(70)
‘Kenapa abang sampai tertidur di luar tadi?’ tanya ibu Fat.
‘Abang tadi melamun. Lalu abang jadi ketakutan. Terus abang tersadar, lalu abang shalat dan berdoa. Lama abang berdoa sampai akhirnya tertidur di sini, mungkin karena kelelahan,’ jawab pak Umar.
‘Abang melamun? Melamunkan apa bang?’ tanya ibu Fat lagi terheran-heran.
‘Melamunkan nasib yang menimpa anak muda yang abang ceritakan kemarin. Anak tentara, anak saudara sepupunya ibu Purwati, yang pingsan di sekolah pagi kemarin itu,’ jawab pak Umar pula.
‘Kenapa rupanya bang? Kok sampai jadi pemikiran abang terus anak itu?’
‘Tadi malam ayah anak itu datang ke sini. Ayah anak yang kemarin pingsan di sekolah itu, tentara yang abang ceritakan kemarin itu, rupanya adalah adik ipar pak Rahardjo. Tadi malam dia ada di rumah pak Rahardjo waktu kami berta’ziah. Tidak lama sepulang dari ta’ziah itu, pak Rahardjo bersama orang itu datang ke sini. Kamu sudah tidur waktu itu. Kedatangannya untuk minta maaf karena dia merasa telah berlaku kurang pantas terhadap abang pagi kemarin di sekolah. Dan dia bercerita tentang anaknya itu. Bagaimana asal usul sampai anaknya terlibat dalam urusan obat bius. Orang itu sangat kecewa dan sedih memikirkan nasib anaknya itu. Abangpun ikut sedih mendengarnya. Setelah mereka pergi, abang masih tercenung lama sekali. Barangkali setan menakut-nakuti abang, kalaulah kejadian seperti itu menimpa anak-anak kita, betapa ngerinya. Abang takut memikirkannya. Untung abang cepat sadar dan beristighfar. Abang pergi berwudhu lalu shalat. Setelah itu abang berdoa memohon kepada Allah agar kita semua, anak-anak kita, murid-murid abang, bahkan anak pak tentara itu dilindungi Allah dari kehancuran akibat narkoba. Lama abang berdoa. Rupanya tanpa sadar abang rebah dan tertidur di sini,’ cerita pak Umar panjang lebar.
Ibu Fat mendengar cerita panjang itu tanpa mengeluarkan sepatah katapun. Beberapa saat mereka berdua terdiam, mungkin hanyut dalam pikiran masing-masing. Ibu Fat ikut cemas memikirkan tentang kemungkinan datangnya bahaya seperti itu menimpa anak-anak mereka. Dan itu bukan sesuatu yang mustahil.
‘Tapi, bang. Bukankah kita sudah berusaha mendidik anak-anak kita sebaik-baiknya agar mereka tidak terjerumus kepada pengaruh narkoba itu? Mudah-mudahan dengan usaha kita seperti itu, Allah melindungi anak-anak kita,’ kata ibu Fat memecah keheningan.
‘Itulah yang sebenar-benarnya jalan keluar, Fat. Campur tangan Allah. Kepada Allah-lah kita harus berserah diri dan meminta pertolongan. Tidak bisa kita merasa yakin akan selamat hanya dengan usaha kita sendiri saja tanpa campur tangan Allah. Kalau kita perhatikan bagaimana nekadnya para pengedar narkoba itu, siapapun terancam oleh pengaruh jahat mereka. Seperti pengalaman si Arif yang hampir diracuni, dicekoki oleh bandit-bandit itu. Sekali lagi itu yang abang mohonkan kepada Allah. Semoga Allah menghindarkan kita semua dari pengaruh jahat itu.’
‘Benar bang. Benar sekali yang abang katakan. Di samping itu, kita juga harus memberi pengertian yang mendalam kepada anak-anak kita, serta kepada murid-murid abang di sekolah, tentang buruknya pengaruh penyalahgunaan obat bius itu. Dengan kejadian di sekolah kemarin, saat ini tepat sekali untuk menasihati anak-anak itu kembali,’ usul ibu Fat.
‘Kamu benar. Itu pula yang ada dalam pikiran abang. Apalagi kemarin sempat beredar desas-desus, seolah-olah anak itu sudah diterima sebagai murid SMU 369 oleh ibu Purwati. Perlu benar abang meluruskan masalah itu di sekolah,’ pak Umar menambahkan.
‘Namanya juga gossip. Kalau tidak cepat dipintas, yang sejengkal nanti bisa jadi sedepa. Yang tidak ada bisa jadi ada.’
‘Padahal ibu Purwati belum menerimanya sebagai murid di sekolah itu. Dan menurut ibu Purwati pula dia sama sekali tidak tahu bahwa anak itu kecanduan narkoba seperti itu.’
‘Tapi bagaimana pendapat abang, seandainya anak itu suatu saat, dengan pertolongan Allah, sembuh dari ketagihan obat bius? Bisa tidak anak itu bersekolah kembali? Bisa tidak anak itu di terima di sekolah yang abang pimpin?’
‘Kalau memang sudah terbukti sembuh, dia harus diberi kesempatan lagi untuk bersekolah. Justru anak-anak seperti itu harus dibina dengan lebih baik. Sesudah pengalaman buruk mereka sebagai pengguna obat terlarang, mudah-mudahan mereka lebih sadar sehingga lebih banyak kesempatan mereka untuk menjadi orang baik-baik,’ jawab pak Umar.
‘Alhamdulillah, sependapat benar saya dengan abang.’
‘Iyalah, Fat. Kalau memang dia itu sudah sembuh, kewajiban kita untuk membina anak-anak seperti itu kembali. Mereka itu tetap berhak untuk mendapatkan pendidikan. Justru sangat tidak adil jika ada anak-anak korban narkoba tidak diijinkan kembali ke sekolah.’
‘Hanya saja, menurut pendapat saya perlu adanya perhatian lebih khusus, bang. Paling tidak agar anak-anak seperti itu dapat terhindar dari kekeliruan yang sama untuk kali berikutnya. Siapa tahu, karena pergaulan dengan teman-teman lama, mereka itu bisa kena pengaruh lagi.’
‘Sudah barang tentu,’ jawab pak Umar.
Masih seperempat jam sebelum azan subuh. Fauziah terbangun. Didapatinya kedua orang tua sedang berbincang-bincang sambil duduk di sajadah masing-masing. Fauziah tersenyum manja melihat orang tuanya. Dia mengucapkan salam kepada mereka dengan sapaannya yang khas.
‘Assalamu’alaikum warahmatullah ya abiy, ya ummiy,’ yang disahut ayah dan ibu hampir berbareng.
‘Wa’alaikum salam warahmatullahi wabarakatuh ya habibiy.’
Fauziah langsung ke kamar mandi untuk berwudhuk. Beberapa menit kemudian Faisal dan Amir menyusul bangun. Mereka bersiap-siap untuk pergi shalat subuh ke mesjid. Tidak lama kemudian azan subuh berkumandang dari mesjid Al Muhajirin. Mereka bergegas menuju mesjid.
*****
Rinto dan Rano sedang dikerubungi beberapa teman-temannya. Mereka menanyakan apa hasil wawancara kedua anak itu dengan ibu Purwati siang kemarin, mengenai issue yang lagi ramai digossipin anak-anak tentang seorang murid baru yang katanya ‘morfinis’. Gaya kedua anak itu memberi keterangan menjawab pertanyaan teman-temannya seperti pejabat sedang melakukan konferensi pers.
Anto sedang berjalan berdua dengan Herman dengan santai, melalui kerumunan anak kelas dua A, menuju kelas mereka. Kedua anak itu berdiri sebentar persis dekat wawancara yang tengah berlangsung. Sebenarnya Anto tidak tertarik dengan apa yang sedang mereka bicarakan. Tapi lamat-lamat dia mendengar.
‘Anak yang kemungkinan memang morfinis itu, memang keponakan ibu Purwati. Tapi kayaknya belum diterima di sekolah ini.’
Anto tertarik untuk tahu lebih banyak. Dia ikut merapat dan mendengar wawancara itu, sementara Herman sama sekali tidak tertarik dan terus berlalu menuju kelasnya, kelas dua C .
‘Emangnya, lo dibilangin ibu Purwati kalau anak itu memang keponakannya?’ tanya Ames.
‘Iya,’ jawab Rinto.
‘Dan lo tau dari mana kalau anak itu morfinis?’
‘Dari pak Mursyid. Pak Mursyid bilang, gejala kayak gitu nggak salah lagi pasti ‘pemakai’ aktif,’ Rano tidak mau kalah memberi keterangan.
‘Emang, pak Mursyid juga ngelihat anak itu kemaren? Kalau gitu jangan-jangan anak itu memang udah jadi murid baru di sini,’ kata Dewi.
‘Kayaknya pak Mursyid nggak ngelihat langsung, deh. Kayaknya dia berkesimpulan dari ceritanya ibu Purwati. Waktu gue tanyain, dia juga nggak tahu gimana anak itu bisa sampai pingsan,’ Rinto menjelaskan.
‘Pak Mursyid cerita nggak, apa anak itu sudah resmi jadi murid di sini?’ tanya Dewi lagi.
‘Gue nggak nanya. Tapi kayaknya anak itu memang belum diterima di sini deh,’ jawab Rinto.
‘Lo yakin anak itu belum diterima? Bukannya kemarin itu sudah mau mulai belajar di sini, katanya?’ tanya Ames lagi.
‘Katanya siapa? Ah, lo selalu sok tau gitu deh,’ Dewi berkomentar.
‘Katanya gossip… mangkanya gue nanya. Apa bener begitu?’
‘Nggak bener. Menurut ibu Purwati, itu nggak bener. Ayah anak itu memang kepengen mendaftarkan anak itu di sekolah ini. Tapi belum. Tadinya ibu Purwati mau nemanin menghadap pak Umar, mau nanyain apa anak itu bisa masuk di sini. Tapi belum sempat ketemu pak Umar sudah kejadian begitu,’ jawab Rinto.
‘Tapi katanya pak Mursyid kemarin sudah ketemu pak Umar, gimana sih?’ tanya Dewi pula.
‘Sudah ketemu di tempat parkir, waktu tentara sama anaknya itu mau pergi, pak Umar datang. Tapi mereka belum sempat ngomong apa-apa dengan pak Umar,’ jawab Rinto menjelaskan.
‘Gimana kalau kita tanya pak Umar?’ Dewi mengusul.
‘Lo, mau nanyain apa?’ Rinto balik bertanya.
‘Kan belum pasti apa anak itu sudah diterima di sini atau belum. Mendingan kita tanya lagi aja pak Umar, biar jelas ,’ Dewi menambahkan.
‘Terus kalau misalnya pak Umar bilang, emang sudah diterima lo mau bilang apa?’ tanya Ames.
‘Ya, gue nggak tau. Tapi kan biar nggak penasaran. Biar yakin. Soalnya gue pengen tau apa pak Umar mau menerima anak-anak yang terlibat kasus ngeboat gitu. Kalau ia, kalau dia mau nerima, gimana dong teman-teman kita yang dulu pernah dikeluarin dari sekolah ini?’ ungkap Dewi.
‘Oh, begitu maksud lo. Gue rasa mendingan kasus ini diterusin dulu ke OSIS. Biar OSIS yang nanyain. Kalau memang iya, bener juga yang dibilang Dewi. Gimana dengan teman-teman kita yang dulu dikeluarin dari sini,’ usul Ames.
‘Emang siapa aja sih yang dulu udah dikeluarin itu?’ tanya Rano.
‘Masak lo udah nggak ingat sih? Itu lho. Edwin, Parlin, Wahyu. Anak-anak kelas dua tahun lalu. Semua kan ada catatannya di TU,’ Ames masih hapal aja.
‘Tapi, kok jadi ngawur gini sih? Lagian, emangnya lo-lo tau kalau tuh anak-anak yang dulu dikeluarin masih pengen sekolah lagi?’ Sri ikutan nimbrung.
‘Ya, mending gitu aja, Rinto. Lo kan pengurus OSIS. Lo diskusiin sama pengurus lainnya. Terus nanti datang menghadap pak Umar. Untuk klarifikasi ceritanya. Nih, kan ada anak OSIS lain, ada Anto juga di sini,’ usul Ames lagi sambil melirik Anto. Ames dari dulu memang ngefan berat sama Anto.
Dari tadi Anto berusaha menjadi pendengar yang baik. Dia hanya menyimak diskusi anak-anak itu tanpa mengajukan pertanyaan atau berkomentar apapun. Rano yang baru sadar kalau Anto berada di antara kerumunan anak-anak itu, melirik Anto dan bertanya.
Saturday, November 22, 2008
SANG AMANAH (69)
(69)
16. Korban Narkoba (2)
Malam ini udara terasa sejuk. Mungkin karena tadi sore sempat turun hujan meski tidak terlalu deras. Langit sangat cerah dan dipenuhi taburan bintang-bintang. Hari sudah jam setengah sepuluh malam dan suasana di kompleks itu sudah sepi. Dari rumah pak Umar, pak Rahardjo bersama adik iparnya kolonel Sudibyo kembali berjalan menuju ke rumahnya di blok K No. 2. Sambil berjalan pelan-pelan mereka melanjutkan pembicaraan yang mereka bicarakan di rumah pak Umar sebelumnya.
‘Ketahuannya bagaimana sih, dik? Kok cerita ini tiba-tiba saja muncul?’ pak Rahardjo memulai obrolan sambil mereka berjalan.
‘Ya, aku ngertine sesudah ditelpon kepala sekolah SMU 235 itu mas. Kira-kira sebulan yang lalu. Priyo itu ngakune sakit. Lha, tak tanya betul-betul sakit apa? Memang kadang-kadang anak itu nggak bangun-bangun dari tempat tidur. Katanya suka pusing-pusing. Tak suruh bawa ke dokter. Katanya dik Yayu, kata dokter nggak apa-apa, paling cuma masuk angin. Tapi makin hari tak deloki, bocah iki kok ya makin aneh. Nah, biasanya dia itu kan dekat sama aku. Suka banyak cerita, suka laporan macem-macem. Tak pancing-pancing. Kamu ini kenapa? Apa ada masalah? Apa ada yang ndak beres di sekolah? Kok sampai dua minggu ndak masuk itu kemana saja? Pelan-pelan akhirnya terbongkar juga. Katanya waktu itu diajak iseng karo konco-konco. Mula-mula ngisap ganja. Wadduh, mas. Aku ndengernya, langsung mau pingsan rasane. Aku tahu bocah iki kadang-kadang nyuri-nyuri ngerokok. Aku pernah dilapori Slamet, sopirku itu. Waktu itu tak pikir biar saja. Biar dia nanti ngerti sendiri kalau ngerokok itu ndak baik. Itu barangkali salahku. Rupanya, dari nyoba rokok meningkat dhadi ngisap ganja itu, karo konco-konco. Ini pengakuannya sama aku. Akhirnya semua dicoba. Yo pil, yo serbuk, terakhir ya itu, suntik-suntikan itu. Waktu denger ceritane iku, aku ndak bludruk bae, yo udah benar-benar mu’jijat. Kepalaku udah cekot-cekot rasane. Tak tanya dik Yayu apa de’e ngerti anake wis rak karuan ngono. Dia masih bilang, masak sih. Bilang ke saya, ‘mas ini terlalu berlebih-lebihan. Priyo itu tidak senekad itu’. Lha, tadi pagi. Ngelihat kejadian sudah seperti itu, baru mingkem. Tadi waktu di jalan ke sini, tak tanya, apa de’e ngerti hari-hari pertama Priyo mangkir, ndak sekolah. Dia bilang tahu sih, tapi waktu itu katanya sakit,’ kolonel Sudibyo bercerita panjang.
‘Kapan kira-kira dia mulai berurusan dengan ganja dan sebagainya itu?’ tanya pak Rahardjo pula.
‘Dari ceritanya, sejak liburan kenaikan kelas dulu. Sudah kira-kira empat bulanan. Waktu itu mereka pergi jalan-jalan ke Yogya. Rupanya di sana saling adu sableng. Siapa yang nyangka jadi keterusan begitu. ‘
‘Sudah agak lama rupanya. Waktu itu, ke Yogya ndak sama guru?’
‘Yo ndak. Bocah-bocah iku bae. Ceritane sudah naikan kelas, kepingin santai-santai. Kepingin jalan-jalan. Yo dikasih. Rupanya di sana mula-mula kena.’
‘Terus, pulang dari Yogya sudah langsung kecanduan?’
‘Yo, barangkali begitu. Malah setelah itu mungkin semakin berani. Berani nyoba yang namanya macem-macem.’
‘Barang-barang begitu kan dibeli. Dan harganya pasti mahal. Apa Priyo selalu dikasih uang banyak?’
‘Ya itu dia mas. Aku baru ngerti cerita sebenarnya tadi sore. Terbongkarnya baru tadi sama dik Yayu. Katanya dik Yayu, memang habis liburan itu minta uangnya makin edan-edanan. Selalu ada saja alasannya. Katanya waktu di Yogya tempohari, mobil yang mereka sewa, meski disupirin, nabrak orang, jadi mereka harus urunan buat membantu pengobatan orang yang ketabrak itu. Soalnya kasihan supirnya ndak mampu membiayai. Kedengerannya kan baik. Sosial sekali. Untuk amal. Untuk nulungin orang. Ya dikasih duit karo dik Yayu. Ndak taunya itu bohong. Ngapusi. ‘
‘Taunya ngapusi?’ tanya pak Rahardjo.
‘Kebetulan dik Yayu ketemu sama jeng Sum, mamanya temannya Priyo yang katanya sama-sama pergi ke Yogya. Tetangga satu kompleks. Mereka ngobrol ngalor ngidul, sampai urusan orang yang katanya kena tabrak mobil sewaan di Yogya. Lha, jeng Sum itu cerita kok kata anaknya justru Priyo yang kecopetan di Yogya. Kok anaknya bilang uangnya habis karena dipinjam Priyo karena kecopetan itu. Anak itu malah ndak pernah cerita ada yang tabrakan. Lalu sama-sama nanya ke anak masing-masing. Dik Yayu nanya buat negesin ke Priyo, apa betul dia kecopetan. Mulai bingung. Mula-mula bilang ndak. Abis itu eh, iya. Terus ditanya, apa betul ada yang ketabrak di Yogya. Mula-mula iya. Terus eh, ndak. Yang ketabrak itu sodara temannya. Pokoknya ceritane ngawur, rak karuan.’
‘Dik Yayu ndak ngomong sama kamu?’
‘Ngomongnya baru tadi itu. Selama ini ditutup-tutupin. Biasa mas, wong wedhok, suka tidak berterus terang. Kalau sudah ngawur begini baru nyesel. Terus nangis. Tapi mau apa lagi? Nasi sudah jadi bubur. Aku biar kesel bagaimana mau ngapain? Biar aku marah-marah kemana-mana juga sudah ndak ada gunanya. Ndak ada artinya. ’
Tak terasa mereka sudah sampai kembali di rumah pak Rahardjo. Di dalam rumah masih ada saudara-saudara dari istri pak Rahardjo berbincang-bincang. Istri pak Rahardjo sedang berbicara-bicara pula dengan ibu Sudibyo.
Pak Rahardjo dan kolonel Sudibyo lalu duduk di teras depan. Pembicaraan tadi masih dilanjutkan setengah berbisik-bisik.
‘Saya pikir memang harus diambil tindakan yang tepat, dik. Biar Priyo dirawat di panti rehabilitasi itu saja. Saya dengar ada panti yang cukup baik dan berhasil menyembuhkan korban seperti itu. Mungkin saja awal-awalnya anak itu akan sedikit menderita di sana. Karena kabarnya cara pengobatan itu dengan mengurangi ketergantungan pasien secara pelan-pelan. Jadi mereka tetap dikasih…apa namanya itu… ya madat itu… tapi jumlahnya dikurangi bertahap dan ngasihnya ditunggu sampai benar-benar sudah sangat ketagihan. Saya rasa itu jalan yang terbaik yang bisa ditempuh. Dan kita bantu dengan doa,’ pak Rahardjo menasihati adik iparnya itu.
‘Aku yo sependapat mas. Tadi aku sudah bilang begitu sama dik Yayu. Tapi dia itu masih ragu-ragu. Katanya cukup kita saja mengawasi di rumah.’
‘Ya ndak mungkin. Kalau di rumah pasti kita tidak akan tega. Ndak sanggup melihat dia menderita waktu ketagihan, merasa kasihan, salah-salah malah makin dikasih. Kalaupun sanggup tidak memberinya di rumah, kita juga tidak akan tega mengurungnya. Dia akan tetap bebas keluar rumah. Kalau lagi kebelet, lagi ketagihan, dia masih bisa menghilang sebentar untuk mendapatkannya,’ tambah pak Rahardjo.
‘Ya memang bakalan seperti itu. Biar deh mas, coba nanti tak bilangin lagi. Payah memang, wanito iku terlalu menggunakan perasaan.’
‘Ya, ya. Nanti saya juga akan bilang sama dik Yayu. Pokoknya harus diambil tindakan cepat dan tepat, sebelum terlambat.’
‘Bagus juga kalau mas Har bantu ngomong ke dik Yayu. Biar de’e ndak ragu-ragu terus. Kalau mas Har sempat mungkin baik juga kalau mas datang ke rumah, ndeloki bocah Priyo iku. Mungkin bisa memberi nasihat tambahan ngono. De’e karo mas kan biasane sangat hormat,’ usul kolonel Sudibyo.
‘Boleh, boleh. Biar besok saya jalan ke sana deh sore-sore,’ jawab pak Rahardjo.
*****
Agak lama pak Umar termangu-mangu di ruang tamu setelah kedua tamu tadi pergi. Dia merenung kepedihan yang dirasakan oleh kolonel Sudibyo atas nasib yang menimpa anaknya. Tentulah orang itu sangat kecewa dan terpukul waktu menyadari anak kesayangannya jadi korban penggunaan obat-obat terlarang seperti itu. Anak yang diharapkan akan mengukir prestasi dalam pendidikannya. Anak yang konon tadinya seorang murid pintar di sekolah, tahu-tahu terperosok kedalam pergaulan yang keliru, lalu menjadi ketagihan obat bius. Dia baru mengetahui apa yang menimpa anaknya ketika keadaan anak itu sudah kronis, sudah menjadi pemakai dan pencandu berat benda laknat itu.
Kejadian seperti yang dialami anak kolonel Sudibyo itu merupakan ancaman besar terhadap generasi muda negeri ini. Penyalahgunaan dalam memakai obat-obat terlarang yang mengandung unsur yang dapat merusak mental dan fisik para penggunanya. Tidak sedikit di antara mereka yang terlibat sebagai pemakai itu yang menemui ajalnya secara tragis setelah fisik dan mental mereka hancur pelan-pelan. Masalah penyalahgunaan narkoba ini sungguh sangat mengerikan sekaligus menjengkelkan. Menjengkelkan karena pengedaran benda terkutuk itu dilakukan oleh sindikat yang mempunyai jaringan yang sulit dilacak secara tuntas. Biasanya yang tertangkap hanyalah jaringan paling luar, yakni para pengedar dan para pemakainya, sementara pemasok yang berada di belakangnya sangat licin dan jarang sekali yang tertangkap oleh aparat hukum. Jaringan sindikat itu sangat tidak berperikemanusian karena tega menghancurkan masa depan anak-anak muda. Bahkan akhir-akahir ini mereka semakin berani dan nekad dalam menjalankan aksinya. Korban yang jatuh terus bertambah dari ke hari, sementara usaha pihak yang berwajib untuk menangkal kelihatannya belum cukup efektif. Pak Umar teringat kasus yang menimpa muridnya Arif, yang nyaris jadi korban keganasan anggota sindikat pengedar obat terlarang itu.
Memikirkan hal itu, tak terasa pak Umar bergidik sendiri. Betapa mengerikan seandainya salah satu anaknya sampai terlibat dalam penggunaan obat-obat terlarang seperti itu. Dan hal itu bukan sesuatu yang mustahil untuk terjadi mengingat usaha nekad para pengedar narkoba yang mau berbuat apa saja dalam menjalankan aksinya. Beberapa saat kemudian pak Umar tersentak dari rasa takut yang menderanya dan dia beristighfar. Akhirnya hanya Allah-lah yang sebaik-baik tempat berlindung dan hanya kepada Nya pak Umar ingin mengadukan perasaan takut dan khawatirnya. Segera dia pergi berwudhu. Lalu melakukan shalat sunat dua rakaat yang dilanjutkannya dengan berdoa bersungguh-sungguh kepada Allah. Dia memohon perlindungan kepada Allah bagi keluarganya. Dan minta pertolongan kepada Allah untuk melindungi murid-muridnya. Dia memohon kepada Allah agar mereka semua terhindar dari pengaruh jahat penyalahgunaan narkoba. Air mata pak Umar bercucuran mengiringi doanya yang khusyuk. Dia juga mendoakan keselamatan anak kolonel Sudibyo tadi. Kiranya Allah melindungi dan menyelamatkan anak yang malang itu dari kehancuran. Dari kebinasaan.
Di ujung kekhusyukan doa panjang tadi akhirnya dia terkulai rebah dan tertidur di sajadahnya yang basah oleh tetesan air mata. Pak Umar tertidur pulas sampai dibangunkan ibu Fat, istrinya, setelah lewat tengah malam. Ibu Fat merasa heran ketika dia terbangun dan tidak mendapatkan suaminya tidur di kamar. Dia lebih heran lagi melihat suaminya tertidur di sajadah di ruangan luar. Segera sesudah itu suami istri itu melakukan shalat malam berdua dengan khusyuk. Seselesai shalat mereka berbincang-bincang yang diawali oleh pertanyaan ibu Fat.
16. Korban Narkoba (2)
Malam ini udara terasa sejuk. Mungkin karena tadi sore sempat turun hujan meski tidak terlalu deras. Langit sangat cerah dan dipenuhi taburan bintang-bintang. Hari sudah jam setengah sepuluh malam dan suasana di kompleks itu sudah sepi. Dari rumah pak Umar, pak Rahardjo bersama adik iparnya kolonel Sudibyo kembali berjalan menuju ke rumahnya di blok K No. 2. Sambil berjalan pelan-pelan mereka melanjutkan pembicaraan yang mereka bicarakan di rumah pak Umar sebelumnya.
‘Ketahuannya bagaimana sih, dik? Kok cerita ini tiba-tiba saja muncul?’ pak Rahardjo memulai obrolan sambil mereka berjalan.
‘Ya, aku ngertine sesudah ditelpon kepala sekolah SMU 235 itu mas. Kira-kira sebulan yang lalu. Priyo itu ngakune sakit. Lha, tak tanya betul-betul sakit apa? Memang kadang-kadang anak itu nggak bangun-bangun dari tempat tidur. Katanya suka pusing-pusing. Tak suruh bawa ke dokter. Katanya dik Yayu, kata dokter nggak apa-apa, paling cuma masuk angin. Tapi makin hari tak deloki, bocah iki kok ya makin aneh. Nah, biasanya dia itu kan dekat sama aku. Suka banyak cerita, suka laporan macem-macem. Tak pancing-pancing. Kamu ini kenapa? Apa ada masalah? Apa ada yang ndak beres di sekolah? Kok sampai dua minggu ndak masuk itu kemana saja? Pelan-pelan akhirnya terbongkar juga. Katanya waktu itu diajak iseng karo konco-konco. Mula-mula ngisap ganja. Wadduh, mas. Aku ndengernya, langsung mau pingsan rasane. Aku tahu bocah iki kadang-kadang nyuri-nyuri ngerokok. Aku pernah dilapori Slamet, sopirku itu. Waktu itu tak pikir biar saja. Biar dia nanti ngerti sendiri kalau ngerokok itu ndak baik. Itu barangkali salahku. Rupanya, dari nyoba rokok meningkat dhadi ngisap ganja itu, karo konco-konco. Ini pengakuannya sama aku. Akhirnya semua dicoba. Yo pil, yo serbuk, terakhir ya itu, suntik-suntikan itu. Waktu denger ceritane iku, aku ndak bludruk bae, yo udah benar-benar mu’jijat. Kepalaku udah cekot-cekot rasane. Tak tanya dik Yayu apa de’e ngerti anake wis rak karuan ngono. Dia masih bilang, masak sih. Bilang ke saya, ‘mas ini terlalu berlebih-lebihan. Priyo itu tidak senekad itu’. Lha, tadi pagi. Ngelihat kejadian sudah seperti itu, baru mingkem. Tadi waktu di jalan ke sini, tak tanya, apa de’e ngerti hari-hari pertama Priyo mangkir, ndak sekolah. Dia bilang tahu sih, tapi waktu itu katanya sakit,’ kolonel Sudibyo bercerita panjang.
‘Kapan kira-kira dia mulai berurusan dengan ganja dan sebagainya itu?’ tanya pak Rahardjo pula.
‘Dari ceritanya, sejak liburan kenaikan kelas dulu. Sudah kira-kira empat bulanan. Waktu itu mereka pergi jalan-jalan ke Yogya. Rupanya di sana saling adu sableng. Siapa yang nyangka jadi keterusan begitu. ‘
‘Sudah agak lama rupanya. Waktu itu, ke Yogya ndak sama guru?’
‘Yo ndak. Bocah-bocah iku bae. Ceritane sudah naikan kelas, kepingin santai-santai. Kepingin jalan-jalan. Yo dikasih. Rupanya di sana mula-mula kena.’
‘Terus, pulang dari Yogya sudah langsung kecanduan?’
‘Yo, barangkali begitu. Malah setelah itu mungkin semakin berani. Berani nyoba yang namanya macem-macem.’
‘Barang-barang begitu kan dibeli. Dan harganya pasti mahal. Apa Priyo selalu dikasih uang banyak?’
‘Ya itu dia mas. Aku baru ngerti cerita sebenarnya tadi sore. Terbongkarnya baru tadi sama dik Yayu. Katanya dik Yayu, memang habis liburan itu minta uangnya makin edan-edanan. Selalu ada saja alasannya. Katanya waktu di Yogya tempohari, mobil yang mereka sewa, meski disupirin, nabrak orang, jadi mereka harus urunan buat membantu pengobatan orang yang ketabrak itu. Soalnya kasihan supirnya ndak mampu membiayai. Kedengerannya kan baik. Sosial sekali. Untuk amal. Untuk nulungin orang. Ya dikasih duit karo dik Yayu. Ndak taunya itu bohong. Ngapusi. ‘
‘Taunya ngapusi?’ tanya pak Rahardjo.
‘Kebetulan dik Yayu ketemu sama jeng Sum, mamanya temannya Priyo yang katanya sama-sama pergi ke Yogya. Tetangga satu kompleks. Mereka ngobrol ngalor ngidul, sampai urusan orang yang katanya kena tabrak mobil sewaan di Yogya. Lha, jeng Sum itu cerita kok kata anaknya justru Priyo yang kecopetan di Yogya. Kok anaknya bilang uangnya habis karena dipinjam Priyo karena kecopetan itu. Anak itu malah ndak pernah cerita ada yang tabrakan. Lalu sama-sama nanya ke anak masing-masing. Dik Yayu nanya buat negesin ke Priyo, apa betul dia kecopetan. Mulai bingung. Mula-mula bilang ndak. Abis itu eh, iya. Terus ditanya, apa betul ada yang ketabrak di Yogya. Mula-mula iya. Terus eh, ndak. Yang ketabrak itu sodara temannya. Pokoknya ceritane ngawur, rak karuan.’
‘Dik Yayu ndak ngomong sama kamu?’
‘Ngomongnya baru tadi itu. Selama ini ditutup-tutupin. Biasa mas, wong wedhok, suka tidak berterus terang. Kalau sudah ngawur begini baru nyesel. Terus nangis. Tapi mau apa lagi? Nasi sudah jadi bubur. Aku biar kesel bagaimana mau ngapain? Biar aku marah-marah kemana-mana juga sudah ndak ada gunanya. Ndak ada artinya. ’
Tak terasa mereka sudah sampai kembali di rumah pak Rahardjo. Di dalam rumah masih ada saudara-saudara dari istri pak Rahardjo berbincang-bincang. Istri pak Rahardjo sedang berbicara-bicara pula dengan ibu Sudibyo.
Pak Rahardjo dan kolonel Sudibyo lalu duduk di teras depan. Pembicaraan tadi masih dilanjutkan setengah berbisik-bisik.
‘Saya pikir memang harus diambil tindakan yang tepat, dik. Biar Priyo dirawat di panti rehabilitasi itu saja. Saya dengar ada panti yang cukup baik dan berhasil menyembuhkan korban seperti itu. Mungkin saja awal-awalnya anak itu akan sedikit menderita di sana. Karena kabarnya cara pengobatan itu dengan mengurangi ketergantungan pasien secara pelan-pelan. Jadi mereka tetap dikasih…apa namanya itu… ya madat itu… tapi jumlahnya dikurangi bertahap dan ngasihnya ditunggu sampai benar-benar sudah sangat ketagihan. Saya rasa itu jalan yang terbaik yang bisa ditempuh. Dan kita bantu dengan doa,’ pak Rahardjo menasihati adik iparnya itu.
‘Aku yo sependapat mas. Tadi aku sudah bilang begitu sama dik Yayu. Tapi dia itu masih ragu-ragu. Katanya cukup kita saja mengawasi di rumah.’
‘Ya ndak mungkin. Kalau di rumah pasti kita tidak akan tega. Ndak sanggup melihat dia menderita waktu ketagihan, merasa kasihan, salah-salah malah makin dikasih. Kalaupun sanggup tidak memberinya di rumah, kita juga tidak akan tega mengurungnya. Dia akan tetap bebas keluar rumah. Kalau lagi kebelet, lagi ketagihan, dia masih bisa menghilang sebentar untuk mendapatkannya,’ tambah pak Rahardjo.
‘Ya memang bakalan seperti itu. Biar deh mas, coba nanti tak bilangin lagi. Payah memang, wanito iku terlalu menggunakan perasaan.’
‘Ya, ya. Nanti saya juga akan bilang sama dik Yayu. Pokoknya harus diambil tindakan cepat dan tepat, sebelum terlambat.’
‘Bagus juga kalau mas Har bantu ngomong ke dik Yayu. Biar de’e ndak ragu-ragu terus. Kalau mas Har sempat mungkin baik juga kalau mas datang ke rumah, ndeloki bocah Priyo iku. Mungkin bisa memberi nasihat tambahan ngono. De’e karo mas kan biasane sangat hormat,’ usul kolonel Sudibyo.
‘Boleh, boleh. Biar besok saya jalan ke sana deh sore-sore,’ jawab pak Rahardjo.
*****
Agak lama pak Umar termangu-mangu di ruang tamu setelah kedua tamu tadi pergi. Dia merenung kepedihan yang dirasakan oleh kolonel Sudibyo atas nasib yang menimpa anaknya. Tentulah orang itu sangat kecewa dan terpukul waktu menyadari anak kesayangannya jadi korban penggunaan obat-obat terlarang seperti itu. Anak yang diharapkan akan mengukir prestasi dalam pendidikannya. Anak yang konon tadinya seorang murid pintar di sekolah, tahu-tahu terperosok kedalam pergaulan yang keliru, lalu menjadi ketagihan obat bius. Dia baru mengetahui apa yang menimpa anaknya ketika keadaan anak itu sudah kronis, sudah menjadi pemakai dan pencandu berat benda laknat itu.
Kejadian seperti yang dialami anak kolonel Sudibyo itu merupakan ancaman besar terhadap generasi muda negeri ini. Penyalahgunaan dalam memakai obat-obat terlarang yang mengandung unsur yang dapat merusak mental dan fisik para penggunanya. Tidak sedikit di antara mereka yang terlibat sebagai pemakai itu yang menemui ajalnya secara tragis setelah fisik dan mental mereka hancur pelan-pelan. Masalah penyalahgunaan narkoba ini sungguh sangat mengerikan sekaligus menjengkelkan. Menjengkelkan karena pengedaran benda terkutuk itu dilakukan oleh sindikat yang mempunyai jaringan yang sulit dilacak secara tuntas. Biasanya yang tertangkap hanyalah jaringan paling luar, yakni para pengedar dan para pemakainya, sementara pemasok yang berada di belakangnya sangat licin dan jarang sekali yang tertangkap oleh aparat hukum. Jaringan sindikat itu sangat tidak berperikemanusian karena tega menghancurkan masa depan anak-anak muda. Bahkan akhir-akahir ini mereka semakin berani dan nekad dalam menjalankan aksinya. Korban yang jatuh terus bertambah dari ke hari, sementara usaha pihak yang berwajib untuk menangkal kelihatannya belum cukup efektif. Pak Umar teringat kasus yang menimpa muridnya Arif, yang nyaris jadi korban keganasan anggota sindikat pengedar obat terlarang itu.
Memikirkan hal itu, tak terasa pak Umar bergidik sendiri. Betapa mengerikan seandainya salah satu anaknya sampai terlibat dalam penggunaan obat-obat terlarang seperti itu. Dan hal itu bukan sesuatu yang mustahil untuk terjadi mengingat usaha nekad para pengedar narkoba yang mau berbuat apa saja dalam menjalankan aksinya. Beberapa saat kemudian pak Umar tersentak dari rasa takut yang menderanya dan dia beristighfar. Akhirnya hanya Allah-lah yang sebaik-baik tempat berlindung dan hanya kepada Nya pak Umar ingin mengadukan perasaan takut dan khawatirnya. Segera dia pergi berwudhu. Lalu melakukan shalat sunat dua rakaat yang dilanjutkannya dengan berdoa bersungguh-sungguh kepada Allah. Dia memohon perlindungan kepada Allah bagi keluarganya. Dan minta pertolongan kepada Allah untuk melindungi murid-muridnya. Dia memohon kepada Allah agar mereka semua terhindar dari pengaruh jahat penyalahgunaan narkoba. Air mata pak Umar bercucuran mengiringi doanya yang khusyuk. Dia juga mendoakan keselamatan anak kolonel Sudibyo tadi. Kiranya Allah melindungi dan menyelamatkan anak yang malang itu dari kehancuran. Dari kebinasaan.
Di ujung kekhusyukan doa panjang tadi akhirnya dia terkulai rebah dan tertidur di sajadahnya yang basah oleh tetesan air mata. Pak Umar tertidur pulas sampai dibangunkan ibu Fat, istrinya, setelah lewat tengah malam. Ibu Fat merasa heran ketika dia terbangun dan tidak mendapatkan suaminya tidur di kamar. Dia lebih heran lagi melihat suaminya tertidur di sajadah di ruangan luar. Segera sesudah itu suami istri itu melakukan shalat malam berdua dengan khusyuk. Seselesai shalat mereka berbincang-bincang yang diawali oleh pertanyaan ibu Fat.
Friday, November 21, 2008
SANG AMANAH (68)
(68)
Sesudah tamu-tamu itu pergi, kolonel Sudibyo kembali menanyakan kepada pak Rahardjo dimana tepatnya rumah pak Umar. Pak Rahardjo merasa agak heran, kenapa adik iparnya masih menanyakan lagi tentang pak Umar.
‘Ada apa sih, kok dik Dibyo masih nanyain pak Umar itu?’ tanya pak Rahardjo.
‘Saya ingin bertamu ke rumahnya. Kira-kira dia mau menerima saya nggak ya, malam-malam begini?’ tanya kolonel Sudibyo.
‘Ada perlu apa?’ tanya pak Rahardjo.
‘Ada perlu sesuatu. Mas Rahardjo bisa nggak menemani saya ke sana?’
‘Oh ya. Memang ada perlu apa sih?’ pak Rahardjo bertanya sedikit penasaran.
‘Itu lho mas. Urusan sekolahnya Priyo,’ jawab kolonel Sudibyo.
‘Oh begitu….. Terus, mau pergi sekarang? Sudah jam berapa sih ini?’ tanya pak Rahardjo.
‘Sudah jam sembilan lebih, sih memang. Apa kalau kita bertamu jam segini, kurang pantes, mas? Apa jam segini dia sudah mau tidur?’
‘Saya ndak tahu juga. Biasanya keluarga itu rajin shalat tengah malam. Ya mungkin saja dia tidurnya lebih awal. Tapi boleh juga kita coba lihat ke sana,’ usul pak Rahardjo pula.
‘Kita lihat dulu aja mas. Kalau umpama dia sudah tidur, ya sudah,’ desak kolonel Sudibyo.
‘Baik. Mari kita ke sana,’ ajak pak Rahardjo pula.
Mereka berdua melangkah keluar, menuju ke rumah pak Umar di blok D3. Sambil berjalan itu kolonel Sudibyo menjelaskan secara ringkas kejadian yang menimpanya tadi pagi. Pak Rahardjo menjadi lebih paham kenapa iparnya begitu ngotot mau bertamu malam ini juga, walaupun dia kaget mendengar kejadian yang menimpa keponakannya, Priyo. Dia belum sempat menanyakan apa sesungguhnya yang menimpa Priyo, karena keburu mereka sudah sampai di depan rumah pak Umar
Mereka beruntung karena ternyata pak Umar belum tidur. Dia sedang duduk sendirian di teras rumahnya sambil membaca buku. Duduk di teras memang lebih sejuk. Pak Rahardjo mengucapkan salam ketika sampai di pintu pagar rumah pak Umar. Pak Umar menjawab salam pak Rahardjo dan bangkit membukakan pintu pagar menyambut kedatangan tamunya itu. Kedua tamu itu masuk dan mereka bersalaman. Kolonel Sudibyo memberi hormat dengan menundukkan kepala sebelum menjabat tangan pak Umar.
‘Kenalkan, pak Umar. Ini adik ipar saya, mas Sudibyo. Kayaknya dik Dibyo ini ada suatu keperluan yang ingin dibicarakan dengan pak Umar,’ pak Rahardjo memperkenalkan adik iparnya itu.
Pak Umar mempersilahkan kedua tamu itu masuk ke ruangan tamu dalam rumahnya. Mereka terlibat dalam bicara basa basi sebentar. Pak Rahardjo menjelaskan bahwa kolonel Sudibyo itu adalah seorang perwira menengah Angkatan Darat dan istrinya adalah adik kandung pak Rahardjo. Pak Umar mengangguk-angguk dan tersenyum mendengar penjelasan pak Rahardjo itu. Setelah itu barulah kolonel Sudibyo mengutarakan maksudnya.
‘Kedatangan saya ini, terus terang adalah untuk minta maaf atas kejadian di sekolah tadi pagi, pak,’ kolonel Sudibyo mengawali pembicaraan.
‘Kejadian mana maksud bapak?’ tanya pak Umar agak berpura-pura.
‘Tadi pagi saya bertemu dengan pak Umar di sekolah… SMU…berapa itu…? Saya sedang kalut. Tadi itu saya berlaku kurang pantas terhadap pak Umar dengan bersuara keras. Untuk itu saya mohon maaf,’ kata kolonel Sudibyo.
‘Oh ya. Saya jadi ingat. Bapak yang tadi pagi datang ke SMU 369 bertemu ibu Purwati, ya?’ pak Umar bertanya.
‘Betul. Yaa… itulah. Saya ini punya masalah dengan anak saya. Anak itu… mungkin karena terlalu dimanja. Sehingga jadi kehilangan kontrol. Priyo itu lho mas Har. Jadi kehilangan pegangan. Tadinya dia sekolah di SMU 235. Terlibat kenakalan remaja, lalu sama kepala sekolahnya dikeluarkan. Saya sedih. Saya marah juga sebenarnya, kok anak saya dikeluarkan dari sekolah. Tapi ya sudahlah. Anak saya ini sepertinya memang salah. Di rumah sudah saya marahi. Sudah terampun-ampun. Ngakunya sudah kapok, sudah nggak mau bandel lagi. Lalu saya ingat jeng Purwati. Itu lho mas Har, Jeng Purwati anaknya pakde Sutomo yang di Brebes. Jeng Purwati iki, saya dengar kan wakil kepala sekolah di SMU… piro tho….SMU 369. Lha namanya saya masih berharap anak saya masih bisa melanjutkan sekolah. Tadi malam saya telpon dia, minta tulung kalau bisa memasukkan Priyo di SMU 369. Dia bilang ya dibawa saja, nanti tak ketemukan kepala sekolah. Tadi pagi saya bawa. Weleh, nggak tahunya bocah iku… anak itu…kok malahan kumat. Ketagihan… terus langsung pingsan. Yaa… saya kalut tenan.. Ya kecewa…ya sedih…ya dongkol…. Bocah pingsan itu saya gotong ke mobil. Pak Umar ini datang…dan saya yang lagi kalut.…lagi nggak normal…membentak pak Umar. Waktu jeng Purwati itu mengingatkan, ini bapak kepala sekolah…wadduh, aku yo isin. Saya ya maluu buanget. Tapi kalut. Tapi ya lagi mumet. Saya nggak minta maaf…. nggak bilang apa-apa. Lah, malam ini kok ndilalah ketemu di sini. Saya dari tadi merhatiin terus. Merasa maluu terus. Kok ini pak kepala sekolah yang tadi tak kasari kok ada di sini. Jadi begitu ceritane pak. Saya sekali lagi mohon maaf, karena tadi saya sudah berlaku tidak pada tempatnya sama pak Umar.’
‘Wah, langsung saja pak. Saya sangat mengerti perasaan bapak yang lagi gundah. Jadi jelas bapak saya maafkan. Tapi, maaf. Kalau boleh saya tahu, bagaimana kondisi anak bapak itu sekarang?’ tanya pak Umar mengalihkan pembicaraan.
‘Tadi itu mula-mula saya bawa ke rumah sakit. Sama dokter di rumah sakit itu diberi suntikan. Setelah itu agak lumayan. Siang terbangun dan kelihatan agak segar. Sore ini sudah lemes lagi. Saya juga ndak ngerti, pak. Kelihatannya anak saya itu sudah gawat ketagihannya. Saya bener-bener kecolongan. Kepinginnya saya ya dirawat di panti rehabilitasi begitu. Tapi masih berunding sama istri saya,’ kolonel Sudibyo menjelaskan.
‘Lha, sekarang dia dimana dik?’ tanya pak Rahardjo.
‘Di rumah. Tadi saya suruh jaga sama Sinta,’ jawab kolonel Sudibyo.
‘Harus cepat-cepat dirawat lo, dik Dibyo. Mumpung belum terlalu terlambat. Waduh kasihan betul. Priyo itu padahal pintar lho. Sampai tamat SMP itu juara kelas terus lho, pak Umar. Saya kok ya baru ngerti sekarang ada masalah begini,’ komentar pak Rahardjo pula.
‘Saya juga terlambat ngertinya, mas. Dik Yayu itu selalu menutup-nutupi. Lha, sekali waktu saya ditelpon kepala sekolahnya, langsung ke kantor. Katanya Priyo sudah dua minggu nggak masuk sekolah. Katanya lagi, sudah diberitahukan ibunya seminggu sebelumnya kok tetap tidak muncul di sekolah. Wah, aku yo, nesu. Di rumah tak tanya apa yang terjadi baru dia cerita. Ngakunya sakit. Lha, sakit apa, wong anaknya kelihatan biasa-biasa aja. Aku ndak mikir macem-macem. Tak nasihati. Dikasih tahu baik-baik. Dirayu lagi. Sudah mau sekolah lagi. Besoknya saya antar ke sekolah. Saya bicara sama kepala sekolah. Saya titip baik-baik agar anak itu diawasi biar nggak ngawur. Tiap hari saya telpon ke sekolah selama seminggu pertama, selalu ada. Tapi kok ya, kata gurunya kayak sakiten gitu. Saya perhati-perhatiken, memang anak ini kurusan. Kok jadi rodo pendiem. Saya pikir, ya mungkin lagi masa pancaroba. Jadi saya biarken. Terakhir minggu kemarin saya ditelpon lagi sama kepala sekolah. Dia bilang anak ini terpaksa harus dikeluarkan, karena kedapetan menggunakan alat suntik. Wadduh, rasanya saya mau pingsan. Bocah ini kok ya jadi begini. Saya kalut dan kalap. Saya datangi sekolah itu dan saya marahi kepala sekolahnya. Ini…. mohon maaf ya pak Umar…..gimana saya ndak jadi marah. Orang saya sudah nitip. Sudah minta tulung agar anak ini dibantu diawasi, kok malah divonis dikeluarken. Tapi akhirnya saya sadar juga. Mana mungkin dia hanya mengawasi anak saya saja. Dan mungkin juga anak saya memang sudah terlanjur nggak bener sampai berani main alat suntik di sekolah. Lalu di rumah masih saya coba menasihati panjang lebar. Saya marahi, saya bilang baik-baik, saya ingatken, wah, pokoknya sudah macem-macem. Tapi mungkin karena sudah terlanjur kecanduan. Jadi rodo sulit. Dua hari yang lalu saya nasihati lagi, tak ajak ngomong-ngomong lagi. Saya tanya, kamu ini main suntik-suntik ini karena iseng atau sudah kecanduan? Bisa berhenti atau sudah nggak bisa lagi berhenti? Jawabnya, cuman iseng aja kok, dan bisa serta mau berhenti. Kamu ini masih mau sekolah apa bagaimana? Jawabnya masih mau sekolah. Dan saya ingat sama jeng Purwati. Saya masih ingin anak ini bisa sekolah. Saya minta tulung mau memasukkan ke sekolahnya pak Umar. Ee nggak tahunya kejadian seperti tadi pagi itu. Wah, maaf nih pak Umar. Saya kok ya jadi membukakan rahasia keluarga saya sendiri,’ kolonel Sudibyo mengakhiri uraian panjang lebarnya.
Pak Umar manggut-manggut mendengar cerita kolonel Sudibyo. Dia sangat prihatin mendengar uraian panjang itu.
‘Saya bisa merasakan kekecewaan pak Sudibyo. Tapi saya ingin menyarankan satu hal. Jangan berputus asa, pak. Dalam keadaan sulit bagaimanapun mengadulah kepada Tuhan. Kepada Allah SWT. Tidak ada urusan yang sulit bagi Allah. Berusaha untuk merawat anak bapak dan memohon kepada Allah dengan setulus-tulus permohonan,’ pak Umar memberikan saran.
‘Benar yang dikatakan pak Umar. Sekarang yang paling penting adalah merawat Priyo dengan intensif. Kalau memang harus masuk panti rehabilitasi, ya dimasukkan. Namanya usaha. Dan setelah itu diiringi dengan doa,’ pak Rahardjo menambahkan.
‘Saya setuju sekali. Akan saya usahakan menjalankan seperti itu. Sekalian, agaknya ini juga merupakan tamparan kepada saya. Karena selama ini saya tidak bersungguh-sungguh menjalankan perintah agama. Saya merasakan betul yang dikatakan pak Umar. Kepada siapa lagi saya akan minta tolong kalau bukan kepada Nya. Saya sangat mengharapkan Priyo itu berhasil sekolahnya. Walaupun masih terlalu awal, saya berandai-andai. Seandainya anak saya itu bisa sembuh dari kebiasaan menggunakan obat suntik itu, apakah dia mungkin diterima di sekolah pak Umar?’ tanya kolonel Sudibyo.
‘Seandainya dia sudah tidak lagi terlibat dalam penggunaan obat-obat terlarang, insya Allah akan saya bantu. Sekali lagi saya sarankan, agar bapak berikhtiar. Dan berdoa banyak-banyak kepada Allah, dengan bersungguh-sungguh. Sayapun akan membantu berdoa untuk kesejahteraan anak bapak,’ jawab pak Umar.
‘Saya ucapkan terima kasih banyak atas nasihat dan doa pak Umar. Sekali lagi saya mohon maaf, karena sudah mengganggu pak Umar sampai malam-malam begini,’ ucap kolonel Sudibyo.
‘Saya senang sekali berkenalan dengan bapak. Dengan pertemuan seperti ini bertambah saudara saya. Mudah-mudahan perkenalan kita ini mendapat ridha Allah SWT,’ jawab pak Umar.
‘Amiin. Baiklah, pak Umar. Kami mohon diri dulu. Tolong sampaikan salam saya sama ibu,’ pak Rahardjo berpamitan.
‘Insya Allah saya sampaikan. Mungkin karena kecapekan, dia sudah lebih duluan tidur,’ jawab pak Umar pula.
‘Monggo pak Umar, nggih,’ kolonel Sudibyo juga berpamitan.
‘Mari…mari pak…,’
‘Assalamu’alaikum.’
‘Wa’alaikumsalam warahmatullah.’
*****
Sesudah tamu-tamu itu pergi, kolonel Sudibyo kembali menanyakan kepada pak Rahardjo dimana tepatnya rumah pak Umar. Pak Rahardjo merasa agak heran, kenapa adik iparnya masih menanyakan lagi tentang pak Umar.
‘Ada apa sih, kok dik Dibyo masih nanyain pak Umar itu?’ tanya pak Rahardjo.
‘Saya ingin bertamu ke rumahnya. Kira-kira dia mau menerima saya nggak ya, malam-malam begini?’ tanya kolonel Sudibyo.
‘Ada perlu apa?’ tanya pak Rahardjo.
‘Ada perlu sesuatu. Mas Rahardjo bisa nggak menemani saya ke sana?’
‘Oh ya. Memang ada perlu apa sih?’ pak Rahardjo bertanya sedikit penasaran.
‘Itu lho mas. Urusan sekolahnya Priyo,’ jawab kolonel Sudibyo.
‘Oh begitu….. Terus, mau pergi sekarang? Sudah jam berapa sih ini?’ tanya pak Rahardjo.
‘Sudah jam sembilan lebih, sih memang. Apa kalau kita bertamu jam segini, kurang pantes, mas? Apa jam segini dia sudah mau tidur?’
‘Saya ndak tahu juga. Biasanya keluarga itu rajin shalat tengah malam. Ya mungkin saja dia tidurnya lebih awal. Tapi boleh juga kita coba lihat ke sana,’ usul pak Rahardjo pula.
‘Kita lihat dulu aja mas. Kalau umpama dia sudah tidur, ya sudah,’ desak kolonel Sudibyo.
‘Baik. Mari kita ke sana,’ ajak pak Rahardjo pula.
Mereka berdua melangkah keluar, menuju ke rumah pak Umar di blok D3. Sambil berjalan itu kolonel Sudibyo menjelaskan secara ringkas kejadian yang menimpanya tadi pagi. Pak Rahardjo menjadi lebih paham kenapa iparnya begitu ngotot mau bertamu malam ini juga, walaupun dia kaget mendengar kejadian yang menimpa keponakannya, Priyo. Dia belum sempat menanyakan apa sesungguhnya yang menimpa Priyo, karena keburu mereka sudah sampai di depan rumah pak Umar
Mereka beruntung karena ternyata pak Umar belum tidur. Dia sedang duduk sendirian di teras rumahnya sambil membaca buku. Duduk di teras memang lebih sejuk. Pak Rahardjo mengucapkan salam ketika sampai di pintu pagar rumah pak Umar. Pak Umar menjawab salam pak Rahardjo dan bangkit membukakan pintu pagar menyambut kedatangan tamunya itu. Kedua tamu itu masuk dan mereka bersalaman. Kolonel Sudibyo memberi hormat dengan menundukkan kepala sebelum menjabat tangan pak Umar.
‘Kenalkan, pak Umar. Ini adik ipar saya, mas Sudibyo. Kayaknya dik Dibyo ini ada suatu keperluan yang ingin dibicarakan dengan pak Umar,’ pak Rahardjo memperkenalkan adik iparnya itu.
Pak Umar mempersilahkan kedua tamu itu masuk ke ruangan tamu dalam rumahnya. Mereka terlibat dalam bicara basa basi sebentar. Pak Rahardjo menjelaskan bahwa kolonel Sudibyo itu adalah seorang perwira menengah Angkatan Darat dan istrinya adalah adik kandung pak Rahardjo. Pak Umar mengangguk-angguk dan tersenyum mendengar penjelasan pak Rahardjo itu. Setelah itu barulah kolonel Sudibyo mengutarakan maksudnya.
‘Kedatangan saya ini, terus terang adalah untuk minta maaf atas kejadian di sekolah tadi pagi, pak,’ kolonel Sudibyo mengawali pembicaraan.
‘Kejadian mana maksud bapak?’ tanya pak Umar agak berpura-pura.
‘Tadi pagi saya bertemu dengan pak Umar di sekolah… SMU…berapa itu…? Saya sedang kalut. Tadi itu saya berlaku kurang pantas terhadap pak Umar dengan bersuara keras. Untuk itu saya mohon maaf,’ kata kolonel Sudibyo.
‘Oh ya. Saya jadi ingat. Bapak yang tadi pagi datang ke SMU 369 bertemu ibu Purwati, ya?’ pak Umar bertanya.
‘Betul. Yaa… itulah. Saya ini punya masalah dengan anak saya. Anak itu… mungkin karena terlalu dimanja. Sehingga jadi kehilangan kontrol. Priyo itu lho mas Har. Jadi kehilangan pegangan. Tadinya dia sekolah di SMU 235. Terlibat kenakalan remaja, lalu sama kepala sekolahnya dikeluarkan. Saya sedih. Saya marah juga sebenarnya, kok anak saya dikeluarkan dari sekolah. Tapi ya sudahlah. Anak saya ini sepertinya memang salah. Di rumah sudah saya marahi. Sudah terampun-ampun. Ngakunya sudah kapok, sudah nggak mau bandel lagi. Lalu saya ingat jeng Purwati. Itu lho mas Har, Jeng Purwati anaknya pakde Sutomo yang di Brebes. Jeng Purwati iki, saya dengar kan wakil kepala sekolah di SMU… piro tho….SMU 369. Lha namanya saya masih berharap anak saya masih bisa melanjutkan sekolah. Tadi malam saya telpon dia, minta tulung kalau bisa memasukkan Priyo di SMU 369. Dia bilang ya dibawa saja, nanti tak ketemukan kepala sekolah. Tadi pagi saya bawa. Weleh, nggak tahunya bocah iku… anak itu…kok malahan kumat. Ketagihan… terus langsung pingsan. Yaa… saya kalut tenan.. Ya kecewa…ya sedih…ya dongkol…. Bocah pingsan itu saya gotong ke mobil. Pak Umar ini datang…dan saya yang lagi kalut.…lagi nggak normal…membentak pak Umar. Waktu jeng Purwati itu mengingatkan, ini bapak kepala sekolah…wadduh, aku yo isin. Saya ya maluu buanget. Tapi kalut. Tapi ya lagi mumet. Saya nggak minta maaf…. nggak bilang apa-apa. Lah, malam ini kok ndilalah ketemu di sini. Saya dari tadi merhatiin terus. Merasa maluu terus. Kok ini pak kepala sekolah yang tadi tak kasari kok ada di sini. Jadi begitu ceritane pak. Saya sekali lagi mohon maaf, karena tadi saya sudah berlaku tidak pada tempatnya sama pak Umar.’
‘Wah, langsung saja pak. Saya sangat mengerti perasaan bapak yang lagi gundah. Jadi jelas bapak saya maafkan. Tapi, maaf. Kalau boleh saya tahu, bagaimana kondisi anak bapak itu sekarang?’ tanya pak Umar mengalihkan pembicaraan.
‘Tadi itu mula-mula saya bawa ke rumah sakit. Sama dokter di rumah sakit itu diberi suntikan. Setelah itu agak lumayan. Siang terbangun dan kelihatan agak segar. Sore ini sudah lemes lagi. Saya juga ndak ngerti, pak. Kelihatannya anak saya itu sudah gawat ketagihannya. Saya bener-bener kecolongan. Kepinginnya saya ya dirawat di panti rehabilitasi begitu. Tapi masih berunding sama istri saya,’ kolonel Sudibyo menjelaskan.
‘Lha, sekarang dia dimana dik?’ tanya pak Rahardjo.
‘Di rumah. Tadi saya suruh jaga sama Sinta,’ jawab kolonel Sudibyo.
‘Harus cepat-cepat dirawat lo, dik Dibyo. Mumpung belum terlalu terlambat. Waduh kasihan betul. Priyo itu padahal pintar lho. Sampai tamat SMP itu juara kelas terus lho, pak Umar. Saya kok ya baru ngerti sekarang ada masalah begini,’ komentar pak Rahardjo pula.
‘Saya juga terlambat ngertinya, mas. Dik Yayu itu selalu menutup-nutupi. Lha, sekali waktu saya ditelpon kepala sekolahnya, langsung ke kantor. Katanya Priyo sudah dua minggu nggak masuk sekolah. Katanya lagi, sudah diberitahukan ibunya seminggu sebelumnya kok tetap tidak muncul di sekolah. Wah, aku yo, nesu. Di rumah tak tanya apa yang terjadi baru dia cerita. Ngakunya sakit. Lha, sakit apa, wong anaknya kelihatan biasa-biasa aja. Aku ndak mikir macem-macem. Tak nasihati. Dikasih tahu baik-baik. Dirayu lagi. Sudah mau sekolah lagi. Besoknya saya antar ke sekolah. Saya bicara sama kepala sekolah. Saya titip baik-baik agar anak itu diawasi biar nggak ngawur. Tiap hari saya telpon ke sekolah selama seminggu pertama, selalu ada. Tapi kok ya, kata gurunya kayak sakiten gitu. Saya perhati-perhatiken, memang anak ini kurusan. Kok jadi rodo pendiem. Saya pikir, ya mungkin lagi masa pancaroba. Jadi saya biarken. Terakhir minggu kemarin saya ditelpon lagi sama kepala sekolah. Dia bilang anak ini terpaksa harus dikeluarkan, karena kedapetan menggunakan alat suntik. Wadduh, rasanya saya mau pingsan. Bocah ini kok ya jadi begini. Saya kalut dan kalap. Saya datangi sekolah itu dan saya marahi kepala sekolahnya. Ini…. mohon maaf ya pak Umar…..gimana saya ndak jadi marah. Orang saya sudah nitip. Sudah minta tulung agar anak ini dibantu diawasi, kok malah divonis dikeluarken. Tapi akhirnya saya sadar juga. Mana mungkin dia hanya mengawasi anak saya saja. Dan mungkin juga anak saya memang sudah terlanjur nggak bener sampai berani main alat suntik di sekolah. Lalu di rumah masih saya coba menasihati panjang lebar. Saya marahi, saya bilang baik-baik, saya ingatken, wah, pokoknya sudah macem-macem. Tapi mungkin karena sudah terlanjur kecanduan. Jadi rodo sulit. Dua hari yang lalu saya nasihati lagi, tak ajak ngomong-ngomong lagi. Saya tanya, kamu ini main suntik-suntik ini karena iseng atau sudah kecanduan? Bisa berhenti atau sudah nggak bisa lagi berhenti? Jawabnya, cuman iseng aja kok, dan bisa serta mau berhenti. Kamu ini masih mau sekolah apa bagaimana? Jawabnya masih mau sekolah. Dan saya ingat sama jeng Purwati. Saya masih ingin anak ini bisa sekolah. Saya minta tulung mau memasukkan ke sekolahnya pak Umar. Ee nggak tahunya kejadian seperti tadi pagi itu. Wah, maaf nih pak Umar. Saya kok ya jadi membukakan rahasia keluarga saya sendiri,’ kolonel Sudibyo mengakhiri uraian panjang lebarnya.
Pak Umar manggut-manggut mendengar cerita kolonel Sudibyo. Dia sangat prihatin mendengar uraian panjang itu.
‘Saya bisa merasakan kekecewaan pak Sudibyo. Tapi saya ingin menyarankan satu hal. Jangan berputus asa, pak. Dalam keadaan sulit bagaimanapun mengadulah kepada Tuhan. Kepada Allah SWT. Tidak ada urusan yang sulit bagi Allah. Berusaha untuk merawat anak bapak dan memohon kepada Allah dengan setulus-tulus permohonan,’ pak Umar memberikan saran.
‘Benar yang dikatakan pak Umar. Sekarang yang paling penting adalah merawat Priyo dengan intensif. Kalau memang harus masuk panti rehabilitasi, ya dimasukkan. Namanya usaha. Dan setelah itu diiringi dengan doa,’ pak Rahardjo menambahkan.
‘Saya setuju sekali. Akan saya usahakan menjalankan seperti itu. Sekalian, agaknya ini juga merupakan tamparan kepada saya. Karena selama ini saya tidak bersungguh-sungguh menjalankan perintah agama. Saya merasakan betul yang dikatakan pak Umar. Kepada siapa lagi saya akan minta tolong kalau bukan kepada Nya. Saya sangat mengharapkan Priyo itu berhasil sekolahnya. Walaupun masih terlalu awal, saya berandai-andai. Seandainya anak saya itu bisa sembuh dari kebiasaan menggunakan obat suntik itu, apakah dia mungkin diterima di sekolah pak Umar?’ tanya kolonel Sudibyo.
‘Seandainya dia sudah tidak lagi terlibat dalam penggunaan obat-obat terlarang, insya Allah akan saya bantu. Sekali lagi saya sarankan, agar bapak berikhtiar. Dan berdoa banyak-banyak kepada Allah, dengan bersungguh-sungguh. Sayapun akan membantu berdoa untuk kesejahteraan anak bapak,’ jawab pak Umar.
‘Saya ucapkan terima kasih banyak atas nasihat dan doa pak Umar. Sekali lagi saya mohon maaf, karena sudah mengganggu pak Umar sampai malam-malam begini,’ ucap kolonel Sudibyo.
‘Saya senang sekali berkenalan dengan bapak. Dengan pertemuan seperti ini bertambah saudara saya. Mudah-mudahan perkenalan kita ini mendapat ridha Allah SWT,’ jawab pak Umar.
‘Amiin. Baiklah, pak Umar. Kami mohon diri dulu. Tolong sampaikan salam saya sama ibu,’ pak Rahardjo berpamitan.
‘Insya Allah saya sampaikan. Mungkin karena kecapekan, dia sudah lebih duluan tidur,’ jawab pak Umar pula.
‘Monggo pak Umar, nggih,’ kolonel Sudibyo juga berpamitan.
‘Mari…mari pak…,’
‘Assalamu’alaikum.’
‘Wa’alaikumsalam warahmatullah.’
*****
Thursday, November 20, 2008
SANG AMANAH (67)
(67)
Anak itu biasanya memang suka nekad. Beruntung mereka melihat ibu Purwati sedang berjalan dari kantor Tata Usaha menuju ke arah kantor guru. Kedua anak itu mempercepat langkah mereka mendekati ibu Purwati. Ibu Purwati kebetulan melihat ke arah mereka secara tidak sengaja.
‘Maaf buk. Boleh kami menanyakan sesuatu?’ Rinto langsung mengajukan pertanyaan.
‘Apa yang mau kamu tanyakan?’ tanya ibu Purwati sambil menatap tajam ke arah Rinto.
‘Di kalangan teman-teman beredar desas-desus bahwa…bahwa….,’ Rinto kehilangan kata-kata.
‘Bahwa apa?’ ibu Purwati setengah membentak.
‘Bahwa ada anak baru…katanya keponakan ibu… yang tadi dibawa ke rumah sakit sebelum masuk kelas. Apa memang benar ada buk?’ Rinto berhasil menyusun kata-kata.
‘Dari siapa kamu dengar?’ tanya ibu Purwati balik bertanya.
‘Dari teman-teman buk. Teman-teman lagi ramai membicarakan berita itu,’ jawab Rinto.
‘Baik. Kamu bilang kepada teman-teman kamu bahwa tidak ada anak baru yang di terima di sekolah ini hari ini. Tidak ada anak yang baru diterima di sekolah ini. Semua yang bersekolah di sini adalah murid-murid lama,’ jawab ibu Purwati.
‘Bagaimana dengan anak sekolah yang tadi pagi jatuh pingsan lalu dibawa ke rumah sakit. Katanya itu keponakan ibuk?’
‘Kamu melihatnya?’ tanya ibuk Purwati.
‘Ada teman yang melihat buk. Bukan saya,’ jawab Rinto.
‘Tadi pagi ada seorang anak yang ingin dimasukkan oleh orang tuanya ke sekolah ini. Orang tuanya itu saudara sepupu saya. Anak itu tadi pagi sakit dan jatuh pingsan. Tapi dia belum diterima di sekolah ini,’ jawab ibu Purwati hati-hati.
Agaknya dia tidak ingin berita ini menjadi rancu dan berubah menjadi tidak menguntungkan bagi dirinya.
‘Kabarnya lagi anak itu….korban narkoba, buk. Apa benar?’ Rinto makin berani.
‘Kamu bertanya mewakili OSIS? Atau hanya sok jadi wartawan?’ ibu Purwati balik bertanya.
‘Maaf….saya pengurus OSIS, buk. Tapi saya menanyakan ini bukan sebagai pengurus OSIS. Maksud saya….. keterangan ibuk ini nanti akan saya sampaikan kepada pengurus OSIS untuk menjernihkan desas-desus yang sedang beredar,’ jawab Rinto sedikit gugup.
‘Dengar. Walaupun ayah anak yang tadi pagi datang ke sini itu sepupu jauh saya, saya tidak kenal dengan anaknya. Saya baru melihatnya tadi pagi. Jadi saya tidak tahu persisnya apakah dia itu korban narkoba atau bukan. Bagaimana? Cukup puas?’ ibu Purwati ingin agar wawancara itu segera diakhiri.
‘Baik buk. terima kasih buk,’ jawab Rinto sambil menarik tangan Rano untuk berlalu dari tempat itu.
Beberapa anak murid kelas lain yang juga ikut mendengar wawancara singkat tadi itu ikut membubarkan diri.
Ibu Purwati meneruskan langkahnya ke ruang guru. Masih tiga menit lagi sebelum jam istirahat pertama berakhir. Di ruang guru juga sedang terjadi sidang darurat. Guru-guru sedang membahas berita yang sama. Pak Mursyid juga hadir dan kelihatannya dia yang banyak memberikan penjelasan. Waktu ibu Purwati masuk mata guru-guru itu semua memandang ke arahnya. Ibu Purwati tersenyum kecut dan membuka suara.
‘Kayaknya lagi pada ngomongin saya, ya?’ katanya.
‘Ini lho mbak. Bapak-bapak dan ibu-ibu ini pada menanyakan apa yang terjadi tadi pagi. Maksudnya dengan…. pak kolonel Sudibyo dan anaknya tadi pagi itu,’ pak Mursyid mencoba memberi keterangan pendahuluan.
‘Iya.. ada apa tho, bu?’ tanya pak Muslih.
‘Baik. Saya jelaskan secara ringkas. Tadi pagi ada sepupu saya, ingin memasukkan anaknya ke sekolah ini. Sepupu saya ini menelpon saya tadi malam. Anak itu tadinya sekolah di SMU 235 tapi dikeluarkan karena ada kasus. Saya tidak diberi tahu sebelumnya kasusnya itu apa. Saya persilahkan dia datang untuk bertemu dengan bapak kepala sekolah langsung. Nah, tadi pagi mereka, bapak dan anak itu datang. Tapi pak Umar kebetulan sedang tidak ada. Waktu menunggu pak Umar anaknya itu jatuh sakit dan pingsan, yang saya sekali lagi tidak tahu sakit apa. Dari omongan anak itu yang banyak ngawurnya serta analisa pak Mursyid, saya percaya bahwa anak itu adalah pengguna obat-obat terlarang jenis obat suntik. Tadi anak itu langsung dibawa ayahnya, sepupu saya itu. Saya rasa mereka langsung ke rumah sakit, tapi saya tidak dapat berita lagi dari mereka,’ ungkap ibu Purwati.
‘Ooh begitu. Tapi tadi belum sempat bertemu pak Umar?’ tanya pak Muslih lagi.
‘Pak Umar datang waktu mereka sudah mau berangkat. Mereka tidak sempat berbicara apa-apa,’ jawab ibu Purwati.
‘Jadi anak itu belum ketahuan apa diterima atau tidak di sini?’ tanya pak Muslih.
‘Belum. Orang saudara saya itu belum sempat berkenalan dengan pak Umar sudah keburu harus pergi lagi kok,’ jawab ibu Purwati pula.
‘Tapi harusnya kalau memang madatan begitu biar nanti berusaha minta tempat lagi tidak usah diterima itu,’ komentar pak Hardjono.
‘Mestinya begitu. Tapi bagaimanapun itu kan wewenangnya pak Umar sebagai kepala sekolah untuk menetapkan,’ jawab ibu Lastri pula.
‘Pak Umar nggak komentar apa-apa bu?’ tanya pak Hardjono.
‘Nggak tuh. Tapi mau komentar apa? Kan belum sempat ngomong dengan orang tua anak tadi itu,’ jawab ibu Purwati.
‘Barangkali sesudah ibu Purwati beritahu bahwa orang itu ingin memasukkan anaknya ke sini beliau memberi pendapat. Akan menerima atau akan menolak,’ tambah pak Hardjono pula.
‘Tidak ada. Pak Umar tidak mengatakan apa-apa,’ jawab ibu Purwati lagi.
‘Kalau pendapat ibu sendiri bagaimana? Apakah akan diajukan lagi agar anak itu diterima di sini?’ tanya pak Muslih pula.
‘Bapak-bapak! Harap diingat. Saya bukan yang mengajukan. Waktu saudara sepupu saya itu mengatakan akan memindahkan anaknya ke sekolah ini, saya katakan silahkan saja dibawa, nanti saya kenalkan dengan bapak kepala sekolah. Dan itu yang dia lakukan. Dia datang tadi pagi membawa anaknya itu. Saya tidak tahu kalau anaknya itu pengguna narkoba. Seandainya anak itu bukan anak yang bermasalah, untuk menerimanya di sekolah ini adalah wewenang pak kepala sekolah. Biar pak Umar yang menentukan. Tapi sebelum sempat bertemu pak Umar anaknya tumbang seperti tadi itu. Jadi belum ada langkah apapun yang diambil. Dia belum mengajukan permohonan untuk memasukkan anaknya secara resmi ke pak Umar, jadi belum ada apa-apa,’ jawab ibu Purwati mulai merasa kurang enak karena menghadapi pertanyaan yang bertubi-tubi itu.
Lonceng masuk berbunyi. Guru-guru itu bersiap untuk pergi mengajar ke kelasnya masing-masing. Termasuk ibu Purwati yang harus mengajar di kelas satu D. Ibu Purwati jadi agak salah tingkah. Kejadian pagi itu betul-betul diluar dugaannya dan sepertinya semua orang, baik guru maupun murid rasanya hari ini memandang sinis kepadanya. Atau mungkin juga itu hanya perasaan ibu Purwati saja.
*****
Sesudah shalat isya ada acara ta’ziah ke rumah pak Rahardjo. Ibu mertua pak Rahardjo meninggal dunia tadi pagi dan jenazahnya sudah di kebumikan tadi siang. Adalah kebiasaan penghuni kompleks perumnas Jatiwangi, apabila ada yang kemalangan seperti itu, maka malamnya diadakan acara ta’ziah. Jemaah mesjid al Muhajirin datang ke rumah duka untuk menghibur anggota keluarga yang kemalangan. Acaranya biasanya diisi dengan ceramah. Biasanya yang memberi ceramah adalah imam mesjid al Muhajirin, bergantian antara pak Umar dan pak Abdus Salam. Pada malam hari ini giliran pak Umar yang memberikan ceramah atau ‘siraman rohani’ yang berkaitan dengan kematian.
Isi ceramah agama dalam rangka ta’ziah itu berisi peringatan bahwa masalah ‘mati’ adalah sesuatu yang sangat biasa. Sudah merupakan ketetapan Allah SWT bahwa setiap yang bernyawa pasti akan mati. Jadi pada hakikatnya menemui kematian itu adalah suatu kepastian yang akan jatuh kepada setiap makhluk dan hanyalah merupakan soal waktu, kapan giliran siapa. Oleh karena itu pada saat datangnya kematian kepada seseorang anggota keluarga yang dicintai tidak ada yang dapat diperbuat selain sabar dan bertawakal kepada Allah. Karena seandainya seseorang yang ditinggalkan orang yang dicintainya dengan kematian itu protes maka tidak ada yang sanggup mengembalikan orang yang sudah mati itu hidup kembali. Diingatkan pula bagaimana seyogianya manusia yang masih hidup, yang masih sehat wal’afiat mempersiapkan dirinya menghadapi kematian, yang pasti akan mendatanginya pula suatu saat yang entah kapan waktunya. Yakni dengan memelihara iman kepada Allah SWT, mematuhi segala perintahnya dan menjauhi segala larangannya. Akhirnya dalam ceramah itu diingatkan bagaimana hubungan antara seseorang yang sudah meninggal dengan sanak keluarga yang ditinggalkannya. Sesuai dengan salah satu hadits nabi Muhammad SAW yang mengatakan; ‘Apabila mati anak Adam maka putuslah segala amalannya kecuali tiga perkara. Yaitu sedekah jariah atau pemberian yang ikhlas karena Allah, maka selama yang disedekahkan itu masih bermanfaat kepada orang yang masih hidup, niscaya keutamaan amalan yang dilakukan orang lain itu masih mengalir kepada yang bersedekah semasa hidupnya itu. Yang kedua ilmu yang bermanfaat yang pernah diajarkannya. Seperti ilmu tulis baca, ilmu agama, atau mungkin ilmu masak memasak yang diajarkan seorang ibu kepada tetangganya atau anak-anaknya, maka selama ilmu itu masih diamalkan maka keutamaannya masih akan tetap mengalir kepadanya. Yang terakhir adalah anak yang shalih yang senantiasa mendoakannya, maka selama anak itu berdoa bagi kebaikan orang tuanya, maka orang tua yang telah meninggal itu masih akan dapat pahala amalan dari anak-anak yang mendoakannya itu, insya Allah.
Maka kepada anggota keluarga yang ditinggalkan, terutamanya kepada putera puteri kandung almarhumah, diingatkan agar senantiasa mendoakannya, jika mereka benar-benar mencintainya. Karena hanya dengan cara mendoakan itulah almarhumah akan senantiasa menerima sambungan pahala pengganti amalan yang sudah tidak mungkin lagi dilakukannya.
Itulah rangkuman isi ceramah berkenaan dengan acara ta’ziah malam itu. Sesudah itu jemaah mesjid yang hadir mohon pamit kembali ke rumah masing-masing.
Di antara yang hadir di rumah duka saat acara ta’ziah itu adalah adik pak Rahardjo dan suaminya, keluarga Sudibyo. Kolonel Sudibyo hadir di rumah duka itu sejak sebelum shalat isya. Waktu ceramah ta’ziah itu berlangsung kebetulan dia duduk persis di hadapan pak Umar. Mata perwira intelijen yang sudah terlatih itu langsung mengenali pak Umar, yang meskipun saat itu berbaju koko dan berkopiah, sebagai orang yang dijumpainya sekilas, bahkan dibentaknya di SMU 369 tadi pagi. Kolonel Sudibyo tidak ragu sedikitpun tentang itu. Dia bertanya-tanya dalam hati, apakah kepala sekolah itu juga tinggal di kompleks perumnas ini, bertetangga dengan keluarga iparnya.
Sesudah ceramah ta’ziah itu selesai dan ketika ada sambutan dari yang mewakili anggota keluarga, kolonel Sudibyo bertanya dengan berbisik kepada iparnya, pak Rahardjo yang duduk bersebelahan.
‘Mas, bapak yang memberi ceramah barusan itu tinggal di kompleks ini juga, ya?’ tanyanya.
‘Betul, beliau itu pak Umar. Dia imam mesjid Al Muhajirin di kompleks ini,’ jawab pak Rahardjo.
‘Kalau nggak salah, dia itu kepala sekolah SMU yang di Kali Malang sana itu bukan?’ tanya kolonel Sudibyo lagi.
‘Betul. Apa dik Dibyo mengenalnya?’ tanya pak Rahardjo.
‘Ah, nggak. Tapi rasanya saya pernah bertemu. Dia itu imam mesjid di sini, begitu?’ tanyanya lagi.
‘Ya. Beliau ini imam mesjid dan pemuka atau orang yang disegani di kompleks ini. Orang yang sangat saleh dan baik. Jadi panutan masyarakat kompleks ini,’ pak Rahardjo menjelaskan.
‘Mas kenal baik dengannya?’
‘Semua penghuni kompleks ini kenal baik dengannya.’
Bisik-bisik mereka terhenti waktu pembawa acara mengumumkan bahwa itulah akhir rangkaian acara ta’ziah dan para tamu akan mohon diri dari rumah duka. Para tamu bersalam-salaman dengan tuan rumah sebelum pergi meninggalkan rumah itu. Tentu saja pak Umar ikut menyalami pak Rahardjo dan kolonel Sudibyo yang berdiri di sampingnya. Kolonel Sudibyo dengan agak kikuk melirik melihat mata pak Umar waktu bersalaman itu. Pak Umar hanya tersenyum waktu menyalaminya.
Sebenarnya pak Umarpun, dengan mata seorang guru yang terlatih mengenali murid-murid yang ratusan jumlahnya, mengenali kolonel Sudibyo sejak pertama kali dia melihatnya di rumah itu. Tapi dia tidak terlalu memperdulikan orang itu. Kalau dia hadir di rumah duka ini tentu karena ada sangkut pautnya dengan tuan rumah, pikirnya.
Anak itu biasanya memang suka nekad. Beruntung mereka melihat ibu Purwati sedang berjalan dari kantor Tata Usaha menuju ke arah kantor guru. Kedua anak itu mempercepat langkah mereka mendekati ibu Purwati. Ibu Purwati kebetulan melihat ke arah mereka secara tidak sengaja.
‘Maaf buk. Boleh kami menanyakan sesuatu?’ Rinto langsung mengajukan pertanyaan.
‘Apa yang mau kamu tanyakan?’ tanya ibu Purwati sambil menatap tajam ke arah Rinto.
‘Di kalangan teman-teman beredar desas-desus bahwa…bahwa….,’ Rinto kehilangan kata-kata.
‘Bahwa apa?’ ibu Purwati setengah membentak.
‘Bahwa ada anak baru…katanya keponakan ibu… yang tadi dibawa ke rumah sakit sebelum masuk kelas. Apa memang benar ada buk?’ Rinto berhasil menyusun kata-kata.
‘Dari siapa kamu dengar?’ tanya ibu Purwati balik bertanya.
‘Dari teman-teman buk. Teman-teman lagi ramai membicarakan berita itu,’ jawab Rinto.
‘Baik. Kamu bilang kepada teman-teman kamu bahwa tidak ada anak baru yang di terima di sekolah ini hari ini. Tidak ada anak yang baru diterima di sekolah ini. Semua yang bersekolah di sini adalah murid-murid lama,’ jawab ibu Purwati.
‘Bagaimana dengan anak sekolah yang tadi pagi jatuh pingsan lalu dibawa ke rumah sakit. Katanya itu keponakan ibuk?’
‘Kamu melihatnya?’ tanya ibuk Purwati.
‘Ada teman yang melihat buk. Bukan saya,’ jawab Rinto.
‘Tadi pagi ada seorang anak yang ingin dimasukkan oleh orang tuanya ke sekolah ini. Orang tuanya itu saudara sepupu saya. Anak itu tadi pagi sakit dan jatuh pingsan. Tapi dia belum diterima di sekolah ini,’ jawab ibu Purwati hati-hati.
Agaknya dia tidak ingin berita ini menjadi rancu dan berubah menjadi tidak menguntungkan bagi dirinya.
‘Kabarnya lagi anak itu….korban narkoba, buk. Apa benar?’ Rinto makin berani.
‘Kamu bertanya mewakili OSIS? Atau hanya sok jadi wartawan?’ ibu Purwati balik bertanya.
‘Maaf….saya pengurus OSIS, buk. Tapi saya menanyakan ini bukan sebagai pengurus OSIS. Maksud saya….. keterangan ibuk ini nanti akan saya sampaikan kepada pengurus OSIS untuk menjernihkan desas-desus yang sedang beredar,’ jawab Rinto sedikit gugup.
‘Dengar. Walaupun ayah anak yang tadi pagi datang ke sini itu sepupu jauh saya, saya tidak kenal dengan anaknya. Saya baru melihatnya tadi pagi. Jadi saya tidak tahu persisnya apakah dia itu korban narkoba atau bukan. Bagaimana? Cukup puas?’ ibu Purwati ingin agar wawancara itu segera diakhiri.
‘Baik buk. terima kasih buk,’ jawab Rinto sambil menarik tangan Rano untuk berlalu dari tempat itu.
Beberapa anak murid kelas lain yang juga ikut mendengar wawancara singkat tadi itu ikut membubarkan diri.
Ibu Purwati meneruskan langkahnya ke ruang guru. Masih tiga menit lagi sebelum jam istirahat pertama berakhir. Di ruang guru juga sedang terjadi sidang darurat. Guru-guru sedang membahas berita yang sama. Pak Mursyid juga hadir dan kelihatannya dia yang banyak memberikan penjelasan. Waktu ibu Purwati masuk mata guru-guru itu semua memandang ke arahnya. Ibu Purwati tersenyum kecut dan membuka suara.
‘Kayaknya lagi pada ngomongin saya, ya?’ katanya.
‘Ini lho mbak. Bapak-bapak dan ibu-ibu ini pada menanyakan apa yang terjadi tadi pagi. Maksudnya dengan…. pak kolonel Sudibyo dan anaknya tadi pagi itu,’ pak Mursyid mencoba memberi keterangan pendahuluan.
‘Iya.. ada apa tho, bu?’ tanya pak Muslih.
‘Baik. Saya jelaskan secara ringkas. Tadi pagi ada sepupu saya, ingin memasukkan anaknya ke sekolah ini. Sepupu saya ini menelpon saya tadi malam. Anak itu tadinya sekolah di SMU 235 tapi dikeluarkan karena ada kasus. Saya tidak diberi tahu sebelumnya kasusnya itu apa. Saya persilahkan dia datang untuk bertemu dengan bapak kepala sekolah langsung. Nah, tadi pagi mereka, bapak dan anak itu datang. Tapi pak Umar kebetulan sedang tidak ada. Waktu menunggu pak Umar anaknya itu jatuh sakit dan pingsan, yang saya sekali lagi tidak tahu sakit apa. Dari omongan anak itu yang banyak ngawurnya serta analisa pak Mursyid, saya percaya bahwa anak itu adalah pengguna obat-obat terlarang jenis obat suntik. Tadi anak itu langsung dibawa ayahnya, sepupu saya itu. Saya rasa mereka langsung ke rumah sakit, tapi saya tidak dapat berita lagi dari mereka,’ ungkap ibu Purwati.
‘Ooh begitu. Tapi tadi belum sempat bertemu pak Umar?’ tanya pak Muslih lagi.
‘Pak Umar datang waktu mereka sudah mau berangkat. Mereka tidak sempat berbicara apa-apa,’ jawab ibu Purwati.
‘Jadi anak itu belum ketahuan apa diterima atau tidak di sini?’ tanya pak Muslih.
‘Belum. Orang saudara saya itu belum sempat berkenalan dengan pak Umar sudah keburu harus pergi lagi kok,’ jawab ibu Purwati pula.
‘Tapi harusnya kalau memang madatan begitu biar nanti berusaha minta tempat lagi tidak usah diterima itu,’ komentar pak Hardjono.
‘Mestinya begitu. Tapi bagaimanapun itu kan wewenangnya pak Umar sebagai kepala sekolah untuk menetapkan,’ jawab ibu Lastri pula.
‘Pak Umar nggak komentar apa-apa bu?’ tanya pak Hardjono.
‘Nggak tuh. Tapi mau komentar apa? Kan belum sempat ngomong dengan orang tua anak tadi itu,’ jawab ibu Purwati.
‘Barangkali sesudah ibu Purwati beritahu bahwa orang itu ingin memasukkan anaknya ke sini beliau memberi pendapat. Akan menerima atau akan menolak,’ tambah pak Hardjono pula.
‘Tidak ada. Pak Umar tidak mengatakan apa-apa,’ jawab ibu Purwati lagi.
‘Kalau pendapat ibu sendiri bagaimana? Apakah akan diajukan lagi agar anak itu diterima di sini?’ tanya pak Muslih pula.
‘Bapak-bapak! Harap diingat. Saya bukan yang mengajukan. Waktu saudara sepupu saya itu mengatakan akan memindahkan anaknya ke sekolah ini, saya katakan silahkan saja dibawa, nanti saya kenalkan dengan bapak kepala sekolah. Dan itu yang dia lakukan. Dia datang tadi pagi membawa anaknya itu. Saya tidak tahu kalau anaknya itu pengguna narkoba. Seandainya anak itu bukan anak yang bermasalah, untuk menerimanya di sekolah ini adalah wewenang pak kepala sekolah. Biar pak Umar yang menentukan. Tapi sebelum sempat bertemu pak Umar anaknya tumbang seperti tadi itu. Jadi belum ada langkah apapun yang diambil. Dia belum mengajukan permohonan untuk memasukkan anaknya secara resmi ke pak Umar, jadi belum ada apa-apa,’ jawab ibu Purwati mulai merasa kurang enak karena menghadapi pertanyaan yang bertubi-tubi itu.
Lonceng masuk berbunyi. Guru-guru itu bersiap untuk pergi mengajar ke kelasnya masing-masing. Termasuk ibu Purwati yang harus mengajar di kelas satu D. Ibu Purwati jadi agak salah tingkah. Kejadian pagi itu betul-betul diluar dugaannya dan sepertinya semua orang, baik guru maupun murid rasanya hari ini memandang sinis kepadanya. Atau mungkin juga itu hanya perasaan ibu Purwati saja.
*****
Sesudah shalat isya ada acara ta’ziah ke rumah pak Rahardjo. Ibu mertua pak Rahardjo meninggal dunia tadi pagi dan jenazahnya sudah di kebumikan tadi siang. Adalah kebiasaan penghuni kompleks perumnas Jatiwangi, apabila ada yang kemalangan seperti itu, maka malamnya diadakan acara ta’ziah. Jemaah mesjid al Muhajirin datang ke rumah duka untuk menghibur anggota keluarga yang kemalangan. Acaranya biasanya diisi dengan ceramah. Biasanya yang memberi ceramah adalah imam mesjid al Muhajirin, bergantian antara pak Umar dan pak Abdus Salam. Pada malam hari ini giliran pak Umar yang memberikan ceramah atau ‘siraman rohani’ yang berkaitan dengan kematian.
Isi ceramah agama dalam rangka ta’ziah itu berisi peringatan bahwa masalah ‘mati’ adalah sesuatu yang sangat biasa. Sudah merupakan ketetapan Allah SWT bahwa setiap yang bernyawa pasti akan mati. Jadi pada hakikatnya menemui kematian itu adalah suatu kepastian yang akan jatuh kepada setiap makhluk dan hanyalah merupakan soal waktu, kapan giliran siapa. Oleh karena itu pada saat datangnya kematian kepada seseorang anggota keluarga yang dicintai tidak ada yang dapat diperbuat selain sabar dan bertawakal kepada Allah. Karena seandainya seseorang yang ditinggalkan orang yang dicintainya dengan kematian itu protes maka tidak ada yang sanggup mengembalikan orang yang sudah mati itu hidup kembali. Diingatkan pula bagaimana seyogianya manusia yang masih hidup, yang masih sehat wal’afiat mempersiapkan dirinya menghadapi kematian, yang pasti akan mendatanginya pula suatu saat yang entah kapan waktunya. Yakni dengan memelihara iman kepada Allah SWT, mematuhi segala perintahnya dan menjauhi segala larangannya. Akhirnya dalam ceramah itu diingatkan bagaimana hubungan antara seseorang yang sudah meninggal dengan sanak keluarga yang ditinggalkannya. Sesuai dengan salah satu hadits nabi Muhammad SAW yang mengatakan; ‘Apabila mati anak Adam maka putuslah segala amalannya kecuali tiga perkara. Yaitu sedekah jariah atau pemberian yang ikhlas karena Allah, maka selama yang disedekahkan itu masih bermanfaat kepada orang yang masih hidup, niscaya keutamaan amalan yang dilakukan orang lain itu masih mengalir kepada yang bersedekah semasa hidupnya itu. Yang kedua ilmu yang bermanfaat yang pernah diajarkannya. Seperti ilmu tulis baca, ilmu agama, atau mungkin ilmu masak memasak yang diajarkan seorang ibu kepada tetangganya atau anak-anaknya, maka selama ilmu itu masih diamalkan maka keutamaannya masih akan tetap mengalir kepadanya. Yang terakhir adalah anak yang shalih yang senantiasa mendoakannya, maka selama anak itu berdoa bagi kebaikan orang tuanya, maka orang tua yang telah meninggal itu masih akan dapat pahala amalan dari anak-anak yang mendoakannya itu, insya Allah.
Maka kepada anggota keluarga yang ditinggalkan, terutamanya kepada putera puteri kandung almarhumah, diingatkan agar senantiasa mendoakannya, jika mereka benar-benar mencintainya. Karena hanya dengan cara mendoakan itulah almarhumah akan senantiasa menerima sambungan pahala pengganti amalan yang sudah tidak mungkin lagi dilakukannya.
Itulah rangkuman isi ceramah berkenaan dengan acara ta’ziah malam itu. Sesudah itu jemaah mesjid yang hadir mohon pamit kembali ke rumah masing-masing.
Di antara yang hadir di rumah duka saat acara ta’ziah itu adalah adik pak Rahardjo dan suaminya, keluarga Sudibyo. Kolonel Sudibyo hadir di rumah duka itu sejak sebelum shalat isya. Waktu ceramah ta’ziah itu berlangsung kebetulan dia duduk persis di hadapan pak Umar. Mata perwira intelijen yang sudah terlatih itu langsung mengenali pak Umar, yang meskipun saat itu berbaju koko dan berkopiah, sebagai orang yang dijumpainya sekilas, bahkan dibentaknya di SMU 369 tadi pagi. Kolonel Sudibyo tidak ragu sedikitpun tentang itu. Dia bertanya-tanya dalam hati, apakah kepala sekolah itu juga tinggal di kompleks perumnas ini, bertetangga dengan keluarga iparnya.
Sesudah ceramah ta’ziah itu selesai dan ketika ada sambutan dari yang mewakili anggota keluarga, kolonel Sudibyo bertanya dengan berbisik kepada iparnya, pak Rahardjo yang duduk bersebelahan.
‘Mas, bapak yang memberi ceramah barusan itu tinggal di kompleks ini juga, ya?’ tanyanya.
‘Betul, beliau itu pak Umar. Dia imam mesjid Al Muhajirin di kompleks ini,’ jawab pak Rahardjo.
‘Kalau nggak salah, dia itu kepala sekolah SMU yang di Kali Malang sana itu bukan?’ tanya kolonel Sudibyo lagi.
‘Betul. Apa dik Dibyo mengenalnya?’ tanya pak Rahardjo.
‘Ah, nggak. Tapi rasanya saya pernah bertemu. Dia itu imam mesjid di sini, begitu?’ tanyanya lagi.
‘Ya. Beliau ini imam mesjid dan pemuka atau orang yang disegani di kompleks ini. Orang yang sangat saleh dan baik. Jadi panutan masyarakat kompleks ini,’ pak Rahardjo menjelaskan.
‘Mas kenal baik dengannya?’
‘Semua penghuni kompleks ini kenal baik dengannya.’
Bisik-bisik mereka terhenti waktu pembawa acara mengumumkan bahwa itulah akhir rangkaian acara ta’ziah dan para tamu akan mohon diri dari rumah duka. Para tamu bersalam-salaman dengan tuan rumah sebelum pergi meninggalkan rumah itu. Tentu saja pak Umar ikut menyalami pak Rahardjo dan kolonel Sudibyo yang berdiri di sampingnya. Kolonel Sudibyo dengan agak kikuk melirik melihat mata pak Umar waktu bersalaman itu. Pak Umar hanya tersenyum waktu menyalaminya.
Sebenarnya pak Umarpun, dengan mata seorang guru yang terlatih mengenali murid-murid yang ratusan jumlahnya, mengenali kolonel Sudibyo sejak pertama kali dia melihatnya di rumah itu. Tapi dia tidak terlalu memperdulikan orang itu. Kalau dia hadir di rumah duka ini tentu karena ada sangkut pautnya dengan tuan rumah, pikirnya.
Wednesday, November 19, 2008
SANG AMANAH (66)
(66)
Pak Umar memandang sampai mobil itu keluar dari arena sekolah tanpa berkata sepatahpun.
‘Itu sepupu saya, pak. Kolonel Sudibyo. Dengan anaknya yang bermasalah. Biar saya jelaskan nanti di kantor kalau pak Umar tidak berkeberatan,’ ibu Purwati berusaha mencairkan suasana.
‘Baik kalau begitu. Saya menaruh Vespa ini dulu ke tempat parkir,’ jawab pak Umar sambil terus berlalu.
Ibu Purwati bergegas menuju ruangan guru. Di sana sudah ada pak Mursyid yang tentu saja sangat ingin mengetahui apa yang baru saja terjadi.
‘Ada apa barusan mbak?’ tanya pak Mursyid.
‘Ada maling…..,’ jawab ibu Purwati sekenanya, masih berusaha bercanda.
‘Maling apaan? Tentara tadi siapa?’ tanya pak Mursyid lagi.
‘Mm… Tentara barusan sepupu saya. Namanya Sudibyo. Kolonel Sudibyo,’ jawab ibu Purwati lagi.
Sementara itu pak Umar masuk dan mengambil tempat disalah satu kursi di ruangan itu. Pak Umar tidak berkata apa-apa. Ibu Purwati meneruskan ceritanya.
‘Tadi malam saya ditelpon sepupu saya itu. Katanya dia ingin memasukkan anaknya sekolah di sini. Tepatnya dia ingin memindahkan anaknya ke sini dari SMU 235. Saya tanya kenapa harus pindah? Dia bilang karena anaknya terlibat kenakalan remaja di sekolah itu dan dikeluarkan. Saya bilang coba saja dibawa besok, akan saya pertemukan dengan kepala sekolah. Tadi jam setengah sembilan mereka datang. Saya tidak kenal dengan anaknya yang mau dipindahkan sekolah itu. Setelah saya lihat, saya heran, kok anak ini seperti kurang sehat dan bicaranya agak ngawur. Kami masih berbincang-bincang sambil menunggu kedatangan pak Umar, waktu tiba-tiba anak itu menggigil dan hampir pingsan. Itulah yang tadi digotong ayahnya untuk dibawa ke rumah sakit,’ ibu Purwati mengakhiri keterangannya.
‘Menggigil dan hampir pingsan? Memangnya kenapa? Maksud saya, anak itu sakit apa?’ tanya pak Mursyid.
‘Dari bincang-bincang tadi ketahuan bahwa anak itu rupanya pengguna obat-obat terlarang. Dia biasa menyuntik dirinya sendiri dengan narkoba. Tadi beberapa kali dia mengatakan bahwa ingin menyuntik dirinya, sebelum dia hampir pingsan itu. Saya kaget mengetahui hal itu. Pengguna narkoba seperti itu tentu tidak mungkin diterima di sekolah ini. Ayah anak itu atau sepupu saya itu mengatakan bahwa tadi malam anak itu berprilaku sangat normal baik perbuatan maupun kata-katanya. Dia bahkan berjanji akan patuh dan menurut asal bisa pindah sekolah. Ternyata…. nggak tahunya jadi seperti itu. Saya baru sekali ini melihat orang ketagihan seperti itu. Terus, tadi saya sarankan agar anak itu dirawat intensif di panti rehabilitasi untuk penyembuhan,’ ujar ibu Purwati melanjutkan keterangannya.
‘Wah! Kalau begitu gawat urusannya. Mana mungkin anak yang sudah kecanduan obat terlarang bisa berubah normal tiba-tiba. Tadi malam itu mungkin dia sedang dalam keadaan normal sebentar lalu setelah itu kambuh lagi. Tanpa perawatan khusus tidak mungkin pecandu seperti itu disembuhkan,’ komentar pak Mursyid.
‘Apakah pada waktu datang tadi anak itu sudah kelihatan seperti orang yang sedang sakit?’ tanya pak Umar.
‘Hanya kelihatan sangat lemah, pak. Tapi dia masih bisa berkomunikasi. Meskipun berbicaranya kadang-kadang ngawur’, jawab ibu Purwati pula.
‘Sakit apa anak itu tadi ya?’ tanya pak Umar.
‘Saya rasa lagi ketagihan obat pak. Biasanya memang begitu. Pecandu obat menjalani hidup mereka dalam siklus seperti itu. Mengkonsumsi obat, terbuai oleh pengaruh obat, lalu sadar dan normal sebentar untuk kemudian nagih lagi, begitu terus menerus. Kalau sudah nagih, reaksinya bisa macam-macam. Dari yang reaksi lemah sampai reaksi penuh kekerasan untuk memenuhi hasrat ketagihan mereka,’ pak Mursyid menjelaskan.
‘Apakah pecandu obat seperti itu tidak bisa disembuhkan sama sekali?’ tanya pak Umar pula.
‘Dengan kerja keras dan kesungguh-sungguhan ada yang berhasil, pak. Saya kenal beberapa orang tua yang anaknya bisa sembuh total dari ketagihan obat terlarang. Tapi usaha itu benar-benar harus maksimal dan kelihatannya cukup berat. Yang pasti, menyembuhkan kecanduan itu jauh lebih sulit dari memulainya. Biasanya mereka yang terperosok ke lembah narkoba itu jarang yang mampu berusaha maksimal seperti itu. Akibat penyalahgunaan obat seperti itu biasanya sangat fatal. Seringkali resikonya kalau bukan maut menjadi tidak waras alias gila,’ jawab pak Mursyid pula.
‘Itulah tantangan yang sangat serius yang harus kita hadapi. Ingat bagaimana gigihnya para pengedar narkoba itu menjaring mangsa dan bagaimana buasnya mereka seperti kasus yang dialami Arif, anak kelas dua D itu,’ kata pak Umar seperti kepada dirinya sendiri.
‘Benar pak. Setiap orang tua harus berhati-hati benar-benar mengawasi prilaku anak-anaknya. Harus waspada agar jangan sampai terjebak oleh sindikat narkoba yang semakin nekad seperti sekarang ini,’ pak Mursyid menambahkan.
‘Tapi…., ngomong-ngomong, tadi mau dibawa kemana anak itu?’ tanya pak Umar lagi.
‘Saya rasa mungkin ke rumah sakit. Tapi saya tidak tahu ke rumah sakit mana,’ jawab ibu Purwati.
‘Kasihan anak-anak muda yang terlibat penggunaan obat-obat terlarang seperti itu,’ komentar pak Umar pendek.
*****
Rumor segera saja menyebar. Bahwa ada anak seorang tentara, saudaranya ibu Purwanti, mau dimasukkan ke SMU 369. Ternyata anak itu ‘morfinis’. Dan tadi pagi sebelum sempat masuk kelas, anak itu kumat sehingga terpaksa harus dibawa ke rumah sakit untuk dirawat. Ayah anak itu seorang tentara berpangkat jenderal, datang dengan ajudannya mau menitipkan anaknya di SMU 369. Ibu Purwati sudah menerima anak baru itu, yang tadi sudah mau diantarkan ke salah satu dari kelas dua.
Entah dari mana sumber desas-desus itu. Mungkin waktu ibu Purwati sedang berbincang-bincang dengan tamunya ada murid yang kebetulan berada dekat kantor guru dan mendengar sebagian pembicaraan mereka. Dan anak ini yang jadi sumber berita.
*****
‘Lo udah dengar gossip terbaru belum? Ada murid baru, morfinis, diterima di sekolah ini?’ Nurul, seorang murid kelas dua A memulai pembicaraan di kantin sekolah.
‘Becanda lo. Mana mungkin. Siapa yang bilang sih gossip murahan kayak gitu?’ Lita, temannya balik bertanya.
‘Tadi Aida kebetulan lewat dekat kantor guru. Di sana ada ibu Purwati dengan seorang tentara sedang ngobrol. Katanya itu sodaranya ibu Purwati. Ada seorang murid baru juga. Anak tentara itu. Katanya sudah mau diantarin ke kelas dua mana gitu…….,’ jawab Nurul.
‘Di kelas dua mana?’
‘Ya.. gue nggak tahu. Coba aja tanyain anak-anak kelas dua itu satu-satu!’ kata Nurul pula.
‘Kayaknya nggak ada deh. Di kelas kita nggak ada. Kalau memang ada anak baru biasanya kan suka dikenalin ke semua kelas,’ Sinta murid kelas dua B berkomentar.
‘Kayaknya nggak jadi deh. Paling nggak belum jadi. Anak itu tadi katanya keburu semaput dan segera dibawa pergi lagi,’ kata Sri.
‘Siapa bilang?’ tanya Sinta.
‘Barusan pak Mursyid memberi keterangan pers, di depan kelas dua C. Dia tidak bilang anak itu diterima atau belum, tapi dia bilang kalau tadi ada calon murid baru pindahan, sakit, lalu buru-buru dibawa ke rumah sakit,’ jawab Sri mencoba menjelaskan.
‘Jangan-jangan yang ini lain lagi,’ kata Dewi.
‘Ya nggak lah. Orang kata pak Mursyid, anak itu anak saudaranya ibu Purwati. Anak jenderal apa kolonel gitu……. nggak tau deh gue. Yang tadi pagi datang bersama anaknya itu ke sini,’ Sri menjelaskan lebih lanjut.
‘Kata pak Mursyid emang sakit apa anak itu?’
‘Kata pak Mursyid anak itu pemakai.’
‘Pemakai? Pemakai apaan sih?’
‘Bodo lu. Pemakai itu tukang ngeboat. Nggak tau juga, ngeboat?’
‘Tukang ngeboat diterima di sini? Lha, dulu murid sini yang ngeboat dikeluarin!’ Dewi setengah protes saking tidak percaya.
‘Itu dulu…baru ini….’ Sri mencoba melucu meniru bahasa iklan
‘Ah…nggak percaya gue. Pak Umar mau nerima anak yang suka ngeboat sekolah di sini? Tak mungkiiiin…..’ Dewi mencibir.
Suasana kantin itu bertambah ramai setelah beberapa anak laki-laki kelas dua B datang dan ikut-ikutan ngerumpi.
‘Lo-lo pada ngomongin apa sih? Apa bener ada anak baru, madatan, diterima di sekolah ini?’ Rano yang baru datang ikut nimbrung.
‘Kita lagi ngebahas itu memang. Tapi kayaknya nggak deh. Kayaknya anak itu belum diterima deh di sini. Tapi keburu semaput. Dan nggak jadi diterima,’ Sri mengulang penjelasannya lagi.
‘Kata siapa belum diterima? Katanya anak saudaranya ibu Purwati. Anak tentara. Pangkatnya jenderal. Jadi terpaksa diterima,’ Rinto ikut menambahi.
‘Buktinya belum masuk kelas kan? Berarti belum tentu diterima dong. Lagian masak iya sih pak kepsek mau nerima kalau memang anaknya nggak jelas gitu. Gue nggak percaya deh,’ Dewi kembali berusaha membantah.
‘Bagusnya kita tanyain yok. Kita tanya ibu Purwati aja,’ Rano mengusul.
‘Lo mau nanyain apa? Mau nanyain kalau keponakannya ibu Purwati tukang ngeboat diterima sebagai murid baru di sini? Begitu?’ Rinto menantang.
‘Ya..nggak apa-apa kan?’ jawab Rano.
‘Terus kalau dia bilang iya, lo mau ngapain? Mau protes?’
‘Ya kita demo dong. Kan dulu ada anak sekolah sini dikeluarin gara-gara ketauan sakau. Masak iya sekarang mau nerima yang baru? Apa mentang-mentang keponakannya ibu Purwati?’
‘Boleh juga ide lo. Gue demen tuh kalau kita bikin demo rame-rame.. he..he..he,’ Rinto menyambut penuh antusias.
‘Tapi lo berani nggak nanyain ke ibu Purwati?’ tanya Sri sama Rinto.
‘Ya berani aja. Kita tanyain aja, apa bener ada murid baru mau masuk di sini. Jangan tanyain apa anak itu tukang ngeboat atau bukan. Jangan langsung nanyain itu. Entar aja kalau sudah dia bilang iya baru kita minta penjelasan,’ jawab Rinto, sok bijaksana.
‘Kalau kata ibu Purwati nggak ada? Gimana?’
‘Ya..berarti emang nggak ada dong. Susah amat. Nggak perlu ada lagi gossip-gossipan kalau gitu,’ jawab Rinto lagi.
‘Ayo kalau gitu. Sini gue temenin. Tapi lo yang nanya ya?’ ajak Rano.
‘Lo takut? Tadi ini kan usulan lo? Tapi nggak apa-apa. Ayo kita ke ibu Purwati,’ ajak Rinto mantap.
‘Tungguin! Gue juga mau ikutan,’ teriak Dewi.
‘Gue juga mau ikut. Gue juga mau ikut,’ cewek-cewek yang lain berebutan ingin ikut pula.
‘Gue rasa mendingan nggak usah rame-rame dulu deh. Ntar dikirain kita sudah demo beneran. Mending gue ama Rinto aja dulu yang pergi. Lo-lo tungguin aja di sini,’ usul Rano sok tahu bercampur ngeper.
‘Yeee… sok lo. Ya udah pergi sana. Gue doain biar dibentak ibu Purwati lo berdua. Ntar gue sukurin….,’ Dewi setengah protes.
Rinto dan Rano keluar dari kantin menuju ke ruang guru.
‘Lo mau nanyain ke ibu Purwati di dalam ruangan guru itu?’ tanya Rano semakin ragu-ragu.
‘Gue berani aja. Lo takut? Udah….. lo ikut aja. Pokoknya gue yang nanyain,’ Rinto tetap pede.
Pak Umar memandang sampai mobil itu keluar dari arena sekolah tanpa berkata sepatahpun.
‘Itu sepupu saya, pak. Kolonel Sudibyo. Dengan anaknya yang bermasalah. Biar saya jelaskan nanti di kantor kalau pak Umar tidak berkeberatan,’ ibu Purwati berusaha mencairkan suasana.
‘Baik kalau begitu. Saya menaruh Vespa ini dulu ke tempat parkir,’ jawab pak Umar sambil terus berlalu.
Ibu Purwati bergegas menuju ruangan guru. Di sana sudah ada pak Mursyid yang tentu saja sangat ingin mengetahui apa yang baru saja terjadi.
‘Ada apa barusan mbak?’ tanya pak Mursyid.
‘Ada maling…..,’ jawab ibu Purwati sekenanya, masih berusaha bercanda.
‘Maling apaan? Tentara tadi siapa?’ tanya pak Mursyid lagi.
‘Mm… Tentara barusan sepupu saya. Namanya Sudibyo. Kolonel Sudibyo,’ jawab ibu Purwati lagi.
Sementara itu pak Umar masuk dan mengambil tempat disalah satu kursi di ruangan itu. Pak Umar tidak berkata apa-apa. Ibu Purwati meneruskan ceritanya.
‘Tadi malam saya ditelpon sepupu saya itu. Katanya dia ingin memasukkan anaknya sekolah di sini. Tepatnya dia ingin memindahkan anaknya ke sini dari SMU 235. Saya tanya kenapa harus pindah? Dia bilang karena anaknya terlibat kenakalan remaja di sekolah itu dan dikeluarkan. Saya bilang coba saja dibawa besok, akan saya pertemukan dengan kepala sekolah. Tadi jam setengah sembilan mereka datang. Saya tidak kenal dengan anaknya yang mau dipindahkan sekolah itu. Setelah saya lihat, saya heran, kok anak ini seperti kurang sehat dan bicaranya agak ngawur. Kami masih berbincang-bincang sambil menunggu kedatangan pak Umar, waktu tiba-tiba anak itu menggigil dan hampir pingsan. Itulah yang tadi digotong ayahnya untuk dibawa ke rumah sakit,’ ibu Purwati mengakhiri keterangannya.
‘Menggigil dan hampir pingsan? Memangnya kenapa? Maksud saya, anak itu sakit apa?’ tanya pak Mursyid.
‘Dari bincang-bincang tadi ketahuan bahwa anak itu rupanya pengguna obat-obat terlarang. Dia biasa menyuntik dirinya sendiri dengan narkoba. Tadi beberapa kali dia mengatakan bahwa ingin menyuntik dirinya, sebelum dia hampir pingsan itu. Saya kaget mengetahui hal itu. Pengguna narkoba seperti itu tentu tidak mungkin diterima di sekolah ini. Ayah anak itu atau sepupu saya itu mengatakan bahwa tadi malam anak itu berprilaku sangat normal baik perbuatan maupun kata-katanya. Dia bahkan berjanji akan patuh dan menurut asal bisa pindah sekolah. Ternyata…. nggak tahunya jadi seperti itu. Saya baru sekali ini melihat orang ketagihan seperti itu. Terus, tadi saya sarankan agar anak itu dirawat intensif di panti rehabilitasi untuk penyembuhan,’ ujar ibu Purwati melanjutkan keterangannya.
‘Wah! Kalau begitu gawat urusannya. Mana mungkin anak yang sudah kecanduan obat terlarang bisa berubah normal tiba-tiba. Tadi malam itu mungkin dia sedang dalam keadaan normal sebentar lalu setelah itu kambuh lagi. Tanpa perawatan khusus tidak mungkin pecandu seperti itu disembuhkan,’ komentar pak Mursyid.
‘Apakah pada waktu datang tadi anak itu sudah kelihatan seperti orang yang sedang sakit?’ tanya pak Umar.
‘Hanya kelihatan sangat lemah, pak. Tapi dia masih bisa berkomunikasi. Meskipun berbicaranya kadang-kadang ngawur’, jawab ibu Purwati pula.
‘Sakit apa anak itu tadi ya?’ tanya pak Umar.
‘Saya rasa lagi ketagihan obat pak. Biasanya memang begitu. Pecandu obat menjalani hidup mereka dalam siklus seperti itu. Mengkonsumsi obat, terbuai oleh pengaruh obat, lalu sadar dan normal sebentar untuk kemudian nagih lagi, begitu terus menerus. Kalau sudah nagih, reaksinya bisa macam-macam. Dari yang reaksi lemah sampai reaksi penuh kekerasan untuk memenuhi hasrat ketagihan mereka,’ pak Mursyid menjelaskan.
‘Apakah pecandu obat seperti itu tidak bisa disembuhkan sama sekali?’ tanya pak Umar pula.
‘Dengan kerja keras dan kesungguh-sungguhan ada yang berhasil, pak. Saya kenal beberapa orang tua yang anaknya bisa sembuh total dari ketagihan obat terlarang. Tapi usaha itu benar-benar harus maksimal dan kelihatannya cukup berat. Yang pasti, menyembuhkan kecanduan itu jauh lebih sulit dari memulainya. Biasanya mereka yang terperosok ke lembah narkoba itu jarang yang mampu berusaha maksimal seperti itu. Akibat penyalahgunaan obat seperti itu biasanya sangat fatal. Seringkali resikonya kalau bukan maut menjadi tidak waras alias gila,’ jawab pak Mursyid pula.
‘Itulah tantangan yang sangat serius yang harus kita hadapi. Ingat bagaimana gigihnya para pengedar narkoba itu menjaring mangsa dan bagaimana buasnya mereka seperti kasus yang dialami Arif, anak kelas dua D itu,’ kata pak Umar seperti kepada dirinya sendiri.
‘Benar pak. Setiap orang tua harus berhati-hati benar-benar mengawasi prilaku anak-anaknya. Harus waspada agar jangan sampai terjebak oleh sindikat narkoba yang semakin nekad seperti sekarang ini,’ pak Mursyid menambahkan.
‘Tapi…., ngomong-ngomong, tadi mau dibawa kemana anak itu?’ tanya pak Umar lagi.
‘Saya rasa mungkin ke rumah sakit. Tapi saya tidak tahu ke rumah sakit mana,’ jawab ibu Purwati.
‘Kasihan anak-anak muda yang terlibat penggunaan obat-obat terlarang seperti itu,’ komentar pak Umar pendek.
*****
Rumor segera saja menyebar. Bahwa ada anak seorang tentara, saudaranya ibu Purwanti, mau dimasukkan ke SMU 369. Ternyata anak itu ‘morfinis’. Dan tadi pagi sebelum sempat masuk kelas, anak itu kumat sehingga terpaksa harus dibawa ke rumah sakit untuk dirawat. Ayah anak itu seorang tentara berpangkat jenderal, datang dengan ajudannya mau menitipkan anaknya di SMU 369. Ibu Purwati sudah menerima anak baru itu, yang tadi sudah mau diantarkan ke salah satu dari kelas dua.
Entah dari mana sumber desas-desus itu. Mungkin waktu ibu Purwati sedang berbincang-bincang dengan tamunya ada murid yang kebetulan berada dekat kantor guru dan mendengar sebagian pembicaraan mereka. Dan anak ini yang jadi sumber berita.
*****
‘Lo udah dengar gossip terbaru belum? Ada murid baru, morfinis, diterima di sekolah ini?’ Nurul, seorang murid kelas dua A memulai pembicaraan di kantin sekolah.
‘Becanda lo. Mana mungkin. Siapa yang bilang sih gossip murahan kayak gitu?’ Lita, temannya balik bertanya.
‘Tadi Aida kebetulan lewat dekat kantor guru. Di sana ada ibu Purwati dengan seorang tentara sedang ngobrol. Katanya itu sodaranya ibu Purwati. Ada seorang murid baru juga. Anak tentara itu. Katanya sudah mau diantarin ke kelas dua mana gitu…….,’ jawab Nurul.
‘Di kelas dua mana?’
‘Ya.. gue nggak tahu. Coba aja tanyain anak-anak kelas dua itu satu-satu!’ kata Nurul pula.
‘Kayaknya nggak ada deh. Di kelas kita nggak ada. Kalau memang ada anak baru biasanya kan suka dikenalin ke semua kelas,’ Sinta murid kelas dua B berkomentar.
‘Kayaknya nggak jadi deh. Paling nggak belum jadi. Anak itu tadi katanya keburu semaput dan segera dibawa pergi lagi,’ kata Sri.
‘Siapa bilang?’ tanya Sinta.
‘Barusan pak Mursyid memberi keterangan pers, di depan kelas dua C. Dia tidak bilang anak itu diterima atau belum, tapi dia bilang kalau tadi ada calon murid baru pindahan, sakit, lalu buru-buru dibawa ke rumah sakit,’ jawab Sri mencoba menjelaskan.
‘Jangan-jangan yang ini lain lagi,’ kata Dewi.
‘Ya nggak lah. Orang kata pak Mursyid, anak itu anak saudaranya ibu Purwati. Anak jenderal apa kolonel gitu……. nggak tau deh gue. Yang tadi pagi datang bersama anaknya itu ke sini,’ Sri menjelaskan lebih lanjut.
‘Kata pak Mursyid emang sakit apa anak itu?’
‘Kata pak Mursyid anak itu pemakai.’
‘Pemakai? Pemakai apaan sih?’
‘Bodo lu. Pemakai itu tukang ngeboat. Nggak tau juga, ngeboat?’
‘Tukang ngeboat diterima di sini? Lha, dulu murid sini yang ngeboat dikeluarin!’ Dewi setengah protes saking tidak percaya.
‘Itu dulu…baru ini….’ Sri mencoba melucu meniru bahasa iklan
‘Ah…nggak percaya gue. Pak Umar mau nerima anak yang suka ngeboat sekolah di sini? Tak mungkiiiin…..’ Dewi mencibir.
Suasana kantin itu bertambah ramai setelah beberapa anak laki-laki kelas dua B datang dan ikut-ikutan ngerumpi.
‘Lo-lo pada ngomongin apa sih? Apa bener ada anak baru, madatan, diterima di sekolah ini?’ Rano yang baru datang ikut nimbrung.
‘Kita lagi ngebahas itu memang. Tapi kayaknya nggak deh. Kayaknya anak itu belum diterima deh di sini. Tapi keburu semaput. Dan nggak jadi diterima,’ Sri mengulang penjelasannya lagi.
‘Kata siapa belum diterima? Katanya anak saudaranya ibu Purwati. Anak tentara. Pangkatnya jenderal. Jadi terpaksa diterima,’ Rinto ikut menambahi.
‘Buktinya belum masuk kelas kan? Berarti belum tentu diterima dong. Lagian masak iya sih pak kepsek mau nerima kalau memang anaknya nggak jelas gitu. Gue nggak percaya deh,’ Dewi kembali berusaha membantah.
‘Bagusnya kita tanyain yok. Kita tanya ibu Purwati aja,’ Rano mengusul.
‘Lo mau nanyain apa? Mau nanyain kalau keponakannya ibu Purwati tukang ngeboat diterima sebagai murid baru di sini? Begitu?’ Rinto menantang.
‘Ya..nggak apa-apa kan?’ jawab Rano.
‘Terus kalau dia bilang iya, lo mau ngapain? Mau protes?’
‘Ya kita demo dong. Kan dulu ada anak sekolah sini dikeluarin gara-gara ketauan sakau. Masak iya sekarang mau nerima yang baru? Apa mentang-mentang keponakannya ibu Purwati?’
‘Boleh juga ide lo. Gue demen tuh kalau kita bikin demo rame-rame.. he..he..he,’ Rinto menyambut penuh antusias.
‘Tapi lo berani nggak nanyain ke ibu Purwati?’ tanya Sri sama Rinto.
‘Ya berani aja. Kita tanyain aja, apa bener ada murid baru mau masuk di sini. Jangan tanyain apa anak itu tukang ngeboat atau bukan. Jangan langsung nanyain itu. Entar aja kalau sudah dia bilang iya baru kita minta penjelasan,’ jawab Rinto, sok bijaksana.
‘Kalau kata ibu Purwati nggak ada? Gimana?’
‘Ya..berarti emang nggak ada dong. Susah amat. Nggak perlu ada lagi gossip-gossipan kalau gitu,’ jawab Rinto lagi.
‘Ayo kalau gitu. Sini gue temenin. Tapi lo yang nanya ya?’ ajak Rano.
‘Lo takut? Tadi ini kan usulan lo? Tapi nggak apa-apa. Ayo kita ke ibu Purwati,’ ajak Rinto mantap.
‘Tungguin! Gue juga mau ikutan,’ teriak Dewi.
‘Gue juga mau ikut. Gue juga mau ikut,’ cewek-cewek yang lain berebutan ingin ikut pula.
‘Gue rasa mendingan nggak usah rame-rame dulu deh. Ntar dikirain kita sudah demo beneran. Mending gue ama Rinto aja dulu yang pergi. Lo-lo tungguin aja di sini,’ usul Rano sok tahu bercampur ngeper.
‘Yeee… sok lo. Ya udah pergi sana. Gue doain biar dibentak ibu Purwati lo berdua. Ntar gue sukurin….,’ Dewi setengah protes.
Rinto dan Rano keluar dari kantin menuju ke ruang guru.
‘Lo mau nanyain ke ibu Purwati di dalam ruangan guru itu?’ tanya Rano semakin ragu-ragu.
‘Gue berani aja. Lo takut? Udah….. lo ikut aja. Pokoknya gue yang nanyain,’ Rinto tetap pede.
Tuesday, November 18, 2008
SANG AMANAH (65)
(65)
15. Korban Narkoba (1)
Kota Jakarta tampak cerah pagi ini. Kecerahan yang sudah beberapa hari tidak terlihat. Tumbuh-tumbuhan yang menghiasi sekeliling pekarangan SMU 369 terlihat hijau segar berseri-seri ditimpa sinar matahari pagi. Udara terasa segar sekali. Cuaca hari ini berbeda dengan hari-hari kemarin karena matahari bersinar cemerlang. Beberapa hari belakangan ini kota Jakarta memang lebih sering ditutupi mendung dan hujan.
Hari baru jam delapan pagi tapi ibu Purwati sudah hadir di sekolah. Lebih awal dari semestinya, karena dia baru akan bertugas mengajar sesudah jam istirahat pertama nanti. Ibu Purwati sendirian di ruang guru sambil membaca koran. Dia menunggu sepupunya, kolonel Sudibyo yang menelponnya sore kemarin dan berjanji akan hadir sekitar jam setengah sembilan pagi ini. Pak kolonel Sudibyo ingin memindahkan anaknya ke sekolah ini dari SMU 235 di Jakarta Timur. Menurut kolonel Sudibyo, anaknya dikeluarkan dari sekolah itu karena terlibat kasus kenakalan remaja, tapi dia tidak menjelaskan jenis kenakalan anaknya tersebut. Kolonel Sudibyo bercerita sambil menyerocos ditelpon bahwa dia hampir saja memukul kepala SMU 235 yang dinilainya tidak becus. Tapi tindakan itu tidak jadi dilakukannya karena anak buahnya letnan Parlin Sitorus memberitahukan bahwa pak Simamora kepala sekolah SMU 235 itu adalah kakak kandung Mayor Jenderal Saut Simamora. ‘Untung saja saya tidak jadi terlepas tangan kepadanya, jeng Purwati. Kalau tidak tentu saya akan mendapat masalah dengan senior saya,’ cerita kolonel Sudibyo bersemangat sekali ditelpon.
Jam delapan lebih dua puluh lima menit kolonel Sudibyo sampai di SMU 369. Petugas Satpam memberi hormat dengan sikap sempurna waktu melihat mobil dinas Angkatan Darat merek Timor itu menghampiri gerbang sekolah. Sopir mobil Timor itu memberi tahu bahwa komandannya kolonel Sudibyo akan bertemu dengan kepala sekolah. Petugas Satpam itu memberi isyarat ke arah kantor kepala sekolah dan mempersilahkan mobil itu masuk. Kolonel Sudibyo yang berbadan kekar itu turun diikuti anaknya, Priyo, seorang anak muda bertubuh kurus dengan raut wajah layu. Potongan tubuh ayah dan anak itu sangat bertolak belakang. Anak muda kurus itu berjalan terseok-seok di samping ayahnya. Dari penampilannya yang seperti itu tidak sulit untuk ditebak bahwa anak ini kelihatannya pernah terlibat masalah penggunaan obat psikotropika. Bahkan melihat keadaan tubuh dan pandangan sayunya, sangat mungkin bahwa saat ini dia adalah pengguna aktif obat terlarang itu.
Ayah dan anak itu berjalan menuju ke kantor Tata Usaha. Pak Kosasih yang mereka temui di sana kemudian mengantarkan mereka ke kantor guru. Kolonel Sudibyo yang mendapatkan ibu Purwati sedang sendirian di ruangan itu, menyapanya akrab, sambil memperkenalkan anaknya Priyo.
‘Wah sorry, saya terlambat, jeng Pur. Iki lho jeng Pur, Priyo anakku,’ kolonel Sudibyo menyapa ibu Purwati, akrab.
‘Ya, nggak terlambat tho, mas Dibyo. Kan janjinya sekitar jam setengah sembilan. Lha ini, baru juga lewat dua menit….. Bagaimana kabar mas Priyo? Apa betul kamu mau sekolah di sini?’ tanya ibu Purwati ke anak muda itu.
‘Mau juga sih, tante. Tante ini, kepala sekolah di sini ya?’ tanya Priyo dengan pandangan lesu. Jawaban ini jelas tidak mencerminkan sopan santun seorang murid SMU.
‘Bukan. Tante bukan kepala sekolah tapi wakil kepala sekolah. Kepala sekolahnya terlambat hari ini karena dia pergi melayat. Kok kamu kelihatan seperti kurang sehat begini? Hayo, yang semangat dong. Gimana sih anak muda kok lemes begini?’ tanya ibu Purwati berpura-pura tidak tahu latar belakang Priyo.
‘Ya nggak apa-apa tho. Yo ora opo-opo. Dia ini memang habis sakit dan agak kurang sehat, jeng Pur…….. Ngene lho ‘Yo. Biar tante ini wakil kepala sekolah juga, nggak apa-apa. Pokoknya kamu sekolah di sini. Tentu ada syaratnya. Kamu jangan bikin gara-gara lagi. Itu syaratnya, kamu denger tidak? Jangan bikin pusing papi. Kamu ngerti, ora?’ kolonel Sudibyo menasihati anaknya, seolah-olah sudah memastikan bahwa Priyo pasti diterima. Atau mungkin bagi dia anaknya harus diterima di sekolah itu. Priyo memandang ayahnya dengan pandangan sayu tanpa mengucapkan sepatah katapun. Anak itu sedikitpun tidak kelihatan bergairah.
‘Jadi piye jeng Pur? Apa dia bisa langsung ikut belajar hari ini? Aku titip jeng Pur aja, yo? Anak ini memang perlu agak diawasi. Tapi tolong jeng Pur jaga ya? Biar nggak bikin onar sama anak-anak lain,’ kata kolonel Sudibyo memaksa.
‘Harusnya saya bicara dulu dengan kepala sekolah, lho mas. Tapi kalau mas Dibyo mau buru-buru, biar ditinggal saja,’ jawab ibu Purwati.
‘Lha, jeng Pur iki piye tho? Kan katanya jeng Pur wakil kepala sekolah, iya toh? Ya, mesti bisa mewakili tho. Kan kepala sekolahnya sedang tidak di tempat. Ya, jeng Pur yang mewakili. Iya toh? Pokok-e kalau perlu biaya-biaya administrasinya nanti tak beres-no, lho. Nanti aku dikasih info, nggih?’ kolonel Sudibyo memaksakan kata-katanya lagi.
‘Gini aja. Saya akan laporkan kepala sekolah. Mestinya tidak ada masalah. Namun keputusannya nanti tak telepon mas Dibyo. Sekarang biar mas Priyo tak antar melihat kelasnya dulu. Tapi kamu harus ngerti lho mas Priyo, nek sekolah iki peraturanne keras, lho. Kamu harus bisa patuh kalau sekolah di sini. Kira-kira bisa ndak?’ ibu Purwati menanyai Priyo.
‘Ya sudah. Kamu ikut saja. Kamu harus patuh. Pokoknya jangan bikin gara-gara lagi. Jangan bikin malu papi lagi. Kowe iki piye toh? Kok cengangas-cengenges rak karuan ngono? Kamu ini mau sekolah apa ndak?’ ujar kolonel Sudibyo menasihati anaknya.
Priyo celingak-celinguk dengan pandangan setengah kosong. Dia tidak menjawab kata-kata ayahnya itu.
‘Dijawab tho, mas Priyo. Mau sekolah di sini ndak?’ tanya ibu Purwati.
‘Mau… aku mau sih… Tapi kalau aku sekolah di sini nggak boleh dimarah-marahin ya….!?!’ jawab Priyo asal mangap.
‘Kalau kamu mau jadi murid yang baik kenapa mesti dimarahin. He..he..he.. Ya nggaklah,’ ujar ibu Purwati pula.
‘Tapi di sini….. aku boleh nyuntik nggak?’ tanya anak ajaib itu lagi.
Ibu Purwati melongo mendengar pertanyaan yang tidak terduga seperti itu. Sebaliknya, muka kolonel Sudibyo berubah merah madam mendengar ocehan anaknya itu.
‘Yooo..Priyo..! Kowe iki nanti tak kemplangno lagi lho. Kan papi sudah bilang. Kalau mau jadi orang yang bener ndak ada lagi yang namanya suntik-suntikan itu. Piye toh kamu iki? Katanya sudah insap. Katanya sudah nggak mau nyoba-nyoba lagi. Lha piye toh? Pokok-e papi ndak mau kamu itu bikin malu papi lagi lho. Wis, ngene bae. Jeng Pur! Tak titip no bocah iki dengan masa percobaan deh. Kalau kumat lagi apa boleh buat. Di keluarno ae, wis. Tapi tolong bener ya, jeng Pur?’ kolonel Sudibyo jadi salah tingkah gara-gara anaknya.
‘Gini mas Priyo. Di sekolah ini tidak ada ceritanya main-main dengan obat terlarang. Kamu tidak boleh main-main suntikan begitu di sini. Kalau mas Priyo benar-benar mau sekolah di sini harus dilupakan yang namanya obat-obat terlarang. Suntik-suntikan dan sebagainya itu. Bagaimana kira-kira? Sanggup tidak?’ tanya ibu Purwati.
Priyo memandang ibu Purwati dengan pandangan setengah kosong. Mungkin dia tidak sepenuhnya mendengar apa yang baru diucapkan ibu Purwati.
‘Gimana kalau aku sekolahnya nanti kapan-kapan aja, pi? Kayaknya di sini aku nggak suka deh. Kayaknya tante ini nggak suka sama aku,’ Priyo berceloteh seperti mengigau.
Kolonel Sudibyo jadi kehilangan akal. Kenapa anak ini berubah lagi? Bukankah kemarin malam dia bilang dia mau bersekolah? Kemarin dia kelihatan sehat sekali. Ngomong dengan sangat sopan. Ngomong dengan sangat meyakinkan. Dia bilang bahwa dia mau berusaha berubah menjadi anak yang baik. Kok sekarang jadi begini lagi?
‘Tidak. Tidak bisa begitu. Kamu harus sekolah. Kamu harus mau patuh menjadi murid di sini. Kamu sudah berjanji tadi malam bahwa kamu mau berubah menjadi anak baik. Sudah papi bilang. Kamu harus mencoba bersekolah di sini dan kamu tidak boleh macem-macem. Kalau kamu masih macem-macem papi suruh masukin di penjara kamu. Kamu dengar tidak?’ kolonel Sudibyo menyerocos tidak kalah ngawur.
Ibu Purwati jadi bingung mendengar celotehan ayah dan anak itu. Dia jadi serba sulit. Kelihatannya, Priyo ini tidak siap untuk bersekolah. Kelihatan sekali dia tidak dalam keadaan normal. Mungkin dia sedang ketagihan atau masih di bawah pengaruh obat yang entah kapan terakhir kali digunakannya. Ibu Purwati yakin sekali bahwa anak ini akan menimbulkan masalah nantinya. Mungkin dengan guru-guru, mungkin dengan murid-murid lain. Dan dengan pak kepala sekolah. Tapi bagaimana menjelaskan hal ini kepada sepupunya kolonel Sudibyo yang kelihatannya memaksa sekali agar anaknya bisa bersekolah di sini?
‘Kelihatannya mas Priyo ini kurang sehat, lho mas. Sebaiknya dia berobat dulu. Saya khawatir dia tidak siap untuk ikut belajar saat ini,’ ujar ibu Purwati.
‘Apa bener kamu sakit? Wah ngawur tenan iki bocah. Kamu ini bagaimana sih?’
‘Aku capek dan ngantuk, pi. Biar aku sekolahnya besok-besok aja deh,’ Priyo kelihatan semakin lemas.
‘Lha, tadi malam kok kamu ngomong baik bener? Semangat bener? Katanya sudah insap beneran. Mau sekolah beneran. Piye toh? Kamu…. kamu…. tadi main obat suntik lagi tho?’ kolonel Sudibyo ikut kebingungan.
‘Maaf, mas…... Apa mas Priyo ini tidak sebaiknya dirawat di panti rehabilitasi? Biar bener-bener sembuh dari kebiasaan nyuntik-nyuntik itu?’ tanya ibu Purwanti.
‘Saya maunya begitu, jeng. Tapi maminya yang bikin repot. Maminya yang ndak mau. Anak ini terlalu dimanja sama maminya. Bocah iki dhadi rusak koyo ngene gara-gara maminya yang terlalu memanjakannya sangat berlebihan,’ kolonel Sudibyo menyalahkan istrinya.
‘Ya… tapi kalau melihat keadaannya seperti ini sekarang saya rasa akan lebih baik dirawat dulu gitu lho, mas. Kasihan mas Priyo ini. Kalau nggak dirawat baik-baik… kan sayang nantinya. Kok kelihatannya mas Priyo ini tambah lemes begitu ya??’ ibu Purwati memperhatikan Priyo yang semakin lemah saja.
Sementara itu tubuh Priyo tiba-tiba menggigil. Badannya sempoyongan. Untung sempat ditahan kolonel Sudibyo sehingga tidak jadi jatuh. Anak itu merintih-rintih seperti sedang sakit parah. Agaknya dia sedang ‘ketagihan’. Kolonel Sudibyo memeluk Priyo sambil mengguncang-guncangkan tubuh anak muda yang malang itu.
‘Kamu kenapa, ‘Yo? Kamu kenapa sih? Wadduh, kok malah begini ini, piye toh? Kenopo sih iki, kok bocah iki dhadi semaput ngene,’ kolonel Sudibyo makin kebingungan.
‘Aku harus nyuntik…aku harus nyuntik… aku harus nyuntik.. Kalau nggak aku bisa matii….,’ Priyo merintih-rintih dengan suara setengah berbisik.
‘Lha, piye toh? Bocah iki kumat maning? Piye toh iki. Aku yo orak ngerti iki. Kudhune piye sih iki?’
‘Mas Dibyo kuat menggotong dia? Sebaiknya dia segera kita bawa ke rumah sakit,’ saran ibu Purwati.
‘Ya iyo. Tak gotongno. Wadduh, kok malah bikin perkara bae bocah iki,’ kata kolonel Sudibyo, menggotong tubuh anaknya yang kurus itu keluar, sambil berjalan tergesa-gesa ke tempat parkir.
Ibu Purwati mengiringi kolonel Sudibyo dari belakang. Pak Kosasih yang sedang berada di kantor Tata Usaha terheran-heran melihat pemandangan itu. Begitu juga dengan pak Mursyid yang melihat dari lapangan basket, melongo sambil berdiri terpaku. Slamet, sang supir cepat-cepat menyongsong kedatangan mereka, tapi malahan dibentak oleh kolonel Sudibyo.
‘Buka pintu mobil, sono! Cepat!’ hardiknya.
Slamet bergegas kembali ke arah mobil, membukakan pintu mobil itu lebar-lebar.
Pak Umar baru datang dengan mengendarai Vespa. Dia terheran-heran melihat seseorang berpakaian murid SMU dibopong seorang tentara ke arah mobil di tempat parkir mobil, diiringi ibu Purwati. Pak Umar mengarahkan Vespanya ke arah mobil itu ingin menanyakan apa yang terjadi. Begitu mendekat, belum sempat berkata apa-apa, dia langsung dibentak kolonel Sudibyo.
‘Mau lihat apa kamu? Ini bukan tontonan! Jangan dekat-dekat! Pergi sana!’ bentak kolonel itu kepada pak Umar. Pak Umar diam saja.
‘Mas Dibyo, maaf…….. Ini pak Umar, bapak kepala sekolah ini….,’ ibu Purwati menjelaskan.
Kolonel Sudibyo memperhatikan penampilan pak Umar yang memang biasa-biasa saja itu. Dia agak salah tingkah begitu mendengar bahwa yang datang itu adalah kepala sekolah. Meskipun sudah terlanjur berkata kasar namun dia tidak berniat memperbaiki ucapannya itu dengan meminta maaf. Mungkin pikirannya masih kalut.
‘Yo wis. Jeng Pur. Tak tinggalno ndisek, yo. Monggo. Matur nuwun,’ katanya sambil masuk kedalam mobil sedan Timor yang segera berlalu.
15. Korban Narkoba (1)
Kota Jakarta tampak cerah pagi ini. Kecerahan yang sudah beberapa hari tidak terlihat. Tumbuh-tumbuhan yang menghiasi sekeliling pekarangan SMU 369 terlihat hijau segar berseri-seri ditimpa sinar matahari pagi. Udara terasa segar sekali. Cuaca hari ini berbeda dengan hari-hari kemarin karena matahari bersinar cemerlang. Beberapa hari belakangan ini kota Jakarta memang lebih sering ditutupi mendung dan hujan.
Hari baru jam delapan pagi tapi ibu Purwati sudah hadir di sekolah. Lebih awal dari semestinya, karena dia baru akan bertugas mengajar sesudah jam istirahat pertama nanti. Ibu Purwati sendirian di ruang guru sambil membaca koran. Dia menunggu sepupunya, kolonel Sudibyo yang menelponnya sore kemarin dan berjanji akan hadir sekitar jam setengah sembilan pagi ini. Pak kolonel Sudibyo ingin memindahkan anaknya ke sekolah ini dari SMU 235 di Jakarta Timur. Menurut kolonel Sudibyo, anaknya dikeluarkan dari sekolah itu karena terlibat kasus kenakalan remaja, tapi dia tidak menjelaskan jenis kenakalan anaknya tersebut. Kolonel Sudibyo bercerita sambil menyerocos ditelpon bahwa dia hampir saja memukul kepala SMU 235 yang dinilainya tidak becus. Tapi tindakan itu tidak jadi dilakukannya karena anak buahnya letnan Parlin Sitorus memberitahukan bahwa pak Simamora kepala sekolah SMU 235 itu adalah kakak kandung Mayor Jenderal Saut Simamora. ‘Untung saja saya tidak jadi terlepas tangan kepadanya, jeng Purwati. Kalau tidak tentu saya akan mendapat masalah dengan senior saya,’ cerita kolonel Sudibyo bersemangat sekali ditelpon.
Jam delapan lebih dua puluh lima menit kolonel Sudibyo sampai di SMU 369. Petugas Satpam memberi hormat dengan sikap sempurna waktu melihat mobil dinas Angkatan Darat merek Timor itu menghampiri gerbang sekolah. Sopir mobil Timor itu memberi tahu bahwa komandannya kolonel Sudibyo akan bertemu dengan kepala sekolah. Petugas Satpam itu memberi isyarat ke arah kantor kepala sekolah dan mempersilahkan mobil itu masuk. Kolonel Sudibyo yang berbadan kekar itu turun diikuti anaknya, Priyo, seorang anak muda bertubuh kurus dengan raut wajah layu. Potongan tubuh ayah dan anak itu sangat bertolak belakang. Anak muda kurus itu berjalan terseok-seok di samping ayahnya. Dari penampilannya yang seperti itu tidak sulit untuk ditebak bahwa anak ini kelihatannya pernah terlibat masalah penggunaan obat psikotropika. Bahkan melihat keadaan tubuh dan pandangan sayunya, sangat mungkin bahwa saat ini dia adalah pengguna aktif obat terlarang itu.
Ayah dan anak itu berjalan menuju ke kantor Tata Usaha. Pak Kosasih yang mereka temui di sana kemudian mengantarkan mereka ke kantor guru. Kolonel Sudibyo yang mendapatkan ibu Purwati sedang sendirian di ruangan itu, menyapanya akrab, sambil memperkenalkan anaknya Priyo.
‘Wah sorry, saya terlambat, jeng Pur. Iki lho jeng Pur, Priyo anakku,’ kolonel Sudibyo menyapa ibu Purwati, akrab.
‘Ya, nggak terlambat tho, mas Dibyo. Kan janjinya sekitar jam setengah sembilan. Lha ini, baru juga lewat dua menit….. Bagaimana kabar mas Priyo? Apa betul kamu mau sekolah di sini?’ tanya ibu Purwati ke anak muda itu.
‘Mau juga sih, tante. Tante ini, kepala sekolah di sini ya?’ tanya Priyo dengan pandangan lesu. Jawaban ini jelas tidak mencerminkan sopan santun seorang murid SMU.
‘Bukan. Tante bukan kepala sekolah tapi wakil kepala sekolah. Kepala sekolahnya terlambat hari ini karena dia pergi melayat. Kok kamu kelihatan seperti kurang sehat begini? Hayo, yang semangat dong. Gimana sih anak muda kok lemes begini?’ tanya ibu Purwati berpura-pura tidak tahu latar belakang Priyo.
‘Ya nggak apa-apa tho. Yo ora opo-opo. Dia ini memang habis sakit dan agak kurang sehat, jeng Pur…….. Ngene lho ‘Yo. Biar tante ini wakil kepala sekolah juga, nggak apa-apa. Pokoknya kamu sekolah di sini. Tentu ada syaratnya. Kamu jangan bikin gara-gara lagi. Itu syaratnya, kamu denger tidak? Jangan bikin pusing papi. Kamu ngerti, ora?’ kolonel Sudibyo menasihati anaknya, seolah-olah sudah memastikan bahwa Priyo pasti diterima. Atau mungkin bagi dia anaknya harus diterima di sekolah itu. Priyo memandang ayahnya dengan pandangan sayu tanpa mengucapkan sepatah katapun. Anak itu sedikitpun tidak kelihatan bergairah.
‘Jadi piye jeng Pur? Apa dia bisa langsung ikut belajar hari ini? Aku titip jeng Pur aja, yo? Anak ini memang perlu agak diawasi. Tapi tolong jeng Pur jaga ya? Biar nggak bikin onar sama anak-anak lain,’ kata kolonel Sudibyo memaksa.
‘Harusnya saya bicara dulu dengan kepala sekolah, lho mas. Tapi kalau mas Dibyo mau buru-buru, biar ditinggal saja,’ jawab ibu Purwati.
‘Lha, jeng Pur iki piye tho? Kan katanya jeng Pur wakil kepala sekolah, iya toh? Ya, mesti bisa mewakili tho. Kan kepala sekolahnya sedang tidak di tempat. Ya, jeng Pur yang mewakili. Iya toh? Pokok-e kalau perlu biaya-biaya administrasinya nanti tak beres-no, lho. Nanti aku dikasih info, nggih?’ kolonel Sudibyo memaksakan kata-katanya lagi.
‘Gini aja. Saya akan laporkan kepala sekolah. Mestinya tidak ada masalah. Namun keputusannya nanti tak telepon mas Dibyo. Sekarang biar mas Priyo tak antar melihat kelasnya dulu. Tapi kamu harus ngerti lho mas Priyo, nek sekolah iki peraturanne keras, lho. Kamu harus bisa patuh kalau sekolah di sini. Kira-kira bisa ndak?’ ibu Purwati menanyai Priyo.
‘Ya sudah. Kamu ikut saja. Kamu harus patuh. Pokoknya jangan bikin gara-gara lagi. Jangan bikin malu papi lagi. Kowe iki piye toh? Kok cengangas-cengenges rak karuan ngono? Kamu ini mau sekolah apa ndak?’ ujar kolonel Sudibyo menasihati anaknya.
Priyo celingak-celinguk dengan pandangan setengah kosong. Dia tidak menjawab kata-kata ayahnya itu.
‘Dijawab tho, mas Priyo. Mau sekolah di sini ndak?’ tanya ibu Purwati.
‘Mau… aku mau sih… Tapi kalau aku sekolah di sini nggak boleh dimarah-marahin ya….!?!’ jawab Priyo asal mangap.
‘Kalau kamu mau jadi murid yang baik kenapa mesti dimarahin. He..he..he.. Ya nggaklah,’ ujar ibu Purwati pula.
‘Tapi di sini….. aku boleh nyuntik nggak?’ tanya anak ajaib itu lagi.
Ibu Purwati melongo mendengar pertanyaan yang tidak terduga seperti itu. Sebaliknya, muka kolonel Sudibyo berubah merah madam mendengar ocehan anaknya itu.
‘Yooo..Priyo..! Kowe iki nanti tak kemplangno lagi lho. Kan papi sudah bilang. Kalau mau jadi orang yang bener ndak ada lagi yang namanya suntik-suntikan itu. Piye toh kamu iki? Katanya sudah insap. Katanya sudah nggak mau nyoba-nyoba lagi. Lha piye toh? Pokok-e papi ndak mau kamu itu bikin malu papi lagi lho. Wis, ngene bae. Jeng Pur! Tak titip no bocah iki dengan masa percobaan deh. Kalau kumat lagi apa boleh buat. Di keluarno ae, wis. Tapi tolong bener ya, jeng Pur?’ kolonel Sudibyo jadi salah tingkah gara-gara anaknya.
‘Gini mas Priyo. Di sekolah ini tidak ada ceritanya main-main dengan obat terlarang. Kamu tidak boleh main-main suntikan begitu di sini. Kalau mas Priyo benar-benar mau sekolah di sini harus dilupakan yang namanya obat-obat terlarang. Suntik-suntikan dan sebagainya itu. Bagaimana kira-kira? Sanggup tidak?’ tanya ibu Purwati.
Priyo memandang ibu Purwati dengan pandangan setengah kosong. Mungkin dia tidak sepenuhnya mendengar apa yang baru diucapkan ibu Purwati.
‘Gimana kalau aku sekolahnya nanti kapan-kapan aja, pi? Kayaknya di sini aku nggak suka deh. Kayaknya tante ini nggak suka sama aku,’ Priyo berceloteh seperti mengigau.
Kolonel Sudibyo jadi kehilangan akal. Kenapa anak ini berubah lagi? Bukankah kemarin malam dia bilang dia mau bersekolah? Kemarin dia kelihatan sehat sekali. Ngomong dengan sangat sopan. Ngomong dengan sangat meyakinkan. Dia bilang bahwa dia mau berusaha berubah menjadi anak yang baik. Kok sekarang jadi begini lagi?
‘Tidak. Tidak bisa begitu. Kamu harus sekolah. Kamu harus mau patuh menjadi murid di sini. Kamu sudah berjanji tadi malam bahwa kamu mau berubah menjadi anak baik. Sudah papi bilang. Kamu harus mencoba bersekolah di sini dan kamu tidak boleh macem-macem. Kalau kamu masih macem-macem papi suruh masukin di penjara kamu. Kamu dengar tidak?’ kolonel Sudibyo menyerocos tidak kalah ngawur.
Ibu Purwati jadi bingung mendengar celotehan ayah dan anak itu. Dia jadi serba sulit. Kelihatannya, Priyo ini tidak siap untuk bersekolah. Kelihatan sekali dia tidak dalam keadaan normal. Mungkin dia sedang ketagihan atau masih di bawah pengaruh obat yang entah kapan terakhir kali digunakannya. Ibu Purwati yakin sekali bahwa anak ini akan menimbulkan masalah nantinya. Mungkin dengan guru-guru, mungkin dengan murid-murid lain. Dan dengan pak kepala sekolah. Tapi bagaimana menjelaskan hal ini kepada sepupunya kolonel Sudibyo yang kelihatannya memaksa sekali agar anaknya bisa bersekolah di sini?
‘Kelihatannya mas Priyo ini kurang sehat, lho mas. Sebaiknya dia berobat dulu. Saya khawatir dia tidak siap untuk ikut belajar saat ini,’ ujar ibu Purwati.
‘Apa bener kamu sakit? Wah ngawur tenan iki bocah. Kamu ini bagaimana sih?’
‘Aku capek dan ngantuk, pi. Biar aku sekolahnya besok-besok aja deh,’ Priyo kelihatan semakin lemas.
‘Lha, tadi malam kok kamu ngomong baik bener? Semangat bener? Katanya sudah insap beneran. Mau sekolah beneran. Piye toh? Kamu…. kamu…. tadi main obat suntik lagi tho?’ kolonel Sudibyo ikut kebingungan.
‘Maaf, mas…... Apa mas Priyo ini tidak sebaiknya dirawat di panti rehabilitasi? Biar bener-bener sembuh dari kebiasaan nyuntik-nyuntik itu?’ tanya ibu Purwanti.
‘Saya maunya begitu, jeng. Tapi maminya yang bikin repot. Maminya yang ndak mau. Anak ini terlalu dimanja sama maminya. Bocah iki dhadi rusak koyo ngene gara-gara maminya yang terlalu memanjakannya sangat berlebihan,’ kolonel Sudibyo menyalahkan istrinya.
‘Ya… tapi kalau melihat keadaannya seperti ini sekarang saya rasa akan lebih baik dirawat dulu gitu lho, mas. Kasihan mas Priyo ini. Kalau nggak dirawat baik-baik… kan sayang nantinya. Kok kelihatannya mas Priyo ini tambah lemes begitu ya??’ ibu Purwati memperhatikan Priyo yang semakin lemah saja.
Sementara itu tubuh Priyo tiba-tiba menggigil. Badannya sempoyongan. Untung sempat ditahan kolonel Sudibyo sehingga tidak jadi jatuh. Anak itu merintih-rintih seperti sedang sakit parah. Agaknya dia sedang ‘ketagihan’. Kolonel Sudibyo memeluk Priyo sambil mengguncang-guncangkan tubuh anak muda yang malang itu.
‘Kamu kenapa, ‘Yo? Kamu kenapa sih? Wadduh, kok malah begini ini, piye toh? Kenopo sih iki, kok bocah iki dhadi semaput ngene,’ kolonel Sudibyo makin kebingungan.
‘Aku harus nyuntik…aku harus nyuntik… aku harus nyuntik.. Kalau nggak aku bisa matii….,’ Priyo merintih-rintih dengan suara setengah berbisik.
‘Lha, piye toh? Bocah iki kumat maning? Piye toh iki. Aku yo orak ngerti iki. Kudhune piye sih iki?’
‘Mas Dibyo kuat menggotong dia? Sebaiknya dia segera kita bawa ke rumah sakit,’ saran ibu Purwati.
‘Ya iyo. Tak gotongno. Wadduh, kok malah bikin perkara bae bocah iki,’ kata kolonel Sudibyo, menggotong tubuh anaknya yang kurus itu keluar, sambil berjalan tergesa-gesa ke tempat parkir.
Ibu Purwati mengiringi kolonel Sudibyo dari belakang. Pak Kosasih yang sedang berada di kantor Tata Usaha terheran-heran melihat pemandangan itu. Begitu juga dengan pak Mursyid yang melihat dari lapangan basket, melongo sambil berdiri terpaku. Slamet, sang supir cepat-cepat menyongsong kedatangan mereka, tapi malahan dibentak oleh kolonel Sudibyo.
‘Buka pintu mobil, sono! Cepat!’ hardiknya.
Slamet bergegas kembali ke arah mobil, membukakan pintu mobil itu lebar-lebar.
Pak Umar baru datang dengan mengendarai Vespa. Dia terheran-heran melihat seseorang berpakaian murid SMU dibopong seorang tentara ke arah mobil di tempat parkir mobil, diiringi ibu Purwati. Pak Umar mengarahkan Vespanya ke arah mobil itu ingin menanyakan apa yang terjadi. Begitu mendekat, belum sempat berkata apa-apa, dia langsung dibentak kolonel Sudibyo.
‘Mau lihat apa kamu? Ini bukan tontonan! Jangan dekat-dekat! Pergi sana!’ bentak kolonel itu kepada pak Umar. Pak Umar diam saja.
‘Mas Dibyo, maaf…….. Ini pak Umar, bapak kepala sekolah ini….,’ ibu Purwati menjelaskan.
Kolonel Sudibyo memperhatikan penampilan pak Umar yang memang biasa-biasa saja itu. Dia agak salah tingkah begitu mendengar bahwa yang datang itu adalah kepala sekolah. Meskipun sudah terlanjur berkata kasar namun dia tidak berniat memperbaiki ucapannya itu dengan meminta maaf. Mungkin pikirannya masih kalut.
‘Yo wis. Jeng Pur. Tak tinggalno ndisek, yo. Monggo. Matur nuwun,’ katanya sambil masuk kedalam mobil sedan Timor yang segera berlalu.
Monday, November 17, 2008
SANG AMANAH (64)
(64)
‘Bagaimana kalau seandainya pada awalnya memang disebabkan kekeliruan, tapi fihak Direktorat tidak mau mengoreksinya dan membiarkan saja alias menjadikan ketetapan itu sebagai sebuah percobaan?’ tanya ibu Purwati pula.
‘Kalau menurut ibu Purwati sendiri bagaimana?’ pak Muslih balik bertanya.
‘Saya kok ya khawatir bahwa sekolah ini sedang masuk sebuah jebakan untuk dijadikan kelinci percobaan oleh Direktorat,’ ujar ibu Purwati tanpa menjawab pertanyaan pak Muslih.
‘Bapak-bapak dan ibu-ibu. Tidak ada sedikitpun yang perlu dikhawatirkan. Kalau ini sebuah kekeliruan biarlah fihak Direktorat sendiri yang mengoreksinya. Kalau ini sebuah percobaan, mari kita buktikan bahwa percobaan itu tidak mesti sia-sia hasilnya. Kalau ini sebuah kepercayaan meski kelihatannya tidak mudah untuk direalisasikan, sekali lagi mari kita berusaha merealisasikannya dengan segenap kemampuan dan sarana yang kita punyai. Kewajiban kita hanya berusaha. Apapun hasilnya nanti, selama kita sudah berusaha, tidak ada yang perlu kita takutkan atau khawatirkan. Saya sekali lagi tidak keberatan dengan keinginan pak Muslih untuk mencari informasi ke Direktorat. Silahkan tanyakan. Apapun jawaban dari fihak Direktorat akan kita terima secara wajar,’ pak Umar menambahkan.
‘Kapan pak Muslih akan pergi menanyakan?’ tanya pak Hardjono.
‘Sesegera mungkin. Tapi apakah saya harus pergi sebagai utusan SMU 369?’ tanya pak Muslih agak ragu-ragu.
‘Saya rasa tentu tidak. Bukankah tadi pak Muslih sendiri yang mengajukan diri untuk mengecek ke sana?’ jawab pak Hardjono.
‘Saya setuju dengan pak Hardjono. Silahkan pak Muslih bertanya secara tidak formal. Jadi bukan sebagai utusan SMU 369. Apapun jawaban mereka akan kita terima apa adanya. Saya harap fihak Direktorat akan mengeluarkan suatu pernyataan tertulis seandainya ada perubahan ketetapan dari yang sudah kita terima. Kalau tidak ada pernyataan tertulis tentu tidak mungkin pula kita ikuti. Katakanlah misalnya seseorang di Direktorat mengatakan bahwa ketetapan itu memang keliru, tapi tidak dengan mengeluarkan surat resmi, maka kita tidak dapat membatalkan sefihak surat resmi yang sudah kita terima sebelumnya,’ kata pak Umar menengahi.
‘Apakah dengan demikian, seandainya memang ada kekeliruan, pak Muslih boleh minta supaya surat yang terdahulu itu dibatalkan?’ tanya ibu Purwati lagi.
‘Silahkan,’ jawab pak Umar.
‘Maaf pak. Kalau demikian sebaiknya pak Muslih tidak pergi sendirian. Bukan apa-apa. Saya mulai khawatir bahwa sebagian dari kita memang cenderung membatalkan ketetapan ini. Tujuannya bukan lagi sekedar mengecek tapi lebih jauh lagi dari itu, bahkan ingin meminta pembatalan ketetapan Direktorat itu,’ usul pak Hardjono.
‘Maaf pak Hardjono. Pertama saya setuju ada yang menemani saya pergi ke sana meskipun kita bukan sebagai utusan resmi sekolah. Maksudnya biar ada saksi bahwa yang saya tanyakan hanya hal yang perlu ditanyakan saja tanpa usulan atau permintaan apa-apa. Kalau tidak ada yang menyaksikan, saya justru khawatir dikira mengkhianati SMU 369 nantinya. Jadi biar ada yang jadi saksi. Kedua, saya benar-benar ingin memverifikasi saja. Tidak ada niat saya meminta pembatalan dari fihak Direktorat seandainya ketetapan itu keliru sekalipun. Jadi saya hanya akan bertanya secara sederhana apakah penetapan SMU 369 sebagai calon sekolah unggulan bukan merupakan kekeliruan mengingat selama ini prestasi SMU 369 biasa-biasa saja,’ pak Muslih menjelaskan.
‘Apakah ibu Purwati ingin menemani pak Muslih kalau begitu?’ tanya pak Umar.
Semua guru-guru terdiam mendengar tawaran pak Umar kepada ibu Purwati. Hampir semua mereka menyadari bahwa ibu Purwati adalah yang kurang berkenan dengan ketetapan Direktorat itu. Tapi kenapa pak Umar malahan menawarkan ibu Purwati untuk menemani pak Muslih? Ibu Purwati tidak segera menjawab pertanyaan itu. Guru-guru yang lain menatap ke arah ibu Purwati, menunggu jawabannya sehingga dia jadi agak salah tingkah.
‘Jangan sayalah,’ jawab ibu Purwati akhirnya.
‘Atau ada yang ingin mengajukan diri?’ tanya pak Umar lagi.
‘Bagaimana kalau pak Muslih ditemani ibu Sofni dan ibu Lastri?’ usul pak Mursyid.
‘Lho, kenapa mesti jadi lebih banyak?’ tanya pak Hardjono.
‘Perasaan saya mengatakan, ibu Sofni mewakili yang tidak keberatan sama sekali dengan ketetapan Direktorat itu sementara ibu Lastri mewakili yang keberatan. Ibu-ibu berdua hanya untuk jadi saksi. Yang akan bertanya adalah pak Muslih,’ pak Mursyid menjelaskan.
‘Bagaimana ibu Sofni dan ibu Lastri? Kira-kira bisa diterima usulan pak Mursyid itu?’ tanya pak Umar pula.
Kedua ibu guru itu menyatakan kesediaannya. Dan ditetapkan bahwa mereka bertiga akan pergi ke kantor Direktorat Pendidikan Menegah besok pagi. Ibu Purwati cukup puas dengan keputusan itu
*****
Besoknya, sesuai dengan kesepakatan dalam rapat sebelumnya, pak Muslih dengan ditemani ibu Lastri dan ibu Sofni pergi ke kantor Direktorat Pendidikan Menengah dengan menaiki taksi. Pak Muslih agak salah tingkah. Bagaimana caranya dia bertanya nanti? Dan kepada siapa dia akan bertanya? Apakah dia akan bertanya langsung ke bapak Dirjen? Tentu tidak mungkin dan akan sangat tidak etis hal itu dilakukan. Apa lagi dalam kapasitasnya bukan sebagai utusan sekolah secara resmi. Tapi kalau tidak, kepada siapa dia akan bertanya? Pak Muslih tidak punya kenalan siapapun di kantor itu. Ah, kenapa kemarin dia berlaku sok kritis mau menanyakan hal itu? Sementara itu, kedua ibu guru yang mendampinginya hanya akan menjadi saksi saja sesuai kesepakatan rapat kemarin. Jadi tidak ada yang bisa diharapkan dari kedua ibu guru itu.
Pak Muslih jadi ‘stress’ sendiri. Tentu tidak mungkin pula dia mengundurkan diri karena kemarin dia yang mengusulkan untuk menanyakan masalah itu. Pak Muslih berfikir keras untuk mendapatkan jalan keluar dari kemelut yang dibuatnya sendiri. Keringat dingin tanpa disadarinya mengalir deras. Tidak terasa akhirnya mereka sampai di kantor Direktorat Jenderal Pendidikan Menengah. Ibu Sofni heran melihat baju pak Muslih basah oleh keringat sementara AC taksi itu cukup dingin. Tapi ibu Sofni segera mengerti bahwa kelihatannya pak Muslih kehilangan rasa percaya dirinya. Pak Muslih tidak berbicara sepatah kata juapun. Ibu Sofni merasa kasihan melihat keadaan pak Muslih seperti itu dan menawarkan untuk menemui kenalannya, seorang kepala bagian di kantor itu yang barangkali dapat membantu pak Muslih melaksanakan misi pengecekannya.
Mereka bertiga menuju kantor pak Iwan Setiawan, kepala bagian Penempatan Pegawai. Ibu Sofni berpura-pura bertanya kalau ada rencana penambahan staf guru untuk SMU 369. Pak Iwan Setiawan agak heran dengan pertanyaan itu namun tetap berusaha menjawabnya, bahwa sementara ini belum ada rencana seperti itu. Pak Iwan menanyakan apakah pertanyaan seperti itu muncul disebabkan terpilihnya SMU 369 sebagai calon sekolah unggulan. Ibu Sofni mengatakan bukan karena itu. Perlahan-lahan, timbul juga keberanian pak Muslih untuk bertanya.
‘Maaf pak. Sebenarnya, kami di samping gembira juga agak was-was. Kalau-kalau penetapan SMU 369 sebagai calon sekolah unggulan bukan karena hal-hal yang tidak disengaja. Apakah pak Iwan Setiawan punya informasi tentang kriteria penetapan itu?’ tanya pak Muslih.
‘Begini, pak. Cara penilaian seperti yang sekarang ini memang merupakan suatu terobosan dari bapak Dirjen yang baru. Tujuannya adalah mengoptimalkan setiap kemampuan yang ada di masing-masing sekolah untuk meningkatkan mutu pendidikan. Oleh karena itu fasilitas serta sarana yang dimiliki setiap sekolah diamati dengan sangat hati-hati. Saya kebetulan ikut dalam tim penilai sekolah-sekolah yang dipilih. Jadi ada bermacam-macam faktor yang dijadikan sebagai prasyarat. Di antaranya adalah sarana dan prasarana yang ada. Jumlah murid-murid dan jumlah kelas. Fasilitas laboratorium dan perpustakaan yang tersedia. Jumlah guru-guru yang mengajar. Pengalaman kerja masing-masing guru. Termasuk tentu saja kepala sekolahnya. Semuanya kami beri nilai. Dari penilaian itu kami teliti sekolah-sekolah mana saja yang punya potensi untuk disiapkan menjadi sebuah sekolah unggulan. Terpilihnya SMU 369 karena dalam hal sarana dan prasarana sekolah itu memang mempunyai nilai lebih. Dan kami berkeyakinan bahwa SMU 369 seharusnya mampu membuktikan hal itu,’ pak Iwan Setiawan menjelaskan.
‘Jadi boleh dikatakan ini merupakan suatu uji coba, begitu pak?’ tanya pak Muslih lagi.
‘Meski tidak sepenuhnya benar, bapak boleh saja beranggapan demikian. Seperti saya katakan, kami bekerja dalam sebuah tim yang cukup solid di sini. Kami mempunyai semua informasi tentang setiap sekolah negeri yang ada. Kondisi sekolahnya, kelengkapan sekolahnya, staf guru-gurunya. Pokoknya kami mengetahui semua itu. Dan tanpa bapak-bapak dan ibu-ibu ketahui, kalau ada informasi yang kurang jelas, kami datang untuk mengeceknya langsung ke sekolah bersangkutan. Hanya saja penilaian ini kami lakukan diam-diam. Pada saatnya nanti Direktorat akan mengumumkan hasil penilaian tersebut untuk diketahui sekolah-sekolah yang lain. Agar mereka bisa pula berusaha mempersiapkan diri untuk penilaian yang akan datang. Tadi saya katakan, bapak boleh saja beranggapan bahwa hal ini merupakan suatu uji coba. Itu benar, karena tidak tertutup kemungkinan sekolah bapak gagal dalam memenuhi persyaratan menjadi sekolah unggulan itu sesudah jangka waktu yang ditetapkan,’ kata pak Iwan Setiawan menjelaskan.
‘Baiklah, pak. Terima kasih atas penjelasan pak Iwan. Seperti saya katakan tadi, sebagian di antara kami para guru SMU 369, agak was-was kalau-kalau sekolah kami yang belum pernah berprestasi itu salah pilih untuk dijadikan percontohan. Dengan keterangan pak Iwan ini kami jadi yakin dan mudah-mudahan kami akan termotivasi untuk bekerja keras membuktikan bahwa penilaian Direktorat tidak keliru,’ ungkap pak Muslih.
‘Saya percaya itu, pak. Saya yakin kami tidak salah pilih. Saya mengucapkan selamat bekerja kepada guru-guru SMU 369. Untuk itu, sebagaimana yang mungkin bapak dan ibu-ibu ketahui akan ada penataran khusus bagi kepala sekolah yang dipilih selama waktu-waktu liburan sekolah nanti. Saya yakin kepala sekolah SMU 369 sudah diberi tahu tentang itu,’ tambah pak Iwan Setiawan.
‘Kalau begitu kami mohon diri dulu pak. Sekali lagi kami mengucapkan terima kasih banyak atas informasi yang bapak berikan,’ kata pak Muslih sambil mohon diri.
‘Baiklah bapak dan ibu-ibu. Tapi maaf, ngomong-ngomong apakah bapak dan ibu-ibu ini tim verifikasi dari SMU 369 yang ditugaskan resmi oleh sekolah?’ tanya pak Iwan Setiawan pula.
‘Bukan tim verifikasi resmi dari sekolah pak. Seperti yang tadi dikatakan pak Muslih, di samping sangat gembira, ada sedikit kekhawatiran kami kalau-kalau penetapan Direktorat itu ada unsur kekeliruannya. Ada beberapa guru-guru yang ragu-ragu, jangan-jangan pilihan itu kurang tepat,’ jawab ibu Lastri.
‘Oh, begitu?! Tidak ada salahnya juga untuk diverifikasi, kok. Tapi sekali lagi, ketetapan itu adalah hasil kerja sebuah tim yang terdiri dari banyak orang. Kami sepuluh orang yang ditugasi oleh bapak Dirjen sebagai anggota tim dan setiap penilaian kami harus dipresentasikan di hadapan beliau secara jelas. Dan didiskusikan. Bapak pimpinan menanyakan hal-hal yang tidak jelas sampai yang sekecil-kecilnya. Jadi faktor kekeliruannya kami usahakan seminimal mungkin. Bapak-bapak dan ibu-ibu guru SMU 369 tidak usah khawatir. Silahkan berkiprah dan bekerja keras saja sesudah ini untuk membuktikan kemampuan SMU 369,’ jawab pak Iwan Setiawan mengakhiri pembicaraan itu.
Ketiga orang guru itu sangat puas dengan informasi yang mereka dapatkan. Pak Muslih mengakui terus terang bahwa dia tadi sempat sangat cemas tidak akan mendapatkan informasi yang diperlukan. Dia sampai bercucuran keringat dingin. Untunglah ibu Sofni memperkenalkannya dengan pak Iwan dan ternyata pula pak Iwan Setiawan kenalan ibu Sofni dapat menjawab semua keterangan yang mereka perlukan.
Ketiga guru itu kembali ke sekolah membawa berita dan fakta temuan mereka. Informasi itu segera disampaikan kepada semua staff guru-guru. Guru-guru itupun puas dengan berita itu. Dengan demikian, mudah-mudahan setiap guru SMU 369 akan mampu bekerja keras untuk merealisasikan target agar sekolah mereka menjadi sekolah bermutu.
Informasi yang diperoleh pak Muslih yang ditemani ibu Sofni dan ibu Lastri itu sangat menggembirakan pak Umar. Dengan demikian tertepislah anggapan bahwa penetapan SMU 369 jadi calon sekolah unggulan diperoleh dengan cara-cara tidak simpatik. Dengan informasi itu dia mengharapkan tidak ada lagi guru-guru yang berprasangka dan mereka mau diajak bekerja sama untuk mencapai sasaran yang ditetapkan Dirjen agar SMU 369 menjadi sekolah unggulan.
Ibu Purwatipun puas dengan keterangan itu. Dia menyadari prasangkanya sebelum ini ternyata keliru dan berlebih-lebihan. Dan dia berjanji dengan dirinya sendiri untuk ikut membantu usaha memajukan mutu pendidikan di SMU 369. Bagaimanapun juga dia harus mengakui kepemimpinan pak Umar di sekolah ini. Pak Umar tidak pernah menunjukkan sikap bermusuhan kepada siapapun, tentu saja tidak juga kepada dirinya sendiri. Dia semakin menyadari bagaimana berwibawanya kepemimpinan pak Umar sesungguhnya.
*****
‘Bagaimana kalau seandainya pada awalnya memang disebabkan kekeliruan, tapi fihak Direktorat tidak mau mengoreksinya dan membiarkan saja alias menjadikan ketetapan itu sebagai sebuah percobaan?’ tanya ibu Purwati pula.
‘Kalau menurut ibu Purwati sendiri bagaimana?’ pak Muslih balik bertanya.
‘Saya kok ya khawatir bahwa sekolah ini sedang masuk sebuah jebakan untuk dijadikan kelinci percobaan oleh Direktorat,’ ujar ibu Purwati tanpa menjawab pertanyaan pak Muslih.
‘Bapak-bapak dan ibu-ibu. Tidak ada sedikitpun yang perlu dikhawatirkan. Kalau ini sebuah kekeliruan biarlah fihak Direktorat sendiri yang mengoreksinya. Kalau ini sebuah percobaan, mari kita buktikan bahwa percobaan itu tidak mesti sia-sia hasilnya. Kalau ini sebuah kepercayaan meski kelihatannya tidak mudah untuk direalisasikan, sekali lagi mari kita berusaha merealisasikannya dengan segenap kemampuan dan sarana yang kita punyai. Kewajiban kita hanya berusaha. Apapun hasilnya nanti, selama kita sudah berusaha, tidak ada yang perlu kita takutkan atau khawatirkan. Saya sekali lagi tidak keberatan dengan keinginan pak Muslih untuk mencari informasi ke Direktorat. Silahkan tanyakan. Apapun jawaban dari fihak Direktorat akan kita terima secara wajar,’ pak Umar menambahkan.
‘Kapan pak Muslih akan pergi menanyakan?’ tanya pak Hardjono.
‘Sesegera mungkin. Tapi apakah saya harus pergi sebagai utusan SMU 369?’ tanya pak Muslih agak ragu-ragu.
‘Saya rasa tentu tidak. Bukankah tadi pak Muslih sendiri yang mengajukan diri untuk mengecek ke sana?’ jawab pak Hardjono.
‘Saya setuju dengan pak Hardjono. Silahkan pak Muslih bertanya secara tidak formal. Jadi bukan sebagai utusan SMU 369. Apapun jawaban mereka akan kita terima apa adanya. Saya harap fihak Direktorat akan mengeluarkan suatu pernyataan tertulis seandainya ada perubahan ketetapan dari yang sudah kita terima. Kalau tidak ada pernyataan tertulis tentu tidak mungkin pula kita ikuti. Katakanlah misalnya seseorang di Direktorat mengatakan bahwa ketetapan itu memang keliru, tapi tidak dengan mengeluarkan surat resmi, maka kita tidak dapat membatalkan sefihak surat resmi yang sudah kita terima sebelumnya,’ kata pak Umar menengahi.
‘Apakah dengan demikian, seandainya memang ada kekeliruan, pak Muslih boleh minta supaya surat yang terdahulu itu dibatalkan?’ tanya ibu Purwati lagi.
‘Silahkan,’ jawab pak Umar.
‘Maaf pak. Kalau demikian sebaiknya pak Muslih tidak pergi sendirian. Bukan apa-apa. Saya mulai khawatir bahwa sebagian dari kita memang cenderung membatalkan ketetapan ini. Tujuannya bukan lagi sekedar mengecek tapi lebih jauh lagi dari itu, bahkan ingin meminta pembatalan ketetapan Direktorat itu,’ usul pak Hardjono.
‘Maaf pak Hardjono. Pertama saya setuju ada yang menemani saya pergi ke sana meskipun kita bukan sebagai utusan resmi sekolah. Maksudnya biar ada saksi bahwa yang saya tanyakan hanya hal yang perlu ditanyakan saja tanpa usulan atau permintaan apa-apa. Kalau tidak ada yang menyaksikan, saya justru khawatir dikira mengkhianati SMU 369 nantinya. Jadi biar ada yang jadi saksi. Kedua, saya benar-benar ingin memverifikasi saja. Tidak ada niat saya meminta pembatalan dari fihak Direktorat seandainya ketetapan itu keliru sekalipun. Jadi saya hanya akan bertanya secara sederhana apakah penetapan SMU 369 sebagai calon sekolah unggulan bukan merupakan kekeliruan mengingat selama ini prestasi SMU 369 biasa-biasa saja,’ pak Muslih menjelaskan.
‘Apakah ibu Purwati ingin menemani pak Muslih kalau begitu?’ tanya pak Umar.
Semua guru-guru terdiam mendengar tawaran pak Umar kepada ibu Purwati. Hampir semua mereka menyadari bahwa ibu Purwati adalah yang kurang berkenan dengan ketetapan Direktorat itu. Tapi kenapa pak Umar malahan menawarkan ibu Purwati untuk menemani pak Muslih? Ibu Purwati tidak segera menjawab pertanyaan itu. Guru-guru yang lain menatap ke arah ibu Purwati, menunggu jawabannya sehingga dia jadi agak salah tingkah.
‘Jangan sayalah,’ jawab ibu Purwati akhirnya.
‘Atau ada yang ingin mengajukan diri?’ tanya pak Umar lagi.
‘Bagaimana kalau pak Muslih ditemani ibu Sofni dan ibu Lastri?’ usul pak Mursyid.
‘Lho, kenapa mesti jadi lebih banyak?’ tanya pak Hardjono.
‘Perasaan saya mengatakan, ibu Sofni mewakili yang tidak keberatan sama sekali dengan ketetapan Direktorat itu sementara ibu Lastri mewakili yang keberatan. Ibu-ibu berdua hanya untuk jadi saksi. Yang akan bertanya adalah pak Muslih,’ pak Mursyid menjelaskan.
‘Bagaimana ibu Sofni dan ibu Lastri? Kira-kira bisa diterima usulan pak Mursyid itu?’ tanya pak Umar pula.
Kedua ibu guru itu menyatakan kesediaannya. Dan ditetapkan bahwa mereka bertiga akan pergi ke kantor Direktorat Pendidikan Menegah besok pagi. Ibu Purwati cukup puas dengan keputusan itu
*****
Besoknya, sesuai dengan kesepakatan dalam rapat sebelumnya, pak Muslih dengan ditemani ibu Lastri dan ibu Sofni pergi ke kantor Direktorat Pendidikan Menengah dengan menaiki taksi. Pak Muslih agak salah tingkah. Bagaimana caranya dia bertanya nanti? Dan kepada siapa dia akan bertanya? Apakah dia akan bertanya langsung ke bapak Dirjen? Tentu tidak mungkin dan akan sangat tidak etis hal itu dilakukan. Apa lagi dalam kapasitasnya bukan sebagai utusan sekolah secara resmi. Tapi kalau tidak, kepada siapa dia akan bertanya? Pak Muslih tidak punya kenalan siapapun di kantor itu. Ah, kenapa kemarin dia berlaku sok kritis mau menanyakan hal itu? Sementara itu, kedua ibu guru yang mendampinginya hanya akan menjadi saksi saja sesuai kesepakatan rapat kemarin. Jadi tidak ada yang bisa diharapkan dari kedua ibu guru itu.
Pak Muslih jadi ‘stress’ sendiri. Tentu tidak mungkin pula dia mengundurkan diri karena kemarin dia yang mengusulkan untuk menanyakan masalah itu. Pak Muslih berfikir keras untuk mendapatkan jalan keluar dari kemelut yang dibuatnya sendiri. Keringat dingin tanpa disadarinya mengalir deras. Tidak terasa akhirnya mereka sampai di kantor Direktorat Jenderal Pendidikan Menengah. Ibu Sofni heran melihat baju pak Muslih basah oleh keringat sementara AC taksi itu cukup dingin. Tapi ibu Sofni segera mengerti bahwa kelihatannya pak Muslih kehilangan rasa percaya dirinya. Pak Muslih tidak berbicara sepatah kata juapun. Ibu Sofni merasa kasihan melihat keadaan pak Muslih seperti itu dan menawarkan untuk menemui kenalannya, seorang kepala bagian di kantor itu yang barangkali dapat membantu pak Muslih melaksanakan misi pengecekannya.
Mereka bertiga menuju kantor pak Iwan Setiawan, kepala bagian Penempatan Pegawai. Ibu Sofni berpura-pura bertanya kalau ada rencana penambahan staf guru untuk SMU 369. Pak Iwan Setiawan agak heran dengan pertanyaan itu namun tetap berusaha menjawabnya, bahwa sementara ini belum ada rencana seperti itu. Pak Iwan menanyakan apakah pertanyaan seperti itu muncul disebabkan terpilihnya SMU 369 sebagai calon sekolah unggulan. Ibu Sofni mengatakan bukan karena itu. Perlahan-lahan, timbul juga keberanian pak Muslih untuk bertanya.
‘Maaf pak. Sebenarnya, kami di samping gembira juga agak was-was. Kalau-kalau penetapan SMU 369 sebagai calon sekolah unggulan bukan karena hal-hal yang tidak disengaja. Apakah pak Iwan Setiawan punya informasi tentang kriteria penetapan itu?’ tanya pak Muslih.
‘Begini, pak. Cara penilaian seperti yang sekarang ini memang merupakan suatu terobosan dari bapak Dirjen yang baru. Tujuannya adalah mengoptimalkan setiap kemampuan yang ada di masing-masing sekolah untuk meningkatkan mutu pendidikan. Oleh karena itu fasilitas serta sarana yang dimiliki setiap sekolah diamati dengan sangat hati-hati. Saya kebetulan ikut dalam tim penilai sekolah-sekolah yang dipilih. Jadi ada bermacam-macam faktor yang dijadikan sebagai prasyarat. Di antaranya adalah sarana dan prasarana yang ada. Jumlah murid-murid dan jumlah kelas. Fasilitas laboratorium dan perpustakaan yang tersedia. Jumlah guru-guru yang mengajar. Pengalaman kerja masing-masing guru. Termasuk tentu saja kepala sekolahnya. Semuanya kami beri nilai. Dari penilaian itu kami teliti sekolah-sekolah mana saja yang punya potensi untuk disiapkan menjadi sebuah sekolah unggulan. Terpilihnya SMU 369 karena dalam hal sarana dan prasarana sekolah itu memang mempunyai nilai lebih. Dan kami berkeyakinan bahwa SMU 369 seharusnya mampu membuktikan hal itu,’ pak Iwan Setiawan menjelaskan.
‘Jadi boleh dikatakan ini merupakan suatu uji coba, begitu pak?’ tanya pak Muslih lagi.
‘Meski tidak sepenuhnya benar, bapak boleh saja beranggapan demikian. Seperti saya katakan, kami bekerja dalam sebuah tim yang cukup solid di sini. Kami mempunyai semua informasi tentang setiap sekolah negeri yang ada. Kondisi sekolahnya, kelengkapan sekolahnya, staf guru-gurunya. Pokoknya kami mengetahui semua itu. Dan tanpa bapak-bapak dan ibu-ibu ketahui, kalau ada informasi yang kurang jelas, kami datang untuk mengeceknya langsung ke sekolah bersangkutan. Hanya saja penilaian ini kami lakukan diam-diam. Pada saatnya nanti Direktorat akan mengumumkan hasil penilaian tersebut untuk diketahui sekolah-sekolah yang lain. Agar mereka bisa pula berusaha mempersiapkan diri untuk penilaian yang akan datang. Tadi saya katakan, bapak boleh saja beranggapan bahwa hal ini merupakan suatu uji coba. Itu benar, karena tidak tertutup kemungkinan sekolah bapak gagal dalam memenuhi persyaratan menjadi sekolah unggulan itu sesudah jangka waktu yang ditetapkan,’ kata pak Iwan Setiawan menjelaskan.
‘Baiklah, pak. Terima kasih atas penjelasan pak Iwan. Seperti saya katakan tadi, sebagian di antara kami para guru SMU 369, agak was-was kalau-kalau sekolah kami yang belum pernah berprestasi itu salah pilih untuk dijadikan percontohan. Dengan keterangan pak Iwan ini kami jadi yakin dan mudah-mudahan kami akan termotivasi untuk bekerja keras membuktikan bahwa penilaian Direktorat tidak keliru,’ ungkap pak Muslih.
‘Saya percaya itu, pak. Saya yakin kami tidak salah pilih. Saya mengucapkan selamat bekerja kepada guru-guru SMU 369. Untuk itu, sebagaimana yang mungkin bapak dan ibu-ibu ketahui akan ada penataran khusus bagi kepala sekolah yang dipilih selama waktu-waktu liburan sekolah nanti. Saya yakin kepala sekolah SMU 369 sudah diberi tahu tentang itu,’ tambah pak Iwan Setiawan.
‘Kalau begitu kami mohon diri dulu pak. Sekali lagi kami mengucapkan terima kasih banyak atas informasi yang bapak berikan,’ kata pak Muslih sambil mohon diri.
‘Baiklah bapak dan ibu-ibu. Tapi maaf, ngomong-ngomong apakah bapak dan ibu-ibu ini tim verifikasi dari SMU 369 yang ditugaskan resmi oleh sekolah?’ tanya pak Iwan Setiawan pula.
‘Bukan tim verifikasi resmi dari sekolah pak. Seperti yang tadi dikatakan pak Muslih, di samping sangat gembira, ada sedikit kekhawatiran kami kalau-kalau penetapan Direktorat itu ada unsur kekeliruannya. Ada beberapa guru-guru yang ragu-ragu, jangan-jangan pilihan itu kurang tepat,’ jawab ibu Lastri.
‘Oh, begitu?! Tidak ada salahnya juga untuk diverifikasi, kok. Tapi sekali lagi, ketetapan itu adalah hasil kerja sebuah tim yang terdiri dari banyak orang. Kami sepuluh orang yang ditugasi oleh bapak Dirjen sebagai anggota tim dan setiap penilaian kami harus dipresentasikan di hadapan beliau secara jelas. Dan didiskusikan. Bapak pimpinan menanyakan hal-hal yang tidak jelas sampai yang sekecil-kecilnya. Jadi faktor kekeliruannya kami usahakan seminimal mungkin. Bapak-bapak dan ibu-ibu guru SMU 369 tidak usah khawatir. Silahkan berkiprah dan bekerja keras saja sesudah ini untuk membuktikan kemampuan SMU 369,’ jawab pak Iwan Setiawan mengakhiri pembicaraan itu.
Ketiga orang guru itu sangat puas dengan informasi yang mereka dapatkan. Pak Muslih mengakui terus terang bahwa dia tadi sempat sangat cemas tidak akan mendapatkan informasi yang diperlukan. Dia sampai bercucuran keringat dingin. Untunglah ibu Sofni memperkenalkannya dengan pak Iwan dan ternyata pula pak Iwan Setiawan kenalan ibu Sofni dapat menjawab semua keterangan yang mereka perlukan.
Ketiga guru itu kembali ke sekolah membawa berita dan fakta temuan mereka. Informasi itu segera disampaikan kepada semua staff guru-guru. Guru-guru itupun puas dengan berita itu. Dengan demikian, mudah-mudahan setiap guru SMU 369 akan mampu bekerja keras untuk merealisasikan target agar sekolah mereka menjadi sekolah bermutu.
Informasi yang diperoleh pak Muslih yang ditemani ibu Sofni dan ibu Lastri itu sangat menggembirakan pak Umar. Dengan demikian tertepislah anggapan bahwa penetapan SMU 369 jadi calon sekolah unggulan diperoleh dengan cara-cara tidak simpatik. Dengan informasi itu dia mengharapkan tidak ada lagi guru-guru yang berprasangka dan mereka mau diajak bekerja sama untuk mencapai sasaran yang ditetapkan Dirjen agar SMU 369 menjadi sekolah unggulan.
Ibu Purwatipun puas dengan keterangan itu. Dia menyadari prasangkanya sebelum ini ternyata keliru dan berlebih-lebihan. Dan dia berjanji dengan dirinya sendiri untuk ikut membantu usaha memajukan mutu pendidikan di SMU 369. Bagaimanapun juga dia harus mengakui kepemimpinan pak Umar di sekolah ini. Pak Umar tidak pernah menunjukkan sikap bermusuhan kepada siapapun, tentu saja tidak juga kepada dirinya sendiri. Dia semakin menyadari bagaimana berwibawanya kepemimpinan pak Umar sesungguhnya.
*****
Subscribe to:
Posts (Atom)