19. Pantai Air Manis
‘Berapa jauh lagi ke Padang dari sini?’ tanya Aswin waktu mereka sudah sampai di Kurai Taji.
‘Pusat kota Padang lebih kurang 50 kilometer,’ jawab Pohan.
‘Mudah-mudahan tidak ada macet di jalan dan kita tidak terlalu sore sampai di pantai Air Manis,’ kata Aswin.
‘Mudah-mudahan tidak. Dan kita tidak akan masuk ke dalam kota Padang. Kita langsung ke Indarung melalui jalan lingkar dan langsung ke Air Manis. Mudah-mudahan dalam waktu 40 menit kita sudah sampai di sana,’ Pohan menjelaskan.
’Bagus sekali kalau begitu. Jam empat lebih sedikit kita akan sampai di sana. Masih cukup siang dan kita bisa bermain di laut cukup lama.’
’Kamu sangat menyenangi laut kelihatannya.’
’Ya. Aku menyenangi laut. Menyenangi pegunungan. Menyenangi kesenian tradisional. Menyenangi ikan. He..he..he.. Kamu sendiri? Kamu tidak menyukai semua itukah?’
’Aku menyenangi pengembaraan. Melihat tempat-tempat yang indah pemandangan dan lingkungannya. Dan itu aku dapatkan dengan berlimpah di negeri ini,’ jawab Pohan.
’Apakah semua pelosok negeri Minangkabau ini sudah kamu kunjungi?’
’Hampir semua. Aku sudah pernah mengarungi sungai Ombilin sampai ke Teluk Kuantan dengan perahu.’
’Waaw. Pasti sangat exiting. Sungai Ombilin yang berasal dari danau Singkarak itu? Naik perahu besar?’
‘Ya. Sungai Ombilin itu. Bukan dengan perahu besar. Sungai itu berjeram-jeram di daerah Muara Sijunjung, perahu besar justru berbahaya.’
‘Berapa orang rombongan kamu waktu itu?’
’Hanya berempat orang. Teman-temanku di SMA dulu. Pencinta arung jeram.’
’Ada jugakah orang lain yang melakukannya selain kamu dan teman-temanmu?’
’Ada. Berperahu sampai ke Teluk Kuantan itu termasuk paket pelancongan yang disukai anak-anak muda.’
’Negeri ini benar-benar kaya dengan objek wisata. Dan semua berada dalam area yang tidak terlalu luas serta mudah dicapai. Kita bisa naik kuda di Bukit Tinggi pagi-pagi, main ski air di danau Maninjau siang-siang dan berselancar di pantai Air Manis di Padang sore hari.’
’Masih bisa ke Pulau Pandan dan Angsa Dua di Pariaman sesudah siang, sebelum pergi berselancar. He..he..he..’ Pohan menambahkan.
’Itu kebanyakan. Kalau seperti itu, berselancar bisa batal. He..he..he..’
’Sebenarnya untuk berselancar, pantai Air Manis tidak terlalu istimewa. Ombaknya tidak terlalu besar. Untuk menantang ombak yang lebih besar para pelancong pergi ke Mentawai. Di sana ombaknya jauh lebih menantang karena berada di laut lepas,’ tambah Pohan pula.
’Tidak apa-apa. Kan kita peselancar amatiran saja. Dan ini di Ranah Minang. Kalau mau berselancar, banyak lagi tempat lain seperti di Hawaii. Bahkan di California cukup banyak juga tempat untuk itu meski dengan ancaman ikan hiu,’ jawab Aswin pula.
‘Kamu sudah pernah berselancar di Hawaii ?’
‘Pernah. Waktu berlibur ke sana dua tahun yang lalu.’
Tak terasa mereka sudah sampai di Lubuk Alung. Lalu berbelok ke kanan ke arah Padang sampai di persimpangan ke Bandara. Menjelang persimpangan ke Bandara ini jalan agak tersendat sedikit dekat lampu pengatur lalu lintas. Mereka berbelok ke kiri, melalui jalan pintas ke Teluk Bayur melalui Indarung. Lalu lintas tidak ramai dan kendaraan dapat dipacu dengan santai. Dalam beberapa menit saja mereka sudah sampai di Indarung dan terus ke arah pelabuhan Teluk Bayur. Mereka lalui pelabuhan itu dan terus menuju arah ke kota Padang. Dan akhirnya berbelok ke kiri melalui jalan ke pantai Air Manis.
Udara sangat cerah sore ini dan sinar matahari masih terasa panas. Pantai Air Manis dipenuhi oleh banyak sekali pelancong, tua muda dan bahkan anak-anak. Ada yang berjalan-jalan di pasir pantai yang lebar, ada yang berenang di laut. Agak ke sebelah utara, dimana ombaknya sedikit lebih besar, banyak orang berselancar. Pantai itu sangat landai. Ada sebuah tanjung yang kalau air pasang terpisah dari daratan, berupa sebuah bukit kecil. Penduduk menyebutnya gunung Padang. Agak jauh di belakang tanjung yang jadi pulau terpisah jika sedang air pasang, di tengah laut, ada pula sebuah pulau lain. Entah pulau apa namanya.
Di satu pojok pantai ini terlihat beberapa onggokan batu berwarna hitam. Orang menyebut batu-batu itu bagian dari kapal si Malin Kundang yang dikutuk ibunya menjadi batu. Sebuah plang bertuliskan Batu Si Malin Kundang berdiri dekat tempat itu. Cerita si Malin Kundang menjadi batu sudah sangat populer meski agaknya cerita itu lebih banyak berupa khayalan saja. Kalaupun ada plang menunjukkan lokasi bekas kapal si Malin Kundang, dinas pariwisata Sumatera Barat sengaja menambahkan keterangan ’Menurut Cerita Rakyat’ dengan tulisan yang lebih kecil di papan plang yang sama.
Sesudah memarkir mobil, Aswin dan Pohan mendatangi tempat menyewa papan selancar. Di tempat itu mereka juga bisa menitipkan pakaian mereka yang di tempatkan dalam locker di sebuah ruangan yang dijaga. Dan keduanya segera membawa papan selancar mereka menghadang ombak. Aswin ternyata sangat piawai dengan papan selancar itu. Dia dapat menguasainya, meniti dan mengikuti puncak gelombang yang sedang bergulung. Pohan meski kurang begitu mahir tapi juga mampu bermain dengan papan itu. Banyak juga pelancong yang mahir berselancar. Mereka berpacu-pacu, berkejar-kejaran meniti puncak gelombang. Sebagian akhirnya terjungkal dihempaskan gelombang, lalu muncul kembali, untuk seterusnya membawa papan selancar mereka ke tengah laut. Dan meniti gelombang yang lain pula.
Berselancar itu ternyata sangat mengasyikkan. Bagi yang melakukannya maupun bagi yang menonton. Yang terakhir ini adalah mereka yang hanya mengamati saja para peselancar itu bermain-main dengan ombak. Mereka duduk saja di tepi pantai. Yang berselancar tidak bosan-bosannya, dihanyutkan gelombang ke tepi, dan kembali lagi berenang ke tengah, begitu berulang-ulang. Makin jauh ke tengah mereka mulai, makin jauh pula mereka dapat berselancar, mengikuti gelombang yang turun naik, sebelum akhirnya menghempas ke pantai. Kalau capek mereka beristirahat sebentar lalu kembali lagi masuk ke laut.
Akhirnya Pohan yang lebih dulu menyerah. Mungkin karena kurang pandai sehingga lebih cepat jenuh. Dan Aswinpun ikut menyusul beberapa menit kemudian. Diapun ternyata sudah kecapekan pula. Padahal masih jam setengah enam, masih banyak waktu sebelum matahari terbenam.
’Kamu teruskan sendiri kalau masih mau. Biar aku tunggu di pasir ini saja,’ ujar Pohan.
’Sudahlah, aku juga sudah capek,’ jawab Aswin.
Keduanya lalu mengembalikan papan selancar dan mengambil pakaian mereka. Lalu mandi di kamar mandi yang ada showernya sebelum memakai kembali pakaian mereka.
’Kenapa kamu tidak mau meneruskan?’ tanya Pohan, ketika mereka sudah selesai berganti pakaian.
’Sudah cukup. Aku juga sudah kecapekan. Lebih satu jam juga kita bermain-main di air. Dan itu sudah cukup,’ jawab Aswin.
’Aku kurang bisa menjaga keseimbangan badan, jadi sering jatuh. Makanya lebih cepat capek,’ kata Pohan pula.
’Memang perlu juga latihan. Kalau kamu sering-sering mencoba pasti berhasil menjaga keseimbangan badan. Yang penting harus santai. Harus relax, jangan tegang. Kalau kita santai, tubuh kita lebih mudah dijaga keseimbangannya,’ Aswin menerangkan.
’Ya, terus terang aku baru kedua kalinya mencoba. Beberapa bulan yang lalu aku melakukan yang pertama kali. Mulai dari tidak bisa sama sekali, sampai bisa sedikit-sedikit. Tapi setelah itu, baru kali ini aku coba lagi.’
Mereka kembali keluar dari tempat berganti pakaian.
’Mari kita mampir ke kiosk di sebelah sana itu. Di sana kita bisa makan rujak. Langit cerah sekali, kita tunggu sampai matahari terbenam,’ kata Pohan.
’OK. Ide yang sangat bagus,’ jawab Aswin.
Mereka menuju ke warung rujak. Warung yang mendapat sertifikasi dari dinas kesehatan kota madya untuk kebersihannya. Dan memang terlihat bersih. Pohan memesan dua piring rujak. Mereka mengambil tempat duduk yang banyak disediakan di samping warung rujak itu. Sambil memandang ke laut.
Mereka nikmati rujak yang cukup pedas, sambil berbincang-bincang.
’Kamu pasti pernah mendengar cerita si Malin Kundang,’ kata Pohan.
’Si Malin Kundang anak durhaka yang dikutuk ibunya menjadi batu? Ya aku pernah mendengar cerita itu. Dimana terjadinya kutukan itu menurut cerita legenda itu?’ tanya Aswin.
’Disini. Di Air Manis ini. Kamu lihat tumpukan batu-batu hitam di sebelah sana?’ kata Pohan.
’Oh ya? Apa itu batu si Malin Kundang?’ tanya Aswin pula.
’Setidak-tidaknya, itu yang diberitahukan oleh plang di sebelah sana itu. Itu, konon adalah bagian kapal si Malin Kundang yang sudah menjadi batu,’ jawab Pohan.
’Boleh juga cerita itu. Dan orang-orang percaya kalau batu itu kapal si Malin Kundang?’
’Entahlah, kalau orang percaya. Yang jelas di papan itu juga dijelaskan bahwa cerita Malin Kundang itu berdasarkan cerita rakyat. Jadi silahkan masing-masing orang memahaminya,’ kata Pohan.
’Menurutmu kejadian Malin Kundang itu benar-benar terjadi atau hanya dongeng saja?’
’Entahlah. Tapi bahwa ada anak yang durhaka kepada orang tua, lalu orang tua sedih dan kecewa, sehingga mungkin saja keluar ucapan sebagai rasa kesal dari mulut orang tua, kan bisa terjadi di mana-mana. Dalam hal cerita Malin Kundang, sisi positifnya adalah peringatan agar kita jangan mendurhakai orang tua. Aku juga tidak percaya, bahwa akibat kutukan orang berikut kapal bisa berubah menjadi batu,’ Pohan menjelaskan panjang lebar.
’Aku setuju dengan pendapatmu. Dongeng itu memiliki nilai pendidikan.’
Matahari masih terlihat utuh dan semakin mendekati ufuk untuk segera terbenam. Pamandangan yang sangat indah pula. Mereka masih mengobrol tentang hal-hal lain sampai matahari terbenam sempurna ke dalam laut. Di senja yang cerah ini. Barulah mereka beranjak pergi. Sekarang menuju hotel tempat mereka akan menginap malam ini. Hotel Pangeran di Purus. Di jalan Ir. H. Juanda.
*****
Wednesday, February 27, 2008
SEMINGGU DI RANAH BAKO (bag.18)
18. Di Balik Pulau Angsa Dua
Mereka lanjutkan lagi perjalanan, terus menuju Pariaman, melalui Sungai Limau. Perjalanan di pesisir barat pulau Sumatera, di dataran rendah yang banyak pohon kelapa. Dan banyak pula mereka lihat pemilik beruk di sepanjang jalan, dengan hewan peliharaannya di bonceng di tempat duduk khusus di bagian depan sepeda. Beruk pemetik kelapa yang kelihatannya naik pamor karena ada lomba beruk memanjat kelapa seperti yang diceritakan pemilik warung di Lubuk Basung. Bahkan terlihat ada orang yang sedang memandikan beruk di sungai di pinggir jalan. Sebegitu akrabnya majikan dengan sang beruk, pegawai istimewanya. Semua itu terlihat dari mobil yang sedang berjalan.
Sudah jam satu lebih waktu mereka memasuki kota Pariaman. Pariaman yang kononnya terdengar lengang, berpesta tabut baru ramai. Begitu bait sebuah pantun lagu saluang. Pantun itu kelihatannya sudah ketinggalan zaman. Saat ini Pariaman tidaklah lengang sangat. Banyak kendaraan bermotor hilir mudik. Tentu saja terlihat pula bus pariwisata dengan pelancong di dalamnya. Kota ini telah menjadi tujuan wisata laut meskipun bukan pada saat pesta tabut. Pelancong datang kesini untuk bersantai-santai dan berekreasi di pantainya atau kemudian berlayar ke pulau Pandan dan pulau Angsa Dua. Pulau-pulau kecil yang hanya beberapa kilometer saja di lepas pantai dan terlihat dari Pariaman. Bahkan ada perahu bermotor cukup besar, disebut bus air, yang dapat membawa para pelancong untuk mengunjungi pulau-pulau itu. Pulau-pulau kecil tempat penyu bertelur dan menetaskan anaknya. Pulau-pulau yang sangat elok untuk di eksploitasi, untuk dijelajah tanpa membuang banyak waktu. Menjelajahi pulau Pandan atau pulau Angsa Dua merupakan paket kunjungan yang sangat populer dan diminati pelancong.
’Pasti kamu sudah lapar,’ kata Pohan begitu mereka sampai di kota Pariaman.
’Ya. Memangnya kamu tidak lapar? Di mana kita makan?’ tanya Aswin.
’Mari kita pergi shalat dulu. Di dekat mesjid sana ada rumah makan dengan hidangan khas Pariaman. Gulai kepala ikan kakap,’ Pohan menjelaskan.
’Gulai kepala ikan? Boleh juga ’tu dicoba, meski aku belum pernah memakannya.’
’Karena kamu pencinta ikan, harusnya kamu akan menyukainya.’
’Aku harap begitu,’ jawab Aswin.
Dan mereka shalat di mesjid yang tidak jauh dari stasiun keretapi. Mesjid yang tidak terlalu besar tapi sangat indah dan bersih. Lantainya berkilat-kilat. Waktu mereka masuk ke mesjid ada serombongan orang yang sedang shalat berjamaah. Pohan dan Aswin ikut shalat berjamaah.
Sesudah shalat Pohan mengajak Aswin berjalan kaki ke rumah makan yang hanya beberapa puluh langkah saja dari mesjid itu. Sebuah restoran yang sederhana saja tempatnya, dengan meja dan kursi kayu yang sangat biasa-biasa saja penampilannya. Tapi ramai pengunjungnya.
’Di rumah makan ini yang terkenal adalah gulai kepala ikan kakap, seperti yang tadi aku katakan. Kalau kamu suka kita pesan seorang satu, tapi kalau kamu nggak suka kepala ikan, kamu boleh memesan dagingnya. Di samping itu ada juga lauk lain. Nah, kamu mau mencoba?’ tanya Pohan.
’Boleh. Meski aku belum pernah makan gulai kepala ikan, tapi aku ingin mencobanya,’ jawab Aswin.
Mereka segera mendapatkan hidangan yang di pesan. Gulai kepala ikan kakap disajikan memenuhi sebuah piring besar. Penampilan pertama seperti itu cukup mengejutkan Aswin, besar kepala ikan itu hampir sebesar kepala kambing. Dengan kuahnya yang menitikkan air liur. Dan ternyata sangat enak rasanya. Pohan mengajari bagaimana menikmati gulai kepala ikan, memakan kulit daging ikan yang gurih, bagian kepala yang enak dihisap, maupun daging sela di kepala ikan itu. Dan Aswin tidak terlalu sulit menangkap pelajaran yang memang sangat mudah itu.
’Bagaimana? Bisa dinikmati?’ Pohan masih berlagak bertanya, setelah mereka makan beberapa suap.
’Best. All are best. Enak sekali,’ jawab Aswin, sedikit kepedasan.
’Seorang temanku yang pernah bekerja di Abu Dhabi bercerita. Waktu membeli ikan di super market, dia minta kepala ikan kakap, yang sudah ditaruh di tong sampah. Pegawai super market itu mengatakan, kucing anda akan kesulitan memakan kepala ikan ini karena tulangnya sangat keras. Jawab teman itu, tidak apa-apa, saya tahu bagaimana mengolahnya. Dan dia tidak bercerita bahwa kepala ikan itu akan dimakannya sendiri,’ Pohan bercerita.
’He..he..he.. Memang di super market, kepala ikan-ikan besar, yang kepalanya sebesar ikan ini, tidak dijual tapi dibuang. Daging ikan dipotong-potong dalam bentuk filet ikan. Ternyata di sini bisa digulai seenak ini,’ komentar Aswin.
Kepala ikan itu sampai gundul mereka makan, tinggal hanya tulang-tulang yang tersisa. Dan sesudah duduk terperangah sebentar karena kekenyangan, mereka keluar meninggalkan rumah makan itu.
Pohan ingin menunjukkan bagian-bagian kota Pariaman.
Kota Pariaman memang tidak besar. Sebentar saja bagian-bagian penting kota itu sudah mereka lalui. Mereka berhenti di dermaga di tepi pantai. Banyak perahu bermotor dan bus air (perahu yang lebih besar) tertambat di sana. Di hadapan mereka terlihat tiga buah pulau yang tidak terlalu jauh dari pantai. Mungkin hanya beberapa kilometer saja jaraknya.
’Itu pulau-pulau Angsa Dua dan yang paling selatan adalah pulau Pandan. Pulau-pulau ini diabadikan dalam pantun Melayu. Pulau Pandan jauh di tengah, di balik pulau Angsa Dua. Hancur badan dikandung tanah, budi baik dikenang jua,’ cerita Pohan, sambil menunjuk ke ketiga buah pulau itu.
’Hebat kamu. Dan perahu-perahu motor ini bisa disewa untuk pergi ke sana?’ tanya Aswin.
’Bisa. Kenapa? Kamu mau melihat-lihat kesana?’
’Menurutmu apakah pulau itu perlu dikunjungi? Maksudku, apakah disana ada pemandangan khusus yang perlu dilihat?’ tanya Aswin.
’Pertanyaanmu agak sulit. Baik, pulau itu pantainya berpasir putih tapi agak sempit, dan berbatasan dengan semak belukar. Pantai yang agak lebar terletak di sisi yang mengarah ke sini. Ada jalan setapak di tengah semak belukar itu melintasi pulau. Di sisi sebelah ke sana, atau di bagian yang lebih jauh dari sini, pantainya lebih sempit. Kalau beruntung kita bisa melihat kura-kura di pantai yang sempit itu. Kura-kura itu biasanya akan langsung masuk ke laut kalau ada orang datang. Kalau menumpang bus air, bus itu membawa pengunjung dan membiarkan mereka menjelajahi pulau selama satu jam dan setelah itu kembali ke sini. Kalau speed boat bisa disewa jam-jam an. Nah bagaimana, apakah kamu tertarik?’ tanya Pohan.
Aswin tersenyum. Sepertinya dia berminat.
’Mari kita sewa speed boat dan kita lihat ketiga pulau itu,’ ajak Aswin.
Sebuah speed boat segera siap membawa mereka menuju ketiga pulau kecil itu. Dan benar saja, seperti yang diceritakan Pohan, bahagian yang menghadap ke daratan Pariaman mempunyai pantai yang lebih luas dan bahkan dasar lautnya sangat dangkal. Pulau itu di tumbuhi semak-semak, dan beberapa pohon kayu serta juga pohon kelapa. Mereka merapat di pulau paling utara. Sebuah bus air sedang berhenti pula disana dan rombongan pelancong sedang menjelajahi pulau kecil tersebut. Aswin dan Pohan ikut melihat-lihat keadaan pulau. Pengemudi speed boat yang ikut menemani mereka menunjukkan gundukan pasir di pantai yang katanya berisi telur penyu. Di pantai dekat dermaga ada pengumuman melarang pengunjung mengusik penyu maupun sarangnya. Dan ternyata di pulau itu juga terdapat kera. Rombongan itu menuju ke pantai sebelah timur yang lebih landai. Melalui jalan setapak yang sudah dibuat permanen dan disemen. Pantai yang lautnya hanya beriak kecil. Mereka bisa berjalan di laut yang dangkal yang hanya setinggi lutut airnya. Ikan-ikan kecil terlihat berenang di laut dangkal itu. Dan terlihat pula ubur-ubur dan binatang laut lainnya.
Lalu mereka kembali ke speed boat. Dan mereka kunjungi pula pulau yang di tengah. Yang ternyata hampir tidak ada bedanya. Di sini mereka turun pula sebentar. Tapi saat itu di pulau yang di tengah ini tidak ada pengunjung. Mereka mampir hanya sebentar saja di situ. Lalu diteruskan ke pulau Pandan yang paling selatan. Kali ini hanya sekedar mengelilinginya saja. Dan mereka kembali ke dermaga Pariaman.
‘Bagus juga pulau-pulau itu. Sayang kita tidak bisa melihat kura-kura,’ ujar Aswin.
‘Kalau mau melihat kura-kura yang lebih mudah itu malam hari,’ kata pengemudi speed boat.
‘Malam hari ada juga yang berkunjung ke sana?’ tanya Aswin.
‘Ada. Saya biasa membawa pelancong ke sana malam hari.’
‘Dengan membawa lampu sendiri?’
‘Ya. Cukup dengan lampu senter. Kita berjalan ke tempat gundukan berisi telur penyu tadi, disana biasanya banyak penyu kalau malam hari,’ jawabnya pula.
Dan mereka merapat di dermaga. Berpisah dengan pengemudi speed boat yang ramah itu dan kembali ke mobil.
’Ada yang belum kamu ceritakan tentang Pariaman. Tentang tabut. Kapan diadakan pesta tabut dan dimana tepatnya pesta itu dilaksanakan?’ tanya Aswin sebelum mereka berangkat.
’Tabut adalah acara kebudayaan khas Pariaman. Pesta tabut dilakukan tanggal 10 Muharam penanggalan hijriyah. Tabut sendiri adalah susunan potongan kayu yang dibuat berupa kubus-kubus, diikat bertingkat-tingkat dan diberi hiasan. Menurut riwayatnya, pesta tabut itu untuk memperingati hari wafatnya Husein, putera Ali bin Abi Thalib, cucu nabi Muhammad SAW, yang terbunuh di padang Karbala pada tanggal 10 Muharam. Memperingati wafatnya Husein sangat kental di kalangan orang Islam Syiah. Kelihatannya, pada waktu awal Islam masuk ke Pariaman, mungkin agama ini diperkenalkan oleh kelompok Syiah. Nah apakah cerita seperti itu yang kamu ingin tanyakan?’
’Ya, hampir seperti itu. Meski aku juga sudah membaca hubungan antara faham Syiah yang memperingati hari 10 Muharam dengan upacara tabut itu. Tapi, bukankah masyarakat di sini tidak ada yang berfaham Syiah?’ tanya Aswin pula.
’Menurut yang aku dengar tidak ada. Itulah sebabnya, acara tabut tidak lebih dari sebuah pesta budaya yang tidak ada hubungannya dengan ritual agama.’
’Dan aku baca bahwa pesta tabut juga dipertandingkan oleh dua bagian kota Pariaman. Yang karenanya kadang-kadang timbul kerusuhan. Apa betul demikian?’
’Aku juga mendengar cerita seperti itu. Ada kelompok ’pasar’ dan ada kelompok ’seberang’, sekedar untuk menunjukkan memang ada dua rombongan. Kedua rombongan tentu berusaha membuat tabut mereka seindah mungkin. Pada hari pesta masing-masing tabut di arak untuk dibuang ke laut. Terjadilah saling cemooh, saling menjelekan tabut rombongan lawan selama arak-arakan itu. Dan akibatnya bisa terjadi huru-hara kecil-kecilan. Tapi sekarang pesta itu di kawal oleh polisi untuk ketertibannya, sehingga huru-hara itu bisa dicegah.’
’Dan mereka menggoyang-goyangkan tabut yang diarak itu sambil meneriakkan ’hoyak hosen’, benar begitu tradisinya?’
’Ya. Konon maksudnya, hayya Husein, hayya Husein. Ayohlah Husein, jangan kalah, jangan menyerah. Padahal Husein sudah terbunuh. Tapi dimana kamu tahu sampai sedetil itu?’
’Dari bacaan dan dari cerita ayah. Dulu ayah sering melarang kami waktu kecil kalau kami meloncat-loncat dengan mengatakan, jangan kalian berhoyak hosen disana. Aku bertanya apa arti hoyak hosen, dan ayah bercerita tentang tabut.’
Sambil bercerita, mobil mereka sudah keluar dari kota Pariaman, menuju Lubuk Alung, melalui Kurai Taji.
*****
Mereka lanjutkan lagi perjalanan, terus menuju Pariaman, melalui Sungai Limau. Perjalanan di pesisir barat pulau Sumatera, di dataran rendah yang banyak pohon kelapa. Dan banyak pula mereka lihat pemilik beruk di sepanjang jalan, dengan hewan peliharaannya di bonceng di tempat duduk khusus di bagian depan sepeda. Beruk pemetik kelapa yang kelihatannya naik pamor karena ada lomba beruk memanjat kelapa seperti yang diceritakan pemilik warung di Lubuk Basung. Bahkan terlihat ada orang yang sedang memandikan beruk di sungai di pinggir jalan. Sebegitu akrabnya majikan dengan sang beruk, pegawai istimewanya. Semua itu terlihat dari mobil yang sedang berjalan.
Sudah jam satu lebih waktu mereka memasuki kota Pariaman. Pariaman yang kononnya terdengar lengang, berpesta tabut baru ramai. Begitu bait sebuah pantun lagu saluang. Pantun itu kelihatannya sudah ketinggalan zaman. Saat ini Pariaman tidaklah lengang sangat. Banyak kendaraan bermotor hilir mudik. Tentu saja terlihat pula bus pariwisata dengan pelancong di dalamnya. Kota ini telah menjadi tujuan wisata laut meskipun bukan pada saat pesta tabut. Pelancong datang kesini untuk bersantai-santai dan berekreasi di pantainya atau kemudian berlayar ke pulau Pandan dan pulau Angsa Dua. Pulau-pulau kecil yang hanya beberapa kilometer saja di lepas pantai dan terlihat dari Pariaman. Bahkan ada perahu bermotor cukup besar, disebut bus air, yang dapat membawa para pelancong untuk mengunjungi pulau-pulau itu. Pulau-pulau kecil tempat penyu bertelur dan menetaskan anaknya. Pulau-pulau yang sangat elok untuk di eksploitasi, untuk dijelajah tanpa membuang banyak waktu. Menjelajahi pulau Pandan atau pulau Angsa Dua merupakan paket kunjungan yang sangat populer dan diminati pelancong.
’Pasti kamu sudah lapar,’ kata Pohan begitu mereka sampai di kota Pariaman.
’Ya. Memangnya kamu tidak lapar? Di mana kita makan?’ tanya Aswin.
’Mari kita pergi shalat dulu. Di dekat mesjid sana ada rumah makan dengan hidangan khas Pariaman. Gulai kepala ikan kakap,’ Pohan menjelaskan.
’Gulai kepala ikan? Boleh juga ’tu dicoba, meski aku belum pernah memakannya.’
’Karena kamu pencinta ikan, harusnya kamu akan menyukainya.’
’Aku harap begitu,’ jawab Aswin.
Dan mereka shalat di mesjid yang tidak jauh dari stasiun keretapi. Mesjid yang tidak terlalu besar tapi sangat indah dan bersih. Lantainya berkilat-kilat. Waktu mereka masuk ke mesjid ada serombongan orang yang sedang shalat berjamaah. Pohan dan Aswin ikut shalat berjamaah.
Sesudah shalat Pohan mengajak Aswin berjalan kaki ke rumah makan yang hanya beberapa puluh langkah saja dari mesjid itu. Sebuah restoran yang sederhana saja tempatnya, dengan meja dan kursi kayu yang sangat biasa-biasa saja penampilannya. Tapi ramai pengunjungnya.
’Di rumah makan ini yang terkenal adalah gulai kepala ikan kakap, seperti yang tadi aku katakan. Kalau kamu suka kita pesan seorang satu, tapi kalau kamu nggak suka kepala ikan, kamu boleh memesan dagingnya. Di samping itu ada juga lauk lain. Nah, kamu mau mencoba?’ tanya Pohan.
’Boleh. Meski aku belum pernah makan gulai kepala ikan, tapi aku ingin mencobanya,’ jawab Aswin.
Mereka segera mendapatkan hidangan yang di pesan. Gulai kepala ikan kakap disajikan memenuhi sebuah piring besar. Penampilan pertama seperti itu cukup mengejutkan Aswin, besar kepala ikan itu hampir sebesar kepala kambing. Dengan kuahnya yang menitikkan air liur. Dan ternyata sangat enak rasanya. Pohan mengajari bagaimana menikmati gulai kepala ikan, memakan kulit daging ikan yang gurih, bagian kepala yang enak dihisap, maupun daging sela di kepala ikan itu. Dan Aswin tidak terlalu sulit menangkap pelajaran yang memang sangat mudah itu.
’Bagaimana? Bisa dinikmati?’ Pohan masih berlagak bertanya, setelah mereka makan beberapa suap.
’Best. All are best. Enak sekali,’ jawab Aswin, sedikit kepedasan.
’Seorang temanku yang pernah bekerja di Abu Dhabi bercerita. Waktu membeli ikan di super market, dia minta kepala ikan kakap, yang sudah ditaruh di tong sampah. Pegawai super market itu mengatakan, kucing anda akan kesulitan memakan kepala ikan ini karena tulangnya sangat keras. Jawab teman itu, tidak apa-apa, saya tahu bagaimana mengolahnya. Dan dia tidak bercerita bahwa kepala ikan itu akan dimakannya sendiri,’ Pohan bercerita.
’He..he..he.. Memang di super market, kepala ikan-ikan besar, yang kepalanya sebesar ikan ini, tidak dijual tapi dibuang. Daging ikan dipotong-potong dalam bentuk filet ikan. Ternyata di sini bisa digulai seenak ini,’ komentar Aswin.
Kepala ikan itu sampai gundul mereka makan, tinggal hanya tulang-tulang yang tersisa. Dan sesudah duduk terperangah sebentar karena kekenyangan, mereka keluar meninggalkan rumah makan itu.
Pohan ingin menunjukkan bagian-bagian kota Pariaman.
Kota Pariaman memang tidak besar. Sebentar saja bagian-bagian penting kota itu sudah mereka lalui. Mereka berhenti di dermaga di tepi pantai. Banyak perahu bermotor dan bus air (perahu yang lebih besar) tertambat di sana. Di hadapan mereka terlihat tiga buah pulau yang tidak terlalu jauh dari pantai. Mungkin hanya beberapa kilometer saja jaraknya.
’Itu pulau-pulau Angsa Dua dan yang paling selatan adalah pulau Pandan. Pulau-pulau ini diabadikan dalam pantun Melayu. Pulau Pandan jauh di tengah, di balik pulau Angsa Dua. Hancur badan dikandung tanah, budi baik dikenang jua,’ cerita Pohan, sambil menunjuk ke ketiga buah pulau itu.
’Hebat kamu. Dan perahu-perahu motor ini bisa disewa untuk pergi ke sana?’ tanya Aswin.
’Bisa. Kenapa? Kamu mau melihat-lihat kesana?’
’Menurutmu apakah pulau itu perlu dikunjungi? Maksudku, apakah disana ada pemandangan khusus yang perlu dilihat?’ tanya Aswin.
’Pertanyaanmu agak sulit. Baik, pulau itu pantainya berpasir putih tapi agak sempit, dan berbatasan dengan semak belukar. Pantai yang agak lebar terletak di sisi yang mengarah ke sini. Ada jalan setapak di tengah semak belukar itu melintasi pulau. Di sisi sebelah ke sana, atau di bagian yang lebih jauh dari sini, pantainya lebih sempit. Kalau beruntung kita bisa melihat kura-kura di pantai yang sempit itu. Kura-kura itu biasanya akan langsung masuk ke laut kalau ada orang datang. Kalau menumpang bus air, bus itu membawa pengunjung dan membiarkan mereka menjelajahi pulau selama satu jam dan setelah itu kembali ke sini. Kalau speed boat bisa disewa jam-jam an. Nah bagaimana, apakah kamu tertarik?’ tanya Pohan.
Aswin tersenyum. Sepertinya dia berminat.
’Mari kita sewa speed boat dan kita lihat ketiga pulau itu,’ ajak Aswin.
Sebuah speed boat segera siap membawa mereka menuju ketiga pulau kecil itu. Dan benar saja, seperti yang diceritakan Pohan, bahagian yang menghadap ke daratan Pariaman mempunyai pantai yang lebih luas dan bahkan dasar lautnya sangat dangkal. Pulau itu di tumbuhi semak-semak, dan beberapa pohon kayu serta juga pohon kelapa. Mereka merapat di pulau paling utara. Sebuah bus air sedang berhenti pula disana dan rombongan pelancong sedang menjelajahi pulau kecil tersebut. Aswin dan Pohan ikut melihat-lihat keadaan pulau. Pengemudi speed boat yang ikut menemani mereka menunjukkan gundukan pasir di pantai yang katanya berisi telur penyu. Di pantai dekat dermaga ada pengumuman melarang pengunjung mengusik penyu maupun sarangnya. Dan ternyata di pulau itu juga terdapat kera. Rombongan itu menuju ke pantai sebelah timur yang lebih landai. Melalui jalan setapak yang sudah dibuat permanen dan disemen. Pantai yang lautnya hanya beriak kecil. Mereka bisa berjalan di laut yang dangkal yang hanya setinggi lutut airnya. Ikan-ikan kecil terlihat berenang di laut dangkal itu. Dan terlihat pula ubur-ubur dan binatang laut lainnya.
Lalu mereka kembali ke speed boat. Dan mereka kunjungi pula pulau yang di tengah. Yang ternyata hampir tidak ada bedanya. Di sini mereka turun pula sebentar. Tapi saat itu di pulau yang di tengah ini tidak ada pengunjung. Mereka mampir hanya sebentar saja di situ. Lalu diteruskan ke pulau Pandan yang paling selatan. Kali ini hanya sekedar mengelilinginya saja. Dan mereka kembali ke dermaga Pariaman.
‘Bagus juga pulau-pulau itu. Sayang kita tidak bisa melihat kura-kura,’ ujar Aswin.
‘Kalau mau melihat kura-kura yang lebih mudah itu malam hari,’ kata pengemudi speed boat.
‘Malam hari ada juga yang berkunjung ke sana?’ tanya Aswin.
‘Ada. Saya biasa membawa pelancong ke sana malam hari.’
‘Dengan membawa lampu sendiri?’
‘Ya. Cukup dengan lampu senter. Kita berjalan ke tempat gundukan berisi telur penyu tadi, disana biasanya banyak penyu kalau malam hari,’ jawabnya pula.
Dan mereka merapat di dermaga. Berpisah dengan pengemudi speed boat yang ramah itu dan kembali ke mobil.
’Ada yang belum kamu ceritakan tentang Pariaman. Tentang tabut. Kapan diadakan pesta tabut dan dimana tepatnya pesta itu dilaksanakan?’ tanya Aswin sebelum mereka berangkat.
’Tabut adalah acara kebudayaan khas Pariaman. Pesta tabut dilakukan tanggal 10 Muharam penanggalan hijriyah. Tabut sendiri adalah susunan potongan kayu yang dibuat berupa kubus-kubus, diikat bertingkat-tingkat dan diberi hiasan. Menurut riwayatnya, pesta tabut itu untuk memperingati hari wafatnya Husein, putera Ali bin Abi Thalib, cucu nabi Muhammad SAW, yang terbunuh di padang Karbala pada tanggal 10 Muharam. Memperingati wafatnya Husein sangat kental di kalangan orang Islam Syiah. Kelihatannya, pada waktu awal Islam masuk ke Pariaman, mungkin agama ini diperkenalkan oleh kelompok Syiah. Nah apakah cerita seperti itu yang kamu ingin tanyakan?’
’Ya, hampir seperti itu. Meski aku juga sudah membaca hubungan antara faham Syiah yang memperingati hari 10 Muharam dengan upacara tabut itu. Tapi, bukankah masyarakat di sini tidak ada yang berfaham Syiah?’ tanya Aswin pula.
’Menurut yang aku dengar tidak ada. Itulah sebabnya, acara tabut tidak lebih dari sebuah pesta budaya yang tidak ada hubungannya dengan ritual agama.’
’Dan aku baca bahwa pesta tabut juga dipertandingkan oleh dua bagian kota Pariaman. Yang karenanya kadang-kadang timbul kerusuhan. Apa betul demikian?’
’Aku juga mendengar cerita seperti itu. Ada kelompok ’pasar’ dan ada kelompok ’seberang’, sekedar untuk menunjukkan memang ada dua rombongan. Kedua rombongan tentu berusaha membuat tabut mereka seindah mungkin. Pada hari pesta masing-masing tabut di arak untuk dibuang ke laut. Terjadilah saling cemooh, saling menjelekan tabut rombongan lawan selama arak-arakan itu. Dan akibatnya bisa terjadi huru-hara kecil-kecilan. Tapi sekarang pesta itu di kawal oleh polisi untuk ketertibannya, sehingga huru-hara itu bisa dicegah.’
’Dan mereka menggoyang-goyangkan tabut yang diarak itu sambil meneriakkan ’hoyak hosen’, benar begitu tradisinya?’
’Ya. Konon maksudnya, hayya Husein, hayya Husein. Ayohlah Husein, jangan kalah, jangan menyerah. Padahal Husein sudah terbunuh. Tapi dimana kamu tahu sampai sedetil itu?’
’Dari bacaan dan dari cerita ayah. Dulu ayah sering melarang kami waktu kecil kalau kami meloncat-loncat dengan mengatakan, jangan kalian berhoyak hosen disana. Aku bertanya apa arti hoyak hosen, dan ayah bercerita tentang tabut.’
Sambil bercerita, mobil mereka sudah keluar dari kota Pariaman, menuju Lubuk Alung, melalui Kurai Taji.
*****
Tuesday, February 26, 2008
SEMINGGU DI RANAH BAKO (bag.17)
17. Pantai Kata
Mereka tidak berlama-lama duduk di warung kelapa muda itu. Sesudah menghabiskan minuman kelapa muda mereka langsung melanjutkan lagi perjalanan, sementara pelancong-pelancong bule masih meneruskan obrolan mereka disana. Perjalanan diteruskan menuju ke arah barat sampai bertemu dengan simpang tiga.
‘Di pertigaan di depan kita berbelok ke kiri. Ke kanan adalah jalan ke Simpang Ampek di Pasaman,’ Pohan menjelaskan, persis sebelum mereka sampai di persimpangan.
’Kalau kita ke kanan ada jugakah objek wisata yang khas?’ tanya Aswin.
’Pemandangan sepanjang jalan kadang-kadang cukup bagus, melalui daerah pinggiran pantai. Tapi objek wisata di sepanjang jalan ini tidak ada yang istimewa,’ jawab Pohan.
Dan mereka berbelok ke kiri. Menuju ke Tiku. Menempuh jalan yang kadang-kadang berada tidak jauh dari pantai. Di pinggir jalan banyak tumbuh pohon kelapa. Pohon nyiur yang melambai-lambai. Ada kalanya terlihat rawa-rawa kecil di sebelah kanan, ditumbuhi keladi dan enceng gondok. Dan ada kalanya pula di sebelah kiri jalan terlihat sawah.
’Tiku yang terletak di sepanjang pantai ini termasuk bagian kabupaten Agam. Kabupaten Agam itu meliputi daerah di sekitar Bukit Tinggi, daerah pegunungan. Secara kekerabatan sebenarnya orang Tiku lebih dekat dengan orang Pariaman. Makanya orang sering menggandengkan nama Tiku dengan Pariaman,’ Pohan mengawali cerita.
’Kenapa begitu?’ tanya Aswin.
’Aku tidak tahu. Yang pernah aku baca, Tiku pernah jadi kota pelabuhan penting bagi kerajaan Aceh, yang menguasai pantai barat Sumatera sampai jauh ke selatan. Dan ketika itu Padang sudah dikuasai Belanda. Orang-orang yang menghindar dari berdagang dengan Belanda yang licik, datang ke Tiku, ke pasar perdagangan bebas. Kesini di bawa rempah-rempah dan beras dari dataran tinggi Agam.’
’OK. Mungkin waktu itu mereka sudah melalui belokan empat puluh empat.’
’Sangat mungkin. Karena konon pada waktu itu bahan perdagangan di bawa dengan kuda beban. Dan kamu tahu, aku selalu membayangkan di sepanjang jalan yang kita lalui ini dulu sering terjadi peperangan perebutan kekuasaan antara tentara Aceh melawan tentara penjajah Belanda,’ lanjut Pohan.
’Apakah sekarang Tiku masih mempunyai arti penting?’
’Pemerintah daerah sedang membangun dermaga di Tiku. Nanti diharapkan Tiku akan menjadi pusat perdagangan dan pelelangan ikan dan jadi kota industri perikanan,’ jawab Pohan.
’Sangat masuk di akal. Lautan Hindia sebegitu luasnya di hadapan. Dan pantai Sumatera yang sangat panjang membentang. Harusnya orang asing datang membeli ikan ke sini secara terbuka dan secara jujur. Bukan malah mencuri ikan di perairan negeri ini,’ Aswin berkomentar.
’Memang itu idenya. Tiku akan ditumbuhkembangkan menjadi pusat perikanan daerah Sumatera Barat.’
Mobil mereka terus melaju di jalan yang mulus. Banyak kendaraan lalu lalang di jalan raya ini, termasuk kendaraan pelancong, bus-bus pariwisata. Mereka terus juga berbincang-bincang sepanjang perjalanan. Sampai di satu tempat terlihat plang bertuliskan ’Pantai Kata’ dengan gambar sepasang pelancong berdiri di tepi pantai. Plang besar dengan gambar yang cukup mencolok itu sudah dapat terbaca dari jarak beberapa ratus meter.
’Pantai Kata. Kita mampir di sini?’ tanya Aswin ketika melihat plang besar itu
’Ya. Kita mampir di pantai ini,’ kata Pohan.
’OK. Kelihatannya agak istimewa kalau melihat pemberitahuan dengan huruf besar-besar itu,’ komentar Aswin.
’Mari kita lihat,’ ajak Pohan sambil memutar mobil berbelok ke kanan, memasuki jalan ke arah pantai.
Di kiri jalan ini terlihat beberapa buah baliho Bundo Kanduang seperti yang terlihat di bandara, dengan peringatan yang sama, dalam beberapa bahasa. Agar para pelancong memperhatikan hal-hal yang boleh dan yang tidak boleh dilakukan. Dan tentu saja peringatan agar berhati-hati berenang dan berekreasi di laut.
Mereka meluncur ke tempat parkir yang luas, yang terletak sekitar dua puluh meter dari pantai. Banyak kendaraan diparkir di situ, termasuk beberapa buah bus pariwisata besar-besar. Kedua anak muda ini langsung menuju ke tepi pantai. Pantai yang landai dengan pasir putih, terhampar memanjang dari utara ke selatan. Banyak sekali pelancong di sini. Ada yang sedang berenang di laut, yang sedang berjemur, yang sedang duduk-duduk santai di bawah pohon yang rindang. Di tengah laut ada yang sedang berperahu layar, beriring-iring dalam perahu dengan layar berwarna-warni.
Ada beberapa pohon berdaun rindang terpelihara dengan baik, dan banyak pohon kelapa. Dan agak ke belakang terdapat beberapa buah kios dan kedai kecil yang menjual minuman ringan. Ada pula dua buah bangunan cukup besar yang di dalamnya ada ruangan tempat orang berganti pakaian, ada kamar mandi dan peturasan. Masing-masing untuk laki-laki dan wanita. Semua terpelihara kebersihan dan kerapiannya. Dan tentu saja disini terlihat polisi-polisi wisata. Ada pula beberapa orang penyelamat pantai yang mengawasi orang-orang yang sedang berenang.
’Pantai yang elok dan indah,’ ujar Aswin kagum begitu mereka sampai di pantai itu.
’Ya, pantai berpasir putih ini sangat disenangi para pelancong,’ jawab Pohan.
‘Dan kelihatannya sangat terpelihara. Sangat bersih,’ komentar Aswin pula. ‘Pantas saja cukup ramai pengunjungnya.’
‘Apalagi kalau di saat musim libur. Jauh lebih banyak lagi yang datang ke sini.’
‘Tapi di dekat sini tidak terlihat adanya hotel. Dimana orang-orang ini menginap ?’
’Di dekat sini ada beberapa bungalow yang baru di bangun. Hotel memang belum ada. Kebanyakan turis itu menginap di Padang atau di Pariaman.’
’Laut dan pasir putih ini sangat menggoda. Bagaimana kalau kita ikut berenang?’ tanya Aswin.
’Terserah kamu. Tapi kalau aku pikir sih lebih baik kita bersilancar di Air Manis nanti sore,’ usul Pohan.
’Benar juga. Waktunya tanggung untuk berenang. Sudah terlalu panas. Atau mari kita berjalan-jalan saja di sepanjang pantai ini,’ ajak Aswin.
Tentu saja Pohan setuju.
Dan merekapun berjalan-jalan di pantai itu. Menikmati deburan ombak menghempas di pasir putih. Menikmati hembusan angin yang bertiup, yang menyebabkan daun pohon nyiur melambai-lambai. Sambil berbincang-bincang santai.
’Kenapa namanya Pantai Kata?’ tanya Aswin.
’Aku tidak tahu. Mungkin untuk menyaingi Pantai Kuta di Bali he..he..he..’ jawab Pohan asal-asalan.
’Oh ya? Apa betul? Tapi suasananya aku yakin tidak akan sama dengan di Bali.’
’Maksudmu?’
’Disini mungkin lebih teratur. Lebih banyak peraturan untuk ketertiban.’
’Ya.. Bagaimana ya? Kalau tidak diatur, kalau tidak ada filter dikhawatirkan para pendatang tidak hanya membawa manfaat kepada masyarakat di sini tapi bisa-bisa menjadi pembawa masalah.’
’Benar. Memang perlu adanya peraturan yang jelas dan tegas. Peraturan yang ditegakkan dengan konsisten,’ tambah Aswin.
’Itulah yang dilakukan pemerintah daerah di sini. Dan kelihatannya berjalan cukup baik. Para pelancong yang datang semakin ramai dan rasanya tidak ada yang mempermasalahkan peraturan-peraturan pemerintah daerah.’
’Benar sekali. Cukup mengagumkan melihat para pelancong asing bisa mematuhi aturan-aturan itu. Di pantai ini, seperti juga di Maninjau tidak ada wanita yang memakai bikini. Dan tempat ini tetap saja ramai,’ komentar Aswin.
Agak jauh mereka berjalan. Sampai ke tempat yang tidak ada lagi pelancongnya. Baru mereka berbalik kembali. Dari sini semakin terlihat keindahan pantai tempat para pelancong berkumpul karena bahagian itu memang lebih landai. Dan lebih banyak pohon-pohonan. Cuaca siang ini agak panas. Pastilah bernaung di bawah pohon-pohon itu sambil memandang ke arah laut sangat menyenangkan.
Dan mereka ikut duduk di bawah sebuah pohon yang rindang itu. Di bangku-bangku kayu sederhana. Sambil menikmati keindahan suasana pantai. Sejuk dan nyaman rasanya berada di sini.
’Apa kita lanjut dulu?’ tanya Pohan, setelah beberapa saat mereka berada di sana.
’OK. Kita terus ke Pariaman?’
’Ya. Kita terus ke Pariaman,’ jawab Pohan.
Mereka tinggalkan Pantai Kata yang masih saja ramai.
*****
Mereka tidak berlama-lama duduk di warung kelapa muda itu. Sesudah menghabiskan minuman kelapa muda mereka langsung melanjutkan lagi perjalanan, sementara pelancong-pelancong bule masih meneruskan obrolan mereka disana. Perjalanan diteruskan menuju ke arah barat sampai bertemu dengan simpang tiga.
‘Di pertigaan di depan kita berbelok ke kiri. Ke kanan adalah jalan ke Simpang Ampek di Pasaman,’ Pohan menjelaskan, persis sebelum mereka sampai di persimpangan.
’Kalau kita ke kanan ada jugakah objek wisata yang khas?’ tanya Aswin.
’Pemandangan sepanjang jalan kadang-kadang cukup bagus, melalui daerah pinggiran pantai. Tapi objek wisata di sepanjang jalan ini tidak ada yang istimewa,’ jawab Pohan.
Dan mereka berbelok ke kiri. Menuju ke Tiku. Menempuh jalan yang kadang-kadang berada tidak jauh dari pantai. Di pinggir jalan banyak tumbuh pohon kelapa. Pohon nyiur yang melambai-lambai. Ada kalanya terlihat rawa-rawa kecil di sebelah kanan, ditumbuhi keladi dan enceng gondok. Dan ada kalanya pula di sebelah kiri jalan terlihat sawah.
’Tiku yang terletak di sepanjang pantai ini termasuk bagian kabupaten Agam. Kabupaten Agam itu meliputi daerah di sekitar Bukit Tinggi, daerah pegunungan. Secara kekerabatan sebenarnya orang Tiku lebih dekat dengan orang Pariaman. Makanya orang sering menggandengkan nama Tiku dengan Pariaman,’ Pohan mengawali cerita.
’Kenapa begitu?’ tanya Aswin.
’Aku tidak tahu. Yang pernah aku baca, Tiku pernah jadi kota pelabuhan penting bagi kerajaan Aceh, yang menguasai pantai barat Sumatera sampai jauh ke selatan. Dan ketika itu Padang sudah dikuasai Belanda. Orang-orang yang menghindar dari berdagang dengan Belanda yang licik, datang ke Tiku, ke pasar perdagangan bebas. Kesini di bawa rempah-rempah dan beras dari dataran tinggi Agam.’
’OK. Mungkin waktu itu mereka sudah melalui belokan empat puluh empat.’
’Sangat mungkin. Karena konon pada waktu itu bahan perdagangan di bawa dengan kuda beban. Dan kamu tahu, aku selalu membayangkan di sepanjang jalan yang kita lalui ini dulu sering terjadi peperangan perebutan kekuasaan antara tentara Aceh melawan tentara penjajah Belanda,’ lanjut Pohan.
’Apakah sekarang Tiku masih mempunyai arti penting?’
’Pemerintah daerah sedang membangun dermaga di Tiku. Nanti diharapkan Tiku akan menjadi pusat perdagangan dan pelelangan ikan dan jadi kota industri perikanan,’ jawab Pohan.
’Sangat masuk di akal. Lautan Hindia sebegitu luasnya di hadapan. Dan pantai Sumatera yang sangat panjang membentang. Harusnya orang asing datang membeli ikan ke sini secara terbuka dan secara jujur. Bukan malah mencuri ikan di perairan negeri ini,’ Aswin berkomentar.
’Memang itu idenya. Tiku akan ditumbuhkembangkan menjadi pusat perikanan daerah Sumatera Barat.’
Mobil mereka terus melaju di jalan yang mulus. Banyak kendaraan lalu lalang di jalan raya ini, termasuk kendaraan pelancong, bus-bus pariwisata. Mereka terus juga berbincang-bincang sepanjang perjalanan. Sampai di satu tempat terlihat plang bertuliskan ’Pantai Kata’ dengan gambar sepasang pelancong berdiri di tepi pantai. Plang besar dengan gambar yang cukup mencolok itu sudah dapat terbaca dari jarak beberapa ratus meter.
’Pantai Kata. Kita mampir di sini?’ tanya Aswin ketika melihat plang besar itu
’Ya. Kita mampir di pantai ini,’ kata Pohan.
’OK. Kelihatannya agak istimewa kalau melihat pemberitahuan dengan huruf besar-besar itu,’ komentar Aswin.
’Mari kita lihat,’ ajak Pohan sambil memutar mobil berbelok ke kanan, memasuki jalan ke arah pantai.
Di kiri jalan ini terlihat beberapa buah baliho Bundo Kanduang seperti yang terlihat di bandara, dengan peringatan yang sama, dalam beberapa bahasa. Agar para pelancong memperhatikan hal-hal yang boleh dan yang tidak boleh dilakukan. Dan tentu saja peringatan agar berhati-hati berenang dan berekreasi di laut.
Mereka meluncur ke tempat parkir yang luas, yang terletak sekitar dua puluh meter dari pantai. Banyak kendaraan diparkir di situ, termasuk beberapa buah bus pariwisata besar-besar. Kedua anak muda ini langsung menuju ke tepi pantai. Pantai yang landai dengan pasir putih, terhampar memanjang dari utara ke selatan. Banyak sekali pelancong di sini. Ada yang sedang berenang di laut, yang sedang berjemur, yang sedang duduk-duduk santai di bawah pohon yang rindang. Di tengah laut ada yang sedang berperahu layar, beriring-iring dalam perahu dengan layar berwarna-warni.
Ada beberapa pohon berdaun rindang terpelihara dengan baik, dan banyak pohon kelapa. Dan agak ke belakang terdapat beberapa buah kios dan kedai kecil yang menjual minuman ringan. Ada pula dua buah bangunan cukup besar yang di dalamnya ada ruangan tempat orang berganti pakaian, ada kamar mandi dan peturasan. Masing-masing untuk laki-laki dan wanita. Semua terpelihara kebersihan dan kerapiannya. Dan tentu saja disini terlihat polisi-polisi wisata. Ada pula beberapa orang penyelamat pantai yang mengawasi orang-orang yang sedang berenang.
’Pantai yang elok dan indah,’ ujar Aswin kagum begitu mereka sampai di pantai itu.
’Ya, pantai berpasir putih ini sangat disenangi para pelancong,’ jawab Pohan.
‘Dan kelihatannya sangat terpelihara. Sangat bersih,’ komentar Aswin pula. ‘Pantas saja cukup ramai pengunjungnya.’
‘Apalagi kalau di saat musim libur. Jauh lebih banyak lagi yang datang ke sini.’
‘Tapi di dekat sini tidak terlihat adanya hotel. Dimana orang-orang ini menginap ?’
’Di dekat sini ada beberapa bungalow yang baru di bangun. Hotel memang belum ada. Kebanyakan turis itu menginap di Padang atau di Pariaman.’
’Laut dan pasir putih ini sangat menggoda. Bagaimana kalau kita ikut berenang?’ tanya Aswin.
’Terserah kamu. Tapi kalau aku pikir sih lebih baik kita bersilancar di Air Manis nanti sore,’ usul Pohan.
’Benar juga. Waktunya tanggung untuk berenang. Sudah terlalu panas. Atau mari kita berjalan-jalan saja di sepanjang pantai ini,’ ajak Aswin.
Tentu saja Pohan setuju.
Dan merekapun berjalan-jalan di pantai itu. Menikmati deburan ombak menghempas di pasir putih. Menikmati hembusan angin yang bertiup, yang menyebabkan daun pohon nyiur melambai-lambai. Sambil berbincang-bincang santai.
’Kenapa namanya Pantai Kata?’ tanya Aswin.
’Aku tidak tahu. Mungkin untuk menyaingi Pantai Kuta di Bali he..he..he..’ jawab Pohan asal-asalan.
’Oh ya? Apa betul? Tapi suasananya aku yakin tidak akan sama dengan di Bali.’
’Maksudmu?’
’Disini mungkin lebih teratur. Lebih banyak peraturan untuk ketertiban.’
’Ya.. Bagaimana ya? Kalau tidak diatur, kalau tidak ada filter dikhawatirkan para pendatang tidak hanya membawa manfaat kepada masyarakat di sini tapi bisa-bisa menjadi pembawa masalah.’
’Benar. Memang perlu adanya peraturan yang jelas dan tegas. Peraturan yang ditegakkan dengan konsisten,’ tambah Aswin.
’Itulah yang dilakukan pemerintah daerah di sini. Dan kelihatannya berjalan cukup baik. Para pelancong yang datang semakin ramai dan rasanya tidak ada yang mempermasalahkan peraturan-peraturan pemerintah daerah.’
’Benar sekali. Cukup mengagumkan melihat para pelancong asing bisa mematuhi aturan-aturan itu. Di pantai ini, seperti juga di Maninjau tidak ada wanita yang memakai bikini. Dan tempat ini tetap saja ramai,’ komentar Aswin.
Agak jauh mereka berjalan. Sampai ke tempat yang tidak ada lagi pelancongnya. Baru mereka berbalik kembali. Dari sini semakin terlihat keindahan pantai tempat para pelancong berkumpul karena bahagian itu memang lebih landai. Dan lebih banyak pohon-pohonan. Cuaca siang ini agak panas. Pastilah bernaung di bawah pohon-pohon itu sambil memandang ke arah laut sangat menyenangkan.
Dan mereka ikut duduk di bawah sebuah pohon yang rindang itu. Di bangku-bangku kayu sederhana. Sambil menikmati keindahan suasana pantai. Sejuk dan nyaman rasanya berada di sini.
’Apa kita lanjut dulu?’ tanya Pohan, setelah beberapa saat mereka berada di sana.
’OK. Kita terus ke Pariaman?’
’Ya. Kita terus ke Pariaman,’ jawab Pohan.
Mereka tinggalkan Pantai Kata yang masih saja ramai.
*****
SEMINGGU DI RANAH BAKO (bag.16)
16. Beruk Lubuk Basung
Pagi-pagi sekali mereka sudah bersiap lagi untuk berangkat. Kali ini membawa tas ransel berisi pakaian ganti karena nanti malam mereka akan menginap di Padang. Mereka sudah memesan kamar di hotel Pangeran Beach untuk satu malam. Pagi itu hujan turun rintik-rintik.
’Kelihatannya hujan nih, apa kita tetap berangkat pagi-pagi ini? tanya Aswin, waktu mereka masih di meja makan.
’Nantian lah dulu sabanta. Kan ndak ado nan ka dikajai do,’ kata nenek. Seperti biasa kali ini jo bahaso Minang.
’Bagaimana?’ tanya Aswin kepada Pohan.
’Ya udah. Kita tunggu agak setengah jam,’ kata Pohan.
’OK.’
Mereka melanjutkan bincang-bincang di meja makan sementara menunggu waktu setengah jam itu berlalu. Dan ternyata memang hujan berhenti. Tapi masih tetap saja mendung.
’Kita berangkat saja. Mudah-mudahan nanti cuaca berubah di perjalanan,’ ajak Pohan.
’Atau, kita tidak usah melalui Maninjau lagi, langsung ke Padang liwat Padang Panjang. Kalau di sana hujan dan jalanan licin apa melalui belokan empat puluh empat tidak berbahaya?’ tanya Aswin pula.
’Mudah-mudahan nggak apa-apa. Kita liwat Maninjau saja. Atau seandainya nanti di sana hujan dan hujannya deras, kita berhenti dulu di Embun Pagi. Tapi belum tentu juga hari hujan waktu kita nanti liwat di sana,’ Pohan percaya diri.
‘OK. Kalau kamu yakin, aku OK saja,’ ujar Aswin pula.
Setelah berpamitan dengan nenek dan etek, mereka berangkat. Sudah hampir jam delapan. Melalui jalan ke Matur untuk terus ke Maninjau. Menjelang Matur jalan justru berubah menjadi berkabut. Pohan menyalakan lampu kuning untuk menembus kabut. Tapi untunglah kabut itu menipis begitu mereka mendekati Embun Pagi. Dan mereka lalui kelok empat puluh empat, kelok demi kelok ke bawah yang berakhir di Maninjau. Berbelok ke kanan menuju Lubuk Basung, melalui jalan di pinggir danau. Cuaca masih tetap redup. Dan di dalam danau, sepagi ini sudah ada yang bermain ski air.
Mobil melaju dijalan dengan tenang. Di perjalanan itu mereka temui rombongan sekitar sepuluh orang sedang bersepeda ke arah yang sama dengan mereka. Orang-orang asing berkulit putih semua. Memang enak bersepeda di jalan ini karena jalannya rata. Mereka mungkin bisa sampai ke Lubuk Basung dengan sepeda. Mendekati Lubuk Basung cuaca sudah berubah cerah. Matahari terlihat sudah tinggi dari sebelah bukit Puncak Lawang. Di luar kota ini, di pinggir jalan yang banyak pohon kelapa, terlihat kerumunan pelancong sedang menengadah melihat ke atas pohon kelapa. Ada satu orang memegang tali yang terentang ke atas pohon kelapa di antara kerumunan orang itu.
’Apa yang mereka lihat?’ tanya Aswin.
’Mereka melihat beruk memetik kelapa,’ jawab Pohan.
’Wah. Mari kita lihat juga,’ pinta Aswin.
Pohan menghentikan mobil dan memarkirnya di pinggir jalan. Mereka ikut menonton kebolehan beruk yang dikomando oleh pemiliknya untuk mengambil kelapa.
’Suruh dia ambil kelapa muda,’ kata seorang pelancong bule itu.
Pemilik beruk memberikan aba-aba dengan mengatakan sesuatu yang entah apa artinya. Tapi beruk itu rupanya mengerti dan menjatuhkan sebuah kelapa muda.
’Suruh dia ambil lima kelapa muda,’ kata bule itu lagi.
’Lima lagi?’ tanya pemilik beruk.
’Tidak. Lagi ampat,’ tambahnya pula.
Kali ini diulanginya aba-aba hampir seperti tadi juga bunyinya dan entah dimana bedanya. Beruk menjatuhkan empat buah lagi kelapa muda. Rupanya beruk dan juragannya sudah benar-benar saling memahami. Pelancong-pelancong itu bertepuk tangan menyaksikan atraksi kepintaran si beruk. Pemilik beruk itu memberi aba-aba dan beruk itu sekarang turun dengan sangat lincahnya dari pohon kelapa yang lebih sepuluh meter tingginya itu. Kadang-kadang dengan kepala ke bawah. Namanya saja beruk. Sampai di tanah dia mendapatkan upahnya, dua buah pisang. Tidak lupa dia menyeringai kepada pelancong yang menonton itu sebelum menikmati kedua buah pisang itu.
Kelapa muda yang dipesan pelancong bule itu langsung disiapkan oleh anak penjaga warung. Warung itu rupanya milik yang empunya beruk itu juga. Kelapa muda yang sudah dirapikan bagian atasnya, disajikan dengan apik di atas piring lengkap dengan sedotan plastik dan sendok untuk mengambil daging kelapa muda. Rupanya tidak semua pelancong itu mengerti bahwa mereka bisa menikmati kelapa muda seperti itu. Sekarang kesembilan orang pelancong sama-sama menginginkan kelapa muda. Mereka minta kepada yang tadi bisa berbahasa Indonesia agar meminta diambilkan kelapa muda lagi karena mereka juga ingin menikmatinya.
‘Ini orang semua mau kelapa muda juga. Bisa lagi monyet suruh ambil?’ katanya dengan bahasa Indonesia seadanya.
Pemilik warung merangkap pemilik beruk itu tersenyum.
’Berapa lagi?’ tanyanya.
’Lagi... satu, dua tiga, ampat. Lagi ampat,’ kata si bule.
’Tolong ambilkan juga untuk kami berdua,’ kata Pohan menambahkan.
Sekarang beruk itu disuruh memanjat pohon kelapa yang lain lagi. Diulanginya kembali atraksi tadi. Dengan sangat cepat dan lincah sebentar saja dia sudah sampai di puncak pohon kelapa. Menjatuhkan beberapa buah kelapa muda yang sesuai pesanan tadi.
Sekarang semua menikmati kelapa muda di warung sederhana yang bersih dan tertata apik itu sambil mengobrol. Pelancong bule itu ada yang dari Australia, dari Canada dan dari Belanda. Aswin dan Pohan terlibat perbincangan dengan mereka. Yang pandai berbahasa Indonesia tadi, yang rupanya orang Australia, banyak tahu tentang objek wisata di negeri ini. Dia mengatakan bahwa ada lomba memetik kelapa antar beruk yang biasa dilakukan di Lubuk Alung dan Sicincin. Yang dipertandingkan adalah ketepatan dan kecepatan masing-masing beruk memilih buah kelapa dan kecepatannya. Di samping tentu saja kepintaran beruk menerima perintah dari majikannya. Lomba itu menarik, kata si Australia itu, karena meskipun beruk-beruk itu sudah dilatih tapi kemahirannya masih berbeda. Ada saja misalnya yang mengambil kelapa muda padahal yang dipertandingkan adalah memetik kelapa yang tua. Atau ada yang memetik lebih dari yang disuruh. Lomba seperti itu biasanya ramai pengunjungnya baik pelancong maupun orang kampung. Beruk juara akan mendapat hadiah.
Pemilik warung yang ternyata faham dan bisa berbahasa Inggeris ikut berbicara dan mengatakan bahwa beruknya jadi juara tiga dalam perlombaan tahun lalu.
’This ’beruk’?’ tanya seorang pelancong.
‘Yes. This one,’ jawab orang warung itu. ‘You see that trophy over there? That is his trophy,’ tambahnya lagi sambil menunjuk ke sebuah piala yang dipajang di atas kulkas. Dengan sedikit bangga.
‘Selain piala apa lagi hadiahnya?’ tanya Aswin.
’Uang. Dua juta lima ratus ribu. Juara satu dapat uang lima juta rupiah. Dan piala dari pak Bupati Padang Pariaman,’ jawabnya.
’Hebat. Kapan diadakan lomba beruk memetik kelapa itu?’ tanya Aswin pula.
’Bulan Juli. Pada saat pelancong lebih banyak datang ke Sumatera Barat. Sebelumnya ada juga lomba antar kampung, tapi kurang menarik. Hitung-hitung hanya sebagai pemanasan saja,’ tambahnya lagi.
’Siapa yang melatih beruk-beruk itu?’ tanya Pohan pula.
’Kami-kami saja. Maksudnya masing-masing pemiliknya. Belum ada sekolah beruk. He..he..’ jawab orang warung itu.
’And this year this ‘beruk’ wil participate again?’ tanya seorang pelancong.
‘Sure. I hope this time he will win the competition,’ jawabnya lagi.
‘He? Is it a male?’
‘Yes. And only male ‘beruk’ can participate.’
‘O o. OK.’
‘Mungkin dari sana asal usul celotehan orang Pariaman. Disangko baghuak e jantan, kigho e mambang ikue e,’ kata Pohan.
‘Antahlah,’ jawab pemilik warung tersenyum.
’What did he say?’ tanya si Bule.
Aswin menerangkan arti olok-olokan itu.
’Don’t you give him a name? What is his name?’ tanya si Bule yang lain pula.
‘No need. He wouldn’t understand. He will understand when he hears my voice and I say cuk..cuk.. cuk..’
‘I will name him ‘Juaro’. What do you think?’ kata si orang Australia.
Si empunya warung tersenyum saja.
‘What does it mean?’ tanya teman-temannya.
‘Champ. Champion,’ jawabnya.
‘Yeah…. We name him … what was that?’
‘Juaro.’
‘Yeah.. Juaro. Hey Juaro… Hey Juaro…’ teriak turis itu ramai-ramai ke arah si beruk yang terikat di luar.
Si beruk menyeringai dan mencibir kepada mereka.
*****
Pagi-pagi sekali mereka sudah bersiap lagi untuk berangkat. Kali ini membawa tas ransel berisi pakaian ganti karena nanti malam mereka akan menginap di Padang. Mereka sudah memesan kamar di hotel Pangeran Beach untuk satu malam. Pagi itu hujan turun rintik-rintik.
’Kelihatannya hujan nih, apa kita tetap berangkat pagi-pagi ini? tanya Aswin, waktu mereka masih di meja makan.
’Nantian lah dulu sabanta. Kan ndak ado nan ka dikajai do,’ kata nenek. Seperti biasa kali ini jo bahaso Minang.
’Bagaimana?’ tanya Aswin kepada Pohan.
’Ya udah. Kita tunggu agak setengah jam,’ kata Pohan.
’OK.’
Mereka melanjutkan bincang-bincang di meja makan sementara menunggu waktu setengah jam itu berlalu. Dan ternyata memang hujan berhenti. Tapi masih tetap saja mendung.
’Kita berangkat saja. Mudah-mudahan nanti cuaca berubah di perjalanan,’ ajak Pohan.
’Atau, kita tidak usah melalui Maninjau lagi, langsung ke Padang liwat Padang Panjang. Kalau di sana hujan dan jalanan licin apa melalui belokan empat puluh empat tidak berbahaya?’ tanya Aswin pula.
’Mudah-mudahan nggak apa-apa. Kita liwat Maninjau saja. Atau seandainya nanti di sana hujan dan hujannya deras, kita berhenti dulu di Embun Pagi. Tapi belum tentu juga hari hujan waktu kita nanti liwat di sana,’ Pohan percaya diri.
‘OK. Kalau kamu yakin, aku OK saja,’ ujar Aswin pula.
Setelah berpamitan dengan nenek dan etek, mereka berangkat. Sudah hampir jam delapan. Melalui jalan ke Matur untuk terus ke Maninjau. Menjelang Matur jalan justru berubah menjadi berkabut. Pohan menyalakan lampu kuning untuk menembus kabut. Tapi untunglah kabut itu menipis begitu mereka mendekati Embun Pagi. Dan mereka lalui kelok empat puluh empat, kelok demi kelok ke bawah yang berakhir di Maninjau. Berbelok ke kanan menuju Lubuk Basung, melalui jalan di pinggir danau. Cuaca masih tetap redup. Dan di dalam danau, sepagi ini sudah ada yang bermain ski air.
Mobil melaju dijalan dengan tenang. Di perjalanan itu mereka temui rombongan sekitar sepuluh orang sedang bersepeda ke arah yang sama dengan mereka. Orang-orang asing berkulit putih semua. Memang enak bersepeda di jalan ini karena jalannya rata. Mereka mungkin bisa sampai ke Lubuk Basung dengan sepeda. Mendekati Lubuk Basung cuaca sudah berubah cerah. Matahari terlihat sudah tinggi dari sebelah bukit Puncak Lawang. Di luar kota ini, di pinggir jalan yang banyak pohon kelapa, terlihat kerumunan pelancong sedang menengadah melihat ke atas pohon kelapa. Ada satu orang memegang tali yang terentang ke atas pohon kelapa di antara kerumunan orang itu.
’Apa yang mereka lihat?’ tanya Aswin.
’Mereka melihat beruk memetik kelapa,’ jawab Pohan.
’Wah. Mari kita lihat juga,’ pinta Aswin.
Pohan menghentikan mobil dan memarkirnya di pinggir jalan. Mereka ikut menonton kebolehan beruk yang dikomando oleh pemiliknya untuk mengambil kelapa.
’Suruh dia ambil kelapa muda,’ kata seorang pelancong bule itu.
Pemilik beruk memberikan aba-aba dengan mengatakan sesuatu yang entah apa artinya. Tapi beruk itu rupanya mengerti dan menjatuhkan sebuah kelapa muda.
’Suruh dia ambil lima kelapa muda,’ kata bule itu lagi.
’Lima lagi?’ tanya pemilik beruk.
’Tidak. Lagi ampat,’ tambahnya pula.
Kali ini diulanginya aba-aba hampir seperti tadi juga bunyinya dan entah dimana bedanya. Beruk menjatuhkan empat buah lagi kelapa muda. Rupanya beruk dan juragannya sudah benar-benar saling memahami. Pelancong-pelancong itu bertepuk tangan menyaksikan atraksi kepintaran si beruk. Pemilik beruk itu memberi aba-aba dan beruk itu sekarang turun dengan sangat lincahnya dari pohon kelapa yang lebih sepuluh meter tingginya itu. Kadang-kadang dengan kepala ke bawah. Namanya saja beruk. Sampai di tanah dia mendapatkan upahnya, dua buah pisang. Tidak lupa dia menyeringai kepada pelancong yang menonton itu sebelum menikmati kedua buah pisang itu.
Kelapa muda yang dipesan pelancong bule itu langsung disiapkan oleh anak penjaga warung. Warung itu rupanya milik yang empunya beruk itu juga. Kelapa muda yang sudah dirapikan bagian atasnya, disajikan dengan apik di atas piring lengkap dengan sedotan plastik dan sendok untuk mengambil daging kelapa muda. Rupanya tidak semua pelancong itu mengerti bahwa mereka bisa menikmati kelapa muda seperti itu. Sekarang kesembilan orang pelancong sama-sama menginginkan kelapa muda. Mereka minta kepada yang tadi bisa berbahasa Indonesia agar meminta diambilkan kelapa muda lagi karena mereka juga ingin menikmatinya.
‘Ini orang semua mau kelapa muda juga. Bisa lagi monyet suruh ambil?’ katanya dengan bahasa Indonesia seadanya.
Pemilik warung merangkap pemilik beruk itu tersenyum.
’Berapa lagi?’ tanyanya.
’Lagi... satu, dua tiga, ampat. Lagi ampat,’ kata si bule.
’Tolong ambilkan juga untuk kami berdua,’ kata Pohan menambahkan.
Sekarang beruk itu disuruh memanjat pohon kelapa yang lain lagi. Diulanginya kembali atraksi tadi. Dengan sangat cepat dan lincah sebentar saja dia sudah sampai di puncak pohon kelapa. Menjatuhkan beberapa buah kelapa muda yang sesuai pesanan tadi.
Sekarang semua menikmati kelapa muda di warung sederhana yang bersih dan tertata apik itu sambil mengobrol. Pelancong bule itu ada yang dari Australia, dari Canada dan dari Belanda. Aswin dan Pohan terlibat perbincangan dengan mereka. Yang pandai berbahasa Indonesia tadi, yang rupanya orang Australia, banyak tahu tentang objek wisata di negeri ini. Dia mengatakan bahwa ada lomba memetik kelapa antar beruk yang biasa dilakukan di Lubuk Alung dan Sicincin. Yang dipertandingkan adalah ketepatan dan kecepatan masing-masing beruk memilih buah kelapa dan kecepatannya. Di samping tentu saja kepintaran beruk menerima perintah dari majikannya. Lomba itu menarik, kata si Australia itu, karena meskipun beruk-beruk itu sudah dilatih tapi kemahirannya masih berbeda. Ada saja misalnya yang mengambil kelapa muda padahal yang dipertandingkan adalah memetik kelapa yang tua. Atau ada yang memetik lebih dari yang disuruh. Lomba seperti itu biasanya ramai pengunjungnya baik pelancong maupun orang kampung. Beruk juara akan mendapat hadiah.
Pemilik warung yang ternyata faham dan bisa berbahasa Inggeris ikut berbicara dan mengatakan bahwa beruknya jadi juara tiga dalam perlombaan tahun lalu.
’This ’beruk’?’ tanya seorang pelancong.
‘Yes. This one,’ jawab orang warung itu. ‘You see that trophy over there? That is his trophy,’ tambahnya lagi sambil menunjuk ke sebuah piala yang dipajang di atas kulkas. Dengan sedikit bangga.
‘Selain piala apa lagi hadiahnya?’ tanya Aswin.
’Uang. Dua juta lima ratus ribu. Juara satu dapat uang lima juta rupiah. Dan piala dari pak Bupati Padang Pariaman,’ jawabnya.
’Hebat. Kapan diadakan lomba beruk memetik kelapa itu?’ tanya Aswin pula.
’Bulan Juli. Pada saat pelancong lebih banyak datang ke Sumatera Barat. Sebelumnya ada juga lomba antar kampung, tapi kurang menarik. Hitung-hitung hanya sebagai pemanasan saja,’ tambahnya lagi.
’Siapa yang melatih beruk-beruk itu?’ tanya Pohan pula.
’Kami-kami saja. Maksudnya masing-masing pemiliknya. Belum ada sekolah beruk. He..he..’ jawab orang warung itu.
’And this year this ‘beruk’ wil participate again?’ tanya seorang pelancong.
‘Sure. I hope this time he will win the competition,’ jawabnya lagi.
‘He? Is it a male?’
‘Yes. And only male ‘beruk’ can participate.’
‘O o. OK.’
‘Mungkin dari sana asal usul celotehan orang Pariaman. Disangko baghuak e jantan, kigho e mambang ikue e,’ kata Pohan.
‘Antahlah,’ jawab pemilik warung tersenyum.
’What did he say?’ tanya si Bule.
Aswin menerangkan arti olok-olokan itu.
’Don’t you give him a name? What is his name?’ tanya si Bule yang lain pula.
‘No need. He wouldn’t understand. He will understand when he hears my voice and I say cuk..cuk.. cuk..’
‘I will name him ‘Juaro’. What do you think?’ kata si orang Australia.
Si empunya warung tersenyum saja.
‘What does it mean?’ tanya teman-temannya.
‘Champ. Champion,’ jawabnya.
‘Yeah…. We name him … what was that?’
‘Juaro.’
‘Yeah.. Juaro. Hey Juaro… Hey Juaro…’ teriak turis itu ramai-ramai ke arah si beruk yang terikat di luar.
Si beruk menyeringai dan mencibir kepada mereka.
*****
SEMINGGU DI RANAH BAKO (bag.15)
15. Memancing Di ’Tabek’
Pagi itu Aswin terbangun saat mendengar suara orang mengaji di mesjid. Saat jam menunjukkan pukul setengah lima pagi. Dibangunkannya Pohan, dan diajaknya pergi shalat subuh ke mesjid. Pohan setuju. Dan mereka pergi ke mesjid. Sesudah shalat subuh, Aswin mengajak pergi berjalan-jalan di kampung. Meskipun udara sebenarnya cukup dingin subuh itu. Mereka berjalan santai mengikuti jalan arah ke Sianok. Cukup jauh juga mereka berjalan kaki sebelum berbalik kembali pulang ke rumah. Waktu mereka sampai di rumah hari sudah mulai terang. Di rumah hanya ada nenek sendirian.
‘Where have you been?’ tanya nenek ketika melihat Aswin masuk rumah, sendirian.
Aswin menjawab dalam bahasa Inggeris juga, mengatakan bahwa mereka baru saja pergi berjalan kaki sesudah shalat subuh di mesjid. Dan Aswin menanyakan kemana etek. Nenek menjawab, ‘She is going out to buy ‘ketupat’ for breakfast.’
Mereka berbincang-bincang berdua, in full English, sementara Pohan masih belum masuk rumah. Entah kemana dia mampir. Nenek menanyakan tentang tempat mana saja yang mereka kunjungi kemarin, bagaimana kesan Aswin tentang apa yang dilihatnya, dan kemana rencana hari ini. Aswin menjelaskan semuanya, dan memuji semua yang sudah dilihatnya sampai tadi malam, termasuk pertunjukan tari-tarian yang disebutnya spectacular.
Tidak lama kemudian Pohan muncul membawa dua buah tangkai pancing. Aswin tidak mengerti apa yang dipegangnya itu.
‘Kamu dari mana? Dan itu apa?’ tanya Aswin.
‘Dari mengambil pancing-pancing ini di belakang rumah di sebelah,’ jawab Pohan.
‘Pancing? Apa hari ini kita tidak jadi beristirahat saja dan tidak usah pergi?’ Aswin bertanya lagi.
‘Justru itu. Nanti kita mancing,’ jawab Pohan pula.
‘Mancing? Maksudmu kita pergi ke Paya Kumbuh, begitu?’
Pohan tertawa mendengarnya.
‘Bukan di Paya Kumbuh. Kita mancing di tabek di belakang rumah di sebelah sana,’ kata Pohan pula.
‘O o… Jadi kita juga bisa memancing di tabek di belakang rumah. Aku pikir harus pergi ke Paya Kumbuh. Kemarin kamu bilang di Paya Kumbuh banyak kolam tempat memancing.’
‘Betul. Tapi tidak hanya di Paya Kumbuh saja tempat memancing,’ jawab Pohan pula.
Terdengar suara mobil. Rupanya etek yang datang. Etek pergi membeli ketupat sayur ke Koto Tuo. Mereka sarapan dengan ketupat sayur, sambil berbincang-bincang. Aswin juga menyukai ketupat sayur.
Nenek yang banyak tanya pagi ini. Dan nenek selalu berbicara dalam bahasa Inggeris. Entah kenapa beliau sengaja benar berbahasa Inggeris. Mungkin lagi senang saja menunjukkan kemampuan beliau yang memang sangat sempurna. Dan Aswin melayaninya, berbahasa Inggeris. Pohan dan etek tersenyum-senyum saja mendengar pembicaraan mereka.
‘Apakah ‘tabek’ mempunyai arti kata lain selain kolam?’ tanya Aswin.
‘No. Tabek in Bahaso Minang means pool,’ jawab nenek.
Aswin lalu menanyakan apa arti ’tabek patah’. Dan nenek menerangkan, tetap berbahasa Inggeris, itu bisa saja berarti, dua kolam yang berbatasan satu pematang perantara tapi permukaan keduanya tidak sama tinggi sehingga terlihat seolah-olah patah. Aswin terkagum-kagum mendengar keterangan itu. Jawaban itu sangat ilmiah, katanya. Kenampakan seperti itu, kalau memang demikian adanya, dalam ilmu geologi memang disebut patahan.
’Jadi kalian tidak akan pergi-pergi hari ini?’ tanya etek.
’Tidak. Biar Pohan beristirahat dari menyetir hari ini,’ jawab Aswin.
’Dan kami akan memancing di ’tabek’ belakang,’ ujar Pohan.
’Apakah di dalamnya banyak ikan?’ tanya Aswin pula.
’Banyak. Pergilah pancing. Nanti etek buatkan gulai ikan atau ikan goreng,’ usul etek.
’Waaw. Saya suka sekali ikan. Digulai... digoreng kering.. mmh,’ Aswin menelan ludah membayangkannya.
‘Mana yang lebih kamu sukai? Digoreng atau digulai?’ tanya etek pula.
‘Yang mana saja. Saya suka ikan diapakan saja,’ jawab Aswin.
’Tapi ini ikan air tawar. Mungkin kamu belum pernah mencobanya,’ Pohan mengingatkan.
’Oo pernah. Di restoran Cina, aku pernah makan ikan mas digoreng kering. Ayo, jam berapa kita memancing?’ tanya Aswin lagi.
‘Bisa sekarang, kalau kamu mau. Sehabis sarapan ini,’ ujar Pohan.
’OK. Aku sudah siap. Pasti menarik juga acara memancing,’ komentar Aswin.
’Ya. Siapa saja yang pulang kampung pasti menyempatkan memancing di belakang itu,’ kata etek pula.
’Tabek’ terletak di belakang rumah gadang bergonjong. Tabek milik kaum. Dan etek Rasuna mengupah orang lain untuk merawatnya. Di kampung ini memang banyak orang yang bukan asli Koto Gadang mendapat pekerjaan seperti mengerjakan sawah dengan berbagi hasil, menguruskan kebun bahkan memelihara rumah yang ditinggal pemiliknya merantau. Orang-orang pendatang seperti itu tinggal di rumah-rumah rancak, boleh mengambil hasil kebun di sekitar rumah, mengerjakan sawah dengan berbagi hasil. Bahkan adakalanya diberi upah pula oleh pemiliknya.
Dengan demikian, ’tabek’ di belakang rumah itu sangat terawat. Banyak ikan di dalamnya dan ikannya besar-besar. Ada ikan gurami, ikan mas, ikan tawes, mujair dan lele. Di sekelilingnya di buat beberapa buah pondok-pondok kecil dengan bangku-bangku dari bambu, tempat duduk memancing. Sering juga orang dari Bukit Tinggi datang minta ijin untuk memancing di ’tabek’ ini, karena ’memancing’ merupakan hobi orang ’kota’. Kalau diijinkan mereka bersedia membayar. Tapi oleh etek tidak diijinkan. Kolam itu memang disiapkan untuk jadi tempat hiburan bagi sanak famili yang pulang kampung.
Aswin dan Pohan mengambil tempat di bangku-bangku yang membelakangi matahari. Di hadapan mereka terlihat gunung Singgalang. Mereka mulai memancing. Umpannya adalah campuran yang terbuat dari tepung ketan dan gilingan daging ayam yang dilumatkan dan dimasak sehingga jadi seperti kalamai yang lengket. Umpan hasil kreasi Pohan. Dan umpan ini sangat digemari ikan-ikan. Baru saja mereka duduk sekitar lima menit, Pohan sudah berhasil mendapatkan seekor ikan mas seukuran setengah kilo. Dan tidak lama kemudian pancing Aswin juga ditarik ikan. Kali ini seekor ikan lele.
’Hati-hati kamu. Ikan itu ada durinya dan tajam,’ Pohan mengingatkan.
Ternyata memancing ini juga ’a lot of fun’ kata Aswin. Mereka menyepakati tidak akan mengambil kecuali ikan yang beratnya setengah kilo atau lebih. Tiap kali ikan kecil terpancing mereka lepaskan kembali. Dan yang memenuhi kriteria itu hanyalah ikan-ikan mas. Sampai jam sembilan pagi mereka telah mendapatkan sepuluh ekor ikan besar-besar. Ikan-ikan itu sementara ditempatkan dalam sebuah ember besar berisi air agar tidak mati. Nenek dan etek ikut datang ke pinggir ’tabek’ melihat mereka memancing. Mungkin karena mendengar suara mereka yang riuh setiap kali mendapatkan ikan di mata pancing. Nenek juga ikut senang melihat anak-anak muda itu keriangan. Aswin menawarkan apakah nenek juga mau mencoba memancing. Dan nenek menerima tawaran itu. Tangan beliau masih kuat mengayun untuk melemparkan benang pancing jauh ke tengah. Sama kuatnya waktu menarik tangkai pancing yang digantungi ikan.
Tapi akhirnya mereka kecapekan. Karena hari mulai panas. Dan ikan tidak seperti awal-awal tadi lagi mudahnya dipancing. Mungkin ikan juga sudah mulai kepanasan dan tidak bernafsu memakan umpan. Ikan hasil pancingan disuruh bersihkan etek kepada tek Sarah, istri dari orang yang merawat ’tabek’.
Dan siang itu mereka pesta makan ikan mas goreng kering dan sambalado. Aswin ternyata benar-benar seorang penikmat ikan. Dia makan sampai bercucuran keringat. Etek juga membuat pangek ikan tapi mengusulkan untuk dimakan saat makan malam biar ikannya lebih empuk.
Sehabis makan siang Aswin menamatkan membaca buku-buku yang dibelinya kemarin. Dan sore harinya mereka berkeliling naik sepeda sampai ke ngarai Sianok. Meski tidak pergi ke tempat yang jauh hari ini, ternyata banyak juga hal yang menyenangkan yang mereka lalui.
Dan malamnya mereka kembali pesta makan dengan ikan hasil tangkapan tadi pagi. Ikan yang dipangek seperti gulai Kapau. Dan ada pula belut kering digoreng belado. Bergelintin-pintin rasanya. Etek memang seorang juara dalam memasak. Sesudah makan mereka kembali terlibat dalam obrolan. Obrolan yang bagai tidak ada habis-habisnya. Banyak tanya Aswin. Tentang Negeri Minangkabau, tentang adat orang Minang, tentang sejarahnya, tentang kebiasaan pergi merantau sampai tak seorangpun dari anggota keluarga yang tinggal di kampung, dan sebagainya. Dan nenek menjawab hampir semua pertanyaan itu. Nenek memang sangat luas pengetahuannya. Kadang-kadang cerita itu disela oleh etek atau Pohan yang bertanya tentang pengalaman pelancongan Aswin ke tempat-tempat lain. Dan Aswinpun pandai pula berkisah, bercerita tentang apa yang pernah dilihatnya.
Jam setengah sepuluh nenek sudah mengantuk. Dan beliau menyarankan agar semua pergi tidur karena besok akan pergi lagi melancong. Ya, besok mereka akan pergi ke Padang melalui Maninjau, Lubuk Basung, Tiku, Pariaman, Lubuk Alung dan terus ke Padang.
*****
SEMINGGU DI RANAH BAKO (bag.14)
14. Sendra Tari Minang
Mereka tempuh jalan yang sepi dan berkelok-kelok. Dengan kebun-kebun di pinggir jalan. Terlihat juga pohon-pohon di dalam parak itu, di bawah sorotan lampu mobil dan dibawah temaramnya cahaya bulan. Kadang-kadang terlihat parak atau kebun pisang. Kadang-kadang bersua kampung. Dan di ujung jalan yang berkelok-kelok itu, akhirnya mereka keluar di Baso. Berbelok ke kiri, di jalan yang sedikit lebih besar menuju Bukit Tinggi. Mereka mengobrol-ngobrol santai juga sepanjang jalan. Ada saja yang jadi bahan obrolan.
’Acara kita yang tertinggal mulai besok adalah ke Padang. Dan seperti rencana mula-mula, kita akan menginap semalam di Padang. Dari Padang kita akan ke Danau Kembar melalui Solok. Pulangnya melalui Solok kembali dan seterusnya menyusuri danau Singkarak, lalu terus pulang ke kampung. Satu hari lagi untuk pergi melihat-lihat objek dekat Bukit Tinggi. Termasuk makan nasi Kapau. Objek dekat Bukit Tinggi termasuk pula mengunjungi ngalau Kamang dan kolam ikan Sungai Janiah. Dan satu hari lagi untuk berbelanja di Bukit Tinggi dengan tentatif tambahan, ke Lubuk Sikaping melalui Bonjol atau melihat menhir di Koto Tinggi. Bagaimana? Kamu setuju?’ tanya Pohan.
’Kamu hebat. Kamu pantas menjadi penyelenggara pariwisata. Pengetahuanmu tentang negeri ini sangat luas. Aku senang sekali kamu bawa berkeliling-keliling mengunjungi sebegitu banyak tempat. Nah, aku usul, sebaiknya besok kita istirahat dulu. Aku ingin bercerita dan bertanya sama nenek dan etek Rasuna. Dan lagi pula kamu pasti terlalu capek menyetir tiap hari. Biar besok kita berjalan-jalan di kampung saja, melihat sawah dan kebun. Lusa kita ke Padang seperti rencana yang kamu sebut tadi. Hari Kamis kita ke Danau Kembar dan Singkarak. Jumat di sekitar Bukit Tinggi. Aku tidak akan shopping banyak kok di sini, hari Jum’at itu cukup untuk sekedar beli oleh-oleh. Dan Sabtu pagi kamu antar aku ke airport. Lubuk Sikaping atau Koto Tinggi biar jadi next visit target. Sekalian daerah Solok Selatan seperti yang kamu bilang. Aku akan kembali lagi ke sini.’
’Baiklah. Kalau kamu lebih memilih seperti itu. Sebenarnya kalau masalah capek aku sih nggak capek. Aku enjoy menyetir seperti ini. Tapi sekali lagi kalau kamu mau begitu aku juga OK saja,’ jawab Pohan.
’Aku pikir bagus begitu. Dan malam ini kita langsung ke gedung kesenian, bukan?’
’Kecuali kalau kamu sudah lapar. Kalau belum lapar, kita langsung menonton pertunjukan sendra tari Minang. Nanti sebelum pulang sekitar jam sebelas kita mampir makan nasi goreng di boffet Kubang,’ usul Pohan.
’Perfect. Kita lakukan seperti itu. Aku belum lapar.’
’Pas sekali. Sekarang baru jam delapan lebih sepuluh. Kurang dari lima menit lagi kita sampai di gedung kesenian.’
Merekapun sampai di gedung kesenian itu. Sebuah gedung tempat pertunjukan tari-tarian Minang dengan pentas yang terletak di lantai yang kerendahan dan bangku-bangku tempat duduk penonton melingkar bertingkat-tingkat. Kapasitas tempat duduk untuk penonton sekitar 300 buah bangku. Pada akhir pekan, untuk mendapatkan karcis masuk ke gedung ini harus dipesan karena semua karcis pasti habis terjual. Pada hari biasa, jumlah penonton agak kurang. Paling-paling sekitar 250 orang. Jadi pasti ada tempat kosong. Pohan segera mendapatkan dua lembar karcis di loket. Mereka dapat tempat duduk di bagian agak ke belakang. Waktu mereka memasuki ruangan, pembawa acara sedang menyampaikan penjelasan susunan acara sesudah menyampaikan kata sambutan dan ucapan selamat datang.
Dan acara tari-tarian itu segera dimulai. Mula-mula tari pasambahan. Tari selamat datang. Dibawakan oleh empat pasang penari. Tentu saja dalam pakaian Minang. Yang wanita dengan baju kurung dan bertengkuluk tanduk. Yang laki-laki berbaju hitam, berkain sarung songket setengah kaki dan berdestar. Diiringi musik talempong, bansi dan ada pula organ. Semua life show. Semua pemain musiknya berbaju hitam yang sama seperti baju penari. Sangat profesional. Semua gerak langkah penari seayun seiring. Yang wanita lemah gemulai. Dengan senyum sumringah, tapi tidak genit. Yang laki-laki dengan langkah-langkah lebih tegap terpatah-patah. Kadang-kadang menyerupai gerakan silat menghentak-hentak. Di penghujung tari, dua dari empat penari wanita itu menghantarkan carano kepada penonton yang persis duduk di paling tengah di paling depan. Di kursi kelas satu. Penonton itu sudah dibisiki agar membuka ’dalamak’ kain penutup carano dan mematah sehelai dari seikat daun sirih di dalamnya. Itu adalah ungkapan selamat datang.
Berlanjut dengan tari kedua, tanpa ada kekosongan berarti. Cukup beberapa puluh detik saja sesudah pertunjukan pertama, sekedar cukup memberi kesempatan penonton bertepuk tangan. Muncul tari payung. Bertukar penarinya. Tiga pasang kali ini. Yang laki-laki memegang payung terkembang bergerak sejajar. Yang paling kanan memutar payung di sisi sebelah kanan dengan tangan kanan. Yang disebelah kiri memutar payung di sebelah kiri. Yang di tengah menaikkan payungnya ke atas. Dengan lagu ’Ba bendi-bendi ka Sungai Tanang’. Payung-payung itu seolah roda bendi yang sedang berputar. Maju dan mundur. Menyamping ke kiri dan ke kanan. Sementara penari wanita menari meliuk-liuk di hadapan penari laki-laki. Dalam rangkaian tari yang sama diakhiri dengan ketiga pasang penari itu berjoged dalam tarian dengan masing-masing pasangan memegang seuntai sapu tangan.
Riuh rendah tepuk tangan penonton seselesainya tarian ini. Berlanjut pula dengan tari berikut. Dan berikut. Dan berikut. Di selingi pula dengan pertunjukan instrumen musik talempong dan dikombinasikan dengan tambur dan rebana. Dan ada pula dengan tiupan bansi. Yang anehnya, tak kurang ada musik yang cukup bersemangat, tidak seperti lagu saluang yang selalu merintih panjang saja. Bahkan sebagai pengantar tari-tarian itu. Seperti nyanyian yang ada baitnya berbunyi, ’din din badindin ooi, din din badindin’. Yang pada suatu ketika temponya meningkat cepat seiring dengan semakin sibuknya bertambah cepat gerakan para penari itu. Heboh namun selalu serasi.
Entah sebagai pelipur keingin tahuan Aswin tentang silat Minang, ada pula sebuah tarian yang dimainkan oleh sepasang penari laki-laki saja. Tarian yang lebih pantas disebut sebagai silat. Tapi tari, diiringi oleh musik talempong juga. Tapi silat, lengkap dengan senjata parang yang ditetakkan sungguh-sungguh. Diayunkan sungguh-sungguh. Maju menyerang. Yang satu mundur menghindar tapi berbalik mengancam. Mula-mula salah satu berhasil menetak parang lawan sehingga terlepas dari tangannya. Yang bertangan kosong ternyata lebih hebat dan berhasil merebut parang lawannya. Tapi parang yang direbut itu dibuangnya. Dan akhirnya tari yang silat atau silat yang tari itu berlanjut dengan tangan kosong. Lebih banyak gerakan tarinya kali ini. Dan mereka akhiri dengan bersalaman di penghujung musik talempong. Jadi tidak ada yang kalah tidak ada yang menang dalam silat yang tari itu.
Puncak dari segala tari itu sepertinya adalah tari piring. Dengan jumlah penari yang lebih banyak. Ada enam pasang. Yang penari wanitanya masing-masing memegang dua buah piring yang ada lilinnya menyala. Dan piring kecil itu berdencing diketuk dengan cincin besi di jari penari. Gerakan mereka meliuk-liuk dengan api lilin yang berjuang keras agar tidak padam oleh setiap ayunan tangan yang gemulai. Dan seandainya padam, dengan gerakan halus yang entah bagaimana caranya penarinya menyalakannya kembali dari api di tangan yang sebelah. Atau bahkan dari api dari penari di sebelahnya. Di tengah sibuknya ayunan langkah ke tengah dan ke tepi, seorang pembantu tampil ke atas pentas membawa sebuah karung. Yang isinya ternyata adalah beling pecahan kaca. Dan pecahan kaca itu ditumpahkannya di tengah pentas. Dan inilah dia. Penari-penari itu menari di atas pecahan kaca. Dengan langkah yang seperti itu juga ayunannya. Seperti itu juga gemulainya. Belum juga selesai. Penari laki-laki, dalam gerakan gagah dan tegapnya, kali ini berguling diatas beling pecahan kaca itu. Masya Allah. Entah dengan cara apa mereka menari ini.
Riuh rendah tepuk tangan penonton. Bagaikan mau pecah gedung kesenian. Itulah puncak acara. Sesudah itu semua pendukung acara tampil ke atas pentas. Dengan wajah sumringah penuh senyum. Dengan muka berkilat karena peluh. Diiringi musik Gelang si Paku Gelang dari musik talempong.
Di penghujung acara, sanggar penyelenggara tari ini berjualan sedikit. Menawarkan CD dari pertunjukan yang baru saja ditonton. Tentu saja berebutan yang membeli. Dan memang pantas untuk dibeli. Laku keras jualan mereka di beli penonton. Tak terkecuali Aswin.
Jam sepuluh lebih waktu acara itu selesai. Seperti rencana semula mereka pergi makan nasi goreng di boffet Kubang dekat lapangan Kantin. Sambil membahas pertunjukkan tari-tarian yang baru saja mereka tonton.
‘Pertunjukan yang sangat baik dan terlatih. Benar-benar mengagumkan,’ celetuk Aswin.
’Ya, mereka semakin profesional. Dan semakin diminati para pengunjung. Kalau ada tamu-tamu penting pemerintah daerah datang ke Sumatera Barat, group ini yang paling sering diminta mempertunjukkan tari-tarian,’ Pohan menambahkan.
‘Jadi ada banyak group penari seperti ini?’
‘Ada beberapa. Dan untuk kota-kota yang berbeda ada kelompoknya sendiri-sendiri pula. Yang satu ini adalah kebanggaan kota Bukit Tinggi.’
‘Banyak penarinya? Maksudku apakah penari yang sama saja yang muncul setiap saat?’
‘Aku rasa cukup banyak. Sehingga para penari bisa bergantian hadir tiap malam. Sebab pertunjukkan tari-tarian ini tidak ada liburnya. Selalu ada setiap malam,’ jawab Pohan.
‘Tentu mereka cukup terjamin juga hidupnya sebagai penari.’
‘Aku rasa begitu. Melihat jumlah penonton yang datang, serta dari hasil penjualan CD, cukup lumayan pemasukan keuangan kelompok tari ini.’
Mereka menikmati hidangan nasi goreng kambing boffet Kubang. Sebelum menuju pulang untuk istirahat. Hari ini juga telah berlalu dengan padat dan sangat mengesankan. Dengan begitu banyak pemandangan dan atraksi di bumi Minangkabau. Yang indah-indah semua. Seperti yang dikatakan enche dari Malaysia di Tabek Patah tadi sore. Memang bertuah Negeri Minangkabau. Dan kitapun bertuah jadi anak cucu orang Minangkabau.
*****
Mereka tempuh jalan yang sepi dan berkelok-kelok. Dengan kebun-kebun di pinggir jalan. Terlihat juga pohon-pohon di dalam parak itu, di bawah sorotan lampu mobil dan dibawah temaramnya cahaya bulan. Kadang-kadang terlihat parak atau kebun pisang. Kadang-kadang bersua kampung. Dan di ujung jalan yang berkelok-kelok itu, akhirnya mereka keluar di Baso. Berbelok ke kiri, di jalan yang sedikit lebih besar menuju Bukit Tinggi. Mereka mengobrol-ngobrol santai juga sepanjang jalan. Ada saja yang jadi bahan obrolan.
’Acara kita yang tertinggal mulai besok adalah ke Padang. Dan seperti rencana mula-mula, kita akan menginap semalam di Padang. Dari Padang kita akan ke Danau Kembar melalui Solok. Pulangnya melalui Solok kembali dan seterusnya menyusuri danau Singkarak, lalu terus pulang ke kampung. Satu hari lagi untuk pergi melihat-lihat objek dekat Bukit Tinggi. Termasuk makan nasi Kapau. Objek dekat Bukit Tinggi termasuk pula mengunjungi ngalau Kamang dan kolam ikan Sungai Janiah. Dan satu hari lagi untuk berbelanja di Bukit Tinggi dengan tentatif tambahan, ke Lubuk Sikaping melalui Bonjol atau melihat menhir di Koto Tinggi. Bagaimana? Kamu setuju?’ tanya Pohan.
’Kamu hebat. Kamu pantas menjadi penyelenggara pariwisata. Pengetahuanmu tentang negeri ini sangat luas. Aku senang sekali kamu bawa berkeliling-keliling mengunjungi sebegitu banyak tempat. Nah, aku usul, sebaiknya besok kita istirahat dulu. Aku ingin bercerita dan bertanya sama nenek dan etek Rasuna. Dan lagi pula kamu pasti terlalu capek menyetir tiap hari. Biar besok kita berjalan-jalan di kampung saja, melihat sawah dan kebun. Lusa kita ke Padang seperti rencana yang kamu sebut tadi. Hari Kamis kita ke Danau Kembar dan Singkarak. Jumat di sekitar Bukit Tinggi. Aku tidak akan shopping banyak kok di sini, hari Jum’at itu cukup untuk sekedar beli oleh-oleh. Dan Sabtu pagi kamu antar aku ke airport. Lubuk Sikaping atau Koto Tinggi biar jadi next visit target. Sekalian daerah Solok Selatan seperti yang kamu bilang. Aku akan kembali lagi ke sini.’
’Baiklah. Kalau kamu lebih memilih seperti itu. Sebenarnya kalau masalah capek aku sih nggak capek. Aku enjoy menyetir seperti ini. Tapi sekali lagi kalau kamu mau begitu aku juga OK saja,’ jawab Pohan.
’Aku pikir bagus begitu. Dan malam ini kita langsung ke gedung kesenian, bukan?’
’Kecuali kalau kamu sudah lapar. Kalau belum lapar, kita langsung menonton pertunjukan sendra tari Minang. Nanti sebelum pulang sekitar jam sebelas kita mampir makan nasi goreng di boffet Kubang,’ usul Pohan.
’Perfect. Kita lakukan seperti itu. Aku belum lapar.’
’Pas sekali. Sekarang baru jam delapan lebih sepuluh. Kurang dari lima menit lagi kita sampai di gedung kesenian.’
Merekapun sampai di gedung kesenian itu. Sebuah gedung tempat pertunjukan tari-tarian Minang dengan pentas yang terletak di lantai yang kerendahan dan bangku-bangku tempat duduk penonton melingkar bertingkat-tingkat. Kapasitas tempat duduk untuk penonton sekitar 300 buah bangku. Pada akhir pekan, untuk mendapatkan karcis masuk ke gedung ini harus dipesan karena semua karcis pasti habis terjual. Pada hari biasa, jumlah penonton agak kurang. Paling-paling sekitar 250 orang. Jadi pasti ada tempat kosong. Pohan segera mendapatkan dua lembar karcis di loket. Mereka dapat tempat duduk di bagian agak ke belakang. Waktu mereka memasuki ruangan, pembawa acara sedang menyampaikan penjelasan susunan acara sesudah menyampaikan kata sambutan dan ucapan selamat datang.
Dan acara tari-tarian itu segera dimulai. Mula-mula tari pasambahan. Tari selamat datang. Dibawakan oleh empat pasang penari. Tentu saja dalam pakaian Minang. Yang wanita dengan baju kurung dan bertengkuluk tanduk. Yang laki-laki berbaju hitam, berkain sarung songket setengah kaki dan berdestar. Diiringi musik talempong, bansi dan ada pula organ. Semua life show. Semua pemain musiknya berbaju hitam yang sama seperti baju penari. Sangat profesional. Semua gerak langkah penari seayun seiring. Yang wanita lemah gemulai. Dengan senyum sumringah, tapi tidak genit. Yang laki-laki dengan langkah-langkah lebih tegap terpatah-patah. Kadang-kadang menyerupai gerakan silat menghentak-hentak. Di penghujung tari, dua dari empat penari wanita itu menghantarkan carano kepada penonton yang persis duduk di paling tengah di paling depan. Di kursi kelas satu. Penonton itu sudah dibisiki agar membuka ’dalamak’ kain penutup carano dan mematah sehelai dari seikat daun sirih di dalamnya. Itu adalah ungkapan selamat datang.
Berlanjut dengan tari kedua, tanpa ada kekosongan berarti. Cukup beberapa puluh detik saja sesudah pertunjukan pertama, sekedar cukup memberi kesempatan penonton bertepuk tangan. Muncul tari payung. Bertukar penarinya. Tiga pasang kali ini. Yang laki-laki memegang payung terkembang bergerak sejajar. Yang paling kanan memutar payung di sisi sebelah kanan dengan tangan kanan. Yang disebelah kiri memutar payung di sebelah kiri. Yang di tengah menaikkan payungnya ke atas. Dengan lagu ’Ba bendi-bendi ka Sungai Tanang’. Payung-payung itu seolah roda bendi yang sedang berputar. Maju dan mundur. Menyamping ke kiri dan ke kanan. Sementara penari wanita menari meliuk-liuk di hadapan penari laki-laki. Dalam rangkaian tari yang sama diakhiri dengan ketiga pasang penari itu berjoged dalam tarian dengan masing-masing pasangan memegang seuntai sapu tangan.
Riuh rendah tepuk tangan penonton seselesainya tarian ini. Berlanjut pula dengan tari berikut. Dan berikut. Dan berikut. Di selingi pula dengan pertunjukan instrumen musik talempong dan dikombinasikan dengan tambur dan rebana. Dan ada pula dengan tiupan bansi. Yang anehnya, tak kurang ada musik yang cukup bersemangat, tidak seperti lagu saluang yang selalu merintih panjang saja. Bahkan sebagai pengantar tari-tarian itu. Seperti nyanyian yang ada baitnya berbunyi, ’din din badindin ooi, din din badindin’. Yang pada suatu ketika temponya meningkat cepat seiring dengan semakin sibuknya bertambah cepat gerakan para penari itu. Heboh namun selalu serasi.
Entah sebagai pelipur keingin tahuan Aswin tentang silat Minang, ada pula sebuah tarian yang dimainkan oleh sepasang penari laki-laki saja. Tarian yang lebih pantas disebut sebagai silat. Tapi tari, diiringi oleh musik talempong juga. Tapi silat, lengkap dengan senjata parang yang ditetakkan sungguh-sungguh. Diayunkan sungguh-sungguh. Maju menyerang. Yang satu mundur menghindar tapi berbalik mengancam. Mula-mula salah satu berhasil menetak parang lawan sehingga terlepas dari tangannya. Yang bertangan kosong ternyata lebih hebat dan berhasil merebut parang lawannya. Tapi parang yang direbut itu dibuangnya. Dan akhirnya tari yang silat atau silat yang tari itu berlanjut dengan tangan kosong. Lebih banyak gerakan tarinya kali ini. Dan mereka akhiri dengan bersalaman di penghujung musik talempong. Jadi tidak ada yang kalah tidak ada yang menang dalam silat yang tari itu.
Puncak dari segala tari itu sepertinya adalah tari piring. Dengan jumlah penari yang lebih banyak. Ada enam pasang. Yang penari wanitanya masing-masing memegang dua buah piring yang ada lilinnya menyala. Dan piring kecil itu berdencing diketuk dengan cincin besi di jari penari. Gerakan mereka meliuk-liuk dengan api lilin yang berjuang keras agar tidak padam oleh setiap ayunan tangan yang gemulai. Dan seandainya padam, dengan gerakan halus yang entah bagaimana caranya penarinya menyalakannya kembali dari api di tangan yang sebelah. Atau bahkan dari api dari penari di sebelahnya. Di tengah sibuknya ayunan langkah ke tengah dan ke tepi, seorang pembantu tampil ke atas pentas membawa sebuah karung. Yang isinya ternyata adalah beling pecahan kaca. Dan pecahan kaca itu ditumpahkannya di tengah pentas. Dan inilah dia. Penari-penari itu menari di atas pecahan kaca. Dengan langkah yang seperti itu juga ayunannya. Seperti itu juga gemulainya. Belum juga selesai. Penari laki-laki, dalam gerakan gagah dan tegapnya, kali ini berguling diatas beling pecahan kaca itu. Masya Allah. Entah dengan cara apa mereka menari ini.
Riuh rendah tepuk tangan penonton. Bagaikan mau pecah gedung kesenian. Itulah puncak acara. Sesudah itu semua pendukung acara tampil ke atas pentas. Dengan wajah sumringah penuh senyum. Dengan muka berkilat karena peluh. Diiringi musik Gelang si Paku Gelang dari musik talempong.
Di penghujung acara, sanggar penyelenggara tari ini berjualan sedikit. Menawarkan CD dari pertunjukan yang baru saja ditonton. Tentu saja berebutan yang membeli. Dan memang pantas untuk dibeli. Laku keras jualan mereka di beli penonton. Tak terkecuali Aswin.
Jam sepuluh lebih waktu acara itu selesai. Seperti rencana semula mereka pergi makan nasi goreng di boffet Kubang dekat lapangan Kantin. Sambil membahas pertunjukkan tari-tarian yang baru saja mereka tonton.
‘Pertunjukan yang sangat baik dan terlatih. Benar-benar mengagumkan,’ celetuk Aswin.
’Ya, mereka semakin profesional. Dan semakin diminati para pengunjung. Kalau ada tamu-tamu penting pemerintah daerah datang ke Sumatera Barat, group ini yang paling sering diminta mempertunjukkan tari-tarian,’ Pohan menambahkan.
‘Jadi ada banyak group penari seperti ini?’
‘Ada beberapa. Dan untuk kota-kota yang berbeda ada kelompoknya sendiri-sendiri pula. Yang satu ini adalah kebanggaan kota Bukit Tinggi.’
‘Banyak penarinya? Maksudku apakah penari yang sama saja yang muncul setiap saat?’
‘Aku rasa cukup banyak. Sehingga para penari bisa bergantian hadir tiap malam. Sebab pertunjukkan tari-tarian ini tidak ada liburnya. Selalu ada setiap malam,’ jawab Pohan.
‘Tentu mereka cukup terjamin juga hidupnya sebagai penari.’
‘Aku rasa begitu. Melihat jumlah penonton yang datang, serta dari hasil penjualan CD, cukup lumayan pemasukan keuangan kelompok tari ini.’
Mereka menikmati hidangan nasi goreng kambing boffet Kubang. Sebelum menuju pulang untuk istirahat. Hari ini juga telah berlalu dengan padat dan sangat mengesankan. Dengan begitu banyak pemandangan dan atraksi di bumi Minangkabau. Yang indah-indah semua. Seperti yang dikatakan enche dari Malaysia di Tabek Patah tadi sore. Memang bertuah Negeri Minangkabau. Dan kitapun bertuah jadi anak cucu orang Minangkabau.
*****
SEMINGGU DI RANAH BAKO (bag.13)
13. Panorama Tabek Patah
Langit cerah sore ini. Warna rumah gadang istano Pagar Ruyung yang kaya dengan warna kehitaman terlihat indah dibawah naungan birunya langit. Cahaya matahari sore memandikannya melalui setiap lekuk ukiran yang berwarna warni, sehingga tampak berbinar-binar. Tak puas mata memandang. Dan bangunan ini memang lebih indah dilihat dalam keutuhannya. Aswin masih terpaku memandangnya dari sini, dari pelataran parkir. Ketika mereka siap mau berangkat meninggalkan tempat ini.
Merekapun berangkat. Melalui jalan yang tadi mereka tempuh ketika datang. Menuju mula-mula ke Batu Sangkar. Melalui deretan kampung dan nagari. Yang juga mempunyai rumah gadang yang indah berukir-ukir, terlihat di sisi jalan. Meski tentu saja tidak seindah istano Pagar ruyung.
’Dari Batu Sangkar ke Bukit Tinggi kita bisa juga melalui Padang Panjang. Kalau kita menempuh jalan itu berarti kita mengelilingi gunung Marapi. Tapi kita tidak akan melalui jalan tersebut karena kita akan singgah di Tabek Patah,’ Pohan mengawali pembicaraan.
’Kalau kita melalui Padang Panjang tidak adakah objek wisata lain di jalan?’
’Ada. Batu bertikam di Limo Kaum. Di sekitar lokasi batu itu sekarang ada taman bunga,’ jawab Pohan.
’OK, saya pernah membaca tentang hal itu. Batu yang konon di tikam oleh salah seorang Datuk di antara Datuk Perpatih dan Datuk Ketumanggungan waktu beliau-beliau ini berselisih pendapat. Iya kan?’ Aswin mengomentari.
’Kali ini ternyata kamu lebih tahu. Benar, batu itu sebuah batu berlubang, meski lubangnya terlalu besar sebagai bekas tikaman. Sayang cerita batu bertikam itu hanya diceritakan dari mulut ke mulut dan agak susah membuktikan kebenarannya,’ Pohan mencoba menjelaskan.
’Ya. Dan di prasasti batu bersurat mungkin tidak ada cerita tentang sejarah batu bertikam.’
’Bagaimana pendapatmu tentang ’istano’ Pagar Ruyung?’ tanya Pohan pula.
’Bagus dan indah sekali. Ukiran dan warna cat pada ukirannya sangat khas negeri Minangkabau. Lumayan untuk dikunjungi dan dilihat para pengunjung. Tapi istano itu sepertinya hanya untuk simbol saja. Istano yang asli aku rasa tidak seperti ini,’ jawab Aswin.
’Maksudmu?’
’Aku tidak yakin istano yang asli juga bertingkat seperti yang sekarang ini. Dan menurut literatur yang aku baca, bangunan rumah adat Minangkabau tidak ada yang bertingkat. Satu lagi yang aku perhatikan, bagian yang ketinggian di sebelah kedua ujung istano tidak mempunyai jendela. Entah kenapa demikian,’ kata Aswin.
’Kamu ternyata seorang pemerhati dan kritikus yang baik. Aku tidak pernah terpikir tentang kedua hal itu. Tapi benar, istano ini hanya sebagai lambang atau simbol seperti yang kamu katakan. Pada dasarnya Negeri Minangkabau sudah lama tidak mengenal raja. Istano yang dimiliki raja terakhir Minangkabau kabarnya di hancurkan oleh tentara Paderi di awal abad ke sembilan belas. Istano atau rumah gadang penggantinya dibuat jauh kemudian, dan istano ini yang terbakar di akhir tahun lima puluhan. Istano pengganti sekarang ini baru selesai di penghujung tahun tujuh puluhan,’ ungkap Pohan.
’Aku sedang membaca kisah Cindurmato yang dibeli kemarin. Istano negeri yang dipimpin Bundo Kanduang tentulah di Pagar Ruyung ini. Apakah mungkin di istano yang dihancurkan oleh pasukan Paderi itu?’
’Itulah yang susah dijawab. Tidak ada yang tahu kapan tepatnya Bundo Kanduang memimpin negeri Minangkabau.’
’Tapi cerita tentang Bundo Kanduang sendiri harusnya bukan fiksi?’
’Aku yakin keberadaan Bundo Kanduang bukan khayalan. Meskipun di akhir cerita Cindurmato nanti akan kamu temui bagian yang kurang masuk akal. Pada saat terakhir Bundo Kanduang beserta putera dan menantunya terbang ke langit dengan kendaraan perahu terbang. Bagian ini pasti tidak benar.’
’Aku setuju. Dan tempat-tempat di dalam cerita itu masih jelas. Kalau tidak salah tempat tinggal Datuk Bendahara, salah satu pembantu Bundo Kandung adalah di Sungai Tarab, kampung dekat tempat kita makan siang tadi. Apakah pengganti tempat tinggal Datuk Bendahara masih ada di kampung itu?’
’Entahlah. Aku tidak tahu. Paling tidak aku tidak pernah mendengar.’
Tak terasa mereka sudah hampir sampai di Tabek Patah. Hari sudah menjelang maghrib. Mereka masuk ke area Panorama melalui jalan kecil yang sedikit mendaki. Di lapangan parkir ada beberapa buah kendaraan pribadi. Jadi pelancong kemalaman ini bukanlah mereka saja rupanya. Atau mungkin pemandangan di sini lebih indah saat matahari menjelang terbenam? Aswin bertanya-tanya dalam hatinya.
’Mungkin terlalu sore kita mampir kesini,’ kata Aswin.
’Iya juga sih. Tapi tidak apa-apa. Kita masih bisa melihat pemandangan ke bawah dari panorama ini sekarang. Nanti kita bisa shalat maghrib di mushala di sini. Sesudah shalat kita masih bisa melihat panorama yang sama di bawah sinar bulan,’ jawab Pohan pula.
Dan benar saja. Pemandangan indah di senja hari itu terlihat mempesona. Di bawah terhampar dataran yang luas. Umumnya merupakan sawah yang sambung menyambung. Di beberapa tempat terlihat rimbunan pepohonan dari kampung-kampung seperti onggokan di tengah-tengah hamparan. Ada beberapa teropong pula terdapat di sini. Dengan bantuan teropong Aswin mengintip ke arah hamparan luas itu. Ke arah kampung yang mempunyai rimbunan pohon-pohon. Sungai-sungai kecil di kejauhan sana tercirikan dari pohon-pohon yang berbaris berbelok-belok mengikuti aliran sungai.
’Dimana posisi kita ini sebenarnya? Apakah kita sedang berada di sebuah bukit? Kecuali melalui jalan yang berbelok-belok, rasanya kita tidak pernah mendaki bukit dalam perjalanan tadi. Jalan mendaki hanya dari jalan raya di depan ini saja,’ Aswin bertanya dengan sedikit penasaran.
’Maksudmu di bandingkan dengan tanah datar di bawah itu?
’Ya.’
‘Kita berada di ’matakaki’ gunung Marapi. Dan hamparan di bawah itu persis di telapak kakinya he..he..,’ jawab Pohan asal-asalan.
’Oh ya?’
’Kita berada di bagian bawah gunung Marapi dan lembah itu ibarat ngarai seperti ngarai Sianok. Hanya tidak bertepi,’ Pohan menambahkan. Kali ini lebih serius.
’Ya. Cantik sekali. Lain indah pemandangan dari Puncak Lawang, lain pula indahnya tempat ini,’ komentar Aswin.
Azan maghrib terdengar dikumandangkan. Dari arah lembah suara azan terdengar sayup-sayup bersahut-sahutan. Bulan yang nyaris membundar, terlihat di langit sebelah timur lembah, mulai sedikit berbinar seiring meredupnya cahaya siang. Para pelancong di panorama ini semakin asyik terbuai oleh suasana syahdu pergantian siang dan malam seperti ini. Indah.
Lalu mereka pergi shalat maghrib ke mushala di dekat pelataran parkir. Sebuah mushala mungil asri dan bersih. Beberapa orang petugas dan polisi wisata sudah hadir di mushala itu. Dan di belakang mereka serombongan kecil pelancong tadi juga ikut datang untuk melaksanakan shalat maghrib. Mereka ternyata pelancong dari Malaysia.
Sesudah shalat mereka kembali lagi ke atas sana. Pemandangan di lembah itu sekarang berwarna kuning pucat bermandikan cahaya bulan. Lain pula syahdunya pemandangan seperti ini. Cahaya lampu di kampung-kampung di kejauhan sana terlihat seperti manik-manik. Dan di tempat mereka berada terdengar suara jengkerik sedikit mengusik kesyahduan.
’Enche dari mana? Kelihatannya bukan orang asli kat sini?’ tanya seorang pelancong Malaysia tadi yang juga ikut kembali ke sini seusai shalat maghrib.
’Saya asli dari sini. Dia ini saudara sepupu saya dari Amerika. Bapak sendiri dari mana?’ tanya Pohan.
’Saya dari Negeri Sembilan, Malaysia. Datang menziarahi kampung nenek datuk saya ke negeri yang sangat elok ni. Dari tadi saya tengok yang awak berdua bercakap Indonesia, tapi saya dengar saudara awak banyak mengeluarkan kata-kata bahasa Inggeris. Saya tertanya-tanya tampaknya saudara yang satu ni bukan datang dari kat sini. Apa mungkin dari Malaysia juga. Tapi saya tengokpun, bahasanya tak pula bahasa Melayu. Rupanya dari Emerika,’ kata enche Malaysia itu panjang lebar.
’Saya juga datang ke kampung ayah saya. Ayah saya mamak dari saudara saya ini. Kampung beliau di Koto Gadang,’ Aswin ikut berbicara, setelah mereka bersalam-salaman.
’Oooh. Jadi awak dan ayah awak sekarang tinggal di Emerika Syarikat?’
‘Benar. Dan bapak? Sudah bertemu kampung nenek datuknya?’ tanya Aswin pula.
‘Saya dah lihat ada kampung Batu Hampar manakala kami melalui lebuh nak ke Pagar Ruyung siang tadi. Tapi entahlah kampung itu yang merupakan kampung asal nenek buyut saya. Saya generasi keempat yang tinggal di Negeri Sembilan. Manalah boleh nak tanya tanya lagi, kalaupun itu betul kampung datuk saya. Suku saya Batu Hampar,’ jawab orang itu.
‘Baru sekali ini datang ke sini?’ tanya Pohan.
‘Dah berulang kali. Tak ada bosan-bosan menengok negeri indah permai cam ni. Dan lagipun dekat saja. Sekarang 45 minit dah sampai. Kalau enche muda ni? Siapa nama? Baru sekali ini ke?’
‘Ya. Nama saya Aswin. Baru sekali ini. Saya umur lima tahun di bawah ayah ke Amerika dan sejak itu belum pernah pulang ke Indonesia. Waktu kecil saya juga belum pernah dibawa ke kampung ayah,’ jawab Aswin.
‘Bertuah kita jadi anak cucu orang Minangkabau yang negerinya sangat elok ni.’
Mereka masih bercakap-cakap dengan orang-orang Malaysia itu beberapa saat lagi, di panorama Tabek Patah. Sebelum mereka menuju Bukit Tinggi. Di bawah cahaya bulan.
*****
Langit cerah sore ini. Warna rumah gadang istano Pagar Ruyung yang kaya dengan warna kehitaman terlihat indah dibawah naungan birunya langit. Cahaya matahari sore memandikannya melalui setiap lekuk ukiran yang berwarna warni, sehingga tampak berbinar-binar. Tak puas mata memandang. Dan bangunan ini memang lebih indah dilihat dalam keutuhannya. Aswin masih terpaku memandangnya dari sini, dari pelataran parkir. Ketika mereka siap mau berangkat meninggalkan tempat ini.
Merekapun berangkat. Melalui jalan yang tadi mereka tempuh ketika datang. Menuju mula-mula ke Batu Sangkar. Melalui deretan kampung dan nagari. Yang juga mempunyai rumah gadang yang indah berukir-ukir, terlihat di sisi jalan. Meski tentu saja tidak seindah istano Pagar ruyung.
’Dari Batu Sangkar ke Bukit Tinggi kita bisa juga melalui Padang Panjang. Kalau kita menempuh jalan itu berarti kita mengelilingi gunung Marapi. Tapi kita tidak akan melalui jalan tersebut karena kita akan singgah di Tabek Patah,’ Pohan mengawali pembicaraan.
’Kalau kita melalui Padang Panjang tidak adakah objek wisata lain di jalan?’
’Ada. Batu bertikam di Limo Kaum. Di sekitar lokasi batu itu sekarang ada taman bunga,’ jawab Pohan.
’OK, saya pernah membaca tentang hal itu. Batu yang konon di tikam oleh salah seorang Datuk di antara Datuk Perpatih dan Datuk Ketumanggungan waktu beliau-beliau ini berselisih pendapat. Iya kan?’ Aswin mengomentari.
’Kali ini ternyata kamu lebih tahu. Benar, batu itu sebuah batu berlubang, meski lubangnya terlalu besar sebagai bekas tikaman. Sayang cerita batu bertikam itu hanya diceritakan dari mulut ke mulut dan agak susah membuktikan kebenarannya,’ Pohan mencoba menjelaskan.
’Ya. Dan di prasasti batu bersurat mungkin tidak ada cerita tentang sejarah batu bertikam.’
’Bagaimana pendapatmu tentang ’istano’ Pagar Ruyung?’ tanya Pohan pula.
’Bagus dan indah sekali. Ukiran dan warna cat pada ukirannya sangat khas negeri Minangkabau. Lumayan untuk dikunjungi dan dilihat para pengunjung. Tapi istano itu sepertinya hanya untuk simbol saja. Istano yang asli aku rasa tidak seperti ini,’ jawab Aswin.
’Maksudmu?’
’Aku tidak yakin istano yang asli juga bertingkat seperti yang sekarang ini. Dan menurut literatur yang aku baca, bangunan rumah adat Minangkabau tidak ada yang bertingkat. Satu lagi yang aku perhatikan, bagian yang ketinggian di sebelah kedua ujung istano tidak mempunyai jendela. Entah kenapa demikian,’ kata Aswin.
’Kamu ternyata seorang pemerhati dan kritikus yang baik. Aku tidak pernah terpikir tentang kedua hal itu. Tapi benar, istano ini hanya sebagai lambang atau simbol seperti yang kamu katakan. Pada dasarnya Negeri Minangkabau sudah lama tidak mengenal raja. Istano yang dimiliki raja terakhir Minangkabau kabarnya di hancurkan oleh tentara Paderi di awal abad ke sembilan belas. Istano atau rumah gadang penggantinya dibuat jauh kemudian, dan istano ini yang terbakar di akhir tahun lima puluhan. Istano pengganti sekarang ini baru selesai di penghujung tahun tujuh puluhan,’ ungkap Pohan.
’Aku sedang membaca kisah Cindurmato yang dibeli kemarin. Istano negeri yang dipimpin Bundo Kanduang tentulah di Pagar Ruyung ini. Apakah mungkin di istano yang dihancurkan oleh pasukan Paderi itu?’
’Itulah yang susah dijawab. Tidak ada yang tahu kapan tepatnya Bundo Kanduang memimpin negeri Minangkabau.’
’Tapi cerita tentang Bundo Kanduang sendiri harusnya bukan fiksi?’
’Aku yakin keberadaan Bundo Kanduang bukan khayalan. Meskipun di akhir cerita Cindurmato nanti akan kamu temui bagian yang kurang masuk akal. Pada saat terakhir Bundo Kanduang beserta putera dan menantunya terbang ke langit dengan kendaraan perahu terbang. Bagian ini pasti tidak benar.’
’Aku setuju. Dan tempat-tempat di dalam cerita itu masih jelas. Kalau tidak salah tempat tinggal Datuk Bendahara, salah satu pembantu Bundo Kandung adalah di Sungai Tarab, kampung dekat tempat kita makan siang tadi. Apakah pengganti tempat tinggal Datuk Bendahara masih ada di kampung itu?’
’Entahlah. Aku tidak tahu. Paling tidak aku tidak pernah mendengar.’
Tak terasa mereka sudah hampir sampai di Tabek Patah. Hari sudah menjelang maghrib. Mereka masuk ke area Panorama melalui jalan kecil yang sedikit mendaki. Di lapangan parkir ada beberapa buah kendaraan pribadi. Jadi pelancong kemalaman ini bukanlah mereka saja rupanya. Atau mungkin pemandangan di sini lebih indah saat matahari menjelang terbenam? Aswin bertanya-tanya dalam hatinya.
’Mungkin terlalu sore kita mampir kesini,’ kata Aswin.
’Iya juga sih. Tapi tidak apa-apa. Kita masih bisa melihat pemandangan ke bawah dari panorama ini sekarang. Nanti kita bisa shalat maghrib di mushala di sini. Sesudah shalat kita masih bisa melihat panorama yang sama di bawah sinar bulan,’ jawab Pohan pula.
Dan benar saja. Pemandangan indah di senja hari itu terlihat mempesona. Di bawah terhampar dataran yang luas. Umumnya merupakan sawah yang sambung menyambung. Di beberapa tempat terlihat rimbunan pepohonan dari kampung-kampung seperti onggokan di tengah-tengah hamparan. Ada beberapa teropong pula terdapat di sini. Dengan bantuan teropong Aswin mengintip ke arah hamparan luas itu. Ke arah kampung yang mempunyai rimbunan pohon-pohon. Sungai-sungai kecil di kejauhan sana tercirikan dari pohon-pohon yang berbaris berbelok-belok mengikuti aliran sungai.
’Dimana posisi kita ini sebenarnya? Apakah kita sedang berada di sebuah bukit? Kecuali melalui jalan yang berbelok-belok, rasanya kita tidak pernah mendaki bukit dalam perjalanan tadi. Jalan mendaki hanya dari jalan raya di depan ini saja,’ Aswin bertanya dengan sedikit penasaran.
’Maksudmu di bandingkan dengan tanah datar di bawah itu?
’Ya.’
‘Kita berada di ’matakaki’ gunung Marapi. Dan hamparan di bawah itu persis di telapak kakinya he..he..,’ jawab Pohan asal-asalan.
’Oh ya?’
’Kita berada di bagian bawah gunung Marapi dan lembah itu ibarat ngarai seperti ngarai Sianok. Hanya tidak bertepi,’ Pohan menambahkan. Kali ini lebih serius.
’Ya. Cantik sekali. Lain indah pemandangan dari Puncak Lawang, lain pula indahnya tempat ini,’ komentar Aswin.
Azan maghrib terdengar dikumandangkan. Dari arah lembah suara azan terdengar sayup-sayup bersahut-sahutan. Bulan yang nyaris membundar, terlihat di langit sebelah timur lembah, mulai sedikit berbinar seiring meredupnya cahaya siang. Para pelancong di panorama ini semakin asyik terbuai oleh suasana syahdu pergantian siang dan malam seperti ini. Indah.
Lalu mereka pergi shalat maghrib ke mushala di dekat pelataran parkir. Sebuah mushala mungil asri dan bersih. Beberapa orang petugas dan polisi wisata sudah hadir di mushala itu. Dan di belakang mereka serombongan kecil pelancong tadi juga ikut datang untuk melaksanakan shalat maghrib. Mereka ternyata pelancong dari Malaysia.
Sesudah shalat mereka kembali lagi ke atas sana. Pemandangan di lembah itu sekarang berwarna kuning pucat bermandikan cahaya bulan. Lain pula syahdunya pemandangan seperti ini. Cahaya lampu di kampung-kampung di kejauhan sana terlihat seperti manik-manik. Dan di tempat mereka berada terdengar suara jengkerik sedikit mengusik kesyahduan.
’Enche dari mana? Kelihatannya bukan orang asli kat sini?’ tanya seorang pelancong Malaysia tadi yang juga ikut kembali ke sini seusai shalat maghrib.
’Saya asli dari sini. Dia ini saudara sepupu saya dari Amerika. Bapak sendiri dari mana?’ tanya Pohan.
’Saya dari Negeri Sembilan, Malaysia. Datang menziarahi kampung nenek datuk saya ke negeri yang sangat elok ni. Dari tadi saya tengok yang awak berdua bercakap Indonesia, tapi saya dengar saudara awak banyak mengeluarkan kata-kata bahasa Inggeris. Saya tertanya-tanya tampaknya saudara yang satu ni bukan datang dari kat sini. Apa mungkin dari Malaysia juga. Tapi saya tengokpun, bahasanya tak pula bahasa Melayu. Rupanya dari Emerika,’ kata enche Malaysia itu panjang lebar.
’Saya juga datang ke kampung ayah saya. Ayah saya mamak dari saudara saya ini. Kampung beliau di Koto Gadang,’ Aswin ikut berbicara, setelah mereka bersalam-salaman.
’Oooh. Jadi awak dan ayah awak sekarang tinggal di Emerika Syarikat?’
‘Benar. Dan bapak? Sudah bertemu kampung nenek datuknya?’ tanya Aswin pula.
‘Saya dah lihat ada kampung Batu Hampar manakala kami melalui lebuh nak ke Pagar Ruyung siang tadi. Tapi entahlah kampung itu yang merupakan kampung asal nenek buyut saya. Saya generasi keempat yang tinggal di Negeri Sembilan. Manalah boleh nak tanya tanya lagi, kalaupun itu betul kampung datuk saya. Suku saya Batu Hampar,’ jawab orang itu.
‘Baru sekali ini datang ke sini?’ tanya Pohan.
‘Dah berulang kali. Tak ada bosan-bosan menengok negeri indah permai cam ni. Dan lagipun dekat saja. Sekarang 45 minit dah sampai. Kalau enche muda ni? Siapa nama? Baru sekali ini ke?’
‘Ya. Nama saya Aswin. Baru sekali ini. Saya umur lima tahun di bawah ayah ke Amerika dan sejak itu belum pernah pulang ke Indonesia. Waktu kecil saya juga belum pernah dibawa ke kampung ayah,’ jawab Aswin.
‘Bertuah kita jadi anak cucu orang Minangkabau yang negerinya sangat elok ni.’
Mereka masih bercakap-cakap dengan orang-orang Malaysia itu beberapa saat lagi, di panorama Tabek Patah. Sebelum mereka menuju Bukit Tinggi. Di bawah cahaya bulan.
*****
Subscribe to:
Posts (Atom)