Friday, February 8, 2008
TAKLIM BUYA ABIDIN (5)
TANGGUNG JAWAB KEPADA KELUARGA
‘Mari kita sambung bahasan kita minggu lalu,’ ujar Buya Abidin mengawali pengajian beliau pada Sabtu malam itu. ‘Minggu yang lalu sudah kita kaji bahwa sebagian dari istri-istri dan anak-anak ada yang bisa menjadi musuh kepada kita. Sudah kita jelaskan pula bahwa menjaga keimanan istri dan anak-anak itu dilakukan setelah masing-masing kita terlebih dahulu menjaga diri sendiri dari kejaran api neraka. Hal tersebut adalah kewajiban dan kita sudah diingatkan Allah tentang itu. Biarlah saya teruskan kaji ini dengan tanggung jawab terhadap pemeliharaan anak-anak yang diamanahkan Allah kepada kita. Pemeliharaan sejak dia dilahirkan sampai dia beranjak dewasa.
Kebanyakan orang di jaman sekarang ini merasa bahwa tanggung jawab itu terbatas hanya sampai menyekolahkan anak-anak ke perguruan tinggi. Sebab, pada saat mereka sudah selesai bersekolah tinggi, sudah jadi sarjana, lalu dapat pula bekerja di perusahaan yang bisa menjadikan mereka orang kaya, orang tuanya merasa bahwa dia sudah sangat berhasil dalam mendidik anak-anaknya. Kalau untuk biaya pendidikan maka orang tua biasanya mau habis-habisan. Tidak kayu, jenjang dikeping. Tidak emas, bungkal diasah. Maka sangatlah senang hati seorang orang tua jaman sekarang, ketika dia mempunyai empat orang anak, semuanya sarjana, semuanya punya kedudukan yang mapan, bahkan ada yang menjadi anggota DPR. Bukan alang kepalang besar hatinya. Bagaimana tentang persiapan akhirat mereka? Jika ini yang kita tanya, biasanya berkerut keningnya. ‘Apakah hal itu penting?’ tanyanya. Atau paling-paling dia akan mengatakan, bahwa dulu ketika anak-anak itu masih kecil mereka dimasukkan ke sekolah mengaji, bahkan sudah sampai khatam al Quran. Lalu, bagaimana keadaannya sekarang? Masih pernahkah diingatkan shalatnya? Diingatkan kalau dia sudah membayar zakat atau belum? Bagaimana pula dengan puasanya? Nah, biasanya jarang orang tua sekarang yang masih melakukan hal-hal tersebut, mengingatkan anak-anaknya sesuatu yang berhubungan dengan masalah agama.
Padahal, Nabi SAW mengajarkan, jika anak-anak sudah berumur tujuh tahun agar diajar shalat. Kalau sudah umur sepuluh tahun belum juga shalat, harus dihukum. Boleh dipukul. Begitu perintah Nabi. Begitu peringatan beliau agar kita mempersiapkan anak-anak-anak supaya mereka terhindar dari api neraka. Ajarkan kepada anak-anak itu bagaimana caranya mengingat Allah dengan cara bersungguh-sungguh. Mengenal Allah sebagai Yang Maha Mencipta, Yang Maha Mengatur segala urusan, Yang Maha Kuasa. Dan cara mengajarkan pengenalan terhadap Allah itu adalah dengan menegakkan shalat.
Kalau kita tidak bersungguh-sungguh menyiapkan mereka, maka berhati-hatilah. Sebagaimana kita juga harus berhati-hati ketika kita tidak memelihara dan menafkahkan rezeki yang diberikan Allah kepada kita dengan cara yang diridhai Allah. Kita diberi Nya harta yang banyak, anak-anak yang banyak, serba hebat semua, anak-anak sarjana semua. Tapi kita tidak mengurus harta atau anak-anak itu di muka bumi ini seperti yang dikehendaki Allah. Kita hanya sibuk mengumpulkan harta lalu menghitung-hitungnya. Disana aku punya tanah sekian luas, disitu ada rumah mewahku, disana aku punya toko sekian pintu. Anak-anakku sudah jadi orang semua, sudah jadi sarjana dan hebat-hebat. Sudah punya kedudukan penting. Menantu-menantukupun tidak kalah hebat. Maka tunggu dulu. Ingatlah firman Allah, ‘Sesungguhnya hartamu, anak-anakmu itu adalah fitnah, sementara disisi Allah ada pahala yang besar.’ (Surah At Taghabun ayat 15).
Harta yang banyak dan anak-anak itu hanyalah fitnah bagimu. Tidak sedikitpun akan menyelamatkanmu kalau kamu pakai hanya untuk berbangga-bangga saja di muka bumi ini. Harta dan anak-anak itu akan jadi fitnah kalau tidak pandai-pandai mengelolanya. Kalau kamu tidak mempersiapkan mereka untuk menjadi hamba-hamba Allah yang mengerti akan Ke Maha Kuasa an Nya.
Ada sebuah cerita tentang seorang laki-laki punya enam orang anak, semua anaknya laki-laki. Semua anak-anak itu sarjana dan masing-masing bekerja ditempat yang hebat. Semua sering bepergian ke luar negeri. Ada yang ke Amerika, ada yang ke Jerman dan ada yang ke Jepang. Betapa bangganya sang ayah melihat keberhasilan keenam anak-anaknya tersebut. Ketika sekali-sekali berkumpul di rumah orang tuanya, misalnya disaat hari raya terlihat bahwa mereka memang bukan orang sembarangan. Sesama mereka, kadang-kadang mereka bercakap-cakap dalam bahasa Inggeris. Sangat hebat dan mengagumkan. Ayah mereka bangga luar biasa.
Allah berkehendak, mungkin karena sudah berangsur tua juga, sang ayah jatuh sakit. Mulanya anak-anak bergantian menunggui di rumah sakit. Derita sakit itu ternyata berlangsung lama. Secara berangsur-angsur makin berkurang saja kesempatan anak-anaknya menemani dikarenakan mereka sibuk. Atas kehendak Allah semakin dekat rupanya kedatangan ajalnya. Menjelang sakratul maut, orang tua itu memanggil-manggil keenam anaknya bergantian. Dua orang sempat hadir menyaksikan ketika maut datang sedangkan empat orang yang lain baru datang sesudah sang ayah terbujur kaku jadi mayat. Maka berundinglah keenam anak-anak itu bagaimana cara mengurus jenazah ayah mereka yang sudah terbujur kaku itu. Yang paling tua mengusul agar diserahkan saja ke Yayasan Bunga Surga. Kita undang seorang ustad untuk menyelenggarakan jenazah ayah, beres semua urusan, begitu katanya.
Maka dihubungilah yayasan yang dimaksud si sulung. Di undang pula seorang ustad yang tinggal dekat rumah orang tua mereka itu. Ustad tadi bertanya kepada mereka, apakah mereka tidak akan ikut memandikan jenazah ayah mereka. Apa jawab mereka? Tolongl;ah ustad saja yang memandikan. Sudah selesai dimandikan, dan dikafani jenazah tersebut, ustad tadi mengingatkan lagi bahwa yang paling afdal menjadi imam shalat jenazah adalah salah seorang dari anak-anak beliau. Jawab mereka, tolong sajalah ustad yang jadi imam. Bahkan ada di antara keenam anak itu tidak ikut menyalatkan jenazah ayah mereka.
Inilah contoh bagaimana anak-anak menjadi fitnah kepada orang tua. Tidak ada sedikit juga manfaat bagi orang tuanya padahal anak-anaknya sudah disekolahkannya tinggi-tinggi. Anak-anak yang selama ini jadi kebanggaannya, yang selalu jadi bahan cerita mengasyikkan kalau dia bercerita kepada orang lain. Maka bertemulah peringatan Allah; ‘Innamaa amwaalukum wa aulaadukum fitnattun, wallahu 'indahuu ajrun 'azhiim.' (Sesungguhnya hartamu dan anak-anakmu adalah cobaan (fitnah). Sedangkan disisi Allah ada pahala yang besar.)
Seandainya saja dulu anak-anak itu dididik pengetahuan agama secara memadai. Diajarkan agar dia mengenal Allah dengan sungguh-sungguh, diajarkan cara beribadah kepada Allah dengan sungguh-sungguh. Seandainya dulu banyak berdoa kepada Allah minta petunjuk Nya untuk diri sendiri dan untuk anak-anak. Meminta kepada Allah agar istri dan anak-anak dijadikan Nya penyejuk mata. Agar dijadikan Nya orang-orang yang terkemuka di kalangan orang-orang yang bertaqwa. Seandainya dulu sering berdoa; Rabbanaa hablanaa min azwaajinaa wa tzurriyatinaa qurrata a'yun, waja'alnaa lil muttaqiina imaama. Atau bahkan berdoa agar dikaruniai Allah anak keturunan yang saleh seperti doanya nabi Ibrahim a.s., Rabii hablii minashshaalihiin. (Tuhanku,anugerahilah aku dengan anak-anak yang shalih.)
Kalau perkara harta yang menjadi fitnah bukankah sudah sama kita lihat. Harta yang hanya sekedar dikumpul-kumpulkan untuk dihitung-hitung. Sudah sama kita lihat tidak sedikitpun harta itu dapat menolong. Apa yang terjadi sesudah itu? Biarpun anak-anak sudah jadi orang-orang hebat sekalipun, urusan harta peninggalan orang tua tetap saja mereka berebutan. Tidak jarang timbul permusuhan di antara mereka sesudah itu, saling iri dan dengki antara yang satu terhadap yang lain. Kalau sudah seperti ini, alih-alih akan jadi pahala untuk yang sudah meninggal malahan jadi penambah dosa jadinya. Sebab harta yang ditinggalkan hanya menjadi bahan pertengkaran di antara anak-anaknya. Harta itu hanya menjadi fitnah semata. Menjadi cobaan semata.
Seandainya dulu rajin bersedekah, rajin berinfak. Seandainya dulu sebelum mati sudah dibagi harta itu sesuai dengan ketentuan dan petunjuk Allah. Barulah ada manfaatnya. Tapi karena tidak ada amalan seperti itu yang didapat hanyalah kesusahan dan fitnah saja sesudah itu. Fitnah berupa perkelahian di antara sesama anak-anak dalam perebutan harta.
Jadi artinya, hendaklah kita pandai-pandai dalam mengelola harta di jalan Allah. Membelanjakannya dengan cara yang diridhai Allah. Boleh kaya, kalau memang kita pintar dalam mencari uang. Tapi ingat bahwa di dalam harta yang kita peroleh itu ada hak orang lain. Ada zakat yang harus dibayarkan.
Pandai-pandailah dalam mendidik anak. Silahkan sekolahkan mereka setinggi mungkin tapi ingat pula untuk membekalinya dengan pengetahuan agama yang mencukupi. Supaya nanti mereka sanggup mengurus kita ketika kita sudah jadi orang tua. Sanggup menyelenggarakan jenazah kita ketika kita mati. Menyalatkan kita sebelum kita diantar orang ke kuburan. Sebab sabda Rasulullah SAW, ‘Bilamana mati anak Adam maka putuslah segala amalannya kecuali dalam tiga hal. Pertama adanya sedekah jariah. Kedua adanya ilmu yang bermanfaat dan yang ketiga adanya anak yang saleh yang mendoakan kedua orang tuanya.’ Jadi perlu adanya anak yang saleh. Dan anak saleh yang dididik sendiri. Disiapkan sendiri, karena dengan cara mendidiknya itu akan terbina ikatan batin antara orang tua dan anak.
Sampai disini dululah kaji kita. Isya Allah minggu berikut kita sambung lagi.’
Demikian Buya Abidin mengakhiri taklimnya kali itu.
*****
Friday, December 28, 2007
TAKLIM BUYA ABIDIN (3)
OBROLAN AGAMA DI LEPAU RENDAH
Pagi ini suasana Lepau Rendah agak berbeda dari biasanya. Baru mulai ramai sesudah selesai shalat subuh di mesjid. Mak Marah, Malin Ameh, Sutan Mantari, Malin Deman dan Mangkuto Labiah datang berbarengan. Di dalam lepau sudah ada Bagindo Baro yang sedang berbincang-bincang dengan Sati Bandaro pemilik lepau. Ketika kelima orang itu masuk, Bagindo Baro menyambut mereka dengan pertanyaan.
‘Darimana ini datang berombongan pagi-pagi begini? Dari melayat ? Ada warga yang meninggal ?’ tanyanya.
‘Bukan. Kami dari shalat. Dari mesjid,’ jawab Malin Ameh.
‘Ondeh mandeh...... Sudah salah sangka aku kiranya. Rupanya para ustad ini baru kembali dari mesjid. Oi Sati! Bergegaslah. Cepat buatkan kopi untuk ustad-ustad kita ini. Ck..ck..ck... Bukan main. Benar-benar banyak kemajuan orang kampung kita ini sejak diceramahi Buya Abidin rupanya. Wahai ustad, naiklah ke mimbar, dekat podium ini. Berilah kami sedikit ceramah. Kuliah subuhlah untuk kami,’ Bagindo Baro mencerocos dengan cemoohan yang asli.
‘Kok terlihat aneh benar oleh Bagindo kami datang dari shalat ?’ tanya Sutan Mantari tersenyum.
‘Bukannya aku memandang aneh. Kenapa pula mesti aneh. Bukankah itu berarti kemajuan? Sesudah kaji didengar tentu diamalkan. Bukankah begitu Marah?’
‘Betul,’ jawab mak Marah pendek.
‘Jadi main domino tentu tidak boleh lagi kita sekarang? Bukankah itu dosa ?’
‘Masak subuh buta begini mau main domino. Becanda Bagindo,’ jawab Sutan Mantari.
‘Bukan. Maksudku, nanti sorepun. Tentu tidak ada lagi kawan berdomino. Kamu sendiri bagaimana Deman? Kamu juga tidak mau lagi main domino? Huh, betul-betul hebat pengaruh pengajian si Abidin. Jadi orang beriman semua penduduk negeri ini,’ Bagindo Baro terus menyerocos.
‘Harusnya kita bersyukur kalau semua masyarakat kampung ini benar-benar sudah beriman. Hei, Sati. Mana kopi untukku? Kok, lama amat?’ Mak Marah mengalihkan pembicaraan.
‘Benar, Sati. Buruan! Cepatlah buatkan kopi untuk ustad ini! Biar dapat pahala. Sambil menunggu kopi datang Marah, cobalah jelaskan apa saja isi pengajian inyiak Abidin itu. Siapa tahu, nanti aku juga ingin menjadi orang yang beriman. Mau pula aku ikut menghampir ke mesjid seperti para buya ini. Bukankah begitu Sati ? he..he..he..,’ ujar Bagindo Baro masih dalam cemooh yang kental.
‘Kaji inyiak Abidin itu sebenarnya tidak ada yang sulit. Bagiku yang menggetarkan hatiku benar adalah uraian tentang hidup yang hanya sementara, dan nanti akan berhenti ketika datang kematian. Umurku sudah lima puluh tahun, rasanya sudah lebih dari separo jalan yang aku lalui. Entah nanti, entah besok tentulah aku akan mati. Hal ini cukup menjadikan aku takut. Takut dengan perkara yang harus kuhadapi sesudah mati.’
‘Iya...iya....Benar itu. Oleh karenanya jadi rajin kita shalat. Mudah-mudahan sedang shalat itu nanti kita mati. Begitu rupanya, Marah?’
‘Bukan pula aku berkeinginan mati sedang mengerjakan shalat. Aku tidak tahu entah dengan cara apa aku akan mati. Harapanku, mudah-mudahan aku mati dalam keadaan beriman yang sesungguhnya.’
‘Iya..iya... Benar sekali. Hidup berakal, mati beriman. Begitu bukan? Iya..iya...’
‘Bagindo Baro! Hentikanlah mencemooh. Capek pula orang mendengar cemooh berkepanjangan begitu. Cobalah dengar kaji mak Marah ini baik-baik,’ Sati Bandaro pemilik lepau menimpali. Entah bersungguh-sungguh, entah cemooh pula.
‘Cobalah teruskan Marah!’ pinta Bagindo Baro.
‘Bagindo tidak yakin dengan kedatangan kematian itu. Begitu agaknya, bukan?’
‘Yakin. Kenapa tidak? Setiap saat kita melihat orang mati. Satu per satu orang yang kita kenal sudah pada mati. Kenapa aku mesti tidak yakin? Aku pasti yakin.’
‘Lalu, bahwa ketika sesudah mati, mayat kita dimasukkan ke dalam kubur, lalu akan datang malaikat menanyai kita? Adakah Bagindo yakin yang demikian?’
‘Wah! Kalau yang itu entahlah. Belum ada orang kembali dari kematian. Belum ada yang bercerita tentang itu. Tapi taruhlah hal itu benar. Lalu bagaimana ?’
‘Bagaimana ? Kalau malaikat itu bertanya, apa yang akan Bagindo jawab ?’
‘Entahlah. Tapi begini saja. Kalau kita tahu jawabannya, kita jawab. Kalau kita tidak tahu, katakan tidak tahu. Kita katakan baik-baik. ‘Maaf, engku malaikat, tidak jelas bagi hamba yang engku tanyakan.’ Jawab saja serupa itu.’
Orang selepau tertawa mendengar ocehan Bagindo Baro.
‘Baiklah. Sesudah itu nanti di hari kiamat semua kita akan dikeluarkan dari kubur masing-masing. Semua berkumpul di Padang Mahsyar nama tempatnya. Apakah Bagindo percaya tentang hal ini?’ lanjut mak Marah.
‘Itupun entahlah. Namun, katakan pulalah betul. Betapa akan ramainya umat disitu pada masa itu. Sebab semua orang yang sudah mati akan berkumpul di Padang Mahsyar itu. Disana nanti akan aku cari Marah. Kemana Marah pergi aku ikuti. Masuk Marah ke dalam surga aku akan ikut berebut masuk. Tapi kalau ke neraka tentu aku tidak mau ikut,’ jawab Bagindo Baro.
‘Disana itu nanti, menurut cerita inyiak Abidin, kata al Quran, semua kita akan ditanyai di pengadilan Allah. Segala-galanya akan ditanya. Apa saja yang kita kerjakan selama kita hidup akan diminta pertanggungjawabannya. Dihitung pahala dan dosa. Setiap amal baik akan diberikan pahalanya. Setiap amal yang buruk akan diberi hukuman atas dosanya. Lalu, jika timbangan pahala lebih berat, orang itu akan dimasukkan ke dalam surga. Sebaliknya, jika timbangan dosanya yang lebih berat maka dia akan dimasukkan ke dalam neraka. Disana itu tidak ada tolong menolong di antara sesama umat. Jangankan untuk mengikuti aku, mengikuti orang tua Gindopun, Gindo tidak akan bisa. Sebab setiap diri akan sibuk dengan masalah dan urusannya masing-masing. Menjawab tanya kepada diri masing-masing. Obrolan kita di lepau pagi inipun nanti akan ditanya Allah. Apa saja yang kita perbincangkan sekarang sedang dicatat oleh malaikat. Semua perbuatan kita akan dicatatnya, tidak ada satupun yang luput. Lengkap catatan dengan waktunya, kata-kata yang kita keluarkan, pekerjaan yang kita lakukan.’
‘Betapa akan letihnya malaikat itu mencatat semua itu.’
‘Entah dia capek atau tidak, entahlah. Kita tidak tahu. Tapi yang pasti ada dua malaikat di kiri dan di kanan setiap kita yang tugasnya mencatat terus menerus setiap amal perbuatan yang kita lakukan. Yang di sebelah kanan mencatat segala kebaikan, yang di sebelah kiri mencatat segala keburukan.’
‘Sudah pernahkah Marah bertemu dengan malaikat-malaikat itu?’
‘Tidak pernah, sebab keberadaannya tidak dapat kita lihat. Tapi aku yakin tentang keberadaannya. Seperti aku yakin bahwa hidup ini akan mati, lalu kita akan ditanyai malaikat dalam kubur nanti. Seperti aku yakin bahwa aku akan diadili Allah nanti di akhirat.’
‘Meski mereka tidak tampak, Marah tetap yakin ?’
‘Ya. Aku yakin.’
‘Kalau bagiku, kalau tidak kelihatan itu aku agak ragu. Rasa-rasanya mungkin tidak akan demikian adanya.’
‘Oh begitu. Kalau kelihatan baru Gindo percaya. Boleh aku bertanya? Bagindo mempunyai nyawa, bukan?
‘Tentu. Aku orang hidup. Tentu aku bernyawa.’
‘Bisa tolong ditunjukkan yang mana nyawa Gindo? Aku tidak melihatnya.’
‘Ini, yang turun naik di dadaku ini. Inilah nyawaku. Marah tidak melihatnya?’
‘Dada Gindo yang turun naik itu? Itukah nyawa Gindo? Benar juga ya. Bukankah orang mati tidak kelihatan lagi dadanya turun naik. Lalu kalau suara Gindo? Adakah tampak suara itu? Atau beginilah. Apa saja yang ada di dalam perut Gindo? Punyakah Bagindo hati, jantung, usus? Pernahkah Gindo melihatnya?’
‘Bukankah kita ini hampir sama saja dengan binatang ternak, punya kepala, punya perut, punya kaki. Ketika kita memotong hewan kurban, dapat kita lihat hatinya, jantungnya, ususnya. Pada tubuh kita tentu seperti itu pula.’
‘Serupa belum tentu sama. Jantung Gindo sendiri, bukankah belum pernah Gindo lihat? Atau sudah pernah?’
‘Belum. Tapi aku yakin bahwa dia ada. Kalau dia tidak ada bagaimana mungkin aku bisa hidup.’
‘Persis seperti itulah kajinya. Aku yakin dengan keberadaan malaikat yang mencatat segala perbuatanku walaupun aku belum pernah melihat malaikat itu.’
‘Kenapa perlu benar adanya malaikat yang mencatat itu ? Tentulah diupah Tuhan Allah dia agaknya ya ?’
‘Perlu, karena kita hidup di dunia ini disuruh Allah untuk beribadah dan menyembah kepada Nya. Ditunjukinya kita dengan agama, melalui nabi-nabi yang menerima wahyu Allah melalui perantaraan malaikat Allah itu. Setiap wahyu dan ajaran agama yang datang dari Allah itu dituliskan dalam kitab suci. Untuk kita umat nabi Muhammad SAW, kitab suci kita adalah al Quran. Di dalam al Quran itu dijelaskan tentang perintah dan larangan Allah, tentang pahala dan dosa, tentang surga dan neraka, tentang malaikat-malaikat yang ditugaskan Allah untuk bermacam-macam urusan. Berita itu sudah sampai kepada kita. Quran itu masih ada sampai sekarang dan akan selalu ada sampai hari kiamat. Bagaimana kita menerimanya. Mau patuh atau mau menolak, kedua-duanya boleh. Tapi semua itu dicatat. Nanti catatan itu akan diperlihatkan kepada kita sehingga kita tidak bisa memungkirinya. Semuanya tertulis sejelas-jelasnya. Hari itu, jam sekian, detik sekian, di tempat itu Bagindo sedang mengerjakan pekerjaan yang baik, yang ada pahalanya. Pada hari yang lain, jam sekian, detik sekian Bagindo sedang mengerjakan pekerjaan buruk. Tercatat pula. Catatan itu sangat lengkap, tidak ada satu hal jugapun yang dapat dipungkiri. Barulah sesudah itu dihitung timbangan perbuatan baik dan perbuatan buruk, dihitung pahala dan dosa. Kalau yang lebih berat pahala dari perbuatan baik maka surgalah ganjarannya. Kalau dosa yang lebih berat maka nerakalah tempatnya. Jadi, bagaimana kira-kira?’ mak Marah menguraikan panjang lebar.
‘Aku bukan orang jahat. Aku tidak suka berbuat dosa. Aku suka menolong orang. Kira-kira kemana aku akan dimasukkan nanti?’
‘Jahat atau tidak jahat bukan sekedar menurut takaran kita sendiri. Kita ini dapat perintah dari Allah untuk menyembah Nya. Untuk beribadah kepada Nya. Ada agama yang mesti dijalankan. Agama itu berisi perintah dan larangan Allah. Sudahkah perintah dikerjakan? Sudahkah larangan dihentikan? Barulah sesudah itu kita dapat menguji diri, apakah kita ini orang jahat atau bukan di hadapan Allah. Ketika kita menolak perintah Allah untuk menegakkan shalat, berarti kita jahat di mata Allah. Ketika apa yang dilarang Allah kita kerjakan juga, berarti kita jahat di mata Allah. Sekarang cobalah tanyai diri Gindo. Bagaimana kira-kira?’
‘Jadi, pagi ini karena aku belum shalat subuh, aku berdosa?’
‘Itu biarlah salung saja yang menyampaikan. Kira-kira kan cukup jelas urusannya.’
‘Kapan, lagi Buya abidin itu akan datang?’
‘E eh. Kok itu yang ditanya? Apa maksud Gindo?’
‘Ingin pula aku mendengar langsung darinya. Benar atau tidak semua yang Marah uraikan ini.’
‘Hari Sabtu sore besok dia akan datang lagi. Mari kita lihat, apa benar Bagindo Baro akan datang,’ ajuk Mangkuto Labiah.
‘Jadi nanti sore kita nggak main domino lagi Gindo? Tanya Malin Deman memancing
‘Entahlah. Bagaimana itu Marah? Main domino itu berdosakah?’
‘Beginilah. Kalau main tidak bertaruh, tidak ada dosa judi di dalamnya. Kalau main itu berhenti ketika azan dikumandangkan, tidak ada dosa melalaikan shalat. Kalau main itu tidak dikerjakan karena kita pergi mendengarkan pengajian ada pahala karena mendengarkan kaji itu. Jadi terserah kepada kita mana yang akan dipilih.’
‘Bertele-tele betul kaji Marah, pusing kepalaku dibuatnya. Biarlah, kalau inyiak Abidin itu datang akan aku tanyakan hal ini kepadanya. Sementara ini aku akan tetap main domino selama masih ada yang menemani.’
‘Lalu? Nanti shalat zhuhur sudah bisa kita pergi bersama-sama?’
‘Lihat sajalah nanti. Sati! Ini uang. Aku mau pergi dulu.'
Bagindo Baro bergegas keluar dari lepau. Entah kemana dia pergi.
*****
TAKLIM BUYA ABIDIN (4)
KEWAJIBAN MEMELIHARA ANGGOTA KELUARGA DARI NERAKA
Sudah hari Sabtu malam lagi. Sudah datang lagi waktunya wirid Buya Abidin di mesjid Gurun. Alhamdulillah jumlah jamaah yang tertarik kepada pengajian ini semakin banyak saja. Terasa benar faedahnya oleh masyarakat kampung Gurun apa-apa yang disampaikan oleh Buya Abidin untuk kehidupan mereka sehari-hari. Dulu ketika awal-awal beliau datang untuk memberikan ceramah, yang mau mendengarkannya boleh dihitung dengan jari. Berkat kesabaran dan kesungguhan beliau makin banyak saja orang yang tertarik untuk ikut mendengarkan pengajian tersebut.
Buya Abidin sangat penyabar, tapi sangat pula keras dan tegas dalam setiap penyampaian beliau. Bagi beliau kebenaran adalah sesuatu yang jelas dan tidak bisa ditawar-tawar. Yang benar adalah benar, yang salah adalah salah. Hal ini beliau tunjukkan dengan contoh dalam kehidupan sehari-hari.
Malam ini masalah yang dibahas adalah tanggung jawab setiap orang yang beriman untuk menjaga diri dan keluarganya dari siksaan api neraka. Beliau menyitir ayat al Quran surah At Tahrim ayat ke delapan yang artinya; ‘Wahai orang-orang yang beriman! Jagalah dirimu dan keluargamu dari ancaman api neraka....(sampai akhir ayat).’ Para jamaah yang mendengarkan jadi terbuka mata mereka.
Yang menarik dalam pengajian buya Abidin adalah diadakannya tanya jawab sesudah beliau menyampaikan materi ceramah. Para jamaah boleh bertanya apa saja dan beliau berusaha menjawab dengan sebaik-baiknya. Pengetahuan agama beliau sangat luas sehingga hampir setiap pertanyaan itu dapat beliau jawab.
Begitu pula pada malam hari ini, kembali terjadi tanya jawab. Katik Marajo yang memulai pertanyaan.
‘Ustad, saya ingin bertanya. Yang diseru oleh Allah untuk menjaga diri dan keluarga mereka dari siksaan api neraka adalah orang-orang yang beriman. Pertanyaan saya, apakah yang diseru ini khusus laki-laki saja sebagai kepala keluarga atau termasuk juga para wanitanya ? Terima kasih Ustad.’
’Seruan Allah ini bersifat umum. Artinya berlaku kepada setiap orang yang beriman, termasuk laki-laki maupun wanita. Semua wajib hukumnya menjaga diri mereka dan keluarga mereka dari siksaan api neraka. Harus dimulai dengan diri kita masing-masing terlebih dahulu. Berusaha dengan sungguh-sungguh menjaga diri dengan senantiasa mengingat segala perintah Allah. Dan setiap perintah itu segera laksanakan. Begitu pula sebaliknya, sadari dan ketahui setiap larangan Allah. Dan hindarkan diri dari setiap yang dilarang Allah tersebut. Kalau kita sudah mampu berbuat demikian untuk diri kita sendiri, perhatikan pula sekarang pasangan hidup kita masing-masing. Ingatkan, jaga, agar pasangan hidup kita dapat pula berbuat sama. Bapak-bapak menjaga dan mengingatkan istri, ibu-ibu mengingatkan suami agar senantiasa berada di jalan yang diridhai Allah. Begitu pula seterusnya dengan penjagaan terhadap anak-anak. Jadi jelas, ibu-ibu juga bertanggung jawab menjaga suami mereka. Perlukah istri menjagai suami? Atau bisakah istri menjagai suami? Jelas bisa. Oleh karena itu, hendaknya istri-istri pandai menyesuaikan diri dengan kemampuan suami. Jangan terlalu banyak permintaan. Kalau istri terlalu banyak permintaan, dan suami terlalu sayang kepada istri, apapun yang diminta istri dia berusaha memenuhi, sementara kemampuannya terbatas. Apa yang bisa terjadi? Si suami akan berlaku curang untuk memenuhi permintaan istrinya. Mungkin dengan korupsi, mungkin dengan menipu, atau bahkan mungkin dengan mencuri. Maka istri yang menjadikan suaminya berlaku curang seperti itu, berarti dia tidak menolong menjaga suaminya dari api neraka tapi sebaliknya justru mendorongnya masuk ke dalam neraka. Atau bisa juga begini. Si istri tidak banyak permintaan ini itu. Hanya saja dia cerewet sehingga suaminya jadi tidak betah tinggal di rumah, sebab di rumah ada-ada saja yang menyebabkan kejengkelan oleh perkataan atau prilaku istrinya. Pelariannya, si suami pergi dan menghabiskan waktunya ke warung. Main domino, berhabis waktu dengan obrolan yang tidak jelas.
Si istri tahu bahwa suaminya tidak betah duduk di rumah karena prilakunya. Harusnya dia berusaha memperbaiki suasana di rumah. Dengan cara seperti itulah dia memelihara suaminya sebagai pasangan hidupnya dari ancaman api neraka.
Lebih jauhnya lagi, dengan cara apa lagi kita memelihara pasangan hidup serta anak-anak dari kekeliruan dan dosa ? Dengan cara dakwah. Selalu ingatkan mereka untuk menegakkan kebenaran dan meninggalkan kemungkaran. Itu berarti bahwa setiap kita bertanggung jawab untuk saling menjaga. Sabda Nabi SAW, ‘Setiap kalian adalah pemimpin dan setiap kalian akan diminta pertanggungjawababnya atas apa yang dipimpinnya, nanti di akhirat. Setiap laki-laki adalah pemimpin bagi keluarganya, setiap istri pemimpin atas amanah harta dan anak-anak dari suaminya. Semua akan diminta tanggung jawabnya atas apa yang dia pimpin.’ Apakah yang demikian cukup jelas engku Katik?’
‘Cukup jelas Ustad. Terima kasih,’ jawab Katik Marajo.
’Saya ingin melanjutkan pertanyaan tadi Ustad,’ giliran Kari Sutan ingin bertanya.
‘Silahkan, engku Kari. Apa yang mau ditanyakan.’
‘Seandainya kita sudah berusaha menjaga anak istri, setiap saat mengingatkan mereka, tapi ternyata sang istri tidak patuh. Dia tidak merasa perlu menjaga dirinya sendiri dari kedurhakaan kepada Allah. Dalam hal seperti ini bagaimana tanggung jawab suaminya Ustad?'
’Pertama sekali, dakwah kepada anak dan istri itu hendaklah dilakukan dengan berkesinambungan. Harus terus menerus dan jangan terhenti karena bosan. Harus dilakukan dengan kesabaran, dengan taktik yang tepat, dengan keterangan yang jelas dan disampaikan secara santun. Seperti itu hendaknya usaha dakwah dilakukan. Jangan cepat putus asa. Nah, kalau usaha sudah maksimal, tetap tidak ada juga hasilnya barulah lepas tanggung jawab kita. Kita serahkan kepada Allah untuk menilainya. Sebab memang ada orang yang kalau kata Allah dia tidak akan dapat petunjuk, biar siapa juga yang mengingatkan tidak ada guna baginya, tetap dia tidak akan dapat petunjuk. Di dalam surah Tahrim pada ayat berikutnya dicontohkan oleh Allah tentang istri nabi Nuh dan nabi Luth. Keduanya akan masuk neraka dikarenakan kedurhakaan mereka. Padahal mereka istri nabi.
Jika dakwah kepada istri dan anak-anak tidak diperhatikan dan tidak disempurnakan, maka anak dan istri bisa jadi musuh. Baik di dunia apalagi nanti di akhirat. Jadi musuh secara nyata ataupun musuh secara tersembunyi. Secara nyata, misalnya istri jadi pelawan, suka merongrong, suka membuat masalah.
Atau secara sembunyi-sembunyi. Rumah tangga terlihat megah. Rumah gedung mewah bertingkat. Perabotan serba indah. Mobil mewah bertumpuk di garasi. Tapi nilai kekeluargaan tidak jelas. Suami tidak tahu entah kapan datang dan perginya. Istri begitu pula karena sama sibuknya. Anak-anakpun demikian. Lalu, dalam waktu tidak terlalu lama, berguguran satu persatu. Si suami berselingkuh dengan istri orang. Si istri pergi pula mengikuti suami orang. Anak-anak terjerumus ke jurang narkoba. Maka tidak ada lagi yang tinggal selain dari kebinasaan. Allah sudah mengingatkan, ‘Wahai orang-orang yang beriman! Sesungguhnya di antara istri-istri kalian serta anak-anak kalian ada yang bisa menjadi musuh kepada kalian. Maka berhati-hatilah kalian terhadap mereka.... (sampai akhir ayat. (At Taghabun ayat 14). Berhati-hatilah terhadap mereka. Berhati-hati dalam memimpin mereka, menasihati mereka, mengajari mereka. Berhati-hati membimbing dan mengawasi mereka. Sebab jika tidak mereka bisa jadi musuh kalian. Intinya, dakwah kepada anak dan istri itu sangat perlu. Dilakukan secara berkesinambungan dan penuh kesabaran serta disertai contoh nyata. Harus dimulai dengan diri sendiri. Itulah awal kaji kita tadi. Apakah dapat engku Kari fahami ?’
’Alhamdulillah Ustad. Jadi rupanya tidak mudah tanggung jawab dalam berumah tangga ini. Tanggung jawab besar yang harus dipikul. Bukanlah kehidupan berumah tangga itu sekedar untuk bersenang-senang saja. Terima kasih Ustad.’
‘Betul sekali yang engku Kari sebutkan. Tidak mudah karena kita faham dan mengerti. Karena kita menyadari semua ini akan kita pertanggungjawabkan di hadapan Allah. Namun, sebenarnya tidak pulalah terlalu berat. Sebab petunjuk Allah sudah ada. Contoh soal sudah banyak. Tinggal kewajiban kita mempelajari. Mengaji dan mempelajari petunjuk-petunjuk Allah tersebut. Petunjuk di dalam al Quran yang dijamin Allah bahwa isinya tidak ada keraguan sedikitpun di dalamnya. Adakah kita beriman? Kalau kita beriman, maka ikutilah petunjuk itu. Kalau tidak jelas keterangannya dari yang kita baca, ikuti seperti yang dicontohkan Rasulullah. Sunah-sunah Rasulullah. Dengan cara seperti itulah hendaknya kita menjalankan agama ini. Artinya sangatlah perlunya mengaji. Datang ke pengajian seperti ini. Tanyakan yang kurang jelas agar dapat kita fikirkan dan fahami bersama isi pengajian tersebut. Bagi orang yang rajin mengaji, dan dia sudah faham, tidak ada lagi baginya pilihan selain menjalankan sesuai dengan apa yang sudah dipahaminya itu. Lalu mengamalkan apa-apa yang sudah didapat dari pengajian dengan ikhlas semata-mata karena Allah. Dilakukan dengan penuh keberhati-hatian, dengan rasa tanggung jawab, serta mengikuti yang dicontohkan oleh Rasulullah.
Sampai disini pula dulu taklim kita kali ini. Insya Allah nanti kita sambung pula di lain hari,’ demikian Buya Abidin menutup pengajian beliau malam itu.
*****
TAKLIM BUYA ABIDIN (2)
PATUH KEPADA ALLAH
Sudah datang lagi waktunya pengajian Buya Abidin di Mesjid Gurun. Jamaah sudah berkumpul sejak sebelum shalat isya. Bertambah banyak juga yang datang. Kalau biasanya jamaah bapak-bapak hanya sedikit lebih dari dua saf, kini bahkan sudah mencapai empat saf penuh. Begitu pula dengan jamaah ibu-ibu. Mudah-mudahan hal ini dikarenakan bertambahnya kesadaran masyarakat sesudah mendengar pengajian beliau. Bahkan anak-anak muda sekarang mulai pula tertarik mendengarkan ceramah Buya Abidin. Sedikit demi sedikit masyarakat kampung itu ikut merasakan kesejukan dari pengajian ini dan langsung mengamalkannya serta mengajarkan kepada orang-orang terdekat di sekitar mereka.
Kali ini pengajian itu membahas tentang kepatuhan kepada Allah dan perlunya ikhlas dalam menjalankan perintah-perintah Allah. Menurut keterangan Buya di dalam al Quran terdapat firman Allah yang berbunyi; ‘Wamaa umiruu illaa liya’budullaaha mukhlishiina lahuddiin’ Surat Al Bayyinah (98) ayat 5. Yang artinya, ‘Padahal mereka itu hanyalalah disuruh menyembah Allah serta ikhlas dalam menjalankan agama semata-mata karena Allah.’
Lawan dari patuh adalah ingkar, tidak patuh. Tidak patuh ini adalah dosa yang mula-mula sekali terjadi dan dilakukan oleh iblis. Dia tidak mau patuh ketika disuruh memberi hormat (sujud) kepada Adam, manusia pertama yang diciptakan Allah. Kenapa iblis menolak? Ternyata karena sombong dan tekebur. Karena merasa diri lebih. ‘Abaa wastakbara’ artinya, enggan serta merasa tekebur. Karena merasa dia lebih utama. Lebih senior dan lebih dulu dijadikan. Karena menurut dia asal usulnya lebih baik dibandingkan asal usul Adam si pendatang baru itu. Itulah sebabnya. Karena merasa hebat. Maka dia ingkar dan tidak patuh lalu durhaka kepada perintah Allah dan akhirnya diusir oleh Allah. Maka iblis terusir ke muka bumi menjadi musuh, menjadi tukang menipu daya terhadap anak cucu Adam. Menjadi provokator dan menjadi penyeru kepada pembangkangan terhadap Allah. Agar setiap anak cucu Adam terpeleset mengikuti tipu daya setan, agar mereka terpeleset untuk jadi tekebur, sombong bahkan pendurhaka.
Mendurhaka kepada siapa saja bahkan kepada Allah yang telah menjadikannya. Allah memerintahkan manusia agar menyembah Allah selama mereka hidup di muka bumi ini, agar berjalan di muka bumi dengan santun dan tidak sombong, tidak berbuat kerusakan atau kebinasaan. Allah telah mengutus para Rasul untuk menyampaikan pesan untuk bertauhid mengesakan Allah, untuk mengajarkan cara-cara beribadah menyembah Allah, untuk menjalani kehidupan di jalan yang lurus agar tidak tersesat dan salah jalan. Untuk mengingatkan peraturan-peraturan Allah tentang apa-apa saja yang boleh dikerjakan dan apa-apa saja yang tidak boleh dilakukan. Lawan dari seruan para Nabi dan rasul tadi adalah rayuan dan tipu daya setan. Setan yang senantiasa mematahkan apa-apa yang disampaikan oleh para Nabi dan Rasul itu dan menggantinya dengan hal yang berlawanan. Yang memoles agar semua yang disampaikan para Nabi itu agar terlihat bertentangan. Yang diperintah jadi terlihat seolah-olah buruk, berat dan menyusahkan sehingga akhirnya manusia yang tertipu tidak jadi mengerjakan yang diperintah. Begitu pula memoles apa-apa yang dilarang para Rasul itu menjadi seolah-olah terlihat indah dan bagus sehingga hati manusia yang lemah cenderung kepadanya. Padahal sesungguhnya kalau dituruti yang diperintahkan itu tidaklah berat sangat untuk mengerjakannya. Tidak ada perintah itu yang susah untuk dikerjakan melampaui kemampuan manusia untuk melakukannya. Allah banyak memberikan kemudahan-kemudahan untuk apa-apa yang Dia perintahkan ketika manusia yang diperintah berada dalam kesulitan untuk melaksanakannya. Ambil contoh perintah menegakkan shalat. Kalau tidak sanggup mengerjakan secara utuh dengan berdiri boleh juga dikerjakan dengan duduk. Tidak sanggup duduk boleh dalam keadaan berbaring. Yang terutama bahwa kita patuh untuk menerima perintah itu dan mengerjakannya dengan ikhlas semata-mata karena Allah.
Itulah lebih kurang inti ceramah Buya Abidin. Para jamaah terpaku mendengarnya. Ada yang manggut-manggut faham. Tibalah giliran untuk berdiskusi dengan tanya jawab. Bermacam-macam pertanyaan yang keluar. Mulai dari pertanyaan sungguh-sungguh sampai pertanyaan main-main atau asal-asalan. Malin Ameh termasuk yang kritis dan bermutu pertanyaannya sebagai berikut.
‘Saya awali bertanya Ustad. Kita disuruh Allah agar patuh kepada apa-apa yang diperintahkan Allah, dan menghentikan segala yang dilarang Allah serta ikhlas dalam beragama. Bagaimanakah tandanya ikhlas itu Ustad. Sebab mungkin saja ada orang yang semua perintah dikerjakannya, semua larangan dijauhinya namun entahlah kalau dia itu ikhlas karena Allah atau bukan. Tolong dijelaskan Ustad. Terima kasih.’
‘Dia beramal dan beribadah, Perintah Allah seperti shalat puasa dan sebagainya dia kerjakan. Larangan Allah dia tinggalkan. Tapi tidak tahu apakah dia itu ikhlas atau bukan. Begitukan pertanyaannya Malin? Agar kita ketahui, bahwa ketika kita beribadah, iblis dan setan tidaklah dia akan tingal diam. Semakin seseorang itu rajin beribadah, semakin giat pula iblis untuk menggelincirkannya. Maka, adakah orang yang sudah berusaha seperti itu tadi dlam kepatuhannya kepada Allah namun tergelincir juga? Jawabnya ada. Yakni orang-orang yang beribadah tapi tidak ikhlas. Tanda ketidak ikhlasannya, kadang-kadang bisa dilihat dari cara orang tersebut beribadah yang asal-asalan. Tidak dengan kesadaran. Tidak dengan pengertian dan tidak terlihat bahwa dia bersungguh-sungguh. Tidak terlihat keyakinannya bahwa dia sedang mengerjakan yang diperintahkan Allah karena dia mengerjakannya dengan setengah hati, sekedar pelepas hutang saja. Misalnya shalatnya asal-asalan, tidak ada tumakninahnya. Ketika dia puasa, puasa itu dihiasinya dengan keluh kesah dan omelan, karena rasa haus, karena udara panas dan sebagainya. Orang yang melakukan amalan dengan cara seperti ini dapat dipastikan bahwa dia tidak ikhlas. Seharusnya kalau akan dikerjakan juga amal itu hendaklah dikerjakan dengan baik. Dengan sungguh-sungguh dan penuh keberhati-hatian. Dengan keyakinan bahwa yang diharapkan adalah keridhaan Allah. Ada rasa takut dan cemas kalau-kalau yang dikerjakan itu tidak cukup baik untuk diterima Allah. Jadi tidak dikerjakan sesuka hati saja, sekedar pelepas hutang.
Lalu ada pula orang yang beramal karena mengharapkan pujian dari orang lain. Terlihat dia beramal juga, berbuat juga, beribadah juga tapi sangat kentara bahwa dia sangat mengharapkan nilai dari orang lain. Orang seperti ini jelas bukan termasuk kategori orang yang ikhlas karena Allah. Mereka ini adalah yang kena tipu daya setan. Segala sesuatu yang diperbuatnya tidak lebih dari sekedar ria. Sedekahnya ria, menolongnya ria, shalatnya ria. Yang dia harapkan hanyalah pujian dan penilaian baik dari orang lain. Ketika dilihat orang dia bisa berakting dengan sangat sungguh-sungguh. Shalatnya indah, ibadah lainnya bagus, sedekahnya banyak. Tapi ketika tidak ada orang yang akan memuji semua itu ditinggalkannya. Dia sangat berharap agar orang mengaguminya. Memujinya dan mengatakan bahwa dia seorang ahli ibadah. Seorang penyantun. Seorang yang sanagt taat. Dan dia sangat senang serta bangga dengan segala pujian gombal seperti itu. Terbusung dadanya, kembang kempis hidungnya ketika dipuji orang. Padahal yang seperti ini tidak disukai Allah. Karena amalan seperti ini bukan amalan karena Allah. Jadi disilah perlunya ikhlas tadi. Shalat ikhlas karena mematuhi perintah Allah. Beramal ikhlas karena Allah. Bersedekah ikhlas karena Allah. Berkata-kata, berbuat apa saja semata-mata hanya karena mengharapkan keridhaan Allah. Itu yang disebut ikhlas. Bagaimana? Apakah dapat Malin fahami?’
‘Ada Ustad. Insya Allah saya dapat memahaminya.’
‘Saya juga ada yang ingin ditanyakan Ustad. Menyimak kaji ustad tadi, sepertinya tidak akan sulit mengerjakan apa-apa yang diperintahkan agama. Banyak kemudahan dari Allah untuk beramal. Tapi dalam kenyataan tidak demikian. Seringkali sulit sekali untuk berbuat amala itu. Mungkin hal ini karena bujuk rayu setan dan iblis seperti yang Ustad uraikan. Pertanyaan saya, bagaimana caranya mengalahkan bujuk rayu iblis sementara dia itu tidak kelihatan. Itu saja pertanyaan saya Ustad,’ kata Sutan Mantari.
‘Wah, pertanyaan Sutan Mantari ini sulit. Bagaimana kita akan melawan setan sementara setan itu tidak kelihatan. Padahal musuh yang terlihat saja tidak sanggup kita melawannya? Jadi bagaimana caranya? Caranya dengan melatih diri kita untuk banyak-banyak dan terbiasa zikir mengingat Allah. Tidak bosan-bosannya kita berzikir dan berdoa memohon kepada Allah. Bukankah banyak sekali ucapan-ucapan zikir ketika kita melihat apa saja atau mengalami apa saja. Mengucapkan bismillah ketika mengawali pekerjaan. Mengucapkan alhamdulillah ketika mengakhiri pekerjaan. Membaca subhanallah ketika mengagumi kebesaran Allah. Membaca masya Allah ketika melihat suatu hal yang mencemaskan. Dan sebagainya. Latih lidah kita akrab dengan zikir seperti itu. Sering-sering kita meminta pertolongan dan perlindungan kepada Allah. Membaca ta’awutz, memohon perlindungan kepada Allah dari godaan syetan yang terkutuk dengan membaca a’uutzubillahiminasysyaithaanirrajiim Jangan bosan-bosan mamintak perlindungan Allah dari setiap bujuk rayu setan. Jadi disadari betul bahwa pekerjaan melawan setan itu memang berat. Bagaimana tidak akan dikatakan berat sebab kita tidak bisa melihatnya. Jadi caranya, mohon pertolongan dan perlindungan Allah. Hanya itu yang dapat kita lakukan dan harus dilakukan dengan sungguh-sungguh. Sebab setan itu sangat tangguh. Dia bahkan bisa masuk ke dalam setiap sudut dan rongga dalam tubuh kita. Dia bisa masuk ke dalam hati. Masuk melalui mata, melalui mulut, melalui pendengaran, melalui hidung. Dapat menggunakan kaki kita. Dia dapat menggunakan tangan kita. Itulah lagi sebabnya kita harus dalam keadaan siaga setiap saat dan membentengi diri kita dengan pagar perlindungan Allah semata. Tanpa pertolongan Allah niscaya kita akan jadi bulan-bulanan dan sasaran empok setan-setan yang sangat lihai dan licik dalam menggoda kita umat manusia. Lalu disamping itu hendaklah kita saling ingat mengingatkan. Disinilah perlunya pengajian seperti ini. Tempat kita saling ingat mengingatkan tentang yang hak agar kita menegakkan yang hak. Tempat kita saling ingat mengingatkan tentang kebatilan, agar kita meninggalkan kebatilan tersebut. Dan hendaklah setiap kita membuka hati untuk mau menerima kebenaran dan peringatan. Ketika kita terkeliru, ada orang mengingatkan, latihlah diri agar mau menerima tegoran orang itu. Mungkin juga, ketika kita sedang hangat dibawah tipu daya setan tidak serta merta kita mau mendengarkannya, tapi paling tidak seandainya ada yang mengingatkan kita agar beristghfar memohon ampun kepada Allah, hendaknya anjuran itu didengarkan dan segeralah beristighfar. Dengan mendengar disebut orang nama Allah, disuruh orang agar minta ampun kepada Allah, hendaklah dilatih diri kita agar segera surut dan kembali kepada kebenaran Allah. Mengerjakan yang demikian itu akan lebih mudah kalau hati kita sudah biasa dilatih untuk mau menerima kebenaran. Bergetar dia ketika disebutkan orang nama Allah, tidak terus membara saja dengan nafsu. Bagaimana, apakah uraian ini menjawab pertanyaan Sutan Mantari?’ tanya Buya Abidin
Sutan Mantari mengangguk-angguk kecil.
‘Sudah terjawab Ustad,’ katanya.
*****
Thursday, December 27, 2007
TAKLIM BUYA ABIDIN 1 (SYARIAT ISLAM)
Di mesjid Gurun biasa diadakan ta’lim bulanan sesudah shalat isya pada hari Sabtu terakhir setiap bulan. Yang memberi ceramah biasanya Buya Abidin, seorang ulama dari Bukit Tinggi. Beliau ini seorang ulama yang sangat sabar dan penyantun. Ta’lim seperti ini sudah beliau jalankan sejak bertahun-tahun. Sejak yang mendengarnya masih bisa dihitung dengan jari, sejak masyarakat umumnya masih banyak cemooh, sejak masyarakat kampung itu umumnya menilai bahwa pengajian buya Abidin itu serba salah semua. Tapi justru disana letak kesabaran buya ini. Meskipun yang mau mendengar kaji hanya beberapa orang, meski yang lain hanya suka mencemooh, biarpun dia mesti kedinginan kena embun tiap malam, bahkan biar beliau sendiri yang mengeluarkan ongkos untuk datang, karena pengajian-pengajian yang beliau berikan memang tidak ada honornya, beliau tetap datang dengan rajin.
Dengan pertolongan Allah SWT, dan usaha tidak kenal lelah buya Abidin, berangsur-angsur bertambah juga peminat ta’lim. Pengajian beliau ini sebenarnya tidaklah pengajian yang rumit-rumit. Seringkali bahkan beliau ulang-ulang. Pengajian itu biasanya menyangkut masalah tauhid, masalah keesaan Allah, masalah kedudukan manusia di hadapan Allah selama mereka hidup di muka bumi. Selalu itu intinya. Tapi buya Abidin sangat pandai menjelaskan dengan contoh-contoh nyata sehingga seolah-olah setiap yang beliau sampaikan itu adalah masalah baru.
Pada kesempatan ta’lim yang terakhir terjadi diskusi panjang. Banyak jemaah yang menanyakan topik yang sering dibahas akhir-akhir ini. Masalah penerapan syariat Islam di Minangkabau. Malin Ameh yang duduk berhadapan dengan buya yang berdiri di atas podium itu, mengawali tanya jawab.
‘Jadi menurut buya tadi, dengan menjalankan syariat Islam itu, tidak perlu terjadi kekhawatiran di tengah masyarakat tentang hukum rajam, hukum potong tangan dan sebagainya, sementara buya juga mengatakan ayat tentang hukum-hukum seperti itu ada di dalam al Quran. Bagaimana sebenarnya ini buya? Kok susah saya memahaminya,’ tanya Malin Ameh.
‘Begini Malin. Malin sudah datang ke pengajian. Sudah mendengarkan pengajian. Sudah faham tentang hukum-hukum Allah. Sudah tahu mana perintah, mana larangan. Nah sesudah itu apa lagi yang akan Malin lakukan dalam menjalani kehidupan ini?’ buya balik bertanya.
‘Tentu kita patuhi buya. Semua perintah kita kerjakan, semua larangan dihindari. Tentu begitu buya,’ jawab Malin Ameh.
‘Betul sekali. Semua perintah dikerjakan. Semua larangan ditinggalkan. Sekarang kita uji satu persatu. Shalat itu perintah Allah atau bukan?’
‘Perintah Allah.’
‘Jadi bagaimana? Kita lakukan atau tidak?’
‘Dilakukan.’
‘Puasa di bulan Ramadhan?’
‘Perintah Allah. Dikerjakan.’
‘Berzina dilarang Allah?’
‘Iya buya.’
‘Jadi?’
‘Dijauhi. Tidak boleh dikerjakan’
‘Mencuri dilarang Allah?’
‘Iya, benar buya.’
‘Tentunya….’
‘Tentu dijauhi. Tidak boleh dikerjakan’
‘Berbohong? Main judi? Menyusahkan orang lain? Bagaimana?’
‘Dilarang Allah. Jadi dijauhi.’
‘Nah! Kalau sudah begitu dimana lagi mungkin Malin kena rajam, kena potong tangan? Malin tidak mau berzina, tidak mau mencuri. Bukankah begitu?’
‘Baiklah buya. Kita yang sudah mendengar pengajian, jadi kita sudah tahu. Bagaimana dengan mereka yang belum mengaji? Yang belum mendengar mana yang perintah Allah, mana yang dilarang Allah? Apakah mereka langsung dihukum potong tangan atau dihukum rajam kalau mereka bersalah? Kalau mereka mencuri? Atau berzina?’
‘Kalau mereka benar-benar belum tahu, jadi bukan pura-pura tidak tahu, belum berlaku hukum. Dan menjadi tanggung jawab kita yang sudah mengetahuinya untuk menjelaskan kepada mereka. Harus kita ajak mereka mengaji. Diterangkan kepada mereka apa-apa yang menjadi perintah Allah dan apa-apa yang menjadi larangan Allah. Diberitahukan bahwa ada sangsi kalau perintah itu ditinggalkan dan ada pula sangsi kalau larangan itu diabaikan. Di jaman nabi hiduppun demikian. Bukan begitu Islam datang langsung main rajam, main potong tangan. Nabi mengajarkan terlebih dahulu al Quran dan agama sejelas-jelasnya kepada umat. Dijelaskan kedudukan kita umat manusia di hadapan Allah. Beliau lakukan hal itu secara bertahap. Beliau jelaskan mana yang haq dan mesti ditegakkan. Mana yang bathil yang mesti ditinggalkan. Barulah sesudah itu datang hukum. Baru ditegakkan hukum.
Tahukah Malin bahwa melaksanakan hukum rajam itu tidak boleh sembarangan? Mesti ada empat orang saksi yang melihat perbuatan itu dilakukan dengan sebenar-benar menampak. Dan tidak boleh kurang dari empat orang. Dan saksi yang sungguh-sungguh melihat dengan mata kepalanya sendiri, bukan karena dikatakan oleh si anu dan si anu. Bukankah sangat sulit kemungkinan itu akan terjadi? Ada empat orang yang bersama-sama melihat perbuatan zina itu dilakukan? Maka di jaman nabi tidak pernah kejadian ada orang menangkap orang yang berzina untuk kemudian dijatuhi hukum rajam. Tapi orang yang berzina itu sendiri datang kepada nabi meminta dihukum, minta dirajam sesuai dengan yang diperintahkan Allah.
Tersebutlah kisah seorang wanita yang terlanjur berzina, datang kepada nabi, meminta agar dirinya dijatuhi hukum rajam. Orang sekarang pastilah mengatakan wanita itu sinting. Masakan dia datang minta dirajam. Wanita itu bukan orang sinting. Dia orang yang sehat walafiat. Orang yang pikirannya waras. Dan yang lebih utama, dia itu orang yang imannya sangat teguh.
Dan nabi seolah-olah memberi kesempatan untuk dia memungkiri apa yang dikatakannya. ‘Ah, barangkali kamu hanya dipegang-pegang saja oleh laki-laki itu,’ kata beliau. Jawab wanita itu, ‘tidak ya Rasulullah, saya berzina,’ jawabnya. ‘Mungkin engkau hanya diciumnya saja,’ kata beliau lagi. ‘Tidak ya Rasulullah, saya berzina. Bahkan sekarang saya sedang hamil sebagai akibat hubungan itu,’
Kata nabi pula, ‘Baiklah kalau begitu. Kalau betul engkau sedang hamil, peliharalah dulu kehamilanmu itu sampai bayimu lahir.’
Sesudah anak itu lahir, datang pula wanita itu kembali menghadap nabi. Kembali dengan permintaan yang sama, minta dirajam. Kata nabi, tunggulah sampai bayimu disapih, sampai dia berumur dua tahun. Dua tahun kemudian dia kembali lagi minta dijalankan hukuman rajam itu. Bukankah istimewa sekali wanita ini? Coba simpulkan. Apa kira-kira yang menyuruhnya datang berulang-ulang kepada nabi? Iman kepada Allah. Iman kepada hukum-hukum Allah. Jadi seperti itu caranya. Begitu juga dengan orang yang mencuri. Orang yang diancam dengan sangsi akan dipotong tangannya. Dijaman nabi sesudah ayat yang menerangkan hukum potong tangan itu datang, tidak ada yang berani mencuri. Jadi tidak ada yang sampai dipotong tangannya. Seandainya mencuri juga tentu bakalan kena. Dan yang dikenakan hukuman tidak boleh dipilih-pilih. Kalau anak raja yang mencuri dibebaskan tapi kalau rakyat biasa yang mencuri baru dipotong tangannya, bukan begitu. Bahkan sabda beliau SAW, kalau saja Fathimah puteri beliau mencuri, niscaya beliau potong tangannya. Ini bukan sekedar gertak, bukan sekedar omong doang, bukan sekedar biar kelihatan gagah. Tapi sungguh-sungguh. Begitu hukum dihadapan Allah, tidak pandang bulu. Tidak ada istilah kebal hukum. Jadi bagaimana kira-kira bapak-bapak dan ibu-ibu. Apakah bisa dipahami?’
‘Saya juga ingin bertanya buya. Kata orang kalau syariat Islam dijalankan berarti setiap umat Islam yang tidak menjalankan syariat itu akan kena sangsi, kena hukum. Jika orang tidak shalat dihukum. Orang tidak puasa dihukum. Pertanyaan saya, bagaimana menghukum orang yang tidak shalat atau tidak puasa itu? Apakah ada dalam Al Quran perintah untuk menghukum orang yang tidak shalat?’ tanya mak Marah pula.
‘Dalam al Quran ada perintah untuk menegakkan shalat. Wajib mengerjakan shalat itu pada waktu-waktu yang sudah ditetapkan Allah. Yaitu seperti yang kita laksanakan lima kali sehari semalam. Begitu juga dengan melaksanakan puasa di bulan Ramadhan. Allah mewajibkan kita untuk melaksanakannya. Perintah untuk menghukum orang yang tidak menegakkan shalat atau tidak mengerjakan puasa tidak ada dalam al Quran. Di jaman nabi, orang kalau sudah mendengar perintah itu langsung ‘sami’na, wa atha’na’, ‘kami dengar dan kami taati’. Jadi tidak ada orang yang tidak mengerjakan perintah itu.
Karena orang-orang itu, para sahabat nabi itu, mengerti bahwa shalat itu tiang agama, seperti yang beliau isyaratkan bahwa, ‘orang yang meninggalkan shalat itu seperti orang yang meruntuhkan agama’. Tidak ada yang ingin dicap sebagai peruntuh agama. Lebih-lebih lagi, yang mereka lakukan bukan hanya sekedar shalat tapi shalat berjamaah di mesjid. Sebab nabi memberi contoh seperti itu. Beliau ajarkan apa keuntungan shalat berjamaah dan apa pula ruginya kalau tidak datang shalat berjamaah. Bahkan beliau ancam, meski hanya sekedar ancaman, terhadap orang-orang yang tidak datang shalat berjamaah ke mesjid.
Cukup dengan sekadar ancaman itu maka tidak ada lagi orang yang berani untuk tidak datang. Dan kehadiran mereka ini bukan karena takut tapi karena mengerti betul dengan perintah agama yang disampaikan nabi. Dan lebih-lebih lagi, karena mereka mencari ridha Allah. Pada saat orang mengerti betul makna dari ‘mencari ridha Allah’ tidak ada satupun yang berat untuk dilakoni. Datang ke mesjid di waktu subuh di musim dingin, tidak berat. Puasa di hari yang panjang di musim panas tidak berat.
Dan mereka saling ingat mengingatkan dalam berbuat kebajikan. Akhirnya, tidak ada orang yang ‘mesti’ dihukum karena tidak shalat, karena tidak ada yang berani meninggalkan shalat. Begitu juga dengan puasa, dengan membayar zakat. Jadi pada dasarnya yang lebih utama adalah bagaimana caranya agar orang banyak, termasuk kita semua ini mengerti tentang pentingnya menegakkan perintah-perintah agama tadi itu. Jika kita sudah faham, sudah mengerti, rasanya tidak akan mungkin kita berani meninggalkannya apakah shalat atau puasa atau perintah-perintah Allah yang lain. Kalau ada orang yang masih belum mengerti tentang arti dan pentingnya menjalankan perintah Allah, maka kewajiban kita untuk mengingatkannya. Mengajaknya supaya mereka mau shalat. Mau puasa. Mau membayar zakat. Lalu kalau ini semua sudah dijalankan di tengah sebuah komunitas, mengingatkan mereka yang lalai sudah dilakukan, memberi tahu mereka yang belum mengerti sudah dikerjakan tapi masih juga ada orang yang membangkang atau melecehkan arti shalat, puasa dan sebagainya itu, sesudah mereka di dakwahi, sesudah ditunjuk dan diajari, maka bolehlah orang seperti itu diberi sangsi. Mungkin dengan cara dikucilkan, dengan cara tidak diperdulikan, dengan cara tidak dianggap keberadaannya sebagai sesama warga. Lalu kalau karena penerapan sangsi itu mereka mengacau, berontak untuk membuat onar mereka bisa dikenakan sangsi hukum karena perbuatannya itu. Begitulah caranya kira-kira.’
‘Jadi tidak ada yang perlu ditakutkan dengan ‘kewajiban menjalankan syariat Islam’ itu buya?’ tanya Malin Deman pula.
‘Dimana lagi takut itu mau diletakkan, Malin? Kalau kita sudah patuh, sudah berniat baik ingin menjalankan agama Allah, mau takut kepada siapa lagi? Cukuplah takut itu kepada Allah semata. Lain dari pada itu tidak ada yang perlu ditakuti. Baiklah, sudah larut waktu. Kita cukupkan sampai disini dulu pengajian kita kali ini. Insya Allah kalau umur panjang kita sambung pula.’
*****
Friday, December 21, 2007
IMAN NIKMAT YANG PALING INDAH
(1) Kenapa Iman?
Alhamdulillaah, wa syukurillaah, wa laa haulaa walaa quwwataa illaa billaah. Betapa indahnya nikmat iman. Iman kepada Allah azza wa jalla. Allah yang menciptakan langit dan segala isinya, yang menciptakan bumi beserta segala isinya pula. Karena hanya dengan beriman kepada Allah itu saja orang-orang yang beriman dimungkinkan untuk mengimani pula apa-apa yang diperintahkan Allah untuk mengimaninya. Orang-orang yang beriman itu mengimani keberadaan akhirat, tempat setiap manusia nanti akan mempertanggungjawabkan di pengadilan Allah Subhanahu Wa Ta'ala setiap amal perbuatan mereka selama mereka berpetualang di muka bumi Allah ini. Mereka beriman dengan akhirat itu dan yakin seyakin-yakinnya bahwa mereka tidak mungkin menghindar daripadanya. Disana mereka akan mendapat ganjaran yang seadil-adilnya dari Allah Yang Maha Adil.
Betapa indahnya nikmat iman. Betapa indahnya mengimani ke Maha Kuasaan Allah, mengimani keberadaan para malaikat yang tunduk patuh kepada Allah Subhanahu Wa Ta'ala saja. Ada di antara para malaikat itu yang ditugaskan untuk mengawasi gerak-gerik setiap manusia. Mencatat setiap tingkah laku, perbuatan, baik maupun buruknya. Betapa indahnya mengimani kebenaran kitab-kitab yang diturunkan oleh Allah untuk menjadi 'hudan', petunjuk, bagi manusia (yang mau). Begitu pula keimanan kepada utusan-utusan Allah yang diutus Nya dengan haq (kebenaran).
Allah Subhanahu Wa Ta'ala tidak memberikan nikmat iman itu kepada setiap manusia. Fa alhamahaa fujuuraha wa taqwaahaa. (Maka Dia mengilhamkan (menunjukkan kepada jiwa itu) kefasikan dan ketakwaan). Barangsiapa yang ditunjukiNya tiada siapapun akan dapat menyesatkan (orang itu), dan barangsiapa dibiarkanNya sesat tiada siapapun akan dapat menunjukinya. Bahkan Allah ingatkan kepada nabi Muhammad SAW sebagimana firmanNya di dalam al Quran surah al Baqarah ayat 272; 'Bukanlah kewajibanmu memaksakan mereka mendapat petunjuk, tetapi Allah lah yang menunjuki siapa saja yang dikehendakiNya.'
Betapa indahnya nikmat iman dan sungguh sangat pantas dan bahkan wajib kita syukuri. Karena tidak kepada semua umat manusia diberikan oleh Allah Subhanahu Wa Ta'ala iman itu. Karena tidak dapat kita (orang-orang yang beriman) membayangkan, betapa akan celakanya kita kalau kita justru dibiarkan Allah berada dalam kefasikan. Senantiasa berada dalam keragu-raguan. Senantiasa merasa kian senteng kemari bedo. Terlunta-lunta dalam kesesatan dan bahkan tidak tahu bahwa sedang tersesat. Betapa akan celakanya kita, tanpa iman, lalu hanyut dalam alur fikiran kita yang padahal akal kita itu sangat cetek dan dangkal. Bagaimana mungkin kita sanggup memikirkan ilmu kekuasaan Allah Subhanahu Wa Ta'ala yang maha luas dengan otak kita yang secuil dan serba terbatas itu.
Betapa indahnya iman. Seyogianyalah kita senantiasa memohon kepada Allah Subhanahu Wa Ta'ala agar kiranya Dia memelihara hati kita untuk selalu berada dalam keimanan. Agar kiranya Dia tidak membiarkan kita tersesat setelah kita beriman. Rabbanaa laa tuziqquluubana ba'da itz hadaitanaa wa hablanaa milladunka rahmah. Innaka antal wahhaab.
(2) Nikmat Iman
Betapa indah dan nikmatnya iman. Coba bayangkan kalau kita berada pada posisi yang dibiarkan saja tersesat oleh Allah Subhanahu Wa Ta'ala. Dibiarkan saja terjerumus kedalam kefasikan olehNya. Bukankah banyak kita lihat orang yang kok ya tidak beriman. Yang kok ya kafir. Yang kok ya durhaka kepada Allah Subhanahu Wa Ta'ala. Dan Allah biarkan. Apakah itu seorang putera Nuh a.s. yang meskipun ayahnya seorang nabi Allah. Apakah itu istri Luth a.s. yang meskipun suaminya nabi Allah. Kurang apa dakwah kepada mereka? Lihatlah Samiriy yang baru saja selamat dari kejaran tentara Firaun. Yang baru saja melihat mu'jizat nabi Musa membelah laut Merah untuk menyeberanginya dengan selamat. Lalu serta merta kembali mendurhaka. Menciptakan patung sapi untuk disembah. Kalau memang sudah bakat dari sananya untuk ingkar, Allah biarkan orang-orang seperti itu ingkar. Allah biarkan orang-orang seperti itu mabuk dengan kekafiran dalam kefasikannya.
Ini jadi i'tibar kepada kita bahwa iman itu harus 'dimodali' oleh setiap mereka yang ingin terkategori beriman. Dan lalu iman itu harus senantiasa dipupuk dan dipelihara. Harus dimintakan kepada Allah Subhanahu Wa Ta'ala bantuan kekuatan agar kita mampu mempertahankan keimanan itu. Diantara propaganda bodoh orang Nashara mengatakan bahwa orang Islam itu bahkan tidak yakin dengan agamanya karena setiap saat minta petunjuk ke arah jalan yang lurus. Kata mereka, berarti orang-orang Islam itu tidak kunjung dapat juga arah yang lurus itu dan selalu saja nyinyir meminta. Mereka tidak tahu betapa hebatnya usaha dan tipu daya syetan untuk senantiasa membelokkan arah keimanan setiap manusia-manusia yang beriman. Maka sabda nabi ada orang yang pagi beriman sorenya kafir. Sore beriman paginya berubah menjadi kafir. Jadi jangan terlalu cepat pede, terlalu cepat takabur, terlalu cepat mengklaim bahwa 'saya adalah orang beriman dan iman saya sudah teruji'. Belum tentu.
Oleh karena itu, ingatlah! 'Hai orang-orang yang beriman! Mantapkanlah iman kepada Allah, kepada RasulNya, kitab (al Quran) dan kitab yang diturunkan sebelumnya. Barangsiapa yang kafir kepada Allah, malaikat-malaikatNya, kitab-kitabNya, rasul-rasulNya dan hari akhirat, maka sesungguhnya telah jauh sekali sesatnya.' (Al Quran 4:136).
Dan tidak bisa kita menjamin bahwa merek suatu kaum adalah jaminan keimanannya. Tidak bisa kita mengatakan bahwa setiap Arab pasti orang yang beriman. Setiap orang Minang pasti orang yang beriman. Setiap anggota famili kita pasti orang yang beriman. Belum tentu. Kita wajib berusaha keras untuk menjaga keteguhan iman kita sendiri-sendiri, menjaga keteguhan iman anggota keluarga kita, kemudian anak kemenakan kita, kemudian orang sekampung kita. Dengan saling mengingatkan. Dengan saling mendoakan. Setelah itu terpulang kepada Allah. Kalau ada anak kemenakan kita yang 'mantiko langek', yang mencari-cari pembenaran untuk keingkarannya, yang berani berkafir-kafir ria, yang berani memperolok-olokkan ayat-ayat Allah, agama Allah, maka kita harus coba mengingatkan. Tapi hasil dari usaha kita itu tergantung kepada Allah jua. Kalau Allah sudah tetapkan 'dia' atau 'mereka' sebagai golongan yang akan dimasukkan Allah kedalam nerakaNya, maka kita tidak akan dapat menolong mereka. Mudah-mudahan Allah Subhanahu Wa Ta'ala senantiasa menunjuki kita ke jalan yang lurus. Ke jalan orang-orang yang (telah) diberiNya nikmat. Bukan ke jalan orang-orang yang dimurkaiNya. Dan bukan ke jalan orang-orang yang sesat. Amiin.
(3) Iman Yang Lurus
Dengan keimanan yang lurus, masalah hidup ini insya Allah bisa disederhanakan. Waktu sakit kita beriman, waktu susah kita beriman, Waktu dapat musibah kita beriman, waktu dapat cobaan kita beriman. Begitu juga waktu kita diberi kemudahan oleh Allah Subhanahu Wa Ta'ala, kita tetap beriman. Nah apa untungnya? Bagaiman urusan bisa jadi sederhana? Kalau hanya dengan beriman saja?
Orang yang beriman cepat dan mudah membaca fenomena kehidupan. Ketika sakit, pertama dia berikhtiar mencari kesembuhan, sesudah itu dia bersabar menanggungkan rasa sakit tadi, kemudian diserahkan urusannya kepada Allah, dia berdoa kepada Allah, memohon kepada Allah. Tidak ada keluh kesah, tidak ada syak wasangka, tidak ada mencari-cari kambing hitam untuk diumpat dan disalah-salahkan. Bukankah dengan demikian urusannya jadi sederhana? Kalau dia mengumpat, kalau dia menyesal-nyesali, kalau dia berkeluh kesah, bukankah semua itu tidak akan membantu penyembuhan sakit tadi?
Begitu juga waktu dia ditimpa kesusahan, mendapatkan musibah atau mendapat cobaan dan ujian dalam bentuk apa saja. Coba kita bandingkan orang yang beriman, yang bertawakkal kepada Allah Subhanahu Wa Ta'ala, yang bersabar dengan ujian atau musibah itu di satu sisi terhadap orang yang berkeluh kesah di sisi lain. Ada seorang anggota keluarga harus pergi dalam perjalanan penting di tengah hujan lebat. Urusan itu sedemikian penting sehingga dia tetap berangkat juga. Salah satu anggota keluarganya melarangnya pergi, tapi karena penting itu tadi dia berangkat juga. Terjadi musibah, dia mengalami kecelakaan. Pada saat musibah itu terjadi sudah berlaku takdir Allah kepadanya. Anggota keluarga yang beriman menerima musibah itu dengan sabar. Anggota keluarga yang kurang imannya atau tidak beriman, mengeluarkan penyesalannya. "Lah den tagah ang pai, awaang pai juo, tumah iko nan tajadi, indak tau ang muluik den masin." (Sudah aku larang kamu pergi, namun kamu pergi juga. Lihatlah sekarang ini yang terjadi. Kamu tidak tahu betapa omonganku selalu bermakna.) Lalu apa faedahnya kepada musibah yang sudah berlaku? Tidak ada.
Allah Subhanahu Wa Ta'ala senantiasa akan menguji hamba-hambaNya. Dengan musibah, dengan kesusahan, dengan kekurangan atau bahkan dengan harta yang berlebih, dengan kekayaan. Nanti akan terlihat siapa di antara mereka yang beriman kepada ketetapan Allah, yang bersyukur dengan nikmat Allah atau bahkan sebaliknya yang ingkar dan kufur terhadap nikmat-nikmat itu.
Allah ingatkan kita dengan akan terjadinya ujian-ujian itu. 'Dan sesungguhnya Kami akan menguji kalian dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan beri kabar gembiralah orang-orang yang sabar. Yaitu orang-orang yang apabila ditimpa musibah mereka berkata; 'kami datang dari Allah dan kami kembali kepadaNya.' Mereka (yang seperti ini) yang memperoleh berkah dan rahmat dari Rabb mereka dan mereka inilah yang mendapat petunjuk.' (Al Quran 2:155-157).
Betapa indahnya nikmat iman. Dengan keimanan kita pandai bersyukur, kita pandai menyikapi apapun yang terjadi ke atas diri kita. Dengan keimanan kita segera sadar bahwa kita ini makhluk Allah yang lemah, kecil, yang tidak berdaya apa-apa kalau bukan dengan pertolongan Allah. Kalau kita kaya, kita tidak berubah jadi takabur dan sombong merasa bahwa kekayaan itu hasil jerih payah kita semata. Kalau kita pintar kita sadar bahwa kepintaran itu adalah pemberian Allah jua, sehingga tidak menjadikan kita sombong untuk menantang ilmu atau kekuasaan Allah.
Nikmat iman seperti itu hanya mungkin dirasakan kalau di dalam hati kita ada bibit keimanan. Karena banyak saja orang yang sombong, yang takabur, yang merasa hebat lalu berani menyangkal kekuasaan Allah. Ada orang yang seperti itu. Kita memohon kepada Allah, mudah-mudahan kita terhindar dari kesombongan seperti ini.
(4) Berbahagialah Orang Yang Beriman
Dengan keimanan kita percaya dan yakin seyakin-yakinnya tentang keberadaan hari akhirat. Dengan keimanan kita berharap bahwa Allah Subhanahu Wa Ta'ala akan memberikan kepada kita pertolonganNya pada hari berbangkit itu nanti. Dengan keimanan kita berharap kita akan dihindarkan Allah dari siksaanNya pada waktu itu nanti. Kita beriman, percaya, yakin dengan keberadaan surga dan neraka Allah. Kita takut untuk dimasukkanNya ke dalam nerakaNya yang bernyala-nyala itu. Yang di dalamnya ada siksa yang pedih. Perlu kita bayangkan bentuk siksaan itu agar timbul di hati kita keyakinan yang lebih lagi dan ketakutan yang lebih lagi. Agar kita berusaha dengan sepenuh hati menghindar daripadanya.
- Dan golongan kiri. Siapakah golongan kiri itu?
- (Mereka ) dalam angin yang amat panas dan air yang mendidih
- Dalam naungan asap yang hitam
- Yang tidak dingin tidak melegakan
- Sesungguhnya mereka sebelum ini bermewah-mewah
- Dan mereka terus menerus melakukan dosa-dosa besar
- Dan mereka mengatakan ; "Apakah kami, apabila telah mati dan telah menjadi tulang belulang akan dibangkitkan kembali? Dan bapak-bapak kami yang terdahulu?"
- Katakanlah, "Sesungguhnya orang-orang yang terdahulu dan orang-orang kemudian
- Benar-benar akan dikumpulkan di waktu tertentu pada hari yang dimaklumi
- Kemudian kamu, hai orang-orang yang sesat lagi mendustakan
- Akan memakan buah pohon zaqqum
- Dan kamu memenuhi perutmu dengan buah zaqqum itu
- Kemudian kamu meminum air yang sangat panas
- Maka kamu minum seperti minumnya unta yang sangat kehausan
- Demikianlah hidangan untuk mereka pada hari pembalasan." Al Quran 56: 41-56
Hanya dengan mata iman kita dapat membayangkan kepedihan dan kesengsaraan yang digambarkan oleh Allah Subhanahu Wa Ta'ala yang akan dirasakan lepada mereka-mereka yang durhaka kepada Allah. Mereka yang tidak beriman mungkin akan menertawakannya sebagai dongengan kosong. Tapi mereka yang beriman yakin seyakin-yakinnya akan janji Allah, dengan ancaman Allah itu dan akan berusaha menghindar daripadanya. Orang-orang kafir, orang-orang yang tidak percaya, yang sekarang santai-santai saja, yang cuek-cuek saja, boleh kita bayangkan betapa nestapanya mereka itu nanti berhadapan dengan kenyataan yang pasti akan terjadi itu.
Betapa nikmatnya iman. Karena hanya dengan iman kita mungkin berusaha menghindar dari azab Allah. Karena hanya dengan iman kita senantiasa memohon kepada Allah agar Allah mengampuni dosa-dosa kita. Agar Allah senantiasa membimbing kita ke jalan yang diridhaiNya. Agar kelak kita terhindar dari siksaanNya yang sangat dahsyat.
Hanya dengan iman kita mepercayai dengan seyakin-yakinnya bahwa siksaan itu akan dirasakan dalam waktu yang sangat lama bahkan kekal selamanya. Padahal perjalanan waktu di akhirat itu, menurut keterangan Allah, sehari disana semisal seribu tahun kehidupan di dunia. Artinya seandainya seseorang disiksa selama satu hari saja, masya Allah, itu sama dengan derita seribu tahun waktu dunia ini. Pernahkah kita merasakan pedihnya sakit? Entah ketika kaki kita terantuk? Berapa lama kemudian sakit itu dengan kekuasaan Allah hilang dan tidak terasa lagi. Tapi disana. Sakit itu akan dirasakan terus menerus tiada hentinya. Dalam waktu yang lama sekali. Qad aflahal mu'minuun.
(5) Sinar Keimanan
Di Majalah Hidayatullah edisi bulan September 2004 ada artikel berjudul 'Penjara Bukan Akhir Segalanya' menceritakan betapa ulama-ulama ternama yang pernah dipenjarakan berkarya lebih gemilang dalam penjara. Ada nama Sayyid Quthb yang menulis tafsir Fii Zhilalil Quran, Ibnu Taimiyah yang mengungkapkan, "Bila mereka mengusirku, itulah rihlahku. Bila mereka memenjarakanku, itulah khalwatku. Dan bila mereka membunuhku, itulah jalan syahadahku". Ada Ibnu Al-Haitsam seorang ilmuwan Mesir abad kesepuluh yang pernah dipenjarakan penguasa Mesir dan menemukan teori-teori optik selama di penjara. Dalam negeri kita ada Buya Hamka yang menulis Tafsir Al Azhar selama berada dalam tahanan Soekarno, Muhammad Natsir yang menulis Kapita Selekta Dakwah selama menjadi tahanan politik Soekarno. Mudah untuk difahami, nilai imanlah yang menjadikan beliau-beliau itu berprestasi ketika kepada beliau ditimpakan musibah, ketika beliau mengalami pengekangan, pengucilan terhadap fisik beliau oleh fihak penguasa. Beliau-beliau ini justru semakin 'bersinar' ketika fisiknya dipasung. Inilah contoh pengaruh cahaya iman.
Dengan nilai keimanan orang tidak berkeluh kesah ketika ditimpa musibah biar betapa dahsyatnya musibah itu. Ikhtiar tetap diupayakan. Perlawanan bila perlu tetap dijalankan. Dan yang lebih utama doa kepada Allah Subhanahu Wa Ta' ala senantiasa dipanjatkan, kiranya Dia Yang Maha Pengasih senantiasa mencurahkan rahmat dan pertolonganNya.
Iman menjadikan orang-orang beriman tidak pernah patah hati, tidak pernah pesimis, tidak hanyut dibawa perasaan duka ataupun gembira berlebihan. Mereka senantiasa ingat dan sadar, ada Allah tempat memohon, tempat berlindung, tempat meminta pertolongan. Dan memang mereka senantiasa memerlukan pertolongan Allah Subhanahu Wa Ta'ala. Mereka berbeda dengan orang-orang yang membelakangi Allah. Yang kafir kepada Allah. Yang senantiasa melanggar perintah-perintah Allah. Orang-orang ini senantiasa melupakan Allah, dan Allah menjadikan mereka lupa diri. Menjadikan mereka fasik. Menjadikan mereka semakin bodoh tapi semakin tidak tahu kebodohan diri mereka.
Maka Allah mengingatkan kepada orang-orang yang beriman agar jangan sampai melupakan Allah lalu Allah menjadikan mereka lupa diri seperti firman Allah di dalam al Quran;
’Dan janganlah kamu seperti orang-orang yang yang lupa kepada Allah, lalu Allah menjadikan mereka lupa kepada dirinya sendiri. Mereka (yang seperti) itu adalah orang-orang yang fasik.’ (Al Quran 59:20).
Dan ganjaran bagi orang yang beriman tidaklah akan sama dengan ganjaran terhadap orang-orang yang ingkar. Orang-orang yang beriman kepada Allah, yang mendapatkan keridhaan Allah, Allah janjikan terhadap mereka surga Allah. Sementara orang-orang yang kafir, yang senantiasa mendurhakai Allah mereka akan dimasukkan kedalam neraka jahannam. Dan tidaklah sama diantara kedua golongan itu, seperti firman Allah dalam lanjutan ayat di atas. Tidaklah sama penghuni neraka dengan penghuni surga. Penghuni surga itulah orang-orang yang beruntung.
Mudah-mudahan Allah menambah keimanan kita dan memelihara kita untuk senantiasa dalam keadaan beriman kepadaNya. Amiin.
(6) Hati Yang Berkarat
Kenapa manusia ingkar kepada Allah? Kenapa manusia ingkar kepada nabi Muhammad? Yang ingkar kepada Allah, contohnya seperti bani Israel dijaman nabi Musa, dikarenakan akal mereka yang pendek. Mereka meminta kepada nabi Musa agar kepada mereka diperlihatkan wujud Allah, barulah mereka mau percaya kepadaNya. "Ya Musa, kami tidak akan percaya denganmu sebelum kami lihat Allah dengan jelas." (Al Quran 2:55)
Ini bukan karena ketakaburan saja, tapi lebih dikarenakan kebodohan yang bersangatan. Allah adalah Yang Maha Agung. Yang, 'lam yakullahuu kufuwan ahad'. Tidak barangsuatu apapun yang setara denganNya. Kalau masih bisa kalian lihat, masih bisa kalian ukur besarnya, kalian bandingkan wujudnya dengan yang kalian bayangkan, niscaya itu bukanlah Allah Yang Maha Tunggal, Yang Maha Perkasa. Niscaya tuhan seperti itu adalah benda, adalah ciptaan, entah ciptaan kalian sendiri, entah ciptaan angan-angan kalian. Allah Yang Maha Agung tidak dapat kalian rekayasa bentukNya, tidak dapat kalian rekayasa kekuatanNya, tidak dapat kalian rekayasa kekayaanNya. Karena semua sifat-sifat ke Maha Perkasaan, ke Maha Kuasaan, ke Maha Sucian Allah tidak akan tercapai oleh akal kalian untuk membayangkannya, tidak akan terjangkau oleh panca indera kalian untuk mendeteksinya.
Kalian akan dapat merasakan kekuasaan Allah Subhanahu Wa Ta'ala dari alam raya yang diciptakanNya ini, kalau kalian mau beriman. Perhatikanlah langit dengan segala isinya. Perhatikanlah bumi dengan segala isinya pula. Atau perhatikanlah apa-apa yang kalian makan. 'Falyanzhuril insaanu ilaa tha'aamihi. Annaa shabab nal maa a shabbaa. Tsumma syaqaqnal ardhaa syaqqaa. Fa anbatnaa fiihaa habbaa.' (Maka hendaklah manusia itu memperhatikan makanannya. Sesungguhnya Kami telah mencurahkan air hujan. Kemudian Kami renggangkan bumi dengan cukup. Lalu Kami tumbuhkan biji-bijian di muka bumi itu.) (al Quran 80: 24-27). Cobalah bantah kalau sanggup!
Makanan yang kalian makan, rezeki yang kalian peroleh, kehidupan yang kalian nikmati, darimana kalian dapat? Dari hasil jerih payah kalian saja, tanpa pertolongan Allah? Sehebat itukah kalian? Kalaulah iya sehebat itu kalian, sanggupkah kalian hidup tanpa masalah di muka bumi Allah ini? Tidak pernahkah kalian merasakan sakit? Merasakan sulit? Atau merasakan perubahan menjadi tua, menjadi lemah sampai akhirnya tidak berdaya? Cobalah jawab!
Kenapa pula ada manusia mengingkari kerasulan Muhammad SAW? Kenapa mereka dustakan kenabiannya? Kenapa mereka cari-cari kelemahannya sesuai dengan kebutuhan hawa nafsu mereka?
Yang mendustakan nabi Muhammad SAW mula-mula adalah orang-orang Quraisy, kaum famili beliau sendiri. Mereka mengingkari ajaran tauhid yang dibawa nabi. Mereka mengingkari ajaran yang mengatakan bahwa manusia itu semua sama di hadapan Allah Sang Maha Pencipta. Yang membedakan mereka hanyalah nilai taqwa mereka masing-masing kepada Allah. Ini adalah sesuatu yang baru bagi tatanan kehidupan kaum Quraisy dan mereka tidak siap menerimanya. Mereka percaya dengan Allah, tapi pada saat bersamaan mereka juga mempercayai Latta dan Uzza. Dan mereka tidak dapat membayangkan bahwa kedudukan mereka sebagai bangsawan Quraisy disetarakan dengan kedudukan budak belian. Buat mereka ini jelas-jelas tidak masuk akal dan tidak boleh diterima. Jadi harus diperangi. Muhammad dan ajarannya harus dilawan, dan itulah yang mereka lakukan.
Golongan berikutnya yang mendustakan kerasulan Muhammad SAW adalah kaum Yahudi. Padahal ketika itu mereka sedang menunggu kedatangan nabi akhir zaman. Mereka mengenali ciri-ciri nabi akhir zaman itu dari kitab suci mereka. Dan mereka berharap bahwa nabi itu akan hadir dari kalangan mereka, kalangan bani Israel. Mereka kecewa ketika mengetahui bahwa nabi itu terlahir dari kalangan Arab. Timbul rasa iri, timbul dengki, timbul nafsu benci. Lalu mereka menolaknya, tidak mengakuinya, mendustakannya dan ikut memeranginya. Karena hawa nafsu mereka.
Lalu golongan Nashrani. Yang ketika itu berkuasa di Imperium Romawi. Sebuah kerajaan besar yang membentang sangat luas dari Eropah sampai ke Asia Barat. Raja-raja mereka adalah penganut agama Nashrani (Kristen). Berbeda dengan Najasi, raja yang juga beragama Nashrani dari kerajaan Habasyah yang menerima kerasulan Muhammad SAW, Heraqlius yang sebenarnya sempat menunjukkan minat dan ketertarikan hatinya terhadap pesan Islam, akhirnya mengalah kepada bujukan pembesar-pembesar dan pemuka-pemuka agama Nashrani untuk tidak menerima tawaran dari nabi orang Arab, golongan yang selama ini dipandang dengan sebelah mata itu. Akhirnya kesombongan juga yang membatasi mereka dari menerima kebenaran agama Islam. Meski akhirnya sejarah menunjukkan bahwa rakyat di daerah kekuasaan Romawi Timur itu sedikit demi sedikit beralih memeluk agama Islam, pemuka-pemuka agama Kristen tetap menganggap ajakan dan dakwah nabi Muhammad SAW tidak pantas diikuti dan mereka berusaha menebar fitnah untuk memusuhi agama Islam yang dibawa oleh nabi Muhammad SAW.
Meskipun kaum musyrikin Quraisy, kaum Yahudi di tanah Arab, dan kerajaan Romawi Timur yang beragama Nashrani dalam waktu singkat dapat dikalahkan oleh kekuatan Islam, namun faham syirik, agama Yahudi yang membenci kerasulan Muhammad SAW serta agama Nashrani yang menebar fitnah tentang Islam tetap berkelanjutan sampai sekarang ini.
(7) Kenapa Ingkar?
Kenapa manusia ingkar kepada kitabullah (al Quran)? Kenapa pula manusia ingkar kepada hari pembalasan? Bagi orang-orang yang beriman, begitu membuka lembaran pertama al Quran, membaca ayat-ayat awal surah al Baqarah, mudah bagi mereka untuk langsung percaya, langsung yakin, bahwa ini adalah wahyu Allah. 'Kitab ini, tidak ada keragu-raguan padanya, menjadi petunjuk bagi orang-orang yang bertaqwa.' Isi al Quran itu adalah himbauan untuk mengabdi kepada Allah Yang Maha Satu, untuk mematuhi perintah-perintahNya, menjauhi larangan-laranganNya. Isi al Quran berisi bimbingan, petunjuk, peringatan dalam mengharungi kehidupan di bumi Allah ini, serta mempersiapkan diri untuk menghadapi hari pertanggungajawaban di pengadilan Allah kelak. Di dalamnya juga ada peringatan dan resiko, serta ancaman bagi mereka-mereka yang durhaka kepada Allah. Kesemuanya, baik petunjuk maupun ancaman itu bersifat tegas dan nyata. Karena dianya adalah 'hudan linnaasi wabayyinaati minal hudaa wal furqaan'. (Menjadi petunjuk bagi manusia, dengan penjelasan petunjuk-petunjuk itu dan menjadi pemisah (antara yang hak dan yang bathil)).
Dan al Quran mengajarkan apa-apa yang boleh dan yang tidak boleh dilakukan manusia untuk mendekatkan diri mereka mentauhidkan Allah Subhanahu Wa Ta'ala. Dan mengajarkan apa yang menjadi kewajiban kepada mereka, apa-apa yang menjadi larangan kepada mereka.
Bagi orang-orang yang tidak beriman, atau bagi orang-orang yang mendurhakai ketetapan dan peraturan Allah, justru hal-hal itu yang menjadikan mereka semakin ingkar. Mereka mendurhakai baik sebagian maupun secara keseluruhan peraturan-peraturan atau ketetapan-ketetapan Allah tersebut. Waktu dibacakan kepada mereka isi dan kandungan al Quran, mereka menolaknya atau bahkan memperolok-olokkannya. Mereka mengatakan bahwa ayat-ayat itu hanyalah dongengan orang-orang dahulu kala. Atau mereka mengatakan bahwa kondisi penerapan ketentuan seperti yang ada di dalam al Quran itu sudah kuno dan tidak perlu lagi diterapkan. Sudah tidak sesuai lagi dengan jaman sekarang. Melanggar HAM dan sebagainya.
Sikap seperti itu sudah disinyalir Allah. Memang begitu orang-orang yang tidak beriman. Memang begitu orang-orang yang mendustakan (agama) Allah. Dari dahulu kala sampai sekarang bahkan sampai hari kiamat nanti. Itu yang dikatakan umat nabi Nuh. Itu yang dikatakan Firaun. Itu yang dikatakan orang-orang kafir Quraisy. Itu juga yang dikatakan orang-orang kafir sekarang. Simaklah firman Allah dalam surah al Baqarah ayat 26; "Allah tidak malu memberikan perumpamaan seperti nyamuk dan yang lebih kecil dari itu. Adapun orang-orang yang beriman mengetahui bahwa kebenaran (seperti) itu dari Rabb mereka. Adapun orang-orang kafir berkata,"Apa pulakah maksud Allah dengan perumpamaan seperti itu?" Banyak orang-orang yang dibiarkan sesat oleh Allah dengan perumpamaan seperti itu, dan banyak pula yang ditunjukiNya. Dan yang sesat karenanya adalah orang-orang yang fasik.
Banyak orang yang seperti itu. Yang jika kita bicarakan peraturan-peraturan Allah, keterangan-keterangan agama Allah, mereka cenderung menolak, mengingkarinya atau bahkan mengolok-oloknya. Ini kuno. Ini sudah tidak jamannya lagi. Ini terlalu kejam tidak mengenal HAM. "Apabila dibacakan kepadanya ayat-ayat Kami, dia berkata, "Itu adalah dongeng orang-orang dahulu." (Al Quran 83: 13)
Dan mereka tidak percaya dengan hari kiamat. Tidak percaya bahwa mereka akan dihidupkan lagi dan dikumpulkan di pengadilan Allah. Mereka kesulitan membayangkan bahwa setelah mereka mati, dikuburkan, tubuh mereka hancur dimakan ulat lalu mereka akan dihidupkan lagi. Menurut mereka ini tidak ilmiah. Tidak bisa dibuktikan secara ilmiah. Mana ada orang yang sudah mati lalu hidup lagi, kata mereka. Begitu kata mereka dahulu di jaman nabi Nuh, begitu juga di jaman nabi-nabi sesudahnya yang selalu mereka olok-olokkan. Begitu juga kata mereka sekarang. Padahal mereka juga tidak mampu membuktikan keilmiahan mereka. Cobalah buktikan dengan ilmiah saja tanpa campur tangan Allah bagaimana caranya mereka dulu hidup di dalam rahim ibu mereka sampai mereka terlahir ke dunia. Bagaimana caranya mereka berubah dari terkapar tak berdaya ketika baru lahir, lalu pandai merangkak, lalu pandai berdiri dan bertumbuh besar, lalu menjadi tua, lalu kemudian mati. Siapa yang merubah keadaan mereka itu? Siapa yang menjadikan apa-apa yang mereka makan?
Kalau saja mereka mau berfikir jernih, pastilah sangat mudah bagi mereka memahami betapa mudahnya bagi Allah untuk membangkitkan mereka kembali nanti di hari akhirat, seperti mudahnya bagi Allah menciptakan mereka kali yang pertama. Kalau saja mereka mau berfikir, betapa kehadiran mereka di dunia ini bukanlah hanya untuk sekedar melampiaskan nafsu mereka saja, bahwa mereka akan mempertanggungjawabkan setiap apa yang mereka perbuat itu nanti di hadapan Allah, barangkali mereka masih punya harapan untuk menjadi hamba Allah yang beriman.
Betapa nikmatnya iman, yang mengajarkan kepada kita kemampuan membedakan yang hak dan yang bathil. Yang mengajarkan kepada kita tentang kehidupan sesudah kematian serta pengadilan Allah yang pasti akan kita jalani nanti di hari kiamat.
Mudah-mudahan Allah senantiasa memelihara kita dalam keadaan beriman kepadaNya. Amiin.
(8) Mengasah Iman
Bagaimana mengasah iman kepada malaikat-malaikat Allah? Makhluk Allah yang mulia yang ada di antaranya yang ditugasi Allah untuk mengurus manusia? Ada yang bertugas mengantarkan rezeki untuk manusia. Ada yang mengawasi dan mencatat setiap tindak tanduk manusia yang paling sederhana sekalipun. Yang ikut berzikir di majelis orang-orang yang beriman. Ada yang diutus Allah untuk membawa wahyu kepada para nabi Allah. Ada yang diutus Allah untuk menghukum umat yang sudah keterlaluan durhakanya kepada Allah semisal umat nabi Luth a.s. Ada yang ditugaskan Allah untuk menolong peperangan orang-orang yang beriman dalam menghadapi kekuatan orang-orang kafir. Jumlah para malaikat itu hanya Allah Subhanahu Wa Ta'ala saja yang tahu.
Bagaimana mengimani para malaikat itu yang tidak terlihat wujudnya kepada manusia biasa?
Bagi orang yang beriman kepada Allah, dan mereka beriman lepada rasul-rasul yang membawa wahyu Allah (kitabullah), untuk mengimani malaikat tidaklah sulit. Waktu mereka diperintahkan untuk mengimani para malaikat itu, merekapun beriman kepadanya, biarpun mereka tidak melihatnya. Mata hati mereka dapat merasakan kehadiran para malaikat itu. Mereka percaya bahwa perbuatan-perbuatan mereka semuanya diawasi malaikat Raqib dan 'Atid yang setiap saat mengawal mereka dan menuliskan segala amalan mereka. Mereka malu untuk berbuat kemungkaran, karena malaikat-malaikat itu pasti menyaksikan dan mencatatnya.
Kebalikannya, bagi orang-orang yang nilai keimanannya rendah atau bahkan tidak beriman samasekali, mereka tidak merasakan kehadiran malaikat disisi mereka. Mereka merasa asing dengan keberadaannya. Atau bahkan mereka tidak mempercayai adanya malaikat-malaikat itu. Oleh karena itu, tidak ada sesuatu apapun yang menghalangi mereka untuk berbuat dosa dan kejahatan. Untuk merusak dimuka bumi Allah. Untuk berlaku zhalim, untuk berbohong, untuk memfitnah, untuk menyakiti makhluk-makhluk Allah dengan semena-mena. Sebagian dari manusia malahan lebih percaya kepada makhluk ghaib lain yaitu jin. Ada yang menjalin hubungan dengan jin-jin itu. Ada yang terlanjur memujanya, mengabdi kepadanya untuk memuaskan hawa nafsu keduniaan mereka. Dan orang-orang yang seperti itu adalah mereka yang syirik, yang memperserikatkan Allah.
Allah berfirman dalam surah Jin, surah 72 ayat 4 -10;
· Dan sesungguhnya orang yang bodoh di antara kami mengatakan perkataan yang melampaui batas terhadap Allah.
· Dan sesungguhnya kami mengira bahwa manusia dan jin itu tidak akan mengucapkan perkataan yang bohong terhadap Allah
· Dan sesungguhnya beberapa orang pria di antara manusia meminta perlindungan kepada beberapa orang pria dari jin, maka mereka menjadikan jin bertambah sombong
· Dan sesungguhnya mereka menyangka sebagaimana kamu menyangka bahwa Allah tidak akan mengutus seorang juapun.
· Dan sesungguhnya kami telah mencoba mencari rahasia ruang angkasa, maka kami dapati disana penuh dengan penjaga-penjaga yang kuat dan panah-panah api
· Dan sesungguhnya kami dapat menduduki beberapa tempat di ruang angkasa itu untuk mendengar (tentang al Quran, tetapi tidak berhasil). Maka siapa yang hendak mendengar sekarang, tentu ia akan menjumpai panah api yang mengintai.
· Dan sesungguhnya kami tidak mengetahui, apakah keburukan yang dikehendaki bagi orang-orang yang ada di muka bumi, ataukah Rabb mereka menghendaki kebaikan.
Jin adalah makhluk ciptaan Allah yang tidak dapat dilihat oleh umumnya manusia. Sebagaimana manusia, jin diciptakan Allah untuk mengabdi kepadaNya. "Dan tidaklah Aku jadikan jin dan manusia itu kecuali untuk mengabdi kepadaKu," firman Allah. Karena wujudnya yang tidak terlihat dengan nyata kepada manusia, namun keberadaannya bisa terindikasi oleh bukti-bukti kehadirannya, banyaklah manusia yang terkecoh. Ada manusia yang minta pertolongan kepadanya, minta perlindungan kepadanya, selanjutnya bahkan menjadi pemuja serta penyembahnya lalu diperalat oleh jin untuk disesatkan. Dengan keimananlah orang-orang yang beriman mampu membedakan antara makhluk-makhluk Allah yang ghaib itu, para malaikat dan para jin. Mereka meyakini keberadaan makhluk-makhluk Allah tersebut. Mereka mampu menempatkan keimanan mereka terhadap makhluk Allah itu pada posisinya masing-masing dalam kerangka iman mereka kepada Allah Subhanahu Wa Ta'ala. Keimanan mereka kepada keberadaan makhluk Allah yang ghaib itu tidak menjadikan mereka mempersekutukannya dengan Allah Yang Maha Tunggal.
(9) Rukun Iman
Nabi Muhammad Shalallahu 'alaihi wa sallam bersabda tentang (rukun) iman yaitu beriman kepada Allah, dan kepada malaikat-malaikatNya, dan kepada kitab-kitabNya, dan kepada rasul-rasulNya, dan kepada hari akhirat, dan kepada qadar yang baik maupun yang buruk.
Kita mengenalnya dengan enam rukun iman di dalam agama Islam.
Apakah yang dimaksud dengan qadar, yang baik maupun yang buruk? Qadar, atau kita tulis saja takdir, adalah ketentuan-ketentuan Allah yang sudah berlaku. Yang sudah terjadi dan tidak dapat dirubah lagi. Seorang Munir yang meninggal di atas pesawat dalam perjalanan ke negeri Belanda adalah takdir Allah. Bom yang meledak di Kuningan kemarin itu adalah takdir. Begitu juga kerusakan di negeri Iraq yang saat ini menderita karena dihancurkan oleh penjajah Amerika adalah takdir. Bercokolnya Suharto selama 32 tahun memerintah negara kita ini adalah takdir. Sebaliknya, terhindarnya banyak orang dari kebinasaan ketika bom meledak seperti di Kuningan itu juga merupakan takdir. Ada orang yang selamat dari musibah besar yang melanda adalah takdir. Begitupun, terbebasnya Indonesia dari penjajahan Belanda menjadi sebuah negeri yang berdaulat juga merupakan takdir ketetapan Allah.
Bila takdir yang berlaku itu berupa kerugian, atau kerusakan, atau kemalangan kita biasa menyebutnya musibah. Itulah yang termasuk kedalam golongan qadar atau takdir yang buruk. Kalau kejadiannya berupa kebaikan, terhindar dari mala petaka, keberhasilan usaha, kita menyebutnya nikmat atau keberuntungan dan itulah yang disebut sebagai takdir yang baik. Manusia boleh berikhtiar untuk memperoleh suatu hasil, berusaha untuk meraih keberuntungan. Begitu pula manusia boleh berikhtiar untuk terhindar dari kemalangan, terhindar dari kerugian, terhindar dari hal-hal yang tidak diinginkan. Akan tetapi adakalanya ikhtiar, usaha, kerja keras itu tidak membawa hasil seperti yang diharapkan, karena Allah menetapkan 'takdir' yang lain sekehendakNya. Orang-orang yang beriman menyikapi takdir yang terjadi itu secara proporsional. Dikala mendapat keberuntungan dia bersyukur karena sadar bahwa keberuntungannya itu adalah takdir dan anugerah Allah Subhanahu Wa Ta'ala. Dia syukuri nikmat atau keberuntungan itu dan dia sadari bahwa tanpa pertolongan Allah tidak mungkin dia mendapatkannya. Sebaliknya, dikala mendapat ujian berupa musibah, kehilangan sesuatu yang disayanginya, dicobai dengan penyakit, atau dicobai dengan kecelakaan dan sebagainya, dia segera berserah diri kepada Allah. Dia kembalikan segala urusan itu kepada Allah. Tidak ada umpatan, tidak ada penyesalan, tidak ada ratapan serta hujatan kepada Allah seolah-olah Allah telah berlaku tidak adil kepadanya. Yang ada hanya pasrah dan kesabaran. 'Innaa lillaahi wa innaa ilaihi raaji'uun,' itulah yang keluar dari lubuk sanubarinya.
Bukankah lebih beruntung orang-orang yang mampu menyikapi segala sesuatu yang dia terima itu dengan senantiasa bersandar kepada Allah? Bersyukur kepada Allah ketika mendapat kebajikan, dan bertawakkal kepada Allah waktu dicobai dengan musibah? Berbeda dengan orang-orang yang tidak beriman. Ketika memperoleh keberuntungan, muncul sombong dan takaburnya. Merasa bahwa dia hebat. Dengan kehebatannyalah dia memperoleh keberhasilan itu. Kebalikannya ketika dia gagal, ketika mendapat musibah, kalang kabut dia mencari kambing hitam. Dia mengumpat kesana kemari, panjang pendek. Dia sesali kenapa tadi mesti begini, tidak begitu saja. Kenapa tadi dikerjakan dengan cara itu, tidak dengan cara ini. Padahal, ketika takdir itu sudah berlaku, tidak ada yang dapat merubahnya lagi. Tidak dapat kita merubah keadaan dan kerusakan yang terjadi di Kuningan seperti sebelum bom meledak.
Apakah terjadinya musibah, kerusakan, kehancuran di muka bumi Allah itu seizin Allah juga? Apakah Allah membiarkan saja hambanya berbuat kerusakan di muka bumi? Benar, terjadinya kerusakan, kehancuran, malapetaka yang disebabkan oleh tangan-tangan manusia itu terjadi dengan seizin Allah jua. Sepengetahuan Allah jua, melalui sunatullah. Kalau dibakar dengan api, terbakar. Kalau hutan dihancurkan, lalu tidak ada lagi yang menahan air, maka akibatnya mudah terjadi banjir. Semua itu dengan ketentuan Allah. 'Maa ashaaba min mushiibatin illaa bi itznillaah' ( Setiap musibah yang menimpa seseorang adalah dengan izin Allah (sesuai dengan sunnahNya) (al Quran 64:11)).
Bagi orang yang beriman, ini mengajarnya untuk mawas diri, untuk berhati-hati, untuk berikhtiar agar terhindar dari malapetaka. Namun, seandainya petaka itu datang juga, dia bersabar dan berlindung kepada Allah semata.
(10) Kalau Allah Berkehendak
Saya mengenal seorang orang tua yang sering datang mengunjungi anak dan menantunya di kompleks tempat saya tinggal. Beliau sendiri tinggal di Pekan Baru. Kami biasanya bertemu di mesjid pada waktu-waktu shalat berjamaah. Beliau selalu berbahasa Minang dengan saya, dengan logat Minang dari Pekan Baru, namun asli sekali keminangannya.
Pada suatu kesempatan saya bertanya, "Di maa bana kampuang apak?" (Dimana kampung bapak sebenarnya).
Beliau menjawab, "ambo lahia di Bengkalis." (Saya lahir di Bengkalis).
"Kalau kampuang asa? Mukasuik ambo urang tuo apak dima kampuang baliau?'' (Kalau kampung asal bapak dimana. Maksud saya orang tua bapak berasal darimana?)
Dengan tersenyum orang tua itu menjawab
"Urang gaek ambo nan padusi urang Bangkalih, apak ambo barasa dari Tarutuang." (Ibu saya orang Bengkalis dan bapak saya berasal dari Tarutung).
"Ooo sarupo itu." (Oo begitu rupanya), jawab saya agak kagum. Berarti beliau pandai berbahasa Minang ini dari pergaulan dengan orang Minang di Pekan Baru sana.
Masih saya sambung pertanyaan tadi.
"Kalau dari Tarutuang, orang tuo nan laki-laki, tantu pakai marga tu?" (Tentu ayah bapak mempunyai marga layaknya orang dari Tarutung?)
"O iyo," (O, ya) jawab beliau dan menyebutkan marganya.
Saya mengangguk-angguk faham. Tapi mungkin dengan muka penuh tanda tanya. Orang tua itu akhirnya bercerita.
"Ayah saya itu waktu masih kanak-kanak dibawa pamannya merantau ke Bengkalis. Disana beliau tinggal di lingkungan orang-orang Minang dan orang Melayu. Karena pergaulan dengan orang-orang Melayu itu beliaupun ikut menjadi Melayu. Ikut mengaji, ikut ke mesjid, ikut sembahyang. Padahal pamannya itu beragama Kristen, tapi mungkin karena masih di awal-awal orang Batak memeluk agama Kristen, jadi tidaklah fanatik benar. Sampailah ayah saya itu menginjak dewasa, akhirnya menikah dengan ibu saya yang orang asli disana. Kamipun (saya bersaudara) lahir dan dibesarkan disana. Selama berpuluh tahun ayah saya tidak pernah pulang ke kampungnya. Sampai ketika saya sudah berumur delapan tahunan, beliau mengajak kami sekeluarga pulang ke Tarutung melihat negeri asal beliau itu. Berangkatlah kami, dan di pasar Tarutung, dengan bertanya-tanya, masih ada kusir bendi yang ingat dengan orang tua beliau dan mengantarkan kami ke kampung asal beliau itu. Pertemuan dengan keluarga beliau itu tentu saja sangat membahagiakan beliau. Tapi bagi kami, ibu dan saya beserta saudara-saudara saya, tinggal disana tiga empat hari bagaikan bertahun-tahun rasanya. Kenapa demikian? Karena masyarakat disana berbeda sekali dengan kami. Kandiak basalemak di bawah rumah. Kalau mandakek kandiak tu ka awak abih tagagau awak katakuik-an. Salamo ampia saminggu kami disinan, babalian pinggan cawan baru katampaik kami makan. (Babi berseliweran di bawah kolong rumah. Kalau babi itu mendekat, kami menjerit ketakutan. Selama hampir seminggu kami disana, sengaja dibelikan piring cawan baru untuk tempat kami makan). Walaupun orang-orang kampung itu juga mengerti, kami orang-orang Islam, dek awak indak sabaun jo urang, di kampuang urang tantu indak manyanangkan." (karena kita berbeda tentu tidak menyenangkan tinggal di kampung orang).
*****
Bapak tua kawan saya berdiskusi itu menikmati iman Islamnya. Betapa akan menyedihkannya, kata beliau, seandainya ayah kami bukan orang Muslim. Dan perasaan seperti itu muncul setelah menemukan kenyataan bahwa akar beliau adalah dari kalangan orang-orang bukan Islam, terlebih-lebih setelah mengunjungi dan melihat bagaimana tata cara kehidupan mereka yang sangat berbeda dengan tata cara kita orang-orang yang beragama Islam. Siapakah yang menggerakkan hati ayah dari bapak tua itu untuk ikut ke negeri orang-orang yang beragama Islam? Siapakah yang menggerakkan hati beliau untuk ikut-ikutan (pada mulanya) menjadi Islam? Allah Subhanahu Wa Ta'ala lah yang telah menggerakkan semua itu menjadi kenyataan. "Man yahdillah falaa mudhillalah wa man yudhlilhu falaa haadiyalah" (Barangsiapa yang ditunjuki Allah niscaya tiada siapapun dapat menyesatkannya, dan barangsiapa (dibiarkanNya) sesat tidak siapapun dapat menunjukinya.)
Dan kebalikannya, ada orang yang terlahir dilingkungan Islam, terbiasa mendengarkan 'hal-hal' agama Islam, terbiasa mendengar ayat-ayat al Quran maupun hadits-hadits nabi. Tapi cenderung saja hatinya kepada kemungkaran, kepada kekafiran, kepada pembangkangan terhadap ketentuan-ketentuan agama Islam. Cenderung saja hatinya kepada tidak mempercayai (kekuasaan) Allah Subhanahu Wa Ta'ala. Bahkan berani dia mendeklarasikan dirinya sebagai seorang yang tidak percaya kepada Tuhan, atheis dan sebagainya. Ketika di hatinya timbul bibit-bibit seperti itu, Allah biarkan dia hanyut dalam kefasikannya, dalam kesesatannya. Dan tidak seorangpun yang akan dapat menunjukinya kalau bukan timbul dari dirinya sendiri keinginan untuk bertaubat kepada Allah. Untuk memperbaiki dirinya di hadapan kekuasaan Allah.
Iman adalah yang seindah-indahnya nikmat. Berbahagialah orang-orang yang beriman. Mudah-mudahan Allah senantiasa melembutkan hati kita untuk tetap berada dalam keimanan. Amiin.
Wassalamu'alaikum wr.wb.
Lembang Alam