudahan terhindar negeri ini dari bencana. Itu saja yang dapat kita lakukan lagi,’ ujar Katik Sati pasrah.

‘Kalau itu aku tidak ikut serta. Selama ini kan tidak berhenti-henti Katik meminta kepada Nya. Tidak henti-henti Katik tunggang tunggik. Namun perang terjadi juga.’

‘Memang disanalah perbedan kita engku Datuk. Saya mohon pamitlah dahulu,’ kata Katik Sati.

Orang-orang di lepau itu berangsur keluar satu persatu.


*****