Wednesday, February 24, 2010

(RENCANA) POLIGAMI

(RENCANA) POLIGAMI

‘Jadi?’ tanya Khairul ketika mereka sudah selesai makan.

‘Apanya yang jadi?’ Arif balik bertanya.

‘Bagaimana rencana kau mau bertambuh?’

‘Kan sudah selesai kita makan. Bertambuh apa juga lagi?’

‘Bukan bertambuh makan…. Bertambuh istri…. Katanya kau akan kawin satu lagi…’

‘Entahlah…. Pening kepalaku…. Macam-macam sekarang syaratnya.’

‘Oh ya? Apa saja syaratnya? Memang dulu tidak banyak syaratnya?’

‘Harus jelas alasan kenapa ingin menikah lagi. Harus ada izin dari istri pertama. Mana ada istri pertama yang mau memberi izin suaminya menikah lagi? Harus ada izin atasan. Entah apa pula urusan atasan kalau awak mau menambah istri. Sementara dia? Berhau-hau dengan istri orang tidak ada masalah.’

‘Tak baik memperkatakan orang. Apa lagi berprasangka buruk….’

‘Memperkatakan orang karena memang harus diperkatakan. Berprasangka buruk kata kau? Kelakuannya bergelanggang mata orang banyak. Sekantor orang tahu. Dan dia seperti bangga dengan apa yang dikerjakannya. Tapi benar juga, itu bukan urusanku. Cuma, urusan awak ini yang kacau.’

‘Sebenarnya apa alasan kau mau menikah lagi?’

‘Itupun tidak perlu kujelaskan kepadamu. Aku yang punya masalah, aku yang tahu keperluanku. Dan menurut hematku menikah satu lagi itu penyelesaiannya. Tapi…. Ternyata repot….’

‘Dimana letak repotnya? Selain alasan-alasan yang kau katakan tadi?’

‘Kalau aku menikah lagi, aku ingin menikah secara resmi. Harus ada surat nikah. Supaya tidak timbul masalah pula di kemudian hari. Tapi justru di situ masalahnya. Ketika aku pergi ke kantor KUA, aku diingatkan tentang semua persyaratan tadi. Tidak boleh ada satupun yang terabaikan. Alias, kalau istri pertama tidak memberikan persetujuan di atas kertas bermeterai, atasan tidak memberikan persetujuan di atas kertas bermeterai, orang KUA tidak mau melayani. Repot kan?’

‘Kepada orang KUA itu…… Tidak kau jelaskan pula apa alasan kau?’

‘Terlanjur kujelaskan. Padahal membuka aib saja. Huh! Malunya aku. Tapi itulah. Mereka bersikukuh dengan persyaratan yang mereka minta.’

‘Ya…. Memang repot kalau begitu. Tapi…. Tidakkah dicoba meminta izin istri secara baik-baik? Siapa tahu istrimu pengertian…’

‘He…he..he.. Kan sudah kubilang. Tidak akan ada istri yang mau mengizinkan suaminya kawin lagi. Apapun alasannya. Termasuk istriku tentu saja…’

‘Kalau begitu banyak-banyak sajalah berzikir….’

‘Maksudmu?’

‘Banyak-banyak mengingat Allah agar keinginan menikah lagi itu bisa terlupakan…’

‘Coba kau jelaskan! Bagaimana sebenarnya pandangan Islam tentang beristri lebih dari satu?’

‘Allah membolehkan. Aku ulangi, membolehkan. Bukan mewajibkan atau menyuruh. Itupun dengan peringatan, sekiranya yang akan beristri lebih dari satu itu mampu berbuat adil. Sekiranya tidak sanggup berlaku adil, cukuplah satu istri saja. Itu ketetapan Allah dalam al Quran.’

‘Apa batasan adil itu?’

‘Adil dalam pembagian nafkah lahir batin kepada masing-masing istri. Dan yang paling berat adalah adil dalam hal kasih sayang.’

‘Kalau seorang laki-laki yang tidak mampu berbuat adil dengan istri-istrinya, adakah sangsinya di dunia?’

‘Entahlah. Aku tidak tahu tentang itu. Tapi aku bisa membayangkan resikonya. Perseteruan di antara sesama istri, ketika yang satu merasa diperlakukan tidak adil.’

‘Adakah keterangan al Quran atau ajaran Nabi SAW tentang keharusan minta izin istri pertama?’

‘Tidak ada.’

‘Coba kau jelaskan pula apa persyaratan agar suatu pernikahan itu syah menurut ketetapan agama Islam.’

‘Ada lima rukunnya. Harus ada calon pengantin laki-laki. Ada calon pengantin perempuan. Ada wali nikah. Ada saksi sekurang-kurangnya dua orang laki-laki dewasa. Dan yang terakhir ada ijab kabul. Sudah, itu saja.’

‘Hanya itu?’

‘Ya, hanya itu.’

‘Tidak perlu ada surat menyurat? Tidak perlu ditulis dan ditanda-tangani oleh para saksi yang hadir itu? Aku dengar untuk masalah hutang piutang ada perintah di dalam al Quran agar ditulis dan juga disaksikan oleh beberapa orang saksi. Apakah pernikahan tidak seperti itu?’

‘Tidak ada. Kalau hutang piutang memang ada perintah Allah seperti itu. Tapi untuk pernikahan tidak ada. Artinya begitu kelima persyaratan tadi itu terpenuhi, pernikahan itu sudah syah. Dan sesudah itu disunahkan menyelenggarakan walimahan. Perjamuan pernikahan. Berhelat atau berpesta semampunya. Tujuannya untuk memberi tahu karib kerabat bahwa kedua pengantin sudah syah menjadi suami istri.’

‘Sekarang orang menyebut-nyebut istilah nikah sirri. Tahukah kau apa maksud nikah sirri itu?’

‘Sirr itu artinya secara diam-diam. Mungkin pernikahan yang dilakukan secara diam-diam. Entah pulalah.’

‘Aku dengar juga begitu. Seorang laki-laki, yang tidak mau istri pertamanya tahu, menikah secara diam-diam. Apakah pernikahan seperti itu syah menurut Islam? Bagaimana pendapatmu?’

‘Kalau secara hukum Islam, selama kelima rukun tadi itu terpenuhi, pernikahan itu sudah syah.’

‘Jadi istilah nikah sirri itu tidak tepat kalau begitu?’

‘Aku rasa tidak tepat. Aku rasa istilah itu tidak dikenal di negara berpenduduk Muslim lainnya.’

‘Keterlaluan kalau begitu….’

‘Maksudmu?’

‘Keterlaluan ketika pemerintah menambah-nambah aturan yang sudah ditetapkan oleh Allah.’

‘Aku tidak mau berkomentar.’

‘Kabarnya, nanti para pelaku nikah sirri itu akan dituntut secara hukum dan akan dimasukkan ke penjara.’

‘Kasihan kalau begitu. Kasihan masyarakat di daerah-daerah tertentu yang tidak memiliki surat nikah. Pada hal mereka sudah menikah secara Islam.’

‘Memangnya ada?’

‘Pasti ada. Di kampung-kampung masih banyak masyarakat yang menjalankan pernikahan secara hukum agama saja tanpa mencatatkannya ke penjabat KUA.’

‘Apakah benar bahwa penjabat KUA berwenang menetapkan persyaratan bagi orang yang akan menikah?’

‘Penjabat KUA itu kan pegawai pemerintah. Mereka menjalankan perintah.’

‘Bukankah sebenarnya tugas mereka itu hanya untuk mencatat pernikahan saja.’

‘Mungkin awalnya demikian. Tapi sesudah pemerintah memberikan tugas tambahan, dengan mendata status calon pengantin akhirnya ditugaskan pemerintah pula untuk menjaring dan mencegah agar orang tidak menikah secara tidak terdaftar.’

‘Seandainya mereka yang sudah menikah berpuluh tahun yang lalu, tapi tidak punya surat nikah, apa yang harus mereka perbuat? Apakah menerima saja seandainya nanti dimasukkan ke penjara?’

‘Pertanyaanmu sangat sulit. Aku tidak sanggup menjawabnya.’

‘Apakah dulu orang-orang tua kita mencatatkan pula pernikahan mereka ke KUA?’

‘Peraturan pemerintah atau undang-undang perkawinan itu baru ada sejak tahun 1974. Sebelum itu tidak ada ketetapan seperti itu. Aku tidak yakin bahwa orang-orang tua kita mempunyai surat nikah seperti kita sekarang.’

‘Tentu nanti orang-orang tua kita juga terancam dipenjarakan?’

‘Entahlah.’

Arif terdiam cukup lama. Mungkin dia sedang berpikir keras.

‘Kau….?’ Arif memulai lagi.

‘Kenapa?’ tanya Khairul.

‘Kau sendiri tidak terpikir untuk menikah lagi?’

‘Tidak…. Kenapa?’

‘Kau takut tidak sanggup mengurus persyaratan KUA atau karena alasan lain?’

‘Aku tidak memerlukannya. Bagiku satu istri sudah cukup. Aku tidak punya masalah dengan satu istri.’

‘Seandainya kau punya masalah?’

‘Buat apa masalah diandai-andai?’

‘Aku ingin tahu pendapatmu yang sejujurnya.’

‘Itu adalah pendapatku sejujurnya.’

‘Menurut pemahaman kau, kenapa Allah mengizinkan laki-laki itu beristri sampai empat, meski dengan syarat adil sekalipun?’

‘Karena Allah tahu. Karena Allah Maha Tahu dengan naluri dan keperluan masing-masing hamba Nya. Allah Maha Tahu bahwa ada di antara hambanya itu memang tidak merasa cukup dengan hanya satu orang istri. Dan Allah mengizinkan, karena kalau tidak bisa-bisa orang itu menyeleweng. Malahan melakukan perbuatan yang dilarang Allah. Melakukan perzinaan.’

‘Jadi menurut kau memang ada orang laki-laki yang tidak merasa cukup dengan satu orang istri saja, itu sebabnya Allah izinkan.’

‘Ya.’

‘Bukankah bisa pula seorang wanita merasa tidak cukup terpenuhi hasratnya dengan satu orang suami saja? Dan wanita tidak boleh mempunyai lebih dari satu suami? Bagaimana itu?’

‘Begitu ketetapan Allah. Aku tidak mau mencari-cari alasannya. Aku mendengar dan aku taat dengan ketetapan itu.’

‘Ini pertanyaanku yang terakhir. Seandainya kau jadi aku. Apa yang kau lakukan?’

‘He..he..he.. Bukankah aku tidak mungkin jadi kau? Tapi baiklah. Tadi sudah kukatakan. Banyak-banyak berzikir dan memohon kepada Allah agar hasrat ingin beristri lagi itu bisa dilupakan.’

‘Kalau tidak bisa?’

‘Kalau tidak bisa menikah lagi saja. Cari calon pengantin wanita. Yang ada walinya untuk menikahkan. Cari saksi satu orang lagi. Aku bersedia jadi saksi yang pertama. Lakukan ijab kabul. Kau akan resmi jadi suami istri di mata Allah. Setelah itu berusaha keraslah untuk berlaku adil.’

‘Bagaimana dengan urusan dengan pemerintah?’

‘Hadapi apa adanya.’

‘Huh…. Itu yang berat.’


*****

Monday, February 15, 2010

TUKANG TUNJUK

TUKANG TUNJUK

Perang adalah bencana. Perang adalah kejahilan dan kebrutalan. Perang membawa korban terutamanya di kalangan yang tidak ikut berperang. Di kalangan rakyat berderai yang tidak ikut dan tidak mengerti kenapa terjadi perang. Mereka biasanya yang paling banyak menderita. Perang adalah tempat dimana fitnah dan dendam bisa dikobarkan. Alasan untuk berperang sejak jaman belum ber belum hampir selalu sama. Untuk melampiaskan hawa nafsu di satu fihak dan untuk mempertahankan diri di fihak yang lain. Hawa nafsu serakah ingin berkuasa, hawa nafsu ingin melanggengkan kekuasaan, hawa nafsu karena pantang kelintasan, hawa nafsu nyata-nyata ingin merampok dan menguasai milik orang lain. Maka dikobarkanlah perang. Sebuah negeri diserang, dihancurkan, hunian penduduknya dibumi hanguskan, penduduknya dipecundangi, dilecehkan, dihinakan, dibunuh dengan semena-mena.

Perang juga memecah belah masyarakat. Masyarakat terpaksa, dengan alasannya masing-masing harus berfihak kepada salah satu kelompok dari yang berperang. Berpihak kepada salah satu pihak dalam jaman perang tentu beresiko. Tapi juga memberi jaminan seandainya luput dari resiko.

***

Si Poan punya alasan tidak suka dengan orang PRRI. Tidak suka dengan orang kampung yang mendukung dan membantu orang PRRI. Alasannya karena partai orang tuanya berseberangan dengan partai orang-orang PRRI. Orang-orang PRRI itu kebanyakan adalah orang Masyumi. Orang yang memandang enteng kepada partai ayahnya, PKI. Tapi Poan juga tahu bahwa di kampung boleh dikatakan 99% orang pro PRRI. Poan tahu betul siapa-siapa di antara temannya, anak muda yang ikut lari ke luar, bergabung dengan tentara pemberontak. Diapun pernah diajak ikut. Tentu saja dia menolak. Dengan cara halus.

Suatu hari tentara APRI masuk kampung. Menggeledah rumah-rumah mencari tentara PRRI. Mencari anak-anak muda yang dicurigai ikut jadi tentara PRRI. Anak-anak muda yang ada di kampung berketabungan lari untuk menghindar. Sebenarnya sangat konyol yang mereka lakukan itu. Tiga orang terlihat oleh tentara pusat. Diteriakinya supaya berhenti dan mengangkat tangan. Anak-anak muda itu tidak tahu aturan seperti itu. Tidak mengerti aturan berhenti dan mengangkat tangan. Yang ada di dalam benak mereka hanyalah lari untuk menyelamatkan diri. Sementara tentara APRI yang ‘ringan-ringan tangan’ itu, sesudah sekali diperintahkan berhenti tidak didengar langsung membidik kepala anak-anak muda malang itu. Dor! Anak muda itupun tersungkur. Langsung terjilapak. Inna lillahi wainnaa ilaihi raaji’uun. Si tentara APRI tidak mempedulikan sedikitpun. Dia mencari dan mengejar lagi yang lain. Dan mendornya pula.

Beberapa orang masuk ke rumah-rumah. Memeriksa ke sana ke mari. Dengan sepatu bot yang tidak dibuka. Berderak-derak bunyi tapak sepatu mereka di rumah kayu penduduk. Ada yang sampai memanjat ke atas loteng lalu menyenter-nyenter. Bahkan masuk ke dalam kandang di bawah rumah. Sambil membentak-bentak, menghardik-hardik, menanyakan dimana disembunyikan tentara PRRI. Rakyatpun mati kuncun semuanya.

Si Poan duduk tenang-tenang di rumah. Dengan sangat yakin. Dia tidak akan diapa-apakan oleh tentara APRI itu seandainya mereka naik ke rumah. Dua orang tentara ternyata memang naik ke rumahnya dengan terlebih dahulu menerjang pintu masuk. Soalnya di halaman terjemur tiga helai celana panjang laki-laki. Di ruang atas didapatinya Poan sedang duduk dengan tenang di tikar.

‘Angkat tangan! Kamu pemberontak, ya?!’ teriak seorang dari kedua serdadu itu.

‘Tidak pak. Ambo rakyat,’ jawab Poan dengan tenang.

Tentara itu menodongkan senjatanya ke kepala Poan sambil matanya melotot mencari-cari entah apa di rumah itu. Mata itu akhirnya hinggap di sebuah gambar yang ditempel di pintu lemari. Gambar palu arit.

‘Siapa yang PKI di rumah ini?’ tanya tentara itu dengan nada suara tidak lagi garang.

‘Apak saya, pak,’ jawab Poan.

‘Kau ikut dengan kami ke Bukit Tinggi!’ perintah tentara itu pula.

Dan Poan dibawa. Dinaikkan ke atas mobil truk reo. Dia ditahan dua hari di kantor Balayon B di Bukit Tinggi tapi sesudah itu diijinkan pulang.

***

Tentara APRI makin sering masuk kampung. Dan sekarang menangkapi beberapa orang kampung yang lalu dibawa ke markas Batalyon B dekat lapangan kantin di Birugo. Yang ditangkap umumnya adalah mereka yang punya anggota keluarga ikut lari ke luar alias jadi tentara PRRI. Dan kebanyakan adalah wanita. Yang suaminya atau saudaranya atau anaknya ikut PRRI. Entah dari mana tentara pusat itu tahu. Ditangkap dan dibawa ke Batalyon B itu sangat mengerikan. Banyak orang yang dibawa kesana, terutama yang laki-laki, tidak pulang dan hilang lenyap bak ditelan bumi. Tapi untunglah tidak demikian dengan rombongan ibu-ibu. Setelah ditahan sekitar beberapa minggu, dan diinterogasi siang dan malam, mereka umumnya diijinkan kembali pulang.

Orang kampung curiga. Dimana tentara-tentara pusat itu tahu bahwa ada anggota keluarga wanita-wanita itu orang PRRI? Dengan sebegitu jelasnya? Tentu ada yang memberi angin agaknya. Tapi siapa?

Si Poan boleh dikatakan satu-satunya anak muda yang bisa hidup tenang-tenang saja di kampung. Sekali sepekan dia pergi ke Bukit Tinggi. Pergi menggalas barang mudo. Membawa cabai merah, kentang dan sayur-sayuran yang dikumpulkan dari petani. Tiba-tiba saja dia sudah jadi seorang penggalas. Anehnya dia hanya membawa barang dagangan itu ke pasar Bukit Tinggi saja. Tidak pernah ke pekan-pekan berhampiran. Padahal kebanyakan orang menghindar untuk pergi ke pasar Bukit Tinggi. Takut digeledah dan dibentak-bentak tentara pusat. Tentara pusat memang selalu merazia setiap penumpang bendi yang menuju Bukit Tinggi. Penumpang laki-laki, meski orang tua-tua sekalipun disuruh turun. Digeledah dan ditanyai macam-macam. Barang bawaan ibu-ibu di dalam kambut atau karung diobok-obok.

Pada suatu petang, ketika akan membayar sesudah minum teh telur di lepau mak Tangkudun, selembar kertas yang dikeluarkan Poan dari saku bajunya terjatuh. Mak Pakiah yang duduk di dekatnya mengambil kertas itu dari lantai.

‘Kertas apa ini Poan?’ tanya mak Pakiah sambil menyerahkannya kembali.

‘Catatan jual beli lado mah, mak,’ jawab Poan sambil memasukkan kertas itu kembali ke saku celananya.

‘Si Nuraini kan ndak ada berkebun lado. Kenapa ada pula namanya di kertas itu?’ tanya mak Pakiah sambil lalu tanpa curiga apa-apa.

Nuraini adalah kemenakan mak Pakiah. Suaminya ikut ke luar. Nuraini sampai hari itu sudah hampir sebulan ditahan di Batalyon B.

‘Itu si Nuraini orang penggalas di pasar mah, mak. Pedagang yang membeli lado yang ambo bawa,’ jawab Poan mantap.

‘Oooo, mantun,’ jawab mak Pakiah pula.

Mak Tangkudun, pemilik lepau, menyimak saja soal jawab singkat itu. Setelah Poan berlalu tidak tahan juga hatinya untuk berkomentar.

‘Berdetak saja hatiku,’ kata mak Tangkudun ketika di lepau itu yang tinggal mak Pakiah seorang saja lagi.

‘Tentang apa?’ tanya mak Pakiah.

‘Tentang musang berbulu ayam.’

‘Hah? Siapa pula yang jadi musang?’

‘Apa yang Pakiah baca di kertas yang jatuh sebentar ini?’ tanya mak Tangkudun.

‘Kertas yang mana?’

‘Kertas yang dikembalikan ke si Poan.’

‘Ada tersurat nama Nuraini. Entah kenapa nama itu pula yang tertangkap di mata ambo. Ada nama si Fadilah di bawah itu dan nama-nama entah siapa lagi.’

‘Si Fadilah kan sama-sama dijemput dan dibawa tentara pusat? Tidak ada lagi nama yang lain yang teringat terlihat tadi?’

‘Rukayah..... Ya di atas nama si Nuraini ada Rukayah.’

Mak Tangkudun menghempaskan kopiahnya ke meja.

‘Pastilah kalau begitu. Si Nuraini, si Fadilah dan si Kayah sampai hari ini belum juga pulang dari Birugo. Ndak berdetak hati Pakiah ada kaitan nama-nama di kertas tadi itu dengan kenyataan ibu-ibu yang ditangkapi itu? Kalau ambo sangat yakin ambo sekarang,’ kata mak Tangkudun.

‘Jadi?’ mak Pakiah mulai ikut berpikir. Mulai agak menangkap maksudnya.

‘Tukang tunjuk,’ jawab mak Tangkudun.


***

Alhamdulillah, ibu-ibu yang ditangkap itu akhirnya dilepaskan juga semuanya. Hanya, sesudah itu rumah mereka selalu diintai tentara pusat. Beberapa kali di antara ibu-ibu itu terkejut ketika pergi ke sumur di waktu subuh terserobok dengan tentara sedang duduk bersiaga dekat pintu sumur. Mungkin tentara itu semalaman menanti-nanti tentara luar anggota keluarga penghuni rumah itu. Siapa tahu mereka pulang ke rumah.

***

Seminggu sesudah percakapan mak Tangkudun dan mak Pakiah di lepau, si Poan dijemput orang tengah malam. Tidak sedikitpun dia curiga. Ketika pintu diketuk dan namanya dipanggil, dan yang memanggil itu berbahasa Indonesia, Poan segera turun. Tentu saja dia kaget ketika sampai di halaman. Yang menjemputnya adalah tentara bersenjata tidak berseragam. Poan menghilang tidak tentu rimbanya sejak saat itu.

Beberapa hari sesudah itu wali nagari didatangi tentara pusat. Habis dia ditampari dan dibentak-bentak ketika tentara pusat itu menanyakan kemana perginya si Poan. Wali nagari menjawab sejujurnya bahwa dia tidak tahu. Wali nagari dan wali jorong dibawa ke Birugo dan ditahan sebulan disana. Sesudah sebulan, mereka diantarkan kembali ke kampung dalam keadaan lusuh dan kurus.

*****

Saturday, February 13, 2010

SURAT JALAN

SURAT JALAN

Sudah tiga bulan perang berlangsung. Perang antara tentara APRI yang datang dari ibu kota melawan tentara PRRI. Perang yang ganjil. Perang yang brutal dari pihak yang datang menyerang. Tentara PRRI banyak menghindar. Menghindar ke hutan, ke kampung-kampung yang jauh di pegunungan terpencil. Tentara APRI yang dijuluki rakyat dengan tentara pusat adalah tentara yang bengis dan tega. Mereka menembaki orang-orang yang dicurigai sebagai tentara pemberontak. Kalau terjadi peperangan di dekat suatu kampung lalu ada tentara APRI yang terkorban, maka beberapa rumah di kampung itu dibakar. Itulah sebabnya tentara PRRI menghindar. Karena tidak mau mencelakai dan merugikan rakyat. Ketika PRRI menghindar, tentara APRI dengan mudah menguasai kampung dan nagari, membuat pos di kota-kota kecamatan.

Syamsu batal ikut bergabung dengan tentara PRRI. Ada sebuah telegram dari kakaknya di Padang memberi tahu bahwa maknya yang sejak perang pecah tinggal di Padang, sedang sakit dan masuk rumah sakit. Dia diminta segera datang. Padahal teman-temannya sudah pada pergi semua. Ikut memanggul senjata. Ada delapan orang anak-anak muda yang masih sekolah di SMA, di STM dan SMEA dari kampung yang ikut bergabung dengan kompi Udin Pitok. Syamsupun sudah ikut mendaftar. Tapi tepat sehari sebelum dia seharusnya melapor di markas tentara itu di Lasi Tuo, telegram dari kakaknya itu datang.

Tidak mudah untuk bepergian ke Padang. Meski jarak Bukit Tinggi – Padang sejak dari perhentian oto di Bukit Tinggi sampai ke perhentiannya pula di Padang tidak lebih dari 91 kilometer. Oto bus NPM dapat menempuh jarak itu antara dua sampai tiga jam. Yang lebih sulit adalah untuk mendapatkan surat jalan. Tanpa surat jalan yang ditandatangani komandan tentara APRI jangan dicoba-coba untuk bepergian antar kota. Apa lagi bagi seorang anak bujang mentah seusia Syamsu. Tanpa surat jalan, kalau ada razia di perjalanan, dia akan dituduh tentara PRRI. Akan dituduh tentara pemberontak. Kalau sudah dapat cap seperti itu dia bisa ditembak mati.

Tentara APRI sangat alergi dengan anak-anak muda seusia Syamsu. Di kampungnya sudah tiga orang yang mati ditembak tentara APRI. Anak-anak muda malang yang lari ketakutan ketika tentara APRI secara diam-diam datang masuk kampung. Dan anak-anak muda itu ditembak dari belakang di bagian kepala. Ada yang terkapar di batang air, ada yang tertelungkup di sawah bancah, ada yang tersandar di rumpun betung. Pada hal mereka tidak bersenjata dan lari benar-benar karena takut. Itu pulalah sebabnya kebanyakan anak-anak muda jadi benci kepada tentara pusat. Mereka beramai-ramai mendaftar untuk ikut berperang.

Syamsu harus pergi ke Padang menengok emaknya. Dia bergegas mengurus surat jalan. Yang pertama sekali adalah meminta surat pengantar di kantor wali nagari. Tidak sulit mendapatkan surat ini. Wali nagari menyatakan dalam surat keterangannya bahwa Syamsu akan meneruskan sekolah di Padang. Sekarang surat itu harus dibawa untuk mendapatkan pengesahan dari komandan tentara APRI di kecamatan.

Syamsu diantarkan wali jorong, yang masih terhitung mamaknya, ke kantor Buter. Buter adalah penguasa militer di tingkat kecamatan. Kantor itu menempati sebuah rumah tinggal. Di depan rumah ada gardu jaga dimana selalu ada seorang tentara bersiaga mengawal. Di teras luar rumah itu ada meja dan dua buah kursi. Dua orang tentara duduk disitu. Mereka adalah petugas piket. Siapapun yang ingin berurusan ke kantor itu harus melapor terlebih dahulu kepada tentara petugas piket ini. Agak terjarak ke samping ada dua buah bangku panjang tempat menunggu bagi orang yang ingin bertemu dengan komandan tentara. Ketika Syamsu sampai di kantor itu ada tiga orang wanita separuh baya duduk di bangku panjang. Mereka sedang menunggu untuk diwawancara. Mereka juga ingin mendapatkan surat jalan. Begitu ketentuannya kalau ingin mendapatan surat jalan yang ditandatangani komandan Buter.

Wali jorong yang menemani Syamsu mendaftar melalui tentara piket itu, yang rupanya seorang OPR. OPR adalah tentara bantuan yang dibuat oleh APRI, berasal dari penduduk lokal.

‘Siapa yang hendak berurusan?’ tanya tentara OPR itu dalam bahasa Indonesia.

Kamanakan wak ko ha,’ jawab wali jorong.

‘Di sika harus cara Indonesia!’ kata tentara OPR itu garang.

Mendengar kata-kata ‘disika’ satu di antara ibu-ibu yang sedang menunggu itu menahan tawa sambil menutup mulut.

‘Jangan gelak-gelak. Apa yang digelakkan?’ bentak tentara OPR ke arah ibu-ibu itu.

Si ibu itu menekur dan terdiam. Ibu yang satunya masih tersenyum.

‘Jangan cimees-cimees disika! Kesika mau mintak surat atau mau mencimees? Kalau cimees-cimees nanti kamu tidak diagis surat.’

Perut Syamsu juga memilin mendengar kata-kata tentara yang gagah ini. Dia berusaha menekur menahan rasa geli.

‘Hang yang hendak berurusan?’ bentaknya pula ke arah Syamsu.

‘Iya, pak,’ jawab Syamsu.

‘Ada surat wali nagari?’ tanyanya pula.

‘Ada pak. Ini....’ Syamsu menyerahkan sebuah amplop.

Tentara itu membuka amplop dan mengeluarkan surat pengantar dari wali nagari. Diperhatikannya surat itu dengan bola matanya menari ke kiri dan ke kanan. Syamsu tambah sakit perut melihat tingkah tentara itu. Surat yang ditangan tentara itu terbalik.

‘Catat nama hang disika!’ katanya menunjuk ke sebuah buku tulis besar di atas meja di hadapannya.

Syamsu mengisi buku itu.

‘Catat apo keperluan hang!’ perintahnya lagi.

‘Sudah pak. Sudah awak tulis,’ jawab Syamsu.

‘Apa keperluan hang?’

‘Sudah awak tulis di dalam buku ini.’

‘Apa yang hang tulis? Mau mintak surat apa hang?’

‘Surat jalan, pak.’

‘Suratkan disika. Bahasa hang mintak surat jalan.’

‘Ini sudah awak tulis pak.’

‘Kalau sudah nantikan disinan!’ perintahnya pula sambil menunjuk ke bangku panjang.

Kedua lelaki itu pergi duduk ke bangku yang ditunjukkan. Lamat-lamat Syamsu mendengar kedua tentara itu berbicara setengah berbisik.

Indak ba hang do. Ba kau,’ kata kawannya.

Maa lo jaleh di ang. Kau tu untuak padusi,’ jawab tentara itu.

Dua orang tentara lain datang. Kedua tentara OPR itu berdiri dan memberi hormat. Rupanya yang datang itu komandan di kantor ini. Dia itulah yang biasa di sebut orang pak Buter.

Satu persatu ibu-ibu yang menunggu itu disuruh masuk menghadap komandan tentara tadi di dalam ruangannya. Masing-masing berada di ruangan itu sekitar sepuluh menit. Akhirnya sampai pula giliran Syamsu disuruh masuk.

‘Inya saja yang masuk. Engku indak berurusan jadi indak boleh masuk,’ tentara OPR tadi mengingatkan ketika dilihatnya wali jorong ikut pula berdiri.

Syamsu masuk sendirian. Dia mengangguk ke arah komandan itu.

‘Ada perlu apa kau?’ bentak komandan tentara itu.

‘Awak mau minta surat jalan, pak,’ jawab Syamsu tenang.

‘Surat jalan apa? Kau ndak ikut berontak?’

‘Tidak, pak,’ jawab Syamsu.

‘Mana surat pengantar?’

Syamsu menyerahkan surat dari wali nagari. Tentara itu membacanya.

‘Dimana kau sekolah?’

‘Di SMA, pak.’

‘Dulu di SMA mana? Kenapa sekarang mau pergi ke Padang melanjutkan sekolah?’

‘Dulu di Bukit Tinggi, pak. Sekarang orang tua ada di Padang.’

‘Ada saudara kau yang ikut memberontak?’

‘Tidak, pak.’

‘Teman-teman kau?’

‘Tidak ada pak.’

‘Bohong kau! Banyak anak-anak muda seumur kau ikut-ikut pergi ke hutan. Masak di kampung kau tidak ada yang ikut?’

‘Awak tidak tahu pak,’ jawab Syamsu.

‘Untung kau masih punya otak, mau bersekolah. Kalau kau ikut-ikut memberontak, suatu saat kau akan terbunuh. Paham kau?’

‘Iya, pak.’

‘Kapan kau mau berangkat ke Padang?’

‘Segera, pak. Kalau bisa hari ini juga.’

‘Ya, sudah. Ini tak tanda tangan. Jangan sampai hilang surat ini. Kalau ada razia di jalan, kau tidak punya surat, habis kau.’

Tentara itu menyerahkan surat jalan itu kepada Syamsu. Dia mengangguk kepada komandan tentara itu sebelum keluar.

‘Sudah selesai urusan hang?’ tanya tentara OPR lagi, begitu Syamsu keluar.

‘Sudah pak,’ jawab Syamsu.

‘Ndak pandai hang berterima kasih agak sedikit?’

‘Terima kasih banyak, pak,’ ujar Syamsu seramah mungkin.

Indak itu do. Tinggalkan tanda terima kasih agak sedikit,’ tambah tentara itu pula.

‘Maksudnya bagaimana, pak?’ Syamsu pura-pura tidak mengerti.

Tentara OPR itu menggesek-gesekkan tiga buah jari tangannya memberi isyarat. Bertepatan dengan itu komandannya keluar.

‘Kok belum pergi kau? Apa lagi?’ tanya komandan itu membentak Syamsu dengan mata melotot.

‘Sudah mau pergi pak,’ jawab Syamsu.

‘Kau siapa? Ada urusan apa?’ bentak komandan itu ke wali jorong.

Ambo wali jorong. Mengawani dia saja,’ jawab wali jorong dengan wajah pucat.

Kedua orang itu segera berlalu dari kantor Buter. Tentara OPR menggerutu dalam hati karena tidak jadi dapat tanda terima kasih.


*****

Saturday, January 23, 2010

RAPAT BERHELAT

RAPAT BERHELAT

Syafwal menerima usulan istrinya agar anak mereka diperhelatkan di kampung. Menerima dengan ikhlas. Meski istrinya membumbui bahwa permintaan itu adalah permintaan mertuanya. ‘Percuma saja rumah dibuat sebesar dan serancak ini tidak dimanfaatkan untuk berhelat,’ begitu kata mak Khadijah, mertuanya. Kakak iparnya, Nursal Sutan Mudo, juga ikut menyemangati. ‘Rancaklah berhelat di kampung. Kalaulah nanti akan ada lagi resepsi di Pakan Baru tidak jadi soal. Yang di kampung ini perlu benar rasanya dilaksanakan. Bukankah menantu awak orang kampung juga meski berbeda kecamatan?’ Begitu kata mamak rumahnya Sutan Mudo itu. Syafwal tidak keberatan sama sekali.

‘Cuma ada satu permintaan saya, uda,’ kata Syafwal.

‘Apa itu?’ taya Sutan Mudo.

‘Kalau berhelat di kampung, kita pakai benar cara di kampung. Cara beradat,’ katanya.

‘Tentulah iya,’ Sutan Mudo menyetujui. ‘Kita rancang betul sebaik-baiknya,’ tambahnya.

‘Kalau begitu besok malam rapat kita. Kita perbincangkan pelaksanaan helat itu,’ usul Syafwal.

Suai. Biarlah besok saya ajak si Pirin, Rajo Bungsu, mak Muncak, mak Malin ke rumah. Gindo ajak pulalah agak berdua bertiga dari tipak bako si Lena. Sesudah sembahyang isya kita mulai rapat,’ Sutan Mudo memberi persetujuan.

‘Baiklah kalau begitu uda,’ jawab Syafwal Bagindo Sati.

***

Sesuai rencana, semua yang diundang rapat telah hadir malam itu. Rapat dipimpin Sutan Mudo. Karena dia mamak rumah. Dia mamak kandung Lena, puteri Syafwal yang akan menikah.

‘Begini mah, mak,’ kata Sutan Mudo, seolah memberi laporan kepada mak Muncak dan mak Malin. ‘Dari fihak Gindo Sati kan sudah sesuai setentangan kerja besar yang akan kita seberangkan ini. Sudah setuju helat si Lena dilaksanakan di kampung. Namun ada sebuah permintaan dari fihak Gindo Sati, yakni supaya helat ini dikerjakan menurut adat. Ini kan permintaan yang sebenar permintaan. Permintaan yang sudah sangat jelas. Kalau kita berhelat di kampung tentu iya kita selesaikan dengan cara di kampung. Tapi supaya lebih jelas lagi, itulah sebabnya maka pada kesempatan ini kita perundingkan, bagaimana tertib pelaksanaannya.’

‘Kalau begitu sudah betul itu. Apa juga yang akan dirundingkan lagi?’ mak Muncak berkomentar.

‘Maksudnya begini, mak. Tolonglah mamak curaikan, rangkaian helat dengan cara beradat itu. Sesudah itu tentu ingin pula kita mendengar dari fihak Gindo, kalau-kalau ada tukuk tambahnya.’

‘Kalau yang secara adat di nagari kita ini, menikah di rumah jadi, atau di masjid pun bisa. Kita tentukan harinya. Kalau sekiranya di rumah, bisa dilaksanakan di sehari sampai atau di hari pelaksanaan ijab kabul. Kalaulah akan dilaksanakan di masjid boleh juga sore hari, atau biasa juga dilaksanakan orang sesudah sembahyang Jumat. Kalau nikah di rumah, yang biasa dilakukan orang, rombongan marapulai datang menjelang maghrib. Marapulai datang dengan mamak-mamaknya beserta anak-anak muda yang mengantarkannya. Langsung diselesaikan ijab kabul malam itu. Sesudah itu makan minum si pangkal dan si alek. Malam itu, malam sampai disebut orang, adalah malam helat marapulai dengan kawan-kawannya sesama anak muda, diiringkan pula oleh seorang berdua mamak-mamaknya.

Besoknya anak daro dijemput oleh rombongan ibu-ibu dari fihak marapulai. Istilahnya pun hari dijemput. Yang datang adalah rombongan perempuan lengkap dengan pasumandannya. Anak daro dan marapulai diarak ke rumah mertua. Di sebelah petang, rombongan itu diantar kembali ke rumah anak daro.

Lalu malam harinya, marapulai membawa mamak-mamaknya, khusus mamak-mamak saja, ke rumah istrinya untuk makan singgang ayam. Maka sudah selesailah helat itu. Begitu yang diadatkan di nagari kita ini,’ jawab mak Malin.

‘Bagaimana kira-kira Gindo?’ tanya Sutan Mudo.

‘Ambo menurut saja..... Tapi ada satu pertanyaan, mak. Di kota dikerjakan orang helat ini dengan acara malam bainai. Apakah itu tidak lazim, mak?’ tanya Syafwal.

‘Itu boleh-boleh saja. Walaupun tidak semua orang mengerjakan. Maksudnya adalah malam menasihati calon anak dara. Datang bako, datang mintuo (istri mamak) untuk memandikan calon anak dara dan melekatkan inai. Mereka membawa hadiah untuk anak ujung emas, calon anak dara. Malam bainai ini kalau mau dikerjakan boleh saja. Biasanya dilakukan semalam sebelum akad nikah. Dan itu adalah helatnya ibu-ibu.’

‘Lalu..... Bagaimana dengan helat untuk tamu orang kampung, nyiak?’ tanya si Pirin.

‘Ha... itu urusan kau lah itu,’ jawab mak Muncak.

‘Hari Minggu kita jamu tamu undangan, kan begitu Gindo?’ tanya Sutan Mudo memastikan.

‘Iyalah uda, saya menurut saja,’ jawab Syafwal.

‘Tapi ada pula kebiasaannya pak etek, helat hari minggu itu biasanya sampai malam,’ Pirin menambahkan.

‘Ya iyalah. Kalau masih ada tamu datang tentu kita layani. Ndak masalah kan, itu?’ jawab Syafwal.

‘Dan biasanya, pada malam hari itu yang datang anak-anak muda kampung. Mereka minta agak diistimewakan sedikit.’

‘Maksudnya?’ tanya Syafwal.

‘Kalau bisa disediakanlah minuman untuk mereka. Khusus untuk malam itu,’ usul Pirin.

‘Sebentar dulu.... Maksudnya bagaimana?’

‘Malam orang berhelat itu, sudah seperti tradisi pula di kampung sebagai malam hiburan untuk anak-anak muda. Mereka akan datang berombongan mendengarkan musik. Begitu biasanya.’

‘Musik? Musik apa? Dari tadi kita tidak ada membicarakan musik,’ Syafwal terheran-heran.

‘Begini, Gindo. Sekarang, dek jaman kemajuan, di kampung ini kalau orang berhelat selalu ada hiburan musik. Orgen tunggal, begitu disebut namanya. Dipanggil tukang orgen. Yang muda-muda nanti akan menyumbang lagu. Bernyanyi di pentas. Kebetulan si Pirin ini pemain orgen tunggal itu,’ Sutan Mudo membantu menjelaskan.

Syafwal tidak segera menjawab. Dia sudah memperkirakan akan ada pembahasan tentang orgen tunggal ini. Justru inilah sebenarnya yang ingin dicegahnya dengan usul untuk melaksanakan perhelatan secara beradat.

‘Jadi, bagaimana pendapat Gindo?’ tanya Sutan Mudo.

‘Saya tidak setuju, uda,’ jawab Syafwal singkat.

‘Maksudnya?’

‘Saya tidak setuju ada acara musik orgen tunggal,’ jawab Syafwal tegas.

‘Itu tidak mungkin pak etek,’ giliran Pirin mengeluarkan pendapat.

‘Kenapa tidak mungkin?’

‘Saya diundang orang kemana-mana berorgen tunggal. Sekarang giliran di rumah bako saya sendiri tidak ada musik. Apa kata orang?’

‘Tidak terlalu faham saya maksudnya.’

‘Pak etek. Bermain orgen ini pekerjaan saya. Dengan ini saya mencari rejeki. Kalau sampai helat si Lena tidak pakai orgen tunggal, kan sama saja namanya pak etek menggulingkan periuk nasi saya. Masak pak etek sampai hati?’

‘Tapi melaksanakan perhelatan tidak ada kewajiban membuat pertunjukan musik. Tidak ada hubungannya itu.’

‘Ada hubungannya Gindo.... Sekarang cara seperti itu yang diperbuat orang. Tidak ramai helat kalau tidak ada orgen tunggal.’

‘Ambo minta maaf, uda. Minta maaf kepada mak Muncak serta mak Malin. Kalau yang satu ini sungguh, ambo tidak mau ikut.’

‘Apa alasan Gindo?’

‘Banyak mudharatnya uda. Sekali lagi mohon maaf mamak-mamak.’

‘Mudharat? Apa mudharatnya?’

‘Sebelum saya jawab. Tadi si Pirin mengawali dengan permintaan agar untuk anak-anak muda di malam hari disediakan minuman. Minuman apa maksudnya?’ tanya Syafwal.

‘Ya.... Minumanlah pak etek. Tapi kalau pak etek tidak mau menyediakan tidak juga jadi masalah. Biarlah mereka urus sendiri urusan minuman itu.’

‘Jadi apa yang akan mereka lakukan pada acara itu? Kenapa perlu minuman? Maaf, maksudnya minuman ini, minuman keras?’

‘Ya... sekedar bir bintang begitulah pak etek. Kan maksudnya untuk sedikit bergembira. Malam muda mudi. Malam gembira. Biar mereka berjoged-joged sebagai bentuk kegembiraan di hari istimewa anak dara dan marapulai,’ Pirin merasa seperti dapat angin.

‘Jawaban saya pasti tidak. Saya tidak setuju dengan acara seperti itu,’ jawab Syafwal.

‘Begini, Gindo. Maksudnya, kita mengerjakan seperti yang dilazimkan orang sekarang. Kalau Gindo tidak setuju dengan menyediakan minuman untuk mereka, seperti kata si Pirin, biarlah mereka urus sendiri apa yang mereka perlukan. Kalau sekedar bermusik-musik itu apa pulalah salahnya.’

‘Sangat salah itu, uda. Ambo meminta pelaksanaan helat ini secara adat adalah untuk menghindarkan hal-hal yang seperti itu. Kalau kita biarkan, kalau ambo biarkan berarti ambo menyokong tradisi baru itu. Tradisi baru kata si Pirin. Tradisi yang jelas sangat banyak kelirunya. Ambo bukan tidak mendengar uda, di acara berorgen tunggal itu biasanya anak-anak muda itu banyak yang sampai mabuk. Yang perempuan berjoged dalam keadaan setengah waras, bergoyang dengan goyangan yang tidak pantas. Ini bukan budaya kita, uda. Yang berjoged dan yang mabuk-mabuk anak kemenakan kita. Ambo tidak setuju membiarkan anak-anak muda itu berbuat yang tidak pantas seperti itu.’

‘Kalau tidak ada orgen tunggal, tidak akan ada orang datang ke perhelatan, pak etek. Percayalah.’

‘Begini Pirin. Hutang kita adalah mengundang. Datang tidak datang terpulang kepada yang diundang.’

‘Dan helat ini bisa saja diganggu anak-anak muda kalau tidak ada orgen tunggal.’

‘Begini sajalah. Urusan orgen tunggal, mohon maaf sebesar-besarnya kepada mamak-mamak, kepada uda, biarlah jadi tanggung jawab saya mengatakan tidak. Kalau ada yang mengganggu saya serahkan urusannya kepada si Misran di kapolsek. ’

Misran adalah kemenakan sepersukuan Syafwal, komandan polisi di kapolsek.

‘Sudahlah. Benar juga yang dikatakan Bagindo Sati. Kita coba mengawali meninggalkan musik orgen tunggal itu. Aku sependapat dengan Gindo. Acara seperti itu merusak,’ mak Malin kembali ikut berbicara.

‘Rapat apa ini. Rapat tidak sendereh...’ kata Pirin merentak lalu bangkit dari duduk dan langsung pergi.

Mak Malin dan mak Muncak tersenyum saja melihat. Nursal Sutan Mudo tidak berani mempertegaki anaknya itu lagi. Dia terpaksa diam saja.


*****

Thursday, January 21, 2010

Pantun 2

Pantun 2

Keselamatan atas engkau para saudara
Dimana saja anda berada
Semoga rahmat Allah senantiasa
Menyertai anda serta berkah Nya

Kusampaikan lagi sebuah cerita
Berasal dari dunia sana
Ketika terlelap aku melihatnya
Gerangan entah apalah makna

Menjelang subuh aku terjaga
Ditepuk pipi dicubit paha
Sambil menggosok-gosok mata
Habis bermimpi aku kiranya

Bergemuruh rasanya darah di dada
Gamang dan takut tidak terkira
Senyampang mimpi menjadi nyata
Betapa menyeramkan itu semua

Di dalam mimpi aku terpana
Maninjau Singkarak berlaga-laga
Marapi Singgalang meronta-ronta
Pasaman Tandikek begitu pula

Bersamun awan di udara
Hitam pekat kelabu tua
Berdesir angin menghalaunya
Bunyi ribut membahana

Tapi yang aneh mempesona
Orang kampung tenang-tenang saja
Seolah tak terjadi apa-apa
Mereka asyik bercengkerama

Rasian yang terlalu kasat mata
Rasanya tidak susah benar tadbirnya
Mimpi buruk sedang menimpa
Minangkabau ranah tercinta

Berkali-kali musibah tiba
Marapi dan Talang mengirim tanda
Berbuat garang mereka bisa
Memanggang nagari di sekitarnya

Jangan ditanya perkara gempa
Sudah berulang dihoyaknya
Handam karam nagari yang dilanda
Masjid dan surau porak poranda

Puting beliung pernah bicara
Pohon besar ditumbangkannya
Semua diterbangkan ke udara
Ranap yang tinggal tak berdaya

Air yang adalah sebuah karunia
Dengannya kehidupan bermula
Tapi ketika sangat banyak dia tiba
Dihanyutkannya segala yang ada

Jadi kalau perkara tanda
Sudah lengkap rasa-rasanya
Allah tunjukkan untuk semua
Bahwa Allah bisa sangat murka

Namun herannya mereka tetap mada
Tidak sedikitpun bisa membaca
Tanda-tanda kekuasaan Nya
Asyik juga berbuat dosa

Batil dan haq dipercampurkannya
Halal dan haram sama direguknya
Tuak dan kopi sama dinonongnya
Perbuatan tercela dikerjakannya

Mereka mempunyai puteri dan putera
Tiba masa menikahkannya
Didatangkan orang siak dan ulama
Untuk menyaksikan ijab kabulnya

Sebuah perbuatan wajib atas mereka
Menikahkan anak-anak remaja
Agar terhindar dari dosa
Dari melakukan perbuatan tercela

Sesudah ijab kabul jadi upacara
Orang banyak di kerumahkannya
Untuk memberikan restu dan doa
Kepada marapulai dan anak dara

Ketika itulah dimulai dosa
Orgen tunggal diadakannya
Entah siapa yang punya budaya
Bunyi musik memekak telinga

Berdentam-dentam membahana
Laksana bunyi meriam belanda
Sedang berperang di medan laga
Tak siapa dapat melerainya

Di siang hari belum puncaknya
Semakin malam semakin bergelora
Tuak dan bir entah dari mana datangnya
Mereka teguk dengan leluasa

Musik orgen tunggal semakin membara
Penyanyi yang biasanya betina muda
Sungkan dan malu jadi tiada
Mereka bergoyang pinggul dan dada

Tidak menunggu terlalu lama
Mabuk dan tenggen datang mendera
Pikiran waraspun jadi sirna
Semua bergoyang mengikuti irama

Inilah batil yang seutuhnya
Pangkal dosa bermacam dosa
Ninik dan mamak hilang wibawa
Tidak seorangpun angkat bicara

Alihkan pula pandangan mata
Ke tengah kampung ke pinggir kota
Orang berdamini atau berkoa
Azan terdengar dibiarkan saja

Kok dilihat pula para remaja
Berkeliaran berbuat semaunya
Ke pinggir laut berhura-hura
Berkeluntun-puntun jantan betina

Seakan-akan belum sempurna
Dari berpacu berbuat durjana
Yang muda berbuat suka-suka
Yang tuapun lupa dituanya

Tidak ada yang sadar seorang jua
Bahwa mereka telah berdosa
Melanggar larangan Allah Ta’ala
Dengan apa yang dikerjakannya

Oleh karena itu wahai saudara
Mari kita ingat-ingatkan jua
Bahwa dahulu tidak serupa
Ketika adab budaya masih dipelihara

Berhelat berkenduri boleh saja
Diundang sanak serta saudara
Orang kampung semuanya
Tanda bersyukur kepada Nya

Bersukacita ada batasnya
Norma susila tetap dipelihara
Tidak semua berseleperan saja
Bergalau tak jelas juntrungannya

Berpesta pora bermusik ria
Berorgen tunggal konon namanya
Handam karam bunyi suaranya
Sangat mengganggu para tetangga

Apalagi ditambah pula
Minum tuak, bir dan sebangsanya
Bernyanyi berjoged bermabuk ria
Perbuatan dosa itu semua

Jadi sekali lagi para saudara
Mari mulai dari diri kita
Kok nyampang berhelat kemenakan kita
Perhelatkan dengan cara biasa saja

Mari kembali makan berjamba
Diringi dengan sedikit hota
Sekedar yang perlu-perlu saja
Ketika kita sama bersila

Bukan karena apa-apa
Kalau tetap juga berbuat dosa
Tanpa pernah merasa jera
Murka Allah yang akan menimpa

Tidakkah kita faham juga?
Dengan semua peringatanNya?
Ketika didatangkanNya berbagai bala?
Untuk mengingatkan kita semua?

Jangan dipandang enteng saja!
Ketika nagari dihoyak gempa!
Puting beliung datang menyapa!
Ombak di laut menggelora!

Semua itu isyarat yang disampaikan Nya
Bahwa kita anak manusia
Sebenarnya tiada kuasa tiada daya
Jadi janganlah ongeh juga

Mari ingatkan anak kemanakan kita
Supaya kembali ke jalan Nya
Beramal salih di alam dunia
Agar di akhirat kelak terpelihara.

Tuesday, January 19, 2010

DERAI-DERAI CINTA (50) (tamat)

50. DERAI-DERAI CINTA (tamat)

Ratih sangat terpukul. Pertanda apa ini? Besok dia akan menikah. Segala sesuatu sudah siap. Undangan sudah beredar. Sore itu, sesudah maghrib, datang berita. Mashudi mengalami kecelakaan fatal di Cimindi. Jiwanya tidak tertolong. Ya Allah…. Ada apa ini? Ratih mengurung dirinya di kamar. Dia menangis. Karena kaget. Karena malu.

Uci menghiburnya dan mengingatkan agar dia berserah diri kepada Allah. Yang sudah terjadi itu merupakan ketentuan Yang Maha Kuasa. Walaupun sakit, walaupun menyesakkan dada, kita sebagai makhluk Allah tidak dapat berbuat apa-apa ketika ketetapan Allah sudah jatuh. Dan yang sebaik-baik sikap adalah bersabar dan berserah diri kepada Allah.

Apa yang dikatakan uci sangat benar. Ratih harus menerima kenyataan itu. Karena memang tidak mungkin menolak. Tidak mungkin memprotes kepada Allah. Yang sudah terjadi ya, sudah. Yang diderita Ratih masih terhitung ringan. Allah bisa saja menetapkan sesuatu yang lebih berat dari itu.

Jenazah Mashudi dimakamkan keesokan harinya sesudah shalat Jumat. Waktu yang dijadwalkan sebelumnya untuk melaksanakan akad nikah. Ratih ikut hadir ke pemakaman di Cimahi.

*

Keluarga pak Bambang Sadarta harus bekerja keras memberitahu handai tolan yang sudah menerima undangan resepsi pernikahan Mashudi dan Ratih, bahwa resepsi itu batal. Tidak terlalu sulit karena yang diundang berada di lingkungan terbatas. Sebagian besar dari mereka yang diundang sudah mendengar kabar duka itu. Teman-teman Ratih tetap datang pada hari Minggu itu untuk melayat. Untuk menghibur Ratih. Di antara yang ikut hadir hari itu adalah Imran dan Syahrul. Mereka datang untuk menyampaikan ikut berduka cita kepada Ratih. Kehadiran kedua anak muda itu cukup mengagetkan Ratih. Terutama kehadiran Imran. Sudah lebih dua tahun mereka tidak pernah bertemu. Sejak Imran meninggalkan Bandung komunikasi mereka terputus.

Imran menyampaikan rasa ikut berduka citanya dan mengingatkan Ratih untuk bersabar. Ratih tersenyum mendengarnya.

*

Dua minggu kemudian. Syahrul datang lagi ke rumah pak Bambang Sadarta. Kali ini berdua dengan Lala. Sukma memberi tahu Ratih atas kedatangan kedua orang itu. Saat itu Ratih sedang membantu uci di dapur.

Ratih terheran-heran melihat Lala datang dengan Syahrul. Tetapi keheranan itu disimpannya saja dalam hati. Mereka bertiga segera terlibat dalam perbincangan.

‘Saya dengar Lala jadi dosen?’ tanya Ratih.

‘Insya Allah. Masih dalam tahap belajar, sih,’ jawab Lala.

‘Asyik, ya…. Pasti nanti ke luar buat mengambil S2. Kayak kak Syahrul…’

‘Doain aja…… Kalau Ratih? Sudah mulai bekerja?’

‘Masih melamar-lamar sih. Kemarin ini ada panggilan untuk interview dari Bayer. Tapi di Jakarta. Ratih masih pikir-pikir.’

Mereka ngobrol ngalor ngidul, ke barat ke timur. Akhirnya Lala menyampaikan maksud kedatangannya.

‘Maaf ya, Ratih. Ada sesuatu yang Lala ingin tanyakan. Sangat pribadi sifatnya. Kalau umpamanya nanti tidak berkenan, Lala mohon maaf sebelumnya….’

‘Oh ya….. Ada apa?’ tanya Ratih.

‘Sekali lagi Lala mohon maaf, sebelumnya. Mungkin ini bukan saat yang terlalu tepat. Tapi Lala benar-benar ingin bertanya secara jujur…’

‘Tentang apa? Kok Lala minta-minta maaf melulu?’

‘Baik…… Lala ingin….. Ingin menyampaikan lamaran bang Imran…. ‘

Jantung Ratih seperti mau copot. Sedikitpun dia tidak menyangka akan mendengar kata-kata itu yang keluar dari mulut Lala. Dia berusaha keras menenangkan diri agar tidak terlihat gugup.

‘Apa….. Apa….. maksudnya?’ tanya Ratih terbata-bata.

‘Kalau hal itu melukai Ratih, sekali lagi Lala minta maaf.’

‘Ratih tidak…… Saya…… Tidak mengerti maksud Lala…. ‘

‘Maksudnya…. Seperti yang dikatakan Lala. Seandainya Ratih tidak berkeberatan, kami mewakili Imran menyampaikan hasrat itu. Tapi seandainya Ratih berkeberatan, kami akan menyampaikannya kepada Imran dan kami minta maaf karena kelancangan ini. Masih berandai-andai, seandainya Ratih mau mempertimbangkannya, Imran sendiri setelah ini akan datang kesini untuk menyampaikannya kepada Ratih,’ Syahrul membantu menjelaskan.

Tanpa disadarinya dua tetes air mata mengalir di pipi Ratih. Dadanya bergoncang hebat. Masih dicobanya untuk bersikap setenang mungkin.

‘Bagaimana jawaban Ratih?’ tanya Lala lagi.

Ratih tidak kuasa menjawab. Beberapa tetes air mata lagi mengalir di pipinya. Ratih menutupi mukanya dengan kedua telapak tangan.

‘Sekali lagi maaf, ya Ratih. Mungkin Ratih perlu waktu berpikir sebelum menjawabnya.’

‘Kak Imran ada di mana sekarang?’ tanya Ratih..

‘Dia ada di Sekeloa,’ jawab Lala.

‘Seandainya…….’

‘Seandainya apa?’ tanya Lala.

‘Seandainya……, dia ada disini…., saat ini.’

‘Ratih mau dia datang kesini?’

Ratih tidak menjawab. Dia tersenyum. Dia menangis. Tetesan air mata kembali bercucuran.

‘Kalau begitu, Lala menyimpulkan saja. Ratih ingin bertemu dengan bang Imran. Kami akan pulang ke Sekeloa. Insya Allah sesudah itu bang Imran akan datang kesini.’

***

Imran datang sore itu. Menemui Ratih. Hati Ratih berbunga-bunga. Ya Allah, Engkau Maha Pemurah, Ratih bergumam dalam hati.

Mereka duduk berdua di ruang tamu itu.

‘Saya ingin….. melamar Ratih,’ kata Imran agak terbata-bata.

Ratih menatap mata Imran. Seuntai senyum berseri di bibirnya. Dan dua tetes air mata kembali mengalir di pipinya. Ratih tidak menjawab.

‘Saya lamar Ratih untuk jadi istri saya….,’ kata Imran lebih tegas.

Ratih tetap tidak menjawab. Bibirnya tersenyum tapi matanya semakin berkaca-kaca.

‘Sekarang jawablah…. Apakah Ratih bersedia…… Jadi istri saya?’

Ratih mengangguk. Ratih bangkit dari duduknya dan lari masuk ke dalam. Masuk ke kamarnya. Menangis.

Tinggallah Imran duduk sendirian. Sukma muncul dari dalam dan duduk di hadapan Imran. Imran tersenyum ke arah Sukma.


tamat

DERAI-DERAI CINTA (49)

49. KALAU TAK JODOH

Rumah petak itu masih begitu-begitu saja. Masih tetap utuh berada di sebelah kanan rumah utama. Penghuninya selalu silih berganti. Jika yang satu pergi kemudian ada lagi penggantinya yang baru datang. Penghuninya selalu mahasiswa, berasal dari berbagai daerah di Indonesia. Mereka adalah penyewa tahunan. Atau istilahnya, mereka mengontrak rumah-rumah petak itu. Ada yang betah tinggal sampai bertahun-tahun disitu tapi ada juga yang hanya untuk satu tahun lalu pindah. Waktu Syahrul dan kemudian Imran tinggal disitu, mereka termasuk yang paling betah. Kedua anak muda itu menempati rumah kontrakan itu selama lima tahun. Selama itu pula kehadiran mereka memberi warna tersendiri di lingkungan itu. Kedua anak muda itu sangat sopan, rajin ke mushala, bergaul dengan masyarakat di sekitar dengan santun. Tidak pernah sekali juga mereka bermasalah dengan penduduk.

Sangat lama Ratih merasa kehilangan sesudah Syahrul dan Imran pergi dari situ. Kedua anak muda itu sangat berbeda dengan penghuni-penghuni lainnya. Lebih sopan dan lebih alim. Terutama Imran, yang lebih akrab dan sering ngobrol dengannya. Ngobrol dengan Imran itu selalu menyenangkan. Dan selalu menambah wawasan karena pengetahuan umumnya luas.

Imran, dulu itu, memang beda. Dia bukan hanya sekedar enak diajak ngobrol tapi juga berkepribadian sangat menyenangkan. Sangat berwibawa. Sangat keras memegang prinsip. Ratih pernah merasa sangat malu dan menyesal, ketika dia mengundang Imran ke acara ulang tahunnya, lalu mengirimi Imran kartu undangan istimewa. Ternyata Imran tidak bisa datang karena dia sedang ke luar kota. Yang membuat Ratih malu adalah ketika kemudian dia menyadari bahwa Imran tidak suka diistimewakan oleh teman wanita yang manapun. Imran tidak mau menjalin hubungan istimewa dengan teman wanita. Kasarnya, Imran tidak mau mempunyai pacar. Dia punya alasan yang sangat prinsipil tentang itu.

Hubungan persahabatan mereka selalu terpelihara dengan baik. Ratih menyenangi kesempatan berbincang-bincang dengan Imran. Perbincangan yang selalu menjadikan Ratih sangat menghormati dan menghargai Imran. Menjadikan dia semakin tertarik kepada Imran.

Diam-diam, awalnya Ratih berharap bahwa pada suatu hari nanti dia akan berjodoh dengan Imran. Tapi kemudian dia mendapat informasi bahwa Imran telah dijodohkan dengan sepupunya, Lala. Ratih mengenal Lala dan pernah bertemu dengannya. Lala itu cantik dan cerdas. Dan Ratih merasa bahwa dia sudah pasti akan kalah bersaing dengannya untuk mendapatkan Imran. Lala puteri paman yang sangat dihormati Imran. Dalam bayangan Ratih, tidak akan mungkin Imran menolak kalau dia dijodohkan dengan Lala. Biarpun Imran pernah mengatakan bahwa dia tidak memikirkan sama sekali perjodohannya dengan Lala. Ratih yakin, Imran akan menikah dengan Lala.

Kemudian Syahrul mengajuk hatinya. Ratih tidak terlalu yakin untuk menerimanya. Dia tidak memberikan jawaban yang pasti kepada Syahrul. Tidak menolak dan tidak mengatakan mau. Dia hanya mengatakan bahwa dia ingin menyelesaikan kuliahnya dulu. Syahrul berangkat ke Australia selama dua tahun. Selama waktu dua tahun itu Ratih sudah menyelesaikan kuliahnya di farmasi, lalu kemudian dilanjutkannya dengan pendidikan apoteker di ITB.

Dia pernah bertemu dengan Syahrul di kampus ketika Syahrul baru pulang dari Australia. Waktu itu mereka ngobrol sebentar. Syahrul memberitahu bahwa sekarang dia tinggal di Cisitu. Ratih berbasa basi mengajak Syahrul datang ke rumah. Syahrul memang pernah datang sekali ke rumah di Taman Sari. Mereka ngobrol lebih lama waktu itu. Obrolan mengenai pengalaman Syahrul di Australia. Tentang kemungkinan dia akan kembali lagi suatu saat nanti kesana untuk mengambil gelar doktor. Dalam obrolan itu, tidak ada sedikitpun Syahrul menyinggung tentang keinginannya untuk menjalin hubungan dengannya. Tentang sesuatu yang pernah diutarakan Syahrul dulu sebelum berangkat ke Australia.

Syahrul hanya datang sekali itu saja. Sudah beberapa bulan pula berlalu sesudah itu. Mereka tidak pernah lagi bertemu. Ratih memahami bahwa hasrat yang pernah disampaikan Syahrul dulu sudah tidak berlaku lagi. Dan bagi Ratih tidak ada masalah.

Yang merasa bermasalah adalah orang tuanya. Termasuk uci. Uci sudah sangat ingin agar Ratih segera berumah tangga. Usia Ratih sudah sangat cukup untuk menikah. Kuliahnyapun sudah selesai. Tapi dengan siapa? Ratih tidak punya pacar.

***

Pak Bambang Sadarta punya keponakan jauh bernama Mashudi. Seorang dokter alumni Unpad. Dia tinggal dan praktek di Cimahi. Usianya sudah tiga puluh tahun. Belum menikah. Mashudi seorang kutu buku dan sangat serius. Dunia utamanya adalah buku. Tubuhnya tinggi agak kurus. Wajahnya yang selalu dihiasi kacamata sebenarnya cukup tampan tapi sayang penampilannya kaku dan terlalu pendiam. Dengan pasienpun dia berbicara seperlunya saja.

Suatu hari Mashudi datang mengantarkan ayahnya, pak Broto, ke rumah pak Bambang Sadarta. Pak Broto yang tinggal di kampung di Purwokerto, ingin bersilaturahim dengan saudara sepupunya itu. Kebetulan dia sedang ada urusan ke Bandung. Dulu ketika masih muda, dan sama-sama tinggal di kampung mereka sangat akrab. Tapi sesudah pak Bambang Sadarta merantau mereka sangat jarang bertemu. Pertemuan nostalgia itu secara gurauan menyerempet kepada kemungkinan berbesanan. Pak Broto bertanya bagaimana seandainya Ratih jadi istri Mashudi. Pak Bambang Sadarta menjawab secara bergurau pula bahwa urusan jodoh biarlah anak-anak saja yang menentukan. Kalau anak-anak sudah ada kecocokan, orang tua cukup menilai dan merestui. Tapi setelah tamunya pergi pak Bambang Sadarta memikirkan gurauan itu dengan lebih serius. Dalam pikirannya, Mashudi sangat layak dijodohkan dengan Ratih. Seandainya jadi, betapa idealnya. Yang satu dokter, yang satu apoteker. Mashudi cukup gagah untuk jadi suami Ratih.

Pak Bambang Sadarta bukanlah seorang yang otoriter. Apa yang dipikirkannya dirundingkannya dengan istrinya. Istrinya sangat setuju jika Mashudi jadi menantu. Lalu mereka tanya pula pendapat Ratih. Ternyata tanggapan Ratih dingin-dingin saja. Dia sudah kenal dengan Mashudi sejak lama, sejak ketika sekali-sekali mereka bertemu di pertemuan keluarga. Mashudi bukan tipe laki-laki yang disukai Ratih. Karena orangnya terlalu pendiam dan terlalu serius. Ratih senang ngobrol. Senang berbicara. Sepertinya, dengan Mashudi tidak banyak yang bisa diobrolkan.

Tapi Ratih tidak pula menolak mentah-mentah kemungkinan itu. Dia menyarankan agar mereka, Mashudi dan Ratih saling menjajagi dulu. Pak Bambang Sadarta setuju dengan usulan Ratih. Dia segera menghubungi pak Broto dan menyampaikan informasi itu. Sejak itu Mashudi jadi lebih sering datang berkunjung.

Beberapa bulan berlalu. Mashudi secara teratur datang ke rumah keluarga pak Bambang Sadarta. Biasanya pada hari Minggu sore karena hari itu dia tidak praktek. Kadang-kadang dia mengajak Ratih berjalan-jalan keluar. Pergi menonton bioskop atau makan di restoran. Dia tidak banyak omong tapi perhatiannya terhadap Ratih cukup baik. Beberapa kali dia memberi Ratih hadiah berupa buku.

Tiga bulan mereka saling menjajagi. Atau tepatnya selama itu Ratih menilai pribadi Mashudi. Dokter muda itu sopan, tidak grasa-grusu, selalu menepati janji, mau memberi perhatian. Satu-satunya nilai kurang pada diri Mashudi adalah kehematannya dalam berbicara. Jarang sekali dia bertanya kalau mereka sedang berdua. Selalu Ratih yang bertanya dan Mashudi yang menjawab. Jawabannyapun seringkali seperlunya saja. Ratih berpikir panjang selama tiga bulan itu. Membolak balik buruk dan baiknya kalau dia menerima untuk jadi istri Mashudi. Sikap hemat bicara Mashudi sebenarnya sudah merupakan sebuah kendala. Sulit bagi Ratih membayangkan akan serumah dengan seseorang yang sebegitu pendiam. Punya suami yang sangat sedikit bicara. Sementara dirinya adalah orang yang senang berbagi cerita. Suka mendengar dan ingin pula didengar lawan bicaranya. Mashudi mungkin seorang pendengar yang baik tapi itupun sulit dibuktikan.

Ayahnya sudah dua kali menanyakan tanggapan Ratih tentang Mashudi. Sebuah pertanyaan yang sulit untuk dijawab. Dia coba melibatkan uci, meminta pendapat beliau. Ternyata uci bersikap netral saja. Tidak melarang dan tidak mendorong. Tapi Ratih tahu kalau uci tidak terlalu bersemangat mendengar cerita tentang Mashudi. Berbeda dengan ketika mendengar cerita tentang Imran dulu.

Tapi disisi lain Ratih juga dihantui kekhawatiran tidak akan dapat jodoh. Sejak beberapa tahun ke belakangan sudah tidak ada lagi anak muda yang mencoba mendekatinya karena mereka tahu Ratih sepertinya dingin. Seolah-olah tidak berminat terhadap laki-laki. Kalau Mashudi ditolak pula, siapa lagi yang akan diharapkan? Mashudi punya kekurangan tapi masih bisalah diharapkan. Mudah-mudahan saja, seandainya nanti mereka menikah, Ratih bisa mengajak agar Mashudi lebih komunikatif. Akhirnya dia setuju untuk menikah dengan Mashudi.

Lucunya, setelah beberapa bulan berusaha akrab, dengan cara datang berkunjung secara teratur ke rumahnya, Mashudi tidak pernah sekalipun juga mengatakan apa yang dia harapkan dari Ratih. Tidak pernah dia mengatakan bahwa dia ingin melamar Ratih. Tidak pernah dia menyebut bahwa dia ingin menjadikan Ratih istrinya. Bahkan tidak pernah dia mengatakan bahwa dia menyukai Ratih. Ketika ayah menanyakan hal yang sama untuk ketiga kalinya, Ratih menjawab bahwa dia bersedia kalau memang Mashudi mau melamarnya, dan berharap Mashudi akan menyampaikan kata-kata lamaran itu secara pribadi kepadanya.

Tapi Mashudi tetap tidak mau. Entah malu, entah bagaimana. Akhirnya sesudah diinterlokal pak Bambang Sadarta, pak Broto datang lagi ke Bandung. Dia meyakinkan Ratih dihadapan ayahnya, bahwa Mashudi ingin melamar Ratih menjadi istrinya, tapi malu mengutarakannya langsung. Mashudi itu terlalu pemalu. Begitu kata pak Broto. Ratih mengalah. Dia menerima lamaran itu.

Pernikahan mereka direncanakan dan dipersiapkan dalam waktu singkat. Hanya dalam waktu satu setengah bulan. Mereka akan menikah di awal bulan September 1989. Undangan segera dibuat dan diedarkan dua minggu sebelum hari pernikahan. Pesta pernikahan akan dilaksanakan di rumah pak Bambang Sadarta. Tidak banyak yang diundang. Teman sekantor pak Bambang Sadarta, teman sesama guru istrinya, teman-teman dekat Ratih, teman-teman Mashudi yang jumlahnya hanya beberapa orang dan tetangga-tetangga.

***

Manusia berencana tapi Allah Yang Maha Menentukan. Manusia boleh berkehendak, berkeinginan, mengatur rencana tapi kalau Allah menetapkan lain, manusia tidak kuasa menolaknya. Pernikahan Mashudi dan Ratih sudah dipersiapkan dengan sebaik-baiknya. Undangan sudah disebarkan. Rumah pak Bambang Sadarta dihiasi karena sebentar lagi perhelatan akan digelar disitu. Menurut rencana, akad nikah akan dilaksanakan sesudah shalat Jumat. Resepsi pernikahan akan dilangsungkan pada hari Minggu.

Hari Kamis sore, Mashudi naik vespa dari rumah sakit Hasan Sadikin menuju ke Cimahi. Mashudi terburu-buru karena dia berjanji dengan seorang pasien sore hari itu. Di perlintasan kereta api di Cimindi, pintu kereta sudah ditutup karena ada kereta api yang akan lewat. Mashudi menoleh ke kanan dan kiri rel kereta api. Dia melihat sebuah kereta api dari arah Bandung. Masih cukup jauh. Karena buru-buru, Mashudi memaksa untuk melintasi pintu kereta yang sudah ditutup itu. Melihat Mashudi berusaha melintas, seorang anak muda bersepeda motor di belakangnya ikut pula ingin menerobos. Penjaga pintu kereta membentak orang-orang nekad itu. Si pengendara sepeda motor menancap gas. Motornya seperti mau terbang menerjang ke depan dan menyenggol vespa Mashudi. Mashudi terjatuh. Dia berusaha bangkit dan meloncat ke pinggir. Pada saat bersamaan kereta api melintas. Lokomotif itu melindas vespa dan menyenggol tubuh Mashudi yang terpelanting menghantam dinding gardu penjaga pintu kereta. Mashudi terkapar dengan kepala luka parah. Dia segera dilarikan ke rumah sakit Hasan Sadikin. Tapi ternyata nyawanya sudah tidak tertolong. Inna lillahi wa innaa ilaihi raaji’uun.


*****